Babad Tanah Leluhur Jilid 04

Jilid 04

Di sana-sini tampak berbagai hiburan tradisional di gelar. Ya pesta besar, pesta agung dari baginda Purbaya dan Cempaka tengah berlangsung. Semakin menuju kota raja semakin ramai,dan akhir dari puncak keramaian itu di sekitar kota raja. Berbagai kesenian tradisional di gelar untuk menghibur rakyat. Di dalam kota raja tampak puluhan ekor sapi di sediakan untuk memberi makan para tamu undangan dan rakyat yang datang secara berbondong-bondong.

Sementara itu di istana, Prabu Purbaya menerima raja-raja bawahannya pada jam-jam yang khusus. Selain raja bawahannya yang datang, ada juga yang berasal dari luar tanah Pasundan. Prabu Purbaya mendapatkan ucapan selamat dari para kerabatnya. Di pendopo Agung tampak para pejabat istana dan keluarganya tengah berkumpul. Tidak ketinggalan juga rakyat kota raja Karang Sedana, mereka ingin mengucapakan selamat pada junjungan mereka Prabu Purbaya.

Dan ketika malam ke tujuh dari pesta perkawinan itu, suasana menjadi lain. Tak ada lagi gelak tawa, tak ada canda ria, suasana kota raja sunyi dan hening. Dan di halaman Istana tampak dua belas orang Wiku yang tengah membaca doa-doa keselamatan.

Dari dalam Istana terdengar bendi di pukul, Prabu Purbaya yang sedang bersanding di atas pelaminan dimohon turun oleh pemimpin upacara. Prabu Purbaya berjalan di sampingnya berjalan Cempaka. Dan di belakang mereka belasan orang pendeta berjalan sambil mengumandangkan puja-puji dan doa-doa bagi keselamatan duaniawi. Setelah berada di halaman Istana Prabu Purbaya diminta seorang diri untuk masuk ke tengah- tengah lingkaran dua belas wiku. Prabu Purbaya pun masuk dan duduk di antara dua belas orang wiku yang duduk melingkarinya. Sementara itu ke lima raja bawahan dari Prabu Purbaya menaburkan bunga-bunga di luar lingkaran tersebut. Setelah itu secara bersama-sama mereka semua masuk ke tengah-tengah lingkaran sambil membawa beberapa buah senjata ke hadapan Prabu Purbaya. Setelah itu ke limanya kembali ke luar dari lingkaran wiku itu.

Prabu Purbaya yang masih berada di dalam lingkaran itu, bangkit dari duduk nya lalu mengambil salah satu senjata di antara senjata-senjata itu.Di genggamnya senjata itu, lalu dengan wajah mendongak ke atas Prabu purbaya mengucapkan janjinya dengan mantap dan lantang.

“Dengan dipersaksikan oleh Hyang Agung,… di hadapan para pandita dan segenap rakyat Karang Sedana yang hadir di sini, saya Purbaya,… putra Prabu Aji Konda menerima pengangkatanku sebagai Maharaja Karang Sedana yang membawahi lima kerajaan sekitarnya dengan gelar Abiseka Sang Maharaja Sri Jayabhupati Jaya Manahen Wisnu Murti Samara Ri Wijaya Salaka Bhuana Mandala Isywara Nindita Harogo Wardhana Wikrama Tungga Dewa.” Ucap raden Purbaya yang langsung disambut riuh rendah puja puji dari mereka yang hadir di situ. “Pedang, tombak, trisula, bukanlah jalan yang bijaksana untuk menyelesaikan sebuah masalah. Tajamnya senjata bukanlah jalan bijaksana untuk menyelesaikan masalah. Wahai Para Dewa aku berjanji akan membentuk kedamaian tanpa tajamnya senjata, tanpa cucuran darah, tanpa sifat angkara...” kembali prabu Purbaya berkata lantang dan mantap.

Lalu di patahkannya pedang itu menjadi dua bagian, bersamaan dengan itu di angkasa tiba-tiba terdengar suara guntur dan halilintar menyambar-nyambar seakan-akan ikut menjadi saksi akan janji Baginda Purbaya. Semua yang hadir terkejut untuk sesaat semua terdiam tak ada yang mengeluarkan suara.

“Oh lihat kakang Giri Wesi! Guntur dan halilintar itu, ini bukan hanya sekedar mimpi, ini kenyataan. Guntur dan halilintar itu, ini kenyataan kakang...” kata seorang punggawa pada lelaki di sampingnya, sementara yang di ajak bicara hanya menganggukan kepala.

“Sungguh tepat pilihan kita...! Hidup Prabu Purbaya...! Hidup Sang Raja Surya..! Hidup Prabu Purbaya Sang Raja Surya...!!” teriak orang itu lagi berseru-seru, yang kemudian di ikuti yang lain.

“Hidup Sang Raja Surya Prabu Purbaya...! Hidup Sang Raja Surya Prabu Purbaya..!” teriak orang-orang ramai membahana. Suasana istana menjadi ramai oleh teriakan para tamu undangan yang hadir dan menyaksikan jalannya upacara tersebut.

“Kanda Purbaya. Dinda merasakan darah dinda seakan-akan berhenti mengalir mendengar janji Kanda. Akan membentuk kedamaian tanpa tajamnya senjata, tanpa cucuran darah, tanpa sifat angkara. Apakah itu mungkin, kanda Purbaya?” Cempaka menggamit lengan suaminya, sambil berbisik lirih Cempaka bertanya.

“Entahlah, dinda. Kanda juga tidak tahu, tapi kanda akan mencobanya!” prabu Purbaya menjawab mantap.

“Memberantas angkara murka tanpa tajamnya senjata, tanpa cucuran darah.

Apakah itu semua mungkin, kanda?” tanya Cempaka lagi.

“Entahlah dinda, gelar yang dibebankan oleh Prabu dari lima negara kepada Kanda sangatlah berat. Tapi entah mengapa itu semua justru membuat kanda penasaran. Dinda akan mencoba itu semua bukan?” kata Prabu Purbaya. “Ooh, kanda Purbaya benar-benar manusia utama, dinda akan melayani kanda sepanjang hidup dengan kepasrahan seorang hamba,…” Cempaka berkata kagum.

“Dan juga dengan kasih seorang istri yang sangat kanda cintai,“ potong Prabu Purbaya.

“Oooh kanda Purbaya,...” kata Cempaka.

Malam itu adalah malam terakhir dari pernikahan mereka, sekaligus merupakan malam pertama bagi mereka setelah syah menjadi suami istri.

Ketika tengah malam saat mereka sedang tertidur lelap

“Masa penantian kita telah tiba Kanda. Mulai malam ini kita dapat meneruskan cinta kita yang tak akan pernah padam, kanda Wisnu,” kata sebuah suara wanita.

“Ucapkanlah puji syukur kepada Dewata Agung yang telah mempertemukan kembali kita dinda Pohaci. Dan juga kepada mereka sepasang remaja Purbaya dan Cempaka,” kata suara laki-laki, yang ternyata mereka adalah Dewa Wisnu dan istrinya Dewi Pohaci. Keduanya hadir dan menampakkan diri dalam mimpi Purbaya dan Cempaka.

“Oh jadi, engkau adalah Dewi Pohaci yang merupakan lambang cinta dengan suami mu Dewa Wisnu...? “ tanya Cempaka hampir tak percaya.

“Benar Cempaka. Malam ini kalian berdua telah syah menjadi suami istri, dengan begitu semua kekuatanku telah menyatu dengan dirimu dengan senyatanya. Begitu pula denganmu Purbaya, kekuatan kanda Wisnu ada padamu dengan senyatanya, “ kata Dewi Pohaci.

“Dan itu berarti semua kekuatan yang ada pada kami, mulai malam ini menjadi milik kalian dengan senyatanya. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih pada kalian,” kata Dewa Wisnu. Lalu kedua kekuatan itu menghilang dari hadapan Purbaya dan Cempaka. Ketika pagi telah tiba Purbaya dan Cempaka terbangun, mereka saling pandang dan tersenyum bahagia. Tetapi ketika mereka ingat akan mimpi itu.

“Dinda Cempaka, apakah tadi malam kau bermimpi bertemu dengan mereka berdua? “tanya Purbaya.

“Benar kanda, dinda juga bermimpi demikian. Oh ayo kanda, kita berkemas- kemas, dinda akan mengajak kanda untuk membuktikannya...!” kata Cempaka, lalu dengan terburu-buru ia turun dari pembaringan. Setelah semua selesai Purbaya juga telah siap dengan pakaian keprabuannya. “Ooh kanda, pakailah pakaian yang lebih ringkas...!” kata Cempaka. “Untuk apakah itu semua dinda...?” tanya Purbaya.

