Alap-Alap Gunung Gajah Jilid 15 (Tamat)

Jilid XV (Tamat)

BAGAI tersayat hati Cunduk Puteri mendengar kalimat itu. Air mata dendam kesumat mengalir turun deras berderaian. Lalu dengan tubuh gemetaran sedikit demi sedikit diregangnya tali temeti yang mengikat tubuh dan kakinya.

“Baiklah. Kau menyetujui semuanya itu. Aku percaya, kau adalah Alap-alap Gunung Gajah. Janji seorang kesatria adalah janji laki-laki sejati. Dan matilah saudara-saudara orang-orang berdarah Mataram, mari kita me-nyanyi untuk kejayaan Alap-alap Gunung Gajah!”

Sehabis kalimat Gede Ayom yang terakhir ini, maka terdengarlah sorak-sorak yang gemuruh dari orang-orang yang mengelilingi perapian itu.

Jumlah mereka ini semua tidak kurang dari seratus orang. Masing-masing terdiri dari Gede Ayom bersama puterinya, dan beberapa pemuda kademangan Moga pilihan.

Toh Kecubung dan beberapa orang murid Gunung Kelir. Ki Tambakeso dengan rombongan para nelayannya, ditambah dengan beberapa orang murid Guha Gempol pengawal Kebo Sulung.

Terdengar Toh Kecubung berseru dcngan suaranya yang besar dan parau :

“Sahabat Alap-alap. Gembira aku mendapatkan sahabat seperti kau.

Aku percaya bahwa cita-cita kita akan segera menjadi kenyataan! Bukankah begitu,

Tambakeso?”

“Benar!” Nelayan tua itu menyahut sambil menyeka mulutnya yang selalu merokok klobot. “Pemberontak-pemberontak seperti Tampar Angin, Kiai Kenistan dan isterinya yang cantik itu, sudah harus segera kita beresi!”

Telinga Cunduk Puteri serasa hendak pecah mendengar caci maki dan olok-olok yang menyakitkan itu. Dadanyapun seakan mau meledak, oleh api dendam.

Justeru pada saat itulah terasa ada sebuah sentuhan pada tali pengikat dikakinya. Cunduk Puteri terperanjat. Tetapi orang yang telah membuka tali pengikat itu memberi isyarat agar si dara diam.  

“Kasihan... kalian menderita sekali...” kata orang itu, yang tidak lain adalah cantrik bermuka

lorek. Sogapati yang dengan gopoh dan...

“Kau Sogapati...” Cunduk Puteri setengah hendak menangis.

“Di atas dunia ini, tidak sedikit jumlahnya hal-hal yang palsu. Maka berhati-hatilah. Kukira

kau lebih baik pergi dahulu menuju kebarat, biar aku yang akan membebaskan Pepriman”.

Begitu tali pengikat terlepas, Cunduk puteri melompat pergi tanpa berpaling. Sepanjang jalan sedu sedannya terdengar mirip rintihan.

Gede Ayom dan kawan-kawannya masih mengelilingi Pepriman yang tersandar di tongkat.

Tetapi sekarang dengan Moga itu berseru garang : api!” “Kau harus berpihak kepadaku! Kalau tidak anak si Pucung itu akan kucemplungkan kedalam

Pada saat itulah baru kelihatan Pepriman menggerakkan anggota badannya. Dan dengan mata  

yang kuyu pemuda itu menjawab :

“Jangan kau ganggu gadis itu. Apa hubungannya, kalau aku tak mau berpihak mengapa dia

yang harus dicemplungkan kedalam api? Kau kira aku takut mati?”

Dewi Yoni merangkul sambil berkata aleman.

“Kakang Alap-alap. Ayahku jadi adipati, dan aku adalah puteri adipati, kaupun menantu

adipati. Apakah kau tidak ingat pada ikan mas dikolam kademangan?” “Yoni” sahut Pepriman bersemangat.

“Ketika bangsamu berjuang mati-matian mempertahankan setiap jengkal tanah dari rampokan bangsa bule, maka kau berpikir tentang jadi puteri adipati. Kuperingatkan kau, Yoni. Bahwa mengkhianati tanah tumpah darah, sama halnya mengkhianati ibumu sendiri...”. 

“Omong besar! Mau atau tidak!” Bentak demang Moga.

Pepriman menghela napas. Diperhitungkan olehnya kawat-kawat kecil tajam yang mengikat dirinya dengan tonggak. Dan dikira-kirakannya jumlah musuh yang berada dihadapannya. Lalu dengan penuh kecemasan ia berkata :

“Apakah kau tidak kasihan pada saudaramu, Cunduk Puteri? Bebaskan dia. Jangan biarkan dia menderita terlalu lama. Kalian semua boleh menganiaya diriku, membunuhkupun silakan, asal jangan mengganggu dara Pucung itu.

Maksud Pepriman yang baik untuk kebebasan dara pendekar itu, justeru mengobarkan api cemburu pada Dewi Yoni belaka. Dengan serta merta dara itu menjerit seraya merenggut baju di dada pemuda itu.

“Kubunuh dia didepan matamu! Kau kira aku tak bisa melakukannya?” “Jangan Yoni. Dia... dia...”.

Kekuatiran Pepriman jasteru menggembirakan bagi Gede Ayom. Dau demang itu tertawa terbahak sambil berkata :

“Kau terima syaratku. Baru anak Pucung itu dapat kubebaskan!”

“Tak perlu lagi!” Mendadak terdengar suara seseorang yang membentak, memotong pembicaraan Gede Ayom. Selanjutnya, tampak sesosok bayangan yang melompat, menerjang ke arah demang itu dengan sabetan-sabetan goloknya.

Seketika menyibaklah kerumunan orang-orang itu karena terkejut. Demang Moga tidak sempat menghindar, akan tetapi Dewi Yoni yang tangkas itu telah menarik sebuah senjata dari dalam bajunya.

Seketika tampak berkilauan lima buah sinar putih seperti kilat, menyambar kearah sinar golok.

Bentrokan senjata terdengar nyaring. Dan selanjutnya penyerang itu melompat mundur sambil terkejut memperhatikan senjata gadis itu.

“Kiai Pancaloka...”

“Kau siapa manusia buruk Dewi Yoni melangkah maju sambil memutar senjata pancaloka diatas kepalanya. “Kau mencari mati sendiri!” Pepriman terkejut melihat senjata ayah angkatnya berada ditangan gadis Moga itu. Seketika timbul pertanyaannya, bagaimana senjata pusaka itu bisa berpindah tangan dari Kebo Sulung ketangan gadis itu.

Tetapi disamping kekagetannya ini, ia terkejut pula, melihat siapa orangnya yang sedang datang menolong.

Pemuda itu adalah Sogaklenting, alias Sogapati, orang yang dikira oleh Pepriman tentu senasip dengannya, tertawan oleh orang-orangnya Gede Ayom.

Sebenarnya, ada untungnya juga, waktu Pepriman Cunduk Puteri dan Sogapati itu balapan lari. Tanpa dapat dielakkan, Sogaklenting memang tertinggal oleh mereka.

Kecuali memang pemuda itu kalah tinggi ilmu lari cepatnya, juga dia sendiri memang segan untuk terlalu dekat dengan pasangan muda-mudi itu.

Itulah sebabnya maka ketika Pepriman dan Cunduk Puteri terjebak dalam tipu muslihat, justeru Sogapati yang tinggal selamat.

Akan tetapi keselamatan itu kini sudah terancam lagi. Dewi Yoni dengan Pepriman senjata pusaka pancaloka, ibarat harimau tumbuh sayap.

Walaupun dara itu mempunyai ilmu kepandaian yang setingkat dengan Sogapati, akan tetapi senjatanya jauh lebih ampuh dari pada sebatang golok pendek ditangan Sogapati.

Dalam beberapa gebrakan saja, sudah tampak bahwa Sogapati berada dibawah angin. Dan Dewi Yoni yang menjadi sangat sombong dengan senjata rampasan itu, sengaja hendak memamerkan kepandaiannya.

