-->

Damarwulan Bab 09 : Majapahit Memerlukan Senapati

Bab 09 : Majapahit Memerlukan Senapati

Bangsal witana, tempat sidang besar telah penuh orang, para bupati, para tumenggung, patih dan para adipati telah hadir, tinggal menunggu Dewi Suhita, Seri Ratu Majapahit. Tak lama kemudian kalasangka dibunyikanlah, serunai ditiup serta gendang dan canang dipukul orang, tanda Sang Prabu akan masuk. Bentara kanan dan bentara kiri telah berdiri. Sekalian yang hadir duduklah dengan tertib dan azmatnya menanti kedatangan ratunya. Yang berdiri di luar bangsal segera melapangkan jalan dan berjongkok menyusun jarinya serta menundukkan kepala, masing-masing memberi hormat dengan khidmatnya.

Dewi Suhita, disebut juga Ratu Kencana Wungu, Seri Ratu Majapahit kelihatan menuju bangsal, diiringkan oleh para pembesar istana, terus masuk dan duduk di atas singgasana. Setelah memberi hormat seperti diadatkan oleh raja-raja yang berkuasa di Majapahit sejak Kakenda Prabu Rajasa, Seri Ratu segera membuka sidang, sabdanya, "Tuan hamba sekalian yang hadir di bangsal witana yang terhormat ini! Adipati kepala agama, kepala pemerintahan, para punggawa tinggi, serta adipati-adipati yang memimpin ketentaraan! Pada saat ini acara sidang hanya satu: Kedurhakaan Adipati Wirabumi dan pengangkatan senapati baru, menggantikan Adipati Tuban yang telah gugur di medan laga."

Dewi Suhita diam seketika, memandang kepada Adipati Matahun, adipati yang tertua, kemudian memandang berkeliling, seakan-akan tiap-tiap muka hendak ditatapnya, ingin mengetahui perasaan masing-masing.

"Setelah yang mulia, Adipati Tuban meninggal dunia, gugur di medan pertempuran, belum ada senapati yang bersedia memimpin bala tentara. Menurut berita yang penghabisan, Menak Jingga telah menguasai Lumajang dan tiada berapa lama lagi akan sampai ke pintu gerbang Prabalingga. Dan telah berulang-ulang kami umumkan kepada ksatria-ksatria yang tinggi derajatnya, supaya suka dan bersedia menggantikan Adipati Tuban, tetapi sampai sekarang belum berhasil juga. Tidak seorang pun yang menyediakan diri serta menyanggupinya.

"Sekarang bagaimana bicara kita sekalian? Akan kita biarkankah Menak Jingga memasuki Majapahit, merampas serta meruntuhkan singgasana Prabu Kartarajasa ini...?"

Sekalian yang hadir berdiam diri; tak ada yang berani menyahut. "Tuan-Tuan sekalian! ingatlah Tuan-Tuan, bahwa nenek moyang Tuan-

Tuanlah dahulu yang telah membina kebesaran Majapahit dengan darah,

pikiran dan perjuangan. Tidakkah Tuan-Tuan sekarang merasa berkewajiban untuk mempertahankan, membela dan memelihara pusaka nenek moyang Tuan-Tuan sekalian...?"

"Pada zaman kakenda Prabu Rajasanegara, kedurhakaan yang semacam ini pastilah dengan segera mendapat hukuman yang setimpal. Kedurhakaan Adipati Wirabumi telah mengancam seluruh Majapahit. Tindakannya itu, seolah-olah telah memperlihatkan kelancangannya yang sangat keterlaluan, seakan-akan ia menyangka, bahwa di Majapahit in sudah tak ada lagi laki- laki."

"Kalau betul darah kesatria ada mengalir dalam tubuh Tuan hamba sekalian, tunjukkanlah kiranya jiwa kesatria Tuan hamba itu. Jikalau Tuan hamba diamkan, Tuan-Tuan tidak segera membela Majapahit, apakah kata anak cucu Tuan hamba kemudian hari. Iastilah mereka akan mencela dan mengutuki perbuatan Tuan hamba yang tiada mengutamakan keselamatan negara.

Perbuatan Menak Jingga terlalu merendahkan rakyat Majapahit sekalian. Tidakkah Tuan hamba sependapat dengan kami?"

Dewi Suhita berdiam diri sebentar, memandang berkeliling, seakan-akan hendak merasakan pengaruh bicaranya itu. Kemudian ia berkata pula, "Tuan- Tuan yang hadir dalam sidang ini adalah ksatria belaka, bangsawan Majapahit, sendi kerajaan kami, sakaguru pemerintahan Jawadwipa, sekiranya Tuan-Tuan seiya sekata, tiada bersatu menyusun kekuatan, alamat Majapahit akan runtuh."

