Babad Tanah Leluhur Jilid 07

Jilid 07

Prabu Sora kembali menghela kudanya yang kemudian diikuti Diah Warih di belakang nya.

Beberapa saat kemudian…

“Hehehehehe, aku tidak mau kehilangan bocah ini. Kuda liar itu mungkin saja akan melarikan diri jika aku meletakkannya di punggung kuda liar itu. Aku bisa kehilangan kuda itu sekaligus bocah ini, hehehehe.”

“Lalu bagaimana dengan kuda itu, dia dapat melepaskan diri sementara tuan melepaskannya.”

“Hiahahahaha, kuda itu melarikan diri? Hehehehe, biar sajalah. Rasanya saat ini aku sudah siap menghadapi Anting Wulan. Hehehehe, apalagi dengan adanya bocah ini. Aku berterima kasih padamu Warih, karena kau telah mengingatkan aku akan bocah ini, hmmm hehehehehh.”

“Tuan Sora! Kuda itu… tambang itu dapat diputuskannya!” “Hahahahah! Biar sajalah. Tetaplah di tempatmu Warih.” “Oh, tali itu putus tuan!”

“Hahahaha!”

“Tuan sengaja melepaskannya? Tuan, eh… ingin menanti kedatangannya?”

“Kau benar, Warih. Sudah terlalu lama dendam ini kupendam dalam dadaku. Sekarang telah tiba saatnya aku akan melepaskan segala dendam yang ada di dalam dadaku.”

“Mudah-mudahan kuda itu akan berhasil menemukan Tuannya, dan membawanya kepadaku.”

“Tetapi, bagaimanakah jika Anting Wulan datang bersama dengan suaminya?” “Jangan samakan aku dengan gurumu yang tolol. Walaupun kemampuanku tidak

dapat mengatasi mereka, tetapi aku memiliki banyak siasat. Hehehehe. Aku sudah siap untuk menghadapi semua itu. Jika aku tidak salah, beberapa tombak dari sini ada lembah yang cukup baik untuk menantikan kedatangan mereka. Hmm… kau bawalah dua anak itu.”

“Baik, baiklah tuanku.”

Setelah mengangkat tubuh kedua bocah itu ke atas punggung kudanya, Warih menuntun kudanya mengikuti prabu Sora yang telah lebih dahulu meninggalkannya. Beberapa saat kemudian.

“Kita akan turun ke sana. Hmm, biar bocah laki-laki itu aku yang membawanya. Ini adalah lembah Karang Cungkup.”

Tidak lama kemudian, prabu Sora dan Diah Warih sudah berada di bawah jurang yang cukup dalam. Beberapa belas tombak dari air terjun mereka menemukan sebuah goa yang cukup besar.

“Aku memang harus terus menempel pada orang tua ini. Jika tidak, aku akan mendapat celaka jika bertemu dengan Anting Wulan. Hmmm, kelinci bakar ini sudah matang sejak beberapa saat lalu. Tapi laki-laki tua itu belum juga bangun dari semedhi nya. Wahh, perutku sudah lapar sekali. Tapi aku akan menunggunya dan makan bersama- sama dengannya.”

“Hmm, sudah sore agaknya.”

“Ah, tuan sudah bangun. Eh, ini makanan sudah saya siapkan. Tapi,… biarlah saya hangatkan kembali sebentar. Sudah hampir dingin kelinci bakar ini.”

(28)

Pada kisah yang lalu diceritakan, Kayan Manggala dan Ning Cilik dilarikan oleh prabu Sora dan Diah Warih. Prabu Sora yang telah merasa siap menghadapi Anting Wulan dan Saka Palwaguna, musuh besarnya, sengaja melepaskan kembali si Tunggul agar dia kembali kepada Anting Wulan dan membawa tuannya menemuinya.

“Eehhh, sudah sore agaknya.”

“Ah, iya. Apakah tuan sudah menyelesaikan semedhi tuan? Ah, jika sudah saya telah menyiapkan makanan untuk Tuan. Eh, tapi biarlah saya hangatkan dahulu. Sebab kelinci bakar ini sudah sejak tadi saya angkat dari perapian.”

“Hmm, hehehehehe. Benar. Perutku sudah terasa lapar.”

“Ah, saya akan menghangatkannya sebentar. Hmm, tuan prabu Sora,… bukankah tuan sebenarnya adalah penguasa dari keraton Indraprasta?”

“Hmm?! Ehh…”

“Jika memang tuan adalah penguasa dari Indraprasta, mengapa tuan tidak mengerahkan saja kekuatan pasukan tuanku untuk membalaskan dendam tuanku kepada Anting Wulan? Indraprasta tidaklah terlalu jauh. Dengan menyisir perbatasan Galuh terus ke arah utara, tuan akan tiba di Indraprasta. Dan itu hanya membutuhkan perjalanan sehari berkuda, tuan.”

“Hmm, berikan kelinci bakar itu.” “Ah. Ah, ini… makanlah tuanku.” “Kau sudah makan?” “Eh, belum tuan. Ini saya menyediakan dua ekor kelinci. Dan jika tuan masih kurang…”

“Kelinci ini sudah lebih dari cukup untukku. Kau makanlah.” “Ahh,.. eh.”

Diah Warih menyantap daging kelinci yang lainnya. Yang belum dihangatkan kembali. Sambil menikmati kelinci bakarnya, Diah Warih memandang kakek tua dihadapannya.

“Tuan,… tuan prabu Sora?! Ehmm…” “Hmm?!”

“Berapakah usia tuan?!”

“Ah! Eh…” prabu Sora sangat terkejut dengan pertanyaan itu. “Apa katamu?!” “Ah, ampun Tuan. Saya… saya bertanya tentang… usia tuanku…”

“Hmmm. Untuk apa kau menanyakan hal itu?”

“Ampun tuan. Eh… tiba-tiba saja, ketika memandangi wajah Tuan… saya teringat pada ayah kandung saya yang telah tiada.”

“Siapakah ayah kandungmu? Dan dimanakah tempat tinggal keluargamu?” “Ayah kandung saya adalah Raka Panjulang.”

“Hmm, engkau dari keluarga bangsawan…”

“Iya. Ayah saya adalah bangsawan dari keraton Karang Sedana. Dan beliau meninggal ketika saya berusia sepuluh tahun.” Diah Warih mulai terisak sedih.

“Hmm, jika engkau berasal dari keluarga bangsawan,… mengapa engkau tinggal di perguruan Kembang Hitam?”

“Nyai Kembang Hitam menyelamatkan saya dari kematian.”

“Hei, siapa yang akan membunuhmu?” tanya prabu Sora dengan suara lembut. “Saya sendiri, tuan...”

“Hei, kau bermaksud membunuh diri?”

“Iya. Nyai Kembang Hitam menyelamatkan saya dari angkin yang telah mengikat leher saya.”

“Ahh. Kenapa engkau sampai berbuat nekat seperti itu, Nyai? Engkau memiliki kepandaian yang cukup hebat. Tentu engkau telah membalaskan sakit hatimu itu. Sudahlah tidak perlu bersedih hati.”

“Saya adalah seorang wanita perkasa. Saya tidak boleh bersikap cengeng seperti ini. Ah…”

“Hmm, sebaiknya engkau kembali saja, Nyai. Tinggallah bersama dengan keluargamu. Ibumu dan saudaramu yang lain tentu merasa sedih engkau tinggalkan.”

“Tidak, tuan. Justru mungkin kehadiran saya akan membuat ibu saya menjadi terluka. Karena itu sebaiknya saya pergi saja. Menjauhi ibu…”

“Hmm?! Apa sebenarnya yang telah terjadi dengan dirimu?”

“Laki-laki tua yang saya sayangi, yang saya harapkan akan menjadi pengganti ayah saya yang telah tiada justru telah menghapus lembaran masa depan saya.”

“Heeh?! Ayah tirimu?!” prabu Sora mengungkapkan dugaannya. “Apa yang dilakukannya?”

“Dia, dia telah merusak pagar ayu saya.” “Hmmm! Iblis! Busuk! Hmm! Aku tidak mengenalmu, Nyai. Akan tetapi untuk kebusukan yang tiada tara itu, aku akan membantumu. Aku akan membunuh tokoh macam apapun ayah tirimu itu.”

“Dia telah mati di tangan saya dan juga ibu saya. Ibu saya telah menusuknya dengan pisau, dan saya mengoyak isi perut laki-laki itu. Ohh, maaf tuanku. Betapa bodohnya saya. Saya telah menghapus selera makan Tuanku dengan cerita saya itu…”

“Tidak. Lihatlah kelinci bakar ini sudah kuhabiskan separoh. Perutku sudah cukup terisi. Justru engkaulah yang harus menghabiskan kelinci itu. Teruskanlah, santaplah kelinci bakar itu, hmm…”

Diah Warih mulai menikmati kembali kelinci bakar ditangannya. Akan tetapi, tiba-tiba dia tersentak.

“Iya, iya tuanku. Ohh hampir saja saya lupa tuanku. Hari sudah mulai gelap. Kayu- kayu kering itu tentu tidak cukup untuk perapian itu semalaman. Biarlah saya mencarinya sebelum cahaya matahari menjadi lenyap sama sekali.”

Diah Warih bergegas mencari kayu bakar di sekitar goa karang.

Kayan Manggala yang berada tidak jauh dari Ning Cilik, saling pandang. Kisah dari Diah Warih begitu menyentuh hatinya.

Sementara itu malam perlahan-lahan merambat terus. Suasana di lembah Karang Cungkup menjadi gelap gulita. Hawa dingin diseputar lembah seakan-akan menusuk tulang. Karena itu, prabu Sora dan Diah Warih duduk merapat di perapian. Adapun Kayang Manggala dan Ning Cilik, keduanya yang tergeletak dalam keadaan lumpuh tertotok oleh prabu Sora. Keduanya jauh dari perapian itu. Sehingga tak ayal lagi keduanya menggigil kedinginan. Suara gemerutuk gigi mereka terdengar oleh Diah Warih.

“Kedua anak itu tidak dapat menahan hawa dingin, apakah perlu saya rapatkan ke perapian ini tuan?”

“Hehehehe, untuk apa Nyai? Mereka tidak akan mati oleh hawa dingin ini. Biarkan saja! Hmm,… Warih? Apakah engkau benar-benar ingin mengabdi padaku?”

“Dengan sepenuh hati, tuanku.”

“Bagus! Bagus! Jika begitu, berarti kau akan menurut segala apapun yang aku perintahkan?!”

“Ah, apapun perintah tuan akan saya lakukan.”

“Hmm, bagus! Bagus, hehehehe! Jika begitu, terangkan padaku kunci dari aji Cengkar Bala. Ilmu siluman yang mampu merubah dirimu menjadi makhluk jadi-jadian.”

“Ahh, ampun tuanku. Saya akan menerangkannya. Baik mantranya maupun laku yang harus dikerjakan. Tetapi ketahuilah, Cengkar Bala saat ini sudah tidak berada di dalam tubuh hamba. Kekuatan itu entah mengapa telah hilang dengan begitu saja…”

“Heii?!” prabu Sora terheran dengan pernyataan Diah Warih.

“Yah, jika kekuatan itu masih ada dalam tubuhku… tentu aku tidak akan kesulitan menghadapi kepungan pengemis-pengemis kotor siang tadi.” “Hmmm. Hilang?! Aneh… Kekuatan itu menghilang. Pastilah ada hubungannya dengan pertemuan Lastri dengan prabu Purbaya dan Cempaka.”

“Iya, aku juga khawatir mbakyu Lastri telah kehilangan kekuatan khususnya, hingga kekuatan Cengkar Bala-ku pun lenyap secara tiba-tiba. Ohh, apakah tuan prabu Sora menghendaki mantra serta…”

“Tidak. Tidak perlu. Mantra dan laku itu tidak ada artinya lagi. Kekuatan siluman itu sudah lenyap dari diri gurumu Lastri.”

