Damarwulan Bab 10 : Memenuhi Harapan Ratu Wapahit

Bab 10 : Memenuhi Harapan Ratu Wapahit

Majelis yang hadir dalam bangsal witana itu sudah mulai lesu sekaliannya.

Banyak yang tiada sabar lagi menunggu sidang selesai. Seorang bentara dalam yang lain masuk tergesa-gesa.

"Hendak mengapa pula engkau?" tegur Dewi Suhita.

"Di luar menunggu Raden Gajah, hendak datang menghadap," ujar bentara itu. "Ia akan mempersembahkan surat Adipati Tuban."

"Raden Gajah? Benarkah itu...?" seru Dewi Suhita, tersenyum riang seraya berdiri dari singgasananya. Hampir lupa ia, bahwa ia sedang memimpin sidang. Semangat majelis yang sudah kehilangan tenaga, seperti pelita yang sudah hampir padam, sekonyong-konyong menyala, hidup kembali.

"Sungguh, Gusti!" sembahnya.

"Persilakan Raden Gajah masuk," kata Dewi Suhita pula dan kembali duduk, memandang berkeliling dengan sinar mata yang membayangkan pengharapan. "Aku merasa Majapahit kembali mulia...!"

Bentara pergi dan tak berapa lama kemudian Damarwulan masuk. "Kami dengar, bahwa Raden membawa surat Adipati Tuban," titah Dewi

Suhita.

"Sesungguhnyalah, seperti titah Duli Ratu," jawab Damarwulan dengan hormatnya.

"Mamanda Patih Amangkubumi, harap Tuan terima surat itu dan membacakan di muka sidang."

Patih menerima surat dari tangan Damarwulan. Kelihatan air mukanya agak berubah. Setelah menenangkan perasaannya seketika surat itu lalu dibacanya. Begini bunyinya:

"Adapun surat ini dari Raden Aria Ranggalawe, Adipati Tuban, ke hadirat dull paduka Seri Ratu Jawadwipa dan Nusantara, bersemayam di Majapahit.

Rahmat Batara Syiwa melimpah kiranya atas Seri Ratu.

Sebelum sangulun meninggalkan mayapada, patik mempersembahkan ke hadirat Seri Ratu, bahwa yang patut menjadi pengganti patik jadi Senapati, ialah Raden Gajah atau lebih dikenal namanya, Raden Damarwulan, putra Patih Udara, sahabat karib hamba yang telah lama mengundurkan diri.

Percayalah Sri Paduka kepadanya, karena ia kesatria sejati, tak ada taranya di seluruh Jawadwipa sekarang ini.

Lain dari pada itu, patik harapkan Seri Ratu lama hendaknya bersemayam di atas singgasana Majapahit.

Tertulis di Lumajang, pada hari Respati Manis empat belas Manggakala, tahun Syaka 1328." Sekalian yang hadir sangat tertarik mendengar bunyi surat itu. Kecuali yang membacanya sendiri. Tak habis-habis herannya, memikirkan apa hubungan Aria Ranggalawe dengan Damarwulan itu.

"Raden Gajah!" kata Dewi Suhita pula. "Kami ingin benar mengetahui, bagaimana jalan perang dari mulut Tuan sendiri, sekalipun banyak sedikitnya telah kami dengar juga dari orangorang yang kembali dari medan pertempuran itu. Terutama ingin kami mengetahui, bagaimana Adipati Tuban meninggal dunia?"

"Daulat Seri Ratu!" sembah Damarwulan, lalu diceritakannyalah pertemuannya dengan Adipati Tuban itu serta mengapa ia sampai menerima surat itu dari tangannya.

"Waktu itu Menak Jingga telah sampai pula ke Prabalingga," kata Dewi Suhita. "Bupati negeri itu tidak melawan sedikit juga, malah disambutnya dengan gembira. Kami baru menerima utusan dari Prabalingga. Sungguh lancang sekali. Menak Jingga, ia berani meminta, supaya kami datang menghadap dia membawa upacara negeri. Ia hendak jadi Prabu dan kami jadi Permaisurinya."