Diam pula seketika. Anggota sidang berbisik-bisik sebagian menatap dengan kebingungan kepada Seri Ratu.

"Sidang Majelis Mahkota yang terhormat! Sekarang kita harus memilih dan mengangkat senapati yang baru, untuk memimpin bala tentara ke Blambangan, guna menghukurn Adipati Menak Jingga yang durhaka itu.

Pamanda, Adipati Matahun, siapakah yang patut menurut pandangan Tuan menjadi kepala bala tentara?"

"Seri Ratu...!" sahut Adipati Matahun, seraya menyembah "Jikalau patik tidak dalam keadaan sakit, tentu patiklah yang pertama sekali memohonkan, minta diri akan melawan Menak Jingga itu. Ingin benar hati patik hendak memusnahkan si Durhaka itu. Patik serasa terikat sekarang ini, tidak berdaya, karena sakit, sekalipun hati rindu hendak membawa serta memimpin laskar ke puncak kemenangan. Prajurit patik sekaliannya patik serahkan kepada Seri Ratu."

"Siapakah menurut pandangan Pamanda, yang patut mengepalai bala tentara?" tanya Dewi Suhita.

"Siapa lagi yang lebih patut...," jawab Adipati Matahun sambil menunjuk ke sampingnya, "selain Adipati Daha."

"Pamanda Adipati Matahun, terima kasih atas pandangan Tuan hamba! Kami pun tahu Tuan tiada sehat. Setia Tuan kepada mahkota tiada taranya, keperwiraan Tuan termasyhur ke manamana. Sekali lagi kami berterima kasih atas pandangan Tuan," jawab Dewi Suhita dengan hormatnya. Kemudian ia menoleh kepada Adipati Daha.

"Pamanda Adipati Daha! Bagaimana bicara Tuan hamba?"

"Seri Ratu," jawab Adipati Daha, "Seperti dimaklumi, patik sekarang mulai tua dan layaklah patik mengundurkan diri, supaya terbuka kesempatan bagi yang lebih muda menunjukkan keperwiraannya." "Benar perkataan Paman!" kata Dewi Suhita. "Sebelum yang muda-muda kami tanyai, patutlah kami meminta bantuan kepada yang tua-tua terlebih dahulu. Pertama karena pengalamannya, kedua karena rasa tanggung jawabnya, dan ketiga memang yang tua itu lebih patut dijadikan pemimpin karena perhitungannya yang matang, serta pertimbangannya yang saksama dan bijaksana."

Dewi Suhita memandang kepada Adipati Wengker dan setelah berdiam diri sesaat berkata pula, "Bagaimana kalau Adipati Wengker...?"

"Ampun Seri Ratu, beribu-ribu ampun...!" jawab Adipati Wengker agak gugup.

"Kami mengetahui, antara Tuan-Tuan ada yang berkeluarga dengan Adipati Wirabumi, tetapi pertimbangkanlah dengan sungguh-sungguh, apa arti kewajiban dan kekeluargaan. Apa lagi dalam keadaan negara sekarang ini, yang sedang diancam oleh pengkhianatan dari dalam. Barang siapa yang mendiamkan pengkhianatan Adipati Wirabumi, berarti rela membiarkan Majapahit runtuh," ujar Seri Ratu Kencana Wungu dengan agak keras serta memandang dengan tajam, kemudian, "Bagaimana pikiran sidang majelis, kalau kami tunjuk saja siapa yang harus diangkat menjadi kepala tentara, tidak boleh membantah lagi, bila sudah kami putuskan."

"Seri Ratu," sahut salah seorang patih, "ada kurangnya kehendak duli itu.

Barang siapa dipaksa menjadi kepala bala tentara, tentu hatinya kurang gembira dan khawatirlah patik, tidak bersungguh-sungguh ia memimpin bala tentara. Artinya, belum lagi ia berangkat sudah berarti setengah kalah..."

"Perkataan Paman benar sekali, tetapi apakah yang patut diperbuat sekarang? Waktu dahulu suatu kehormatan benar bila diangkat jadi kepala bala tentara, sekarang sukar mencari orang yang suka menjadi senapati."

Seorang bentara dalam kelihatan menghadap dan menyembah.

"Apa sebabnya engkau masuk menghadap?" tanya Dewi Suhita kepadanya. "Seri Ratu," sembahnya pula, "ada utusan dari Prabalingga..."

