Babad Tanah Leluhur Jilid 08

Jilid 08

“Terima kasih, Purbaya. Kau baik sekali.”

“Oh,.. Purbaya… Purbaya… Yah, aku sudah lama sekali merindukan sebutan seperti itu. Selama ini orang-orang menyebutku dengan panggilan Gusti Prabu. Tapi hari ini, seorang gadis manis dan cantik seperti Asmarani ini menyebut namaku dengan lembut dan luwesnya. Iya,… Purbaya… Purbaya… indah sekali namaku.”

“Purbaya, kenapa kau termenung. Bukankah kau mengajakku pulang? Ayolah..” “Eeh, iya. Ayolah Rani…”

“Rani, agaknya di rumah ini kau bisa hidup tenang. Bapak kepala desa pasti akan menjaga dirimu. Kau tetaplah disini.”

“Kakang Purbaya mau kemana lagi? Kenapa kakang begitu terburu-buru. Aku ingin kakang ajarkan silat. Aku ingin mencari ketiga pembunuh orang tuaku itu. Mereka harus menerima balasannya.”

“Rani, jangan kau sulut jiwamu dengan dendam. Tidak baik kematian dibalaskan kematian seperti itu. Ingatlah, bahwa dendam tidak selamanya bisa membuat jernih suasana. Bahkan sebaliknya, dendam akan mengeruhkan suasana. Sudahlah, kalau nanti aku bertemu mereka, biar aku yang mewakilimu. Kau tenanglah disini, hiduplah dengan kebiasaan seperti yang sekarang kau miliki. Ilmu silat akan membuat otot-ototmu menjadi keras dan kaku. Tinggallah di sini...”

“Kakang Purbaya, tidak. Aku tidak mau tinggal di sini. Kalau kakang pergi aku akan ikut. Bawalah aku beserta kakang. Aku ingin menyaksikan kakang membunuh ketiga manusia biadab itu. Kalau kakang tidak mau membawaku, kakang harus melatihku dulu di sini. Kalau kakang pergi juga, biarlah aku mati menyusul ibu dan ayahku!” tandas Asmarani dalam suaranya yang lembut.

“Rani!” darah Prabu Purbaya tersirap. Dia sangat kaget dengan ucapan keras dari seorang perempuan cantik di hadapannya itu.

“Tak ada gunanya lagi aku hidup kalau untuk menanggung derita dan kesedihan.

Dan kematian adalah yang terbaik bagiku.”

“Tapi,… tapi aku akan berjalan jauh sekali, Rani. Aku akan terus mengembara. Aku tidak memiliki tempat tinggal yang jelas.” Prabu Purbaya mencoba mengelak dan beralasan.

“Apapun alasanmu. Kalau kakang Purbaya tidak mau mengajariku silat dan tinggal dulu di desa ini, aku akan ikut kemana saja kakang pergi. Kalau tidak, aku akan…”

Entah dari mana, Asmarani sudah menghunus sebilah pisau. “Asmarani! Tahan!”

“Oh, hari ini adalah hari kedua aku meninggalkan istriku Cempaka. Lalu kalau nanti aku kembali ke kaki gunung Burangrang dan Cempaka melihat hal ini… apakah… Yah,.. tapi tak mungkin Cempaka cemburu. Dia akan bisa mengerti kelak, dan aku akan menceritakan semuanya. Agaknya Rani memang tidak main-main. Aku melihat kesungguhan terpancar di matanya.”

“Kenapa kau menahanku, Kakang? Biarlah aku mati. Toh hidup pun tidak ada gunanya. Aku perempuan yang bodoh. Dan tidak mengerti apa-apa. Aku tidak tahu membalas budi…”

“Sudahlah Rani. Sarungkan kembali senjata itu. Ayolah ikut denganku. Masuklah ke dalam. Dan mohon pamitlah kepada kepala desa. Aku akan menunggu disini. Aku tadi sudah pamit kepada kepala desa…”

“Kakang,… apakah kakang menyesal membawaku turut serta dalam perjalanan

ini?”

“Sudahlah Rani, jangan kau ulangi lagi pertanyaan seperti itu. Kalau aku menyesal aku tidak akan mengajakmu pergi, meskipun kau membunuh dirimu sendiri. Hanya aku harap kau tahan berjalan di daerah seperti ini.”

“Kakang sejak aku kau bolehkan aku ikut denganmu, maka aku sudah berjanji dalam hatiku bahwa aku akan tahan mengikuti jejak dan langkah kakang, kemanapun kakang Purbaya pergi.”

“Baiklah, tapi kuharap kau tidak akan kecewa kelak…”

“Kakang, kenapa kita tidak mengambil jalan ke arah sana? Kenapa kita mesti menuju ke arah gunung… eh, Burangrang?!”

“Ada pekerjaan yang teramat penting yang harus aku lakukan disana. Nanti juga kau akan mengetahuinya. Oh ya, kalau kau tidak kuat berjalan di atas bebatuan seperti ini, biar kupanggul saja. Kau mau?”

“Eh, tapi kakang, mengapa kita mesti terburu-buru? Apakah tidak sebaiknya kita berjalan seperti biasa saja? Toh,…”

“Kurasa kita memang perlu waktu, Rani. Ada jiwa yang harus diselamatkan. Ayolah kupanggul. Maaf…”

Tanpa menunggu persetujuan Asmarani, prabu Purbaya telah menyambar tubuh gadis itu dan membawanya lari. Asmarani tidak berani membuka matanya. Dia hanya merasakan tamparan angin yang begitu kencang dan keras menyambar tubuh dan wajahnya. Sementara itu, prabu Purbaya terus saja berlari diantara tebing-tebing gunung Burangrang. Sesekali tampak tubuhnya berputar lalu mencelat diantara tonjolan batu- batu yang runcing.

“Suara para prajuritku yang sedang bekerja telah kudengar. Kasihan mereka, sudah empat hari dengan hari ini mereka bekerja tanpa diriku. Dan bagaimana dengan dinda Cempaka, apakah dia masih bisa sabar dan tenang dalam bekerja. Tapi aku rasa paman panglima Galung Wesi bisa membuatnya tenang.”

“Eeh, Rani bukalah matamu. Kita telah hampir sampai ke tempat tujuan.

Dengarlah suara benturan benda-benda keras itu. Kesanalah kita akan pergi…”

Asmarani tidak berkata apa-apa. Dia segera membuka matanya dan turun dari pundak prabu Purbaya. Gadis manis itu menyisihkan anak rambutnya yang jatuh menyentuh pipinya. Lalu dia menatap pada prabu Purbaya, kemudian dia melihat ke arah datangnya suara para pekerja itu.

(4)

Pada kisah yang lalu diceritakan, Prabu Purbaya yang mengejar orang misterius itu akhirnya menolong Asmarani dari amukan api yang membakar rumahnya karena ulah tiga orang penjahat yang tidak dikenal. Kedua orang tua Asmarani mati dibunuh, sampai akhirnya Asmarani mengancam akan membunuh diri kalau tidak dibawa oleh prabu Purbaya. Siang itu, prabu Purbaya yang membawa Asmarani telah tiba di dekat goa karang. Tempat dimana para para prajurit Karang Sedana dan Kencana Wungu bekerja menggali pintu goa karang.

“Rani, kita sekarang ke sana. Ke bawah sana. Aku ada urusan di goa karang itu.

Ayo kita jalan saja.”

Asmarani tidak berkata apa-apa. Dia menatap pada prabu Purbaya lalu mengalihkan pandangannya ke arah datangnya suara para pekerja.

“Ayo, kita turun. Sebentar Rani. Aku mendengar ada kuda datang ke mari.

Barangkali dia para pekerja yang ada dibawah itu.”

“Eh, kakang. Dia… dia seorang prajurit. Dia prajurit kerajaan Karang Sedana.” kata Asmarani.

“Oh, ampun gusti Prabu...” prajurit berkuda tadi segera meloncat dari kuda, dan menghaturkan hormat dan bersiaga.

“Ada apa prajurit? Kenapa kau kemari? Bukankah teman-temanmu bekerja semua. Apakah kau mendapat tugas dari panglima Galung Wesi?”

“Eh, kakang?!! Ka… Kau?! Oh! Ampunkan hamba, tuanku Prabu...” kedua bola mata Asmarani terbelalak. Tapi tak lama, dia segera bersimpuh lemas.

“Sudahlah Rani, bersikaplah seperti biasa.” kata Prabu Purbaya lirih tanpa menoleh. Kemudian dia berkata lagi pada prajurit dihadapannya, “Prajurit, katakanlah tugasmu.”

“Ampun gusti Prabu. Hamba disuruh oleh gusti permaisuri untuk mencari tahu dimana tuanku berada. Ampunkan hamba tuanku.”

“Baiklah. Sudahlah prajurit, kembalilah ke tempatmu. Aku akan menyusul.” “Ampun gusti prabu. Sekarang hamba mohon diri.”

Selesai berkata, prajurit itu meloncat kembali ke atas punggung kudanya. Dan segera kudanya itu segera digebrak kembali ke arah dia datang. Berderap, mengepulkan debu dan percikan tanah dibelakangnya.

“Ampunkan hamba, gusti prabu Purbaya. Ampunkan hamba. Ah, hamba telah berlaku lancang pada gusti Prabu.” dengan suara gemetar Asmarani menghiba.

“Sudahlah, Rani. Tak perlu kau berlaku terlalu sungkan begitu. Berlakulah secara wajar-wajar saja. Aku senang dengan kebebasanmu tadi padaku. Jangan buat jarak yang berlebihan. Sudahlah, bangkitlah. Kita harus secepatnya ke sana. Istriku sudah menantikan kedatanganku.” kata prabu Purbaya lembut.

“Oh, ampun gusti Prabu… sebaiknya tinggalkanlah hamba disini. Biarlah hamba sendirian.”

“Hei, Rani kenapa kau tiba-tiba berubah begini? Tadi kau lah yang berkeras ingin ikut bersamaku dan siap menerima apapun yang terjadi. Sekarang kenapa kau tiba-tiba berubah. Apakah…”

“Ampun gusti Prabu, tadi hamba belum mengetahui siapa diri tuanku sebenarnya. Hamba menyangka gusti Prabu benar-benar seorang pengembara seperti yang tuanku katakan pada hamba…”

“Heeehh, maafkanlah aku Rani.” Prabu Purbaya mendesah setelah menyadari kekeliruannya. “Aku mengatakan hal itu karena aku tidak mau penduduk desa itu bersikap lain padaku. Aku tidak mau dilebih-lebihkan. Dan aku tidak ingin melihat mereka berbicara padaku dengan keragu-raguan. Sekarang, angkatlah wajahmu Rani. Ayo! Mari kita turun. Aku yakin selama dua hari ini semua prajurit yang bekerja itu mencariku. Berlakulah seperti semula.”

