-->

Babad Tanah Leluhur Jilid 05

Jilid 05

Di belakang perempuan itu ada belasan perempuan sebaya yang mengiringinya. Mereka semua berpakaian pendekar. Serentak semua perempuan itu menjatuhkan diri, berlutut di hadapan Anting Wulan yang masih agak membelakangi mereka.

Salah seorang dari mereka yang bernama Ningrum berkata, “Nyai, kami enam belas murid Kembang Hitam menyatakan diri setia kepada Nyai.”

“Ah, bangkitlah kalian semua. Sekarang ikutlah aku. Hupp!” Anting Wulan berkata singkat. Dia langsung melompat menaiki punggung kudanya.

“Terima kasih paman Bantul, atas semua pelayanan kalian. Kami pergi.” setelah berpamitan dari kudanya, Anting Wulan segera memacu si Tunggul. “Hiyyahh.. hiyyahh.”

Anting Wulan memacu si Tunggul menuju arah selatan kota Bumi Batang. Sementara enam belas murid Kembang Hitam mengikutinya. Beberapa saat, setelah mereka memasuki hutan kecil, Anting Wulan memperlambat si Tunggul.

“Huupp!” Anting Wulan menghentikan kudanya, dan melompat turun. Dia menoleh ke arah keenam belas muridnya yang telah berhasil mengejar. Mereka segera berbaris di hadapan Anting Wulan dan kudanya. Setelah melihat mereka berhasil mengatur nafasnya, Anting Wulan membuka pembicaraan.

“Aku telah mendengar dari Ningrum tentang hal yang menimpa kalian yang telah kalian anggap sebagai saudara-saudara kalian di perguruan Kembang Hitam. Aku sangat menyesalkan hal itu.”

“Mmm, kami juga menyesalkan kejadian itu Nyai.” berkata Ajeng. “Saat itu kami dalam keadaan seakan-akan tidak sadar. Rasanya jiwa kami telah dirasuki secara penuh oleh kekuatan setan. Oh, kami menyesal Nyai… benar-benar menyesal…”

“Iya Nyai. Satu-satunya teman kami yang tidak mengikuti jejak kami adalah Diah Warih.” kata Ningrum menambahkan.

“Oya? Warih? Kemana dia?”

“Dia tidak akan kembali pada Nyai. Dia akan mencari mbakyu Lastri.” jawab Ningrum. Wajahnya sedikit tertunduk.

“Biarlah, dia memang berhak untuk menentukan jalan hidupnya. Tetapi aku tetap merasa bersalah, turut menanggung dosa yang dibuatnya, selama dia masih menciptakan malapetaka. Karena aku yang telah membentuknya, seperti aku telah membentuk Lastri.” kata Anting Wulan, matanya seolah menerawang jauh. Penuh penyesalan.

“Tidak Nyai,.. Eh Nyai tidak membentuk kami sejauh itu. Kami merasa, mbakyu Lastri lah yang membentuk kami seperti ini. Menjadi liar dan tidak terkendali.” ucap Ajeng. Dia merasa amat terharu atas rasa tanggung jawab dan perhatian Anting Wulan sebagai orang yang membangun perguruan Kembang Hitam.

“Dengarlah kalian semua. Keinginan kalian untuk kembali padaku dapat aku terima. Tetapi ada satu hal yang harus kalian ketahui. Yaitu ilmu siluman kalian itu harus kalian lenyapkan.”

“Saya bersedia Nyai. Tetapi bagaimanakah caranya? Apa yang harus kami lakukan untuk melenyapkan ilmu siluman itu? Ilmu Cengkar Bala…”

“Kalian harus tirakat. Kalian harus bertapa selama empat puluh hari empat puluh malam.” Anting Wulan menjelaskan. “Kami akan melakukannya Nyai.” tegas Ningrum.

“Aku akan mengantarkan kalian ke tempat yang tepat untuk melaksanakan tapa brata. Kita ke Goa Karang, di pantai selatan. Di tempat itu, kalian akan dapat dengan tenang memusatkan pikiran kalian pada Hyang Agung. Nah, marilah jangan membuang waktu. Aku akan mengantar kalian, setelah itu aku akan mencari Lastri dan membuat perhitungan dengannya.”

“Tunggu dulu, Bu.” “Ada apa Kayan?”

“Bibi Ningrum, apakah bibi tidak melihat teman saya? Seorang wanita yang hampir sebaya dengan saya.”

“Oh,… Ning Cilik, wanita berumur lima belas tahun?!”

“Ah,benar bibi Ningrum. Ah, dimanakah dia? Apakah bibi berjumpa dengannya?”

“Iya, semula memang kami yang menawan anak itu. Tetapi ketika tadi malam kami memutuskan untuk menemui Nyai Kembang Hitam ditempat ini, Diah Warih menguasainya. Kami tidak mampu mencegahnya. Dan dia membawanya pergi mencari mbakyu Lastri. Eeh, maafkan kami Kayan.” Tutur Ningrum.

“Sudahlah,… sudahlah…” Kayan tersenyum kecewa.

“Mari kita pergi. Huppp!” kata Anting Wulan sambil menaiki kembali si Tunggul, dia menoleh ke arah Kayan Manggala dan berseru mengajaknya,”Ayo Kayan!”

“Baik Bu, Hupp!” Kayan pun segera menaiki si Tunggul, lalu berseru ke arah utara “Kami pergi paman Bantul!”

Ternyata Ki Bantul dan beberapa anggota Tongkat Merah berada di sekitar tempat itu. Mereka masih tetap menjaga Kayan Manggala hingga batas kota yang menjadi tempat tinggal mereka. Ucapan salam Kayan itu menjadi isyarat bahwa Kayan telah menerima pengawalan mereka dengan baik.

Anting Wulan segera menghela kudanya. Kuda itu meringkik, lalu melesat melanjutkan perjalanan ke arah selatan. “Hiyyah… hiyyah!”

Anting Wulan memacu si Tunggul dengan kecepatan yang sewajarnya. Sementara keenam belas muridnya mengikuti dibelakangnya sambil berlari cepat. Beberapa saat kemudian situasi di muka penginapan kota Bumi Batang menjadi sepi kembali. Yang tinggal hanya Ki Tunggul (????) dan beberapa orang muridnya, serta beberapa penduduk yang mengawasi mereka dari kejauhan. (?????) “Hehhhh,…” Ki Bantul menghela nafas, dia lalu berkata, “Urus dengan sebaik- baiknya jenasah kawan kalian. Aku akan menyelidiki situasi di sekitar kota ini. Tidak lama aku akan kembali. Hupp!”

Ki Bantul melesat cepat ke arah gerbang utama. Berlari berlawanan arah dengan arah kepergian Anting Wulan dan murid-muridnya. Beberapa saat, ketika Ki Bantul tiba di pintu gerbang utama kota Bumi Batang.

“Aku akan menyelidiki disekitar tempat ini. Sedangkan Nyai Wulan tentu memasang mata-mata di bagian selatan kota. Walaupun secara sambil lalu.” tekad Ki Bantul. Telinganya yang peka mendengar derap kuda berlari ke arah gerbang kota. “Heh, ada seekor kuda menuju kemari. Siapakah dia?!”

“Sepertinya,… itu… tuan Saka.” gumam Ki Bantul setelah melihat pengendara kuda yang telah tampak olehnya. Dia segera berjalan menghadang.

“Ah, ah… Maaf,… maaf,… saya menghentikan perjalanan Tuan. Eh, bukankan tuan adalah raden Saka Palwaguna?” Ki Bantul menyapa.

“Benar paman. Apakah paman anggota Tongkat Merah?!”

“Ooh, kebetulan sekali raden, kebetulan… eh,… eh,…” tergagap Ki Bantul kebingungan menjelaskan maksudnya. “Putra raden, Kayan Manggala oh.. baru saja meninggalkan kota ini.”

“Oh, Kayan?! Putraku Kayan bersama istriku Anting Wulan? Dimanakah mereka sekarang?!”

“Benar raden. Ah, mereka menuju goa karang pantai selatan. Baru saja mereka meninggalkan kota ini melalui gerbang selatan.”

“Oh, terima kasih paman!” gembira sekali Saka Palwaguna mendapatkan kabar demikian. Dia langsung menghela kudanya. Kuda itu berderap meninggalan debu dibelakangnya.

Ki Bantul tercenung melihat kepulan debu didepannya. Bukan debu itu yang membuatnya tercenung. “Beruntung sekali, tuan Muda dapat bertemu ayahandanya. Tadi malam dalam perbincangan, dia tampak begitu mendambakan kehadiran ayahandanya.”

“Mereka baru saja meninggalkan kota ini. Ooh baru saja. Aku harus menjumpainya, harus!” pikir Saka Palwaguna demikian girang. “Wulan istriku pasti menunggangi si Tunggul. Aku tidak dapat mengejarnya dengan kuda seperti ini. Hmm… Aku harus mengejarnya dengan lebih cepat! Hupp!!”

Raden Saka Palwaguna melesat cepat meninggalkan kudanya. Dengan ilmu lari cepat Kidang Mamprung dia melesat lebih cepat lagi menuju arah selatan. Dan, beberapa saat kemudian…

“Oh, apa itu? Di depanku nampak serombongan wanita dan seekor kuda. Hei, iya itu adalah si Tunggul. Warna bulunya yang putih cemerlang sangat aku kenali. Aku harus mengejarnya!” Saka Palwaguna menambah kecepatan larinya, dia berteriak memanggil, “Dinda Wulan!”

“Oh, kanda Saka.” “Ah, Bu,… Ayah…”

“Aku tau, tetapi kita tidak ada waktu untuk melayaninya. Kita harus segera tiba di pantai selatan dan kemudian mencari Lastri.”

“Dinda Wulan, apakah engkau tidak bisa memberikan kesempatan padaku untuk berbicara?!”

“Aku mempunyai urusan yang sangat penting untuk aku selesaikan. Hiyyah.. hiyyah!!” Anting Wulan berkata dingin dan datar.

“Bu, kurangi kecepatan si Tunggul. Ibu sudah meninggalkan murid-murid Ibu.” “Heeh, bodoh! Murid-murid tak berguna…” Anting Wulan merutuk dan memaki

dalam hati. Jelas bukan kebodohan murid-muridnya yang menjadi penyebab. Hatinya lah yang tengah sangat kacau karena bertemu kembali dengan suaminya, suami yang membuat perasaannya berkecamuk dengan dahsyat. Sebenarnya dia sangat enggan bertatap muka dengan suaminya. Dan setelah mengetahui suaminya berada dibelakang rombongan itu, tanpa sadar Anting Wulan telah memacu si Tunggul dengan lebih cepat. Akhirnya Anting Wulan berseru, “Kurangi kecepatanmu Tunggul!”

“Apakah Ibu tidak akan beristirahat? Sudah cukup lama kita berkuda. Murid-murid Ibu tidak akan sanggup berlari sampai setengah hari terus-menerus…”

“Mereka sanggup…”

“Mereka tidak akan sanggup! Kita harus berhenti Bu…” bantah Kayan.

“Kita akan berhenti nanti menjelang sore hari di pantai selatan. Di tempat tujuan kita.” Anting Wulan tetap berkeras.

“Ah, kita harus berhenti. Berhenti!!!” seru Kayan Manggala.

“Yah, baiklah… kita akan berhenti.” Anting Wulan menyerah pasrah. “Kemanakah sebenarnya tujuanmu, Kayan?” raden Saka Palwaguna membuka

pembicaraan.

“Pantai selatan, kami akan ke pantai selatan.” jawab Kayan Manggala.