Suara tongkat Pancaloka berdering-dering mengerikan. Sinar kilatnya bergulung-gulung menindih suara golok yang lama kelamaan cahaya golok itu semakin kecil dan merapat.

Sebenarnya Sogapati bukan hanya mengandalkan ilmu golok Loning yang masih jauh dari sempurna itu. Beberapa jurus ia tampak memainkan ilmu silat tingkat tinggi yang pernah diikutinya secara diam-diam, yaitu ilmu pelajaran dari kitab Malaikat Papat.

Selama itu, Sogapati menjadi cantrik Cunduk Puteri secara diam-diam ia berusaha untuk mengintai setiap saat dara Pucung itu melatih diri.

Hasilnya sungguh menyedihkan dan lucu. Pada dasarnya Sogapati bukanlah tergolong pemuda yang memiliki kecerdasan otak luar biasa.

Pelajaran ilmu silat yang ia lihat dari gerakan Cunduk Puteri belaka tidak seluruhnya dapat dilihat dan diingat-ingat. Sehingga sebenarnya ia hanya memperoleh gerakan-gerakan yang kacau, dan sebagian ilmu lari cepat yang tidak sempurna.

Pada gebrakan pertama tadi, golok pemuda ini telah tergempur oleh pancaloka. Dan mata golok rompang-rompang, bahkan ujung golok jadi kutung sepanjang setengah dim.

Sebenarnya kerusakan senjata itu saja telah menunjukkan bahwa lawan terlalu lihai dengan senjatanya.

Akan tetapi Sogapati sama sekali tidak menggubrisnya. Secara pribadi, Sogapati telah mengenal Dewi Yoni, bahkan pemuda ini pernah jatuh cinta kepadanya.

Pergaulan mereka cukup karib. Itulah sebabnya Sogapati yakin bahwa Dewi Yoni takkan membunuhnya.

Dara puteri demang itu bukanlah seorang pembunuh.

Sogapati tak tahu, bahwa kegagalan Dewi Yoni merebut perguruan Loning mengakibatkan kerusakan jiwa gadis itu.  

Dan suatu kenyataan bahwa kini puteri dan ayah demang Moga itu menjadi buron, hidup bukan sebagai orang-orang yang disanjung dihormati didaerahnya, akan tetapi menjadi pimpinan gerombolan yang menentang kekuasaan kadipaten.

Dewi Yoni telah berubah menjadi dara petualangan yang berwatak keras dan telengas. Tangannya yang halus dengan senjata pancaloka ditangan tidak segan-segan melakukan pembunuhan, sebagai terbukti pada korban-korbannya murid Loning.

Apabila seorang Sogapati menduga bahwa lawannya takkan suka turun tangan membunuh, itulah sebuah kesalahan besar.

Baru saja Sogapati memikir-mikir untuk dengan cara bagaimana menyadarkan gadis itu dari niatnya mengadakan kraman, maka golok Sogapati tiba-tiba terlibat oleh genta-genta pada ujung tongkat pancaloka.

Ketika pemuda itu berusaha menarik senjata, ia menjadi sangat terkejut, karena ternyata libatan senjata lawan itu begitu erat, sama sekali tak dapat digoyahkan. Dan sebelum pemuda itu sadar akan apa yang bakal terjadi, sebuah tendangan kilat hinggap dikempungannya.

Mau atau tidak, maka golok terlepas dari cekalan dan Sogapati terpelanting kesakitan.

Belum juga tubuhnya terjatuh sampai ketanah, maka tendangan Dewi Yoni yang kedua menghantam dada, Sogapati menjeblak kebelakang, terjengkang dengan mulut menyemburkan darah.

Dewi Yoni sama sekali tidak memberi kesempatan. Dengan cepat diputarkannya senjata pancaloka, sehingga golok Sogapati yang masih terlibat ikut berputar. Sekali si dara mengedutkan tangannya, maka secepat anak panah golok itu meluncur kearah tuannya.

Tampaknya ajal akan segera singgah ditubuh Sogapati. Pepriman yang sejak tadi menyaksikan pertarungan itu, menjadi putus harapan dan sangat berduka ia memejamkan matanya.

Akan tetapi sesungguhnya ajal monopoli kekuasaan Yang Maha Kuasa belaka.

Sebelum golok itu sempat menyate tubuh tuannya, maka tampaklah sebuah benda hitam meluncur sangat cepat, yang datang dibarengi dengan suara tawa yang mengakak.

“Memalukan...!”

Benda hitam itu tepat membentur golok, sehingga senjata itu tergetar kesamping, jatuh menancap disebelah leher Sogapati. Dan ketika sekalian para pengikut demang Moga itu terkejut keheranan, maka disekitar mereka telah bertambah satu orang.

Orang itu adalah seorang kakek tinggi besar yang mengenakan ikat kepala atau destar warna hitam berkilat, dipinggangnya menyoren sarung golok yang terbuat dari perak seluruhnya. Sekali mereka melihat maka seketika terdengar pekikan-pekikan tertahan berbareng jeri.

“Ki Cucut Kawung...” “Guru Loning...”

“Benar”, sahut Cucut Kawung seraya tertawa besar. “Ilmu tongkatmu sungguh hebat Yoni.

Aku orang tua sungguh kagum, hahaha...”.

Bukan main likatnya Dewi Yoni mendengar sindiran itu. Tidak terkecuali juga Gede Ayom, ayah gadis itu. Dengan satu lompatan garang, Gede Ayom menerjang kedepan Cucut Kawung seraya membentak.

Ki Cucut Kawung sombong! Saat kematianmu sudah tiba sekarang!”

“Mati itu mudah, Ayom, dan orang tua elot seperti aku, apanya yang dibuat sayang uniuk mati?” Ki Cucut Kawung tertawa. “Tetapi aku hendak bertanya kepadamu, kau seorang demang, sekarang menjadi buron, apakah mimpi menjadi adipati itu sudah cukup menyenangkan bagimu?”  

Tentu saja ejekan seperti itu sangat menusuk perasaan mereka. Dalam hal ilmu kesaktian, memang Ki Gede Ayom bukan tandingan Cucut Kawung. Akan tetapi dalam hal kekerasan wataknya, mereka hampir sama.

Dan tanpa omong lagi, Gede Ayom telah melancarkan serangan. Kedua tangannya bergerak seperti hendak menari, akan tetapi tahu-tahu kelima jari tangannya mencengkeram kearah tenggorokan lawan.

Ki Cucut Kawung tertawa. Sambil memiringkan kepala mengelak, kakek itu berkata :

“Kita sudah sama-sama tua, Ayom. Dan kau sudah tahu sampai dimana ilmu golokku. Kukira tak perlu malu-malu kau mengerahkan kawan-kawanmu untuk maju mengeroyok!”

Ucapan Ki Cucut Kawung ini kalau dipikir-pikir seakan-akan seperti ejekan. Namun, kakek itu memang bersifat polos. Ia berkata sesuai benar dengan kenyataan. Dan Gede Ayom pun mengakui kegagahan lawannya. Ia tahu benar, bahwa dirinya takkan dapat memenangkan guru Loning itu. Sekarang lawan itu sendiri yang mengajukan saran untuk pengeroyokan. Mengapa kesempatan seperti itu tidak segera digunakan?

Tanpa dikomando lagi, Dewi Yoni, menerjang dengan tongkat pancalokanya, mengemplang kepala si kakek. Dan Toh Kecubung dengan senjata bandringannya menyerbu maju pula.

Melihat lawan-lawan telah turun mengeroyok, maka sambil tertawa gembira Ki Cucut Kawung menarik goloknya. Terdengar suara bergaung nyaring, dan segebyar sinar ungu terkembang diudara. Itulah pusaka golok ‘Kiai Kendit Brayung’ yang dalam sejarah pusaka-pusaka tergolong pada pusaka para pinisepuh dari jaman Majapahit.

