Banyuwangi Bab 7 : Tumbal (Tamat)

 
Bab 7 : Tumbal (Tamat)

Senyum kemenangan menghias bibir Juru Kunci maupun Schophoff. Juga Pieter Luzac. Karena saat semacam itulah yang ditunggu-tunggu. Rsi Ropo menyerah dan mereka akan menggantung sampai orang itu mati. Supaya dengan demikian kawula Blambangan tahu bahwa Rsi Ropo bukanlah orang yang tidak bisa mati. Bukan orang sakti yang kebal. Tapi sekadar manusia biasa yang bisa disakiti. Terdiri dari kulit dan daging yang bisa punah.

"Yang Mulia tahu siapa Sri Tanjung yang digilai Raden Tumenggung Wiraguna itu?" tanya Schophoff pada Juru Kunci suatu hari.

"Tahu, Tuan. Dia amat manis. Wanita sempurna." "Ah, maksud hamba bukan itu, Yang Mulia. Siapa dia

sebenarnya?" Schophoff tertawa terbahak-bahak.

"Oh, dia anak Prabu Mangkuningrat. Anak bungsu." "Nah, itu!" Schophoff diam sebentar. Seperti hendak

mengatur kata-kata. Kemudian perlahan-lahan ia berkata lagi,

"Bapaknya pernah minta bantuan Kompeni ke Batavia, bukan?"

"Benar sekali, Tuan."

"Melihat sikap bapaknya dia boleh jadi istri Raden Tumenggung Wiraguna. Tapi..."

"Kenapa tetapi, Tuan?" Juru Kunci mengernyitkan dahinya. "Apakah ia mau jadi istri Wiraguna? Hamba dengar kabar ia

sekarang tinggal di Songgon."

Juru Kunci diam sebentar. VOC menyelidik sampai ke calon istri para adipatinya. Mungkin juga para selirnya.

"Katakan dengan jujur, Yang Mulia. Ini penting untuk keselamatan Raden Tumenggung Wiraguna. Siapa tahu, istrinya itu ternyata seorang pemberontak. Wanita Blambangan suka angkat senjata. Jangan-jangan suaminya sendiri dibunuh."

Hati Juru Kunci menjadi berdebar. Tapi ia ingat pada Mas Ayu Arinten.

"Bagaimana dengan Mas Ayu Arinten?" Ia memberanikan diri.

"Wanita macam itu boleh dipercaya. Apakah mungkin Sri Tanjung seperti dia?"

"Sebenarnya sudah tiga kali Sri Tanjung diundang ke istana. Tapi selalu menolak. Terakhir malah sudah kawin dengan Rsi Ropo. Seorang brahmana yang masih muda "

"Rsi Ropo?" "Ya."

"Setan! Iblis! Masih hidup orang itu?" tiba-tiba Schophoff terkejut. Wajahnya berubah. Menjadi agak pucat. Ia masih ingat kala Rsi Ropo menuding wajah Biesheuvel dengan amat berani.

"Masih, Tuan."

"Gila! Harus mati! Harus!" Schophoff berjalan mondar- mandir. Mendadak saja tampak tidak tenang. Orang itu mampu melarikan diri dari tahanan Kompeni. Tentu bukan orang dungu. Dikira sudah mati bersama Rempek. Karena di Songgon tidak pernah ada perlawanan. 

"Kami sudah mengatur "

"Bagaimana caranya? Orang itu begitu pintar." "Jangan khawatir, hamba akan memancing dia agar

menyerah." "Gampang benar?" "Tuan akan lihat. Dia menyerah dan menyerahkan istrinya."

Schophoff terbahak-bahak mendengar itu. Mustahil orang seperti dia dapat dipermainkan oleh Juru Kunci. Tapi ia berharap agar rsi itu kalah cerdik. Dan ia akan menilai bagaimana si Sri Tanjung yang sudah termasyhur di seluruh Blambangan itu. Ia ingin tahu wajahnya. Ingin tahu sikap dan pendirian wanita itu. Ia ingat, Mas Ayu Prabu tidak mau menyerah kendati sudah berhadapan dengan maut. Jangan- jangan Sri Tanjung ini wanita semacam itu. Itu tidak boleh jadi. VOC tidak menghendaki wanita yang mungkin mampu menguasai suami dan dapat mendorongnya berontak. Ia pernah memperundingkan kekhawatirannya ini pada Pieter Luzac, pembantunya. Melihat cara Wiraguna menyanjung dalam menceritakan Sri Tanjung yang terlalu itu, maka ia mengambil kesimpulan, bahwa Wiraguna bisa berada dalam genggaman Sri Tanjung. Mungkin bisa jadi Sri Tanjung, yang memegang kendali di seluruh Blambangan. Dan itu bahaya, Selama ia memimpin Songgon belum pernah ada laporan bahwa Songgon menyerahkan pajak pada pemerintah. Apalagi bekerjasama dengan VOC. Kompeni lewat saja orang Songgon segera mengosongkan rumah-rumahnya.

Tapi kini Juru Kunci menunjukkan surat Rsi Ropo yang ditulis di lontar. .

"Apakah ini bukan muslihat?"

"Di Blambangan tak ada rsi apalagi pandita menipu," tegas Juru Kunci.

"Baik! Tapi ia harus mati. Sekali pun ia sudah menyerah. Ia pernah melarikan diri dari tahanan Kompeni. Jadi ia harus dihukum. Dihukum mati!" Schophoff memperdengarkan suara tawanya kembali. Dan betapa inginnya melihat rsi itu menggeliat-geliat menghadapi sekarat dengan tali di lehernya. Atau ia ingin sekali melihat Rsi Ropo menyembah telapak kakinya, mengiba-iba mohon ampun. Ia akan tertawa melecehkan. Seperti saat ini ia terbahak-bahak. Ia memang«suka terbahak-bahak seperti itu.

"Hamba mohon disiapkan satu regu pelaksana hukuman mati," Juru Kunci lebih meyakinkan lagi. Dan tentu saja permohonannya itu segera dikabulkan.

"Aku rasa Sri Tanjung pun harus mati. Berbahaya bagi semua orang jika ia dibiarkan menjadi istri Wiraguna.

Kedudukan Yang Mulia sebagai patih di Blambangan bisa terancam. Hamba dengar wanita itu tidak mau meninggalkan agamanya yang lama. Ia tidak suka menjadi Islam?"

"Barangkali karena belum ada orang yang mengajarnya." "Barangkali saja begitu. Tapi ingat, wanita macam dia akan

mampu menghancurkan semangat dan wibawa Raden

Tumenggung Wiraguna."

"Lalu apa jalan keluarnya? Padahal kita tidak boleh menyingkirkannya seperti menyingkirkan suaminya. Bukankah akan lebih membuat Yang Mulia Raden Tumenggung putus asa?"

"Tentu sayang jika kita membunuh wanita secantik itu.

Ha... ha... ha..." Schophoff tak mampu menahan keinginannya untuk tertawa. "Hamba memang belum pernah melihat wajahnya. Tapi kira-kira amat cantik. Karena itu sebaiknya yang kita lakukan adalah menjinakkan hatinya yang binal itu."

"Tidak mungkin, Tuan. Tidak mungkin." "Kenapa?"

"Ia tidak suka makan dan minum persembahan kita.

Karenanya kita tak akan mampu memasukkan apa-apa ke dalam makanannya."

"Baik, hamb| akan menghadiahkan sebuah keris pada Raden Tumenggung Wiraguna, sebagai hadiah perkawinan. Keris ini adalah pusaka Raden Pangeran Singasari yang tewas dalam pertempuran di Malang Selatan. Dan keris ini pula yang pernah menyudahi Tumenggung Jangrana di gerbang Karta. Namun begitu, menurut cerita yang hamba dengar, keris ini memang bertuah. Cerita orang, keris itu milik raden Harjuna, tokoh wayang purwa itu."

"Sudah amat tua umur keris itu?"

"Sangat tua. Dan karena keris itu pulalah setiap wanita yang berhadapan dengan Raden Harjuna pasti jatuh hati dan bersedia menjadi istrinya."

Juru Kunci berdecak mendengar itu. Dalam hati timbul iri. Andaikan aku yang menerima hadiah keris itu, maka akulah yang mempersun-ting wanita tercantik masa kini itu. Tapi ia tak berani mengutarakan. Schophoff menyambung lagi.

"Perkawinan mereka punya arti yang amat penting bagi kita. Hamba berharap dengan perkawinan itu ketegangan di Blambangan segera berakhir. Apalagi dengan musnahnya Rsi Ropo."

"Ba... baik, Tuan," Juru Kunci gugup tanpa sesadarnya.

Gila, aku ikut-ikut melamun wanita itu. Suara tawa Schophoff mengikuti langkahnya keluar ruangan setelah ia berpamitan.

Sepanjang perjalanan ia ingat keris Raden Harjuna. Hemh, Sri Tanjung, kau akan jadi istri Wiraguna. Biarlah kali ini Adipati yang beruntung. Tapi lain kali pastilah ia juga dapat memper-daya Sri Tanjung seperti memperdaya Mas Ayu Arinten. Ingin tahu aku, bagaimana jika ia sudah sepembaringan dengan aku.

Tapi ada satu pelajaran yang baik lagi untuk diserapnya.

Ternyata VOC 'ikut campur dalam merestui perjodohan pembesar-pembesar pribumi. Bahkan ikut mengaturnya. Tentu pada perkembangan selanjutnya pribumi akan lebih kehilangan kedaulatannya. Sampai-sampai memilih jodoh pun harus di bawah persetujuan VOC. » Diam-diam Juru. Kunci memuji betapa pintarnya orang asing itu. SemUaJ^hendak VOC masa kini selalu diselubungi dengan *kata-kata: pengabdian dan pengorbanan demi negara! Sedang ekor «dari kata-kata itu adalah upeti yang mengalir ke gudang VOC. Tanah harus direlakan demi pembangunan loji-loji, benteng- benteng. Inikah yang harus kulihat untuk masa-masa mendatang bagi negeriku? Keharusan dan keharusan?

Di rumah beberapa tamu ternyata sudah menunggu. Ia terkejut. Han Tian Boo, Baba Song, dan Su Lie Hwa. Apa tujuan mereka ini? Dia jadi amat curiga, belakangan ini istrinya makin sering terima tamu sebangsanya. Tidak seperti dulu kala ia belum menjadi patih. Mereka jarang menerima tamu. Tidak begitu banyak urusan. Sekarang acaranya begitu padat.

Setelah berbasa-basi sebentar, mereka menuju taman.