“Dinda akan mengajak kanda untuk membuktikan kata-kata mereka, dan ingin mengetahui sampai sejauh mana kekuatan itu kita miliki,” Jawab Cempaka.

“Untuk apa dinda membuktikan itu semua? Kanda yakin apa yang mereka katakan benar. Tetaplah tinggal di istana ini, dinda tentu lelah setelah disiksa dengan berbagai upacara adat, serta menerima ucapan selamat dari para tamu yang tak ada habis- habisnya,” kata Purbaya.

“Tapi kanda, dinda ingin sekali...”

“Ya baiklah. Kanda tidak baik menghalangi keinginan dinda yang baru saja menjadi pengantin baru,“ kata Purbaya mengalah lalu bangkit dari duduknya. “Ayolah..! Kita berangkat naik kereta saja, dan biarlah Kanda memakai baju ini supaya para pejabat dalam istana ini tidak bertanya-tanya kenapa kita pergi hanya berdua saja,” kata Purbaya.

Cempaka tersenyum dan mengangguk senang lalu ia mengikuti suaminya yang telah lebih dulu ke luar dari bilik.

Lalu dengan sebuah kereta kerajaan yang indah mereka pergi menuju ke sebuah hutan yang tak jauh dari kota raja. Setelah sampai di tempat yang sepi Prabu Purbaya turun dari kereta dengan istrinya Cempaka.

Setelah memberitahu kusir kereta agar menunggu, mereka segera masuk ke dalam hutan. “Kita masuk lebih jauh ke dalam lagi...!” kata purbaya.

“Baiklah kanda, dinda sudah tidak sabar lagi,...“ kata Cempaka. Lalu dengan bergegas ia mendahului suaminya Prabu Purbaya. Setelah di rasanya sudah cukup jauh dari kereta, Cempaka berdiri dan telah siap memasang kuda-kuda, Prabu Purbaya yang melihat ulah istrinya hanya bisa menghela napas dan menggelengkan kepalanya.

“Sudahlah Cempaka! Tidak ada artinya kau terlalu memaksakan diri untuk membuktikannya. Dan lagi ilmu yang kau punya sudah cukup hebat,…” kata Purbaya sambil tersenyum geli. Geli melihat kelakuan istrinya yang seperti anak kecil mendapatkan mainan baru.

“Ya dan juga mempunyai suami yang hebat. Tapi kanda, dinda ingin sekali mengetahui sampai sejauh mana kehebatan dari kekuatan suci yang sangat ditakuti Prabu Sora dan resi Amistha,...” kata Cempaka merajuk. “Kalau begitu,silakan dinda saja yang mencobanya,” kata Purbaya sungkan. “Baiklah, kanda Purbaya,” kata Cempaka.

Lalu Cempaka memainkan semua aji-aji simpanannya, tapi dia tak merasakan adanya kekuatan lain, kekuatan yang membantu gerakkannya.

“Bagaimana dinda...?” tanya Purbaya yang sejak dari tadi hanya menonton, saat istrinya telah selesai.

“Tidak ada kanda. Ah, sudahlah. Agaknya mimpi tadi malam hanya sekedar mimpi,…“ jawab Cempaka kecewa.

“Tidak dinda. Kanda yakin apa yang dikatakan mereka benar, tetapi yang perlu dinda ketahui adalah bahwa kekuatan itu bukanlah milik kita. Melainkan milik mereka. Kita tak dapat memakai kekuatan itu secara sembarangan. Berbeda dengan kujang Cakra Buana, kujang pusaka itu telah menjadi milik kita berdua dinda...” kata Purbaya.

“Apakah dinda kecewa...?” tanya Purbaya lagi saat melihat istrinya itu mendesah dan menghela napas berat.

“Tidak kanda. Dinda sama sekali tidak kecewa. Kanda benar. Yang sebaiknya kita lakukan sekarang adalah menikmati hari-hari bahagia kita. Marilah kanda, kita kembali ke keraton...!” kata Cempaka.

“Marilah dinda Cempaka,...!” kata Purbaya.

Dengan kereta milik kerajaan mereka pun kembali ke keraton karang Sedana. 26. LAYU YANG TERKEMBANG 27. PERGURUAN KEMBANG HITAM 28. KABUT GUNUNG SALAK 29. REINKARNASI 30. BAYANG BAYANG ANGKARA 31. MENDUNG DI PAGI HARI 32. PERGURUAN TONGKAT MERAH 33. KEMELUT DESA TAMYANG 34. GEMURUH DENDAM GEMURUH RINDU

(11)

Pada kisah yang lalu diceritakan, Kayan Manggala dan ibunya, Anting Wulan telah tiba kembali di kota Rupada yang pada saat itu telah ditinggalkan oleh prabu Sora dan Lastri. Setiba di markas Tongkat Merah, Kayan menjadi tersentuh hatinya melihat markas pengemis Tongkat Merah yang menjadi tanggung jawabnya telah porak poranda. Pada saat kemarahannya timbul, tiba-tiba-tiba telinganya mendengar suara langkah banyak orang di sekelilingnya. Kayan yang menduga mereka adalah orang-orang jahat yang telah menghancurkan pondok utama perguruan pengemis segera saja melenting ke belakang sambil mengayunkan tongkat pusaka di tangannya.

“Mampus kau orang-orang jahat!”

“Ah.. ah.. ah.., Jangan tuan muda,...aah!! Semua ini adalah teman sendiri tuan muda.”

“Ah?!, paman Camar Sulung?” “Iya, benar tuan muda.”

“Tapi, mengapa... mengapa paman...?!”

“Kami sengaja melepaskan pakaian pengemis, demi keamanan. Karena kami yakin akan datangnya pembalasan dari siluman ular jahat itu bersama dengan Prabu Sora.”

“Eh maafkan saya. Eh, bagaimanakah luka orang yang terkena pukulanku tadi paman?”

“Ibu sudah memeriksanya Kayan. Dia tidak apa-apa. Setelah beristirahat beberapa saat tentu lukanya akan pulih kembali.”

“Apa yang sebenarnya terjadi di tempat ini paman? Mengapa markas perguruan menjadi seperti ini”

“Lastri datang kemari menghancur leburkan pondok markas kita. Bahkan matanya yang tajam berhasil menangkap anggota Tongkat Merah yang mencurigakan nya dan membuatnya cacat kaki.”

“Lalu dimanakah sekarang wanita itu paman?”

“Kami tidak berani mencegahnya bahkan eh... menemuinya pun kami tidak berani, siluman itu telah pergi menuju ke arah selatan. Tetapi kami yakin dia akan kembali lagi. Nyai bisa menunggunya. Mungkin sebentar lagi atau besok ia bersama dengan prabu Sora akan kembali lagi.” “Kita akan menunggunya disini, Bu” “Ya, kita akan menunggunya.”

“Eh, Marilah ikut kami Nyai. Kami mempunyai tempat yang tidak terlalu baik dan juga tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk beristirahat saat ini. Mari,.. marilah Nyai, tuan muda mari...”

Beberapa saat kemudian, di tempat lain.

“Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu dengan adik Wulan”

“Wulan memiliki kepandaian yang sangat hebat kanda Seta, aku kira dia akan mampu menghadapi Lastri.”

“Aku mengkhawatirkannya dinda, heh... tetapi mudah-mudahan saja dugaanmu benar.”

“Kita telah sampai, itu gerbang kota Rupada sudah nampak jelas dari sini. Hiyyah.. hiyyah.. hiyyah!” seru Seta Keling sambil terus memacu kudanya.

Sariti memandang arah yang ditunjukkan oleh Seta Keling, akan tetapi kemudian keningnya mengernyit curiga. Tampak olehnya dua orang wanita tengah duduk-duduk dibawah pepohonan, tidak jauh dari gerbang kota Rupada. Sariti merasa pernah melihat kedua wanita tersebut.

“Lihatlah itu kanda, dua orang wanita itu sangat mencurigakanku. Hupp!” Sariti menghentikan laju kudanya.

“Ooop!!” Seta Keling pun turut menghentikan kudanya. Kemudian menjejerkan kudanya seiring Sariti.

“Itu, lihatlah disana. Di bawah pohon itu. Kita lihat ke sana Kanda!” Sariti menghela kudanya kembali ke arah pepohonan yang ditunjuknya. Tanpa mengulur waktu, Seta segera mengikuti kemana Sariti menghela kudanya. “Hup! Hiyyah hiyyahh!”

“Oh rupanya engkau,.. aku mengenalmu wahai wanita siluman”

“Hik hik hik. Bagus jika engkau mengenalku dan engkau berdua mau datang menemui kami disini he he he he... Hingga kami tidak perlu mencari-carimu. Bukankah engkau Sariti?! Menyerahlah!! Pimpinan kami memerlukan engkau.”

