Clurit Batapotih

Pengarang : Suparto Brata
JILID I

PADA suatu hari yang panas, angin timur sedang bertiup dengan hebatnya sehingga ombak laut memukul-mukul pantai dengan serunya, berlabuhlah sebuah perahu layar dari pantai seberang di pelabuhan Surabaya. Perahu dari Madura. Perahu itu bukanlah satu satunya perahu yang berlabuh di situ pada hari itu. Banyak sudah perahu yang datang menjeberangi selat Madura sebelumnya. Setelah dirapatkan, berloncatanlah para penumpangnya ke darat. Mereka berjumlah enam-belas orang, terhitung perahu yang sarat penumpang. Tiga orang diantara penumpang-penumpang yang naik ke darat itu, berjalan dengan cepat menuju ke selatan. Dua orang pemuda dan seorang lagi perempuan. Mereka semua berpakaian adat, tidak berbeda dengan penumpang yang lain. yang laki memakai baju serba hitam, baju tanpa leher dengan dada terbuka, kaus dalamnya lorek merah dan putih. Tampak sangat tampan. Sedang yang perempuan memakai kain warna warni, bayunya hijau muda, rambutnya disanggul tinggi, agak rusak karena dikacau angin. Ketiga orang ini kelihatan gembira. Laki-laki yang lebih muda agaknya baru sekali itu naik didaratan situ, kentara dari sikapnya yang tercengang. Ia banyak bertanya kepada yang lebih tua, dan sekaliannya disahut dengan senyum. Kadang-kadang perempuan muda yang berjalan bersama mereka mencampuri pembicaraan dengan tertawa-tawa juga.

“Jadi, langkah apa yang harus kutempuh pertama-tama?”

Begini Din. Jika orang tuamu memang menghendaki engkau meneruskan sekolah, baiklah kau teruskan. Orang seperti awak ini lain pendapatnya. Jika engkau sudah lama disini, nanti terbuka pikiranmu, bahwa bangsa kita yang telah makan sekolah, menjadi kurang senang dengan perlakuan orang asing disini. Nanti engkau kukenalkan dengan Haji Bahrum. Ia lebih bisa menjelaskan sebab musababnya kepadamu," jawab yang lebih tua.

“Wi, aku kurang setuju sebenarnya dengan maksudmu memperkenalkan Jabodin pada Haji Bahrum,” sela perempuan muda teman mereka. “Sebab engkau melibatkan Jabodin pada pertikaian politik. Sedang orang tua Jabodin mengirimkan dia kemari untuk sekolah."

“Karena itu, aku tadi bilang, dia boleh saja meneruskan sekolahnya, Mah. Aku hanya mau mengenalkan dia dengan Haji Bahrum jika ia memerlukan, jika ia sudah terpengaruh dengan orang-orang seperti kita ini."

Apakah salahnya terlibat pertikaian politik, jika begitu pengaruh keadaan disini? Di kandang kambing kita mengembik, di kerangkerg harimau kita mengaum, bukan?” ujar Jabodin, pemuda baru itu.

“Jawawi memang tidak salah. Benar, Din. Suasana orang-orang kita disini diliputi dengan pertikaian politik. Dan politik bagi orang-orang kita berarti bertengkar! Bertengkar satu sama lain! Itulah yang kurang kusukai jika engkau kenal dengan Haji Bahrum."

“Nah, nah! Engkau sudah keliru ngomong, Mah. Haji Bahrum tidak begitu menerangkan tentang politik. Orang kita yang sudah tinggi penghidupannya harus tahu politik, agar orang-orang Belanda tidak gampang menjerumuskan kita menjadi budaknya. Sedang bertengkar yang kau maksud tadi kukira karena engkau kenal orang macam Bahrowi, Aluwì, Mat Toha yang biasa memusuhi orang kita. Mereka itu orang- orang buta, makan gaji dari pemerintah Belanda. Dengan Bahrowi misalnya, susah kita bicara, sebab dia kaki tangan Van Greven, kepala polisi Belanda yang jahat itu! Ah, kau keliru, Mah! Keliru, Patimah ini, Din! Sudahlah percayalah kepadaku. Menyeberang kemari kau bersamaku, orang tuamu mempercayakan engkau berteman denganku. Apa pula yang hendak dirisaukan? Percayalah kepadaku!”

Jabodin, orang yang baru sekali itu mendarat ditanah Jawa, memang kagum dengan sikap temannya seperjalanan. Jawawi dulu juga sekolah di Sampang, tapi lebih dulu lulus dan pergi ke Surabaya. Waktu kembali menengok kampung halamannya, pemuda Jawawi kelihatan lebih cakap dan cerdik, bicaranya meyakinkan. Dikampungnya ia menjadi teladan bagi pemuda lainnya, dan banyak gadis terpikat olehnya.

Patimah, tidak lebih tua dari Jabodin. Dulu pernah ikut neneknya dan bersekolah bersama sama dengan Jabodin. Tetapi sebelum naik kelas tiga ia telah pindah ke Surabaya, ikut orang tuanya. Ia lebih lama tinggal di Surabaya. Waktu itu Patimah menjenguk neneknya di Sampang, dan waktu kembali ke Surabaya bersama l 'sama seperjalanan der gan Jabodin dan Jawawi. la kenal juga dergan Jawawi waktu adik Jawawi kawin dengan orang Surabaya. Kemudian ia tidak kenal biasa, tetapi serirg juga bergaul, baik dilapangan sosial maupun dalam kegiatan pergerakan bangaa.

“Sebentar, Din. Aku singgah dikedai itu. Ada barangku yang kutitipkan orang situ," ujar Jawawi waktu melewati sebuah kedai.

Patimah memegangi tangan Jabodin pada kesempatan itu. Mukanya pucat, sikapnya gelisah. Waktu Jabodin menengok kearahnya, dicobanya tersenyum menghapuskan kesan diwajahnya.

“Mengapa, Mah?” tanya Jabodin. Hati pemuda itu bergolak juga dipandangi mata yang bagus.

“Ah, tidak apa-apa. Engkau sekarang kelihatan gagah. Mukamu tampan, badanmu kekar. Tak kusangka orang dari Sampang bisa begini kuat," kata Patimah setengah bergurau.

Apa yang dikatakan Patimah itu mungkin keadaan diri Jabodin yang sesungguhnya. Tetapi pemuda itu melihat bahwa apa yang tersirat dihati Patimah waktu memegangi tangannya bukanlah seperti apa yang dikatakan itu. Jabodin melihat juga bahwa Patimah berhati kecut. Berhubung dengan kepergian Jawawi singgah dikedai itu. Ada apa gerangan? Apa pula yang dirisaukan gadis dalam hubungarnya dengan perselisihan perdapat tentang politik tadi? Berbagai pikiran timbul, tapi tidak dia satupun dinyatakan dengan perkataan. Segala yang diucapkan teman perempuan itu diterimanya dengan selayaknya. Mukanya merah padam mendapat pujian, kejantanan tentang dirinya dari seorang gadis ayu.

“Hm, jangan kira dipulau kapur orang tak dapat kubur!" balas Jabodin dengan tersenyum pula.

Jawawi datang dengan membawa sabit ditangan. Sabit ini kecil, melengkung panjang, sekilas terlihat reperti bulu ekor ayam jantan. Orang didaerah Surabaya lebih kenal dengan nama clorit. Melibat ini Jabodinpun terkejut. Agaknya inilah yang membuat kecut hati Patimah. Ya, bahkan ketika itu Jabodin merasa jari-jari Patimah gemetar memegangi tangannya. Tapi  Jawawi tampaknya tidak  mengindahkan perubahan air muka teman-temannya. Dengan tenang saja ia menyelitkan senjata tajam itu dipunggungnya.

“Mengapa pula engkau membawa senjata semacam itu, Wi?” tanya Jabodin tak dapat menahan gelora perasaannya.

“Ah, biasa! Biasa orang sini bawa senjata tajam," kata Jawawi dengan suara tertekan. Ia menyebutnya biasa, tetapi terasa benar pada tekanan suaranya bahwa hatinya tidak nyaman.

Mereka melalui Eerste Kade, jalan yang melintas menuju kota. Pada waktu siang hari bolong begitu, hawa daerah pelabuhan panasnya bukan main. Dan dari pelabuhan kebota, tidak terdapat pohon yang rindang ataupun rumah yang berjejal. Tanah lapang sepi yang ditumbuhi ilalang, atau jalur-jalur jalan kereta api, terbentang disana. Juga Eerste Kade amat sepi. Tidak ada orang lalu lalang, meskipun pada siang hari. Tetapi bagi orang bumi putera yang tidak punya uang untuk membayar taksi atau dokar, biasa melalui jalan melintas yang sunyi ini.

Mereka bertiga berjalan dengan tidak perduli panas terik, dan tidak mengandung rasa tergesa sedikitpun. Mereka berganti-ganti bicara, bahkan seringkali bicana berbarengan, karena akrabnya. Tetapi setelah lewat pertengahan jalan, tiba-tiba Jawawi berhenti. Senjata tajam dipunggungnya dicabut.

“Mengapa Wi?” Patimah yang cepat bertanya. Suaranya setengah menjerit.

“Hatiku tak enak. Kulihat ada orang merunduk runduk diserokan depan itu!” jawab Jawawi. Suaranya bergetar.

Jabodin yang tidak tahu keadaan tidak tahu sikap apa yang harus dilakukan. Sedang Patimah terdengar mengisak-isak menangis.

“Jangan menangis, Mah! Bikin hati gundah saja!" bentak Jawawi.

Belum lagi selesai kesiap-siagaan itu, dihadapan mereka telah berdiri tiga orang laki laki menghadang jalan. Seorang diantaranya masih muda dan sebaya dengan Jawawi, berdiri dengan bertolak pinggang, agaknya menjadi pemimpin mereka.

Belum lagi bertegur sapa, ia telah tertawa terbahak-bahak : “Ha ha, ha. ha! Mukanya sudah pucat seperti mayat! Ha, ha, ha! Setan buruan! Dari mana kau?”

“Bahrowi! Apa maksudmu menghalang disitu?” tanya Jawawi dengan gugup. Namun ia maju beberapa langkah membuat jarak dengan teman-temannya.

“Wi, Jawawi! Jangan maju!” sedu sedan Patimah melarang.

“Ha, ha, ha, ha! Diperintah oleh perempuan, Ia berhenti! Inikah pendekar yang disebut sebut oleh Haji Bakri ujar pemuda yang bertolak pinggang laput memakai pakaian Madura, tetapi waktu berbicara itu diperguhakan bahasa Jawa logat Surabaya yang kasar.

Jabodin yang tidak mengerti bahasa Jawa berdiri tegak tak bergerak tak tahu bahwa melihat sikapnya orang pengadang itu sedang mencaci-maki temannya. Tetapi karena ia tidak mengerti persoalannya, maka pemuda dari Sampang ini diam saja Hanya perhatiannya juga yang tercurah kepada pertikaian sahabatnya ini.

Patimah telah terdengar menahan Jawawi dua kali dengan bahasa Madura. Agaknya pertemuan seperti inilah yang ditakutkan perempuan itu sejak Jawawi membawa clorit. Jawawi melangkah maju lagi dengan clorit digenggamanya, tapi musuh nya kelihatannya tidak gentas tidak apa meskipun dengan tangan kosong.

Ha, kau datang membawa clorit, ja? Dasar pengecut! Ayo, kemarilah! Bacokkan cloritmu itu di dadaku! Huh. clorit belian Pasarturi, mana bisa mempun dikulitku! Ini dada Bahrowi ha, ha. ha, Bahrowi turunan Sawunggaling!" ejek pemuda bertolak pinggang itu dengan nada menjakitkan hati.

Tekebur kau, Bahrowi! Kau pamerkan tebal kulit mu, aku tak gentar! Sebab engkau pengkhianat! Engkau menindas kaum pergerakan, karena makan gaji sama Van Greven! Aku tidak merasa malu malu bertempur denganmu menggunakan senjata, sebab aku diutus bangsaku! Bagaimana tebal kulitmu itu, tentu akan hancur juga kena logam ini! Apakah engkau telah bertekad hendak mati? Sayang pendekar sakti-seperti engkau mati sebagai pengkhianat bangsa, Bahro. wi!" seru Jawawi.

“Ha, ha, ha, ha, masih banyak mulut juga! Apa perlunya siang aku datang mencegatmu jika aku ragu dengan tindakanku? Bahrowi mau membunuh jago Haji Bakri, yang disebut pendekar muda buruan polisi itu! Ayoh, jangan banyak cakap. Lebih baik kau lindungi nyawamu dengan clorit itu sebelum mati konyol oleh pukulan mautku!"

“Kurangajar! Terimalah clorit Batapotih! Robek perutmu" seru Jawawi sambil membabatkan cloritnya.

Patimah menjerit-jerit. Jabodin menyaksikan perkelahian itu dengan melompong. Sedang kedua pengawal Bahrowi siap siaga dengan senjata masing-masing berdiri pada tempatnya. Jawawi dan Bahrowi berkelahi mengadu nyawa.

Jawawi membacokkan senjatanya dengan pukulan memucuk. Kekuatan ayunannya ada pada ujung senjata itu, sehingga meskipun kelihatannya tanpa tenaga, tetapi jika mengenai, akan hebatlah luka yang ditimbulkannya. Bahrowi tidak gegabah memasangkan dadanya seperti sumbarnya. la seorang pendekar yang tangkas. Dan sangat terkenal karena beraninya. Ditangkapnya tangan Jawawi, akan dipilianya kebelakang. Tapi Jawawi bukan percuma disebut sebagai pendekar muda oleh Haji Bakri, seorang pergerakan yang menjadi intaian kaum penjajah. Jawawi menarik cloritnya dengan gaja mengarit rumput teki, lalu menyabetkan senjata itu dengan sabetan berganda Bahrowi terpaksa meng. undurkan diri sebab serangan Jawawi ini amat berba. haja. Lalu melesat kearah musuhaja dengan gerakan mendadak, sehingga Jawawi terpaksa menghindarkan diri dengan membungkuk. Kesempatan itu dipergunakan pula untuk membuat serangan maju bertubi-tubi kepada musuhnya yang tidak bersenjata itu. Melihat keuletan Jawawi dalam bermain clorit, gugup juga Bahrowi pendekar Kalwaron ini tindaknya Ia memutar dirinya. Tapi clorit Jawawi memburu membelit pinggangnya. Trang! Suara logam beradu terdengar. Kiranya dengan cekatan Bahrowi mencabut belati dipinggangnya, dan menangkis serangan bertubi-tubi yang susah dielakkan itu. Jawawi undur kebelakang merasakan benturan logam tangkisan Bahrowi. Dengan belati ditangan Bahrowi tindakannya lebih gesit. Ia meloncat, melesat, menghindar, regera menyerang dengan sigap dan ringan targan. Melihat kelincahan musuhnya yang terkenal dengan loncatan maut, gentar juga hati Jawawi. Memang sejak permulaan perkelahian ia gentar menghadapi Bahrowi. Tetapi ia harus melawannya jika ingin namanya tetap harum dikalangan jago-jago pencak kaum pergerakan. Tapi nasib tak bisa dihindari, malang tak bisa dielak. Waktu serangannya yang terkenal dengan jurus anak kail terapung-apung. Kaki lawan dengan keras menyepak belakangnya. Jawawi membungkuk mendekap bagian yang sakit. Tetapi pada ketika itu benas belati Bahrowi menancap dari samping. Jawawi menggeliat, senjatanya terlempar. Belum lagi jatuh, tubuh Jawawi kembali lagi kena dugang, sehingga kemball melengkung, dan tusukan yang kedua, ketiga, keempat bertubi-tubi mengenai punggung dan pinggangnya sebelum tubuh itu jatuh kebumi. Begitu sengit Bahrowi menyerangnya sehingga teriakan kekuatannya dicurahkan sepenuhnya. “Mah! Hih! Ini untukmu! Hah, kon!"

Jawawi mengaduh dan merintih kesakitan. Akhirnya tak kuat lagi ia melawan, darah mencurat dari lubang di badannya, dan iapun terguling guling. Napasnya tersengal- sengal.

“Hai, berhenti! Berbenti! Kejam, kau! Kejam! jahanam!” teriak Jabodin hendak melerai. Tetapi tak diindahkan oleh musuh Jawawi yang jahat itu. Maka diambilnya clorit Jawawi, dan dengan membabi buta pemuda Jabodin mengamuk! Dia memukul mukulkan clorit temannya asal kena, tanpa ilmu menjurus atau memukul. Tak tahan hatinya melihat sahabatnya disiksa begitu rupa. Sudah terang dari awal perkelahian bahwa Jawawi tidak menyukai perkelahian itu serta melawan dengan hati goyah. Namun musuhnya melancarkan serangan maut!

Melihat tindakan Jabodin ini kedua pengawal Bahrowi hendak ikut campur. Tetapi melihat pula cara Jabodin menyerang dengan asal pukul saja mereka kembali tegak dan tersenyum. Bahrowi yang mendapat serangan, menghindar dan mengejek. la meloncat ke kiri dan kekanan sambil tertawa-tawa seperti orang bermain loncat tali.

“Ha, ha, ha, mau apa kau pemuda dungu? Pukulan cara kampungan lagi, masa bisa kau mengenakan kulit tu. Nih.. kenakan tanganku. Hut, tidak bisa bukan? Lagi? Ha, ha, ha, hal" ujarnya dengan menggoda. Ditegakkan lengan kanannya didepan hidung Jabodin, waktu clorit Jabodin mengait, lengan itu dengan cepat hilang tapi segera kembali pada tempatnya.

Jabodin dengan marahnya tetap saja menyerang tanpa siasat. Menilik serangan orang yang terserang ini, Bahrowi segera mengambil tindakan. Tidak tahu lagi dari mana asalnya, tiba-tiba dada Jabodin terasa panas, dan tubuhnya terpental jauh jatuh didekat Patimah.

“Ha, ha, ha ha ha! Tolong itu, Mah! Suruh dia belajar pencak dulu, lalu menyerangku, ha, ha, ha! Mah, terima kasih Mah! Selamat tinggal! Sampai ketemu Ya, cung!" ujar Bahrowi dengan sombong. Lalu dengan keraknya meninggalkan tempat pembunuhan itu bersama teman-temannya.

Jabodin merasa sesak dadanya. Ia hendak bangun dan mengejar pembunuh, tetapi napasnya yang sesak tidak memperkenankan tubuhnya bergerak bebas. Lagi pula Patimah memegangi dengan erat.

“Lepaskan, Mah! Biar kuhajar orang biadab itu!" seru Jabodin meskipun ia tahu benar tidak akan menang bertanding dengan pemuda gesit itu.

“Jangan, Din! Percuma! Dia pendekar yang telah terkenal dikalangan jago-jago pencak Namanya Bahrowi," kata Patimah dengan bahasa Madura,

“Kau kenal dia, ja? Awas, aku akan menuntut balas! Tolong ingatkan aku akan rupanya jika kemudian hari pangling, ya! Aku kurang tajam mengingat wajah orang." ujar Jabodin. “Lalu, apa yang kita kerjakan sekarang? Ini soal pembunuhan, mestikah kita lapor kepada polisi ?"

“Din. Jangan menuntut bales! Ini urusan politik. Kau tak usah ikut campur. Sebaiknya kita panggil orang dekat-dekat sini untuk mengangkut jenazah teman kita. Kita lapor selayaknya. Tapi jangan mengharap pengusutan dari pihak yang berwajib. Percuma. Bahrowi ada dipihak pemerintah. Ia membunuh Jawawi tentu atau perintah Van Greven!"

“Hah, engkau tahu banyak. Tapi tidak adil! Harus ada tindakan hukum. Bagaimana aku tidak ikut jam pur? Aku menyaksikan pertarungan yang tidak adil ini! Lagi pula Jawawi waktu ini sebagai temanku, bahkan pelindungku ! Tidak Mah aku harus menuntut balas!"

“Mereka berkelahi dengan jujur, Din. Seorang lawan seorang !"

“Hah? Tapi aku yang tak tahu ilmu pencakpun mengerti, bahwa ilmu pencak Bahsori, ch, siapa tadi itu, jauh lebih tinggi dari pada Jawawi. Perkelahian itu tidak adil!”

“Lantas, kau mau apa? Apakah engkau akan melawan si pandai pencak itu? Oh, Din. Aku bilang, janganlah melibatkan diri pada urusan mereka. Ja. nganlah menerjunkan diri pada urusan politik! Kau masih murni dalam pikiran dan perbuatan Sekolahlah saja seperti kehendak orang tuamu," ujar Patimah dengan setulus hatinya. Air matanya meleleh juga.

Dalodin tidak memperdulikan nasihat perempuan muda itu. Hatinya telah hangus. Maka jawabnya dengan seram: “Aku akan belajar pencak. Aku akan menun. tut kematian Jawawi. Ini, clorit yang kugenggam ini akan kugunakan untuk mencabik-cabik jantung Bah sori! Tadi kudengar juga ancam Jawawi bahwa clorit ini kemudian yang akan melunasi jiwa Bahsori! Ta Bahsori, Bahsori, kuingat ingat nama itu!"

“Bahrowi Din. Bukan Bahsori! Oh, Din, kau akan menyesal mengambil keputusan begitu. Menyesal!" ujar Patimah.

Jabodin tidak mendengarkan lagi. Ia memeriksa jenazah temannya. Masih hangat, tapi tidak bernyawa lagi. Darahnja masih menetes. Tapi Jabodin tidak merasa ngeri. Didukungnya mayat temannya, dan berisarat kepada Patimah agar meneruskan perjalanan. Patimah dengan sedu-sedan mengikuti dari belakang, dan memberi petunjuk secukupnya mana-mana jalan yang harus dituju.

Jenazah Jawawi disambut oleh keluarganya dengan hujan tangis. Adik Jawawi, Jainap namanya, pingsan menyadari bahwa orang mati yang dibawa orang masuk rumahnya adalah kakaknya! Patimah membantu kerepotan rumah sahabatnya dengan merasa dirinya berdosa. Tapi ia lebih kuatir lagi akan tindakan Jatodin selanjutaja, sebagai orang baru yang buta keadaan tetapi jiwanya marah dan dendam. Oleh sebab itu ia selalu mendampingi Jabodin selama dalam pelajaran itu.

“Din.. Berikanlah kepadaku cloritmu. Berbahaya disini membawa lorit," bisik Patimah. Disini tidak saja berkeliaran orang pergerakan yang berpihak kepada Jawawi, tapi juga menyelinap mata-mata Van Greven yang ingin menyelidiki pergerakan itu selanjutnya. Sebab Jawawi terhitung tokoh muda yang gesit dalam pergerakan, meskipun tidak begitu pandai dalam hal main pencak. Kematian Jawawi tentu menarik perhatian kedua belah pihak yang bermusuhan. Sebab itu berlakulah dingin. Janganlah bertindak yang memberi kesan engkau terang terangan dipihak Jawawi. Nasibmu tidak akan lebih baik dari Jawawi jadinya. Berikanlah senjata tadi kepadaku.”

Jabodin tidak mau memberikan. Hatinya memang keras sebagai keadaan tubuhnya yang kekat Lagi pula senjata tajam yang dibawanya sekarang membawa khasiat pada dirinya. Ia merasa tenang dan sanggup melawan segala kemungkinan. la telah memperhatikan bentuk clorit Jawawi dan menimang-nimang mana yang tepat untuk dibacokkan, disabitkan dan siasat penyerangan lainnya. Pada pangkal clorit itu, dekat pada kayu pegangannya ada tanda tiga pesegi panjang bertumpukan. Bagi Jabodin tanda ini seolah- olah menjadi jimat kesaktian senjata itu, asal saja dipergunakan dengan sepat.

Sebelum jenazah dibawa kekubur, tamu yang melayat segera mengetahui cerita sesungguhnya yang terjadi dengan kematian Jawawi. Maka nama Patimah dan Jabodin pun menjadi terkenal disitu. Mereka menghujani berbagi bagi pertanyaan kepada kedua orang muda yang menyaksikan peristiwa pembunuhan itu.

Diantara para tamu, ada yang menggerakkan hati Jabodin untuk mengetahui lebih lanjut. Orang ini bersama dua orang laki-laki lainnya mendekati Jabodin serta menanjakan tentang clorit Jawawi. “Apakah kau tahu Jawowi membawa clorit waktu berkelahi dengan Bahlowi?" bisik orang itu.

“Ya. Dia membawa clorit yang bertanda tiga pesegi panjang bertumpukan pada pangkalnja," jawab Jabodin devgan curiga.

“Heh? Engkau melihat tanda itu pula malahan! Itulah clorit dari Bataputih. Masih ditempat perkelahian sanakah kira-kira clorit itu sekarang?” tanya orang itu.

“Tidak. Kusimpan. Kujadikan kerang-kenangan bagiku atas kematian seorang sahabat!"

“Kausimpan? Berikanlah kepada kami. Tak ada gunnanya clorit itu bagimu. Paling akan disita gopermer sebagai tanda bukti. Berikanlah kepada kami dan bilanglah hilang jika polisi menanjakan!” pinta orang itu dengan sangat.

“Aku tidak akan memberikan clorit itu kepada siapa juga, baik kepada kalian maupun kepada polisi.” jawab Jabodin dengan tegas.

Tamu itu memandang Jabodin dengan tajam: Jabodinpun memandang dengan tajam, menundukkan di hatinya yang kukuh. Tamu itu tampaknya berpikir- pikir sebab kemudian pandangannya lunak lalu tersenyum.

Aku percaya akan perkataanmu! Bukankah begitu kak?” ujar tamu tadi setengahnya minta pendapat teman-teman lainnya. Teman-temannya pada mengangguk. Sungguh, jangan sekali memberikan clorit itu kepada siapa juga. Jika engkau tidak sudi

menjimpan, ya berikanlah kepada kami. Atau, jika sekiranya engkau menghadapi kesukaran tentang clorit itu, datanglah di kepada kami. Pergilah kekampung Batapotih. Carilah rumah pembantaian didalam kampung. Jika engkau bermaksud menyerahkan clorit itu, berikan kepada tukang daging disana. Tetapi jika maksudmu lain, misalnya karena minta bantuan kami, masuklah ketempat penjualan daging. Tanyalah harga hati sapi setengah kilo. Jika penjual daging itu menanjakan uangmu, bukalah cloritmu itu, dan ancamkan kepada penjual daging itu. Itu isjarat baginya untuk membawa engkau ketempat kami. Selalulah bersiap dengan clorit ditangan sehingga engkau ketemu dengan kami. Mengerti?”

Jabodin amat terpesona oleh keterangan orang ini. Bukan saja karena ceritanya yang aneh, melainkan juga sikap orang ini yang tegas dan memerintah. Sesudah berkata demikian, dan Jabodin mengangguk tanda mengerti, orang itupun pergi bersama teman- temannya. Jabodin tidak lagi melihat mereka sampai selesai penguburan. Ia akan bertanya kepada Patimah soal ini, tetapi segera diurungkan. Rasa cemburu terhadap pengetahuan perempuan muda ini timbul dihatinya, sehingga kiranya tidak perlu segala sesuatunya ditanyakan dan dilaporkan kepada Patimah. Maka soal rumah pembantaian di Batapotih ini diputuskan tidak dikabarkan kepada Patimah. Dan inilah langkah yang pertama ia bertindak tanpa pengetahuan gadis itu.

Jabodin meneruskan sekolahnya di Ambachschool. Tetapi sejak semula hatinya tidak tenang hidup melulu bersekolah saja. Peristiwa pembunuhan Jawawi itu tetap terbayang-bayang dihatinya. Pada suatu hari, ia membawa clorit peninggalan Jawawi kekampung Batapotih. Setelah beberapa kali ia menanjakan tentang rumah pembantaian dikampung situ, akhirnya ketemu juga. Rumah itu didepan merupakan toko daging, dengan beberapa paha sapi yang telah dikuliti tergantung disitu. Ada seorang berbadan tegap, memakai baju kaus lorek dan celana hitam, sedang memotong-motong paha sapi dipembantaian. Pisau potong itu kelihatannya amat tajam, dan besar sekali. Namun dengan tetap hati Jabodin memasuki tempat daging bergantungan dan bertanya kepada laki laki yang sedang sibuk bekerja. 

“Berapakah harga hati setengah kilo, kak?" tanyanya.