Taman warisan dari Jaksanegara yang sekarang dibuang ke Gombong, barangkali tak ada duanya di Blambangan saat ini. Lengkap dengan kolam ikan emas dan tombro serta lele putih. Tempat peristirahatan yang beratap ijuk, berdiri di tengah taman, dengan dikelilingi kolam. Pohon trembesi, kenanga, kenari yang berebut tinggi di seputar kolam itu menghapus segala kegerahan kemarau yang dimulai sejak di kamar kerja Schophoff tadi. Belum beraneka warna kembang serta kupu- kupu yang terbang kian kemari itu.

"Ada sesuatu jkang penting rupanya, Tuan-Tuan berkumpul di sini. Memerlukan bantuan?" Juru Kunci langsung pada persoalan.

Mereka tersenyum-senyum. Mengangguk-angguk sampai beberapa kali. Menimbulkan kesan betapa rendah hatinya mereka itu. Walau ada yang kurang disukai Juru Kunci, yaitu seringnya mereka berdiri dan pergi ke pinggir kolam untuk berdahak. Tapi rupanya Baba Song, ataupun Han Tian Boo cepat menunduk dalam-dalam setelah melakukannya. Tidak berani memandang mata Juru Kunci. Hanya melirak-lirik. Tidak tahu apa sebabnya begitu. Apakah mereka benar-benar menghormati Juru Kunci atau sekadar berpura-pura.

"Ya. Soal ini... Yang Mulia Su Lie Hwa."

"Kenapa?" Juru Kunci merapatkan alisnya. Bahkan nyaris menegangkan rahang. Selalu ada saja persoalan baru jika mereka menghadap. "Ingin keluar dari istana?" tukasnya kemudian.

"Tidak, Yang Mulia..." Han Tian Boo mengeluarkan hocoe- nya untuk madat. (candu) "Justru saat ini, apakah tidak terancam kedudukannya?"

"Sehubungan dengan datangnya garwa padmi?" "Iya... iya, benar, Yang Mulia."

Juru Kunci tertawa. Orang-orang kaya semacam ini masih juga khawatir. Kemudian dia geleng kepala.

"Bukankah sudah seharusnya garwa padmi itu hadir dalam kehidupan seorang adipati? Mengapa mesti dipersoalkan?" Juru Kunci melirik Su Lie Hwa. Ternyata memiliki rasa cemburu. Padahal sebelum ia dipersembahkan tidak pernah menanyakan apakah adipati masih muda atau sudah tua: Belum beristri ataupun sudah. Yang penting ia dipersembahkan oleh Baba Song maupun Han Tian Boo. '

"Kami tahu itu, Yang Mulia."

"Lalu apa lagi?" Kadang Juru Kunci menjadi jengkel karena kawan-kawan istrinya itu sering-sering serakah. Semua hal diperhitungkan dengan uang dan harta.

"Kami dengar tentang Yang Mulia Sri Tanjung itu... eh... seorang pengikut Wong Agung Wilis Jadi dengan masuknya Yang Mulia Sri Tanjung itu, apakah tidak mengguncangkan perniagaan? Seperti halnya Wong Agung Wilis dulu, semua ditertibkan."

"Aku yang berkuasa untuk semua itu. Bukankah aku patih?" "Tapi "

"Apa jaminan kalian jika aku dapat memupuskan semua yang kalian duga itu?"

"Ah " mereka tertawa bersama. Namun makin jelas,

bahwa Sri Tanjung memang akan membahayakan. Kaum pedagang tentu lebih peka. Karena kebiasaan mereka berpikir masak-masak dalam melangkah. Bukankah jika mereka tidak gegabah mereka akan mendapat untung? Bukankah wanita itu pernah menghalangi pembabatan hutan di seputar Songgon? Juga selalu mengadakan hubungan dagang secara gelap dengan saudagar-saudagar Portugis, atau Inggris dan Bali?

Bukankah orang desa Songgon tak punya tambang emas untuk mencetak uang? Tapi mereka tidak susah membeli barang-barang dari luar. Tentu semuanya di bawah pengaturan Sri Tanjung. Jadi benarlah dugaan semua pengamat bahwa Wiraguna bukan orang yang seimbang untuk diperjodohkan dengan Sri Tanjung.

Bahkan berita terakhir menyebutkan orang-orang Songgon merampasi candu milik Han Tian Boo dan Tan Eng Gwan yang dijajakan oleh anak buahnya.

"Jadi? Apakah Yang Mulia akan memusnahkannya?" Su Lie Hwa bertanya. Dan Juru Kunci tergelak mendengarnya. Dan semua memandangnya heran. Termasuk istrinya.

"Mengapa harus dimusnahkan?" Ia balik bertanya. Semua orang terdiam. Tapi Juru Kunci tahu mengapa. "Tidak harus dimusnahkan. Tidak. Sekarang dia galak

karena lingkungannya adalah orang-orang keras. Tapi jika ia

sudah masuk istana, aku percaya, pasti berubah. Ia sekarang merasa diimpit. Apalagi jika melihat lingkungannya, para kawula Blambangan yang tidak mau menerima pemerintahan Raden Tumenggung, tentu yang ada dalam dada mereka semata-mata kebencian. Namun jika kita pandai mendekati hatinya, dan ia sudah menjadi salah seorang di antara kita, semua akan beres. Persoalannya adalah kita. Bagaimana kita menerima dia. Jika dengan hati bermusuhan maka ia akan memusuhi kita dengan segala dayanya."

"Yang Mulia yakin? Sehingga pada saatnya nanti kita bisa merebut pasaran di Songgon?"

"Setidaknya keadaan akan berubah setelah dia naik ke pelaminan bersama Raden Tumenggung Wiraguna nanti. Lihat saja." Juru Kunci ingat bagaimana Arinten dulu sebelum naik ke pelaminan bersamanyn. Sebaliknya apabila Tunjung tak menuruti kehendak Wiraguna, bisa celaka. Sungguh akan malang nasib wanita cantik itu. Ternyata tidak selamanya wajah cantik itu membawa keberuntungan. Bahkan kadang- kadang sebaliknya, membawa maut bagi hidupnya sendiri. Ah, apakah wanita itu juga sadar akan keadaan? Sadar bahwa dirinya diancam maut?

Tentu berbeda dengan kebanyakan wanita bahkan juga lelaki yang tidak pernah mengadakan pengamatan atas kehidupan, Ayu Tunjung dan suaminya menyadari, bahwa hari-hari bahagia sudah di ambang senja. Maka mereka menghabiskan waktu mereka di pura untuk berdoa, atau di kamar berdua. Para pengawal dan murid sudah diberitahu, bahwa keduanya tidak perlu diganggu. Semua heran. Ke mana-mana berdua. Bergandeng tangan. Tak peduli banyak orang atau tidak. Lebih mengherankan lagi sang Rsi dan istrinya selalu mengenakan pakaian putih, seperti laiknya orang menghadapi puputan (penghabisan/keberakhiran) Ada hari yang pernah mereka gunakan untuk berkeliling Songgon. Bergandengan, bahkan berpelukan keduanya mengelilingi desa itu. Seolah hendak pergi jauh dan tidak akan melihatnya lagi.

Kawula Songgon terkejut melihat keduanya berpelukan sambil memperhatikan keindahan Songgon. Pakaian mori putih mengundang keresahan semua orang. Burung gagak seperti tidak biasanya. Terbang bolak-balik sambil berkoak- koak.

"Lihat, Kanda. Burung-burung itu! Kita belum jadi bangkai sudah pada datang."

"Siapa yang akan jadi bangkai?" Rsi Ropo merapatkan pelukannya. "Barangkali kau lupa, Rsi Ropo pernah mengalahkan kematian satu tahun lalu." Ia tersenyum. "Simpan saja firasat itu, Adinda," bisiknya lagi.

Keduanya kemudian berhenti di batas sebelah barat desa. Dataran yang lebih tinggi dari deretan perbukitan wilayah desa Songgon. Di tempat tertinggi mereka kemudian berteduh di bawah pohon sonokembang dan laban. Keduanya duduk berjajar sambil tidak melepas rangkulan masingmasing.

Kawula Songgon melihat dari kejauhan. Mengapa keduanya berlaku ganjil? Tapi tak seorang pun berani mendekat.

Silir angin mendayu, membelai rambut mereka. Masih membisu. Tak mereka perhatikan suara kidung anak-anak gembala di sawah yang tiba-tiba saja lenyap. Langit biru tiba- tiba saja disapu mendung kelabu tipis. Ayu Tunjung tampak menyandarkan kepalanya pada bahu suaminya. Kepala itu seolah lelah menyangga beban. Kejadian datang silih berganti, sukar diduga sebelumnya. Tangan Rsi Ropo membelai rambutnya. Ingin rasanya mengusir kelelahan yang menghinggapi istrinya.

"Hyang Dewa Ratu... cuma sekiankah kauberi-kan kebahagiaan ini? Mengapa mentari cepat saja berlalu. Dan senja terlalu cepat menjelang?" keluh Mas Ayu Tunjung lirih. Air matanya melaju malas dari sudut-sudut matanya, turun membasahi jubah di bahu suaminya. Membuat dada Rsi Ropo gemuruh.

"Mengapa ini mesti terjadi? Justru di tengah kebahagiaan kita? Oh, ingin lebih lama lagi hidup bersama dengan Kanda. Ya kita, ingin mengulur impian lebih lama lagi," katanya kala tangan Rsi Ropo menghapus air mata di pipinya. Dan Rsi Ropo masih membisu. Kenangannya mengembara pada masa lalu, seirama hadirnya awan lembayung di perbukitan sebelah barat. Ia ingat betapa susahnya menaklukkan hati Mas Ayu Tunjung saat itu. Kini sang primadona sudah di tangan.

Namun sayang, prahara datang menerpa.

"Ya, lihatlah, betapa indah awan lembayung di atas pegunungan Raung, Sungkep, dan Pendil itu. Merah bercampur kuning semburat di sela warna kelabu. Kehijauan telah meredup, sebentar lagi kehitaman menguasai jagat." Rsi Ropo menghela napas. Seolah menghela keraguan yang mengimpit dada.

"Tidak!" tiba-tiba ia berkata. "Apa yang tidak, Kanda?" Ayu Tunjung terkejut.

"Tidak! Kita tidak akan mati! Aku tidak akan pernah mati. Aku akan mengabdi terus, selamanya, untuk negeri tercinta ini."