“Dia belum muncul juga.”

“Anting Wulan pasti akan muncul”

Racauan mulut Kayan Manggala dan Ning Cilik yang kedinginan semakin terasa berisik. Diah Warih mulai merasa kasihan.

“Oh, Kedua bocah itu kedinginan tuanku.”

“Hmm, lakukanlah apa yang ingin engkau lakukan.”

Diah Warih kemudian beringsut mendekati Kayan Manggala. Tanpa meminta persetujuan lagi, dia kemudian melepas totokan Kayan Manggala.

“Hup! Hiat… Makanlah sisa daging bakar ini. Kau tentu sudah menjadi lapar.” “Ah, bebaskan juga sahabatku ini. Dia pasti juga sudah merasa lapar.”

“Yah, asalkan kalian tidak membuat ulah yang merepotkan! Bagaimana?!”

“Baik. Saya berjanji. Dan saya juga akan berusaha mengatasi sikap teman saya ini.” “Bagus! Hup!” Diah Warih pun melepas totokan Ning Cilik.

Sebuah totokan yang membuat urat utama terjepit dapat membuat tubuh menjadi kaku maupun lemas. Akan sangat terasa menyakitkan pada awalnya. Akan tetapi orang yang terkena totokan itu tidak akan dapat berbuat apa-apa dengan hal tersebut. Saat sebuah totokan dilepaskan, akan terasa menyakitkan pula. Dan tubuh akan terasa lemas dan lelah sekali. Ning Cilik mengeluh kecil saat totokannya dilepaskan.

“Bagaimana keadaanmu, Kak Ning?” “Keadaanku baik-baik saja, Kayan.” “Ini, makanlah. Tentu kau sudah lapar.”

“Ahh, tidak. Tidak. Aku tidak mau makan sisa mereka.”

Melihat sikap Ning Cilik itu, Diah Warih berbisik mengancam, “Aku hanya memberikan kalian waktu beberapa saat, pergunakanlah dengan sebaik-baiknya.”

Diah Warih kemudian menggeser tubuhnya ke depan mendekati prabu Sora, yang tengah tenggelam dalam semedhi nya. Sementara Kayan merapat mendekati Ning Cilik.

“Kak Ning, kau harus melupakan rasa jijikmu itu. Kau bisa mendapat sakit jika terus-terusan menahan rasa lapar.”

“Ah, tapi aku… aku…” “Kita harus dapat selamat. Karena itu jagalah kesehatan. Yang menjadi tulang punggung dari kekuatan kita. Makanlah kelinci bakar ini, ayo.”

“Hmm, tapi aku tidak mau yang itu. Berikan yang satunya lagi. Yang itu adalah sisa dari wanita siluman itu. Aku tidak mau.”

“Ini, makanlah.”

Sambil memejamkan matanya, Ning Cilik menggigit daging kelinci bakar yang sudah menjadi semakin dingin. Matanya dipejamkan rapat-rapat. Gadis muda itu berusaha untuk mengatasi rasa jijiknya, akan tetapi…

“Hueek… Ah… Ah…” “Ada apa, kakak Ning?!”

“Ah, aku tidak bisa menghabiskan sisa makanan mereka. Biarlah aku lapar. Aku… Oh, rasanya lebih baik menahan lapar, daripada menghabiskan sisa makanan mereka. Uh!!” Ning Cilik meringis.

“Tutup mulutmu bocah, atau aku akan membungkam engkau kembali!” bentak Diah Warih. Dia tersinggung mendengar ucapan Ning Cilik.

“Ssttt, kakak Ning! Tenanglah! Aku merasa jemu dengan totokannya yang melumpuhkan serta membuat kita bisu. Tahan emosimu.”

“Kayan, rasanya aku lebih baik mati saja daripada dihina seperti ini.” “Ah, apakah engkau tidak merasa sakit hati dengan perlakuan mereka?!” “Ya tentu saja!” sergah Ning Cilik.

“Ah, nah jika begitu tahan emosimu. Dan makanlah daging kelinci bakar itu. Kita harus tetap hidup. Kita akan mencari upaya untuk menyelamatkan diri. Dan membalaskan semua dendam dan sakit hati ini.”

“Iya, kau benar Kayan. Perutku lapar sekali. Biarlah aku akan mencoba mengisi perutku dengan sampah ini.”

Ning Cilik mulai memaksakan dirinya menggigit dan menelan sisa makanan yang sudah menjadi dingin. Sekerat demi sekerat kelinci bakar itu masuk ke dalam perutnya. Akhirnya habislah sisa makanan di tangannya.

“Ahh,.. Ah, habis juga. Kau bagaimana Kayan?”

“Lihat ini, saya sudah habis sejak tadi Kak Ning.” Kayan Manggala menunjukkan sisa tulang dengan senyum jenaka. “Daging seenak ini, kak Ning makan sambil pejamkan mata?!?”

“Iih, dasar kau rakus ah!”

“Ssst. Eh, mereka sudah tenggelam dalam semedhi nya.”

“Jangan berpikiran macam-macam, kak Ning. Mereka adalah tokoh yang sangat tinggi kepandaiannya. Sebaiknya kita tidur saja. Percayalah ibu dan ayahku akan segera tiba.”

“Tetapi, tahukah kamu? Kamu akan merepotkan ibumu… Eh, Kayan mereka agaknya takut pada ibumu. Dan akan menjadikan dirimu sebagai sandera. Kita justru harus mencari cara untuk lepas dari tangan mereka. Sebelum…”

Belum sempat Ning Cilik selesai berkata-kata, tidak jauh dari tempat itu terdengar ringkikan kuda. Si Tunggul.

“Ibuku datang!” seru Kayan dengan perasaan senang.

“Matikan perapian itu, dan lumpuhkan mereka.” Prabu Sora membuka matanya. Dia membangunkan Diah Warih dan memberikan perintahnya. “Aku akan melihat mereka.”

Prabu Sora melompat kedepan menuju arah dimana ringkik kuda terdengar. Sementara Warih mendekati Kayan Manggala dan Ning Cilik kemudian mengayunkan serangan ke arah jalan darah kedua bocah cilik itu.

(29)

Pada kisah yang lalu diceritakan, Kayan Manggala dan Ning Cilik dijadikan sandera oleh prabu Sora untuk menekan Anting Wulan dan raden Saka Palwaguna. Menjelang tengah malam di lembah Karang Cungkup, prabu Sora dan Diah Warih dikejutkan oleh suara ringkikan kuda dari kejauhan.

“Matikan perapian. Aku akan lihat mereka. Akan tetapi jangan lupa lumpuhkan kedua bocah itu. Huupp!”

“Ibumu akan segera tiba. Terpaksa aku akan melumpuhkanmu kembali. Hiatt!”

Prabu Sora melompat kedepan menuju arah dimana ringkik kuda terdengar. Sementara Warih mendekati Kayan Manggala dan Ning Cilik kemudian mengayunkan serangan ke arah jalan darah kedua bocah cilik itu. Kedua bocah itu tidak tinggal diam. Mereka berusaha mengelak dan menyerang Diah Warih. Akan tetapi mereka bukan tandingan Diah Warih. Mereka berhasil tertotok kembali.

“Jika tidak karena dendamku pada ibumu, tentu sudah lama aku pecahkan kepalamu. Aku tidak kerasan mengurusi bocah-bocah liar seperti kalian berdua. Heh! Jangan melotot seperti itu! Hiah, hupp!” Diah Warih mengirimkan beberapa pukulan kembali karena merasa sebal di pelototi kedua bocah didepannya. Pukulan itu ringan saja, tapi dilambari dengan tenaga sakti.

“Nanti setelah aku dan tuanku prabu Sora membereskan ibumu. Kalian berdua akan aku pendam hidup-hidup di dalam tanah. Hanya kepala kalian yang menyembul di permukaan. Heh! Hahahaha dan aku akan menikmatinya dan menonton hewan-hewan liar di hutan yang akan merancah kepalamu! Dan kemudian mengorek-orek tanah untuk mendapatkan bagian tubuhmu yang lain. Hahahaha. Nah, beristirahatlah dahulu. Aku akan mematikan perapian itu.” sambil tertawa kejam, Diah Warih mengancam dan menakut-nakuti kedua bocah yang telah tertotok itu.

Diah Warih melangkah keluar dari gua persembunyiannya. Setibanya di mulut gua, dia kemudian merunduk untuk memadamkan perapian. Akan tetapi tiba-tiba saja terdengar kesiur angin halus menubruk ke arah dirinya. Diah Warih menyadari adanya bahaya yang mengancam. Tetapi kecepatan gerak dari bayang-bayang itu tidak memberikan kesempatan baginya untuk berbuat apa-apa.

“Huaa! Ahh…”

“Ah,… ah… Uhh!” dengan susah payah Kayan berusaha melepaskan totokan Diah Warih. Hatinya gelisah melihat sesosok bayangan mendekati mereka.

“Kayan,… Kayan anakku. Diamlah. Tenanglah bersama ibumu disini. Siapapun tidak akan dapat mengganggumu jika ibu disampingmu. Bagaimana keadaanmu?”

“Ah, dimana ayah?”

“Kami berpencar untuk mencarimu. Dan ibu berhasil menemukan si Tunggul dan membawa ibu kemari. Dari atas lembah itu ibu dapat melihat cahaya perapian ini. Oh, ternyata benar dugaan ibu. Ah, bagaimana keadaanmu?”

“Pukulan bibi Warih melukai saya Bu, dan… dan juga kakak Ning. Ini dia kakak Ning, Bu. Tolonglah dia, Bu.”

“Ah, jangan khawatir.” “Terima kasih bibi Wulan” “Bagaimana dengan lukamu?”

“Saya, saya merasakan sakit di sekitar pinggang dan dada saya, Bu.” “Apakah kalian bisa menahannya untuk beberapa saat?”

“Saya, saya tidak apa-apa bibi Wulan.”

“Ibu akan membereskan prabu Sora terlebih dahulu. Si Tunggul telah berlaku tepat. Ibu memang berupaya memancing salah seorang dari mereka.”

“Hemmm, kau salah Anting Wulan.” suara serak prabu Sora tiba-tiba terdengar tidak jauh dari situ.

“Ah, kakek Sora sudah kembali.”

“Jangan khawatir, ibu sanggup untuk menghadapi mereka. Diamlah kalian disini.

Ibu akan menyelesaikan urusan itu.”

Anting Wulan berjalan perlahan-lahan menuju mulut goa. Tiba-tiba saja perapian yang masih menyala itu berantakan bagaikan diterjang angin prahara. Bara api menyebar ke arah kiri dan kanan tepat di mulut goa. Dan beberapa saat kemudian kegelapan di lembah Karang Cungkup menjadi semakin sempurna. “Berhati-hatilah, Bu!”

“Jangan khawatirkan ibumu, Nak.” jawab Anting Wulan dengan penuh percaya diri. Anting Wulan berpikir, “Ah, aku tidak dapat meninggalkan mulut goa ini. Anakku berada di dalam dan bukan tidak mungkin aku justru akan terkecoh. Prabu Sora akan masuk dan menangkap putraku. Oh, aku harus berhati-hati.”

“Oh, celaka! Dimana Diah Warih? Tapi aku merobohkannya disini.” “Hahahahaha, kau mencari siapa Nyai?! Hahahaha!” terdengar tawa ejekan Diah

Warih yang tadi sudah dilumpuhkannya.

“Ah, setan! Rupanya prabu Sora telah menyadari perangkapku. Dan kini aku yang berganti masuk perangkapnya. Dia sudah mendekati goa ini sejak tadi, dan membebaskan totokan Diah Warih.”