“Gusti prabu, hamba takut bersikap lancang. Hamba takut menerima hukuman dari dewata agung. Hamba tahu, eh... bahwa tuanku seorang raja besar di tanah Pasundan ini. Ah, iya… hamba memang terlalu membutakan hati. Seharusnya hamba sudah sadar ketika tuanku menyebutkan nama tuanku pada hamba. Ah, iya gusti prabu Purbaya… semua orang tahu nama itu. Tapi hamba seolah-olah menutup telinga ketika mendengar nama tuanku, hamba seperti… ah, seperti begitu membutakan hati dan pikiran sehingga tak sempat berpikir tentang semuanya. Ampun gusti Prabu yang mulia.”

“Lupakanlah semuanya Rani. Aku hanya minta padamu, ikutlah denganku ke goa karang. Kau adalah tanggung jawabku. Keselamatan dan hidupmu adalah tanggungan ku.”

“Oh, tapi tuanku…”

“Sudahlah, jangan gunakan kata-kata `tapi` lagi. Ayolah, sekarang kita harus segera ke tempat para prajuritku. Istriku tentu gelisah menunggu diriku.”

Asmarani tidak berkata apa-apa lagi. Prabu Purbaya telah menariknya dan membawa nya menuruni gunung Burangrang.

Sementara itu di depan goa karang. Tampak para prajurit tengah giat bekerja menggali mulut goa karang. Cempaka dan Galung Wesi sesekali menatap jauh ke arah gunung Burangrang. Matahari siang yang panas membakar tubuh mereka. “Tuanku permaisuri, sebaiknya tuanku beristirahat saja. Biarkanlah hamba dan para prajurit yang melanjutkan pekerjaan ini. Rasanya matahari terlalu panas hari ini.”

“Oh, tidak mengapa paman. Biar saja, aku sudah biasa menantang panas seperti ini. Lagipula aku tidak mau kita semua melakukan keterlambatan dalam pekerjaan ini. Kasihan putriku. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasibnya didalam saat ini. Oya paman, apakah telah kau suruh salah seorang prajurit untuk mencari gusti Prabu?”

“Ampun tuanku permaisuri, semuanya sudah hamba lakukan. Hamba sudah mengutus prajurit Seta untuk mencari gusti prabu di sekitar gunung Burangrang. Karena mendengar laporan para prajurit jaga, mereka pernah melihat gusti prabu menuju ke gunung Burangrang.” 

“Oh, ada keperluan apa dia di sana? Sehingga sampai dua hari dua malam dia meninggalkan pekerjaan di sini? Apakah putrinya tidak lebih penting dari kepergiannya itu?!” Cempaka merutuk dan kemudian mendesah masygul.

“Mungkin kepergian gusti prabu malam itu karena ada hal yang penting, gusti. Bukankah disekitar tempat ini banyak sekali para pendekar dari rimba persilatan. Mungkin diantara mereka ada yang bermaksud jahat dan mempunyai tujuan tertentu, tuanku. Bukankah terkurungnya putri Jaga Paramuditha bersama dengan Kayan Manggala menurut penuturan salah seorang anggota dari kelompok Tongkat Merah karena kitab pusaka ratu Sima?!”

“Agaknya kitab pusaka itu telah menyebar luas beritanya ke kalangan dunia persilatan, sehingga mereka kemari. Dan siapa pula yang membocorkan rahasia itu sehingga semuanya bisa berkumpul disini. Apakah ada tokoh lain yang tahu mengenai keberadaan kitab itu di goa karang ini?!”

“Entahlah, tuanku. Mungkin semuanya akan terjawab kalau kita berhasil masuk ke dalam gua.” Jawab Galung Wesi. Dia kemudian berdiri tegak untuk menyeka keringatnya. Pada saat itulah dia melihat seorang prajurit yang bergegas kearah mereka. “Ooh,… tuanku permaisuri. Itu prajurit Seta. Dia telah kembali.”

“Bagaimana prajurit, apakah kau sudah berjumpa dengan gusti prabu?” “Iya, katakanlah prajurit. Apakah kau berhasil menjumpai gusti prabu?”

“Ampunkan hamba tuanku permaisuri, dan tuanku panglima. Hamba berhasil berjumpa dengan gusti prabu. Gusti prabu baru saja akan kembali ke mari, saat hamba berjumpa dengannya. Gusti prabu sedang menuju kemari gusti permaisuri, dan hamba disuruh berjalan terlebih dahulu.”

“Ahh, terima kasih prajurit…”

“Nah, prajurit sekarang engkau bergabunglah bersama yang lain. Bantulah mereka bekerja.” “Terima kasih tuanku panglima. Sekarang hamba mohon diri.”

Prajurit itu melangkah meninggalkan Cempaka dan Galung Wesi. Dan segera bergabung bersama teman-teman lainnya. Dia mulai bekerja menggali mulut goa karang. Di lain tempat, Cempaka dan Galung Wesi kembali bekerja. Matahari yang semakin panas membakar tidak mereka hiraukan. Namun sambil bekerja tampak Cempaka merenung, dia terbayang dengan laporan prajurit muda itu.

“Ooh, ada yang janggal dalam laporan itu tadi. Aku melihat sorot mata yang penuh keraguan menatap padaku. Prajurit itu seperti menyembunyikan sesuatu. Dan dia sepertinya takut untuk melaporkan semuanya padaku. Ohh, apakah telah terjadi sesuatu dengan kanda prabu Purbaya? Uhh, kenapa pikiranku jadi tidak enak seperti ini. Ah, sebaiknya aku istirahat saja dahulu. Kalau kanda prabu Purbaya datang pasti dia akan menemuiku di sini.” Cempaka merenung. Perasaannya menjadi gundah. Kemudian dia menghentikan pekerjaannya, lalu menegakkan tubuhnya. Kemudian berkata pada panglima Galung Wesi. “Paman Galung Wesi, teruskanlah pekerjaan ini. Aku mau istirahat dulu.”

“Iya, tuanku?! Silakan tuanku permaisuri. Biarkanlah hamba bekerja, nanti hamba akan memerintahkan para prajurit untuk beristirahat kalau sudah tiba waktunya.”

“Hmm, tidak seperti biasanya tuanku permaisuri beristirahat sebelum waktunya. Biasanya beliaulah yang paling ngotot untuk terus bekerja. Apakah tuanku permaisuri melihat kejanggalan yang terpancar di mata prajurit Seta tadi? Iya, barangkali beliau melihat keganjilan itu. Memang, agaknya prajurit Seta menyembunyikan sesuatu tentang gusti prabu. Apakah ada kejadian terhadap diri gusti prabu? Sebaiknya kutanyakan saja pada prajurit itu.”

“Prajurit Seta, kemari!” teriakan itu membuat beberapa orang prajurit yang sedang bekerja terhenti. Mereka menatap pada panglima Galung Wesi lalu beralih pada prajurit Seta. Prajurit yang dipanggil itu segera meletakkan alat penggalinya, lalu bergegas mendekati panglima Galung Wesi.

“Ohh, ampun tuanku panglima. Ada apakah sehingga tuanku memanggil hamba?” “Sebaiknya kita mencari tempat yang agak jauh. Aku ingin membicarakan sesuatu

padamu.”

“Ampun tuanku, apakah ada kesalahan yang hamba lakukan?”

Galung Wesi tersenyum dan tertawa bijak. “Kau ini aneh sekali prajurit. Apakah setiap dipanggil itu lantas kau melakukan kesalahan? Tadi malam juga, ketika aku memanggilmu kau melakukan hal yang sama. Kau ini ada-ada saja prajurit. Apakah seorang atasan itu memanggil bawahannya saat ada kesalahan saja?” “Maafkan hamba tuanku panglima…”

“Sudahlah, ayo… kita mencari tempat yang agak tenang. Jauh dari bisingnya para pekerja itu. Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan padamu.”

Lalu keduanya berjalan agak jauh dari kebisingan para prajurit yang bekerja menggali mulut goa karang. Galung Wesi menghentikan langkahnya di sebuah pohon yang agak rindang. Lalu panglima itu duduk dengan tenang. Prajurit Seta duduk di depannya.

“Prajurit Seta, aku telah mengenalmu begitu lama. Dan aku sudah memahami semua yang ada pada dirimu. Kalau ada sesuatu kau pasti merenung dan melakukan keragu-raguan. Dan itu pun terjadi padamu saat kau melaporkan tentang perjumpaanmu dengan gusti prabu. Aku yakin, kau juga menyembunyikan sesuatu tentang diri gusti prabu.” tutur panglima bijak itu dengan tenang.

“Ampun tuanku panglima, agaknya hamba memang tidak bisa menyembunyikan sesuatu yang ada pada diri hamba. Dan agaknya, hamba kurang bisa untuk menyimpan rahasia. Maafkanlah hamba tuanku panglima.”

“Sudahlah Seta. Kau adalah prajuritku yang terbaik. Aku membawamu kemari karena aku tahu tentang dirimu. Tentang kehebatan, ketegaran serta pengabdianmu yang tinggi. Aku menyuruhmu untuk melakukan sesuatu tugas karena aku percaya padamu. Nah, sekarang katakanlah apa yang telah terjadi pada diri gusti prabu Purbaya sehingga kau menyimpan keragu-raguan di hatimu saat kau melaporkan semuanya tadi?”

“Ahhh,…” prajurit Seta mendesah, “Ampunkan hamba tuanku panglima. Sebenarnya tak ada kejadian apa-apa pada diri gusti Prabu. Beliau sehat-sehat saja. Hanya saat hamba berjumpa dengan beliau di lereng gunung Burangrang, beliau berdua dengan seorang gadis yang cantik. Gadis itu seperti putri seorang keraton. Dan gadis itu begitu gugup ketika melihat kedatangan hamba.”

“Ooh,… seorang gadis cantik?!” panglima tua itu bergumam dan seperti berpikir keras tentang sesuatu, lalu lanjutnya “Apakah kau tidak mengenal sama sekali gadis itu? Apakah dia bukan dari keraton Karang Sedana?”

“Ampun tuanku panglima, hamba tidak mengenalnya. Dan tadi hamba ingin melaporkan semuanya secara rinci pada tuanku, tapi hamba khawatir pada diri tuanku permaisuri. Hamba takut beliau jadi murka. Karena akhir-akhir ini tuanku permaisuri suka uring-uringan. Jadi hamba tahan berita itu…”

Mendengar penuturan prajurit Seta, Galung Wesi tersenyum. Panglima tua itu senang atas keputusan prajurit andalannya dalam memilah laporan mana yang tidak seharusnya diumbar begitu saja. Katanya, “Kau benar, Seta. Dan kau telah melakukan yang terbaik. Tapi mungkin tuanku permaisuri juga melihat keraguan di matamu. Karena beliau dengan tiba-tiba ingin beristirahat. Biasanya beliaulah yang suka ngotot agar kita terus bekerja untuk menggali mulut goa karang itu.” “Maafkan hamba, tuanku. Mungkin itulah kelemahan hamba. Tapi bagaimana menurut tuanku sekarang tentang gadis itu? Apakah itu tidak membahayakan ketentraman gusti prabu dengan tuanku Cempaka di tempat ini?”

