-->

Alap-Alap Gunung Gajah Jilid 14

Jilid XIV

KAKEK bongkok lumpuh ini tidak kuatir benda itu akan dikuasai oleh Dewi Cundrik. Yang ia kuatirkan apabila benda itu benar-benar terjatuh ditangan paguyuban, berarti sulit untuk dirampas kembali. “Sebaiknya benda itu kau serahkan kepada manggalaning paguyuban, yaitu Genikantar, bukankan begitu Cundrik?”

Tampaknya peringatan Catursuda ini mengandung maksud baik, akan tetapi justeru didalamnya sembunyi suatu maksud yaitu menduga sampai dimana keakuran kedua sesepuh paguyuban itu.

Dan nyatanya Dewi Cundrik keberatan untuk menyerahkan benda itu kepada Genikantar.

Bahkan dengan garangnya ia mendamperat Windupati.

“Segala orang tiada guna pentang mulut busuk didepan ketua paguyuban Banjardawa! Siapa mengundangmu hadir dipaguyuban? Wigendro! Untuk apa anjing kikik ini kau bawa-bawa kemari?”.

Wigendro tertawa bengis, tetapi tidak mengatakan sesuatu. Sebaliknya dengan kemarahan yang meluap-luap Windupati melangkah lebih maju, sebelah tangannya meraba gagang golok.  

“Banyak omongpun takkan ada gunanya! Mau serahkan tusuk konde itu atau tidak?” Ancaman Windupati ini dibarengi dengan tarikan senjatanya, sehingga menimbulkan suara berdesing nyaring.

Dewi Cundrik sebenarnya masih belum sehat benar.

Akibat perkelahiannya melawan Alap-alap Gunung Gajah masih terasa nyeri dalam dadanya. Akan tetapi melihat tingkah laku Windupati yang demikian tidak memandang mata kepadanya, kesombongannya sebagai orang wanita terkemuka terbangkit. Terlebih-lebih, demi Genikantar ternyata sama sekali tidak nampak membelanya. Setidak-tidaknya, sebagai manggalaning paguyuban, Ki Genikantar tidak seharusnya tinggal diam. Bukankah Genikantar telah melihat Dewi Cundrik menderita luka-luka waktu melawan Pepriman?”.

Sejak itu memang kebencian terhadap Genikantar semakin membesar. Dan mengingat hubungannya dengan Sri Naga Dumung, sesungguhnya Dewi Cundrik berharap akan dapat bekerja sama dengan raja penyamun itu.

“Dadu telah diserahkan.” kata Dewi Cundrik. “Siapapun yang menghendaki tusuk konde tidak

terjatuh ketangan musuh boleh berpihak pada paguyuban Banjardawa.

Selesai berkata, Dewi Cundrik mengebaskan kedua tangannya kesamping. Serangkum hawa panas yang menyiarkan bau busuk terurai kesekitarnya.

Rambut wanita itu berkibar, bergerak seakan menjadi lembaran yang kaku. Dan dengan mata yang beringas, wanita itu memekik sambil melontarkan serangan.

Nyata sekali bahwa wanita beracun itu bermaksud untuk membunuh lawannya. Racun pacet- wulung yang terkenal keji dan ganas itu, tampak menghitam pada ujung kuku-kukunya.

“Mampus!”

Mulutnya baru berseru, akan tetapi serangan kuku jari wanita itu telah berkelebatan menyambar-nyambar kearah lawannya.

Windupati menyadari bahwa lawannya adalah seorang wanita iblis yang sifatnya sangat terlengas dan keji. Racun pacet-wulung yang tersembunyi dibalik kukunya justeru lebih berbahaya dari pada pukulan ataupun tendangannya. Maka Windupati bertindak sangat hati-hati.

Terjangan Dewi Cundrik disambutnya dengan sabetan goloknya yang memapas siku wanita itu. Golok menyambar sebagai kilatan cahaya belaka cepatnya. Namun Dewi Cundrik sudah menduga hal itu, dan buru-buru ia merubah gerakannya, dari menerkam jadi menyentil.

Sss....ss...sss.... tiga butir sinar hitam menyambar kemuka Windupati, dari bawah tuku Dewi Cundrik, Windupati terkejut, segera ia menggerakkan goloknya keatas, menyampok. Tiga butir sinar hitam itu tersampok dan pecah. Bau busuk segera menerjang dengan hebatnya. Tidak hanya Windupati, tetapi semua yang berada disekitarnya berlompatan menjauh.

Bau busuk dari racun itu cukup untuk membuat orang-orang yang tidak kuat tenaga batinnya akan mabuk dan pening.

“Hihihik....” cuma segitu, ilmu golok yang diagul-agulkan orang. Cuma omong kosong

belaka”

Dewi Cundrik tertawa penuh ejekan. Dan ketika ia menggoyangkan kepalanya, maka lembaran-lembaran rambut kepalanya menyambar datang mengejar kearah Windupati.

Windupati bertambah gugup! Cepat sekali ia menebaskan goloknya untuk menguntungi rambut orang. Sedangkan tangannya yang lain diulurkan untuk mencengkeram kepungan lawan.

Hal inilah sebenarnya yang ditunggu-tunggu oleh Dewi Cundrik, begitu serangan tangan Windupati datang. Dewi Cundrik miringkan badannya seraya dengan sangat cepat kedua tangannya bekerja, untuk menyambuti serangan tangan dan golok.  

Tangan kanan Dewi Cundrik mencakar kearah lengan kiri Windupati, sedangkan tangan kiri wanita itu dengan cepat hendak merampas golok.

“Awas Cundrik?” Sri Naga Dumung berseru memperingatkan dan segera dia melompat maju, memerjang Wigendro yang sedang mengulurkan tangan hendak merampas tusuk konde dari pinggang Dewi Cundrik.

Dalam kejutnya itu, Dewi Cundrik memutar tangan kirinya kebelakang, menghantam kearah Wigendro, yang sedang membongkong. Andaikata tidak demikian agaknya Windupati telah kena dicelakai.

Akibatnya, serangan Dewi Cundrik terhadap Windupati batal, demikian pula, sabetan golok kedua guru Loning itu menceng kebawah, dan hanya menyerempet beberapa lembar rambut wanita itu.  

Dalam dua gebrakan ini, tampaknya ilmu golok Loning tidak berdaya menghadapi Dewi Cundrik. Hal itu disebabkan oleh karena Windupati tidak dapat memusatkan perhatiannya.

Ia bingung, memikir bahwa dipihaknya hanya ada dia dan Wigendro, sedangkan pihak lain terdiri dari sekian banyak tokoh kosen.

Dan kenyataan pula, bahwa Wigendro sendiripun tampaknya tidak tulus membantu, jelas dari tindakannya merampas tusuk konde, sedangkan waktu itu Windupati berada dalam ancaman bahaya.

Ilmu golok Loning boleh lihai dan termashur, akan tetapi bila dimainkan dengan perhatian yang terpecah tak mungkin tampak kedahsyatannya.