"Bagaimana jawab Seri Ratu?" tanya Damarwulan.

"Permintaan itu kami tolak dan kami usulkan begini: Menak Jingga diakui sebagai penguasa dari Prabalingga ke Blambangan serta ia harus kembali ke ibu kotanya dalam pekan ini juga. Kami kira Menak Jingga akan terus datang ke sini, karena itu, Raden Gajah, Tuanlah sekarang yang jadi harapan kami. Majapahit sekarang di tepi jurang, dalam bahaya besar. Kami menanti pembela negeri, pahlawan sejati! Maukah Tuan menerima pangkat kesenapatian itu dan memimpin tentara, mempertahankan kedaulatan kami?"

"Duli Seri Ratu," sembah Raden Damar dengan hormatnya, "segala titah patik junjung di atas kepala."

"Jika demikian," sahut Dewi Suhita, "sekarang Majapahit tanah leluhur mendapat harapan kembali."

Hening seketika dan Dewi Suhita memandang dengan tenang dan penuh harapan kepada Damarwulan, kesatria yang tampan itu. Lama benar Seri Ratu menatap. Sekian lama dinanti-nanti dicari-cari dan disebut-sebut sekarang ia muncul dengan tiba-tiba memenuhi harapan Majapahit.

"Penduduk Majapahit hendak berontak, mereka sudah berkumpul di jalan.

Baiklah segera Tuan perintahkan prajurit untuk mengembalikan ketenteraman dalam kota," titah Baginda.

"Memang rakyat hendak berontak, Gusti! Akan tetapi, tahukah Tuan hamba apa sebab-sebabnya?" jawab Damarwulan. "Rakyat menderita bukan kepalang, terlalu sengsara karena kelakuan beberapa orang menteri. Iuran dipungut terlalu tinggi, melewati kesanggupan rakyat, harta benda tidak terlindung lagi di Majapahit ini. Sebaliknya golongan atasan, para menteri serta orang-orang besar, hidup mewah, senantiasa bersuka-suka, tiada mempedulikan kemelaratan dan kesengsaraan rakyat bawahannya."

Damarwulan diam pula sebentar, menatap dengan tenang, merasakan pengaruh perkataannya. Kemudian katanya dengan tegas, "Mereka biarkan, di kaki singgasana Seri Ratu orang banyak kelaparan dan meratap, minta perlindungan. Gusti...! Patik enggan menumpahkan darah yang tidak bersalah."

"Senapati, tidak pernah kami dengar perkataan seperti ini. Kami sangka rakyat kami selamat sentosa."

"Rakyat belum pernah Gusti lihat," jawab Damamwulan.

"Sayang patik tidak sempat menerangkan sekaliannya sekarang." Ia menoleh kepada sidang, dengan pandangan yang berarti

"Titahkan, ya Gusti, kepada punggawa memberi tahu kepada rakyat di segala simpang jalan, bahwa duli Baginda akan memeriksa keadaan negeri yang sebenarnya dan akan meringankan segala beban rakyat, menghukum para punggawa yang curang dan yang berlaku sewenang-wenang. Kalau tidak, percayalah Gusti, Majapahit akan runtuh."

Patih Amangkubumi serasa ditusuk bermuka-mukaan, mendengar perkataan Damarwulan. Mukanya menjadi merah padam.

"Izinkanlah patik berbicara, Gusti!" katanya. "Berkatalah, Paman Patih!"

"Rakyat harus dikekang dengan keras, Gusti! Mereka bukan dalam sengsara, hanya dibujuk orang-orang yang khianat. Jikalau Seri Ratu memberi hati sekali saja, rakyat tentu bertambah berani. Sekali diberi sedikit, pasti kedua kalinya akan meminta lebih banyak."