“Hahahahahaha, aah kau ini ada-ada saja Seta. Gusti prabu dan tuanku permaisuri bukanlah anak-anak lagi. Mereka tentu tahu mengatur situasi. Dan bagiku, kalau… Ah, Seta… itu ada yang datang ke mari.”

“Ooh, itu gusti prabu, tuanku.”

“Salam sejahtera gusti prabu.” Galung Wesi dan prajurit Seta menghaturkan sembah secara berbarengan.

“Oh, kalian?! Kenapa kalian berdua berada di sini? Apakah paman berdua sedang istirahat?”

“Ampun gusti prabu, hamba sedang menerima laporan tentang diri gusti prabu dari prajurit Seta ini. Semula hamba dan prajurit lain sangat mencemaskan tentang kepergian gusti prabu.”

“Terima kasih, Paman. Oya, bagaimana dengan Cempaka istriku? Apakah dia sudah beristirahat?”

“Iya gusti prabu. Tuanku permaisuri telah kembali ke tenda peristirahatan.

Sebaiknya tuanku prabu menemuinya. Hamba khawatir pada kesehatan beliau.”

“Oohh, apakah permaisuriku sakit paman?”

“Tidak gusti prabu. Tapi tadi tuanku permaisuri mendadak berhenti saat bekerja.”

“Terima kasih, Paman. Oya, tolong bawa Asmarani ini ke tenda paman. Jaga dirinya baik-baik. Aku akan menemui istriku lebih dulu. Nanti aku akan bicara lagi dengan paman.” Lalu, prabu Purbaya berkata pada Asmarani. “Rani, kau ikutlah dengan paman Galung Wesi. Jangan ragu-ragu. Paman Galung Wesi akan menjagamu. Dia panglimaku.”

“Ahh, maaf gusti prabu. Hamba hanya merepotan saja…”

“Sudahlah Rani, kau jangan bicara seperti itu terus. Ikutlah dengan paman Galung Wesi. Nanti aku akan menemuimu bersama istriku. Aku pergi dulu paman. Hupp!”

“Hmm, benar kata prajurit Seta. Gadis ini benar-benar cantik. Aku yakin dia adalah seorang putri keraton. Kalau tidak puteri seorang pembesar keraton. Kulitnya halus dan bersih. Dia sangat cantik. Matanyq bening dan tajam. Apakah nanti tuanku permaisuri tidak akan cemburu?” pikir Galung Wesi. Dia mulai menyadari kekhawatiran prajurit Seta yang membuatnya ragu-ragu dalam melapor. “Paman, maafkan aku. Aku merepotkan diri paman. Sebaiknya tadi aku tidak ikut gusti prabu kemari…”

“Oh, hohohoho. Tidak. Aku tidak repot. Ayo sekarang marilah ke goa karang.

Disana nak mas Rani bisa beristirahat. Marilah…”

Galung Wesi segera membawa Asmarani menuju ke goa karang. Prajurit Seta ikut di belakang. Ketika tiba di tendanya, panglima dari Kencana Wungu itu segera menyuruh Asmarani untuk beristirahat. Gadis manis itu pun hanya menurut. Sementara itu prabu Purbaya sudah tiba di tenda Cempaka. Dia masuk ke dalam tenda saat Cempaka sedang duduk merenung.

(5)

Pada kisah yang lalu diceritakan, Prabu Purbaya membawa Asmarani ke goa karang dan menitipkannya kepada Galung Wesi, panglima dari Kencana Wungu. Sedangkan dia sendiri menemui istrinya Cempaka yang sedang duduk merenung di dalam tendanya.

Prabu Purbaya segera menyapa istrinya, “Dinda…”

Cempaka menoleh, lalu menyambut suaminya. “Kanda Prabu, kau dari mana saja kanda Prabu? Dinda cemas memikirkan dirimu.”

“Maafkan kanda, Dinda. Sebenarnya kemarin malam kanda sudah akan pulang.

Tapi ada hal aneh yang terjadi…”

Lalu dengan cepat dan ringkas, prabu Purbaya menceritakan semuanya pada Cempaka. Perempuan itu mendengarkan semuanya dengan teliti. Dan ketika prabu Purbaya menceritakan tentang Asmarani, wajah perempuan utama keraton Karang Sedana itu mendadak keras. Ditatapnya prabu Purbaya dengan pandangan menyelidik. Nada suaranya bergetar.

“Jadi, kanda membawa perempuan itu kemari? Untuk apa kanda prabu? Apakah kanda akan menyuruh dia menggali pintu goa karang ini?”

“Ahmm… maafkan aku Dinda. Kanda tidak bisa melakukan hal lain kecuali membantunya. Dia sudah tidak punya keluarga lagi. Apa salahnya kita membantu dan melindunginya? Kita punya kemampuan untuk membantunya.”

“Ohh, aku jadi kepingin melihat gadis itu. Apanya yang membuat kanda sampai mau membawanya kemari dan bersedia membantunya. Apakah dia memang patut dibantu atau ditolong serta dilindungi oleh seorang maharaja seperti kanda prabu…” suara Cempaka mendesis, hawa kecemburuan Cempaka sangat kental bergumpal di dalam tenda itu. Prabu Purbaya sangat terkejut dan tidak menyangka istrinya akan bersikap seperti itu.

“Dinda Cempaka?! Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa berkata keras seperti itu? Apakah keadaan di daerah goa karang ini telah merubah watak lembutmu? Jangan salah tafsir Dinda. Percayalah, aku menolongnya hanya atas dasar belas kasihan. Kedua orang tuanya mati, sedangkan aku sebagai raja mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Kesengsaraan rakyatnya adalah tanggung jawab seorang raja. Dan aku menolongnya terlepas dari segala perasaan lain, kecuali atas dasar…. Kasihan.” Kata-kata pada kalimat terakhir yang diucapkan prabu Purbaya terdengar meragu. Dan ini jelas ditangkap oleh permaisuri Cempaka.

“Kasihan…?! Ada yang tidak wajar dari sikap seorang raja pada rakyatnya. Kalau kanda kasihan pada rakyat kenapa tidak semuanya, kenapa hanya padanya saja? Itu namanya kasihan kanda punya pilih kasih!”

“Dinda Cempaka, kenapa di tempat seperti ini kau justru memiliki pikiran yang lain? Kemana pikiran sehatmu? Percayalah padaku, Dinda. Aku tidak akan berlaku bodoh. Aku ini seorang raja. Apa yang dilakukan seorang raja tentu akan menjadi panutan atau contoh oleh rakyatnya. Sudahlah, dinda Cempaka. Buanglah pikiran burukmu itu.”

“Ohh, baiklah Kanda.” Cempaka mendesah. Perasaannya mulai melunak. Dia kemudian menyandarkan wajahnya di dada sang suami. Cempaka menengadah, menatap wajah sang kekasih. Tangannya membelai leher suaminya. Matanya meredup sayu. Lalu katanya, “Tapi kanda harus ingat… bahwa Dinda amat mencintai Kanda. Dinda tidak ingin melihat ada kasih lain di hati kanda. Nanti,… bawa dinda menemui gadis yang bernama Asmarani itu. Dinda ingin mengenalnya.”

“Baiklah, nanti kanda akan membawa dinda ke tenda paman Galung Wesi. Karena dia kutitipkan di sana.” tegas prabu Purbaya. Akan tetapi, didalam hatinya prabu Purbaya menjadi cemas melihat sikap istrinya. “Oh, istriku Cempaka menyimpan kecemburuan pada Asmarani. Iya, Cempaka memang sangat mencintaiku. Dan akupun tidak mau kehilangan dirinya. Aku pun tidak akan memilih gadis lain selain dirinya.”

“Eh, dinda. Sudahlah. Ayo kita kerja lagi. Kasihan para prajurit, mereka bekerja untuk menyelamatkan puteri kita. Tapi kita hanya duduk-duduk saja di sini. Ayolah kita keluar. Jangan pikirkan apa-apa dulu.” Dengan perlahan prabu Purbaya melepaskan pelukan istrinya. Cempaka tampak kecewa.

“Ohh, kanda prabu memang bisa berkata begitu. Tapi aku yakin saat kanda bersama gadis itu pastilah kanda tidak pernah memikirkan puteri kita dan diriku. Buktinya, kanda sampai dua hari dua malam tidak pulang. Dan bekerja membantu kami menggali goa karang.” sengat Cempaka. “Ohh, maafkan kanda Dinda. Tapi kanda harap, dinda tidak lagi menuduh kanda melupakan puteri kita. Kanda kemarin sudah akan kembali. Tapi apa boleh buat, kanda harus menolong jiwa orang lain dulu dari kematian. Apakah dinda rela melihat atau mendengar tentang diri kanda yang menutup mata terhadap segala kejadian yang berlaku di depan mata kanda hanya karena persoalan pribadi? Kanda yakin, dinda pun akan melakukan hal yang sama seperti kanda, kalau itu terjadi saat dinda ada di tempat kejadian.” Prabu Purbaya memberi soalan.

“Iya, dinda pun akan melakukannya tetapi tidak untuk terus melindunginya sehingga harus membawanya berjalan bersama-sama dengan dinda.” bantah istrinya.

“Dinda, sudahlah! Buang jauh-jauh prasangka yang tidak-tidak itu. Yakinkan hati dinda bahwa kanda adalah seorang raja yang akan memiliki seorang permaisuri.” bujuk prabu Purbaya sembari tersenyum. Jemarinya menjawil dagu dan ujung hidung istrinya dengan lembut. “Sudahlah. Ayo kita keluar. Barangkali paman Galung Wesi pun sudah mulai bekerja.”

Tanpa banyak suara, Cempaka akhirnya berdiri dan melangkah ke luar. Cempaka mengambil penggali yang biasa digunakannya. Lalu dia pun bersatu bersama para prajurit dan senopati menggali mulut goa karang. Tak jauh darinya tampak prabu Purbaya dan orang-orang dari kelompok pengemis Tongkat Merah yang bekerja dengan penuh semangat. Dan di sisi lain, tampak panglima Galung Wesi juga bekerja dengan giat. Prabu purbaya melihat ke arah orang tua itu, lalu dia pun berjalan mendekati Galung Wesi.

“Paman Galung Wesi, bagaimana dengan Asmarani? Apakah dia merepotkan Paman?”

“Oh, gusti Prabu. Tidak gusti. Rani ternyata seorang gadis yang baik. Setidak- tidaknya dia memang didik oleh keluarga yang baik, gusti. Tutur sapanya lembut dan pribadinya sangat halus. Hamba menduga dia pasti anak seorang pembesar keraton atau setidak-tidaknya anak seorang adipati ataupun demang.”

“Paman, dia bukan anak seorang pembesar ataupun bangsawan. Dia adalah anak seorang petani miskin yang tinggal di kaki gunung Burangrang. Dia bernasib malang. Aku menemukannya saat kedua orang tuanya sudah menjadi mayat. Orang tuanya menjadi korban kejahatan. Aku terlambat menolong kedua orang tuanya. Aku hanya sempat membawanya keluar dari amukan api.”