“Hmm, hehehehehehe. Malam ini, di lembah Karang Cungkup agaknya akan menjadi akhir dari riwayatmu. Hehehehehehe.”

“Kurang ajar! Ohh, Warih berada di sebelah kiri, jauh berada beberapa belas tombak dan bersembunyi di dalam kegelapan. Sedangkan prabu Sora sebaliknya berada di sebelah kanan mulut goa ini. Ohh… aku tidak mungkin memburu mereka. Salah seorang tentu akan masuk ke dalam goa jika aku meninggalkan mulut goa ini.”

“Kau harus menerima pembalasanku. Kau telah merusak segala rencana kami.

Rencana besar dari mbakyu Lastri.”

“Lastri telah menyadari kekeliruannya. Dan enam belas saudaramu yang lain pun demikian. Bagaimana dengan dirimu?”

“Jangan kau dengarkan segala ocehannya. Wanita itu kini dalam perangkap kita. Kita akan dapat membunuhnya bersama-sama dalam kegelapan seperti ini. Lakukan tugasmu!”

“Ohh, mereka tengah merencanakan sesuatu. Aku harus berhati-hati. Jika secara terang-terangan aku tidak gentar menghadapi mereka berdua sekaligus. Tetapi…”

Anting Wulan bergerak cepat. Menghindari ke kiri dan kanan. Dan sesekali menepis sana dan sini. Menghindari berbagai macam senjata yang dilemparkan oleh Diah Warih. Dari bebatuan sampai dengan ranting kayu. Dan sesekali dikejutkan oleh senjata rahasia yang menyerangnya dengan kekuatan yang hebat.

“Prabu Sora mengambil kesempatan diantara hujan batu dan ranting yang dilemparkan Diah Warih. Ohh, apakah itu?!? Cahaya api… Setan! Apa maksudnya itu?! Ah, api mulai berkobar dari kiri dan kanan mulut goa ini.” pikir Anting Wulan. Dia mulai merasa cemas. Benaknya terus melakukan perhitungan-perhitungan siasat. “Walaupun hanya beberapa belas tombak, tapi aku tidak dapat memadamkan api itu. Banyu Chakra Buana tidak mungkin menghadang senjata rahasia yang dilemparkan oleh prabu Sora. Kekuatan Banyu Chakra Buana besar dan menyebar. Sedangkan serangan senjata rahasia yang dilemparkan oleh prabu Sora akan mampu menembus menusuk pertahanan Banyu Chakra Buana.”

“Oh, api itu mulai semakin besar. Uhukk… uhukk…” Anting Wulan mulai terbatuk- batuk oleh asap dari ranting dan pohon di depan mulut goa yang terbakar.

“Cukup Warih, apinya sudah cukup besar. Marilah kita tetap menonton saja.” “Ah, uhukk … uhukk.. asap ini… asap ini benar-benar mulai mengganggu aku. Wah,

celaka! Bagaimana keadaan putraku dan temannya!?”

“Aku akan menghalau asap ini, dengan angin dari Banyu Chakra Buana-ku.” “Oh, aku harus berhati-hati dan waspada akan serangan mereka kembali.”

“Hahahahahaha!” prabu Sora tertawa-tawa di luar goa.

“Ah, asap semakin tebal bergulung-gulung di mulut goa. Aku tidak mungkin membawa pergi anakku dan temannya sekaligus. Tentu aku akan mendapat kesulitan jika mereka menerjangku secara tiba-tiba dalam gulungan asap itu. Hiyyaatt!!” pikir Anting Wulan sambil kembali meniup asap dengan ajian Chakra Buana.

“Untuk melarikan putraku saja pun tidak mungkin. Jika terjadi apa-apa dengan temannya tentu aku mendapatkan sesalan dari putraku selama-lamanya. Oh, apa akalku?!”

Tiba-tiba dari arah dalam goa, terdengar teriakan Kayan Manggala. Lebih tepatnya mirip suara lolongan binatang.

“Oh, apa yang terjadi dengan putraku?!” Anting Wulan segera melesat masuk kembali ke dalam goa lalu bertanya cemas, “Oh, apa yang terjadi dengan dirimu Kayan?”

“Aku tidak apa-apa Bu.”

“Ah, apa yang terjadi dengan bocah itu? Dia melolong begitu kerasnya. Apakah teriakannya karena terkena oleh senjata rahasiaku atau Nyai Warih? Ah, tapi rasanya tidak mungkin.”

“Heh?! Apa ini?!” prabu Sora melihat ada benda-benda yang bergerak di sekitar mereka, terlihat mulai mendekatinya. “Ohh! Oh, celaka! Tentu Nyai Warih pun kerepotan menghadapi ular-ular yang banyak dalam kegelapan begini.”

“Warih! Bagaimana keadaanmu? Warih! Bagaimana keadaanmu?” prabu Sora memanggil-manggil dengan nada khawatir. Tidak ada jawaban.

“Celaka, aku akan melihat keadaan wanita itu. Ah, kasihan sekali,” tanpa banyak berpikir lagi, prabu Sora melesat menuju arah dimana Diah Warih seharusnya berada.

“Ah, ada apa sebenarnya. Mengapa prabu Sora berteriak-teriak. Agaknya dia mencemaskan keadaan Warih, dan iya… Warih pun tidak terdengar menjawab. Apakah ini sebuah perangkap?!”

“Bu, cepat bawa kami pergi. Pergunakanlah kesempatan ini.” “Tetapi bagaimana jika…”

“Mereka saat ini mendapatkan kesulitan. Cepatlah. Merayaplah susuri sisi tebing goa ini. Cepat, Bu!”

“Oh, Baiklah.”

“Terus berjalan, tetapi berhati-hatilah. Mungkin dipinggir tebing ini banyak ularnya.”

“Apakah teriakan mu tadi yang mendatangkan ular-ular dan…” “Cepatlah, Bu. Kita harus dapat cepat tiba di puncak tebing sana.”

“Oh, benar suara mereka tidak terdengar lagi. Agaknya mereka telah mendapat kesulitan. Setidak-tidaknya Diah Warih. Oh, aku akan menyembunyikan putraku dan anak perempuan ini dahulu. Baru kemudian aku kembali mencari prabu Sora dan Diah Warih.”

Anting Wulan terus berlari cepat. Akan tetapi tiba-tiba saja kakinya merasakan sengatan dari seekor ular. Dia mengeluh.

“Ada apa Bu? Apakah ada ular yang menggigit ibu?”

“Ah, tidak . Tidak apa-apa. Ini… Ibu tidak akan terganggu dengan bisa-bisa ular hanya luka kecil akibat patukan saja yang mengganggu.”

Kayan kembali melolong.

“Biarlah, kau tidak perlu mengkhawatirkan ibumu. Hupp!!”

Anting Wulan merayap dengan hati-hati di tebing sambil menggendong tubuh Ning Cilik dan Kayan, putranya. Beberapa saat kemudian, dia berhasil tiba di atas tebing. Kedua tubuh bocah yang digendongnya segera diletakkan di punggung si Tunggul yang telah berada di puncak tebing itu.

“Kalian harus menjauhi tempat ini dahulu, sebelum aku tinggalkan.” Si Tunggul meringkik, lalu mulai berlari.

“Ayo larilah Tunggul. Ikuti aku!”

Anting Wulan melesat cepat mengikuti derap si Tunggul. Akan tetapi tanpa diketahui sesosok bayangan tinggi besar sambil memondong tubuh seseorang mengikutinya dari belakang. (30)

Pada kisah yang lalu diceritakan, Kayan Manggala berhasil mengatasi kesulitan dari kepungan prabu Sora dan Diah Warih dengan bantuan ular-ular disekeliling lembah. Kayan meminta ibunya untuk segera membawanya ketika merasakan keadaannya memungkinkan.

“Terus berjalan, Bu”

“Apakah engkau yang memanggil ular-ular itu?”

“Tepat, Bu. Kita harus segera naik ke atas tebing sana dan segera meninggalkan lembah ini.”

“Naiklah kau, Kayan. Ah… berpeganglah erat. Kau juga cah ayu. Hati-hatilah!” “Iya, Bibi.”

“Ayo, larilah Tunggul! Hiyyyah!”

Si Tunggul berderap cepat memecah kesunyian malam. Kayan Manggala dan Ning Cilik berusaha menahan rasa sakit yang mulai menggelitik pada luka dalamnya akibat guncangan kuda.

Tanpa diketahui oleh Anting Wulan, sesosok bayangan mengikutinya secara diam-diam. Dan bayangan itu ternyata adalah prabu Sora yang tengah memondong Diah Warih.

“Ahhh, mau kemanakah kita, tuan prabu Sora? Luka akibat gigitan ular di kakiku serasa berdenyut keras. Ahh, tolonglah aku. Selamatkanlah aku dari bisa ular ini.” Diah Warih meringis dan mendesis menahan perih dan panas di kakinya yang dipatuk ular.

“Jangan khawatir, aku akan menolongmu. Untuk sementara ini engkau tidak akan apa-apa. Hmm, aku akan menolongmu nanti begitu mereka berhenti. Aku akan menolongmu. Tapi aku juga tidak ingin kehilangan mereka. Bersabarlah. Naah, itu mereka berhenti.”

“Mereka akan beristirahat. Aku akan mencari kesempatan membunuh mereka. Semuanya, tidak terkecuali lagi.” pikir prabu Sora. Sementara Diah Warih masih terus merintih menahan sakitnya.

“Stttt!! Sttt! Sttt!” dengan pelan, prabu Sora mengingatkan Diah Warih agar tidak terus merintih. Ditempelkannya telunjuk di bibirnya.

“Uhh, Lukaku…” bantah Diah Warih sambil berbisik, “Sakit sekali. Kakiku tidak dapat kugerakkan lagi, Tuan.”

“Ya, ya. Baiklah. Mari kulihat.”

Prabu Sora menutup jalan darah Diah Warih dari pangkal pahanya. Kemudian perlahan- lahan dia mulai mengurut berusaha mengeluarkan racun yang telah naik hingga ke pangkal paha murid dari perguruan Kembang Hitam.

“Ehh, aduhh… Mmhhh… Iih.”

“Eh, tahan suaramu itu, tahan. Kau cengeng sekali. Hmm, mereka akan mendengarkan kita.” prabu Sora mencela.

“Ih, iya… iya tuanku.” sahut Diah Warih sambil menutupi mulutnya dengan tangan.

Matanya berair menahan sakit yang amat menyengat. “Maafkan saya…”

Ternyata kekhawatiran prabu Sora menjadi kenyataan. Telinga Anting Wulan yang telah terlatih itu mendengar rintihan Diah Warih. Anting Wulan yang saat itu juga tengah berusaha menyembuhkan luka dalam putranya tersentak.

“Aku mendengar rintihan halus di sebelah kananku. Mencurigakan sekali.

Bagaimana keadaanmu Kayan?”

“Rasa sakit di dadaku sudah berkurang, Bu. Tapi, ah… ah… di pinggangku juga terasa sakit. Pukulan Bibi Warih juga cukup keras mengenai pinggangku ini.”

“Ah, jangan berisik. Aku mendengar suara yang mencurigakan di sebelah kananku. Kurang lebih lima belas tombak. Aku akan membawa kalian kesana melihatnya. Aku khawatir meninggalkan kalian karena mungkin saja ini adalah perangkap.”

Anting Wulan meraih tubuh Ning Cilik dan putranya. Kemudian dia menghentakkan tenaga saktinya. Dan bagaikan kilat, dia melompat melenting ke arah mana suara mencurigakan itu didengar.

“Oh, uh… Oh, engkau Anting Wulan!?” prabu Sora terkesiap melihat Anting Wulan mengetahui keberadaannya disitu.