“Manusia licik!” Bentak Dewi Cundrik seraya hendak menyerang Wigendro lebib lanjut. Akan tetapi demi melihat Sri Naga Dumung telah turun tangan, Dewi Cundrik lantas mendesak Windupati kembali.

Sementara dua pasang orang kosen itu sedang bertarung dengan seru, maka yang lain menonton dipinggiran dengan tenang-tenang, seakan-akan mereka sedang menonton pertunjukkan yang mengasyikkan.

Dewi Cundrik tetap berada diatas angin, karena Windupati jeri terhadap ancaman racun iblis wanita itu. Sebaliknya, Wigendro dengan permainan sepasang tongkatnya dapat menandingi permainan Naga Dumung. Bahkan dalam hal kegesitan, tampaknya Wigendro yang walaupun mempunyai cacad sebelah kakinya, justeru dapat memberikan tekanan dengan baik.

Dala waktu bertarung. Wigendro selalu mempergunakan sebelah kaki kirinya untuk menjadi pangkal gerakan, sedangkan kaki kanannya hanya merupakan alat keseimbangan belaka, bahkan kadang-kadang membingungkan lawan.

Loncatan-loncatan Wigendro sangat cepat, dan sulit diduga arah yang dimaksud.

Kaki kiri yang merupakan poros itu, selalu melompat-lompat, sedangkan tubuhnya bergoyang-goyang selalu, kedepan atau kebelakang, atau terkadang tahu-tahu melancarkan serangan.

Itulah sebuah ilmu kecepatan gerak yang disebut ‘sangga buana’ yang merupakan ilmu gerak

kilat yang tersendiri, yang hanya memiliki sebelah kaki yang sempurna.

Semua gerakan Wigendro tersebut adalah gerakan buana atau jagat yang bergerak, kemanapun orang sulit menduganya. Sedangkan pukulan-pukulan kedua tangannya yang besar dan panjang itu, bertenaga sangat hebat dan kuat.

Pada hakekatnya, senjata kipas adalah senjata yang akan menjadi ampuh apabila senjata ringan itu dimainkan oleh orang yang memiliki kecepatan gerak yang unggul. Justeru dalam hal ini, Naga Dumung harus mengakui keunggulan lawannya. Pertarungan keempat orang itu semakin seru. Dan ketiga orang yang lain yang menonton semakin asyik menonton. Mendadak sekali, Catursuda bertepuk tangan sambil berseru-seru :

“Hentikan! Hentikan! Tak ada gunanya...he heh...” Dan kakek bongkok itu masih juga

bertepuk tangan ketika ia menyuruh Bala bergerak maju, mendekati yang sedang bertarung.

“Heatikan! Hentikan! Tak ada artinya...” Seru Catursuda pula. Dan sekalian yang sedang

pertarung itu takkan mengubris seruan kakek bongkok itu, andaikata tidak segera terjadi sesuatu.

Secara tak terduga, keempat orang yang sedang bertarung itu berlompatan mundur saling menjauhi, sambil kemudian mereka menggaruk-garuk tubuh sendiri seraya berteriak-teriak. Tidak juga terkecuali, Ki Genikantar berlompatan sambil berseru-seru :

“Apa yang kau lakukan Catursuda!”

Catursuda tertawa terkekeh. Lalu dengan mata menyinarkan nafsu pembunuhan, kakek bongkok itu berkata dengan nada seperti menyanyi :

“ golok menjadi majal karena akal

yang pinter jadi keblinger

tak ada yang lebih tinggi dari langit bila terjadi topan dan badai

anak kecillah yang bisa menyanyi ”

Dalam mengucapkan kata-katanya yang mirip nyanyian itu, Catursuda menepuk-nepukkan tangannya. Dan terlihat uap tipis yang mengepul-ngepul dari tepukannya itu. Uap itu berwarna kelabu, terbawa angin menyebar memenuhi sekitar tempat itu.

Semuanya yang berada disitu melihat kerjanya uap itu, menjalar perlahan-lahan diantara mereka. Dan mereka menyadari bahwa Catursuda sedang melancarkan serangan yang sangat keji. Akan tetapi mereka tak dapat berbuat sesuatu apa kecuali menggaruk-garuk sekujur tubuhnya, hingga seluruh kulitnya lecet berdarah.

Rasa gatal adalah perasaan yang sama bagi setiap orang, tidak perduli dia tokoh kosen ataupun iblis yang kejam dan telengas. Kedua sesepuh paguyuban Banjardawa itu seakan-akan telah menjadi sepasang monyet yang peringas-peringis mengerikan. Sebaliknya Naga Dumung, Wigendro dan Windupati berguling-guling menggosok-gosokkan tubuhnya ketanah. Seluruh muka dada dan kaki tangannya berjalur-jalur merah berdarah.

Di antara korban gatal itu, Ki Genikantar yang memiliki tenaga batiniah paling tinggi diantara mereka, sedikit-sedikit dapat menahan perasaan dan dengan mengeraskan hati sampai tubuhnya menggigil berusaha menyerang Catursuda.

Akan tetapi, baru saja ia hendak menghantamkan tangannya dari dalam lengan baju Catursuda menghembus angin kecil berwarna kelabu yang tebal. Seketika Genikantar tak mampu berdiri, tubuhnya terjungkel roboh untuk kemudian jejingkrakan dan garuk sekuatnya sambil kaok-kaokan.

“Catursuda... oh... Catursuda... ampuni aku....” Yang paling menyedihkan adalah Dewi Cundrik. Dia seorang wanita. Pakaiannya robek oleh cakaran kuku jarinya sendiri. Dan seluruh kulit tubuhnya yang luka bekas cakaran sendiri, tampak menghitam biru, akibat kerja racun pacet wulung sendiri yang menyerang badan sendiri.

Sebenarnya korban-korban yang lain juga bermaksud untuk meminta ampun pula, akan tetapi mereka adalah orang-orang kosen yang berwatak angkuh. Mereka lebih baik mati dari pada meminta ampun kepada lawannya.

Namun begitu, nasibnya sungguh mengenaskan, mereka ‘tugas’ terus menggaruki sekujur

badannya.

Matahari sedang naik tinggi kepusat langit. Rasa panasnya yang terik menggigit membuat sekalian korban gatal itu semakin sengsara, karena panas dan keringatnya membuat rasa gatalnya semakin menghebat.  

“Agung Catursuda... Agung... hihih... hihihih....” mengenaskan dan makin mengerikan keadaan Dewi Cundrik. “Ampunkan aku, ampunkan orang-orang Guha Gempol....

hihihih....Tidakkah kau tahu.... hihihih.... bahwa mereka akan menjadi menderita sekali... hihihi....

karena keadaankuuuu. ”

Catursuda mendengar rintihan itu, dan ia hendak tertawa, tetapi juga setengah kecewa.

Dengan serta merta ia membentak :

“Bala! Apakah kau sudah tak betah membujang?”

