Damarwulan Bab 03 : Majapahit dan Blambangan

Bab 03 : Majapahit dan Blambangan

Mereka sudah sampai di Cemara Nunggal dalam perjalanannya menuju ke Majapahit. Damarwulan telah memutuskan akan pergi kepada pamannya, Patih Logender. Banyak yang hendak dipelajari dan hendak diketahuinya di ibu kota. Sejak ayahnya mengundurkan diri dari kerajaan ia tinggal di Paluh Amba tiada jauh dari pertapaan kakeknya, sebuah desa yang nyaman di kaki gunung. Sering ia berangan-angan dan mengenang-ngenangkan pamannya.

Pamannya mempunyai dua orang putra, Layang Seta dan Layang Kumitir, dan seorang putri, Dewi Anjasmara. Dari sejak kanak-kanak ingin benar ia ber- kenalan dan bermain-main dengan ketiga orang sepupunya itu. Sering benar dia merindukan mereka dari jauh.

Di rumah ibunya di desa itu ia selalu merasa sepi, sebab itu ia lebih suka bermain di pertapaan atau di asrama eyangnya atau bergaul dengan anak- anak desa yang sebaya dengan dia. Apabila ia tinggal seorang diri dalam rumah orang tuanya atau di asrama eyangnya, acapkali ia mencoba menggambarkan bagaimana rupa, perawakan serta lampah laku Anjasmara dan kedua orang saudaranya itu dalam ingatannya. Kakeknya pernah men- ceritakan bahwa pamannya itu seorang yang baik, peramah, dan terkenal sebagai seorang perwira yang gagah waktu mudanya. Karena sifat-sifatnya yang utama itulah, ayahnya sendiri dengan sukarela menyerahkan pangkat patih itu kepadanya. Keterangan eyangnya sama dengan keterangan ayahnya hanya ibunya yang tiada banyak ceritanya tentang keluarga Patih Logender itu. Malah apabila ia mendesak bertanyakan diri Anjasmara selalu dijawab ibunya, "Untuk apa engkau menghiraukan hal mereka. Sekalipun mereka saudaramu, anak-anak pamanmu, keadaannya, pergaulannya serta pendidikan rumah tangganya berbeda sekali dengan engkau, yang telah menjadi anak desa. Ibunda khawatir kalau-kalau mereka tidak sudi mengenali engkau, maklumlah kedudukan mereka di atas dan engkau di bawah, lembah dan gunung, sekalipun berhampiran, keadaannya sesungguhnya berbeda jauh sekali. Yang satu harus menengadah bila menghadapinya dan sebaliknya yang lain memandang dengan menunduk, menukikkan mata ke bawah."

Sepanjang jalan sekalian itu selalu menjadi pikiran baginya.

Tengah ia asyik membayangkan pertemuan dengan Anjasmara, Naya Genggong dan Sabda Palon yang telah ketinggalan beberapa jauh di belakang menyusul berlari-lari dan berteriak, "Raden Damar ... tentara Majapahit akan menyerang Blambangan!"

"Dengar ... dengar, kedengaran kalasangka berbunyi!" ujar Sabda Palon pula.

Barisan itu sudah bertambah dekat. Di depan sekali pasukan bayangkara Patih Tuban naik kuda, kemudian baru barisan kalasangka berjalan kaki, di belakang itu pasukan bayangkara berjalan kaki pula, lengkap dengan panji- panji, rambu-rambu, umbul-umbul dan tunggul ular-ularnya. Patih Tuban sebagai senapati di atas kuda hitam, Sangupati didampingi oleh beberapa orang perwira tinggi bawahannya serta berpuluh-puluh perwira lainnya dan beribu-ribu prajurit dan bintara, serta barisan sukarelawan tiada terhitung jumlahnya.

Seorang perwira, entah bintara, sepanjang jalan, pada tiaptiap desa yang dilalui senantiasa berseru-seru mengumumkan, "Hai, sekalian laki-laki di Majapahit! Keluarlah kalian .... Patih Blambangan telah mendurhaka kepada ratumu, dan sengaja hendak menginjak-injak negeri dan desamu ...!"