“Hemmm, engkau mengikuti aku terus menerus?!”

“Hmm, yah. Karena engkau adalah seorang musuh besarku.” “Apa yang telah terjadi dengan Diah Warih?”

“Hmm, apa pedulimu? Hmm, kau tunggulah Warih. Aku akan mencoba untuk melunaskan dendamku. Mudah-mudahan aku dapat mengatasinya. Huppp!”

“Huh, aku harus membuatnya lumpuh kembali. Laki-laki ini licik dan penuh dengan muslihat yang dapat membahayakan diriku.”

“Oh, Banyu Chakra Buanaku tidak dapat berbuat banyak. Anting Wulan agaknya telah menguasai aji itu jauh lebih sempurna dari diriku.” “Aku tidak dapat melayanimu lebih lama lagi…” Anting Wulan kemudian mundur lalu mempersiapkan pukulan sakti Banyu Chakra Buananya. Prabu Sora menyambut serangan itu dengan ilmu yang sama. Akan tetapi, dia dapat dikalahkan. Tubuhnya terhuyung dan …

“Apapun yang akan terjadi, kau harus kembali menjadi orang yang tanpa daksa. Aku akan melenyapkan kembali segala yang engkau miliki. Semua ilmu kepandaianmu. Seluruh kekuatan sakti yang engkau miliki!”

“Tunggu! Hup!!” Diah Warih yang sedari tadi terduduk di pinggir arena pertempuran segera melompat menghadang Anting Wulan, dan saat kakinya menjejak di tanah dia meringis kesakitan. “Aduh, kakiku sakit sekali.”

“Mau apa engkau menghalang-halangi aku, Warih? Jangan mencoba melindungi orang karena dirimu sendiri pun akan menerima hukuman yang sama dariku.”

“Aku,… aku tidak gentar dengan hukuman yang akan engkau jatuhkan pada diriku, Nyai. Tapi,… aku harap jangan engkau lakukan itu padanya. Hhhh, kasihanilah dia. Dia adalah seorang raja. Dia membutuhkan kekuatan untuk kebesaran dirinya. Hhhhh. Jangan! Jangan lakukan! Ooh…” Diah Warih terisak.

“Apa yang terjadi pada dirimu Warih? Apakah engkau tengah berpura-pura untuk memperdayai aku?”

“Ahh, mundurlah Warih. Duduklah saja di sana. Aku masih sanggup untuk menghadapinya. Jangan menggerakkan tubuhmu. Racun ular itu akan merambat hingga ke jantungmu…”

Belum lagi selesai kata-kata prabu Sora, tubuh Diah Warih terhuyung-huyung dan kemudian jatuh ke rerumputan. Prabu Sora mendekati Diah Warih yang tergeletak diatas rerumputan. Segera dia menotok jalan darah di sekitar pinggang dan dada Diah Warih dan kemudian dengan cepat mengurutnya perlahan-lahan. Beberapa tombak disampingnya, Anting Wulan berdiri memperhatikan kejadian yang diluar dugaannya.

“Warih!” prabu Sora berseru tegang. Dia tampak khawatir sekali melihat Diah Warih yang masih pingsan.

“Oh, mengapa jadi begini urusannya? Apa yang harus aku lakukan? Diah Warih benar. Aku rasanya tidak dapat membuat celaka prabu Sora. Oh,… Pancar Dumung, adikku… Iya, adikku Dumung telah menjadi menantu prabu Sora. Dia menikah dengan ratu Seruni yang kini memerintah Indraprasta. Oh, aku tidak sanggup membunuhnya.”

Beberapa saat kemudian,…

“Ahh, engkau sudah sadar kembali. Hmmm?! Kau selamat Warih. Racun itu sudah kubersihkan dari tubuhmu.”

“Terima kasih, tuan prabu Sora.”

“Sekarang giliranku untuk membersihkan racun yang jauh lebih berbahaya dari dalam tubuhmu, Warih.”

“Ah, apa maumu Nyai?!” ucap Diah Warih dengan kesal.

“Kau telah banyak membunuh anak di desa yang kau lalui kemaren. Karena itu aku akan…”

“Tahan!!! Kau tidak bisa membunuh anak ini sebelum melangkahi mayatku!” “Ohh?! Apa yang sebenarnya terjadi dengan kalian? Apa hubunganmu dengan

wanita itu prabu Sora?”

“Hmmm, persetan dengan pertanyaanmu. Hayoo, bunuhlah aku lebih dahulu!” “Aku dapat mengampunimu prabu Sora. Menyingkirlah, dan segeralah kembali ke

Indraprasta. Hiduplah tenang dengan anakmu yang kini memerintah Indraprasta.”

“Heeh, aku akan menyingkir. Tetapi jika engkau membiarkan aku membawa Diah Warih bersamaku.”

“Tidak mungkin, Diah Warih adalah muridku. Dia telah banyak membuat malapetaka. Dan aku wajib mengurusnya!”

“Ehehehehe, muridmu heh? Kau yang mengajarkannya untuk menciptakan malapetaka. Mengapa sekarang engkau akan menghukumnya. Biarkanlah dia pergi bersamaku ke Indraprasta. Aku yang akan mengurusnya. Atau jika engkau tidak setuju, langkahi saja dulu mayatku.” 

“Ohh, tuan prabu Sora.” Diah Warih terkesima melihat pembelaan prabu Sora pada dirinya.

“Ohh, apa yang dikatakan oleh prabu Sora pada dasarnya adalah benar. Aku yang bersalah. Iya, aku yang telah menciptakan Warih menjadi pembuat malapetaka. Baiklah…” pikir Anting Wulan. Kemudian dia berseru sambil mengancam, “Baiklah, kalian boleh pergi. Akan tetapi demi dewata agung. Jika aku mendengar kalian kembali membuat sesuatu tindak kejahatan, aku akan mencari dimanapun kalian berada. Terutama engkau Warih, yang menjadi tanggung jawabku. Nah, pergilah!”

Tanpa berkata apapun, prabu Sora berlalu bersama dengan Diah Warih. Beberapa saat suasana disekitar hutan kecil itu menjadi sunyi kembali. Anting Wulan mendekati Kayan Manggala dan Ning Cilik, dibawah sebuah pohon besar.

“Bagaimana keadaan kalian?”

“Walaupun kekuatan saya belum kembali secara sempurna. Tetapi rasa sakit di tubuh saya sudah banyak berkurang. Ibu tolong sajalah kak Ning.”

“Bagaimana keadaanmu, Ning?”

“Luka dalam, bibi Wulan. Di sekitar pinggang saya. Aduh, rasanya jika saya menggerakkan tubuh, tangan maupun kaki, ahh… terasa sakitnya bukan kepalang, Bi.”

“Ohh, kita beristirahat saja di sini. Kau bisa membuat perapian, Kayan?” “Saya bisa, Bu.”

“Di sekitar tempat ini, samar-samar banyak kulihat kayu-kayu kering.” “Iya, Bu. Saya dapat melihatnya.”

“Nah, tidurlah jika kau ingin tidur, Kayan. Keadaan sahabatmu sudah semakin membaik. Dia juga sebentar lagi harus segera tidur.”

“Tarik nafas dalam-dalam dan tahanlah, Ning. Bagus! Tahanlah beberapa saat. Aku akan memeriksa bagian lainnya di sekitar lukamu tadi.”

Demikianlah, Anting Wulan merawat Ning Cilik hingga lewat tengah malam. Setelah keadaan Ning Cilik menjadi lebih baik dan luka dalamnya tidak mengganggu geraknya lagi, Anting Wulan menyuruh Kayan dan Ning Cilik untuk segera tidur. Tetapi menjelang fajar, Anting Wulan yang bersemedhi sambil berjaga-jaga tidak dapat lagi menahan kantuknya. Setelah bertempur hampir setengah malam, Anting Wulan pulas tertidur dalam posisi semedhi.

“Ah, ah… bau apakah ini? Ah, daging bakar! Ibu rupanya telah menyiapkan makanan pagi untukku. Tapi, keliatannya ibu masih pulas tertidur. Aneh, rupanya setelah menyiapkan makanan ini, ibu tidak dapat menahan kantuknya setelah semalam-malaman tidak tertidur. Ah, perutku lapar sekali. Daging ini sudah matang. Jika saja aku terlambat bangun, tentu akan hangus.”

“Hei, hebat sekali kau Kayan.” “Ibu tertidur?!”

“Iya, ibu tidak dapat menahan kantuk. Untung saja tidak ada orang jahat yang mengganggu kita.”

“Ibu tidur sajalah dahulu. Ibu perlu beristirahat.”

“Bangunkanlah Ning Cilik, sahabatmu. Ibu akan mencuci muka dahulu. Dan, baru menikmati sarapan buatanmu.”

“Ah, eh… tunggu dulu. Apa maksud ibu? Sarapan buatan saya?!” “Iya, ada apa? Kenapa bengong? Sudahlah…”

Anting Wulan kemudian berlalu menuju sebuah sungai kecil. Sementara Ning Cilik terbangun mendengar keributan ibu dan anak.

“Tunggu dulu, Bu. Saya benar tidak mengerti, tunggu!”

Kayan mengejar ibunya, sambil matanya nyalang memandang ke kiri dan kanan mencoba menembus semak-semak yang rapat di sekitarnya.

“Aih, ada apa engkau menghentikan aku? Kelihatannya begitu gelisah?!”

“Ibu katakan ini sarapan,… daging bakar ini buatan saya?! Saya tidak pernah melakukan itu. Ketika saya terbangun, daging itu sudah matang di perapian.”

“Ah?! Kau sungguh-sungguh?”

Kayan Manggala tidak menjawab kata-kata ibunya. Matanya kembali nyalang menyapu ke arah sekitarnya.

“Hei, siapakah yang sedang mempermainkan aku? Tidak mungkin musuh- musuhku. Tentu akan mencelakaiku. Ohh… hmm kanda Saka! Pastilah ini perbuatan kanda Saka.” pikir Anting Wulan. Dia tersenyum kecil ketika telah dapat menduga bahwa itu adalah ulah suaminya.”Keluar kanda Saka! Aku tau ini semua adalah ulahmu!”

“Hehehehehe!” terdengar suara tawa Saka Palwaguna dari kejauhan. “Oh, ayah!”

“Oh, Kayan. Syukurlah pada Hyang Agung. Kalian semua selamat. Aku mencari berputar-putar, dan tadi menjelang pagi hari aku menemukan kalian yang tengah asik tertidur. Aku tidak sampai hati membangunkan kalian. Dan kemudian aku menyiapkan daging bakar itu untuk sarapan kalian. Oya, lalu bagaimana dengan buruan kalian? Apakah wanita itu adalah Diah Warih?”

Tiga hari telah berlalu, akhirnya mereka tiba di keraton Mataram.

*** 35. KEMELUT DI KERATON INDRASAPA 36. PUSAKA SIMA 37. GELORA API CEMBURU

(1)

Pada kisah yang lalu diceritakan, Kayan Manggala dan Jaga Paramuditha beserta Kala Janthuk berada di dalam goa bawah tanah yang tertutup rapat. Sementara itu, jauh di luar goa tampak rombongan prajurit keraton Karang Sedana bersama dengan keraton Kencana Wungu sedang bekerja menggali pintu goa karang yang kokoh. Sang prabu maharaja kerajaan Karang Sedana, yaitu prabu Purbaya beserta istrinya Cempaka telah bermandi keringat. Begitu juga panglima Galung Wesi yang memimpin prajurit keraton Kencana Wungu, namun mereka terus bekerja tanpa kenal lelah.

“Terus gali! Cari celah karang yang lunak untuk digali. Terus! Jangan berhenti!” suara prabu Purbaya bergema memompa semangat para prajurit yang tengah giat bekerja menggali mulut goa karang.