“Hmm, aku harap engkau tidak membuat malu diriku dengan sikapmu. Peliharalah sikapmu Tuan Saka. Murid-muridku akan menonton pertunjukkan murahan ini…” mata Anting Wulan mengirimkan pesan jiwa pada Saka Palwaguna.

“Ohh,.. aku mengerti Wulan. Aku tidak akan berbua apapun yang dapat membuat malu dirimu. Tetapi perkenankanlah aku mendampingi dirimu. Jangan buat malu dirimu pula dengan sikapmu.” balas Saka Palwaguna.

“Bagus. Jika demikian peliharalah sikapmu. Tutup mulutmu!” “Iya,.. iya. Aku mengerti Wulan. Aku mengerti Dinda Wulan.”

Anting Wulan menggamit putranya. Dan mengajaknya duduk menjauhi Saka Palwaguna. Sementara Saka Palwaguna duduk bersemedhi memejamkan matanya.

Beberapa saat kemudian, setelah makanan siap. Asap daging burung bakar serta kelinci menusuk hidung, mereka pun mulai bersantap. Akan tetapi Kayan kembali dirasuki oleh perasaan gelisah.

“Eh,… bagaimana dengannya Bu?”

“Biarkan saja, kau tak perlu mengurusinya.” jawab ibunya pendek. “Tapi Bu…”

“Biarkan saja!”

“Maaf, Bu… saya akan memberikan sepotong daging kelinci bakar ini padanya.” “Heehhh…” dengus Anting Wulan kesal.

“Ini, aku bawakan makanan untukmu…” Kayan menyodorkan daging kelinci bakar yang dialasi dengan daun jati.

“Terima kasih, perutku memang sudah terasa lapar,” kata Saka Palwaguna girang.

Langsung saja kelinci bakar itu disantapnya dengan lahap.

“Cepat selesaikan makan kalian! Kita akan segera melanjutkan perjalanan!” Anting Wulan tiba-tiba berdiri dan berseru dengan masam ke arah murid-muridnya.

Beberapa saat kemudian,…

“Jangan terlalu cepat, murid-murid Ibu tidak akan sanggup mengikuti lari si Tunggul…” Kayan Manggala berusaha agar ibunya tidak memacu si Tunggul terlalu cepat. Dia berharap Ayahnya tidak tertinggal.

“Mereka semua sudah mengisi perut!” ketus sekali jawaban Ibunya.

Anting Wulan terus memacu si Tunggul. Raden Saka Palwaguna dengan santai mengikuti derap si Tunggul yang berlari dengan kecepatan biasa. Sementara murid-murid Kembang Hitam segala kecepatan larinya untuk mengimbangi kecepatan lari si Tunggul. (16)

Pada kisah yang lalu diceritakan, Anting Wulan menuju goa karang di pantai selatan bersama dengan murid-murid Kembang Hitam, Kayan, dan juga raden Saka Palwaguna suaminya.

Menjelang malam hari mereka tiba di tempat tujuan mereka.

“Mari, masuklah. Jangan ragu-ragu. Didalam sana tidak terlalu gelap. Cahaya bulan dan bintang menembus dari mulut goa karang. Mari…”

“Di sinilah tempat kalian. Tempat ini cukup luas untuk kalian bersama-sama tinggal. Kalian boleh mengambil tempat. Malam ini aku akan menemani kalian di sini. Tapi besok pagi aku akan meninggalkan kalian untuk mencari Lastri.”

“Kayan, beristirahatlah. Jika kau ingin tidur, kau boleh mengambil tempat yang kau rasakan enak untuk kau tidur. “

“Ah,.. iya. Iya Bu.”

Kayan Manggala duduk bersandar. Matanya dipentang lebar dan bergerak kesana kemari mencari Saka Palwaguna, laki-laki yang selalu menggelisahkan hatinya. Dan ketika matanya tertumbuk pada tubuh orang yang dicarinya, dia menarik nafas dalam-dalam. Matanya mulai dipejamkan. Dan tidak berapa lama kemudian, bocah yang hampir berusia empat belas tahun itu telah pulas tertidur.

Beberapa saat telah berlalu. Malam menjadi semakin larut. Tiba-tiba saja kenikmatan tidur Kayan Manggala yang diusap semilir angin laut dirusak oleh guncangan tangan seseorang.

“Raden,… raden,… bangun raden,… raden…” “Ah,.. ada apa? Eh, bibi Ningrum?!”

“Ah… ibu,… ibu raden,…sekarang tengah bertempur dengan laki-laki itu.” “Ah?! di mana mereka?” kata Kayan Manggala tercekat.

“Di luar goa karang ini, Raden. Kami mendengar suara gerak dan bentakan beberapa belas tombak dari goa karang ini. Dengarlah raden,… dengarlah…” mata Ningrum jelalatan berusaha mengajak Kayan untuk mendengar suara pertempuran di kejauhan.

“Ah, sekarang tidak begitu jelas lagi…” “Aku akan melihatnya keluar.” “Itu,… itu dia disana! Kami tidak boleh meninggalkan goa karang ini sebagaimana perintah ibu Raden.”

Diantara deburan ombak laut selatan, Kayan Manggala sayup-sayup mendengar suara orang yang tengah bertempur. Bocah berusia hampir empat belas tahun itu tetap tegak berdiri. Matanya memandang ke arah mana terdengar suara pertempuran.

“Raden tidak menghentikan mereka?! Cepatlah Raden. Sebelum salah seorang dari mereka mendapat celaka. Bukankah mereka,… eh… kedua orang itu adalah ibu dan juga ayah Raden?!” Ningrum bertanya dengan cemas.

“Bibi Ningrum, tolong sampaikan pada mereka, terutama pada ibuku bahwa aku pergi. Dan jangan mencoba mencari aku lagi.”

“Eh Raden, raden tidak boleh melakukan hal itu. Sudah cukup lama raden berpisah dengan ibu dan juga ayah Raden.”

“Dengar Bibi Ningrum, katakan aku tidak ingin ibuku mencariku. Biarkan aku hidup sendiri. Aku pergi! Huuppp!!” selesai berkata demikian, Kayan Manggala segera berlari dan melompati punggung si Tunggul. Kuda Putih perkasa itu langsung melesat membawa tubuh bocah itu.

“Nyai Guru!.. Nyai Guru!.. Simpan Nyai… Nyai! Kayan putra Nyai pergi!” dengan panik Ningrum berlari dan berteriak-teriak menuju kedua orang yang tengah bertarung itu.

“Apa katamu? Kayan pergi?!? Bukankah dia sedang tidur?!”

“Aa… Ampun… Ampun Nyai Guru. Saya tidak ingin ada yang celaka diantara Nyai dan tuan Saka. Karena itu saya membangunkan Kayan putra Nyai untuk menghentikan pertarungan Nyai…”

“Bodoh! Tolol! Hehh… Kemana arah perginya?” “Kayan berpesan agar Nyai tidak usah mencarinya…” “Ah?!...” Anting Wulan tertegun.

“Iya, Nyai… Dia,… Dia berkata ingin hidup seorang diri. Dan,…eeh…ehh… Nyai… Nyai jangan mencoba untuk mencarinya.”

“Ningrum, kemana perginya anakku itu?” tanya Saka Palwaguna. “Ke arah sana, tuan,” Ningrum menunjuk ke arah barat.

“Ah,… aku harus mengejarnya. Hupp!” Saka Palwaguna langsung melesat mengerahkan aji Kidang Mamprung ke arah yang ditunjuk Ningrum. “Kembalilah ke goa karang itu. Dan jangan coba-coba keluar dari sana sebelum aku kembali. Kau mengerti?”

“I..Iya Nyai.”

“Sampaikan itu pada kawan-kawan yang lain. Aku pergi. Hupp!!” Anting Wulan melesat cepat ke arah mana yang ditunjukkan Ningrum. Arah yang dilalui raden Saka Palwaguna. Anting Wulan berlari sambil menangis. Beberapa saat saja, dia telah berhasil mengejar raden Saka Palwaguna yang lari lebih dahulu.

“Hoii Dinda Wulan,… tunggu. Engkau tidak akan berhasil melunakkannya dengan cara begitu. Dinda Wulan! Dinda Wulan!” seru Saka Palwaguna setelah berhasil terlewati oleh Anting Wulan.

“Oh, kanda Saka benar. Kepergian anakku Kayan adalah karena sikapku yang kaku. Kepergiannya adalah karena kekecewaan hatinya. Oh,…iya. Dia pasti menghendaki akau kembali bersatu dengan suamiku. Apa yang dapat aku lakukan untuk menghadapi kekerasan hati anakku Kayan kelak jika aku berhasil mengejarnya?!?” batin Anting Wulan terisak. Dia membenarkan seruan suaminya tadi. Jiwanya terguncang keras.

Hal mana hal itu berakibat fatal pada aliran tenaga dalam tubuhnya yang tengah dikerahkkan untuk menumpu ilmu Kidang Mamprung. Tak ayal lagi, tubuhnya ambruk seiring pandangannya yang menjadi gelap. Mulutnya berseru pendek,”Ooh!”

Sementara itu, Raden Saka Palwaguna terus mengejar ke arah mana Anting Wulan menghilang. Laki-laki perkasa murid perguruan Goa Larang yang kini telah menjadi mahawira dari kerajaan Mataram agung berlari terus hingga pagi hari.

Saka Palwaguna menghentikan larinya. Nafasnya sudah sangat memburu. Dia berjalan tergontai, lalu jatuh terduduk. Dadanya kembang kempis. Kepalanya lalu terkulai, “Oh.. Hyang Jagad Dewa Bethara… aku lari tiada henti hingga pagi menjelang. Ah, aku tidak kuat lagi… Ahh…”

Dengan susah payah, Saka Palwaguna membalik badannya sehingga kini tubuhnya terlentang. Ditatapnya langit diatasnya.

“Angkasa raya demikian gelapnya,… seharusnya langit sudah mulai disinari mentari pagi. Agaknya hari akan hujan. Oh, kegelapan diatas sana bukan lagi sisa-sisa dewa malam. Tetapi awan hujan yang tebal…” pikir Saka Palwaguna setelah dia menengadahkan kepalanya ke angkasa. Dan belum sempat pikirannya itu berlanjut, kilat telah menyambar membelah angkasa diatasnya.

“Tidak salah dugaanku, kemana aku harus berlindung? Sebentar lagi hujan akan turun. Oh, tetapi kakiku rasanya tak sanggup lagi untuk kubawa berjalan. Oh,.. Tidak ada jalan lain, kecuali ke bawah pohon besar itu…” dengan nafas memburu, Saka Palwaguna nyaris merangkak ke arah sebuah pohon beringin besar di hutan itu.

“Ahhh…” terdengar suara rintihan lamat-lamat.

“Hah?!? Sepertinya aku mendengar suara orang merintih. Sepertinya di sebelah depan sana. Akan ku lihat.” dengan menguatkan dirinya Saka Palwaguna bangkit dan berjalan ke arah suara yang didengarnya. Dan, tak lama kemudian dia menemukan sesosok tubuh perempuan yang sedang tergeletak lemah, “Oh,.. bukankah,… bukankah itu Wulan?! Oh, Iya… Anting Wulan istriku.”

“Wulan,… Wulan,…apa yang terjadi denganmu? Wulan… Dinda Wulan!” Saka Palwaguna berhasil mendekati Anting Wulan. Dia memanggil-manggil istrinya yang setengah sadar. Tangannya segera memeluk tubuh istrinya, “Oh, tubuhnya panas sekali. Apa yang terjadi dengan dirinya? Mengapa bisa tiba-tiba seperti ini? Ahh, hujan mulai turun… Aku harus membawanya mencari perlindungan.”