Kiranya Catursuda berseru demikian, karena ia merasakan bahwa secara perlahan-lahan cantriknya membawa dia bergerak maju setindak demi setindak menghampiri wanita iblis itu. Dan sebagai orang yang telah banyak umurnya, dapat segera membaca arti perbuatan cantriknya itu.

“Kasihan dia, sahut Bala dengan suara tersendat-sendat.

Selama hidupnya hingga kini berusia lima puluhan tahun ini, Bala selalu tekun melayani gurunya, sesembahannya, dipertapaan puncak gunung Slamet yang sunyi dan terasing.

Selama itu pula, pergaulannya dengan dunia luar seakan tertutup sama sekali. Mereka sekali- kali pernah turun kedunia ramai, itupun tidak terjadi dua tahun sekali, hanya menimbulkan bencana ataupun malapetaka terhadap manusia.

Catursuda adalah ibarat iblis bertubuh manusia. Keinginannya membunuh, membasmi dan merusak dunia telah demikian berkarat pada hatinya. Ia tidak mengenal cinta. Hidupnya dikendalikan oleh perasaan nikmatnya bila ia menyaksikan orang yang sedang meregang nyawa menghadapi kematian.

Kalaupun Catursuda pernah memanfaatkan wanita dalam hidupnya, maka adalah wanita itulah kiranya yang akan bernasib paling malang diatas dunia ini, wanita itu akan menemui nasib mati gila akibat kerja racun kakek iblis ini.

Wanita yang pernah terjatuh ketangan kakek ini, selalu akan menderita nafsu birahi yang berkobar seperti setan ganjen. Dan ia akan mengejar-ngejar Catursuda terus menerus.

Sedangkan Catursuda sendiri, sesungguhnya tidak memiliki kemampuan walaupun sedikit, untuk mengabulkan hasrat wanita korbannya itu. Hingga akhirnya wanita-wanita korban itu akan terbinasa dipanggang oleh birahinya sendiri.

Dapatlah dibayangkan, betapa seseorang menemui ajalnya dibawah siksaan yang demikan. Kesan-kesan seperti ini, mengendap dalam hati Bala selaku satu-satunya orang selain Catursuda yang pernah menyaksikan kejadian-kejadian seperti itu.

Dan, Bala adalah manusia biasa. Ia terdiri dari darah dan daging, berperasaan dan berpikiran, berkemauan. Kehidupan menyendiri, sunyi dan terasing dipuncak gunung terasa sangat menyiksa dirinya. Namun ia tak pernah mengutarakan maksudnya itu, karena ia takut! Takut Catursuda akan menjatuhkan hukuman yang tidak dapar dibayangkan betapa kejamnya siksaan guru itu nanti.

Sekian lamanya, hati Bala dibiarkan membatu, beku, seakan-akan terlukis pada mukanya yang selalu dingin tanpa penasaran. Akan tetapi sekarang melihat Dewi Cundrik tersiksa di antara sekian banyak laki-laki yang berada disampingnya! hati Bala seakan tersentuh. Keadaan jasmani Dewi Cundrik menimbulkan arti lain dalam diri cantrik itu. Setidak-tidaknya, Dewi Cundrik adalah seorang wanita cantik, dan kecantikan wanita itulah yang telah secara perlahan-lahan mencairkan hati cantrik itu. Saat itu justeru Dewi Cundrik sedang menggaruk-garuknya sekujur kakinya yang putih dan mulus.

“Guru. ” Bala berkata terputus akan tetapi cukup dimengerti oleh Catursuda.

Selama hidupnya, hampir tak pernah Bala mengajukan suatu permohonan apapun kepada guru itu, maka Catursuda cepat dapat memahami maksudnya.  

“Mulai kapan kau menjadi lemah cengeng seperti ini, Bala!” Catursuda membentak sambil

berjingkrak.

“Kasihan, mahaguru...”

“Kasihan? Kasihan?” Mata Catursuda yang biasanya riyep-riyep setengah mengantuk, kini terbelalak lebar seperti orang takjub. “Mengapa kasihan? Mengapa kau begini cengeng, Bala!”

Sementara itu, Bala masih bertindak maju, setapak demi setapak mendekati Dewi Cundrik yang masih kekoseran merintih-rintih.

“Dia juga termakan oleh racun sendiri...” kata Bala menjelaskan perasaannya.

“Bodoh! Itu hanya luka kulit saja. Mana bisa tukang racun terkena racun sendiri! Ayo ambil tusuk konde itu! Mari kita pergi!”.

Dengan mudah Bala mengambil tusuk konde tersebut dari pinggang Dewi Cundrik. Akan tetapi pada saat itu terdengar rintihan wanita itu :

“Bala... apakah kau tidak menginginkan kehidupan sebagai seorang rajaaa... di guha gempoooooll... hihihih... masakah... oh... hendak selama hidupp... menjadi cantrikkk...?”.

Bala tersentak. Sungguh mimpipun tidak, bahwa ada serupa tawaran yang demikian hebat mengejutkan. Dari kehidupan seorang begundal, cantrik yang hina dina, menjadi seorang raja, dengan seorang permaisuri seorang wanita cantik sebagai Dewi Cundrik. Walaupun Bala berhati batu sekalipun saat itu takkan mungkin dapat bertahan lebih lama. Dan cantrik itu berdiri kaku, termangu-mangu.

“Bala! Bala! Kau gila! Ayo jalan!” Teriak Catursuda. Sebelah tangan kakek itu terangkat, siap untuk ditamparkan kebatok kepala si cantrik, akan tetapi tangan itu segera turun kembali dengan lemah.

Membunuh Bala, terlalu mudah bagi Catursuda. Akan tetapi kakek bongkok yang lumpuh itu cepat teringat dirinya sendiri.

Bila Bala sampai terbunuh, sama halnya ia akan kehilangan sepasang kakinya. Dan hal itu tentu saja mengerikan bagi Catursuda sendiri.

“Harap guru sudi mengasihani wanita itu. ”, sahut Bala.

“Bala! Kau hendak menentang perintahku? Bala?”

“Untuk sekali ini guru.....”, dan Bala tersedu-sedu menangis, memang bukanlah keliputan yang dibuat-buat menyaksikan seorang wanita cantik sebagai Dewi Cundrik yang kukar-kukur seperti monyet dengan mulut meringis-ringis, sedangkan darah ditubuhnya mengalir menetes-netes.

Catursuda mendengus dingin. Dimulutnya tersungging senyum bengis. Lalu dari dalam kantong jubahnya dikeluarkan sebuah peles kecil, dimana didalamnya terdapat pil-pil kecil berwarna hijau.

Diambilnya sebutir kemudian diberikannya kepada cantriknya.

“Berikan dia minum!” perintahnya.

Bala hendak menerima pil itu tetapi sejenak tertegun. Katanya :

“Bukankah harus tiga biji, baru orang akan sembuh guru?”.

Catursuda hanya tertawa aneh. Dan Bala bergidik ngeri. Bila ia mendengar tawa gurunya yang demikian berarti sang guru akan melakukan suatu kekejaman. Dan Bala tak berani membantah lagi. Diterimanya pil hijau itu kemudian diberikannya kepada Dewi Cundrik.