“Oh begitu menyedihkan nasib yang menimpanya. Tapi hamba masih meragukan semuanya, gusti prabu. Kalau dia anak seorang petani miskin, manalah mungkin memiliki tutur yang halus dan lembut, Gusti?! Lalu memiliki kulit yang halus. Hamba yakin kulit itu pastilah setiap hari dilulur dengan ramuan khusus. Apakah tidak mungkin dia mempunyai keluarga di kota raja, gusti?!” “Paman mungkin benar. Akupun belum mengetahui banyak tentang dirinya. Yang kutahu bahwa kedua orang tuanya yang mati di rumah itu dipanggilnya dengan sebutan ayah dan ibu. Sedangkan dari kepala desanya aku tidak banyak mendapat keterangan. Yah, nantilah kita menyelidikinya Paman. Hanya sekarang aku minta tolong kepada Paman untuk menjaga dirinya. Dia masih dalam keadaan duka.”

“Baiklah gusti Prabu. Hamba akan menjaga dan memperhatikannya.”

“Paman, matahari mulai condong ke barat. Sebaiknya perintahkan pada para prajurit untuk berhenti bekerja. Istirahatkan mereka semua.”

“Baiklah gusti Prabu.” Lalu Galung Wesi melompat ke tempat yang lebih tinggi, kemudian berseru pada para prajurit yang tengah bekerja. “Prajurit! Istirahatlah!”

“Hei, istirahat! Ayo istirahat! Ayo… ayo!” seru para prajurit bersahut-sahutan.

Setelah para prajurit telah bubar dari tempat itu, panglima Galung Wesi kembali menghadap prabu Purbaya. Dia kemudian melapor,”Ampun gusti Prabu, sekarang hamba akan ke tenda.”

“Paman,… tunggu!” Cempaka memanggil. “Ada tugas apakah untuk hamba, gusti?”

“Paman, menurut keterangan dari kanda Purbaya, di tenda Paman ada seorang gadis dari kaki gunung Burangrang. Aku mau melihatnya, Paman.”

“Hamba, tuan permaisuri.”

“Bawalah istriku, Paman. Kenalkan dia dengan gadis itu. Marilah dinda Cempaka.” Prabu Purbaya melangkah sambil membimbing tangan Cempaka. Sedangkan panglima Galung Wesi melangkah di belakang. Sementara itu beberapa orang prajurit tampak sedang duduk-duduk di pinggiran mulut goa. Mereka menunduk hormat tatkala prabu Purbaya dan istrinya serta panglima Galung Wesi melangkah di depan mereka.

Tiba di tenda Galung Wesi mereka di sambut senyum ramah Asmarani. Dan saat mata gadis itu bertemu dengan wajah cempaka, mendadak keduanya saling tatap. Prabu Purbaya menyadari semuanya.

“Rani, kenalkan. Inilah istriku.”

“Ampunkan hamba, Gusti Permaisuri. Mungkin kedatangan hamba telah mengganggu ketenangan Gusti Permaisuri.”

“Bangkitlah.” “Ohh, gadis ini cantik sekali. Aku tidak yakin kalo dia hanyalah seorang gadis desa biasa. Kulitnya halus dan berseri. Sorot matanya tajam dan bening. Dia pastilah anak seorang pembesar. Pembesar keraton. Paling tidak,… pembesar di sebuah kadipaten. Asmarani,… sebuah nama yang amat sesuai dengan orangnya.”

“Ohh, kenapa hatiku bergetar? Dan sepertinya hatiku bergolak sendiri. Apakah aku menyimpan kecemburuan pada wanita ini?”

“Hamba gembira sekali bisa berkenalan dengan seorang Permaisuri yang baik dan cantik seperti tuanku. Hamba adalah gadis desa yang rendah. Keluarga hamba sudah tiada. Mereka mati, teraniaya…”

“Sudahlah, Rani… Jangan kau ingat lagi peristiwa itu. Tenangkanlah hatimu.” “Rani,… Oh, kanda Purbaya begitu enak dan ringan menyebut namanya. Dan mata

gadis itu begitu berbinar ketika kanda Purbaya menyebut namanya. Ohh, setan alas! Aku

tidak bisa membiarkan semuanya ini. Kanda Purbaya tidak boleh lagi berpaling padanya. Kanda Purbaya milikku… Oh, tapi… tapi kenapa aku jadi seperti ini? Kenapa tiba-tiba aku menjadi perasa dan cemburu seperti ini?! Oh… Rani,… Ya! Rani! Oh, baiklah. Aku akan menyelidiki siapa gadis ini, dan apa pula yang akan dilakukan kanda Purbaya padanya.”

“Dinda Cempaka, ada apa dengan dirimu? Kenapa kau diam saja sejak tadi?” “Oh, maaf. Maafkan aku kanda Prabu. Eh,.. kepalaku tiba-tiba terasa nyeri dan

berat. Aku kembali saja ke tenda kanda.”

“Baiklah Dinda. Ayo kita kembali.” --- “Paman, aku kembali dulu.” “Baik, gusti Prabu.”

“Maafkan hamba, gusti Prabu.”

“Dinda, tidurlah. Kenapa kau masih saja terus-terusan merenung?”

Sambil mendesah, Cempaka berkata, “Tidur saja Kanda duluan, Dinda… masih ingin menatap rembulan itu. Dinda ingin menikmatinya sampai dia benar-benar hilang atau tertutup awan sama sekali.”

“Ini bukan kebiasaanmu dinda Cempaka. Ayo, tidurlah. Jangan kau buat pikiranmu sendiri jadi kacau. Jangan kau rusak jiwamu dengan kecemasan dan ketakutan yang tidak beralasan, Dinda.”

“Kau,… memikirkan tentang Asmarani?”

Cempaka mendengus, dadanya tiba-tiba saja bergemuruh. Lalu perempuan itu menutup kedua matanya. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja perasaan benci itu muncul manakala prabu Purbaya menyebut nama Asmarani. Perempuan keraton itu sekali lagi menarik nafas panjang. “Jangan dinda pikirkan soal dia. Paman Galung Wesi bisa mengurusnya.”

“Bukankah,… kanda Prabu juga suka mengurusinya?” jawab Cempaka dengan suara yang berat.

“Dinda! Aku harap padamu buanglah jauh-jauh perasaan jelek seperti itu.” “Dinda rasa, dinda tidak berperasaan jelek. Bukankah tadi siang, saat istirahat

makan siang, Kanda menemuinya di tenda paman Galung Wesi?”

“Dinda, kanda kesana bersama paman Galung Wesi. Percayalah Dinda, kanda tidak sendirian.”

“Tapi, tidak baik bila dipandang mata, kalau kanda Prabu sebagai seorang raja terlalu memperhatikan gadis desa seperti dia. Bukankah cukup paman Galung Wesi saja? Dan itu pun sudah terlalu tinggi untuk dirinya. Kecuali dia seorang putri keraton. Ataukah, gadis itu memang benar-benar putri keraton dan kanda Prabu berdusta padaku dengan menyebutnya sebagai gadis desa?”

Prabu Purbaya tercekat mendengar tuduhan istrinya itu.

“Dinda! Pikiranmu semakin jauh dan kacau. Heeh,.. kanda mengerti. Mungkin kegelisahan jiwa dinda yang membuat pikiran Dinda mendadak berubah seperti ini.”

“Ahh,… pikiranku tidak berubah kanda Prabu. Dengan melihat kenyataan, dengan berita yang saat ini melanda hatiku, mungkin… Dinda akan tabah. Tapi naluri Dinda sebagai seorang perempuan mengatakan lain. Sorot mata yang tersimpan dalam pandangan mata Asmarani untukmu dan untukku berbeda sama sekali. Dinda…”

“Dinda…” prabu Purbaya menyergah cepat, “Dinda terlalu banyak menafsirkan arti sebuah pandangan.”

“Apakah salah, Kanda? Dinda rasa itu satu hal yang wajar. Dan wajar pula kalau dinda sebagai seorang Istri, Dinda menaruh rasa lain pada diri suami Dinda. Bolehkan kalau Dinda mempunyai rasa takut kehilangan orang yang Dinda cintai? Wajar kan kalau seorang istri mencemburui suaminya?!”

Prabu Purbaya tertawa mendengar rengekan istrinya.

“He he he he, Dinda sudahlah. Tidak perlu Dinda menyimpan rasa cemburu seperti itu pada Kanda. Kanda tidak akan menyimpan rasa apa-apa pada gadis itu. Kanda akui Asmarani memang cantik. Dia manis dan lembut. Tatapan matanya tajam mengandung bara asmara yang menggairahkan. Tapi percayalah, bahwa Kanda bukanlah sebangsa laki- laki yang suka mengumbar cinta. Kanda tidak akan jatuh karena seorang perempuan secantik Asmarani.” “Huh, di depan Dinda mungkin Kanda akan berkata demikian. Tapi dibelakang Dinda, siapa ada yang tahu? Mungkin Kanda akan mengatakan hal seperti itu juga pada Asmarani. Kanda memuji Dinda, tapi cinta Kanda,… Kanda berikan juga padanya!”

“Dinda! Sudahlah, untuk apa lagi kita perdebatkan masalah Asmarani? Toh hal itu akan membuat kita yang susah. Percayalah, dimana-mana bertepuk itu pastilah dua belah tangan. Karena tepukan satu tangan tidak akan pernah ada artinya. Asmarani boleh mencintai Kanda. Tapi Kanda tidak akan pernah! Apakah perlu, Kanda bersumpah seperti dulu? Seperti pertama kali Kanda mengambilmu sebagai permaisuri Kanda di hadapan pendeta dan brahmana?!”

Cempaka terdiam. Lalu ditatapnya suaminya. Air matanya mengambang ditelaga matanya yang bening. Tak lama, air mata itu pun jatuh. Prabu Purbaya terenyuh, hatinya pedih sekali. Lalu dengan perlahan dipeluknya tubuh Cempaka. Diciumnya kening istrinya.

Sementara malam terus berjalan menuju waktu yang sepi. Nyanyian binatang malam sesekali ditingkahi suara lolongan serigala.

“Tidurlah Dinda. Tidurlah. Pejamkan mata Dinda, dan berdoa pada dewata agung agar Jaga Paramuditha putri kita selalu dalam lindungannya.”

“Kanda,… Kanda mau ke mana?” “Kanda akan duduk diluar tenda.”

“Oh,… tidak… pergi ke tenda paman Galung Wesi kan?”

“Dinda,… sudahlah! Jangan terlalu terbuai oleh pikiran yang tidak-tidak. Tidurlah.

Selamat malam Dinda.”

Cempaka tersenyum kecut. Lalu dia memejamkan matanya saat Purbaya melangkah keluar tenda.

Diluar, udara malam yang dingin segera membalut tubuh Prabu Purbaya. Laki-laki itu segera duduk bersila diatas tonjolan batu. Tak lama kemudian, dia memejamkan matanya lalu dia hanyut dalam semedhi nya.

Sementara itu di tenda Galung Wesi, Asmarani tampak duduk merenung seorang diri.