Biasanya, mudah bagi Saka Palwaguna untuk menggendong Anting Wulan. Akan tetapi, saat ini payah sekali bagi Saka Palwaguna untuk dapat membopong tubuh istrinya. Beberapa kali nyaris Anting Wulan terjatuh dari gendongannya.

“Oh, … oh celaka! Hujan turun! Tubuh Wulan tidak boleh terkena hujan dalam keadaan seperti ini. Uppp!! Hahh! Hahhh! Oh?! Apa itu!? Sepertinya sebuah gua…”

Di dalam keremangan cahaya hujan, mata raden Saka Palwaguna sempat melihat sebuah gua kecil di tebing batu. Dengan segera raden Saka Palwaguna masuk kedalam gua kecil itu. Tetapi ternyata gua itu hanya merupakan ceruk yang tidak lebih dari satu tombak dalamnya.

“Uh,… goa ini kecil dan pendek. Tetapi cukup lumayan untuk melindungi istriku dari siraman hujan yang lebat. Oh,... Aku harus merapat benar ke ujung goa agar tidak terkena hujan yang terbawa angin.” Saka Palwaguna terus berusaha merapat ke ujung goa kecil itu.

“Wulan,… dinda Wulan… “ Saka Palwaguna berusaha menyadarkan istrinya. “Oh, dingin… dingin sekali,…” terdengar suara keluhan Anting Wulan.

Saka Palwaguna sangat kebingungan,”Oh, Hyang Jagad Dewa Bathara hentikanlah hujan ini. Istriku Wulan membutuhkan perawatan. Aku tidak mungkin merawatnya di tempat seperti ini.”

Raden Saka Palwaguna memeluk tubuh istrinya yang merintih seakan-akan kehilangan kesadaran. Air mata sang mahawira dari Mataram mengalir membasahi wajah Anting Wulan yang berada di dalam dekapannya. Sementara hujan menjadi semakin deras. Air mulai memasuki gua kecil itu. Kaki raden Saka Palwaguna mulai digenangi air hujan yang sedikit-demi sedikit mulai masuk kedalam gua.

“Oh, Hyang Jagad Dewa Bethara! Hentikanlah hujan ini! Aku harus menolong istriku Wulan!!” bentak raden Saka Palwaguna seraya mendongak ke langit.

Teriakan raden Saka Palwaguna hanya disambut oleh halilintar yang menggelegar. Sementara itu hujan terus turun dengan derasnya. Akan tetapi air hujan yang menggenangi kaki raden Saka Palwaguna justru semakin lama semakin hilang.

“Ohh, air yang menggenangi kakiku… justru semakin menyusut… Oh, aneh sekali. Rupanya ada lubang yang cukup besar disampingku ini… Oh, lubang apa ini?! Hiihhh… Hihhh…” Saka Palwaguna memperhatikan hal tersebut. Dia menyadari ada sebuah lubang di samping kakinya. Dengan kakinya, dia berusaha mengorek lubang tersebut. “Hei, lubang ini semakin membesar. Sepertinya,… sepertinya…”

Tanpa banyak berpikir lagi, Saka Palwaguna mengerahkan tenaga yang tersisa. Di pukulnya dinding tanah diatas lubang yang sempat digalinya tadi. “Hiyy…aahhh!!!”

“Lubang apa ini?!” gumamnya setelah melihat beberapa bagian mulai rontok terkena pukulannya. Kali ini dia mengerahkan tenaga dalamnya untuk melakukan gempuran yang lebih kuat lagi.

“Oh, rupanya gua kecil tadi merupakan pintu dari gua yang lebih besar. Ooh, terima kasih dewata, tempat ini cukup baik untuk merawat istriku. Cahaya matahari jika tidak sedang turun hujan tentu dapat masuk melalui celah itu. Ohh, berbaringlah disini kau Wulan. Aku akan mengusahakan sebuah perapian untukmu. Jika mataku tidak salah, itu adalah tumpukan kayu-kayu kering. Oh, dewata kau telah menyediakan sebuah tempat yang tepat untukku.” girang sekali hati Saka Palwaguna.

Raden Saka Palwaguna kemudian membuat perapian dengan kayu-kayu kering yang tersedia di sudut gua bawah tanah. Dan beberapa saat kemudian setelah perapian menyala…

“Oh,… ah iya. Kau harus lebih dekat lagi ke perapian ini Wulan.” Raden Saka Palwaguna kembali membopong tubuh Anting Wulan dengan susah payah, untuk lebih menghangatkan tubuh istrinya. Anting Wulan mengeluh. Tepatnya mengigau.

“Wulan, dinda Wulan. Apakah engkau tidak dapat mendengarkan suaraku?” “Ohh,… dingin… Dingin sekali…”

“Dinda?!”

“Oh, aku harus berbuat apa padamu? Tubuhmu panas seperti ini…” Raden Saka yang tidak tahu harus berbuat apa hanya dapat mengurut-urut leher dan bagian punggung istrinya. Dan kemudian mengawasi istrinya dengan air mata yang berlinangan. Beberapa saat kemudian, hujan pun mulai menjadi reda. Dan matahari mulai bersinar dari celah dinding goa karang.

“Oohh,…” Anting Wulan mengeluh. “Dinda… Dinda Wulan,…”

“Siapakah kau?!” suasana gua itu belum terang benar.

“Aku suamimu, Saka.” sambil tersenyum Saka Palwaguna memperkenalkan dirinya. Tapi senyum itu tak tampak ditengah gua yang masih agak gelap.

“Oh, dimanakah aku berada?!”

“Kita masih tetap di alam dunia. Kita belum sampai di nirwana. Ah, apa yang terjadi pada dirimu dinda Wulan? Mengapa engkau menjadi seperti ini?”

Anting Wulan tidak menjawab, dia hanya terisak. Dia teringat putranya. “Kayan… Kayan,… dimanakah putraku Kayan?”

“Kayan tidak apa-apa. Kita akan segera menemukannya Dinda. Ah, bagaimanakah keadaanmu?!”

“Sebaiknya engkau pergi saja. Jangan mengurus diriku.” isak Anting Wulan. “Tetaplah berbaring Dinda Wulan. Keliatannya engkau masih lemah.”

“Oh, tenagaku… tenagaku tak ada lagi… Oh apa yang terjadi dengan diriku?” “Aku menemukanmu pingsan di rerumputan. Dan bajumu telah basah sebelum

hujan turun.”

“Oh, aku jatuh tidak sadarkan diri disebuah sungai kecil yang dangkal. Ya, ketika aku sadar aku sempat merangkak keluar dari sungai kecil itu… sesudah itu aku tidak tahu lagi apa yang terjadi dengan diriku. Kanda Saka kah yang kemudian menemukan aku?” Anting Wulan terus merenung berdiam diri. Pertanyaan-pertanyaan raden Saka tidak digubrisnya lagi. Dia mulai mencoba untuk mengembalikan kekuatan tenaga dalamnya yang lenyap dengan begitu saja.

(17)

Pada kisah yang lalu diceritakan, Raden Saka Palwaguna yang menemukan tubuh istrinya yang tidak sadarkan diri membawanya ke sebuah gua kecil di tengah hutan. Ketika raden Saka tengah diamuk oleh rasa gelisah akan keadaan istrinya yang diserang demam, secara tidak sengaja dia menemukan sebuah gua bawah tanah di tempatnya bernaung. Setelah hujan berhenti, beberapa saat berikutnya Anting Wulan pun mulai tersadar.

“Dinda… Dinda Wulan,…”

“Oohh,…” Anting Wulan mengeluh.”Siapakah kau?!” “Aku Saka, suamimu,..” jawab Saka Palwaguna.

“Kayan… Kayan,… dimanakah putraku Kayan? Oh, tenagaku… tenagaku tak ada lagi… Tubuhku lemas sekali.”

“Tetaplah berbaring Dinda Wulan. Keliatannya engkau masih lemah. Diamlah.” “… Oh apa yang terjadi dengan diriku? Mengapa aku bisa berada di tempat ini?”

“Aku tidak mengerti dinda Wulan. Aku justru menemukanmu dalam keadaan tidak sadarkan diri. Pakaianmu basah, padahal hujan saat itu belum lagi turun.”

“Oh, rupanya aku jatuh tidak sadarkan diri disebuah sungai kecil yang dangkal. Oh, karena ketika aku tersadar aku sudah ada di dalam sungai. Dan kemudian aku merangkak keluar. Sesudah itu aku tidak tahu lagi. Aku tidak sadarkan diri lagi. Setelah itu, mungkin Kanda Saka yang kemudian menemukan aku. Ohh…”

“Dinda Wulan, hujan telah berhenti. Sebaiknya kita meninggalkan tempat ini. Kita mencari tempat yang baik untuk merawat keadaanmu. Engkau pasti membutuhkan bubur hangat, air hangat.”

“Tidak perlu, biarlah aku di sini saja. Aku dapat sembuh dengan sendirinya.” “Tidak mungkin. Tidak mungkin Dinda. Kau akan bertambah parah. Kau juga

membutuhkan ramuan-ramuan untuk menurunkan demammu. Kita harus mencari tempat yang baik. Setidak-tidaknya pondok petani di pinggiran hutan.”

“Ooh,… Oh,… Oohh,… “ kembali Anting Wulan mengeluh. Tubuhnya menggigil. “Wulan, Wulan,… Dinda Wulan. Wulan?! Oh, celaka panasnya kembali menjadi

semakin tinggi. Aku harus membawanya keluar dari tempat ini.”

Raden Saka Palwaguna bergegas menuju tempat dimana dia masuk. Akan tetapi dalam remangnya cahaya, secara tidak sengaja kakinya terantuk sebuah kotak kayu.

“Oh! Setan! Apa itu?!”

Dalam keremangan cahaya sambil mengucapkan sumpah serapah, mata Raden Saka Palwaguna tertumbuk dengan sebuah patung garuda yang tidak lebih dari satu jengkal tingginya. Sesaat raden Saka tertegun melihat indahnya hasil pahatan patung itu. Akan tetapi,…

“Gila! Tolol! Kenapa aku diam saja?! Aku harus segera menolongmu,  Dinda. Hupp!!” Raden Saka melesat cepat sambil memondong tubuh istrinya.

Tidak berapa lama di hadapannya nampak sebuah desa kecil. Tanpa membuang waktu lagi, raden Saka menuju pondokan terdekat di pinggir desa itu. Dia mengetuk pintu pondokan tersebut tiga kali.

“Sampurasun!...”

“Rampess… Eh, Sebentar…” suara jawaban dari dalam pondokan itu.

“Nyai, tolonglah. Apakah saya dapat menggunakan pondokan nyai untuk merawat istri saya yang terluka?!”

“Oh, tentu… tentu. Silakan masuk Tuan. Mari.”

“Letakkanlah di balai-balai itu, apa yang terjadi pada istri Tuan?” “Dia mendapat demam yang tinggi. Tubuhnya panas sekali.” “Hmm ya ya, bisa saya melihatnya?”

“Silakan Nyai, silakan. Lihatlah. Tolonglah jika Nyai bisa menolongnya.” “Hmm iya, panas tinggi sekali.”

“Hmm iya, Nyai. Panasnya tinggi sekali. Maka dari itu saya bawa kemari, Nyai.

Mari Nyai.”

“Hmm, biarlah. Saya buatkan ramuan untuk menurunkan panas tubuhnya. Tuan jaga saja dan perhatikan keadaannya. Jika ingin mengompresnya, Tuan bisa mengambil air di belakang pondok ini. “

“Baik, Nyai…”

“Dan, kain kecil itu bisa Tuan pergunakan.” “Iya, Nyai.”