Bukan main gopohnya Dewi Cundrik menerima pemberian itu, yang segera tanpa pikir lagi ditelannya bulat-bulat.  

Pada saat Dewi Cundrik menelan pil itu, maka terdengar suara lengkingan yang menyayat. Dan tampaklah tubuh Wigendro meregang hebat, lengan dan kakinya menyentak-nyentak untuk kemudian nyawanya putus. Dari leher jago Sindanglaut itu tampak mengalir darah kental seperti mata air. dimana disitu tampak menancap sebatang paku besi ambles hingga kekepalanya.

Bala menghela napas. Dia sadar bahwa gurunya yang telah menurunkan tangan keji, Catursuda tak pernah memaafkan orang. Sekali ia memaafkan orang lain, maka ia haruslah membunuh satu orang pula sebagai gantinya.

Rupanya pilihan itu jatuh pada Wigendro, si timpang dari barat itu. Catursuda tahu, bahwa diantara sekian banyak orang-orang yang berada disekitarnya itu adalah Wigendro yang paling berbahaya.

Kecuali jago Sindanglaut itu memiliki tenaga yang paling besar, juga ia merupakan orang yang paling licik, dan sangat membahayakan bila ia dibiarkan hidup.

“Sekarang jalan Bala!” “Pulang guru?” Tanya Bala.

“Hmm.. ke istana Guha Gempol?”

Bala terdiam. Sementara itu, Genikantar dan yang lain-lain, demi melihat nasib Wigendro yang demikian, bukannya takut, akan tetapi dengan kalap mereka berseru-seru sambil berusaha untuk menerjang kearah Catursuda.

“Kalau punya kemampuan..... heheh... bunuh aku Catursuda!” Teriak Genikantar. “Setan tua bangka, bunuh aku cepat!” Sri Naga Dumung merangsek maju.

“Jangan hina aku, tua bangka jompo... hhh... bunuh aku!” Dan Windupati menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan.

Tetapi Catursuda hanya tertawa hahabehe memperhatikan kesengsaraan mereka itu dengan

sinar mata gembira. Lalu ditepuk punggungnya Bala, sambil berseru gugup. “Cepat!”

Bala tidak membantah. Hanya saja sebelah tangannya dipergunakan untuk membimbing Dewi Cundrik yang tampak sangat lemah.

“Cepat! Kau mau mati?” Bentak Catursuda seraya menepuk punggung Bala lebih keras lagi.

Bala terhuyung kedepan, dan Dewi Cundrikpun ikut terseret maju.

Sebenarnya Dewi Cundrik belum sembuh benar. Hanya keadaannya kini agak lebih baik. Rasa gatalnya berkurang juga panas dan perih yang terasa seperti digigit ribuan semut api kini berkurang pula.

Melihat kegugupan Catursuda, Dewi Cundrik yang cerdik itu menyadari bahwa pastilah ada sesuatu. Manusia sebagai Catursuda yang boleh di kata tak gentar pada langit tak takut pada bumi, mana pernah menjadi gugup, kalau tidak menginsafi adanya sesuatu yang berbahaya.

Dan Catursuda bersama cantriknya dan Dewi Cundrik telah menghilang kedalam hutan. Genikantar dan kedua orang senasib yang lain, agaknya juga menyadari adanya bahaya yang lebih besar. Mereka berusaha bangkit dan berlari, akan tetapi dengan susah payah mereka jatuh bangun untuk kemudian menggaruk-garuk badan sekuat-kuatnya.

Demikianlah keduanya jungkar jungkir sambil merayap lari atau pontang panting garuk sana garuk sini sambil merintih-rintih, akan tetapi tidak lupa bergerak untuk menyembunyikan diri.

Sayup-sayup dari arah lembah, mereka mendengar suara lengkingan yang sangat tinggi dan nyaring yang bergerak mendekati mereka. Jarak antara suara dengan tempat ketiganya itu berada, takkan kurang dari seribuan tombak. Tetapi lengkingan itu terdengar begitu nyaring, seakan kadang-kadang mendekat kadang menjauh, dan menggetarkan isi dada.  

Tiba-tiba Naga Dumung tertawa merintih.

“Dalam keadaanmu seperti ini, kau masih takut mati, Genikantar?”

“Huh Genikantar mendengus. Tetapi ia tidak menyangkal pendapat penyamun itu. Mati kegatelan bagi seorang guru sebagai dia, dialah jauh lebih hina dari pada mati di tangan musuh yang sakti.  

Dan kini secara serempak, seakan-akan mereka dikomando, mereka tidak melanjutkan maksudnya untuk menyembunyikan diri. Mereka hanya kekoseran garuk sana garuk sini, ditempatnya masing-masing.

Apabila suara lengkingan itu akhirnya lenyap, maka ketiga orang hitam berdiri kaku dengan rambut yang warna keemasan berkibar-kibar ditiup angin.

Andaikata saat itu adalah malam hari, tentu mereka akan menganggap bahwa wanita itu adalah sejenis setan atau peri gentayangan. Namun saat ini mereka melihat nyata, bahwa wanita itu benar-benar adalah manusia biasa, hanya beda pada kulit, rambut dan matanya belaka.

“Hmm... kutukan Catursuda berlaku atas dirimu...” wanita berjubah hitam itu berkata dengan

suara bernada dingin meremangkan bulu roma.

Genikantar tampak hendak mengatakan sesuatu, akan tetapi ia ragu-ragu, dan wanita itu telah mendahului.

“Kau Genikantar, apa kesalahanmu sampai kalian menderita kena racun ‘rawe menjangan’

itu?”.

Genikantar tersentak kaget. Ia heran, wanita itu ternyata mengenal dirinya. Sedangkan ia

sendiri telah beberapa saat berusaha mengenali orang itu ternyata tidak bisa. Akhirnya Genikantar melonjak gembira bercampur cemas. Katanya :

“Apakah kau Dewi Manik? Oh, Dewi tolonglah aku...” Dan guru Bantarkawung itu tanpa malu-malu merayap mendekati wanita berjubah itu dengan sikap penuh harap.

Memang wanita berjubah ini adalah Dewi Manik. Genikantar walaupun seumur hidupnya belum pernah berjumpa dengan wanita itu, akan tetapi dimasa mudanya ia sering mendengar dari cerita kalangan rimba persilatan, bahwa didaerah pesisir utara ini pernah hidup seorang wanita keturunan orang Belanda yang kini memiliki ilmu kesaktian yang boleh disejajarkan dengan Turonggo Benawi ataupun Dewi Gandri nenek Dewi Cundrik.

Nama Turonggo Benawi terdengar terus hingga kini, karena memang tokoh petualangan itu masih sering muncul dikalangan persilatan. Dan tentang Dewi Gandri semua orang telah mendengar bahwa wanita siluman itu telah meninggal dunia. Sebaliknya mengenai Dewi Manik, atau nama kecilnya Roro Manik dikabarkan telah hilang tidak ketahuan rimbanya.

