--> -->

Babad Tanah Leluhur Jilid 01

Jilid 01

01. API BERKOBAR DI KARANG SEDANA

Di sebuah Goa tampak sesosok lelaki tua dengan rambut yang sudah memutih semua, lelaki tua itu tampak tenang dalam semedinya tiba-tiba terdengar suara langkah kaki manusia menyeruak masuk ke dalam goa.

“Aku sudah tua, aku sudah menjauhi kegaduhan dunia.”

“Angkara murka merajalela, merusak tatanan dharma. Keluarlah guru. Tapa hanya percuma, puja doa akan sia-sia jika membiarkan angkara menguasai dunia.”

“Wanayasa, jangan ganggu aku...”

“Jerangkong Hidup membuat keonaran dimana-mana. Dan tidak seorangpun bisa menandingi dia, kecuali guru...”

“Aku sedang mendekati sang maha sempurna.”

“Melenyapkan jerangkong hidup yang banyak membuat kerusakan di atas bumi, itu juga merupakan jalan untuk mendekati sang maha sempurna. Bukankah begitu ajaran guru? Laku utama bukan hanya tapa dan puja doa. Melenyapkan angkara juga laku utama menuju jalan sempurna. Mari guru, kita keluar menghadapi jerangkong hidup. Puluhan satria yang ingin melenyapkan kejahatan Jerangkong Hidup telah mati sia-sia. Para pendekar sakti mati menyedihkan. Korban telah banyak. Hanya guru lah tandingannya. Ingat guru, jika banyak anak menjadi yatim dan para istri menjadi janda karena perbuatan jerangkong hidup, guru lah yang bertanggung jawab. Sang maha esa menyaksikan kita, kelak di hari pengadilan agung guru akan menyesal dituntut oleh para kawula lemah. Permisi...”

Selesai berkata-kata, lelaki tua yang disebut bernama Wanayasa tersebut menyembah pada sang Guru. Lalu tanpa berkata sepatah katapun, dia melangkah keluar dari goa.

Sementara itu, marilah kita beralih ke sebuah tempat yang jauh dari goa itu. Sebuah tempat yang ramai. Sebuah kota raja. Kota tersebut adalah ibukota kerajaan kecil bernama Karang Sedana.

Ditengah hiruk-pikuknya kota Karang Sedana, kita berjalan menuju keraton. Disana tampak bergegas seorang prajurit dengan wajah bercampur antara kecemasan dan ketegangan juga ketakutan. Langkahnya cepat menuju paseban agung, tempat dimana sang Prabu Aji Konda bersemayam setiap hari menerima pengaduan dari rakyatnya. “Hamba akan melapor Gusti” “Bagaimana sandi warta?”

“Ki Dalem Suntana, penasehat paduka yang mendalangi pemberontakan.” “Pengkhianat!”

“Para gembong maling, perampok dan para pendekar aliran hitam yang menjadi pendukung Ki Dalem, Gusti”

“Siapa lagi?”

“Perguruan Bukit Tengkorak dan Dadung Amoksa juga membantu Ki Dalem, Gusti”

“Jerangkong Hidup dan Dadung Amoksa...” “Gusti malapetaka menimpa Karang Sedana.”

“Mengapa?”

“Umpama saja seluruh prajurit kerajaan Galuh bergabung dengan seluruh prajurit kerajaan Karang Sedana untuk menggempur perguruan Bukit Tengkorak, belum tentu kita bisa menang, Gusti Prabu.”

“Betul gusti, kesaktian Jerangkong Hidup dan Dadung Amoksa belum ada tandingannya sampai hari ini.”

“Tidak. Ini harga diri kerajaan Karang Sedana! Apapun yang terjadi kita harus melawan!” sang raja, Prabu Aji Konda berkata dengan penuh kemarahan. Dia lalu berkata pada seorang dayang muda di sebelahnya,”Dayang, panggil permaisuri kemari!”

“Daulat, tuanku..” dayang muda tersebut menyembah, lalu berlalu dari paseban.

Sementara itu, ditempat lain.

“Heheheheh, bagaimana?” seorang lelaki separuh baya keluar dari pondok. Dia tertawa sejenak, lalu bertanya pada seseorang bertubuh besar yang sedari tadi menunggu di depan pintu pondok tersebut.

“Semuanya sudah siap, tinggal menunggu perintah Gusti.” jawab lelaki dihadapannya. Kemudian dia berjalan menjajari.

Lelaki itu berjalan, menuju ke depan pondok itu. Didepan pondok itu berbaris ratusan orang yang berpakaian macam-macam. Ada yang berpakaian prajurit , ada yang berpakaian biasa. Dan ada yang berpakaian khas pendekar. Tidak ketinggalan orang- orang yang tampaknya lebih mirip perampok hutan.

“Aaarrghh!” jeritan kematian terdengar dari sosok tubuh yang melayang dari dalam pondok.

“Tolol! Goblok! Telik sandi macam apa ini?” seorang pendekar berkumis tebal melintang keluar dari pondok. Dia adalah Dadung Amoksa. Dengan wajah merah padam dia menunjuk mayat lelaki yang melayang tadi, lalu katanya “Lihat, kalian pun akan seperti dia jika tak bisa mengemban tugas!”

Suasana hening seketika. Dadung Amoksa melayangkan pandangannya ke arah barisan di hadapannya. Mereka yang ditatap segera tertunduk.

“Bagus!...”

Ki Dalem Suntana terkekeh, dia berjalan mendekati Dadung Amoksa. Kepalanya mengangguk-angguk. Dia merasa amat puas dengan persiapan pasukan. Terutama atas apa yang dilakukan oleh Dadung Amoksa. Dia sepakat dengan tindakan Dadung Amoksa, bahwa seorang telik sandi yang dianggap tidak becus mengemban tugasnya harus di bunuh dan dipermalukan dihadapan barisan itu. Kemudian dia berkata pada Dadung Amoksa dengan penuh semangat, “Bagus, hahahaha, bagus. Dinda Dadung Amoksa… Hari ini runtuhnya kerajaan Karang Sedana!”

“Iya, kita buktikan bahwa kitalah yang lebih kuat.” berkata Dadung Amoksa setelah menoleh memandang Ki Dalem Suntana sambil menyeringai.

Kita tinggalkan persiapan Ki Dalem Suntana dalam merencanakan pemberontakan terhadap kerajaan Karang Sedana. Sekarang kita ikuti kembali keadaan di kerajaan Karang Sedana. Di paseban agung, prabu Aji Konda tengah berbincang dengan permaisurinya, Rara Angken. Di paseban itu hadir pula putra mahkota pangeran Purbaya, beberapa dayang dan prajurit pengawal.

“Dinda, cepat berkemas. Pemberontak sedang merajalela dibantu oleh orang- orang kuat. Mungkin tidak gampang mengusir mereka.”

“Jadi…?”

“Tinggalkan keraton ini, bawalah prajurit-prajurit setia dan beberapa dayang.” “Ah, kanda…”

“Ayah, kenapa kita tidak bersama saja?” setelah menghaturkan sembah, putra mahkota bertanya.

Prabu Aji Konda menggeleng, walau demikian tampak tatapan matanya kosong. Dia berkata pada putra mahkotanya, “Jiwa ksatria pantang lari, anakku…”`

“Aku takut kanda,… apa mesti kita berpisah?”

“Tidak apa-apa dinda. Kita berpisah untuk sementara. Aku akan membendung mereka supaya tidak kemari. Cepat tinggalkan tempat ini.”

“Saudara-saudara, hari ini hari penentuan perjuangan kita. Jika hari ini kalah … akan hilang semua derajat kita. Dan sepanjang waktu kita akan menjadi buronan kerajaan!” Ki Dalem Suntana memulai pidatonya dihadapan pasukan yang akan menyerbu Karang Sedana.

“Sebab itu, penyerbuan kita ke benteng harus menang. Kerajaan kita rebut! Sebelum matahari tenggelam, kerajaan Karang Sedana harus jatuh ke tangan kita! Rebut Karang Sedana!” Dadung Amoksa berseru-seru riuh menyemangati barisan yang ada didepannya. 02. KISAH SEPASANG ANAK HARIMAU 03. RAHASIA BUKIT TENGKORAK 04. SAYEMBARA PRABU SANA 05. BIDADARI PENCABUT NYAWA 06. BANYU CAKRA BUANA 07. KEMELUT HATI SANG PENDEKAR 08. SATRIA CILIK KARANG SEDANA 09. KUPU-KUPU BERCADAR PUTIH 10. GEGER BUMI GALUH 11. RATU SEGARA KIDUL

(10)

Pada kisah yang lalu diceritakan, Cempaka sangat terkejut dan juga gembira ketika mendengar dari nenek tua dimana dia menginap tentang Raden Purbaya.

