Banyuwangi Bab 5 : Raden Tumenggung Wiraguna

 
Bab 5 : Raden Tumenggung Wiraguna

Hujan sudah tidak lagi mengguyur bumi Jawa bagian timur kala Gubernur Van de Burgh menurunkan perintah pada tiap adipati agar membantu Mas Ngalit dengan mengirimkan orang-orangnya untuk mau pindah ke Blambangan guna mengisi kekosongan wilayah Blambangan itu. Tentu saja para adipati tidak keberatan. Karena memang ada beberapa orang dari anggota masyarakat yang sepatutnya dibuang dari lingkungannya. Kata yang lebih halus dari itu adalah orang- orang nakal.

Mereka yang di desanya dianggap suka mengambil milik orang lain. Atau membuat ketidaksenangan bagi orang lain. Atau tidak suka membayar pajak sawah. Pokoknya, jika perlu semua orang yang disisihkan dari lingkungannya. Termasuk para wanita yang datang, baris demi baris, kelompok demi kelompok, gelombang demi gelombang ke Blambangan itu. Di desanya dianggap suka mengambil suami orang, mengganggu suami orang, atau dianggap suka menjerat anak-anak muda yang dianggap baik-baik dan sopan. Benarkah demikian?

Setidaknya demikian penilaian para adipati saat itu. Mereka sama sekali tidak pernah melihat kebenarannya. Atau sebab suatu kejadian. Mereka hanya mau apabila ada wanita cantik yang dijadikan selir atau istri simpanan, baik olehnya sendiri atau anak-anaknya, atau barangkali punggawanya, tidak mengumumkan diri. Dan berbuat seolah tidak ada apa-apa. Sehingga nama sang Adipati tidak tercemar. Jika sampai ada orang tahu, maka ia harus diasingkan dari masyarakat.

Blambangan jadi tempatnya yang baru!

Penilaian memang bisa bolak-balik. Penyebab kenakalan itu tidak pernah dihukum. Jangankan dihukum. Disalahkan pun tidak! Sedang sang korban menjadi sasaran dakwaan.

Nakalkah!? Binalkah?! Atau lontekah?! Macam-macam lagi! Korban! Korban kebijakan dari suatu tatanan dalam kehidupan. Dan mereka adalah manusia yang tak mampu menolak. Apalagi membela diri. Dan musnahlah suatu jatidiri. Itu mereka hidup terombang-ambing dalam kebijakan orang lain yang disebut penguasa.

Keputusan lain adalah perintah yang ditujukan pada Pieter Luzac, asisten residen Blambangan agar menghentikan kebijakan yang menyakitkan kawula Blambangan dengan mengharuskan semua punggawa menjadi Islam. Juga istri-istri mereka. Karena dianggap bahwa kebijakan yang tidak bersahabat itu melahirkan perang yang terus merugikan keuangan VOC. Demikian pula pada Mas Ngalit agar benar- benar bisa menahan diri, untuk tidak menekan kawula Blambangap meninggalkan agamanya yang lama, Hindu.

Kepada Schophoff diperintahkan mengawasi pelaksanaan perintah itu. Kebijaksanaan yang lebih lunak harus diterapkan di Blambangan agar orang-orang kafir (Orang-orang Blambangan dijuluki kafir karena tidak mau memeluk agama Islam) itu tidak berontak.

Lain dari itu, surat penghargaan kepada Mas Ngalit juga sudah diturunkan. Gubernur Jenderal di Batavia sangat menghargai jasa Mas Ngalit itu. Terutama dalam membangun ibukota baru yang lebih sehat dari yang terdahulu. Walau pembangunan itu masih belum selesai sepenuhnya, namun para penghuni baru telah berdatangan. Loji-loji bagi orang- orang Belanda sudah hampir semua rampung. Bangsa-bangsa asing, Arab, India, dan Cina juga senang bermukim di kota baru itu. Karenanya Mas Ngalit dianugerahi gelar Raden Tumenggung Wiraguna. Sedang nama kota Sumberwangi akan diganti sesuai dengan usul Mas Ngalit, menjadi Banyuwangi. Karena menurut Juru Kunci dan Mas Ngalit kota itu amat subur, dan daerah itu pasti akan membawa keharuman bagi seluruh Blambangan karena kesuburannya.

Dan memang tak terbantah. Pendatang yang datang terdahulu, dan mengerjakan tanahnya dengan sungguh- sungguh, telah memetik hasilnya. Panen mereka dua kali lipat dari saat mereka tinggal di daerah Mataram. Para bekel, para pamong desa, dan semua punggawa segera diberitahu bahwa berkenaan dengan penghargaan dari Tuan Besar Gubernur Jenderal VOC akan diadakan upacara dan pesta. Juru Kunci mendapat tugas untuk mempersiapkan semuanya. Semua pemuka akan diundang. Pengumuman segera disebar. Peresmian kota Banyuwangi akan segera diadakan. Pembangunan sebentar lagi selesai.

Di tiap-tiap perkampungan yang penuh dengan pendatang itu juga diadakan pesta pora. Umbul-umbul warna-warni menghias kota. Hiasan yang terbuat dari janur dan bambu dipasang di segala penjuru kota. Penari-penari juga sudah dipesan. Juga kesenian dari para pendatang. Kuda kepang dari daerah Tulung Agung, doger dari pinggir kali Madiun, tibaan, samroh, dan banyak macam lagi yang dulunya tidak pernah ada di Blambangan.

Untuk menarik para pribumi maka Juru Kunci sengaja memerintahkan perempuan-perempuan pendatang untuk bergaul dan memikat hati pemuda-pemuda Blambangan. Mereka tentu orang-orang yang sudah terlatih untuk itu. Demikian halnya dengan lelaki yang masih teruna dan berwajah lumayan, diperintahkan merayu para perempuan pribumi agar nantinya bisa menjadi istri mereka. Juru Kunci berpendapat, bahwa mereka tidak bisa dipaksa. Tapi ia tahu bahwa cinta akan mengalahkan segala-gala.

Akal Juru Kunci membuahkan hasil setelah beberapa lama.

Seperti Ni Repi, seorang janda yang tinggal di desa Sempu mulai berbunga-bunga setelah ia berkenalan dengan Pamardi, seorang blantik kuda. Memang tidak sekaya dan setampan Bogzen, suaminya yang tewas diterjang peluru Kompeni. Tapi tak apa, siapa tahu pemuda ini kelak bisa jadi sandaran di masa tua.

"Kapan kita menikah?" tanya Pamardi yang mulai belajar bahasa Blambangan itu. "Kapan saja Kakak suka." Ni Repi tersenyum.

Kecantikannya belum pernah pudar. Nalurinya sebagai penari membuat ia selalu memelihara tubuh baik-baik. Pamardi yang sudah lama terpisah dari istrinya di Mataram memang terpikat oleh paras Ni Repi. Ia tak sayang membelikan kalung dan gelang saat ia menyatakan cintanya. Inginnya hati memeluk wanita itu dan membopongnya ke tempat tidur. Tapi Repi selalu menolaknya. Ia menghendaki dinikahi terlebih dahulu. Bozgen yang mendidiknya seperti itu.

Berbeda dengan pengalaman Repi, maka Ke-bhi tidak mendapat kenalan seorang pendatang dari daerah Mataram. Tapi seorang pedagang kain, perhiasan, dan juga suka meminjamkan uang. Orang itu berumur hampir lima puluh tahun. Kulitnya hitam, hidungnya mancung seperti paruh burung betet. Matanya bulat agak lebar, bulu mata lentik dan sengaja diberi celak (eye shadow) hitam. Dan pefkenalan mereka berawal dari seringnya Abdul Rojak, demikian nama orang itu, datang ke Sempu. Menawarkan segala dagangan.

Dengan rajin mampir dari satu rumah ke satu rumah.

Semula Kebhi tidak pernah tertarik dengan barang-barangnya. Tapi Sekar, anaknya yang sudah mulai merangkak, membutuhkan perawatan. Dan untuk itu membutuhkan uang. Kain-kain ia masih punya banyak. Peninggalan Tha Khong Ming yang mati karena keris Mas Ayu Prabu. Ia percaya Sekar akan tumbuh menjadi anak yang tampan. Kulitnya bule tapi rambutnya hitam. Repi sependapat agar anak itu dipelihara dan hidup sampai dewasa. Repi percaya, adanya Sekar akan menjadi bukti kebinatangan Belanda. Lebih dari itu betapa tidak bertanggung jawabnya Belanda yang katanya bangsa beradab itu pada turunannya sendiri.

Suatu hari Sekar sakit. Panasnya tinggi. Biasanya Kebhi memarutkan kunyit dan memberinya minum madu sebagai campuran parutan kunyit itu. Para tetangga juga tidak punya. Madu peninggalan Mas Ayu Prabu sudah habis. Kebhi dan Repi menjadi panik. Tapi saat itu Sekar makin sakit. Itulah awal. Abdul Rojak menawarkan madu.

"Tapi tidak ada uang, Tuan."

"Bayar belakangan boleh. Satu bulan boleh. Tapi harganya menjadi setengah ringgit."

"Setengah ringgit?" Kebhi terkejut. Demikian pula Repi. "Jika satu bulan lagi ditambah dengan satu sen." Abdul

Rojak memandang dengan mata tajam. Rasanya ingin menelan kedua wanita itu.

"Beriba?" Repi bertanya.

"Tidak! Kami haram meribakan uang. Itu kan cuma... yah, ganti menunggu dengan sabar pembayaran dari kalian." Rojak tertawa. Giginya kuning tak pernah dibersihkan dengan arang. Tasbih di tangan kanannya terus berputar-putar. Seolah selalu digerakkan. Mungkin saja ia membaca mantra. Topi putih menutupi bagian kepalanya yang botak. Bajunya juga putih.

Menutupi semua bulu-bulu kasar di seluruh tubuhnya.

"Tak pernah ada orang Blambangan melakukannya, Tuan." "Ha... ha... ha... Jika tak mau madu kubawa pulang. Anak

itu akan mati."

Demi anak, Kebhi memberanikan diri mengambil madu itu. Walau Repi sudah berusaha mencegahnya. Induk ayam saja akan bertarung mati-matian jika anaknya diusik. Bukankah begitu seharusnya dengan aku? Kendati anak itu lahir di luar maunya. Tapi namanya juga tetap anak.

Satu bulan telah berlalu. Sekar sudah sembuh. Tapi Kebhi belum mampu membayar yang setengah ringgit itu.

