-->

Damarwulan Bab 07 : Dewi Anjasmara

Bab 07 : Dewi Anjasmara

Suasana di Majapahit makin hari makin panas. Dari ujung timur semakin banyak datang pengungsi-pengungsi. Tentara Wirabumi makin mendesak dan sedang menyiapkan penyerbuan ke ibu kota. Lumajang dan Probolinggo hampir mereka kuasai.

"Raden Damar mengapa Tuan masih tinggal berdiam diri?" kata Dewi Anjasmara kepada Damarwulan. "Sebagai putra Majapahit berdarah ksatria tidakkah waktunya sekarang Tuan tampil memperlihatkan cinta dan bakti Tuan kepada negara?"

Damarwulan tiada segera menjawab, hanya mernandang acuh tak acuh ke jalan raya di hadapan kepatihan itu. Beberapa orang prajurit kelihatan, pergi dan datang di jalan yang menuju ke keraton.

"Damarwulan, Adinda ingin melihat Kakanda menjadi pahlawan sejati, yang dapat menolong dan menyelamatkan Majapahit!" ujar Anjasmara pula, tambah mendekatkan dirinya kepada anak muda itu sebagai mendesak.

"Sekarang hamba tukang kuda, pekerjaan hamba memelihara kuda, dititahkan Paman bukan disuruh membela negara," jawab Damarwulan.

"Tuan*) berdarah ksatria, bukan sudra dan pekerjaan ini tidak layak Tuan kerjakan. Sepatutnya Tuan membela Majapahit dari keruntuhan!"

"Dewi Anjasmara! Kalau langit hendak runtuh dapatkah ditahan dengan telunjuk?" ujar Damarwulan pula. "Keadaan Majapahit jadi begini karena rakyat dihina dan diinjak-injak dengan tidak semena-mena. Belum lagi sebulan hamba di sini, tetapi sudah banyak hamba melihat ksatria menikam orang bawahannya untuk mencoba tajam kerisnya. Negara sekan-akan hanya untuk orang atasan, kaum bangsawan. Rakyat jelata, orang bawahan dipandang dan diperlakukan sebagai hewan."

Damarwulan berdiam diri pula seketika, kemudian ujarnya dengan keras, "Kaum atasan sekalian kaya raya, rakyat meratap kelaparan. Dasar negeri sudah lapuk, hanya menanti kehancuran. Dari semula hamba ingin jadi pertapa saja, supaya dapat melupakan kekacauan dunia dan supaya tidak lagi melihat kesengsaraan dan penderitaan rakyat. Dan...." Damarwulan tiada meneruskan bicaranya. Dari air mukanya jelas terbayang hatinya amat terharu kesal dan rawan. Dari nada suaranya ia seolah-olah orang yang hampir berputus asa. "Bagaimana Kakanda dapat melupakannya!" tanya Anjasmara, "Kakanda hidup di tengah-tengah masyarakat, kejadian itu Kakanda lihat sendiri sepanjang hari "

Dalam kesunyi-sepian hamba merasa bahagia, dapat melupakan kemalangan diri sendiri, beroleh ketenangan memandang kebenaran kerajaan dewa-dewa. Acapkali hamba terbangun tengah malam, hamba dengar Dewa Brahma mengajari hamba kebijaksanaan."

"Radon Damarwulan, sekarang Majapahit mernanggil Kakanda memerlukan kesatria. Yang perlu Kakanda lakukan, bertindak dengan bijaksana, kemudian baru menyebarkan kebijaksanaan itu. Ingatlah, sekali lagi Adinda katakan Kakanda keturunan ksatria yang telah membangun Majapahit. Sekarang Kakanda mendapat panggilan untuk membelanya, mempertahankannya, dari kehancuran. Tadi Kakanda katakan, rakyat dihina dan diinjak-injak, sebagai ksatria Kakanda harus membela kebenaran dan menghidupkan keadilan di Majapahit," ujar Anjasmara mendesak dengan bersungguh-sungguh.

"Hamba ada kewajiban sendiri! Tetapi mengapa Dewi terlalu mendesak hamba?" jawab Damarwulan.

"Aku ingin melihat kekasihku jadi pahlawan yang gagah berani!" "Tidaklah patut tukang kuda menjadi kekasih Anjasmara, putri patih

Majapahit."