Dan kini melihat seorang wanita berkulit putih yang memiliki gerakan seperti malaikat, muncul begitu cepat seperti kecepatan bayangan, siapa lagi kalau bukan Dewi Manik?

Dewi Manik mengangguk-angguk. Lalu tangannya menggapai kebelakang. Seketika dari arah gerombolan bermunculan tiga sosok bayangan yang bergerak sangat cepat pula. Mereka adalah Pepriman, Cunduk Puteri dan Sogaklenting.

Begitu ketiganya datang, maka Dewi Manik berkata halus.

“Marilah kita belajar memaafkan orang lain, cucu-cucuku... Berikanlah obat ini kepada

mereka...”

Sambil berkata demikian, maka di tangan wanita itu tergenggam sebuah kantong kecil berwarna biru, dari dalamnya dijumput sebuah obat pulung sebesar ibu jari yang berwarna kehijau- hijauan, yang segera diulurkan kearah Cunduk Puteri sambil berkata : “Dengan obat jamur angin ini, keganasan racun rawe menjangan dapat dihentikan tetapi tidak ditawarkan sama sekali. Korban-korban rawe menjangan tidak bisa sembuh dengan obat ini, akan tetapi agak lumayan sebab daya kerja racun itu dapat ditahan”.

“Kalian tahu, bahwa racun rawe menjangan sebenarnya bukan hanya berakibat gatal-gatal belaka?”

Tidak seorangpun menjawab, sebab tak ada seorang pun diantara mereka yang mengetahui keganasan racun Catursuda itu.

“Tujuh hari setelah racun rawe menjangan menjalar bersama darah, maka manusia akan menderita lebih sehebat lagi, yaitu lumpuh, atau gila, atau setengah mati!”

Bergidig orang mendengarnya, terutama adalah ketiga orang korban itu. Anehnya, ketiga orang korban racun itu, kini tidak lagi sibuk menggaruk-garuk seperti munyuk tetapi hanya ingsat- ingsut seperti gadis malu.

Rupanya terbawa sinar mata yang memancar dari sepasang mata wanita itu begitu ampuh, sehingga sebelum obat diberikan, mereka seakan-akan telah menjadi sembuh.

Obat yang sebenarnya buat racun rawe menjangan, adalah jamur hati naga, kabarnya benda- benda itu terdapat hanya dipuncak gunung Slamet. Kukira tempo seminggu itu, dapatlah mereka pergunakan untuk mencari obat itu kesana, itupun tak dapar diyakinkan apakah benda itu dapat ditemukan atau tidak. Tetapi... Genikantar, kemanakah Dewi Cundrik?”

Sejak tadi memang Dewi Manik mencari-cari cucu lawannya itu, wanita yang memiliki racun pacet-wulung.

Saat itu Dewi Manik telah siap dengan obat penawar racun itu, hingga timbul keinginannya untuk mencobanya. Akan tetapi wanita yang dicarinya tidak tampak ditempat itu.

“Mereka pergi... Dewi ke Guha Gempol”, sahut Genikantar.

“Bagus. Mereka? Dengan Catursuda kesana?” Tanya Dewi Manik pula.

Ketiga korban racun rawe menjangan mengangguk serempak.

“Bagus. Itulah lebih baik. Cunduk Puteri, berikan obat itu ketubuh mereka. Mereka masih ada waktu untuk mengejar Catursuda. Tidak boleh tidak, orang tua itu pasti membawa obat jamur hati naga. Bukankah begitu Genikantar?”

Tentu saja bukan main gembiranya ketiga korban racun itu. Seketika mereka tertawa-tawa.

Lupa bahwa sebenarnya racun itu masih mengendap ditubuh mereka.

Cunduk Puteri segera mencari tiga buah tempurung. Lalu obat itu dibagi tiga, dan diaduk dengan air, untuk kemudian diserahkan kepada mereka satu demi satu.

Ketika tiba pada gilirannya Windupati, seketika tangan Cunduk Puteri menggigil hebat. Matanya memancarkan sinar berapi. Lalu dengan teriakan nyaring dara itu telah menghantam batok obat itu kedada Windupati.

Windupati tersungkur, melolong kesakitan. Dari dadanya menyembur darah, tumpah kemulutnya. Dalam gugupnya ia telah membalikkan tubuh dan menyabet dengan goloknya.

Golok mendesing, akan tetapi Cunduk Puteri dengan gerakan seperti orang menari, tahu-tahu telah pindah tempat. Hebat sekali, gerakan dara itu seakan membiasnya bayangan sinar belaka, walaupun sabetan golok itu seakan mengenai tubuh, akan tetapi tahu-tahu golok itu hanya menabas angin.

“Binatang melata! Mana Sogapati, diapun harus mampus!” Jerit Cunduk Puteri seraya tangannya bergerak kedepan, seperti menangkap sesuatu. Anehnya Windupati melihat tangan dara itu telah berubah menjadi lima buah, dan tangkapan dara itu tak dapat di hindarkan lagi. Terdengar suara daging direnggut, maka dada kanan guru Loning yang kedua itu grohak berdarah.  

“Cunduk Puteri. Kau mencari Sogapati? Dia disini! Terdengar Sogaklenting berseru lantang.

Cantrik bermuka lorek itu telah menerjang maju, membacokkan goloknya kearah kepala Windupati.

Benar-benar mengerikan keadaan Windupati saat itu. Seluruh tubuhnya mengalir darah, terutama dari dagingnya yang somplak didada, darah mengucur seperti mata air. Dibacok oleh Sogapati, Windupati tidak dapat mengelak lagi. Sementara itu, Cunduk Puteri dengan nafsu seperti serigala melihat mangsanya, mencengkeram dengan tangan kanannya kearah ulu hati Windupati.

Dalam kesempatan yang sangat kritis itu, Windupati hanya dapat mengrerakkan goloknya, menangkis golok Sogaklentimg untuk kemudian digerakkan memutar membabat kearah lengan Cunduk Puteri.

Akan tetapi lacur. Sogaklenting yang mendendam dendam sedalam lautan telah mengerahkan seluruh tenaganya pada ujung golok, sedangkan Windupati saat itu dalam keadaan menderita luka hebat, tenaganyapun telah sangat berkurang.

Tangkisan golok terhadap bacokan Sogaklenting hanya mengakibatkan golok lawan bergeser menceng, tetapi masih sempat mampir kepundaknya sedangkan sabetan golok terhadap Cunduk Puteri sama sekali tidak dapat dilakukan karena terkaman jari tangan dara itu telah amblas kedalam ulu hatinya.

Terdengar suara daging terobek, disusul suara pekikan yang menyayat dari Windupati. Laki- laki kosen itu menggelepar roboh, jatuh bergulingan.

Sepasang matanya terbuka lebar memancarkan sinar mata penasaran. Tetapi dalam keadaan diakhir hayatnya ini, Windupati masih mampu memerankan dirinya sebagai orang kosen dari Loning.