Laki itu memandangi Jabodin dengan mata mendelik. Kumisnya yang tebal dan bengkok menambah ke jamnya pandangan ini: “Tanya-tanya harga segala mana uangmu, hah?!” jawabnya membentak.

Meskipun laki laki kejam itu telah lebih dulu menggenggam pisau pemotong daging yang besar dan tajam ditangannya, tetapi mengingat pesan orang yang dirumah Jainap dulu, maka dengan tepat Jabodin mengeluarkan tloritnya dari bayunya dibelakang, terus diacungkan kepada orang berku mis bengkok itu : “Kau lihat ini!" ganti Jabodin membentak. Suaranya keras dan tegas.

Hah?! Hai, tolong ! Pak, ada tamu! Tamu bawan clorit! Mari, kuantar ketempatmu. Pak, tamu pak!"

“Ya.” seru orang berbaju kaus lorek itu. Setengah ia bicara kepada orang dalam, setengahnya menyilahkan Jabodin masuk kebagian rumah yang lebih dalam, melalui pintung depan.

Jabodin tidak kurang waspada. Ia tahu, orang ini berteriak-teriak dengan sengaja memberi isjarat kepada seorang didalam rumah supaya mengadakan persiapan penyambutan. Namun, meskipun Jabodin siap dan waspada, ia sangat terkejut ketika masuk ruangan dalam, tiba-tiba dadanya dipukul oleh seorang pemuda yang sebaya dengannya. Jabodin mengelak, meskipun terlambat tetapi itu menolong juga. Dan sebelum pemuda musuhnya 'mengulang pemukulannya, ia telah menggerakkan cloritnya ke arah musuh. Ruang tempat mereka bertengkar cukup luas. Luas dan tidak ada perabot rumah yang ditempatkan pada ruangan itu. Lawan Jabodin pemuda bertangan kosong, ketika melihat Jabodin bersenjatakan clorit, segera mengelakkan diri dengan jurus pencak. Jabodin ingat cara berkelahi Jawawi dan Bahrowi, mereka tidak memukul dan menangkis dengan baku hantam, tetapi dengan jurus yang teratur datangnya. Namun waktu itu ia tak sempat berpikir panjang, segera disabitkan gloritnya secocok mungkin untuk melukai musuhnya. Sebab jika ia tidak segera menyerang, tentu kena serang. Tapi lawannya agaknya telah memperhitungkan gerakan Jabodin, sehingga dengan mudahnya meloncat kekiri dan kekanan, keatas dan mendekam kebawah menghindarkan serangan Jabodin, tapi sekali waktu iapun menyerang Jabodin dengan gigih. Tidak tampak rasa takut atau gentarnya menghadapi Jabodir yang mengamuk dengan cloriinya.

Setelah berkali kali sabetan clorit tak berhasil mengenai lawannya, dan beberapa kali bahkan ia sendiri kena pukul orang bertangan kosong itu, maka didenganya orang menghentikan perkelahiannya. “Hooop! Berhenti! Cukup, cukup! Saleh, menyingkirlah!"

Jabodin menghentikan serangannya. Sedang pemuda lawannya menghormat secara pencak, lalu menghilang dipintu belakang yang nganga. Lenj?pnya diiringi puji. an orang: “Gerakanmu cukup gesit, dan sikapmu cukup sabar, Leh! Bagus, bagus!"

Orang yang melerai perkelahian itu tiada lain adalah tiga orang yang datang melawat Jawawi dirumah Jainap dahulu. Maka segeralah Jabodin tahu, bahwa mereka itu guru pencak. Karena itu Jabodin menghormat kepada mereka sebagai pengganti salamnya.

“Nah, Jabodin! Akhirnya engkau datang juga. Mari duduklah, kita biasa duduk bersila begini. Bagaimana kabarmu? Disini kita bisa bercakap cakap terus terang.

Tak usah kuatir didengar musuh. Dari pandanganmu waktu dirumah Jainap dulu itu aku yakin bahwa engkau akan membela kehormatan temanmu Jawawi. Apa sekarang? Apakah keperluanmu kesini?" ujar orang itu Sebelum duduk, ia mengulurkan tangannya dan mel neruskan perkataannya : “Baiklah kita berkenalan dulu Aku yang disebut Morgan. Haji Morgan yang mendirikan perguruan pencak di kampung ini. Ini pembantu-pembantuku, Cak Tojib dan Sirot. Tadi itu, Saleh murid kami.”

Jabodin bersalaman. Sekarang legalah hatinya dan ia bisa tertawa. “Anu, kak. Kata kata kalian dulu memikat hatiku. Terutama mengapa benar kalian menginginkan mengambil clorit ini? Dan apa hubungannya kalian dengan Jawawi?” tanya Jabodin setelah duduk la masih menggunakan bahasa Madura, meskipun bahasa Jawa telah pula dipelajari sedikit

“Ah, gampang saja jawabnya, Din! Jawawi ada lah murid perguruan kami, sedang clorit itu juga dari kami asalnya. Tiga empat pesegi panjang yang bertumpuk sebagai tanda clorit Batapotih,” keterangan Haji Morgan. Orangnya tinggi besar, tetapi sekarang ini ramah tamah.

“Adakah hubungannya perguruan pencak ini dengan politik yang dianut Jawawi?” tanya Jabodin.

“Ada, meskipun tidak resmi. Kami saling berhubungan. Jawawi adalah seorang tokoh pergerakan nasional yang muda belia. Perkembangan bakatnya dalam menghimpun dan menyadarkan rakyat telah tampak. Buah pikirannya dipakai oleh kaum cendikiawala bangsa kita. Tapi bersama tumbuhnya pikirannya yang berguna itu, tumbuh pula bahaya maut yang dilancarkan secara tidak terang-terangan oleh pihak pemerintah. Jika tokoh pergerakan yang telah terkenal seperti Ir Sukarno, Surjaningrat, Haji Bahrum, ancamannya penangkapan dan pembuangan ketanah seberang, bagi pemuda-pemuda atau orang yang baru tumbuh adalah pembunuhan secara kebetulan yang dilancarkan secara pengecut. Itulah sebabnya kaum pergerakan merasa perlu mempersenjatai pemudanya dengan memberikan ilmu pelajaran pencak untuk menjaga diri. Jawawi memilih perguruan kami untuk menggembleng jasmaninya. Tapi sayang, sebenarnya kecerdikan otaknya agaknya lebih trampil dari pada gerakan ilmu pencaknya, sehingga apa yang dicapainya tentang ilmu pencak tidaklah bisa diandalkan. Namun kami merasa kecewa dan bertanggung. jawab atas kematiannya, meskipun kami tahu musuhnya adalah jago pencak yang amat mahir. Itulah sebabnya kami minta betul kepadamu, agar cloritnya diserahkan kepada kami sebab malulah kami jika ketahuan bahwa Jawawi yang terbunuh dalam perkelahian disiang hari bolong dan secara jujur ternyata menggenggam glorit Batapotih, yang berarti pula bahwa dia murid perguruan sini!"

Jabodin mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan Haji Morgan. Sekarang telah gamblang baginya seluk beluk persoalan pembunuhan Jawawi. Jika ia masih juga berniat menuntut balas, maka kiranya ia melangkahkan kakinya dengan sadar, tidak membabi-buta seperti selama ini.

“Adakah kedatanganmu kemari hendak menyerahkan jlorit itu, Din?" tiba tanya Haji Morgan.

“Tidak!” sahut Jabodin sepontan. “Tidak! Aku telah bersumpah akan menuntut balas kematian Jawawi dan membunuh lawannya dengan clorit ini!”.

“Heh!? Kau mau melawan Bahrowi?! Ha, ha, ha, ha. Jangan main-main kau Din. Kau telah menyaksikan sendin hetapa gesitnya, betapa masaknya dan sempurnanya ilmu pencak Bahrowi! Sedang pencakmu?! Oh. aki telah menyaksikan tadi, kau tak bisa membacokkan cloritmu kepada Saleh! Apa yang kau andalkan hendak membunuh Bahrowi? Akan kau runduk pada waktu di tidur lelap? Jangan sembrono. Bahrowi, gerak nalurinya begitu hidup dan tepat. Ia bisa menangkis 20 sanganmu selagi tidur lelap. Dikalangan dunia pencak ia telah terkenal sakti, sehingga dikabarkan kulitnya tidak mempan oleh batokan senjata tajam. Nyawani rangkap, kata orang pernah terpukul mati tetapi hiduj lagi! Orang kebal seperti itu hendak kau lawan dengar ilmu pencakmu yang tidak pandai mengenai Saleh tadi? Oh, Din Jatodin! Sedikit pakailah otakmu, nak!”

“Memang! Memang aku tak bisa main pencak,” sabut Jabodin dengan tunduk, mengakui kebodohannya. “Tetapi andaikata aku temukan orang yang suka mengajari aku ilmu pencak, kiraku akan berhasil menjalankan tuntutan dendamku!"

Ucapan Jabodin ini disambut dengan senyum oleh Haji Morgan. Diamatinya Jabodin sekali lagi, lalu berkata dalam bahasa Jawa logat Surabaya kepad pembantunya : “Nah, apa kataku, Cak Tojib? Aku telah mengira, penjelidikan kita dulu itu tidak sia-sia." Kepada Diabodin ia berkata dalam bahasa Madura: “Suka kah kiranya engkau belajar pencak di sini? Disini perguruan Batapotih, dulu tempat Jawawi belajar pencak juga".

“Mengapa tidak? Bukankah sudah kuterangkan!" sahut Jabodin.

“Begini. Din. Kami sendiripun ingin menebus malu kami. Bagaimanapun juga tentang clorit itu tentu ketahuan orang juga akhirnya, dan akan teranglah bahwa Jawawi murid Batapoih! Sangat cemar nama perguruan kami. Karena itu aku mencari cloris itu, clorit yang digenggam Jawawi waktu bertempur dan gugur, untuk kami sembunyikan. Itu usaha kami untuk menyembunyikan persoalan Jawawi sementara waktu. Kami akan mencari jago yang akan kami didik, jago yang memang berbakat. Jika ia berkemauan keras, tentulah kami dapat mencarikan tandingan Bahrowi murid Haji Jen dari Pandegiling itu. Kami telah melihat gerak gerikmu selagi berusaha menghindarkan dan membalas serangan Saleh tadi. Bakatmu kiranya tidak mengecewakan. Mungkin akan lebih sempurna dari apa yang kami harapkan. Sekarang engkau sendiri mengatakan hendak membalas kematian Jawawi dengan clorit Batapotih. Tepat kiranya. Pucuk dicinta ulam tiba! Bagaimana? Akan bertekadkah engkau menjadi pendekar didikan Batapotih?”

“Tentu! Tentu! Oh, aku senang sekali! Aku akan menjadi murid yang tekun, murid yang rajin.” sahut Jabodin dengan wajah berseri-seri. “Kapankah saya bisa mulai belajar?”

“Jatodin. Sebenarnya sejak datangmu masuk kedal daging sini, dan bertanya soal harga hati sapi, kau telah mulai belajar pencak. Ilmu pencak, meskipun pada umumnya dikenal orang sebagai olah ketangkasan jasmani, namun sesungguhnya harus disertai latihan rokhani keberanian, kejujuran, ketenangan, kewaspadaan, dan kesiap-siagaan. Kami ajarkan ketangkasan jurus melulu tanpa siasat batiniah, kepandaianmu akan percuma. Sia-sia. Bahkan engkau mungkin akan mencemarkan nama baik perguruan kami karena tingka lakumu yang sombong, tinggi hati, atau suka pamer. Bukan itu saja, tetapi kesukaan memamerkan ketangkasan itu saja sudah menjadi kebiasaan yang membahayakan untuk keselamatan dirimu sendiri! Ya. ingat, sebelum engkau belajar mengenakan jurus hendaklah keadaan batinmu kau cuci sendiri, kau bersihkan dari niat jelek. Pendeknja bukan saja keadaan jasmani, olah batinpun akan kami gembleng. Jabodin kau telah mulai pelajaranmu yang pertama, pelajaran awal. Sekarang berdirilah. Mari kita lihat urat-uratmu. Ilmu pencak tidak hanya mencurahkan kekuatan melulu tetapi juga akal dan siasat. Dan juga ilmu tubuh. Dengan susunan urat-syaraf yang begini, tepat untuk memusatkan jurus ini, begitu seterusnya,” kata Haji Morgan. Sambil berkata-kata demikian ia melakukan segala sesuatunya yang penting untuk pelajaran permulaan murid barunya.

Jabodin yang tidak mengetahui apa-apa tentang ilmu pencak menurut saja, seperti seseorang yang diukur bidang tubuhnya hendak dibuatkan pakaian baru untuknya. Pemuda ini mempunyai dada yang tegap, kaki yang panjang. Urat-uratnya tersembunyi pada kulitnya jadi halus sehingga tidak gampanglah orang menerka nerka kekuatannya. Tetapi Haji Morgan sekali memegang lengannya, tahulah sudah betapa kemampuan urat urat Jabodin. Bakatnya sungguh luar biasa. Jika betul saja menyalurkannya, Haji Morgan percaya apa yang dicita-citakan, yaitu mendapatkan murid yang akan mewarisi segala ilmu kepandaiannya berpencak, akan tercapai. Selama ini belum pernah ia mendapatkan murid berbakat, sehingga meskipun nama perguruannya harum, tetapi inti kepandaiannya masih tetap belum tersiarkan. Masih tetap dimiliki oleh Haji Morgan pribadi. Juga kegesitannya dalam menggunakan senjata khusus clorit yang telah terkenal itu belum pernah diturunkan dengan sungguh hati kepada muridnya. Karena memang belum ada orang yang berbakat yang sekiranya sanggup meneruskan serta mengamalkan ilmu pencak Haji Morgan itu. Sekarang, mempelajari urat-urat Jabodin, tulang belulang serta pernapasannya, Haji Morgan mengangguk-angguk. “Cak Tojib. Inilah anak yang kuharapkan. Tata sarafnya sempurna, pernapasannya tertib. Biarlah gerak-gerak dasarnya nanti kuajar sendiri, biar murni. Yah, agaknya Tuhan memberi jalan. Kematian Jawawi, bukanlah alamat punahnya perguruan Batapotih yang I terkenal dengan cloritnya, tetapi justru mempertemukan diriku dengan orang semacam Jabodin". Ia berkata-kata itu dalam bahasa Jawa, sehingga Jabodin yang dibicarakan berhadapan muka ia tidak mengerti sama sekali. Kepada Jabodin kemudian ia berkata dalam bahasa Madura : “Mari, tirukan gerakan ini, nak!" Haji Morvan menggerakkan tangannya amat lamban, ditirukan Jabodin dengan mudah, tapi gegabah.

“Hai! Jangan terlalu cepat!" tegur sang guru.

“Coba ulangi lagi! Nah, ini, ada kekeliruan sedikit!"

Sebenarnya, pelajaran awal itu sangat menjemukan. Jabodin tidak melihat gerakan gerit seperti yang telah dilancarkan Bahrowi dulu itu, tetapi lebih mirip seperti orang menari. Namun ia harus menirukan dengan sabar. Ya, meskipun tidak tahu benar apa kegunaan akhir dari gerak gerak perlahan itu, ia menirukan dengan sungguh hati dan secepat mungkin. Kemudian hari, setelah Jabodin lancar dan mahir, serta pada waktu menghadapi bahaya maut, ternyata bahwa gerak dasar ini sangat menolong dan berguna, terutama dalam me. agendalikan nafsu dan bersikap tenang. Yah, kemudiana hari Jabodin terkenal sebagai pendekar yang bersikap tenang dan ketenangannya ini pula yang membawa namananya kepercaturan pencak tingkat pertama. Ia mempelajari jurus- jurus awal dengan sungguh hati, sehingga gerakan dasar dalam ilmu pencak dilakukan dengaali betul dan sempurna.

“Ini dasar!” ujar Haji Morgan. “Jika telah kau pelajari ini, ilmu yang paling tinggipun dalam gerakan pencak dapat kau capai. Dan aliran apapun bisa kau pelajari dengan mudah".

Begitulah akhirnya pemuda yang meninggalkan kampung halamannya berniat memburu ilmu kepandaian tehnik dan pertukangan disekolah, serta merta karena ajaran dan pengalaman hidupnya menjadi seorang pendekar yang berbakat. Dan sebagai pendekar, tentu saja ia mengalami pertikaian", petengkaran-petengkaran, bertempat, tantang- menantang. Tanpa pengalaman itu tidaklah mungkin seorang pendekar mencapai percaturan penjak tingkat pertama. Dan ini yang dikuatirkan Jaenab.

Perempuan muda ini sangat kuatir jika Jabodin yang dikenalnya kembali sewaktu dalam perjalanan dari jampang ke Surabaya, terlibat dalam pertikaian pencak yang mempertaruhkan jiwa itu. Jabodi sangat menaik perhatiannya, dan tatkala itu diketahuinya benar pahwa pemuda ini masih murni, suci, belum terpengaruh baik dalam pertikaian politik maupun pertarungan pencak.

Patimah seorang gadis yang lincah, baik dalam seakan tingkahlakunya, maupun dalam pikiran dan pergaulan masyarakat. Ia masih sangat muda jika dilihat dari umurnya, tetapi sudah cukup dewasa jika ditilik lari pengalaman serta pemikirannya. Otaknya cerdas. Hal itu dapat pula dilihat dari wajahaja yang cakap dan pandangan matanya yang tajam. Tapi ia seorang peramah, jika bicara dengan seorang teman senyumnya selalu menjungging dibibir, sedang kata-katanya bernada berseloroh atau berjenaka. Hanya pada waktu diperlukan ia bisa berbicara tegas dan memerintah. Dan justru itu ia berhasil memasuki alam pergaulan alam berbagai tingkat kehidupan. Ia bisa omong- omong sama dengan saudara-saudaranya sesuku yang mengembara ketanah Jawa sebagai perantau miskin. la kenal dengan orang-orang semacam Jawawi. Bisa bergaul dengan ‘noniks dan sinyo' yang selalu mempergunakan bahasa Belanda. Nonik dan sinyo Bumiputerapun dikenalnya. Dengan orang tua seperti Haji Bahrum, atau pendekar terkenal seperti Haji Jen, Patimahpun kenal. Kaaknya ada yang belajar diperguruan tinggi Nias, maka dengan masyarakat atudenten Patimahpun tidak asing lagi.

Rumahnya menjadi pusat pertemuan-pertemuan. Hilir mudik pemuda pemudi datang kerumahnya. Ayahnya seorang Ambtenaar yang rajin, dan berpendidikan tinggi. Sikapnya kepada anak-anaknya bebas, sehingga kakak-kakak Patii mah ada yang meneruskan sekolah sampai perguruan! tinggi Namun Patimah memilih Huishoutschool sebagai tempat penatarannya.

Seorang pemuda datang kerumahnya pada suatu sore. Waktu ia hendak menanjakan orang yang dicari-cari yaitu kakak Patimah yang bernama Nariman, tercengang mendapat sambutan gadis cakap yang tak ada kikuknya sama sekali menghadapi tamu laki “Ya? Siapa yang engkau cari, kak?” tanya gadis itu “Nariman." Singkat, tersekat oleh ludah.

“Oh, kak Nariman pergi main catur. Silahkan duduk. Ayohlah.”

“Main catur? Tentu lama dia nanti kembali. Anu, biarlah besok aku kembali,” ujar tamu itu dengan gugup.

“Ai, mengapa tidak duduk dulu. Ayohlah. Tidak ketemu kak Man tidak mengapa bukan bertamu disini? Kita tambah kenalan baru. Ayoh, kak. Heh, siapa nama kakak, nanti bisa saja teruskan kepada kak Man."

“Janto, Suyanto, orang pindahan baru dari Sala Dia telah mengerti. Aku mau mendaftarkan dalam team main bridge.” Kata teman-teman mahasiswa kakakmu ketuanya,” kata tamu itu. Akhirnya lancar juga bicaranya Ia memakai bahasa Belanda dengan fasih.

“Jadi, sungguh mas To tidak sudi duduk dirumah ku sore ini karena kak Man tidak ada dirumah? Atau takut berkenalan dengan gadis lancang seperti aku ini?" sambut Patimah dengan mengiraikan rambutnya yang menjurai diatas dahinya.

“Tam,” kata tamu itu 'man' mahasiswa arkan dalam wala.

Dengan tersenyum tersipu-sipu, terpaksa pemuda tamu itu naik rumah. Dan berkenalan dengan Patimah. Dan berbicara dengan gadis itu. Meskipun didasari dengan sifat kebetulan, namun perbincangan mereka riuh juga. Dan lama juga baru Suyanto meninggalkan kursinya. Kemudian hari, ia kembali lagi bertamu kerumah itu.

Ya, itulah Patimah. Peramah dan pandai melajani teman-teman keluarganya. Tidak yang tua, tidak yang muda.

Pada suatu masa, belum lama berselang, gadis cakap ini giat menyelenggarakan rapat yang diketuai seorang muda bernama Jawawi. Jawawi mengadakan pidato', dan menulis buah pikirannya dimajalah-majalah pergerakan. Patimah ikut menyelenggarakan rapat dan kemudian tentu saja berhubungan pula dengan Haji Babrum, dengan Surjaningrat, Dr. Sutomo dan lainnya lagi. Kegiatan ini kemudian mengakibatkan hal yang tidak diinginkan oleh orang tuanya. Kegiatan Patimah tercium oleh anak buah Van Greven, sehingga ayah Patimah mendapat teguran langsung dari kepala polisi ini. Ayah Patimah dipanggil kekantor polisi, berhadapan dengan mencer Van Greven, hanyalah karena urusan anaknya perempuan yang telah memprakarsai sebuah rapat pergerakan dikampung Plampitan. Apapun juga persoalannya, tetapi bagi seorang ambtenaar berpendidikan tinggi dipanggil kekantor polisi sungguh mencemarkan. Dalam pergaulan masyarakat tingkatnya nama ayah Patimah ditandai dengan huruf 2 merah, termasuk orang yang wajib diasingkan, sedang beberapa haknya dicabut. Dilapangan tennis sudah tak ada lagi yang suka melawannya. Sedang kenaikan pangkatnya ditunda satu tahun. Hal ini semua diterangkan kepada Patimah, dan sebagai gadis yang tahu diri dan tahu membalas guna, tindakan gopermen terhadap ayahnya ini dirasakan sebagai pengalaman yang pahit. Malah langkah selanjutnya dikerjakan dengan lebih berhati-hati. Meskipun bagaimanapun beratnya kegiatan dalam lapangan pergerakan terpaksa ditinggalkan. Sekarang hanya giat dalam lapangan sosial. Meski begitu anak buah Van Grevon belum juga puas. Mereka menganggap pergaulan Patimah dengan Jawa terlalu rapat, sehingga pantas dicurigai. Maka Patimah selalu diamat-amati. Gadis Ini merasa juga dirinya tidak bebas lagi. Risaulah hatinya. Maka untuk menghilangkan jejak kegiatannya dan untuk mejajaki pihak Van Greven bahwa ia benar telah jera dengan kegiatan politik, ia langsung bertegur sapa dengan Vi Greven. Bergaul dengan kepala polisi bangsa Belanda itu berarti bermain dekat api. Dari pergaulan itula maka ia kenal baik dengan Aluwi, Bahrowi dan M. Toha, pendekar penjilat yang tak kenal malu. Tetapi bagaimanapun juga, darah Maduranya tidak bisa ia lunturkan begitu saja. Ia tak bisa melepaskan pergaulan lama. Ia tetap akrab dengan gadis yang terhimpit dalam MJMB. la tak bisa lepas sama sekali dengan Jawawi, dan sahabat lama lainnya.

Kedatangan Jabodin di Surabaya memikat hatinya. Pemuda yang suci, murni, dan perangainya elok. Lagi pula Patimah telah mengenalnya dahulu, tatkala masih ingusan. Maka nasihat Patimah yang pertama adalah Janganlah masuk dalam pergumulan politik. Janganlah ikut bertarung dalam percaturan pencak. Janganlah suka mabuk-mabukan seperti orang Surabaya pada umumnya. Janganlah .....?" pendeknya banyak lagi larangan yang bisa diberikan berdasarkan pengalamannya yang pahit. Ya, lebih pengalaman-pengalaman pahit waktu dia ikut giat dalam pergerakan nasional memberikan pelajaran kepadanya dan menginginkan ajaran ini diserap habis oleh orang murni Jabodin. Karenanya seringkali ia mengharap kedatangan Jabodin dirumahnya, dan sekali dua dijumpainya pemuda ini ditempat-tempat pergaulan umum. Meskipun Patimah lebih muda daripada Jabodin, namun pengalamannya membuatnya tua dan nasihat-nasihatnya banyak sekali kepada Jabodin, agar hati mengatur langkah dalam memasuki gelanggang penghidupan ditanah perantauan.

Tanpa Jawawi, sebenarnya hampir Jabodin tidak mempunyai kenalan dikota besar Surabaya. Rumah tempatnya menumpang adalah atas petunjuk orang tuanya. Maka perkenalarnya kembali dengan Patimah dirasa sangat menguntungkan. Pada pandangannya Patimah seorang gadis yang akrab, elok rupa dan perbuatan, cerdas pikirannya dan luas pemandangannya. Mungkin karena kesepian tak mempunyai teman, tapi lebih mungkin karena tertarik akan wajah ayu gadis itu, maka Jabodin yang telah meningkat dewasa itu amat senang hatinya tiap kali mendapat surat undangan dari Patimah. Undangan untuk berkunjung kerumah gadis itu. Meskipun agak kikuk bagi Jabodin memasuki rumah Patimah, karena suasana rumah Patimah sudah berbeda sekali dengan masyarakat orang-orang Madura di Surabaya, namun krasan juga Jabodin duduk berjam-jam berbincang-bincang dengan gadis ayu itu.

“Mah, ajarilah aku bahasa Jawa. Orang disini semuanya menggunakan bahasa Jawa dan aku tidak mengerti sepatahpun!" ujar Jabodin pada suatu sore. “Tentu saja mereka bicara dalam bahasa Jawa sebab disini tanah Jawa. Baiklah, kuajar kau bahasa Jawa. Tapi engkau harus rajin datang kemari dan rajin menghafal. Sebenarnya tanpa guru pun kemudian hari engkaupun tentu bisa berbahasa Jawa. Tetapi dengan berguru kiranya lebih cepat. Bahasa Jawa sebenarnya tidak banyak berbeda dengan bahasa Madura, jadi tentu lebih mudah kau fahami.”

Dan sebenarnya, dengan berguru Patimah, Jabodin hanya dalam waktu yang singkat telah pandai berbahanda Jawa, meskipun logat Maduranya masih membekas benar ada. Patimah amat berjasa dalam hal ini. Tetapi ada sesuatu yang kurang disenangi pada gadis ini, yaitu nasihat-nasihatnya tentang politik dan pencak. Karena itu waktu Jabodin mengambil langkah belajar pencak pada Haji Morgan, ia tidak menceritakan hal itu pada Patimah. Bahkan banyak hal yang diketahuinya tentang pergerakan nasional kemudian hari, tidak pula diceritakan kepada gadis itu.

Beberapa kali Jabodin mendapat pujian karena kemajuannya dalam pelajaran pencak. Bakatnya memang baik. Dalam waktu pendek saja ia telah mencapai tirgkat menengah. Namanya sebagai pendekar muda mulai muncul ketika ia diajak Saleh, teman seperguruannya pergi ke Tarik.

“Kakakku jadi Asisten Wedana disana," ujar Saleh. Mereka naik dokar saja, sambil melihat. lihat sawah ladang.

Kakak Saleh menyambutnya dengan gembira. “Wah, wah! Kebetulan! Antarkan aku besok pagi ke Krian beramai-ramai. Teman Asisten Wedana Krian ada hajat menyunatkan anaknya. mBakyumu tak bisa ikut, sakit !"

Begitulah keesokan harinya mereka naik dokar lagi menuju ke Krian. Tarop Asistenan sudah penuh dengan tamu-tamu. Kecuali tayuban yang paling digemari penduduk sekitar Krian, juga diadakan main kartu sekedarnya. Asisten Wedana Krian baru sekali itulah selama setahun menjabat sebagai kepala daerah mempunyai hajat, maka tamu yang diundangpun tidak saja dari daerah Krian, tetapi juga pembesar-pembesar dari Sidoarjo dan Surabaya datang pula. Lewat tengah hari, pejabatat banyak yang pulang, sedang tayuban dan main kartu tampaknya makin seru. Memang demikian biasanya keadaan didesa-desa Jawa Timur pada waktu itu.