“Penunggang kuda putih? Ah… ee… apakah… apakah salah seorang diantaranya adalah seorang bocah laki-laki yang berumur kurang lebih dua belas tahun?”

“Ooh, ya… Iya. Sepertinya tidak salah dugaanmu. Apakah kau juga pernah mendapat karunia darinya, ha?”

“Eeh?” Cempaka sesaat meragu untuk menjawabnya. “Kau sudah pernah bertemu dengannya?”

“Yah. Memang kami pernah bertemu dengan mereka. Ah, apakah nini dapat menunjukkan arah kemana mereka pergi?”

“Hmm, Oh! Kukira kalian… Ya! Ahaha… “ nenek Tua itu terdiam sejak. Setelah sedikit terkekeh dia melanjutkan, “Kukira kalian tidak akan mungkin berniat buruk padanya, pada mereka. Ya, akan kutunjukkan arahnya yah. Ah, dia… menuju ke arah utara.”

“Utara?!” Cempaka mengulang.

“Ahh, iya iya. Tidak salah dugaanku. Dia pasti pergi ke sana Cempaka.”

“Oh, iya. Dan sudah dapat dipastikan yang menculiknya adalah bibi Wulan.” “Haah!? Siapakah kalian ini?” Nenek tua itu terkejut mendengar Cempaka

mengatakan kata-kata menculik. “Siapa yang kalian maksudkan dengan penculik he?”

“Ah, Nek… Keduanya adalah kawan kami, Nek. Dan kami bersama-sama dengan penunggang kuda itu hendak mencari orang jahat.”

“Oh, kalian orang-orang baik pasti akan selamat. Dewata pasti tidak akan membiarkan orang-orang baik seperti kalian menjadi terlantar dan menderita. Oh, aku beruntung sekali dapat membantu kalian yang merupakan sahabat dari tuan penolong kami. Ahahaha, yang telah memberikan kami belasan keping yang sangat berarti sekali bagi kami. Ah, terima kasih.” Nenek tua itu membungkuk, dan perlahan bersujud.

“Oh, Nek… Kenapa jadi begini. Ayuk bangkitlah, bangkitlah Nek. Ah, sayalah yang seharusnya berterima kasih pada Nenek yang jelas-jelas telah memberikan tempat pada kami untuk menginap dan bersusah payah mempersiapkan makanan seperti ini…”

“Ooh, iya iya. Kembalilah kalian ke ruang tengah sana. Biar aku sendiri yang menyediakannya. Semuanya sudah siap.”

“Ah, iya ya. Baiklah. Kami akan tunggu di ruang tengah. Ah, ayo Cempaka kita tunggu di depan”

“Ehmm… Baiklah. Nek, saya tunggu di ruang tengah.” “Oh, mereka menuju ke arah utara, Kek.”

“Iya, iya. Sudah hampir dapat kupastikan. Mereka akan menuju ke Indraprasta.” “Indraprasta?”

“Iya, Indraprasta. Anting Wulan pasti tidak akan dengan mudah mempercayai keterangan Purbaya. Karena itu dia akan menuntut Prabu Sora.”

“Hah? Oh, apakah mungkin demikian, Kek? Oh, di sana banyak terdapat jago-jago yang akan mempersulit dirinya. Berbahaya sekali jika dia melakukan tindakan seperti itu. Oh, juga raden Purbaya akan mendapat susah di sana.”

“Ah, iya iya. Banyak kemungkinan jelek yang dapat terjadi di sana.” “Oh, kita harus mencegahnya tiba di Indraprasta, Kek.”

“Ya, betul. Kita akan mencegahnya Cempaka.” “Ayolah Kek, kita berangkat mengejar mereka!”

“Hee? Hooh, bagaimana kau ini? Bukankan nenek itu tengah mempersiapkan hidangan untuk kita, heh?”

“Ah, tapi… saya khawatir akan terjadi sesuatu dengan raden Purbaya. Ayolah Kek.”

“Jangan khawatir, Cucu. Mereka juga tidak akan melanjutkan perjalanannya malam ini. Mereka pasti tengah beristirahat. Heh, nah itu makanan telah datang. Ayo jangan kecewakan nenek tua itu.” “Baik, Kek.”

“Aah, ayo-ayo. Ini aku bawakan makanan malam untuk kalian. Jika kalian ingin membasuh tubuh dulu sebelum makan, ya kalian dapat menemukan sumur di samping rumahku ini. Ayo.”

“Ah, terima kasih Nek. Kami rasa tangan kami sudah cukup bersih, dan tubuh kami pun akan kami basuh sekalian mandi besok pagi.”

“Yaa, makanlah. Kurasa kalian sudah lapar kan?” “Ah, baik Nek. Terima kasih.”

“Ayo..”

“Ayo, Kek. Kita segera makan.” “Ah ya ya ya. Terima kasih Nini.”

Malam itu, Cempaka tak dapat tidur dengan tenang. Sesekali dia terbangun dan teringat dengan junjungannya raden Purbaya. Dia baru saja dapat tertidur pulas setelah malam menjadi semakin larut. Akan tetapi belum lagi hari menjadi terang, dia telah terbangun.

Setelah berpamitan pada nenek tua pemilik pondok tersebut, Cempaka bersama dengan kakeknya Mamang Kuraya melanjutkan kembali perjalanannya mengejar Anting Wulan yang diduganya telah menculik raden Purbaya.

“Eh, kita berhenti di sini dulu, Kek. Saya khawatir kita telah mengambil arah yang

salah.”

“Hm, Heh? Apa maksudmu? Bukankah ini jalan menuju Indraprasta? Apa kau mempunyai perkiraan lain, selain tempat itu?”

“Iya, Ee… tidak Kek. Ehm… Tapi rasa-rasanya dulu kita tidak melalui jalan ini.”

“Iya, di depan kita adalah hutan Susukan. Ah, itu di balik bukit itu adalah hutan yang sangat lebat.”

“Oh iya.”

“Dulu kita memintas sungai Cimanuk. Jati tujuh dan langsung menuju Indraprasta.”

“Ee, lalu sekarang?” “Aah, lari kuda itu teramat cepat. Karena itu kita akan melalui jalan pintas melalui hutan Susukan dan tanah berbatu di ujung hutan itu. Dengan demikian kita akan dapat mendahului Anting Wulan. He, nah ayolah jangan membuang-buang waktu lagi. Hiatt!”

Pada saat yang bersamaan, dipinggiran sungai Cimanuk, Anting Wulan bersama dengan raden Purbaya tengah memacu si Tunggul menyusuri sungai. Hingga tengah hari tidak ada sepatah katapun terucap dari mulut mereka. Keduanya saling berdiam diri. Sampai akhirnya mereka tiba di sebuah desa kecil yang tak jauh dari pinggiran sungai.

“Hupp,” Anting Wulan meloncat turun dari punggung si Tunggul. Dia mengumpat dalam hatinya, “Setan! Aku tidak menegurnya. Setan kecil ini pun tidak menegurku. Hmm, akan kulihat apakah sekarang pun dia tidak akan menyentuh makanan yang kubelikan seperti halnya kemarin.”

Anting Wulan kemudian mendekati sebuah warung yang tak jauh dari tempatnya berhenti. Beberapa saat saja gadis itu telah kembali dengan membawa bungkusan makanan. Setelah meletakkan sebungkus di samping raden Purbaya, Anting Wulan mulai menikmati makan siangnya tanpa memperdulikan raden Purbaya.

“Hmm?! Alangkah enaknya ikan goreng ini.” Guman Anting Wulan saat menikmati makan siangnya. Anting Wulan sengaja berguman keras agar anak di hadapannya tergiur melihatnya. Tetapi anak itu diam saja. Raden Purbaya kemudian bangkit beranjak dari tempatnya. “Hmm, mau kemanakah anak itu?”

“Ah, hm?! Dia memetik… daun?!” Anting Wulan mengumpat dalam hati. “Oh, benar-benar bocah setan! Keras kepala, dia tidak juga mau makan. Rupanya isi kepala anak itu demikian kerasnya. Sejak kemarin pagi dia tidak mengisi perutnya dengan makanan. Hah, setan! Dia tetap mengunyah daun muda itu. Bungkusan makanan dilirik pun tidak.”

“Heh! Tolol! Apakah kau ingin mati? Apakah kau tidak juga mau makan nasi yang kubawakan itu?”

“Ahh, tidak. Terima kasih, Bi. Saya tidak mau makanan itu. Maaf…”

“Jika aku membelikannya dengan uangku sendiri, apakah kau juga tidak akan menyantapnya?”

