--> -->

Babad Tanah Leluhur Jilid 03

Jilid 03

Sementara itu raden Purbaya dan Cempaka yang telah merasa puas dan bahagia telah menolong mereka saling genggam dengan mesranya. Seketika itu juga, Hyang Wishnu merangkul Nyai Pohaci dan kemudian terbang melayang sambil melambai-lambaikan tangannya tanda terima kasih.

“Se… semoga cintamu kekal dan abadi.” “Oh,… se… selamanya.”

“Oh, lepaskan tanganku adik Purbaya…”

“Ah, apa yang terjadi? Kita telah bermimpi?!”

“Ah, iya. Agaknya kita telah bermimpi hal yang sama. Ooh, apa arti dari semua mimpi itu adik Purbaya?”

“Uh, mungkin… mungkin mereka tengah menantikan uluran tangan serta bantuan dari kita.”

“Oh? Apa maksudmu adik Purbaya?”

“Ah, kukira kau sudah mengerti… kakek Mamang Kuraya telah menjelaskan segalanya kepada kita. Paduan cinta kita adalah juga paduan cintanya, cinta mereka…”

“Ooh, jadi… agar mereka bahagia, kita harus selalu bersama-sama?!” “Juga karena mereka, tapi karena diri kita.”

“Oh, iya… kita… Kita akan bersama-sama…”

Raden Purbaya segera saja menyambar tangan Cempaka, menggenggamnya erat-erat dan mesra. Kemudian Cempaka membalasnya dengan hangat.

Keesokan harinya,…

“Oh, banyak sekali penjagaan di gerbang kota raja ini adik Purbaya.” “Ah, apakah mereka akan mengenali kita kak? Mereka adalah prajurit Karang Sedana. Prajurit-prajuritku.”

“Ah, hahaha…” Cempaka terkekeh kecil. “Dengan pakaian jelek seperti ini. Dan dengan topi caping yang lebar dan berjalan dengan sedikit menunduk… tidak akan ada seorang pun yang tahu bahwa engkau adalah junjungan mereka prabu Purbaya.

“Untung rambutmu yang indah itu kau gelung dan kau masukkan ke dalam topi.

Jika tidak pasti akan menarik perhatian laki-laki yang disudut sana itu… Itu…”

“Ohh,.. Ki Legawa?! Hmm, agaknya dia tengah meronda. Duduk diatas kudanya dengan dada tengadah. Hmm, lihat itu. Agaknya mereka sedang memberikan laporan pada Ki Legawa yang memimpin perondaan…”

“Ayo, kita lanjutkan saja perjalanan kita ke kuil Shiwa Agung. Kita harus segera bertemu dengan Aki Parang Pungkur!”

“Ah, tunggu dulu adik Purbaya. Ehmm, aku… aku ingin tau apa yang dilaporkan oleh prajurit yang baru datang itu. Hmm, telingaku sedikit dapat menangkap bahwa mereka tadi menyebut-nyebut nama kuil Shiwa Agung.”

“Jika begitu kita coba gelar aji Empat Arah Pembeda Gerak. Kita harus tahu lebih banyak apa yang mereka bicarakan.”

“Oh, percuma adik Purbaya, lihatlah itu… mereka sudah siap untuk berangkat. Kita ikuti mereka. Ayo!”

Melihat Ki Legawa meninggalkan gerbang kota raja, raden Purbaya dan Cempaka kemudian mengikutinya.

(29)

Pada kisah yang lalu diceritakan, raden Purbaya dan Cempaka tengah menginap di rumah kakek dan nenek yang baik hati, kembali menyelamatkan Ki Barung seorang pendekar undangan Ki Parang Pungkur dari kejaran para tokoh Karang Sedana di bawah pimpinan Ki Legawa. Juga diceritakan pada malam harinya, raden Purbaya dan Cempaka bermimpi melepaskan belenggu bunga yang mengikat dan memisahkan Hyang Wisnu dan Nyai Pohaci. Dan pada akhir kisah yang lalu raden Purbaya dan Cempaka yang tiba di gerbang kota raja mendengar secara tidak sengaja laporan dari seorang prajurit Karang Sedana yang menyebut- nyebut kuil Siwa Agung. Untuk itu keduanya segera mengikuti Ki Legawa yang melarikan kudanya. “Ah, kita dapat membuat para peronda curiga dengan berlari-lari seperti ini. Eh, sebaiknya kita ikuti dengan aji Halimunan.” bisik raden Purbaya.

“Kita cari tempat untuk menerapkan aji itu, di tempat ini akan dapat menimbulkan kegemparan jika ada yang melihat kita tiba-tiba saja lenyap dari pandangan mata. Mari ke sudut sana, sebelum kuda-kuda itu semakin menjauh.” Cempaka menjawab, dan segera mengajak junjungannya ke sebuah tikungan yang memiliki beberapa pohon yang cukup besar batangnya. Tidak lama kemudian mereka segera menerapkan ajian Halimunan. Tubuh keduanya lenyap dari pandangan mata.

Dengan ajian Halimunan raden Purbaya mengikuti rombongan Ki Legawa bersama-sama dengan Cempaka.

“Kalian semua tunggulah di sini. Biar aku yang masuk melapor pada tuan resi Amistha. Hup”

“Tuan resi! Tuan resi!” Ki Legawa memanggil-manggil dengan lantang. “Oh, ada apa engkau berteriak-teriak?”

“Emm, eh, seorang pengawal hamba melihat hadirnya beberapa orang yang mencurigakan disekitar kulil Siwa Agung, sebelah barat kota raja.”

“Hemm,” mendengar laporan itu resi Amistha menggeram.

“Hamba yakin di kuil Siwa Agung saat ini telah berkumpul beberapa tokoh dari dunia kependekaran.”

“Hmm?! Hehehehehehe, aku yakin ini semua adalah perbuatan si pengemis usil. Hmm! Hehehehehe, biarlah. Biarkan saja. Kalian tidak usah mengganggu mereka. Biarkan nanti pada saatnya mereka semua pasti akan berkumpul di alun-alun. Heeh, biarlah siasat mereka yang secara sembunyi-sembunyi datangnya akan kuhadapi juga dengan siasat sembunyi-sembunyi.”

“Hmm, hoo?! Siasat sembunyi-sembunyi? Apakah maksud tuan resi?”

“Aku telah menarik belasan tenaga dari berbagai tempat dan juga beberapa tokoh dari kerajaan-kerajaan tetangga yang berada di bawah kekuasaan kita telah kutarik kemari.”

“Tetapi tuan resi,… apakah para tokoh dan perwira-perwira dari kerajaan tetangga itu dapat dipercaya?”

“Heeh?! Apa maksudmu Legawa?”

“Mereka pada dasarnya bukanlah pengikut tuanku. Mereka adalah kaum ksatria yang tunduk karena berhasil tuanku kalahkan. Hamba khawatir pada suatu saat mereka akan menjadi duri dalam setiap gerakan kita.”

“Hahahahaha,” resi Amistha tertawa mendengar penjelasan Ki Legawa. “Jangan khawatir, Heh. Aku justru akan lebih dahulu mengumpan mereka menghadapi para pendekar yang akan kita hadapi. Hehehehehe. Hmm, marilah masuk. Kau akan kuperkenalkan dengan mereka, Legawa.”

“Hehehehehe, nah itu mereka. Mereka baru saja tiba beberapa saat setelah engkau memimpin perondaan.” “Hoh, bangkitlah kalian semua. Aku akan memperkenalkan pembantu utamaku di istana Karang Sedana. Dia adalah Legawa. Legawa bersama lima orang tokoh lainnya di istana ini membantu para prajurit dan dalam menciptakan perdamaian.”

“Hmm, iya. Senang sekali berkenalan dengan sesama rekan kelompok dari tuan resi. Ha, iya… nama saya adalah Rangkut. Saya membantu tuan resi di istana Kencana Wungu.”

“Hahahahaha, mengingat waktu yang semakin sempit sebaiknya biar aku saja yang memperkenalkan kalian. Heh, hahahaha. Lihatlah itu mereka kebetulan sekali duduk berjajar. Mereka adalah pembantuku dari lima negara bawahan Karang Sedana. Mereka adalah Ki Pangkut, Pating Kali, Jagal Manjung, Sampir, Kala Soka. Mereka berlima datang dengan membawa beberapa orang pembantu, yaitu perwira-perwira yang gagah dari kerajaannya. Nah, sekarang dengarlah. Tugas kalian saat ini adalah menyamar seperti rakyat biasa membaur ditengah keramaian alun-alun.”

“Hmm, ya ya. Kami mengerti tuan. Mengamati jika saja ada orang-orang dari Parang Pungkur atau tokoh lainnya yang akan membebaskan anggota tongkat merah ini. Ya, tetapi bilakah kami harus bertindak? Dan siapakah kelak yang akan memberikan tanda atau perintah?”

“Ki Legawa akan memberikan perintah jika diapun merasa pasti sasaran sudah berada di hadapan kalian semua. Ingat, kaupun harus melepaskan segala yang dapat menimbulkan kecurigaan. Sembunyikan senjata kalian dibalik baju kalian masing-masing. Mengerti?!”