"Suruh ia datang ke sini!" titah Dewi Suhita.

Bentara dalam keluar dan sesaat kemudian masuk kembali, mengiringkan, utusan itu ke hadapan ratu.

"Apa kabar yang engkau bawa?"

"Seri Ratu," ujar utusan itu dengan sembahnya, "patik diutus Tuan hamba Menak Koncar, datang mempersembahkan kepada Seri Ratu bahwa Bupati Prabalingga telah menyerahkan ibu negerinya kepada Adipati Menak Jingga "

Dewi Suhita memperkatupkan kedua belah bibirnya. Wajahnya tetap tenang.

Hanya kelihatan sinar matanya makin memancar-mancar, membayangkan perasaannya yang makin berkobar-kobar, kemudian keluar perkataan sebagai terluncur dari mulutnya, "Bertambah lagi orang durhaka. Di Jawadwipa tidak ada kesatria lagi."

Pandangannya ditujukan kepada utusan itu, "Apabilakah Menak Jingga hendak berangkat untuk menyerang Majapahit?" "Tiga hari lagi, Seri Ratu, menurut pendengaran kami," jawab utusan itu. "Laskarnya hams beristirahat dahulu, melepaskan lelah."

"Berapa.jumlah prajuritnya?"

"Menurut taksiran, kira-kira tiga puluh ribu, Seri Ratu!"

"Sekarang engkau boleh pergi. Sampaikan hormat kami kepada tuanmu, Raden Menak Koncar. Jasa tuanmu akan senantiasa teringat oleh kami selama- lamanya.”

Utusan keluar, diiringi oleh bentara dalam, diantarkan oleh pandangan mata majelis sampai ia hilang di luar pintu.

"Majelis luhur, majelis mahkota kerajaan Majapahit!" ujar Dewi Suhita. "Tuan-Tuan sudah mendengar berita. Apakah sekarang bicara kita? Tuan Mahapatih, berbicaralah Tuan hamba!"

"Seri Ratu, Majapahit sekarang telah dipecah-pecah oleh sifat dengki dan iri hati, telah dibakar oleh kelobaan orang-orang besarnya, serta diruntuhkan dari dalam oleh pengkhianatan adipati-adipati kerajaan yang diharapkan sebenarnya untuk membangunnya," jawab Patih. "Sekarang apa guna dipikir lagi, sudah terlambat."

"Dalam peperangan yang baru lalu," kata Dewi Suhita pula, "hanya prajurit Adipati Tuban yang bersikap dan bertindak gagah berani membela kehormatan Majapahit."

"Seri Ratu, sekarang harus diusahakan agar sekalian adipati berusaha menjaga, supaya negeri tinggal aman," sahut Adipati Matahun dan melihat berkeliling, kemudian katanya dengan ragu-ragu, "Anak-anak bangsawan sudah menyukai Menak Jingga."

"Pamanda Adipati Matahun dan Anggota sidang sekalian!" seru Dewi Suhita. "Tidak usah dibicarakan lagi segala perkara yang sudah terjadi. Sekarang marilah kita pikirkan, apa yang harus kita lakukan. Pilihlah, turunan Prabu Rajasanegara atau Menak Jingga! Jangan dinanti siapa yang menang lebih dahulu! Tiadalah sifat kesatria yang sedemikian itu. Kami merasa banyak di antara Tuan-Tuan, yang mendua hati yang selalu dalam keadaan bimbang, kalau-kalau Menak Jingga menang "

Terdiam dan kemudian, "Adipati Kahuripan, saudara sepupuku sendiri, bagaimana bicara Tuan?"

Dewi Suhita dan Adipati Kahuripan sama-sama keturunan Sri Kartawardana, Adipati Singasari. Adipati Kahuripan masih belum menyahut.

"Saudara sepupuku, kemukakanlah pikiran Tuan, supaya sama-sama kami dengar!" ujar Dewi Suhita pula mendesak. "Bangunlah Tuan seperti Janaka melawan Kurawa. Hilangkanlah kebimbangan dani hati Tuan, supaya Majapahit dapat tertolong kembali."

"Seri Ratu!" sembah Adipati Kahuripan yang masih muda sekali, hampir sebaya dengan Dewi Kencana Wungu. "Sungguh patik ingin benar berjuang membela Majapahit, akan tetapi bagaimana bicara patik, karena Kahuripan dalam kesusahan sekarang. Rakyat kelaparan, karena kekurangan makanan, persawahan pertahunan kami tidak menjadi, padi rakyat, habis rusak ' belaka. Dalam keadaan negeri tengah kelaparan ini bagaimana bicara patik, akan mengerahkan rakyat untuk berperang. Bagaimana pula patik dapat meninggalkan rakyat, takutlah patik kalau negeri ribut sepeninggal patik.