“Saya tau, bibi tidak mempunyai uang untuk itu. Semua uang yang ada pada Bibi sekarang ini adalah uang hasil curian dari pemilik penginapan itu.” “Juga kau tidak mau makan jika memakai uangmu sendiri, Tolol?” “Uang saya?” raden Purbaya bertanya heran.

“Ya, memakai uangmu sendiri. Uang pemberian dari ayahandamu.” “Ah, tentu saja saya tidak berkeberatan.”

“Jika begitu, ayolah kita cari kota kecil di depan sana. Kita akan menjual ini. Hmm, bukankan ini milikmu sendiri.”

“Ah,.. kau… kau… Bibi juga mengambil kembali gelang itu? Gelang itu sudah bukan milikku lagi. Aku telah menukarnya dengan sewa kamar satu malam. Gelang itu bukan milikku lagi.”

“Ahh, tolol!” Anting Wulan mendesah, “Apakah kau ini menganggapku ini seorang perampok jahat yang telah mengambil harta pemilik penginapan yang jahat dan licik itu? Yang ingin mencelakakan kita?!”

“Heeh, tidak…” Purbaya pun menghela nafasnya. “Tidak Bi, aku tidak menganggap Bibi jahat. Bibi tidak mencuri harta itu untuk kepentingan Bibi semata. Saya telah melihat bagaimana artinya uang itu bagi mereka. Bagi petani-petani miskin. Saya tahu, saya mengerti Bi. Ah, tapi saya tetap tidak dapat menyantap nasi yang bibi beli dengan uang hasil curian.”

“Hemm, lalu bagaimana dengan kesehatanmu Tolol? Kau belum makan sejak kemarin pagi. Percayalah, seandainya perbuatanku ini bersalah, kau tidak akan mendapat hukuman dari dewata agung. Kau tidak terlibat dalam pencurian itu.”

“Ah tidak Bi, biarlah.”

“Ingatlah dengan kesehatanmu, Purbaya.” “Iya, saya mengerti, Bi.”

“Hee?! Mau kemanakah kau Tolol?”

“Aku akan mencoba meminta makan dari pemilik warung itu. Aku akan menjual tenagaku bila perlu. Aku akan bekerja membantunya untuk mendapatkan sebungkus nasi.”

“Ah?! Kau… kau akan melakukan hal itu?” Anting Wulan terperanjat, dia bagaikan tidak dapat mempercayai pendengarannya. “Apakah Bibi Wulan mengira aku tidak merasa lapar? Atau Bibi tidak memperbolehkan aku membantu di warung itu?”

“Ah, ehmm,… boleh… boleh. Silakan kau lakukan itu Tolol.” Anting Wulan menjawab dengan perasaan penuh rasa takjub. Tapi tak lama, dia segera mengenyahkan perasaan itu. Lalu dia berkata dengan nada mengejek, “Kau kira mudah untuk mendapatkan makan dengan cara seperti itu?”

“Saya akan mencobanya, Bi. Saya pergi beberapa saat.”

Raden Purbaya tanpa ragu dan dengan langkah yang pasti serta mantap menuju warung yang cukup ramai di pinggiran desa. Sementara itu Anting Wulan dengan terbengong- bengong memandang kepergian raden Purbaya. Dan kemudian ketika Anting Wulan tersadar, dia mengikuti raden Purbaya yang telah memasuki warung yang ramai.

“Ah, maaf Pak… Eh, paman. Apakah paman membutuhkan bantuan tenaga saya?” raden Purbaya menyapa ramah.

“Heeh? Apa maumu bocah?” jawab pemilik warung sambil menoleh.

“Saya akan membantu paman mencuci piring, mengangkat air atau mengambil kayu bakar. Eeh, untuk itu saya mohon paman mau memberikan sepiring untuk saya.”

“Hee, sebenarnya sudah cukup tenagaku. Hm, tapi baiklah kau boleh membantuku.” Pikir sang pemilik warung. Sejenak ditiliknya anak lusuh yang berdiri dihadapannya, yang tanpa ragu memberinya penawaran. Dia segera menyadari bocah dihadapannya itu tengah kelaparan. Hatinya tersentuh karena anak dihadapannya itu berniat menjual jasa dengan bekerja, tidak sekedar meminta-minta. Oleh karena itu dia segera berkata, “Bawakan aku kayu bakar dua pikulan. Itu kau lihat, kira-kira sebanyak itu. Dan setelah itu kau akan kuberikan nasi serta sepotong daging.”

“Terima kasih Paman, terima kasih. Saya akan segera mencari kayu kering itu.” “Eeh, tunggu. Tunggu dulu bocah. Kau boleh mengambil upahnya dulu.” “Maksud Paman?”

“Ah, ini. Makanlah dahulu. Kelihatannya kau sudah lapar sekali.” “Ah, biarlah. Saya akan ambilkan kayu dahulu.” “Eeh, tunggu. Tunggu, anak nakal. Minum dan makanlah dahulu. Kau memerlukannya untuk mengembalikan tenagamu. Setelah itu kau dapat mencarikan kayu untukku. Ayo, ini sudah kubuatkan. Makanlah.”

“Aah, makanlah sekenyangmu, Nak. Hmm… siapakah namamu?” “Ah, Purbaya, Paman.”

“Ehmm, makanlah. Aku akan melayani tamu-tamuku itu.”

Purbaya lagi tidak menyahut, diterimanya sepiring nasi hangat dengan daging gulai dari sang pemilik warung dengan perasaan senang sekali. Lalu mulailah dia mengisi perutnya dengan lahap. Pemilik warung itu tersenyum kecil, kemudian berlalu untuk melayani tamunya yang lain.

“Ehh, perutku sudah terisi. Dan sekarang aku akan mencarikan kayu untuk paman pemilik warung ini.” Setelah menghabiskan nasi dan lauknya, raden Purbaya beranjak dari warung itu. Tak jauh darinya, Anting Wulan kembali terheran-heran melihat raden Purbaya berhasil mendapatkan makanan.

“Haah,… Heh! Apa saja yang kau katakan pada pemilik warung itu, hingga dia memberikanmu makan dengan mudahnya?” Anting Wulan bertanya.

“Aku menjual tenagaku, Bi. Eh, maaf… aku harus mencari kayu bakar sebagai pengganti makanan itu.” Jawab raden Purbaya. Setelah menjawab pertanyaan Anting Wulan, Purbaya bergegas ke arah daerah yang berpepohonan. Mulailah dikumpulkannya ranting-ranting kering yang berserakan di sekitar tempat itu. Akan tetapi ranting-ranting kering yang berhasil dikumpulkan ukurannya kecil-kecil.

“Ah, aku tidak hanya mencari kayu-kayu kering di bawah sini. Tapi aku juga akan menjemputnya di atas. Ah, aku akan mengambilnya. Mengambil kayu-kayu kering yang masih berada di atas pohon.” Sejenak raden Purbaya berpikir karena merasa kurang puas dengan ranting yang dikumpulkannya.

“Hup!!!” tubuh Purbaya merendah, lalu dengan sekali genjotan saja tubuhnya telah mencelat keatas dan dengan cekatan tangannya meraih dahan sebuah pohon yang cukup besar. Kemudian dengan lincahnya dia melenting sehingga akhirnya dirinya berhasil berdiri di dahan tersebut.

Melihat hal tersebut, Anting Wulan pun melakukan hal yang sama. Anting Wulan langsung mendarat di dahan yang lain tanpa banyak berkata-kata. Hal ini menyebabkan raden Purbaya sedikit terkejut. “Hei, mau apa Bibi naik ke atas pohon ini?”

“Hendak melihatmu bekerja Tolol. Kerja untuk mencari makan. Lakukanlah pekerjaanmu. Aku hanya ingin menyaksikannya saja.” Jawab Anting Wulan dengan nada mengejek.

“Ahh,” Purbaya mendesah.

Raden Purbaya mulai mengumpulkan ranting kayu satu persatu dari atas pohon. Ketika dia sedang asik bekerja dari kejauhan terlihat dua bayangan yang berkelebat cepat. Raden Purbaya sempat mengenali keduanya. 12. AWAL KEBANGKITAN MATARAM HINDU 13. FAJAR MENYINGSING DI BUMI MATARAM 14. PERTARUNGAN DUA PUTERA MAHKOTA 15. RAHASIA GUNUNG WUKIR 16. PUSAKA ARCA EMAS 17. RAWA RONTEK 18. PEDANG ULAR EMAS 19. ANGKARA MURKA 20. ANGKARA MURKA II 21. BARA TANAH MATARAM 22. KEMELUT SEBUAH WARISAN 23. PETAKA ASMARA DEWA

(1)

Saudara, kita tinggalkan dulu Mataram, Anting Wulan dan raden Saka Palwaguna. Sekarang marilah kita kembali mengikuti kisah dari prabu Purbaya dan Cempaka di Karang Sedana. Pada kisah yang lalu diceritakan, prabu Purbaya mendapat wangsit dari kekuatan agung yang berada dalam tubuhnya, bahwa kekuatan itu akan sepenuhnya menjadi miliknya manakala dia telah terikat menjadi suami istri dengan Cempaka. Hubungan mereka menjadi semakin intim, tetapi belum terlihat tanda-tanda yang menunjukkan bahwa mereka akan segera melangsungkan pernikahan. Suatu malam, di keraton Karang Sedana.