Wanita setengah baya itu kemudian bergegas ke dapur untuk mempersiapkan ramuan penurun panas. Beberapa saat kemudian setelah siap ramuan itu, dibalurkan ke tubuh Anting Wulan. Dan ramuan yang harus diminum diberikan sedikit demi sedikit dengan mempergunakan sendok. Anting Wulan akhirnya tertidur pulas.

“Biasanya setelah terbangun panasnya akan turun. Tuan dapat beristirahat di sampingnya. Balai-balai itu cukup besar Tuan…”

“Biarlah saya menunggunya, Nyai. Eh… Nyai bersama siapakah tinggal? Sepertinya itu ada pakaian laki-laki yang tergantung, Nyai?!”

“Iya, suami saya sedang ke sawah.” “Ke sawah, Nyai…”

“Biasanya menjelang sore, dia baru kembali. Dan tuan bisa berkenalan dengannya

nanti.”

Saka Palwaguna tertawa ramah, “Terima kasih Nyai. Nyai telah menyelamatkan nyawa istri saya. Suatu saat saya akan membalas budi Nyai yang tidak terhingga ini.” Perempuan pemilik pondok itu pun terkekeh senang, “Sudahlah. Lupakan saja semua ini. Kita sebagai manusia memang harus saling membantu. Saling tolong menolong. Hmm, oya sudah lah. Saya akan ke dapur. Sebentar lagi jika istri tuan terbangun, bubur hangat sudah harus tersedia dan untuk Tuan kami hanya menyimpan ikan kering untuk lauk.”

“Nyai tidak usah memikirkan saya. Eh,… Apa yang Nyai buat untuk istri saya sudah merupakan karunia yang tidak terhingga sekali.” tersenyum rikuh.

“Hehehehe, lucu. Lucu sekali. Jika begitu, nanti jika istrimu sudah sembuh. Ganti engkau yang ku rawat.”

Raden Saka kemudian memandang kembali pada istrinya, Anting Wulan yang tengah pulas tertidur. Hampir tidak berkedip dia memandang wajah yang telah dirindukan selama belasan tahun. Dan tanpa terasa matanya mulai dirayapi oleh rasa kantuk yang tidak tertahankan. Raden Saka menggeser tubuhnya ke sudut balai-balai dan bersandar di dinding bilik. Sampai akhirnya pulas tertidur.

Sementara itu, di keraton Sunda…

“Bibi! Bibi dayang merah!” “Yaaaa!? Iya tuan putri?!”

“Apa ini?! Lihat! Apa aku minta ayam kalkun? Apa telinga bibi tidak bisa mendengar dengan baik!?”

“Eh.. eh.. eh… Iya. Iya tuan putri. Tetapi saat ini persediaan rusa telah habis. Dan baru saja paman Jalimur mencari rusa ke pasar, dan bahkan mengirim beberapa prajurit untuk mencari rusa-rusa di hutan Ciremai.”

“Aku tidak butuh kalkun ini! Angkat cepat! Atau akan ku lempar piring kalkun ini ke wajahmu!”

“Eh… eh,.. Iya… Iya… tuan putri”

“Dan segera bersihkan beling yang berantakan itu!” “Baik,… baik tuan putri.”

“Ada apa Paramuditha?” “Oh, ibunda kembali…”

“Apa yang terjadi? Mengapa piring itu pecah berantakan dan engkau berteriak sekeras itu? Bunda dapat mendengarnya tadi.”

“Ehmm,.. tidak… tidak ada apa-apa bunda. Bibi dayang merah memecahkan piring itu, dan…” mata bocah perempuan berumur tiga belas tahun itu berputar-putar cepat. Dia mencari-cari alasan. Dan dia pun segera mengalihkan pembicaraan, “Oya, dimana ayahanda?” “Ayahandamu sedang membersihkan tubuh.” Cempaka maklum bahwa putrinya sedang berusaha mengalihkan pembicaraan, maka dia menasihati putrinya dengan lembut. “Dengar Paramuditha, Ibu tidak mau mendengar suara dan sikapmu yang kasar. Kau seorang wanita, tidak baik bersikap seperti tadi…”

“Iya Bu, saya mengerti,” kata Jaga Paramuditha sambil tertunduk. “Ah,… ayahandamu ingin bertemu. Pergilah. Jumpai beliau.”

“Iya Bu. Ibu pergilah dahulu. Saya akan membantu bibi dayang merah membersihkan piring yang pecah ini.”

Cempaka tersenyum pada putrinya, “Bagus. Ibu senang dengan sikapmu itu.

Ibunda menunggumu di bilik, ya!?”

Beberapa saat setelah Cempaka pergi, dayang merah kembali untuk membersihkan pecahan-pecahan piring.

Jaga Paramuditha mendengus, kemudian dengan mata mendelik dia mengancam dayang pengasuhnya, “Hehh, bibi dayang merah! Dengar! Ibuku sempat mendengarkan teriakanku tadi. Awas! Jika sampai ibuku tau bawa aku yang memecahkan piring itu,… kau akan tau sendiri akibatnya. Kau tau kan aku sudah belajar beberapa jurus ilmu silat. Aku dapat membuat bibi kesakitan. Ini, walau tanganku kecil. Tapi dari paman Jangkung aku telah diberitahu bagian tubuh seseorang yang sangat lemah. Yang disentuh dengan tanganku ini pun akan dapat menimbulkan rasa sakit.”

“Eh.. eh, Iya tuan putri. Saya mengerti”

“Hmm, tunggu! Tunggu dulu bibi dayang merah, perlu buktinya!” “Eh… eh… Jangan tuan putri. Ah.. ah… hamba tidak berani. Jangan…” “Diam, jangan berteriak bodoh!” Jaga Paramuditha mendelik.

“Ah,.. ah.. iya iya… iya tuan putri.”

“Hmmm, ini… disini… disekitar tempurung dengkul bibi juga ada. Hmmm, ah disini! Hiiihh” Jaga Paramuditha meraba kaki dayang merah, lalu menekan salah satu urat di sekitar dengkul pengasuhnya dengan gemas. Dayang merah menggelinjang kesakitan. Tapi dia tidak berani berteriak dengan keras.

“Ah… ah.. aduuhh… aduuuh… Su.. su…Aduh.. Sudah tuan putri. Aduh. Aduh sakit.” Dayang merah meringis menahan sakit, tangannya berusaha menepiskan tangan kecil Jaga Paramuditha yang menekan dengkulnya.

Jaga Paramuditha tertawa menang kemudian berkata mengancam, “Hehehehehe, makanya jangan coba untuk cerita apapun tentang kejadian tadi!”

“I… iyah… iyah… hamba berjanji tuanku. Hamba berjanji.” Setelah Jaga Paramuditha mengancam dan menganiaya dayang pengasuhnya, dia segera menemui kedua orang tuanya. Prabu Purbaya bersama permaisurinya yang baru saja kembali dari perjalanannya memburu siluman merapi melepas rindunya pada Jaga Paramuditha, putri kesayangannya. Setelah beristirahat beberapa saat, menjelang malam hari Ki Pandu Permana memohon menghadap untuk melaporkan beberapa hal selama sang Prabu tidak berada di istana.

“Hmm, keadaan cukup tenang di istana maupun kota raja. Tidak ada kejadian apapun. Tetapi, hmm.. penjagaan yang sedikit berlebihan selama kepergian tuanku pada hari-hari pertamanya sempat menimbulkan tanda tanya dan kegelisahan”

“Hmm, lalu apakah tidak ada tamu dari kerajaan lain yang datang berkunjung?” “Hmm, iya iya… kemarin ada utusan dari… kerajaan Taruma Negara

menyampaikan surat ini, tuanku.” kata Ki Pandu Permana sambil merogoh kantungnya, kemudian sebuah gulungan lontar disampaikannya kepada Prabu Purbaya.

Prabu Purbaya membuka gulungan lontar. Setelah membacanya, wajahnya tersenyum cerah.

“Hmm.” Sang Prabu tersenyum “Adik Burangrang akan mengunjungi istanaku. Tanggal sepuluh bulan depan. Penguasa Taruma Negara akan datang berkunjung. Ahh.. Paman, tolong urus persiapannya.”

“Kita masih mempunyai waktu dua belas hari lagi, Tuanku. Tuanku tidak perlu khawatir. Hamba akan mengurusnya dengan sebaik-baiknya.”

“Lalu apakah ada hal lain yang ingin paman sampaikan?” “Emm, eh… Ah, ada… Ada tuanku.” Ki Pandu tampak bimbang.

“Apakah itu paman?”

“Eh,.. ampun. Ampunkan hamba sebelumnya Tuanku. Hamba,… hamba ingin melaporkan sesuatu yang mungkin kurang berkenan di hati Tuanku.”

“Hei?” Prabu Purbaya terheran, “Apakah itu paman? Hal apakah itu? Ceritakanlah.

Janganlah paman ragu.”

“Eh, hamba…hamba akan menceritakan perihal tuanku putri Jaga Paramuditha.” “Putriku?! Ada apa dengan putriku paman?”

“Ampunkan hamba tuanku. Hamba mohon, tuanku tidak menjadi marah dan menghukumnya. Pramuditha masih seorang bocah, tuanku.”

“Ceritakanlah paman, ada apa dengan putriku?” Purbaya makin penasaran. “Sikap tuanku Pramuditha semakin menjadi-jadi saja, Tuanku… Hmm, ampun

tuanku jika hamba menggunakan istilah itu. Sikap putri Paramuditha semakin nakal saja. Selama tuanku bersama tuanku permaisuri meninggalkan istana, tuanku putri Paramuditha tidak dapat hamba kendalikan. Dia sering sekali keluar istana. Bahkan kini, dia berani keluar secara diam-diam.”

“Heeh?! Benarkan demikian paman Pandu?!”

“Ampunkan hamba, tuanku. Semula… tuan putri memaksa seorang prajurit untuk menemaninya keluar. Hamba tidak mampu menghalanginya. Tuan Putri mengamuk, melempar barang-barang, memecahkan gelas dan piring.”

“Hooh… Kurang ajar Paramuditha. Ah, apa lagi yang telah dilakukannya selama aku tidak berada di istana?”

“Kemaren, walaupun hamba telah mengamat-amatinya dia tetap saja keluar dari istana tanpa setau hamba.”

“Heeh?! Bagaimana bisa begitu Paman Pandu?!”

“Seluruh penjaga pintu keluar memperhatikan perintah hamba. Tetapi menjelang siang hari, seorang pengurus istal istana yang tugasnya membawa rumput kuda serta kayu bakar melaporkan pada hamba, bahwa di luar gerbang istana tuanku putri Paramuditha tiba-tiba saja muncul di atas pedatinya.”

“Heeh!? Bagaimana bisa begitu Paman!?”

“Rupanya tuan putri Paramuditha bersembunyi diantara tumpukan karung- karung yang kosong di atas pedati itu, Tuanku.”

“Hoohh! Anak itu harus aku beri hukuman!”

“Ah,.. Ampunkan hamba, Tuanku. Satu hal lagi yang mungkin dapat tuanku selesaikan dengan kebijaksanaan tuanku… Adalah,…” Ki Pandu bagai mengumpulkan keberaniannya, kemudian melanjutkan “Seorang bocah laki-laki yang menjadi korban tuanku putri…”

“Korban?!?” Prabu Purbaya berseru kaget, “Apa yang dilakukan Paramuditha, Paman?! Ceritakanlah!!”