“Heh... Engkau tau apa yang terjadi dengan 2 orang temanmu? Dua orang temanmu tanpa kehadiran gurumu Lastri, hemm? Mari kakang, kita lumpuhkan mereka!”

“Laki-laki itu bagianku, Ningrum.” perempuan dibelakang langsung meloncat menghadapi Seta Keling. Tanpa banyak bicara lagi, dia langsung menyerang Seta dengan ganas. Empat pukulan beruntun segera dilancarkan. Tetapi tentu Seta Keling bukanlah pendekar kemarin sore. Mudah saja baginya untuk mengelak dari serangan tersebut tanpa perlu memapakinya.

“Marilah Sariti, akan aku lihat sampai mana kehebatanmu.”

Hanya dalam beberapa saat saja, Sariti bahkan Seta Keling sudah berhasil mendesak dua murid Lastri. Tetapi sesaat kemudian, setelah keduanya menerapkan aji Cengkar Bala, keadaan menjadi lebih baik untuk mereka.

“Aku akan mempercepat akhir dari pertempuran ini. Aku khawatir akan terjadi sesuatu dengan dinda Sariti. Aku akan menggunakan Kincir Metu tingkat terakhir.” pikir Seta Keling yang melihat Sariti tampak kerepotan menghadapi Ningrum.

“Ooh, Laki-laki lawanku ini kepandaiannya sangat hebat sekali. Aku akan kerepotan sekali menghadapinya, menghadapi ilmu yang akan dikerahkannya ini.”

Sariti kerepotan menghadapi serangan-serangan Ningrum. Sementara Ajeng justru terdesak hebat oleh serangan-serangan Kincir Metu tingkat sepuluh oleh Seta Keling. Pada pertempuran ada pada saat-saat yang menentukan...

“Kakang Seta, Sariti,... Hentikan! Mereka adalah urusanku!” terdengar seruan seorang wanita. Wanita itu adalah Anting Wulan.

“Ohh, Wulan. Huppp!!” Sariti berseru gembira, kemudian melenting menjaga jarak dengan Ningrum.

“Terima kasih kakang Seta, Sariti. Biarlah aku yang akan mengurus mereka. Jangan khawatirkan aku. Aku memang yang bertanggung jawab atas semua perbuatan mereka.” Anting Wulan melenggang ke arena pertempuran.

Anting Wulan kemudian melangkah mendekati Ningrum dan Ajeng. Dua orang wanita yang semula adalah muridnya memandang lekat padanya. Tetapi terlihat tubuhnya begitu hebat bergetar.

“Apa sebenarnya yang akan kalian lakukan di tempat ini Ajeng, Ningrum?!” sapa Anting Wulan dengan tegas.

“Eh.. kami... kami...” Ningrum tergagap menjawab sapaan Anting Wulan. Tubuhnya terasa lemas. Tak terasa Ningrum dan Ajeng berlutut dihadapan Anting Wulan. Keduanya tertunduk. Menghadapi itu, mau tak mau Anting Wulan terharu juga.

“Mungkin aku salah. Aku telah membentuk kalian menjadi harimau-harimau betina. Oh aku bersalah. Kalian telah semakin jauh. Semakin jauh tersesat...” dalam benaknya, Anting Wulan merasakan sebuah penyesalan yang mendalam setelah melihat kedua muridnya yang secara perlahan mulai berubah kembali dari bentuk persekutuan akibat penerapan aji Cengkar Bala.

“Eh,.. Nyai. Kami... Kami sudah sangat rindu pada Nyai.” berkata Ajeng.

“Iya, Nyai. Rindu sekali. Rindu dengan senyuman dan kelembutan Nyai. Tapi sekaligus rindu pada bentakan-bentakan Nyai. Oh.. Nyai yang telah membentuk kami seperti ini, Nyai” timpal Ningrum.

“Bangkitlah... Hayooo, jangan berlutut seperti itu. Ayo Ningrum, Ajeng.” “Ketahuilah Nyai, kami semua murid-murid Nyai merindukan kehadiran Nyai.

Tetapi emm.. Eh..”

“Tetapi apa? Lasti menghalangi kalian?!”

“Eh.. emm.. Mbak Yu Lastri telah menanamkan kebencian didalam diri kami kepada Nyai. Tetapi secara diam-diam kami semua masih tetap setia kepada Nyai.” Ningrum mulai terisak. Dia jadi teringat teman-teman seperguruan Kembang Hitam saat mengucapkan kata-kata kami semua.

“Lalu, dimana kawan-kawan kalian yang lain? Mengapa jumlah kalian kulihat hanya separuh saja, bahkan mungkin tidak sampai separuh...”

“Nyai, maafkan kami Nyai... “ terisak Ajeng meratap menjawab pertanyaan Anting Wulan tentang murid-murid perguruan Kembang Hitam.

“Hei?! Apa yang telah terjadi?!” Anting Wulan merasa amat keheranan. “Mereka, ... mereka semua telah mati.”

“Oh? Mati?! Siapa yang telah membunuh mereka? Kejahatan apa yang telah kalian lakukan, sehingga ada orang yang membasmi kawan-kawan kalian?!?” Anting Wulan makin tak mengerti.

“Kamilah yang telah membunuh mereka, Nyai...”

Terkesiap. Lemas tubuh Anting Wulan mendengar jawaban itu. Urat lehernya menegang. “Gila!.. Kegilaan apa yang telah terjadi di dalam kelompok Kembang Hitam?!”

‘’Untuk melaksanakan rencananya, mbakyu memerintahkan kami membunuh sebagian teman-teman kami yang tidak berhasil menguasai ilmu Cengkar Bala.”

“Cengkar Bala?!”

“Iya. Cengkar Bala adalah sejenis ilmu merubah bentuk. Ilmu persekutuan dengan siluman Ular.”

“Gila, kalian benar-benar sudah jauh sekali tersesat. Jauh sekali!” cela Anting Wulan dengan perasaan teraduk-aduk. “Maafkan kami semua Nyai. Kami semua ingin sekali kembali kepada Nyai” “Tapi, kami tidak berani...”

“Iya, Nyai... mbakyu Lastri terlalu telengas sekali sikapnya.”

“Haah... biarlah aku nanti yang menghadapinya. Ini semua pasti karena pengaruh dari siluman jahat itu. Pengaruh dari nenek Ranggis. Dimana sekarang Lastri berada?!”

“Mbakyu Lastri tengah berusaha mencari Nyai, untuk mengambil Kayan” “Ha? Apa lagi yang dikehendakinya dari putraku?”

“Perguruan Tongkat Merah...Nyai”

“Perguruan Tongkat Merah?! Apa maksudmu?!”

“Ditangan Kayan terdapat kekuasaan yang sangat besar yang dibutuhkan oleh mbakyu Lastri guna melaksanakan cita-citanya, Nyai... Tongkat pusaka ditangannya sangat dibutuhkan mbakyu Lastri”

“Tetapi, apakah engkau tidak mengetahui secara pasti, dimana beradanya Lastri?” tanya Anting Wulan.

“Eeh, tidak Nyai. Saya hanya mendengar Nyai bersama dengan Prabu Sora akan mengelilingi desa-desa disekeliling kota Rupada ini. Sedangkan kawan-kawan yang lain di beberapa tempat wilayah kota Rupada.”

“Aku akan mencarinya.” Anting Wulan bergumam tegas. Lalu dia menoleh ke arah Kayan Manggala dan berkata “Eh,... Kau, maukah kau tinggal di kota ini bersama dengan pamanmu Seta Keling dan juga bibi Sariti?”

“Eh, kami semua seluruh Tongkat Merah cabang kota Rupada ini akan menjaganya dengan sebaik-baiknya. Percayakanlah Tuan Muda pada kami semua.” berkata ki Camar Sulung seakan meyakinkan Anting Wulan bahwa keamanan Kayan Manggala selaku pimpinan Tongkat Merah ada dalam urusan hidup dan mati bagi kelompok Tongkat Merah.

“Tidak Bu! Aku akan tetap bersama Ibu. Aku akan tetap disamping Ibu.”

“Ahh, baiklah... baiklah. Mari kita pergi. Naiklah Kayan!” sejenak Anting Wulan tergagap, karena Kayan Manggala berkeras mengikutinya. Naluri keibuannya berharap putranya itu mau menunggunya bersama Seta dan Sariti. Jauh dari pertempuran yang akan dihadapinya. Jauh dari marabahaya. Tapi dia tahu, putranya itu mewarisi kekerasan hatinya.

“Hupp!” dengan tangkas Kayan Manggala meloncat dan pantatnya langsung bertengger di punggung kuda yang ditunggangi Anting Wulan. Kuda itu meringkik.