(6)

Pada kisah yang lalu diceritakan, Cempaka yang berkenalan dengan Asmarani menyimpan sedikit api cemburu. Karena baginya Asmarani adalah seorang gadis keraton. Malam harinya dia merenung dengan kegelisahan di tendanya. Sementara itu di tenda Galung Wesi, dimana tinggal Asmarani. Gadis itu juga tampak merenung seorang diri, menatap kegelapan malam.

“Purbaya,…” desah lirih Asmarani yang tampak gelisah pula malam itu.

“Iya... Prabu Purbaya. Kau gagah sekali. Kau seorang maharaja besar tanah Pasundan ini. Dan semua orang mengagumimu, semua orang menyayangi mu. Ya, kau memang patut menjadi pujaan. Dan aku kemari juga karena dirimu. Aku menyukaimu. Tapi,… apakah kau juga menyukaiku?” sejenak setelah dirinya berpikiran demikian, Asmarani merasakan tubuhnya menjadi lemas, “Ohh, Purbaya. Kakang Purbaya. Apakah malam ini kau bisa memejamkan matamu? Apakah kau bisa tidur dengan nyenyak?”

“Cempaka,… Yah, Cempaka. Aku melihat binar lain di matanya. Dia cemburu padaku. Dia takut aku merampasmu, kakang Purbaya. Oh,… tapi apakah dia milikmu seorang?”

“Tidak! Kau bukanlah milik Cempaka seorang. Aku juga punya hak untuk mencintaimu. Oh malam yang remang, bolehkah aku mencintai prabu Purbaya? Bolehkah aku menyusupkan cintaku didalam jiwanya? Jawablah malam… kenapa kau tetap bisu dan diam? Aku… Aku ingin memiliki Purbaya.”

“Uhukk,.. uhukk… ahemmm…” suara batuk panglima Galung Wesi membuyarkan lamunan Asmarani.

“Eh, anak mas Rani?! Kau belum tidur? Kenapa kau melamun dan mendesah menatap langit? Adakah malam ini menggelisahkan pikiranmu?” tuaku.” “Ah, paman. Paman Galung Wesi,… Aku… aku hanya teringat kepada kedua orang

“Sudahlah anak mas. Yang berlalu, biarkanlah berlalu. Tidak perlu terlalu dipikirkan. Semuanya adalah kehendak alam dan sang maha pengatur. Kita ini hanyalah para manusia yang harus tunduk kepada segala keputusannya.”

“Paman,… kematian kedua orang tuaku membuat aku sedih dan merasa begitu kehilangan. Aku kehilangan tempat berkasih sayang dan tempat mencurahkan segala kegetiran hati ini. Yah,… rasanya hidup ini hampa tanpa mereka.”

“Anak mas, kematian adalah sesuatu yang wajar. Kematian itu akan datang kepada setiap insan yang hidup. Tidak perduli dia itu siapa dan apa. Tumbuh-tumbuhan, hewan dan kita sendiri manusia. Kematian bukan untuk disesali atau untuk ditangisi. Tapi kematian adalah bahan untuk renungan. Alat pengkajian diri. Dimana kita bermula, kesanalah kita kembali. Sudahlah anak mas.”

“Paman, bagiku mereka adalah segala-galanya. Mereka tempat aku bermanja. Tempat aku mencurahkan hidupku. Tempat mencurahkan segala suka dan duka. Tapi setelah mereka tiada, kini aku harus mengadukan nasib pada siapa? Apakah ada orang yang mau memperdulikan diriku? Diri seorang gadis yang miskin dan menderita seperti ini…”

“Jangan berkata demikian anak mas. Jangan terlalu berputus asa. Putus asa adalah sebuah dosa. Dosa yang tak mungkin terampuni oleh dewata yang maha agung. Sudahlah. Sebaiknya kau tidur saja. Tapi maafkan Paman, disini tidurnya tidak beralaskan tempat tidur yang empuk. Hanya tikar pandan ini saja yang ada. Kau tidurlah. Biarlah paman tidur diluar.”

“Ahh, paman… Eh, aku jadi tidak enak. Karena kehadiranku membuat paman tidur beralaskan rumput begitu. Dan berselimut embun yang dingin. Ah, aku telah begitu merepotkan paman.”

“Nak mas Rani… Nak mas Rani jangan mempunyai pikiran yang begitu. Aku ini sudah begitu terlatih untuk tidur dan berjaga malam di dalam gelap. Dalam alam yang luas ini. Sudahlah, tidurlah. Atau kau masih ingin duduk-duduk di sini dulu, hmm? Sambil menemani aku yang sudah tua, dan kita ngobrol bersama?!”

“Ahh,.. kalau paman ijinkan, aku akan duduk disini bersama paman, sampai kelak mataku terasa mengantuk…”

Telinga Galung Wesi yang amat terlatih menangkap bunyi ranting terinjak di sekitar tempat mereka berada.

“Sttt, anak mas. Diam dulu sebentar.” “Oh?! Ada apa, Paman?”

“Kau tunggulah disini. Sebentar ya… Hupp!” sesaat kemudian Galung Wesi telah melesat ke arah dia mendengar suara tadi.

“Heeh, kemana larinya?” geram Galung Wesi dengan gemas. “Tadi jelas aku melihat bayangan itu melesat ke arah sini. Bayangannya berkelebat cepat sekali. Apakah orang itu yang diceritakan oleh gusti prabu tadi siang padaku? Kalau memang benar, maka aku harus berhati-hati. Dia pasti memiliki ilmu silat yang tinggi. Buktinya, gusti prabu Purbaya bisa dikecohnya. Hehh, dalam gelap begini sulit sekali untuk melihat dengan jelas.”

“Oh, rupanya dia di sebelah sana! Hupp!!!”

“Huh, hilang?! Oh itu dia di sana! Kisanak, tahan!!”

Mendengar teriakan Galung Wesi, orang yang berlari di depannya itu berhenti. Galung Wesi menghentikan larinya. Dia tegak menatap orang di depannya. Sorot matanya tajam mencoba mengenal orang yang juga tegak di depannya, seolah-olah menantangnya.

“Maaf kisanak, kalau boleh saya tahu… siapakah kisanak yang melintasi daerah perkemahan kami ini?”

“Hmm… orang-orang Karang Sedana ternyata sombong dan angkuh. Iya, memang tidak salah apa yang dikatakan orang-orang rimba persilatan.”

“Kisanak, kuharap kisanak mencabut omongan itu. Kalaupun ada orang rimba persilatan yang mengatakan orang-orang Karang Sedana sombong dan angkuh, pastilah mereka dari golongan yang hitam. Dan lagi pula, perlu kisanak ketahui bahwa aku bukanlah orang Karang Sedana. Aku dari Kencana Wungu.”

“Hehehehehhh, apa bedanya antara Kencana Wungu dengan Karang Sedana?

Dua-duanya sama-sama begundalnya Purbaya!”

“Kisanak, aku tidak tahu dan tidak pernah mengenalmu. Tapi agaknya kisanak tahu banyak tentang kami. Kalau kisanak tidak berkeberatan, maukah kisanak menyebutkan nama besar kisanak?”

“Hehehehehehehhh, bagiku terlalu mahal untuk menyebutkan nama di depan orang yang bakal menjadi mayat. Hmm, hahahahahhh!”

“Ohh?! Ternyata dia bermaksud membunuhku. Aku harus berhati-hati. Aku yakin dia pasti memiliki ilmu yang tidak bisa dipandang enteng. Dari gerakannya saja sudah ketahuan. Dia datang sengaja mencari orang-orang Karang Sedana, pastilah dia sudah mempersiapkan dirinya.” pikir Galung Wesi.

“Hei, kenapa kau merenung kisanak?! Apakah kau takut menghadapi kenyataan ini? Apakah kau merasakan bahwa ajalmu sudah dekat?!”

“Hehehehehehehhh, jangan kau menakut-nakuti diriku kisanak. Bagiku kematian itu tidak ada artinya. Kematian untukku sama dengan kehidupan.”

“Heheheheh, bagus! Rupanya kau termasuk orang yang tidak takut mati. Haha.” “Benar! Aku tidak takut pada kematian. Karena kematian itu akan datang pada

siapa saja dan kapan saja. Aku berani hidup, kenapa aku harus takut mati? Tapi sebelum semuanya terlanjur, aku ingin bertanya padamu kisanak. Apa alasannya hingga kisanak memusuhi kami?!”

“Aku tidak hanya memusuhi dirimu. Tapi seluruh begundal-begundal Purbaya! Kau dengar itu? Siapapun yang bersekutu dengan Purbaya adalah musuhku! Dan harus mati ditanganku! Kau dengar itu, hemm?! Hiahahahaha!”

“Iya, seseorang yang memusuhi orang lain tanpa alasan yang jelas,… tentulah orang itu mengidap kelainan jiwa. Maaf kisanak!” “Ucapan mu begitu pelan. Namun arti yang menyertai perkataan itu begitu menyakitkan. Tapi aku tidak marah. Aku tidak akan marah pada orang yang sebentar lagi menjadi bangkai di hadapanku.” Suara orang yang berdiri di depan Galung Wesi itu bergetar. Tenaga yang dikeluarkan melalui tenggorokannya mengandung hawa yang keras. Binatang-binatang malam yang berbunyi, seketika berhenti.

“Kisanak,… sejak tadi kisanak berkata ingin membunuhku. Sekarang lakukanlah. Seranglah aku dengan jurus kisanak yang paling tinggi. Mungkin dengan demikian aku tidak bisa melakukan perlawanan.”

“Baik, kau memang tidak akan bisa melawanku. Nah, tahanlah ini! Hiyyaaatt!!”

Galung Wesi meloncat cepat. Serangan lawannya jatuh di bawah. Namun kembali laki- laki yang tinggi besar itu berbalik dan menyerang Galung Wesi dengan lebih ganas lagi. Namun Galung Wesi dengan cepat menghindar. Dua kali laki-laki panglima dari Kencana Wungu itu bersalto, lalu turun dengan manis di tanah.

“Hehehehh, kau bisa juga menghindar kisanak. Hahaha, hebat! Hebat! Ternyata kau memiliki permainan juga. Ah, bagus! Bagus! Sekarang, tahan ini!”

“Gerakan orang ini begitu cepat dan gesit dan pukulannya pun mengandung hawa maut. Aku yakin, jurus yang dimilikinya tidak berasal dari tanah Jawa. Dia pastilah pendekar dari tanah seberang. Tapi dari mana? Apakah dari Kutai Raya? Ataukah…”

“Mampus kau! Hiyyyaattt!”

“Hiyaatt! Upp! Hahaha jangan bermimpi dulu kisanak. Kalau kau ingin membunuhku, namun hanya menggunakan jurus seperti itu, nanti dulu! Hehehehe. Tanah Pasundan ini bukan tanah tempat ayam sayur. Tapi disini tempat ayam jago mengadu taji. Tempat ayam jago mengadu tajinya yang tajam dan paruhnya yang keras serta kepakan sayap yang kuat. Kalau kau ingin membunuhku, gunakanlah ilmumu yang lebbih tinggi lagi. Hoopp, haiittt hiyaaattt!!!” selesai berkata, Galung Wesi melesatkan serangan.