"Yang kucinta orangnya bukanlah pekerjaannya. Aku mengetahui, bahwa Kakanda jadi seperti ini, karena perintah yang tidak patut," ujar Anjasmara.

"Tidaklah layak seorang anak mencela perbuatan orang tuanya, hamba disuruh ke Majapahit, memperhainbakan diri kepada Paman hamba sendiri. Segala perintahnya harus hamba turut. Bagaimana negeri akan aman, jikalau rakyat tidak patuh menurut perintah patihnya!" jawab Damarwulan

"jika sekiranya perintahnya tidak sepatutnya, tidak mengindahkan keperluan rakyatnya. ?"

"Haruslah Ratu sendiri yang menggantinya. Tidak ada gunanya orang bawahan, tukang kudanya seperti hamba, mendurhaka pula kepadanya."

"Apabila Ratu seperti patihnya pula ?"

"Haruslah Baginda dimakzulkan rakyatnya."

"Memakzulkan raja berarti tidak lagi menurut perintahnya," sahut Anjasmara dengan cepat. "Damarwulan, mengapa Kakanda kalau begitu mau mengikut perintah patih?" katanya.

"Dewi Anjasmara! Sudah hamba katakan, tidaklah patut hamba mencela paman hamba sendiri dan ayah Dewi pula!"

"Sekalipun ia berlaku tidak adil? Membiarkan engkau dihina oleh anaknya sendiri? 0, Damarwulan, jika sekiranya aku tidak melihat jiwa yang bersinar dari matamu, tentu aku telah menyangka Kakanda seorang yang pengecut, tidak berbudi sedikit juga. Baru sekali aku melihat Tuan, tahulah aku bahwa Tuan kesatria sejati. Tuanlah dewa yang kunanti-nanti, yang selalu dirindukan jiwaku selama ini " Damarwulan termenung sejurus, kemudian katanya, "Dengar, Anjasmara, idaman jiwaku, ketahuilah mengapa aku mau begini! Sebelum aku datang ke Majapahit, aku sudah tahu benar bahwa rakyat sangat menderita. Saya ingin melihat bukti, jika boleh turut merasa. Saya sampai di kepatihan, hampir saya tidak percaya, bahwa Paman sebagai kesatria bersikap begitu, biarpun sebelumnya telah saya dengar juga beritanya."

Terdiam pula seketika, kemudian ujarnya, "Sungguh terjadi, bukan dusta, Patih sampai hati menghina anak saudaranya. Paman rupanya masih dendam kepada Ayahanda, biarpun Ayahanda sudah lama pergi dan dengan rela hati menyerahkan kepatihan kepada adiknya sendiri. Tahulah hamba dengan sungguh-sungguh, mengapa Majapahit jadi begini. Bangsawan budi telah hilang sama sekali, yang tinggal sekarang pemuja hawa nafsu belaka. Saya tinggal di kepatihan, karena ingin hendak mengetahui sendiri, teruskah Paman berlaku seperti itu." Kemudian terdiam pula.

"Dan lagi, Anjasmara," katanya, "hamba ingin mengetahui, muliakah hati anak dara yang hamba cintai, setelah hamba jumpai sekali saja dengan rasa cinta yang tak berhingga. Pengalaman telah membesarkan hati hamba, mengobarkan perasaan hamba, bahwa Anjasmara, kekasih hamba ibarat teratai Jawadwipa, suci bersih, putih berseri walaupun kelilingnya lumpur dan kotor belaka."

Damarwulan melihat ke jalan dan tegak berdiri, kemudian kepada Anjasmara, "Itu, Kakanda Layang Seta dan Kumitir datang. Biarkan hamba meninggalkan Adinda, supaya Adinda jangan diganggunya dan dirnarahinya pula."

Keduanya masuk ke halaman dan setelah dekat kepada Anjasmara, Layang Seta berkata, "Adinda Anjasmara, dari tadi aku lihat engkau berbicara dengan si Damar. Tidak patut putri seorang patih lupa akan martabatnya."

Anjasmara menyahut, "Apa salahnya aku berbicara dengan saudara sepupuku!"

Layang Seta dengan mengejek berkata pula, "Ingatlah Adinda, Damarwulan tukang kuda, tak lebih dari itu."