Mendengar seruan itu keluarlah seluruh penduduk ke pintu desa. Ada yang membawa pacul, arit, golok, kapak, belencong dan beliung, pendeknya apa Baja yang ada pada mereka. Yang menyimpan rudus atau keris, dengan tiada sempat mengasah rudusnya atau mengasapi keris pusakanya, keluarlah berlari-lari ke jalan menggabungkan diri dengan barisan itu. Tentang kesetiaan rakyat jelata di masa itu kepada ratunya, atau tentang kejujuran mereka berkorban kepada negaranya patut dipuji dan diingat sepanjang masa.

Mereka mengorbankan apa yang ada pada mereka, demi keselamatan

negara dan ratunya. Berbakti kepada ratu berarti l memuja kepada dewa-

dewa, karena ratu menurut ajaran mereka adalah titisan dewa. Mendurhaka kepada ratu berarti mendurhaka kepada dewa-dewa.

Damarwulan dengan kedua orang punakawannya, Naya Genggong dan Sabda Palon, tentu harus ikut pula.

Barisan itu baru dua hari kemudian berhadap-hadapan dengan bala tentara Blambangan yang telah memusatkan pertahanannya di dataran rendah sebelah barat Gunung Raung di sebelah tenggara Gunung Argapura. Belum sempat lagi bala tentara Majapahit yang dikepalai oleh Patih Tuban itu menghela napas, karena kepayahan berjalan, tiba-tiba pasukan Blambangan datang mengeluari, sebagai semut rupanya tersembul dari belukar-belukar atau dari tempat persembunyiannya. Rupanya orang Majapahit sudah kena jebak dengan perhitungan perang dan persediaan yang serapi-rapinya. Pasukan mereka dibiarkan bergerak selela-lelanya, sebebas-bebasnya melalui perbatasan, seakan-akan perbatasan itu tiada dipertahankan sedikit juga.

Mulut rakyat di tempat itu, terutama beberapa orang kepala desa telah disumbat, disogok dengan emas dan di sepanjang jalan telah ditanamnya pula mata-mata untuk mengintai dan mengamatamati gerak-gerik pasukan Majapahit. Tipu muslihat mereka berhasil. Mata-mata itu pun telah menyelinap pula masuk ke dalam barisan Majapahit dan pada saaunya dengan mudah pula mengacau dari dalam.

Sungguhpun demikian Bupati Tuban berjuang mati-matian, dengan gagah dan beraninya. Pertempuran telah berlangsung beberapa lamanya. Beliau didampingi oleh seorang kesatria muda, yang tampan dan gagah. Ketika seorang perwira berkuda kena panah musuh hampir di tengah-tengah dadanya benar dan ketika ia hampir jatuh ke dekatnya, anak muda itu segera melompat dengan sigapnya ke atas kuda di belakang perwira itu, lalu melarikan kuda itu ke tempat yang aman. Setelah membaringkan dan memberi pertolongan seperlunya, anak muda itu kembali ke tempat pertempuran lalu memacu sekencang-kencangnya hilirmudik dan berjuang di samping Bupati Tuban.

Perwira-perwira yang lain dan Bupati Tuban sendiri memanggilkannya Raden Gajah. Sekalipun rupanya sangat muda sekali, tetapi pengetahuannya dalam ilmu dan siasat perang sangat rrmengagumkan. Melihat gerak-gerik musuh dan setelah bertempur beberapa lamanya, tahulah ia segala muslihat perang tentara Blambangan, ia segera memberi ingat dan mengusulkan siasat balasan kepada Senapati, yakni Bupati Tuban, katanya, "Paduka Tuan Adipati yang hamba muliakan! Harap hamba diberi ampun, jika sekiranya hamba terlalu lancang menyampaikan usul hamba ini!"

"Dengan senang hati, Anakku, katakanlah demi keselamatan Ratu Majapahit!" jawab Senapati.