Orang besar tinggi itu tidak bersuara. Dia hanya mendengus, lalu dengan cepat menarik serangannya. Kini dia diam berdiri. Matanya menatap tajam pada Galung Wesi, tapi pada saat berikutnya dia segera memutar kedua tangannya. Angin kencang menderu dan saat itu pula di sekitar tempat itu terasa panas.

“Hahahaha, sebentar lagi. Sebentar lagi tak ada jalan untukmu bisa lolos orang tua bodoh! Dan kau akan menjadi tumbal ilmu Angin Gurun ku.”

Mendengar nama ilmu itu, Galung Wesi tersentak. Matanya menatap tajam pada orang di depannya. Mulutnya mendesis perlahan. “Oh?! Angin Gurun?! Maaf kisanak, apa hubunganmu dengan pendeta Amistha yang dulu pernah datang ke tanah Pasundan ini?”

“Hehehehe, rupanya kau mengenal ilmuku. Dan masih ingat dengan resi Amishtha. Huahahahaha. Bagus! Bagus! Ketahuilah, aku adalah saudara resi Amistha. Namaku Garon Safa.”

“Garon Safa…”

“Kenapa kau pucat orang tua? Heh, panglima bodoh! Orang-orang boleh tidak percaya bahwa aku adalah saudara resi Amistha. Tapi itu adalah kenyataannya. Nah, kuharap sekarang kau tidak penasaran lagi kalau mati malam ini ditanganku.”

“Oh, dia saudara resi Amistha. Pendeta jahat yang pernah menjadi seteru gusti prabu Purbaya. Yah, sekarang aku mengerti maksudnya. Kalau begitu aku harus semakin berhati-hati.”

“Nah, tahanlah ini. Hiiyyyaaattt!!!”

Galung Wesi melemparkan tubuhnya ke samping. Angin pukulan yang dahsyat itu menghantam sebatang pohon. Pohon itu bergoyang keras, daun-daunnya rontok berguguran. Galung Wesi menyeringai kaget.

“Gila! Ilmu yang luar biasa. Aku yakin kalau terus-terusan aku menghadapinya, lambat laun aku akan keteter juga. Ohh, ilmunya sulit untuk dibendung. Kalau begitu aku harus mengeluarkan senjataku. Aku tidak boleh mati konyol.”

Galung Wesi mengeluarkan senjatanya, sebuah senjata yang berbentuk seperti sebuah gergaji. Itulah senjata pusaka kebanggaan panglima Kencana Wungu itu. Lalu dengan tenang dia menegakkan tubuhnya. Garon Safa yang masih memainkan ilmu Angin Gurunnya siap akan menyerang. Tapi saat itulah, mendadak datang sesosok tubuh dan langsung menghadang diantara Garon Safa dan Galung Wesi.

“Tahaan!”

“Oh, gusti Prabu…”

“Minggirlah Paman. Aku sepertinya mengenal manusia ini. Iya, sepertinya dialah yang beberapa hari mengecoh aku di gunung Burangrang.”

“Hahahahaha, akhirnya kau muncul juga Purbaya. Aku sudah lama mencari kesempatan seperti ini. Tapi sayang, agaknya kau datang terlambat sehingga aku malas untuk bertarung lagi. Hahahahaha.”

“Paman, apakah paman mengenal orang ini sebelumnya?” bisik Purbaya. “Ya? Tidak gusti Prabu. Hamba juga baru mengenalnya malam ini. Tadi saat hamba bicara dengan anak mas Asmarani, dia melintas dan sengaja memancing hamba. Tapi tadi dia menyebutkan namanya adalah Garon Safa, gusti.”

“Garon Safa? Sebuah nama yang asing. Baru kali ini aku mendengarnya, Paman.” “Benar gusti Prabu. Dia orang dari tanah seberang. Dia mengaku sebagai saudara

resi Amistha.”

“Wuahh, resi Amistha?” Purbaya tercekat kaget. “Iya.”

“Wah, kalau begitu dia termasuk orang yang berbahaya. Minggirlah paman, biar aku yang menghadapinya.”

“Hohohohoho, kenapa kalian berbisik-bisik begitu? Kalau kalian mau pergi, pergilah! Biar aku titipkan dulu nyawa kalian berdua di tubuh kalian. Purbaya, suatu saat kelak aku akan membunuhmu. Huppp!” Garon Safa melesat

“Jangan lari! Huppp!”

Purbaya dengan cepat melenting mengejar Garon Safa. Namun orang asing itu sudah lenyap lebih dulu di dalam rimbunnya hutan yang gelap. Purbaya tak melanjutkan pengejarannya. Dia segera menemui Galung Wesi.

“Gerakannya cepat sekali, Paman. Dan suasana malam membantu dia untuk melarikan diri. Sekarang kita kembali saja ke Goa Karang. Banyak yang harus kita kerjakan. Oya, siapkan penjagaan seketat mungkin.”

“Itu dia lari ke sana! Ayo kejar! Ayo!”

“Gusti Prabu, agaknya telah terjadi sesuatu di mulut Goa, gusti.” “Ayo, kita kembali, Paman!”

(7)

Pada kisah yang lalu diceritakan, Datangnya seorang pendekar asing bernama Garon Safa yang mengaku saudara resi Amistha dan ingin menuntut balas pada Prabu Purbaya. Namun disaat bertemu dengan prabu Purbaya, justru dia melarikan diri. Sementara ditempat lain, banyak prajurit yang mati terbunuh di depan Goa Karang. Prabu Purbaya dan panglima Galung Wesi yang kembali ke Goa Karang setelah mendengar teriakan para prajurit menjadi terkejut menyaksikan semua itu. “Celaka gusti Prabu! Kita kecolongan. Agaknya dia berlari kemari dan membunuh para prajurit kita.”

“Apakah mungkin orang itu yang melakukannya? Kurasa tidak mungkin. Setinggi apapun ilmunya, aku yakin dia tidak akan bisa dengan cepat melakukan hal ini semua.”

“Eh, paman Galung Wesi aku tidak yakin perbuatan ini dilakukan oleh orang itu.

Kurasa ada orang lain yang mengambil kesempatan.”

“Ah, ampun… Ampun gusti prabu. Ampun tuanku panglima. Anu… Anu…” “Ada apa prajurit? Bicaralah yang tenang. Jangan tergesa-gesa. Katakanlah.” “Ampun gusti prabu. Anu… Anu… Non… Non Asmarani… diculik.”

“Apa?! Asmarani diculik? Kurang ajar! Kearah mana penculik itu lari?” “Kearah sana gusti Prabu…”

“Paman Galung Wesi, aku akan mengejar penculik busuk itu. Kalau istriku mencariku, ceritakan semuanya. Aku pergi paman!” Tanpa menunggu jawaban Galung Wesi, prabu Purbaya segera melesat ke arah yang ditunjukkan oleh para prajurit itu. Sementara itu Galung Wesi hanya menatap ke arah lenyapnya prabu Purbaya.

“Hmmm, ada-ada saja kejadiannya. Yang satu belum selesai, datang lagi masalah yang lain. Ya, aku memang harus memperketat penjagaan di sini. Aku harus melindungi jiwa tuanku permaisuri. Agaknya Garon Safa pun mengincar jiwa tuanku permaisuri,” pikir panglima tua itu.

“Hei, kalian semua. Hayo perketat penjagaan. Malam ini harus ada yang berjaga- jaga disekitar tenda-tenda.”

Maka malam yang sepi itu kembali dipecah oleh suara berisik para prajurit yang mendapat tugas jaga. Sedangkan yang lainnya mendapat perintah untuk mengangkut mayat-mayat teman mereka yang tewas.

“Hmm, aku tidak habis mengerti kenapa semuanya ini mesti terjadi di sini? Padahal saat ini aku memerlukan tenaga para prajurit untuk menggali mulut Goa Karang ini. Tapi ada-ada saja yang mengganggu.” Galung Wesi mendesah panjang. Lalu dengan langkah pelan dia berjalan ke arah tenda. Di depan tenda, laki-laki gagah itu berhenti. Dia melihat ke sekitar tenda nampak bekas-bekas kaki dan tali-tali tenda yang terlepas serta putus. Ada robekan baju tersangkut di atas batu di sisi tenda.

“Ohh, ini robekan baju yang dipakai anak mas Asmarani. Apa yang sebenarnya akan dilakukan oleh para penculik itu? Ya, semoga saja para dewata melindungimu anak mas.”

Malam itu pun berlalu. Fajar menyingsing di suatu tempat yang tersembunyi, masih di sekitar daerah Goa Karang. Tampak seorang lelaki kasar keluar dari salah satu goa karang. Dia mendekati sesosok lelaki lainnya yang menyambut dengan tawa kecil.

“Hehehehe, bagaimana Barun? Berhasil?”

“Belum, aku belum bisa menundukkan hatinya. Aku sudah merayunya, bahkan menjanjikan kehidupan yang enak tapi dia masih menolak.” jawab lelaki yang baru keluar dari gua itu. Lidahnya terdengar agak cadel.

“Hmm bodoh! Kenapa pakai rayu segala? Paksa saja! Toh kalau sudah kita dapatkan, dia akan menyerah dan akan mau menjadi istri kita. Heeh sayang sekali kalau gadis secantik dan semanis dia dibiarkan lama-lama.”

“Aku tidak sampai hati untuk berbuat kasar pada gadis seperti dia.”

“Ah, hehehehe. Kau ini ada-ada saja Barun. Sejak kapan kau menjadi jinak dan bermurah hati pada wanita, heh? Sejak kapan?! Oahh, baiklah… kalau begitu sekarang giliranku. Kau lihat saja. Nanti kalau sudah, baru bagianmu.”

“Iya, terserah lah. Ambillah sendiri. Nikmatilah sendiri. Aku tidak ikut campur. Aku hanya menginginkan dirinya secara baik-baik.”

“Hhahahahah. Kau memang aneh sobat. Kita merebut dan merampasnya dari tangan-tangan prajurit itu secara susah payah. Untung saja tidak ada prajurit yang memiliki ilmu yang tinggi. Kalau tidak kan kita harus berjuang mati-matian. Nah sekarang setelah mendapatkan malah menyia-nyiakan. Aah, Barun… Barun… kau ini memang aneh. Tapi sudahlah, kau duduk saja disini. Biar aku yang membereskannya.”

“Lakukanlah sesukamu, tapi kalau ada apa-apa aku tidak mau menanggung resikonya. Rasanya hari ini ada sesuatu yang akan terjadi. Perasaanku tiba-tiba saja tidak enak.”

“Hahahaha, kau ini semakin melantur saja. Dikasih perempuan yang masih perawan dan cantik, kau tidak mau berlaku kasar. Lalu sekali giliranku, kau malah ngomong yang tidak-tidak saja. Hah, mana ada orang yang akan mencampuri urusan kita? Kalaupun ada, mereka tidak akan berani berlaku kurang ajar dengan Sepasang Kelelawar Bukit Burangrang. Hahahahaha. Ahh, sudahlah Barun. Kau tunggulah di sini. Aku akan masuk ke dalam goa. Ahh, atau kalau kau mau mencari makanan, carilah dulu. Nanti setelah selesai, aku akan keluar.”

