Babad Tanah Leluhur Jilid 10 (Tamat)

Jilid 10 (Tamat)

“Pak Dondong,” Cempaka menoleh pada pak Dondong yang manggut-manggut sedari tadi. Dia berkata, “Pulanglah sendiri. Ah, maaf aku tidak bisa menceritakan siapa diriku.”

Cempaka langsung melesat keluar dari jendela. Tubuh perempuan itu hilang di balik rumah-rumah penduduk desa. Pak Dondong dan Nyai Langit saling pandang.

“Oh, dewata agung. Aku salah duga. Tadi pagi aku mengira dia seorang wanita yang lemah dan halus. Eeh, tak tahunya seorang perempuan yang memiliki ilmu yang tinggi.” gumam pak Dondong.

“Pak Dondong, apakah tidak mungkin dia yang membunuh suamiku?” “Entah ya…” Pak Dondong merenung sesaat, lalu perlahan dia menceritakan awal pertemuannya dengan Cempaka di rumah makan miliknya. Lalu menceritakan juga bagaimana Daruta dan Pisang Langit mengejar Cempaka saat keluar dari rumah makan. Nyai Langit hanya mengangguk-angguk. Wajahnya tampak murung. Setelah menceritakan semuanya, pak Dondong pamit pulang.

“Oh, aku harus berjalan dalam hutan ini. Aku tidak mau ketahuan oleh para prajurit yang mencariku.” Cempaka terpaksa memilih berjalan di dalam hutan untuk menghindari pertemuan dengan prajurit yang mencarinya. Dalam kesunyian hutan itu, kembali hatinya menjadi rapuh, “Oh, kanda Purbaya… Untuk apa lagi kau mengirim para prajurit untuk mencariku. Bukankan kau telah mendapatkan penggantiku? Bukankah Asmarani jauh lebih cantik dari seorang Cempaka? Selamat tinggal kanda Purbaya. Aku akan pergi jauh. Pergi entah kemana. Oh, biarlah aku hidup sendiri seperti ini. Biarlah aku terlunta-lunta di dalam alam bebas ini. Oh putriku Jaga Paramuditha, maafkan ibundamu ini Nak. Ibunda tidak bisa lagi bersamamu.”

Cempaka terus menyusuri tepian hutan yang rimbun itu menuju entah kemana. Dia tidak tahu arah mana yang dilaluinya. Pikirannya begitu kacau. Duka di hatinya terasa begitu berat menindih perasaannya. Bayangan putrinya Jaga Paramuditha bermain di pelupuk matanya. Tanpa terasa ada air bening mengalir jatuh membasahi pipinya. Perempuan keraton Karang Sedana itu terus terisak-isak. Perlahan dia menyusut air matanya. Perih di dadanya membuat dia merintih.

“Oh, dewata yang maha agung. Aku tidak bisa menyerahkan nasib hidupku ini pada orang lain, kecuali padaMu. Karena hanya engkaulah yang maha segala-galanya. Engkau maha agung. Engkau maha mengetahui apa yang akan terjadi dan yang sudah terjadi.”

Cempaka terus berjalan. Tanpa disadarinya dibelakangnya muncul sesosok tubuh yang menguntit langkahnya. Gerakan orang itu begitu ringan. Cempaka terus berjalan dengan keresahan dan kecewa.

“Hohohoho, seorang perempuan yang langkah dan kecewa. Tanpa sadar kalau aku menghampirinya dengan kematian. Hohohoho.”

“Hmm, rupanya ada yang menguntitku sampai kedalam hutan ini. Celaka, aku tidak menyadarinya.” Cempaka tersadar, kemudian membentak. “ Heh! Siapa kau?!”

“Huahahahah,” penguntit Cempaka menampakkan dirinya.

<??? seperti ada yg hilang>

“Oh, orang hitam ini mengenal aku. Dia juga mengenal kanda Purbaya. Heh, dia tidak boleh dianggap remeh. Dia pasti memiliki ilmu yang tinggi. Buktinya, dia mengikutiku dan aku tidak menyadarinya.”

“Bagaimana Cempaka, kau setuju kalau kita adakan kerjasama ini? Iya, kau harus menerima ajakanku ini Cempaka. Ini suatu tawaran yang baik. Kalau tidak, kau akan menyesal. Karena kau tidak akan bisa lepas dari tanganku. Karena selain Purbaya yang harus mati ditanganku, kau pun harus mati. Kecuali kau mau bekerja sama denganku. Bagaimana Cempaka?”

“Sekali aku katakan tidak sudi, sampai kapanpun aku tidak akan bekerja sama denganmu. Apapun yang terjadi akan aku hadapi.”

“Hemm, huehheheheheh.” Pria hitam itu tertawa terkekeh, lalu dia berseru-seru dan berkata dengan suara menggelegar, “Kau tidak akan bisa menolakku Cempaka. Karena aku akan memaksamu. Ketahuilah kau tidak akan bisa melawanku. Kau akan tunduk kepadaku. Kau akan tunduk pada kemauan Garon Safa! Penguasa alam kegelapan, hmmm. Muahahahahahh!”

“Dan kau   akan   menjadi   budakku.   Kau   akan   menjadi   pemuas   nafsuku.

Ohoahahahaha! Oh, Cempaka… Ayo! Tunduklah.”

“Setan alas! Kau laki-laki cabul! Aku akan membunuhmu! Haaiitt!!”

“Cempaka! Aku tahu sampai dimana kekuatan ilmumu itu. Dan kau tidak akan bisa melawanku.”

Cempaka menyerang Garon Safa dengan ilmu tingkat tinggi. Namun laki-laki bertubuh hitam dan tinggi itu menghindar dengan cepat. Gerakannya yang aneh membuat Cempaka kebingungan.

“Heahahahahah, hebat! Hebat! Ah hayoh, kerahkan semua ilmumu Cempaka. Haitt, Hiaat!! Hahahaha, aku akan menang. Aku akan menangkapmu. Aku akan membekukmu. Setelah itu kau akan menjadi pemuas hatiku. Kau harus melayaniku.” Garon Safa kembali tergelak. Dia sengaja mempermainkan Cempaka seperti seekor kucing mempermainkan tikus yang hendak dimangsanya. “Heahh! Aku tahu betapa selama di goa karang, heh… kau kesepian. Kau merindukan belaian laki-laki. Hahahaha!”

“Heiit, Ciahhh! Nantilah Cempaka. Nantilah aku akan membelaimu. Dan kau akan merasakan betapa aku ini jauh lebih perkasa dari si Purbaya itu huahahaha!”

“Kau manusia cabul! Manusia rendah! Hait! Hupp!” Cempaka makin marah dengan omongan-omongan cabul musuhnya. “Jangan harap kau bisa melakukan apa-apa padaku. Kau jangan bermimpi dapat melumpuhkan diriku. Karena kau sendiri akan mati ditanganku! Haiiit! Hupp! Hiaattt!!”

“Siapa bilang, heh?! Hiat! Hiat!!” ejek Garon Safa sambil menepis serangan Cempaka. “Percayalah padaku Cempaka, sebentar lagi kau akan kutundukkan.”

Garon Safa bersalto dua kali kebelakang. Lalu dia memejamkan matanya. Mulutnya berkomat-kamit membaca mantera. Dan ketika matanya dibuka, tampak sepasang sinar biru menyala. Cempaka tersentak melihat sepasang mata lawannya.