Tanpa membuang waktu lagi Anting Wulan berpamitan pada kakak seperguruannya itu. “Aku pergi kakang.” “Ya, tetapi segeralah kembali. Dan ingat-ingat harapanku Anting.” “Ee..eh.. Aku pergi kakang.”

“Mari kita ikuti nyai Kembang Hitam, Ajeng...”

“Oh, kau membiarkannya saja kanda Seta? Kau tak mengejarnya untuk membantunya seperti yang tadi kanda lakukan?”

“Tidak dinda Sariti, aku kini menjadi sangat yakin dengan kemampuannya. Ya, tiga belas tahun yang lalu Kincir Metu tingkat sepuluh yang menjadi andalanku tidak mampu menghadapi Banyu Chakra Bhuana-nya. Dan kini, aku yakin kehebatannya menjadi semakin susah untuk diukur. Bentakannya yang halus, yang meminta aku untuk menghentikan pertempuran tadi membuat sebagian tenagaku tertahan. Sehingga lawanku yang hampir kujatuhkan menjadi selamat.”

“Oh, sehebat itukah kepandaian Wulan adikmu?”

“Ya, marilah kita masuk saja ke kota Rupada. Lihatlah, paman Camar Sulung dan temannya yang lain telah siap untuk kembali.”

“Yah, kita berdo’a saja semoga Wulan akan dapat memberikan hajaran pada Lastri. Siluman ular jahat itu.”

Sementara itu, di sebuah pinggiran hutan yang jauh dari kota Rupada, prabu Purbaya dan permaisurinya Cempaka sedang tenggelam dalam semedinya. Sementara hari telah menjelang senja.

“Hoaahmm, dinda Cempaka...” Prabu Purbaya membuka matanya, lalu berusaha mengusir penat ditubuhnya dengan sedikit menguap.

“Ooh Kanda, kanda sudah tersadar?!”

“Iya, baru saja Dinda. Dinda bagaimana, apakah dinda mendapat petunjuk?”

“Oh tidak Kanda. Dinda tidak mendapat petunjuk dimana arah Lastri berada.” Cempaka mendesah. “Oh, tetapi wajahnya... Wajah seorang wanita terbayang di dalam batin Dinda. Bagaimana dengan Kanda sendiri?”

“Iya, Kanda pun demikian. Dan ketahuilah dinda, wanita itu adalah wanita yang tengah kita cari. Dialah siluman jahat itu. Kita harus melanjutkan semedi kita. Kita akan mencoba memanggilnya.”

“Memanggilnya?”

“Iya, kita akan mencoba mengerahkan kekuatan yang ada pada diri kita. Kita akan mencoba memanggil wanita itu. Kekuatan agung pasti akan membantu kita. Percayalah! Mari...” “Baiklah Kanda,... hhuup!!” sambil tersenyum Cempaka menuruti suaminya yang telah lebih dahulu memejamkan mata dan menghirup udara sekuat-kuatnya. Udara yang memenuhi paru-paru mereka ditahankan lalu dikeluarkan secara perlahan.

Kedua manusia utama dari tanah Pasundan itu kemudian mengerahkan segenap kekuatannya. Bayangan dari Lastri mulai dipatrikan dalam ingatannya.

Waktu terus berjalan. Senja yang menguasai jagad raya menyerahkan kekuasaanya pada sang dewa Malam. Dan jagad raya pun menjadi gulita. Akan tetapi saat itu, sang dewa malam yang mampu membungkus dunia dengan kegelapannya tidak mampu membungkus tubuh kedua manusia utama itu, bahkan suasana disekitar mereka.

Hal itu terjadi, adalah karena munculnya cahaya dari dalam tubuh mereka. Tubuh prabu Purbaya dan Cempaka. Cahaya terang yang gemilang membias menembus gelapnya malam!

(12)

Pada kisah yang lalu diceritakan, Prabu Purbaya yang tengah bersemedi memohon petunjuk dari sesembahannya sang Hyang Wisnu dan mendapat semacam isyarat yaitu untuk memanggil Lastri dengan segala kekuatannya.

Sementara itu di tempat lain yang jauh dari prabu Purbaya dan Cempaka...

“Hhh... Ahh... Eeh… uhh... Ooh...” suara seorang perempuan mengeluh. “Heeh? Ada apa Nyai? Apa yang terjadi pada dirimu?” seorang pria bertanya. “Eh, entahlah. Tiba-tiba aku merasakan ada keanehan di dalam diriku” “Apakah luka dalam akibat pertempuran?”

“Tidak, sama sekali bukan seperti itu yang kurasakan...” “Hmm...”

“Ada sebuah kekuatan yang tidak aku mengerti yang merasuk kedalam diriku” “Apakah kekuatan Nyai tidak mampu untuk menelusuri kekuatan tersebut?”

“Aku... aku akan mencobanya.” Setelah berkata demikian, perempuan itu bersila. Matanya dipejamkan. Dia lalu menarik nafas dalam-dalam, dan mulai bersemedi. Pria yang duduk tak jauh dari perempuan itu berpikir.

“Apa yang terjadi dengan nyai Lastri, siluman ular ini. Tubuhnya kembali menjelma menjadi manusia ular. Dipenuhi dengan sisik-sisik tebal yang berwarna keemasan,” tak lama dia berpikir karena Lastri yang berada dihadapannya menggeram seperti mengigau. Dia kembali memperhatikan dengan seksama. “Apapun adanya engkau aku tidak gentar! Aku tidak gentar! Aaah!! Akan kulihat apa kehendakmu... Hupp!!” Lastri melesat, bersalto dua kali sebelum akhirnya menerobos jendela yang belum terkunci itu. Lalu langsung berlari keluar dari kamar itu.

“Nyai tunggu!! Hupp!” terkaget, tapi dengan sigap pria itu menyusulnya.

“Hei?!,.. Hmm apa yang terjadi dengan nyai Lastri, dia berlari terus menuju utara. Tanpa berbicara sepatah katapun pada diriku. Ada apa sesungguhnya dengan dirinya?!?” prabu Sora sangat terheran atas sikap Lastri, kemudian dia mencoba memanggil-manggil Lastri kembali “Nyai! Nyai! Ada apa nyai?!?”

“Hhh.. aneh sekali sikapnya, apakah ada seorang musuh yang sangat sakti mandraguna yang telah mengganggunya, jika memang demikian siapakah orang itu?!? Hhuh aku akan coba melihatnya”

Lastri terus melesat menuju utara mengikuti arah tarikan kekuatan gaib itu. Sementara prabu Sora yang merasakan keanehan itu terus mendampinginya menembus hutan-hutan yang mulai dirayapi oleh kegelapan. Beberapa saat kemudian...

“Ah, Heii.. Eh.. eh.. cahaya apakah itu? Jauh didepanku, dan Lastri agaknya menuju ke arah cahaya itu. Apakah cahaya itu yang merupakan sumber kekuatan yang memanggilnya. Ooh... Hyang Jagad Dewa Bhatara... cahaya apa itu sesungguhnya?! Mengapa hatiku menjadi berdebar seperti ini? Uhh!” prabu Sora berpikir cemas.

Lastri berlari terus ke arah cahaya yang dilihat oleh Prabu Sora, dan pada jarak dua tombak dihadapan cahaya yang gemilang itu, Lastri tiba-tiba jatuh bertekuk lutut.

“Ooh celaka, mereka lagi. Eh.. aku.. aku sudah berjanji tidak akan menciptakan malapetaka lagi. Oh, aku tidak boleh bertemu dengannya. Aku harus meninggalkan tempat ini, sebelum prabu Purbaya dan Cempaka membuka matanya. Ah!”

Prabu Sora melesat cepat meninggalkan tempat itu. Sementara Lastri masih tetap tidak berdaya, bertekuk lutut di hadapan prabu Purbaya dan Cempaka.

“Siapa kalian? Apakah maksud kalian memanggilku?!”

“Hmm?! Apakah engkau lupa padaku Nyai? Bukankah kita pernah berjumpa pada tujuh tahun yang lalu.”

“Haa.. Kau? Heheheh...” Lastri terkekeh kecil “Kau prabu Purbaya?! Hmm Pengecut! Jika engkau hendak bertanding denganku, lepaskanlah kekuatan yang bersemayam dalam dirimu. Ayo! Marilah kita bertempur.”

“Heheheh, lucu sekali kau ini siluman jahat.” Cempaka tertawa pendek, lalu dia membantah perkataan Lastri. “Apa salahnya kami menghadapi siluman jahat sepertimu dengan kekuatan suci yang ada pada kami? Untuk melenyapkan siluman jahat sepertimu, tidak ada sebuah aturanpun yang menghalangi kami. Kami akan mempergunakan segala macam cara!”