Bupati Sidoarjo ketika pulang bersama isterinya berbisik kepada tuan rumah: “Ssstt, kulihat tamumu ada seorang musuhku. Dulu waktu aku menjabat menteri polisi di Mojosari dia kukenal sebagai orang pendatang dari Balungbendo, entah sekarang. Tapi aku tahu betul dia seorang penjahat Ilmu pencaknyapun tinggi. Dia duduk main kartu disebelah tukang kendang itu. Sebaiknya kau awasi!"

“Maksud kangjeng bupati apakah pemuda. pemuda yang datang bersama Asisten Tarik

?” tanya tuan rumah.

“Bukan pemuda. Orang yang kumisnya tebal itulah!"

“Oh, Matkamhar! Ya dia orang Balungbendo Memang pendekar terkenal. Tetapi kegiatan kejahatannya tidak pernah saya dengar, kangjeng!"

“Ya. Mungkin. Tapi menilik senyumnya yang sumbang dan tertawanya yang hambar itu Wajib kau berhati-hati. Bagiku ia kukenal sebagai Baron!"

“Baron Balungbendo?" ucap tuan rumah terkejut apakah yang tahun lalu dikabarkan telah membunuh tiga orang warok penantangnya dari Caruban?! Wahl berbahaya! la terlalu banyak minum dan menderita kekalahan! Panas badannya, panas hatinya! Berbahaya!"

“Lebih baik perintahkan polisi Badu mengawal gerakannya. Meskipun banyak minum, gerakan pencak nya masih hebat! Jangan terlambat. Jika ia mulai mengadakan pengrusakan, segera saja tangkap. Itulah tindakanku tatkala aku di Mojosari," ujar bupat Sidoarjo.

Sepeninggal kangjeng bupati, suasana menjad lebih gila. Orang yang suka tayuban tambah berani minta gending dan memperlakukan teledeknya kian lupa aturan. Lewat jam tiga siang, tiba-tiba terdengar bentakan yang keras, sehingga orang dan gamelan berhenti bersuara. “Kau main curang, Asisten Tarik!" serta pembuat gaduh. Orangnya tinggi, besar, kumisnya tebal.

“Lihat, kau lipati ujung kartu baru itu sehingga tak tahu kartu apa itu! Kembalikan semua uangku!"

“Mana bisa, Matkamhar? Main kartu sudah biasa membalik dengan mengintip ujungnya. Bukan maksud ku melipati untuk menandai kartu!” debat Asisten Tarik Saleh yang duduk didekat mereka juga menjadi tegang melihat kehebohan itu.

“Kembalikan uangku! Kalau tidak ......!" Tok. Belati yang besar tiba-tiba ditancapkan oleh Matkamhar pada meja main.

“Kau mabuk, Matkamhar....?" ujar Aristen Tarik mencoba mempertahankan kemenangannya. Namun mukanya pucat juga.

“Diana! Bawa sini uang itu!" seru Matkamhar.

Seorang yang memakai celana dan sepatu seperti orang Bropah, datang mendekati, seraja menuding Matkambar: “Kau jangan bikin gaduh disini, Matkamhal!"

“Kau jangan ikut-ikut. Badul"

Terlambat. Badu telah mendekap Matkamhar baru dibawa keluar tarop. Tapi Matkamhar tidak penurut seperti kebanyakan orang, jika berhadapan dengan pojai Badu. Baru saja Badu berhasil menyeret dua langkah, Matkambar telah menggerakkan punggungnya, tahu Badu telah terpelanting jatuh dimeja. Dengan cekatan, Matkamhar memukul polisi malang itu dengan jurus maut, tepat kepada rahangnya. Des! Dan seketika itu juga wajah polisi itu menjadi biru. Darah mengalir lewat mulutnya, sedang matanya membelalak kabur.

“Hai, Asisten tamak! Hendak kau bawa kemana uang itu?! Sini lemparkan pundi itu!" ujar Matkamhar, dan sekali sahut belati besar dimeja tadi tergenggam lagi ditangannya. Suasana pesta pora menjadi gelanggang perkelahian!

Ketika Matkamhar hendak menjangkau pundi-pundi tempat uang, sebuah pukulan melayang kearah tangan yang menjangkau pundi-pundi. Saleh meluncarkan pukulan!

“Bangsat! Kau mau mampus seperti Badu jal" teriak Matkamhar membelalaki Saleh. Apa kepentinganmu dengan aku ?"

“Aku adik Asisten Wedana Tarik!" sahut Saleh dengan sabar.

“Hah!? Kau bela kakakmu yang main curang? Baik. Lekas maju, kukorek dadamu dengan ini!" seru Matkamhar sambil mengacungkan belatinya. Lalu dengar cekatan menyerang Saleh. Saleh tak sempat menduga duga kepandaian lawan. Meskipun ia telah siap menanggulangi segala kemungkinan, tetapi serangan begitu cepat dengan senjata begitu berbahaya, tidak terpikirkan. Saleh segera melonca undur menghindari serangan kilat. Tapi malang baginya kakinya terantuk kaki kursi dan jatuh terlentang. Matkamhar tidak membiarkan kesempatan itu, terus saja menubruk lawannya dengan belati ditangan. Ditungganginya Saleh yang terlentang dan diayunkannya tangan yang bersenjata tajam. Saleh telah kehilangan akal dan menangkis dengan membabi buta. Tangkisannya lebih bersifat menghalangi tusukan belati besar daripada menyingkirkan bahaya secara mutlak. Namun Matkamhar tidak leluasa menghunjamkan senjatanya, dan ini menunda kematian Saleh yang tak berdaja lagi.

“Jangan terlalu loba, jahanam! Sekali bertarung! kau hendak melayangkan dua nyawa lawan!" terdengar suara gagah. Dan seketika itu juga belati yang telah terayun menuju kerusuk Saleh terlepas dari genggaman Matkamhar, terlempar jauh. Jerit penonton terdengar ngeri. Kiranya tangan Matkanhar ditendang oleh se orang pemuda teman Saleh.

Matkamhar terkejut bukan main. Ia memandang penyerangnya. Lalu meloncat melepaskan Saleh, sebab depakan kedua telah dilancarkan oleh teman Saleh.

“Bagus! Kalian mau keroyok aku, ya! Ha, ha, ha Aku tidak loba sekali tarung membunuh dua tiga nyawa. Sekarang anak muda-muda mau berlagak pemberani. Tahu kau siapa aku? Hah? Tahun yang silam tiga orang warok! dari Caruban menantangku, mampus sekaligus, ha ha ha! Tidak loba! Tidak royal main bunuh bagi Baron Balungbendo, ha, ha, ha! Ya, kau dengar julukku sekarang, Ya, aku Baron Balungbendo, ha, ha, ha!” sumbar Matkambar.

Sekalian yang menyaksikan terkejut! Juga Asisten Tarik. Juga Saleh Sebab nama itu tahun yang silam telah menjadi buah bibir orarg karena keberaniannya menyabung nyawa. Tapi bagi jago baru seperti Jabodin, nama itu bukan apa-apa. Ia tidak gentar sedikitpun. Apa lagi sepak terjangnya sekarang terang guna pembelaan kebenaran, atau setidaknya mencegah pembunuhan berturut-turut.

“Din, hati'! Dia bukan sembarang pemain pencak!” seru Saleh yang telah berdiri memperingatkan kawannya. la sendiri gemetar sekarang, serenta diketahuinya musuhnya Baron Balungbendo! Tidak heran punggungnya bisa membantingkan polisi Badul.

Jabodin maju dengan hati tenang. Matanya waspada. Ia mempergunakan kepongahan lawan untuk menghancurkan kekuatannya. Maka ketika Matkamhar alias Baron Balungbendo tertawa berbahak-bahak Jabodin cepat maju dan melancarkan jurus percobaan. Percobaan, tapi disusul dengan serangan tangan kiri yang kuat. Baron Balungbendo membiarkan dirinya kena pukulan pertama, tetapi segera menghindar pada pukulan tangan kiri. Ia tahu kekuatan pukulan beruntun ini. Sambil lalu disabetkan tangannya pada Jabodin, tapi Jabodin bukan penunggu serangan. Ia telah melancarkan serargan lagi dengan cekatan, sehingga sabetan Matkamhar tak mengena, bahkan orang berkumis ini harus segera melonjat lagi.

“Kurargajar! Pada siapa kau berguru cara begini! Hut! Aduh! Jah, awas pembalasan!” seru Matkamhar waktu bertanding. Jahodin bertambah cepat menyerang dan tidak memberi kesempatan Matkamhar bermain tenang dengan mulut bersumbar. Juga Maikamhar yang menerima serangan bertubi-tubi dan berbahaya, tidak lagi menganggapnya ringan lawannya. Mulutnya terkatub, perhatiannya tercurah pada gerak gerak Jabodin. Menurut perdapatrya gerakan-gerakan Jabodin sangat sederhana, termasuk pelajaran. pelajaran pertama pendidikan pencak, tetapi jurus-jurusnya terasa berisi dan antap. Matkamhar tidak berani bertindak sembrono. Apa lagi Jabodin memiliki gerakan yang gesit luar biasa.

“Aduh!" keluh Baron Balungbendo itu berkali kali terdengar. Napasnya mendengus- dengus, sedangkan Jabodin kelihatarnya tidak kekurangan apa-apa. Napas baik, ketenangan terpuji Baron Balungbendo sangat terdesak. Senjata tidak lagi ia punyai! Mau lari, malu rasanya. Kekuatirannya bertambah-tambah melibat lawannya yang muda belia tak habis-habisnya melancarkan pukulan? Akhirnya apa yang dikuatirkan terjadi. Rehangnya kena pukul, lalu menjusul perutnya, lalu dadanya, lalu kalamenjingnya, lalu

.....! Bertubi-tubi dengan sangat cepatnya. Meskipun badan Matkamhar besar dan kukuh, tapi pukulan antap yang bertubi-tubi itu akhirnya berhasil juga menjatuhkan. Dan selama itu, agaknya Jabodin tidak melancarkan pukulan maut, hanyalah pukulan penghancur kekuatan lawan. Baron Balungbendo jatuh terguling-guling, namun tidak juga serangan lawan berhenti. Sepak terjang lawan masih juga diterimanya, sehingga akhirnya ia tak bisa bergerak lagi. Lumpuh! Tak berkutik! Tidak terduga-duga, tiba-tiba para penonton yang menyaksikan pertarungan ini bersorak, dan memuji ketangkasan dan kebijaksanaan Jabodin. Sesungguhnya Jabodin mengembalikan semangat orang untuk bersenang-senang tanpa menimbulkan korban lebih banyak lagi.

“Ayoh, gong, gong pukul! Kita mulai dengan Godril!" seru seorang tua yang telah ompong, tapi begitu gemar tayuban. “Mana sampurnya, ayo wak kendang. Godril!”

Orang yang berkepentingan mengusut kehebohan bertindak dengan tepat. Mayat polisi Badu yang tak tertolong diangkut pergi, sedang Matkamhar dibelenggu dibawa kekantor Asistenan. Gong berbunyi lagi, meskipun tidak semeriah lagi, perayaan orang sunat diteruskan. Dimulai dengan gending Godril, permintaan orang tua kranjingan tayuban.

Sejak itu nama Jabodin mulai menanjak. Saleh menceritakan halnya kepada Haji Morgan, guru pencak itu mendengarkannya dengan rasa puas, sambil mengangguk- angguk ia berkata: “Hari depannya memang cemerlang! Dengan gerak-gerak dasar saja ia sudah bikin gopoh Baron Balungbendo. Apa lagi kemudian hari jika pelajarannya telah setingkat dengan engkau, Saleh. Tirulah ketekunannya dalam mengayunkan jurus yang sempurna. Tentang kesabaran engkau sudah cukup, tapi jurus-jurusmu kurang tepat seringkali kuperhatikan.  "

Pada suatu hari sedang Jabodin berlatih dengan sungguh hati melawan Cak Tojib, pembantu utama Haji Morgan, rumah pembantaian Batapotih ketamuan seorang tua, pakai songkok dan celana. Wajahnja tampan, meskipun usianya sudah lanjut, matanya tajam dan bersinar-sinar, langkahnyapun tegak. Tamu ini di antar oleh Haji Morgan dengan hormat sekali. Dengan lirikan mata selama sedang berlatih itu, Jabodin berkata dalam hati bahwa Haji Morgan sedang menerima tamu orang penting. Mungkin guru pencak yang lebih tinggi tingkatnya. Dan melihat gelagatnya latihannya dengan Cak Tojib ini dipamerkan oleh gurunya untuk suguhan tamunya. Maka Jabodin tidak akan memalukan gurunya dan berlatih dengan giat. Gerakan gerakannya dipergesit, sehingga Cak Tojib terkejut dan melayani dengan penasaran. Melihat ini, Haji Morgan bertepuk tangan tanda memuji, sedang tamunia mengangguk. Berhenti dulu, berhenti!” perintah Haji Morgan setelah mereka dibiarkan bertarung beberapa jurus lamanya. Bagaimana ji (singkatan dari panggilan haji) pendapatmu tentang pemuda ini?”

Tamunya mengangguk angguk lagi, jawabnja: “Kelihatannya lebih cekatan daripada Jawawi."

Haji Morgan tertawa sebelum menjambung: “Tentu saja! Jabodin ini bakatnya memang baik sekali, sedang kan Jawawi, dia belajar pencak karena terpaksa, guna menjaga dirinya!"

“Hm, amat sayang dia telah tidak ada. Pencak mungkin ia tidak cakap. Tapi pikirannya besar. Ia sungguh pendekar bangsanya dalam membangkitkat rakyat kita, pendekar dalam lapangan politik!” ujas tamu yang terhormat itu.

“Din, kemari. Ini, saya kenalkan engkau dengan bapak ini. Namanya Haji Bahrum, mungkin engkau telah mendengarnya pula. Beliaulah yang membimbing Jawawi dalam pergerakan, dan menyerahkan kepadaku untuk diajar ilmu pencak. Tiada yang lebih malu dengan kematian Jawawi daripada perguruan pencak Batapotih, tapi tiada yang lebih kecewa kehilangan pemuda itu daripada Haji Bahrum ini, Din."

“Dan tidak ada yang lebih dendam hatinya terhadap Bahrowi, pembunuh Jawawi, daripada aku, pak Haji!" sambung Jabodia setelah menjabat dengan hormat tangan Haji Bahrum. Sekaranglah rasanya ia mendapat kesempatan yang lebih baik mempelajari politik dari. pada yang didengar dari Patimah!

“Jabodin. Ilmu pencakmu ini kiranya kurang lengkap jika padamu tidak kami ajarkan soal-soal kebangsaan. Bisa jadi engkau akan menjadi pendekar jagoan yang suka bergumul melulu dan tidak memikirkan kemajuan bangsamu. Oleh sebab itu, serta merta dalam menilikmu karena mendapat laporan kami bahwa Batapotih telah mendapatkan ganti Jawawi, Haji Bahrum hendak bergaul denganmu dan menginsafkan kepadamu bagaimana nian kedudukan bangsa kita sekarang ini. Ah, barangkali engkau belum lagi mendengar apa bangsa itu?! Nah, kapan temuilah Haji Bahrum ini. Tempat tinggalnya tidak tetap, sebab saudaranya banyak, Hanya karena bergaul dengan kerabatnyalah orang bisa menemui Haji Bahrum seperti sekarang ini !" ujar

Haji Morgan.

Jabodin menyanggupkan diri untuk berhubungan dengan Haji Bahrum. Ia akan meluangkan waktu untuk mengerti lebih jelas tentang bangsa dan tanah air, Memang bisa juga ia akan diombang- ambingkan seperti halnya Baron Balungbendo, mempergunakan kepandaiannya main pencak untuk kepentingan nafsunya, jika ia tidak mempunyai pedoman yang jelas tentang kebangsaan. Dan pertemuan pertama dengan Haji Bahrum, bahkan kesan yang mendalam. Orang tua yang gagah berpakaian seperti ayah Patimah ini bicaranya amat sabar, tapi maksudnya terang dan jelas. Meskipun hal yang belum pernah dipersoalkan oleh Jabodin, bisa diutarakan dengan jelas oleh Haji Bahrum. Hal itu menambah nambah sikap hormat Jabodin kepada ahli penghimpun kemauan rakyat ini. Begitu terpikatnya anak muda ini, sehingga waktu Haji Bahrum pergi meninggalkan rumah pembantaian Batapotih, iapun turut.

Dipandang dari sudut lepas dari perburuan, keper. gian Jabodin menjertai Haji Bahrum meninggalkan rumah pembantaian Batapotih ini adalah suatu keuntungan. Tetapi dipikirkan dari sudut keperwiraan, hati Jabodin sangat kecewa tidak putus-putusnya. Hari belum lagi lepas ashar waktu dia mengikuti Haji Babrum meninggalkan rumah gurunya. Padahal biasanya, pada hari latihan, Jabodin selalu pulang larut malam. Meskipun tidak berlatih sepanjang waktu, iapun senang beromong-omong dengan Cak Tojib atau Sirot, Hari itu, justeru pada Jabodin tidak ada, sebelum matahari terbenam, rumah Haji Morgan kedatangan bahaya. Ada lima orang berbaju preman masuk rumah pembantaian kampung Bata potih dengan merunduk-runduk. Seorang yang masih muda, masuk keruangan dalam sebelum penjual daging yang berkumis tebal didepan rumah sempat memberitahukan orang dalam tentang tamu-tamu yang mencurigakan.

“Hai, Morgan! Dia ini rumahmu, ya? Kau telah bikin kacau dan melanggar peraturan gopermen! Tahu salahmu?! Kau telah melindungi orang yang dicurigai gopermen mengadakan gerakan anti gopermen. Kesini kulihat tadi! Mana orangnya? Serahkan! Disini Haji Bahrum tadi ya? Apa perlunya kesini? Rapat? Ya, rapat?! Ha, mukamu pucat sudah! Tentu kau bersekongkol dengannya, pengacau keamanan rakyat! Tak kukira, Haji Morgan ikut ikutan dalam gerakan anti pemerintah! Heh?!" suara pemuda itu dengan lantang dan kurangajar.

“Mat Toha! Tahan mulutmu! Kau cari perkara menantangku! Memang aku ketamuan Haji Bahrum tadi siang, tapi tidak untuk mengadakan rapat atau perundingan lain yang melanggar undang-undang gopermen! Jangan umbar suara tak tertentu! Jika maksudmu moncoba kepandaianmu, mari kulayani, tak usah banyak tuduhan yang kotor-kotor kau lontarkan. Bikin suram namamu sendiri! Mau apa kau, huh? Pergi sana jika tidak berani!” ujar Haji Morgan tidak kalah angkuh.

“Ha, ha, ha! Kau kira tebal kulitmu? Kau kira tambah kesaktianmu dengan menberikan clorit-clorit khusus bertandakan tiga batu merah bertumpukan? Ha, ha, ha! Tidak kau cium sendiri bau bangkai didepan hidungmu? Pendekar muda jago Haji Bakri kedapatan terkelepar ditengah tanah lapang di siang hari bolong menggenggam clorit Batapotih, ha,ha,ha!” ujar pemuda yang disebut Mat Toha sambil tertawa mengejek.

“Mati kau!” seru Haji Morgan meloncat dan melancarkan pukulan. Angin berdesir karena pukulan orang marah itu, sebab sindiran Mat Toha yang tajam. Tentu saja Haji Morgan mengerti yang dimaksud dengan bangkai yaitu mayat Jawawi! Pukulan yang dilancarkan sungguh ampuh. Leher Mat Toha bisa patah andaikata tidak segera mengelak.

Mat Toha mengelak dengan sigap, dan suara tertawanya berderai. derai : “Ha, ha, ha! Haji Morgan, aku membawa perintah untuk membunuh orang yang suka melindungi Haji Bahrum! Sebaiknya bawa saja clorit mu untuk mempertahankan dirimu, agar kematianmu tidak menyangkut-nyangkut pembantumu juga. Kau akan terbunuh karena membela diri, itu lebih adil dan jujur! Lihat, akupun mencabut pedangku!” serunya sambil menarik pedang Ponorogonya.

Pembantu Mat Toha yang jumlahnya lebih banyak dan mempunyai wewenang dari gopermen pada muncul diambang pintu, sehingga membuat Cak Tojib, Sirot dan Saleh tak bisa berbuat apa. Mereka hanya menyaksikan pertarungan pemimpin perguruan dengan Mat Toha, pembantu Van Greven. Nama Mat Tohapun tidak kalah tenarnya dikalangan jago pencak, meskipun umurnya masih muda belia. Ia teman akrab Bahrowi dan juga berasal dari Kaliwaron. Sebenarnya karena pengaruh Bahrowilah Mat Toha menggabungkan diri menjadi pembantu Van Greven dalam memberantas dan mengawasi kegiatan pergerakan nasional anti pemerintah dengan cara memelihara jago pencak bangsa bumi putera. Siasat kepala polisi bagian politik ini ternyata lebih berhasil. Dan dalam kedudukannya, Mat Toha yang muda belia itu telah diserahi memimpin penangkapan bersama anak buahnya.

Melihat kelebatan pedang Ponorogo ini, Haji Morgan segera tahu bahwa Mat Toha tidak main-main dan hanya nyawalah taruhannya dalam pertarungannya ini. Maka iapun tidak malu-malu menjambret clorit yang ter. selit didinding ruangan, Haji Morganpun bersiap dengan memutar senjata pegangannya Ia mahir sekali dalam mempergunakan senjata clorit schingga namanya menjadi harum dan murid dari perguruannyapun diajarkan khusus main senjata clorit apa bila sudah pada tingkat terakhir. Murid Haji Morgan yang membawa clorit tentulah orang yang tidak banyak tandingnya dikalangan ilmu pencak. Sekarang guru pemain clorit itu membela nyawanya dengan senjata pegangannya! Terang berbahaya. Clorit yang diputar bersuara mengiang-ngiang, sedangkan kibasan angin berpusat sekitar ruangan. Mula-mula disambitkan ujung clorit itu kearah jari-jari Mat Toha, meskipun hanya disambitkan tetapi kekuatannya begitu besar, sehingga jika tidak pandaia orang menghindarinya akan rantarlah jari jari. nya. Mat Toha waspada. Ia menarik tangannya, tapi cepat kembali menjurus dengan ujung pedang lurus mengarah jantung Haji Morgan. Pak Haji tidak kurang awas, bersicepat menggantol pedang lurus itu dengan cloritnya, set! Tapi luput. Pedang masih lurus mengarah jantungnya. Diulang sabetan cloritnya, luput lagi dan masih juga pedang itu mengarah jantungnya. Akhirnya terpaksa Haji Morgan merendahkan diri. Heran akan ketepatan Mat Toha yang menusuk bertubi-tubi kesatu arah dengan cepatnya. Melihat badan direndahkan, segera pedang disabetkan cepat pada punggung lawan. Dengan seluruh kekuatan curahan perhatian. Tapi Haji Morgan pada sekejap itu pula telah meloncat undur. Sekejap ijuma! Lalu kem. bali dengan gabetan? berganda yang mempunyai sasaran luas, tapi yang dituju khusus perut Mat Toha. Pemuda ini tahu bahaya yang mengancam segera meloncat terbang. Pemainan clorit yang mahir memburunya dengan merubah arah sambaran cloritnya. Mat Toha ngeri melihat bulu ayam dari baja menyambar-nyambar ke arah perutnya. Ia segera mengerahkan kekuatannya serta mengadu pedangoja. Terpaksa! Trang! Mat Toha terpental kesudut ruang. Lebih mendingan begitu daripada terobek perutnya. Ia tahu betul jaringan sambaran clorit Haji Morgan mempunyai kekuatan seperti baja. Andaikata hanya secara kasar ia mengadu pedangnya, barangkali pedang Ponorogonya akan patah berkeping, keping! Tapi Mat Tohapun ahli bermain pedang sema cam itu, sehingga bisa mengatur benturan bagaimana agar menyelamatkan nyawanya. Sekarang ia kembali menyerang. Pedangnya diputar cepat pada ujungnya, sehingga bukan lagi jantung Haji Morgan yang menjadi sasaran, tetapi semua dadanya. Haji Morgan yang terperanjat karena benturan senjata tadi, dengan gesitnya loncat menghindar. Sekarang gilirannya meloncat kekiri kekanan menghindari putaran pedang yang menjurus kesegala arah! Akhirnya ia pun harus mengadu kekuatan senjatanya. Trang! Bunga api menyembur dari benturan kedua senjata itu. Namun keduanya tak mau undur. Bunga api mencetus, putaran senjata masing' tak mau berhenti. Tetap sama sama menyerang. Toha memukul, lalu menghindar. Morgan menghindar segera memukul. Menghindar, memukul, menangkis, bunga api berhamburan, dua orang berkelebat memenuhi ruangan dengan angin. angin berkesyuran. Mereka hampir tidak menginjak jobin. Keduanya rasanya pantas terbang! Satu menjejak jobin terus meloncat, ganti yang lain menjejak jobin terus melenting. Sama gesit, sama tak mau menyerah. Orang yang menyaksikan sama terkejut ketika tiba tiba mereka melihat tetes' keringat dilantai menjadi merah. Tetes darah! Tetes terus kering karena tiupan angin. Kemudian tetesan darah ini tambah banyak, tidak pada jobin saja, tetapi menyiprat. nyiprat pada dinding sekitar ruangan! Namun tidak ada yang tampak kendor gerakannya. Toha masih gesit, Morgan yang jauh lebih tuapun masih tangkas. Siapa gerangan yang luka? Siapapun juga yang luka, tentulah menjadi korban dari pertarungan ini. Bunga api memercik, mercik, bunyi baja beradu berdering. dering. Lalu kepingan baja bertaburan seperti tetes darah tadi. Kepingan baja clorit! Clorit Bata Potih cuil sedikit demi sedikit. Tapi akhirnya berserak-serak juga. Kepingan baja. Lalu terdengar jeritan seru yang mengerikan. Sebentar kemudian bunyi debam tubuh jatuh kejobin. Tidak satu. Tapi kedua-duanya! Satu kesana, satu kemari!

Sunyi senyap! Orang-orang yang menyaksikan terasa terhenti napasnya. Mulutnya kering terkatup. Udara pertempuran masih mengiang-ngiang ditelinga mereka. Lama nian mereka tetap berpandang-pandangan tak tahu yang dikerjakan. Namun tubuh dua orang yang habis bertempur, sama-sama tak bergerak, satu disini yang lain disana.

Kemudian, kemudian sekali, barulah mereka menginsafi akan diri mereka masing. Melihat Haji Morgan masih kencang menggenggam cloritnya, namun clorit ini telah cuil-cuil pada mata tajamnya. Ia jatuh tersungkur, tak sadarkan diri. Sedang Mat Toha, jatuh terbungkuk, tak bergerak juga. Tangannya memegang pedang, namun pedang inipun tidak utuh. Telah puntung sampai pangkalnya Tangan yang menggenggam pangkal pedang ini penuh dengan darah merah. Mung. kinkah darah ini pula yang tercecer disekitar ruangan itu? Untuk beberapa waktu lamanya para saksi tidak mengetahui siapa yang kalah diantara petarung itu, dan ruara siapakah yang berteriak mengerikan tadi. Melihat banyaknya darah yang terdapat ditubuh Mat Toha, kiranya orang inilah yang banyak mencipratkan darah dan teriakan tadi sangat kuat seperti suara muda juga. Tapi dari perut Mat Toha yang kembang kempis, tentulah pemuda ini masih

hidup. Sedang pada Haj Morgan, karena jatuhnja tersungkur, orang tidak mongetahui pernapasannya.