“Mengerti!” serempak yang hadir menjawab.

“Bagus, hahahahaha, jika begitu bersiaplah. Dan segeralah berangkat.”

Tanpa sepengetahuan mereka, seluruh pembicaraan mereka di dalam pondokan kecil resi Amistha itu didengar oleh raden Purbaya dan Cempaka yang tengah menerapkan aji Halimunan.

“Kita harus segera memberitahukan pada kakek Parang Pungkur akan adanya rencana busuk dari resi Amistha ini.”

“Ya, kita akan memberitahukan segera. Tapi sebaiknya kita masuk dan melihat keadaan paman Raka Parungpang. Apa yang telah terjadi dengannya.”

“Oh, iya. Asalkan tidak terlalu lama adik Purbaya.” “Aku mengerti, marilah.”

Dengan tanpa diketahui seorangpun raden Purbaya dan Cempaka menuju ke bagian utama istana Karang Sedana di tempat mana Raka Parungpang bertempat tinggal.

“Oh, lihat itu adik Purbaya. Paman Raka Parungpang sedang duduk di muka kamarnya.”

“Ya, agaknya paman Raka Parungpang tidak kurang suatu apapun. Hei, itu ibunda Ratih Pudakwangi, ibunda dari adik Paramitha. Mengapa dia berada di kamar paman Raka Parungpang? Eh, Apakah… apakah mereka telah menikah?”

“Ohh, iya. Aku kira pasti begitu. Ah, sudahlah kita harus segera ke kuil Siwa Agung. Keadaan mereka tidaklah terlalu memprihatinkan.”

“Resi Amistha dan kekuatannya telah menekan paman Raka Parungpang. Ah, kita pergi saja segera ke kuil Siwa Agung.”

Sementara itu pada saat yang hampir bersamaan di kuil Siwa Agung belasan tokoh dari berbagai perguruan tengah berkumpul membicarakan masalah angkara murka dari resi Amistha. Dan diantara mereka terdapat Ki Parang Pungkur, Danyang bersaudara, Ki Barung serta belasan tokoh lainnya.

“Heeh, sayang sekali pada saat ini Anting Wulan dan raden Saka Palwaguna tidak hadir. Tetapi dalam suratnya yang aku terima ini, dia menyatakan akan segera datang kemari. Pada saat ini keadaan kandungannya yang mulai membesar kerap menggangu keadaan dirinya. Sedangkan raden Seta Keling dan Sariti tidak berhasil dihubungi oleh anggota-anggotaku.”

“Kukira, ketidakhadiran beberapa undangan tuan Pungkur itu tidak usah menjadikan kita resah. Kita sembilan belas tokoh utama, masakkan takut menghadapi resi Amistha bersama dengan antek-anteknya?”

“Hmm benar, kau benar Ki Barung. Kita tidak perlu takut pada mereka selama kita berpijak diatas kebenaran tidak ada hal apapun yang menjadikan kita gentar. Tetapi hmm resi amistha heeh kepandaian itu sangatlah tinggi. Tidak ada seorangpun diantara kita disini yang dapa menghadapinya.”

“Hmm, ya benar kata-kata tuan Pungkur aku sudah pernah merasakan sendiri kehebatan resi Asing itu. Tetapi jika kita menghadapinya bersama-sama, masakkan tidak dapat kita lumpuhkan?”

“Heeh, Ya ya jika saja itu terjadi beberapa tahun yang lalu. Ya mungkin itu benar. Tetapi saat ini keadaannya, keadaannya sudah lain sekali. Resi Amistha telah menguasai aji Rawa rontek…”

“Hah!? Aji Rawa Rontek?” yang hadir terkesiap dan saling bergumam. Tak seorangpun menyangka ajian yang legendaris dari tanah jawa yang membuat pemiliknya tidak mati sekalipun lehernya terputus tersebut dapat dikuasai oleh seorang resi asing.

“Ya rawa rontek, dengan aji tersebut resi Amistha seakan-akan berubah menjadi iblis neraka yang tidak dapat kita hancurkan. Tidak dapat kita bunuh.”

“Hmm, tetapi apakah tidak mungkin kita membunuhnya jika kita memenggal kepalanya dan menguburnya di tempat yang berbeda?”

“Hmm ya ya, aku kira itu adalah satu-satunya jalan yang dapat kita lakukan.” Terdengar pintu diketuk dari luar.

“Hoh, siapa lagi itu yang datang? Apakah salah seorang dari yang kita tunggu? Ya, masuk!”

“Ah, ehm… ampun bapak ketua, tuanku,… tuanku prabu Purbaya dan putri Cempaka berada di luar…” “Ha?! Prabu Purbaya? Prabu Purbaya” hadirin geger.

“Ohh, prabu Purbaya. Oh ya ya, baiklah. Aku akan segera keluar untuk menyambutnya.”

Ki Parang Pungkur segera bergegas keluar. Sementara itu seluruh tokoh undangan memandang ke arah pintu dengan wajah yang mulai dirambati oleh harapan. Tidak beberapa lama kemudian dari balik pintu itu muncul raden Purbaya bersama dengan Cempaka.

“Salam hormat kami pada yang mulia tuanku Purbaya.”

“Ah, terima kasih paman-paman sekalian. Terima kasih paman Pungkur. Aku tahu pertemuan kalian hari ini, hari yang baik ini, semata-mata adalah untuk menggulingkan kekuasaan resi Amistha dari Karang Sedana. Untuk itu mengucapkan terima kasih”

Seluruh hadirin menunduk mendengarkan prabu Purbaya yang mulai angkat bicara. Sementara itu beberapa orang di antara mereka, yaitu Ki Barung dan Danyang bersaudara terpukau memandang dua orang muda di hadapannya yang sesungguhnya telah dikenalnya.

“Hooh, ternyata dua muda-mudi yang kutemui di jalan desa kemaren adalah gusti Prabu bersama dengan tuan putri Cempaka.”

“Benar-benar aku ini pantas untuk mendapat hukuman mati, yah… dia yang telah ku kasari tadi malam adalah junjunganku. Tetapi kenapa dia tidak menjadi marah? Kenapa justru dia menolongku? Benar-benar beliau adalah seorang raja yang bijaksana. Seorang yang arif.”

“… Akan tetapi, untuk dapat mengatasi resi Amistha kita harus benar-benar mencari cara dan jalan yang tepat untuk dapat mengalahkannya.”

“Hamba mengerti akan kehebatan resi Amistha. Tetapi jika tuanku telah hadir kembali, tidak ada lagi yang menjadikan kami khawatir.”

“Benar, kami semuanya menjadi sangat yakin bahwa resi Amistha akan dapat kita hancurkan.”

“Iya, mereka semua benar tuanku Purbaya. Tuanku bisa membuktikannya nanti. Jika resi Amistha melihat kehadiran tuanku, mereka tentu akan berpikir banyak untuk tetap bercokol di istana itu. Hmm… Tetapi yang hamba inginkan saat ini adalah musnahnya resi asing itu. Sudah cukup banyak penderitaan yang dibuatnya. Naah, hmm… Oya, apakah tuanku telah mengetahui tentang peristiwa yang terjadi di padepokan Gua Larang?”

“Oh, tidak kek,.. peristiwa apakah itu?” Cempaka bertanya. “Apakah yang terjadi di sana Kek?” Purbaya pun bertanya. “Eh,… sebaiknya… Hmm, sebaiknya nanti saja saya ceritakan, Gusti. Heeh, hamba tidak sanggup untuk mengungkapkan hal itu saat ini. Ah, maafkan hamba Tuanku.”

“Oh, ada apakah sesungguhnya Kek? Katakan saja, aku kira tuanku Purbaya akan sanggup mendengar berita itu.”

“Ah, iya Kek. Katakanlah, apa yang sebenarnya telah terjadi di padepokan Gua Larang.”

“Heeh, saat itu kami kira tuanku masih ada di padepokan ketika tiba-tiba saja terjadi kekacauan. Resi Amistha datang memporak-porandakan padepokan itu. Besanku yang juga sahabatku, Wanayasa telah gugur.”

“Oh, eyang Wanayasa telah tewas Kek?”

“Iya untuk menutupi rasa malu karena telah membuat para tamu undangannya mendapat susah, dia tidak lagi dapat mengendalikan emosinya. Dia lalu menerjang resi Amistha tanpa menghiraukan keselamatan sendiri. Heeh, dan akhirnya…”

“Oh…” Cempaka tercekat.

“Oh, lalu, dimanakah saat itu kakek Mamang Kuraya berada? Apakah kakek juga tidak berhasil menahan amukan resi Amistha?”

“Ya, mungkin jika saat itu keadaanya tidak menjadi kumat, dia dapat menahan amukan resi Amistha…”

“Oohh… lalu,… lalu,… apakah yang telah terjadi dengan kakek Mamang Kuraya? Oh, Apa yang telah terjadi dengan kakek… apakah? Apakah…,” suara Cempaka terdengar gemetar, tak sanggup membayangkan kemungkinan buruk yang dapat terjadi pada guru yang telah dianggapnya sebagai kakeknya itu.