"Tidak afa-afa (apa-apa), satu bulan lagi juga boleh."

Rojak memang berkebangsaan Arab. Jadi lidahnya agak sukar berkata-kata dalam Blambangan. Tapi tetap tak menjadi halangan baginya untuk berhubungan dengan orang-orang Sempu. Tapi satu bulan kemudian, Kebhi baru mendapat uang kurang dari seperempat jumlah yang ditentukan.

"Rupanya kau sukar mendapatkan uang setengah ringgit itu? Mau kau bekerja? Supaya dapat membayar dengan cepat? Satu bulan pasti sudah lunas."

"Bekerja?" Kebhi bertanya. "Ya. Bekerja."

"Apa itu?"

"Membantu aku membungkus majun." "Majun?"

"Ya. Obat-penguat, pengawet muda, pendek kata banyak kasiatnya. Dari Arab. Ha... ha... ha... Tidak perlu susah-susah. Untuk apa ke sawah? Ladang. Ah, hasilnya cuma sedikit. Biaya hidup anakmu kan makin mahal? Makin besar makin mahal."

Kebhi tidak segera mengiakan memang. Ia berunding terlebih dahulu dengan Repi. Dan tentu saja Repi tidak menyetujuinya.

"Tapi jumlah uang itu akan makin banyak jika aku tak dapat membayar."

Repi sendiri menjadi ragu. Seharusnya minta pertimbangan pada Rsi Ropo atau Mas Ayu Tunjung. Tapi Songgon dalam kepungan Kompeni. Tak seorang pun akan mampu menembus pagar betis itu. Kecuali jika berani menembus hutan. Tidak gampang berjalan di rimba raya bagi wanita macam dia.

Apalagi tanpa pengawalan. Banyak binatang buas bisa membahayakan jiwanya.

Hari berikutnya ia tak bisa berkata apa pun kala Kebhi dijemput oleh Tuan Abdul Rojak. Cuma satu bulan. Maka atas kehendak Tuan Abdul Rojak Sekar ditinggal dan dititipkan pada Repi. Perasaan iba membuat Repi tak berdaya. Dan Sekar pindah gendongan. Kebhi berangkat ke Sumberwangi.

Waktu berjalan, Kebhi tidak diperkenankan telanjang dada.

Sebab, kata Rojak itu bisa menimbulkan birahi. Dan mengundang dosa. Kebhi mulai menyesuaikan diri dalam kehidupan muslim. Di Sumberwangi ia makin heran. Rumah Rojak ditutup rapat. Berarti ia tidak berkeluarga. Pendapanya ditutup dengan kisi-kisi bambu. Nyaris gelap. Tentu orang luar tidak akan dapat melihat ke dalam. Sebaliknya dari dalam akan dapat melihat dengan jelas orang yang mungkin datang. Juga pintu yang menghubungkan pendapa dengan rumah, ditutup oleh kerei bambu.

"Kau sudah masuk rumah ini. Maka kau harus tunduk pada aturan yang berlaku di rumah ini." Kalimat pertama yang keluar dari mulut Abdul Rojak begitu keduanya masuk rumah. Besar rumah itu. Tapi hampir-hampir tak ada sinar masuk.

Jendelanya selalu tertutup. Dan sejak itu Kebhi dilarang keluar rumah. Sekalipun ada tamu, dia hanya boleh menjawab di balik kerei.

"Belum pernah ada tatacara demikian di Blambangan, Tuan."

"Kau tidak tinggal bersama orang Blambangan. Tapi bersama Abdul Rojak." Orang tua itu tersenyum. "Jika kau membantah, aku boleh membunuhmu di sini."

Terkesiap darah Kebhi. Tiap pelanggaran akan membawa hukuman. Cambuk atau bunuh. Dilarang terima tamu.

Terutama lelaki, supaya tidak berzinah. Betapa alimnya orang ini. Betapa ketat ia menjaga kesucian. Cara berpakaian pun diatur. Lambang kesuburan yang dipeliharanya selama ini tidak berlaku. Harus ditutup rapat-rapat. Supaya tidak menimbulkan birahi. Kebhi tidak bisa membantah. Karena ia takut. Apalagi Tuan Rojak sudah berbaik memberikan utang madu supaya anaknya selamat. Tapi penantiannya sehari dua untuk bekerja sebagai pembungkus majun tetap belum menjadi kenyataan. Yang ia kerjakan cuma menyediakan keperluan sehari-hari bagi Tuan Rojak. Seperti masak nasi dan air.

Memasuki hari keempat ia menanyakan pada Tuan Rojak.

Dan tuan itu tertawa minta maaf. Ia katakan lupa bahwa harus mempekerjakan Kebhi sebagai pembungkus majun. Ia katakan barangnya masih dirumah teman. Dan ia mengambil terlebih dahulu. Tuan Rojak berpesan agar sepeninggalnya jangan menerima tamu. Tak lama orang itu pergi. Datang lagi membawa sebongkah bungkusan. Setelah dibuka, warna benda yang disebutkan sebagai majun ternyata coklat kehitam-hitaman. Baru pertama kali Kebhi melihatnya. Benda itu padat tapi tidak keras. Juga tak dapat dikatakan lunak. Ia harus membungkus dengan kulit jagung sebesar-besar ibu jari. Menjadi beberapa ratus. Rojak mengatakan itu obat yang disukai orang-orang kapal. Kebhi tak perlu tahu itu. Yang penting ia mendapat uang, untuk melunasi utangnya.

"Kau belum pernah merasakan majun ini?"

"Belum." Kebhi tertunduk waktu suatu sore Rojak bertanya. "Bisa juga sebagai obat awet muda bagi para wanita."

Rojak tertawa. Kebhi masih saja tertunduk. Memang perintah Rojak begitu. Jika bersua dengan tuannya ia harus menunduk. Apa sebabnya, ia tak tahu.

"Kau boleh mencoba." Rojak memberikan sebutir. Juga secawan anggur. Rojak sendiri memakannya.

"Minum!" Suara Rojak melindas keragu-raguan. "Kau akan segar." Dan di luar maunya, Kebhi meminum ramuan yang katanya akan membuatnya awet muda itu. Mana ada wanita tidak suka awet muda? Jika benar, ia akan membawa pulang beberapa butir untuk oleh-oleh bagi Repi. Tapi selang beberapa lama setelah minum, tubuhnya berkeringat.

Kegairahan tiba-tiba saja menyala di dadanya. Semua tampak indah. Serasa ia mengambang di awang-awang. Kejadian berikutnya ia tak sadari. Mungkin saja mimpi.

Namun betapa terkejut ketika ia siuman pagi harinya. Ternyata semalam ia tidur di kamar Tuan Rojak. Kini orang itu masih belum bangun.

Masih bugil. Dan ia sendiri? Ah... segera bangkit meninggalkan tuan itu.

Tentu yang sekali menjadi dua, tiga, dan seterusnya. Setiap orang ingin keenakan berlangsung terus.

"Apakah kita tidak perlu nikah?" "Nikah?" Rojak seperti terkejut.

"Apa kata orang jika aku hamil? Anak siapa? Tentu aku jawab anak Abdul Rojak. Tuan Maulana Abdul Rojak!"

"Eh... hamil? A... tidak digugurkan saja?"

"Ampun... apa adat Tuan seperti itu? Tidak merasa berdosa membunuh anak sendiri?"

Abdul Rojak duduk di kursi. Badannya lemas. Ingin ia mencekik leher wanita Blambangan itu. Tapi ia takut nanti wanita itu menjadi hantu. Dan mengejar ke mana ia pergi. Lebih dari itu akan memberikan kesialan dalam tiap usahanya.

"Ya! Kita akan kawin. Akan nikah!" Ia menghela napas. Wajahnya tidak lagi bermendung. "Tapi jangan sekarang."

"Kapan, Tuan?"

"Aku akan pulang ke Arab dulu. Ini musim haji. Nah, rukun Islam mengajarkan bahwa kita harus naik haji."

"Jadi."

"Jangan khawatir! Tidak lama!"

Seminggu kemudian Tuan Rojak meninggalkannya. Dengan pesan jangan keluar ke mana-mana. Jangan terima tamu. Dan masih banyak lagi kata-kata "jangan" dan "harus". Setelah itu semua kenikmatan di tempat tidur Rojak cuma tinggal kenangan. Sebulan, dua bulan, tiga bulan, perutnya membuncit. Rojak yang katanya pulang-sementara itu, tetap tidak muncul. Dan tiba-tiba saja datang punggawa kadipaten yang mengatakan bahwa sewa rumah ini sudah habis. Jika tidak diperpanjang maka penyewanya harus pergi. Dan dengan menangis ia pulang ke Sempu.

Namun di Sempu Repi dan anaknya, Sekar, sudah pergi.

Para tetangga menuturkan bahwa Repi sudah menikah dengan orang Jawa dan pergi meninggalkan Sempu. Entah ke mana, tak ada yang tahu. Cuma semalam ia tidur sendirian.

Esok harinya Kebhi bertekad mencari anaknya. Atau jika tidak ketemu, ia akan minta tolong para pelaut. Ia akan ikut berlayar supaya dapat menyusul orang yang menghamilinya.

Pengalaman Kebhi dan Repi tentu tidak lepas dari pengamatan Segara. Lindu Segara! Karena akhirnya Kebhi menjumpainya. Tentunya cuma nahkoda muda dan gagah ini yang akan dapat menolongnya mencari Abdul Rojak. Tapi Lindu Segara masih belum berniat mengangkat sauh. Di samping menanti angin, ia masih ingin melihat wisuda pemberian gelar Raden Tumenggung Wiraguna.

Bahkan berita yang ia dengar dari para pedagang di pasar- pasar, kedai-kedai, Raden Tumenggung juga akan mengangkat seorang permaisuri. Istilah baru yang dipakai sekarang: "garwa padmi". Tentu bukan istilah Blambangan.

Lindu Segara geleng kepala. Sampai istilah pun penguasa Blambangan sekarang meminjam istilah asing. Apalagi modal! Yang lebih menarik perhatian adalah nama calon garwa padmi itu. Sri Tanjung! Tentunya wanita tercantik di seluruh Blambangan.