“Lihat!" seru Saleh tiba! Pemuda yang paling sabar diantara para saksi ini agaknya paling dahulu sadar. la menuding kearah corit yang juil'. Namun bukan tilorit itulah yang menjadi perhatiannya. Tetapi barang cair yang bergerak gerak, berwarna merah. Barang cair ini bergerak dengan lincah diantara benda' yang diam, berkumpul dan mengalir! Ya, Haji Morgan mulanya tidak tampak kena darah, tetapi dari bawah tubuhnya yang tersungkur darah mengalir dengan derasnya! Maka tahu lah orang bakwa Haji Morganlah yang mengalami luka berat. Orang mulai menolong jagonya masing! Cak Tojib dan Sirot membalikkan tubub Haji Morgan Panggungnya utuh tak mengandung darah, tetapi dahil nya, dadanya, perutnya, lengannya ternyata penuh dengan luka-luka! Bukan itu saja. Jika clorit senjatanya hanyalah cuil-cuil dan cuilan bajanya terserak dilantai, maka senjata lawan patah sampai pada pangkalnya, tidak sekepingpun patahan pedang itu terdapat dilantai. Ya, patahan pedang itu masuk kedahi, leher. dada dan perut Hadil Morgan! Haji Morgan mati bertempur bagai dicincang tubuhnya, luka di mana-mana!. Namun ia bertempur sampai akhir hidupnya, tanpa mengeluh, tanpa menjerit, dan tidak kehilangan kegesitannya sampai nyawanya hilang!

Mat Toha tidak mengalami banyak luka. Agaknya ia menjerit bukannya karena kesakitan, melainkan sebagai pengerahan tenaganya yang terakhir. Oleh pembantu- pembantunya ia diangkat keluar dari rumah pembantaian. Tak ada orang yang berani menghalangi. Sebab senantiasa orang-orang Van Groven pergi kemana juga membawa surat tugas atas nama gopermen!

Peristiwa itulah yang sangat dikecewalan oleh Jabodin. Kecewa, mengapa waktu itu dia tidak ada dirumah pembantaian, mengapa la meninggalkan siang?! la yakin, seandainya ia hadir tentu tak sampai gurunya itu meninggal dunia! Setidaknya ia bisa membantu mengusir cecunguk jahanam itu!

Setelah matinya pendekar Batapotih, perguruan disitupun bubar. Dengan agak gugup Jabodin menemui Cak Tojb, menganjurkan agar ia tetap mau menurunkan ilmunya kepada Jabodin.

Cak Tojib menggelengkan kepala. “Tidak Din. Ilmuku sungguh tak seberapa. Apa lagi jika maksud hendak membalas dendam Bahrowi atau Mat Toha, terang ilmuku tak bisa mencapai sampai disitu."

“Lalu bagaimanakah dengan aku ini? Akan terhenti sampai sekiankah?” tanya Jatodin dengan menelan ludah hendak menangis saja.

“Kau barus cari guru lain !"

“Tetapi ilmu menggunakan clorit itu hanya perguruan Bata potihlah yang memiliki! Aku harus menggunakan senjata itu untuk melunasi dendamku,” ujar Jabodin dengan sungguh hati.

Mereka berdua terdiam, Berbagai bagai pikiran menembus jalan keluar. Akhirnya Jabodin juga yang bicara : “Waktu Jawawi hendak bertempur dengan Bahrowi, Bahrowi ada menyebutkan bahwa Jawawi jago yang disebut-sebut oleh Haji Bakri. Bagaimana jika aku berguru kepadanya?”

Hah?! Haji Bakri?!" saut Cak Tojib dengan mata terbelalak. Ja memandangi Jabodin dengan mata berapi-api penuh kebencian dan keheranan.

Jabodih menjadi heran, tanyanja: “Mengapa? Siapakah Haji Bakri?"

“Kau kenal Haji Bakri? Haji Bakri dari Kalianak?” sahut Cak Tojib ganti mengajukan pertanyaan. Sikapnya masih tegang.

Jabodin menggelengkan kepala. Memang sebenarnyalah ia tidak tahu siapa yang disebut Haji Bakri itu. “Siapakah dia? Tolong jelaskan.”

“Hah, hampir tak percaya aku, usul tadi dari engkau datangnya!” kata Cak Tojib setelah reda napasnya.

“Jabodin. Kau telah masuk kedunia pencak. Bagaimapapun juga sedikitnya ilmumu, tapi orang tahu bahwa engkau memiliki bakat yang amat baik, karena itu berhati-hati lah dalam bergaul dengan pendekar-pendekar aliran lain. Salah engkau bisa terjerumus kedalam pergaulan dendam yang tak putus-putusnya! Pendekar sakti biasanya tekebur dengan kesaktiannya dan menantang? mencari lawan. Jika didengarnya di Bangil ada orang gagah, segera orang berduyun-duyun kesana, hendak mencoba kesaktian orang baru muncul itu. Jika di Gedangan terdengar ada pendekar baru, berdatangan pendekar lain kesana, mencoba kepandaian orang baru. Begitu, selalu begitu. Maka hati-hatilah engkau melangkah berbekalkan kepandaianmu pencak itu. Perihal Haji Bakri menurut penjelidikan kami begini, kematian Jawawi sebenarnya menjadi tanggung-jawab dua orang, yaitu Haji Bakri dan seorang perempuan bernama Patimah !"

“Hah!” terloncat suara Jabolin karena mendergarkan nama perempuan itu. Tetapi segera ia bisa menguasai dirinya.

“Ja, dua orang itulah! Sebab semula kami mendidik Jawawi dalam ilmu pencak bukanlah maksud kami mengajukan dia kepertarungan pencak. Tapi hanya sekedar untuk pembelaan diri sebagai seorang perintis pergerakan. Jawawi jauh lebih berguna sebagai pelopor pergerakan dari pada jago pencak. Tapi Haji Bakri, orang yang bermuka dua ini agaknya meniup niupkan api dendam. Mengetahui kami mendidik jago muda, dikabarkannya hal ini kepihak Van Greven. Entah bagaimana perhubungan Haji Bakri dengan Belanda itu. Tapi begitulah menurut penyelidikan kami mengapa sehingga pihak Van Greven mengetahui ada jago pencak dari Batapotih. Ini tadi engkau sendiri bilang, Bahrowi menyebut nama Haji Bakri sebelum membunuh Jawawi. Jadi teranglah Haji Bakri menyeret Jawawi kehadapan Bahrowi! Perlu kau ketahui, bahwa Haji Bakri bukanlah guru pencak. Bahkan mungkin tidak pandai main percak! Jadi mengertilah engkau kiranya mengapa aku sangat heran ketika ia menyebut mau belajar pencak kepadanya!" begitu kisah penjelasan Cak Tojib.

Jabodin terpaksa tersenyum mendengarkan kisah kebodohan dirinya. Dan mengapa pula Patimah tersangkut?” tanya pemuda itu kemudian.

“Hah, selain engkau, siapakah orang yang bersama Jawawi ketika dia dipergoki Bahrowi? Patimah! Perempuan molek inilah yang ikut mengatur pertemuan Jawawi dan Bahrowi. Perempuan ini...." Cak Tojib lalu mengisahkan kehidupan Patimah. Jabodin menahan diri. Sama sekali agaknya tidak diketahui oleh Cak Tojib bahwa Jabodin kenal akrab benar dengan Patimah. Sekarang jelas bagi Jabodin, mengapa Patimah terlalu cemas hatinya ketika Jawawi singgah kewarung dekat pelabuhan, mengambil clorit titipannya. Ya, mungkin benar bahwa Patimah ikut mengatur pertemuan mereka. Jabodinpun ingat, betapa Patimah mencegah daya upayanya hendak membela Jawawi, Jabodinpun ingat, bagaimana Bahrowi akhirnya berkawan akrab kepada Patimah pada akhir pertemuan di Eerste Kade dulu! hati-hatilah bergaul dengan perembuan molek,

Din!" Cak Tojib menutup kisahnja,

Mereka berpikir-pikir lagi. Jabodin terang tidak bisa memecahkan persoalannya, sebab ia tidak kenal dengan guru-guru pencak lainnya.

Baiklah kita tunggu Sirot. Mungkin ia mempunyai pendapat yang baik," kata Cak Tojib. Pikirannya sudah buntu.

Sirot, pembantu Haji Morgan yang lain, ternjata mempunyai pikiran yang cemerlang, katanya: “Bagaimana jika kita kirimkan Jabodin ketempat Haji Jen di Pandegiling?"

“Hh?!" seru Cak Tojib terkejut. Tapi segera takjub oleh pendapat yang baik ini. “Ya! Jika beliau mau menerima murid, kiranya kepadanyalah sebaiknya Jabodin kita kirimkan!"

“Siapakah Haji Jen itu ?" tanya Jabodin ingin tahu. Dia guru Bahrowi! Ya, tak ada orang yang lebih cakap mendidikmu untuk melawan Bahrowi, kecuali Haji Jen! Pikiran yang bagus! Tapi orang tua ini telah lama tidak menerima murid la telah ditorong oleh Bahrowi. Dan selamanya ia tidak mau menerima murid secara sembarangan. Muridnya mesti memiliki bakat-bakat yang tepat," kata Cak Tojib.

“Kurang sempurnakah bakatku ?" tanya Jabodin dengan tunduk,

“Tidak! Itulah maka aku takjub dengan usul Sirot tadi. Kau orang yang paling memiliki bakat pencak! Tetapi Haji Jen ini susah menerima murid. Pekertinya aneh! Perguruan Bata potihpun memilh-milih murid. Tak pernah ada empat murid sekaligus dalam suatu masa pendidikan ditempat kami. Paling banyak tiga orang. Waktu engkau masuk menjadi murid kami, kamipun hanya mendidik Saleh. Memang begitulah perguruan- perguruan pencak yang telah tinggi tingkatnya. Tapi Haji Jen ini lebih membatasi diri lagi dalam memilih dan menerima murid!”

“Dimanakah rumah beliau?" tanya Jabodin. Ia ingin sekali hubungan dengan guru ini. Alangkah bahagianya jika bisa menjadi muridnya. Ini berarti dia tentu menang berhadapan dengan Bahrowi!

Cak Tojib tidak segera menyawab pertanyaan Jabodin terakhir. Ia berpikir pikir. Lalu mengangguk-angguk, katanya: “Begini saja, Din. Datanglah malam Jumat kemari. Kita pergi ketempat Haji Jen malam hari. Lepas tengah malam. Kita tidak boleh banyak bicara soal engkau dan bakatmu, tetapi beliau harus mengerti langsung bahwa engkau berbakat baik. Caranya kita harus menjadi pencuri. Aku dan engkau masuk kerumahnya, datang ketempat tidurnya, lalu bunuhlah dia dengan clorit Bata potih!"

“Pembunuhan? Tidak mungkin Cak Tojib. Aku tidak mau membunuh orang tidur. Dan bukanlah cara yang paling baik menyingkirkan Haji Jen, guru Bahrowi, untuk menyendat kemahiran Bahrowi selanjutnya, Lebih baik aku langsung membunuh Bahrowi waktu tidur!” ujar Jatodin dengan bersemangat,

Cak Tojib tertawa gelak-gelak, katanya : “Ha, ha, ha. Aku sangsikan siapakah yang terancan bahaya dalam pencurian malam Jum'at nanti, engkau ataukah Haji Jen yang sedang tidur pulas! Ini perlu kuperingatkan kepadamu, Din. Aku yakin, engkau tidak akan berhasil membacok orang tua yang sedang tidur itu, tetapi sebaliknya, kau akan medapat bagianmu jika tidak waspada! Haji Jen, Din, pendekar yang luarbiasa ketaja man inderanya!"

“Jadi maksud sebenarnya, aku tidaklah hendak membunuh beliau ?"

Maksud sebenarnya aku hendak memperkenalkan bakatmu langsung dengan calon gurumu yang berkepandaian tinggi itu! Namun kau harus dengan sungguh melakukan percobaan pembunuhan. Harus kau pilih betul bagian tubuh yang mana sekiranya dalam sekali bacok dengan bakatmu yang baik itu orang tidur bisa mati tanpa sesambat lagi! Sebab hanya dengan demikian Haji Jen mengetahui engkau mempunyai naluri tinggi dalam mengetrapkan senjata!" petunjuk Cak Tojib.

Begitulah mereka berjanji untuk bertemu lagi pada malam Jum'at sesudah tengah malam. Sementara itu Saleh dan Sirot disuruh menyelidiki tempat Haji Jen. Mana-mana bagian rumah yang rapuh sehingga dengan mudah nanti Cak Tojib dan Jabodin bisa masuk. Dimana pula tempat tidur orang tua itu, dan apa pula kebiasaannya, sehingga Jabodin tidak mengalami halangan mutlak pada waktu melakukan pembunuhan. Pada malam Jum'at hari perjanjian, Cak Tojib dan Jabodin sudah siap melakukan pembunuhan. Mereka dengan mudah memasuki tempat tempat yang diinginkan, berkat ketelitian penjelidikan Saleh dan Sirot. Mereka berhasil memasuki bilik tempat tidur Haji bjen tanpa membangunkan penghuni rumah lainnya. Melihat orang tua yang tidur mendengkur itu, hati Jabodinpun gelisah sebentar. Mungkinkah ia melakukan pembunuhan terhadap orang tua yang tak berdaya ini? Mungkinkah orang tidur pasrah ini mempunyai kesaktian menangkis serangan mautnja? Bagaimana jika tidak? Jabodin merasa dosa dalam hati!

Namun pandang isyarat Cak Tojib yang juga ikut masuk kebilik itu, menghapuskan keragu-raguannya. Maka ia memikirkan soal lain. Ia memikirkan bahwa orang tua inilah yang membuat Bahrowi sakti sehingga sepantasnya kakek ini menerima hukumannya karena mendidik orang yang buruk tingkah lakunya. Bagaimanapun juga Haji Jen ikut bertanggung jawab atas tingkah laku anak muridnya yang biadab. Maka dengan sekuat tenaganya, dengan perasaan dendam yang meluap-luap, dibacoknya leher orang tidur itu. Orang tidak akan membutuhkan ulangan! Tentu mati tanpa sadar lagi! Darah mencurat dari leher yang hampir putus!

Tapi Jabodin terkejut. Ia merasakan hembusan angin yang kuat, sehingga dengan sendirinya ia mengelak kekiri, dan segera pula menjatuhkan diri dengan clorit siap menjambit bayangan yang menyambar-nyambar dengan diiringi angin santer! Dengan sigapnya, ia pun meloncat berdiri lagi, dan menyahut kelebatan orang didepannya. Tapi harus segera memutar diri, jika ingin tubuhnya tidak terbentur pukulan yang dahsyat. Jabodin tidak melihat lagi bentuk apa kelebatan-kelebatan bayangan didepannya, dan ia menggerakkan cloritnya dan badannia hanyalah karena naluri saja. H.lang sudah kewaspadaan nia. apa lagi siasat mengatur menyerang, sama sekali lepas tak terkendalikan.

“Hai, berhentil Berhenti! Cukup, wak Haji! Cukup!” seru Cak Tojib melerai. Ia mengacungkan tangannya dengan sikap tak berdosa.

“Kurangajar, pemuda ini! Heh, siapa kau! Maling, pembunuh! Salah alamat, kau! Kuhajar kau. pengecut!” umpat Haji Jen. Ia berdiri dengan wajah berapi-api. Tangannya mengacung bergetar-getar kearah hidung Jabodin. Jabodin dengan pasrah berdiri tunduk. Untung ada orang ini yang membuat aku ingat diri! Siapa pula engkau, heh? Kawan pengecut ini?! Heh, dikiranya siapa aku ini, dirunduk mau dibunuh sedang tidur nyenjak! Ini Haji Jen, kau tahu? Kau salah alamat membacokkan cloritmu ketenggorokanku sedang aku tidur nyenjak! Salah alamat!"

“Cukup, wak Haji, cukup! Benar hebat tindakan wak Haji, kami sangat mengagumi. Namun maksud kami datang kemari bukanlah sekali-kali berniat jahat hendak membunuh Haji Jen. Tidak!" bela Cak Tojib:

“Kau mau mungkir lagi! Jahanam! Ayo, kubuat perhitungan!"

“Sabar, wak Haji, sabar. Tidak ingatkah wak Haji dengan saya? Cak Tojib, wak Haji Toyib dari Bata potih”

Haji Jen memandang lebih teliti. Wajahnya surut dari berapi-api menjadi keheran- heranan: “Tojib! Betul kau Tojib! Heh, oh, tak kusangka! Apa pula akalmu masuk kerumahku dengan cara begini? Malam, pakai senjata lagi! Apa maksudmu membawa teman pengecut ini, Tojib?!”

“Yah, ampunilah wak Haji, tidak kami yang salah. Begini, wak Haji. Bisakah kita bicara dengan tenang?" ujar Cak Tojib masih ragu.

“Wah, ada saja akalmu, Yib. Malam begini mengadakan pembicaraan! Masakan tak ada waktu lain !!

“Ayoh, sana, keluar dari kamar! Kita omong diruang! depan! Wah, wah! Tojib ini, rek!”

ujar Haji Jen.

Mereka keluar dari bilik. Baik Cak Tojib maupun Jabodin kelihatannya sangat hormat dan merundukrunduk, beberapa kali minta ampun. Diluar bilik, ternyata telah bangun pula anggauta keluarga lainnya. Diantaranya ada seorang gadis yang memandang ketakutan, dengan tak mengindahkan keadaannya sendiri. Ia memakai baju tidur yang kusut, rambutoja pun kusut terurai. Tapi tentu saja tamu' malam ini tidak mem. perdulikan amat tentang keluarga Haji Jen, sebab sibuk memikirkan sikapnja terhadap tuan rumah yang sakti.

Begini, wak Haji!" Cak Tojib memulai bicaranya. Beberapa hari yang lalu pemimpin kami, Haji Morgan dari Batapotih, gugur bertempur "

“Ya. Aku dengar itu. Ia seorang pahlawan yang paling gigih. Heh, ya Tojib. Aku lupa menjampaikan ikut sedihku dengan kematian Haji Morgan. Maafkan kelalaianku, Ya, aku orang tua sering lupa sekarang ini. Inna lillahi wainna ilaihi roji'un, semoga arwahnya diterima Allah dan mendapat tempat selayaknja".

“Nah, itu wak Haji. Kami ada kesulitan sedikit. Tahu tentang murid kami ini Jabodin namanya. Bagaimana pandangan wak Haji tentang dia tadi? Ia baru mendapat pelajaran dasar," sambung Cak Tojib.

Haji Jen mengerutkan keningnya, berpikir-pikir. Yah bagus! Ingat aku sekarang! Gerak nalurinya amat bagus! Jadi dia murid Batapotih? Hm!”

Bakatnya kami ketahui memang luar biasa baiknya. Sedang ia bercenderung mau meneruskan pelajaran pencaknya. Tapi kami tidak bisa mengajarnya. Maka ada minat kami menyerahkan Jabodin ini kepada wak Haji!" kata Cak Tojib dengan tidak kurang- kurangnya menghormat

“Ah, ini akal bulus namanya! Aku mengerti sekarang apa maksudmu menjuruh pemuda ini menyerangku malam"! Heh heh, sungguh sopan caramu, Yib Toyib! Ha, ha, ha! Ya, memang benar! Jika kau mengusulkan begitu saja kukira memang kutolak! Aku tidak menerima murid baru lagi! Tapi sekarang, heh, heh, Toyib rek! Tapi begini, Yib. Terus terang saja. Memang sebenarnya bakat anak ini bagus sekali, bagus sekali. Tapi aku tidak bisa menerimanya, Yib. Tetap tidak bisa. Aku mau mengaso dulu."

“Wah, wak Haji! Sungguh betapa kecewa hati anak muda ini! Terus terang saja, sebenarnya padanya telah tertanam bibit permusuhan. Pertama ia ingin membela temannya yang telah meninggal, kedua tentu saja ia akan menuntut balas kematian gurunya. Jamak hal yang demikian, bukan, wak Haji? Tetapi yang sungguh kami maksudkan ialah pendidikan pribadinya. Ia telah kami taburi bibit kejujuran, membela kebenaran dan ingat akan nasib bangsanya. Jika pendidikan ini terbengkalai langsung tak langsung la telah kehilangan lagi seorang pahlawan." “Tunggu sebentar. Dia akan menuntut balas kematian gurunya. Kudengar Mat Tohalab yang membunuh Haji Morgan?”

“Betul wak Haji. Maka dengan Mat Tohalah dia mengadakan perhitungan. Sedang teman yang dibelanya bernama Jawawi, seorang tokoh pergerakan yang cemerlang, tapi telah dibunuh oleh Bahrowi!"

“Heh! Bahrowil Dengan Bahrowi ia mau menuntut balas?! Gilakah engkau? Tahukah engkau, heh, siapa Bahrowi itu?" tanya Haji Jen dengan selidik kepada Jabodin.

“Ya, wak Haji. Saja dengar Bahrowi adalah murid wak Haji?"

“Nah, kau tahu! Dan kau tahu betapa gesitnya muridku itu?"

“Saja menyaksikan waktu Jawawi dibunuh. Sungguh hebat sepak terjangnya!" ujar Jabodin dengan hormat.

“Dan kau tetap hendak menuntut balas?"

“Justru sepak terjang yang gesit tapi digunakan dengan cara kurangajar itulah maka saja bertetap hati hendak menuntut balas!"

Haji Jen terdiam. Dipandanginya Jabodin dengan teliti. Ia memikirkan sesuatu yang harus diputuskan segera. “Kau tidak akan mendapatkan guru yang bisa mendidikmu mengalahkan Bahrowi! Di daerah Surabaya ini, di Jawa Timur ini, tak ada orang yang bisa mendidik muridnya untuk mengalahkan Bahrowi. Dia anak bandell Anak berani! Dan cakap!"

“Juga Haji Jen tidak bisa mendidik pemuda berbakat yang bisa mengalahkan Bahrowi?!" sela Cak! Tojib dengan sungguh hati.

Haji Jen terperanjak. Dahinya masih mengkerut. Pikirannya belum memutuskan. Setelah memandangi Jabodin dengan sungguh lagi, ia menarik napas panjang, lalu katanya: “Heh, ini gara-garamu, Tojib! Akal bulus! Hm Berat, berat! Ya, begini saja. Datanglah kemari tiap malam Jumat, seperti malam ini. Kita bisa berlatih setelah larut malam. Kau harus menyadari, sebenarnya aku sudah tidak mengajarkar ilmu pencak lagi kepada orang lain, kecuali Bahrowi. Tetapi sekarang baiklah kucoba mengajarmu pada malam hari. Tidak boleh ada orang lain tahu bahwa aku mendidik murid lagi! Malam Jumat menjelang jam dua atau jam tiga, ya ?”

Tidak terkirakan gembira Jabodin diterima menjadi murid Haji Jen. “Akan saja kerjakan dengan sungguh hati, wak Haji!” ujarnya.

Setelah merundingkan soal lain, tamutamu itupun mohon pamit. Tapi sebelum berdiri, tiba masuklah gadis yang tadi berdiri ketakutan didepan bilik tidur Haji Jen membawa air panas dalam talam.

“Heh, repot segala, nih!" ujar Cak Tojib.

“Sudah dini hari, sebentar lagi waktu subuh. Sudah biasa kami bangun pagi," kata gadis itu dengan ramah.

“Kau masih ingat, siapa ini?" tanya Haji Jen kepada gadis itu.

“Tentu. Bukankah dia Cak Tojib, pembantu utama Haji Morgan? Oh Ya, pak. Aku mengucapkan ikut bela sungkawa akan gugurnya pak Haji Morgan! Kasihan! Peristiwa itu sungguh menjedihkan!" ujar gadis itu. Sekarang pakaiannya sudah rapi, rambutnya disanggul licin, tampaklah parasnya yang elok dan peramah. Meskipun dididik dirumah seorang Haji, gadis ini bebas tingkah lakunya. Ibunyapun seorang terpelajar, sedang ayahnya, anak Haji Jen, seringkali bepergian ketanah Melaju.

“Ya, Ni. Memang begitulah agaknya suratan takdir," sebut Cak Tojib dengan tenang. “Ni, jangan terkejut. Aku datang malam ini dengan cara yang tidak sebagaimana mestinya. Maaf jika mengacaukan pikiranmu. Ini, Ni, bekas murid Haji Morgan akan melanjutkan pelajarannya pada Haji Jen, kakekmu.”

“Ah! Kakek kan tidak ambil murid lagi dalam beberapa tahun ini?" ujarnya dengan bahasa Jawa logat Madura. Lalu bicara kepada kakeknya dalam bahasa Madura : “Bagaimana, sih, kek? Nanti akan terjadi heboh lagi sama si Rowi!"

Haji Jen menarik napas panjang dan geleng kepala. Hatinya memang bimbang. “Tojib ini apa, bikin gara-gara! Begini, Ni. Jabodin ini akan kuajar pada waktu malam, jika orang tidak ada yang bangun."

Gadis itu masih saja kelihatan gundah. Lalu memandang kepada pemuda yang sejak tadi belum di. tegurnya. Jabodin sebaliknya, sejak kehadiran cucu Haji Jen ini matanya tak lepas memandangi perawan ayu ini. Ketika matanya bersambung pandang dengan gadis itu, barulah ia menundukkan kepala. Namun masih sanggup berkata dengan bahasa Madura yang halus: Hatiku sangat kecewa jika sekiranya ditolak menjadi murid wak Haji Jen."

“Heh, anda orang Madura juga kiranya?” tanya gadis itu dengan heran. Sama sekali ia tak mengira bahwa pemuda itu pandai berbahasa Madura. Ia tahu betul. Cak Toyib orang Surabaya, tidak bisa berbahasa Madura. Maka dikiranya temannyapun tidak pandai berbahasa Madura.

“Ya, dari Sampang," jawab Jabodin bertahan memakai bahasa Madura.

“Hm! Tak kusangka!" ujar cucu Haji Jen dan mengawasi Jabodin lebih teliti. Ia menimbang-nimbang sesuatu dibenaknya. Ho! Anda tahu, kakek sebenarnya tidak lagi mengajarkan ilmu pencak! Telah berpuluh puluh orang ingin belajar. Setengahnya anak orang kaya raya yang mau membayar dengan mahal. Banyak pula anak orang kuasa. Tapi kakek menolak. Kamipun senang kakek berbuat demikian. Sebab sebenarnya kami tidak suka sama main pencak pencak begitu, Penghuni rumah ini hampir sekaliannya perempuan. Karena itu kami menyukai perbuatan yang damai. Entahlah apa pula bujukan kalian maka kakek suka menjadikan anda muridnya!”

“Begini, Ni. Ia mau membalas dendam pembunuh gurunya," sahut kakeknya.

“Nah, itu lagi! Itu pantangan kami dengan adanya main pencak- pencak! Dendam dibalas dengan dendam! Macam perbuatan apa pencak ini, heh?” ujar gadis itu dengan semangat. Suaranya merdu bergetar. “Aku telah berkali-kali berkata kepada kakek. Kek, hentikan pelajaranmu pada Bahrowi" tapi agaknya kakek sudah terikat oleh ancaman, sehingga tidak bisa menolak lagi. Sedang sikap Bahrowi, anda tahu bukan Bahrowi jago pencak nomor wahid itu? Ya, sedang sikap Bahrowi semakin kurang ajar dan dimana- mana mencari lawan atau korban! Sebenarnya dengan mengajarkan pencak kepada Bahrowi itu kakek sudah menanam pekerti buruk! Tetapi agaknya !”

“Jangan keras-keras, Ni. Hari masih malam !" tukas Haji Jen: “Ni, dengan mendidik Jabodin ini maksudku hendak menyingkirkan Bahrowi! Mendengar cerita Tojib ini, Jabodin bukanlah buruk laku seperti Bahrowi Lagi pula iapun orang pergerakan. Bukankah begitu, engkau bilang tadi, Yib?”

“Apa wak Haji!" tanya Cab Tojib yang tidak tahu banyak tentang bahasa Madura, meskipun pergaulannya di Batapotih meliputi orang-orang Madura belaka.

Ah! Bukankah Jabodin orang pergerakan?" ulang Haji Jen dengan bahasa Jawa.

“Ya, wak Haji. Ia mulai belajar dari Haji Bahrum!”

“Nah, apa kataku tadi? Kita tidak salah didik sekarang. Ni!"

Gadis remaja itu menggigit bibir. Lalu: “Ah, entahlah! Kukira bukan urusan perempuan mencegah orang main pencak! Minumlah pak Toyib. Minumlah, heh siapa nama anda

?"

“Jabodin!" tiga orang laki laki menyawab bersama,

“Ya. minumlah kak! Aku membantu ibu didapur, kek!” Lalu pergi.