“Yah,… kakekmu yang saat itu kumat kembali penyakitnya, mendapat sebuah pukulan hebat dari resi asing itu, dan… dan diapun tewas beberapa saat di pinggir arena…” Ki Parang Pungkur berkata perlahan, kepalanya pun perlahan pula tertunduk dan dia mulai menitikkan airmatanya. Sesak sekali terasa dadanya.

“Kurang ajar! Hiaaa!!!”

Raden Purbaya menjadi gemetar karena menahan perasaan marahnya, menghentakkan seluruh emosinya dengan menghentakkan kaki ke lantai. Seketika itu juga kuil Siwa Agung seakan-akan hendak runtuh.

(30)

Pada kisah yang lalu diceritakan, raden Purbaya yang hadir dalam pertemuan di kuil Shiwa Agung mendapat tahu tentang kematian resi Amistha dan lainnya. Sesaat setelah mendengar hal itu, raden Purbaya menyalurkan kemarahannya dengan menghentakkan kakinya ke lantai. Sementara itu Cempaka mengepal tinjunya berusaha untuk mengendalikan diri. “Oh, kakek terbunuh oleh resi Amista!?... Terlalu jauh… terlalu jauh… angkara murka yang telah dibuatnya.”

“Iya, kita harus menghentikannya tuanku! Kita harus membuat perhitungan secara tuntas hari ini.”

“Iya, meski begitu kita harus berhati-hati dan mempersiapkan diri. Kita tidak boleh bertindak ceroboh.”

“Kita akan mengatur strategi… Oh, bagaimana… apakah Aki Parang Pungkur telah mempunyai cara untuk menghadapi resi Amistha dan para anteknya?”

“Sebelumnya kami hendak mengabarkan, bahwa sesungguhnya pertemuan hari ini telah diketahui oleh resi Amistha. Tetapi dia tidak melakukan sesuatu. Dia akan mempersiapkan pasukannya yang terdiri dari tokoh-tokoh golongan hitam untuk menusuk dari belakang.”

“Haah, untunglah kita telah mengetahui semua ini terlebih dahulu. Jika tidak, ahh… entahlah apa yang akan terjadi dengan nasib kita semua. Ah, baiklah… kita akan tetap melakukan semua yang telah kita bicarakan. Dan berita yang baru kita dapatkan tadi akan kita sesuaikan dengan kita. Ah, oh untuk itu kami membutuhkan bantuan tuanku Purbaya dan tuan putri Cempaka”

“Bantuan apakah itu, Kek? Katakanlah, kami akan melakukan apapun juga demi untuk Karang Sedana.”

“Kami hanya ingin, tuanku tampil pada saat mana hukuman dilaksanakan pada keenam belas anggota kami. Dan pada saat itulah, kita tengah bermain kucing-kucingan dengan para tokoh hitam yang disebar. Saya yakin kehadiran tuanku akan membuat terkejut.”

“Baik, aku dan Cempaka akan melakukan tugas itu. Nah, matahari akan naik tinggi diatas kepala. Hukuman itu akan segera dilaksanakan. Kita harus segera tiba di sana.”

“Ah, baiklah. Menyebarlah kalian”

Begitu mendapat perintah dari Ki Parang Pungkur, delapan belas tokoh undangan itu segera menuju kebelakang dan mencari jalan keluar melalui pintu depan dan belakang. Tetapi tiga orang masih saja tetap berdiri di tempat. Sementara seluruh kawannya yang lain telah lenyap, ketiga lelaki itu ternyata adalah Ki Barung dan Danyang bersaudara. Danyang Beureum dan Danyang Keling menghampiri raden Purbaya dan kemudian menghaturkan sembah.

“Ampunkanlah semua kesalahan hamba, tuanku. Semua sikap kami kemarin yang tidak berkenan di hati tuanku. Itu semua terjadi karena semata-mata kami tidak tahu dengan siapa kami tengah berhadapan. Ampuun tuanku…”

“Hmm, demikian juga hamba. Harus mengucapkan banyak terima kasih. Serta mohon ampun atas segala peristiwa kemarin itu. Sikap hamba yang telah menyinggung, telah tuanku balas dengan pertolongan. Bukankah tuanku yang telah menolong hamba kemarin?!”

“Ah? Darimanakah paman mendapat tahu?” “Karena rasanya tidak semua orang sanggup berbuat seperti itu. Hamba telah banyak mendengar kabar tentang kehebatan tuan sejak tuanku masih kecil. Tentang peristiwa di gerbang keraton Karang Sedana. Sebuah mukjizat di dalam diri tuanku…”

“Sudahlah, tidak usah kau ungkit semua itu paman. Aku hanya seorang manusia biasa. Nah, ayolah kita menuju ke alun-alun istana.” Purbaya menyela ucapan Ki Barung, dan mengajak mereka segera ke tempat acara hukuman akan dilaksanakan. 25. SANG RAJA SURYA

(30)

Pada kisah yang lalu telah di ceritakan Purbaya mengundang para pendekar yang telah membantunya ke istana Karang Sedana. Setelah sampai di keraton Karang Sedana Purbaya mengucapakan terima kasih atas bantuan mereka semua. Menjelang sore hari mereka berpamitan pada Prabu Purbaya untuk kembali ke tempat mereka masing masing.

“Pengawal...! Panggil paman Janur Kunir dan Paman Sidi Paningga...!” kata Purbaya.

“Ampun gusti prabu, apakah gusti memanggil hamba berdua...?” tanya seorang yang bertubuh agak tinggi.

“Benar paman. Bukankah kalian adalah paman Sidi Paningga dan paman Janur Kunir?” tanya prabu Purbaya.

“Benar tuanku. Hamba adalah Janur Kunir, dan ini adalah kakang Sidi Paningga. Apa gerangan yang membuat tuanku memanggil kami berdua...” jawab orang yang bernama Janur Kunir.

“Aku ingin bertanya pada kalian...?! Kenapa kalian membiarkan pengacau pengacau merusak ketatanegaraan di Keraton ini...?” tanya Prabu Purbaya. “Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, prajurit prajurit Karang Sedana tidaklah seperti dulu lagi. Prajurit yang selalu ramah kepada rakyat. Aku merasakan suasana yang aneh, apa yang sesungguhnya telah terjadi di dalam istanaku ini..? Mengapa bisa terjadi penyelewengan seperti ini...?!” tanya Purbaya dengan nada agak tinggi.

“Ampun tuanku. Hamba juga tidak habis mengerti kenapa ini semua bisa terjadi. Mungkin karena tuanku Raka Parungpang telah memberikan pangkat yang terlalu tinggi bagi kami. Sehingga kami menjadi buta akan penderitaan dan kesengsaraan yang dirasakan oleh rakyat. Hamba mohon ampunilah kami semua tuanku, kami mengaku bersalah...” kata Aki Janur Kunir.

“Meminta maaf itu mudah paman, tapi untuk memaafkan itu yang agak sulit. Tapi baiklah aku maafkan kalian, sekarang bangkitlah...!” kata Prabu Purbaya.

“Aku akan menata istana ini seperti dahulu. Tapi sebelum pembetulan dari dalam, kita harus membetulkan kembali keadaan kota raja Karang Sedana ini. Kalian sebagai prajurit haruslah minta maaf kepada rakyat, karena rakyat adalah ibu dari prajurit. Tanpa rakyat maka tak akan ada yang namanya prajurit. Kembalilah kalian pada pangkuan ibu kalian!” kata Prabu Purbaya.

“Hamba berdua siap melaksanakan perintah dari tuanku itu. Hamba akan kembali kepada rakyat dan meminta maaf pada mereka,...” kata Sidi Paningga.

“Bagus. Oh ya, masih ada yang ingin aku tanyakan pada kalian..! Apakah kalian melihat paman Raka Parungpang dan ibunda Ratih Pudak Wangi?” tanya Prabu Purbaya.

“Maksud gusti? Hamba masih belum mengerti...?” kata Ki Sidi Paningga.

“Maksud dari gusti prabu ialah, apakah paman berdua melihat ke mana perginya paman Raka Parungpang dan ibunda Ratih Pudak Wangi...?” tiba-tiba Cempaka yang sedari tadi diam menyahut.

“Ampunkan hamba gusti! Hamba tidak tahu ke mana perginya tuan Raka Parungpang dan gusti Ayu Ratih Pudak Wangi,...” jawab Ki Sidi Paningga.

“Hmm, apakah engkau juga tidak tahu ke mana perginya mereka berdua, paman?” tanya Prabu Purbaya pada Ki Janur kunir.

“Ampun tuanku. Hamba sempat melihat tuanku Raka Parungpang dan tuanku Ratih Pudak Wangi, pergi begitu melihat gusti Prabu dan tuan Puteri muncul. Mereka pergi menuju arah timur dengan di temani oleh dua orang pengawal Resi Amistha...” jawab Ki Janur Kunir.

“Mmm, terima kasih paman. Sekarang kalian boleh tinggalkan kami di sini..!” kata prabu Purbaya.