Cempaka menghentikan pekerjaannya. Dia memandang iba para prajurit yang bekerja itu. Dia menghampiri suaminya, lalu berkata “Kanda prabu… Oh, kasihan para prajurit itu. Mereka sudah bekerja seharian. Hampir-hampir mereka tidak ada istirahatnya. Lihatlah, kita saja sudah mandi keringat begini. Agaknya sulit sekali kita untuk bisa membobol goa karang yang keras dan kokoh seperti ini.”

“Hahhh…” prabu Purbaya menghela nafas, “Aku juga sudah bingung, Dinda.

Sepertinya kehilangan akal untuk menghadapi kenyataan seperti ini.”

“Ampun, Tuanku. Segala daya dan tenaga telah kita kerahkan untuk menggalinya. Tapi baru sedikit sekali tanah dan batu yang dapat kita bongkar. Kalau begini terus, mungkin satu purnama atau mungkin lebih baru kita bisa menggalinya dan mengeluarkan tuanku puteri Jaga Paramuditha. Serta raden mas Kayan Manggala dan paman Kala Janthuk.”

“Ohhh,… Ja.. jadi…” mendengar penuturan panglima Galung Wesi itu, Cempaka menjadi sangat tercekat dan gundah, “Oh, puteri Jaga Paramuditha. Dia akan kelaparan. Dia,… Oh, kanda Prabu. Puteri kita, Kanda. Ditha akan sengsara di dalam sana. Oh, ayo Kanda kita gali terus.”

“Tenanglah dinda Cempaka, jangan kau rongrong lagi jiwaku dengan kekalutan seperti itu. Tenanglah! Sabarlah Dinda. Berdo’a lah. Aku yakin dewata pasti mau mendengarkan do’a kita.”

“Oh, Kanda… Bagaimana aku bisa tenang? Aku sanggup menghadapi selaksa prajurit dalam medan perang dengan pedang terhunus. Tapi aku tidak akan sanggup untuk tenang dalam hal seperti ini. Aku tidak mau kehilangan Ditha, kanda Prabu...”

“Siapa orang tua yang mau kehilangan anak kandungnya dengan cara seperti ini, Dinda? Siapa?!” prabu Purbaya tampak agak kesal mendengar isak tangis istrinya. Dia kemudian menghela nafas berat, lalu dengan tersenyum sabar dia mengangkat dagu istrinya untuk menenangkan istri yang disayanginya. Ditatapnya bola mata istrinya yang bening. Keduanya berpandangan. Lalu prabu Purbaya berkata, “Sudahlah Dinda Cempaka. Kau tenanglah sedikit. Kalau memang dewata menghendaki hal lain pada putri kita, apa boleh buat? Kita hanya dapat berusaha. Semua keputusan akhir ada pada yang maha kuasa. Ayo kita gali lagi…”

“Paman Galung Wesi, ayo kita bekerja lagi.” sang maharaja keraton Sunda berkata pada panglima Galung Wesi.

“Ampun, tuanku. Hamba ada usul. Bagaimana kalau kita bongkar dengan menggunakan ilmu kesaktian. Hamba rasa batu-batu karang yang keras ini akan bisa kita hancurkan.” Galung Wesi mengajukan usulan.

“Oh, iya kanda Prabu. Sebaiknya kita hancurkan batu-batu penutup ini dengan ilmu kesaktian. Kurasa apa yang dikatakan paman Galung Wesi itu benar.”

Prabu Purbaya menarik nafas berat. Ditatapnya batu padas yang menyatu dengan tanah di depannya itu. Lalu dia menatap Cempaka permaisurinya, kemudian beralih pada Galung Wesi. Sekali lagi prabu Purbaya menarik nafas.

“Dinda Cempaka dan paman Galung Wesi, aku rasa meratakan dan merontokkan batu-batu ini bisa saja kita lakukan. Tetapi apakah paman tidak memikirkan resikonya? Aku takut kalau semua yang kita kerjakan dengan kekerasan, dengan cara paksa seperti itu, batu-batu itu akan hancur berantakan. Dan bukan tidak mungkin malah menjadi kubur bagi putri dan orang-orang yang ada di dalamnya…” prabu Purbaya bertutur dengan hati-hati. Dia tahu dihadapannya adalah dua orang yang tengah berusaha keras untuk segera menolong orang-orang yang dicintainya. Dia melanjutkan, “Dan bukankah itu sebuah bencana yang kita buat sendiri. Yah, mungkin disinilah letaknya kebesaran dewata. Dia menguji kesabaran kita. Dia ingin membuktikan jiwa kita yang sesungguhnya dalam menghadapi musibah. Usul paman tidak salah. Tapi aku tidak bisa melakukannya. Sudahlah Dinda Cempaka, marilah kita bekerja dengan wajar. Kegigihan akan membuahkan hasil yang baik. Ayo paman, kita bekerja lagi!”

Mendengar penuturan prabu Purbaya, Galung Wesi terdiam. Cempaka juga tidak bersuara, dia hanya menatap suaminya dengan mata berbinar sedih dan ada air bening mengambang di kelopak matanya kemudian jatuh berderai ke tanah. Perempuan perkasa dari Karang Sedana itu segera mengambil pacul dari salah seorang prajurit di dekatnya, lalu dia pun ikut menggali. Prabu Purbaya menahan duka di dalam dadanya, menyaksikan perbuatan istrinya yang tercinta. Tak ada suara. Semuanya bekerja dengan tekun dan hati-hati. Bunyi pacul yang beradu dengan tanah dan batu, membuat irama tersendiri. Sementara itu matahari semakin menggelincir ke barat.

“Ampun tuanku. Agaknya semua prajurit kita telah bekerja sehari penuh. Apakah malam ini juga mereka akan kita suruh bekerja terus?” Galung Wesi bertanya pada Cempaka yang berada di sampingnya. Sang permaisuri yang masih tampak giat menggali mulut goa karang.

“Iya paman Galung Wesi, suruh mereka terus bekerja. Jangan ada yang berhenti.

Kita harus segera menolong puteriku.” jawab Cempaka.

Galung Wesi menatap Cempaka. Dia tidak bisa berbuat apa-apa. Lalu dengan perlahan dia kembali memainkan alatnya. Namun nyata sekali bahwa panglima dari Kencana Wungu itu mulai kehabisan tenaga. Prabu Purbaya melihat semua apa yang terjadi pada Galung Wesi. Lalu prabu Purbaya pun melihat ke seluruh prajurit yang bekerja. Sudah banyak para prajurit yang duduk kelelahan.

“Kasihan mereka, agaknya mereka telah begitu lelah dan kepayahan. Aku tidak boleh meneruskan penggalian ini. Biar bagaimana mereka adalah manusia seperti aku. Mereka punya rasa lelah dan keinginan untuk beristirahat. Mungkin karena aku terus bekerja maka mereka tidak mau berhenti…” pikir prabu Purbaya. Dia lalu melompat ringan ke sebuah batu besar, lalu berseru. “Hooi, para prajurit Karang Sedana dan prajurit Kencana Wungu! Berhentilah! Beristirahatlah kalian! Besok kita teruskan lagi pekerjaan ini.”

Prabu Purbaya kemudian melangkah mendekati panglima Galung Wesi, dia tersenyum dan meletakkan tangannya di bahu panglima itu. “Paman Galung Wesi, kau boleh beristirahat. Besok kita akan bekerja lagi.”

Setelah itu, dia menghampiri istrinya yang berada di sebelah Galung Wesi. Cempaka masih terus mengayunkan paculnya. Purbaya tersenyum dan menggamit lengan istrinya, “Dinda Cempaka, ayo kita istirahat. Kau perlu mengganti bajumu dan mandi dahulu.”

“Tetapi kanda,…”

“Sudahlah, Dinda. Aku tahu perasaanmu. Tapi dalam saat ini bukan perasaan yang harus kita menangkan. Tapi perhitungan. Kita tunggu sampai besok, dan kita akan bekerja lagi. Dalam saat seperti ini kita harus mendahulukan kesabaran daripada emosi.”

Prabu Purbaya segera memegang tangan istrinya, lalu menuntunnya meninggalkan tempat itu. Galung Wesi mohon diri dan kembali ke arah para prajurit Kencana Wungu.

Di sebuah tenda, prabu Purbaya berbaring di atas beberapa lapis hamparan kain tebal bersama istrinya. Cempaka tampak belum dapat tertidur. Wajahnya begitu murung penuh duka. Prabu Purbaya mengelus bahu dan lengan istrinya. Sesekali disibakkannya rambut dari kening dan leher istrinya. Ditatapnya wajah murung yang bersandar di dadanya itu. Rasa iba mengalir ke seluruh jiwanya.

“Dinda Cempaka, sudahlah. Jangan terlalu banyak merenung. Tidak baik kau larutkan dukamu. Kita belum tahu apa yang akan terjadi di akhirnya kelak. Hanya aku harap, dewata akan mengabulkan do’a kita. Yaitu memberi keselamatan pada mereka semua. Sudahlah dinda, tidurlah. Besok kita bekerja lagi dan untuk itu kita butuh tenaga yang segar.”

“Oh, Kanda… bagaimana aku bisa tidur dengan tenang? Sementara Paramuditha tidak ada bersama kita. Dia masih terlalu kecil untuk mengalami penderitaan seperti itu, Kanda.”

“Dinda, agaknya kau lupa bahwa dewata itu akan memberikan cobaan pada hambanya dalam bentuk yang bagaimanapun juga. Kecil dan besar tidak masalah. Dan dewata tidak akan memberikan cobaan yang melebihi kemampuan hambanya. Tenang dan sabarlah dinda. Dan kau pun agaknya lupa, bukankah aku pun dulu semasa kecil begitu banyak menghadapi cobaan berat. Aku mengalami siksaan. Aku harus hidup berpetualang bersamamu. Dan aku harus menghadapi segala kelicikan pangeran Karmapala. Lalu kita dikejar-kejar resi Amistha. Aku yakin kau masih ingat, Dinda.”

“Oh, kanda Prabu. Kanda adalah seorang laki-laki. Dan saat itu kita selalu berdua. Kita selalu berbagi sedih dan derita. Tapi,… Ditha…!” wajah Cempaka menegang, dia bagaikan menatap putrinya di kejauhan.

“Sekali lagi kau berlaku salah, Dinda!” sergah suaminya dengan cepat. Purbaya memotong ucapan istrinya agar istrinya itu tidak berlarut dalam perasaannya. Lalu dengan lembut dia menjelaskan, “Bukankah di dalam sana ada Kayan Manggala serta paman Kala Janthuk. Nah, sekarang dahulukan segala perhitungan dan pemikiran. Jangan sampai dinda tidak bisa berpikir dengan baik. Agar kau dapat membaca situasi dengan baik. Nah, tidurlah dinda. Aku akan menjagamu. Pejamkan matamu, besok kita musti kerja. Kalau kau tidak tidur, maka besok tenagamu akan terkuras habis. Dan tidak bisa membantuku menggali pintu goa karang itu.”

“Oh, baiklah kanda prabu. Semoga saja dinda bisa memejamkan mata dinda.” “Dinda pasti bisa, yakinkan itu. Nah, tidurlah.”

Cempaka akhirnya merebahkan tubuhnya. Dia berusaha memejamkan matanya. Namun beberapa saat tampak dia gelisah. Kemudian prabu Purbaya pun mengusap wajah istrinya. Tak lama kemudian terdengar Cempaka telah mendengkur. Purbaya tersenyum, lalu laki-laki utama Karang Sedana itu berdiri menatap ke arah langit yang cerah dengan gemintang. “Oh, dewata yang maha agung dan maha tunggal. Hanya padamulah aku memohon dan memujamu. Berilah keselamatan pada putriku dan orang-orang yang ada di dalam goa itu. Karena hanya padamulah ada keadilan yang seadil-adilnya.” Prabu Purbaya mendesah, “Yahhh, aku tidak bisa berbuat apa-apa kecuali berpasrah diri pada kebesaran-Mu.”