Tangan kirinya, dengan telapakan tangan terbuka menghantam kedepan dengan tenaga terakhir.

Sogaklenting yang berada dihadapannya, telak-telak dadanya terhajar pukulan, jatuh terjengkang dengan mulut menyemburkan darah.

Semuanya itu terjadi demikain cepatnya sehingga Dewi Manik yang sama sekali tidak menduga hal itu, termangu-mangu dia. Tak pernah mimpi wanita itu, bahwa Cunduk Puteri yang sikapnya manis dan lembut itu ternyata memiliki kebuasan yang memiliki seekor singa betina.

Dara itu dengan tangan kanan berlumuran darah Windupati, berjalan perlahan-lahan, dengan sinar mata beringas mendekati Sogaklenting yang saat itu sedang mengerang setengah pingsan.

Ketika Cunduk Puteri hendak menikamkan kelima jarinya kedada cantrik bermuka buruk itu maka Pepriman telah mencegahnya. Tangan pemuda itu menyambar cepat seraya berseru.

“Cukup. Cunduk! Tak perlu mengumbar hawa nafsu...”

“Cucuku,” sahut Dewi Manik. “Menurutkan dendam sama dengan melakukan suatu dosa yang baru! Sabarlah?”

Dan wanita itu telah melompat, menotok punggung dara itu dengan cepat, sesaat kemudian dara itupun terjatuh lemas.

Beberapa saat Dewi Manik terdiam, dan guru terheran. Namun sebagai perbawanya seorang tokoh sakti yang tidak akan kurang arif dan bijaksananya dengan segera mengerti duduknya

.persoalan. Ia teringat akan keadaan Cunduk Puteri waktu baru pertarna kali ditemukan olehnya. Gadis itu dalam keadaan ternoda.

Menurut penuturan dara itu yang menyebut-nyebut nama perguruan Loning, Windupati dan Sogapati agaknya adalah orang-orang itu yang dimaksudkan.

Dendam kehormatan seorang dara, sulit dicari obatnya. Mungkin manusianya Cunduk Puteri dapat memaafkan, akan tetapi kehormatan dan adanya benih manusia didalam perut dara itu, mungkinkah dapat melupakannya?  

“Mengapa kalian tidak segera berangkat?” Dewi Manik membentak, dan kedua orang yang dimaksudkan, Sri Naga Dumung dan Genikantar terlonjak kaget. Buru-buru keduanya memberi hormat dengan penuh takut-takut, untuk kemudian berlalu dengan cepat untuk mengejar ke Istana Telagasona.

Sore itu, Pepriman mengubur dua jenazah, jenazah Wigendro dan Windupati dua orang kakak beradik yang terbinasa akibat risiko perbuatannya masing-masing.

Setelah melakukan pertolongan beberapa saat, maka Dewi Manik dapat menyadarkan Sogaklenting, maupun memunahkan totokan pada Cunduk Puteri.

Lalu dengan hati mengandung kedukaan, wanita tua itu membawa pengiring-pengiringnya berteduh dibawah pohon.

Serta merta mereka mengambil tempat duduk, Dewi Manik telah mulai angkat bicara :

“Cucu-cucuku. Membunuh itu mudah, yang sulit adalah menghidupkan. Melukai mudah, merusak gampang membangun dan membangkitkan yang baik itulah sulit. Kalian tidak mengerti, mengapa aku tidak membiarkan saja mereka menderita keracunan seperti tadi, membiarkan mereka mati dengan cara yang begitu mengenaskan?”

“Aku juga bukan seorang budiman, atau seorang pemaaf, cucuku. Tetapi ingatlah akan pesan Turonggo Benawi. Bantuan musuh dari Semarang atau Betawie akan datang, setidak-tidaknya akan melintasi daerah kadipaten kita. Apabila membiarkan mereka, orang-orang sekutu paguyuban Banjardawa, sama saja dengan membiarkan musuh menghancurkan kita...”

Ketiga muda-mudi itu bimbang, mendengar keterangan itu. Pepriman yang berada dalam keadaan sadar benar, menyela bicara :

“Maksud eyang Dewi bagaimana? Nyatanya eyang Dewi tidak suka membunuh mereka”. “Salah siapa sudi membiarkan begundal-begundal buruk itu tinggal hidup? Kalian tahu,

bahwa mereka itu walaupun dalam keadaan seperti apapun tetap menginginkan tusuk konde lintang

kemukus milikku? Terang pusaka itu tentu berada ditangan Catursuda, sebab Dewi Cundrik pun takkan luput dari serangan racun iblis bongkok itu. Yang manjadi pertanyaan adalah untuk apa mereka pergi ke Telagasona?”

“Jangan biarkan mereka menyambut kedatangan musuh-musuh dari Betawie itu. Tetapi dengan cara membiarkan Naga Dumung dan Genikantar mencari ‘musuh’ mereka, bukankah itu lebih menarik? Mereka akan sibuk dengan urusan mereka masing-masing, sedangkan kita masih ada waktu untuk menyambut kedatangan musuh disebelah barat kota kadipaten. Lihat! Siapakah yang datang!”

Seraya berkata demikian, Dewi Manik menunjuk ke suatu arah, dimana tampak debu mengepul diatas jalanan.

Dan sayup-sayup terdengar suara derap kaki kuda semakin cepat mendatangi.

Penunggang kuda itu sangat cekatan mengendarai tunggangannya. Seperti meluncurnya anak panah, sebentar saja telah tampak jelas siapa yang sedang mendatangi, yaitu seorang laki-laki gagah berusia kira-kira lima puluhan tahun.

Menilik kuda yang ditungganginya tampaknya dia adalah seorang penggawa praja. Akan tetapi melihat dandanannya, ia tampak seperti seorang petani biasa.

Melihat adanya empat orang yang berdiri seperti menunggu, maka jauh-jauh penunggang kuda itu menghormat sambil mengamat-amati Pepriman dengan penuh selidik. Lalu katanya :

“Bukankah seorang diantara kalian adalah Alap-alap Gunung Gajah?”.

Pepriman terkejut, ia tidak mengenal laki-laki itu, tetapi mengapa lelaki itu justeru telah mengenalnya?  

“Paman siapa? Bagaimana paman bisa mengenalku?” Sahut Pepriman dengan penuh

kewaspadaan.

Mendengar jawaban itu, maka si penunggang kuda melompat turun dari tunggangannya, untuk kemudian berlari mendapatkan Pepriman dengan rombongannya.

“Bhre Yudha...” Cunduk Puteri tiba-tiba berbisik.

Bhre Yudha terkejut. Ia meneliti dara yang telah menyebut namanya itu. Saat itu, memang Cunduk Puteri tampak kusut, wajahnya pucat dan pada jubah yang dikenakannya penuh dengan cipratan-cipratan darah. Sehingga setelah beberapa lama meneliti barulah Bhre Yudha bersorak gembira sambil bertepuk tangan.