Sementara itu nun jauh di sana di tanah Mataram, Anting Wulan dan Raden Saka Palwaguna hendak pergi ke tanah Pasundan untuk memenuhi undangan dari Aki Parang Pungkur. Undangan untuk membantu merebut kembali Karang Sedana dari Resi Amistha. Namun di tengah perjalanan mereka terjebak di sebuah lembah. Di lembah itu pulalah keduanya bertemu dengan Resi Amistha yang melarikan diri dari pertarungannya dengan Purbaya dan Cempaka. Setelah terjadi pertarungan yang cukup sengit di antara mereka, Anting Wulan berhasil di lumpuhkan Resi Amistha.

Resi Amistha kemudian membawa lari dan menculik Anting Wulan untuk ditukarkan dengan pedang ular mas, yang dipegang suaminya Raden Saka Palwaguna. Namun saat hendak meninggalkan lembah itu di atas sana Resi Amistha menghadapi kesulitan. Kuda putih milik Anting Wulan itu berusaha untuk menolong majikannya. Kuda itu mengikuti Resi Amistha dari kejauhan, dan setelah mengetahui tempat di mana majikannya di sembunyikan kuda ajaib itu meninggalkan tempat tersebut.

Sementara itu di keraton Karang Sedana, dalam beberapa hari saja Prabu Purbaya berhasil memulihkan kembali keadaan di istananya. Mulai dari pengawal dalam, para prajurit dan para pejabat istana lainnya mengaku bersalah atas adanya penyelewengan- penyelewengan yang merugikan rakyat Karang Sedana. Dan sebagai permintaan maaf dari pihak istana membebaskan rakyat dari pajak selama tiga purnama.

Pada suatu malam di dalam keraton Karang Sedana tampak seorang wanita setengah baya tengah menuju ke sebuah kamar dengan tergesa gesa. Sesampainya di depan pintu kamar yang di tujunya, ia mengetuk pintu.

“Siapa itu ? “ kata suara wanita dari dalam.

“Hamba, tuan puteri. Tilik ” jawab wanita tua yang ternyata emban Tilik.

“Oh... bibi Tilik. Masuklah bi, pintunya tidak di kunci !” berkata wanita dari dalam

yang ternyata adalah Cempaka.

“Ada apa bibi Tilik, apakah ada sesuatu yang penting yang ingin kau sampaikan padaku?” tanya Cempaka.

“Benar tuan puteri. Hamba disuruh gusti prabu untuk menyampaikan pesan beliau, “ jawab emban Tilik sambil memberi hormat pada Cempaka.

“ Apakah itu bi,? “tanya Cempaka lagi.

“Beliau ingin bertemu dengan tuan puteri di taman sari, “ jawab Emban Tilik. “Hanya itukah? Hmmm baiklah Bi, katakan pada gusti Prabu aku akan segera ke

taman sari,” kata Cempaka.

“Kalau begitu, hamba mohon diri tuan puteri hendak menyampaikan hal ini pada gusti Prabu,” kata Emban Tilik.

“Yah... kau boleh kembali ke tempatmu bibi Tilik..! “jawab Cempaka. “Tunggu dulu bibi Tilik !”

“Ada apa tuan puteri, apakah ada yang harus hamba sampaikan pada gusti prabu..? “tanya emban Tilik. Cempaka tak menjawab, sesaat ia termenung. “Hmm, sejak kembalinya aku ke keraton ini, adik Purbaya belum pernah menyinggung penyebab utama aku meninggalkan keraton ini. Yakni bisik-bisik tentang diriku di kalangan para dayang...” kata Cempaka dalam hatinya.

“Ada... ada apa gerangan tuan puteri...?” tanya emban Tilik.

“Oh, tidak ada apa-apa Bi. Hanya itu pesanku. Sekarang kau boleh tinggalkan tempat ini!” kata Cempaka.

“Hmm.. aku harus bersikap wajar dan jangan menyinggung-nyinggung masalah itu lagi. Aku harus menjaga hubunganku dengan adik Purbaya yang baru pulih. Oh... aku harus cepat-cepat menemuinya di taman sari ” gumam Cempaka.

Lalu gadis cantik kekasih dari Prabu Purbaya itu keluar dari biliknya menuju taman sari. “Hmm, adik Purbaya sudah tiba lebih dulu. Adik Purbaya agaknya tidak menyadari

akan kedatanganku. Apa yang sedang di lamunkannya?” kata Cempaka setengah bergumam. Cempaka perlahan mendekati Prabu Purbaya.

“Adik Purbaya,” teguran Cempaka.

“Oh engkau kak Cempaka, aku kira siapa… Duduklah di sini...!” kata Purbaya, sambil menggeser duduknya. Cempaka kemudian duduk di samping pemuda itu.

“Kau sedang melamun apa adik Purbaya..? “ tanya Cempaka.

“Aku tidak sedang melamun kak Cempaka. Aku hanya sedang asyik memandang kunang-kunang itu, itu kau lihatlah kak! Sebelumnya kita belum pernah melihat ada kunang-kunang di taman sari ini. Lihat kak ! Kunang-kunang itu bergerombol, cahayanya

sungguh indah. Maha besar Dewata Agung, dia telah menciptakan binatang aneh itu,” kata Purbaya sambil menunjuk ke arah cahaya yang berkelap-kelip.

“Bukan hanya itu adik Purbaya, lihat di atas langit itu! Bintang-bintang bertaburan indah sekali, dengan begitu kita dapat lebih mengingat dan dekat dengan-Nya ” sahut

Cempaka sambil menunjuk ke atas langit.

“Engkau benar kak Cempaka. Kuucapkan segala puja puji kepada-Mu wahai Dewata Agung Sembahanku ” kata Purbaya.

“Mmm, adik Purbaya ada apa sesungguhnya, yang membuatmu ingin bertemu denganku di taman sari ini?” tanya Cempaka. “Mmm, apakah engkau masih ingat dengan apa yang dipesankan dua kekuatan Agung itu kak Cempaka?” Purbaya perlahan bertanya.

“Maksudmu, tentang hubungan kita adik Purbaya...?” tanya Cempaka.

“Ya, benar tentang hubungan kita... Hmm, seandainya saja masih ada ayahandaku Aji Konda,.. tentu aku tidak akan serba salah begini…” jawab Purbaya dan nada bicaranya terdengar kikuk dan gugup.

“Maksudmu,adik Purbaya...?!” tanya Cempaka, gadis cantik itu pun tak paham akan sikap Purbaya yang tiba-tiba seperti kebingungan.

“Mmm, dua purnama lagi tepatnya pada purnama Margasirna usiaku genap 17 tahun, dan tentunya dinda...”

“Berumur 18 tahun lebih. Tepatnya pada purnama Paguna usiaku 19 tahun, usia kita terpaut hampir 2 tahun, “ kata Cempaka memotong ucapan Purbaya.

“Umur tak menjadi soal bagiku. Ketahuilah kak, tadi siang aku telah berbicara dengan paman Arya Brata tentang perkawinan kita berdua...” kata Purbaya.

“Perkawinan kita berdua?!” ulang Cempaka setengah tak percaya.

“Ya, benar kak. Bukankah itu sudah menjadi keputusan kita bersama...?” kata Purbaya.

“Tapi bagaimana dengan Resi Amistha? Rasa-rasanya di antara kita masih ada yang mengganjal dan ada yang kurang, apabila Resi Amistha yang selalu membuat kekacauan di Karang Sedana ini masih hidup di tanah Pasundan ini,” kata Cempaka.

“Tapi di mana kita bisa menemukan Resi Amistha? dia menghilang begitu saja,..” kata prabu Purbaya, nada suaranya terdengar putus asa.

“Apakah, engkau marah atau kecewa atas permintaanku adik Purbaya...?” kata Cempaka hati-hati.

“Tidak kak Cempaka. Bagiku apa yang menjadi keputusanmu aku anggap yang terbaik, bagaimana mungkin aku kecewa apalagi marah padamu. Percayalah apa yang menjadi keinginan kita akan terlaksana,...” kata Purbaya.

Ketika keduanya tengah asyik berbincang-bincang di taman sari, mereka dikejutkan oleh ringkikkan seekor kuda dan teriakkan para prajurit. “Hey apa itu? agaknya ada keributan di halaman istana, adik Purbaya...?” kata Cempaka, sambil melepaskan diri dari rangkulan kekasihnya.

“Entahlah kak. Tapi,… hey seperti suara si Tunggul kuda milik bibi Wulan? Ayo kak kita ke sana, bibi Wulan datang!...” kata Purbaya.

Lalu keduanya bangkit dari duduk mereka, dan hanya dengan sekali lompat keduanya telah berada di atas pintu gerbang.

“Hey, itu hanya si tunggul ke manakah bibi Anting Wulan? dan kenapa si Tunggul datang seorang diri kemanakah bibi Wulannya, adik Purbaya?” tanya Cempaka.

“Entahlah kak Cempaka, aku tidak tahu. Kita tanyakan paman Giri Wesi. Marilah kita turun..!” kata Purbaya, lalu ia melayang turun di ikuti oleh Cempaka.

“Apa yang terjadi paman Giri Wesi?” tanya Purbaya pada seorang punggawa.

“Entahlah tuanku, tiba-tiba saja kuda itu masuk melompati pagar tinggi istana. Dan ketika kami hendak mengusirnya kuda ini mengamuk,” jawab punggawa yang di panggil Giri Wesi.