“Hm! Cucuku yang satu ini kenesnya bukan kepalang. Kuasanya dirumah melebihi ibunya. Tapi pada jalan yang benar. Keras dan benar! Seharusnya ia seorang laki laki supaya bisa masuk pergerakan kebangsaan. Sayang cuma perempuan, kerjanya membantu ibunya di dapur. Bikin juadah ijas, dijual dipasar Gresik. Karena itu pagi sudah bangun. !” cerita Haji Jen dengan ramah tamah.

Dalam perjalanan pulang, kedua laki, Cak Tojib dan Jabodin, dadanya merasa sesak karena terharu.

Mereka bicara soal beruntungnya Jabodin diterima menjadi murid Haji Jen.

“Tapi awas, Din. Kau harus waspada. Jangan hendaknya kau kabar- kabarkan keuntunganmu ini kepada orang lain. Lebih baik kau pendam sendiri. Jangan hendaknya terjadi seperti Jawawi. Engkau belum lagi siap dengan kepandaianmu, telah kepergok berhadapan dengan musuhmu yang sakti! Maka nasihatku hindarilah pergaulan dengan Haji Bakri. Atau janganlah bergaul dengan perempuan, sementara waktu!"

Hm! Tapi gadis cucu Haji Jen tadi telah mengetahui halku!” sela Jabodin.

“Oh, dia lain lagi. Tidak masuk perempuan yang kumaksud! yang harus kau hindari adalah perempuan semacam Patimah. Kau kenal Patimah? Ah, itu, perempuan yang menyaksikan pembunuhan Jawawi bersamamu itu !"

“Dan dia molek!" ucap Jabodin berbisik-bisik seorang diri.

“Ya, molek! Justru kemolekannya itulah senjatanya yang menakjubkan guna memadamkan kesaktian! Maka hati-hatilah.  !"

“Siapa tadi, namanya ?” tanya Jabodin.

“Patimah!” tegas Cak Tojib.

“Ah, bukan! yang kumaksud cucu Haji Jen tadi," kata Jabodin.

“Aaaah, kau ini, Din! Siapa pula yang kau sebut? molek tadi? Ooookk! Jabodin. Din!” ujar Cak Tojib dengan gemas memikirkan sikap Jabodin yang berlagak seperti orang dungu. Hari Kamis rasanya amat lama! Harapan bertemu dengan gadis molek itupun lama pula. Besok baru hari Sabtu. Lalu Minggu. Senen. Selasa ..... ah, masih lama! Pergi ke Pandegiling ada dua keharuan, belajar pencak dari orang sakti dan bertemu dengan dia! Jabodin terkenang-kenang saja pertemuan pertama jam tiga malam, malam Jumat yang lalu!

Malam Jumat Haji Jen menyuruh Jabodin datang kerumahnya. Itupun waktu malam, jika orang telah sepi. Tapi hati Jabodin tidak betah bertahan sampai hari perjanjian. Sudah dilela lela dengan berjalan mengitari kota, menyusuri kampung, namun seringkali kakinya mau membelok ke Pandegiling saja. Seringkali pikirannya tergoda Ya, dengan Haji Jen ia berjanji datang hari Kamis malam Jumat, tetapi dengan cucunya, bukankah ia tidak berjanji apa?? Boleh saja datang pada hari sebelumnya! Akhirnya jebol pertahanannya. Diturutinya desakan hatinya yang menggo dam didadanya. Belum lagi Selasa, belum lagi Senin, hari Minggu petangnya, kakinya telah dibiarkannya melangkah terayun-ayun kearah selatan, menuju kampung Pandegiling! Hm, langkah yang malang! Pikiran tergoda oleh kemolekan perempuan, itulah langkah naas! Cak Tojib telah memperingatkan, jangan dekat-dekat sama perempuan! Perempuan membawa celaka! Jabodin tak ingat nasihat Cak Tojib. Ia lena. Bertamu kerumah Haji Jen sebelum hari perjanjian bermaksud ke temu perempuan molek! Dan bukan perempuan saja yang ditemuinya, tetapi kemalangan juga !

Cucu Haji Jen yang menjatuhkan iman Jabolin bernama Burjani. Baik Haji Jen maupun ayah gadis itu juga orang Madura aseli, tetapi telah lama meninggalkan pulau asalnya. ayah Burjani bahkan telah lama tinggal disemenanjung Melaju. Hanya kiriman hartanya jugalah yang tetap berlangsung untuk tiap rumah tangga Haji Dico, menantu dan jucunya. Namun ibu Burjani, seorang perempuan terpelajar asli Gresik, bukanlah orang yang suka berpangku tangan. Meskipun kiriman' belanja dari suaminya cukup, se masih juga bekerja membuat penganan dan barang dagangan lainnya. Makanan tahan lama seperti juada ijas dikerjakan sendiri dirumah dan dijualnya dipas Gresik. Sebab itu pagi benar rumah Haji Jen sudah pada bangun mematangkan segala sesuatunya. Bersamaan waktunya dengan terbitnya matahari biasanya datang orang yang membawakan penganan itu ke Gresik. Tapi tidak jarang pula Burjani atau ibunya datang ke Gresik, mengurusi dagangan. Berbeda dengan Patimah seorang yang manja dan menyibukkan diri pada pergaulan dan pergerakan, maka Burjani tekun membantu ibunya bekerja. Seperti halnya Parimata, Burianipun termasuk seorang yang cakap dan cekatan. Karena itu dirumahnya ia merajai. Semua orang diperintah. Bahkan kakeknya ataupun ibunya sendiri sering kali makan perintabnya. Dan mereka biasanya menurut, sebab Burjani sangat mereka kasihi dan dipihak yang benar pula!

Dulu, ketika Burjani belum dewasa dan perdagangan ibunya belum maju, Haji Jen serta merta membutir perguruan pencak. Memang sejak masa mudanya pendekar Jennuri sangat terkenal didaerah Jawa Timur. Ke Timur sampai Probolirggo kebarat sampai kendal. Tetapi sejak kepulangannya dari Tanah Suci Mekah, kegiatannya terhenti sama sekali. Baru waktu nyata-nyata nampak tinggalnya menetap di Tanah Melayu, ia coba membuka perguruan pencak tetapi tidak lama, sebab Haji Jen terlalu cermat dalam memilih calon muridnya, sehingga biaya untuk mendirikan perguruan tidak ada dan dengan murid yang diterima. Bahkan seringkali jendatangkan heboh, atau pertengkaran. Dan masuklah perguruan itu seorang pendekar muda belia yang berbakat, Bahrowi namanya. Mula-mula Bahrowi sering kali pendapat pujian dari gurunya, sebab bakatnya yang baik dan cakap dalam pelajaran-pelajaran. Dan ini segera nyata jika ada teman seperguruannya yang bisa menandingi ketrampilannya. Dalam sekejap waktu saja Bahrowi telah menjadi ketua pembantu dalam perguruan itu. Lama-kelamaan sikapnya jadi tekebur, sombong dan hanya mengandalkan kesaktiannya. Lebih-lebih setelah Berkenalan dengan kepala polisi Van Greven, langsung dipakai sebagai tangan kanan polisi Belanda itu. larena ketakutannya kalau kepandaiannya dikejar atau ditandingi oleh murid-murid Haji Jen lainnya, maka dengan membawa surat perintah Van Greven Bahrowi datang ke Pandegiling.

“Wak Ji! Ini aku bawa peritah dari Kangjeng noperaen. Perguruan pencakmu terpaksa ditutup, karena engkau tak mampu bayar pajak, dan engkau tidak diperbolehkan lagi menurunkan ilmumu kepada orang lain lagi, kecuali aku. Mengerti kau wak Ji?”

Haji Jen terkejut mendengar perkataan muridnya. Namun pendekar serba tahu ini mengerti ada apa dibalik surat perintah Van Greven yang diunjukkan kepadanya. Ia mengangguk dan tersenyum, dan kabar berhentinya mengajar olah jasmani pencak itu dikabarkan keluarganya. Tak tersangka bahwa Burjani yang mulai besar menyambut surat perintah Van Greven itu dengan tepuk tangan gembira.

“Bagus, bagus! Engkau harus insaf, kek, telah tua. Jangan ambil murid lagi dan mengasolah. Aku dan ibu akan bekerja keras menegakkan rumah tangga. Jangan kuatir, tidak sia-sia ayah menyekolahkan aku masuk Huishoutschool. Aku tahu banyak tentang masak-memasak dan jahit-menjahit sehingga mudahlah mengerjakan sesuatu dengan mendapatkan keuntungan, Bermain pencak, cih, suatu permainan bertaruhkan jiwa. Dan jika tidak bolah benang, jika tidak kalah menang, itulah hasilnya pertengkaran main pencak. Kekalahan dalam pencak seringkali ditebus dengan nyawa, dan kemenangannya dibayar dengan pemburuan dan penantangan!” ujar gadis itu dengan anggap.

“Ha, ha, ha, wak ji! Cucu perempuanmu ini sungguh elok dan cerdas. Lain kali aku melamarnya, boleh ja wak ji?!” ujar Bahrowi waktu mendengarkan bi cara Burjani.

Haji Jen mengerutkan dahi. Mungkin Bahrowi bermaksud bergurau dengan ucapannya itu. Tetapi gurau yang kurangajar. Kecut hati Haji Jen memikirkan ucapan muridnya itu. Tapi Haji Jen tak berani lagi membentak Bahrowi, sebab berdiri dibelakang Bah rowi surat kuasa mencer Van Greven! Menyesal ia telah menurunkan begitu banyak kepandaian yang hebat kepada pemuda ndugal itu!

(Bersambung jilid II)

JILID II

KEADAAN sesungguhnya kian bertambah buruk. Perintah penghentian mengajarkan ilmu pencak yang semula disambut dengan tepuk tangan oleh Burjani, ternyata banyak menimbulkan kesulitan-kesulitan. Batas gerak Haji Jen kian dipersempit. Untuk mengawasi kegiatan orang tua itu, tiap hari Minggu sore Bahrowi datang ke Pandegiling, dengan alasan mempermahir ilmu pencaknya dihadapan gurunya. Tapi pada hakekatnya ia datang pada waktu-waktu yang tidak teratur dan bahkan lebih sering mengunjungi rumah itu, sehingga mengganggu ketertiban rumah tangga Haji Jen. “Wak ji, dibuka baru gelanggang adu kesaktian di Wonocolo, wak ji. Tidakkah wak ji ingin mencoba kesaktian pendekar muda? Ayo kesana jika wak mau!” ajak Bahrowi sesekali.

Ah, Rowi, aku sudah tua. Dan tidak pantas lagi maju kepercaturan pencak. Lagi pula siapa tahu, de ngan memperlihatkan gerakan yang kita pelajari dengan tekun dimuka umum, akan membocorkan rahasia perguruan. Tidak Wi. Bukankah aku telah dilarang mengajarkan ilmu-ilmu pencak?” jawab Haji Jen dengan masgul.

“Ha, ha, ha, nah begitu, wak ji. Jangan sekali kali menurunkan kepandaianmu kepada orang lain lagi wak ji. Jangan ambil murid baru. Jika kuketahu perbuatan itu, awas, bisa saja kau dibuang ke Boven Digul!

Ancaman! Selalu saja Bahrowi berkata dengat ancaman yang mengecilkan hati orang tua itu. Namun Haji Jen tetap sabar dan tawakal.

Surabaya terkenal dengan pasarmalamnya yang di adakan tiap tahun sekali, selama dua minggu. Pada waktu demikian hampir seluruh penghuni kota memerlukan datang ketempat itu, entah sekali atau beberapa kali dalam dua pekan itu. Maka mudahlah dibayangkan betapa berjejalnya orang di tanah lapang Canalaan itu pada hari-hari demikian. Kedai" dibangunkan orang. Bermacam macan tontonan didatangkan dar daerah dan luar daerah. Bahkan orang dari luar kota Gresik, Sidoarjo, pada memerlukan datang ketempat yang ramai itu.

Ibu Burjani tidak menyia-nyiakan waktu baik ini untuk mencari keuntungan. Dibukanya warung makanan disitu dengan mengutamakan soto Madura. Soto Madura Haji Jen, menjadi terkenal dalam tempo dekat, sebab nama Haji Jen telah bertahun-tahun dikenal orang, tapi sebagai penjual soto tiba-tiba merebut pasaran luas pula karena kata orang juru masaknya anak sekolah Huishoutschool! Keruan saja bukannya turunan pendekar yang suka masuk kewarung ibu Burjani, tetapi juga para studenten gemar singgah di warung soto Madura Haji Jen itu.

Burjapi memang membantu dibelakang layar. Ia turut bekerja diwarung ibunya, tetapi ada dibelakang, didapur. Meskipun ia seorang perawan yang elok parasnya, yang biasanya lalu dijadikan propaganda penarik pembeli, tapi diharamkan hal itu oleh keluarga Haji Jen. Maka Burjani tidak pernah kelihatan dari depan. Namun bagi teman sekolahnya, tidak rahasia lagi setelah selesai makan-makan, atau waktu memesan makanan, pada menjenguk ke dapur.

“He, Ni. Sombong kau sekarang! Tidak pernah kau datang kerumahku!” selonong suara

tegur yang ramah.

“Hai, kau Mah! Dengan siapa engkau? Wah.. pesiar terus, ya? Malam Minggu, malam panjang si! Sibuk sekarang aku, Mah. Tak ada yang membantu ibu mengurusi ini. Masih giat dalam MJMB?” (Madureese Jong Meisjes Bond) tanya Burjani pada tamunya yang menjelonong masuk kedapur.

“Hh hm !” sahut tamunya mengiakan sambil mengangguk.

“Sama siapa kau, Mah?” tanya Burjani mengulangi.

“Biasa, Suyanto, kak Man. Ayo, kemuka! Mau nonton wajang orang. Sebentar lagi main. Aku belum pernah menontonnya. Sekarang mumpung ada Suyanto, orang Sala dia, biarlah diterangkan sedikit tentang cara menikmati pertunjukan itu," kata tamu Burjani tidak lain adalah Patimah. Burjani dan Patimah teman sesekolah. Patimah lebih tinggi kelasnya. Tetapi rasa kesukuan mempererat pergaulan mereka.

“Hai, awas, banyak murid terpikat pada guru sekarang!" ujar Burjani menggoda temannya. Matanya mengerling.

“Ah, kau nih! Jangan disamakan Suyanto dengan Bahrowi, hi hi hi. Aduuuh! Sakit cubitanmu, Nil" seru Patimah bergurau.

“Hai, Mah! Mah! Apa lagi yang kau bicarakan dengan Burjani, Mah? Ayo, cepat sedikit. Pertunjukan telah mulai!” seru Nariman dari depan.

Heh, ayo, Ni! Aku bergegas!  Sampaikan salamku kepada  si Rowi! Bukankah tiap

Minggu sore dia kerumahmu?” ujar Patimah tergesa meninggalkan Burjani.

“Heh, kau masih hafal hari-hari berlatih lagi Rowi, ya ? Ssstt, Mah. Kau kenal sama Jabodin, orang kita?" tegur Burjani menukas.

“Jabodin?! Asal Sampang?!" tanya Patimah ter tegun

“Ya, dari Sampang!" ujarnya sambil mengerdipkan sebelah matanya, isyarat bahwa ia gembira dengan penemuan orang baru ini.

Berdengup jantung Patimah, ujarnya : “Ada apa dengan Jabodin ?!"

“Mah! Kita kehabisan kursi nanti, Mah!” seru kakaknya.

“Tidak apa?! Kakek kenal dengan dia!" jawab Burjani dengan suara rendah. Tidak ada lagi niatnya mengemukakan Jabodin, kecuali menanjakan apakah Patimah kenal atau tidak.

Melihat Burjani tidak mengisjaratkan hal lain, Patimah pergi dengan perasaan bertanya- tanya. Ya, api telah bepercik pada bensin. Meskipun tontonan dipasar malam begitu indah dan menakjubkan, meskipun orang ramai dan lampu terang benderang, tapi bagi Patimah sepi dan gelap. Ia berjalan dipasar malam, tapi pikirannya berputar-putar ditempat lain. Jabodin dikenal Haji Jen! Jika Burjani menjatakan bahwa dia yang kenal Jabodin kira tidak begitu gelisah perasaan Patimah. Tetapi Burjani mengemukakan kakeknya yang kenal Jabodin! Apa hubungan Jabodin dengan guru pencak itu? Kenalan biasa? Tak mungkin! Mereka tidak sebaya. Tidak sepahan. Haji Jen orang kuno Jabodin anak sekolah! Mereka tidak akan ada hubungannya kecuali dalam satu hal : pencak! Guru dan murid! Jabodin belajar pencak! Sungguh menyeramkan!

“Din! Jangan! Jangan belajar pencak!" bisik Patimah seorang diri.

“Siapa lagi belajar pencak, Mah!? Itulah peranan buta cakil, gesit, sombong, tingkahnya melonjak-lonjak, tapi sebentar lagi akan mati kena kerisnya sendiri! Begitu bukan, To?" kata kakak Patimah, sebentar menengok Patimah sebentar lagi menyikut Suyanto.

Keesokan harinya, hari Minggu, Patimah seperti orang bingung, tak tahu jalan. Kampung-kampung dijelajah dan bertanya-tanya. Ia mencari rumah Jabodin. Ia harus ketemu dengan Jabodin! Setelah lelah mencari, akhirnya ketemu juga tempat pemondokan Jabodin. Tapi sayang Jabodin tidak ada dirumah Dengan putus asa dia pulang kerumahnya.

Sore harinya, Minggu sore, ia kembali lagi ketempat pemondokan Jabodin. Tapi tak ketemu lagi! Induk semangnya tak tahu kemana pergi Jabodin. Maka jalan satu satunya pergi kerumah Burjani, minta keterangan yang lebih jelas mengenai Jabodin. Rasanya ia menempuh jalan yang amat jauh untuk sampai di Pandegiling, sedangkan matahari cepat sekali meluncur keufuk barat! Tapi tekadnya bertambah kuat serentak diingat hari itu hari Minggu sore, saat Bahrowi belajar pencak. Nanti dia bisa pulang diantar Bahrowi, tak usah takut kemalaman dijalan seorang diri! Dipanggilnya dokar untuk mempercepat langkahnya. Pendeknya jika seandainya tidak bisa mendapatkan keterangan dari Haji Jen sendiri tentang hubungannya dengan Jabodin, Burjanipun tentu bisa memberikan keterangan. Karena itu ia mengarah tiba dirumah Burjani sebelum Burjani dan ibunya berangkat ke Jaarmark, sebelum matahari terbenam.

Jabodin dengan gelisah terus saja menuju rumah Haji Jen Kian dekat rumah itu, hatinya kian gundah. Apa gerangan nanti yang diucapkan kepada gadis pujaanja itu? Masih ingatkah dia kepadanya? Bagaimana jika tidak? Ketika ia menghadapi Baron Balungbendo, hatinya tidak gentar seperti ini. yang dihadapinya sekarang ini banjalah seorang perawan jelita, jantung. nya lebih kuat berdenjut . denjut sehingga terasa memu kuli dada!

Jabodin masuk halaman rumah, kakinya terasa keri, rasanya ringan dan ingin terbang saja. Ia mengetuk pintu, rasanya dadanya sendiri terketuk. Rumah sepi. Dimana mereka? Bagaimana jika yang keluar kakek nja? Dan bagaimana pula jika yang keluar orang lain?

Kenaasannya belum tampak. Burjanilah yang menjawab ketukan pintunya. Dan tidak terlalu sukar seperti yang dibayangkan semula. Burjani menyambutnya dengan tegur dan senyum menjenangkan.

“Ah, kak Jabodin. Mari masuk. He, bukankah engkau harus datang malam? Adakah

keperluanmu dengan kakek?” “Dimana kakekmu?”

Itu, dibelakang. Beliau jarang sekali keluar kesini. Baru saja sembahyang ashar. Perlu kupanggil kemari?"

Tidak. Biar beliau ada dibelakang. Aku mau ketemu dengan yang muda-muda saja!" ujar Jabodin dengan tersenyum. Ya, ia pandai juga tersenyum sekarang, didepan perawan-rupawan pujaan hatinya.

“Ah, kau berseloroh! Mari, duduk! Lama sudah kau di Surabaya, ya? Kau telah pandai berbahasa Jawa!” ujar Burjani.

Jabodin mengangguk. “Heh, Ni! Siapa sih namamu? Aku belum lagi tahu lengkapnya."

“Biasa. Burjani," jawabnya dengan bahasa Madura. Mereka bercakap- cakap terus dengan bahasa Madura. Burjani memang pandai bicara. Meskipun dengan pemuda yang baru saja kenal, ceritanya banyak juga. Ia lupa hari itu hari Minggu. Ia lupa bahwa Jabodin datang kerumahnya yang pertama melamar menjadi murid kakeknya untuk melenjapkan Bahrowi yang sore itu akan datang pula disitu. Karena mereka bersenda- gurau menggunakan bahasa Madura, mereka tidak merasa asing lagi dan yang mereka bicarakanpun bukan soal-soal ilmu pencak dan dendam kesumat yang diakibatkan. Mereka lebih cenderung bicara soal muda-mudi, soal hubungan pergaulan pria dan wanita. Mereka mungkin akan bicara berlarut larut seperti itu seterus, nya, lupa waktu lupa keadaan, andai kata tiba-tiba tidak datang seorang pemuda berdiri diruang itu pula. “He, Ni! Dengan siapa kau ?" tanya orang yang baru datang. Suaranya kasar. Dan kehadirannya mengejutkan mereka yang omong-omong. Burjani menjerit terperanjat.

Jabodin berdiri tertegak. Mukanya pucat! Sedang Bahrowi, pemuda yang datang kemudian itu, setelah melihat wajah Jabodin, tertawa gelak-gelak: “Ha, ha, ha! Heh, main apa kau sama Burjani, heh? Bercumbu, ya!! Ha, ha, ha! Heh, aku pernah lihat rupamu! Dimana ya? Sebentar! Ah, kau pemuda yang bersama Patimah! Ya, yang dipeluk-peluk Patimah dilapangan pelabuhan sana, ya? Ha, ha, ha! Apa? Kau mau nantang aku sekarang? Ayoh, tarik cloritmu! Tanganmu dipinggang, kau bawa clorit bukan? Ayoh, tarik saja! Sudah belajar pencak sekarang kau, ya? Begitu, laki?! Jangan cuma pandai bercumbu, tapi tunjukkan keperwiraanmu!”

“Wi! Rowi! Ini tamuku, Wi! Dia ke ini bukannya mau menantang pencak, tapi mau berbincang-bincang! denganku! Tahan nafsumu berkelahi, Wi. Tunjukkanlah kesopananmu sedikit!" seru Burjani. Berkali-kali ia memutus perkataan Bahrowi dengan jerit dan sedu. sedan. Tapi mata Bahrowi sudah lempang menuju mata Jabodin.

“Wi, ingat Wi! Tolong!”

Jabodin terpaksa juga mengeluarkan cloritnya. Tangannya gemetar. Memang hatinyapun gemetar pula. Ia benar belum siap melawan Bahrowi. Ia pernah melihat betapa lawannya ini berpencak. Bahrowi, orang pertama dari Van Greven! Sedangkan orang kedua saja, Mat Toha, telah bisa membunuh gurunya! Sungguh tak disangkanya pertemuan ini. Tapi bagaimanapun juga, demi kehormatannya sebagai orang laki laki, Jabodin menarik cloritnya. Ia tidak segera menyerang.

“Ayo, serang! Ha, kurang terbuka dadaku? Nih, dada Bahrowi, turunan Sawunggaling!" ujar Bahrowi dengan memperlihatkan dadanya tepat dimuka Jabodin.

Tapi Jabodin tetap tidak mau menyerang. Ia ingat ketrampilan jago . jago pencak, ketrampilan Haji Jen. Kelihatan begitu mudah, begitu lena, namun tak bisa diserang dengan jurus biasa!

“Ha, tidak berani? Ha, ha, ha! Apakah aku yang harus menyerang dulu? Ya? Begitu? Baik, baik! Siaplah kukirim ke neraka!” suara Bahrowi.

“Wi! Ya Allah, ya Tuhan! Dia tidak akan melawan, Wi! Dia tak pandai main pencak!" seru Burjani.

“Apanya tak bisa main pencak? Ia bawa clorit, Ni! Laki-laki bawa clorit bagaimana pun juga tentu bisa mempergunakan senjata itu! Clorit bukanlah perhiasan! Ayo, coba tangkis belatiku ini!” seru Bahrowi tak sabar lagi. Lalu dengan gerakan yang tidak begitu laju, ditusukkannya belati yang ada ditangannya kearah Jabodin.

Meskipun tangannya gemetar, Jabodin bisa juga menggerakkan cloritnya untuk menangkis serangan Bahrowi. Bahrowi pura-pura terpental senjatanya kena bentur.

“Bagus! Ada ilmumu menangkis, ya! Coba, ini, pelajaran kedua!” seru Bahrowi dengan

mengayunkan belatinya lagi. Sekali ini agak keras.

Jabodin menangkis lagi sedapatnya. Pikirannya ditata benar, agar gerakannya tidak salah. Ia lebih dikuasai oleh pikiran yang gojah daripada naluri yang murni. Padahal nalurinya inilah yang dulu dipuji oleh Haji Jen!

Belati Bahrowi tertangkis! Orangnya meringis, tampaklah giginya yang besar. Suaranya menggelora: “Ah! Ha, ha, ha, ha! Hebat, hebat! Ayo, teruskan! Aku pimpin bertarung kian lama kian cepat! Siapa tahu akhirnya kau menang? Ha, ha, ha! Bandot muda tukang men cumbui perempuan-perempuan menang sama Bahrowi, ha, ha, ha! Hai, terima pukulan ketiga!" Dengan tiba Bahrowi melayangkan tangannya. Kecepatannya mulai luar biasa. Jabodin undur, sementara berusaha menangkis juga. Berhasil! Bahrowi terloncat undur! “Nah, ini, lumajan! Awas, serangan lagi! Pinggangmu jaga!"

Bahrowi kembali menyerang. Terbentur oleh tangkisan clorit Jabodin. Undur. Menyerang lagi. Menyerang lagi. Kian lama kian gesit. Sedang pihak Jabodin, meskipun tangkisannya selalu berhasil, sikap hati-hatinya terlalu dipegang teguh, sehingga kelihatan kikuk sekali. Matanya tak lepas mengawasi gerakan Bahrowi, cloritnya dipegang tangan dua dan amat kencang genggamannya. Tiap kali Bahrowi menyerang ditangkisnya dengan gugup. Napasnya kembang-kempis nyata dari pergerakan dadanya. Keringat mengalir. Ia insaf betul bahwa Bahrowi hendak mempermainkannya. Entah sampai kapan, akhirnya, setelah puas dengan permainan ini, Bahrowi akan bergerak dengan kegesitan sesungguhnya, dan matilah Jabodin. Mungkin tubuhnya terkelapar disudut lantai. disaksikan oleh gadis kekasih hatinya! Sangat memalukan! Tapi ia tak berani gegabah menyerang Bahrowi Akan sia-sia belaka! Bahrowi tak terkalahkan!

Satu serangan lagi. Clorit dibabitkan kekiri! Trang! Serangan lagi! Dibabitkan kekanan! Trang! Kekiri! kekanan Lagi! Tiba-tiba, wek! Bayunya sobek. Pada dadanya! Bukan salah jahitan, atau bahannya yang sudah tua! tetapi karena irisan belati Bahrowi! Sungguh diluar tahunya, bagaimana Bahrowi mencoretkan belati melalui jaringan tangkisannya! Terdengar suara Bahrowi tertawa berderai-derai, mengejek keheranan Jabodin. Lalu mulai lagi. Trang! Trang! Trang ! Wek! “Ha, ha, ha, ha!” Dan permainan ini kian lama kian cepat, kian berbahaya. Dari robekan baju didada Jabodin, mulai mengalir darahnya. Ah, kiranya bukan Bahrowi yang dicabik-cablk oleh clorit Batapotih, tetapi tubuh Jabodin! Tubuh Jabodin akan tercabik-cabik oleh belati Bahrowi, dan Jabodin mati perlahan-lahan! Wahai, ngeri rasanya!