Golok pusaka itu baru saja dicabut dati sarungnya, bersama keluarnya hawa dingin yang menyerap ketulang, dan perbawa sangat besar yang membuat lawan pecah nyalinya sebelum bergebrak.

Tetapi mereka harus bergebrak, bertarung! Dan Dewi Yoni yang hakekatnya seperti anak macan baru turun gunung, telah melangkah maju membungkuk hormat untuk kemudian berkata :

“Guru... ternyata jalan kita berselisih...”

Ki Cucut Kawung tertawa.

“Tidak usah kau pikirkan, Yoni. Aku menghormati orang yang mempunyai pendirian. Walaupun sikap kalian ini keliru, menentang kekuasaan yang ada tetapi itupun suatu sikap, yang harus kita hargai juga! Kau adalah pahlawan gerombolanmu, Yoni!”

Untuk selanjutnya, setelah menghormat tiga kali, Dewi Yoni mengangkat kepalanya,

berbareng dengan gerakan tongkatnya menyambar keatas. “Maafkan guru”.

Ki Cucut Kawung menghela napas. Hatinya sedih memikirkan bahwa dara yang merupakan murid kesayangannya kini telah murtad dari ajaran perguruan, bahkan telah menentangnya pula. Tetapi kecuali menghela napas bersedih, sesungguhnya dengan gerakan itu kakek sakti itu telah mengelakkan sambaran kiai pancaloka.

Dan ketika bandul bandringan Toh Kecubung menyambar datang, Cucut Kawung tidak mengelakkannya. Bahkan dengan gerakan menyilang, goloknya di sabetkan kearah rantai bandringan itu. Orang dapat membayangkan betapa tajamnya golok Kendit Brayung. Besi bajapun agaknya akan putus dibuatnya.

Tetapi Ki Cucut Kawung takkan berbuat gegabah itu. Dengan satu gerakan memutar pergelangan tangan, maka punggung golok yang menghantam rantai, akibatnya bandringan itu menyambar balik, menghanjut kearah pemiliknya. Toh Kecubung pontang-panting menghindari sambaran senjatanya sendiri.

Dari benturan senjata itu saja, sudah dapat dilihat tenaga Cucut Kawung jauh lebih besar dari pada lawannya. Dan kini Gede Ayom telah menerjang maju.  

Tetapi Cucut Kawung telah mendahuluinya, menghantam telapak tangan kiri seraya

membentak. “Mundur!”

Gede Ayom terkejut. Gerakannya agaknya terlambat sedikit maka lambung kirinya telah terserempet angin pukulan maka demang itu terhuyung kebelakang.

“Hebat. Kalau aku mati ditanganmu, sungguh aku akan mati meram, Kiai.” Kata Gede Ayom. “Justeru aku takkan membunuhmu, Ayom. Jangan menyesal hahahaha...”

Detik-detik selanjutnya adalah ketiga pengeroyok itu telah ditambahi satu orang. Ki Tambakeso.

Ki Tambakeso dengan kebutan bajanya mencoba mengurung Ki Cucut Kawung dari belakang, bersama Toh Kecubung. Sedangkan dari depan Dewi Yoni dan Gede Ayom.

Di kurung demikian rupa, Cucut Kawung bukannya jeri, malahan ia tertawa-tawa gembira sambil berseru-seru : “Marilah, semuanya boleh turun. Menyenangkan haha... hahaha ”

Dan apabila guru Loning itu berkata demikian, bukankah ia sedang membual. Permainan goloknya yang berpebawa besar luar biasa, benar-benar sangat unggul.

Libatan sinar ungu yang memancar dari tajam golok itu, bergulung-gulung seolah-olah menindih setiap senjata yang datang menyerang.

Pertarungan telah meningkat sampai dua puluhan jurus, akan tetapi belum tampak pihak mana yang bakal menang.

Namun agaknya, dapatlah diduga bahwa Cucut Kawung tidak bertempur dengan sungguh- sungguh. Agaknya ia segan melukai lawannya, terutama Dewi Yoni maupun Gede Ayom.

Dewi Yoni menyampok  dengan senjatanya kearah dada si kakek, dan  dara itu berharap lawannya akan menangkis dengan senjatanya.

Dugaan si dara jitu sekali, dan ternyata Ki Cucut Kawung benar-benar menggerakkan golok untuk membentur senjata pancaloka itu.

Pada detik-detik yang bersamaan Gede Ayom telah melontarkan tiga tendangan bersusun mengarah pinggang guru Loning itu. Sedangkan bandringan Toh Kecubung memutar diatas, menyambar kearah kepala.

Tampaknya guru Loning itu akan mati hancur dihujani pukulan dan senjata itu. Akan tetapi untuk kali ini maha guru yang sakti itu menunjukkan kemampuannya. Dengan mengikuti gerakan langkah mukjijat yang di Loning terkenal disebut sebagai ‘delapan langkah membunuh naga’ maka diluar dugaan kakek sakti itu telah berada diluar kurungan senjata lawan sementara goloknya masih meluncur untuk membentur kiai pancaloka.

Terdengar benturan nyaring, kiai pancaloka membentur kiai Kendit Brayung. Terlihat lelatu api berpercikan keudara, dan akibatnya sungguh hebat. Kedua pusaka itu berpentalan, dan orangnya terbawa memutar.

Dewi Yoni memutar kemudian jatuh, sedangkan Ki Cucut Kawung dengan sangat gagahnya melanjutkan gerakan memutar itu untuk menghantamkan gagang golok kearah kepala Gede Ayom.

“Awas!” Seru Tambakeso memperingatkan Gede Ayom. Dan Demang buron itu telah secepatnya membuang diri bergulingan. Akan tetapi aneh, sinar golok berwarna ungu itu seakan- akan telah berubah menjadi bianglala yang mengejar dengan cepat.

Bukan main terkejutnya Dewi Yoni dan kawan-kawannya. Mereka bertiga seketika memburu maju untuk menolong pemimpin mereka.

Ketiganya melakukan serangan membokong, akan tetapi hasilnya Toh Kecubung terkena tendangan dan terlempar sejauh tiga tombak, sedangkan Tambakeso terpapas senjatanya, benang-  

benang kebutannya jadi buntung. Sedangkan Dewi Yoni harus berlompatan mundur, akibat jojohan golok lawan yang bertubi-tubi mencecarnya.

Namun, masih untung Gede Ayom dapat bebas dari ancaman maut.

Tiba-tiba sekali, terdengar suara Tambakeso tertawa berkakakan sambil berseru :

“Cucut Kawung! Lempar golokmu, atau pemuda jembel ini akan putus!”

Cucut Kawung terperanjat. Ia memalingkan muka dan melihat betapa Pepriman dengan sikap yang tetap gagah, ditempeli dadanya dengan gagang kebutan yang runcing dan tajam.

Kakek itu menghela napas. Dipandanginya wajah Pepriman yang kukuh dan mengagumkan  

itu. Dan diperhatikannya pula tali kawat yang mengikat pemuda itu erat-erat.

Lalu dengan sikap tak acuh, Cucut Kawung melepaskan goloknya hingga terdengar suara berkelontrangan nyaring.

“Tak perlu maha guru. Begundal-begundal berjiwa rendah itu mana dapat membunuhku. Jangan hiraukan aku!” Teriak Pepriman dengan hati mendongkol akan kelicikan sikap lawan- lawannya.

“Mengapa begitu?” Ki Cucut Kawung tertawa. “Aku sendiri telah jemu main-main dengan

golokku!”

“Kuharap Ki Cucur Kawung cepat berlalu. Dan harus berjanji tidak akan mencampuri urusan kami!” Kata Tambakeso pula.

“Hanya begitu? Baiklah!” Dan guru Loning itu benar-benar berlalu meninggalkan tempat itu, seakan-akan tidak tahu urusan lagi. Tetapi benarkah demikian halnya?