“Ya sudahlah kuda ini tak apa-apa,” kata Purbaya. “Tunggul ada apa? Kemanakah tuanmu bibi Anting Wulan?” tanya Purbaya.

“Awas tuanku, kuda itu sangat berbahaya!” teriak Punggawa Giri Wesi.

“Tidak apa-apa, Paman. Aku mengenal kuda ini. Kuda ini milik bibi Wulan. Oh ya dimanakah penunggangnya, bibi Anting Wulan?” tanya Purbaya.

“Anting Wulan? Tidak tuanku, hamba tidak melihatnya. Kuda itu datang seorang diri tanpa ada penunggangnya,” jawab Giri Wesi.

“Ya sudah, kau boleh melanjutkan pekerjaanmu paman…!” kata Purbaya. Mendapat perintah semacam itu dari junjungannya, punggawa Giri Wesi segera memerintahkan para prajurit untuk kembali ke tempatnya masing-masing.

“Ada apa Tunggul? Apa yang sesungguhnya telah terjadi pada majikanmu?” kata Purbaya bertanya. Kuda putih itu seperti mengerti akan kata-kata Purbaya,lalu dia berlari menuju pintu gerbang istana dan kembali lagi.

“Adik Purbaya, agaknya benar ada yang tak beres dengan bibi Wulan, lihat kaki depan si tunggul memar oleh pukulan seseorang. Lihat si Tunggul mengajak kita pergi...” kata Cempaka. “Kau benar kak Cempaka. Beruntung sekali kita sudah memakai pakaian yang cukup pantas, ayolah kau naik dan duduk di belakangku! Hup... “ kata Purbaya.

“Paman, kami akan pergi dulu untuk beberapa saat...!” teriak Purbaya pada punggawa Giri Wesi yang masih berada di sekitar halaman istana itu.

Lalu kuda yang mereka tunggangi itu telah meninggalkan keraton Karang Sedana. Dan mereka telah terguncang-guncang di atas punggung si Tunggul menuju arah timur.

“Adik Purbaya, hendak di bawa kemanakah kita ini?” tanya Cempaka di sela-sela suara derap kaki kuda.

“Entahlah kak, arah yang ditujunya menuju ke arah timur. Mungkinkah ke Mataram di sekitar gunung Wukir?” teriak Purbaya.

“Mmm, aku rasa tidak adik Purbaya. Mungkin bibi Wulan mendapat kecelakaan masih di daerah Pasundan ini,” teriak Cempaka.

“Kau mungkin benar kak Cempaka, bibi Wulan mendapat kecelakaan masih di daerah Pasundan ini,...!” kembali teriak Purbaya.

“Adik Purbaya, aku merasakan sesuatu dengan si Tunggul, apakah kau tak merasakannya? Sepertinya, langkah-langkah si tunggul tidak lagi sempurna...?” teriak Cempaka lagi.

“Kau benar kak Cempaka, lebih baik kita berhenti...!” kata Purbaya. Lalu dia menarik tali kekang si Tunggul, kemudian ia turun diikuti oleh Cempaka.

“Oh, lihat adik Purbaya rupanya inilah yang telah menyebabkan jalannya si Tunggul terganggu. Luka memar di kaki depannya, kasihan sekali kau Tunggul...“ kata Cempaka.

“Kau benar kak Cempaka. Apakah yang sebaiknya kita lakukan sekarang,? “ kata Purbaya bertanya.

“Bagaimana kalau kita berlari cepat saja, untuk mengetahui kemana arah yang di maksud si Tunggul,” kata Cempaka memberi usul.

“Ya benar usul yang bagus. Mari kak Cempaka, ayo Tunggul kita berangkat lagi.

Bukankah arah tujuanmu arah timur!?” kata Purbaya. Lalu Purbaya melesat berlari cepat yang diikuti oleh Cempaka, begitu pula dengan si Tunggul. Kuda ajaib itu seperti mengerti akan kata-kata orang yang sangat dihormatinya itu. Dalam beberapa saat saja mereka seperti saling kejar mengejar.

“Hey, lihat adik Purbaya! Inilah rupanya maksud dari si Tunggul,” teriak Cempaka kemudian ia menghentikan larinya begitu pula dengan Purbaya.

“Oh,… lihat itu adik Purbaya, ada sebuah pondok di bawah pohon besar itu...! Pondok milik siapakah itu?” kata Cempaka sambil menunjuk ke arah sebuah pohon di depan mereka.

“Kau benar kak Cempaka. Tapi dimanakah kita ini sekarang, apakah ini masih wilayah Pasundan..?” kata Purbaya.

“Ya benar adik Purbaya ini adalah Pasundan, dan kalau tidak salah ini adalah kaki gunung Kumbang,” jawab Cempaka.

“Kau benar kak, ini adalah kaki gunung kumbang. Marilah kita dekati pondok itu, mungkin di situ kita akan mendapatkan jawaban dari sikap si tunggul,” kata Purbaya.

Lalu keduanya melangkah mendekati pondok itu, ketika mereka sampai di pintu pondok Cempaka bermaksud mengetuknya. Namun Purbaya cepat mencegahnya.

“Tunggu dulu kak, sebelum masuk kita ucapkan salam dahulu!” katanya.

“Baiklah. Sampurasun...!!” kata Cempaka. Lalu dia mengucapkan salam, namun tak ada jawaban sama sekali dari dalam.

“Sampurasun...! apakah ada orang di dalam..?” teriak Cempaka lagi. “Tunggu dulu kak Cempaka! Aku mendengar sesuatu,” kata Purbaya.

“Kau benar adik Purbaya,” kata Cempaka, lalu tanpa ragu lagi Cempaka membuka pintu dan masuk ke dalam diikuti oleh Purbaya.

“Di sana kak, di bilik itu...” kata Purbaya. Cempaka lalu mendekati bilik yang di tunjuk oleh Purbaya tadi. Dan ketika pintu bilik dibuka terlihat sesosok tubuh wanita yang terbaring lemah dan tak berdaya. Betapa terkejutnya sepasang anak muda dari Karang Sedana itu saat mengenali sosok tubuh itu.

“Hah bibi Wulan? Apa yang telah terjadi denganmu bibi Wulan?” tanya Cempaka, segera saja keduanya menghambur ke arah sesosok tubuh yang berbaring lemah itu. Sementara sesosok tubuh yang tengah terbaring itu tak menyahut, dia hanya bisa memberi tanda dengan matanya.

“Hmm, jalan darah di lehernya telah ditotok oleh seseorang. Cobalah kau bebaskan totokkan di leher bibi Wulan kak..!” kata Purbaya, saat menyadari kalau Anting Wulan dalam keadaan tak bisa bicara karena tertotok.

“Baiklah adik Purbaya, hup... hiat...” kata Cempaka, lalu tak seberapa lama kemudian Anting Wulan berhasil bebas dari totokkan Resi Amistha.

“Terima kasih Cempaka, tuanku Purbaya. Oh ya, bagaimana tuanku sampai bisa ke sini?” tanya Anting Wulan.

“Sesungguhnya kami tidak tahu apa-apa, kami datang kemari karena tadi malam si Tunggul kudamu datang ke keraton Karang Sedana, “ jawab Purbaya.

“Oh,… Tunggul kuda itu, bagaimana dia bisa tahu tempat ini? Dan di manakah sekarang kita ini berada? “kata Anting Wulan.

“Kita sekarang ini berada di kaki gunung Kumbang, Bi...“ jawab Purbaya. Cempaka lalu mengajak Anting Wulan untuk keluar pondok.

“Tunggu dulu Bi, apa yang sessungguhnya yang telah terjadi?!“ tanya Purbaya. “Si licik Amistha lah yang telah membawaku ke tempat ini,” jawab Anting Wulan. “Resi Amistha?!?...” seru Cempaka dan Purbaya bersamaan.

“Bagus, kebetulan sekali..!” kata Cempaka setengah berteriak, tapi setelah menyadari kekeliruannya Cempaka menunduk malu. Sementara itu Purbaya yang tak dapat menahan kegembiraannya mengajak Anting Wulan untuk segera mencari Resi Amistha.

“Kita tidak perlu mencarinya tuanku. Resi Amistha akan datang tepat pada senja hari seperti yang telah di lakukannya kemarin.Dia pergi untuk mencari kanda Saka dan memaksanya agar dia mau menukarkan pedang ular mas dengan diri hamba, “ kata Anting Wulan.

“Pedang ular mas?! Berbahaya sekali kalau pedang itu sampai di tangan Resi Amistha kita harus mencegahnya! Aku telah mendengar kehebatan pedang itu, dengan pedang itu Resi Amistha mampu membendung serangan-serangan dari tokoh-tokoh utama tanah Pasundan,“ kata prabu Purbaya. Tiba-tiba terdengar suara ringkikkan kuda.

“Itu suara si Tunggul. Maaf tuanku, hamba akan menemui kuda hamba,…” kata Anting Wulan. Lalu dia keluar dari pondok diikuti Purbaya dan Cempaka.

“Oh, terima kasih Tunggul. Kau telah menyelamatkanku dengan memberitahu pada Baginda Purbaya dan adik Cempaka, “ katanya.