Prabu Purbaya terus mengucap dalam hati. Dia memohon pada kebesaran Yang Maha Tunggal penguasa alam semesta. Setelah itu, barulah dia duduk bersimpuh. Raja besar itu larut dalam semedhinya hingga menjelang pagi tiba.

Kokok ayam terdengar di perkemahan itu. Di dalam tendanya, panglima Galung Wesi terbangun.

“Uhhh,.. badanku letih sekali. Seluruh urat di tubuhku terasa kaku. Huaahh, belum pernah aku bekerja sekeras kemarin. Yah, ayam sudah berkokok dan aku harus segera mengumpulkan kembali para prajurit Kencana Wungu. Penggalian itu harus dikerjakan kembali.” panglima Galung Wesi mengeluh dalam hatinya. Tampak istirahatnya semalam masih belum cukup untuk memulihkan seluruh kesegaran dan tenaga tubuhnya. Dia segera mencuci muka dan mengusap seluruh tubuhnya dengan kain basah. Setelah selesai, Galung Wesi bergegas keluar tenda. Di depan tendanya dia berpapasan dengan Cempaka.

“Oh, itu tuanku permaisuri Cempaka keluar… Hebat! Dia tampak segar seperti biasa. Mungkin karena memiliki ilmu kesaktian yang tinggi maka pekerjaan berat itu tidak terasa. Baru sekali ini aku melihat seorang permaisuri raja besar mau bekerja bersama para prajuritnya.” pikir Galung Wesi. Dia berlutut lalu menyapa, “Selamat pagi, terimalah salam hormat hamba tuanku permaisuri.”

“Oh, selamat pagi, Paman. Ah, bangunlah Paman. Tidak perlu banyak peradaban, Paman.” Balas Cempaka sambil tersenyum. Kemudian Cempaka menebar pandangannya ke arah tenda-tenda prajurit. Memang belum terlalu banyak prajurit yang telah terjaga. Tampaknya kelelahan mereka cukup membuat tidur mereka pulas. Lalu, Cempaka bertanya dengan ragu, “Oh ya, Paman… bagaimana dengan para prajurit? Apakah kita telah bisa memerintahkan mereka untuk bekerja sekarang? Terlanjur matahari belum muncul.”

“Iya, hamba rasa mereka semua sudah siap, Tuanku.” jawab Panglima Galung Wesi setelah menebarkan pandangannya ke tenda para prajurit. Dia yakin dengan para prajurit yang telah terjaga saat ini akan cukup untuk segera menyiapkan pasukannya dalam waktu singkat. Galung Wesi bertanya, “Oh ya Tuanku, mana tuanku Prabu?”

“Kanda prabu sedang bersemedhi, Paman. Sebentar lagi mungkin beliau akan keluar. Ayo paman, kita ke tempat pekerjaan.”

“Marilah tuanku permaisuri,…” Keduanya melangkah ke tempat mereka menggali goa karang. Sementara itu beberapa senopati yang ikut dalam rombongan penggalian itu segera membangunkan para prajurit yang masih tertidur. Lalu mereka semuanya bergegas mengambil alatnya masing-masing. Pagi yang bisu itu tiba-tiba saja dipecahkan oleh suara-suara pecahan batu yang beradu dengan alat-alat penggali.

“Ayo, semuanya bekerja. Sebelum matahari keluar kita sudah harus memecah kan batu yang besar itu. Ayo!” seru panglima Galung Wesi. Akan tetapi dia menjadi malu karena melihat Cempaka tampak lebih dahulu dari para prajuritnya. Oleh karena itu, setelah berseru pada para prajuritnya, dia lalu berkata pada Cempaka. “Ampun tuanku Permaisuri. Sebaiknya tuanku beristirahat saja.”

“Paman, yang terkurung di dalam goa karang ini adalah putriku. Dan putranya bibi Anting Wulan dan paman Saka Palwaguna. Bagaimana aku bisa tinggal diam? Bagaimana bisa aku membiarkan para prajuritku bekerja keras untuk mengeluarkan putriku sementara aku hanya duduk-duduk menunggu hasilnya. Ah, sudahlah paman. Bekerjalah dengan tenang, dan jangan hiraukan aku.”

Cempaka langsung menghantamkan alat pemecah batu yang dipegangnya. Galung Wesi tidak bisa berkata apa-apa. Dia pun mulai bekerja. Sementara itu prabu Purbaya masih tampak duduk bersemedhi. Matanya terpejam. Kedua tangannya masih bersidekap di dada, namun telinganya masih bisa dengan jelas suara yang berasal dari para prajuritnya yang bekerja menggali goa karang.

“Oh, mereka semuanya telah bekerja. Istriku Cempaka juga ada diantara para prajuritku. Dinda Cempaka sudah bangun. Kasihan dia, sebaiknya akupun ikut bekerja. Tak ada petunjuk yang kudapati dalam semedhi ini kecuali kesegaran jiwa. Yah, semoga saja dewata memberikan ketabahan terus di hati ini.” Prabu Purbaya segera menyudahi semedhinya. Dia lalu membersihkan diri dengan cepat, lalu keluar dari tendanya.

Prabu Purbaya melesat ke arah gerombolan para pekerja. Lalu laki-laki perkasa itu pun mulai menggali dan mencongkel tanah serta bebatuan yang besar. Tak jarang dia mengeluarkan tenaga saktinya hingga dia bisa dengan mudah melemparkan batu-batu besar. Semangat para prajurit Karang Sedana dan Kencana Wungu semakin menggebu. Mereka bekerja seperti kemasukan setan. Di sudut lain, Cempaka pun tak kalah semangatnya.

“Oh, kanda prabu pun sudah ikut bekerja. Sebaiknya aku ke sana. Aku ingin selalu bekerja di dekatnya. Ohh, kanda Purbaya… aku bahagia sekali memiliki dirimu. Kurasa tiada lagi manusia yang sebahagia diriku. Ah, sebaiknya aku ke sana.”

“Ah, dinda Cempaka. Bagaimana Dinda? Sudah banyak batu penghalang yang kau singkirkan?”

“Belum banyak kanda Prabu. Dan agaknya memang sulit untuk menyelesaikan pekerjaan ini. Ohh, apakah…”

“Jangan cemas Dinda, tak baik sebuah pekerjaan itu dikerjakan dengan penuh kecemasan. Pelan-pelan saja. Dan ingat, jangan sesekali menggunakan tenaga sakti untuk menggempur tanah atau bebatuan yang harus kita gali. Karena akibatnya bahaya sekali. Bekerjalah dengan tenang. Biar lambat asal selamat.” segera saja Prabu Purbaya memotong ucapan Cempaka dan menasihatinya. Dia tidak ingin istrinya menjadi cemas kembali. Oleh karena itu dia mencoba merayu istrinya dengan berkata, “Oh ya, Dinda… Keringatmu banyak sekali. Kemarilah, biar kubersihkan.”

“Ah tidak perlu Kanda. Aku bisa membersihkannya sendiri. Oh, keringat kanda Prabu juga banyak…” Cempaka tersipu malu. Suaminya mencoba bermesraan di hadapan banyak prajurit yang tengah sibuk bekerja?! Ah, ada-ada saja!

Cempaka menyeka keringat yang membasahi tubuh dan wajahnya. Prabu Purbaya hanya tersenyum. Tak lama tampak keduanya mulai lagi bekerja. Mereka terus menggali mencari jalan tembus ke arah goa karang yang telah menelan putri mereka serta Kayan Manggala dan Kala Janthuk. Semakin lama pekerjaan mereka berat, namun semangat mereka tampaknya tak pernah kendor.

(2)

Pada kisah yang lalu diceritakan, Prabu Purbaya, Cempaka dan Panglima Galung Wesi memimpin prajurit Karang Sedana dan Kencana Wungu menggali goa karang untuk mengeluarkan Jaga Paramuditha dan Kayan Manggala serta orang- orang yang terkurung di dalam goa karang. Hari itu, hari kedua mereka menggali goa karang. Pagi itu saat mentari baru saja mengeluarkan biasnya yang cemerlang, orang-orang Karang Sedana dan Kencana Wungu sudah mandi keringat. Namun mereka semua bekerja seperti tanpa mengenal lelah. Prabu Purbaya, Cempaka dan Galung Wesi terus menggali.

“Terus, gali terus. Tapi hati-hati jangan sampai tanah dan batu-batu besar itu longsor dan menimbun diri kalian. Hei! Kalian berdua kemari! Bantu aku memindahkan batu ini, ayo!” suara seruan panglima Galung Wesi bergema disela-sela bunyi dentang perkakas beradu dengan batu dan tanah yang keras.

Kedua prajurit yang dipanggil oleh Galung Wesi itu dengan tergesa-gesa menghampiri panglimanya. Lalu tanpa banyak bicara mereka membantu menggeser batu besar yang menutupi permukaan tanah untuk di gali. Setelah batu besar itu tergeser, maka Galung Wesi memanggil lagi beberapa orang prajurit lainnya. Mereka semua mulai menggali lagi. Tanpa terasa hari kedua berlalu. Saat malam turun, mereka kembali istirahat.

Bunyi jangkrik dan angin malam semilir yang bertiup di sekitar tempat itu menjadi irama tersendiri. Para prajurit itu telah tidur semua. Ah, tidak! Tidak semua. Ada dua orang prajurit Karang Sedana yang tampak tengah berbicang-bincang di depan perapian, di depan tendanya. Keduanya tampak tengah menghangatkan tubuh mereka. Bahkan salah seorang dari mereka tampak mengeluh dan menggigil kedinginan.

“Bagaimana kawan, apakah menurut pemikiranmu kita akan berhasil menggali goa karang ini?”

“Ya, kita berhasil. Tapi akan memakan waktu yang cukup lama. Paling tidak selama satu bulan kita akan berada di sini.”

“Satu bulan… ?!” “Iya.”

“Waktu yang cukup panjang dan melelahkan. Dan kita tidak akan menemukan apa-apa yang lain di sini. Selain menggali dan terus menggali.”

“Kau menyesal ikut kemari?”

“Ah, entahlah aku tidak bisa menjawabnya.” katanya setengah mendesah, “Tapi terus terang, disini keadaanya begitu membosankan. Bayangkan, malam begini kita istirahat. Lalu saat ayam jantan bangun kita pun harus menyertainya. Ayam jantan berkokok, sedang kita mencangkul dan menggali tanah serta bebatuan.”

“Iya, aku mengerti perasaanmu. Tapi hati-hatilah dalam menuturkan semuanya. Karena kalau tuanku panglima Galung Wesi mendengarnya, kau bisa mendapat hukuman. Kita ini prajurit kecil, prajurit bawahan. Kita tidak bisa menolak perintah atasaan begitu saja. Karena semuanya telah termasuk ke dalam sumpah kita, saat akan menjadi prajurit.”

“Iya, aku mengerti. Oya, malam ini adalah malam kedua kita tidur di goa karang ini. Dan malam ini, sama seperti malam kemarin, sepi dan dingin. Aku jadi teringat pada istri dan anak-anakku. Tentu mereka kesepian di rumah.”

Temannya tertawa pelan, lalu katanya “Kau terlalu perasa teman. Seharusnya di saat seperti ini kau tidak usah mengingat mereka. Bagimu saat ini adalah istirahat dengan baik, agar besok kau bisa bekerja dengan baik. Tidak sakit-sakitan. Lalu nanti pulang dari sini dalam keadaan sehat. Sehingga saat berkumpul dengan keluargamu engkau dalam keadaan sehat. Ah, sudahlah! Ayo kita tidur! Teman-teman kita semuanya sudah pada tidur.”