“Heahahahahaha, Cempaka kau sudah lelah. Kau sudah lelah. Duduklah. Istirahatlah. Tutup matamu. Kau sudah lelah, Cempaka. Ayo duduklah. Duduklah, sayang. Aku akan menemanimu. Ayo, duduklah. Kau lelah bukan?”

“Oh,… iya. Iya… Ah… Aku… aku lelah sekali. Aku lelah. Oh, Aku mau beristirahat.

Aku lelah.” desah Cempaka lemah, dia terkena serangan hipnotis tiba-tiba.

Cempaka tanpa dapat berbuat apa-apa langsung menjatuhkan dirinya. Perempuan itu tertunduk lelah. Wajahnya tampak lelah sekali. Nafasnya memburu. Pada saat itu Garon Safa mendatanginya. Perlahan dia menunduk di depan Cempaka, lalu terdengar dia membisikkan kata-kata, “Cempaka,… kau lelah. Kau mau kalau aku melepaskan bajumu. Kamu mau melayaniku. Kau ingin kesenangan itu kan?!”

“Oh, Iya,… Iya. Aku ingin menikmati semuanya. Ahh, ayo,… berilah kesenangan itu… padaku… Ayo,… peluklah aku. Aku…” kali ini desah Cempaka bagaikan seorang istri yang mendambakan sentuhan suaminya. Desahan penuh berahi.

Garon Safa tersenyum. Ada kepuasan terbayang di matanya. Laki-laki itu semakin mendekatkan tubuhnya ke tubuh Cempaka. Perlahan, tangannya membelai rambut Cempaka yang hitam.

(15)

Pada kisah yang lalu diceritakan, Cempaka yang pergi dari desa Babatan, di dalam hutan dia bertemu dengan Garon Safa yang memiliki ilmu sihir. Dan dengan ilmu sihir itu, Garon Safa menundukkan Cempaka. Sehingga dia tidak berdaya. Setelah Cempaka tidak berdaya, Garon Safa mendekatinya sambil tersenyum penuh kepuasan. Laki-laki itu mendekatkan tubuhnya ke tubuh Cempaka. Dan perlahan tangannya membelai rambut Cempaka.

“Eheheheheheh, kau cantik sekali Cempaka. Kau adalah wanita cantik yang pertama kali kujumpai di tanah Pasundan ini. Kau manis, ayu dan lembut. Aku bahagia sekali. Ahahahahh. Ayolah Cempaka, kita nikmati pertemuan kita ini. Kurasa hutan ini cukup sepi dan indah untuk kita berdua hahahaha..” Garon Safa terkekeh senang.

“Oh, kanda Prabu... Kau... kau gagah sekali. Aku merindukan hal ini. Aku sudah lama mengharapkan belaian seperti ini. Oh, kanda prabu...” dalam pandangan Cempaka, Garon Safa saat itu adalah Purbaya yang sangat dirindukannya.

Garon Safa kembali terkekeh, “Iya, begitu juga aku Cempaka. Nah, tataplah mataku. Kau akan tenang. Tataplah mataku, kau ingin menikmati kebahagiaan itu, bukan? Nah, bukalah bajuku Cempaka, nanti aku akan membuka bajumu. Ayo, bukakan bajuku Cempaka.”

Dengan patuh Cempaka meraba dada Garon Safa, lalu perempuan itu membuka baju Garon Safa. Tak lama kemudian Garon Safa telah berdiri di dekat Cempaka dengan tubuh telanjang. Lalu laki-laki itu mendekati tubuh Cempaka dengan penuh nafsu, diusapnya kepala Cempaka. Lalu dengan cepat dia menarik tubuh Cempaka kedalam pelukannya. Dan disaat itu pula tangannya meraba dada Cempaka dan melepaskan kancing baju Cempaka. Namun disaat itu, tiba-tiba ada seberkas sinar kuning memancar dari tubuh Cempaka...

Sinar kuning itu bergulung dengan cepat, lalu menghantam punggung Garon Safa. Laki- laki yang diamuk hawa nafsu birahi itu terkejut, lalu mencelat ke belakang.

“Bangsat! Oh, sinar kuning itu mencelat ke ujung kaki Cempaka. Dia berbentuk seperti bola. Apakah ada makhluk ghaib di tubuh perempuan itu?”

“Ooh, manusia cabul! Kau datang jauh-jauh dari Tibet hanya untuk berbuat mesum di tanah jawa ini?! Heh, jangan mimpi kau!” terdengar suara perempuan yang amat berwibawa bergema di tempat itu.

“Ah, bangsat! Siapa kau?! Sinar jelek! Kau makhluk dari mana? Kenapa kau mengganggu kesenangan kami? Ayo, pergi kau dari sini! Ayo!!”

“Aku tidak akan mengganggu kesenanganmu, kalau yang kau ganggu bukan Cempaka. Dia cucuku. Dia junjungan rakyat tanah pasundan! Dia perempuan terhormat, dia dikasihi para dewa.”

“Uh, bangsat! Siapapun adanya dirimu, kau... kau akan kuhancurkan! Hiiyaaat!!” “Mana bisa kau menghancurkan diriku? Tapi kau lah yang hancur!” suara itu

kemudian berkata pada Cempaka, “Cempaka... Pusatkan pikiranmu. Satukanlah kekuatan

batinmu. Aku akan masuk kembali ke dalam tubuhmu. Bukalah pintu jiwamu. Hmm, tunggulah sebentar lagi manusia terkutuk. Kau akan melawanku dalam bentuk kasar.”

“Kau tak akan kubiarkan masuk ke dalam tubuh Cempaka. Kau akan kuusir jauh-

jauh.”

“Kau akan menggunakan kekuatan ghaibmu hmm?! Jangan mimpi kau manusia jelek! Kekuatan ghaibmu tidak akan bisa menundukkan dewi Pohaci, kekasih dewa Wisnu!”

Garon Safa tersentak. Ilmu sihir yang akan dikeluarkannya ditariknya kembali. Lama ditatapnya bulatan kristal sinar kuning di dekat kaki Cempaka yang duduk bersemedi itu. Sinar itu begitu agung dan berseri. Laki-laki dari Tibet itu terpana. Pada saat itulah Cempaka merentangkan kedua tangannya. Dan bersamaan dengan itu, sinar agung tersebut melesat keatas lalu masuk ke dalam telapak tangan Cempaka yang terbuka.

“Oh, celaka! Dia masuk kembali ke dalam tubuh Cempaka. Aku harus menghajarnya dengan ilmu sihirku.” kembali Garon Safa menggunakan sihirnya. Matanya bersinar kebiru-biruan. Dia berkata, “Cempaka, tatap mataku. Kau lelah bukan? Kau butuh istirahat bukan? Kau lelah Cempaka!”

“Lelah dengkulmu! Hiyaatt! Mampus kau manusia terkutuk! Ayo, keluarkan lagi ilmu silumanmu itu! Hiyyahhh!!” bentak Cempaka. Sihir Garon Safa tidak mempan kali ini. Tubuh Cempaka melesat cepat, kaki kanannya menerjang lambung Garon Safa. Serangan itu disusul dengan sambaran tamparan tangan kiri yang memutar setelah Garon Safa memiringkan tubuhnya menghindari terjangan Cempaka. “Dhess!”