Dalam hal pengalaman dan kecerdikan, agaknya Ki Cucut Kawung bukanlah tandingan Tambakeso. Pada waktu menjatuhkan goloknya, Ki Cucut Kawung telah mengenai sebuah batu kecil, yang lantas batu itu terlempar mengenai atas pinggang Sogapati.

Dengan timpukan batu yang lemah itu, maka Sogapati tersadar dari pingsannya, dan dengan segera ia melihat bahwa Kiai Kendit Brayung berada disebelah tangannya.

Ketika Ki Cucut Kawung berlalu maka pada saat itulah terdengar suara teriakan nyaring, dibarengi melompatnya tubuh Sogapati. menubruk kearah Tambakeso dengan sabetan golok.

Walaupun Tambakeso berlengan empat sekalipun misalnya, maka tak mungkin baginya menyelamatkan diri dari sabetan Kendit Brayung yang dilakukan secara demikian tiba-tiba.

Nelayan tua itu hanya sempat menggerakkan sedikit tubuhnya kesamping, selanjutnya terdengar jeritannya..... lolong panjang, dan sebelah lengan tampak terbang diudara mencecerkan darah.

Tambakeso masih sempat menyabetkan kebutannya kearah dada Sogapati, sehingga baju di dada pemuda itu hancur berkeping-keping, sebaliknya nelayan tua itu sendiri roboh menggelepar- gelepar dengan pundaknya yang kutung menyemprot-nyemprotkan darah.

Kejadian itu begitu mendadak, sehingga Dawi Yoni maupun ayahnya tertegun beberapa saat.

Kesempatan yang sangat kecil ini telah dimanfaatkan oleh Sogapati untuk memutuskan kawat-kawat yang mengikat Alap-alap Gunung Gajah.

Tetapi Sogapati menjadi kurang waspada. Hanya beberapa tarikan napas itu saja, senjata- senjata Dewi Yoni dan Toh Kecubung datang meluruk, disusul terjangan Gede Ayom.

Sogapati memutar senjatanya kebelakang menangkis serangan seraya melompat kedepan. Walaupun begitu sabetan Kiai Pancaloka masih menyerempet kakinya, akibatnya pemuda itu jatuh terguling dengan kaki tulang hancur.

Dewi Yoni hendak menyusuli serangannya. Tetapi mendadak terdengar suara lengkingan yang sangat nyaring, menggelik seperti suara burung Alap-alap (sebangsa elang) menyayat ke langit.

Dewi Yoni terhenti melangkah. Isi perutnya terasa seakan diaduk, dan ia terguling roboh. Kiranya Alap-alap Gunung Gajah kini telah melompat kedepan, menyambut Gede Ayom dan

Toh Kecubung dengan terjangan yang seperti singa.

Sambil menggereng, pemuda itu menggerak-gerakkan kepalanya sehingga rambutnya yang riap-riapan menjadi tegak, persis seakan singa yang sedang murka.

“Manusia-manusia licik. Bebaskan Cunduk Puteri!”

Gede Ayom dan Toh Kecubung memberi aba-aba agar para bawahannya bergerak maju mengerubut. Tetapi sekalian murid-murid itu hanya tertegun ditempatnya, seakan-akan ingin kabur.

Melihat Toh Kecubung ditempat itu, Pepriman terbayang akan peristiwa pembasmian perguruan Blimbingwuluh.

Terbayang olehnya, betapa saudara-saudara seperguruannya lelaki dan perempuan mendapatkan perlakuan yang sangat keji dan biadap. Pembantaian yang kejam! Dan terbayang akan semuanya itu, seketika kedua tinjunya mengepal gemetaran.

Mukanya merah membara, matanya berapi-api, lalu dengan sebuah lengkingan yang memekakan telinga, pemuda itu menerjang maju.

Sekali terjang, delapan orang murid Gunung Kelir terlempar kekanan kiri berpelantingan, berbareng dengan teriakan-teriakan maut yang menyayat.

Bukan main kejutnya lawan-lawan. Para murid Gunung Kelir yang masih menyisa, serabutan mundur mencari hidup, sedangkan pemuda-pemuda Moga maupun para nelayan anak buah Tambakeso, berlarian menyembunyikan diri dibelakang Gede Ayom.

Tak terkatakan, betapa murkanya Toh Kecubung melihat kenyataan yang mengerikan itu.

“Bocah hina! Kau mencari mati!” Toh Kecubung memutar bandringannya, mengaung diudara. Dan bertubi-tubi dihantamkan kearah Pepriman.

Tetapi dalam keadaannya yang demikian, Pepriman telah menterapkan aji nusa reca sakti, ajaran Turonggo Benawi. Dengan delapan langkah dewa, maka setiap hajaran bandringan lawan dapat dihindari, bahkan selangkah demi selangkah pemuda itu dapat mendekati lawannya.

“Heeiiikkk!” Sekali lagi terdengar suara lengkingan mengelik ke langit.

Ketika Pepriman menggerakkan tangan kedepan maka rantai bandringan terhajar membalik, dan bandulan bandring yang sebesar kelapa gading itu menyambar cepat kearah tuannya. Toh Kecubung memekik kaget dan panik.

Ia melemparkan senjatanya itu, akan tetapi Pepriman tidak memberi ketika lagi, dengan serentak ia mendorongkan kedua tangannya, sehingga bandul bandringan yang semula hampir melayang jatuh, seketika menyambar sangat pesat, tanpa dapat dihindarkan lagi menghajar dada Toh Kecubung.

Hanya terdengar pekikan yang tertahan, selanjutnya raja begal dari Gunung Kelir itu telah putus nyawanya.

Dewi Yoni telah siuman dari pingsannya. Pengaruh suara melengking dari Pepriman yang menggoncangkan bagian dalam tubuhnya telah lenyap, akan tetapi gadis itu belum sembuh benar.  

Dengan loyo ia merayah bangkit, lalu dengan sikap putus harapan ia menghampiri ayahnya. Maka ayah dan anak itu berpelukan. dibarengi dengan suara tangis dara itu yang sangat memilukan.

“Ayah... Kemana kita sekarang?” Kata Dewi Yoni diantara sedu sedannya.

Dan Gede Ayom mengangkat mukanya, memandang kearah Pepriman. Terlukis suatu perasaan yang putus asa, harapan kosong. Sebutir air mata terbutir, meluncur turun. Dan lelaki baya itu kini telah menangis.

Pepriman adalah seorang pemuda yang dibesarkan oleh penderitaan dan kesengsaraan. Dasar hari yang sebenarnya adalah seorang pemuda berwatak lembut, penuh cinta kasih.

Dan ketika terlihat olehnya pemandangan ayah dan anak yang memilukan itu, seketika api dendam yang berkobar diwajahnya, padam dengan seketika.

Dan roman muka yang semula beringas seperti singa murka itu, menjadi tenang kembali.

“Pepriman silahkan turun tangan. ” kata Gede Ayom.

Pepriman menggelengkan kepala.

“Atau kau akan membantu kami ” kata Gede Ayom pula, ragu-ragu.

Pepriman melangkah pergi seraya berkata :

“Ketika orang-orang sedang bersatu padu melawan kezaliman, maka paman demang dan nona Dewi membuat keonaran tersendiri. Mungkin paman demang adalah seorang yang bercita-cita, akan tetapi cita-cita yang manakah yang harus dibantu? Dan saat manakah cita-cita itu dapat diujudkan? Kaum rimba persilatan sedang menghadapi ancaman bencana.

Apakah kalian akan pura-pura tidak mau tahu, itulah urusan kalian. Harap dimaafkan, bahwa

untuk kali ini aku berkeberatan untuk sependirian. ”

“Joko Bledug... Oh, Bledug...” Dewi Yoni memburu maju. Dengan tergopoh dirangkulnya sepasang kaki pemuda itu. Dan merataplah dara itu.

“Bledug, ketahuilah olehmu Bledug, bahwa ayahku tak mungkin kembali menjadi demang pula ”

“Tak ada yang langgeng didunia, Yoni!”