Dusala segera melangkah meninggalkan temannya. Sementara itu Barun yang ditinggalkan temannya pun segera melangkah ke arah hutan.

“Ah, hahahahaha. Kau memang cantik, Nona. Tidak percuma kami merampasmu dari tangan prajurit bodoh itu. Hehehehe. Aku yakin, kau adalah putri keraton. Owhhh, kulitmu halus dan bersih. Hehehehe, aku jadi tidak sabaran.”

“Siapa kau? Pergilah dari sini. Jangan ganggu aku…” rintih Asmarani ditingkahi tertawa mesum Dusala.

“Ah, Nona… terhadapku kau tidak akan bisa menolak dan berbuat apa-apa. Aku bukan Barun. Aku Dusala. Dan aku tidak akan pernah luluh pada tangisan perempuan. Heheheh. Apalagi tangisan gadis secantik dirimu, heh! Hehehehehh. Menyesallah kau Nona, kenapa memiliki wajah yang cantik. Heh, heheheheh. Sebenarnya aku ke Goa Karang hanya ingin mencari makanan. Tetapi begitu melihatmu, aku jadi tidak jadi mencari makanan… karena kau adalah makanan yang paling empuk. Hehehahahah. Nah, sekarang menyerahlah. Menyerahlah secara baik-baik. Karena kalau menolakpun, aku tetap memaksamu. Dan itu akan lebih menyakitkan lagi. Hehehehehh, Ehehehehe.”

“Jahannamm! Laki-laki bejat! Jangan mendekat, ohh. Aku akan berteriak. Uh!” “Berteriaklah!   Berteriaklah   sepuas-puasmu   karena   tidak   akan   ada   yang

mendengarkanmu. Kalaupun ada, dia pastilah temanku. Dia berjaga diluar, Heh! Hehehe.”

“Ayolah manis, ayo… buka bajumu. Bukalah semuanya. Dan kita menikmati hari ini dengan kesenangan dan kebahagiaan. Heuh? Hehehe… Bukan dengan terpaksa. Ayo… ayo… bukalah bajumu. Ah, ayo sini. Ah, ataukah aku yang akan membukanya? Ayo, sini. Ayo… ayo sini. Hahahaha”

“Jangan, jangan mendekat… pergi kau! pergi! Jangan mendekati aku. Manusia terkutuk! Uh! Ahh!”

“Ahahaha, ayo jangan menolak. Aku akan membawamu ke surga loka. Hahaha.” “Jangan, jangan! Jangan mendekati aku…”

Asmarani melangkah mundur. Matanya yang bening mendelik takut. Tubuhnya bergetar. Gadis itu merapatkan tubuhnya ke dinding goa. Sementara itu, Dusala terus mendekati. Laki-laki itu tertawa menyeringai. Matanya memancarkan sinar penuh nafsu yang membara.

“Ahahahahaha, kau tidak akan bisa menghindar lagi Nona manis. Ah, kau tidak akan bisa menolak keinginan Dusala. Ahahahahah! Ayo,.. ayo jangan takut. Hehehehe, kau akan menikmati sebuah kepuasan yang tak pernah terbayangkan. Ahh, ayo! Ayolah, aku akan memberikan yang terbaik untuk seorang gadis secantik kau! Hehheheh. Ayo, jangan menolak!”

Dusala terus saja mendekati. Asmarani tidak bisa berbuat apa-apa, dan gadis malang itu tidak berkuasa untuk menghindar saat tangan kokoh Dusala menyambar lengannya. “Kau sudah kudapatkan! Ayo! Menyerahlah baik-baik.”

“Tidak, lepaskan aku! Uhh, lepaskan! Ahh, lepaskan manusia jelek! Ah, tolooong!

Tolooong, ahh!”

“Ayo! Berteriaklah sekuat-kuatmu, heh! Hahaha, semakin begitu, kau semakin cantik dan membangkitkan nafsuku. Kau harus melayaniku! Hup, Hiatt!!”

Dusala menyentakkan tangannya. Asmarani terhuyung dan masuk ke dalam dekapan Dusala. Lalu dengan penuh nafsu, laki-laki itu menarik baju yang dikenakan oleh Asmarani. Perempuan itu terus memberontak sekuat tenaga.

“Ahahaha, owww… ternyata tubuhmu sangat putih dan mulus! Owwhhh,.. hohoho, Barun memang bodoh! Kenapa tadi dia tidak memaksamu?! Hehehehe, memang kau adalah milikku. Waah! Waah! Jangan memberontak lagi nona manis! Percuma saja, heuuuh!!”

“Lepaskan! Jangan lakukan! Jangan lakukan perbuatan itu! Tidak! Awwww!

Toloong! Toloong! Ehhh!!”

“Sudah ku katakan, tidak akan ada yang bisa menolongmu, hah! Di dalam gua ini hanya kita berdua saja. Hahahaha. Ayo menyerahlah, menyerah saja dan kita akan bisa menikmati kepuasan sepuas-puasnya, hahahaha. Kau pastilah seorang gadis yang menghangatkan. Hahahaha, sudahlah! Jangan berteriak terus. Kau akan kehabisan suara. Hahahaha, sementara tidak ada yang akan mendengar teriakanmu!”

“Aww, lepaskan! Ah, oohhh!!” jerit Asmarani putus asa. “Hanya aku yang mendengarkannya manusia rendah!!”

Dusala terkejut. Saat itu pula Asmarani memberontak keras. Gadis itu berhasil melepaskan dirinya dari pegangan Dusala. Maka tak ayal lagi, Asmarani berlari ke arah prabu Purbaya. Sesaat perempuan itu memeluk Purbaya. Tubuhnya yang setengah polos itu menempel erat ke tubuh Purbaya.

“Hei, kau! Siapa kau?!” dulu.” “Ah, kakang Purbaya!”

“Rani menyingkirlah. Benahi pakaianmu. Biar manusia rendah ini kuselesaikan “Heh! Manusia kadal! Siapa kamu? Kenapa kamu mengganggu kesenanganku?! Apakah kau sudah memiliki nyawa rangkap sehingga berani mengganggu kesenangan Dusala!?” “Aku tidak pernah memiliki nyawa rangkap. Karena memang dewata itu memberikan satu nyawa untuk satu orang hambanya. Tapi aku bisa menjaga nyawaku yang cuma satu-satunya itu. Soal aku berani atau tidak mengganggu kesenanganmu, itu lain lagi persoalannya. Tapi bagiku, melenyapkan semua manusia yang berotak jahat seperti kalian adalah suatu keharusan!!”

“Hahahaha, Ahahahaha. Kau hebat! Kau gagah dan berani. Heh, ketahuilah orang muda aku mendapatkan gadis itu secara susah payah. Aku harus membunuh para prajurit yang menjaganya. Tapi sekarang, kau malah kemari untuk menggangguku. Nah, sebelum kesabaranku habis,… cepat! Serahkan perempuan itu kepadaku dan tinggalkan tempat ini!”

“Kisanak, aku kemari memang sengaja mencari gadis itu. Karena kau telah menculiknya dari tenda-tenda para prajurit Karang Sedana. Maka sebagai seorang rakyat Karang Sedana aku berkewajiban membantu dia. Dan sebagai penjahat, kau harus mempertanggung jawabkan semuanya.”

“Bangsat rendah! Kau mencoba menggertakku? Kau akan menyesal! Lihat ini!” “Hiyaatt!”

“Haiitt! Percuma kau melawanku manusia rendah.” Prabu Purbaya mendengus

mengejek, dielakkannya serangan Dusala dengan mudah. Sebuah pukulan lainnya ditahannya dengan satu tangan tanpa beringsut dari tempatnya berdiri. Kuda-kudanya pun tidak terlalu kokoh untuk menahan serangan Dusala itu. “Kau akan menyesal sebentar lagi.”

“Terus serang saja dia, Kak. Mungkin temannya sebentar lagi akan kemari.” Seru Asmarani mengingatkan.

“Rupanya kau memiliki teman juga. Bagus! Kalau begitu akan menunggu sekalian temanmu itu. Setelah itu baru aku akan membunuhmu.”

“Jangan sombong kau bocah sableng! Tanpa temanku pun, kau akan mati di sini. Tapi sebelum aku membunuhmu, aku akan membuatmu tidak berdaya. Lalu aku akan memperkosa gadis itu di depan matamu. Hiattt!!”

“Kau terlalu yakin dengan kemampuanmu. Aku jadi muak dengan sikapmu. Nah, keluarkanlah kehebatanmu karena aku akan menundukkanmu sekarang juga. Hiattt!”

Selesai berkata demikian, Purbaya segera memutar tangannya. Dan tubuhnya melenting menyerang Dusala. Serangan yang cepat dan ganas itu membuat Dusala tersentak kaget. Lalu buru-buru melemparkan tubuhnya ke lantai goa. Namun pada saat berikutnya, Purbaya telah menyerangnya lagi dengan tendangan yang lebih cepat lagi.

“Awas! Rusukmu! Hiaat!!” Maka tak ayal lagi, tubuh Dusala yang bergulingan itu terjengkang ke belakang. Tendangan Purbaya yang keras itu menghantamkan tubuh Dusala ke dinding goa. Tapi sebelum tubuh itu jatuh ke tanah, Purbaya telah menyerangnya dengan melemparkan sebuah kayu bekas api unggun. Kayu yang berarang itu meluncur cepat dan menyambar tubuh Dusala.

“Ahh! Ahh… Jahannam! Kurang ajar! Kau,… kau telah bertindak curang!” “Hehehehe. Diamlah disitu. Rasanya lebih enak kalau kau bergantung di dinding

goa dari pada membuat repot.”

“Setan! Ayo turunkan aku! Kita akan bertarung selaksa jurus. Dan aku akan membalas penghinaan ini!”

“Huahahahah, sudahlah jangan banyak omong. Kulepaskanpun kau tidak akan bisa menghadapiku. Diam saja disitu. Jangan terlalu banyak bergerak. Kita tunggu temanmu. Barangkali dia bisa membantumu turun dari dinding batu itu.”

“Puah! Licik! Pengecut kau!”

“Aku paling benci pada orang yang banyak mulut, tapi tidak punya kemampuan.”

Prabu Purbaya mencungkil sebuah batu lalu mengarahkannya pada Dusala. Batu kecil itu meluncur dengan cepat dan menghantam leher Dusala. Laki-laki itu tersentak dan bungkam saat batu itu menghantam urat dilehernya. Dusala hanya bisa mendelik. Pada saat itulah, dari luar tampak masuk sesosok bayangan berkelebat. Purbaya mendengus.