“Aku belum mengantuk. Entah mengapa, malam ini aku ingin sekali menikmati sinar bulan yang redup itu.”

“Hehehehehe, kau seperti seorang penyair saja teman. Keinginanmu yang aneh- aneh saja. Seharusnya kau masuk istana tidak menjadi seorang prajurit. Tapi jadi seorang sastrawan istana.” ejek temannya. Kemudian temannya itu berkata bagaikan sedang menasihati,”Hehehehehe. Prajurit harus berjiwa keras dan berani serta gagah. Tidak suka hanyut oleh rasa sepi dan perasaan sendiri. Prajurit harus selalu bermain dengan ilmu pedang dan ilmu silat serta ilmu keprajuritan. Bukan bermain dengan kata-kata dan perasaan. Heheh, kau agaknya salah langkah teman. Heh?!”

“Kau yang salah teman. Tidak selamanya prajurit itu harus bersikap keras, dan tidak selamanya prajurit itu harus pintar memainkan pedang dan ilmu perang. Kadang kala di dunia ini banyak sekali keanehan dan kejanggalan. Tidak selamanya pedang dan kematian itu mengakhiri sebuah masalah. Pada jaman kini, kadang-kadang kata-kata lebih berguna dari sambaran pedang.”

“Hehehehe, kau semakin jauh sobat. Sudahlah! Ayo kita tidur! Aku tidak mau engkau semakin hanyut ke dalam alam perasaanmu. Sehingga besok engkau melakukan kesalahan dalam bekerja. Ayo, sudahlah. Tidur kita!”

“Tidurlah kau sendiri, aku nanti saja. Rasanya sayang sekali kalau malam sepi ini hanya dihabiskan untuk tidur.”

“Ahhh, kau ini memang aneh. Tadi kau merasa tidak kerasan dan tidak betah di sini. Karena sepi dan terasing dari tempat yang ramai. Kau katakan disini hanya bekerja, menggali dan terus menggali. Tapi sekarang kau tiba-tiba merasa sayang untuk melewatkan malam yang sepi ini?! Tuh, hehehehe. Kau memang telah terpengaruh oleh jiwamu. Sudahlah! Ayo tidur! Mungkin kelak kau dapat bermimpi indah. Bertemu dengan keluargamu.”

“Tidurlah kau duluan. Aku mau duduk dulu di sini.” Lalu prajurit itu memalingkan wajahnya. Dia menatap dataran goa karang yang ditelan kegelapan di depannya. Sedangkan temannya hanya geleng-geleng kepala. Kemudian menjatuhkan dirinya. Tak lama terdengar dia mendengkur tidur.

“Hah, dasar tukang tidur. Baru saja tergeletak sudah mendengkur,” omel prajurit itu sambil tertawa kecil. Tak lama kemudian, benaknya berkata-kata,”Ah, istriku… malam ini kembali kau tidur sendiri. Semoga saja kau tabah menjadi istri seorang prajurit seperti aku ini. Semoga kau bisa menjaga puteri kita. Aku percayakan dia padamu untuk merawatnya. Aku yakin, kau bisa mendidiknya untuk menjadi seorang anak yang baik, anak yang berbakti pada kerajaan dan tanah airnya.”

“Oh, prajurit Seta. Kau belum tidur?”

Prajurit itu terkaget sesaat. Ada yang menyapanya dari belakang.

“Ah! Oh, tuanku panglima Galung Wesi. Maafkan tuanku, hamba tidak tahu kedatangan tuanku.”

“Ah, kenapa engkau melamun menatap bulan itu prajurit Seta? Apakah kau teringat pada anak dan istrimu?” “Iya tuanku. Dan hamba memang selalu begitu kalau jauh dari mereka.” “Hmm?!” Panglima Galung Wesi manggut-manggut.

“Hamba selalu merasa asing dan sendiri. Apakah tuanku juga pernah merasakan hal seperti itu?” selidik prajurit itu. Namanya adalah Seta. Prajurit Seta.

“Iya, itu dulu. Dulu aku sering merasakan hal yang sama seperti yang kau rasakan saat ini. Tapi sekarang agaknya aku telah pasrah pada semuanya. Aku pasrah pada perjalanan hidup yang diatur oleh sang dewata, karena semakin kuat kita ingat pada keluarga kita maka semakin kuat kita ditekan dan dibelenggu oleh perasaan rindu dan sedih. Aku yakin suatu saat nanti kau pun bisa seperti aku. Pasrah pada kehendak alam dan kehidupan ini.”

“Hamba tidak sedih, tuanku. Hamba hanya merasa sepi.”

“Hampir tidak ada bedanya prajurit. Sedih dan sepi bersumber pada tempat yang sama, yaitu hati dan perasaan. Sedih timbul karena tekanan hati yang sepi. Sedang kesepian itu sendiri berpangkal dari getaran perasaan kita yang selalu ingin memiliki dan dimanja. Sedangkan kesedihan timbul dari rasa takut dan kecemasan. Tapi kalau kita sadari semuanya, itu tidak ada apa-apanya. Nah, kurasa kau sebagai seorang prajurit yang punya pikiran dan pandangan yang cukup luas, kau pasti bisa mencernanya. Aku tahu siapa dirimu, karena kau adalah prajuritku. Dan aku selalu memperhatikan setiap prajurit- prajuritku.” nasehat Galung Wesi sembari ditingkahi oleh derik jangkrik.

“Terima kasih, tuanku. Tapi untuk saat ini agaknya hamba masih begitu sulit untuk melakukan hal seperti yang tuanku lakukan. Tapi hamba akan berusaha.”

“Iya, kau memang harus berusaha. Karena bukan ini saja tugas untukmu. Masih banyak tugas-tugas yang lain. Tugas yang mungkin akan membawamu berpuluh-puluh purnama meninggalkan keluargamu. Dan kalau kau terus seperti ini maka jiwamu akan rusak oleh perasaanmu sendiri. Nah, tidurlah prajurit Seta. Besok masih banyak pekerjaan yang harus kita kerjakan. Kita berpacu dengan waktu dan kehidupan putri Jaga Paramuditha.”

“Baiklah, tuanku. Oya, apakah tuanku belum tidur?”

“Belum. Aku akan berkeliling dulu. Aku harus memeriksa semua keadaan disekitar tempat ini. Sebagai panglima tertinggi di sini, aku ditunjuk oleh tuanku prabu Purbaya untuk mengatur dan mengawasi semua prajurit yang ada di sini. Kalau ada paman Pandu Permana datang kemari, mungkin tugasku akan ringan. Nah, sekarang aku pergi dulu. Kau tidurlah, gunakan malam ini untuk beristirahat.”

“Baiklah tuanku panglima.”

Panglima Galung Wesi segera meninggalkan prajuritnya. Dia kembali menuju tenda-tenda lain yang ditiduri oleh para prajuritnya. Sedangkan prajurit Seta kembali merenung menatap rembulan yang redup tertutup awan. Sementara itu jauh dari goa karang, yaitu di kaki gunung Burangrang tampak seorang laki-laki gagah yang juga menatap bulan redup itu. Dia adalah prabu Purbaya.

“Hehhh, bulan redup. Cahayanya tidak seindahnya yang biasa aku lihat dari keraton Karang Sedana. Apakah alam juga turut bersedih? Iya, sudah dua hari aku mengerahkan pasukan Karang Sedana dan Kencana Wungu untuk menggali mulut goa karang itu tapi belum juga menampakkan tanda-tanda adanya jalan masuk ke dalam. Ohh, dewata agung… apakah aku harus kehilangan putriku?! Tidak! Itu tidak mungkin! Rasanya terlalu berat untuk menerima kenyataan ini. Ohh, kasihan dinda Cempaka. Dia kelihatan lelah dan sedih sekali. Tadi saat aku tinggalkan dia tertidur pulas. Ada raut duka di wajahnya.”

Prabu Purbaya kembali menatap langit. Ada awan tipis berarak ke barat melintasi bulan yang redup. Saat itu jauh di kaki gunung Burangrang sebelah selatan terdengar jerit serigala. Suara lolongnya yang panjang mendirikan bulu kuduk. Prabu Purbaya mengalihkan pandangannya. Dia merasakan bagaikan serigala itu seperti pertanda adanya kejadian yang amat mengerikan di sekitar gunung Burangrang. Perlahan-lahan laki-laki perkasa penguasa tanah Pasundan itu bangkit. Matanya jalang menatap keremangan malam.

“Oh, serigala itu kembali melolong. Kemarin malam dia juga melolong seperti ini. Apakah ini sebuah pertanda akan adanya kejadian yang amat mengerikan? Binatang itu biasanya mencium bau darah kematian. Serigala hutan binatang yang mempunyai perasaan yang amat peka. Binatang itu tak ubahnya seperti iblis yang amat menakutkan. Sebaiknya aku kembali saja ke tempat dinda Cempaka tidur. Aku khawatir akan terjadi apa-apa di sana. Bukankah…”

Belum habis prabu Purbaya dengan pikirannya, tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan di arah lembah, dibawah prabu Purbaya berdiri saat itu.

“Oh!? Ada yang melintasi lembah itu! Siapa dia? Gerakannya cepat sekali. Sebaiknya ku ikuti. Hupp!” Prabu Purbaya segera melesat menyusul bayangan yang melintas dibawah lembah dia berdiri. Sebentar saja bayangan Purbaya telah hilang ditelan kegelapan malam.

“Heh, orang itu gerakannya cepat sekali. Aku yakin dia pastilah memiliki ilmu peringan tubuh dan ilmu lari yang tinggi. Kalau tidak, terlalu mustahil aku bisa kehilangan jejak seperti ini. Apakah tidak mungkin dia menuju ke goa karang? Ah, sebaiknya aku ke sana. Oh, itu dia! Setan alas. Dia berada di atasku. Dia berdiri tidak jauh dari tempat dimana aku duduk tadi. Agaknya dia sengaja melakukan itu. Hai, dia agaknya memandang ke mari. Lalu memandang ke arah goa karang. Sebaiknya aku naik ke atas. Akan kulihat siapa sebenarnya orang itu. Hupp!” bagaikan seekor jangkrik yang melenting, prabu Purbaya segera melompat ke arahnya dia duduk-duduk tadi. Kembali prabu Purbaya melesat naik. Dua kali tubuhnya berputar di udara, lalu hinggap dengan ringan di atas sebuah batu di tebing gunung Burangrang. Tapi di saat dia menatap ke atas, sosok tubuh yang berdiri itu kembali melesat pergi ke arah utara. Prabu Purbaya tidak mau kehilangan jejak untuk kedua kalinya. Dia kembali melesat. Begitu tiba diatas, dia langsung memburu ke arah perginya orang misterius itu. Tapi kembali dia kehilangan jejak…

“Ohhh, dia akan mengajakku bermain-main. Dia belum tahu siapa Purbaya. Baiklah, kalau kau hendak bermain-main denganku. Aku akan melayanimu. Kau akan kutarik dengan kekuatanku. Aku yakin kalau tidak ada penghalang kau tidak akan bisa lepas dariku.”

Prabu Purbaya segera duduk bersila kedua tangannya diputar sejenak, lalu ditempelkan ke depan dada. Namun pada saat yang bersamaan, telinganya mendengar sesuatu yang mencurigakan di kaki gunung Burangrang sebelah utara. Prabu Purbaya menarik nafas dalam-dalam. Dia memicingkan matanya. Indra pendengarannya di arahkan ke arah utara.

“Heii, ada suara ribut-ribut di arah sebelah sana. Sebaiknya aku ke sana. Mungkin saja orang itu tadi yang membuat kekacauan. Aku yakin suara itu pastilah berasal dari desa kecil di bawah kaki gunung Burangrang ini. Ya! Aku harus ke sana. Penduduk desa itu juga adalah rakyat Karang Sedana.”