“Kak! Kak Cempaka! Kak Cempaka! Dimana kau, Kak? Kak Cempaka! Kak Cempaka!”

“Dimana kak Cempaka? Angin tadi telah menggulung kak Cempaka. Dan membawanya hilang dari pandanganku.”

“Kak! Kak Cempaka! Kak Cempaka! Dimana kau, Kak? Kak Cempaka! Kak Cempaka!” “Tuanku!”

“Ah, itukah engkau kak Cempaka?!”

“Janganlah memikirkan lagi diri hamba Tuanku. Tuanku adalah seorang maharaja yang agung, sedangkan hamba adalah seorang dayang. Seorang budak yang hina. Lupakanlah diri hamba.”

“Dimanakah engkau Kak? Kembalilah, datanglah padaku. Engkau adalah milikku.

Engkau adalah juwita kasihku. Kembalilah.”

“Tidak, tuanku. Ada kekuatan lain yang menghalangi kita untuk bersama” “Siapakah dia itu? Siapa? aku akan datang menggebrak hancurnya.aku akan

menghancurkan apapun yang menghalangi cinta kita. Kembalilah padaku Kak, dimanakah kau Kak?”

“Ooh, Tuanku!!!” “Dewata agung, kekuatan apakah yang sesungguhnya merampas kak Cempaka dari sisiku? Kak! Kak Cempaka! Kak Cempaka!”

“Kak… Kak… Kak Cempaka,.. Hah,.. Hah… Dewata, agaknya aku telah bermimpi. Oh, apakah arti semua itu? Kak Cempaka seakan-akan digulung oleh suatu kekuatan hingga menjauhi diriku. Kekuatan apakah itu? Oh, fajar belum lagi tiba. Kamarku ini menjadi pengap dan panas saja rasanya. Sebaiknya aku keluar mencari udara segar.”

“Hmm, serambi ini juga masih saja terasa sumpek. Aku ke taman sari saja.”

Kemudian pemuda yang tengah dilanda oleh kegelisahan hati itu meninggalkan kamarnya menyusuri lorong-lorong yang di terangi cahaya lampu minyak yang cukup terang. Beberapa orang penjaga yang dilaluinya menyapanya dengan penuh hormat. Tetapi kemudian mereka saling bisik sambil mengerutkan kening, melihat junjungan mereka menuju taman sari pada malam seperti itu.

“Haah, ahh… udara di taman sari ini cukup sejuk, aku akan duduk didekat pancuran itu.” “Hmm, apa arti mimpiku itu. Dada ini rasanya masih saja berdebar-debar. Semoga

saja hubunganku dengan kak Cempaka tidak akan mendapat hambatan dari siapapun. Kak Cempaka mencintaiku sebagaimana aku mencintainya. Aku seorang raja yang berkuasa di Karang Sedana ini, dan bahkan enam kerajaan di sekitar wilayahku menyatakan tunduk dan bernaung di wilayahku. Masakkan orang sepertiku akan gentar menghadapi hambatan itu? Ah, dewata mengapa hatiku masih saja berdebar?”

“Sepertinya, aku mendengar langkah seseorang di belakangku, siapakah dia yang berani menggangu ketenanganku di taman sari ini?”

Ketika prabu Purbaya memalingkan wajahnya ke belakang, dilihatnya sesosok bayangan ramping berdiri tak jauh darinya, tegak mematung. Sementara rambutnya beberapa jumput ditiup angin malam sepoi perlahan.

“Ah,… Oh kau, Kak Cempaka…” “Ah, iya. Hamba tuanku.”

“Cukup kak, jangan ulangi kata-kata itu lagi. Jangan panggil aku dengan kata-kata yang dapat membatasi kita. Panggil saja aku dengan sebutan adik Purbaya, atau Purbaya saja.”

Cempaka mendesah.

“Janganlah terus mematung di situ, Kak. Kemarilah, duduk di sisiku.” “Eh, ba… baiklah.”

“Aneh sekali sikap kak Cempaka, dia duduk mengambil jarak. Tidak seperti biasanya. Apakah ada sesuatu yang dipikirkannya, ada hubungannya dengan mimpiku tadi?”

“Eh, kenapa kak Cempaka tidak tidur saja? Hari masih larut malam.” “Ah, Hmm Tuanku sendiri bagaimana? Mengapa belum juga tidur?” “Aku telah tidur, dan baru saja terbangun.”

“Ehm… Kak, ada yang ini aku bicarakan. Tentang… hubungan kita.” “Hubungan kita…?”

“Ya, Aku ingin kita segera menikah. Melangsungkan perkawinan dengan upacara besar-besaran. Hm, bagaimana menurutmu?”

“Oh tidak, tidak Tuanku. Hamba rasa tuanku harus berulang kali mempertimbangkannya. Mempertimbangkan pantas tidaknya hamba yang rendah ini.”

“Ahh, ada apa lagi dengan dirimu Kak? Mengapa tiba-tiba kau berkata seperti itu?

Pikiran siapakah yang telah merasupi hatimu, hingga kau bisa berkata seperti itu?”

“Ah tidak tuanku. Adat dan abad lah yang menaut saya berpikiran seperti ini. Mengapa ayahanda tuanku prabu Ajikonda melarang kita untuk bersatu. Mengapa ayahanda tuanku yang begitu bijaksana dan tinggi pribudinya mencari jalan penyelesaian sampai mengawinkan hamba dengan raden Landayan beberapa waktu yang lalu. Itu semua adalah karena adat dan abad, tuanku. Tuanku adalah seorang maharaja. Seorang bangsawan tertinggi di Karang Sedana. Sedangkan, apalah hamba ini…”

“Kau,… kau adalah seorang gadis mulia, yang mempunyai pribudi tinggi yang sulit dicari bandingnya. Seorang gadis yang…”

“Tidak. Tidak tuanku. Saya adalah seorang janda. Saya adalah janda dari kakang mas Landayan.”

“Bagiku, tak ada artinya siapapun kau adanya. Janda ataupun gadis. Dan lagi aku telah mengetahui siapakah engkau sebenarnya, Kak. Kakang Landayan telah menceritakan semuanya,… bahwa engkau masih tetap suci. Engkau masih tetap seorang gadis…” “Ah,… iya. Dan bukankah itu berarti aku adalah seorang wanita yang tidak berbakti? Wanita yang tidak bisa melayani suami sebagaimana mestinya...”

“Ah, aku tau kenapa itu sampai terjadi. Dan suamimu pun kakang Landayan juga mengerti semua itu karena cintamu padaku. Baktimu padanya tidak dapat kau laksanakan itu adalah karena sesuatu diluar kehendakmu. Karena kekuatan suci yang menghalangi. Kekuatan suci yang bersemayam di dalam tubuhmu yang justru merupakan jodoh dengan kekuatan yang berada di dalam tubuhku.”

“Tidak… Tidak tuanku. Tidak. Hamba tidak bisa menerima kenyataan itu. Kita mempunyai kenyataan lain. Kenyataan yang tidak lagi dapat dipungkiri kebenarannya. Yaitu adat dan adab... Tuanku adalah seorang raja dan hamba adalah seorang budak yang hina dina.” 

“Ada apakah sebenarnya? Mengapa tiba-tiba Kak Cempaka berubah sikap padaku. Sikapnya kini begitu dingin dan membatasi. Oh, dewata agung. Oh, kekuatan suci yang bersemayam dalam tubuhku, apakah mungkin akan gagal hubunganku dengan kak Cempaka? Satu-satunya wanita yang aku cintai di atas mayapada ini. Ah, dewata agung… lancarkanlah jalan kasihku padanya.”

“Oh, dewata agung… engkau tahu betapa aku mencintainya. Mencintai adik Purbaya, junjunganku yang sangat ku hormati. Aku mencintainya, tapi aku tidak mungkin untuk dapat hidup selamanya berdampingan dengan beliau. Tidak mungkin. Ah, derajat dan jarak kami yang bagaikan bumi dan langit telah membatasi kami. Oh, tidak… Tidak… Maafkan aku adik Purbaya. Aku sangat mencintaimu, sangat... Tapi aku tidak bisa hidup berdampingan denganmu selamanya, tidak bisa terikat jadi suami istri. Oh, tidak sedikit orang yang menggunjingkan kita. Oh, tidak. Tidak, adik Purbaya...”