“Kita harus menjebak Resi Amistha, bibi Wulan, “ kata Cempaka tiba-tiba. “Tapi bagaimana caranya Cempaka? “ tanya Anting Wulan.

“Mudah saja Bi, engkau suruhlah si Tunggul meninggalkan tempat ini supaya kehadirannya tidak membawa kecurigaannya. Sedangkan kita menunggu di dalam sambil beristirahat.” kata Purbaya mengajukan usulnya.

“Mmm, usul yang bagus tuanku, “ kata Anting Wulan setuju.

Lalu Anting Wulan menyuruh si tunggul kudanya untuk menjauh dari tempat itu. Sementara mereka bertiga kembali masuk ke dalam pondok untuk beristirahat dan bercakap-cakap. Senja hari tiba ketika itu Cempaka mendapat giliran untuk mengintai ke luar lewat jendela. Dia melihat sesosok bayangan yang berkelebat menuju pondok tersebut.

“Ssst dia datang...” kata Cempaka cukup pelan.

“Lebih baik kita serang bersama-sama, “ usul Anting Wulan setengah berbisik. “Lebih baik kita serang secara terang-terangan, dan biarlah kami saja yang

menghadapinya! Bibi Wulan beristirahatlah, kami lihat kandungan bibi sudah cukup besar,“ kata Purbaya.

“Hey, dia berhenti di depan pondok, agaknya dia curiga telah terjadi sesuatu di dalam pondok ini. Aku akan keluar, “ kata Cempaka. Lalu gadis cantik itu keluar pondok yang kemudian di ikuti oleh Purbaya.

“Ha ha ha ha... rupanya kalian yang telah datang. Darimana kalian bisa tahu tempat ini?” tanya Resi Amistha.

“Kau tak perlu tahu Amistha! yang penting sekarang kau harus mampus,” kata Cempaka, lalu dia dan raden Purbaya menyerang Resi Amistha.

“Ha ha ha ha... kalian keterlaluan sekali, berani-beraninya mengeroyok seorang tua seperti aku. Seharusnya kalian malu sebagai manusia utama di Karang Sedana. Sudah tanggung, kau majulah pula Anting Wulan...!” seru resi Amistha ditujukan pada Anting Wulan yang tengah duduk memperhatikan jalannya pertempuran itu.

“Tak perlu memakai aturan segala untuk menghajarmu Amistha !” teriak Anting

Wulan.

“Jangan lakukan itu bibi Wulan...! Biarlah kami saja yang menghadapinya, bibi beristirahatlah ...!” cegah Purbaya yang mengkhawatirkan kandungan Anting Wulan.

“Ho...ho...ho... kalian berdua yang akan menghadapiku, hingga kalian terdesak hebat dan mati,” ejek Resi Amistha.

“Setan licik kau Amistha,” kata Purbaya menggeram. “Kau harus mati hari ini! Ayo kak, kau mainkan aji Kelelawar Sakti dan aku akan memainkan aji Semadhi Dewa Gila..!”

Cempaka yang mendengar seruan Purbaya itu segera menganggukkan kepalanya tanda setuju.

Dalam beberapa saat saja Purbaya dan Cempaka telah mengeluarkan kedua aji itu. Raden Purbaya berusaha untuk mendesak Resi Amistha, dengan gerakan-gerakan tipu yang sangat sulit untuk ditebak arah serangannya. Sementara itu, Cempaka juga telah memainkan aji Kelelawar Sakti. Gadis manis itu terus melayang di udara sambil terus menyerang resi Amistha dengan serangan yang mematikan. Untuk beberapa saat Purbaya yang ada di bawah terdesak.

“Aku ingin tahu sampai di mana kehebatan kalian,” kata resi Amistha.

“Awas adik Purbaya, resi Amistha mengeluarkan aji Lima Bayang-Bayangnya..!“ teriak Cempaka memperingatkan.

Pertempuran semakin hebat, setelah Resi Amistha mengeluarkan aji Lima Bayang- Bayang. Tapi walaupun begitu resi Amistha tak dapat mendesak Purbaya yang sedang memainkan aji Semadhi Dewa Gilanya. Sedangkan diatas, Cempaka bagaikan burung srigatan bergerak ke sana ke mari menyerang resi Amistha.

“Hmm, resi ini ilmunya semakin hebat, beruntung aku dan adik Purbaya telah menguasi aji Penolak Bala dan aji Halimunan,” gumam Cempaka.

“Setan! Ilmu apa yang telah mereka gunakan?” resi Amistha menggeram dan mengumpat. Dia merasa geram karena setiap serangan yang diarahkannya pada gadis itu seakan-akan menerpa ruangan kosong. Untuk beberapa saat Purbaya yang berada di bawah terdesak oleh kelima bayang-bayang Resi Amistha. “Kak Cempaka, resi ini kita hadapai dengan senjata..!” teriak Purbaya. Cempaka yang mendengar teriakkan itu mengangguk dan segera mendekati Purbaya. Lalu mereka saling berpegangan tangan. Sementara itu resi Amistha terkejut dan menyebut nama Dewi Durga sembahannya.

“Hah, apa yang akan mereka lakukan? Durga Agung, agaknya mereka akan mengeluarkan kujang Cakra Buana dari dalam tubuh mereka. Aku harus menggunakan kesempatan ini untuk membunuh mereka, “ gumam Resi Amistha.

Melihat kesempatan baik di hadapannya resi Amistha bermaksud menyerang Purbaya dan Cempaka. Sementara itu Purbaya yang tengah memusatkan perhatiannya, pada tangannya, yang sedang berpegangan tangan dengan Cempaka. Melihat resi Amistha hendak menyerangnya, dengan sebelah tangan lainnya menahan pukulan resi Amistha tersebut. Hingga resi itu jatuh terpental beberapa tombak, sementara itu kujang Cakra Buana telah tergenggam di tangan Purbaya dan warangkanya di tangan Cempaka.

“Marilah, adik Purbaya kita serang Resi Amistha secara bersama-sama!” kata Cempaka. Pertempuran kembali terjadi bahkan semakin seru, karena dengan kujang pusaka di tangan mereka aji Lima Bayang-Bayang resi Amistha tak ada gunanya lagi bagi mereka berdua.

“Oooh, sinar senjata ini rasanya mengiris-iris kulitku. Aku tak berani menanggung resiko dengan mempertaruhkan aji Rawa Rontekku dengan kujang pusaka di tangan mereka,“ keluh Resi Amistha.

Untuk beberapa saat Resi Amistha terlihat mundur, agaknya ia bermaksud melarikan diri. Tapi Purbaya yang melihat hal itu, terus menyerang ke lima bentuk resi Amistha yang lain. Sedangkan resi Amistha sendiri mendapat serangan dari Cempaka tak dapat mendesak gadis itu. Bahkan pukulan-pukulan balasan yang diarahkan pada gadis itu tak dapat menyentuh seujung rambut pun gadis cantik itu.

Tiba-tiba dengan gerakkan memutar Purbaya berhasil menikam dada resi Amistha. Belum lagi rasa kagetnya hilang, ditambah dengan sambaran warangka kujang di tangan Cempaka. Tak dapat dielakkan lagi, resi Amistha jatuh tak berdaya. Anting Wulan yang sejak tadi menyaksikan pertempuran itu, begitu melihat resi Amistha ambruk, dia melesat. Lalu dengan tangannya, Anting Wulan memotong leher Resi Amistha, kemudian melesat ke atas sebatang pohon kelapa yang cukup tinggi.

“Hey,.. apa yang akan di lakukan oleh bibi Wulan, adik Purbaya?” tanya Cempaka keheran-heranan. “Entahlah kak, tapi mungkin itu satu-satunya cara untuk melumpuhkan aji Rawa Rontek resi Amistha! Lihatlah bibi Wulan telah kembali,” kata Purbaya menjawabnya.

“Mmm, Cempaka… apakah kau tidak keberatan jika aku meminta baju luarmu?“ tanya Anting Wulan hati-hati.

“Untuk apakah, bibi Wulan?” Cempaka balik bertanya bingung.

“Mmm aku akan menyumpal baju luarku dan baju luarmu, untuk digunakan sebagai tali sementara untuk mengikat kepala dan tubuh Resi Amistha,” jawab Anting Wulan.

“Tentu saja bibi Wulan,“ kata Cempaka, lalu ia merobek pakaian luar yang ia kenakan.

“Kau juga boleh memakai baju luarku, Bi.“ kata Purbaya. “Terima kasih tuanku,“ kata Anting Wulan.

Lalu Cempaka menyumpal sobekkan pakaiannya seperti yang dilakukan oleh Anting Wulan begitu pula dengan Raden Purbaya. Beberapa saat kemudian, Anting Wulan mengikat kepala dan tubuh Resi Amistha, secara terpisah di atas dua pohon kelapa yang sama tingginya namun agak berjauhan.

“Darimana bibi Wulan mendapatkan cara memusnahkan aji Rawa Rontek resi Amistha itu?” tanya Cempaka.

“Dari kakek Kaliman, dalam mimpi beberapa hari yang lalu,” jawab Anting Wulan sedikit gugup.

“Mudah-mudahan saja resi Amistha tak dapat bangkit lagi,” kata Purbaya.