"Damarwulan kesatria sejati, malah bagiku martabat dan harkat pribadinya melebihi Kakanda berdua," jawab Dewi Anjasmara menentang. "Darah yang mengalir dalam tubuh Kakanda sama sumbernya, asalnya, dengan yang mengalir dalam urat nadi Kakanda Damarwulan malah padanya masih suci bersih."

"Rupanya engkau sudah kena pikat Anjasmara, dihikmati kata manis madu. Memang si Damar seperti bapaknya, pandai membujuk dan merayu karena itu beliau bersedia meninggalkan Majapahit. Ingat Anjasmara, engkau sudah dipinang oleh Adipati Singasari Serta jangan lupa akan pangkatmu. Sayang aku harus menghadap Seri Ratu di balai penghadapan," kata Layang Seta pula dengan angkuhnya, "kalau tidak tentu kuajar sendiri si Damar itu, jantung hatimu itu." .

Keduanya terus berjalan menuju ke keraton diiringkan oleh dua orang pengiringnya. Sesaat kemudian Sabda Palon dan Layang Seta lewat pula dan rupanya seperti hendak menuju ke jurusan yang sama. "Sabda Palon! Naya Genggong!" kedengaran Dewi Anjasmara memanggil. "Tunggu sebentar, aku ingin minta bantuanmu!"

"Mengapa, Ndara?" tanya Sabda Palon setelah mereka berdekatan dengan Dewi Anjasmara. "Asal jangan..."

"Asal jangan mengapa?" tanya Anjasmara pula.

"Kami bersedia menolong, asal jangan disuruh bertinju." Ia melihat ke jurusan Layang Seta dan Kumitir.

"Memang si Sabda orang penakut, Ndara," sahut Naya Genggong pula sembari mengikuti pandang Sabda Palon, "tetapi hamba biar ke mana disuruh hamba tiada akan menolak, apalagi jika Ndara yang menyuruh. Bukankah hamba punakawan seorang kesatria, pahlawan besar di Majapahit?"

"Memang si Naya menyatakan dia pahlawan," kata Sabda Palon pula, "karena tuannya seorang pahlawan yang gagah berani, tetapi ia pasti lari pontang-panting apabila ada seekor tikus lewat di hadapannya. Ini bukan cerita, Gusti! Tuan kami pada suatu kali membunuh harimau. Sekalipun harimau itu sudah mati. Si Naya menggigil ketakutan memandangnya, sehingga ia terpaksa diberi minum dan diguyur dengan air comberan sawah di tepi rimba."

"Begini," ujar Dewi Anjasmara pula kemudian, "aku sangat memerlukan pertolongan kamu berdua. Sukakah kamu?"

"Tentu!" jawab Naya Genggong. "Asal...," sahut Sabda Palon pula.

"Asal mengapa, Sabda Palon!" tanya Anjasmara.

"Asal jangan pergi berperang," kata Sabda Palon, "sudah bosan kami." "Memang, Sabda Palon pernah merasai pengalaman yang pahit," tukas Naya

Genggong pula. "Ia terus rebah ketakutan, memandang muka Menak Jingga, sekalipun ia hanya berdiri di tempat jauh."

"Apakah arti perkataanmu? Pernahkah kamu melihat Adipati Wirabumi?" "Kami turut melawan dia. Hambalah yang memegang tunggul panji-panji

paduka almarhum Adipati Tuban," jawab Sabda Palon.

"Jangan percaya, Ndara, akan kata-katanya itu. Ia mengikut di belakang sekali, waktu mundur paling muka sekali pula," kata Naya Genggong.

"Naya," seru Sabda Palon setengah berbisik, "tidak ingat akan perintah! Kita tidak boleh menceritakan kepada siapa pun bahwa kita turut berperang."

Dewi Anjasmara segera memutusi, "Tidak mengapa, Sabda Palon! Saya amat cinta akan tuanmu dan tidak akan merugikan kamu serta tuanmu."

Sabda Palon memandang kepada Naya Genggong, kemudian kepada Anjasmara, seraya berkata, "Tuan hamba beruntung mendapat Ndara. Berakhirlah sudah duka nestapanya selama ini."

"Apa maksudmu?" tanya Anjasmara menegasi.