"Ya. Kanda memang selalu mengalahkan mati," Tunjung membesarkan hati suaminya. "Pernah mengalahkan penjara dan gelombang. Hamba, percaya itu. Tapi apakah sekarang kita akan menjawab semua ini dengan peperangan?"

Rsi Ropo tertunduk. Diam lagi. Menunduk dalam-dalam. Beberapa bentar. Istrinya mempermainkan medali bunga teratai di dadanya. "Hamba lebih suka mati di medan laga daripada harus menyerah Seperti Sayu Wiwit, seperti Mas

Ayu Prabu "

"Jagat Dewa, Jagat Pramudita!" Kembali Rsi Ropo menghempaskan napas panjang. Ingin memang ia bertempur seperti usul istrinya itu. Tapi...

"Suatu peperangan membutuhkan persiapan yang panjang.

Peperangan tidak cuma bermodalkan keberanian. Tapi juga kemauan, dan kesehatan. Kita memang punya keberanian dan kemauan. Tapi kita sedang tidak sehat. Lihatlah! Kompeni punya segala-gala." Kita tidak. Orang-orang kita sebahagian sedang kelaparan. Apakah yang bisa kita harapkan dari orang-orang yang lapar? Jangankan mengangkat senjata, berjalan menuju benteng musuh saja susah. Bisa-bisa mati ditengah jalan.

Adinda, kita tak mungkin menang dengan kekuatan yang ada di Songgon semata-mata. Ingatkah kau satu tahun lalu? Kala Wilis sedang memimpin peperangan? Apa kurangnya kita saat itu? Pikiran kita kalah sehat oleh mereka. Dan akhibatnya kita kalah. Sekarang jumlah orang-orang Songgon tinggal dua ribu dua ratus enam puluh tiga orang. Dan di seluruh Blambangan tidak lebih dari tiga ribu orang. Apakah kita akan merelakan mereka dipunahkan? Wiraguna tidak ingin menghancurkan mereka. Tapi aku. Setelah-nya ingin berbahagia bersama istriku. Karena itu, Adinda, aku sendiri harus menyerahkan diriku. Setelah itu, aku akan berjuang untuk mempertahankan hidupku. Sebab hidup adalah anugerah terindah dari Maha Dewa Ciwa, Hyang Maha Pencipta itu."

"Yakinkah Kanda akan selamat?"

"Keyakinan adalah separuh dari kemenangan!"

"Hyang Dewa Ratu!" Ayu Tunjung memeluk suaminya lebih erat. Seolah tak ingin lagi berpisah. Kesejukan menjamah keduanya. Namun bagi Ayu Tunjung serasa Hyang Yama Dipati si dewa pencabut nyawa itu telah menjamahkan tangannya. Tanpa sesadarnya ia cium pipi suaminya.

"Kegelapan telah turun, Kanda. Tiada bintang gemerlap di langit. Baiklah kita berjalan pulang. Kita merangkai bunga."

"Merangkai bunga? Untuk apa?"

"Kita sudah mengenakan busana serba putih. Apa maksudnya? Tidakkah sepatutnya kita merangkai bunga. Hamba untuk Kanda, sebaliknya Kanda untuk hamba."

Enggan rasanya Rsi Ropo berdiri. Namun istrinya menarik tangannya. Lalu kembali keduanya berangkulan sambil melangkah lamban. Lamban sekali. Tanpa bisik. Seolah menikmati betul kehangatan tubuh masing-masing. Tatkala memasuki pertapaan semua cantrik dan sayu berdebar melihat tingkah keduanya. Semua sedang duduk di pendapa. Sengaja mereka menunggu. Parti. menyambut mereka kemudian mencuci kaki kedua junjungannya itu dengan air kembang.

Bau dupa dan kayu cendana merajai malam. Ditambah dengan bunga sedap malam yang tumbuh di' halaman serta kembang kantil serta kenanga yang juga tumbuh mengitari pertapaan itu.

Setelah itu Janaluka maju menyembah dengan muka sampai ke tanah.

"Dirgahayu!" jawab Rsi Ropo tenang sekali. Tidak menunjukkan kegundahan hatinya. "Ada apa, Janaluka? Tampaknya ada sesuatu yang amat penting?"

"Busana Rsi meresahkan kami, Yang Tersuci." Rsi Ropo tertawa. Tubuhnya bergoyang. Namun ia belum melepaskan tangannya yang tersampir di pundak istrinya. Demikian sebaliknya, Mas Ayu Tunjung masih memeluk pinggang Rsi. Tidak biasa mereka lakukan semacam itu di depan para murid. Pelita-pelita juga ikut bergoyang. Bukan oleh suara tawa Rsi Ropo. Tapi oleh angin yang bertiup semilir.

"Apa salahnya seorang pandita mensucikan diri?" ia balik bertanya.

"Apakah ini ada hubungannya dengan perjalanan tiga puluh orang Kompeni yang mengawal Singa Manjuruh naik ke Songgon?" Tunjek kini yang bertanya.

Dalam hati Sang Rsi tersentak. Besok pagi mereka sudah akan tiba di halaman pertapaan ini. Dan ia akan diseret seperti menyeret pelepah daun kelapa kering, kemudian dihajar seperti kerbau yang sedang salah dalam menarik bajak. Ah, kerbau tidak pernah salah membuat alur bajakan. Mereka selalu rapi. Kebiasaan telah membuat mereka seperti itu. Namun Rsi Ropo segera menutup keresahannya.

"Yah, kalian sudah tahu. Apa yang harus kukatakan lagi?" "Bukankah lebih baik melawan daripada Yang Tersuci harus

menjadi korban?" Ramud ikut bicara.

"Semua pendapat kalian baik. Tapi pernahkan kalian belajar menjadi seorang panglima? Aku seorang brahmana. Aku tidak pernah angkat senjata. Senjataku bukan bedil, tapi kata-kata."

"Yang Tersuci..." Mereka tersentak. Sebentar kemudian semua menangis. Hampir bersama-sama mereka maju menubruk kaki Rsi Ropo. Demikian pula para sayu menabrak kaki Ayu Tunjung. Sedu-sedan menguak kesunyian malam. Beberapa bentar.

"Kenapa kalian menangis?" Rsi Ropo terharu. Berkali dikuatkannya hatinya. "Adakah kalian lupa bahwa orang yang berdiri di tengah kalian ini, adalah seorang yang pernah lepas dari maut? Mengapa kalian sekarang begitu gelisah?

Kuatkanlah hatimu! Jangan bimbang dan ragu. Sebab mereka tidak ingin membinasakan kalian. Tapi aku. Dan mereka perlu bersemuka denganku. Karena itu, hentikanlah tangismu ini!"

"Apakah tidak bisa diwakilkan?"

"Jika bukan aku yang datang maka semua pribumi Blambangan akan dipunahkan. Janaluka^ ada saatnya bersua, berkumpul, dan akhirnya berpisah. Semua yang ada di bumi ini akan berakhir."

"Yang Tersuci!"

"Tak ada yang perlu diingkari. Karena itu besok pagi_-pagi kumpulkan semua orang Songgon. Aku akan memberikan nasihatku,"

"Baik, Yang Tersuci!" "Brahmana bukan penakut. Sebab dia adalah seorang yang dapat melihat apa yang bakal terjadi. Dan ia sudah memperhitungkan setiap langkahnya. Dan kalian adalah brahmana. Jangan seperti orang dungu yang cuma mampu menyesali keada-

Satu-satu mereka melepaskan pelukan mereka. Satu-satu menyeka air mata mereka. Dan kala Rsi bersama istrinya kembali berangkulan untuk kemudian melangkah ke biliknya, semua orang cuma mampu memandang saja. Cuma Parti yang terperangah, karena Ayu Tunjung memberikan perintah padanya untuk menyiapkan air bunga satu jamban penuh.

Kedua pasangan itu akan mandi jamas.(mandi kramas tengah malam untuk menyucikan diri) Lima orang pengawal Ayu Tunjung tak henti-hentinya menangis.

Suara burung gagak dan burung kolik pada tengah malam itu memberikan isyarat yang diterjemahkan dalam arti tersendiri oleh orang-orang Songgon. Malam itu para cantrik tidak tidur. Mereka mengerahkan semua orang tua di Songgon untuk memasuki pura-pura dan membacakan lokananta (mantra pelebur dosa) agar Rsi Ropo beserta istrinya diselamatkan oleh Hyang Maha Durga. Maka asap orang membakar kemeyan membubung tinggi ke langit kelam.

Bintang-bintang mengintip dari balik mega. Sang ratu malam juga malu menampakkan diri. Malu. Karena mereka merasa tak mampu mempertahankan bunga yang saat ini tumbuh dan sedang mekar di Songgon, yang akan dihancurkan oleh kerakusan seorang penguasa. Ternyata semua di bumi ini tak ada yang mampu membendung kehendak yang berkuasa.

Dalam bilik Rsi Ropo dan Ayu Tunjung seperti sudah melupakan semua persoalan yang mereka hadapi. Keduanya merangkai bunga bersama. Bunga berwarna merah dan putih serta kantil kuning, mereka jadikan kalung. Keduanya akan saling mengalungkan kembang itu pada leher masing-masing. Istri pada suami, demikian sebaliknya. Mereka benar-benar ingin menikmati kemesraan terakhir mereka dengan sebaik- baiknya. Setelah tengah malam mereka melakukan jamas.

Warna kembang yang dipilih oleh Parti juga merah, putih, dan kuning. Warna yang punya makna berani, suci, dan luhur. Betapa terkejutnya kedua orang itu, ternyata Songgon begitu ramai. Nyanyian lokananta ditembangkan oleh setiap bibir kawula. Besar-kecil, tua-muda, kecuali bayi-bayi, laki- perempuan, duduk di depan mezbah dupa. Keduanya saling pandang dalam haru. Lagi mereka berangkulan. Sementara itu, Nyi Singa Manjuruh yang sudah melahirkan dengan pertolongan seorang dukun bayi, juga menangkap suara tembang dan bau dupa serta kembang yang memenuhi udara Songgon itu. Meski dilarang turun dari tempat tidur, dia berusaha mengumpulkan kekuatan yang ada, dan tertatih- tatih mengintip dari celah daun pintu yang terbuat dari kayu mahoni.

Secara kebetulan ia melihat Rsi Ropo berangkulan dengan istrinya. Di bawah sinar pelita yang tertiup angin itu, mereka saling berciuman, kemudian pelan-pelan melangkah menuju kamar mandi. Mereka akan melakukan jamas tiga kali. Pada jamas ketiga mereka benar-benar memasuki alam suci sebagai brahmana Ciwa. Jamas kedua akan mereka kerjakan esok saat mentari terbit di ufuk timur. Jamas ketiga memberikan makna bahwa setiap orang yang melakukannya sudah siap meninggalkan semua dan segala. Itu akan mereka lakukan saat mereka akan meninggalkan Songgon.