Semua orang bertanya dalam hati, siapa wanita beruntung itu? Akan diperistrikan seorang gagah, tampan, dan kaya. Para wanita persembahan, selir, dan banyak lagi wanita yang pernah melihat wajah Mas Ngalit menjadi iri terhadap Sri Tanjung. Sebentar saja nama Sri Tanjung telah menjadi buah bibir. Di mana-mana orang berkhayal membayangkan wajah Sri Tanjung. Kawula pribumi Blambangan tentu tahu makna nama Sri Tanjung itu. Tanjung adalah nama sebuah bunga yang harum baunya. Sedang Sri adalah sinar. Bunga Tanjung yang bersinar-sinar! Tentu wanita luar biasa. Bahkan Residen Schophoff sendiri sempat menanyakan pada Arinten tentang tersebarnya berita seorang wanita ayu bernama Sri Tanjung.

Arinten merasa bersalah dengan tersebar luasnya berita itu.

Ia menyesal mengapa adiknya tidak tanggap. Padahal ia sudah katakan bahwa Mas Ayu Tunjung tidak menolak, tapi tak bersedia bersuamikan seorang adipati.

"Mengapa tidak Kanda katakan bahwa kita bisa membangun kerajaan Blambangan seperti zaman ayahnya?" tanya Mas Ngalit. Ia tidak ingin adiknya kehilangan keseimbangan bila ia katakan terus-terang bahwa Mas Ayu Tunjung menolak. Ia melihat betapa adiknya amat kecewa karena gagal memboyong Mas Ayu Tunjung. Maka diperintahkannya agar desa Songgon dikepung agar Mas Ayu tidak dapat kabur. Tapi sekarang pengepungan sudah berjalan satu bulan. Tetap saja Mas Ayu Tunjung tidak goyah. Karena memang orang Songgon tidak pernah kelaparan. Songgon tidak pernah rugi dengan pengepungan desanya yang bertepikan hutan-hutan itu. Pada kenyataannya pagar betis itu tidak dapat sepenuhnya melingkari desa Songgon. Karena jika itu dilakukan, harus menembus hutan-hutan lebat. Banyak orang takut menembus hutan lebat di Blambangan. Terlalu banyak sisa jebakan dan songga yang siap mengirim siapa pun ke alam maut. Berapa banyak tenaga penebang dari Jawa, Madura, dan daerah-daerah lain yang harus binasa ditelan jebakan-jebakan itu? Maka Juru Kunci mengusulkan agar dikirimkan utusan untuk mendekati sang putri, sekaligus menyelidik. Tapi tak seorang pun bekel berani masuk Songgon. Bahkan tidak seorang punggawa pribumi pun yang berani. Sampai Juru Kunci pun tidak berani masuk Songgon.

"Kenapa, Yang Mulia?" Mas Ngalit tidak mengerti.

"Ampun, Yang Mulia. Bukankah Songgon adalah pertapaan leluhur raja-raja Blambangan? Mengusik mereka sama dengan mengusik leluhur yang telah tiada. Lihat, berapa korban Belanda di Indrawana dan Derwana, sekalipun mereka menang? Bahkan sesudah perang berhenti, kematian belum berhenti. Karena itu, ampunkan hamba, Yang Mulia."

"Siapa, yang bisa kita tugaskan?"

"Kita coba minta tolong pada Singa Manjuruh. Sekalipun ia bukan pribumi, tapi rupanya ia punya banyak pergaulan dengan pribumi. Nampaknya ia sudah lancar bahasa Blambangan."

Maka Singa Manjuruh pun dipanggil menghadap. Untuk yang pertama ia menghadap seorang adipati selama di Blambangan. Alun-alun di depan pendapa nampak terawat resik. Dua beringin berdiri kokoh di tengah alun-alun itu. Dari kejauhan seolah dua raksasa kembar. Beringin lambang pengayoman. Seorang adipati tentunya juga seorang pengayom. Kenapa kembar? Lambang keadilan. Tidak pernah berat sebelah dalam memutuskan suatu perkara. Bebatuan terhampar sepanjang jalan yang menghubungkan gerbang dengan pendapa. Di kiri-kanannya terhampar rumput yang sengaja dipangkas rapi, seolah permadani hijau. Gardu penjagaan berada di kiri gerbang. Singa Manjuruh masih sempat memperhatikan bahwa di sebelah kiri pendapa itu ada rumah kereta. Dan pendapa itu juga diteduhi oleh pohon beringin di kiri-kanannya. Ia masih ingat begitu juga keadaan di Mataram. Jadi Blambangan sekarang malah meniru bangunan orang lain yang lebih rapuh daripada bangunan moyang mereka sendiri. Tak ada pilar kuningan atau emas seperti yang diceritakan sahabatnya, Mas Dalem Puger. Kini cuma pilar-pilar kayu. Tapi di salah satu pilar tergantung sebuah papan besar. Di papan itu setiap orang akan bisa membaca silsilah. Silsilah Mas Ngalit. Dari Mas Ngalit ke ayahnya yang bernama Wiraguna, ke atas lagi sampai ke Tawang Alun, dan terus diurut ke atas Bhree Wirabhumi, terus ke atas... ah, Brawijaya. Singa Manjuruh jadi ingat ayahnya.

Dulu ayahnya juga menceritakan bahwa keluarganya adalah keturunan Brawijaya-. Rupanya sudah menjadi demam bagi para nara-praja di Jawaini, semua mengaku keturunan Brawijaya. Sampai-sampai kawula desa Pecuk Pecu-kilan yang tak pernah tercatat itu, jika mampu meraih tata kehidupan yang lebih tinggi dari manusia sebangsanya,. akan menebah dada sebagai keturunan Brawijaya. Siapa yang tak harus menghormat raja adiluhung itu? Dengan mencatatkan diri sebagai keturunan Brawijaya, maka biasanya orang menuntut penghormatan dari orang lain.

Tidak ada kursi lain kecuali yang diduduki oleh Mas Ngalit dan Juru -Kunci. Dengan kata lain ia harus ngelesot di tanah atau lantai pendapa itu. Sungguh belum pernah ia lakukan yang semacam ini. Ia pergi dari negerinya karena tak mau ngelesot di hadapan para pembesar Mataram. Dan harini ia harus mengerjakannya. Aniaya memang. Tapi ia tak berani berbuat apa-apa. Istrinya sedang mengandung.

"Ada titah penting maka Yang Mulia memanggil hamba?" Singa Manjuruh langsung pada persoalannya.

"Wisudaku tinggal tiga bulan lagi. Tapi istriku, eh, calon garwa padmi belum juga datang ke Banyuwangi. Setelah kami timbang, tiada yang lebih pantas untuk menjemputnya kecuali " Mas Ngalit berhenti sebentar. Seperti ragu, "Singa

Manjuruh."

"Hamba? Menjemput garwa padmi?"

"Ya. Lalu tempatkanlah beliau di seberang jajan menuju ke pelabuhan. Ada sebuah rumah besar yang berhalaman luas. Sengaja dibangun untuk beliau." "Ya, Allah. Belum pernah hamba mengerjakan yang semacam ini. Di mana sekarang sang putri berada?"

"Songgon. Kau harus menjemputnya di pertapaan Songgon."

"Songgon?" Singa Manjuruh terkejut. Mendadak mukanya menjadi pucat. Ujung kumisnya menurun di luar sadarnya.

Seperti ekor anjing menurun dan merapat ke perutnya kala melihat harimau.

"Kenapa?" Mas Ngalit melihat perubahan wajah Singa Manjuruh. Curiga. Apalagi kini Singa Manjuruh tampak termenung.

"Siapa nama calon garwa padmi itu?" Singa Majuruh minta keterangan lagi.

"Sri Tanjung." "Sri Tanjung?" "Ya. Pergilah!"

"Mudah-mudahan sang putri bersedia menerima hamba yang hina ini. Tapi jika tidak berhasil, janganlah kiranya Yang Mulia murka. Karena memang tidak sepantasnya seorang garwa padmi dijemput cuma oleh seorang bekel yang hina."

"Sri Tanjung akan menerima siapa saja," Mas Ngalit menegaskan. Singa Manjuruh kemudian meninggalkannya. Tentu saja ia berharap sepenuhnya pada keberhasilan Singa Manjuruh.

Singa Manjuruh tidak langsung ke Songgon. Juga tidak terlebih dahulu pulang. Berkali ia menoleh kiri-kanan dan belakang. Mengamati ^alau-kalau ada orang yang membuntutinya. Tapi tidak ada. Sepanjang jalan ia tak habis heran. Sri Tanjung. Ah, ternyata yang namanya sudah masyhur dan menjadi percakapan tiap gerumbul manusia itu adalah Mas Ayu Tunjung. Bukankah' dia sudah menjadi istri Rsi Ropo? Dan Singa Manjuruh adalah sahabat kedua suami- istri itu. Calon garwa padmi ternyata istri orang. Mana ia berani disuruh mengambil istri orang. Apalagi istri Rsi Ropo. Ia tahu persis bahwa pemuda yang berjubah brahmana itu adalah Sratdadi. Pernah menjadi seorang menteri mukha di pemerintah bayangan Blambangan. Jika sekarang ini mereka kalah, tentu musuhnya bukan cuma Kompeni. Mereka dikeroyok Madura, Surabaya, Pasuruan, Sidayu, Probolinggo, dan orang-orang Blambangan sendiri.

Kalau secara bersama-sama Sratdadi tidak ada kemampuan melawan VOC, bukanlah berarti ia akan

menyerah jika haknya secara pribadi diambil dengan semena- mana. Tiba-tiba Singa Manjuruh teringat seorang sahabatnya kala kecil yang saat ini berada di sini sebagai manusia buangan. Ia sering bersua akhir-akhir ini. Temannya telah mendengar bahwa ia diangkat menjadi kepala daerah Singa Juruh. Jadi temannya sengaja mencari.

Mantrolot senang sekali kala Singa Manjuruh memasuki gubuknya.

"Kau tidak ke sawah, Lot?"

"Ha... ha... ha... Ini kan musim nganggur. Tinggal menunggu waktu panen saja." Ia memberi isyarat pada tiga istrinya supaya ke belakang. Singa Manjuruh mengikuti mereka dengan lirikan matanya. Tiga wanita muda yang pinjungan. Rata-rata pinggul mereka bahenol. Pintar juga Mantrolot yang sudah berumur hampir setengah abad itu menggaet wanita. Mereka kemudian duduk di amben besar menghadapi kinang. Sebentar kemudian seorang istrinya menyuguhkan air gula aren. Bumbung sebagai gelasnya.

"Masih suka mengumpulkan wanita?" Singa Manjuruh menggoda.