“Maafkan aku nyai Lastri, siluman jahat didalam tubuhmu akan segera aku lenyapkan, apapun yang akan terjadi!”

“Tidak mungkin Kanda,.. melenyapkan siluman itu tanpa membunuhnya. Siluman jahat itu sudah menyatu dengan wanita itu” Cempaka berkata perlahan di samping suaminya. Dia menyangsikan kemampuan mereka untuk dapat memisahkan siluman dari tubuh seseorang yang sudah dalam keadaan bersatu sedemikian rupa.

“Jika memang begitu, apa boleh buat...” prabu Purbaya pun tampak meragu sesaat. Tapi selanjutnya dia berkata dengan mantap pada Lastri. “Bersiaplah nyai Lastri aku akan melihat keadaan dirimu!”

Prabu Purbaya melompat sambil mengulurkan tangannya, siap untuk mencengkram pundak Lastri guna melumpuhkan kekuatan wanita itu. Akan tetapi Lastri yang telah terbebas dari pengaruh kekuatan gaib meloncat mundur.

“Kau tidak akan dapat melumpuhkan aku tanpa bantuan kekuatan yang bersemayam didalam tubuhmu!”

“Aku dapat melakukannya sendiri!”

“Heheheheh! Benarkah itu? Hemm,.. kau dapat melumpuhkan aku tanpa bantuan kekuatan itu?”

“Aku akan menutup rasa penasaranmu itu, Hai wanita siluman.” Cempaka kemudian menoleh ke arah suaminya, lalu berkata lembut. “Mundurlah Kanda, biar aku yang melayaninya.”

“Tetapi,...” prabu Purbaya sejenak tergagap. Tidak menyangka istrinya akan meminta waktu untuk berduel mengadu ilmu dengan wanita siluman yang telah bersiap dihadapan mereka.

“Aku akan dapat melakukannya, Kanda. Percayalah. Mundurlah Kanda...” “Baiklah, akan tetapi berhati-hatilah Dinda Cempaka.”

“Kanda tidak perlu khawatir. Perhatikanlah dipinggir sana...”

Usai berkata menenangkan Purbaya, Cempaka segera mengumpulkan kekuatannya, dan menyalurkan tenaga saktinya ke kedua belah tangannya. Gerakan itu membuat angin berpusar di sekeliling kedua belah tangan itu.

“Hahahaha! Kincir Metu-kah yang kau banggakan?!? Hiaatt!!” Lastri tampak sangat meremehkan ilmu yang dikerahkan oleh Cempaka. Tanpa basa-basi tubuhnya melesat menyerang wanita cantik dihadapannya dengan ganas.

“Hehh.. akan kulihat apakah Kincir Metu-mu itu akan sanggup mengalahkan Aji Banyu Chakra Buana-ku...Hiyattt! Hiyat!!”

“Heh? Ternyata tekanan-tekanan Kincir Metu yang aku lambari dengan seluruh kekuatanku tidak berhasil mendesaknya. Satu-satunya cara menjatuhkannya adalah dengan gerak-gerak tipu jurusku. Akan kucoba melumpuhkannya dengan ilmu Semadhi Dewa Gila dari kakek Mamang Kuraya.” pikir Cempaka.

Lastri terkejut menyaksikan gerak lawannya. Dia beberapa kali merasakan pukulannya hampir mengenai lawannya, tetapi tubuh lawannya secara tiba-tiba bagaikan terjatuh cepat. Yang kemudian sebelum dia menyusulkan serangannya, tubuh itu telah tegak berdiri kembali.

“Ooh Gila! Aji apakah yang digelarkan lawanku? Gerakannya demikian ringannya. Tetapi juga yang amat mengherankan adalah langkahnya yang tidak pasti, tidak beraturan. Bahkan hampir menyerupai gerak orang yang mabuk. Terhuyung-huyung.”

Jelas sekali tampak bahwa Lastri mengalami kekagetan yang amat sangat melihat gerakan-gerakan dari ilmu Semadhi Dewa Gila. Tetapi Lastri adalah pendekar binaan Anting Wulan, bukan pendekar kemarin sore. Walaupun dalam kebingungannya Lastri tetap bersiasat. “Aku akan menekannya dengan seluruh kekuatan Cengkar Bala-ku. Aku harus membunuh lawanku dengan secara cepat dan mengejutkan. Agar tidak memberikan kesempatan pada suaminya untuk menolongnya.”

Pertempuran terus berlangsung dengan serunya. Sementara hutan disekitar mereka menjadi gulita. Satu-satunya penerangan yang membantu mereka untuk saling melihat lawan hanyalah bulan yang tergantung diatas angkasa raya.

“Dinda Cempaka, kau dapat menyelesaikannya dengan aji Banyu Agung!” terdengar seruan Prabu Purbaya. Dia sedikit gelisah melihat Lastri mengembangkan serangan-serangan pada istrinya. Kedua belah tangan Lastri membentuk cakar dengan kuku hitam yang mengeluarkan uap hitam tipis. Cakaran-cakaran dari ilmu Cengkar Bala tampak mengancam dan sangat berbahaya.

“Ya Kanda, aku mengerti. Tapi, tadi aku memang ingin menikmati pertarungan ini. Aku akan melumpuhkannya sekarang.” tersungging sebuah senyuman manis dari bibir Cempaka. Akan tetapi tubuhnya justru mengelorakan hawa dingin yang amat sangat, bergulung-gulung ke kedua belah lengannya. Aji Banyu Agung segera tergelar. Lengan Cempaka terpentang kemuka, seluruh angin bagaikan berpindah arah menyerbu ke arah Lastri. “Bersiaplah engkau bertekuk lutut, Hai Siluman jahat!”

Lastri tersentak kaget ketika merasakan serangan angin yang membawa hawa dingin yang membekukan tubuh. Hampir saja seluruh tubuhnya seketika menjadi kaku. Lastri segera mengempos seluruh tenaganya mengeluarkan hawa panas untuk menangkal hawa dingin yang membekukan dari aji Banyu Agung.

“Siluman ular itu mampu menggerakkan tangannya, aku harus mengerahkan segala kekuatan Banyu Agung untuk melumpuhkannya”

“Ohh... ooh,... aku... aku tidak dapat bertahan lagi. Kekuatan saktinya benar-benar tidak tertahankan. Ooh... Nenek Ranggis... Nenek Ranggis dimanakah engkau... Nenek Ranggis”

Kekuatan Lastri menjadi semakin melemah, dan tubuhnya menjadi kaku serta dibungkus lapisan es yang tebal. Sementara Cempaka terus melancarkan kekuatannya untuk melumpuhkan lawannya secara total.

Akan tetapi, pada saat yang tidak disangka-sangka baik oleh Cempaka dan prabu Purbaya. Dipinggir arena terdengar sebuah ledakan yang keras yang melepaskan es tebal yang membungkus tubuh Lastri dan nampak tubuh wanita itu kini diselimuti kobaran api yang tebal.

“Ha Ha Ha Ha, aku tidak pernah kalah, dan tidak ada yang dapat mengalahkan aku. Aku adalah calon penguasa mayapada ini. Hiyaaatt!!” sosok tubuh yang terbungkus kobaran api itu berkata-kata.

Belum lagi lepas keterkejutan Purbaya dan Cempaka, tiba-tiba tubuh Lastri yang diselimuti api tebal melayang terbang menerjang Cempaka.

“Awas, dinda Cempaka!” sambil berseru cemas, prabu Purbaya segera memapaki serangan Lastri pada istrinya.

“Ahhh!!” Cempaka menjerit tertahan. Serangan itu memang luput, tapi tak ayal angin serangan Nenek Ranggis membabat Cempaka.

“Berhati-hatilah Dinda, dihadapan kita saat ini adalah Nenek Ranggis yang sesungguhnya. Dia hadir secara utuh. Lihatlah itu, sikap dan geraknya, tubuhnya yang membungkuk.” Dengan berkuda-kuda secara kokoh, lengan prabu Purbaya tampak menyilang menghalangi tubuh Cempaka dari pandangan Nenek Ranggis. Matanya tajam bersiaga dari serangan berikutnya. “Apa yang terjadi dengan dirimu dinda Cempaka?”

“Aku tidak sempat menyiapkan kekuatan untuk menahan serangannya. Rasanya serangannya melukai tubuhku bagian dalam. Tetapi jangan khawatir, aku masih sanggup menemani kanda menghadapi siluman ular itu.” Cempaka meringis.

“Ha ha ha ha. Kau akan kumusnahkan ditempat ini juga. Heh.. Semua kekuatan yang coba menghalangiku, akan kumusnahkan!” Nenek Ranggis sesumbar sambil terus terkekeh.