"Waktu kami di Paluh Amba, sering Tuan hamba duduk seorang dirinya meniup suling seperti meratap berhiba-hiba. Atau berhari-hari ia duduk termenung atau seorang diri di malam sunyi menatap tenang-tenang ke langit yang penuh bertahur bintang," kata Sabda Palon.

"Akhirnya ia tak dapat tertawa lagi," seru Naya Genggong pula.

"Ya, kadang-kadang dengan tiba-tiba ia memanggil kami pergi berburu," sela Sabda Palon pula, "tetapi setelah sampai di pintu rumba, ketika kami melihat sekelamin binatang buruan, ia melarang kamu melepas anak panah. Sebaliknya kamu disuruhnya lekas-lekas kembali pulang."

"Acapkali pula seperti gila lakunya," ujar Naya Genggong, "ia bercakap- cakap dengan asyiknya seorang diri."

"Dikatakannya ia berhadapan dengan Batara Wisynu," sambung Sabda Palon pula.

"Cukuplah ceritamu sekian saja," ujar Anjasmara pula. "Hatiku sendiri dapat menambahnya, karena cintaku akan tuanmu telah dapat pula mernbayangkan bagaimana pula cintanya akan daku. Akan tetapi gilakah kamu jadi prajurit dalam laskar Adipati Tuban?"

"Kami bertemu dengan tentara Adipati itu, ketika kamu akan berangkat ke Majapahit," jawab Sabda Palon. "Tuan hamba, Raden Damarwulan terus bermohon kepada Adipati Tuban turut menyerbu ke Wirabumi."

"Kepandaiannya dalam berperang kelihatan sekali. Tidak siasia ia diajar kakeknya sejak kecil serta ayahnya Patih Udara. Badannya kiiat, matanya tajam, karena telah biasa hidup berkelana dalam rimba," sela Naya Genggong.

"Dalam pertempuran ia selalu di muka barisannya," kata Sabda Palon. "Tetapi, Sabda Palon di belakang sekali," seru Naya Genggong.

Setelah berdiam seketika, Anjasmara bertanya pula, "Berjuangkah dia bersama-sama dengan Raden Gajah, pahlawan yang hilang entah ke mana tak tentu rimbanya, yang sudah lama dicari Seri Ratu. Pahlawan yang dapat menggembirakan seluruh tentara yang tampil menyerang seperti singa?"

Sabda Palon dan Naya Genggong tertawa.

"Raden Gajah ialah nama Damarwulan dalam perlawatannya. Itulah namanya yang dikenal oleh kawan-kawannya di antara anak-anak gembala dan petani-petani di Paluh Amba. Apa sebabnya, kami tak tahu benar, mungkin karena keberaniannya juga," demikian keterangan Sabda Palon.

"Damarwulanlah kiranya Raden Gajah itu?" ujar Anjasmara dengan amat girangnya. "Sungguh hatiku tidak keliru memilih. Benarlah cinta telah berurat berakar dalam hati dunia ini. Dewa Kamajaya telah memenuhi Swargaloka dengan cintanya dan telah menghiasi seluruh muka bumi dengan cintanya pula. Sekarang hatiku telah dimahkotai cinta yang ada dalam hatinya. Kami baru saja dipertemukan Dewata, akan tetapi perasaan cinta seakanakan telah lama mengikuti hati kami."

"Ndara," seru Naya Genggong! "Hamba lihat Raden

"Raden Gajah, Seri Ratu Majapahit telah lama mencari Kakanda. Mengapa Kakanda berdiam diri juga? Jika saya sekiranya Tuan, sudah lamalah saya di gapura Wirabumi." Demikian kata Dewi Anjasmara kepada Damarwulan. "Dewi Anjasmara, hamba bukan kesatria semata. Jika hamba hanya kesatria saja, tentu telah hamba kerahkan bala tentara menyerang negeri Menak Jingga yang durhaka itu. Darah pendeta pun mengalir pula dalam tubuh hamba. Dalam menghadapi perang, yang hamba ingat hanya maju ke muka, menyerangmenyerang memusnahkan segala yang menghalang, segala yang menghambat di muka hamba. Dalam perang manusia bertindak seperti hewan, lupa akan kemanusiaannya. la mabuk melihat darah seperti harimau lakunya, membunuh, menerkam menewaskan mangsanya," demikian jawab Damarwulan. "Akan tetapi, o, kekasih hamba, setelah redalah nafsu yang berkobar dalam dada hamba, teringatlah hamba akan orang yang telah hamba bunuh dengan tangan hamba sendiri. Terbayang kembali di hadapan mata hamba bagaimana mereka mengaduh dan merintih. Senantiasa hamba melihat mayat yang berkumpul-kumpul keliling hamba, matanya terbuka tidak melihat, mukanya masih menyeringgit membayangkan sakit."