"Mereka membutuhkan perlindungan. Di tempat asal mereka menjadi korban nafsu lelaki. Di sini pun mereka mengalami nasib yang sama. Jadi, karena minta tolong padaku maka aku melindunginya."

"Baik budimu. Tapi.."

"Jangan katakan aku punya pamrih, Kawan. Hidup itu memberi dan diberi. Di luar itu jmerampas dan dirampas!" Tertawa. Ikat kepalanya yang hitam dan kedua ujungnya ditarik ke bawah di belakang kepalanya itu bergoyang-goyang. Hidungnya yang besar dan lobangnya dipenuhi bulu-bulu itu kembang-kempis.

"Eh, kurang nikmat ya. Di sini tidak ada tembakau. Tidak seperti di Mataram. Aha, ingat cerita Rara Mendut? Wanita pantai yang hendak digundik oleh bandot sekaligus bandit dari gunung?"

"Eh, Satria! Pahlawan Mataram kau bilang bandit?" - "Satria atau pahlawan bagi Senopati! Bagi Mataram. Bagi

orang-orang pandai? Tak lebih dari bandit menjijikkan! Kepintarannya menja-rah-rayah semata. Ha... ha... ha... menjarah-rayah milik orang tak berdaya!"

Keduanya tertawa. Di balik dinding tiga istri Mantrolot sibuk dengan urusan mereka bersama. Kadang memang tertawa terkikik-kikik. Entah apa yang mereka tertawakan.

"Sekarang kita berhadapan dengan Wiraguna baru. Raden Tumenggung Wiraguna!" Singa Manjuruh menerangkan. Kita sudah jadi penduduk Blambangan. Kita dilibatkan dalam banyak persoalan di sini. Termasuk membayar pajak."

"Kita lebih berat dari semua pribumi " "Jangan katakan itu!" Singa Manjuruh buru-buru

mencegah. "Pribumi saat ini menghadapi penderitaan batin yang luar biasa beratnya. Kita datang untuk memperoleh tanah garapan. Mereka?" Diam sebentar. Menarik napas. Lalu melanjutkan, "Mereka kehilangan. Sungguh dengan kehadiran kita mereka terpukul. Karena pembisu-an mereka sebenarnya adalah melawan pajak. Melawan upeti! Tapi kita justru memberikan pada Mas Ngalit apa yang tidak mereka berikan. Kita tidak membantu mereka."

"Weh... weh...," bibir tebal Mantrolot berdesah. "Aku baru mengerti." Mengangguk-angguk. Wajahnya tertunduk dalam- dalam.

"Kau di daerah asalmu dianggap sebagai pemberontak.

Bahkan lebih jelek dari itu, golongan kraman! Bisa-bisa dianggap bromocorah! Juga pribumi Blambangan di mata Mas Ngalit si adipati yang dihadiahi gelar Raden Tumenggung Wiragu-na itu. Apalagi di mata VOC. Siapa yang tidak menguntungkan VOC, dianggap penjahat. Padahal..." Berhenti sebentar untuk mengusap ludah yang nerocos di sudut bibirnya, "padahal, kita tahu, Blambangan ini bukan milik moyang VOC itu. Juga bukan moyang kita."

"Weh... weh..." Giginya yang besar-besar itu menguyah kinang. Kemudian meludah. Suaranya yang parau dan seperti guntur bergema di lereng-lereng bukit ia simpan. Sesekali batuk. Dada yang bidang itu bergoyang karena batuk.

"Mereka tak mengerjakan sawah dengan maksud agar Belanda dan pasukannya kelaparan. Tapi kita memberi mereka makan. Apa ini namanya tidak mengecewakan?"

"Waduh... modar (mati ,dari bahasa Jawa yang kasar) aku! Sambar geledeg! Kalau aku tahu begini mending jadi begal." (perampok) Mantrolot bangkit sambil memukul-mukulkan telapak tangannya pada kepalanya sendiri. Ia. menyesal mengapa kepalanya berotak dungu. "Apa akal kita untuk menebus, ya menebus kesalahan kita ini?" Berbalik kepada Singa Manjuruh. Tinggi besar dengan celana hitam. Tali celananya sebesar lengan anak lima tahun. Kumisnya menutup bibir atas karena tidak teratur.

"Berapa anak buahmu sekarang?" "Lima ratus lima puluh." Orang itu mengerutkan keningnya. "Mau berontak?"

"Tidak! Tidak, Kang! Anak buahku sendiri sekarang sekitar tujuh ratusan. Tapi aku tidak akan menempuh jalan itu lagi."

"Kenapa? Sudah ciut hatimu?"

"Tidak. Tapi cobalah kita lihat! Mereka punya segala. Bedil dan modal. Semua orang bisa dibayar untuk menentang kita. Semua orang bisa ditakut-takuti untuk membenci kita.

Sekarang, kita perlu menjalin persahabatan dengan semua pribumi. Mengambil hati mereka. Membela hak mereka.

Memberi mereka makan."

"Itu juga memberi perlawanan secara tersendiri?" "Melestarikan kehidupan suatu bangsa, bukankah itu

pekerjaan yang mulia? Biar orang katakan kita gombal! Tapi hati kita dipenuhi cita-cita mulia! Karya kita mulia semata- mata!"

"Aku setuju!"

Kemudian Singa Manjuruh menceritakan perintah Tumenggung. Kini keduanya tertawa. Dan setelah itu Singa Manjuruh mengajak kawannya pergi ke Songgon.

"Kau perlu berkenalan dengan Rsi Ropo. Kita akan mendengar petunjuk sang Rsi. Kendati ia masih muda, tapi bijak."

"Aku dengar Songgon dikepung dengan pagar betis.

Bagaimana kita bisa masuk?"

"Saat ini aku utusan Adipati untuk berembuk dengan garwa padmi. Apa susahnya. Kita gunakan saja kesempatan ini."

Keduanya berangkat setelah berpamitan kepada istri Mantrolot. Mereka mampir ke Singa Juruh untuk berpamitan pada istri Singa Manjuruh. "Sambar geledeg! Manis juga istrimu!" umpat Mantrolot di jalan menuju Songgon. Dengan berjalan kaki begitu, tentu memakan waktu lima hari. Kendati Singa Manjuruh sudah mencoba menempuh jalan-jalan melintas. Keduanya membunuh waktu sambil berbincang, bergurau, tidur, dan terus berjalan. Salahnya .mereka bukan Gatot-kaca tokoh wayang purwa yang bisa terbang, sehingga tak membutuhkan waktu lama dalam mengalahkan jarak. Jarak yang selalu ada di depan dan di belakang.

Tidak ada kesulitan bagi mereka melewati pos penjagaan. Karena pada kepala pasukan penge-pung Songgon itu telah dikirimkan berita bahwa ada seorang yang akan melintas memasuki Songgon. Walau kini jumlahnya menjadi dua, kepala pasukan pagar betis itu tak peduli. Rupanya dia sendiri jenuh dimakan nyamuk. Atau barangkali, sudah mulai banyak anggotanya yang sakit. Malaria dan kuning. Bahan makanan juga kurang bagus. Sayur kangkung, terong, rebung. Akan mencuri ayam penduduk Songgon takut. Sebab pasti mereka pulang tinggal nama saja. Sementara orang Songgon tidak satu pun yang mengangkat tangan menyerah.

Kesulitan bagi Singa Manjuruh justru saat ia mulai memasuki perkampungan Songgon. Bersamaan dengan langkahnya masuk desa itu, kere-mangan mulai turun. Seorang petani bertubuh kokoh mencegatnya di ujung perkampungan.

"Sungguh. Ada berita yang amat penting untuk didengar oleh Rsi sendiri." Singa Manjuruh meyakinkan dalam bahasa Blambangan yang cukup bagus.

"Terlalu mudah bagimu menembus penjagaan Kompeni.

Apakah kami boleh percaya?"

"Justru jika aku tak dapat bersua Rsi malam ini, maka kalian lebih akan menyesal sepanjang hidup. Jangan persoalkan akal apa yang kupakai mengelabui mereka. Atau kalian boleh mengirim seseorang terlebih dahulu pada Rsi. Beritahukan Singa Manjuruh datang menghadap."

"Singa Manjuruh?" Petani itu mengingat-ingat. "Bukankah... kau yang mendirikan desa Singa Juruh?"

"Atas perkenan Yang Mulia Ramad Surawijaya anumerta."

"Tapi kenapa kau mempersembahkan upeti pada..." "Jangan salah paham, Saudaraku! Kami sudah kehabisan

peluru. Kehabisan panah. Kehabisan tenaga. Kehabisan..."

Tiba-tiba saja kata-kata Singa Manjuruh terpotong oleh derap kuda yang makin mendekat. Seorang pemuda yang tidak jelas wajahnya turun dan berbisik pada petani itu.

Kemudian balik ke kudanya dan kabur. Hati Singa Manjuruh berdebar. Ingatannya melayang pada masa perang.

Sementara itu Mantrolot diam saja. Menahan semua ketidaksabarannya.

"Baiklah! Kalian diizinkan masuk."

Singa Manjuruh dan Mantrolot saling pandang. Dengan kata lain Rsi Ropo sudah tahu kedatangan mereka. Sambil berjalan ia memberi isyarat pada temannya agar tenang. Jangan menimbulkan kecurigaan. Ia ingat betul bagaimana cara orang Blambangan menjebak lawannya.

Kegelapan memang benar-benar turun kala keduanya menaiki titian pendapa pertapaan. Pelita nyaris berjajar di tiap-tiap tiang. Rsi dan istrinya duduk di atas sebuah amben lebar.

"Silakan duduk bersama kami, Raden. Ya, kalau aku tak salah ini adalah Raden Singa

Manjuruh." Kedua suami-istri itu berdiri. Turun menyambut tamunya. Sekalipun di bawah sinar pelita kedua orang itu masih sempat memperhatikan, betapa keduanya seolah Kamajaya dan Kamaratih yang turun dari kahyangan. Rsi Ropo mengenakan jubah hitam. Bersabuk pending emas. Kalung juga terbuat dari emas. Panjang sampai ke perutnya. Dan medali bergambar kembang teratai sebesar telapak tangan tergantung di ujung lekukan kalung bahagian bawah. Kulit kuning makin nampak serasi dan menyolok karena busana hitam seperti itu. Di sebelahnya Mas Ayu Tunjung mengenakan kain kuning. Sutera seperti milik suaminya. Mungkin saja buatan Cina. Selendang juga kuning tersampir di pundaknya dan turun menutup sebelah susunya. Sedang yang sebuah dibiarkan terbuai oleh angin malam.