Pada ketika serangan Bahrowi cukup gesitnya, meloncat kekiri kekanan dan keatas dengan tangkainya sehingga beberapa kali tangkisan Jabodin sudah tidak mengena lagi, ya gerakan Jabodin sudah tidak berguna lagi, berhentilah sebuah dokar dimuka rumah. Patimah datang. Demi didengarnya bunyi orang berpencak diruang depan, ia bergegas menuju kesana. Indera wanitanya menuntunnya! Sesuatu yang kurang beres terjadi disana! Tak mungkin Haji Jen mengajarkan ilmu pencak ditempat yang begitu mudah ketahuan orang! Lagi pula, tidakkah didengarnya isak perempuan menangis? Ya, jerit perempuan menangis bahkan! Lupa Patimah membayar dokarnya, dan berlari-lari menjinsingkan kainnya masuk ruang muka rumah Burjani.

“Bahrowi! Ja Allah Jabodin! Berhenti! Berhenti!” serunya terus menjerbu diantara mereka yang bertarung! “Gila kau, ya Wi! Sungguh gila perbuatanmu! Pengecut!”

Bahrowi mengetahui kehadiran Patimah, segera menyelesaikan serangannya dengan jitu, wek wek. wek! Jabodin terdesak disudut tembok, tak bisa bergerak lagi, cloritnya dipegang dengan tangan terkulai. Hancur robek pakaian Jabodin dicorat-ejoret oleh ujung belati Bahrowi. Cabik dan mengalirkan darah!

Patimah datang dengan keberanian yang Ia telah biasa melihat orang berdarah atau berkelapar luka parah. Ia seorang perempuan yang berhati tabah. Didorongnya dada Bahrowi, agar laki-laki berangasan itu undur menjauh dari Jabodin. Ia tidak takut sama sekali dengan kekasaran, kekuatan ataupun belati ter. N hunus yang berbau darah! “Gila kau Wi, sungguh maksiat perbuatanmu ini!"

“Hai, Mah! Kau lagi yang datang! Apa pula kehendakmu?" tanya Bahrowi, setengahnya heran melihat ketabahan gadis ini.

“Kau kira siapa musuhmu ini?" ujar Patimah dengan mata nyalang memandang tepat kemata Bahrowi. b

“ Dia bawa clorit Mah! Dia orang yang membela Jawawi dulu!"

“Clorit baginya bukan senjata, tapi kenangan atas kematian temannya! Ia bukan lawanmu, Wi! Ia tidak bisa main pencak!”

“Tapi ia bisa menangkis seranganku, Mah!"

“Bohong! Jika kau sungguh menyerangnya tak mungkin Jabodin bisa menangkisnya. In anak sekolah bi Wi! Anak Ambachtschool!"

“Ha, ha, ha, ha! Patimah, dewi penolong! Hai, cung! Kau harus berterimakasih sama gadis ini! Jika tidak ada dia, mampur kau, tahu? Hai, Mah. Kau cinta sama dia, Mah?”

“Tutup mulutmu, Wi!" sahut Patimah galak.

“Ai, merah padam! Tak apa, Mah! Cuma bilang kepadanya, jangan sekali mencoba belajar main pencak! Biar umurnya panjang, dan berhasil memetik engkau, ha, ha, ha! Maaaah! Tertawalah, Mah! Sungguh Mah, jangan boleh dia belajar pencak! Belajar jurus pertama berarti umurnya kurang satu tahun! Heh Mah, kau tahu kegemaran pacarmu itu? Suka sekali bercumbu sama wanita', ha, ha, ha, ha! Lihat Burjani itu, ha, ha, ha, ia pun kena bujuk rayunya! Kau jangan cemburu, Mah! Jangan kau melarang dia belajar pencak, kiranya kau sendiri main pencak, ha, ha, ha! Bisa gadis-gadis kenalannya kalang kabut kau amuk! Aduh! Kau tampar aku, Mah! Permulaan yang bagus, ha, ha, ha!” ujar Bahrowi dengan mulut bacar. Suaranya diumbar tak karuan dan ia tertawa terpingkal-pingkal karena leluconnya sendiri.

Patimah sangat jengkel hatinya. Sekali waktu ia ingin menolong Jabodin, sekali waktu panas kupingnya mendengar ejekan Bahrowi. Maka dipukulnya pipi pemuda bacar mulut itu.

Burjapi tidak tinggal diam. Ia segera menubruk Jatodin, terus saja diraba-raba dadanya yang merah basah. Diusapnya dengan kerudungnya. Tapi Jabodin menolak perlakuan lebih lanjut.

Tatkala itu muncullah sais dokar yang bermaksud minta bayaran. Melihat kehadiran sais itu Patimah timbul pikirannya. “Din! Ayoh, pergi! Biarlah dia lekas pergi meninggalkan rumah ini, Ni. Tidak baik kumpul dengan Bahrowi !" ujarnya dalam bahasa Madura.

Burjani setuju. Dan Jabodinpun menurut diapit dua anak dara meninggalkan ruang depan, diiringi tertawa Bahrowi berderai-derai. Mari, pak. Aku naik dokarnya lagi. Ke CBZ!" (Rumah sakit Umum Pusat) kata Patimah kepada sais dokar. Jabodin dan Patimah naik dokar.

Burjani kembali keruang muka dengan muka masam, “Hah, pacarmu direbut orang,

Nil” ujar Bahrowi.

“Oh, diam, Wil Kelakuanmu sungguh tidak pantas! Kau tahu dia orang macan apa, terang bukan jago pencak, tapi kau perlakukan begitu binal Untuk melawan orang semacam itukah pelajaran yang diberikan kakek kepadamu? Sungguh tak bermalu!" ujar Burjani.

Tapi perkataan dara ayu yang berapi-api itu disambut dengan gelak berbahak-bahak oleh Bahrowi! “Sungguh naik bintangnya, bandot muda itu! Dicintai sekalian gadis manis! Heh. heh, makanya kepadaku Patimah dingin saja sikapnya! Dan kau, Ni! Bagaimana kalau kulamar? Sungguh ini, Ni! Kan gagah aku daripada tikus pucat tadi? Kesaktian, ada padaku! Uang, oh, kau ingin binggel (gelang pada kaki yang sering dipakai oleh perempuano Madura) emas? Kubelikan, nanti, ha, ha, ha!”

“Bising aku Wi, bisssiiiinnggg!!!" jerit Burjani. “Mengapa kau tak bisa diam!? Kau orang biadab Wi! Mulutmu kotor, hatimu kotor, kelakuanmu maksiat! Itu gambaran tentang dirimu! Gagah, sakti, kaya, oh, tunggulah sebentar lagi, sifat-sifatmu itu akan luntur! Akan luntur! Itu sifat yang tidak abadi, tahu engkau? Tunggu saja, ya! Tunggu!"

“Heh, apa maksudmu dengan tunggu? Ada orang yang mau menandingi kesaktianku? Siapa? Siapa? Sebut namanya!" ujar Bahrowi dengan sombong dan pongah.

“Ya, tunggu saja! Meskipun tidak ada tandingnya, akan luntur sendiri oleh ketuaan dan kepongahanmu, Wi! Tunggu saja !”

“Atau musuhku itu sekarang sedang digembleng? Ya? Barangkali pemuda pucat ini datang kemari mau berguru kepada kakekmu, ya? Kakekmu mau mengambil murid baru!"

“Tidak! Aku tidak bilang begitu! Oh, Gusti Allah, ampunilah perkataanku!” seru

Burjani dengan menangis.

“Hah, terang sekarang! Mana kakekmu, mana? Ku. hajar sekali nanti, jika betul kudengar dia mengambil murid lagi! Ayoh, katakan! Betulkah pemuda tadi mau berguru pada kakekmu?! Awas, tua bangka itu, berapa lagi kekuatan tenaganya!?” ujar Bahrowi dengan bengis, lalu masuk kerumah, menemui Haji Jen.

Segala peristiwa diruang depan itu memang terjadi dengan amat cepatnya, dan rumah Haji Jen memang luas dan sepi orang, maka huru-hara didepan tidak terdengar oleh orang dibelakang Burjani berlari-lari mengikuti Bahrowi mendapatkan kakeknya.

“He, ji! Kau mau ambil murid beru, ja ?!” teriak Bahrowi dari jauh.

Mendengar ini dan melihat Burjani mengikuti dari belakang, Haji Jen sangat terkejut. Diterkanya sudah, bahwa cucunya telah berkata jujur kepada Bahrowi!

“Wi, gila kau! Siapa bilang kakek mau mengajar pencak lagi? Ia sudah tua! Ia tidak mengambil murid lagi kecuali engkau! Kek, ini tadi ada temanku datang kemari. Berjanji sama Patimah, akan bertemu disini. Tiba-tiba datang Rowi gila ini, tidak memperkenalkan diri, tapi menantang berkelahi! Sungguh gila, dia, kek!"

“Habis, dia bawa clorit, ji! Musuh lamaku, siapa tidak curiga! Betul ji, kau tidak mengambil murid lagi? Awas, Ya, jika kudengar sekali saja kau mengajarkan pencak lagi, kulaporkan pada Van Greven! Kau tentu dibuang ke Boven Digul! Salah2 karena umurmu sudah tua, kau mati disana, dikubur disana, dan tak ada sanak saudaramu memelihara kuburmu, ha, ha, ha!” ujar Bahrowi.

Meskipun bicara Bahrowi sangat menusuk dan menghina, namun terasa bahwa masa gawat telah lampau. Burjani telah mengemudikan dengan selamat! Dalam dokar lain pula yang mereka perbincangkan. Jabodin berkali kali menolak diraba dadanya. Meskipun darah berceceran, tapi ia tidak merasa lemah sebab nyatanya Bahrowi hanya merobek-robck bajunya, dan sedikit mencoret coret dagingnya. Sama sekali tidak melemahkan tenaganya. Lagi pula dendam hatinya kepada Patimah menjala-njala. Ya, sesungguhnya mungkin ia diselamatkan diwanya dari serangan Bahrowi oleh perempuan itu. Tetapi apa yang telah terjadi tadi, lebih bicara Bahrowi dan Patimah yang meskipun kasar tetapi tidak menimbulkan dendam, sungguh menyimpulkan kebenaran perkataan Cak Tojib. Patimah bermuka dua! Patimah punya bagian pada penyiasatan Van Greven, mungkin turut mengatur pembunuhan Jawawi! Dendam ini yang menjebabkan Jabodin enggan ditolong Patimah. Sungguh, Mah. Dadaku tidak apa?! Luka cuma sedikit !"

“Ya, tapi darahnya begitu banyak! Jangan angkuh engkau, Din!”

Patimah berdaya-upaya keras, dan akhirnya Jabodin. pun menurut, mereka menuju rumah sakit. Dirumah sakit lukanya mendapat pertolongan pertama. Tidak salah kata Jabodin, lukanya memang tidak berbahaya, sehingga seketika itu pula sesudah diobati dia diperkenankan pulang.

“Kuantarkan kau sampai kepondokmu, Din !" kata Patimah kuatir.

“Tidak usah! Justru engkau yang harus kuantar sampai dirumahmu. Hari sudah mulai malam!” kata Jabodin.

Melihat Jabodin gagah kembali, Patimah ganti menurut. Mereka naik dokar lagi menuju rumah Patimah.

“Din. Apakah perlumu sesungguhnya kau datang kerumah Burjani tadi?” tanya Patimah mulai melancar kan penjelidikan.

Jabodin tidak segera menyawab. Tentu saja ia tidak mau mengatakan dengan jujur, bahwa hatinya terpikat oleh cucu Haji Jen. Tetapi iapun sukar mencari dalih lain. Maka dibiarkan pertanyaan Patimah tak terjawab.

“Kau tidak bermaksud berguru pada kakek Burjani, bukan Din?”

Jabodin segera menggelengkan kepalanya atas pertanyaan ini.

“Sjukur, Din! Sjukur! Jangan engkau belajar pencak! Itu permainan maut! Sungguh cemas hatiku serenta kudengar kau kenal dengan Haji Jen, guru pencak si Rowi!”

“Tapi Mah, aku telah dua kali ini dipermalukan oleh Bahtori!"

“Bahrowi, kau masih tetap saja memanggilnya Bahtori! Omong kosong! Jangan kau pikirkan perlakuan orang gila itu! Bukan engkau seorang, hampir tiap orang diejeknya, disakiti hatinya, diperlakukan dengan malu! Itulah pekerti Bahrowi yang terkutuk!" ujar Patimah. “Tapi kau kenal baik dengan dia, bukan Mah?”

“Ya. Aku kenal dengan bedebah itu!” jawab Patimah dengan tetap.

Ketika engkau pulang dari Sampang bersama-sama dengan aku dan Jawawi, adakah kepulanganmu itu diketahui pula oleh Bahrowi?" tanya Jabodin.

Patimah tampak terkejut. Matanya tajam memandangi Jabodin, menyelidik. Dan Jabodin menanti jawab pertanyaannya dengan memandang lurus kemata Patimah. Pandang tersenyum-senyum yang pertama sore itu dari Jabodin untuk Patimah. Patimah merasa bahwa senyum yang dilancarkan Jabodin sekali ini tidak sewajarnya, melainkan mengandung ejekan pahit.

“Apa maksudmu dengan pertanyaan itu, Din?" tanya Patimah perlahan.

“Jadi benar kata orang, kau ikut merencanakan pembunuhan Jawawi?"

Oh! Oh!" tersentak suara Patimah mendengar tuduhan itu. “Kau, oh, Din, kau sungguh kejam! Tidak! Aku tidak ikut urusan itu!"

“Bohong! Aku menyaksikan segala tingkah lakumu waktu itu! Kau tentu ikut merancangkan pembunuhan kejam itu!" bentak Jabodin dengan suara kasar, sehingga sais dokar beringuut mengejilkan diri. Jabodin bicara memaki bahasa Madura, scdang nais dokar itu telah tua dan takut dengan orang-orang Madura yang membawa tlorit. Sais malang itu tak mengerti bahasa Ma. dura!

“Sungguh Din! Aku tak ikut merancangkan!"

Tapi setidaknya kau tahu rancangan pengadangan Patimah amat gelisah, nyata pada pandangan matanya. Ia menelan ludah sambil mengangguk mengiakan. Wajahaja pucat ketakutan.

“Huh, tak kusangka hatimu sedemikian busuknya!" umpat Jabodin sambil meludah, menghina.

Patimah tak tahan lagi, menangis meratap dan menubruk dada Jabodin yang baru saja diobati: “Oh, Din! Aku tak berdaya! Waktu itu, waktu itu Van Greven mengancamku! Dan kupertimbangkan dosaku tidak terlalu berat, hanya memberi tanda bahwa Jawawi pulang kc Sampang. Mereka tidak perlu mengintip-intip Jawawi, Asal diketahuinya aku pergi ke Sampang berarti Jawawipun kesana. Maka pengadangan dilakukan! cuma itu, Din! Tapi sampai sekarang aku tidak berbuat apa lagi dengan pekerjaan Van Greven! Sungguh Din! Sumpah! Karena aku insaf permainan kotor dipihak Belanda ini. Itulah sebabnya aku selalu melarangmu jangan belajar pencak. Bagi orang mahir main pencak hanya ada dua pilihan hidup, berpihak kepada Van Greven yang bermain kotor itu, atau berpihak kepada yang lain yang menjadi musuh Van Greven. yang akhir ini resikonya lebih berat, sebab akan dirongrong secara licik oleh siasat Van Greven, seperti halnya Jawawi. Din, aku kasih kepadamu Din. Aku sayang kepadamu. Janganlah ikut belajar pencak, tapi belajarlah disekolah dengan tekun! Oh, Din!"

Sayang orang tidak bebas memperlakukan kehendak seluruhnya. Sayang pertengkaran itu terjadi di jalan raya diatas dokar. Jika tidak, jika dunia ini bebas dari tata-cara peradaban, barangkali Jabodin telah membacok perempuan molek itu dengan cloritnya! Tapi berbalikkan dengan kehendak batinya, tangan Jabodin memegang dengan lembut kedua pundak Patimah, Ya, gadis ini dulu pernah menggoncangkan hatinya karena keelokan tubuhnya. Sekarang dia begini dekat, begini pasrah dan mencurahkan kasih sayangnya lagi. Tak tahan Jabodin bertindak kejam!

“Mah! Jangan menangis! Nanti kita ditonton orang! Lihatlah sais dokar itu telah kecut benar hatinya. Tenanglah," lipur Jabodin.

Patimah yang telah biasa hidup dengan dunia keras, segera pula menguasai dirinya. Ia duduk tegak, matanya murung memandangi Jabodín.

“Kau maafkan daku, Din?” katanya dgn penuh harap, Jabodin membalas pandang Patimah, menarik napas panjang dan menggelengkan kepala, seraja ujarnya : “Entahlah, Mah. Hatiku amat kecewa mendengar kata orang bahwa engkau menjalankan pekerjaan jahat. Penilaianku tentang dirimu menjadi lain!"

Oh!” terdengar lagi keluh Patimah. “Aku ingin menggantinya dengan seluruh jiwaku jika bisa. Setelah dekat denganmu, maka aku tahu kebenaran, Din. Sebelumnya bagiku segala persoalan ini bercabang dan kabur. Sungguh !"

Jabodin tidak berkata apa-apa. Ia berpikir.

“Berkatalah sesuatu, Din. Adakah pekerjaan yang bisa kukerjakan yang setimpal dengan dosa kebodohanku yang lalu?” bisik Patimah.

Jabodin memeramkan matanya. Menemukan akal. Katanya : “Begini, Mah. Kau tahu Haji Morgan, jago pencak dari Bata potih, gugur bertempur melawan Mat Toha, tetangga Bahrowi? Nah, apa kata Haji Bakri tentang ini? Ia bilang Mat Toha mau mengembari kesaktian Bahrowi! Bahrowi hanya pandai membunuh Jawawi, murid Haji Morgan, tapi Mat Toha bisa membunuh dengan bertempur secara jujur melawan Haji Morgan. Bukankah hebat Mat Toha itu? Ya, namanyapun sekarang amat cemerlang! Kata Haji Bakri, Mat Toha pernah berkata, paling lambat tiga tahun lagi, kesaktiannya tentu melebihi Bahrowi! Begitu Haji Bakri berbual kemarin".

Patimah mendengarkan dengan sungguh hati. Ya, aku tahu macamnya Haji Bakri," gumamnya. “Lalu, apakah yang harus kukerjakan?”

“Biasa. Ceritakanlah omongan Haji Bakri itu kepada Barohwi. Suruhlah Bahrowi waspada terhadap kemajuan Mat Toha, karena mungkin akan ditohok lawan seiring!"

“Hanya itu saja ?”

“Ya, hanya itu saja. Dengan begitu setidaknya perhatian Bahrowi terhadap lawan lain mungkin lena".

“Yang kau maksud dengan lawan lain ialah engkau? Jadi engkau tetap akan belajar pencak, Din?” tanya Patimah dengan selidik.

“Terpaksa, Mah. Aku sangat malu ditelanjangi di hadapanmu dan disaksikan Burjani. Malu! Sungguh Mah, bukan aku yang memulai permusuhan. Maka doakanlah, dalam waktu tiga tahun paling lama, aku telah jadi jantan dan tidak bisa dipermalukan lagi!"

“Dan engkau akan menantang Bahrowi? Lalu berkelahi mati-matian? Oh, Din, mengapa kita tidak bisa hidup dengan tenang? Aku ingin dunia ini tenang dan damai, sehingga orang bisa mengamalkan karjanya dengan sebaik baiknya!"

“Hah, kudengar suara hatimu masih murni! Segera. lah berbuat, Mah, segeralah beramal seakan-akan engkau akan menutup mata besok pagi! Dan tuntutlah! duniamu, seakan akan engkau akan hidup selama lamanya!" nasihat Jabodin.

Tidak terlalu lama Jabodin menantikan akibat dari anjurannya terhadap Patimah. Pada suatu rore, Saleh datang kerumahnya mengabarkan Haji Bakri dari Kalianak, mati dibunuh Mat Tohal “Kau tahu, Din. Haji Bakri tidak bisa main pencak! Tapi Mat Toha dengan secara licik memancing-mancingaja agar mau bertempur melawannya. Karuan saja dalam dua tiga jurus Haji Bakri jatuh sekarat muntah darah karena pukulan Mat Toha yang hebat itu. Tapi tampaknya Mal Toha begitu benci terhadap orang tua itu sehingga tidak dibiarkan orang mengangkutnya kerumah sakit.. Sebelum ia diangkat ketandu, Mat Toha berteriak dengan nyaring sambil mencurahkan kekuatannya menyepak kepala Haji Bakri yang sedang sekarat. Prek, hancurlah tulang dahi simalang

!"

Jabodin mendengarkan dengan tenang. Bagaimanapun juga biadabnya pembunuhan itu, Jabodin selalu ingat pertarungan Jawawi dengan Bahrowi panas di Eerste Kade. Betapa tidak sebandingnya kekuatan mereka! Sangat tidak adil. Dan ini semua karena perbuatan Haji Bakri juga, yang telah memancing. mancing pertarungan Jawawi dengan Bahrowi!

Jabodin jadi berguru pada Haji Jen. Dengan tekun dan rajin ia datang tiap malam Jumat larut malam kerumah orang tua itu. Burjani selalu menunggunya sampai dia datang. Sebelum belajar pencak, sering kali gadis ayu itu bercakap cakap dengan Jabodin, sehingga menambah erat perkenalan keduanya. Ya, begitu mendalam Jabodin mempelajari ilmu pencak dari Haji Jen, begitu mendalam pula menelusupnya panah asmara dihatinya.

“Din, akan menangkah kiranya engkau melawan Bahrowi?” tanya gadis cucu gurunya.

“Harus kumenangkan. Haji Jen bilang jurus-jurusku yang dasar bisa kukerjakan dengan sempurna sehingga memudahkan tambahan ilmu jurus yang lebih tinggi dan sulit. Kata kakekmu, aku bisa mempergunakan segala senjata dengan gerakan dasarku yang kuat dan teratur itu, bahkan memakai tongkatpun akan berbahaya bagi lawan. Sebenarnya tak usah aku pergi membawa clorit, sebab segala benda bisa kupergunakan jadi senjata. Tapi clorit Bata potih peninggalan Jawawi ini sengaja kubawa kemana aku pergi, untuk menjaga sewaktu-waktu aku kepergok Bahrowi."

Burjani tersenyum. Ia mengerti tugas luhur Jawawi. Hatinya tidak berpantang mutlak dengan permainan pencak, asal dipergunakan untuk membela keadilan dan kebenaran, demi nusa dan bangsa. Lagi pula Burjani sendiri pun amat benci kepada Bahrowi yang berkelaku an kasar. Ancamannya terhadap kakeknya sangat mengecilkan hatinya. Dan perlakuannya terhadapnyapun amat kurangajar. Pernah sekali tidak setahunya Bahrowi merangkulnya dengan gemas. Ia menjerit-jerit memukul-mukul, akhirnya menggigit. Sejak itu amat jijik ia melihat Bahrowi, ingin menyingkirkannya sendiri dari bumi jika ia bisa. Karena itu kehadiran Jabodin yang rajin dan tekun, serta mendapat pujian kakeknya menjadi harapan hatinya pula.

“Kau harus melenjapkan Bahrowi, Din. Dan melapor kepadaku dengan keadaanmu yang sehat walafiat!"! sambut Burjani,

“Aku yakin begitu jadinya!"

“Lalu, setelah kau lenjapkan orang berjiwa setan itu, siapa pula yang hendak kau

tandingi?” tanya Burjani dengan selidik.

“Satu lagi musuhku yang besar. Cukup berbahaya Harus kulawan dengan pencurahan tenaga dan fikiran!" ujar Jabodin dengan bersungguh sungguh. Keningnya yang hitam tebal mengkerut, matanya menjalang tajam.

“Siapa? Berkelahi lagi engkau? Dengan siapa musuh mu yang lebih sakti daripada

Bahrowi?” tanya Burjani dengan cemas.

“Namanya Burjani!” katanya dengan suara besar dan irama perlahan.

“Hah ?!” ujar sicemas hati terkejut Lalu tertawa girang. Oh, akan kau lenjapkan pula aku?” “Tidak! Tapi terang akan kuselesaikan! Sebab dendamku sudah parah!"

“Dendam apa itu, Din?” tanya Barjani dengan kenes.

“Dendam asmara !"

“Nah, jika begitu, engkau harus benar-benar pulang bertempur membawa kemenangan dulu dari Bahrowi, dan datang menghadapi aku dengan jiwa dan raga tidak cacat!" kata gadis ini bercanda. Dibalik kekenesannya terdengar nada penjerahan hatinya!

Tahun bertukar tahun, musim bertukar musim. Kegiatan kaum pergerakan dibidang politik kian nyata. Di Bubutan digemakan sumpah pemuda. Sekalian kegiatan pergerakan dijuruskan kesatu tujuan, gerakan nasional. Satu bangsa, bangsa Indonesia. Satu tanah air, tanah-air Indonesia. Satu bahasa, bahasa Indonesia. Persatuan digalang! Namun dari pihak gopermen tidak kurang-kurangnya aksi perlawanan. Van Greven dengan pembantu-pembantunya tidak mau mengerti adanya kebangkitan bangsa Indonesia. Dia terus melancarkan perongrongan licik terhadap gerakan kebangsaan. Haji Bahrum ditangkap terang-terangan secara kotor waktu sedang mengadakan pidato penerangan di Embong Malang. Tanpa banyak usut terus dibuang ke Boven Digul. Ya, telah beberapa orang pemimpin dari daerah Surabaya saja ditangkap dan dikirim kepembuangan Digul, Banda, Timor, Bangka, tempat yang semakin terkenal untuk menakut-nakuti anak kampung bermain-main.

“Hai, jangan pulang terlalu malam! Ditangkap Belanda engkau nanti, dibuang ke Timor!" Anak2 kecil mungkin takut, tetapi orang yang berjiwa nasional tetap merasa mendapat panggilan Ibu Pertiwi untuk membangkitkan rakyatnya. “Hiduplah bangsaku, hidup. lah negeriku !" rakjac Indonesia mulai menggemakan suara hatinya lewat njanjian . njanjian!

GAMBAR/ILUSTRASI

Begitu timbul tenggelamnya musim, begitu pula silih berganti nama-nama jago pencak, atau jagoan sakti, muncul dipercaturan. Sebentar di Tuwowo terdengar Kasanali merajai daerah timur laut Surabaya, lalu muncul di Kedurus Dulkahar Rajah besi mengalahkan jago pencak pinggiran kota. Begitu seterusnya.

Pada suatu musim, muncullah nama Bandang Wonocolo. Perguruan Wonocolo sebenarnya telah lama berjalan, tetapi nama itu sangat terkenal akhir ini karena adanya gelanggang adu kesaktian diselenggarakan pada waktu tertentu. Digelanggang ini setiap orang sakti boleh masuk mengadu kesaktiannya, sehingga dengan demikian orang bisa melihat siapa-siapa jago pencak pada suatu musim, yakni orang yang menang dalam pertarungan adu sakti di Wonocolo. Gelanggang di Wonocolo itu kian hari kian terkenal, karena pengikutnya kian meluas, merembet sampai daerah Bangil dan Mojokerto. Dan muncullah Bandang Wonocolo, seorang asal Buduran yang telah tiga kali berturut-turut menang dalam gelanggang. Ia bersenjatakan golok besar, Pada musim yang keempat naas baginya. Kabar bahwa di Buduran terdapat gerakan kebangsaan yang melawan gopermen sungguh tidak menguntungkan baginya. Namun ia naik juga kegelanggang Wonocolo dan agaknya akan menjadi pemenang empat musim. Satu demi satu penantangnya ditaklukkan. Ada pula yang sampai pingsan dan luka parah.

Ketika ditanya-tanya tidak ada lagi orang yang naik gelanggang, maka Bandang bersumbar : Inilah Bandang Wonocolo! Siapa yang masih meragukan kesaktiannya silahkan naik !”

Tiba-tiba meloncatlah gcorang pemuda bersenjatakan pedang Ponorogo. Penantang baru inipun agaknya besar mulut : Cobalah tangkis pedangku ini, Bandang. Barangkali ada faedahnya untuk menutup mulut malamanya!"

“Ha, pemuda mana engkau begitu royal dengan ancaman'?" tanya Bandang dengan angkuh.

“Inilah Arek Surabaya sebelah timur! Jangan banyak cakap lagi, ayoh kita mengadu kesaktian sampai napas kita habis!"