“Ya, tapi ayahku, kami menjadi buron kadipaten.”

Pepriman diam. Menjadi buron pihak yang berkuasa, adalah hidup yang paling celaka diatas dunia ini. Dan itu menyedihkan, akan tetapi hal itu terjadi atas diri Gede Ayom dan putrinya merupakan risiko.

Risiko untuk perbuatannya, merupakan akibat dari pada memanjakan nafsu serakah. Barang siapa menanam, maka dialah yang akan memetik buahnya.

“Kau takkan membela kami. Pepriman?” Desak Dewi Yoni.

Pepriman diam. Digerakkannya kakinya perlahan-lahan, hingga gadis itu melepaskan rangkulannya.

“Kita berada dipihak yang berlainan, Yoni. Maafkan”.

“Tidak. Kau tak berhati. Kau kejam. Kau tahu bahwa dengan kemampuanmu, kau dapat menyelamatkan kami dari kekejaman hidup ini, tetapi kau tak mau melakukannya. Aku tahu, karena kau telah memiliki gadis Pucung itu!” Dan Dewi semakin keras tersengguk-sengguk.

Pepriman diam. Memang Pepriman berharap akan dapat memperisterikan dara pahlawan itu.

Akan tetapi siapakah dapat menentukan jodoh manusia, kecuali suratan takdir?”.  

Dewi Yoni seorang dara jelita, pandai ilmu silat dan berdarah pengagung. Sebaliknya Cunduk Puteri adalah seorang perawan dusun yang telah ternoda.

Berbicara tentang kecantikan, kedua dara itu memiliki kekhususan yang berbeda. Dewi Yoni adalah seorang dara cantik jelita berkulit kuning mulus yang lembut, sedangkan Cunduk Puteri adalah seorang dara hitam manis dengan sifatnya yang lincah dan ceriah.

Pepriman tak dapat memutuskan dengan pasti, kepada siapa sebenarnya ia jatuh cinta. Namun, sebagai seorang pendekar, ia telah dapat membedakan baik dan buruk yang bermakna dalam batas-batas nilai kebenaran.

Ya, Dewi Yoni meniliki kelebihan, selalu dapat membangkitkan gairah hidup pada si pemuda, tetapi hati pemuda ini justeru telah dingin. Pengalaman hidup telah mengajarnya menjadi seorang dewasa gemblengan yang mampu mengendalikan hawa nafsu.

“Bledug. Tetap kau takkan merubah pendirianmu.” Seru Dewi Yoni.

Pepriman terhenti melangkah sejenak . Untuk sesaat ia termangu, tetapi selanjutnya pemuda itu melangkah cepat meninggalkannya.

“Joko Bledug! Kau dengar! Seumur hidupku, musuhku adalah kau! Aku harus membunuhmu!

Membunuhmu!”

Dan sehabis menjerit demikian, puteri demang itu berlari pergi diikuti oleh ayahnya yang melangkah limbung dengan wajah putus asa.

Malampun bersama angin, bergerak terbawa irama waktu. Bintang-bintang dilangit bertaburan tak terbilang. Dan bulan berlayar, diarak oleh awan mengarungi lengkung langit.

X

X X

WAKTU fajar menyingsing, Pepriman telah menyandak Sogapati yang tertimpang-timpang didepan .Terpaksa sekali, Sogapati harus mempergunakan tongkat selama berjalan.

Akibat pukulan pusaka merupakan cacat seumur hidupnya.

Siang harinya, mereka telah bertemu dengan Ki Cucut Kawung yang saat itu sedang mengail disebuah kali.

Selanjutnya atau anjuran dari pada guru Loning itu, maka Pepriman menyamar sebagai seorang pencari ikan yang menyusur kali menuju kebarat dengan sebuah jala ditangan.

Sedangkan Sogapati bersama Ki Cucut Kawung hari itu menghabiskan waktunya mengail dipinggir kali.

Dengan begitu, maka Pepriman bermaksud juga pergi mencari Cunduk Puteri. Dari keterangan yang diperoleh dari Sogapati, Cunduk Puteri selamat telah lolos terlebih dahulu dari tipu muslihat Ki Gede Ayom.

Tetapi yang mengherankan, andaikata dara itu tidak mendapat bahaya, mengapa ia tidak turun tangan membantu Pepriman yang saat itu masih tertawan?

Sogapati tidak dapat menjelaskan.

Namun Pepriman samar-samar telah dapat menduganya bahwa kemungkinan sekali dara itu telah cemburu. Tidak mustahil Cunduk Puteri dapat melihat keadaan Pepriman waktu Dewi Yoni merangkul dan merayunya. Semuanya itu terjadi diluar kesadaran Pepriman.

Pada saat Pepriman berlari memburu, mendengar jeritan seorang gadis yang diculik orang, akhirnya ia terjebak dalam barak yang berada dekat dengan tanah lapang.

Ketika Pepriman memasuki barak, keadaan sangat gelap gulita.  

Pepriman telah curiga, dan sebelumnya tadi ia melihat bahwa orang yang dikejarnya baru saja memasuki barak.

Tanpa diketahui dari mana asalnya. Tiba-tiba terlihat asap mengepul memenuhi ruangan. Dan bau harum yang menusuk seperti menyan dupa, teruar hebat.

Pepriman terperanjat, ia berusaha untuk berlari kearah pintu keluar. Ia telah berusaha untuk menutup pernapasannya, mengusir pengaruh bau harum yang memabukan itu. Tetapi terlambat.

Segera pemuda itu terhuyung dan roboh kelantai barak, dalam keadaan pingsan!

Dalam keadaan pingsan itulah si pemuda dibawa ke tanah lapang, diikatkan pada tonggak yang memang telah disiapkan didekat sebuah perapian.

Tak lama antaranya, Gede Ayom membawa Cunduk Puteri dalam keadaan tertotok.

Dan sengaja gadis ini diikatkan pada tempat yang berjauhan dari tempat Pepriman, agar tidak terlihat bahwa sebenarnya Pepriman masih dalam keadaan tidak sadar oleh pengaruh dupa pemabuk itu, lagi pula kawat yang mengikat pemuda itu terlalu kecil untuk dapat dilihat dari tempat kejauhan, sehingga tidak tampak oleh mata Cunduk Puteri.

Sehingga waktu Dewi Yoni merayu pemuda itu terlihat oleh Cunduk Puteri seakan kejadian itu adalah kejadian yang sesungguhnya.

Semuanya itu telah diperhitungkan dan dipersiapkan oleh Gede Ayom bersama puterinya. Mereka berharap akan dapat membuat pihak Alap-alap Gunung Gajah terpecah belah akibat pertentangan Cunduk Puteri dengan pemuda itu.

Dan hasilnya, walaupun gerakan Gunung Gajah itu tidak terpecah belah akan tetapi jelas bahwa Cunduk Puteri telah menghilang, meninggalkan Pepriman karena marah dan cemburu.

Minggu berikutnya, rombongan Kenistan bersama Mbah Pucung dan Ki Ageng Tampar Angin telah tiba. Juga laskar Gunung Gajah yang dipimpin oleh Walikukun ikut dibawa serta.

Ki Ageng Tampar Angin, atau Kiai Teger yang terpaksa berjalan dengan kaki satu itu, menghampiri Pepriman seraya kemudian memeluk kepala pemuda itu dengan hangat.

“Anakku.....” suara Kiai Teger serak, “Ternyata ayahmu telah berbuat sembrono, tak dapat

membedakan mana batu dan mana permata!

Selama ini, mata ayahmu tertutup oleh kepalsuan, dan kebenaran justeru menjauhi! Itulah suatu bukti anakku, bahwa bukan pasti kaum tua lebih bijak dari kaum muda. “Bahkan tidak mustahil terjadi pula sebaliknya ”

Mendengar ucapan yang mengandung penyesalan dan cinta kasih itu, tak terbendung lagi air mata Pepriman membanjir turun.