“Cempaka, kau dapat menahan ilmu sihirku. Tapi kau dapat kutundukkan dengan ilmu silatku! Kau akan kuhancurkan! Kau akan kubunuh di dalam hutan ini!!” gertak Garon Safa. Dia sangat kesal, birahinya tak kesampaian. Dan lebih kesal lagi karena dia terpaksa bertempur dalam keadaan telanjang bulat.

“Lakukanlah kalau kau bisa, manusia terkutuk! Justru kau lah yang akan kuhancurkan di sini. Dan kau akan mati tanpa pakaian di sini! Kau akan mati telanjang! Biar setan-setan hutan ini yang memperkosa mayatmu!”

“Ah lincah sekali. Aku tidak bisa mengambil pakaianku. Oh hoh, apakah aku akan menghadapinya dengan tubuh telanjang begini? Huuhh, bagaimana kalau ada yang menonton? Uhhh, tapi peduli setan, yang penting aku harus menundukkannya secepatnya. Setelah itu aku harus pergi dari tempat ini.”

“Jangan berpikir kau bisa menundukkan diriku manusia hitam! Keluarkanlah semua ilmu yang kau bawa! Hadapi aku!”

“Kalau bertahan seperti ini, aku akan kalah. Aku bisa binasa sendiri. Ahh, sebaiknya aku gunakan ajian lima bayang-ku, biar dia tau rasa.”

“Hmm, dia mundur kebelakang. Berarti dia akan mengeluarkan kesaktiannya.

Sebaiknya aku pun mengeluarkan ilmuku. Aku harus segera membunuhnya.”

Cempaka meloncat kebelakang. Lalu dia duduk sambil merangkapkan kedua tangannya di depan dada. Tak lama kemudian tampak uap kuning keluar dari dalam kepalanya. Uap tipis itu semakin lama semakin banyak kemudian menutupi seluruh tubuhnya. Sinar kuning keemasan itu begitu menyilaukan mata.

Sementara dari tubuh Garon Safa pun nampak keluar uap kehitaman yang berbau amis. Satu keanehan terjadi, tubuh Garon Safa berubah menjadi lima bentuk yang mirip dirinya. Lalu dengan cepat, kelima bayangan itu menyerang ke arah Cempaka.

“Hmm, Ilmu lima bayang-bayang. Dulu, aku dan kanda Purbaya pernah menghadapi resi Amistha yang menggunakan ajian lima bayang-bayang. Oh, apakah dia ini memiliki hubungan ilmu dengan Resi Amistha?”

“Hahahahah!” tergelak salah satu bayangan Garon Safa, lalu katanya lagi “Kau akan mati di sini Cempaka. Kau tidak akan bisa keluar dari kurungan ilmu lima bayang- bayangku ini.”

“Kau boleh sesumbar sesukamu. Kau boleh mengatakan aku tidak bisa keluar dari ilmu kentut murahanmu itu. Ilmu lima bayang-bayang hanya ilmu tukang sulap picisan! Sebentar lagi kenyataan yang akan bicara. Ilmu lima bayang-bayangmu akan musnah dan hancur!”

Cempaka bergerak semakin cepat. Kedua tangannya yang terisi dengan ilmu kesaktian itu mencecar ke arah Garon Safa. Tiga bayangan Garon Safa yang terkena pukulan. Namun dengan ajaib, bayangan itu hidup lagi dan menghantam ke arah Cempaka.

“Hahahahahah!!” tergelak Garon Safa seperti mendapati sesuatu yang lucu. “Kau tidak akan bisa merobohkan ku Cempaka. Sebaiknya kau tunduk dan menyerah saja kepadaku! Hiyaaattt!”

Cempaka tidak menanggapi apa yang diucapkan oleh Garon Safa, tapi dia terus mendesak dengan pukulan-pukulan maut. Hingga suatu ketika, Cempaka berhasil menghantam sebuah bayangan Garon Safa. Bayangan itu menjerit. Dengan terpentalnya tubuh Garon Safa, secara menakjubkan, seluruh bayangannya yang lain memudar dan hilang seketika.

“Hahahaha! Bayangan mu yang lain telah sirna, Garon Safa!” Cempaka tertawa mengejek. “Sekarang, terimalah kematianmu!”

“Celaka, dadaku... dadaku sesak sekali. Mulutku berdarah. Aku harus pergi dari sini. Aku harus menyelamatkan diriku.” Garon Safa tak peduli apapun lagi, dia langsung lari terbirit-birit dari hutan itu dengan ilmu meringankan tubuhnya. Tubuh hitam telanjang dan berbulu itu melabrak apapun yang berada dihadapannya, lalu menghilang.

“Oh, setan! Pengecut! Jangan lari kau! Kau tidak akan kulepaskan begitu saja!” Dengan cepat Cempaka berkelebat mengejar ke arah larinya Garon Safa, namun dia kehilangan jejak. Garon Safa lenyap diantara lebatnya pepohonan hutan. Cempaka berhenti sejenak.

“Oh, setan! Manusia terkutuk itu berhasil melarikan diri. Suatu saat kelak kalau bertemu, aku tidak akan memberi ampun padamu. Oh, hampir saja aku menjadi korban kebiadabannya. Oh, terima kasih nyai dewi Pohaci... engkau telah menyelamatkan aku dari sebuah dosa yang amat besar dan terkutuk.”

Setelah mengusap wajahnya, Cempaka segera melesat meninggalkan hutan itu. Dia tidak tahu harus pergi ke mana. Baginya yang penting adalah meninggalkan Karang Sedana sejauh-jauhnya.

Sementara itu, marilah kita lihat keadaan di goa karang.

Hari itu saat senja turun dengan cahayanya yang indah di ufuk barat, tampak prabu Purbaya duduk seorang diri di depan tendanya. Matanya yang cekung menerawang jauh. Pandangan itu begitu kosong.

“Sudah sepekan berlalu, namun tidak ada satupun kabar dari prajuritku tentang dinda Cempaka. Bahkan orang-orang Tongkat Merah pun tidak ada yang datang membawa titik terang tentang dimana istriku berada. Oh, dinda Cempaka… dimanakah kau berada saat ini? Apakah benar kau marah dan murka kepadaku? Apakah tidak ada lagi kata maaf di dalam hatimu untukku. Padahal kau belum mendengar suaraku. Kenapa kau begitu picik? Kenapa pikiranmu bisa dikuasai oleh rasa cemburu begitu dalam? Oh, dinda Cempaka kembalilah. Maafkanlah aku. Maafkanlah aku yang tidak mengerti. Dengarlah dinda…”

Prabu Purbaya terus merenung. Batinnya bergolak dengan berbagai kemelut. Sejenak dia terbayang akan wajah Cempaka, lalu wajah putrinya Jaga Paramuditha.

“Oh, putriku Jaga Paramuditha… Ramandamu tidak tahu bagaimana nasibmu saat ini di dalam Goa Karang. Apakah kau selamat atau tidak? Dan kau pun tidak tahu apa yang kini terjadi di luar Goa Karang. Oh, putriku. Aku amat menyayangimu. Aku mencintaimu, sayang. Tapi aku tidak punya daya untuk secepatnya membantumu. Ramandamu seorang manusia biasa yang tidak mempunyai kelebihan seperti dewata agung. Semoga kau tabah di dalam goa sana, sayang…”

Prabu Purbaya begitu lelah. Matanya yang merenung perlahan terpejam. Ada air bening mengalir jatuh. Raja besar tanah Pasundan itu menangis. Batinnya yang tertindih beban dan derita begitu menyesakkan. Angin senja yang sejuk mengusap wajahnya. Keadaan di sekitar tenda menjadi hening.