Kembali sesosok bayangan terlihat berkelebat oleh prabu Purbaya.

“Itu dia, orang yang tadi muncul lagi! Dia juga menuju ke sana. Tapi tadi aku jelas- jelas melihat dia melesat ke sana. Tapi rupanya dia masih berada di sekitar sini. Aku harus berhati-hati, dia pasti mengintai diriku. Oh, dia turun kebawah. Aku juga harus ke sana. Mungkin di desa sana aku akan menjumpainya.”

Prabu Purbaya memperlambat larinya. Dia ingin menguji apakah sosok didepannya memang sengaja memancingnya.

“Oh, dia sengaja memperlambat larinya. Kurasa dia juga tahu kalau aku memperlambat lariku. Sebenarnya kalau aku mau, aku bisa memburunya. Tapi biar saja, biar saja dia terus turun ke bawah sana. Aku ingin melihat apa yang akan diperbuatnya.”

Akan tetapi sosok didepannya tidak terus turun, malah melesat menjauh kembali.

“Heii, dia melesat ke sebelah sana!” prabu Purbaya semakin bingung dan penasaran dengan arah tujuan sosok tubuh di depannya itu, karenanya dia berseru, “Heiii, kisanak! Berhentilah! Aku yakin engkau bukanlah sebangsa orang yang pengecut. Berhentilah! Marilah kita berkenalan.”

Teriakan prabu Purbaya yang pelan namun menggetarkan suasana malam itu, hanya membuat laki-laki di depannya yang hendak turun ke lereng berhenti sejenak. Sejenak diia menoleh, lalu melesat lagi.

“Kisanak, aku tahu kau pasti sudah mengenalku. Nah, berhentilah!”

“Kurang ajar! Dia sengaja mempermainkan aku. Dia mempermainkkan aku! Awas, kalau dapat ku bekuk. Kau akan ku paksa untuk menerangkan dirimu. Dan siapa orang yang menyuruhmu. Akan ku kejar terus!”

Prabu Purbaya mengerahkan ilmunya. Tubuhnya melesat bagaikan bayangan anak panah. Tubuh itu terus berlari memburu orang misterius di depannya. Tapi agaknya orang yang dikejarnya itu telah begitu paham dengan liku-liku daerah gunung Burangrang. Dibantu dengan kegelapan malam, membuat prabu Purbaya kembali kehilangan jejak. Sementara itu suara gaduh di desa kaki gunung Burangrang semakin jelas terdengar.

(3)

Pada kisah yang lalu diceritakan, Purbaya meninggalkan Cempaka istrinya seorang diri tidur di dekat goa Karang. Sedangkan prabu Purbaya sendiri pergi ke gunung Burangrang merenungi semua kejadian yang menimpa puterinya. Dan di saat itu pulalah dia dikejutkan dengan kehadiran seorang laki-laki misterius yang membuat prabu Purbaya penasaran. Dia pun terus mengejar laki-laki misterius itu. Namun kembali dia kehilangan jejak.

“Oh, dia kembali menghilang. Sebenarnya aku bisa menangkapnya. Ilmu lariku masih di atasnya. Tetapi kegelapan malam yang menolongnya lepas dari kejaranku. Aku harus mendapatkannya. Tapi aku harus melihat dahulu kejadian di bawah sana.”

“Kebakarannn! Kebakaraann! Kebakaaraaaan!!” “Cepat tolong, itu apinya besar sekali! Ayooo!!”

“Oh, heii… rumah itu sengaja dibakar. Lihat! Lihat, disana itu ada tiga orang berlompatan lari dari rumah itu.”

“Iya, itu mereka. Mereka meloncati wuwungan rumah!” “Hai! Yang lain, cepat ambil air!”

“Iya! Iya!”

“Kita harus memadamkan api itu, ayo ceppaaaat!”

“Oh,… oh,… Hei, kawan… Dengar! Itu suara tangis neng Asmarani. Wah kasihan, dia masih berada di dalam rumahnya. Ayo, hei yang muda-muda tolong selamatkan neng Asmarani. Inilah kesempatan kalian untuk merebut hati gadis itu. Ayo!”

“Ah, kau ini bagaimana!? Masakkan dalam keadaan seperti sekarang ini kau masih mau bergurau? Seharusnya kau saja yang masuk dan menolongnya. Kau orang tua! Pintar dan kuat. Jangan punya pikiran yang macam-macam!”

“Ayo, hei! Tolong!”

“Hahaha, aku tidak berani masuk ke dalam api. Nanti kalau terbakar, waaah… istriku bisa janda. Hahahah, heh… dan kalau aku yang menolong neng Asmarani nanti istriku malah cemburu. Aku bisa diusir!”

“Ah, sudahlah! Ayo kita padamkan apinya! Air… air… ayo cepat!”

“Ayo lewat sini. Dan yang lain ikut aku melompati dinding itu. Satu dua tiga. Tahan!

Tahan! Lihat itu ada orang yang melesat masuk ke dalam rumah itu. Kita tunggu saja!”

Orang-orang desa yang sudah siap maju mendobrak dinding rumah Asmarani itu berhenti mendadak. Semuanya memandang pada orang tua yang menghentikan langkah mereka. Lalu sama-sama berpaling memandang ke arah rumah. Pada saat itu, kembali tampak sebuah bayangan melesat keluar dari kobaran api sambil menggendong sesosok tubuh.

“Ayaaah!... Ibuuu!...” jerit seorang perempuan cantik terdengar sangat menggiris hati. Wajahnya basah oleh airmata. Sambil masih meratap dia berkata, “Oh, mereka masih di dalam. Tolonglah mereka. Tolong ayah, ibuu… huhuhuhuhu.” sabar!” “Kalian jaga gadis ini, aku akan menyelamatkan kedua orang tuanya. Hup!” “Siapa orang itu? Gerakannya cepat sekali…”

“Iya, iya…” “Ayaaaah!.. Ibuuu!...”

“Ah, tenanglah Neng. Ayah dan ibumu akan diselamatkan oleh orang itu. Sabarlah,

“Tapi,… tapi,… ayah dan ibuku telah…” “Naaah, itu diaa…”

“Ahh, orang itu luar biasa. Dia memanggul tubuh ki Sentanu dan istrinya dengan ringan sekali. Padahal kedua tubuh itu gemuk dan berat. “Ayaaaah!.. Ibuuu!... Huhuhuhuhu…”

“Maafkanlah aku nona, aku tidak bisa menyelamatkan kedua orang tuamu. Aku masuk kedalam dan menemukan mereka telah mati dengan luka bacokan.”

“Ayah… mereka dibunuh oleh tiga orang yang mengenakan topeng. Ayah dan ibuku dibunuh mereka, lalu rumahku dibakar. Ayah, ibu kenapa nasibmu malang begini?”

“Perbuatan terkutuk, apakah diantara kalian tidak ada yang melihat kemana larinya ketiga orang itu?!” prabu Purbaya bertanya setengah membentak, hatinya sangat geram dengan kejadian itu.

“Oh, saya ada melihatnya tuan! Mereka berlari di wuwungan dan hilang ke arah

sana.”

“Aku akan mengejar mereka. Kalian tolong padamkan api itu. Dan urus dulu nona ini. Kelak aku akan kemari lagi.”

“Oh, iya… baik.”

Tanpa menghiraukan keheranan para penduduk desa, prabu Purbaya terus melesat pergi. Tubuhnya berkelebat ke atas wuwungan lalu hilang di kegelapan malam. “Oh, Ibu… kenapa kalian mengalami nasib begini? Kenapa kejadian ini menimpa kalian? Aku berdosa pada kalian… aku bersalah pada kalian berdua…”

“Sudahlah, neng Asmarani. Tenanglah. Tak baik menangisi mayat begini. Ayo bangunlah, kita bawa saja orang tua neng Asmarani ke rumah kami atau ke rumah kepala desa. Sudahlah neng,… berhentilah menangis.” dia lalu menoleh pada yang lain, dan berseru, “Hei! Ayo yang lain, padamkan api itu! Dan yang lainnya bantu aku membawa mayat ki Sentanu ini. Kita ke rumah kepala desa saja.”

Tanpa banyak komentar lagi, penduduk desa itu segera mengangkat tubuh ki Sentanu dan istrinya. Ada dua orang perempuan membimbing Asmarani. Gadis manis dan cantik itu berjalan sambil sesegukan. Airmatanya mengalir membasahi kedua pipinya yang putih bersih. Sementara yang lain masih saja berusaha memadamkan api yang membakar habis rumah ki Sentanu.

“Ayo ke sebelah sini, sedikit lagi… ayo! Terus… terus…”

Keesokan harinya, di hadapan dua buah kuburan yang tampak masih baru…

“Sudahlah Nona, tidak perlu kau bersedih lagi. Semuanya telah terjadi meski kau menangis sampai mengeluarkan darah, ayah dan ibumu tidak akan bisa hidup kembali. Mungkin sebuah kemukjizatan dari yang kuasa baru kedua orang tuamu bisa dihidupkan kembali. Sudahlah…”

“Tuan, aku berterimakasih sekali pada Tuan. Karena telah menyelamatkan nyawaku. Tapi sungguh Tuan, aku menyesal sekali dengan semuanya. Aku tidak bisa menyelamatkan kedua orang tuaku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa pada mereka yang telah membesarkan diriku. Aku tidak bisa membalas budi mereka. Aku sedih sekali Tuan. Kalau aku bisa ilmu silat seperti Tuan, tentu kejadian ini tidak akan menimpa kedua orang tuaku.”

“Namaku Purbaya. Jangan terlalu berbasa-basi. Oya, siapa namamu?” “Namaku Asmarani. Orang-orang desa sini menyebutku Rani.”

“Ehh,… terima kasih Rani. Oya, sebaiknya buanglah rasa sesal dan keinginan memiliki sesuatu yang ada pada orang lain. Meskipun kau memiliki ilmu silat, tapi kalau dewata sudah menggariskan pada jalan hidupmu tentang semuanya, kau pun tidak akan bisa menolaknya. Ilmu silat tidak mutlak bisa untuk melindungi orang lain dari kematian, walaupun dia orangtuamu sendiri. Sudahlah, ayah dan ibumu sudah tenang di tempatnya yang baru.”

“Tenang? Yah, memang mudah untuk mengucapkan kata-kata tenang. Apalagi itu untuk orang lain. Tapi bisakah kau mengucapkkan kata-kata seperti itu untuk dirimu sendiri, apabila kau mengalami musibah seperti ini?”

Prabu Purbaya mendesah, “Kau benar. Mungkin mengucapkan kata-kata untuk orang lain itu amat mudah. Tapi percayalah kalau hal itu menimpa diriku, aku pun akan mengucapkan kata-kata itu untuk diriku sendiri. Sayang sekali aku tidak bisa mengucapkan hal itu lagi, karena selama ini hidupku penuh dengan penderitaan. Hanya belakangan ini saja aku mengalami sedikit perubahan.”

“Rani, kau adalah gadis yang baik. Meskipun aku baru mengenalmu, tapi aku yakin hal itu. Maka aku harapkan sebagai seorang anak yang baik kau harus banyak berdoa untuk kedua orang tuamu, bukan menyesali kematian yang mereka alami.”

“Oh…”

“Kematian itu sendiri, sama dimana-mana. Hanya keadaan dan cara mati itu sendiri yang berbeda. Doa seorang anak yang baik akan dikabulkan oleh dewata agung. Sudahlah, ayo kita kembali ke rumah pak Kepala Desa. Hari sudah begitu siang. Kau tentu sudah lapar. Tak baik terus menangis di atas kuburan seperti ini…”