Mantrolot melotot kaget. Dalam hati memuji betapa sempurna kecantikan wanita itu. Wajahnya nampak bersinar dihiasi kalung mutiara putih yang melingkar di leher jenjangnya.

Pendek kata seribu pesona menyatu dalam tubuh Mas Ayu Tunjung.

Singa Manjuruh tampak menjadi gugup. Dengan buru-buru ia memberi isyarat pada temannya untuk menyembah. Dan kedua orang yang nampak agung seperti dewa-dewi itu mempersilakan mereka berdiri. Kemudian sekali lagi mengajak mereka duduk dalam amben besar yang memang tersedia di tengah pendapa. Biasanya dipakai tempat duduk Rsi dan para cantrik yang terpercaya waktu mengajar.

"Tentu kedatangan Raden kali ini bukan sekadar berkunjung untuk menengok kami. Dalam kepungan rapat yang menyusahkan semua orang ini, cuma seorang sahabat yang datang dengan tujuan baik. Selebihnya tidak. Tak ada orang suka berbaik-baik pada orang menderita. Atau orang miskin."

"Ah, Yang Tersuci, ini bisa-bisa saja. Mulai meragukan kesetiakawanan hamba?" S^nga Manjuruh meniru-niru gaya orang lain di Blambangan bicara.

"Sekali lagi, cuma sahabat yang memperhatikan nasib seorang teman. Karena sebenarnyalah sahabat itu teman dalam suka-duka. Dan seorang sahabatlah yang sanggup memberikan nyawanya bagi orang lain."

"Ya, ampun! Bukankah hamba membabat Singa Juruh itu atas perkenan Yang Mulia Ramad Surawijaya anumerta?

Apakah hamba bisa melupakannya? Rasanya hamba belum pernah menjumpai seorang sebaik pangeran itu. Eh, ampuni hamba, belum memperkenalkan teman hamba ini. Dia berasal dari Ponorogo. Mantrolot."

"Gagah namanya! Artinya seorang ulet. Segagah itu pula orangnya. Selamat datang, Tuan."

"Terima kasih..." Mantrolot gugup menerima pujian dan dipandang secara tajam oleh kedua pasang pemimpin Songgon itu. Ia lebih kagum karena ternyata Rsi Ropo memujinya dalam Jawa yang bagus. Dari mana orang ini belajar?

"Baiklah. Aku tidak akan mempersoalkan kesetiaan. Bagiku tidak akan ada pengaruhnya. Yang penting sekarang aku ingin tahu, apakah kau datang dengan tugas menangkapku, Raden? Barangkali saja, sebagai imbalan tidak diusiknya lagi pelarian Mataram, maka ia dihadapkan padaku."

"Ampun, Yang Tersuci... tak ada tugas untuk itu." "Kebiasaan Kompeni adalah mengadu domba. Ingat kau

pada Amangkurat II? Bukankah dia yang mengkhianati

persahabatannya dengan Tru-najaya? Ha... ha... ha... Maafkan aku! Bukan aku menuduhmu, Raden!"

Makin gugup Singa Manjuruh mendengar Rsi itu tertawa. Rupanya Rsi sengaja berbahasa Jawa supaya Mantrolot bisa mengikuti pembicaraan mereka. Hati Mantrolot juga berdesir.

"Ah, silakan bersirih!" Ayu Tunjung memecahkan ketegangan tamunya. Sebentar kemudian seorang gadis telanjang dada mengeluarkan minuman. Air gula aren. Lega hati kedua tamu itu. "Memang agak mengejutkan kedatangan Raden di tengah pengepungan yang dilakukan Mas Ngalit. Bukankah Raden tadi melewati gerbang sebelah barat?" Suara merdu Tunjung kembali terdengar.

"Hamba..."

"Itu yang aneh! Selama ini tak seorang pun boleh melewatinya. Baik orang Songgon sendiri ataupun orang lain. Wajar jika kami menyimpulkan bahwa kedatangan Raden atas tugas dari Banyuwangi. Setidaknya Raden sudah bersua dengan calon Raden Tumenggung Wiraguna!" Tunjung makin membuat mereka terkejut. Sekalipun dikepung oleh pagar betis, berita tetap saja sampai ke telinga mereka.

"Weh... weh... berita itu sudah sampai kemari?"

"Setinggi-tingginya pengetahuan seseorang, tanpa berita ia akan menjelma menjadi sedungu-dungunya orang. Mas Ngalit berusaha supaya kawula Blambangan tidak mendengar berita apa pun! Karena dia sendiri seorang dungu, maka ia juga suka pada kedunguan orang lain. Barangsiapa melarang orang lain mendengar berita, sebenarnyalah telah melakukan kegiatan biadab yang paling tidak manusiawi! Karena ia sedang berusaha melakukan penipuan dan berusaha memperbodoh kawula!" Rsi Ropo menjelaskan.

Singa Manjuruh tertunduk. Mantrolot memandangnya.

Pelita-pelita yang tertempel di tiang-tiang pendapa itu berkebat-kebit ditiup angin. Seperti bendera-bendera kecil. Demikian pula adanya hati Singa Manjuruh. Dia kenal betul pada kedua suami-istri ini. Keduanya kokoh dalam sikap dan pendirian. Tidak seperti dirinya. Bersedia memberikan upeti dan mengirimkan tenaga untuk "bergotong-royong" membangun ibukota. Ia makin tak berani memandang wajah mereka. Seolah penuh kemuliaan. Kemuliaan yang bukan terpancar dari pakaian mereka. Tapi dari dalam hati nurani yang bersih. Maka ia berkeputusan untuk berterus-terang. Ia menceritakan apa yang harus dikerjakan sesuai dengan perintah Mas Ngalit. Wajah Mas Ayu Tunjung membara. Tapi bibirnya tetap tersenyum. Dan sebelum suaminya memberikan jawaban, ia lebih dahulu menjawab.

"Sungguh tak tahu malu! Bukankah aku sudah menolak melalui Arinten yang melamarku? Bukankah jodang dan semua persembahan lamaran itu mereka bawa pulang? Baik! Raden, katakan padanya! Semua yang ada di bumi ini bisa dibeli! Bisa! Tapi hati dan otakku tidak pernah dapat dibelinya! Pendapat dan keyakinanku tak pernah dapat dibelinya! Aku bukan sundal!" Ayu Tunjung memuntahkan lahar dari hatinya.

"Hamba sudah mengira "bahwa hamba tidak akan berhasil memboyong Sri Tanjung. Dan memang itu tidak penting bagi hamba." Singa Manjuruh kemudian melirik temannya. Setelah menghela napas panjang ia melanjutkan, "Kedatangan kami berdua justru ingin menawarkan bantuan. Apa yang bisa kami lakukan untuk membantu Blambangan? Kami berdua telah merasa bersalah."

Rsi tersenyum. Juga Ayu Tunjung.

"Barangkali dengan sikap Mas Ngalit yang seperti sekarang ini terutama ancaman bagi Yang Mulia Tunjung, Yang Tersuci kembali mengobar--v kan perang. Maka kami siap membantu. Apa saja kebutuhan Yang Tersuci. Pasukan maupun bahan makanan," Singa Manjuruh menawarkan. Mantrolot mendukung. Atau jika tidak, mereka sanggup membantu bahan makanan selama Songgon dikepung.

"Seorang Rsi tidak pernah bertempur," Ropo menegaskan.

Suasana menjadi hening sejenak. Suara jangkrik merajai alam. Nyamuk sering mengganggu. Cicak berlarian memburu mangsanya. Kadang berkejaran untuk bercengkerama dan bersenggama. Tikus pun tak mau kalah. Menimbulkan kegaduhan di langit-langit. Tak tahu apa yang sedang mereka lakukan. Ayu Tunjung kembali memecahkan kebisuan dengan suaranya yang merdu.

"Ini bukan persoalan negara dan kawula. Tidak patut melibatkan seluruh kawula. Apalagi sampai berperang. Perang

-melahirkan berjuta aniaya. Sebenarnyalah cuma manusia banaspati (iblis penghisap darah) sajalah yang suka akan peperangan itu. Walau kita tahu memang ada soal yang tidak bisa diselesaikan tanpa perang."

"Jadi bagaimana jika Mas Ngalit memaksa dan menyerbu?" Singa Manjuruh memancing kini.

"Aku akan menghadapinya sendiri. Karena ia tidak sedang bersoal dengan kawula. Tapi dengan aku!" Ayu Tunjung menjawab.

"Baiklah!" Rsi Ropo menengahi. "Semalaman pembicaraan kita tidak akan habis. Aku terima bantuan makanan dari kalian. Tapi bukan untuk Songgon. Sebab Songgon tidak pernah kekurangan makanan. Kalian bisa mengirimkan ke desa

kecil di dekat Lateng. Repi ada di sana. Ia menjual jamu.

Namanya sekarang bukan lagi Ni Repi. Tapi Ragajampi. Karena ia menjual jamu untuk menyehatkan tubuh. Suaminya bernama Pamardi. Seorang Jawa yang pandai berbahasa Blambangan. Dia blantik sapi dan kuda." "Selain itu?"

"Mereka bertugas memberi makan pada orang-orang yang bersembunyi di Sembulungan, Jajak, dan hutan-hutan sekitar Gunung Srawet."

"Baiklah, Yang Tersuci. Hamba berterima kasih karena diberi kesempatan menebus kesalahan kami. Tapi adakah jalan rahasia supaya kami dapat memasuki Songgon ini tanpa setahu penjaga tapal batas itu?" "Ada. Tapi kalian tidak perlu tahu. Cukup hubungi Ragajampi! Dia akan menyampaikan semua berita dari kalian padaku."

Keduanya kemudian mohon diri. Tapi tidak diperkenankan.

Keesokan harinya barulah mereka meninggalkan Songgon. Tidak terus menghadap Mas Ngalit. Tapi pulang dulu ke Singa Juruh.

Setelah berunding dengan istri Singa Manjuruh mereka mampir lagi ke rumah Mantrolot. Dan Mantrolot segera melepas sahabatnya dengan hati berdebar. Tidak tahu apa yang menyebabkan. Tapi ia segera berbalik. Karena ia bertugas menyiapkan makanan yang akan diperbantukan pada pribumi Blambangan yang terputus bantuannya dari Songgon. Selain itu ia bertugas menghubungi Ragajampi di dekat Lateng. Di desa kecil yang belum ada namanya. Di sana banyak pribumi berhimpun di samping sebahagian lagi orang dari Jawa. Mereka tidak boleh kelaparan.