Prabu Purbaya nampak menjadi semakin berang mendengar cerita Ki Pandu Permana. Dadanya berdebar, hatinya menjadi gelisah memikirkan sikap putrinya.

(18)

Pada kisah yang lalu diceritakan, Prabu Purbaya dikejutkan oleh berita tentang kenakalan putrinya, Jaga Paramuditha, yang disampaikan oleh Ki Pandu Permana, wakilnya.

“Satu hal lagi yang mungkin dapat tuanku selesaikan dengan kebijaksanaan tuanku… adalah,… Eh… Eh…Seorang bocah laki-laki yang menjadi korban tuanku putri…”

“Korban?!?” Prabu Purbaya berseru kaget, “Apa yang dilakukan Paramuditha, Paman?! Ceritakanlah dengan sejelas-jelasnya!!” “Kemarin siang, setelah hamba mendapatkan berita kepergiannya dari kusir pedati. Hamba yang merasa khawatir karena tanggung jawab itu mencari tuan putri bersama dengan dua orang pengawal…”

Kemudian Ki Pandu menceritakan kejadian kemarin siang dengan seksama…

“Coba kau tanyakan kepada prajurit di ujung jalan itu. Apakah dia melihat tuan putri Paramuditha berkeliaran disekitar sini”

“Baik tuan.” Prajurit tersebut kemudian menghela kudanya agar lekas menemui prajurit yang berjaga di ujung jalan . “Hiyahhh… hiyaahh!”

“Hei, Japra! Apakah engkau melihat tuan putri Paramuditha?”

“Hah!? Oh iya… iya. Tuan putri baru saja pergi dari sana.Dan, ampun tuanku Pandu,… eh… tuan Putri telah melukai seorang bocah laki-laki. Itu, disana rumah bocah itu. Tuanku dapat melihatnya dari sini kesibukan di muka rumahnya tuan.”

“Ohh… aku akan melihatnya ke sana. Kalian berdua teruskanlah mencari tuan putri. Jika bertemu, katakan aku memintanya untuk kembali.”

“Baik tuanku! Ayo!”

“Ooh, benar-benar keterlaluan Paramuditha! Entah apa yang telah dilakukannya dengan bocah itu.” geram Ki Pandu Permana sambil mengarahkan kudanya.

Kemudian Ki Pandu Permana bergegas menuju pondok di sudut jalan. Melihat kedatangan pejabat utama dari keraton Sunda, seluruh penghuni pondok itu menjatuhkan diri berlutut.

“Ampun tuanku, janganlah tuanku menghukum anak hamba. Kasihanilah anak itu, Tuanku. Mungkin dia yang bersalah, tetapi hamba mohon Tuanku dapat memaafkannya dan menyudahi urusan ini, Tuanku. Jika memang Tuanku ingin memberikan hukuman, berilah hukuman kepada hamba saja, orang tuanya yang tidak dapat mendidik anak.”

“Aah, Aku kemari hanya ingin tahu duduk persoalannya dan melihat apa yang telah terjadi dengan putramu. Biarlah hukuman itu kelak baginda yang memutuskannya. Nah, dimana putramu?”

“Sedang berusaha disembuhkan lukanya,Tuanku. Mari… mari… silakan tuanku.”

Ki Pandu Permana perlahan melangkahkan kakinya diantara kerumunan orang yang berlutut di dalam pondok itu. Beberapa laki-laki yang semula berusaha menyembuhkan luka seorang bocah laki-laki berusia dua belas tahun segera menyingkir dari balai-balai. Ki Pandu Permana berdiri di samping bocah yang terlentang lemah.

“Ohh, apa yang telah dilakukan Paramuditha hingga bocah ini begini parahnya?!” Ki Pandu Permana segera meneliti tubuh bocah laki-laki yang tengah terbaring itu, “Hmm, Oh bagian pinggangnya membiru seperti ini. Agaknya jalan darahnya telah dibuatnya pecah.”

“Putramu tidak apa-apa. Aku akan menyembuhkannya. Kosongkanlah pondok ini.

Suruh mereka yang tidak berkepentingan untuk keluar.” “Ba..baik Tuanku, baik…”

“Ayo,.. ayo keluar,… wah panas sekali di dalam sini…” berbagai ucapan-ucapan orang yang ada di pondok itu sambil berjalan keluar.

Demikian penuturan Ki Pandu Permana dalam penjelasannya.

“Hamba mengurut jalan darahnya dan menyadarkan bocah itu. Setelah itu hamba kembalikan semangatnya dengan hawa sakti hamba. Bocah itu kemudian sadar kembali, akan tetapi keadaannya sangat lemah sekali Tuanku.”

“Hmm, Paramuditha… benar-benar keterlaluan anak itu. Ooh… tetapi kata-kata orang tua bocah itu sangat menyentuh hatiku, Paman. Kesediaan dirinya untuk menerima hukuman atas kesalahan anaknya justru menggugah hatiku. Hukuman akibat ulah Paramuditha adalah akulah yang sepantasnya menerima. Karena aku tidak berhasil mendidik anakku dengan sebaik-baiknya…” ucap Prabu Purbaya perlahan, air mukanya tampak sendu dirundung kesedihan mendalam.

Ki Pandu Permana terkaget melihat junjungannya justru merasa bersalah atas kejadian tersebut. Walau bagaimana Prabu Purbaya adalah seorang maharaja yang memiliki banyak kewajiban yang berada di pundaknya. Beliau maklum akan hal itu. Dan tidak pada tempatnya jika seorang maharaja mengalami kesedihan mendalam karena permasalahan seperti itu. Maka segera dia berkata, “Oh! Ampunkan hamba! Ampunkan hamba, Tuanku. Bukan maksud hamba menceritakan hal itu sampai sedemikian jauhnya. Ohh, tidak Tuanku. Tuanku tidak bersalah. Tuanku adalah seorang maharaja. Tuanku mempunyai masalah yang sangat banyak. Kepergian Tuanku meninggalkan istana adalah semata-mata karena kepentingan rakyat Tuanku. Kepentingan masyarakat luas. Kepentingan tanah Pasundan ini. Oh, ampunkan Tuanku. Sesungguhnya Tuanku tidak bersalah!”

“Besok pagi, aku akan menemui keluarga itu. Aku akan melihat keadaan bocah itu bersama dengan tabib istana. Jika tidak ada lagi yang akan Paman sampaikan. Paman boleh kembali beristirahat.”

“Oh,… iya… iya Tuanku. Hamba kira tidak ada lagi. Hamba mohon diri Tuanku.” “Silakan Paman,…”

Prabu Purbaya kemudian bergegas ke dalam biliknya, mencari putrinya Paramuditha. “Ditha! Ditha!”

“Kanda, ada apakah kanda mencari Paramuditha seperti itu? Apa Ditha telah melakukan kesalahan?!”

“Di manakah Ditha? Kau akan segera tahu bahwa anak itu sudah bertindak terlalu jauh. Anak itu sudah terlalu liar!”

“Hei, apa kanda bilang?!”

“Cari segera Paramuditha, dinda akan segera tahu apa yang telah dilakukan anak

kita.”

Melihat sikap suaminya yang lain dari biasanya, Cempaka segera bergegas mencari Paramuditha di sekeliling istana. Dan beberapa saat kemudian…

“Hmmm, bagus! Bagus! Duduk di sana!”

“Ehmm,… ada apa ayahanda? Apa kesalahan saya?!”

“Apa yang telah engkau lakukan dengan bocah laki-laki di kota raja ini?” “Ehmmm,…ehmmm,…” Paramuditha tertunduk dan tergagap mendapat

pertanyaan dari ayahandanya seperti itu.

“Angkat kepalamu! Jangan menunduk seperti itu! Dan jawab pertanyaanku!” “Ehmmm, saya… saya berkelahi ayahanda…”

“Heiii?!? Engkau berkelahi dengan anak laki-laki?! Siapa yang memberimu ijin meninggalkan istana ini, hmm?”

“Ehhmm…ehmmm..”

“Ayo jawab! Engkau keluar seperti seorang pencuri layaknya! Bersembunyi di atas tumpukan karung di atas pedati. Begitukan tingkah dan ulah seorang putri raja?!”

“Oh, Ditha… kau seorang putri nak. Engkau putri agung. Putri dari seorang maharaja besar.  Jaga sikapmu. Jangan membuat malu ayahandamu…”

“Tingkahnya tidak hanya membuat malu lagi. Tetapi telah merusak nama baik keraton ini. Apa yang sudah engkau lakukan dengan bocah itu? Ayo jawab! Kau apakan bocah itu hingga terluka sedemikian parahnya?!”

“Ehmm,… ehmm,… Saya hanya mencengkeram jalan darah di pinggangnya dan menariknya. Karena bocah itu menarik rambut saya.”

“Oh, kenapa kalian sampai berkelahi? Apakah anak itu tidak mengenalmu?” “Cukup! Cukup dinda! Jangan coba-coba mengurangi kesalahan anak kita. Dia

telah bersalah meninggalkan istana ini. Dan aku yakin, dalam perselisihannya itu pun Ditha yang bersalah. Siapa yang telah mengajarimu tentang jalan darah? Tentang cara mencengkeram?!”

“Ehmm,…ehmm… Kakek Jangkung…”

“Heehh?! Ki Jangkung?! Panggil segera paman Jangkung!” “Ah, tapi kanda Prabu, bukankah kanda pernah memberikan perintah padanya untuk memberikan dasar-dasar olah kanuragan?!”

“Dinda tahu akibat dari cengkraman jalan darah? Apakah dinda pernah melakukan hal itu, sekalipun dalam pertempuran dengan musuh?”

“Oh,… ya… tidak Kanda. Kita hanya mempergunakan tepukan ataupun totokan pada jalan darah. Oh, Ditha apakah benar engkau telah diajarkan cara mencengkram jalan darah oleh Aki Jangkung?”

“Ehmm.. Eh,.. Iya ayahanda…”

“Panggil paman Jangkung menghadapku! Dan engkau Ditha, tetap disini!”

Cempaka memerintahkan pengawal dalam yang ada di muka pintu kamarnya untuk memanggil Ki Jangkung yang merupakan salah satu tokoh utama keraton Sunda. Dan tidak beberapa lama kemudian…

“Paman Jangkung, apakah benar paman mengajarkan ilmu mencengkeram jalan darah pada putriku Paramuditha?”

“Eeh,… Ampun Tuanku. Ilmu mencengkeram jalan darah?! Ah, hamba tidak mengerti. Hamba belum mengajarkan sejuruspun aji yang merupakan gerak serangan.”

“Paramuditha!” Prabu Purbaya menggeram marah kearah putrinya.

“Ehmm,.. ehmm, tapi apakah yang paman ajarkan beberapa hari yang lalu itu?!”

“Ahh,… itu adalah saluran pernafasan serta jalan darah yang berhubungan dengan dasar-dasar pelajaran semedhi.”

“Nah,… itulah ayahanda. Saya mendapatkan pelajaran dari kakek Jangkung.” “Ampun, Tuanku. Hamba tidak pernah mengajarkan sejuruspun serangan totokan,

tepukan apalagi cengkraman. Hamba hanya menjelaskan kegunaan dari jalan darah itu. Jalan darah yang merupakan titik-titik kelemahan dari seseorang, Tuanku.”

“Nah,… itu ayahanda.”

“Apakah gurumu itu mengajarkan cara mencengkeram, menepuk ataupun menotok?!” Prabu Purbaya kembali mendesak putrinya.

“Emm,..Ehmm…”

“Jawab! Dan jangan coba berdusta!”

“Tidak. Tidak ayahanda,…” Paramuditha mulai terisak.