Pemuda itu lantas memeluk kaki ayah angkatnya yang tinggal sebuah itu seraya berkata tersedu sedan.

“Ayah begini menderita ”

“Siapa bilang ayahmu menderita? Tidak! Kakiku tinggal sebelah, tetapi hatiku bangga. Aku

mempunyai seorang putera seperti kau, Bledug. Eh, mana dia Cunduk Puteri?”

Ketika rasa kasihnya semakin besar, maka Kiai Teger teringat akan puteri Pucung. Ia mencari-cari dengan matanya, akan tetapi gadis yang dimaksud tidak tampak.

“Karena anak yang tidak becus, ayah...” Sahut Pepriman. Selanjutnya pemuda itu lantas menceritakan jalannya peristiwa hingga kepergian gadis Pucung itu, menghilang tak ketahuan rimbanya.  

Rupanya Mbah Pucung sendiri dapat mendengar penuturan Pepriman. Tidak sepatahpun apa yang dikatakan oleh pemuda itu luput dari pendengaran si kakek yang kempot itu.

Demikian pula Kiai Kenistan dan Nyai Kenistan. Dan wanita tua yang masih cantik itu berkata perlahan :

“Ingat Bledug. Kami para pinisepuh telah mengikatkan jodobmu dengan Cunduk Puteri.

Aku dan kakang Kiai menjadi saksinya. Awas, kau harus dapat menemukan gadis itu, dan membawanya kemari. Biar kumarahi nanti dia.

Kalau demen, bilang saja demen, tak perlu pakai minggat-minggatan, itu sudah kuno. Tetapi Mbah Pucung telah menyambungi, sebelum Pepriman sempat menjawab :

“Tak perlu saudara-saudaraku kuatir. Cunduk takkan jauh dari sini. Dia masih terikat dengan

urusannya membuat pacak barisan pencegatan”.

“Sejauh-jauhnya dia ngambek pergi, paling sampai perbatasan hehee ”

Kakek kempot itu tampaknya seakan-akan sedang geguyon. Tetapi benar saja, Mbah Pucung mengenal benar akan watak puterinya yang manja, keras hati, tetapi penuh rasa tanggung jawab.

Berdasarkan penuturan Pepriman, tidak aneh apabila Cunduk Puteri ngambek. Akan retapt gadis itu takkan melupakan kewajibannya untuk melakukan pencegatan terhadap barisan musuh yang akan lewat, walaupun dilakukannya tempat yang berjauhan dari tempat mereka ini semua.

Sekalian yang mendengar sependapat juga. Mereka menyadari betapa dalamnya jiwa kependekaran gadis Pucung itu. Kalau cuma urusan cemburu masakah gadis itu akan melupakan kewajiban.

Segala persiapan telah dilakukan oleh mereka ini. Semuanya memasuki sebuah hutan, dimana terdapat jalan besar yang menghubungkan antara kadipaten Tegal dengan Pemalang.

Walikukun telah diberi tugas untuk melakukan telip sandhi, mencari berita pada saat kapan iring-iringan serdadu kompeni akan melintasi hutan.

Segala persenjataan telah dilengkapi pula dengan panah, bambu runcing dan tombak, serta senjata-senjata lain yang mereka buat dihutan itu seperti sumpitan, bandringan dan bandeman.

Tidak lupa pula, mereka membuat jalan untuk mengundurkan diri apabila gerakan mereka terpukul mundur.

Mereka menginsyafi bahwa lawan bukanlah orang rimba persilatan, akan tetapi adalah pembunuh-pembunuh yang memiliki senjata aneh, yaitu semacam panah yang mempunyai mata, yang disebut orang sebagai bedil.

Hampir sepekan lamanya mereka bertahan, ketika mereka hampir jemu menunggu, maka pada suatu malam mereka merdengar derap kaki kuda yang berlari sangat cepat, mendatangi kearah mereka.

Secepat itu, penunggang kuda datang, ia telah melompat turun, dan bergegas mendapatkan rombongan mencegat, yang saat itu telah menyambutnya.

Yang baru datang ini adalah Walikukun, yang melihat sikapnya yang sangat tergesa-gesa, agaknya ada sesuatu yang luar biasa yang hendak ia sampaikan.

Setelah menghormat kearah para pinisepuh, maka Walikukun mendapatkan Alap-alap kemudian berkata gugup :

“Celaka. Mereka telah merubah perjalanan mereka, dengan perjalanan melalui laut.” “Apa katamu, kakang?” Pepriman bertanya agak kurang percaya, tetapi juga bingung.  

“Adi Cunduk telah mengacau disana.” sahut Walikukun dengan napas masih megap-megap.

Mendengar disebutkannya nama Cunduk, maka sekalian pendengar jadi terkejut. Sekalian wajah melukiskan kecemasan.

“Anakku...” terdengar Mbah Pucung mengeluh perlahan. Walaupun mulutnya membayangkan

senyum, akan tetapi nyata bahwa orang tua itu sangat cemas memikirkan nasib puterinya.

“Cobalah kau ceritakan, Walikukun!” Nyai Kenistan menyela bicara. “Jangan berkata

sepatah-patah tak keruan”.

Tidak bisa disangkal, berita itu memang menimbulkan pengaruh besar pada mereka.

Pertama rencana mereka berarti gagal total, kedua adalah mereka memikirkan nasib Cunduk Puteri.

Setelah menghela napas dan menyusun jalan pikirannya, maka Walikukun mulai dengan penuturannya.

Ketika Walikukun memasuki perbatasan kota Tegal, maka ia melihat adanya beberapa puluh ekor kuda yang terlepas dari kandangnya, dan berlarian memasuki kampung, seperti binatang kesetanan.

Hal itu menimbulkan pertanyaan pada benak pemuda Gunung Gajah ini. Dan ia dengan lebih berhati-hati, menyelundup masuk kedalam kota untuk mencari berita.

Akhirnya, dari seorang penduduk desa yang sedang pulang dari pasar, didapat berita bahwa dua hari yang lalu telah terjadi kerusuhan dalam markas serdadu kompeni. Seorang gadis, telah membunuh beberapa orang serdadu, dan melepaskan kuda-kuda dari kandangnya.

Walikukun telah menduga bahwa dara itu pastilah Cunduk Puteri. Dau menanyakan, bagaimana nasib gadis perusuh itu. Tetapi penduduk dusun tidak dapat memberikan keterangan.

Hanya menurut dugaan, tidak mustahil gadis itu telah tertangkap, dan mungkin telah menjalani hukuman mati.

Telah bertahun-tahun lamanya, Walikukun jatuh hati dan mencintai gadis Pucung itu.

Ia sangat kagum akan keberanian gadis itu, akan tetapi sebaliknya diapun hampir menangis putus asa bila memikir bahwa gadis itu mungkin telah tewas.

Akhirnya dengan keputusan nekad, Walikukun berusaha mendekati markas serdadu. Pada malam hari ia menyelundup masuk dengan cara melompati pagar tembok.

Pagar ternbok itu setinggi tidak kurang dari dua meter, akan tetapi Walikukun adalah bekas murid kepala perguruan Kenistan.

Dengan sekali lompat, akhirnya ia dapat memasuki pekarangan markas.

Dengan mudah Walikukun dapat membekuk seorang penjaga, yang kemudian dibawanya kesebuah sudut untuk dikorek keterangannya. Dari mulut penjaga itu didapat keterangan bahwa gadis perusuh itu telah menghilang entah kemana.

“Pengacau itu bukan gadis, tetapi adalah sejenis Dewi, mana bisa ditangkap?” Begitulah

keterangan penjaga, yang agak membuat hati Walikukun menjadi lega.

Setelah mendapat kabar yang demikian, maka timbul pula hasrat Walikukun untuk main- main, atau sedikit membikin keonaran. Dipikirnya, siapa tahu cara itu akan memancing Cunduk Puteri dari tempat sembunyinya.