"Hamba adalah wanita Ciwa, Kanda, maka jika suaminya mati hamba juga akan mati, Kita memang dua, tapi sebenarnyalah kita telah menjadi satu. Biarlah apa yang telah dipersatukan oleh Hyang Maha Dewa, tak boleh dipisahkan oleh siapa pun. Kendati oleh penguasa negeri ini sekalipun."

"Jagat Dewa! Percayalah, aku tidak akan mati! Kita akan tetap hidup. Cinta kita akan abadi." "Keabadian hanya akan tercapai di alam leluhur. Juga cinta kita. Bukankah Kanda sendiri yang mengajarkan itu?"

"Jagat Dewa!"

Masih dalam keadaan basah kuyup mereka naik kembali.

Suara langkah mereka menarik Nyi Singa Manjuruh untuk menguping dan mengintip. Hatinya berdebar kala pasangan itu berhenti di depan pintu kamarnya.

"Biar, Kanda. Dia sedang istirahat. Ia telah melahirkan bayi lelaki yang sehat. Biarlah Singa Manjuruh besok berbahagia melihat ini semua," bisik Ayu Tunjung.

"Ternyata memberikan kebahagiaan pada orang lain itu tak semudah yang kita bayangkan. Harus melewati sebuah pergumulan. Pergumulan yang panjang. Antara takut dan berani."

"Dan kita sudah mengatasi ketakutan itu?"

"Ah..." Rsi mencium istrinya kemudian mengajaknya berlalu.

Percakapan singkat. Walau dalam bisik, Nyi Singa mendengar dengan amat jelas. Telinganya cukup terlatih kala tinggal dalam persembunyian bersama suaminya satu tahun lalu. Dan semua yang didengar itu telah meruntuhkan air matanya untuk kesekian kalinya. Ia harus mengakui, setiap orang memiliki rasa takut itu. Persoalannya sekarang tergantung bagaimana cara mengatasinya. Dan Nyi Singa merasa berdosa memaksa orang lain mengempaskan ketakutan demi kepentingan pribadinya. Ah, ternyata aku seorang lemah, keluhnya dalam hati. Tak mampu mengatasi kesulitan sendiri. Dan orang lain harus mengorbankan kebahagiaan yang baru saja mereka raih beberapa bulan lalu. Bahkan mungkin nyawa mereka.

Sementara itu Ayu Tunjung tenang dalam dekapan suaminya. Tanpa sadar mereka terlena. Ayu Tunjung merasa berjalan di padang yang amat luas. Berdua, bergandengan tangan dengan suaminya. Tiba-tiba saja udara menjadi mendung. Dan hujan lebat pun turun. Tak ada tempat berteduh. Keduanya berlari. Hujan makin lebat saja. Entah bagaimana caranya, tahu-tahu di hadapan mereka ada banjir yang menyongsong. Airnya berwarna merah. Darah! Banjir darah! Suara-suara tanpa manusia berteriak-teriak. Keduanya membalikkan badan. Tapi di belakang mereka juga ada banjir. Sama. Banjir darah. Mereka terkepung air yang berwarna merah. Dan hujan yang membasahi tubuh mereka juga berwarna merah. Hujan berubah menjadi hujan darah. Banjir bandang dengan air merah tiba-tiba saja merenggut suaminya. Dan terus terbawa arus. Ia berusaha mengejar.

Menggapai. Berteriak memanggil. "Kanda!" Makin lama makin jauh. Ia juga memanggil makin keras. "Suaminda!"

"Ya, Adinda..." Suara itu berbisik kini. Sebuah tangan mengguncang bahunya perlahan. Setelah itu dengan mesranya menyeka keringat yang keluar dari pori-pori dahinya.

"Kau mengigau, Istrinda "

"Oh, Kanda ampunkan hamba."

"Mimpi apa lagi harini? Kemarin mimpi tangan raksasa merenggutmu dari pelukanku. Nah, sekarang?"

Mas Ayu mencium dan merangkul suaminya. Kokok ayam sudah bersaut-sautan di kandang. Pertanda sebentar lagi fajar. Ayu menceritakan semua mimpinya. Tidak tahu, apa sebabnya dua malam ini ia terganggu oleh mimpi.

"Kita bersiap untuk jamas kedua. Lalu masuk pura. Biarlah Hyang Maha Durga memberikan ketenangan bagi jiwa kita berdua."

"Hyang Dewa Ratu!" Ayu menyebut. Dengan mesra pula suaminya mencium. "Inilah batu ujian untuk kita, Kanda." "Ya. Apakah kita benar-benar bisa gineng pratidina (berguna setiap hari bagi kepentingan orang banyak)"

Kembali keduanya meronce bunga, setelah sebelumnya bunga itu dicelup dalam air asam bercampur air kelapa serta ramu-ramuan lainnya agar tidak cepat layu. Ufuk timur cepat menjadi merah keemasan kala keduanya melakukan jamas kedua. Setelah itu kembali mengenakan busana mori putih buatan India, mereka naik ke pura dengan diikuti oleh para cantrik, sayu, dan murid-murid lainnya. Mereka masuk ke alam lain. Alam leluhur. Membuat dunia seolah jauh mengabur.

Di halaman pura seluruh kawula Songgon telah berkumpul.

Ikut berdoa. Tapi yang lebih penting dari itu, mereka ingin bersemuka dengan sang Rsi dan istrinya. Lama. Lama sekali mereka menanti. Tapi mereka tak jemu. Tak bergeser. Tak bergeming. Setia. Duduk di pelataran tanpa peduli? tempatnya berdebu, atau terkena kotoran ayam, anjing, kucing, atau hewan lainnya. Ternyata harapan dan pengorbanan mereka itu tidak sia-sia. Rsi Ropo keluar didampingi istrinya serta para cantrik dan sayu. Ayu Tunjung dan suaminya sama-sama terkejut. Jantungnya berdebar.

"Dirgahayu!" tiba-tiba suaminya berteriak pada ribuan orang yang berkerumun di pelataran itu. Bahkan ada yang memanjat pohon. Atau ada yang membawa lincah (amben) atau bahkan ada sebagian yang memanjat bubungan rumah di dekat pura itu.

"Dirgahayu!!!" sahut mereka serentak.

"Belum diberi aba-aba untuk berkumpul, tapi kalian sudah berkumpul di sini. Ada apa?"

"Kami perlu amanat! Kami perlu keterangan, yang jelas!" mereka bersaut-sautan. Membuat Rsi tersenyum sambil menghela napas.

"Apa yang harus aku jelaskan?" "Yang Tersuci mengenakan busana puputan. Juga mengenakan sumping kembang kemboja. Apa artinya?" semua, orang berteriak.

Rsi Ropo diam sebentar sambil memandang istrinya. Ayu Tunjung tersenyum. Seolah memberi dorongan. Sirna sudah keraguan yang dicipta-kan oleh mimpi-mimpi. *

"Baiklah! Tenanglah! Dan dengar baik-baik!" "Hamba, Yang Tersuci!" jawab mereka serempak. "Apa pun yang bakal terjadi, kali ini tidak akan

mempengaruhi hidup kalian. Tapi justru jika ini tidak terjadi,

kalian akan menderita. Kalian akan kehilangan lebih banyak lagi. Karena itu, kami berkeputusan sebaiknya kalian kehilangan kami. Kehilangan aku dan Mas Ayu Tunjung." Ia berhenti sebentar untuk menelan ludah. Semua orang diam. Saling pandang satu dengan lainnya. Kemudian berbisik-bisik.

Dan suara-suara seperti

suara lebah di sarangnya mulai berkembang. Rsi Ropo tahu mereka tidak puas. Karenanya ia berkata lagi, "Tanpa kami kehidupan di Songgon akan berlangsung terus. Nah, besok aku akan berangkat ke Banyuwangi "

"Jangan! Kita angkat senjata saja!" teriak mereka berapi- api.

"Tidak ada gunanya!" jawab Ropo. "Kita tidak akan menang. Kematian demi kematian akan segera disusul kepunahan seluruh pribumi Blambangan. Akibatnya Blambangan akan menjadi milik orang lain kelak. Tapi jika kalian sekarang tidak punah, suatu ketika akan tiba masanya, anak-anak-cucu kalian bangkit kembali dan merebut negerinya yang sekarang dirampok bangsa lain."

Semua orang terdiam mendengar itu. Perkataan Rsi Ropo adalah ucapan dewa. Harus diiakan oleh setiap orang. Masih banyak lagi yang diuraikan oleh Rsi Ropo yang membuat mereka makin jelas pada duduk persoalannya. Baru zaman ini terjadi, di Blambangan, pengarahan pasukan yang dikarenakan wanita. Memperebutkan wanita. Walau mereka tahu cerita macam itu sudah ada dari zaman ke zaman. Tapi bukankah Tunggul Ametung dibunuh bukan karena perebutan wanita walau dia sendiri menculik Dedes dari orang-tuanya? Ametung dibunuh karena perebutan kekuasaan.

Mereka bubar setelah Rsi menuju ke pendapa, di mana Singa Manjuruh bersama tiga puluh orang Kompeni sudah menunggu. Terkesiap darah Rsi Ropo dan Ayu Tunjung. Tapi inilah kenyataan. Kenyataan harus dikunyah, pahit ataupun manis.

"Dirgahayu, Singa," Rsi menyapa. "Sudahkah kau bersua istri dan anakmu?"

Singa Manjuruh menjatuhkan diri. Ia menyembah pada kedua orang itu. Tidak berkata-kata. Tidak berani memandang wajah mereka. Seolah berhadapan dengan dua malaikat penyambung nyawa. Badannya gemetar. Karena itu Ayu Tunjung berkata lagi, "Istrimu sangat rindu. Lebih sepekan ia berusaha membebaskanmu. Kini ia di sini. Dan belum kuat berjalan menjemputmu. Ia masih sangat lemah.

Seharusnyalah kau menengok dia di biliknya."

Singa Manjuruh melirik pada Kompeni yang mengepung pertapaan itu. Rsi Ropo mengerti apa maknanya. Maka,

"Katakan pada mereka! Aku akan berangkat bersama mereka! Tapi aku minta izin mandi lebih dahulu. Jangan khawatir! Tidak ada pandita yang menipu. Setelah itu pergilah ke bilik istrimu."