“Hm, Eh… Loh, apa betul Bi Tilik? Saya mendengar dari beberapa dayang-dayang lama lainnya, bahwa putri Cempaka adalah seorang juga dayang seperti kita beberapa tahun yang lalu?”

“Sudahlah, jangan bicarakan hal itu lagi. Dari siapa kau mendengarnya? Emban Jangir, pengurus dapur istana ini, iya?”

“Ah, benar bi Tilik. Benarkah cerita itu?”

“Sstt, aku minta, janganlah kau ceritakan hal itu pada kawan-kawan kita lainnya.

Bahaya sekali.” “Ah, tapi benarkah cerita itu? Benarkah cerita dari emban Jangir itu?” “Ehmm, eh iya iya. Tapi kuminta kau jangan menceritakan pada siapapun.”

“Aah, bagaimana bibi Tilik ini? Mungkin saya ini adalah seorang terakhir yang tahu.

Semua dayang istana ini sudah mengetahui hal itu.”

“Haah?! Semuanya?! Kau katakan semua dayang di istana ini sudah tau?”

“Iya Bi, hampir semuanya. Justru aku yang terlambat. Aku baru saja kemarin mengetahuinya. Aku mendekati dan memaksa mereka untuk menceritakan apa yang sedang mereka bicarakan secara bisik-bisik itu.”

“Apa saja yang kau ketahui tentang tuan puteri Cempaka?”

“Hoh, banyak sekali! Banyak sekali, Bi. Tentang sesungguhnya dia adalah seorang dayang biasa, dayang pengasuh junjungan kita. Juga tentang ibunya yang juga pengasuh keluarga sang prabu secara turun temurun.”

“Gillaa! Siapakah yang telah menyebarkan berita itu? Aku tidak percaya jika itu semua adalah perbuatan Jangir!”

“Hmm, alangkah beruntungnya Cempaka. Nasibnya tiba-tiba saja berubah. Dari seorang hamba, kini menjadi puteri agung.”

“Ishh, kau bilang apa? Cempaka?! Kau tidak menyebutnya dengan panggilan tuan puteri?”

“Jika dia bukan seorang bangsawan berdarah biru, untuk apa kita semua menghormatinya? Bukankah dia tidak berbeda dengan kita-kita ini?”

“Ssstt… stttt… Baginda telah mengangkatnya menjadi bangsawan di keraton Karang Sedana ini. Heeh, aneh. Hanya tinggal dua dayang yang mengetahui hal tersebut. Hmm bagaimana mungkin Jangir menceritakan hal itu pada teman-temannya? Bukankah dia juga sudah mengerti bahwa hal itu tabu untuk diceritakan?”

“Kenapa tabu? Heem, jika memang dasarnya Cempaka adalah seorang hamba, ya tetap saja hamba. Aku tidak akan mematuhinya, apapun perintahnya!”

“Pakis! Aku yang membawamu masuk ke dalam istana ini. Kau adalah anak dari adikku. Berarti kau adalah kemenakanku. Dengarlah, tutup mulutmu. Jangan bersikap gila seperti itu. Tuan puteri Cempaka adalah junjungan kita. Seluruh masa lalunya telah dihapuskan oleh junjunganku prabu Aji Konda. Dia saat ini adalah puteri agung yang harus kau junjung tinggi perintahnya. Tinggalkan aku! Jangan ganggu pekerjaan ku.”

“Eh, eh. Baik Bi…”

“Aneh sekali. Kenapa tiba-tiba saja berkembang cerita itu? Oh, Dewata… tentu akan murkalah sang prabu Purbaya mendengar perihal tuan puteri Cempaka menjadi bahan pembicaraan seperti itu.”

“Oh, bagaimana mungkin aku dapat bersikap dengan baik. Bersikap sebagaimana biasa. Sikap seorang puteri. Sementara aku tahu bahwa mereka menyadari asal-usulku. Mereka nampak tidak bisa menerima keberadaanku di sini. Perubahan tingkatanku itu. Agaknya adat kebiasaan dan juga adab melarangku untuk bisa bersanding. Beberapa dayang telah kudengar suaranya secara sembunyi-sembunyi betapa sinisnya sikap mereka padaku. Tapi… mereka benar, tidaklah pantas mereka menjunjung dan menyembah padaku yang sebenarnya juga adalah seorang hamba. Aku… Aku tidak pantas untuk hidup bersamamu adik Purbaya. Oh, maafkan aku.”

“Oh, sudah lama sekali aku tidak menjenguk keadaan kakek. Hmm, aku akan melihat keadaannya. Kasihan sekali, dia selalu mengurus dirinya sendiri. Eh, akan aku bawakan kakek makanan dari istana ini.”

“Hmm, apakah… aku harus meminta ijin pada adik Purbaya? Oh jika aku minta ijin, pastilah adik Purbaya juga akan menyertaiku ke sana. Karena seperti juga halnya aku, dia tidak pernah menjenguk kakek sejak beberapa waktu yang lalu.”

Dengan bergegas, Cempaka menuju dapur istana untuk mengambil makanan.

(2)

Pada kisah yang lalu diceritakan, Cempaka merasa hancur hatinya manakala dia mendengar bisik-bisik yang semakin ramai membicarakan tentang dirinya, tentang asal usulnya. Karena itu Cempaka memohon pada prabu Purbaya yang merupakan satu-satunya orang yang dicintainya dan juga sangat mencintainya untuk kembali mempertimbangkan hubungan dengannya. Yang dirasakan Cempaka melanggar adab dan adat. Dan pada akhir kisah yang lalu, diceritakan Cempaka yang merasakan rikuh dan serba salah di dalam istana itu bermaksud untuk menjenguk kakeknya di pinggiran hutan yang tak jauh dari kota raja. Tetapi ketika dia tiba di dapur istana… “Hmm, beberapa dayang sedang bisik-bisik di dapur. Tentu mereka sedang membicarakan perihal diriku. Oh,… Nah itu mereka bubar ketika tau aku akan masuk ke sana.”

“Ehm, bibi Jangir tolong bungkuskan aku nasi dengan lauknya ya. Untuk satu orang

saja.”

“Eh, ah dibungkus? Emm, Untuk apa tuanku puteri?”

“Eeh, untuk seorang temanku. Sudahlah, bungkuslah cepat. Aku harus segera

pergi.”

“Baiklah tuanku puteri, akan hamba siapkan segera.”

“Emm, eh. Ampun tuanku puteri. Untuk apakah nasi itu tuanku bungkus? Untuk penghuni istanakah atau untuk orang lain diluar istana?”

“Emm, untuk orang di luar istana. Untuk sahabatku. Untuk orang yang aku kasihi.” “Ah, siapakah dia itu tuanku? Seorang bangsawankah?”

“Ah… seorang rakyat jelata. Kaum sudra yang sederajat denganku.”

Cempaka menyambar bungkusan nasi nya. Dan kemudian bergegas meninggalkan dapur istana. Sementara dayang muda itu tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu.

“Koq… koq jadi seperti itu jawabannya?”

“Haah, kau keterlaluan sekali. Agaknya dia sudah mengerti dan tau dengan bisik- bisik yang kini tengah berkembang dalam istana ini. Ah, aku khawatir akan berkembang kejadian pagi ini yang bisa berbahaya bagimu dan bagi diri kita sendiri.”

“Tapi,… apa salahku? Apa memang yang sudah aku lakukan? Aku tidak bersalah apa-apa…”

“Tidak bersalah? Walaupun kau tidak bersalah, tapi jika dia mengadukan hal ini pada baginda, kau akan mendapat hukuman yang sangat berat. Bukankah kau tahu betapa berartinya tuan puteri Cempaka bagi baginda Purbaya.”

“Ah, tapi… aku… aku…”

“Heeh, sudahlah! Tinggalkan tempat ini, aku tidak mau tersangkut dalam urusan yang kau buat-buat ini. Tinggalkan tempat ini Pakis!”

“Eh,.. ah… Baiklah bibi Jangir.” “Uhh, kenapa jadi seperti ini akhirnya? Celaka sekali, jika sampai ke telinga baginda bisik-bisik yang berkembang di dalam istana ini.”

“Eh, Jangir?!”

“Ah, engkau Tilik. Aduuh engkau mengejutkan aku saja. Ada apa kau tiba-tiba datang ke dapur? Ada yang kau cari?”