“Lalu dari mana kau dapat melakukan itu? Darimana kau bisa melukai anak itu Paramuditha?!”

“Saya…” Paramuditha tetap terisak.

“Oh!? Apa yang telah dilakukan tuan Putri, Tuanku?!” Ki Jangkung terkesiap.

“Dia telah memecahkan jalan darah seorang bocah di kota raja ini. Jawab Paramuditha! Dari mana kau dapat melakukan itu? Apakah ada seseorang yang mengajarkanmu?”

“Saya… saya hanya ingin sekedar membuktikan ayahanda. Ingin membuktikan bahwa jalan darah merupakan titik kelemahan seseorang…” sambil terisak.

“Hyang… Jagad dewa bethara,…” Prabu Purbaya terhenyak lemas. Begitupun Ki Jangkung benar-benar tak menduga alasan sepele itu dapat memakan korban.

Ki Jangkung menghela nafas, lalu dia berkata penuh sesal, “Oh, tuan Putri… Bukankah hamba telah memberitahukan tentang kegunaan dan kelemahan dari jalan darah itu?!”

Paramuditha hanya terisak.

“Hehh, sudahlah. Paman Jangkung, paman tidak bersalah. Paman boleh kembali.

Terima kasih atas keterangan paman.”

“Ahh, baiklah Tuanku. Akan tetapi hamba tetap merasa bersalah. Untuk itu hamba mohon ampun yang sebesar-besarnya karena hamba tidak bisa memberikan pengertian yang sejelas-jelasnya tentang pelajaran-pelajaran yang hamba berikan.”

“Iya, Paman boleh kembali, dan lupakanlah hal ini.” “Terima kasih, Tuanku. Hamba mohon diri…”

“Oh, sudahlah kanda Prabu. Maafkanlah kesalahan putrimu kali ini. Dia masih seorang bocah.”

“Heehh, iya. Kau boleh tidur. Dan besok kita akan menemui anak itu. Biarlah dia yang menentukan hukuman balasan untuk dirimu. Aku tidak ingin menang sendiri sebagai seorang penguasa.”

“Ayahanda tidak boleh bersikap begitu. Ayahanda adalah seorang raja. Dan dia adalah rakyat ayahanda dan merupakan seorang hamba.”

“Kau tidak boleh mengambil sikap seperti itu Paramuditha. Mereka memang seorang hamba. Tetapi aturan harus tetap dilaksanakan. Kita orang-orang keraton yang merupakan penguasa tidak boleh bertindak semena-mena dengan kekuasaan yang berada di tangan kita. Besok, kau harus datang meminta maaf padanya. Dan aku akan menawarkan hukuman untukmu dari keluarga anak itu.”

“Tidak! Aku tidak mau meminta maaf kepada si penjol yang jelek! Dia tidak mau menghormati aku, dia tidak menyembah padaku. Dia! Dia harus…” jerit Paramuditha kalap.

“Cukup! Aku tidak mau sikap seperti itu ada pada diri anakku. Kau harus ikut aku ke rumah bocah yang menjadi korbanmu besok pagi-pagi!”

“Dia telah menarik rambutku hingga rontok beberapa helai. Aku tidak mau meminta maaf!”

“Dinda Cempaka, kau urus dia. Dia harus turut bersamaku besok pagi.”

“Oh,… Ditha. Sudahlah anakku. Ayahmu benar. Kau harus datang padanya untuk meminta maaf. Perbuatan yang kau lakukan sudah terlalu jauh. Dan hampir-hampir merenggut nyawa anak itu…”

Cempaka kemudian membimbing putrinya untuk membersihkan tubuhnya, dan kemudian mengajaknya masuk ke tempat tidurnya di bilik kecil di samping biliknya.

Akan tetapi keesokan harinya,…

“Oh, kanda! Kanda Purbaya! putri kita Kanda! Putri kita tidak ada dalam biliknya. Dia pasti pergi!” permaisuri Cempaka menghambur masuk ke dalam bilik utama. Wajahnya teramat cemas. Matanya berkaca-kaca nyaris menumpahkan airmata.

“Ah, tidak mungkin Dinda. Aku sudah memerintahkan para penjaga gerbang dan pintu-pintu di istana ini untuk lebih memperhatikan anak itu. Beri tahu dayang agar mencarinya dibagian lain istana ini.”

“Oh, tidak Kanda, pintunya masih rapat tertutup. Lihatlah ini Kanda.” Cempaka segera menggamit suaminya dan bergegas ke pintu bilik kaputren “Lihatlah. Pintunya masih tertutup rapat tapi jendela di samping sana telah terbuka.”

“Benarkah? Coba panggil pimpinan pengawal dalam. Aku ingin mengetahui kerjanya tadi malam.”

Cempaka keluar dari biliknya dan memerintahkan pengawal penjaga di muka biliknya untuk memanggil pimpinan pengawal dalam.

(19)

Pada kisah yang lalu diceritakan, Prabu Purbaya tengah dibuat gelisah oleh ulah putrinya, Jaga Paramuditha. Jaga Paramuditha telah melukai seorang bocah laki- laki yang nyaris merenggut nyawanya oleh cengkraman jalan darah. Ketika Prabu Purbaya memaksanya untuk meminta maaf kepada anak yang menjadi korban putrinya, pada malam harinya Jaga Paramuditha yang tidak mau meminta maaf pada bocah laki-laki yang menjadi korbannya, melarikan diri meninggalkan istana Sunda.

“Hmm?! Ada apakah Tuanku? Apakah hamba telah melakukan kesalahan?” “Bagaimana kerja orang-orangmu paman Dasir? Putriku telah hilang dari

kamarnya.”

“Hmm?! Ooh…”

“Kau periksa, dan tanyakan kepada seluruh pengawal gerbang dan pengawal lainnya, apakah mereka melihat putriku? Dan melihat hal-hal lain yang mencurigakan.”

“Hmm, baik! Baik Tuanku. Akan hamba selidiki hal ini, hamba permisi Tuanku.” “Kita akan mencarinya segera, dan untuk itu kita akan berpencar.” “Iya, kita akan mencarinya.”

“Ooh, kanda terlalu keras menekannya. Belum tentu semua itu adalah salahnya. Paramuditha adalah anak yang belum mengerti apa-apa. Kanda tidak bisa bersikap terlalu keras. Usianya pun belum cukup tujuh tahun.” Cempaka mengungkapkan perasaannya.

“Ooh, hyang jagad dewa bethara. Iya, mungkin aku terlalu keras. Jika memang dia melakukan kesalahan, kesalahan itu sepantasnya aku lah yang menanggungnya. Oh, Paramuditha.” Prabu Purbaya merenung, menyesali sikap kerasnya tadi malam.

“Oh, tuanku. Tuanku! Seorang pengawal telah menemukan sesuatu. Mungkin itu adalah pekerjaan dari tuan putri, Tuanku.”

“Heeh?! Apa itu paman Dasir?”

“Seutas   tambang yang   tergantung disebelah kiri istana. Tuanku dapat melihatnya.”

“Marilah dinda Cempaka!”

Prabu Purbaya bergegas bersama dengan permaisurinya, Cempaka mengikuti Ki Basir (?????) pimpinan pengawal dalam. Setibanya ditempat tujuan, prabu Purbaya ditunjukkan pada sebuah tambang yang tergantung dari atap bilik di samping dinding istana.

“Oh, Benar kanda. Itu adalah tambang sutra yang kuberikan pada Paramuditha.

Oh kanda, kita harus mencari Paramuditha.”

“Baiklah, kita akan berpisah. Tapi menjelang senja kita akan bertemu kembali di bilik istana.”

“Baiklah kanda, dinda akan mengambil kuda dan segera berangkat. Hupp!” Cempaka segera melenting bergegas menuju istal kuda melalui atap.

“Paman Dasir, katakan pada paman Pandu Permana untuk mengirimkan orang untuk mencari putriku. Aku pergi!” seru prabu Purbaya sambil melenting pula ke atap, kemudian melesat cepat ke arah luar keraton.

Kita tinggalkan dahulu prabu Purbaya bersama permaisurinya Cempaka. Sekarang marilah kita kembali mengikuti kisah Paramuditha yang melarian diri pada malam hari.

“Hmm,… aku tidak mau meminta maaf pada si Penjol. Anak itu sangat menyebalkan aku. Hmmpp, aku… aku akan pergi dari istana ini. Aku tidak mau menemui si Penjol besok pagi. Uh, aku akan tinggalkan istana ini malam ini juga!”

Dengan perlahan, Jaga Paramuditha membuka pintu biliknya.

“Dimuka pintu bilikku, ada seorang dayang yang menjaga. Hmm, karena itu aku keluar melalui jendela ini. Hmm, hupp!!” Jaga Paramuditha melompati jendela.

“Tali ini akan membantuku keluar dari istana tanpa melalui gerbang. Karena penjaga gerbang dan pintu istana semakin memperhatikan diriku.”

“Hmm, itu ada peronda”

“Hmm, bagus kedua peronda itu sudah lewat. Aku akan ke serambi kiri istana.” “Hmm, uhh bagus! Tidak ada penjaga disini”

“Hup!” mudah saja pengait dan tali “Bagus! Tali dan pengait yang sudah kusiapkan terikat erat pada ujung atap bilik. Heheh aku akan naik dan tiba diatas dinding istana.”

Jaga Paramuditha kemudian merayap naik keatas dinding istana dengan bantuan tali yang telah dipersiapkannya.

“Ah, sampai aku diatas dinding. Hmm, ah.. Tapi bagaimana aku bisa turun? Dinding di sebelah luar tinggi sekali dan tali itu sudah aku lepaskan. Oh, aku tidak mau turun kembali untuk mengambil tali itu. Ah aku akan melompat turun saja!”

Jaga Paramuditha merosot di dinding. Akan tetapi kaki nya masih tergantung jauh. Lebih dari satu tombak. Dan anak yang keras kepala itu tanpa ragu lagi melepaskan tangannya, dan…

“Aduh!” Jaga Paramuditha jatuh terduduk den berdebam cukup keras. Kaki dan pantatnya terasa panas. “ Aku harus segera pergi sebelum prajurit ronda sampai kemari…”

Saat itu sudah lewat tengah malam, suasana di jalan raya kota raja demikian lengangnya. Sambil menyeret kakinya yang kesakitan Paramuditha mengendap-endap menuju gerbang kota raja Sunda.

Menjelang fajar, seorang bocah kecil disudut-sudut bangunan bersembunyi sambil memperhatikan pintu gerbang yang di jaga oleh beberapa prajurit. Dan nampak bocah itu sudah mengenakan caping yang cukup lebar. Dan ketika serombongan pedagang yang akan menjemput dagangan di desa terdekat menuju gerbang kota raja, bocah kecil bercaping itu lari mendekati dan kemudian menyelinap di antara rombongan belasan orang dan beberapa ekor pedati (?????).

Beberapa saat kemudian, jauh di luar kota raja.

“Hmm, hari mulai terang. Sebentar lagi ibuku tentu mengetahui kepergianku. Aku harus meninggalkan kota raja, sejauh-jauhnya.”

“Semalam-malaman aku tidak tertidur. Hmm mengantuknya. Sebaiknya aku tidur disini saja. Tempatnya enak. Rumput-rumputnya pun bersih. Emm, eeh… Tetapi rumput- rumputnya basah. Sebaiknya aku bersandar saja di pohon itu. Uaahhh… “ sambil menggeliat, Jaga Paramuditha menyandarkan tubuhnya di pohon yang dilihatnya.

Paramuditha yang semalam-malaman tidak memejamkan mata tak dapat lagi menahan rasa kantuknya. Tidak berapa lama kemudian dia telah pulas tertidur. Dan ketika matahari menjadi semakin panas menyengat kulitnya, dia terbangun.