Ia memandang dengan tajam ke arah Damarwulan. Dari nada suaranya ternyata benar kekesalan perasaan hatinya.

"Damarwulan baru sebentar di Majapahit, tidak tahu keadaan negeri, belum mengenal hati rakyat," katanya. "Gusti, harus diperintahkan kepada senapati, memaksa rakyat pulang ke rumah masing-masing. Hanya tangan yang kuat dapat memerintah dengan selamat. Sekali saja Seri Ratu lemah, singgasana niscaya akan runtuh."

Ia memandang kepada orang banyak sebagai meminta persetujuan, serta kepada Damarwulan, kemudian katanya pula, "Patik sudah bertahun-tahun jadi Patih, melayani mahkota dan mengerti benar kelakuan rakyat, seperti mengetahui perangai anak-anak sendiri."

"Apa bicara, Senapati?" tanya Dewi Suhita kepada Damarwulan. "Seri Ratu," jawab Damarwulan, "Patik lebih mengerti hati rakyat dan

mengetahui kemauan mereka. Kalau perlu nanti patik jelaskan panjang lebar. Jika usul patik ditolak, Gusti, patik terpaksa mempersembahkan pangkat, yang baru patik terima, ke hadirat Gusti kembali. Tidak sampai hati patik menumpahkan darah yang tidak bersalah. Apa gunanya membela negeri, jika rakyatnya tiada berhak? Negeri yang tidak mengutamakan rakyat akan lenyap dari muka bumi. Kedaulatan terletak di tangan rakyat, kekuasaan di tangan Gusti. Kabulkanlah permintaan patik, Gusti! Kemudian akan patik jelaskan."

"Patih Amangkubumi," perintah Dewi Suhita, "permintaan Senapati kami kabulkan. Suruh pengawal menjalankan perintah." Patih segera berangkat melakukan perintah Dewi Suhita.

"Bentara kanan dan bentara kiri, kamu keduanya boleh meninggalkan ruangan," perintahnya kepada kedua bentara dalam, yang siap menjalankan perintah, yang berdiri di kiri kanan singgasana Baginda itu.

"Gusti," sembah Damarwulan pula, "patik mohon Gusti menitahkan kepada para penewu supaya datang ke pelawangan') untuk mengenal senapatinya yang baru."

"Bupati Raden Layang Kumitir," titah Dewi Suhita, "segera kumpulkan sekalian penewu ketentaraan."

Layang Kumitir pergi.

"Bagaimana pikiran Senapati melawan Menak Jingga?" tanya Dewi Suhita kepada Damarwulan.

Damarwulan, senapati baru itu, memandang berkeliling, lalu berkata, "Karena hal ini berhubungan dengan siasat ketentaraan, hanya kepada Seri Ratu patik bersedia menerangkannya."

Dewi Suhita mengangkat kepalanya serta memandang kapada majelis dan berkata, "Majelis yang terhormat, apakah lagi yang hendak dipersembahkan kepada kami?"

Semuanya berdiam diri.

"Kalau begitu," ujar Dewi Suhita pula, "Tuan-Tuan sekalian boleh meninggalkan sidang hendak bermusyawarah dengan kepala bala tentara."

Sekaliannya berdiri dan menyembah, lalu bergegas-gegas keluar. "Senapati!" titah Dewi Suhita kepada Damarwulan, ketika mereka tinggal

hanya berdua saja dalam bangsal witana itu.

"Cobalah Tuan kemukakan bagaimana akal Tuan memerangi Menak Jingga?!"

"Daulat Gusti," ujar Damarwulan, "Menak Jingga menyangka bahwa kita pasti datang menyerang ke Prabalingga, karena mendengar berita utusan. Pasti waktu yang Gusti katakan sepekan itu mereka perhitungkan benar-benar. Akan tetapi perhitungan mereka bukan untuk datang menyerang ke Majapahit dan bukan pula untuk meninggalkan Prabalingga. Malah sebaliknya untuk memperkuat pertahanan mereka di Prabalingga, karena mereka yakin tentara Majapahit akan datang menyerang. Karena itu patik akan berangkat selekas- lekasnya membawa bala tentara dan menyerang dengan tiba-tiba', atau mengepung kota itu secara diam-diam."