“Ya, ada yang aku cari. Eeh, engkau lah yang aku cari, Jangir”

“Ah? Aku? Engkau mencari aku? Ah, engkau membuatku terkejut saja. Ada apakah

Tilik?”

“Ada yang ingin aku bicarakan sehubungan bisik-bisik yang berkembang di istana

ini.” 24. KISAH DI TANAH NAGA

MENGUAK KABUT NEGERI SEBERANG

(21)

Pada kisah yang lalu diceritakan, Raden Purbaya dan Cempaka mendapat tahu bahwa pembunuh puluhan awak kapal bajak laut Lingkaran Api adalah penghuni pulau terasing itu bersama-sama dengan ratusan monyet liar. Melihat sikapnya yang aneh yang menjurus pada sifat hewan liar, Purbaya dan Cempaka mencoba melupakan semua perbuatannya.

(22)

Pada kisah yang lalu diceritakan, Raden Purbaya berhasil meninggalkan pulau Karang yang nyaris akan meletus dan meninggalkan laki-laki penghuni pulau karang itu di dalam gua bawah tanah. Sementara itu Kho Lu Beng yang berhasil diselamatkan oleh Raden Purbaya dan Cempaka mengalami luka parah akibat pukulan laki-laki aneh penghuni pulau karang. Dan di atas kapal layar lingkaran api itu, Kho Lu Beng dikejutkan oleh kenyataan yang didengarnya dari Raden Purbaya dan Cempaka bahwa mereka sedikitpun tidak mengambil biji-bijian emas yang banyak berserakan di pulau tersebut.

“Untuk apakah kita mengadu nyawa? Mempertaruhkan nyawa kita yang sangat berharga ini hanya karena emas?”

“Oh?! Hahahh, Oh?! Untuk apa mempertaruhkan nyawa?! Oh, apakah kau tidak mengetahui betapa berartinya emas-emas itu, Guru? Yang dapat menjamin hidup kita sepanjang masa. Oh, menaikkan harkat dan martabat kita dari manusia hina dina menjadi manusia terhormat yang disegani, Guru. Dipuja dan dipuji. Ah…” jawab Kho Lu Beng. Mata nya tampak nanar.

“Ah, kelak. Jika kita semua selamat sampai di tanah Pasundan, aku akan memberikan sedikit bekal untuk hidupmu. Agar dapat hidup layak dan terhormat.”

“Oww, oh kau akan memberikan aku bekal, Guru? Bekal apa yang akan kau berikan tanpa emas-emas itu? Hooh? Uang dan sepetak tanah?” Kho Lu Beng terhenti oleh nafasnya yang menyesak. Dia terbatuk. Cempaka berbicara. “Paman Lu Beng, ketahuilah… adik Purbaya di tanah Pasundan adalah seorang raja yang membawahi lima kerajaan…”

“Ho oh?!!”

“Jika kau membutuhkannya, walaupun tidak sebanyak yang ada di pulau itu, aku akan dapat memberikan bekal padamu.”

“Ah, apa yang kau rasakan Paman?” Purbaya bertanya iba. “Berhentilah untuk berbicara, beristirahat saja.”

“Apakah, apakah aku tidak salah dengar, Guru? Ho oh, engkau… engkau seorang raja?! Oh…”

Purbaya mendesah.

Melihat keadaan Kho Lu Beng yang diambang ajal, raden Purbaya tidak lagi dapat berdusta. Sambil mengurut jalan darah disekitar dada Kho Lu Beng, raden Purbaya menganggukan kepalanya sambil menjawab membenarkan kata-kata Cempaka.

“Benar paman Lu Beng. Karang Sedana di tanah Pasundan adalah kerajaanku.”

“Hooh, ooh betapa puasnya hidupku ini. Matipun aku rela telah mendapat kehormatan bersahabat dengan seorang raja seperti kau tuanku Guru. Ah hahaha, ahh… Aku, aku Kho Lu Beng! Manusia hina, bajak laut liar yang kotor mendapat kehormatan yang tiada tara. Oh hohoho! Umpphh!!”

“Beristirahatlah, terlalu banyak bicara dan tertawa akan membuat luka paman semakin parah.”

Dari kejauhan terdengar dentuman menggelegar.

“Oh, keluar cepat dan kuasai kemudi sebelum perahu layar ini tenggelam dihempas gelombang besar. Tinggalkan aku disini.” kata Kho Lu Beng.

“Ayo, mari kita lihat ke luar, kak”

“Lihat itu adik Purbaya, api berkobar menyala diatas pulau karang itu. Hup! Kuasai kemudi, aku akan menurunkan layar kapal ini. Hupp!”

“Gelombang ini, mengayun kapal kita karena batu-batu besar yang jatuh disekitar kita. Dan lagi getaran dari dalam perut pulau itu sangat luar biasa akibatnya bagi air laut ini.” Dentuman kembali terdengar bersahutan beberapa kali.

Gelombang laut yang diakibatkan oleh getaran perut gunung berapi yang terdapat di pulau karang itu melempar kapal layar yang berbendera lingkaran api itu melesat dan menjauhi daerah maut itu.

Dan beberapa saat kemudian, gelombang laut pun mulai berkurang. Raden Purbaya yang memegang kemudi mulai dapat menguasai dengan baik.

“Ah, agaknya kita lepas dari daerah yang sangat berbahaya kak Cempaka”

“Hai, lihatlah itu adik Purbaya, pulau karang itu sudah tidak terlihat lagi. Oh,..

Apakah kita telah jauh meninggalkannya … ah, atau…”

“Tenggelam! Aku kira pulau itu hilang tenggelam ke dasar samudra. Itu, lihatlah sisa-sisa asap masih dapat kita lihat diatas samudra yang maha luas itu.”

“Oh, paman Lu Beng! Ah, lihat keadaannya!” seru Cempaka. “Paman, Paman Lu Beng!”

“Bagaimana adik Purbaya?”

“Paman Lu Beng sudah tiada. Kita kini tinggal berdua saja diatas samudra yang maha luas ini. Apa yang akan kita perbuat sekarang dengan paman Lu Beng?”

“Iya, seperti yang diinginkannya. Mati terkubur di dasar laut.”

“Ya, kita akan melakukannya. Tolong, carilah sesuatu untuk memberatkan tubuhnya dan sedikit tali.”

“Iya”

“Aku akan melemparkan tubuhnya dan kemudian masuk ke dalam bilik kapal. Aku tidak sanggup melihat air laut yang memerah akibat tubuhnya dilahap hewan-hewan buas lautan.”

“Iya… tetapi ini adalah kehendaknya. Dan memang beginilah aturan permainan para pelaut.”

Segera setelah memberikan penghormatannya yang terakhir pada tubuh Kho Lu Beng yang telah membeku, raden Purbaya kemudian menjatuhkan tubuh paman Lu Beng ke dalam air. “Huekk! Uh… Uhh… Ohh…”

“Apa yang terjadi pada dirimu kak?”

“Ah,… Hmmph… entahlah. Aku merasa, rasanya tubuhku berputar. Uhh… Oh, tubuhku serasa melayang-layang.”

“Sebaiknya kau masuk saja ke dalam, Kak. Kau mabuk laut. Ayo.” “Iya.”

“Beristirahatlah disini, kak. Kak?! Kak Cempaka? Ah kak Cempaka tidak sadarkan diri. Oh Hyang Agung… Hupp!”

“Ah, mengapa kak Cempaka tidak juga sadarkan diri? Nafasnya masih tetap kurasakan. Mungkin keadaan seperti ini terjadi dari pusat kesadarannya. Biarlah aku tunggu beberapa saat saja disini. Ah, perapian. Sebaiknya kupindahkan tubuh kak Cempaka ke dekat perapian sana, agar dia sedikit hangat.”

“Dewata agung, entah apa yang akan terjadi jika aku harus sendiri di kapal ini tanpa seorang pun yang menemani. Ah, wahai kekuatan suci, tolonglah jangan biarkan kak Cempaka mendapat celaka.”

“Kak Cempaka sadar kembali…” “Kak, kak Cempaka”

“Oh, engkau adik Purbaya. Dimana aku sekarang berada?”

“Kita berada dalam pelayaran kembali ke tanah Pasundan, kak. Bagaimanakah keadaanmu sekarang ini?”

“Kepalaku rasanya pening sekali, dan tubuhku rasanya ringan tak bertenaga.”

“Kau mabuk laut, Kak. Beristirahatlah. Pejamkanlah matamu dan kelak jika kau bangun nanti, kau akan kembali segar.”

“Ah, tidurkah kak Cempaka? Atau dia tidak sadarkan diri kembali? Nafasnya mengalir dengan teratur. Agaknya kak Cempaka tengah pulas tertidur. Hm, biarlah. Aku akan menjaganya sampai dia sadar kembali.”