(8)

Pada kisah yang lalu diceritakan, Asmarani yang diculik oleh Dusala dan Barun berhasil diselamatkan oleh prabu Purbaya. Dan Dusala berhasil dikalahkan Purbaya dengan mudah. Saat Dusala tergantung di pojok goa, muncul sesosok bayangan di mulut goa. Dan bayangan itu langsung berhenti manakala melihat Dusala terpajang seperti patung di dinding goa. Bayangan yang berkelebat masuk itu ternyata Barun. Laki-laki itu meletakkan hasil buruannya. Dia melangkah maju dan mendekati Purbaya yang berdiri di depannya.

“Rupanya sepagi ini ada tamu yang datang berkunjung ke goa ku, heheheheh. Maaf kalau penyambutan temanku tak semestinya pada Tuan. Namun agaknya Tuan telah menghukumnya.”

“Hupp! Hupp! Hiat!”

“Maaf, Tuan. Aku terpaksa melepaskan dulu temanku. Dia sahabatku. Aku kasihan melihatnya.”

“Hmm, orang yang satu ini tidak bisa kupandang rendah. Ilmunya hebat sekali. Dia bisa memukul dari jarak sejauh ini untuk membantu membebaskan temannya. Aku harus berhati-hati. Kurasa ilmunya jauh diatas temannya itu.”

“Oh, suatu pertunjukan tenaga dalam yang sempurna. Aku kagum padamu sobat.” “Hahaha, itu hanyalah permainan anak-anak saja, Tuan. Kurasa Tuan juga memiliki

ilmu yang hebat, sehingga bisa membuat tubuh temanku menempel di dinding goa yang

keras itu hanya dengan sebuah potongan kayu bakar. Heh?!”

“Orang ini tidak sombong dan angkuh seperti temannya. Dia tetap tenang. Tatapan matanya tajam dan menusuk. Pantas saja para prajurit tidak ada yang bisa menahannya saat menculik Asmarani. Oh, tapi aku harus menangkap mereka. Kalau tidak bisa,… ya membunuhnya sekaligus disini.”

“Agaknya hari ini aku bisa belajar banyak dari kisanak untuk belajar menempel seperti temanku tadi.”

“Sudahlah kisanak, aku tidak mempunyai banyak waktu untuk meladeni bermain- main dengan kata-kata. Sekarang aku mau membawa gadis ini keluar dari tempat ini. Karena dia adalah milikku. Kalian telah merampasnya dari tangan para prajurit Karang Sedana. Dan aku akan mengantarkannya kembali ke tenda para prajurit Karang Sedana.”

“Hehehehe,… Silakan… Silakan… keluarlah. Tapi mintalah ijin dengan temanku ini. Karena dia lah yang mengambil perempuan itu. Kalau dia mengijinkannya maka aku akan membiarkan kau keluar dari sini dengan selamat.”

“Dia pasti akan mengijinkannya. Karena dia sudah tidak mampu mempertahan kan gadis ini. Ayo Rani, kita keluar dari sini.”

“Hah! Tunggu!! Enak saja kau ingin keluar dari sini!”

“Hahahahaha, ternyata kau beraninya kalau ada orang yang membantu.”

“Kalau tadi kau mudah mencurangiku. Sekarang jangan kau harap dapat menundukkan diriku. Kau harus menebus kekurang ajaranmu padaku. Hiyattt!”

“Dan kau, tidak akan bisa keluar dari goa ini dengan nyawa masih melekat di badanmu!”

“Sombong…! Kau jangan terlalu berbesar hati karena ada temanmu. Sekarang kau lah yang akan meninggalkan kehidupan ini. Awas dadamu!!” “Hahahahaha” Purbaya tertawa ringan melihat serangannya ke dada Dusala mendarat dengan telak. Dusala memaki.

“Kurang ajar, kau memukulku! Kau harus menerima balasannya. Hiyaatt!”

“Hmm, pemuda ini gerakannya cukup lincah dan cepat. Ilmunya juga tidak dapat dipandang ringan. Aku yakin dia belum mengeluarkan semua kemampuannya. Siapa sebenarnya pemuda ini? Apakah dia pacar gadis itu? Hmm,… rupanya Dusala hampir berhasil menguasai gadis itu. Gadis itu bajunya sudah robek dan terbuka. Kulitnya bersih dan halus. Dia pastilah putri keraton. Aku harus membantu Dusala. Dia tidak akan sanggup menghadapi pemuda itu.”

“Dusala, aku akan membantumu. Hiyyaatt!”

“Bagus, rupanya kau pun kasihan melihat kawanmu ini. Dengan demikian aku tidak susah payah lagi meladeni kalian.”

Prabu Purbaya membuat serangan berputar di udara. Tangannya seperti menulis sesuatu di dinding langit-langit goa. Barun yang menyaksikan jurus itu, berseru kaget.

“Jurus Kincir Metu!?”

“Hahahahaha, rupanya kau mengenal jurus yang kumainkan ini. Nah, menyerahlah untuk kubawa kehadapan panglima Karang Sedana, karena kau telah banyak melakukan kesalahan padanya. Kau telah membunuh orang-orang Karang Sedana.”

“Puih! Persetan semuanya. Barun, jangan dengarkan ocehannya. Ayo, kita habisi kunyuk ini. Hiyaatt!!”

“Kisanak, apa hubunganmu dengan orang-orang Goa Larang?” “Hei, aku memang orang Goa Larang kisanak.”

“Hahahaha, kau jangan mengigau anak muda. Aku mengenal semua orang-orang Goa Larang. Kau jangan menggertakku. Aku yakin kau memainkan jurus Kincir Metu pasti dari hasil mencuri. Yang memainkan kincir metu sehebat ini hanyalah raden Saka Palwaguna, dan Anting Wulan serta saudara-saudara seperguruannya. Sedangkan kau adalah anak kemarin sore, heh?! Hahahaha,… aku yakin kau hanya mendapatkan ilmu itu dengan mencuri!”

“Ah, terserah padamu. Kau mau bilang apapun, jadi. Yang penting aku sudah mengatakan padamu bahwa aku memang orang Goa Larang. Dan aku datang kemari untuk menghukum kalian. Nah, terimalah ajian Kincir Metu ini… Haiiittt, hiyaahh!!”

“Ilmunya benar-benar dahsyat. Aku tidak boleh main-main dengan dia. Aku harus menghadapinya dengan ajian Seipi Angin. Huppp!!” Barun segera menahan serangannya. Sejenak dia berhenti dan menatap tajam pada prabu Purbaya. Pandangannya mencorong tajam. Seluruh tubuhnya bergetar. Pada saat berikutnya, tampak dia memutar kedua tangannya lalu menyilangkannya kedepan dada.

“Aji Seipi Angin! Hiyaattt!!”

“Ah, ajian Seipi Angin?! Kisanak… kisanak dari mana kau mencuri ajian itu? Aku yakin, yang memiliki ajian Seipi Angin hanyalah orang-orang yang tergabung dalam perguruan Angsa Putih.”

“Hahahahahah. Ternyata pengalamanmu di dunia persilatan cukup dalam anak muda. Hmmm, kau benar. Aku memang orang dari Angsa Putih. Dan aku pernah menjadi seorang kepala pimpinan cabang Pengemis Tongkat Merah. Nah,… sekarang apa yang hendak kau lakukan? Cepatlah menggelinding dari hadapanku. Dan tinggalkan gadis itu untuk teman sahabatku ini. Kalau tidak, kau akan keluar dari tempat ini dengan badan tanpa bernyawa. Ajian Seipi Angin tidak pernah mengenal ampun pada musuh- musuhnya.”

“Hmm hahahaha. Apa yang dapat kau andalkan untuk mengusirku dan membunuhku di sini? Kau hanyalah seorang bekas kepala cabang sebuah perkumpulan. Dan aku yakin, ilmu yang kau miliki tidak lah sehebat dan tidak sedahsyat yang dimiliki Aki Parang Pungkur dan bibi Sariti. Heh? Hmm, kenapa kau terkejut?! Ketahuilah kisanak, aku mengenal kedua tokoh utama dari partai pengemis Tongkat Merah. Dan aku juga mengenal Dewi Maut dari lembah Angsa Putih. Nah, majulah kau dengan ajian itu. Dan aku akan menghancurkan dirimu. Karena kalian tidak ada gunanya lagi untuk dibiarkan hidup. Huuppp!”

Prabu Purbaya menarik nafas dalam-dalam. Lalu dia menghimpun tenaganya ke pusar. Sejenak tampak dia menutup matanya. Mulutnya bergerak membaca mantra. Sejurus kemudian, tampak uap tipis keluar dari ubun-ubunnya. Barun dan Dusala tersentak. Mereka mengenal ajian yang dikeluarkan oleh orang yang berdiri di depannya itu.

“Ohh?! Aji apa lagi itu?”

Mereka berdua segera merubah posisi. Dan Barun mengeluarkan ajian Seipi Angin yang dimilikinya. Hingga pada saat berikutnya, saat tubuh prabu Purbaya mencelat kedepan, mereka berdua memapakinya secara berbareng.

“Hiyaaatt!!!”

“Hiaaatt!! Haiitt!! Dhuaarrrr!!! Hoaakkhhh!!”

Terdengar bunyi menggelegar. Angin kekuatan mereka yang saling bertumbukan itu memanas, kemudian berpijar lalu meledak. Karena kekuatan Purbaya berada diatas mereka berdua, maka hawa ledakan itu melemparkan Barun dan Dusala ke belakang. Tubuh keduanya melayang cepat ke arah dinding goa. Kepala mereka terbentur dinding goa dengan keras. Tak ayal lagi, keduanya kelojotan meregang nyawa dengan kepala remuk. Bunyi ngorok keras keluar dari kerongkongan mereka.

Sementara itu, Purbaya pun terkena pukulan balik dari hawa sakti itu. Dadanya terasa nyeri dan sesak. Dengan nafas tersengal, Purbaya berusaha bangkit. Akan tetapi seluruh badannya bergetar dan terasa melemas. Asmarani yang melihat itu menjerit panik.

“Kakang! Kakang Purbaya! Kau tidak apa-apa, Kakang?! Ahhh.. Uhhh”

“Tenanglah Asmarani. Aku tidak apa-apa. Hanya dadaku sedikit sesak. Aku akan memulihkan tenagaku dulu. Kau… ehhh,… gantilah bajumu. Pakai baju penjahat cabul itu. Mereka toh tidak memerlukan baju lagi. Aku akan memulihkan tenagaku.”

Purbaya segera menjatuhkan dirinya di atas batu di dalam goa itu. Perlahan dia memejamkan matanya. Asmarani masih terpaku dengan tubuh bagian atas terbuka. Sejenak dia melirik ke arah tubuh Barun dan Dusala yang remuk bagian kepalanya terhempas ke dinding goa.

“Oh, kakang Purbaya kau begini tampan dan gagah. Aku… yah, sekaranglah saatnya aku melakukan semuanya. Toh disini hanya ada aku dan dia. Aku yakin, Purbaya tidak akan menolak semuanya. Dan nanti Cempaka, perempuan itu akan hancur dan bertekuk lutut dihadapanku. Ya, aku harus menghancurkan kehidupannya. Dia tidak boleh senang bersama Purbaya. Tidak boleh! Ya, aku… aku harus memiliki Purbaya.”