“Kujang pusaka dinda, cepat!” perintah Prabu Purbaya singkat.

Tubuh prabu Purbaya sesaat tergetar. Nenek Ranggis yang melihat kejadian itu segera menyadari bahaya yang akan dihadapinya. Karena itu dia tidak lagi membuang kesempatan. Tubuhnya kembali melayang cepat menyerang Purbaya dan Cempaka.

Melihat hal tersebut prabu Purbaya dan Cempaka membuang kesamping menghindari serangan lawannya. Lastri yang telah berubah total menjadi Nenek Ranggis terus memburu mereka. Akan tetapi...

“Ooh,.. ditangan mereka telah muncul sebuah pusaka. Kujang Pusaka. Aku merasakan perbawanya sangat luar biasa sekali. Aku harus berhati-hati. Ooh, angin serangannya serasa telah mengiris kulitku. Ooh, pusaka apakah dipegangnya itu?!” nenek Ranggis terheran-heran dan terkaget-kaget. Tubuhnya berkelebat ke kanan dan ke kiri menghindari serangan tusukan-tusukan pusaka ditangan prabu Purbaya.

“Kanda Purbaya, gabungkan Banyu Agung dengan serangan kujang pusaka Kanda. Api yang berkobar dari tubuhnya tidak terlalu berbahaya. Kujang pusaka kita akan dapat menahannya.” disela-sela pertempuran itu terdengar Cempaka berseru memberi saran pada suaminya.

“Kau salah Dinda Cempaka, kau lihat,... dari dalam mulutnya aku melihat cahaya api yang menyala. Berhati-hatilah dari serangan api yang akan dilontarkan dari mulutnya.” prabu Purbaya justru cemas mendengar saran istrinya itu, karena tampak serangan Cempaka menjadi sangat mendesak bagai mengabaikan pertahanan diri.

“Ha ha ha, matamu cukup awas Purbaya! Ini, terimalah... Hwusss!!!” “Aku tidak gentar dengan api mu!” bentak Purbaya.

Prabu purbaya yang mendapat serangan kobaran api dari mulut Nenek Ranggis, menghadangnya dengan kujang pusaka. Sementara Cempaka yang melihat hal tersebut berteriak dengan penuh rasa khawatir. “Awas kanda Purbaya!!”

Kobaran api yang keluar dari mulut nenek Ranggis menerjang, membungkus prabu Purbaya yang berdiri dengan kujang pusaka yang diacungkan. (13)

Pada kisah yang lalu diceritakan, Prabu Purbaya kini tengah terlibat dalam pertempuran yang seru dengan Lastri yang telah menjelma menjadi Nenek Ranggis secara utuh. Tubuh yang semula menjadi lawan mereka adalah Lastri yang dipenuhi oleh sisik-sisik tebal, berdiri tegak dan gagah. Kini berubah secara aneh. Tubuh yang masih tetap bersisik tebal kini membungkuk dan gerak Lastri yang gagah kini demikian terbungkuk-bungkuk bagaikan seorang nenek tua yang renta. Akan tetapi tandangnya, justru semakin menggiriskan. Seluruh tubuhnya telah dirayapi dengan kobaran api. Bahkan kini dari mulut wanita siluman itu mampu melontarkan kobaran api, hingga sepanjang satu setengah tombak.

Akan tetapi maharaja dari Pasundan tersebut tetap berdiri sambil mengacungkan kujang pusakanya.

“Hmmm,” nenek Ranggis menggeram, “Mampus kau Purbaya!”

“Celaka, sedikitpun Purbaya tidak terluka oleh kobaran api ku..” geram nenek Ranggis dalam hatinya, serangannya mentah oleh kekuatan kujang pusaka Chakra Buana.

“Habisi saja segera Kanda, siluman jahat itu tidak boleh hidup lebih lama lagi!” “Ya, aku akan melakukannya”

Prabu Purbaya mengangkat tangannya siap untuk melanjutkan kembali serangannya. Sementara itu, Lastri telah bangkit kembali dan bersiap-siap menerima serangan lawan- lawannya. Tapi tiba-tiba saja mereka dikejutkan oleh derap langkah kaki kuda yang semakin lama semakin mendekat ke arah mereka.

“Hei, benar ibu. Lihatlah itu. Dia bibi Lastri!” seru Kayan Manggala.

“Tuanku Prabu, hamba mohon serahkanlah wanita itu pada hamba. Dia adalah tanggung jawab hamba. Biarlah hamba yang akan mengurusnya.” Suara merdu seorang perempuan terdengar. Akan tetapi suara itu sarat dengan kekuatan ghaib yang menghipnotis. Itulah suara murid penguasa laut selatan, Anting Wulan.

Prabu Purbaya tidak menjawab perkataan Anting Wulan, perhatiannya justru terpaku pada kuda tunggangan Anting Wulan. Kuda itu tampak girang sekali bertemu dengan prabu Purbaya. Si Tunggul melangkah jinak mendekat ke arah Purbaya. Mulutnya tak henti-henti meringkik.

“Ha Ha Ha Ha... Rupanya engkau masih mengenalku Tunggul, hmmm ya.. ya.. ya sudahlah, nanti kita dapat melepaskan rindu. Menyingkirlah. Kau tentu mengerti kata- kataku. Hmm?” tangan maharaja Sunda itu membelai bulu surai si Tunggul. Dia pun sangat senang bertemu dengan hewan itu. “Hmm!!” prabu Purbaya kemudian menggeram, dia menoleh kearah Nenek Ranggis setelah mendorong tubuh si Tunggul menjauh, “Siluman jahat, kini kau bisa merasakan bahwa akhir riwayatmu semakin dekat. Disini telah hadir pula Anting Wulan.”

“Kaukah itu nenek Ranggis?” Anting Wulan memulai perbincangan.

“Iya ini aku bocah, mau apakah kau datang menemuiku, heh? Kau ingin menentangku?” jawab nenek Ranggis mendesis.

“Kau harus tinggalkan tubuh sahabatku Lastri Kau tidak boleh mengusiknya.

Keluarlah dari raganya.”

“Ha Ha Ha Ha Ha!!” nenek Ranggis tidak menjawab, dia hanya tertawa saja. Dalam hatinya dia berpikir “Ooh, aku harus mencari jalan untuk menyelamatkan diri, karena kematian Lastri dapat menyebabkan kematian diriku untuk selama-lamanya. Aku tidak ingin mati! Karena itu aku harus mencari jalan keluar. Pasangan suami istri itu tidak dapat aku hadapi.”

“Kali ini kau berada dalam kepungan kami. Aku dan tuanku Purbaya dan permaisurinya. Kau tidak akan dapat lepas lagi. Kecuali kau mau meninggalkan raga sahabatku dan berjanji tidak akan mengacaukan dunia ini.”

Nenek Ranggis hanya terkekeh, “Kalahkan aku dahulu Wulan, baru aku akan menuruti nasehatmu.”

“Hati-hati bibi Wulan, dari mulutnya akan dapat melontarkan serangan api yang berbahaya!”

“Terimakasih tuanku Permaisuri.”

Anting Wulan terkejut menerima serangan-serangan nenek Ranggis melalui tangan Lastri pada gebrakan-gebrakan pertama. Akan tetapi pada saat-saat berikutnya gerakan Anting Wulan menjadi semakin mantap dan mulai mampu mengimbangi serangan lawannya dan bahkan mulai membalas dengan serangan-serangan yang sangat berbahaya. Dan samar-samar terlihat bahwa tubuh Anting Wulan mulai diselimuti cahaya yang tipis berwarna keemasan.

“Oh, Kanda lihatlah itu”

“Ya, agaknya bibi Wulan juga mendapat bantuan dari gurunya penguasa laut selatan. Iya, aku pernah mendengar bibi Wulan adalah murid kesayangan dari beliau. Lihatlah, agaknya bibi Wulan dapat menguasai dari jalannya pertempuran itu.”

“Siluman itu telah berhasil dilumpuhkan. Lihatlah, lihatlah itu gerakannya menjadi semakin lemah.”

“Ya, benar Dinda. Agaknya luka yang dideritanya mengganggu gerakannya.”

“Kekuatannya lain dari kemarin. Apakah yang akan terjadi dengan Lastri? Oh,... Apakah prabu Purbaya telah berhasil melukainya?” Anting Wulan sedikit terheran mendapati kenyataan bahwa perlawanan nenek Ranggis tak sehebat kekuatan sebelumnya.

Anting Wulan terus menekan Lastri. Gerakan-gerakan Banyu Chakra Buana tingkatan terakhir mengurung dan menekan Lastri yang telah terluka. Kembali pertempuran antara siluman ular dan wanita agung penguasa laut selatan terulang kembali. Gerakan keduanya tidak lagi dapat diikutin dengan mata. Hanya sinar tipis keemasan dari sisik-sisik dari tubuh Lastri dan cahaya yang membias dari tubuh Anting Wulan yang berkelebatan diantara kegelapan malam.