Dan apabila gadis itu dapat melihat sepak terjang Walikukun, bukankah pemuda itu akan berbesar hati, walaupun ibarat melintasi lautan api sekalipun.

Walikukun lebih nekad lagi. Ia dapar memasuki markas melalui genteng.  

Ketika itulah secara tak sengaja ia mendapat keterangan dari beberapa orang opsir yang sedang berunding, bahwa perjalanan darat mereka akan mereka gagalkan, dan pekan yang akan datang mereka akan berangkat ke Semarang dengan armada laut yang akan singgah di pelabuhan.

Walikukun pikir bahwa ia harus segera melaporkan kejadian semua itu kepada Alap-alap Gunung Gajah. Segera ia keluar markas dan menyelinap diantara kebun-kebun bunga untuk mendekati pagar tembok.

Akan tetapi, kiranya dua orang patroli yang sedang berkeliling, melihat Walikukun. Mereka segera membentak, dan mengejar.

Walikukun gugup. Jarak untuk mencapai pagar tembok, masih ada kurang lebih tiga puluhan langkah.

Kedua petugas patroli itu telah berteriak-teriak sambil mengerahkan senjatanya, mengejar.

Dan berdesinglah bunyi-bunyi mendenging, didahului oleh suara meledak, meletup yang memekakkan telinga.

Walikukun bersembunyi dibalik sebuah rumpun bunga-bungaan. Dan dari tempatnya dapat dilihat beberapa orang serdadu bersenjata kelewang ataupun bedil memburu kearahnya.

Dalam hati pemuda ini mengeluh, “Kalau tak salah mungkin Cunduk Puteri pun mengalami nasib seperti aku ini. Mengapa takut mati? Hiduppun sudah tidak ada gunanya, apabila dara itu telah tak ada!”

Demikianlah, karena ingatan yang demikian maka dengan nekad sekali Walikukun merayap maju menghampiri pengejarnya, dengan tongkat hitam tergenggam ditangan.

Pada kesempatan ini. Walikukun insyaf bahwa dengan ilmu silat saja sulit menghadapi lawan yang memiliki senjata ajaib itu. Maka juga harus mempergunakan kecerdikan.

Ketika secara perlahan-lahan ia dapat menghampiri seorang serdadu Walikukun terperanjat. Ia melihat serdadu itu berdiri kaku seperti patung belaka.

Dan apabila Walikukun menghantamkan tongkat hitamnya kekepala serdadu itu, maka tanpa bersuara si serdadu telah roboh dengan kepala remuk.

Demikianlah, beberapa orang serdadu telah dapat dibinasakan oleh Walikukun dengan cara sangat mudah.

Akan tetapi bekas murid kepala perguruan Kenistan ini jadi penasaran. Siapakah orangnya yang telah menjual lagak didepan matanya, tanpa ia mengetahui sama sekali.

Akhirnya keinginan membunuh bagi Walikukun makin membesar. Ketika pemuda ini hendak menyerang serdadu-serdadu yang berjalan mondar-mandir ditepian kebun bunga sedang mencari- cari dengan lampu, maka terdengar oleh Walikukun suara mendesis yang memperingatkan.

Walikukun tidak tahu siapa yang memperingatkan dirinya untuk tidak bergerak maju.

Dan ia hampir saja tidak menggubris, ketika tiba-tiba didengarnya sebuah letupan di jendela markas, dan terasa oleh Walikukun ada sesuatu yang menusuk pundaknya.

Walaupun Walikukun telah berusaha keras untuk tetap teriak, akan tetapi entah mengapa, tubuhnya terhuyung roboh dan rasa sakit dipundaknya semakin menjadi-jadi.

Pemuda itu lantas teringat bahwa mungkin itulah panah ajaib yang disebut bedil.

Pada saat itu pula, terdengar letupan berulang-ulang dari arah jendela tadi. Walikukun jadi jeri, dan ia berusaha merayap menjauhi tempat untuk mendekati tembok pagar.

Ketika akhirnya ia dapat melompati pagar tembok itu, maka Walikukun melihat sesosok bayangan langsing yang melemparkan sesuatu kearah jendela markas, dimana seorang serdadu sedang membidikkan bedilnya kebawah.  

Terdengar jeritan melolong serdadu dijendela itu dan tubuhnya yang tinggi besar terlontar, meluncur keluar.

Walikukung tak sempat memikir sesuatu apa. Di rasakannya purdak yang tadi terkena panah ajaib serdadu itu, sangat perih, panas seakan terbakar.

Dan ketika ia melihatnya, kiranya darah telah membanjir membasahi bajunya.

Walikukun terhuyung-huyung, jatuh bangun ditepi jalan. Agaknya ia akan menggeletak ditempat itu, andaikata terlihat suatu bayangan orang berkelebat yang lantas membawanya pergi berlari.

Dan Walikukun sadarkan diri ketika ia mendapatkan dirinya berada didalam sebuah rumah penduduk, terbaring diatas sebuah balai-balai bambu, dimana disisinya tampak duduk seorang gadis yang tersenyum manis memandang kearahnya.

“Yayi Cunduk. ”

Hanya itu yang dapat diucapkan oleh Walikukun. Banyak sekali kegembiraan, keheranan dan pertanyaan yang akan diucapkannya, akan tetapi gadis yang memang Cunduk Puteri itu memberi isyarat agar dia tetap tenang saja berbaring.

Cunduk Puteri memegang sebelah belati panjang di tangannya. Dan ditangan yang lain, terpegang sebuah jepitan. Lalu dengan suara pasti ia berkata :

“Tahan sakit. Mata panah yang mengeram dipundakmu ini harus dikeluarkan. Kalau tidak, kau bakalan mati”.

Tujuh kali mati, bagi Walikukun saat itu tidak menjadi pikiran. Mengharapkan gadis yang dikagumi seumur hidup itu sudi menolong jiwanya ini, mimpipun tidak.

Sekarang dara itu malah dengan sangat telitinya berperihatin menolong dia, bagaimana hati pemuda itu tidak mekar dan bahagia?

Yang mestinya sakit menjadi tidak sakit. Dan yang mestinya berteriak mengaduh, Walikukun mengancing mulutnya kuat-kuat.

Hingga akhirnya Cunduk Puteri selesai membalut lukanya, pemuda itu masih diam memejamkan mata dengan mulut merapat.

Selesai melakukan perawatan itu, maka Cunduk Puteri berkata dengan nada suara dingin dan hambar. Katanya :

“Cepat kau kembali menjumpai para sesepuh dan pemuda sombong yang bernama Alap-alap Gunung Gajah itu. Katakan bahwa serdadu kompeni tidak jadi jalan darat, akan tetapi pekan deran mereka akan berangkat dengan perahu ke Semarang.

Nah, kalau manusia yang mengaku bernama Alap-alap itu mempunyai keberanian, dia boleh

berlomba mencari korban dipelabuhan!”

Dalam hati Walikukun jadi dingin kembali. Kiranya gadis Pucung itu walaupun dimulut tampaknya sangat membenci Alap-alap, akan tetapi pada kata-kata itu justeru terkandung simpul- simpul kasih dan cinta.

Daripada mencintai orang yang tidak mau membalas cinta, lebih baik buru-buru pergi, begitulah Walikukun berkata dalam hatinya.

Selanjutnya, maka pemuda itu lantas berpamitan untuk kembali menjumpai teman-temannya. Cunduk Puteri menghadiahinya seekor kuda, yang kemudian dipergunakan oleh Walikukun untuk kembali pulang dengan cepat.

Begitulah, Walikukun mengakhiri ceritanya seraya membuka baju dipundaknya, sehingga tampaklah kain pembalut yang telah kotor dan berdarah.  

Dan setelah selesai Walikukun bercerita, segera terlihatlah kesibukan diantara mereka. Malam itu juga, mereka bergerak cepat menyusuri jalanan hutan.

Mereka kuatir takkan dapat mengejar atau tertinggal oleh serdadu-serdadu kompeni yang berarti usahanya untuk memperkecil bahaya terhadap Bangil akaa sia-sia.