“Dinda Cempaka, kau datang?! Kenapa kau..? Tunggu dinda, aku ingin bicara padamu.”

“Ah, tidak. Kurasa tidak perlu lagi. Rasanya tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, kanda.”

“Dinda… jangan begitu dinda Cempaka. Dengarlah,… dengarkan aku dinda. Kenapa kau berubah sekali sekarang!? Kenapa?! Kenapa kau tidak bisa lagi berpikir secara jernih? Berpikirlah dinda…”

“Oh, untuk apa lagi aku berpikir? Aku sudah melihat sendiri buktinya. Kanda begitu mesra menggendong Asmarani di danau itu. Dalam keadaan tanpa berpakaian. Apakah dengan kenyataan seperti itu kanda harus menyuruh aku berpikir?! Seharusnya kandalah yang berpikir!”

“Aku… aku… Oh, maafkanlah aku dinda. Maafkan aku dinda Cempaka.”

“Oh, apakah kejadian itu cukup terhapus hanya dengan kata maaf? Tidak. Hatiku telah terlanjur sakit. Aku terlanjur kecewa. Terlanjur sudah kejadian itu menimpaku. Hati perempuan mana yang bisa tenang dan tabah menghadapi kenyataan seperti itu. Jawablah kanda prabu. Kurasa kanda belum menjadi bisu untuk tetap diam dan tidak menjawab semuanya.”

“Dinda, jangan kau serang aku seperti itu. Dengarlah. Aku tidak seburuk dan sejahat yang kau tuduhkan. Aku saat itu menolong Asmarani dari serangan seekor ular. Dia sedang mandi di danau ketika ular itu menyerangnya. Apakah musti diam dan berpangku tangan melihat semuanya? Percayalah padaku dinda.”

“Oh, hanya sebegitukah kejadiannya? Apakah itu bukan alasan yang sengaja kanda buat agar aku percaya. Agar aku menutup mata dengan kejadian itu. Agar aku bungkam dan hanya melihat kanda memeluk tubuh polos itu di dalam danau padahal banyak hal yang kanda lakukan sebelumnya?”

“Cempaka, kenapa kau begitu picik? Dimana akal sehatmu? Dimana Cempaka?

Oh… maafkan aku dinda. Maafkan. Mungkin aku terlalu kasar padamu.”

“Nah, sekarang tidak ada lagi hubungan antara kita. Semuanya telah berlalu.

Jangan halangi langkahku. Selamat tinggal… Hupp!”

“Dinda Cempaka!!! Tunggu!! Tunggu dinda! Jangan pergi! Jangan pergi dinda!

Tunggu!!”

“Oh, dewata yang maha agung. Ternyata aku bermimpi. Oh, dinda cempaka…”

(16) 38. PRAHARA DI KAKI GUNUNG BURANGRANG 39. GEGER KITAB ILMU SEJATI 40. CENGKAR KEDATON

(25)

Pada kisah yang lalu diceritakan, Purbaya dan Cempaka kembali memasuki dunia siluman di bukit Wangun. Keduanya mengobrak-abrik penghuni istana siluman di bukit Wangun itu. Hal mana membuat nenek Ranggis menjadi gelisah.

“Hahahahah, nenek Ranggis! Sebentar lagi kau akan kubekuk. Sebentar lagi aku akan menguasai mereka semua. Hiiyaatt!! Uaahhh!! Kau tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi. Kau tidak pernah akan bisa lari lagi. Sebentar lagi aku akan menutup mulutmu.”

“Kanda jangan biarkan dia bebas. Serang nenek Ranggis, Dinda akan menghalangi semuanya. Jangan ragu kanda. Gunakan kesempatan ini.”

“Baiklah dinda, tapi sebelum itu kanda akan menghalau mereka semua. Kanda akang memberi para siluman ini pelajaran!”

“Kurang ajar! Aduh, panaass!! Teman-teman, serang terus!! Ya serang terus!!!

Aww aww panas!”

“Mundur saja!”

“Gila, manusia ini benar-benar hebat. Hebat sekali. Dia mempunyai kekuatan seperti nenek Ranggis. Aku rasa hanya nenek Ranggis saja yang bisa menghadapinya. Teman-temanku tidak ada yang kuat bertahan. Aah, kalau dibiarkan mungkin semuanya akan lumpuh.” pimpinan siluman itu tersadar, kemudian dia berteriak-teriak menyuruh anak buahnya untuk mundur. “Hei mundur! Mundur!”

“Heh! Bodoh! Bodoh! Jangan mundur! Kurung terus! Kurung dia! Jangan biarkan dia bebas bergerak! Serang terus! Kurung terus! Aduh, aduh kenapa kamu memerintahkan mereka mundur?! Apakah kau ingin membantahku! Kurung terus!” nenek Ranggis kalap melihat perintah itu.

“Ah, nenek Ranggis kami tidak mampu. Manusia ini bukan lawan kami. Ah, dia memiliki ilmu yang sama seperti ilmu yang kau miliki, nenek. Kami tak bisa menahannya. Kuharap kaulah yang menghadapinya. Kaulah lawannya. Kami tidak kuat!” pimpinan siluman itu membantah sambil menjauh.

“Hahahaha, dia benar nenek Ranggis. Hanya kau yang bisa menjadi lawan kami. Tapi sayang kau tidak punya apa-apa lagi. Sekarang kami akan menangkap dan memenjarakan dirimu. Kau akan kutahan di  lembah ini. Hahahaha”

Dengan sekali gerak saja, tubuh Purbaya melayang dan langsung menyambar nenek Ranggis. Siluman dari gunung merapi itu tak bisa berbuat apa-apa. Sebentar saja dia telah dikuasai oleh Purbaya. Hal mana yang membuat para siluman yang tengah mengurung Cempaka menghentikan serangan-serangan mereka.

“Sekarang bagaimana nenek Ranggis? Apakah kau masih akan melawan kami?

Apakah kau masih bermimpi akan menguasai para manusia dan jagat raya ini?”

“Uhh, uhh! Lepaskan aku! Lepaskan aku Purbaya! Uhh!” nenek Ranggis menjerit- jerit kesakitan, lalu sambil tersedu-sedu dia berkata, “Ampuni aku, aku berjanji. Ampuun. Ampun Purbaya…”

“Kanda, jangan dengarkan omongannya. Dia siluman licik. Dia harus dihukum. Dulu juga dia pernah berjanji sewaktu kita bunuh dan kita lumpuhkan. Ternyata bangkit lagi dan membuat kerusuhan lagi. Sekarang kita hukum saja dia.” Cempaka menggamit suaminya, lalu mengarahkan pandangannya ke arah para siluman. Dengan galak dia berkata, “Dan kalian para siluman, apakah kalian masih yakin bahwa nenek Ranggis ini akan membawa kemajuan pada kaum kalian? Dia telah merusak dan mengotori istana kalian disini dengan ulahnya. Nah, sekarang yang masih mau menolong nenek Ranggis majulah! Aku akan membakar kalian semua!”