Raden Purbaya duduk bersandar disudut kamar. Pikirannya menerawang jauh mengingat masa lalu. Masa-masa pengabdian dari Cempaka. Masa-masa pelarian dari Karang Sedana. Masa dimana penderitaan menyelimuti dirinya. Dan gadis manis yang kini terbaring di hadapannya mengurus dan mempertaruhkan nyawa untuk menjaga diri dan keselamatannya.

“Oh, Dewata Agung… Aku tidak tahu lagi sejauh mana aku mencintai dirinya. Aku juga tidak tau bagaimana ini bisa terjadi. Aku mencintainya dengan segenap hatiku. Dengan seluruh jiwaku, seluruh ragaku. Cintaku tidak akan pernah habis walaupun raga ini memisahkan diri dari nyawa. Ah,… kak. Kak Cempaka… Kak… aku mencintaimu. Aku… aku mencintaimu.”

Raden Purbaya mendekati pembaringan Cempaka. Dipandanginya wajah gadis yang telah membuat hatinya runtuh. Dipandanginya juga leher yang jenjang, tubuhnya, bahkan seluruh bagian tubuhnya. Setelah beberapa saat bersimpuh disamping balai, dimana tubuh Cempaka terbujur, Raden Purbaya bangkit dan kemudian duduk di pinggir balai- balai kecil itu. Tangannya meraba wajah gadis manis yang tengah tidak sadarkan diri, dan tanpa dapat menahan diri lagi, Raden Purbaya menciumi wajah gadis yang kerap menjadi buah mimpinya. Akan tetapi…

Cempaka adalah pendekar, nalurinya bergerak saat merasakan ada hal yang bagai mengancam diri dan kehormatannya. Saat kecupan bibir Raden Purbaya mendarat di bibirnya, sontak kesadarannya pulih. Dengan lengannya mendorong tubuh raden Purbaya dan tubuhnya pun serentak tegak setengah bersila. Dipandanginya raden Purbaya yang terhuyung mundur dan terbungkuk saat terdorong olehnya. Tatapannya penuh keheranan dan kebingungan.

“Oh, apa yang kau lakukan adik Purbaya?!” “Apa yang telah kau perbuat dengan diriku?”

“Ah, maafkan aku Kak. Maafkan. Aku tidak dapat mengendalikan diriku lagi. Aku,… Aku telah berlaku gila. Memandangi tubuh dan wajahmu.”

Cempaka terisak. Perasaannya kacau. Malu, jengah, heran, bingung. Beraduk dan memuncak menjadi satu. Dia bingung, dan tak tahu harus apa. Hatinya pun iba melihat sosok yang dikasihinya perlahan melosor lemas. Wajah pemuda itu tertunduk dalam.

“Aku bersalah padamu, Kak. Tidak sepantasnya aku berbuat seperti itu. Aku… aku bersalah padamu… Aku bersalah padamu, Kak.”

“Oh, tidak seharusnya aku bersikap kasar padanya. Pada orang yang sangat ku kasihi, pada orang yang sangat aku hormati. Kujunjung tinggi segala kata-katanya. Aku telah menyakiti hatinya. Oh, adik Purbaya agaknya menjadi terpukul karena sikapku tadi.” “Oh,… kau. Kau tidak bersalah padaku adik Purbaya. Kau tidak bersalah.” “Aku bersalah padamu. Aku bersalah…”

“Tidak! Kau tidak bersalah adik Purbaya! Kau tidak bersalah… Kau adalah pemuda pujaanku. Kau adalah tambatan hidupku. Jangan katakan kau bersalah. Kau adalah kekasihku. Pujaanku...”

Menyaksikan keadaan raden Purbaya yang bagaikan kehilangan ingatan akibat sikapnya tadi, Cempaka menjerit dan kemudian memeluk serta menciumi wajah dan bahkan seluruh tubuh raden Purbaya.

Raden Purbaya yang diguncang-guncang tubuhnya serta dihujani ciuman oleh Cempaka menjadi tersadar dari lamunannya yang dalam, dari guncangan batinnya. Pemuda gagah dari Karang Sedana itu kemudian membalas pelukan itu dengan mesranya. Tetapi beberapa saat kemudian…

Tubuh mereka bergetar hebat. Dan perlahan-lahan cahaya kuning membias di sekitar tubuh kedua remaja yang masih erat berpelukan. Ya, cahaya itu semakin lama menjadi semakin menjadi terang kemilau. Tiba-tiba cahaya itu lepas dari tubuh kedua remaja dan menjelma menjadi dua sosok tubuh. Pria Agung dan Wanita Agung.

“Tanah Pasundan sudah kian tidak terkendali. Ini adalah akibat dari permainan asmara kalian.” bersabda sang Pria Agung.

“Kalian harus segera bersatu. Kekuatanku akan dapat lahir dalam diri kalian secara utuh jika kalian telah bersatu.” sang Wanita Agung pun bersuara. Getaran suara kedua sosok agung itu terdengar bergema lembut seantero jagad.

“Ampun Hyang Agung, saya menyadari bahwa semua yang terjadi ini semata-mata karena kesalahan saya, bukan kesalahan adik Purbaya. Sayalah yang bersalah. Apapun yang terjadi di tanah Pasundan bukan kesalahnnya.”

“Saya adalah seorang raja dari tanah Pasundan. Saya bertanggung jawab atas keamanan dan ketentraman di tanah itu. Tapi jika sampai terjadi kekacauan dan angkara, itu adalah tanggung jawab saya. Yang tidak ada hubungannya dengan kak Cempaka.”

“Oh, aku yang telah membuat engkau pergi meninggalkan tanah Pasundan. Aku yang bersalah wahai Hyang Agung.”

“Kalian dapat menanggung bersama-sama akibat yang telah terjadi di tanah Pasundan. Satu hal yang saat ini yang dapat aku bantu ialah memberikan engkau petunjuk untuk dapat segera kembali ke tanah Pasundan.” “Oh. Bisakah itu terjadi?!”

“Kuasailah aji Halimunan yang terdapat pada warangka kujang pusaka kalian.

Dengan aji tersebut kalian akan dapat tiba ke tanah Pasundan dalam sekejap saja.”

“Hanya itu yang dapat kami berikan kepada kalian. Nah, selamat tinggal. Tanah Pasundan menunggu kedatangan kalian.”

“Oh, kita dapat tiba dengan segera di tanah Pasundan. Ah, ayolah kita coba pelajari aji kesaktian itu. Ah, mari, kemarikan tanganmu.”

“Marilah.”

Seperti waktu-waktu yang lalu, setelah beberapa saat saling genggam, tubuh mereka bergetar hebat dan beberapa saat kemudian cahaya kembali membias ditubuhnya. Dan cahaya dari seluruh tubuhnya perlahan-lahan terpusat pada tangan lain dari raden Purbaya dan Cempaka yang tidak saling genggam, dan akhirnya…

(23)

Pada kisah yang lalu diceritakan, raden Purbaya dan Cempaka mengarungi samudra tanpa ditemani oleh seorang awak pun. Kho Lu Beng yang terluka parah telah tewas terkubur di tengah samudera. Juga diceritakan tentang hadirnya dua kekuatan agung yang memberikan petunjuk kepada mereka untuk dapat kembali ke tanah Pasundan dengan mempergunakan ajian Halimunan. Karena itu Purbaya dan Cempaka segera mengeluarkan kembali kujang pusakanya.

“Apakah akan mungkin kita lakukan adik Purbaya? Aji Banyu Agung yang terdiri dari tujuh jurus belum juga dapat kita kuasai. Kini kita akan melanjutkan dengan aji Halimunan yang menurut sang Hyang Wisnu merupakan aji dan sikap kedewataan.”

“Kita akan coba mempelajarinya, Kak.”

“Ini, kau lihatlah. Beberapa guratan ini merupakan bagian tubuh manusia. Dan,… Oh! Ini ada kalimat pendek. Sirna raga datang raga. Sirna jiwa datang jiwa. Hyang Agung maha kuasa.”

“Owh, apalagi ini maknanya? Dapatkah kau memecahkan maksud dari kata-kata ini, adik Purbaya?”

“Entahlah, kak. Tapi biarlah kita coba memikirkannya.”