“Euhhh,.. ahh...” nenek Ranggis mengeluh, dan membekap bagian tubuhnya yang terkena pukulan-pukulan dingin Anting Wulan.

“Apalagi yang engkau tunggu lagi, Nenek Ranggis? Tinggalkanlah raga sahabatku Lastri!!” Anting Wulan melangkah kembali mendekati Lastri dan siap mengirimkan totokan untuk melumpuhkannya. Akan tetapi tiba-tiba saja tubuh Lastri yang telah berdiri tegak itu terkulai jatuh.

“Awas, berhati-hatilah bibi Wulan akan muslihatnya...” Berkata Cempaka mengingatkan.

“Saya mengerti tuanku permaisuri.” Dengan penuh kewaspadaan Anting Wulan mendekati tubuh Lastri yang telah terkulai di rerumputan. Tubuhnya pun perlahan-lahan telah kembali berubah sebagaimana semula. Sisik tebal yang memenuhi tubuhnya lenyap, berganti dengan kulitnya yang halus.

Prabu Purbaya dan Cempaka pun mendekati dan siap membantu jika siluman ular itu berlaku licik. Kayan Manggala juga tidak ketinggalan ia mendekati ibunya.

“Ya, benar-benar tidak sadarkan diri. Darah ini, tuanku...” Anting Wulan berjongkok dengan penuh waspada. Tangannya menyeka kening Lastri. Ada cairan merah ditangan itu. “Kasihan sekali engkau Lastri, aku turut berdosa atas semua perbuatan yang telah kau lakukan.”

Anting Wulan bergerak cepat. Tubuh Lastri dibalikkan, lalu menotok dan mengurut beberapa bagian punggung Lastri dengan cepat.

“Ehh.. Kau.. kau Nyai?!” “Oh, Lastri..”

“Nyai, maafkan saya. Apa yang telah saya lakukan kepada Nyai? Saya benar-benar pantas untuk dihukum mati. Hukumlah saya Nyai.. hukumlah saya.”

“Engkau tidak bersalah Lastri. Siluman ular itu telah menguasai seluruh raga juga batinmu. Tetapi sekarang dia telah lenyap. Dia telah lepas dari dalam dirimu.” “Eh, siapakah kedua orang ini nyai?”

“Ah? Apakah kau tidak mengenalnya? Dia adalah junjunganmu. Dia adalah penguasa keraton Sunda.”

“Prabu Purbaya dan permaisurinya?!? Oh, Ampun.. ampunkan hamba Tuanku.

Hamba benar-benar buta, tidak mengenali tuanku.”

“Tidak apa Nyai. Malam yang gelap dan lagi situasi seperti dihutan ini menyulitkan setiap orang untuk mengenali kami berdua. Bagaimanakah keadaanmu saat ini Nyai?”

“Ah, eh.. Apa maksud tuanku? Saya benar-benar tidak mengerti, mengapa bisa berada ditempat ini.”

“Jangan bergerak terlalu banyak. Engkau dalam keadaan terluka. Diam-diam sajalah. Nanti aku akan sembuhkan lukamu.” Bibi?” “Bibi Lastri,..”

“Oh, kau Kayan...”

“Benarkah siluman jahat yang mempengaruhi bibi sudah tidak lagi berada ditubuh “Entahlah, tapi aku aku merasa lain dengan tubuhku ini. Dengan diriku saat ini.

Seakan-akan aku baru tersadar dari mimpi yang sangat panjang.”

Prabu Purbaya mendesah kecil, lalu berkata “Bibi Wulan, kami akan kembali ke keraton. Jaga baik-baik sahabat bibi Wulan itu. Jangan sampai siluman jahat itu merasuk kembali kedalam dirinya.”

“Akan hamba perhatikan tuanku.” kata Anting Wulan.

“Kami pergi, jika ada apa-apa jangan lupa hubungi kami di keraton Sunda” “Akan hamba lakukan tuanku.”

“Selamat tinggal Bibi.” kata Cempaka berpamitan.

“Tunggu dulu Dinda Cempaka,” seru Prabu Purbaya. Dia berjalan sedikit kearah kuda hitam yang mendekatinya. Si Tunggul, kuda itu terdengar meringkik sedih.

“Aah, kuda baik. Satu saat jika aku mempunyai waktu, kita dapat bermain-main lebih lama. Sekarang aku harus kembali. Selamat tinggal Tunggul. Mari dinda Cempaka…” setelah berkata-kata Purbaya menggamit lengan Cempaka, lalu melesat, pasangan penguasa keraton sunda itu melesat meninggalkan tempat itu. Sesaat suasana menjadi senyap. Ketiganya memandang ke arah prabu Purbaya dan Cempaka menghilang. Anting Wulan mendesah, lalu dia menoleh ke arah Lastri.

“Bagaimana keadaanmu Lastri?”

“Lukaku masih terasa sakit Nyai, tapi tak mengapa aku bisa mengatasinya sendiri,” Lastri berkata manis, akan tetapi benaknya berkata lain. “Aku tidak boleh membiarkan Anting Wulan menyalurkan hawa saktinya kedalam tubuhku. Ah, aku sepertinya masih merasakan adanya getaran kekuatan nenek Ranggis didalam tubuhku. Awas kau Wulan, aku akan merontokkan isi dadamu jika sampai kau lengah!”

“Jika begitu, marilah kita mencari tempat untuk beristirahat. Kita akan mencari penginapan yang cukup baik agar kau dapat beristirahat dengan nikmat.” Anting Wulan menoleh dan berkata pada anaknya. “Ayolah Kayan, kau naiklah keatas punggung Tunggul. Bibimu Lastri akan naik bersamamu.”

“Tidak usah Nyai, aku masih sanggup berlari disamping kudamu itu.” Lastri mencoba menolak.

Anting Wulan berkeras, “Kau harus naik kuda! Keadaanmu akan dapat semakin parah. Hayo naiklah. Kau juga Kayan!”

Si Tunggul meringkik. “Kau naikilah dahulu, biar Kayan putraku duduk dibelakang.

Dia dapat menjagamu jika sewaktu-waktu engkau merasa sakit dan akan jatuh.”

“Ah, keterlaluan Nyai sekali. Aku tidak apa-apa. Keadaanku tidaklah separah yang Nyai sangka. Masakan aku harus naik diatas punggung kuda dengan diapit oleh putramu.”

“Baiklah, jika begitu engkau boleh duduk dibelakang”

“Tidak, aku yang tidak mau. Bibi Lastri harus dimuka. Aku mau duduk dibelakang bibi Lastri.”

“Hei, ada apa lagi denganmu Kayan? Bibi mu tidak apa-apa.”

“Saya mengerti Bu, tetapi saya tetap tidak mau dalam keadaan seperti ini. Bibi Lastri menunggang si Tunggul dibelakang saya. Saya tidak ingin bibi Lastri...”

“Aku tidak apa-apa Kayan...”

“Tidak Bi, Bibi harus duduk dimuka dan aku dibelakang.”

“Agaknya sekarang, kau harus mengalah, Lastri.” Anting Wulan tersenyum melihat keras hati putranya itu.

Lastri tersenyum kecil pula dan berkata, “Hmm ya, seorang kemenakan yang baik.” Kemudian Lastri menaiki punggung si Tunggul dan berkata, “Ayo, naiklah Kayan.”

“Baik, Bi...” singkat saja Kayan menjawab. Dia langsung mengambil tempat dibelakang Lastri.

“Ayo, larilah kearah selatan sana Tunggul, hiyaaahh!” setelah menepuk leher si Tunggul, Anting Wulan segera mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya berlari kearah yang ditunjuknya. “Kurang ajar! Agaknya bocah liar itu mencurigai keadaanku. Aku akan kesulitan untuk menguasai diri bocah itu, dalam keadaan seperti ini. Lagi pula ibunya berada tidak jauh disampingku. Aku tidak akan mencari perkara. Jika aku tidak pasti dapat menguasai Anting Wulan dan puteranya.” rutuk Lastri dalam hati.

Si Tunggul terus berlari kencang ke arah selatan. Sementara Anting Wulan mengikuti disampingnya.

(14)

Pada kisah yang lalu diceritakan, Nenek Ranggis yang telah menyatu dengan tubuh Lastri tidak mampu menghadapi prabu Purbaya dan Cempaka. Dan ketika muncul Anting Wulan yang mengambil alih siluman ular dari gunung merapi itu, prabu Purbaya menyerahkannya. Dalam pertempuran antara Anting Wulan dengan Lastri, wanita perkasa murid dari Goa Larang dan juga penguasa laut selatan itu berhasil menundukkan lawannya. Akan tetapi Lastri yang terluka berpura-pura terlepas dari pengaruh Nenek Ranggis.