"Hamba, Yang Tersuci," Singa Manjuruh menyembah.

Kemudian merangkak meninggalkan Rsi Ropo.

"Bukan kebiasaan kami begitu, Singa Manjuruh. Jangan merangkak seperti budak!" Ayu Tunjung mencegah. Kemudian keduanya bersiap mandi. Kehadiran Kompeni menarik perhatian anak-anak kecil.

Segera saja mereka berkerumun menonton. Makin lama makin banyak. Akhirnya berjubel. Hal itu tentu saja menarik perhatian para orangtua mereka. Ikut melongokkan kepala.

Kemudian dari satu bibir bersambung pada mulut lainnya. Segera tersiarlah kabar. Semua orang Songgon keluar. Mereka ingin tahu wajah para penjemput guru mereka. Orangnya tegap-tegap. Wajahnya mereka tegang. Berjalan mondar- mandir dengan senjata di tangan.

"Mereka akan menculik guru kita. Mas Ayu Tunjung," bisik seorang gadis pada temannya.

"Menculik? Guru kita?"

"Ya. Akan dibawa ke Banyuwangi!"

"Tidak!" tiba-tiba gadis yang diberitahu tadi berteriak. "Jangan bawa Mas Ayu Tunjung!" teriaknya menarik perhatian semua orang.

"Ada apa?" tanya lainnya.

"Mereka penculik! Mereka akan bawa guruku!" gadis itu menangis. Bahkan meraung-raung sambil bergulung-gulung di tanah.

"Mereka penculik?" anak-anak kecil lainnya juga bertanya. Dan kata-kata itu bersambung-sambung. Membuahkan tangis melolong-lolong di kalangan anak kecil. Seorang anak laki-laki memberanikan diri memungut batu. Kemudian melemparkannya ke rombongan Kompeni yang sedang berjaga-jaga. Satu batu disusul oleh batu lainnya. Satu anak disusul oleh beberapa orang anak. Teman-temannya ikut melakukan hal yang sama. Berteriak-teriak.

"Jangan bawa Mas Ayu! Jangan culik Mas Ayu!" bersaut- sautan suara mereka. Memancing orang-orang tua juga ikut melakukannya. Semakin banyak lemparan batu dan teriakan- teriakan menuduh, membuat mereka harus berlindung di balik tembok pagar pertapaan.

"Bandit! Pembunuh! Jangan jamah Mas Ayu." Beramai- ramai mengepung Kompeni yang makin ketakutan. Pemimpin rombongan melarang mereka menembak. Sebab mereka tahu hal itu akan membuat nyawa mereka melayang. Penduduk bisa melakukan perlawanan yang lebih menakutkan. Bukan menggunakan batu lagi tapi senjata yang mereka miliki.

Untunglah saat begitu Rsi Ropo dan Mas Ayu Tunjung segera keluar. Batu-batu segera berhenti demi mereka melihat Rsi berdiri di ambang gerbang pertapaan.

"Berhenti!" teriak Rsi. Dan semua menjadi tenang seketika. Pandangan Rsi tajam mengarah pada semua orang. Lalu Ayu Tunjung tampil dan berkata dengan keras,

"Dirgahayu!"

"Dirgahayu!!!" jawab semua orang, besar dan kecil serempak.

"Kami hendak pergi meninggalkan kalian. Bukan berarti kami berkhianat atas sumpah yang telah kami ucapkan pada kalian. Tapi kami tidak ingin melihat kalian menderita lebih lama lagi." Ayu Tunjung mempesona semua orang. "Kekalahan laskar Bayu telah dibayar dengan penangkapan semua anak-anak kita laki-laki dan perempuan, dan mereka bawa ke negeri asing untuk dijual dan dijadikan budak. Orang- orang dewasa yang tidak sempat melarikan diri, laki dan perempuan, ditangkap dan kepala mereka dipenggal serta mereka gantung di pohon-pohon, di tepi jalan-jalan raya.

Karena itu, relakanlah kami. Nah, selamat tinggal dan dirgahayulah kalian di Songgon! Hyang Maha Qiwa menyertai kalian!"

Wanita itu kemudian menuntun suaminya menuruni gerbang. Bagai laron kawula Songgon menyerbu. Semua menjatuhkan diri. Menangis dan menyembah. Anak-anak lari meratap di kaki Mas Ayu Tunjung. Sehingga wanita yang sudah mengenakan kain mori putih sebagai pembungkus tubuh bagian bawahnya itu sulit melangkah. Terpaksa Ayu Tunjung mengelus kepala mereka dan memberikan semangat, penghiburan, dan beberapa patah kata-kata. Pelan-pelan mereka dapat berjalan. Pelan sekali seperti rombongan semut. Ada beberapa anggota Kompeni yang melihat itu, dengan tidak sadar matanya menjadi basah. Di kiri-kanan jalan kawula Songgon berjajar menaburkan bunga. Mawar, melati, kantil, dan kenanga. Mereka lemparkan agar mengenai tubuh dua pemimpin mereka. Dan kala keduanya sudah lewat, bunga itu menjadi rebutan. Terutama yang terinjak oleh kaki kedua pemimpin itu. Mereka akan simpan kembang itu dan akan dijadikan pusaka atau jimat. Ratap tangis terdengar sepanjang jalan. Bahkan ada yang kurang puas dengan cuma menabur bunga. Tapi banyak yang kemudian melemparkan kain-kain, daun-daun kelapa, dan pisang, atau apa saja untuk melambari tanah yang akan dilewati oleh sang Rsi. Dan setelah sang Rsi dan istrinya lewat semua diambilnya. Mereka ciumi dan mereka ratapi. Sepanjang jalan menuju perbatasan desa penuh dengan kain-kain. Sutera dan mori. Bahkan ada juga permadani. Juga penuh . dengan orang, berjejal sambil berteriak-teriak, menangis. Tapi Rsi dan istrinya cuma tersenyum dan melambaikan tangan. Barisan sayu di belakang mereka. Kemudian para cantrik. Setelahnya Kompeni yang menuntun kuda-kuda mereka. Muka mereka banyak yang mengeluarkan darah karena terkena lemparan batu.

Di gerbang batas desa, Janaluka telah menyiapkan sebuah pedati dengan ditarik oleh dua ekor kerbau. Pedati yang juga dialasi oleh kain mori putih. Dinding sampingnya juga dihias oleh Janaluka dengan janur dan kembang. Di sini pun berjubel kawula Songgon yang ingin mengantar pemimpin mereka ke Banyuwangi.

"Jangan kalian ikut! Jangan kalian tangisi kami. Tapi pikirkanlah masa depan kalian. Pikirkanlah anak-anak, cucu kalian. Karena di tangan merekalah masa depan Blambangan! Meskipun aku tiada, aku akan tetap ada! Aku akan menyertai kalian." Rsi Ropo mengangkat tubuh istrinya ke atas pedati.

Dan kemudian ia sendiri naik. Namun sebelum pedati itu bergerak, seseorang berteriak-teriak keras sambil menyeruak dari gerumbul manusia yang berjubel itu.

"Yang Tersuci! Tunggu!" Singa Manjuruh berdiri di samping kanan pedati. Sebelah tangannya memegang bibir pedati.

"Ampunkan hamba, Yang Tersuci, Yang Mulia. Janganlah kiranya Yang Tersuci melanjutkan perjalanan ini. Biarlah leher hamba tergantung di Banyuwangi." Lelaki kurus itu menangis.

"Tak layak seorang brahmana ingkar janji, Singa Manjuruh.

Jangan seperti anak kecil! Aku rela bekerja apa saja demi keabadian. Bukan untuk keenakan pribadi. Jangan gundah! ku titip Songgon padamu. Ingat-ingat! Aku tak pernah mati. Dan tak akan pernah mati. Karena aku sudah mempersembahkan semua dan segala bagi tanah kelahiranku yang tercinta

ini "

"Yang Tersuci..."

"Juga bagi manusia dan kemanusiaan! Bagi hidup dan kehidupan! Nah, selamat tinggal! Dirgahayu bagi semua!" Pedati segera bergerak lamban. Lamban sekali. Lalu agak cepat, dalam iringan derai air mata dan ratap serta lolong. Jangankan manusia, anjing-anjing pun melolong-lolong. Makin jauh, dalam iringan pasukan berkuda. Para sayu dan cantrik masih saja berdiri dengan kedua tangan yang tertelakup di depan dada mereka. Menyembah. Dan tangisan yang tak terbendung. Laki-perempuan, besar-kecil, tua-muda, kanak- kanak dan kakek-nenek, semua meruntuhkan air matanya.

Bahkan seolah dalam mimpi, mereka tidak mampu bergeming dan beranjak. Bukan cuma beberapa bentar. Tapi beberapa lamanya. Sampai debu yang mengiringkan rombongan itu sudah lenyap pun mereka masih mematung di sana. Gelegar suara pohon tumbang membuat mereka terperangah. Apa yang mereka lihat ternyata bukan hanya mimpi. Kendati hati terkungkung dalam tanya, mengapa semua ini mesti terjadi?

***

Kenyataan yang dilihat oleh Schophoff dan Pieter Luzac, atau Juru Kunci serta Wiraguna sungguh amat mengejutkan. Dermaga sepi dari pengangkut barang kendati Singa Manjuruh sudah dikirimkan ke Songgon. Bahkan Rsi Ropo sekarang sudah berada di Banyuwangi. Demikian pula pekerja yang membangun loji. Padahal para tamu sudah mulai berdatangan. Para wedana atau demang dan seluruh bekel sudah harus berkumpul untuk menghadiri upacara peresmian Banyuwangi sebagai ibukota baru Blambangan. Dan secara resmi kini seluruh Blambangan cuma diperintah oleh seorang adipati. Adipati Wiraguna!

Jalan-jalan belum sepenuhnya rapi. Para pembersih tak menampakkan batang hidungnya. Kalau saja ada yang muncul, mereka tidak melakukan kegiatan apa-apa kecuali duduk-duduk. Wiraguna bertanya langsung pada para bekel, mengapa anak buah mereka tak muncul justru pada saat wisuda sudah kurang lima hari lagi. Tapi mereka juga tak tahu mengapa. Namun Wiraguna berusaha menahan diri. Ia sibuk menerima para pembesar dari manca negara.

Sementara itu Rsi Ropo di pesanggrahan bersama istrinya, sama sekali tidak menduga diperlakukan dengan amat ramah oleh Juru Kunci yang menyambutnya di batas kota. Namun pada sore harinya Rsi dimohon menghadap ke kadipaten sendiri. Mas Ayu Tunjung tidak diperkenankan ikut karena tatanan baru yang berlaku di Blambangan sekarang tidak memperkenankan wanita tampil di depan umum.

