Damarwulan Bab 04 : Keangkuhan

Bab 04 : Keangkuhan

Adapun Damarwulan setibanya di Majapahit, sebelum memasuki kota, berhenti dahulu di tepi Kali Berantas akan membersihkan dirinya dan menenangkan jiwanya seketika. Tanda-tanda kesatria yang baru kembali dari medan pertempuran tidak ada lagi padanya. Kecuali sebuah kotak yang diserahkan bayangkara Adipati Tuban kepadanya ketika bala tentara Majapahit akan mengundurkan diri, masih disimpannya baikbaik. Sementara itu kedua orang punakawannya disuruhnya bertanyakan rumah Patih Logender, karena ia sendiri belum pernah mengunjungi pamannya sejak orang tuanya tinggal di desa Paluh Amba, sambil melihat-lihat keadaan kota. Ketika orang tuanya meninggalkan Majapahit, ia masih kecil. Sebelum sampai ke pintu gerbang Keratuan Majapahit terentang sebuah jalan yang lurus, lebar dan rata. Mula-mula sampailah mereka ke sebuah alun- alun yang luas dan sangat terpelihara rupanya. Sebelum pintu gerbang di sebelah kiri ada sebuah parit yang sedang lebaruya. Dari pojok parit yang sebelah barat ada terusan yang agak sempit menuju ke Kali Berantas.

Beberapa kawanan itik serati sedang asyik bermain-main, timbul dan menyelam dengan aman dan girangnya.

Damarwulan torus raja menuju ke alun-alun sebelah selatan. Setelah melalui sebuah jalan yang bertentangan benar dengan pintu gerbang utara, ia membelok ke kanan kemudian ke kiri, di sanalah kepatihan pamannya, patih kerajaan Majapahit. Setelah sampai ke paseban ia tertegun seketika.

Di beranda keliha tan Patih Logender sedang duduk bertolak pinggang.

Seorang gadis kelihatan muncul dari dalam diiringkan oleh abdi perempuan membawa nampan perak bertutup kain kuning. Setelah sampai ke hadapan Patih Logender, abdi itu berlutut dan beringsut beberapa kali dengan ujung kakinya seraya mengangkat tutup nampan itu. Anak gadis yang mendahuluinya lalu duduk di atas peterana di dekat ayahnya dan mengangkat cangkir air yang baru terbuka tutupnya itu. Hampir saja air itu tertumpah kena tangan kirinya, karena tiba-tiba ia beradu pandang dengan Damarwulan yang sedang berdiri di sudut paseban mengamat-amati dan memandangi pamannya. Untunglah abdi dalam yang memegang nampan itu selalu waspada, dengan cekatan nampan perak itu dimiringkannya ke arah yang berlawanan. Akan tetapi tiada urung dari mulutnya terlompat ucapan, "0, Gusti!"

Setelah undur dengan beringsut pula ia lalu memandang kepada Dewi Anjasmara dengan menggigit bibir atas kemudian melk knya dengan pandangan yang mengandung seribu arti. Kemudian setelah ia menyembah dengan jalan menyusun kesepuluh jarinya dan membawanya ke ujung hidungnya dan setelah memungut nampannya kembali barulah ia berdiri dan berjalan perlahan-lahan menuju ke pintu. Sesampainya di tengahtengah pintu, ia memutar badannya kembali seraya memandang kepada Anjasmara yang kelihatan agak gugup, kemudian abdi itu memandang ke paseban tempat Damarwulan berdiri sebagai terpaku layaknya di tanah.

Pada penglihatannya bukan Patih Logender yang duduk di atas peterana itu, melainkan ayahnya sendiri, bekas Patih Udara yang sudah mengasingkan diri bahkan sudah jauh entah di mana. Sekarang kembali segar dalam ingatannya keadaan empat tiga belas atau lima belas tahun yang lalu ketika ia baru pandai berjalan; apabila ayahnya duduk di atas peterana itu, ia suka sekali berdiri di pinggir peterana itu diasuh bundanya. Kadang-kadang ia didudukkan ayahnya di sampingnya.