Lalu diterangkannyalah bahwa musuh menjalankan siasat perguruan, menahan perangkap dari dataran tinggi dan tempattempat yang telah ditentukan. Sebab itu jangan bergerak ke arah utara. Diusulkannya pula supaya bala tentara Majapahit segera dikencar, dibagi tiga, supaya tiada mudah disergap lawan yang telah menyediakan kubu-kubu pertahanan yang kuat. Usul Raden Gajah itu disetujui oleh Bupati Tuban, memang mereka dalam keadaan terjepit dan siasat satu-satunya ialah berusaha mencari jalan keluar dari perangkap itu. Bupati Tuban sendiri memimpin pasukan yang menuju ke tirnur, arah ke kota Blambangan, Raden Gajah dan pasukannya menuju ke arah selatan dan seorang bupati lagi memimpin pasukan yang ketiga, dan bila terpaksa hares bergerak arch ke barat. Raden Gajah sesungguhnya dengan sangat meminta supaya ialah yang membawa bala tentara yang menuju ke hmur itu, karena memang jurusan itulah yang Iebih berbahaya dan yang kedua ke arah utara seperti telah diterangkannya. Akan tetapi Senapati tidak mau mengabulkan permintaanriya. "Saya sudah tua, Anakku, biarlah saya sekali yang berhadapan Iangsung dengan bupati Blambangan yang durhaka itu. Saya telah menyediakan nyawa saya demi kehormatan Ratu Majapahit. Bagi engkau, bila sekiranya perlawanan kita yang sekali gagal untuk menginsyafkan si Durhaka itu, masih akan terbuka kesempatan untuk berbakti kedua kalinya, sampai kemenangan tercapai." Ketiga medan pertempuran itu banjirlah oleh dash, baik oleh darah lawan maupun oleh darah kawan sendiri. Segera juga kelihatan bala tentara Blambangan hampir kehilangan garis siasat. Bupati Blambangan dengan nekat mempertahankan garis pertempuran sebelah timur, demikian pula pada garis pertempuran barat dan selatan. Bagaimana medan pertempuran sebelah utara? karena tentara Majapahit yang mereka harapkan akan menyerang tidak juga tiba, mereka lalu turun lambat-ambat. Raden Gajah telah memerintahkan kepada kepala pertahanan medan pertempuran ketiga, bila mereka turun atau menyerang hendaklah dinanti dengan gigih.

Akan tetapi malang, Senapati yang memimpin penyerbuan ke timur, karena musuh luar biasa banyaknya, karena mereka bertahan di daerahnya sendiri, tidak dapat lama bertahan dan tewas di tempat itu. Bala tentaranya terpaksa mundur dan sebaliknya tentara Blambangan yang dari timur itu mulai maju, begitu pula yang dari utara.

Tentara Majapahit tak dapat lagi bertahan dan terpaksa mengundurkan diri, kembali dengan kekalahan ke ibu kota Majapahit. Sesungguhnya kekalahan akan lebih hebat menimpa Majapahit dan bahaya akan lebih besar mengancam pasukan dan sukarelawan yang datang menyerang itu, jika sekiranya Raden Gajah dari barisan sukarela tiada lekas tampil mendampingi Senapati Tuban.

Dengan secara giat turut memegang pimpinan serta mengendalikan pertempuran melawan pasukan-pasukan Blambangan di lembah yang banyak beranak sungai itu yang terletak antara dua buah lereng gunung, yang telah diperlengkapi dengan kubu-kubu serta dengan persediaan-persediaan pertahanan yang rapi. Untung benar lekas diketahui oleh Raden Gajah dan dengan amat berani ia tampil ke depan, ikut giat mengatur siasat balasan.

Sekalipun kalah akan tetapi bahaya yang lebih besar dapat dihindari dan sebaliknya di pihak lawan tidak sedikit kehilangan jiwa dan harta benda. Seluruh anggota pasukan mengakui dan menyaksikan keberanian kesatria muda itu, tetapi heran, ia tampil dengan tiba-tiba dan menghilang dengan seketika pula. Tak seorang pun yang mengetahui dari mana asalnya, kemudian tidak didapat pula berita ke mana perginya. Yakinlah orang bahwa kesatria itu benar-benar titisan dewa-dewa yang telah dikirim dewata untuk membela Majapahit.