Mereka sama sama melakukan penghormatan sebagai layaknya orang hendak bermain pencak. Lalu menyambarlah pedang Ponorogo dengan cepatnya. Penonton pada terkejut melihat serangan awal begitu tiba-tiba tanpa beranjak-anjak dahulu. Jika tidak waspada, tentulah musuhnya mati pada pukulan pertama itu. Tapi Bandang Wonocolo tak kurang tepatnya menghindarkan diri. Melesat kekiri. Pedang Ponorogo mengikuti kearah kiri. Bandang meloncat kebelakang. Diburu ke sana. Sekali ini terpaksa ditangkis dengan goloknya, Trang! la belum sempat membalas menyerang, pedang Ponorogo itu telah membabat tepat kepalanya. Kejam, tak berampun! Terkejut ia, kiranya lawannya begitu trampil dan bersungguh sungguh ingin membunuhnya. Hatinya mulai cemas. Ia belum juga sempat menyerang, sebab mata pedang itu telah menyahut-nyahut didepan hidungnya Bandang Wonocolo yang telah empat musim merajai gelanggang, saat itu tak berdaya oleh serangan pemuda yang gigih. Pemuda bersendjata pedang Ponorogo itu tidak banyak meloncat. loncat, sehingga meskipun telah membuat Bandang Wonocolo penasaran dan berkeringat kehabisan akal, ia tidak tampak napasnya berangsur-angsur. Bandang meloncat kedepan ujung pedang lawan bermain didepan hidungnya. Meloncat kesamping, mata pedarg lawan gencar menyerang kupingnya. Sungguh hebat gerakan tangan pemegang pedang itu, sehingga sejak awalnya Bandang tidak sempat sama sekali mengadakan pembalasan menyerang. Tampak sekali pertandingan ini berat sepihak. Pemuda itu jauh lebih pintar dari rata-rata jagoan gelanggang pertarungan Wonocolo! Dan meskipun nyata ia menguasai jalannya pertandingan, namun sikapnya sangat bengis dan gerakan pedangnya yang lincah itu mengancam maut lawan. Tak berampun! Sungguh Bandang Wonocolo amat malang. Agaknya kekalaharnya ini harus dialami begitu singkat, atau ditebus dengan kematiannya! Karena benar ia tak berdaya menghadapi pemuda dari Surabaya timur itu, maka ia pun berisyarat takluk. Isjarat pertama agaknya tidak tampak oleh pemuda itu. Maka Bandang mengisjaratkan lagi ketaklukannya. Namun pada saat itu benar, dengan bengis pemuda berpedang Ponorogo itu menyabetkan pedangrja kearah pangkal leher Bandang, dan dengan teriakan ngeri, beraama pula jerit para penonton, terkulailah kepala Bandang. Darah mencurat keluar dari lehernya. Jatuh digelanggang tak bernyawa lagi! Teriak menggugat terdengar dari para penonton. Memang bukan sekali itu saja dalam gelanggang Wonocolo orang bertarung sehingga mati. Tetapi kali ini nyata benar kekuatan yang tidak sebanding, sedang nafsu membunuh terang sekali dari pihak pemuda ini! Orang semua melihat betapa Bandang Wonocolo berusaha mengacungkan tangan tanda takluk, tapi agaknya pemuda itu tidak mau tahu. Pemuda yang haus darah! Meskipun menang, tidak dipuji orang! Tapi agaknya memang perasaannya mendapat gugatan begitu hebat dari penonton, ia masih juga bertepuk dada : “Ayoh, siapa berani bertempur melawan pemuda dari Kali warong?! Lihat, orang yang disebut sebut paling sakti dalam tiga musim, telah kuhabiskan nyawanya dalam dalam tempo singkat. Ya, ia harus mengalami kematian, sebab ia orang pergerakan yang melawan pemerintah! Hah, tapi itu bukan urusan kalian. Yang perlu janganlah bimbang-bimbang, jika kurang puas dengan unjuk kesaktianku ini, segeralah naik gelanggang! Jangan cuma pandai gugat- gugat seperti anak ayam ditinggalkan induknya !"

“Leh, aku harus maju! Pemuda ini sudah terlalu tekeburnya! Terlalu sombong! Aku harus memberikan pelajaran dimuka umum!” ujar Jabodin kepada Saleh. Memang tiapkali ada pertandingan adu kesaktian di Wonocolo ini, Jabodin dan Saleh tentu melihat. Sebenarnya bukan orang orang semacam dua sahabat itu saja menonton gelanggang Wonocolo, tetapi banyak pula orang-orang sakti lainnya hadir disana. Tetapi mereka itu sungkan ikut masuk gelanggang, sehingga orang orang macam Bandang dibiarkan mendapatkan kemenangan.

Saleh memegangi lengan Jabodin: “Gelanggang ini bukan tempat orang semacam kau, Din".

“Ah, percuma saja aku belajar pencak jika membiarkan kekejaman dan ketidak adilan berlangsung dimuka hidungku! Ini tadi bukanlah adu kesaktian, tetapi pembunuhan yang direncanakan!" ujar Jabodin dengan tegas.

“Lalu, akan kau apakan pemuda itu?"

“Kita beri ajaran semestinya, bahwa di dunia ini tidak pantas orang seperti dia itu bertepuk dada karena kelalimannya!"

Saleh terdiam. Ia tahu jiwa temannya. Tapi sekali ini ia tidak memperkenankan Jabodin gegabah bertindak demi keadilan.

“Bagaimana Leh? Agaknya tak ada orang yang berani menegakkan keadilan lagi, meskipun menilik teriak orang menggugat telah tercerminkan betapa jiwa peronton. Merekapun benci dan tak sanggup menonton kebiadaban beraksi didepan matanya. Aku maju sekarang, ya? Jika terlambat, dia akan turun dari gelanggang dengan kebesarannya!"

Saleh menarik tapas panjang, ujarnya dengan suara berat: “Baginya tidak ada urusan polisi melakukan pembunuhan demikian! tahukah kau, Din, siapa orang itu ?"

Tentu! Dia itulah seorang jahanam, setan yang bertubuh manusia! Ia harus dilenjapkan dari bumi naungan Tuhan, agar tidak mengacaukan masyarakat dan tidak lagi melakukan perbuatan maksiat!" kata Jabodin dengan suara antap dan semangat menyala-nyala.

“Ya, Din Memang begitu. Tapi ia membawa surat Gopermen yang ampuh yang tak terlawan!"

“Oh, siapakah dia Leh? Cepat ceritakan!"

“Dialah pembunuh Haji Bakri! Dialah lawan guru kita kira dua tahun yang lalu. Namanya Mat Toha...!

Belum lagi selesai bicara Saleh, Jabodin telah melerat maju kegelanggang. Saleh terkejut. Ia mengerti Jabodin meneruskan belajar pencak pada Haji Jen, tetapi selama dua tahun bergaul ini ia jarang sekali mendengar tentang pelajaran' pencak atau tentang diri Jabodin sehingga Saleh mengira Jabodin tidak lagi tertarik, tidak begitu bernafsu lagi tentang ilmu pencak. Itulah sebabnya ia mencegah Jabodin untuk maju kegelanggang melawan Mat Toha. Dibanding dengan ilmu pencak yang telah dipelajari di Bata potih, pada umumnya jago pencak yang turun kegelanggang Wonocolo masih terlalu rendah tingkatnya. Karena itu gelanggang Wonocolo bukan tempat pameran kesaktian bagi dirinya dan Jabodin. Tetapi melawan Mat Toha, ia sendiri pernah menyaksikan waktu bertempur melawan gurunya. Saleh giris juga. Baik dirinya maupun temannya jika mungkin dicegahnya dan dihindarkan berhadapan dengan orang sakti culas seperti Mat Toha! Tapi sekarang dilihatnya gerakan Jabodin yang gesit naik kegelanggang! Terkejut ia bukan main. Sayang jika Jabodin kena cedera karena persoalan yang sepele, soal tak bisa menahan diri melihat kelaliman. Tapi gerakan Jabodin kiranya mengalami kemajuan luar biasa. Maka ia hanya berharap-harap cemas sambil berdoa semoga temannya selamat, sjukur mendapat kemenangan Jika sampai cedera atau lebih tewas dalam gelang. gang ini, maka urusannya menjadi berabe. Tak ada urusan apa-apa kematian yang terjadi di gelanggang Wonocolo, sebab jago yang maju adalah tanggung jawabnya sendiri!

“Hai, tunggu dulu, jangan tergesa-gesa turun gelanggang dengan besar kepalal" seru Jabodin ketika naik gelanggang

Penonton yang semula mengira pergulatan telah selesai, selesai dengan pemenang yang mengecewakan, kembali tertarik perhatiannya kegelanggang.

Pembunuh Bandang yang lena menengok kearah pemuda berpakaian hitam cara Madura. Ia tidak tahu bagaimana penantangnya meloncat kegelanggang sebab tatkala itu ia sedang tunduk hendak turun. Melihat tampang baru ini matanya menjadi berseri- seri lagi, nafsu kegemarannya menyiksa orang kentara pada tertawanya. Mulutnya lebar, giginya besar! “Ha? Siapa pula yang bertindak bodoh hendak melawanku ini? Ha, ha, ha, bayunya hitam, mukanya pucat! Heh, apa yang kau andalkan naik gelanggang sini? Kau sudah lihat aku adu kesaktian sama Bandang Wonocolo tadi? Sudah kau lihat dengan matamu yang besar itu? Dan masih saja kau berani naik kegelanggang? Apa yang kau andalkan, heh ?!"

“Tidak begitu berarti, cuma kembang turi inilah senjataku. Sudahkah kau pernah melawan orang yang bersenjatakan semacam ini?" ujar Jabodin dengan mengeluarkan clorit Bata potihnya. Awas, kadang khasiatnya luar biasa hebatnya, asal yang menggunakan betul!" 

Melihat clorit itu, tak tertahan pembunuh Bandang tertawa terpingkal pingkal. Hoa. haha! Ha, ha, ha! Kembang turi? Clorit macam itu kau andalkan? Ha, ha, ha! Tahu kau, siapa aku? Ini, kenali benar-benar, belalakkan matamu yang besar itu sampai sobek, inilah yang disebul Mat Toha dari Kaliwaron! Tentang clorit kembang turi itu, Ich, akulah yang telah bertarung dan membunuh guru ahli seajata clorit dari Bata potih. Haji Morgan, dus tahun yang lalu! Ini orangnya, kau tahu? Kau anak ke marin sore mau mengandalkan kepintaranmu main clori sama Mat Toha, huh, pikir dulu sekali lagil Pikir dulu sebelum kau melangkahkan kakimu kegelanggang ini!.”

Mendengar sesumbar Mat Toha ini, terdengar teriak, heran dari para penonton. Bahkan ada yang berseru kol pada Jabodin agar turun dan mengurungkan pertarungan itu. Sia- sia orang melawan jagoan yang terkenal sakti itu! Tapi Jabodin tidak mau tahu, sebutnya: “Jangan berlagak dan membuat penonton berhati waswas! Ayoh! peganglah pedangmu erat-erat supaya senjataku ini tidak mencercah ususmu!"

Mat Toha naik darah. Cepat ia menyambarkan pedangnya kearah Jabodin. Tidak terlalu cepat seperti waktu menyerang Bandang tadi. Ha, ha, ha, kepadamu masih kuberi kesempatan bertakluk, Kembang turi. Lain terhadap Bandang! Ya, jangan salahkan aku karena membunuh Bandang, sebab ia orang Buduran cecunguk dari Buduran harus lenyap kata Van Greven! Kau masih kuberi ampun Kembangturi!"

“Apa bicaramu, silahkan! Tapi bagiku sama saja. Engkau berani membunuh, engkau harus berani dibunuh!" ujar Jabodin dengan gayanya yang cekatan mengelakkan serangan pertama. Lalu meloncat dan sebelum pedang Ponorogo memburunya, cloritnya telah langsung menuju leher Mat Toha. Mat Toha terkejut.

Permainannya seperti yang dilakukan terhadap Bandang, yakni menyerang secara gencar tanpa memberikan kesempatan lawan membalas, telah digagalkan pada awal pertarungan. Ia terpaksa menjatuhkan diri, sebab begitu tinggi dan sigap musuhnya meloncat. Dengan cekatan ia bangkit dan memutar pedangnya menyerbu lawan, suatu serangan yang cukup berbahaya. Tapi Jabodin tidak gentar. Ditunggu datangnya lawan dengan sikap kuda-kuda. Matanya kencang, napasnya tenang. Mat Toha senang lawannya menunggu datangnya serangan, sebab ia bisa mengatur serangan dengan jitu dan seringkali berhasil. Tapi sekali ini tak diduganya, lawannya yang tenang bisa bergerak begitu gesit. Begitu ia menyerang dengan pedang diputar, dikirakan berantakan. lah pertahanan lawan! Tidak! Tiba-tiba lawan yang tenang menanti datangnya serangan itu melesat, dan kaki Mat Toha terjegal. Imbangan badannya gojah dan ia jatuh tersungkur! Terdengar suara tepuk tangan serta sorak riuh rendah dari penonton. Mat Toha yang telah terkenal sakti dan ditakuti orang, jatuh tersungkur digelanggang pencak Wonoco'o! Sungguh memalukan! Wonocolo tempat pengadu ketangkasan bagi jago yang tidak begitu tinggi kesaktiannya, tapi Mat Toha bisa jatuh tersungkur! Dengan hati berang ia bangkit, sekarang keredaan hatinya tak dapat ditahan lagi. Dengan sengit ia membabatkan pedangnya kekiri, terus dibelokkan keatas, tiba' kembali kekanan dan kebawah. Serangan yang luar biasa cepatnya dan luar biasa ampuhnya. Tapi Jabodin bisa menerobos jaringan serangan orang ngamuk ini, dan menyinggungkan ujung cloritnya pada pergelangan tangan kanan lawan. Urat nadi tercabik dan berdarah.

“Kurangajar!" seru Mat Toha. Jika tadi ia bisa dengan tenang melancarkan serangan terhadap Bandang Wonocolo, sekarang kian goyah keyakinannya. Ia sudah luka pada urat nadinya, jalan darah yang terpenting. Tak terkira lawannya begitu pandai mendatangkan kelemahannya. Ia harus segera menyelesaikan pertarungan ini, sebab dengan darah jang terus mengalir dari nadinya akan habislah kekuatannya la tidak bisa lagi bertarung dengan jangka lama, Maka diserangnya lagi orang Madura itu dengan ke pandaian memutar pedang yang lebih hebat. Jaboditn masih saja tenang. Ia tidak mendahului menyeranga Sikapnya selalu menunggu serangan, tetapi jika bahaya sudah dekat, tiba-tiba ia melancarkan tangkisan atau menghindar dengan menyertakan serangan balasan. Dengan gerakan begini ia lebih berhasil. Sebab waktu menyerang, lawan tidak memperhitungkan pertahanannya. Mat Toba kian marah. Serangannya kian diperhebat. la meloncat kekiri, kekanan, menjejak lantai hanji jika perlu saja, tubuhnya berkelebat dengan cepat pedangnya berkilat bagaikan pantulan sinar matahari pada air kocak, sehingga seluruh gerakannya hampir tak dapat diikuti oleh pandangan mata. Mat Toha memang tinggi ilmu pencaknya. Ia dulu belajar pada seorang guru pencak di Tanggulangin, yang terkenal dengan Warok Tanggulangin, tetapi gerakan selanjutnya dimatargkan oleh ketekunan dirinya sendiri jadinya ternyata lebih unggul dari gurunya. Melihat gerakan yang begitu gesit terbang melayang-layang diatas gelanggang, orang menjadi takjub dan kuatir. Takjub akan kecepatan gerakan orang ini, dan kuatir jika timbul lagi korban yang tidak semestinya. Namun orangpun takjub melihat gerakan gerakan Jabodin yang tenang, dan bergerak jika perlu benar. Maka terjadilah pertarungan yang tidak serasi, yang satu bergerak bagaikan raksasa galak, yang lain tenang sebagai satria. Dari luka di urat nadi yang pertama, kemudian disusul pula dengan sabikan clorit pada dadanya. Lalu, ketika serangan Mat Toha mengancam kebawah, punggungnya dicoret dua kali oleh kembang turi baja milik Jabodin. Tapi orang tidak segera mengetahui. Gerakan Mat Toha tetap cepat dan menakjubkan. Pada umumnya ia terkena luka karena gerakan gesitnya juga. Besar kecilnya lukapun tergantung kekuatan bergeraknya. Sedangkan begitu jauh, Jabodin tidak meneteskan darah sedikitpun Pakaiannya tetap rajin. Gerak geriknya tetap bersih dan tabah. Pertahanannya tetap tenang dan berhasil.

Pertarungan tidak bisa segera diselesaikan oleh Mat Toha. Sebab tiap kali ia menyerang dengan sengit, tiba-tiba mencuat mata clorit yang kukuh disela-sela gerakannya. Runcing, tajam dan kukuh! Berbahaya bagi serangannya. Dan berkali kali sudah ia terpaksa membentur benda runcing ini sehingga dagingnya koyak, koyak. Sebegitu banyak ia mengadakan serangan sengit dan bertubi tubi, belum juga berhasil membabat leher musuhnya. Sedang urat nadi ditangan kanannya tidak berhenti meneteskan darah. Sekarang bahkan pada bagian bagian tubuh lainnya tercoret atau tercabik serta mengucurkan darah pula. Terlalu banyak darah keluar, badan rasa nya kian dingin, kian lemah. Tapi ia harus tetap bertempur, karena lawannya belum takluk. Ia membutuhkan kekuatan khusus. Tidak mungkin bertahan lama, Kekuatannya semangkin susut juga. Tambah lemah, tambah lemah. Ia tidak jatuh karena luka yang ditimbulkan serangan lawan, melainkan karena perbuatannya sendiri. Hati masih berniat melawan, kemauan masih teguh dan sengit, tapi kekuatan badannya kian lembek, Akhiri ja gerakannya menjadi lambat. Tambah lambat tambah lambat, lalu tidak bergerak lagi. Setelah berhenti bergerak, orang baru melihat bahwa Mat Toba luka parah. Sekujur tubuhnya teriris-iris oleh benda runcing dan tajam. Merah dengan keringat darah. Mulanya ia masih bisa lari mengitari Jabodin dengan pedang diacung acungkan, lalu hanya mampu berjalan, akhirnya berdiri tegak dihadapan Jabodin. Itupun tidak tahan lama. Tangan yang memegang pedang jatuh terkulai, Mat Toha sendiri lalu berlutut, dan paling akhir terjungkal. Napasnya yang terakhir bisa disaksikan oleh orang banyak, dan menyebabkan tubuh hancur kemerah-merahan itu terguling dan berhenti bergerak lagi. Hanya darahnya juga yang masih menetes membasahi lantai gelanggang.

Jabodin telah lama menyarungkan cloritnya. Ia menghadapi tubuh berlari-lari itu dengan pandangan matanya saja. Sampai Mat Toba terguling tak bernyawa, Jabodin berdiri tegak dan tenang. Kemenangannya tidak dirayakan oleh tepuk tangan dan puji-pujian, karena orang takjub dan ngeri melihat kematian Mat Toha yang perlahan-lahan. Kemudian hari orang berkata, betapa tamaknya jagoan Mat Toha, tamak dan haus darah. Tubuhnya sudah tidak bisa dikerjakan lagi, namun kemauannya membunuh masih kuat! “Saudara'! Lihat kematian seorang laknat! Ia mati bukan karena perbuatanku, tapi karena nafsunya yang jahanam juga!" ujar Jabodin. Tegas dan tenang. .. Ceritakanlah penderitaan dan penyiksaan diri yang tidak semena ini kepada anak cucumu, bahwa beginilah akhir orang yang nafsunya membunuh sesamanya menyala-nyala didadanya! Apa yang saudara saksikan disini, adalah kebenaran semata-mata, bahwa nafsu setan akan mati karena nafsunya pula! Aku tahu, masih ada lagi orang yang tidak percaya dengan kebenaran ini. Mesih ada lagi orang yang mendewakan kepandaiannya pencak, mendewakan kesaktiannya untuk menghancurkan lawannya dan mengumbar hawa nafsunya. Masih ada. Banyak. Satu diantaranya tetangga orang ini! Pemuda Kaliwaron, Bahrowi namanya! Bahrowi! Adakah dia disini? Dia juga seorang laknat yang harus kita hancurkan. Sebagai manusia yang biadab, kita harus memberantas perbuatan perbuatan maksiat seperti yang dilakukan orang-orang seperti Mat Toha dan Bahrowi! Demi kebajikan! Maka jika sekiranya sekarang ini Bahrowi hadir disini, biarlah dia naik kegelanggang untuk menebus jiwanya bertanding melawan Jabodin! Mana orang. nya? Bahrowi! Keluarlah engkau dari sembunyian! Majulah kemari! Ini Jabodin, Jabodin orang Sampang ingin membalas dendam kawan sekampung! Bahrowi! Keluar! Ayoh, mana orangnya! Ini dada Jabodin, pemegang clorit Bata potih!"

Bicara Jabodin dimulai dengan suasana tenang. Orang masih tercengkam oleh kematian Mat Toha yang menghibakan hati. Dan bicara Jabodin sabar dan bijaksana. Tapi kemudian orang menjadi resah, bahkan kecut hatinya karena sikap Jabodin yang pongah, Nama Bahrowi, yang terlalu sukar diucapkan oleh Jabodin, telah terkenal. Ja bahkan terkenal sekali! Nama angker yang tidak sembarang orang berani mengucapkan. Bahrowi terkenal sakti dan kuasa, kejam tak berperikemanusiaan! Siapa yang menyebut namanya, baik secara sembarangan apa lagi menghina, akan menanggung akibat buruknya! Nyawa orang bagi Bahrowi sama dengan nyawa ayam, Dibunuh, disembelih, tak ada hitungannya baik secara hukum manusia maupun akhirat! Tapi sekarang ini, disaksikan oleh banyak orang, ditempat gelanggang pencak yang tidak berarti, Jabodin berani menyebut. nyebut dan menantangnya sekali! Sungguh luar biasa! Orang jadi resah dan gelisah! Ada yang segera meninggalkan tempat itu karena takut menanggung akibatnya!

Tantangan Jabodin tidak terjawab. Hanya gumam keresahan hati penonton juga yang terdengar.

“Ah, sayang ia tidak ada disini! Atau mungkin ada tetapi tidak berani, sebab lawannya Jabodin, pemegang clorit Batapotih!" kata Jabodin dengan mengejek, menjakitkan hati benar.

Setelah ditunggunya beberapa saat tidak ada jawaban, maka Jabodin turun dari gelanggang. Beberapa orang menjongsongnya dengan kekaguman. Saleh menangkap lengan Jabodin, wajahnya masih tampak waswas. “Sungguh diluar dugaanku, kau bisa bertarung begitu tenang. Dan salahlah perbuatanmu menantang Bahrowi ditempat terbuka begini! Dengan ke matian Mat Toha ini saja namamu telah menanjak dan dicap merah oleh Van Greven. Musuh berbahaya!

Lagi-lagi kau menantang Bahrowi! Ya, jika dia secara jujur berhadapan denganmu, jika merundukmu, bagaimana? Oh, Din, awaslah. Sekarang Bahrowi tentu mencurahkan perhatiannya untuk memburumu!” kata Saleh. Jabodin hanya mengernjitkan kening, menanggapi peringatan sahabatnya. Ia tersenyum ketika bilang: “Jangankan dirunduk dari belakang aku sedang berjalan, meskipun sedang tidur lelap aku tidak takut melawan Bahrowi, Leh. Terlanjur dendam!”

Saleh tercengang. Ia ingat cerita Cak Tojib ketika bersama-sama Jalodin merunduk Haji Jen sedang tidur, tapi tak berhasil membunuhnya. Apakah sekiranya sudah demikian saktinya Jabodin sekarang sehingga tidak takut dirunduk sedang tidur nyenyak?

Kabar kematian Mat Toha yang sengsara sungguh menggemparkan dunia pencak. Nama jago baru muncul, Jabodin alias Kembangturi! Jago yang sebelumnya sama sekali tak terdaftar sebagai orang sakti. Segera setelah kabar ini sampai pada Patimah, iapun gugup pergi kerumah Jabodin. Karena hari telah malam, maka ia mencari kawan. Seorang tamu kakaknya yang sedang omong' diruang depan diajaknya.

“Mau kemana kau, Mah?” tanya kakaknya. “Antarkan kak, mau kerumah Jabodin," ujarnya.

Diabodin? Orang yang dikabarkan menggemparkan gelanggang pencak Wonocolo?” tanya teman kakaknya.

“Ya. Kenalkah engkau dengan dia, To?” tanya Patimah.

“Belum. Tapi tentu menyeramkan rupanya!"

“Ah, tidak. Ayo ikut aku sebentar, nanti kukenalkan!" ajak Patimah. Ia telah merasa kakaknya enggan mengantarkan.

“Baik. Boleh, Ya, Mah?” tanya teman itu kepada kakak Patimah

“Silahkan, jika mau. Aku tak berkeberatan sama sekali. Kaupun sudah sekolah tinggi, sudah di GH (Genrezekundige Hogereschool Fakultas Kedokteran), Pentu tahu menjaga adikku, Yanto. Jabodin tidak seram seperti dikabarkan orang, tetapi jika ada hal-hal yang kurang baik tolong dibetulkan!” kata kakak Patimah

Mereka naik dokar mencari Jabodin. Lama juga berdokar baru tercapai. Selama diatas kendaraan, untuk menghilangkan risau hatinya, Patimah bertanya-tanya tentang diri Suyanto, pengantarnya. Mereka tidak berbicara bahasa Jawa atau Madura, tetapi mengguna. han bahasa Indonesia atau Belanda. Terdapat persesuaian pendapat tentang penggunaan bahasa Indonesia, maka sambil memraktekkan bahasa yang belum tersebar luas itu, mereka membicarakan juga tentang kehidupan sosial dan perjuangan pergerakan bangsa Indonesia.

Patimah masuk rumah Jabodin dengan perasaan terbakar. Jabodin tahu sudah maksud kedatangan Patimah, maka menyambutnya dengan hati sabar dan dingin. Dibiarkannya Patimah marah, seolah olah Jabodin adalah adiknya yang masih ingusan.

“Ha, sekarang kau bangga dengan namamu yang menjulang tinggi sebagai pendekar, ya?! Hah, pantas! Tapi awas, jiwamu selalu terancam! Kudengar kau menantang Bahrowi pula! Lalu apa keuntunganmu setelah bertarung begitu? Apa, coba sebut?!” Patimah bicara lantang dalam bahasa Madura, yang tidak diketahui oleh Sajanto sama sekali artinya. Mahasiswa ini hanya melihat ketrampilan bicara Patimah.

“Mah. Jika Bahrowi sudah kulunasi jiwanya, hatiku jadi tenang. Dunia tentulah damai, duniaku setidaknya. Dan aku mulai hidup tenteram dan damai, seperti yang kau idamkan bukan? Kau inginkan dunia tenteram dan damai sehingga kita bisa tenang mengamalkan karya kita pada masyarakat! Nah, akupun bertujuan begitu. Bekerja, kawin, beranak dan berlamal. Perbedaan pendapat kita hanyalah bahwa kau hendak menciptakan ketenangan hidup dengan membiarkan kejahilan dan kelaliman berkembang disamping ketenteraman dan kedamaian, sedangkan aku harus memberantasnya lebih dulu baru katemuilah ketenteraman yang sebenarnya."

“Heh, ya kalau engkau menang. Jika kalah dan kau luka atau tewas, apa dayamu?”

“Aku yakin, keadilan dan kebenaran adalah yang terakhir mencapai kemenangan. Jika tidak aku, tentu ada lagi orang yang berusaha menegakkan kebenaran pada masa kacau begini! Tapi engkaupun tak perlu risau memikirkan daku. Menang atau kalahku melawan Bahrowi tidak akan menguntungkan atau merugikan dirimu secara langsung!" kata Jabodin dengan sabar dan tegas.