“Uhhh. Benar dugaanku, bahwa nenek Ranggis telah dilumpuhkan oleh Purbaya. Sekarang dia dihukum oleh Purbaya. Eeh, berarti para penghuni disini akan aman. Tetapi bagaimana Purbaya dan istrinya? Apakah mereka mau memaafkan aku dan teman- temanku?”

“Bagaimana? Apakah masih ada yang mau membela nenek Ranggis ini? Kalau ada silakan maju. Dan kau, kelihatannya tadi kaulah yang paling bersemangat untuk membunuh kami. Nah, majulah!”

“Aah kenapa jadi begini? Aah, kemana kemampuan nenek Ranggis. Kalau begitu dia pasti telah membohongiku. Aah kurang aja, dia telah menipuku dan menjanjikan kepalsuan kepadaku! Keparat! Dia membohongiku aah!!”

“Kenapa kau dia, ayo!”

“Ah, ah ampuun! Maafkan kami manusia, maafkan kami. Selama ini kami hidup tenang disini. Kami hidup dalam kedamaian. Kami tidak suka menggangu manusia, wahai manusia. Kami hanya tinggal di sini, di bukit Wangun ini. Dan berkembang biak. Tapi begitu kami dikuasai oleh nenek Ranggis, maka kami semua berubah. Iya kami memang siluman, tapi kami tidak mempunyai daya dan upaya untuk menolak nenek Ranggis. Dia amat sakti dan mampu menundukkan kami semua. Oooh… Sekarang kami melakukan semuanya karena nenek Ranggis. Kami amat takut padanya. Sekarang, kami,.. ini,.. eeh,.. kalau,.. kalau kalian berdua ingin memusnahkan kami dan tidak memberi ampun pada kami, maka… kami akan menerimanya manusia. Tetapi kalau kalian mengampuni kami, maka kami berjanji untuk menjadi abdi kalian.”

“Apakah perkataan kalian akan bisa kami percaya? Apakah aku bisa membuktikan ucapan kalian?”

“Ohh,.. terserah padamu. Tapi saat ini kami takluk. Kami dan temanku ini akan tunduk padamu dan ikut apa yang kau katakan manusia.”

“Baiklah, sebenarnya memang kami kemari hanya untuk menangkap nenek Ranggis dan menghukumnya. Maka aku dan istriku tidak ada urusan dengan kalian semua. Kalian kubebaskan, tapi dengan syarat! Aku tidak ingin kalian mengganggu rakyatku. Aku tidak ingin kalian semua membuat onar dan membuat sakit serta membuat gila penduduk di kaki gunung Salak dan bukit Wangun ini. Serta, aku tidak mau mendengar adanya rakyat ditanah Pasundan ini sakit karena ulah kalian. Kalau sampai semuanya terjadi, maka aku akan datang lagi ke bukit Wangun ini. Aku akan membakar istana kalian dan mengusir kalian dari sini.”

“Ooh baiklah, baiklah. Aku yakin semua teman-temanku yang ada disini mendengarnya. Dan untuk aku sendiri, aku tidak akan melakukan apa-apa lagi terhadap penduduk kadipaten ini. Kami akan membantu mereka. Kami akan menjagakan keselamatan mereka semua. Itupun selama mereka tidak mengusik kami manusia…”

“Baiklah, sekarang aku akan pergi.” Purbaya tersenyum pada pimpinan siluman itu, lalu dia menoleh pada tawanannya, katanya “Dan kau nenek Ranggis, ayo ikut! Kau akan menerima hukuman sesuai dengan kesalahanmu. Kau akan ku kurung di lembah bukit Wangun ini. Dan kau akan kumaafkan kalau kau memang telah benar-benar insaf dan mengakui kesalahanmu.”

“Ooh ampun Purbaya. Ampunilah aku. Aku mengaku salah. Aku tobat!” “Bagaimanapun juga kau harus menjalani hukuman dulu. Setiap kesalahan ada

imbalannya, setiap kebaikan ada pula upahnya. Kanda, mari kita pergi.”

Kemudian Purbaya membawa nenek Ranggis keluar dari istana siluman bukit Wangun itu, menuju ke lembah. Semua siluman yang ada diatas bukit itu melihat apa yang dilakukan Purbaya terhadap nenek Ranggis.

Sekarang marilah kita ikuti perjalanan Jaga Paramuditha yang dikawal oleh lima belas orang prajurit utama keraton Karang Sedana. Mereka semuanya berpacu dengan kuda menuju Karang Sedana.

“Tuan putri, berpeganganlah dengan kuat! Kita harus berpacu…”

“Hehehehh, berpaculah paman prajurit. Aku akan berpegangan. Aku sudah terbiasa naik kuda kencang seperti ini. Dulu, beberapa waktu yang lalu aku pernah menaiki kuda hitam milik bibi Wulan yang dibawa kakang Kayan. Kuda hitam yang namanya Tunggul itu, berlari seperti angin. Kencang sekali, dan aku tidak takut. Kuda ini masih kalah jauh dengan si Tunggul. Paculah paman prajurit.”

“Baiklah tuan putri.” setelah berkata demikian, prajurit itu berkata ada tunggangannya, “Ayo Putih, pacu larimu. Kita belah angin, kita rentasi padang. Hiyyah!”

“Ah, kenapa aku jadi ingat dengan kakang Kayan? Kenapa tiba-tiba hatiku jadi rindu? Aku, ah… kakang Kayan, apa kabarmu saat ini kakang? Apakah kau juga mengenangku? Oh, kakang Kayan… kapankah kita akan bertemu kembali. Oh, kakang Kayan,… kenapa saat ini kita tidak bersama-sama lagi, kenapa Kakang? Dan nanti, setelah aku pindah bersama ayahandaku ke Cisulung, apakah kakang akan tau bahwa aku tinggal di istanaku yang baru. Oh, kakang Kayan…” selama berkuda dengan kencang pikiran Jaga Paramuditha justru berputar-putar. Dia mendadak merasakan kerinduan pada Kayan Manggala. Dia melamun sambil memeluk leher kuda.

“Hup! Hiyyahh!” prajurit di depannya terus menghela kuda. Tapi tiba-tiba dia menghentikan kuda putih itu dengan sangat mendadak. Jaga Paramuditha terkaget, lamunannya buyar.

“Ah? Mengapa menghentikan kuda paman Prajurit?”

“Ampun tuanku Putri, bukan maksud hamba mengejutkan. Tapi agaknya ada yang tak beres tuanku Putri. Lihatlah di depan kita itu. Ada dua orang yang menghalangi kuda kita.”

Jaga Paramuditha tersentak. Gadis kecil itu segera melihat kedepan. Apa yang dikatakan prajurit itu ternyata benar. Tak jauh di depan mereka, kira-kira tujuh tombak berdiri dua orang dengan pakaian mewah. Mata kedua orang itu amat tajam. Dia menatap pada para prajurit Karang Sedana itu dengan penuh dendam dan kebencian.

“Paman prajurit, siapa kedua orang itu? Agaknya mereka tidak bermaksud baik. Lihatlah pandangan mereka. Keduanya menunjukkan sinar dendam dan kebencian.” bisik Jaga Paramuditha.

“Entahlah tuan Putri. Hamba tidak mengenal mereka. Tapi mereka memang tidak akan bermaksud baik. Mereka pastilah musuh Karang Sedana. Mereka pastilah musuh ayahanda tuan putri. Tapi sebentar… hamba rasanya pernah melihat yang seorang itu tuan putri. Hamba seperti pernah mengenalnya.”