Damarwulan melihat berkeliling bangsal yang telah kosong itu, kemudian memandang tenang-tenang kepada Dewi Suhita, sebagai hendak mengajuk pikirannya.

"Maksud ini sangat rahasia, Gusti!" katanya pula. "Sebab itu baiklah pengiring Seri Ratu sekaliannya tinggal dalam istana sebelum bala tentara meninggalkan kota."

"Pengiring kami semuanya setia," jawab Dewi Suhita, "tetapi baiklah permintaan Tuan kami setujui." "Gusti, bolehkah patik meminta bantuan Seri Ratu?" "Mengenai hal apa!?"

"Mengenai hal diri sendiri, Gusti!" "Berkatalah Tuan, jika dapat kami kabulkan."

"Gusti!" ujar Damarwulan, mendekatkan badannya ke singgasana Dewi Suhita, "Gusti tahu Amangkubumi paman patik sendiri. Tetapi kami tidak berbaik sebenarnya, ia tidak mengindahkan patik, apalagi kedua orang putranya, Raden Layang Seta dan Raden Layang Kumitir."

"Lalu...?" desak Dewi Suhita tidak sabar.

"Gusti tahu, Paman mempunyai seorang putri, Anjasmara." Damarwulan berhenti pula seketika, tiada langsung meneruskan perkataannya.

"Lalu bagaimana?" tanya Dewi Suhita bertambah mendesak.

"Gusti, Dewi Anjasmara bersedia dikawinkan dengan patik sebelum patik pergi berperang. Paman Patih, ayahanda tentu akan menolak. Karena itu, Gusti, patik memohonkan kepada Gusti sudilah kiranya memerintahkan Paman supaya mendudukkan kami!”

Dewi Suhita tersenyum dan berkata, "Permintaan Tuan kami kabulkan." "Patik sangat berterima kasih ke bawah duli Seri Ratu," jawab Damarwulan

dan menoleh ke pintu.

Patih Amangkubumi masuk tergesa-gesa dan menyembah. "Ada berita apa, Paman Patih?" tegur Dewi Suhita.

"Prajurit Daha sekarang berkelahi di jalan dengan prajurit Matahun," kata Patih Amangkubumi, "patik khawatir kalau-kalau rakyat turut gempar."

"Adipati Matahun dan Daha segera diberitahukan," titah Dewi Suhita. "Mereka harus mengumpulkan prajurit masing-masing. Mereka boleh dengki- mendengki, tetapi selama di Majapahit kami ingin damai."

Diam sebentar, kemudian, "Patih Amangkubumi, sudahkah dijalankan titah kami?"

Jawab I'atih Amangkubumi, "Punggawa sudah patik suruh memberitahukannya kepada rakyat."

"Sudahkah hadir para penewu?" tanya Dewi Suhita. "Mereka sudah mulai datang," sahut Patih.

"Senapati, ikutlah kami ke luar!" katanya pula sambil berdiri dan melangkah ke pinto. "Kami perkenalkan Tuan kepada mereka."

"Sudahkah tetap hati Tuan sekarang?" seru Dewi Suhita pula kepada Damarwulan setelah melalui pintu bangsal.

"Jika permintaan patik yang tadi sudah dijalankan...! Patik akan mengorbankan tenaga untuk melindungi singgasana," jawab Damarwulan. Ia memandang kepada pamannya, Patih Amangkubumi, dengan pandangan yang mengandung arti dan berkata, "Paman Patih melindungi rakyat jelata " Mereka kemudian menuju ke pelawangan tempat bala tentara dikumpulkan itu akan memperkenalkan senapatinya.