“Tuanku benar, untuk membuktikannya hamba akan berjaga-jaga.” kata Anting

Wulan.

“Kau benar, Bi. Kita akan menjaganya hingga besok pagi.“ kata Purbaya setuju.

Malam itu mereka bertiga berjaga-jaga hingga keesokkan harinya. Setelah meyakinkan bahwa resi Amistha tak dapat bangkit lagi, dan tubuhnya masih tergantung. Anting Wulan segera mencari tali dan menurunkan tubuh dan kepala Resi Amistha ke tanah, hendak di ganti ikatannya. Purbaya yang melihat keadaan Anting Wulan yang tengah hamil segera saja mencegahnya. “Tunggu dulu bibi Wulan, biarlah saya yang akan menggantinya. Bibi Wulan beristirahatlah! Keadaanmu sekarang tak memungkinkan untuk banyak bergerak,” katanya.

“Terima kasih tuanku,” kata Anting Wulan.

“Urusan ini bukanlah hanya urusanmu, melainkan urusan kita semua. Janganlah engkau sungkan-sungkan bibi Wulan...!” kata Purbaya lagi.

Lalu pemuda gagah itu mengikat tubuh dan kepala resi Amistha secara terpisah dan di gantungnya di dua pohon kelapa yang jaraknya tak berjauhan. Setelah selesai semuanya Anting Wulan berpamitan pada Prabu Purbaya dan Cempaka.

“Hamba mohon pamit tuanku untuk mencari kanda Saka, “ kata Anting Wulan.

“Baiklah bibi Wulan. Titip salamku pada paman Saka dan juga pada kakang Prabu Sanjaya di Mataram,” kata Purbaya.

“Terima kasih tuanku. Tapi mengenai baginda Sanjaya, beliau sedang tidak ada di Mataram. Beliau pergi untuk menyerang kerajaan yang telah menghina utusan beliau,” kata Anting Wulan.

“Kakang Sanjaya memang hebat, juga titip salam kemenanganku baginya, karena aku yakin kakang Sanjaya akan kembali dengan penuh kemenangan. Dan juga kuucapkan terima kasih atas bantuanmu, “ kata Purbaya.

“Hambalah yang seharusnya berterima kasih pada tuanku, karena tuankulah yang telah menyelamatkan hamba. Hamba pamit tuanku, adik Cempaka,” kata Anting Wulan, lalu dia naik ke punggung si Tunggul yang sudah sejak tadi berada di situ.

“Tunggu dulu bibi! Janganlah engkau paksakan si tunggul untuk berlari terus, luka di kakinya belum lagi sembuh benar,” kata Purbaya.

“Terima kasih tuanku atas peringatannya. Hamba mohon pamit tuanku, adik Cempaka.“ kata Anting Wulan.

“Silakan. Hati-hatilah, Bi. Jagalah kandunganmu itu bibi Wulan.” kata Cempaka. “Terima kasih adik Cempaka” kata Anting Wulan lalu ia menghela kudanya.

Kini di tempat itu menjadi sepi dan sunyi yang tinggal hanyalah Raden Purbaya dan Cempaka. “Kita segera kembali ke Karang Sedana, Kak..!” kata Purbaya setelah menghela napas panjang.

“Ya kita kembali. Dan, aku… aku bersedia untuk segera menikah, adik Pubaya...” kata Cempaka sambil tertunduk malu-malu.

“Puji syukur aku ucapkan padamu, Dewata Agung! Berarti pada purnama Margasirna tepatnya pada hari Respati yang ke 14 adalah hari bahagia kita berdua,“ mendengar perkataan Cempaka terluapkan kata-kata Purbaya yang merasa sangat gembira.

Dengan hati yang berbunga-bunga raden Purbaya dan Cempaka kembali ke Karang Sedana. Sementara itu Anting Wulan telah bertemu kembali dengan suaminya Raden Saka Palwaguna. Lalu keduanya memutuskan untuk kembali ke Mataram karena Karang Sedana kini telah kembali direbut oleh Prabu Pubaya dan Cempaka dari tangan Resi Amistha.

Kita tinggalkan perjalan Anting Wulan dan raden Saka Palwaguna yang tengah kembali ke Mataram. Sekarang marilah kita ikuti kembali mengikuti kisah Purbaya dan Cempaka di Karang Sedana. Persiapan untuk hari-hari pernikahan Raden Purbaya dan Cempaka berjalan dengan mulus. Persyaratan yang diusulkan oleh Cempaka, yaitu tentang kematian Resi Amistha telah tuntas. Dan mayatnya telah di gantung oleh mereka yang di bantu oleh Anting Wulan. Kini Karang Sedana kembali aman dan tentram.

Siang itu tampak dua ekor kuda tengah berpacu di pinggiran hutan perbatasan kota raja Karang Sedana.

“Ha ha ha...! Ayo kejar aku adik Pubaya, kenapa kudamu jadi selambat itu?!” teriak penunggang kuda yang paling depan, jika dilihat dari bentuk tubuh dan suaranya jelas diaa adalah seorang wanita. Dan memang dia wanita dan tidak lain adalah Cempaka, sedangkan yang di belakangnya adalah raden Purbaya. Pemuda gagah itu menunggangi seekor kuda berwarna coklat.

“Baiklah..! Tapi apa yang akan kau berikan bila aku berhasil mengejarmu kak..?!” teriak Purbaya.

“Ha ha ha... apa pun yang kau minta akan kuberikan. Tapi, kau tetap saja tak akan berhasil menangkapku dengan lari kudamu itu!” teriak Cempaka menantang sambil menoleh ke belakang dan terus tertawa. Purbaya yang merasa ditantang segera memacu kudanya agar lebih cepat lagi. Lalu tanpa diduga oleh Cempaka, Purbaya melesat mengejar dan tak berapa lama kemudian pemuda itu sudah ada di belakang kuda Cempaka dan memeluknya.

“Kau lihat saja kak..! Aku akan dapat mengejarmu kak...!” teriak Purbaya.

“Hey... kau curang adik Purbaya... Siapa yang menyuruh meninggalkan kudamu..?

Kau harus tetap berada di punggung kudamu...!” kata Cempaka protes.

“Ooh, lepaskan pelukanmu ini adik Purbaya...! lepaskan...!” kata Cempaka lagi.

Cempaka berusaha untuk melepaskan pelukan Raden Purbaya. Tetapi mereka berdua jatuh dari atas punggung kuda dan bergulingan di tanah.

“Oh adik Purbaya, kau... kau... maafkan aku,” kata Cempaka.

“Ha ha ha... aku tidak apa-apa kak Cempaka. Marilah kita beristirahat di tempat ini! Kau duduklah di sana.” kata Purbaya.

“Baiklah. Maafkan aku atas kejadian tadi adik Purbaya, “ kata Cempaka khawatir.

“Betapa menyenangkannya hari-hari kita akhir-akhir ini adik Purbaya. Engkau mau meluangkan waktumu dan kau jauhi urusan pemerintahan. Hanya untuk bermain-main denganku seperti waktu kita kecil dulu,“ kata Cempaka.

“Hey ada apa denganmu, adik Purbaya apakah kau tidak sadar?“ tanya Cempaka, begitu menyadari kalau Purbaya tengah memandanginya dengan mata tak berkedip.

“Tidak. Ah, biarlah aku menatapmu terus kak,“ jawab Purbaya.

“Kau ini ada-ada saja adik Purbaya. Atau mungkin kau kurang waras?” kata Cempaka tersenyum kecil. Sikap dari Prabu Purbaya membuat Cempaka serba salah. Cempaka yang serba salah menguraikan, melepaskan ikatan rambutnya.

“Sudahlah adik Purbaya, kau jangan menatapku begitu. aku jadi serba salah,“ katanya dengan suara bergetar. Dada Cempaka semakin berdetak kencang begitu melihat Raden Purbaya, junjungan yang sekaligus juga kekasihnya itu mendekatinya dengan pandangan yang aneh.

“Kak Cempaka,...” kata Purbaya.

“Ada apa dengan dirimu adik Purbaya? “tanya Cempaka. “Kau... kau cantik sekali kak Cempaka,” kata Purbaya. Cempaka yang telah menduga akan sikap dari Prabu Purbaya merasakan dadanya semakin berdebar kencang.

“Oh, Hyang Agung,... Apa yang hendak dilakukan adik Pubaya padaku? Kenapa dadaku berdebar semakin kencang? Aku merasakan seakan-akan dadaku ini akan pecah oleh tatapan matanya,” gumam Cempaka membatin.

“Kak... kak Cempaka... Rasa-rasanya aku tak dapat lagi menahan gelora cintaku. Hasrat cintaku yang selama ini kupendam di sisi jantungku, di setiap aliran darahku, di setiap hembusan napasku. Rasa-rasanya aku ingin mengejar waktu, mengejar hari bahagia itu untuk mendapatkanmu dalam pelukkanku...” kata Purbaya mendesah.

Lalu pemuda yang belum genap menginjak usia tujuh belas tahun itu meraih tangan kekasihnya. Digenggamnya tangan itu dengan segenap perasaannya, lalu diciuminya tangan yang halus itu dengan hembusan napas kasih.