Pimpinan prajurit itu menatap terus ke arah orang yang pernah dilihatnya itu. Dia terus berusaha mengingat-ingat. Namun entah mengapa dia tidak bisa mengingat wajah itu.

“Maaf tuan putri, hamba tidak bisa mengingatnya. Tapi hamba yakin, orang itu memang pernah ke Karang Sedana. Dan rasanya orang itu memang amat dekat dengan Karang Sedana. Tapi walau bagaimanapun kita harus tetap bersiap siaga tuan Putri. Hamba harap tuan Putri tidak turun dari kuda ini. Kalau ada apa-apa, tuan putri masih bisa melarikan kuda ini menuju ke Karang Sedana.”

“Ah, jangan cemas paman. Aku bisa menjaga diriku.” bisik Jaga Paramuditha berusaha menenangkan kecemasan kepala prajurit di belakangnya.

Salah satu dari kedua orang yang menghadang itu tertawa, lalu dengan suara bengis dia berkata, “Ternyata dugaanku tidak salah. Kalian ternyata memang gedibal-gedibalnya si Purbaya keparat itu. Hehehehehh, ternyata perburuanku tidak perlu jauh-jauh. Walaupun Purbaya belum ku ketemukan, namun kalian semua sudah cukup untuk sumbangan awal bagiku. Sebagai tumbal kematian sebelum Purbaya.”

Laki-laki itu kembali tertawa terkekeh.

“Maaf kisanak. Siapa sebenarnya kisanak. Dan kuharap kisanak jangan terlalu kurang ajar dengan mengatakan junjungan kami gusti prabu dengan seenakmu saja.”

Kembali laki-laki itu tertawa, “Kalau kalian memang patut menghormati manusia busuk seperti Purbaya itu. Tapi hal semacam itu tidak berlaku padaku. Malah sebentar lagi, akulah yang akan menguburnya. Akulah yang membunuhnya. Eh, prajurit. Sekarang bersiaplah kalian untuk mati. Karena aku memang sudah berjanji pada diriku sendiri dan pada dewata pencabut nyawa, bahwa aku akan mempersembahkan kepadanya orang- orang Karang Sedana. Terutama sekali, orang-orang yang dekat dengan Purbaya. Hahahahaha!”

“Ah, omongan terlalu tinggi kisanak. Sepertinya omongan itu ingin mengalahkan tingginya puncak gunung Salak. Sebutkanlah namamu kisanak, biar kelak aku akan dapat mengingat selalu kekurang ajaranmu itu.”

Laki-laki itu tertawa kecil meremehkan. “Aku jadi khawatir padamu prajurit, kalau kusebutkan namaku aku malah takut kau akan mati berdiri.”

“Sombong! Jangan terlalu memandang rendah prajurit Karang Sedana.” “Hehehehe, aku tau tentang kehebatan prajurit Karang Sedana. Aku telah kenal

baik dengan kemampuan prajurit Karang Sedana dalam hal memainkan pedang dan ilmu

kanuragan. Tapi untuk berhadapan denganku, dengan Prabu Sora… kau tidak ada apa- apanya…” prabu Sora tertawa-tawa, lalu berkata tajam dan bengis.

Mendengar orang itu menyebutkan namanya, pimpinan prajurit itu tersentak. Jaga Paramuditha yang duduk didepannya merasakan keterkejutan pimpinan prajurit itu. “Paman prajurit, siapa orang itu? Mengapa paman gemetar seperti ini? Apakah dia terlalu berbahaya?”

“Tuan Putri,… sebaiknya tuan Putri pergi saja dari sini. Tinggalkan tempat ini.

Biarkan kami semua mencoba menahan orang tua itu.”

“Ah, kenapa paman begitu cemas? Kenapa paman begitu takut? Aku tidak takut paman!”

“Tuan Putri, dia adalah orang yang paling berbahaya. Kami semua pasti akan mati kalau menghadapinya. Kami tidak akan mampu untuk melawan dia, kecuali gusti Prabu. Selain itu tidak ada yang sanggup mengahadapinya. Maka itu, pergilah tuan Putri. Mungkin dengan kepergian tuan Putri maka kematian kami tidak akan sia-sia. Pergilah tuan Putri…”

(26)

Pada kisah yang lalu diceritakan, Nenek Ranggis akhirnya ditawan oleh Purbaya di lembah bukit Wangun. Dan diceritakan juga tentang perjalanan Jaga Paramuditha yang menuju ke keraton Karang Sedana, bertemu prabu Sora. Hal mana membuat pimpinan prajurit itu merasa amat khawatir pada keselamatan Jaga Paramuditha.

Dia mengulangi ucapannya, “Tuan Putri, sebaiknya secepatnya meninggalkan tempat ini. Dia adalah orang yang amat berbahaya. Kami semua pasti tidak akan sanggup bertahan untuk menghadapinya. Kami tidak akan mampu untuk melawannya. Yang mampu menghadapinya hanyalah gusti Prabu, ayahanda tuan putri. Dan tuanku permaisuri serta nyai Anting Wulan dari Mataram. Maka itu hamba harap tuan Putri mau pergi meninggalkan tempat ini agar pengorbanan kami tidak sia-sia. Karena kalau kami mati sedangkan tuan putri bisa ditangkap olehnya, maka sia-sialah kematian kami…”

Jaga Paramuditha tersentak. Dia menatap pimpinan prajurit itu. Wajah orang tua itu begitu cemas dan penuh kekhawatiran. Perlahan dia meraba pinggangnya, dia memegang pedangnya. Namun saat itu hatinya membisikkan sesuatu, maka perlahan dia melepaskan pegangannya.

“Aku tidak perlu gegabah. Aku tidak boleh memainkan ilmuku saat ini. Aku yakin jika hanya untuk lari dan pergi dari sini tidaklah sulit. Siapa orang yang bernama prabu Sora ini? Dia begitu ditakuti. Apakah benar ucapan prajurit ini? Bahwa hanya ayahanda dan ibundaku saja yang mampu menghadapinya? Serta nyai Anting Wulan, ibundanya kakang Kayan dari Mataram itu yang sanggup menahannya. Sehebat itukah ilmunya? Tapi aku tidak takut!” pikir Jaga Paramuditha sedikit takjub.

“Hehehehehe, kenapa kalian semua terdiam prajurit bodoh!? Apakah kalian tau bahwa kalian akan mati dengan sia-sia? Nah, dari itu aku ingin kalian semua bunuh diri semua disini, sebelum aku menghancurkan kalian. Karena kematian yang kubuat adalah kematian yang sangat kejam. Kematian yang tidak pernah kalian bayangkan sebelumnya. Hayo! Bunuh diri lah! Sekarang! Karena kematian yang kubuat adalah kematian yang menyakitkan, hehehehehe!!”

“Tuanku Sora, kami tau kemampuan yang tuan miliki. Tetapi sebagai prajurit Karang Sedana, tidaklah memiliki jiwa yang rendah begitu. Kami lebih baik mati dalam bertarung daripada membunuh diri sendiri. Kami masih punya harga diri.”