“Hmm, bau apa ini? Sedap sekali. Hei! Siapakah engkau?”

“Siapa aku? Aku adalah penunggu hutan kecil ini. Ahh, dan ini adalah daging seorang bocah perempuan kecil. Aku menyukai daging seorang bocah perempuan yang dibakar seperti ini. Nah, siapakah kau bocah?!”

“Heii, kau menakut-nakuti aku ya?! Aku tidak takut padamu. Pada anak sebesar engkau!”

“Ahahahahahh. Sungguh pemberani sekali engkau adik kecil. Siapakah engkau

ini?”

“Aku adalah anak petani dari desa. Desaku…ehmm ehmm.. di desa itu. Desaku

disana itu.”

“Oh, Hebat sekali ayahmu jika begitu. Seorang petani memiliki pakaian tidur seindah itu.”

“Ya, ayahku memang seorang petani yang kaya!”

“Ah? Dan engkau tidak takut jika sampai di culik. Penculik itu tentu akan dengan mudah memeras ayahmu untuk menukar dirimu yang cantik ini dengan uang emas yang banyak”

“Ummph. Aku akan melumpuhkannya. Aku tidak takut pada penculik dan penjahat!”

“Lalu bagaimana caramu melumpuhkannya?” “Engkau ingin bukti?!”

“Iya, bagaimana?”

Paramuditha mendekati Kayan Manggala, dan kemudian menepuk pinggang Kayan tepat pada jalan darahnya. Kayan agak terkejut melihat arah serangan anak perempuan berusia tujuh tahun itu. Tetapi Kayan yang telah mendapat didikan berbagai macam ilmu olah kanuragan segera menutup jalan darahnya. Karena itu tepukan yang keras dari anak perempuan itu hanyalah ditanggapi dengan senyuman saja.

“Eeh? Kau?! Kau tidak merasakan sakit? Hmm, awas! Sekarang aku akan mencengkramnya. Kau berani!”

“Silakan!”

“Ihh! Iyyahhh!!” geram Paramuditha mengerahkan tenaga ke cengraman tangannya yang mungil. Kayan tergelak merasakan rasa geli karena cengraman itu.

Paramuditha mencengkram jalan darah di pinggang Kayan Manggala. Tetapi berkali-kali dia melakukannya, Kayan tidak merintih kesakitan. Bahkan anak laki-laki itu tertawa berkali-kali serasa pinggangnya dikitik-kitik.

“Aduh, hahaha… sudah adik kecil… hahahaha, geli sekali… geli sekali.”

Melihat Kayan hanya menanggapi cengramannya dengan tawa yang geli, Paramuditha menjadi malu. Kemudian gadis kecil yang berusia tujuh tahun itu menangis terisak-isak.

“Loh? Kok jadi nangis?!”

“Engkau jahat! Engkau menghina aku. Mengejek aku. Mentertawakan aku.

Huuu…”

“Eh, aku tidak menghinamu, tidak mengejek dan tidak mentertawakan engkau.” “Lalu, kenapa engkau tertawa geli ketika aku cengkram pinggangmu?”

“Lho? Aku tertawa geli karena tanganmu itu dipinggangku serasa mengitik-ngitik.

Bagaimana tidak geli? Apakah engkau mau mencoba aku kitik-kitik, nona kecil?”

“Hmm, engkau hebat sekali. Siapakah namamu? Pasti engkau memiliki cara untuk menangkalnya.”

“Namaku Kayan. Dan engkau, siapakah namamu, adik kecil? Keliatannya engkau bukanlah anak seorang petani.”

“Aku anak seorang petani. Engkau harus percaya padaku. Dan namaku, hmm…

Ditha.”

“Namamu bagus sekali. Aduh, celaka! Hangus! Kelinci bakarku ini! Ah.. Huff! Huff!

Ah, padahal tadi ku kira apinya ini sudah padam. Api perapian ini kian membesar dan menghanguskan kelinci bakarku.”

“Eheheh, tidak apa-apa. Mmm, masih ada beberapa bagian yang bisa dimakan.” “Jika engkau mau, ambillah ini.”

“Mmm, terima kasih, engkau sendiri?”

“Aku sendiri sudah memakan sebagian sebelum engkau bangun. Lihatlah, kelinci itu berkaki tiga.”

Paramuditha menerima kelinci bakar yang nyaris hangus seluruhnya. Dan kemudian dia mulai menikmati bagian-bagian yang nyaris menjadi arang. Belum lagi Paramuditha menyelesaikan kelinci bakar itu, terdengar derap kuda di kejauhan.

“Hmm, celaka. Ah, kita harus bersembunyi!”

“Mengapa harus bersembunyi? Lihatlah itu yang menuju kemari pengawal istana, apa yang kau takuti?”

“Ehmm, ah… mereka orang jahat. Ayo cepatlah sembunyi, disemak sana. Ayo!” “Ehmm, bunyi seekor kuda. Kuda siapakah?”

“Kudaku, mengapa?”

“Sembunyi, masuk lagi kedalam semak-semak.”

“Hei, kisanak! Keluarlah! Aku tau engkau membawa seorang anak perempuan.

Lepaskanlah anak itu.” “Ah, apakah engkau yakin bahwa laki-laki yang bersama tuan putri itu adalah seorang penculik?”

“Iya! Aku yakin sebagaimana tadi, aku katakan aku yakin bahwa diantara mereka adalah tuan putri.”

“Aah, tapi kelihatannya yang bersama tuan putri adalah seorang bocah laki-laki yang bertubuh agak besar. Kukira dia bukanlah penculik.”

“Ah, kita lihat saja. Hei! Keluarlah, engkau penculik! Atau kami tidak akan mengampuni engkau! Hei, ayo keluarlah! Kami tau engkau menyembunyikan anak perempuan disemak-semak itu.”

“Marilah keluar, jangan takut. Kita tidak bersalah.”

“Jangan Kayan. Mereka adalah orang jahat. Mereka juga pasti akan menangkapmu. Kita lari saja, dengan kudamu itu. Aku takut sekali. Mereka adalah orang- orang jahat.”

“Ah, aku tidak takut. Aku sanggup menghadapi mereka. Marilah, kita keluar dari semak ini.”

“Jangan!”

Kayan menyeret Paramuditha keluar dari balik semak-semak. Dua orang prajurit istana Sunda yang melihat junjungan mereka keluar bersama seorang bocah laki-laki menjadi sangat terkejut.

“Heh, lihatlah kakang. Dia itu memang seorang bocah.”

“Ah, aku tidak peduli! Bocah itu harus aku tangkap dan kubawa menghadap sang Prabu.” prajurit itu berseru ke arah Paramuditha, “Jangan khawatir tuan putri, saya akan menangkap penculik itu dan membawanya kepada ayahanda tuan putri!”

“Tuan putri?!” Kayan Manggala tertegun.

“Kakang Kayan, kau harus menolong aku. Aku tidak mau dibawa oleh orang jahat itu. Dia bohong. Aku tidak mengenalnya, kakang Kayan. Ayo kita tinggalkan tempat ini dengan kudamu.”

Dua orang prajurit sunda itu tertegun, ketika melihat sikap Paramuditha yang seakan- akan tidak mengenalnya.

(20)

Pada kisah yang lalu diceritakan, Paramuditha yang melarikan diri dari keraton Sunda bertemu dengan Kayan Manggala di pinggiran hutan tak jauh dari kota raja. Tidak berapa lama, dua orang prajurit dari puluhan prajurit yang dikerahkan, berhasil menemukan Paramuditha bersama dengan Kayan. “Heh, lihatlah itu kakang. Tuan putri bersama dengan seorang bocah laki-laki.” “Ah, aku tidak peduli! Aku harus menangkapnya dan membawa kepada sang

Prabu. Biar sang Prabu yang menentukan hukumannya.” prajurit itu berseru ke arah Paramuditha, “Ah, jangan khawatir tuan putri, saya akan menangkap penculik itu!”

“Tuan putri?!” Kayan Manggala tertegun.

“Uh, jangan dengarkan mereka Kakang Kayan. Aku tidak mengenal mereka. Mereka adalah orang jahat itu. Kakang harus menolongku. Ayo kita tinggalkan tempat ini dengan kudamu.”

Dua orang prajurit sunda itu tertegun, ketika melihat sikap Paramuditha yang seakan- akan tidak mengenalnya.

“Haa?! Tuan putri?! Ini hamba, Rawung.”

“Aku tidak mengenalmu. Engkau pasti orang jahat. Ayo, ayo kakang Kayan. Kita pergi dari sini.”

Kayan tertegun menyaksikan keadaan yang aneh sekali. Melihat keadaan Kayan, Paramuditha segera saja mendekati si Tunggul yang tak berada jauh darinya, dan kemudian berusaha menaiki kuda yang tinggi itu. Si Tunggul meringkik keras.

“Awas! Jangan Tunggul!” “Kita harus pergi Kakang.” “Baiklah, naiklah! Hupp!”

“Hei, jangan pergi. Hiyyah… hiyyah.”

Si Tunggul meringkik keras. Dua ekor kuda yang mencoba menghadang berserabutan lari ketakutan mendengar perbawa dari ringkik si Tunggul. Dan seketika saja, Kayan Manggala dan Paramuditha telah melesat jauh meninggalkan dua orang prajurit yang melongo keheranan.

“Heh?! Kenapa jadi seperti itu tuan Putri?”

“Mungkin tuan putri telah ditenung oleh bocah laki-laki itu.”

“Ah, kau benar. Jika tidak, mana mungkin tuan putri jadi seperti itu. Ayo, mari kita laporkan hal ini pada Baginda atau Ki Pandu!”

“Ah! Kau bodoh! Kita justru akan mendapat hukuman!”

“Ah, karena tidak menolongnya?! Kita harus mengejarnya…” “Walah, walah,… ayo… kita harus mengejarnya.”

“Hah, kecepatan kuda bocah tadi, huah… sungguh luar biasa. Bayangannya saja, tidak kelihatan lagi.”

“Kita memang harus mengejarnya jika tidak ingin mendapatkan hukuman! Hiyyah!

Hiyyah!” “Nah, didepan kita ada sebuah desa. Desa Pancuran Bambu. Kita akan mencari pengawal desa, dan kita suruh mengabarkan tentang berita ini. Agar Ki Pandu memusatkan perhatiannya ke daerah sekitar sini.”

“Iya, kau benar Kakang. Lihat! Lihat itu di depan kita, ada prajurit kota. Cepat kita kejar Kakang, hiyaahh hiyaaahh!”

Dua orang prajurit itu membedol kudanya mengejar prajurit kota yang ada di mukanya. Beberapa saat setelah berhasil mengejarnya. Prajurit Rawung menyapa dengan sapaan khas prajurit sunda, kemudian dia menceritakan keadaan yang mereka hadapi dengan singkat. 

“Ya, kau lupakanlah dulu tugasmu. Ini adalah masalah keraton. Masalah keluarga baginda. Jumpai baginda di keraton. Jika tidak, kau dapat mencari Ki Pandu atau siapa saja. Beritahukan bahwa aku melihat tuan putri diculik oleh seorang bocah laki-laki berusia empat belas tahun. Dan dibawa menuju sekitar daerah ini. Nah, pergilah. Dan sampaikan berita ini!”

“Baik Kakang, saya pergi.”

“Marilah kita lanjutkan pencarian ini, Kakang.”

Kita alihkan perhatian kita pada kisah pelarian Kayan Manggala dan Paramuditha. “Kudamu larinya cepat sekali kakang Kayan! Aku suka sekali dengan kudamu.”