Diam sebentar, kemudian katanya, "Waktu hamba sampai kemari, hamba lihat perempuan-perempuan di pintu gerbang bersama dengan anak-anaknya menantikan suami dan ayahnya. Ratap tangis mereka memilukan hati dan hamba sendiri turut menderita."

Dewi Anjasmara memandang dengan tenang, kemudian ujarnya, "Kakanda Damarwulan! Sungguh aku bukan perempuan, kalau Adinda tidak mengerti akan perasaan Kakanda. Akan tetapi, kekasihku, haruslah dibiarkan Majapahit runtuh...?!"

Damarwulan tiada segera menjawab. Keduanya sama-sama memandang ke jalan, kepada orang-orang yang lalu lintas, prajurit-prajurit yang datang dan pergi, yang menggambarkan keadaan dalam kota Majapahit yang sedang rusuh dan gelisah.

Kemudian dengan lesu, seakan-akan kata-katanya terlompat dari mulutnya dengan tiada dipikir dan dirasakannya benar, "Ya, apa bedanya bagi hamba, siapa yang jadi raja di Jawadwipa?"

"Bagaimana, jika sekiranya Menak Jingga yang menduduki takhta Kerajaan?

Akan selamatkah Jawadwipa?" ujar Anjasmara.

Damarwulan tiada lekas menjawab.

"Bagaimana pada timbangan Kakanda?" ujar Anjasmara mendesak. "Pasti rakyat akan bertambah sengsara, negeri akan bertambah kacau,

Menak Jingga bersifat raksasa, tidak mengindahkan keadilan dan peri kemanusiaan. Aku pernah menghadapi dia di medan pertempuran, is menaiki kuda hitam. Badannya hitam seperti karang, pakaiannya seakan-akan tiada bergerak, sekalipun angin bertiup dengan kencangnya. Matanya tiada menyorotkan cahaya, seperti mata orang yang mati. Seakan-akan dia sedang berhadapan dengan bala tentara raksasa dari neraka."

Dewi Anjasmara berkata pula, "Relakah Kakanda membiarkan dia merampas Jawadwipa?"

"Apa gunanya Majapahit ditolong lagi?" jawab Damarwulan. "Agama sekarang sudah berubah menjadi takhayul, pendeta sekarang telah menjadi pemeras. Tahukah Adinda apa yang terjadi di tempat-tempat peribadatan sekarang, baiklah tiada hamba ceritakan. Agama dahulu meninggikan budi, sekarang sudah berubah sifatnya seperti penjara yang mengurung dan membelenggu hati rakyat, bahkan merusak-binasakan jiwa rakyat. Orang melihat lahirnya saja, tidak mengerti lagi isinya. Arca disembah sebagai dewa, sebab rakyat tak dapat berpikir lagi. Pendeta bukan memimpin kepada beragama, tetapi mengajarkan kebohongan dan menambah kebodohan saja, supaya kuasanya makin meluas, supaya tercapai kemauan yang hina dan

rendah."

Damarwulan terdiam pula, seketika kemudian katanya, "Kesatria namanya saja yang masih tinggal, sifat dan perbuatannya sudah seperti perampok. Rakyat jelata hidup melarat, kurus kering tidak bertenaga, seperti akan matt menahan lapar sekalipun masih bernapas. Majapahit akan punah, tidak dapat ditolong lagi.

Sekalipun keadaan dapat diubah, akan tetapi apa gunanya?"

"Kakanda hams memenuhi kewajiban, menuruti darmamu sebagai kesatria Majapahit," ujar Dewi Anjasmara pula.

"Segala darma tidak hamba indahkan, kalau hamba tidak mengerti," jawab Darmawulan pula. Sambil melangkah menuju ke jalan samping is berkata perlahan-lahan, bimbang, seakan-akan ia

berkata kepada dirinya sendiri, "Kewajiban dan darma hamba sekarang menanti di kandang kuda paman hamba!"