Sepatutnyalah adipati-adipati yang makmur ditunjuk mempertahankan mahkota Majapahit."

Dewi Suhita, "Keberatan Tuan, sudah sama-sama kami dengar. Patih Amangkubumi, nasihat Tuan masih kami nantir"

"Seri Ratu," jawab Amangkubumi, "kalau kita pikirkan benar-benar, tahulah kita, Majapahit kurang kuat sekarang. Sebab itu jika kita mengadang perang, tidak mungkin akan menang. Pada timbangan patik baiklah kita menjalankan muslihat, supaya kita jangan diserang. Kirimlah utusan yang bijaksana ke Prabalingga, menyatakan bahwa Seri Ratu suka berdamai! Menak Jingga, biarlah menjadi raja di sebelah Timur, dari Blambangan sampai ke Prabalingga."

"Mamanda Patih," sahut Dewi Suhita dengan marah, "kami tak akan undur barang setapak."

"Daulat Seri Ratu!" kata Patih dengan tenang. "Patik pun ingin melawan, tetapi sekarang keadaan memaksa. Seperti kita dengar dari Adipati Menak Koncar, dari berita disampaikan oleh utusan tadi, Menak Jingga sudah siap dengan tiga puluh ribu bala tentara. Sedang bala tentara yang ditinggalkan Adipati Tuban hanya kira-kira dua puluh ribu saja, dalam keadaan terpecahbelah pula ... belum tersusun, karena ditinggalkan senapatinya gugur dalam pertempuran yang lalu. Karena tidak mungkin kita akan menang, maka kita terpaksa mengambil muslihat semacam itu. Bila Majapahit telah kuat kembali, kita serang pula Wirabumi. Hanya untuk sementara!

Sekarang haruslah Seri Ratu mengakui kekuasaan Menak Jingga. Itu bukan berarti takut, tetapi bijaksana."

Dewi Suhita berpikir sebentar, kemudian katanya, "Bagaimana jika Menak Jingga tidak menerima keputusan kita dan terus datang menyerang ke Majapahit, apa pula yang kita perbuat?"

"Seri Ratu," jawab Patih Amangkubumi, "menurut dugaan patik, Adipati Menak Jingga agak takut datang ke sini, karena Majapahit masih mungkin dalam sekejap mata saja kuat dan kokoh kembali. Daulat Wilwata, payung panji Prabu Rajasa, belum terbang, masih menghikmati Jawadwipa. Marilah kita meminta kepada Dewata Raya, supaya Seri Ratu mencapai kedamaian dengan jalan yang sebaik-baiknya. Majapahit akan dapat tertolong oleh segala adipati, yang Seri Ratu katakan mendua-hati itu, mudah-mudahan akan tetap membela Gusti."

"Baiklah, Paman Patih!" ujar Dewi Suhita. "Akan tetapi bagaimanakah dengan Raden Gajah, masih belumkah ada beritanya?"

"Raden Gajah seperti hilang dari muka bumi, entah di mana is sekarang, tidak ada yang tahu."

"Sejak aku menerima berita gugurnya Adipati Tuban dan peristiwa Raden Gajah yang mengherankan itu, rasanya sudah lama benar aku menanti. Tetapi aku yakin, bahwa pada suatu ketika Raden Gajah, satria sejati itu, akan muncul membela dan mempertahankan Majapahit."

Sehabis perkataan Dewi Suhita, bentara-dalam datang pula menghadap, lalu ditegur oleh Dewi Suhita, "Apa sebabnya engkau masuk, kami sedang bersidang?"

"Ampun, Seri Ratu, beribu-ribu ampun! Datang pula utusan Menak Jingga hendak menghadap Seri Ratu," sahut bentara dalam itu. Sekalian yang hadir terperanjat dan bertanya-tanya sesamanya.

"Suruh masuk utusan itu," perintah Dewi Suhita.

Bentara dalam keluar dan tak lama kemudian kembali bersama-sama utusan Menak Jingga, tiga orang banyaknya.

"Tuan-Tuan disuruh Adipati Wirabumi datang kepada kami, apa berita yang Tuan-Tuan bawa?"

"Daulat Gusti, janganlah murka kepada patik-patik ini, karena patik bertiga hanya utusan," sembah ketiga orang utusan itu.