Sementara itu Cempaka yang merasakan tubuhnya lemah lunglai dibuai oleh bisikan- bisikan asmara, dari pemuda gagah perkasa yang secara diam-diam dicintainya sewaktu masih menjadi dayang pengasuhnya. Cempaka menjatuhkan dirinya dan memeluk kaki pemuda di hadapannya erat-erat sambil menangis terisak-isak.

“Oh, Sang Hyang Jagad Dewa Batara, apakah ini bukan hanya mimpi? Bukan hanya merupakan sebuah bayang-bayang semu yang hadir dalam kehidupanku? Oh Dewata Agung, mengapa ini semua dapat menjadi kenyataan? Aku yang hanya seorang dayang hina yang dengan berani-beraninya mencintai junjungannya...” gumam Cempaka disela isaknya.

Purbaya membungkuk sedikit lalu dia meraih tangannya dan diajaknya berdiri di hadapannya. Lalu dia memeluk Cempaka dengan mesranya, Cempaka yang ada dalam pelukan itu menerimanya dengan hangat. Tiba-tiba dari tubuh mereka yang menjadi satu menampakkan suatu keanehan. Cahaya yang kemilau membungkus tubuh mereka.

“Oh kanda akhirnya kita akan dapat bertemu kembali, “ kata Cempaka.

“Tidak ada satu kekuatan pun yang akan dapat memisahkan cinta kita, dinda.” kata Purbaya.

“Ya. tak ada satu kekuatan pun yang dapat memisahkan cinta kita.” ulang Cempaka. Kembali mereka berdua dibuai oleh asmara yang sangat mesra, namun ketika cahaya yang kemilau itu lenyap. Prabu Purbaya dan Cempaka seperti tersadar dari mimpi yang aneh.

“Kak Cempaka, aku dapat merasakannya! Aku dapat merasakan kehadiran kekuatan itu, kekuatan suci, kekuatan agung, kekuatan Cinta. Aku dapat merasakan itu semua.” kata Purbaya.

“Ya. Aku juga dapat merasakannya adik Purbaya. Kekuatan itu sudah sejak lama ada. Kita tahu dari kakek Mamang Kuraya dan juga resi Amistha. Tapi baru kali aku dapat merasakan kedatangannya dalam pelukkan hangat kita.“ kata Cempaka.

“Kekuatan cintanya serasa menggetar dan menyatu dengan diriku.” kata Purbaya. “Begitu pula denganku, ooh kanda Purbaya...” kata Cempaka tiba-tiba.

“Kau..? Kau menyebutku dengan sebutan itu?! Sebutannya dinda Cempaka?” kata prabu Purbaya terkejut sekaligus gembira.

“Ya kanda, dinda harus memanggilmu kanda, harus kanda! Bagiku kau adalah junjunganku, bagiku kau kekasihku, bagiku kau adalah pelindungku. Bagiku engkaulah yang lebih besar, bagiku kau adalah yang maha agung, bagiku kau adalah yang maha adil dan bijak sana...” kata Cempaka sambil menangis.

“Rasa-rasanya kini aku telah tumbuh jadi orang dewasa, berbeda ketika engkau tadi memanggilku adik Purbaya. Rasanya kini aku telah tumbuh jadi lebih dewasa dinda Cempaka.“ kata Purbaya juga merasa gembira.

“Ooh kanda Purbaya,…” kata Cempaka. “Dinda, dinda Cempaka…”

“Kanda, kanda Purbaya,” Cempaka berkata syahdu.

Lalu Cempaka kembali memeluk pemuda dihadapannya itu dengan erat. Begitu juga dengan Purbaya. Seakan-akan mereka tidak mau dipisahkan kembali. Ketika mereka telah sadar dari buaian asmara, mereka segera kembali ke keraton Karang sedana.

Namun baru saja sampai datanglah patih Arya Brata dengan tergopoh-gopoh menemui Prabu Purbaya.

“Ampun tuanku, hamba menunggu-nunggu tuanku dari sejak pagi sampai sore ini baru Tuanku datang,“ kata patih Arya Brata. “Menunggu-nungguku, ada apakah paman?“ tanya Prabu Purbaya.

“Utusan dari Kencana Wungu. Dia juga mengaku sebagai utusan dari lima negara telah menunggu tuanku sejak dari tadi pagi, “ jawab Patih Arya Brata.

“Kencana Wungu, Prabu Sakti Dewangga? Siapakah utusannya itu paman Arya Brata?” tanya Purbaya.

“Ampun tuanku, beliau adalah penasehat agung Prabu Sakti Dewangga yaitu tuanku Pataya Jati,” jawab Patih Arya Brata.

“Hmm, Baiklah aku akan menemuinya, tapi kuharap paman Arya menemaniku nanti!” kata Purbaya.

“Baiklah Tuanku,“ kata Patih Arya Brata.

“Prabu Sakti Dewangga telah menerima kabar gembira dari keraton Karang Sedana ini. Yaitu tentang pernikahan tuanku yang akan dilangsungkan pada purnama Margasirna, pada tanggal empat belas yang jatuh pada hari Respati. Prabu Sakti Dewangga telah sepakat dengan para Prabu yang lainnya, dan meminta atas kesediaan tuanku untuk meminta hari yang ketujuh dari hari pernikahan tuanku untuk melaksanakan rencana mereka, “ kata Pataya Jati mengatakan tujuan kedatangannya.

“Hmm rencana apakah yang telah di buat oleh paman prabu sakti Dewangga dan juga keempat paman Prabu lainnya?“ tanya Prabu Purbaya.

“Ampun tuanku. Junjungan kami Prabu Sakti Dewangga dan keempat Prabu lainnya telah sepakat untuk mengangkat tuanku sebagai Sang Raja Surya,“ jawab Pataya Jati.

“Raja Surya...? apalagi itu paman...?” tanya Prabu Pubaya.

“Juru pendamai tuanku. Jadi kami mohon pada tuanku untuk memberikan hari yang ketujuh dari perkawinan tuanku, untuk melaksanakan upacara khusus itu,” jawab Pataya Jati.

“Lalu bagaimana dengan Galuh yang jauh lebih besar dengan Karang Sedana ini?” tanya Prabu Purbaya.

“Galuh tidaklah lagi besar seperti pada masa pemerintahan Prabu Sana. Galuh tidaklah lagi mempunyai pemimpin yang cakap dan adil dalam memerintah. Galuh tidaklah lagi besar seperti Karang Sedana saat ini, yang dipimpin oleh tuanku yang mulia. Tuanku adalah orang yang sakti, dengan kesaktian tuanku dapat dengan mudah memperluas daerah kekuasaan. Dengan cara menaklukkan kerajaan besar maupun kecil, namun itu semua tidaklah dilakukan oleh tuanku. Justru kamilah dari Kencana Wungu, Kawali, dan negara-negara bawahan tuanku yang lainnya takluk dan tunduk di bawah lindungan tuanku Prabu Purbaya yang adil lagi bijaksana.“ jawab Ki Pataya Jati panjang lebar.

“Kalian ini sungguh keterlaluan sekali. Aku adalah manusia biasa seperti halnya kalian yang ada di sini, seperti paman Arya, paman Pataya dan juga paman Sakti Dewangga. Dan lagi aku tak pernah merasa kalau kalian adalah taklukkanku. Kalian kuanggap sebagai negara tetangga, aku juga tidak pernah meminta upeti sedikit pun pada kalian.” Purbaya menolak sanjungan itu.

“Hamba mengerti tuanku, justru karena kerendahan hati tuanku itulah. Kami setuju untuk menobatkan tuanku sebagai Sang Raja Surya. Dan untuk itu pula kami meminta pada tuanku untuk memberikan hari yang ketujuh dari pernikahan tuanku untuk upacara penobatan tuanku sebagai Raja Surya,“ kata Ki Pataya Jati.

“Baiklah... paman, karena rencana itu telah menjadi kesepakatan dari paman- paman Prabu lainnya maka aku menerimanya. Akan tetapi aku takut kalau kalian akan kecewa karena tak dapat mewujudkan keinginan kalian semua, pada masa-masa yang akan datang,” kata Prabu Purbaya.

“Kami percaya pada tuanku sepenuhnya. Dan jika tidak keberatan saya mohon diri untuk menyampaikan kabar gembira ini, pada junjungan kami Prabu Sakti Dewangga. Setelah itu akan kami teruskan kepada prabu-prabu lainnya, “ kata Ki Pataya Jati. Lalu ia memberi hormat sebelum akhirnya ia pamit untuk kembali ke kerajaannya Kencana Wungu.

Maka mulai saat itu kota raja Karang Sedana menjadi sibuk, alun-alun kota raja dihias dengan indah. Bangunan-bangunan untuk para tamu yang akan menginap telah disiapkan. Perkawinan Agung antara Prabu Purbaya dan Cempaka kurang dari tiga puluh hari lagi.

Hari demi hari telah berlalu, hari yang di tunggu pun telah datang. Seluruh desa-desa di daerah Karang Sedana nampak semarak. Rumah-rumah penduduk dihias, jalan-jalan di hias dengan berbagai hiasan yang terbuat dari janur kuning. Tampak juga boneka sepasang pengantin, yang terbuat dari batang-batang padi kering yang di tumbuk halus.