Meledak tawa prabu Sora meledek ucapan kepala prajurit tersebut, “Ahahahaha, Harga diri? Iya?! Jangan bicara tentang harga diri dihadapanku. Karena kalian semua tidak lagi akan memiliki harga diri. Hehehehehehhh, ayo bunuhlah diri kalian! Sebelum sahabatku ini membunuh kalian semua. Karena dia lebih kejam daripada aku. Hahahahaha.”

“Sudahlah tuanku prabu Sora. Jangan kau takuti kami dengan suaramu. Kami sudah mengatakan bahwa kami tidak takut mati. Kami yakin akan mati melawan dirimu. Namun kami masih punya tekad untuk melawan. Percuma tuan menyuruh kami untuk membunuh diri, karena kami tidak akan melakukannya. Nah, majulah tuan sendiri untuk membunuh kami, kami siap melawan tuan berdua.”

“Heheheheheh, ternyata yang selama ini kudengar memang benar, bahwa orang- orang Karang Sedana amat sombong. Amat angkuh. Dan selalu merasa lebih hebat dan tabah dari orang lain. Huahahaha, tuanku prabu Sora… biarlah aku yang menghancurkan mereka. Lima belas prajurit ini tidak ada apa-apanya dan putri kecil itu nanti akan kita gantung di alun-alun. Biar semua orang Karang Sedana mengetahuinya.” berkata Gajah Lodra dengan nada kejam luar biasa.

“Dan Purbaya akan kelenger! Hahahaha!” kedua orang itu berkata sambil tertawa berbareng.

“Majulah kalian berdua, kami sudah siap. Prajurit! Turunlah dari kuda kalian. Bersiaplah!” pemimpin prajurit itu sigap mengatur teman-temannya. Kemudian dia berkata pada Jaga Paramuditha,”Tuan Putri, kalau perlu pergilah sekarang. Gunakan kuda hamba ini. Pergilah sebelum terlambat.”

“Tenanglah paman. Jangan terlalu mencemaskan diriku. Berjuanglah, aku akan melihat keadaan dahulu. Tenanglah paman, jangan terlalu khawatir. Aku bisa menjaga diriku.” sambil tersenyum Jaga Paramuditha berusaha menenangkan orang tua itu.

Pimpinan prajurit itu tidak menjawab. Dengan tenang dia turun dari kudanya, diikuti prajurit yang lain. Kemudian kuda-kuda yang ditunggangi itu berjalan kepinggir. Jaga Paramuditha menarik nafas. “Muahahahahah! Kalian memang tidak takut mati heh?! Baiklah aku akan menghantar kalian semua ke hadapan dewa maut!” dengus Gajah Lodra. “Bersiaplah kau! Hiyyaaattt!!”

Prabu Sora berjalan sedikit menjauh mencari tempat yang enak untuk menonton pertarungan. Sementara Gajah Lodra bergerak amat cepat. Dia mendatangi dua prajurit terdekat dalam tiga langkah, mengendap rendah menghindari ayunan pedang kedua prajurit tersebut lalu melayangkan tinjunya dari bawah menghantam rahang prajurit pertama dengan amat telak. Prajurit itu terpental dengan tidak sempat mengeluh sedikitpun, lalu terdiam di atas tanah dengan kepala berlumuran darah. Lalu dengan cepat dia meloncat keatas secara menyamping, dan kembali melayangkan pukulan sisi telapak tangannya ke arah kepala prajurit kedua. Prakkk! Terdengar suara tengkorak terpecah. Prajurit itu melosoh lemah, ambruk terputar kebawah ketika tangannya masih menyambarkan sabetan pedang ke arah lawannya. Jeritannya terdengar memilukan.

“Hiyaaattt!! Awas, cabut senjata kalian!” kepala prajurit segera mengingatkan beberapa temannya yang masih belum bersenjata.

“Hehehehe, lihatlah dengan gerakan pertama dua teman kalian sudah menemui ajalnya. Sekarang kalian lagi.” Gajah Lodra itu meludahi korbannya. Kemudian dia memandang dua orang prajurit lainnya yang terdekat dari dirinya. Kemudian kembali bergerak melayangkan serangan.

“Hiyyaattt!! Kalian hati-hatilah, jangan terlalu lengah.” sambil berkata kepala prajurit itu tidak tinggal diam. Dia berhasil memapaki serangan Gajah Lodra sambil memperingatkan kedua temannya yang berhasil diluputkan dari serangan maut.

“Oh, ilmu orang itu memang hebat. Apakah ilmu prabu Sora itu lebih hebat lagi dari yang satu ini? Gerakannya cepat sekali. Aku yakin sebentar lagi, prajuritku akan kalah setengahnya. Apa aku harus mencabut pedangku ini? Lalu membantu para prajuritku ini? Iya memang harus membantu mereka! Kalau nanti ayahanda tahu, maka aku akan menjawabnya. Aku akan menceritakan semuanya. Biarpun aku nanti dihukum. Aku akan terima. Aku tidak mau melihat para prajurit itu mati sia-sia. Oh… dua orang lagi prajurit yang mati. Aku memang harus membantu mereka!!”

Jaga Paramuditha segera meraba pedang pusaka di tangannya. Dalam hati dia mulai membaca mantera. Perlahan dia meloloskan pedang yang melilit pinggangnya. Namun pada saat itu dua buah bayangan bergerak cepat menyambar kearah teman prabu Sora yang sedang bertarung dengan para prajurit. Jaga Paramuditha dengan cepat kembali melingkarkan pedang pusakanya yang teramat tipis itu. Dia menarik nafas panjang.

“Itu ayahanda dan ibunda! Oh terima kasih dewata agung.” girang sekali hati gadis kecil itu ketika mengetahui kedua bayangan itu adalah orang tuanya. “Siapa kalian?!” bentak Gajah Lodra kesal. Serangannya gagal total membunuh prajurit yang sudah nyari mati.

“Kenapa kau membunuh para prajuritku? Apa salah mereka?” berkata Purbaya. “Apa peduliku, aku hanya menjalankan perintah. Ayo majulah kalian berdua. Kau

pun akan ku bunuh!” ejek Gajah Lodra.

“Jangan sembarangan bicara kisanak. Kami tidak pernah mengenalmu, tapi rupanya kau sengaja mencari urusan dengan orang-orang Karang Sedana. Sebelum aku membunuhmu dan meminta pertanggung jawabanmu, aku minta katakan siapa yang menyuruhmu!” berkata Cempaka.

“Ehehehehehh, akulah yang menyuruhnya. Akulah yang membawanya.” suara Prabu Sora terdengar, dia berjalan santai mendekati Purbaya dan Cempaka yang tidak memperhatikan keberadaannya.

“Oh, paman Sora…” Cempaka dan Purbaya berkata nyaris berbarengan. Mereka sangat heran melihat prabu Sora lah yang berada dibelakang Gajah Lodra. Sejenak keadaan terasa menegang.

“Iya, apa kabarmu Purbaya? dan kau Cempaka? Rasanya hari ini yang kulihat adalah kabar buruk dalam kehidupan kalian. Karena hidungku ini telah mencium bau kematian untuk kalian. Hehehehehh..” prabu Sora berkata tengil sekali.

“Paman Sora, aku telah menganggap selesai semua persoalan antara kita. Tapi agaknya Paman sengaja datang dari Indraprasta kemari hanya untuk mencariku dan menyalakan lagi dendam lama itu. Bukankah kejadian di gunung Burangrang itu telah memberi pelajaran kepada Paman?”