"Jagat Bathara! Bukankah aku beserta suamiku?" Ayu Tunjung tidak terima. "Ampun, Yang Mulia... Jika Yang Mulia ingin menyertai maka kami akan menyediakan kereta tertutup untuk Yang Mulia. Karena di Banyuwangi tidak boleh ada seorang putri berdandan seperti Yang Mulia ini. Lagi pula kami ingin membicarakan keadaan Blambangan yang makin tegang ini dengan Rsi. Cuma sebentar, Yang Mulia."

Tidak bisa tidak. Ayu melepas suaminya dengan ciuman. Ia tinggal di pesanggrahan itu dengan ditemani oleh para dayang. Di samping penjagaan Kompeni yang ketat. Tiap orang yang keluar atau masuk diperiksa dengan cermat. Dan ia berdoa, agar suaminya yang pergi bersama Juru Kunci itu tidak menemui suatu apa pun, yang mencelakakannya.

Tapi Rsi Ropo sudah menduga apa yang bakal terjadi. Langkahnya tetap. Tatapan matanya tidak pudar, kala ia melangkah memasuki pendapa kadipaten. Tidak seperti biasa, sekarang duduk di sana Schophoff yang sengaja datang dari Pangpang bersama Pieter Luzac, menemani Wiraguna. Satu kursi lagi disediakan buat Juru Kunci. Mereka berharap Rsi ngelesot di lantai. Namun itu tidak pernah dilakukan Rsi Ropo, kecuali di hadapan ayahnya, Wong Agung Wilis.

"Dirgahayu!" sapa Rsi Ropo sambil menatap tajam pada Wiraguna. Adipati itu berdebar. Apa yang ada di kepala Rsi Ropo, maka ia telah mengenakan pakaian puputan seperti ini? Busana serba putih dengan sumping kembang kamboja di telinga kanannya. Hampir ia tak mampu berkata-kata kalau Juru Kunci tidak menyembah, "Inilah Rsi Ropo dari Songgon, Yang Mulia."

"Oh, silakan duduk Rsi," katanya gugup.

Tapi Rsi Ropo tidak duduk.. Karena memang tidak disediakan tempat duduk. Sebagai jawabannya cuma senyuman. Sambil menajamkan mata. Dan Wiraguna makin gugup. Matanya mencari-cari pegangan. "Maafkan, eh, ampunkan kami, Yang Tersuci, tidak tersedia banyak tempat duduk di sini "

"Aku bukan Singa Manjuruh. Aku seorang rsi. Tak ada aturan seorang brahmana menyembah pada para satria."

"Itu dulu, Yang Tersuci. Tapi sekarang zaman sudah berubah. Demikian pula semua tatanan," Juru Kunci yang memulai. Dendamnya mulai membara lagi. Bukankah orang ini yang membuat ayahnya harus mati ketakutan?

"Zaman boleh berubah. Tapi jatidiri tidak boleh beranjak.

Dan kalau itu dipaksakan, maka aku akan pergi sekarang. Kalian mengundang aku untuk berunding. Bukan untuk menyembah." Orang muda yang berpakaian jubah putih dengan kalung emas dengan medali bergambar bunga teratai sebesar telapak tangan itu membalikkan tubuhnya. Tidak menghormat pada siapa pun. Kendati ada seorang residen di samping Adipati.

"Keras kepala!" Schophoff membentak. "Jangan teruskan melangkah! Supaya para pengawal istana ini tidak membunuhmu seperti membunuh anjing kurap!"

"Tunggu kau, penculik istriku!" Wiraguna pun memberanikan diri. Dan kata-katanya itulah yang memberhentikan langkah Rsi Ropo. Orang itu berbalik. Dan dengan berdiri tegak, kaku, serta mata seperti mata rajawali ia menuding muka Wiraguna.

"Kau yang berkata tadi?" Rahang Rsi Ropo menegang. "Mengapa berani kauucapkan pertanyaan yang seharusnya diperuntukkan bagimu itu? Aha... barangkali kau sudah mulai kehilangan rasa malu sehingga kau sudah sama seperti para perampok bule yang ada di sampingmu itu!" Rsi tertawa.

Kumisnya yang kecil melintang itu tertarik ke atas sesuai o!engan gerakan bibirnya.

"Diam!" Pieter Luzac berdiri. Badannya menggigil. "Kami yang menyelamatkan Blambangan dari keruntuhan. Kami membangun Blambangan! Bukan kamu! Kamu cuma pintar omong!"

Mata Rsi Ropo tidak berpindah. Cuma lirikan kecil saja yang memperhatikan gerakan Pieter. Wiraguna makin tak berani memandangnya.

"Jika dunia percaya pada kalian, tentulah karena yang kini berkuasa di seluruh muka bumi adalah kaum drubiksa laknat!"

"Kurang ajar!" Pieter hampir kehabisan sabar. Matanya menyala.

"Kawula Blambangan belum sedungu yang kaukira sehingga dapat percaya begitu saja terhadap keteranganmu! Apa yang mereka lakukan semua ini karena terpaksa. Bukan karena percaya, an, bagaimana mereka bisa percaya pada kalian? Untuk menaikkan Mas Ngalit ke atas tahta, kalian telah memancung hampir tiga puluh lima ribu sisa orang Blambangan yang telah meletakkan senjata. Bahkan sebahagian besar wanita dan orang-orang tua, yang tidak berdaya. Kemudian kepala mereka kalian gantung di mana- mana? Ha... ha... ha... itukah yang beradab? Manusia terhormat dari negeri mulia? Ha... ha... ha..." Rsi Ropo melecehkan.

"Bangsat! Jangan salahkan anak-anak yang membalas kejahatan pasukan Wilis yang lebih dahulu membunuh teman- teman kami! Perwira-perwira kami. Bukankah kami penjaga keamanan Blambangan?"

"Sebenarnyalah, apa yang aku lihat sebelumnya, kawula lebih tenang dengan tanpa kalian hadir di Blambangan."

"Baik. Kau boleh berkata apa saja. Tapi tidakkah kaulihat sekarang, dermaga telah kami bangun menjadi lebih luas, juga kota ini menjadi lebih indah? Rumah dan jalan-jalan menjadi lebih teratur?" Juru Kunci ikut nimbrung. Walau hatinya diam- diam kagum terhadap keberanian sang Rsi yang masih muda itu. "Zaman Yang Mulia Wong Agung Wilis memang tak ada loji-loji yang berderet rapi seperti saat ini. Tapi bolehkah aku sedikit memperbandingkan? Atau aku mau bertanya pada kau!" Telunjuknya menuding hidung Wiraguna. "Berapa utang Blambangan? Enam puluh ribu ringgit? Berapa lagi ribanya?

Nah, itukah yang menyebabkan semua tatanan harus berubah? Sehingga dulu tak pernah ada pemungutan cukai jalan untuk pedati kawula yang mengangkut hasil bumi ke lumbungnya, sekarang menjadi ada. Bahkan semua ternak, semua pohon yang mengeluarkan buah ditarik pajak. Nah, aku bersyukur sekarang, dapat bersemuka dengan perampas." Kembali Rsi Ropo tersenyum. Menyakitkan. "Ambillah! Ini memang makna kekuasaan yang sebenarnya. Memaksa dan merampas!"

"Keterlaluan!" Schophoff mendidih.

"Siapa yang keterlaluan? Orang yang membuat bayi-bayi dalam kandungan pun berutang, atau 'yang mengajarkan kebenaran." Kini Rsi memandang residen itu. Dan melangkah pelan-pelan. Tak urung hati Schophoff jadi berdesir.

Ingatannya melayang pada kejadian satu tahun silam.

"Kau tidak menghargai jasa seorang pembangun," Pieter masih berkata. Namun dipotong oleh Rsi Ropo,

"Membangun jalan-jalan untuk memperlancar pengangkutan kekayaan negeri kami ke negara asing? Untuk memperlancar pedati-pedati kalian yang merampok itu?

Kereta-kereta berkuda yang juga milik kalian? Ha... ha... ha... semua pembangunan di sini tidak pernah diperuntukkan bagi kawula. Tapi untuk kalian!"

"Untuk bersama!" bentak Pieter. Dan kini Rsi menajamkan mata padanya.

"Tidak! Untuk kepentingan kalian semata!" Rsi dingin. "Penghasut! Pemecah-belah! Kau wajib disingkirkan dari..." "Itu memang jalan keluar terbaik! Tiap putra terbaik negeri ini akan disembelih! Sebab jika tidak ia akan berseru-seru membangunkan kawula yang sedang tertindas ini!" Rsi Ropo tetap tersenyum. Sampai Pieter Luzac memberi aba-aba pada para pengawal menyeret Rsi keluar. Tapi Rsi tidak berlutut.

Juga tidak taku,t.

"Kami akan mengampunimu, jika kau mau memohon ampun," Wiraguna ragu.

"Aku seorang brahmana. Aku belum pernah takut pada kematian! Dan ingat-ingat. Kau akan menyesal! Kau akan menyesal!"

"Tiang gantungan menunggumu!" Schophoff menakut- nakuti.

Ropo tersenyum. Tapi matanya menyala tajam.

Juru Kunci menjadi takut. Belum pernah ia melihat orang setegar itu.

"Jayalah Blambangan! Dirgahayu Wong Agung Wilis!!" Rsi Ropo berteriak, sebelum keluar dari ruangan. Beberapa orang telah membelenggunya.; Kemudian menutup mukanya dengan kain.

Mendengar nama Wong Agung Wilis disebut lagi, Wiraguna menggeragap. Keringat dingin mengucur dari seluruh tubuhnya. Sebuah nama yang mampu menjadi sumber kekuatan bagi setiap lelaki dan wanita Blambangan. Semua pembesar itu menjadi pucat. Maka Pieter Luzac memerintahkan pada seorang pengawal supaya memberitahu komandan benteng, agar penggantungan Rsi Ropo dilakukan di pantai nanti malam. Dan agar hal itu sangat dirahasiakan.

Sepeninggalan pengawal itu, pendapa menjadi hening.