“Tidak disangka, bahwa sepasang pendekar pesisir utara ada berkumpul disini. Nona, bagaimana kabar ayahmu? Telah lama aku rindu ingin bertemu dengan panembahan Pucung yang bijaksana itu.  ”

Bhre Yudha adalah seorang perajurit sandhi. Walaupun dalam kalangan rimba persilatan dia bukan tergolong tokoh yang terhormat, akan tetapi pengetahuannya mengenai segala seluk beluk kaum persilatan.

Ia mengenal pula Mbah Pucung serta keluarganya. Begitupun ia telah sering kali mendengar sepak terjang Alap-alap Gunung Gajah yang aneh-aneh dan menakjubkan. Itulah sebabnya maka sekali bertemu, dia dapat menduga bahwa Pepriman adalah Alap-alap Gunung Gajah.

“Alap-alap Gunung Gajah, maafkan aku orang tua kalau kurang hormat sikapku kepadamu. Telah sekian lamanya, aku mengagumi namamu, dan baru sekarang aku bertemu orangnya, Jadi...

jadi siapakah dia?”

Bertanya begitu, Bhre Yudha menunjuk kearah Dewi Manik.

Anehnya, Dewi Manik tidak menggubris pertanyaan orang, bahkan dengan asyiknya ia tampak sedang membaca sepucuk surat.

Melihat surat itu, Bhre Yudha terperanjat dan pucat. Lalu dengan gopohnya ia merogoh-rogoh dalam bajunya, untuk kemudian dengan cepat disambarnya surat ditangan Dewi Manik itu.

Beberapa kali Bhre Yudha berusaha merampas surat dari tangan wanita itu.. Tetapi jangankan dapat merampasnya, menyentuhpun ia tak dapat. Sedangkan Dewi Manik saat itu sama sekali tidak tampak bergerak ataupun mengelak, ia sedang tekun membaca surat yang agaknya panjang lebar itu.  

Ketika Bhre Yudha hendak menerjang, maka Pepriman mencegah sambil tertawa.

“Paman tahu, siapa dia?”.

Bhre Yudha menggeleng gugup.

“Jangan terkejut. Beliau ini adalah eyang rayi Dewi Manik!”.

Tergetar seketika lutut Bhre Yudha. Bintara sandhi kadipaten itu hampir saja jatuh bersujud, kalau tidak Dewi Manik mencegahnya, sambil mengulurkan surat itu.

“Cukup! Aku mengetahui keadaan kadipaten sekarang. Nah. Bhre Yudha, kau masih harus melanjutkan perjalananmu menuju selat Pencuci Dosa ataupun hutan Banjardawa. Pergilah. Katakan kepada Kiai Kenistan suami isteri, ataupun Mbah Pucung dan Ageng Tampar Angin, bahwa rombongan Alap-alap Gunung Gajah sedang bergerak menuju sebelah barat kadipaten. Syukur-syukur kalau kau dapat menjumpai Cucut Kawung. Oraag bengal itu diperlukan juga tenaganya membela bumi pertiwi!”

“Ki Cucut Kawung pinisepuh Loning, berada disekitar kadipaten. Kalau tak salah dugaanku, tentu dia sedang mengejar demang Moga ayah dan anak”. Setelah berkata demikian, maka Bhre Yudha menerangkan tentang sepak terjaug Dewi Yoni bersama ayahnya yang menghancurkan perguruan Loning, kemudian karena dikejar oleh Cucut Kawung, ayah dan anak itu bersembunyi dikadipaten. Akhirnya mereka dapat ditangkap oleh para petugas sandhi, namun akhir-akhir ini, mereka dapat meloloskan diri kembali.

Setelah bersiap-siap semuanya, maka merekapun berpisah kembali. Dewi Manik menetapkan bahwa senopati perang untuk menghadapi pasukan bule itu akan dipimpin langsung oleh Alap-alap Gunung Gajah. Dan hal itu, walaupun semula Pepriman tidak menyetujui, akhirnya karena desakan yang lain, diterima juga.

“Cucu-cucuku, orang bule itu mempunyai suatu kelebihan dari kita adalah perlengkapan kuda mereka cukup banyak perbekalan yang berlimpah, serta senjata yang aneh. Mereka memiliki senjata yang disebut bedil, yang dapat ditusukan mengenai jarak sejauh ratusan langkah. Maka dari itu kita harus sangat berhati-hati. Kita akan melakukan perang gorilla (gerilya) dimana pada saat-saat malam gelap, atau dihutan-hutan rimba kita melakukan penyerangan, untuk kemudian kita berpindah-pindah mencari perlindungan. Tegasnya kalian harus sangat berhati-hati terhadap senjata mereka yang disebut bedil itu.”

“Eyang, dengan adanya senjata aneh ditangan musuh-musuh itu apakah kita tidak memerlukan pusaka-pusaka leluhur sebagai Nyai Tanjung ataupun Kiai Tanjung?”

Tanya Pepriman tiba-tiba. Sebagai seorang pemuda berdarah pendekar, sekali sanggup memikul tugas menjadi senopati perang, maka segala sesuatunya telah dipikirkannya.

“Kau benar Alap-alap. Tetapi untuk menemukan kedua pusaka itu diperlukan tusuk kondeku si lintang kemukus itu!” Sehabis berkata, Dewi Manik tampak termenung-menung, berpikir dengan keras.  

“Hm...” kata Dewi Manik kemudian.

“Menurut perhitungan sang Adipati, dalam suratnya itu. masih ada kira-kira tiga pekan baru perajurit-perajurit kompeni itu tiba diperbatasan barat kadipaten. Kita masih mempunyai sedikit waktu untuk melalukan pengejaran ke istana Telagasona. Kukira, lebih baik kalian pergi dulu keperbatasan kadipaten, sambil berusaha menjumpai Cucut Kawung. Aku sendiri akan menyelesaikan urusan Kiai dan Nyai Tanjung. Nah, sudahlah cucuku. Kubekali kalian dengan do'a basuki”.

Sehabis mengucapkan kata-katanya itu, maka Dewi Manik mengebutkan jubahnya. Ketika suara kebutan itu terdengar, wanita itu menotolkan kakinya ketanah.

Maka ketika bunyi kebutan itu lenyap, lenyap pulalah wanita itu dari pandangan mata.

Esok harinya bertiga, Pepriman Cunduk Puteri dan Sogaklenting melakukan perjalanan menuju arah barat laut.

Mereka ini adalah pendekar-pendekar muda berilmu tinggi yang boleh digolongkan memiliki ilmu kepandaian setingkat dengan angkatan tua sebagai Kiai dan Nyai Kenistan ataupun Mbah Pucung pula.

Pepriman dengan ilmu sakti dari jurang raksasa ‘Nusa-raca-sakti’ yang termashur itu, dan Cunduk Puteri dengan ilmu pelajaran ‘Malaikat papat’ dari Dewi Manik, agaknya tidak membual apabila dikatakan bahwa mereka telah memiliki ilmu kepandaian setingkat diatas orang-orang tua mereka.

Kecuali Sogaklenting sendiri, yang agaknya seperti tidak mendapatkan kemajuan.