Mantrolot sendiri yang akan berangkat menemui Ragajampi. Ketiga istrinya ditugaskan menghubungi semua anak buahnya. Juga selalu mengadakan hubungan dengan istri Singa Manjuruh yang saat ini sedang giat juga mengumpulkan pembantu suaminya untuk membagikan tugas ke seluruh pengikutnya agar mengumpulkan bahan makanan. Bantuan ini akan dilakukan secara diam-diam.

Sementara itu Singa Manjuruh dengan ragu menapakkan kakinya ke pendapa kadipaten, di Banyuwangi. Pembangunan kota makin mendekati penyelesaian. Mas Ngalit telah memerintahkan agar pembangunan dipercepat. Semua desa harus menambah tenaganya. Demikian pula para pengusaha harus mempercepat pembangunan yang dipercayakan padanya. Jika tidak maka izin bisa dicabut dan tanah yang sudah dibelinya akan disita kembali. Semua harus dipacu.

Demikian pula tempat pesanggrahan calon tempat tinggal Sri Tanjung. Ah, Sri Tanjung lagi! Manusia tak ubahnya intan yang mampu berjalan.

Hari-hari Mas Ngalit tak pernah kosong dari bayangan Ayu Tunjung yang diberinya nama Sri Tanjung. Semua kidung yang keluar dari bibirnya kala ia mandi, ia pergi tidur, semua, untuk Sri Tanjung. Ah, seandainya akan mati pun bisa batal jika teringat orang hitam manis itu, kata hatinya.

Tapi penantian yang seolah tak membuahkan harapan itu, membuat hatinya terombang-ambing. Mungkinkah nanti jika aku mati dapat berkumpul dengannya? Di kala hidup pun tiada dapat bersanding. Atau aku ditakdirkan bernasib seperti ikan layur di tengah samudra raya? Keluyuran tanpa jodoh? Ya, ampun Tuhan, berikan Sri Tanjung itu sebagai jodohku. Dan Mas Ngalit berdoa. Bertahajud setiap malam. Ya, sembahyang tahajud! Tidak cukup sebelas rakaat. Tidak tahu lagi berapa kali hitungan rakaatnya. Jika perlu sepanjang malam ia bersembahyang sambil memanggil nama Sri Tanjung.

Raden Tumenggung Wiraguna ingin melonjak ketika menerima laporan bahwa Singa Manjuruh menghadap. Ingin rasanya segera memuntahkan kepundan kerinduan yang menyesaki dadanya. Ia mengenakan pakaian terbagus hadiah Tuan Gubernur Van De Burgh. Berkali bercermin dan membetulkan letak keris sebelum keluar. Barangkali Sri Tanjung telah mengenakan pakaian yang terbagus pagi ini.

Naik apa dia? Ditandu oleh orang-orang Singa Manjuruh? Ketampanan Mas Ngalit membuat para selir jadi cemburu.

Tapi begitu muncul di pendapa hatinya menjadi berdebar. Ayu Tunjung tidak ada. Cuma Singa Manjuruh yang ngelesot dengan ditemani oleh Juru Kunci. Keduanya tenggelam dalam kebekuan. Singa Manjuruh nampak tertunduk lesu. Lelah karena berjalan jauh. Amat jauh memang jika ditempuh dengan berjalan kaki.

"Apa kabar? Mana Sri Tanjung? Sudah masuk pesanggrahan?" sederetan pertanyaan meluncur deras. "Ampunkan hamba, Yang Mulia. Gusti Ayu Garwa Padmi tidak berkenan hadir di Ba-nyuwangi. Apalagi cuma dijemput oleh hamba yang hina-dina ini."

"Lalu?"

"Hamba tidak tahu. Cuma itulah jawab beliau. Yang Mulia Garwa Padmi tidak pantas berjalan seiring dengan hamba.

Tidak juga suka ditandu. Itu dianggap suatu penghinaan bagi Yang Mulia Garwa Padmi. Maka hamba tidak berani memaksa! Sebab jika itu hamba lakukan maka beliau bertekad tidak akan melihat wajah Yang Mulia Adipati lagi. Beliau jijik dengan para pemaksa. Andai bunga emoh memandang, andai daun emoh menjamah."

"Ya, Allah! Singa Manjuruh! Siapakah yang pantas menjemput istriku itu?"

"Hamba tidak berani mengutarakannya. Tentu Yang Mulia lebih bijak dari hamba sendiri."

Kembali kebisuan merajai suasana. Untuk beberapa jenak. Ia tak habis mengerti sikap Sri Tanjung itu. Sementara ribuan gadis berharap jadi istri penguasa tertinggi Blambangan itu. Kala Singa Manjuruh berpamitan, ia jadi tergagap. Kepalanya berdenyut-denyut. Sungguh tak pernah ia bayangkan. Seorang perempuan melakukan penghinaan padanya seperti yang dilaporkan oleh Singa Manjuruh itu. Apa kekuranganku? Muda, berkuasa, kaya, tampan? Ah, Sri Tanjung, Sri Tanjung! Ibarat kayu raksasa yang dikelilingi satwa buas. Atau belibis merah di jaladri (samudera yang maha luas).Begitu sukarnya kau dijamah, bahkan diboyong pun. Sungguh langka terjadi.

Hem... Sri Tanjung, Sri Tanjung. Ia berkali menghela napas dan geleng kepala. Lupa di hadapannya masih ada orang lain. Juru Kunci.

Juru Kunci juga tidak berani berkata apa pun. Tapi ia tahu persis bahwa atasannya itu sedang mabuk kepayang. Dan itu akan sangat berbahaya jika tidak terlaksana. Maka ia harus mencari akal untuk dapat memboyong putri pujaan Adipati Blambangan. Tak mungkin diganti dengan orang lain. Ah, Arinten pun gagal. Bukankah ia utusan istimewa? Mengapa Singa Manjuruh katakan tidak bersedia dijemput cuma oleh seorang bekel? Arinten adalah kakak Adipati. Bahkan sebagai ganti ibu Adipati sendiri? Kenapa juga pulang dengan tangan kosong? Kecurigaan timbul di hatinya.

"Yang Mulia..." Ia mengejutkan Mas Ngalit yang sedang melamun. Bahkan mulai bercakap-cakap dengan diri sendiri.

"Eh, ada apa, Patih."

"Barangkali, pengepungan atas Songgon itu mengeraskan hati Garwa Padmi. Ya, ini cuma barangkali, Yang Mulia."

"Hm... mungkin betul pendapat Yang Mulia Patih. Tapi apa akal kita?"

"Justru kita harus menunjukkan sikap yang baik. Merayu itu tidak bisa dengan kekerasan. Kita semua tahu, orang Blambangan tidak suka dipaksa. Yang Mulia Jaksanegara mengalami kepahitan karena menghadapi Mas Rempek dengan kekerasan."

"Jadi?" Mas Ngalit menggeser duduknya. Pantatnya maju. "Kita harus menarik semua pemagar betis itu."

"Nanti dia lari?"

"Jika barisan pagar betis itu dibuka, hamba akan mencoba." "Mencoba?"

"Ya, mencoba datang ke Songgon untuk Yang Mulia." "Baiklah!" Mas Ngalit memutuskan.

Kemudian ia bangkit. Masuk kamar. Bergesa ia membaca surat Yusuf, surat Mariam. Dan beberapa ayat lagi dalam Alquran. Ia mimpi Mas Ayu Tunjung menciumnya. Merayunya. Ah, Sri, tidak kau kasihan padaku? Entah berapa kali sehari ia menyebut nama Sri Tanjung. Hampir-hampir ia tak peduli lagi dengan pekerjaan pembangunan. Ia percayakan semua itu pada para saudagar dan Juru Kunci. Tapi yang ia tahu, pekerjaan memang telah hampir selesai. Bandar malah tinggal sedikit lagi. Ia tidak pernah menghitung, berapa orang mati karena penyakit malaria dan kuning dengan perut membengkak. Umumnya orang cuma mengatakan bahwa mereka ditenung oleh orang-orang Blambangan. Itulah satu- satunya pertanggung-jawaban yang diberikan oleh pihak Mas Ngalit dan VOC. Mereka tidak juga peduli berapa orang lagi yang mati karena cambuk pasukan Kompeni.

Sampai-sampai penyakit muntah-berak yang membawa kematian sangat banyak, baik bagi pendatang maupun Kompeni di tangsi, orang Blambangan yang dituduh sebagai penyebabnya. Tentu kawula Blambangan tak pernah mampu membela diri. Tidak ada orang yang membela mereka. Semua yang merugikan VOC di Blambangan, tidak ada orang lain yang disalahkan. Pasti pengikut Wong Agung Wilis. Sisa laskar Bayu! Karena memang itulah senjata yang paling ampuh untuk menanamkan kebencian orang pada Wilis.

Namun demikian penarikan barisan tapal batas desa Songgon oleh Mas Ngalit itu tidak mengherankan Mas Ayu Tunjung maupun suaminya, Rsi Ropo. Justru membuat mereka waspada. Akal apalagi yang akan dilakukan Mas Ngalit ini? Tentu itu membuat Ropo lebih leluasa mengubah dirinya menjadi Sratdadi yang bisa muncul di mana-mana setiap penjuru Blambangan. Bahkan dengan bebas ia menghubungi Mantrolot dan Singa Manjuruh.

"Begitu tergila-gilanya Mas Ngalit pada Dinda. Sampai menyediakan pesanggrahan yang amat indah. Lengkap dengan kolam dan tempat mandi istimewa," ujar Sratdadi pada istrinya. "Untung aku cepat datang. Jika tidak, bisa-bisa kehilangan bidadariku." "Ah, Suaminda..." Ayu Tunjung mencubit lengan suaminya. "Bisa-bisa saja. Sempat lihat ke istana itu?"

"Tentu menyempatkan diri. Semua wajib kita pelajari. Barangkali ada gunanya." Keduanya kemudian memasuki peraduan setelah Mas Ayu Tunjung mencuci kaki suaminya dengan air bunga.

"Cuma hati sundal yang bisa dibeli, suamiku," katanya setelah keduanya mulai merebahkan diri. Ia cium pipi suaminya.