“Huh! Sombong! Kau kira karena kejadian di gunung Burangrang itu lantas aku akan menguburkan semua dendamku padamu? Pada orang-orang Karang Sedana?! Jangan mimpi Purbaya! Laut pun tak akan mampu menampung dendamku padamu. Matahari kalah panasnya dibanding dendamku. Huhh!” prabu Sora mendengus, lalu katanya lagi,”Maka itu, kalau aku pendam semuanya istana Indraprasta akan terbakar karena api dendamku. Sekarang, hari ini, semuanya harus berakhir! Diantara kita harus ada yang mati. Karena dunia ini terlalu panas kalau di dunia yang sama ini ada manusia seperti mu hidup satu langit dengan prabu Sora. Eheheheehhh!!”

“Agaknya paman Sora terlalu memaksaku. Paman Sora terlalu mengharapkan kematianku. Tapi rasanya aku belum mau mati saat ini. Tapi kalau dewata menghendaki nyawaku maka akupun tidak akan berdaya. Nah, Paman… sekarang marilah kita selesaikan urusan kita. Agaknya memang inilah yang Paman harapkan.”

“Ahahahaha, iya iya iya. Karena aku ingin melihat kematianm secepatnya. Karena kita tidak bisa hidup bersama-sama di dunia ini.” tertawa Prabu Sora, lalu dia berkata pada temannya, “Gajah Lodra, perempuan itu adalah lawanmu!”

“Hehmm?”

“Bunuh dia, karena dia juga akan mengganggu kehidupan kita di dunia ini.”

“Mheheheheheh… baik prabu Sora. Aku akan membereskannya. Agaknya perempan ini tidak ada apa-apanya. Dia akan menyerah kepadaku dalam sekejap saja. Muahahahah… Dia akan kubuat tidak berdaya disini. Dan aku akan menikmati kecantikannya. Muahahahah” tergelak Gajah Lodra mendengar perintah prabu Sora.

“Cih! Manusia hitam, ternyata kau suka bermimpi yang tidak-tidak. Mendongaklah! Lihat langit itu! Kau bisa melihat betapa tingginya. Kau bisa menatap dengan matamu bahwa langit kelihatan. Tapi terlalu tinggi untuk kau gapai.” berkata Cempaka dengan raut wajah sebal mendengar sesumbar Gajah Lodra.

“Bagiku tidak sulit untuk merobohkan mu. Tuan Prabu Sora sudah memberikan gambaran kepadaku tentang kehebatanmu, hahaahaha”

“Kau terlalu berkhayal. Nah, sekarang hadapilah kenyataannya. Aku bukan sebangsa perempuan yang suka bicara. Nah, tahan ini!!” Cempaka memasang kuda-kuda sederhana, lalu langsung menyerang dengan serangan ringan.

“Huahahahah! Hup, hiyyatt!” Gajah Lodra tertawa meremehkan serangan Cempaka. Memang dia berhasil mengelak serangan ringan dari Cempaka.

“Paman Sora, mereka telah memulai pertarungan. Sekarang sebaiknya kita pun memulainya. Tidak enak rasanya kalau kita hanya menjadi penonton dan diam dalam ketegangan. Bersiaplah Paman!” berkata Purbaya memecah keheningan.

“Baiklah, ayo! Hupp!!” prabu Sora bangkit dengan kuda-kudanya. Dia pun memulai serangannya langsung mengarah ke titik-titik kelemahan manusia. Purbaya sigap menghindar dan membalas dengan beberapa pukulan beruntun.

Kedua tokoh yang memiliki kesaktian dan dendam itu saling serang. Saling sambar dan saling terjang. Sebentar saja pertarungan itu menjadi seru dan menegangkan. Para prajurit yang semula dicekam kecemasan itu segera beranjak mundur dan melihat pertarungan itu dari jauh.

Sementara itu, Jaga Paramuditha masih duduk diatas kudanya. Bocah kecil itu tak bergerak. Matanya melihat kearah pertarungan kedua orang tuanya.

“Memang benar ucapan paman prajurit, bahwa hanya kedua orang tuaku yang sanggup untuk menahan mereka. Tapi, apakah kedua orang tuaku akan sanggup menundukkan kedua orang itu?”

Jaga Paramuditha terus menatap ke arah pertarungan, namun lama kelamaan dia merasa pusing karena yang dapat dilihat hanya bayangan kedua orang tuanya saja di antara serangan musuh-musuhnya.

“Ayo keluarkan kemampuanmu, jika kau mau membunuh dan mengalahkan diriku. Ayo, wujudkan impian dan khayalanmu itu kisanak. Huppp! Hiyaatt!” ejek Cempaka disela-sela serangan Gajah Lodra yang berhasil ditahannya. Gajah Lodra hanya tertawa jelek.

“Hmm, ternyata dia memiliki illmu simpanan lagi yang lebih tinggi.” pikir Gajah Lodra. Dia mendapati kenyataan bahwa Cempaka tidak mengeluarkan ilmu Kincir Metu dan Kelelawar Sakti seperti yang diceritakan prabu Sora padanya. Semadi Dewa Gila yang digunakan Cempaka untuk menghadapinya cukup membuatnya kerepotan. Walau demikian dia masih yakin dapat menundukkan Cempaka, sehingga dia berkata, “Jangan terlalu banyak omong. Kau akan merasakan akibatnya. Sebentar lagi kau akan tunduk padaku!”

“Aku tidak boleh terlalu lama untuk merobohkannya. Sebaiknya aku menggunakan ajian Banyu Agung biar lebih cepat menyelesaikan semuanya,” setelah berpikir taktik sesaat, Cempaka menggunakan tenaga serangan lawannya untuk mundur kebelakang.

“Mengapa kau mundur? Apakah kau takut?” ejek Gajah Lodra.

Cempaka tidak menjawab. Dia langsung menyatukan tangannya didepan dada. Kemudian dia menarik nafas dalam-dalam. Mulutnya bergerak membaca mantera. Tak lama kemudian dari kepalanya muncul uap kuning.

Semakin lama cahaya itu semakin tebal menutupi wajahnya. Lalu dengan secara tiba-tiba ditangan perempuan itu tergenggam sebuah warangka kujang pusaka yang juga memancarkan sinar kuning kebiru-biruan.

“Tidak ada lagi harapan bagimu untuk keluar dari kematianmu manusia hitam! Kau akan mati ditanganku. Dan aku memang tidak akan membebaskan manusia-manusia licik dan jahat sepertimu. Apalagi kau telah membunuh prajuritku. Sekarang, tahan ini! Hiyaaattt!!!” dengan penuh percaya diri Cempaka meledakkan kekuatan tenaga dalamnya. Kekuatan itu tersalur ke tangannya yang menggenggam warangka kujang pusaka. Lalu dia melesat menyerang Gajah Lodra.

“Celaka…celaka, gerakannya begitu cepat dan mengandung kekuatan,” Gajah Lodra gelagapan memapaki serangan Cempaka yang semakin cepat dan bertenaga. “Ini yang pertama, kau tak akan bisa lari lagi. Hiyaattt!!” setelah tendangannya dielakkan Gajah Lodra, Cempaka segera melanjutkan serangannya dengan mendorong telapak tangan satunya yang tak memegang warangka kujang. Dari telapak tangan itu tersembur angin kekuatan berhawa dingin menyengat. 

TAMAT