"Siapa gerangan?" tanya Patih Logender amat lambat, entah ia bertanya kepada putrinya entah kepada dirinya sendiri. Baru sekali itu dilihatnya orang muda itu dan agak jauh di belakang dilihatnya ada dua orang laki-laki lain, jongkok di tanah.

"Bok ...!" seru Anjasmara kepada pelayannya yang sudah hendak masuk ke dalam seraya berdiri menuju pula ke pintu.

"Persilakan tamu itu masuk ...!" Pelayan itu turun ke halaman mendapatkan Damarwulan.

"Tuan Muda ... dipersilakan Putri Anjasmara," ujarnya dengan hormat.

Ketika melangkah menuju ke beranda, tak pernah dirasainya badannya seringan itu. Ia seakan-akan tiada berpijak di tanah, sebagai berjalan di awang-awang ia rasanya menuju ke tempat pamannya itu. Dewi Anjasmara telah duduk di samping ayahnya dan dia dapat dengan leluasa mengamati tamu itu, tiap langkah dan gerak anak muda itu hendak dihitung dan diperhatikannya dengan awas dan penuh minat.

Beberapa langkah lagi akan sampai ke hadapan Patih Logender, anak muda itu berlutut dan menyembah. Kelihatan benar kekikukan dan kegugupannya berhadapan dengan pamannya, yang belum pernah berjumpa dengan dia.

Bahwa itu pamannya yakinlah ia, karena rupanya dan sikapnya tidak banyak bedanya dengan rupa dan sikap atau lagak lagu ayahnya sendiri.

Patih Logender masih juga berdiam diri, mengingat-ingat.

"Hamba mohon diberi ampun, Paman!" ujar Damarwulan. "Hamba yakin tentu Paman tiada pernah mengenali hamba, karena hamba selama ini diam di desa dengan bunda hamba."

Mendengar anak muda itu memanggilkan paman kepadanya, Patih Logender agak terkejut seraya menegakkan kepalanya, lalu bertanya, "Siapa engkau dan apa maksudmu datang kemari?"

"Nama hamba Damarwulan, hamba datang dari Paluh Amba. Sengaja hamba kemari hendak menyerahkan diri hamba serta hendak memperhambakan bakti kepada Paman. Ayah hamba, selagi beliau ada, senantiasa menceritakan dan menyebutnyebut kebaikan Paman kepada beliau. Begitu pula Eyang hamba, Maharesi Paluh Amba, agaknya sudah bosan mendidik hamba, menunjuk dan mengajari hamba di desa, sebab itu hamba beliau suruh kemari. Hamba mulanya ingin menjadi pertapa supaya kemudian dapat menjadi pendeta seperti beliau. Akan tetapi hamba disuruh Eyang memperhambakan diri kepada Paman, supaya dapat dididik menjadi kesatria yang baik."

"Kalau begitu engkau ini malah putra Kakanda Udara?"

"Hamba, Paman! Ayah selalu menyebut-nyebut nama Paman sekeluarga. Kata Ayah, hamba ada mempunyai dua orang sepupu laki-laki, kalau hamba tiada salah ingat, Layang Seta dan Layang Kumitir, serta seorang adik perempuan, Dewi Anjasmara."

"Ya ... ya benar!" sahut Patih Logender dengan girang, menoleh kepada Anjasmara dengan tersenyum. "Apa lagi yang diceritakan Kakanda Udara tentang kami?"

"Ayah hanya mempunyai seorang adik, yaitu Paman sendiri yang sejak kecil sangat berkasih-kasihan bersaudara. Karena Paman lebih muda dan mempunyai putra tiga orang, dengan sukarela Ayah mengundurkan diri dari kerajaan dan tinggal mulamula di Paluh Amba, tiada jauh dari asrama Eyang, Maharesi Sang Budiman Palish Amba."