"Berkatalah! Seri Ratu Majapahit yang memerintah Jawadwipa serta Nusantara, tahu akan adat ratu-ratu," titah Dewi Suhita.

"Gusti," kata kepala utusan itu seraya menyembah dengan hormatnya, "paduka Adipati Wirabumi telah sampai ke Prabalingga. Paduka Adipati segan berangkat ke Majapahit, segan menghancurkan kota ini, karena Majapahit penuh kenangkenangan. Beliau menaruh hormat kepada daulat Gusti, turunan paduka Sri Rajasa_ Karena itu Sri Paduka meminta dengan sangat supaya Gusti mengakui kemenangannya, kegagahan serta kebesarannya dengan hati yang tulus ikhlas, supaya Jawadwipa aman serta selamat sentosa."

Sekalian yang hadir dalam sidang itu terdiam. Mereka memperhatikan pembicaraan itu dengan sungguh-sungguh.

"Seri Ratu," kata utusan itu pula, "Adipati Wirabumi meminta Gusti sudi datang ke Prabalingga, seraya membawa upacara kerajaan. Di atas singgasana Majapahit akan tetap tinggal Gusti duduk di sisi Prabu Menak Jingga sebagai Permaisuri. Demikian titah yang diserahkan kepada patik-patik utusan bertiga ini." Dewi Suhita menjawab dengan marah, katanya, "Utusan Wirabumi, sampaikan kepada Menak Jingga, ia boleh menghancurkan seluruh Majapahit serta Seri Ratu Dewi Suhita, tetapi kami tidak akan menyerahkan diri kepada musuh "

"Patik mohon berbicara sebentar, Gusti," ujar Patih pula.

"Apalagi hendak dipikir, kebiadaban ini tidak layak dibicarakan !"

"Putusan Gusti tentang nasihat yang tadi patik bicarakan, baiklah sekarang diterangkan," kata Patih pula. "Jika nasihat itu Gusti setujui, kita tidak usah lagi mengirim utusan kepada Adipati Menak Jingga, utusan inilah yang membawa titah Seri Ratu."

"Baiklah Patih menyampaikannya kepada utusan si durhaka itu," sahut Dewi Suhita pula dengan pendek.

Patih lalu berkata kepada ketiga utusan itu, "Dengarlah, para utusan! Adapun titah Seri Ratu Majapahit: tuanmu, Adipati Menak Jingga boleh menjadi raja di sebelah timur Prabalingga, karena Seri Ratu ingin damai menjaga keselamatan Jawadwipa. Menak Jingga diberi kesempatan berpikir sepekan lamanya. Jika sesudah itu ia masih tinggal di Prabalingga, tentara Majapahit akan datang memusnahkannya dan menghancurkan negerinya.",

Setelah selesai pembicaraan dengan utusan itu, mereka dipersilakan meninggalkan sidang.

Kemudian setelah utusan itu berangkat, Dewi Suhita berkata pula, "Terasa lemah sungguh Majapahit sekarang, sehingga orang telah berani menghina kami dengan tiada semena-mena. Paman Patih Mangkubumi! Mata-mata harus segera dikirim ke daerah Prabalingga, mengawasi dan mengamat-amati gerak- gerik Menak Jingga. Para Adipati, kami titahkan jangan dahulu meninggalkan Majapahit, sampai kita mendapat berita dari Prabalingga. Sekarang Tuan-Tuan boleh meninggalkan sidang!"

Dewi Suhita hendak berdiri pula, sekonyong-konyong seorang bentara dalam yang lain masuk dan menyembah.

"Apakah yang hendak engkau persembahkan, katakanlah dengan segera!" "Gusti, jalan-jalan dalam kota sudah lama penuh dengan orang, dan kini

bertambah sesak. Kalau-kalau akan timbul keributan...," kata orang itu. "Apakah sebabnya orang berkumpul?" tanya Dewi Suhita.

"Mendengar kabar Menak Jingga akan menyerang Majapahit, rakyat sekalian gelisah dan kebingungan sekarang. Ada yang bermaksud hendak menyerang istana dan hendak membunuh para menteri serta bupati," jawab bentara dalam itu.

"Apakah artinya, Pamanda Patih? Cobalah jelaskan kepada kami!"

"Orang-orang jahat telah memenuhi kota. Mereka hendak menangguk di air keruh. Mereka sengaja membuat keributan dan huru-hara di antara rakyat.

Kalau terjadi apa-apa, supaya mereka dapat merampas harta benda...,"demikian jawab Patih Mangkubumi, "biarlah patik mengerahkan prajurit memaksa orang-orang pulang ke rumah masing-masing."