Kemudian raden Purbaya menatap kembali dalam-dalam kalimat demi kalimat itu, dan kemudian dia bersila dengan sikap yang sempurna. Sementara itu kujang pusaka masih tetap dalam genggamannya. Demikian pula dengan Cempaka, memusatkan segala daya pikirannya untuk dapat memecahkan maksud makna kalimat yang terdapat dalam warangka kujang pusaka dalam tangannya. Kapal layar dengan bendara lingkaran api masih saja melaju, tetapi tidak dengan arah yang pasti. Langit diatas samudra mulai menjadi gelap, tetapi raden Purbaya dan Cempaka terus saja memusatkan pikirannya pada kalimat-kalimat yang diduganya merupakan kunci dari ajian Halimunan.

Pasangan remaja dari Karang Sedana itu terus terpaku dalam pemusatan pikirannya hingga pagi menjelang. Tetapi tanpa mereka sadari, perahu yang tidak terkendali itu melaju ke arah wilayah badai maut yang sangat ditakuti oleh para pelaut.

Kedua remaja yang tengah bersemadhi itu tersentak.

“Oh! Apa yang terjadi ini? Badai kembali datang! Cepat turunkan layar!” “Tunggu! Aku… aku melihat sesuatu! Jangan lepaskan kujang pusaka di tanganmu

dulu. Kita terkecoh oleh kalimat-kalimat itu. Kita belum meneliti lebih jauh guratan- guratan pada gambar warangka ini. Aku,… Hupp!”

“Perahu ini akan tenggelam, jika tidak segera kita kuasai kak Cempaka.”

“Iya. Tetapi, aku… aku dapat memecahkannya adik Purbaya. Kita dapat melakukannya. Marilah kita mencobanya. Lihatlah ini. Lihat. Titik-titik pada guratan yang berbentuk tubuh manusia menerangkan titik-titik kematian. Lihat, bukankah demikian?”

“Iya, lalu apa maksudmu?”

“Aku telah menghubungkan guratan ini dengan kalimat disampingnya. Sirna raga datang raga. Sirna jiwa datang jiwa. Hyang Agung maha kuasa.”

“Jadi apa maksudmu, kak?! Aku masih juga belum mengerti.”

“Cobalah pusatkan pikiranmu pada Hyang Maha Agung, dan kemudian dengan kekuatan tenaga saktimu tutup jalan darah yang tertera dalam titik-titik ini.”

“Gila! Apakah kau benar-benar sudah gila, kak? Nyawa kita akan segera putus. Kita akan mati jika melakukan hal itu.”

“Aku mengerti adik Purbaya. Satu jalan darah yang ada di gambar ini kita tutup dengan hawa sakti kita cukup untuk membuat nyawa kita melayang. Tetapi disini lima jalan darah kematian sekaligus harus kita tutup. Pasrahkan lah semuanya pada Hyang Widi dan cobalah! Kita akan berhasil.”

“Awas! Berpegang erat-erat pada tiang besar itu kak Cempaka. Bilik ini sebentar lagi hancur. Dan kita akan terlempar ke dasar samudera. Lihat itu, air sudah mulai masuk deras ke atas kapal ini.”

“Iya. Tidak ada jalan lain. Kita harus mencoba melakukannya adik Purbaya. Kita akan pasrahkan segalanya pada Hyang Agung dan mohon agar kita tiba di tanah Pasundan. Di keraton Karang Sedana.”

“Baiklah, kita akan mencobanya!”

“Ingat! Lima jalan darah kematian, tutup sekaligus!” “Baik, Kak! Mari kita lakukan bersama-sama. Hupp!”

“Sirna raga datang raga. Sirna jiwa datang jiwa. Hyang Agung yang maha kuasa.”

Cempaka dan Purbaya menggunakan saat-saat yang sempit yang mereka miliki untuk mencoba aji Halimunan. Belum lagi selesai pemusatan pikiran mereka, tubuh mereka bersama-sama kapal layar bajak laut lingkaran api tenggelam ke dasar samudera.

Kita tinggalkan dulu raden Purbaya dan Cempaka. Dan sekarang marilah kita kembali mengikuti kisah di keraton Karan Sedana.

Suara pintu diketuk.

“Kanda Raka, ada apa kanda? Kenapa kanda kelihatan begitu cemas?” “Setan belang!”

“Owh?!”

“Kita telah bekerja sama dengan ular beludak yang licik!”

“Heeh, memangnya ada apa dengan pertemuan kanda hari ini? Apakah ada sesuatu yang kurang menyenangkan?”

“Iya, Resi Amistha telah menambah kekuatan orang-orangnya di Karang Sedana ini. Dan mereka, tidak saja resi Amistha. Lainnya para pembantunya juga bersikap melewati batas bicara denganku. Mereka tidak menghargai lagi aku sebagai penguasa Karang Sedana, sebagai junjungannya!”

“Hmmp. Masakan resi Amistha membiarkannya? Aku akan menanyakannya kepada beliau. Jika tidak, tidak ada salahnya kita mengambil tindakan dengan kekuatan yang ada pada mereka yang membangkang.”

“Mengambil tindakan? Apa maksud dinda?”

“Yah, menangkap mereka dan memberikan hukuman yang pantas.”

“Hmm?! Hehehehh,… hukuman?! Menangkap… siapa yang akan menangkapnya?

Siapa yang berani, dinda?”

“Hei, kenapa kanda jadi bersikap demikian pengecutnya? Kita! Kita akan memerintahkan orang-orang kita, panglima dan perwira untuk menangkapnya.”

“Tidak ada satupun dari para panglima kita, atau perwira kita di Karang Sedana ini yang berani melakukannya. Mereka telah mengenal siapa resi Amistha. Dan lagi, para tokoh-tokoh mereka yang ditempatkan di sini memiliki kepandaian yang tinggi. Dan satu hal lagi yang perlu kau ketahui, Dinda… bahwa resi Amistha kini telah menguasai lima kerajaan lain disekitar Karang Sedana. Kerajaan yang semula mengabdi pada Karang Sedana. Dan lagi saat ini resi Amistha sudah tidak lagi sembunyi-sembunyi. Walaupun belum menyerang Galuh yang berada didalam keluarga prabu Sanjaya, tapi resi Amistha sudah tidak ragu-ragu lagi menyatakan dirinya sebagai penguasa dari syarikat lima negara.”

Terdengar pintu kembali di ketuk. “Siapa?”

“Aku, ki Legowo. Ingin bertemu dengan tuan Raka Parungpang.” “Iya, sebentar.”

“Heeh, nah inilah dia salah satu dari pembangkang-pembangkang itu, dinda.” “Mari kita lihat, apa mau mereka.”

“Tuan Raka, kami datang membawa pesan dari resi Amistha. Dia meminta agar tuanku segera mengeluarkan perintah untuk melakukan penangkapan pada seluruh anggota pengemis tongkat merah.”

“Heeh,… menangkap seluruh anggota pengemis tongkat merah yang ada di kota raja?”

ini.” “Iya, perintah itu tidak terbatas hanya di kota raja, tetapi juga di Karang Sedana “Heeh, Apakah sebenarnya yang sedang terjadi? Mengapa resi Amistha mengambil tindakan seperti itu, Hmm?”

“Saya tidak tahu. Tapi saya kira tuan Raka Parungpang juga tidak perlu tahu.

Jalankan saja perintah ini.”

“Hei, bersikaplah sedikit sopan ki Legawa. Aku Raka Parungpang adalah penguasa di Karang Sedana ini. Kau adalah bawahanku yang harus patuh pada semua perintahku.” “Perintah ini bukan lagi main-main. Cepat laksanakan! Tuan tidak usah merasa

tersinggung jika masih tetap ingin berkuasa di Karang Sedana ini.”

“Heeh, kurang ajar kau Legawa. Aku akan tanyakan sendiri hal ini pada resi Amistha.”

“Hei, tunggu! Mau apa engkau mencari resi Amistha? Saat ini beliau tengah beristirahat di dalam kamarnya. Engkau tidak boleh mengusiknya. Laksanakan saja perintahnya.”

Raka Parungpang membanting kaki dengan geramnya. Di sudut taman seorang perwira dan beberapa prajurit yang melihat kejadian tersebut tak dapat berbuat banyak. Mereka hanya menunduk dan kemudian berlalu dari tempat tersebut.

Sementara itu, Ratih Pudakwangi menggamit Raka Parungpang untuk segera masuk ke dalam kamarnya kembali.

Suara derap serta ringkik kuda, dan keriuhan pertarungan. “Itu mereka! Serbu!”

Sementara itu tidak jauh dari sebuah desa, dipinggiran hutan kecil terlihat dua sosok tubuh tergolek di rerumputan tidak sadarkan diri. Angin yang sejuk semilir menerpa dua tubuh itu. Dan beberapa saat kemudian terlihat salah satu dari mereka bergerak-gerak. “Oh, hmm. Oh, dimana aku ini? Oh, adik Purbaya… Oh, Adik Purbaya, sadarlah!