"Aku percaya." Tiba-tiba saja pandangan mata Sratdadi menatap langit-langit. "Tapi..."

“Kenapa, Kanda?"

"Aku tak tahu, Adinda. Suatu perasaan aneh menelusuri hari-hariku. Bayangan wajah Wilis dan Ayu Prabu serta Dalem Puger dengan Sayu Wiwit silih berganti muncul dalam mimpi- mimpiku "

"Ah, Kanda "Ayu Tunjung memiringkan tubuhnya

menghadap suaminya. Pelan-pelan ia mengelus dada suaminya. Sratdadi menarik napas panjang. "Jangan risaukan itu. Kita tak boleh membiarkan diri berada di bawah bayang- bayang ketakutan."

"Bukan ketakutan ''

"Lalu? Apa namanya itu? Jika kita telah kehilangan keberanian, maka kita telah kehilangan salah satu modal yang kita miliki. Kanda, kita sudah tidak memiliki apa-apa lagi.

Seharusnyalah kita mempertahankan keberanian itu dalam dada kita."

"Kau benar, Istriku. Tapi yang aku risaukan saat ini ialah jika kita harus memenuhi kewajiban terakhir kita, tapi pekerjaan belum selesai, apa akan jadinya negeri kita ini? Tidakkah kau sadari bahwa kita belum mampu mempersembahkan apa-apa buat pertiwi kita ini?" Beberapa jenak keheningan merajai suasana. Di Luar suara satwa malam bersaut-sautan. Tak ada lagi suara anak-anak kecil berlarian atau main gobak sodor. Kedinginan mulai merasuk ke tiap sela dinding. Terus menjamah siapa dan apa pun. Minyak kelapa di tempatnya pun menjadi beku.

"Apa kita harus mengungsi?" tiba-tiba Ayu Tunjung memecah kesunyian.

"Ada terpikir seperti itu. Tapi masalahnya akan jadi lebih rumit. Dulu kita punya banyak persediaan makanan untuk memindahkan orang ke hutan lain dan membabatnya. Tapi sekarang? Akd tak sanggup melihat mereka mati kelaparan karena cuma membela kita berdua."

"Demi kepentingan mereka juga."

"Cuma kau yang dicari oleh Mas Ngalit! Bukan mereka!" "Jika demikian, kita tinggalkan saja mereka di sini. Kita

pindah dan mendirikan tempat sendiri."

"Adinda, itu pikiran yang bagus. Tapi tentulah -kurang bijak. Karena Mas Ngalit akan membantai kawula Blambangan yang cuma tinggal kira-kira tiga ribu orang ini. Maka akan punahlah kita seperti bangsa Banda. Ya, pribumi Banda yang dipunahkan oleh samurai Jepang, di bawah uang Yan Pieter Zoen Coen."

Kembali keduanya berdiam untuk beberapa jenak. Sama- sama menatap langit-langit. Bahkan berulang keduanya menyebut nama Hyang Maha Pencipta. Keduanya sering menghela napas panjang.

"Sungguh seperti telur di ujung tanduk." "Ya, Kanda. Seperti telur di ujung tanduk." "Lalu apa akal kita sekarang?"

"Melawan berarti konyol. Mengalah berarti jadi budak. Ah..." Sratdadi menatap istrinya kini. Dua mata beradu. "Andaikata ini satu keberakhiran, maka seharusnyalah kita melakukan..."

Ayu Tunjung segera menutup mulut suaminya dengan telunjuknya yang runcing itu. Ia tidak ingin kemesraan segera berakhir...

***

Kepulan debu membubung tinggi ke angkasa mengiringi rombongan berkuda yang dipimpin Juru Kunci. Tidak banyak. Berjumlah lima belas orang Kompeni berkuda. Bukan kulit putih. Kompeni yang berkulit sawo matang. Umumnya bertopi bundar terbuat dari mendong. Warna pakaian mereka kuning kehijau-hijauan. Bersepatu. Cuma Juru Kunci yang mengenakan baju dari kain beludru berwarna hitam. Dihiasi dengan kancing-kancing emas. Di pinggangnya terselip keris. Di belakang kuda Juru Kunci ada sebuah kereta ditarik dua kuda. Kereta kehormatan milik Adipati Raden Tumenggung Wiraguna. Kini rombongan itu mulai memasuki Songgon untuk menjemput sang Garwa Padmi.

Semua orang yang sedang berpapasan jalan mengumpat karena napas mereka menjadi sesak oleh debu itu. Tapi begitu masuk di desa Songgon ini, Juru Kunci amat heran. Kawula yang berpapasan dengan rombongannya tidak mematuhi peraturan yang berlaku di seluruh Blambangan. Seharusnya mereka yang berpapasan dengan Kompeni, apalagi jika sedang mengawal seorang pembesar negeri, maka mereka harus melempar senjata apa pun yang sedang mereka pegang. Sabit, cangkul, atau apa saja, harus mereka lempar sejauh dua depa. Dan. mereka harus membuka topi atau destar yang sedang mereka pakai, kemudian menjatuhkan diri menyembah dengan kepala tertunduk. Tapi kawula Songgon tidak melakukannya. Tersinggung sebenarnya. Tapi ia maklum, Songgon memang tak sudi mengakui kekuasaan Kompeni. Karena itu tak seorang pun acuh pada rombongan itu. Bahkan beberapa ada. yang berani meludah ke tanah. Gila! Betul-betul berhati iblis mereka itu, kutuk Juru Kunci dalam hati. Meskipun begitu, ia mengakui bahwa desa ini lebih rapi dari kota-kota lain di Blambangan. Kendati tak satu pun loji berdiri. Nyiur, pisang, padi, pohon kembang kantil atau kenanga, semua masih berjajar rapi di tiap pekarangan.

Kehijauan menandakan kesuburan. Tak heran meski dikepung oleh pagar betis, mereka tidak kelaparan. Lumbung para petani nampak penuh. Bahkan tumpukan padi sepertinya sengaja dipamerkan di semua halaman. Baik yang sedang dijemur, atau yang masih ada merangnya. Musim kemarau, musim mereka panen. Kelapa dan sayur tidak perlu membeli. Barangkali cuma garam yang harus mereka cari di luar Songgon. Sayur terong, lombok, bayam, kangkung, rebung, nangka muda, semua ada. Juga ikan! Juru Kunci sempat melihat betapa hampir setiap rumah menyudet kali kecil yang mengalir melewati halaman mereka untuk mengairi kolam- kolam kecil mereka. Tentu mereka tidak kekurangan ikan. 'Lele, gabus, wader, belut, bahkan ikan oling (ikan muria, ikan panjang, bisa besar. Sebesar paha atau lebih) Ah, andai mereka membayar upeti, tentunya makin banyak yang dapat dijadikan penghasilan Blambangan. Tapi sejak Jaksanegara, atau mungkin sebelum itu, orang Songgon bebas upeti.

Anak-anak kecil yang bermain di halaman tidak nampak kurus-kurus seperti pemandangan umum di Blambangan. Biasanya di daerah lain ia melihat anak-anak selalu ketakutan melihat rombongannya. Berlarian dengan membawa borok di kepala, kopok di telinga, ingus menggandul tebal di bawah hidung. Tapi anak desa Songgon tidak takut. Tidak lari. Malah berkerumun. Menonton seperti menonton komedi- kera yang biasa berkeliling. Setan! Inginnya hati meremukkan kepala anak-anak yang tidak pernah diajar kesantunan itu! Tapi ia tahu itu akan menggagalkan niatnya memborong sang Garwa Padmi. Apalagi perempuan-perempuan itu. Sambil menjemur gabah dan padi, meneriaki rombongan agar memperlambat lari kuda mereka. Debu! Ah, perempuan-perempuan!! Dengan susu tergoler, pusar terpamer, tidak risi dipandangi oleh mata Kompeni-kompe-ni berkuda itu dengan lahapnya. Juga tak risi mereka mengelus kambing, babi, atau kerbau peliharaan mereka. Ayam, itik juga membantu kesan kedamaian yang tidak ada duanya di daerah Blambangan lainnya.

Juru Kunci terus menuju rumah besar di dekat pura. Ia tahu di sanalah Ayu Tunjung yang dipanggil Sri Tanjung oleh Mas Ngalit itu tinggal. Ia belum pernah melihat wajah perempuan itu. Seperti apa, sampai-sampai membuat Raden Tumenggung Wiraguna enggan makan dan emoh tidur. Di pura banyak kembang-kembang dan bau dupa masih jelas merangsang hidung. Tentu kawula Songgon baru saja mengadakan upacara beberapa hari lalu. Sebagai ucapan syukur atas keberhasilan panen. Atas kesuburan. Atas semua karunia dan anugerah yang diberikan oleh Hyang Maha Ciwa. Ah, begitu kokoh mereka itu. Sisa-sisa daun pembungkus sesaji juga masih bosah-baseh. Tentu rombongan ayam akan berebut dengan rombongan anjing dan kucing untuk menyantap sisa-sisa sesajian itu. Bahkan juga kambing dan babi. Tapi Juru Kunci tidak menggubris itu. Ia terus menuju ke pertapaan. Panas mentari membakar kulit membuatnya haus.

Kuda dan kereta mereka terus melintas gerbang dan masuk ke halaman. Nyaris di dekat titian mereka baru berhenti.

Betapa terkejutnya Juru Kunci kala berhenti, Mas Ayu Tunjung serta suaminya sudah menyambut mereka di titian pendapa. Di belakang kedua orang itu berdiri juga beberapa murid wanita yang sebenarnya adalah bekas pengawal pribadi Ayu Tunjung. Selain mereka juga berdiri para cantrik lelaki.