Agar tidak menimbulkan kecurigaan, maka mereka membagi diri dalam beberapa kelompok kecil yang masing-masing dipimpin oleh seorang sesepuh atau seseorang yang dapat dipandang mampu dan berani.

Pada hari ketiga mereka telah tiba pada tepi laut Tegal. Dan sedikit demi sedikit Alap-alap Gunung Gajah membawa kelompok-kelompok itu mendekati pelabuhan.

Sebagian besar dari mereka menyamar sebagai kuli-kuli pelabuhan ataupun saudagar. Demikianlah akhirnya mereka tiba pada hari yang mereka nanti-nantikan.

Pagi hari ketika matahari setinggi penggalah, maka dilaut tampak dua buah perahu besar memasuki pelabuhan.

Tak lama kemudian tampak beberapa orang utusan kadipaten Tegal menurunkan perahu dayung mendekati perahu besar itu yang kemudian kembali dengan penumpang telah bertambah dua orang serdadu.

Mereka itu naik kedarat, untuk kemudian dengan sebuah kereta yang telah tersedia mereka pergi menuju ke Pendopo kadipaten dengan dikawal oleh beberapa perajurit berkuda.

Pasukan Gunung Gajah segera mengadakan hubungan satu sama lain dan mereka bersiap siaga. Pasti tak lama lagi serdadu yang ada dikadipaten akan pergi mendatangi pelabuhan.

Dan dugaan itu benar saja. Lewat tengah hari dari arah kota tampak debu mengepul tinggi dibarengi derap kaki kuda dan gerit roda.

Dan tak lama antaranya, sebarisan pasukan berkuda dan dua buah kereta tampak memasuki pelabuhan.

Walikukun yang menjaga pada pintu masuk pelabuhan telah menggereng-gereng marah, dendam teringat akan pundaknya yang terpaksa masih dibalut. Tetapi ia tak berani bertindak selama belum terdengar suara lengkingan burung elang.

Tepat sampai penunggang kuda yang terakhir memasuki pintu gerbang pelabuhan, suara lengkingan burung Alap-alap belum juga kedengaran.

Akan tetapi mendadak sekali, tampak dari atas bangunan sebuah gudang tampak tiga buah sinar Kuning yang meluncur cepat seperti panah menyambar kearah iring-iringan itu.

Menyusul kemudian terdengar suara jeritan susul menyusul, tiga orang serdadu berkuda roboh terjatuh dari kuda.

Seketika gaduhlah iring-iringan itu. Suata perintah dan aba-aba yang diucapkan keras-keras oleh seorang opsir. Suara tambur dan ringkik kuda gegap dan riuh. Disambut kemudian suara letusan laras bedil.

Suara lengkingan burung Alap-alap belum juga terdengar, akan tetapi beberapa murid Kenistan serta pemuda-pemuda yang lain telah terjun kedalam peperangan.

Pekik dan sorak, suara beradunya senjata, dan letusan-letusan bedil semakin riuh terdengar.

Korban mulai berjatuhan dari kedua belah pihak.

Terutama sekali dipihak serdadu yang memang tidak menduga perbuatan itu sebelumnya, dalam kepanikannya banyak sekali yang menjadi korban anak panah, tombak ataupun sabetan golok laskar Gunung Gajah.  

Akan tetapi tidak sedikit pula korban jatuh dipihak Gunung Gajah. Bedil-bedil yang meletus selalu diikuti oleh robohnya seorang pemuda, yang kemudian terbanting roboh untuk kemudian tak berkutik lagi.

Tiba-tiba sekali diantara riuh rendahnya peperangan terdengar suara lengkingan burung Alap- alap, menggelik kelangit.

Begitu lantang suaranya dapat menindih suara letupan bedil tiga kali berturut-turut, yang menandakan bahwa perajurit-perajurit Gunung Gajah harus mundurkan diri.

Bersamaan dengan padamnya suara lengkingan itu, maka dari beberapa jurusan, tampak berkelebatan sangat cepat beberapa bayangan yang menyerbu kearah barisan serdadu yang kalut itu.

Kekalutan serdadu itu semakin menghebat. Begitu bayangan-bayangan tadi menyerbu maka puluhan serdadu roboh terjungkal dari atas kuda dengan keadaan tubuh yang tidak utuh lagi.

Lolongan nyawa yang direnggut maut membahana, darah membanjir menganak sungai.

Dan serdadu-serdadu yang kalang kabut berlarian mencari hidup, tampaklah seorang kakek kempot yang berlompatan kekiri dan kekanan menimbulkan korban-korban.

Dialah Mbah Pucung yang dengan gerakan tinju kilat dan tendangan-tendangan mautnya telah menahan gerakan serdadu-serdadu itu mencapai dermaga.

Sedangkan pada buah kereta yang agaknya berisi opsir-opsir, disitu tampak sepasang Kiai dan Nyai Kenistan mengamuk dengan sepasang golok pendek dan selendang layung.

Jerit-jerit kematian terdengar dari dalam kereta dan selanjutnya tubuh-tubuh bule seragam tampak terlempar keluar menjadi mayat.

Di lain pihak, seorang pemuda berambut riap-riapan bergerak seperti burung Alap-alap sambil memekik-mekik nyaring, setiap serdadu berada didekatnya lantas jadi korban.

Dan agak disampingnya, seorang lelaki tua berkaki satu, berloncatan seperti orang menari membabati serdadu dengan sabetan-sabetan golok panjangnya.

Jumlah serdadu yang kurang dari tiga ratus orang itu, dalam waktu sekejap saja, tidak lebih dari seratus orang yang masih hidup, yang semuanya itu berlarian pontang-panting mencari hidup kearah dermaga, yang lantas disambut oleh amukan Mbah Pucung.

Rupanya kegaduhan itu disadari pula oleh armada yang berada didalam perahu yang segera menurunkan perahu gabus yang berisi puluhan serdadu, untuk memberi bantuan.

Akan tetapi sungguh malang nasib serdadu dalam perahu-perahu karet itu. Begitu mereka turun kelaut, maka perahu-perahu itu mendadak sobek pecah, dan sekalian isinya tenggelam kedalam gelombang laut.

Menyeramkan sekali, pekikan menyayat maut itu bercampur dengan berdeburnya suara ombak seperti tangkapan sang maut mencari korbannya.

Dan selenyapnya perahu-perahu karet itu, muncullah dari bawah permukaan air sebuah sampan berwarna hitam yang ditumpangi oleh dua orang wanita.

Seorang berkulit putih berambut keemasan yang pada kedua tangannya memegang sepasang senjata berwarna emas, Kiai Tanjung dan Nyai Tanjung.

Dan yang seorang lagi adalah seorang dara hamil muda yang tersenyum-senyum sambil mempermainkan sebuah bedil yang masih berdarah.

Perahu besar yang berada ditengah laut, rupanya ketakutan dan segera bertolak.

Tidak seorangpun serdadu yang masih tinggal hidup didaratan, ketika para patriot Gunung Gajah berlarian memburu kearah laut.  

Mereka ini hanya dapat melambaikan tangan kearah sampan dengan dua orang wanita didalamnya itu.

“Nona Cunduk...”Alap-alap Gunung Gajah hanya dapat membisikkan nama itu, dengan mata merabak.

Terbayang perpisahan yang menyedihkan baginya, karena tampaknya sampan itu akan bergerak membayangi armada kompeni.

Sampan itu terus meluncur secepat angin laut mendorongnya kearah timur.

“Anakku...” dan Mbah Pucung yang kempot itu, mengeluh perlahan dengan bibirnya setengah tersenyum bangga, akan tetapi juga setengah menangis.

Terbayang di kepala mereka ini, bahwa pertempuran di Bangil akan terjadi lebih hebat lagi.

Dan... bahwa kedua pahlawan wanita itu sulit untuk dapat diharapkan pulang kembali...

T A M A T