"Ya, ya, Maharesi, apa pula cerita beliau tentang kami?" tanya Patih Logender. "Tidak berbeda dengan cerita Ayah, Paman! Beliau senantiasa memuji- mujikan Paman kepada hamba. Paman seorang teladan ksatria yang baik di seluruh Majapahit, yang patut mendampingi Ratu dalam kedukaan dan kesukaan, orang pertama yang lebih mengetahui segala peristiwa keratuan, yang menentukan timbul tenggelamnya sejarah Majapahit."

Patih Logender tersenyum dan memalis kepada Anjasmara yang masih duduk di sampingnya, kemudian bergerak turun dari peterana, maju, memberi isyarat dengan tangan menyuruh Damarwulan berdiri, "Mari Anakku berkenalan dengan sepupumu Anjasmara!"

Anjasmara pun berdiri pula di samping ayahnya. Damarwulan bangkit dan maju terbungkuk-bungkuk menyusun kesepuluh jarinya. Seperti adat anak desa yang mengenal sopansantun kepada orang yang patut dimuliakannya. Anak muda itu menjatuhkan dirinya dan memeluk kedua belah kaki pamannya, "Pertemuan inilah yang hamba rindukan siang dan malam, Paman! Sejak dari kecil hamba berangan-angan hendak berkunjung ke kepatihan supaya dapat berkenalan dan bermain-main dengan saudara-saudara hamba. Sekaranglah baru diperkenankan oleh mahadewa, dan berasalah hamba sekarang bahwa hamba tiadalah sebatang kara di mayapada ini!"

Damarwulan berdiri lalu dibimbing oleh sepupunya, Dewi Anjasmara. Setelah melepaskan tangannya dari pegangan sepupunya berkatalah ia, "Paman ...! Rayi ...1) sekarang jiwa hamba mulai hidup kembali, seperti tanaman yang sudah lama kekeringan disirami air dan rasanya akan segarlah kembali...!"

Patih Logender sangat tertarik melihat budi bahasa dan tutur kata keponakannya yang sangat sopan dan santun Begitu pula Dewi Anjasmara. Baru sekali itu ia melihat sepupunya hatinya segera tertarik dan terikat kepadanya, sebagai telah bertahuntahun berkenalan.

"Baiklah, di sini sajalah engkau tinggal bersama kami. Aku merasa kewajibanku benar memajukan dan meinelihara engkau, karena saudaraku sudah tidak mempedulikan dan menghiraukan dunia lagi. Akan tetapi itu siapa?" Patih Logender menunjuk ke luar, kepada Sabda Palon dan Naya Genggong yang duduk berjongkok dekat tangga.

"Kedua orang punakawan hamba dari desa, Paman!"

"Eh, mari dekat ke sini," katanya pula, "agaknya aku sudah pernah juga mengenali kalian keduanya, tetapi di mana, aku lupa."

Keduanya naik ke beranda, maju beberapa langkah, kemudian duduk bersimpuh agak jauh seraya memberi hormat.

Patih Logender menghampirinya. "Di mana gerangan aku selalu berjumpa dengan kamu kedua?"

"Tentu di sini juga, Ndaraz)!" sahut Naya Genggong dengan sembahnya. "0, ya... ya...! sekarang aku baru ingat. Ketika Kakanda Udara jadi patih

dahulu, kamu keduanya yang sering membawakan

kudaku ke kandang, bila aku datang berkunjung. Benarkah demikian?" "Hamba, Gusti!" Layang Seta dan Layang Kumitir keluar dari dalam dan tegak bertolak pinggang dengan angkuhnya dan bertanya, "Orangorang dari manakah ini, Ayah?"

"Seta, Kumitir! Ini Damarwulan baru datang dari Paluh Amba, saudaramu juga, anak pak tuamu, Patih Udara. Mari berkenalan...!"