Senja pun mulai turun. Pesta sudah dimulai. Para tamu sudah berdatangan. Tapi Wiraguna masih termenung. "Jangan pikirkan lagi pengkhianat itu, Yang Mulia," Pieter Luzac menenangkan hati Wiraguna. "Ia akan menerima ganjaran atas semua ulahnya. Pikirkanlah sekarang bagaimana caranya memberi kebahagiaan pada Garwa Padmi." Bibir Pieter tersenyum di sela kumis dan jenggot yang mulai tumbuh. Tidak seperti Schophoff yang suka * mencukur jenggot dan kumis sesudah perang usai. Kini Schophoff pun terbangun dari lamunannya. Terbahak-bahak. Juru Kunci ingat sesumbar Ayu Tunjung. Bahwa Wiraguna lelaki yang cuma berani berlindung di balik pinggul kakaknya. Maka ia mencoba menjajagi hati pimpinannya.

"Tidakkah Yang Mulia ingin menjumpai garwa padmi malam ini?" pancingnya.

"Ingin, tapi kenangan ini amat mengerikan. Hamba takut," bisik Wiraguna.

"Apa yang ditakutkan? Malam ini para penari akan mulai menari di alun-alun. Lampu-lampu akan segera dinyalakan orang."

"Aku takut Rsi Ropo tidak bisa mati. Dan datang ke sini" "Itu tidak mungkin, Yang Mulia. Sebaiknya sekarang kita

lupakan orang itu."

Memang malam itu adalah awal pesta bagi peresmian ibukota baru. Semua kesenian sudah didatangkan. Di alun- alun juga sudah dipersiapkan tempat tayup. Walau belum semua undangan tiba. Baru dari Sidayu dan Madura serta Probolinggo. Sedang Surabaya dan Pasuruan serta para pembesar termasuk Gubernur belum memasuki pendapa.

Meskipun begitu, kala malam mulai turun orang-orang sudah mulai memadati tempat-tempat hiburan. Terutama di alun-alun. Kesempatan begitu juga dipergunakan oleh para penjudi untuk membuka arena dadu, atau main kartu Cina. Dan memang penduduk Banyuwangi yang selama ini bekerja membabat hutan, kuli dermaga, pekatik, petani, dan lain-lain sudah sangat haus hiburan. Maka tak mengherankan jika semua tempat hiburan makin padat.

Justru di saat seperti itu, kedai minuman makin ramai. Pasukan pengawal yang iri melihat para pemimpin mereka mendapat kesempatan minum di kadipaten, melampiaskan perasaannya di kedai-kedai. Bermabuk-mabukan. Dan semakin malam semakin panas. Lebih dari itu, semakin banyak pasukan pendudukan, dengan tanpa disadari oleh semua orang, jumlah wanita penghibur semakin bertambah terus.

Dan bila ditanya apa penyebab makin banyaknya sundal di Blambangan atau di seluruh muka bumi ini, pastilah tidak ada yang berani mengatakan dengan tepat penyebabnya. Tapi yang jelas sebagian besar dikarenakan pengaturan tata kehidupan yang memberikan warna kemajemukan, dan melahirkan perbedaan kaya dan miskin yang amat menyolok. Kelobaan si kaya yang memaksakan ketergantungan makhluk- makhluk miskin. Dalam ketergantungan tercipta persundalan.

Dalam hiruk-pikuknya pesta-pora, Pieter Luzac memerintahkan sepuluh orang terpilih untuk menggiring Rsi Ropo ke tempat yang telah dipersiapkan. Di sebelah utara dermaga. Ia sama sekali tidak percaya Rsi Ropo mampu meluputkan diri dari tali gantungan. Schophoff sendiri ingin menyaksikan penggantungan itu, kendati hatinya keder.

Namun karena Mas Ayu Arinten telah hadir, maka ia memilih untuk menemani wanita itu, malam ini.

Pieter Luzac benar-benar tidak habis mengerti. Kendati kematian sudah di ambang pintu, Rsi Ropo tetap berjalan tegar. Ia tidak mau ditutup matanya. Senyum tetap tersungging di bibirnya. Mungkin saja orang ini menghibur atau membera-ni-beranikan diri. Mana ada orang tidak takut mati? Yang membuat Pieter ingin segera membungkam mulut Rsi Ropo, ialah sepanjang jalan orang itu selalu meneriakkan semboyan, "Jayalah Blambangan! Dirgahayu Wong Agung Wilis!" Dan itu tidak berhenti sampai di pantai. Walau berulang kali disuruh berhenti dan dibentak. Dan teriakan itu pula yang membuat bayangan hitam berkelebat, menyelinap dari satu persembunyian ke persembunyian lainnya, bagai rombongan hantu mengikuti ke mana rombongan itu pergi. Pieter Luzac tidak mengetahui hal itu. Ia pikir semua orang terseret arus hiruk-pikuknya orang berpesta-pora.

Sampai di tempat ia langsung memerintahkan agar Rsi dinaikkan ke atas sebuah kereta berkuda. Tali sudah tersedia di antara dua tiang yang rupanya didirikan buru-buru sore tadi dan atasnya dihubungkan dengan sebuah kayu kokoh sebesar paha melintang. Tanpa banyak cingcong kepala Rsi dimasukkan ke dalam lingkaran tali.

"Tidak kau ikat tanganku?" tanya Rsi pada algojo disampingnya. Algojo itu bertugas mencambuk kuda jika aba- aba sudah diucapkan oleh Pieter Luzac. Dan untuk kesekian kali algojo menjadi gugup. Selama ia menjalankan tugas penggantungan belum pernah menjumpai yang seperti ini.

Namun sebelum ia menjawab terdengar Pieter Luzac bertanya pada Rsi Ropo,

"Masih ada kesempatan bagimu, Ropo. Mintalah pengampunan."

"Persetan dengan ocehanmu! Jayalah Blambangan!

Dirgahayu, Wong Agung Wilis! Demi Hyang Maha Ciwa, aku tidak akan pernah minta ampun!" teriak Rsi Ropo.

"Baik!" Suara Pieter agak bergetar. "Satu!" Diam beberapa bentar. "Dua..." Pieter menunggu lagi beberapa bentar.

Kemudian dia mengokang bedilnya, dan... dor! Pieter Luzac tak sadar bagaimana mulainya, tahu-tahu ia terjerembap. Dada kirinya seperti dihantam benda keras. Laras bedilnya tak terarah ke dada Rsi Ropo. Dan di bawah remang sinar rembulan ia melihat kereta bergerak. Dan kuda berlari cepat tapi Rsi Ropo tetap berdiri di atasnya. Rentetan tembakan terdengar lagi. Tapi bukan Ropo yang rubuh. Justru para pengawalnya berjatuhan. Ia berusaha bangkit. Tapi tenaganya hilang. Bahu kirinya nyeri dan basah. Sebagai perwira ia segera sadar. Maka ia merapatkan diri ke tanah.

Ternyata Harya Lindu Segara bertindak cepat. Beberapa anak buahnya menyusup ke kota bagai serigala mencari mangsa. Merunduk dalam kegelapan. Mengintai. Kemudian bertindak. Sebelum aba-aba ketiga berbunyi, sebutir peluru menghantam Pieter dan sebuah pisau tertancap di punggung salah seorang algojo yang berdiri terdekat dengan Rsi Ropo. Dan sebilah pedang berkelebat memotong tali di atas kepala Rsi, sehingga putus, bertepatan dengan gerak terkejut dari kuda penarik kereta. Tentu Ropo tak sempat membuang tali di lehernya. Ia biarkan melingkar. Sebab ia ingin memburu waktu untuk mengambil istrinya.

Bersamaan dengan itu suasana perjamuan makin riuh. Wiraguna memang mampu melupakan kejadian tadi sore. Entah berapa cawan yang ia teguk. Juru Kunci memang pintar. Tanpa sesadarnya telah minum ramuan obat yang biasa diminum oleh Juru Kunci. Tak ayal, bayang-bayang Sri Tanjung menggodanya. Maka ia berbisik pada Juru Kunci agar melanjutkan pertemuannya dengan para tamu. "Hamba ingin menengok Garwa Padmi, Yang Mulia."

"Ingat-ingat pesan Tuan Schophoff. Jangan lupa, bawa keris Raden Harjuna itu, agar Yang Mulia Garwa Padmi hemh..."

"Ya, ya, terima kasih." Wiraguna membetulkan letak keris pemberian Schophoff. Ternyata semua orang memperhatikanku, pikirnya. Beberapa bentar kemudian menyelinap ke tempat keretanya mangkal. Kereta itu disiapkan untuk mengantar tamu-tamu ke pesanggrahan yang disiapkan.

Tanpa banyak omong, kusir segera menggerakkan kereta berkuda itu ke arah pantai. Tidak terlalu jauh. Kemudian berhenti di depan sebuah gedung besar yang dilingkari pekarangan luas. Dan ia langsung menuju taman. Karena ia merasa pasti, Sri Tanjung ada di situ. Beberapa pengawal segera menyingkir ke gerbang. Mereka takut mengganggu. Namun oleh Juru Kunci mereka dilarang meninggalkan tempat kecuali waktu gilir jaga.

Dugaan Wiraguna memang tepat. Mas Ayu Tunjung yang dia juluki Sri Tanjung itu memang sedang resah berjalan-jalan di seputar kolam. Sebentar-sebentar ia perhatikan bunga teratai putih yang terayun-ayun karena silir angin. Sejak siang, dia menanti kehadiran suaminya yang diundang ke istana.

Begitu banyak dayang yang disediakan untuk melayaninya. Namun tak sepatah pun ia menjawab setiap perkataan, apalagi permintaan mereka. Pakaian dan kemben yang dipersembahkan padanya dilempar ke tanah. Padahal kemben berenda emas. Mahal. Semua wanita pasti mengingini. Kain parang sidamukti, batik dari Mataram juga dilempar jauh-jauh. Batik termahal di Mataram. Semua dayang berbisik satu dengan lain, ternyata wanita paling cantik dalam abad ini di Blambangan itu seorang pemberang.

Setiap kali Ayu Tunjung melempar pandang ke pintu taman itu. Kalau-kalau suaminya sudah kembali. Tapi setiap kali ia melakukannya, setiap kali debar jantungnya mengencang. Ada apa dengan suaminda? Lolong anjing berulang terdengar di luar pagar. Bersaut-sautan. Namun membaur dengan gelak tawa para pemabuk di pesta peresmian kota itu. Para dayang menghentikan penuturan mereka. Karena Ayu tidak suka memandang mereka.

Tiba-tiba ia memekik perlahan. Dari kejauhan telinganya menangkap suara letusan. Tentu bukan sekadar petasan. Dan beberapa bentar kemudian disusul oleh beberapa letusan lagi. Tanpa sadar ia mengucapkan doa. Para dayang yang bukan orang Blambangan itu tak mengerti makna kata-katanya.