Dalam perjalanan menuju selatan...

“Hmm apa maksud bocah liar ini tidak mau duduk didepanku. Apakah dia mencurigai diriku? Aku harus berhati-hati. Aku tidak boleh sembarang bertindak. Kemampuan Anting Wulan yang dibayangi penguasa laut selatan belum tentu akan dapat kutundukkan.” pikir Lastri sepanjang perjalanan.

“Kita telah sampai. Lihatlah dihadapan kita itu. Cahaya terang. Sebuah kota yang cukup ramai. Kurangi larimu Tunggul.”

“Hmmm, kota apakah ini Nyai?”

“Entahlah, jika aku tidak salah ini adalah kota Bumi Batang.”

“Bumi Batang?!” gumam Lastri.

“Kota ini dahulu cukup sering aku lewati pada masa-masa pengembaraanku.”

“Hupp!” Kayan Manggala meloncat turun dari pinggul si Tunggul.

“Hei, mengapa engkau turun Kayan? Tetaplah berada di punggung si Tunggul” berkata Anting Wulan yang terheran melihat putranya turun dari kuda.

Kayan tersenyum pada ibunya, dia lalu berkata, “Biarlah saya jalan saja. Saya akan mencari anggota Tongkat Merah. Kita akan membutuhkan bantuan mereka untuk mendapatkan tempat menginap.” “Nah, itu… seseorang menuju kemari. Pastilah itu.” “Ibu benar, dia adalah anggota Tongkat Merah.”

“Selamat datang tuan muda, selamat datang Nyai.” “Paman, siapakah nama Paman?”

“Saya adalah Bantul, tuan muda.”

“Ah, paman Bantul. Tentu paman akan dapat menolong kami. Kami sangat membutuhkan penginapan untuk malam ini saja. Dapatkah paman menyediakannya?”

“Ah, tentu. Tentu saja tuan muda. Marilah, mari ikutilah saya.”

Ki Bantul berjalan dimuka. Akan tetapi sesekali dia menoleh ke belakang, ke atas punggung kuda dimana Lastri duduk diatasnya. Anting Wulan yang berjalan di samping Lastri menyadari hal tersebut. Karena itu, setelah tiba di penginapan kota yang terbaik, yang disediakan pengurus Tongkat Merah cabang Bumi Batang, Anting Wulan mencoba menjelaskan keadaan Lastri.

“Hmm, begitulah Paman. Jadi,.. Paman tidak perlu lagi khawatir. Siluman ular sudah tidak ada lagi. Sedangkan Lastri ini adalah sahabat saya. Paman bisa sampaikan pada seluruh anggota Tongkat Merah tentang berita ini.”

“Eeh, hamba… Baik… baik Nyai.”

“Dan satu hal lagi Paman, jika Paman bertemu anggota Kembang Hitam tolong sampaikan berita ini. Katakan Lastri dan aku akan di kota Bumi Batang ini. Besok siang, baru kami akan meninggalkan tempat ini.”

“Aaa,.. aa… Baik. Baiklah Nyai. Aa… Saya permisi dulu.” “Nah, marilah kita masuk ke dalam, Kayan.”

“Ah, Iya… iya Bu. Tapi, sebentar… ada sesuatu yang akan saya sampaikan pada

paman Bantul. Saya akan kembali segera.”

“Paman! Paman Bantul!”

“Aah,…ada apa? Ada apa tuan muda memanggil Paman?”

“Paman boleh memanggil murid-murid Kembang Hitam yang paman temui. Tetapi paman jangan dahulu menyampaikan keadaan Lastri seperti yang ibu saya katakan.”

“Ooh?! Apakah maksud tuan muda? Apakah wanita itu belum lepas dari pengaruh siluman ular?!” tergugup Ki Bantul mencoba meyakinkan maksud ketuanya.

Kayan Manggala   mengangguk   dan   berkata,   “Saya   mohon   paman   dapat merahasiakan semua ini. Lekaslah pergi paman Bantul…”

“Celaka, jika begitu penginapan itu harus kujaga ketat dengan seluruh anggota Tongkat Merah yang berada di kota ini. Tuan muda tidak boleh mendapat celaka. Huhh, dan aku harus melaksanakan pesan Nyai Anting Wulan memanggil seluruh anggota perguruan Kembang Hitam…” pikir Ki Bantul gelisah.

(15)

Pada kisah yang lalu diceritakan, Anting Wulan yang berada dalam perjalanan bersama dengan Kayan putranya dan Lastri yang dianggapnya telah lepas dari pengaruh siluman ular menginap disebuah penginapan di kota Bumi Batang. Akan tetapi Kayan menjadi gelisah. Di dalam hatinya muncul keraguan akan sikap bibinya. Kayan tidak dapat mempercayai keadaan bibi Lastri yang telah lepas dari pengaruh siluman ular.

Pagi harinya,…

“Kebakaran! Kebakaran!” terdengar suara riuh bergemuruh. “Ibu, dengarlah itu,” seru Kayan Manggala dengan tegang.

Anting Wulan bergegas menuju pintu penginapan. Kayan yang lebih dekat dengan pintu membukakan pintu, dan pintu penginapan itu pun terbuka. Keduanya menyaksikan ada keriuhan penduduk sekitar penginapan itu. Ada kebakaran.

“Di belakang penginapan,… Oh, tidak mungkin!” terkesiap Anting Wulan mengingat kamar Lastri berada di belakang penginapan mereka. Cepat sekali dia sudah berada di depan kamar yang terbakar. Dengan cemas dan gugup, Anting Wulan memanggil-manggil nama sahabatnya itu, “Lastri!.. Lastri!...”

“Oh, itu mayatnya Bu!” sesaat Kayan menyangka itu adalah bibi Lastri, akan tetapi mata Kayan yang awas sempat melihat ada sebatang kayu merah yang nyaris habis terbakar. Otaknya berputar cepat. “Oh, celaka… mayat anggota Tongkat Merah. Hupp!!”

Dengan cepat, Kayan Manggala masuk ke kamar yang masih penuh dengan api yang berkobar. Dia segera membawa mayat dari dalam kamar itu, lalu membawanya ke dekat ibunya. Disamping ibunya tampak telah hadir Ki Bantul.

“Paman Bantul, apa yang telah terjadi?”

“Ah,.. Oh,… entahlah tuan muda. Saya juga baru saja datang.”

“Bagaimana ibu?” tanya Kayan Manggala setelah menunjukkan lambung mayat yang baru saja dibawanya. Walau terbakar, mayat tersebut belum hangus sama sekali. Dan di bagian lambung mayat tersebut tampak sebuah luka aneh. Anting Wulan berjongkok memeriksa luka yang ditunjukkan Kayan.

“Oh, benar. Ini adalah luka karena pukulan menyilang dari aji Chakra Buana.” kata Anting Wulan lirih. Hatinya sangat geram. Dalam kemarahannya dia mendesis, “Setan! Siluman licik!”

Anting Wulan berdiri, lalu dia berteriak-teriak, “Hei Lastri, dimana kau?! Keluarlah!! Jangan sembunyi seperti pengecut licik! Heii Lastri!! Keluarlah kau! Kali ini aku tidak lagi dapat memaafkan engkau! Keluarlah hai pengecut!”

“Ah, ah… Percuma, Nyai. Dia pasti telah lari meninggalkan tempat ini. Orang-orang saya telah dibuatnya tewas tanpa sempat lagi berteriak. Hal itu karena dia ingin segera meninggalkan tempat ini.” Ki Bantul mengingatkan.

“Kita harus mengejarnya. Kita harus mencarinya!” tegas Anting Wulan.

“Tetapi, kita harus mengetahui arah kepergian bibi Lastri dahulu. Jangan tergesa- gesa, Bu.” kata Kayan mengingatkan.

“Tuan muda memang benar, Nyai. Sebaiknya kita mencari seseorang yang mungkin mengetahui kemana perginya pembunuh kejam ini.” Ki Bantul menambahkan.

“Yah,… kalian benar.” sambil menghela nafas, Anting Wulan mengiyakan.

“Hai, sahabat semua… Apakah ada di antara kalian yang mengetahui, siapa pembunuhnya? Atau setidak-tidaknya sempat melihat seseorang yang mencurigakan?”

Setelah menyadari bahwa tidak ada satupun yang melihat arah perginya Lastri, Anting Wulan segera berkemas. Akan tetapi, ketika dia keluar menuntun si Tunggul,…

“Nyai, kami semua datang menghadap.” berkata seorang perempuan. Dia Ajeng.