Damarwulan maju beberapa langkah ke arah Layang Seta dan Layang Kumitir. Girang benar hatinya diperkenalkan dengan kedua orang sepupunya, yang dikenang-kenangkannya selama ini, yang baru sekarang bertemu. Akan tetapi keduanya malah undur dan berpaling. Layang Seta kemudian memandang dengan tajam kepada Damarwulan, penuh keangkuhan dan kebencian. Sementara itu Layang Kumitir mengamat-amati Damarwulan dari samping, teramat sangat mengejek lakunya. Kepadanya

dihereng-herengkannya dan digeleng-gelengkannya, ke kiri dan ke kanan seperti layang-layang kertas yang sedang ditiup angin rupanya dan matanya diputar-putarnya ke alas ke bawah, tak ubahnya seperti mata capung liar memandang D?marwulan, mulai dari ujung kaki sampai ke puncak jemalanya.

Sikap keduanya itu teramatlah menghina tampaknya.

"Untuk apa kami Ayah suruh berkenalan dengan orangorang desa semacam jembel ini!" kata Layang Seta dengan keras suaranya dan memandang dengan tajam seketika, kemudian berpaling kepada kedua punakawannya yang sedang jongkok di tepi terali. "Eh Kerucut, lihat sini...!" katanya pula membentak kepada Sabda Palon yang memang bertutup kepala yang berbentuk lancip ke atas, tak ubahnya seperti kerucut.

"Bekicot...!" bentak Layang Kutir kepada Naya Genggong yang memakai ikat kepala yang dililitkan memang tampak rupanya seperti kepala keong, ketika ia hendak berpaling kepada Sabda Palon. "Tahu adat 'dikit, ya...! Kau kira ini di mana?"

"Damarwulan datang dari jauh sengaja hendak bertemu Berta hendak berkenalan dengan Ananda kedua dan hendak mengabdi kepada Ayahanda!" ujar Patih Logender pula

"Puh, tak ada gunanya," jawab Layang Seta dengan pendek.

"Hendak mengabdi kepada Ayah! Baik suruh mereka memelihara kuda di kandang," jawab Layang Kumitir pula, sangat merendahkan. "Tidak patutnya dia minta berkenalan dan hendak bergaul dengan kami."

"Anak desa yang tak tahu adat seperti itu hendak tinggal di kepatihan," ujar Layang Seta pula. "Terlalu...!"

"Raka... Seta!" seru Dewi Anjasmara, "jangan terlalu merendahkan saudara sendiri!"

"Dengar... dengar... Anjasmara memihak dan tertarik kepada anak desa itu!" ujar Layang Kumitir pula. "Tentu ia telah kena guna-guna dan mantra orang desa yang dibawanya dari Paluh Amba."

"Kakanda Kumitir...!" sera Anjasmara pula, sangat sedih serta tiada terkatakan malunya kepada Damarwulan, memikirkan sikap kedua orang saudaranya itu. "Bukankah kami keturunan ksatria sejati, kata Ayah! Tidak mau kami dicampur-baurkan dengan anak desa yang tiada berpendidikan itu."

Keduanya lalu masuk, dan menghilang.

Anjasmara menangis. Setelah kedua orang saudaranya pergi ia lalu memeluk ayahnya, sebagai minta pertimbangan yang bijaksana. Damarwulan masih terdiam.

"Beginilah, Damar, kupikir pula sebaliknya, akan susahlah engkau bergaul dengan kedua orang anakku itu di kepatihan ini, sekalipun aku ingin menolongmu. Apalagi seperti katanya, engkau dididik secara anak desa, sedang keduanya dididik secara anak kota, secara ningrat. Tentu engkau belum mengerti benar pergaulan serta basa-basi orang kota. Biarlah engkau dengan Sabda Palon dan Naya Genggong, buat sementara tinggal di kandang kuda saja. Aku ada mempunyai sembilan ekor kuda. Peliharalah kuda itu dan jagalah baik-baik!" katanya. Patih Logender terdiam sebentar, kemudian ujarnya, "Pandai-pandailah engkau membawakan diri dan bergaul dengan Seta dan Kumitir! Maklumlah keduanya anak manja... dan pergaulannya terbatas di kalangan atas saja...!"

"Ayah...! Sampai hati Ayah terhadap Rakanda Damarwulan, putra saudara Ayah sendiri!?" seru Anjasmara dengan sedih, kemudian memandang kepada Damarwulan dengan perasaan amat terharu.