Seribu tanya bermunculan dalam tiap sudut hatinya. Selamatkah dia? Perhatiannya tercurah pada suami yang tidak ia ketahui nasibnya itu, membuat pengamatannya jadi kurang peka. Terbukti dengan ketidaktahuannya akan kehadiran Wiraguna di belakangnya. Cukup lama lelaki itu mengamati tiap lekuk punggungnya. Sementara para dayang bergeser menjauh pelan-pelan, sambil berbisik-bisik satu dengan lainnya.

"Makanya, tak mau mengenakan kemben. Memang sengaja disediakan pada Raden Tumenggung. Biar mudah "

"Sstts, jangan begitu. Kau tak lihat mukanya yang bermendung itu? Kau juga tidak lihat suaminya yang ganteng tadi sore barangkali."

"Buat apa tampan kalau miskin? Raden Tumenggung itu? Hemh, kurang apa? Tampan, kaya, berkuasa. Siapa yang tak ingin diperistri-kannya? Dia bermuram kan karena ada kita. Coba kita intip. Ia pasti akan meringkik-ringkik seperti kuda betina."

"Hus " Kemudian mereka bersama-sama bersepakat

mengintip di tempat tersembunyi.

Wiraguna sendiri sukar memulai pembicaraan. Tapi aneh.

Birahinya begitu tinggi. Mengentak-entak tanpa dapat ditahan. Maka entah keberanian dari mana yang membuatnya melangkah maju dan mencoba meraba pundak mulus di bawah sinar rembulan itu. Namun sebelum langkahnya dekat* benar, ia menginjak sebuah ranting kering. Gemertak suaranya mengejutkan Ayu Tunjung. Dilihatnya ada lelaki berbusana tidak seperti suaminya. Matanya-yang terlatih dalam gelap segera mengenal lelaki yang berdiri di hadapannya.

"Wiraguna?" ia terpekik perlahan. .

"Sri Tanjung... mari " Napas Wiraguna memburu

menahan nafsu. Ia mendekat. Dan berusaha memeluk sang putri. Namun tiba-tiba wajahnya terasa panas. Telapak tangan Ayu Tunjung bergerak cepat: plakk! "Sri Tanjung!" Wiraguna terkejut. Ia pegangi pipinya. "Tidak ada istri yang segalak kau, Manis."

"Sejak kapan kau belajar berani seperti ini. Atau memang demikian pendidikan adiluhung dari tatanan baru di Blambangan? Berpura-pura ramah, santun, namun kurang ajar pada istri orang? Sungguh hebat nilai adiluhung yang kauciptakan itu!"

Gugup juga Wiraguna mendengar itu. Apalagi Tunjung lebih mundur lagi. Tapi keinginannya menyunting perempuan ini sudah tak tercegah lagi. .

"Tak pantas seorang istri berkata seperti itu pada suaminya."

"Hyang Dewa Ratu! Sejak kapan kau menjadi suamiku?".

Tunjung gemetar menahan marah. "Tidakkah kau sadar bahwa seorang satria Blambangan tidak akan pernah bersatu dengan penjual negara dan bangsa, seperti dirimu. Kau pengkhianat yang bertopeng santun, dan murah hati. Tapi kau tak pernah menyesal apalagi bertindak untuk melindungi

putra-putra Blambangan yang diperbudak, dan dipersundalkan! Tidak, karena kau sendiri suka mempersundalkan orang lain! Jika suamiku memang telah kalian bunuh, maka sekarang kau harus membiarkan aku pergi." Ayu Tunjung melangkah. Tapi Wiraguna nekat.

Mencegat dan berusaha memeluk Ayu Tunjung.

"Sri Tanjung! Semua permintaanmu akan kukabulkan. Asal mau jadi istriku. Sungguh! Sung..." Kepalan Ayu Tunjung menghentikan kata-katanya. Keras sekali. Mulutnya mengeluarkan darah. Kini Ayu Tunjung berkacak-pinggang.

Diterpa sinar purnama wajahnya kian gilang-gemilang. Sekalipun tanpa senyum. Matanya memantulkan cahaya rembulan. Ia membetulkan letak sumping kembang kemboja di kupingnya, kemudian kembali berkacak-pinggang.

Sementara Wiraguna memandangnya dengan napas yang kian memburu. Matanya nanar. Kain mori putih bikinan India menutup ketat bagian bawah tubuh Mas Ayu dan naik ke atas menutup sebelah dari susunya. Sebuah susunya tetap terbuka dengan putik tertutup kembang emas bertatahkan bebatuan. Tentu amat mahal. Pending di bawah pusar juga bertatahkan manikam. Gila. Namun pusar itu yang membuat air liur Wiraguna naik-turun.

"Sri Tanjung..." Wiraguna setengah sadar. Bergerak maju.

Walau bibirnya menebal. Namun pengaruh arak dan obat- obatan dari Juru Kunci telah membuatnya seolah tak merasa sakit. Keringat membasahi tubuhnya. Itu sebabnya ia melepas baju kebesaran yang tebal itu dan melemparkannya ke atas batu. Sementara itu para pengintip saling berbisik lagi,

"Sudah... mulai. Coba ingin lihat aku, menyerah tidak," bisik salah seorang sambil senyum-senyum. Namun belum lagi habis kata-katanya, mereka melihat Wiraguna berteriak kesakitan sambil memegang perut. Tinju Ayu Tunjung yang membuatnya.

"Kauizinkan aku keluar, atau aku akan memaksa." Wanita muda itu melangkah tenang ke pintu taman. Tapi Wiraguna cepat-cepat bangun dan mengejar.

"Sri Tanjung, Sri Tanjung, jangan..." Sebuah lompatan membuat ia merangkul tubuh wanita itu dari belakang.

Keduanya bergulingan ke tanah. Ayu Tunjung kaget bercampur marah. Ia berusaha melepaskan diri. Namun tubuh Wiraguna seakan melekat erat.

"Jangan jamah aku! Biadab!" Namun pelukan kian erat.

Bahkan kini Wiraguna sudah menciumi punggungnya. Tengkuknya. Ayu Tunjung teringat sumpah kala ia merelakan diri dinikahi oleh Rsi Ropo, bahwa ia akan melakukan Gawala Brahmacarya.(melakukan perkawinan Cuma sekali dalam hidup, sekalipun suaminya mati, itu dianggap suatu godaan dan cobaan hidup yang patut diatasi lahir batin. Meniadakan kepentingan pribadi dengan mengabdi pada Ketuhanan dan Kemasyarakatan)) Karena itu ia meronta. Lebih kuat. Bergulingan lagi. Mendekati kolam dan makin dekat. Ayu Tunjung putus asa. Dia merasa harus mempertahankan kesucian. Dan tiba-tiba ia ingat. Di bawah kainnya ia menyimpan sebuah cundrik. Dan ia berusaha mengambil. Dan berhasil. Tapi kini tanpa terkendali, tubuhnya terjerembap ke kolam. Wiraguna sempat mengangkat rerumputan dan melepaskan pelukannya. Justru saat Ayu Tunjung berusaha menusuk tangannya dengan sekuat tenaga. Maka tanpa terkendali tangan itu tak dapat diberhentikan dan cundrik menusuk lambungnya sendiri seirama dengan dorongan kejatuhannya ke kolam.

"Sri Tanjung!" Wiraguna berteriak. Ia tahu kolam itu cukup dalam. Sebab kolam itu juga merupakan semacam kedung dari kali kecil yang mengalir di tengah kota. Sampai beberapa lama ia memanggil-manggil. Tapi Sri Tanjung tidak kunjung muncul.

Panik. Takut. Birahi. Semua rasa menyatu. Pandangannya gelap. Kembali ia memanggil-manggil. Cuma rangkaian bunga yang tadi terkalung di leher Ayu Tunjung nampak terapung- apung. Dan sebelum lenyap terbawa arus Wiraguna sempat memungutnya. Diciumnya kembang-kembang yang terangkai itu. Wangi. "Sri Tanjung! Sri Tanjung!" ia berteriak. Berulang. Dan tiba-tiba saja para dayang melihat ia terhuyung.

Kemudian jatuh. Bersama mereka menyerbu dan menolong. Dengan berat mereka membawa Wiraguna ke kereta. Berlari.

Sementara itu secara tiba-tiba bunyi tembakan membuat beberapa pengawal bergulingan, bersama datangnya sebuah kereta. Ropo melompat turun. Kain putihnya berkibar-kibar. Lindu Segara mengikutinya dari belakang. Masuk taman.

"Istriku?" ia memanggil sambil bergesa. Tanpa jawab.

Seorang dayang gemetar sambil menunjuk kolam. Kembang berhamburan terapung-apung. "Tunjung! Tunjung!" Ropo yang telah kembali jadi Sratdadi itu melompat ke dalam kolam. Menyelam. Lindu Segara juga. Beberapa bentar. Muncul kembali. Mas Ayu Tunjung dalam gendongan. Cundrik tertancap di perutnya. Darah masih mengalir. "Tunjung!" Sratdadi, pangeran Blambangan itu, dibantu Lindu Segara naik. Beberapa bentar pandangannya nanar. Dengan mulut terkatup ia angkat tubuh istrinya. Perlahan ia berjalan menuju pintu. Di bawah pandangan mata para dayang. Dan iringan Harya Lindu Segara.

Di gerbang ia berhenti. Menoleh ke rumah besar itu. Dan beberapa bentar kemudian ia berkata perlahan,

"Aku seorang pangeran kini! Lindu Segara, aku juga seorang bajak laut. Karena itu perintahkan anak buahmu, bakar rumah ini!"

Dan tak lama kemudian api menjalar ke bubungan rumah itu. Tak seorang mampu menolong. Para bajak laut berjalan meninggalkan tempat itu. Sratdadi dengan tali gantungan yang terkalung di lehernya, terus berjalan dengan langkah mantap ke pantai. Ia bersumpah, "Dengan cundrik ini pula akan kubunuh Wiraguna!" Terus ia gendong mayat istrinya. Bersama Lindu Segara ia menuju perahunya. Tak ia perhatikan hiruk-pikuk. Lindu Segara memerintahkan anak buahnya membongkar sauh, dan mendorong jungnya ke tengah.

Menjauhi kota Banyuwangi...

(Sembilan tahun kemudian, Wiraguna terbunuh ketika naik kapal layar menuju Batavia didaerah Rembang. Karena kapalnya dibajak di antara Tuban dan Rembang. Siapa pelaku pembunuhannya? Tidak jelas, tapi itulah, yang tercatat dalam babad Blambangan.)

0ooDewioKZoo0

TAMAT