"Dirgahayu, Yang Mulia!" Rsi Ropo menyapa lebih dahulu. "Silakan naik ke pendapa! Dua hari rupanya Yang Mulia

menempuh perjalanan jauh ini." Ayu Tunjung menambahi dengan suara merdu. Luar biasa! Juru Kunci menyebut dalam hati. Bagaimana Raden Tumenggung tidak tergila-gila memandang wajah yang tanpa cela seperti ini? Pipi montok itu memamerkan lesung pipitnya waktu tersenyum. Keserasian warna kulit, sekalipun tidak kuning seperti umumnya para putri dalam cerita dongeng, namun merupakan kemanisan yang tiada taranya. Rambut ikal nampak jelas sekalipun disanggul ke atas kepala dan diikat dengan untaian mutiara. Tusuk konde emas bergoyang-goyang seirama dengan gerakan tubuh wanita muda itu. Bibir mungil dan tipis itu dicat dengan warna merah oleh kinangan, sungguh hiasan alam yang tiada bertara. Apalagi sebanding dengan wajah yang berbentuk bulat telur dengan kulit mulus. Matanya menatap tajam seolah bintang fajar yang bersinar dinihari. Dan kala mata Juru Kunci melirik lebih ke bawah, ia melihat susu seolah buah kates kembar. Putiknya tertutup kembang di ujung tali kutang emas. Gila! Hati Juru Kunci berdesir memandang kulit perut di seputar pusar. Tanpa kerut. Tanpa daki. Ia berdecak dalam hati.

Di dalam pendapa ia dipersilakan duduk di amben. Dan matanya hampir tak percaya bahwa orang yang mengenakan jubah kuning terbuat dari bahan sutera Cina itu kemudian duduk d'i sebelah sang putri. Siapa pemuda tampan dengan kumis kecil melintang di bawah hidung mancungnya itu?

Suaminya? Atau saudaranya? Juru Kunci menjadi iri. Kenapa justru Raden Tumenggung Wiraguna yang melihat wanita ini lebih dahulu. Bukan aku? Jika aku, barangkali ia akan mengganti kedudukan Rani, istrinya. Ia mengusap mukanya yang bopeng itu dari debu. Bahkan mengelus kumisnya yang jarang-jarang itu. Tapi perutnya yang makin buncit itu tak mungkin disembunyikannya.

"Sangat senang dengan kehadiran Yang Mulia Patih.

Hormat, dari seluruh kawula Songgon untuk Yang Mulia," Rsi Ropo memulai sambil tersenyum. Dan keduanya selalu senyum. Kemudian menyodorkan kinangan. Pengawal Juru Kunci juga dipersilakan duduk dalam pendapa itu. Kendati tidak ada tempat duduk buat mereka.  "Terima kasih." Suara Juru Kunci parau. Tapi jantungnya masih saja belum teratur. "Tapi hamba belum berkenalan dengan..."

"Jagat Dewa Bathara!" Rsi Ropo menyebut. "Siapa yang tak pernah dengar bahwa Yang Mulia Juru Kunci adalah kepala pemerintahan di Blambangan? Tentulah Yang Mulia orangnya."

"Maksud hamba..." Juru Kunci makin gugup. Mata Rsi Ropo setajam pedang yang sanggup membelah hatinya.

"Oh, hamba adalah Rsi Ropo. Dan ini istri hamba, Nyi Ayu Tunjung. Dan itu, yang duduk di sana adalah para cantrik, atau para sayu," Rsi memotong lagi dan tangannya menuding para muridnya.

"Astaghfirullaahal'azhiim!" Juru Kunci terkejut. "Rsi Ropo?" ulangnya.

"Ya. Hamba Rsi Ropo. Kenapa?" Rsi Ropo melebarkan matanya. Juru Kunci tampak pucat. Debar jantung orang itu makin mengeras.

"Eh, tidak apa-apa. Jadi ini istri Yang... eh, Yang Tersuci?" "Ya. Kenapa? Yang Mulia sakit?"

"Ti... ti... dak. Cuma terlalu lelah."

Mas Ayu Tunjung segera memberi isyarat seorang pengawalnya untuk mengambilkan minum air gula aren. Juga pada para pengawal. Kompeni itu. Bahkan lebih dari itu kepada mereka dibagikan juga makanan. Telur rebus dan opor ayam sebagai lauknya.

"Kita makan. Barangkali setelah ini kita bisa lebih santai bercakap-cakap."

"Tapi kedatangan kami bukan untuk ini." "Kami tahu. Tapi tak ada jeleknya makan terlebih dahulu. Setelah itu kita berbincang lagi. Jangan ragu. Kebetulan kami tidak memasak babi."

Di pendapa itu mereka makan. Piring keramik buatan Cina mengundang pertanyaan Juru Kunci, dari mana mereka mendapatkannya? Juga cawan. Ternyata Songgon bukan kumpulan orang-orang miskin. Tapi jelas, mereka orang-orang kikir. Tak mau membantu pemerintah membangun negerinya.

Cuma sedikit ia makan. Daging kambing kesukaannya tidak ada di situ. Tapi bukan hanya itu penyebabnya. Ia merasa ditipu oleh Singa Manjuruh. Bukankah-orang ini yang dimaksud Sri Tanjung itu? Mana mungkin minta dijemput? Dia sudah bersuami. Tak mungkin seorang satria ingkar janji. Tak mungkin! Singa Manjuruh perlu dihukum. Ia tahu persis, bahwa harini pun ia akan pulang dengan tangan hampa.

Ketiganya segera menyelesaikan makan siang itu.

"Nah, Yang Mulia, sekalipun makan cuma sedikit, mudah- mudahan itu bisa memberikan ketenangan bagi Yang Mulia. Dengan membawa kereta kosong seperti itu, hampir dapat dipastikan, kedatangan Yang Mulia mempunyai maksud yang sama dengan Singa Manjuruh." Rsi Ropo kembali memojokkan Jurukunci.

"Yah..." Juru Kunci mengangguk-angguk. "Hamba diperintahkan menjemput calon garwa padmi, Sri Tanjung. Apakah hamba bisa segera bersua dengan beliau?"

Rsi Ropo memandang istrinya sebagai isyarat agar menjawab pertanyaan Juru Kunci.

"Di sini tidak ada yang bernama Sri Tanjung. Barangkali saja Yang Mulia keliru. Seluruh Songgon sudah kami cari. Tak seorang pun yang bernama Sri Tanjung," Ayu Tunjung kini yang menerangkan. Sambil senyum. Dan begitu senyumnya berhenti, hati Juru Kunci seolah ikut tersedot. Entah ke mana. "Yang Allah! Singa Manjuruh telah memberikan laporan palsu. Sepatutnya ia dihukum." Juru Kunci menggertakkan gigi.

"Apa salahnya?" Mas Ayu memburunya dengan pertanyaan. "Sri Tanjung ada di sini. Dan minta dijemput dengan kereta

kehormatan. Apa itu tidak menghina seorang adipati? Juga

tidak menghargai hamba?"

"Benarkah itu? Singa Manjuruh datang atas perintah Adipati untuk melamar hamba. Tapi bukan Sri Tanjung! Ayu Tunjung."

"Tapi calon garwa padmi itu masih gadis "

"Benar, lima bulan lalu. Waktu Wiraguna alias Mas Ngalit itu kebetulan tersasar ke sini. Tapi sebulan setelah perjumpaan itu, hamba kawin dengan Rsi Ropo."

"A'uuzhu billaah min dzalik! Bagaimana bisa terjadi? Setelah berjanji pada seorang adipati kemudian kawin dengan orang lain? Bukankah itu menyakitkan hati?"

"Hyang Dewa Ratu! Siapa bilang aku sudah berjanji?" Muka Ayu Tunjung merah padam. Kedua alisnya yang tebal itu merapat. Makin membuat wajahnya cantik. "Cuma lidah drubiksa yang biasa menyemburkan dusta dan fitnah semacam itu!"

"Ampun, Yang Mulia," Juru Kunci berusaha memperbaiki suasana. "Jangan marah. Hamba cuma mendengar cerita dari Raden Tumenggung Wiraguna sendiri. Mungkinkah seorang penguasa tertinggi semacam beliau itu berdusta?"

"Jadi seorang Wiraguna tidak bisa berdusta?" Ayu Tunjung tersenyum melecehkan. Tapi matanya masih membara. Juru Kunci diam. Rsi Ropo juga. "Dari namanya saja sudah jelas menunjukkan. Betapa tidak? Wira berarti menang. Pemenang! Guna artinya selalu berguna bagi orang banyak. Tapi, apakah benar ia pemenang? Kapan ia turun ke kancah peperangan?" Ayu Tunjung tertawa kini. Seperti melihat suatu lelucon. Tiba- tiba hati Juru Kunci meriup seperti siput. "Ia lebih suka berlindung di balik pinggul kakaknya, Mas Ayu Nawangsurya, waktu pasukan Madura berderap memasuki Pakis. Itukah Wira?" Lagi tertawa ramah. Meski tak ikut ditertawakan, hati Juru Kunci makin meriup. Kembali suara merdu Ayu Tunjung menyatakan pendapatnya,

"Dan apa yang telah dikerjakannya maka ia digelari orang yang paling berguna? Memang pantas kalau yang memberi gelar itu bandit perampok dan yang menerima gelar adalah maling keciL Maling! Menjual tanah kawula yang tak berdaya. Mengirim kawula pada kerja paksa bagi kepentingan kekuatan modal! Itu? Berguna? Memalukan! Bagaimana ada wanita Blambangan sudi dikawin oleh seorang pengecut macam dia? Nah, Yang Mulia, sampaikanlah apa yang Yang Mulia dengar dariku ini padanya! Aku telah bersuamikan seorang yang telah pernah mengalahkan mati! , Rsi! Ya Rsi Ropo." Ayu Tunjung berdiri kini. Telunjuknya menuding kereta kehormatan. "Hamba bukan seorang yang gila hormat. Tak usah datang dengan kereta kehormatan semacam ini. Hamba bukan macam perempuan seperti Mas Ayu Arinten, yang bisa pindah dari satu lelaki ke lelaki lainnya."

"Walau suaminya sudah mati?" Juru Kunci bertanya. Sedikit berdesir hati Ayu Tunjung. Bukankah itu ancaman?

Bahwa sewaktu-waktu ia bisa menjadi janda? Mungkin sekali dalam benak Juru Kunci sekarang mulai tersusun akan membunuh Ropo suaminya. Namun dengan tegas ia menjawab,

"Walau suamiku mati! Apalagi jika ia mati membela kebenaran. Ah, betapa bangganya punya suami seperti itu. Karena ia akan menjadi pahlawan bagi kebenaran itu sendiri. Memang bandit tak pernah menilai Wong Agung Wilis sebagai pahlawan. Ia bahkan dianggap momok! Sampaikan ini pada Wiraguna! Ayu Tunjung tidak pernah dan tidak akan pernah bersuamikan penjual tanah dan kehormatan milik moyangnya pada orang lain. Apalagi seorang yang tak pernah punya jatidiri!" Itulah akhir kata-katanya. Juru Kunci segera beranjak dengan hati kecut.