Patimah merasa betapa tajamnya maksud yang dikandung dalam kalimat Jabodin yang terakhir. Hatinya nelonjak, jantungnya berdengup cepat. Tak tertahan isak tangisnya. Ia memandang Jabodin dengan saju, airmata membasahi pelupuknya. “Din. Kau tolakkah cinta kasihku selama ini? Oh, jangan dijawab, kau sudah mengisyaratkan pada perkataanmu tadi! Ah, belum berhasil kiranya daya upayaku mengembalikan kepercayaanmu kepadaku, karena dosaku dulu itu! Sungguh terkutuk bepergianku ke Sampang dulu itu! Tapi karena itu pula aku berjumpa dengan engkau, dengan laki laki pujaan dan kebenaran! Tanpa engkau, sebenarnya hatiku kosong dan hidup ini hambar rasanya! Tanpa engkau, aku buta kebenaran! Oh, Din, agaknya !”

“Mah! Betulkan pikiranmu! Kau bilang aku memberi isi hidupmu. Hidup yang berisi tidak dipenuhi oleh belaian kasih sayang saja, itu racun namanya. Jadi pertemuanmu denganku hanyalah memberi keracunan saja! Benarkan pikiranmu! Isilah hidupmu dengan perjuangan pergerakan bangsa! Atau Ketuhanan! Lama tak kudengar engkau menyebut Tuhan! Teruskan amalmu kepada masyarakat. Tidak akan sia-sia. Mendapatkan aku bukanlah hasil utama dalam perbuatan amalmu selama ini, bukan? Keliru kalau begitu tujuanmu berbuat amal!" kata Jabodin. Ia duduk didekat Patimah. Diremas remasnya tangan gadis itu untuk memberikan kekuatan dan keyakinan baru.

Setelah berpanjang-panjang Jabodin melipur hati Patimah, kembalilah semangat hidup gadis itu. Meskipun dengan mata merah dan suara lemah, Patimah berusaha tersenyum juga. Din. Ada kabar baik bagimu. Van Greven dipindahkan ke Batavia. Politiknya tidak disukai oleh pemerintahnya. Mudah-mudahan dengan ini, jiwa semangat lawanmupun luntur. Tanpa surat perintah Van Greven kukira mati kutulah daya perjuangan cecunguk-cecunguknya, terhitung Bahrowi!"

Jabodin menyambutnya dengan tersenyum terang. “Mah. Ada kabar buruk bagimu. Bulan Dulhijah depan ini, tepatnya tanggal 9, aku melangsungkan per kawinanku. Dengan Burjani!”

“Hah?! Mengapa kau sebutkan kabar buruk?! Oh, aku merasa berbahagia! Sungguh, Din! Sungguh ...." Ia berkata berbahagia tetapi menangis tersedu-sedu didada Jabodin. Hatinya hancur luluh seketika. Seben. tar cuma. Kemudian kembali lagi menguasai dirinja, karena lipuran Jabodin juga. “Tulislah undangan yang terang, Din. Aku akan ikut mengantarkan pengantinmu sampai di Sampang!" ujar Patimah selanjutnya. Lalu ia bermohon diri. Hatinya hancur, tetapi keping kekuatan baru telah disusun dari reruntuhan yang lama.  “Dik, aku tak mengerti bahasa Madura. Tapi sungguh suatu drama yang bagus telah bermain dihadapanku. Apakah persoalan sesungguhnya?” tanya Suyanto yang mengantar pulang Patimah.

Patimah menarik napas panjang. Lampu-lampu gas penerangan jalan menerangi juga wajah gadis Madura ini remang. Terbayang wajahnya yang cakap, molek dan angkuh. Meskipun isi kalbu sudah remuk namun ia masih duduk tegak dan kukuh. Ia tersenyum kepada teman pengawalnya. “Maafkanlah aku, mas. Tak kuingat ada laki lain selain Jabodin.

“Kau jatuh hati kepadanya, Mah?”

Fatimah mengangguk, segera disusul menggeleng : Sekarang tidak lagi. Ia telah menjadi milik orang lain."

Kasihan."

“Hm?"

“Aku katakan kasihan". Wajah begini manis masih ditolaknya juga. Betapakah cantiknya tunangan Jabodin?” bisik Suyanto. Berbisik tapi diarah cukup terdengar ditelinga gadis itu.

“Engkau merayuku, mas? Akupun membiarkan. !"

Suyanto memegang tangan Patimah. Betapa pun banyaknya lampu penerangan kota Surabaya, bisa jega Suyanto menggenggam tangan Patimah tanpa diketahui orang lain. “Patimah, adikku. Kerajinanku datang ke rumahmu, bukanlah karena kakakmu. Tetapi karena engkau juga. Tapi baru sekarang kita bisa berduaan. Aku telah memasang jaringku sejak awal perkenalan kita "

Patimah mengangguk angguk. “Baik, baik, mas Suyanto. Tapi pergaulan kita nanti terutama harus berdasarkan bekerja membangkitkan rasa kebangsaan, bahwa kita bangsa Indonesia. Sesuai dengan pembicaraan kita waktu berangkat kerumah Jabodin tadi.”

Perjalanan dari rumah Jabodin kerumah Patimah tidak memakan waktu lebih dari seperempat jam. Dan selama itu pembicaraan perjodohan dapat diputuskan Ketika turun dari dokar, kedua muda-mudi itu berbimbingan tangan, yang satu memiliki hati yang lain.

Perkawinan Jabodin dan Burjani dilangsungkan di Pandegiling dengan diam. Keluarga Haji Jen masil gelisah dengan tindakan Jabodin yang lampau, yaitu menantang Bahrowi. Maka dari itu perajaan yang se sungguhpja akan diramaikan dirumah Jabodin, di Sam pang. Mereka telah merancangkan naik perahu layar pada hari Rabu. Patimah bekerja membantu berlangsungnya perkawinan dengan segenap tenaganya. Ia usul agar diperkenankan duduk seperabu dengan pengantin selagi menjeberangi selat Madura. Usul itu diterima mengingat jasa Patimah dalam penjelenggaraan berlangsungnya perkawinan. Perahu pengantin disiapkan tersendiri, sehingga hanya dapat diisi oleh empat penumpang dan seorang juru layar. Maka yang menumpang disitu kecuali kedua mempelai, juga Patimah dan ibu Burjani.

Sudah siap sekaliannya?" tanya Patimah memberi aba-aba. Gadis ini sikapnya sungguh periang dan berani. Banyak orang tua mencacad, tetapi Suyanto, calon suaminya, selalu tersenyum senyum memujinya. Semua perahu sudah siap. Beberapa perahu sewaa telah mulai melalui muara Kali Mas, Kedua pengantin sudah duduk bersanding, ibu Burjanipun telah masuk. Tinggal Patimah.

Sebentar, Mah." ujar pengantin laki-laki, ketika sekaliannya telah siap berlayar. “Tolong, pergilah kekedai diselatan itu Ambillah barang titipanku disitu. Mereka sudah tahu."

Patimah terkejut, matanya terbeliak memandang Jabodin. “Din!" serunya dengan mulut ternganga. Ia ingat peristiwa Jawawi dahulu!

Tapi Jabudin tersenyum, menyawab dengan mengangguk: “Ya, Mah. Mereka akan memberikan benda titipanku, mintalah saja!"

“Tapi kau sedang menjadi raja sehari, Din!" bantah Patimah. Tidak baik membawa barang maksiat itu!"

“Kita tidak boleh lena, Mah. Lagi pula Jawawi rasanya ikut naik perahu ini jika benda itu ada disini. Lekas Mah, ambilkan!"

“Begitu setiamu kepada Jawawi, Din? Ah," uja Patimah. Sambil menggelengkan kepalanya ia mening galkan perahu, dan berjalan kenclatan. Sebentar ke mudian ia kembali membawa barang yang dikerudung dengan kain merah.

Hai, disuruh apa engkau oleh pengantin laki-laki?" tegur tunangannya dengan bahasa Belanda. Di Jawa Tengah hanya dalanglah yang biasa bepergian membawa anak wayang dikerudungi begitu, Tokoh apakah wajang yang kau bawa itu, dinda ?"

“His, bukan wajang kulit! Ini pusaka Batapotih!" jawab Patimah dengan muka masam. Diberikannya pusaka Batapotih itu kepada pengantin laki', dan Pati mahpun masuk keperahu.

“Mas!" kata Burjani memegang tangan Jabodin, Hatinya pun cemas melihat clorit yang diberikan Patimah.

Ya, Ni. Clorit Batapotih. Lihatlah gambar tiga bata yang bertumpuk ini. Kita harus tetap waspada, bukan Ni?" kata Jabodin dengan antap.

Burjani memeramkan mata. Menenangkan diri. Dan tersenyum. “Allah berserta pelayaran kita man!"

“Ayoh, berangkat!" seru Patimah memberi aba.

Perahu pengantin beranjak dari tepian, didorong beramai-ramai. Meluncur dimuara Kali Mas. Juru mudi mengembangkan layar. Angin belum lagi pasang. Baru nanti pada laut terbuka angin bertiup mengembus layar. Namun juru mudi telah mengikatkan tali-tema linya sehingga layar terpasang lebar.

Pada waktu perahu pengatin menca pai laut, tiba? dari ujung pelabuhan Surabaya, berkelebatlah bayangan seorang berbaju hitam, meloncat dari perahu keperahu yang sedang bergerak dimuara Kali Mas, menuju pe rahu Jabodin.

“Hai, Mah! Aku dengar Haji Jen menjodohkan cucunya! Mana pengantinnja? Mana Burjani? Mana pula Jabodin ? Din! Aku datang Din, datang mencabut nyawamu! Sayang kau nikmati malam pengantinmu hanya semalam, lalu kau bawa keneraka, ha, ha, ha! Din, Bodin! Bodin oreng Sampang be'en, ya! Ha, ha, ha!” terdengar suara lantang diantara debur ombak memukul pantai. Suara orang yang meloncat. loncat dari perahu keperahu !

“Din! Ni! Oh, Bahrowi datang, Din!" seru Patimah gugup.

Layar telah terpasang, angin mulai menghembus. Lajulah perahu pengantin menuju laut. Orang-orang yang melihat bayangan berkelebat pada menjerit. Perempuan menjerit lebih panjang. Tapi Bahrowi bergerak amat cepatnya, sehingga tak seorangpun bisa menghalangi. Dan siapa pula berani menghalangi tindak orang sakti itu? Meloncat yang terakhir sampailah diperahu pengantin. Disepaknya juru mudi yang memegang kemudi diburitan, mencelat masuk laut. Jeritannya mengerikan. Maka berdirilah Bahrowi ditempat juru mudi.

Ha, ha, ha, ha! Pengantin baru! Bodin, kau yang menantang aku digelanggang Wonocolo, ya?! Heh, kiranya kau. kau juga orangnya! Bodin Din! Betul' sudah belajar pencak kau, Din? Tapi macammu bercumbuan dengan perempuan ayu belum juga mereda, ha, ha, ha! Mah, Patimah! Ada apa kau disini, hah? Kekasihmu dicuri Burjani, tuh! Ni! Kau pilih dia dari pada me milih aku, ya? Sayang, sayang Sebentar lagi mati kekasihmu, Ni. Mati dikubur dilaut, ha, ha, ha! He, Bodin. mimpi kau ja? Bangun! Aku datang Din, Bahrowi turunan Sawunggaling datang menyemput nyawamu! Ayoh siapkan kembangturimu yang terkenal itu! Kutunggu tunggu saat ini, huh! Bangun!" bicara Bahrowi. Mengejek benar!

Ibu Burjani telah jatun pingsan. Tak berkutik ditempatnya. Patimah tak berani meninggalkan orang tua itu, erat dipeluknya. Burjani bingung, mau menangis saja rasanya. Sedang perahu berlayar laju menuju tengah lautan, jauh dari perahu' lainnya. Perahu lainnya terpaksa tidak berani mendekat, hanya mengelilingi sedapat mungkin. Pada waktu keadaan kacau dan gaduh inilah justru Jabodin menunjukkan ketenangan yang luar biasa. Dengan tenang ia berdiri. Sarungnya dilipat dan dieratkan ikatannya. Tak ada rasa tergesa atau tergopoh sama sekali!

Burjani, dik. Jangan takut. Saksikan suamimu berjuang mempertahankan kebesarannya! Mah, kau juga. Lihat hasil kemajuanku sejak dua tahun yang! lalu! Kau tidak perlu takut. takut! Tunjukkan bahwa kalian orang-orang yang berhak bangga dengan kemenangan ku, sebab aku pada pihak yang benar !" ujar Jabodin dengan suara antap.

“Ya, berpesan pesanlah tentang pemeliharaan kuburmu, Bodin! Kutunggu sampai selesai kau pamitan!" suara Bahrowi bergelora.

Jabodin tidak bersuara lagi. Dengan clorit ditangan ia melangkah tenang menuju keburitan, tempat Bahrowi berdiri. Ia terus saja mendekati hingga jarak seraihan tangan. Aku sudah siap, makhluk yang sengsara! Cuh !” ujar Jabodin sambil meludah kearah muka Bahrowi.

“Jancurit! Sungguh jantan kau menantang Bahrowi, Bodin!" seru Bahrowi seraja mencabut belatinya, Belati itu telah digenggamnya sejak tadi, tetapi masih tersarung pada sarung kulitnya. Sekarang berhadapan dengan Jabodin berpakaian pengantin, digigitnya sarung itu dan terhunuslah belatinya yang tajam mengkilap. Sarung kulit disebulnya, mencelat menampar dan muka Jabodin. “Ha, ha, ha. Sudah tebal kulitmu, Podin!?"

Dengan ujung cloritnya disobeknja baju pengantinnya pada dada, diajukan kearah Bahrowi, maju lagi begitu dekat dengan dada terbuka. “Ini, lihat, jika kau mau tahu dada orang Sampang! Lihat! Mau tusuk, boleh!" ujar Jabodin menirukan sikap Bahrowi tatkala dirumah Burjani menantangnya berkelahi.

Melihat keberanian Jabodin ini Bahrowi heran tercengang-cengang! Dia, orang sakti Bahrowi, dipameri dada terbuka demikian? Sungguh tantangan yang luar biasa! Hingga dada Jabodin mepet menderak pada dadanya, Bahrowi tidak bergerak apa-apa. Karena herannya! Pada hal tangan kanannya yang habis mencabut belati masih bersiap diatas bahunya. Seketika ia sadar, belati itupun ditusukkan kearah Jabodin. Mati satu kali, kau, Din! Orang sombong !” teriak Bahrowi dengan marahnya. Tapi elok bin ajaib, ia menusuk angin. Jabodin telah bergandulan tiang perahu, kemudian meloncat kembali didepan Bahrowi.

“Kurang cepat sedikit gerakar mu, makhluk yang sengsara!” kata Jabodin dengan tenang dan antap.

“Awas, pinggargmul" seru Bahrowi tak sabar lagi. Ia menyerang dengan kecepatan luar biasa. Tapi Jabodin telah lenyap lagi. Dicari ditiang perahu juga tidak ada !

Ha, ha, ha. Jongkok dibawahmu, tolol, makhluk jang....!” suara tenang tak selesai. Sebab Bahrowi telah berputar diri, dan menyerang pula arah bawahnya. Luput! Terlihat kelebat Jabodin berlindung kesisi tiang buritan, segera disambarnya dengan belatinya. Tidak kena!

“Awas clorit!” terdengar suara antap dan angin berdesau dari arah samping kiri. Bahrowi meloncat menghindar, terus menyerang kearah suara. Pertarungan diburitan meringsut ketengah. Perahu amat sempit untuk berpencak dan pasang kuda-kuda, maka hanya kepandaian menjejakkan kaki sajalah yang menolong mereka saling merjerang dan menghindar. Kadang karena tiupan angin yang besar, perahu miring kesebelah barat. Perempuan telah menjerit. Tapi orang-orang yang bertarung cepat berloncatan menginjak pinggir perahu yang sebelah timur. Perahu lurus lagi. Sekali waktu sedang Jabodin berusaha menyelamatkan perahu dari keolengan, terdesak pula oleh serangan Bahrowi yang ganas. Terpaksa ia meloncat masuk laut.

“Mati kau, bangsat!” seru Bahrowi dengan suara lega. Tapi kecele.

Tubuh Jabodin kelihatannya memang terjun ke air, tapi clorit kembangturi yang melengkung berguna sekali untuk mengait layar, sehingga Jabodin jatuh tergubat diatas layar, lalu terlempar kembali dengan dorongan angin yang kuat. Jabodin mempergunakan kesempatan itu untuk menyerang lawannya. Tapi Bahrowi waspada, kelegaannya urung dan ia meloncat meng hindari tubrukan orang berclorit dari udara.

GAMBAR/ILUSTRASI

Sekarang nyata benar, bahwa Jabodin musuhnya telah mengalami kemajuan yang pesat sekali selama dua tahun saja, sehingga selayaknya jika ia berani menantang-nantang ditempat umum. Bahrowi belum pernah gagal melakukan serangan lebih dari lima kali berturut turut dalam sejarah pertarungannya. Tapi sekali ini ia menemui lawannya yang terlalu gesit! Menyesal ia mengapa datang keperabu ini! Mengapa tidak dicobanya dulu ditempat datar didaratan, dimana ia mahir melaksanakan ilmunya dan bila perlu melarikan diri secara licik. Sekarang ia tidak bisa melarikan diri. Ia sendiri memilih gelanggang, dan ternyata terjaring masuk kubu! Pikirannya mulai goyah. Tapi masih punya harapan sebab sebegitu jauh ia belum luka Belum ada serangan corit Jabodin yang mengenai dirinya Agaknya Jabodin tidak pandai mengincarkan jloritnya, justru karena ketangkasan Bahrowi berkelebat. Sekali waktu dipancingnya Jabodin dengan akal licik. Di tubruknya Burjani dan dipeluknya leher perempuan itu dengan tangan kirinya, sedang tangan kananajt mengancam hendak menusuk. Tapi kelicikan ini tidak tepat lagi ditrapkan disini. Burjani begitu jijik terhadap Bahrowi, dan tahu sudah segala siasat buruknya, Begitu Bahrowi menubruknya, perempuan itu telah menyerang dengan gigitannya, Aduh!” seru Bahrowi terpaksa melepaskan dekapannya. Dan pada saat itu juga, Jabodin memutuskan tali layar, bambu bingkai layar tergoncang keras memukul badan Bahrowi! Setelah bertempur sambar menyambar beberapa lamanya, perahu pun berhenti meluncur karena layarnya putus talinya, kedua orang yang bermusuhan itu berdiri berhadapan dengan senjata masing' ditangan. Napas keduanya mendengus dengus.

“Nah, makhluk yang sengsara! Bagaimana sekarang?! Engkau tidak bisa menelanjangi aku lagi seperti dua tahun yang lalu. Engkau bahkan tak bisa menyerangku dengan tepat! Padahal kau tak bisa lari lagi dari tempat ini! Apa dayamu sekarang? Makhluk yang sengsara!” kata Jabodin dengan suara antap. Suaranya masih tetap antap meskipun napasnya tersengal sengal.

“Ha, ha, ha, ha! Oh, persetan dengan makhlukmu yang sengsara !” sahut Bahrowi meraga risau dengan sebutan ‘makhluk yang sengsara’. “Mana, akupun tidak luka? Hah, engkaupun tak bisa mengenai sasaranmu, heh! Jangan tergesa-gesa bertepuk dada, Din, Bodin!”

Jabodin tersenyum mendengar olok Bahrowi. “Jadi sudah puas kau dengan tandinganmu? Nah, jika demikian kau boleh memilih cara matimu sekarang. Sengaja belum kulukai kau sekarang, karena aku ingin meminta kesadaranmu dalam menyaksikan kematianmu sendiri, makhluk yang sengsara!”

Huh!?” terkejut Bahrowi. Kiranya kegesitan dan kesaktian yang telah dipertunjukkan Jabodin ini tadi belum seluruhnya. Dibiarkan saja dia tak kena cedera seperti halnya babi dipeternakkan supaya gemuk untuk kemudian disembelih! Giris hatinya! Keringat dingin keluar! Katanya dengan gementar, dengan kesombongan yang dipaksakan : “Ha, ha, ha. Selama kulitku masih utuh, aku akan melawanmu dengan kekuatanku. Aku tidak menyia-nyiakan pengalamanku selama ini. Kapan saja kau dekat, kuhantam mati. Akupun tidak memilih mati. Bacok saja dimana kau bisa! Kata orang cloritmu sangat awas mencari sasarannya! Ha, ha, ha. Mana buktinya, hah?!"

“Jika begitu aku yang memilihkan cara kematianmu. Tanganmu yang berbau darah, penuh dengan noda dosa, akan kuputuskan dulu dan ku perlihatkan didepan matamu, sebelum engkau pingsan. Sesudah itu, terimalah kematianmu yang sengsara, Bahrowi !" ujar Jabodin. 

Pucat wajah Bahrowi. Begitu saktinya Jabodin sehingga bisa merencanakan kematian lawan? Oh, mungkin, mungkin! Tangannya gementar, tak disadari tangannya yang telah membunuh banyak orang itu gementar tak tertahan. Tapi suaranya masih juga kasar: “Lagakmu seperti badut ketoprak! Ayoh kenai dadaku, jika cloritmu memang bermata tajam dan awas terhadap sasarannya!" seru Bahrowi. Tapi ia tidak berani menunjukkan dadanya seperti waktu dirumah Burjani dulu. Cepat bagaikan kilat, Jabodin menggerakkan cloritnya, dan sebelum sadar akan perbuatan lawan, baju Bahrowi pada bagian dadanya telah cabik'. Melihat ini, muka Bahrowi kian pucat pasi sebagai cendawan dibasuh! Tiba terasa sendi tulangnya lemah tak berdaya, belati ditangan terkulai tak berjiwa! Ia menyadari lawannya memang sanggup memperlakukan dia seperti yang dikatakan tadi! Kesadaran ini menggagapi perasaannya, menjalar keseluruh alat perangsangnya! Mulutnya terasa kering, tak berludah terkancing kaku tak bisa dipakai bicara atau sesumbar!

“Mah, lihat itu wajah sahabat kita! Ternyata ia lebih pengecut daripada Jawawi. Jawawi mati dalam keberanian. Ia tetap melawan meskipun tahu lawannya jauh lebih pandai dan kejam bukan main. Tapi ini, lihat, belum lagi luka parah, sudah mati kaku ketakutan! Ni, apakah engkau ingin urun memberi pelajaran orang gugah ini sebeum menghadapi kematiannja?" kata Jabodin. Cloritnya masih digenggam, namun ia melipatkan kedua tangannya didadanja,

“Masja'allah, mas! Segeralah lunasi jiwanya, dan masukkanlah raganya dalam laut! Tak usah mati di Digul, kiranya bisa saja orang mati tanpa kubur sehingga keluarganya tak hina memeliharanya!" ujar Burjani. Ia melancarkan kata pembalasan juga!

Wi, acungkan saja tanganmu! Biarlah noda' yang ada padanya lepas dari badanmu!”

ujar Patimah kepada Bahrowi.

Tanpa disadarinya Bahrowi mengangkat tangannya yang memegang belati pelan. Jago pencak yang tak ada taranya kesaktiannya tahun yang lalu, hari ini mengacungkan tanganaja untuk dipancung.

“Ha, ha, ha! Diperintah oleh perempuan, ia menurut! Inikah pendekar jarig disebut- sebut sebagai tangan kanan mencer Van Grevca?" gelak Jabodin menirukan pekerti Bahrowi tatkala berhadapan dengan Jawaw di Eerste Kade. Lalu, crok. Terdengar suara tangan putus kena babatan clorit. Lengan yang mengacung, tak ada tangannya lagi ujungnya. Menetes darah keluar. Sedang tangan Jabodin yang kiri telah menggenggam ujung belati. Pangkalnya masih dicengkeram oleh potongan tangan!

Terdengar perempuan' menjerit. jerit tak tahan melihat siksaan ini. Mata Bahrowi sendiri terbeliak melihat potongan tangan yang memegang tangkai belati! Lalu dengan berteriak keras, Bahrowi menyerbu Jabodin. Dengan amat trampilnya Jabodin menggerakkan cloritnya, dan hancur luluhlah tubuh Bahrowi dihujam bulu ayam baja itu. Clorit Bataporih akhirnya mengenai sasarannya juga! Badan Bahrowi tidak sampai jatuh kelantai perahu. Dengan mudahnya disepak oleh Jabodin terjun masuk laut. Air yang biru, dikacau deburan badan berdarah. Tubuh Bahrowi yang tak bernyawa lagi, perlahan menyelam kelaut. Tak bernyawa tetapi masih begerak gerak juga! Kian lama kian dalam, air biru ternoda oleh warna-warna merah, Setelah nyata Bahrowi tidak kembali lagi, Jabodinpun membuang belati yang tergenggam oleh tangan puntung, Dibuang masuk laut. Lalu dilihatnya clorit yang dipegangi oleh tangan kanannya. Penuh darah. Juga tiga batu merah bertumpuk sebagai tanda dipangkal senjata itu, berlumur darah! Clorit itu telah disimpannya selama tiga tahun lebih, sebagai benda keramat. Untuk keperluan inilah clorit itu disimpan. Sekarang besi melengkung itu berlumur darah. Selesai menunaikan tugas. Tidak keramat lagi. Tidak berguna lagi. Dengan perasaan jijik benda antep itu dibuangnya kelaut. Dengan cepat menuju dasarnya. Selesai membuang benda terkutuk itu, Jabodin mengibas-ngibaskan kedua belah tangannya, seakan-akan selesai sudah tugas kewajiban. nya dan sekarang membersihkan diri. Ditariknya tali layar yang putus, dikembangkan layar, dan bahterapun melaju lagi menuju pulau Madura, pulau harapan nya! Ia melangkah ketengah perahu mendapatkan mempelai belahan hatinya.

“Ni, kekasihku! Aku datang tak bercacad, rochani maupun jasmani!" ujarnya kepada Burjani. Disambut dengan senyum manis oleh mempelai ayu.

Heh, Din! Tolong ini! Ibu belum sadar! semangat, bu! Sadarlah, dunia sudah bersih dari tangan kotor!” ujar Patimah berusaha menyadarkan ibu Bur. jani.

Sementara itu perahu-perahu kerabat datang mendekati mereka serta mengabarkan segala sesuatunya. Mereka bersenang hati dan bergembira setelah mengetahui tidak terdapat hal-hal yang menguwatirkan diperahu pengantin. Bahkan perihal lenyapnya Bahrowi dari masyarakat akan mereka rahasiakan, sehingga tidak ada pengusutan yang berlarut-larut !

Juru mudi yang tadi basah kujup karena terjun kelaut ditendang Bahrowi, telah berganti pakaian, dan kembali menjalankan tugasnya. Sebentar kemudian terdengar orang ini bersenandung lagu-lagu Madura: “Lilik.  !"

Apakah percaturan dunia pencak berhenti dengan lenyapnya jago pencak Bahrowi dan pendekar pendian Jabodin? Tidak. Sebab berpencak bagaimanapun juga sexuai benar dengan jiwa gerakan kebangsaan, oleh kewaspadaan dalam menjaga diri! Apakah orang kerabat pengantin Jabodin berhasil menjimpan rahasia kematian Bahrowi? Tidak. Sebab bangkai gajah tak dapat ditutup dengan njiru! Mulutpun saling berbicara dan bersambung. Maka dalam waktu yang singkat orangpun mengerti kemana lenyapnya pendekar gigih yang tak terkalahkan itu, pendekar dari Kaliwaron. Lalu bermunculan pendekar-pendekar baru menantang Jabodin. Sul diantaranya seorang pendekar kawakan bernama Aluw bekas anak buah Van Greven. Dengan pedang nya ia mengkilap dan mata membelalak, kumis tebal, Alus berteriak teriak: “Mana Jabodin?! Ayoh, tandingi aku Aku menuntut balas, bela pada sahabatku Bahrowi!"

Tapi tak ada jawaban dari Jabodin. Jabodin telah tunduk oleh janjinya, ia tidak akan menggunakan kepandaiannya pencak lagi untuk bertarung, setelan kematian Bahrowi. Ia bersama isterinya telah mengikuti jejak mertuanya, merantau entah kemana, tetapi orang berbahagia. Sebab kedua pasangan suami isteri itu orang-orang yang rajin bekerja. Dan hanya dengan bekerja ini mereka jadi bahagia. Bukan karena pencak.

Perihal Aluwi kemudian ditangkap oleh penggawa Van Greven karena membunuh orang dengan menyalah-gunakan wewenangnya yang tidak berlaku lagi, lalu lebih banyak menghabiskan waktu dari sisa hidupnya dipenjara, sampai akhir hidup.

TAMAT