Kayan tidak menjawab, dia menarik bulu surai si Tunggul dan berseru menghentikan laju larinya si Tunggul. “Huuppp!!”

“Oh?! Mengapa berhenti kakang. Bagaimana jika mengejar kita. Aku tidak mau dibawa oleh orang-orang jahat itu. Kita pergi lebih jauh lagi!”

“Jangan khawatir, aku sudah mengubah arah lari kuda kita. Mereka tidak akan dapat menemukan kita.”

“Oh, benarkah demikian?”

“Iya,.. “singkat jawabnya, lalu sejenak Kayan terdiam sebelum melanjutkan ucapannya. “Ah, adik Dita…”

“Ehm, ya,.. kakang?!”

“Mengapa engkau lari dari rumahmu, dan benarkah engkau adalah tuan putri?” “Aku tidak mengenal mereka, Kakang. Jangan percaya ocehan orang-orang jahat itu.” “Baiklah, selamat tinggal. Kau turunlah. Aku akan melanjutkan perjalananku.” “Kakang?! Kakang akan meninggalkan aku?! Oh, jangan kakang Kayan!”

“Aku tidak bisa dan tidak mau mempunyai teman seorang pendusta! Turunlah.” Kayan Manggala kemudian menoleh kebelakang, lalu dengan cepat dia telah berhasil menurunkan tubuh Jaga Paramuditha dari punggung si Tunggul dengan lembut.

“Kau jahat! Kau jahat kakang Kayan!” protes Paramuditha sambil terisak. “Maaf, jika kau tidak mau berterus terang. Aku tidak mau berteman denganmu.

Tetapi jika kau mau berterus terang, aku mau berteman denganmu.” jawabnya datar.

“Baiklah, aku … aku sebenarnya bukan putra seorang petani. Aku adalah putra dari Prabu Purbaya.”

“Ahh!?”

“Aku lari dari istana, karena ayah menyuruh aku untuk meminta maaf dengan Penjol, anak laki-laki yang kurang ajar padaku.”

“Siapakah Penjol itu Ditha?”

“Aku tidak mengenalnya. Tetapi ketika aku sedang main keluar, si Penjol sangat kurang ajar padaku. Dia tidak mau menghormati aku. Ketika aku maki, dia menjewer telingaku. Lalu aku tekan jalan darahnya. Mungkin karena kesakitan, dia lalu menjambak rambutku. Aku tidak tahan sakit akibat jambakan rambutnya, karena itu lalu aku cengkram jalan darahnya hingga dia jatuh ke tanah.”

“Ah?! Celaka…!” Kayan Manggala terpana mendengar penuturan bocah di depannya. Dia sadar akan seperti apa keadaan si Penjol berdasarkan cerita tadi.

“Apa yang terjadi dengan anak itu?” “Menurut ayahanda, dia hampir saja tewas.”

“Syukurlah, jadi berhasil diselamatkan nyawanya.” Kayan merasa amat lega. “Kau harus kembali Ditha. Jangan buat cemas ayah dan ibumu.”

“Tapi, aku… aku tidak mau meminta maaf pada anak jelek itu.”

“Walaupun belum pernah berjumpa dengan ayahandamu, baginda Purbaya. Aku sudah mengetahui akan kebijaksanaan beliau. Kau harus mendengarkan kata-kata ayahandamu. Kau harus kembali, dan meminta maaf pada anak yang kau lukai itu. Ayahandamu benar. Temuilah anak itu.”

“Tapi, kakang akan menemaniku?!”

“Baik, aku akan menemanimu Ditha. Marilah kita kembali ke kota raja. Ayo, naiklah. Aku juga akan menemui ayahanda dan ibundamu.”

“Dan, setelah itu kakang jangan meninggalkan aku. Kakang akan terus berteman denganku kan?!”

“Kau adalah temanku. Ayo naiklah!” kata Kayan untuk meyakinkan Paramuditha. Lalu tangannya segera meraih lengan Paramuditha. Tak lama, keduanya telah berada di punggung si Tunggul yang dipacu Kayan menuju kota raja Sunda.

Kita tinggalkan dahulu Kayan Manggala bersama putri Jaga Paramuditha, yang tengah menuju kota raja untuk menemui anak laki-laki yang menjadi korban putri dari keraton Sunda itu. Sekarang marilah kita kembali mengikuti kisah dari Anting Wulan dan Raden Saka Palwaguna.

“Nyai, nyai!” seorang kakek membuka pintu gubuk. “Ki Ambu,” sapa Raden Saka. “Oh, siapakah engkau? Mengapa engkau berada di rumahku?” kakek itu terkejut, dengan sigap diloloskannya golok yang sedari tadi di tenteng-tentengnya.

“Hm, sarungkan kembali golok Aki. Saya adalah seorang pengembara yang sangat membutuhkan pertolongan. Dan Nyai Imun telah membantu saya.”

“Hah! Penipu! Engkau laki-laki gagah dan sehat membutuhkan pertolongan?!” “Maaf Ki Ambu. Bukan saya yang membutuhkan pertolongan, tapi istri saya yang

dalam keadaan sakit. Itu…” Raden Saka menoleh ke arah balai-balai kayu yang tampak sudah usang. Anting Wulan tampak berbaring di sana. “Dia kini tengah tertidur.”

“Hei, dimanakah kini istriku?”

“Dia akan memetik rebung serta mengambil daun-daunan untuk ramuan penurun panas istriku.”

“Hei, kau sudah kembali Ki?”

“Heeh, Nyai engkau tidak memberi tahu aku akan kedatangan dua tamu ini.” “Istri dari tuan Saka, tamu kita itu dalam keadaan panas yang tinggi, Ki.” “Eh…”

“Bawa paka ini. Walah, kau tinggalkan bubur itu tuan Saka? Hmm?! Cepat, kecilkan apinya dan angkat buburnya dari perapian.”

“Ohoh, maaf Nyai.” Saka Palwaguna bergegas ke arah perapian. Melihat hal tersebut, Ki Ambu menggamit istrinya. Lalu dia bertanya pada istrinya.

“Heh, Nyai! Sebenarnya siapa mereka itu?”

“Mana aku tahu Ki, tetapi mereka adalah orang baik-baik. Jadi aku menolongnya.” “Aaah, kau tahu dari mana mereka adalah orang baik-baik?”

“Dari pancaran wajahnya, Ki.”

Perbincangan kedua suami istri itu terhenti manakala terdengar suara keluhan Anting Wulan yang sudah mulai siuman. Tangannya memegang kepalanya. Anting Wulan masih tetap berbaring di balai-balai itu.

“Tuan, tuan Saka… Istri tuan…”

“Ya, Nyai?! Oh, dia sadar!” seru Raden Saka Palwaguna dengan gembira.

“Dimanakah aku berada? Siapakah engkau?”

“Ini aku, suamimu, Saka. Kita berada di pondokan Ki Ambu dan Nyai Imun.” “Kayan… Kayan putraku…” Anting Wulan tiba-tiba terisak.

“Percayalah dinda Wulan, Kayan menghendaki kita bersama lagi. Marilah kita bersama-sama mencari anak kita.”

“Heh, Ki. Marilah kita keluar sebentar…” “Ada apa?”

“Keluar…” Nyi Imun setengah mendorong suaminya. “Eeh, mengapa kau mengajak aku keluar Nyai? Ada apa?”

“Heh, tulikah engkau Ki? Mereka agaknya mempunyai urusan keluarga yang rumit. Mereka akan segan untuk berbicara dengan adanya kita disana, Ki. Dan kita harus memberikan kesempatan kepada mereka untuk bicara. Kau bisa duduk saja di balai kecil itu.”

“Iiihh, Nyai ini ada-ada saja. Huuh!”

“Kesalahanku sudah terlalu jauh, Kanda. Rasanya aku sudah tidak mungkin bersama Kanda lagi. Namaku sudah menjadi aib. Jangan rusakkan nama Kanda…” kata- kata Anting Wulan terhenti dalam isaknya. Mulutnya dibekap dengan lembut oleh suaminya.

“Dinda Wulan, jangan kau berpikiran seperti itu lagi. Lelah sudah aku mengulangi kata-kata itu. Dinda, aku tidak perduli dengan semua masa lalu. Kita akan melupakannya. Kita akan membangun kembali keluarga kita. Mataram telah menantikan kita. Ayolah dinda…” Raden Saka Palwaguna membelai rambut istrinya terus menerus. Dan tiada henti dia merayu, membujuk. Sampai akhirnya…

“Tapi Kanda, aku… aku malu Kanda. Aku malu pada dirimu. Dan juga aku malu pada diriku sendiri. Tiga belas tahun dinda tinggalkan Kanda. Tiga belas tahun dinda membenci Kanda. Tetapi tiga belas tahun pula rindu dan cinta didalam diri Dinda ini bergemuruh. Wajah Kanda tidak dapat dinda lupakan…”

“Oh, Dinda Wulan… Istriku tersayang.” Raden Saka Palwaguna tidak dapat lagi menahan luapan gemuruh rindunya. Dia kembali memeluk tubuh istrinya. Dibelainya rambut panjang yang menutupi sebagian wajah istrinya. Diciuminya wajah yang dipenuhi air mata.

“Oh, kanda… Kanda Saka!” kembali meledak isak Anting Wulan di pelukan suaminya. Betapa kerinduannya selama ini membuncah pada hari itu. Kebenciannya pada suaminya menguap tanpa bekas sama sekali.

“Dinda… Dinda Wulan.” Saka Palwaguna merasakan keharuan yang teramat sangat. Hatinya amat gembira mendapatkan kembali hati istrinya saat itu. Diciuminya leher istrinya dari belakang. Lengannya memeluk pinggang istrinya.

“Oh, sudah… sudah. Lepaskanlah Kanda,…” tiba-tiba Anting Wulan merasa malu. “Dinda, dinda Wulan…?!” ucap Saka bagai tak ingin berpisah.

“Kita berada di pondokan orang. Kita harus pergi mencari anak kita Kanda.”

“Iya,…” Saka Palwaguna sedikit tertegun menyadari hal itu, dia kemudian berkata lagi, “Tetapi Dinda harus mengembalikan kesehatan Dinda terlebih dahulu.” Raden Saka Palwaguna memindahkan dekapan tangannya, tangan itu kini meraba leher istrinya. “Oh, panas tubuh Dinda… Oh, panas tubuhmu sudah jauh berkurang. Hei, rasanya telah hilang sama sekali Dinda. Kau telah sembuh Dinda.”

“Heheheheh,” tiba-tiba suara parau Nyai Imun yang tertawa terkekeh memotong kemesraan mereka.

““Nyai?!” sedikit terkesiap Saka Palwaguna menyapanya.

“Eeh, Tuan. Ini aku membawakan bubur hangat untuk istrimu.” “Terima kasih Nyai. Wulan, inilah Nyai Imun yang telah menolongmu.”

“Terima kasih Nyai. Terima kasih atas segala susah payah Nyai menyelamatkan nyawa saya.” Anting Wulan turun dari balai-balai lalu menjura menghaturkan salam.

Sementara itu di luar pondokan itu terdengar gemuruh kaki kuda mendekat. Tak lama Ki Ambu tampak masuk ke dalam pondokan itu.

“Eh, Tuan… tuan… Ada lima orang prajurit menuju kemari.” Ki Ambu berkata pada Saka Palwaguna. Dari suaranya tampak nada kecemasan. Nyai Imun, istrinya melihat kecemasan suaminya itu. Ki Ambu tampak begitu gelisah, begitupun dengan istrinya.