Dalam waktu tiga hari melakukan perjalanan, maka mereka telah tiba dibatas selatan kadipaten Pemalang. Tiga hari mereka melakukan perjalanan tanpa bercakap-cakap barang sepatah kata. Mereka seakan-akan sedang berlomba untuk menunjukkan kemampuan lari cepat mereka masing-masing. Hanya Sogaklenting yang tampaknya agak terlambat, tetapi itupun tak seberapa, dan hal ini mengherankan bagi Cunduk Puteri.

Cunduk Puteri tahu bahwa Sogaklenting hanyalah seorang murid perguruan Loning belaka, dan tentaug ilmu lari cepatnya, sudah diketahui benar oleh si dara. Akan tetapi kini ternyata cantrik palsu itu dapat mengimbangi kecepatan lari mereka dengan baik.

Cunduk Puteri curiga, dan ingin menanyakan hal itu. Akan tetapi ia sesungguhnya belum hilang dendamnya terhadap bekas murid Loning itu, dan ia tak sudi menegur.

Sebaliknya, dara itu hanya mengawasi dengan sudut matanya, betapa pemuda bermuka lorek itu melakukan lari cepat. Akhirnya ia terkejut, untuk kemudian menghentikan larinya sambil membentak.

“Heh, manusia hina dina! Dengan cara bagaimana kau mencuri belajar kitab Malaikat Papat?”

Mulutnya menegur, dan kakinya menendang, akibatnya Sogaklenting tersungkur jatuh terengah-engah.

“Tuan Puteri ” Sogaklenting menjawab terbata-bata. “Aku ingin memberikan bhaktiku pada

pertiwi, dan kepada.....mu agar dapat kiranya aku mendapatkan ajal yang tentram ”

Mendengar   jawaban   yang   demikian,   kemarahan   Cunduk   Puteri   makin   menjadi-jadi.

Tangannya melayang, maka Sogaklenting terpelanting ketanah kembali, berguling-guling.

“Munyuk hina dina! Andaikata eyang tidak melarangku membunuhmu, apakah kau masih dapat hidup sampai sekarang?”

Buat apa menjual omong besar didepanku? Kau Sogapati, dan seharusnya aku

membunuhmu!”

Sogaklenting duduk menundukkan muka. Ia tahu, ingin sekali tangan dara itu menjatuhkan pukulan maut, sehingga ia tidak perlu lagi menderita terlalu lama. Begitu suci cintanya terhadap dara pendekar itu. Dan betapa dalamnya rasa kasih yang terpendam dalam hatinya tak dapat dilukiskannya lagi. Dulu Sogapati tidak seburuk yang sekarang. Dulu Sogapati masih dikagumi oleh Cunduk Puteri, itupun sulit mengharapkan balasan cinta kasih dari gadis itu. Apalagi sekarang?

Sekarang setelah Sogapati rusak jasadnya, dan telah rusak pula namanya. Menyebut namanya saja tak berani Sogaklenting melakukannya.

Selama hidupnya menjadi cantrik, dan selalu berdekatan dengan dara itu, selama itu pula hati Sogapati merasa tenteram.

Telah timbul niatnya untuk merawat bayi yang kemudian hari akan dilahirkan oleh Cunduk Puteri. Biarlah ia menderita sengsara seumur hidupnya asalkan ia dapat menebus segala kesalahannya dengan kebaikan yang dapat dilakukan untuk Cunduk Puteri dara yang selalu dikaguminya itu.

Tetapi kini, kini ia telah secara tak sengaja membuka kedoknya sendiri. Dan lagi pula, di sini dara pujaan itu, hidup seorang Alap-alap Gunung Gajah. Andaikata Sogapati lipat tujuh gagahnya dari dulu, agaknya masih terlalu khayal untuk mengharapkan cinta kasih dara itu.

Dalam duka dan putus harapannya itu, Sogaklenting menjawab.

“Kalau nona hendak membunuhku, silahkan turun tangan. Aku Sogapati tidak mengingkari dosaku. Yah, aku berdosa. karena aku... aku... mencin. ”

Breeesss! Secepat kilat Cunduk Puteri menghantam mulut Sogaklenting, sehingga cantrik yang malang itu jatuh terjengkang dengan beberapa giginya yang tinggal lantas tanggal, dan mulutnya menyemburkan darah.  

Akan tetapi Sogaklenting tidak mengaduh. Bahkan dengan cara yang tampak sangat mengerikan ia mencoba untuk tersenyum.

Senyum itulah kiranya yang justeru membuat Cunduk Puteri semakin kalap. Dan dengan secepat senyum itu terkembang dimulut Sogaklenting maka ke lima jari tangan Cunduk Puteri menerkam kearah dada.

“Tahan!” Pepriman tak dapat membiarkan dara itu menjadi pembunuh yang demikian keji, maka cepat-cepat ia mendorong tangan Cunduk Puteri kesamping, hingga terkaman tangannya hanya membekaskan lima jari berdarah didada cantrik itu.

“Pepriman... aku sendiri sudah tidak mengharapkan hidup, untuk apa lagi kau cegah nona Cunduk membinasakan diriku!” Kata Sogaklenting tanpa perubahan muka. Hanya kedukaan dan putus asa belaka yang membayang pada mukanya yang lorek-lorek itu. “Selama nona Cunduk belum turun tangan, maka selama itu pula, diriku masih selalu dituduk sebagai seorang pemuda biadab dan hina dina. Ingin aku tenteram menikmati ajalku ditangan dara yang ku. ”

Cunduk Puteri tak kuat menahan kata yang penuh perasaan itu, yang justeru sangat menusuk hatinya. Tanpa suara lagi, dara itu menubruk maju dengan kedua tangan mencengkeram.

Pepriman terkejut dan gugup. Dan tak ada cara lain untuk menggagalkan pembunuhan itu, kecuali menubruk dara itu, yang berarti sekaligus memeluknya dengan erat, hingga kedua muda- mudi itu berguling-guling kesamping beberapa tombak jauhnya.

Dari tiap jari tangan Cunduk Puteri terdengar suara mendesis.

Dan ketika Pepriman melihatnya, ia melompat kaget karena kiranya dari ujung jari gadis itu mengepul asap kemarahan. Itulah hawa sakti yang terhembus keluar terbawa oleh arus kemarahan yang meluap-luap.

Cepat-cepat Pepriman merangkul sebatang kayu, dan dilemparkannya kearah Cunduk Puteri. Deeerrr! Kayu sepotong itu terkeping-keping oleh pukulan Cunduk Puteri berserakan kesegala penjuru. Barulah setelah itu dengan napas terengah-engah, Cunduk Puteri duduk bersila mengatur napasnya.

Dapatlah dibayangkan, betapa tubuh Sogaklenting terkena pukulan hawa sakti itu.

Dalam kitab Malaikat Papat, dimana diajarkan pula ilmu pukulan bromo (api), ternyata telah dikuasai oleh Cunduk Puteri.

Hanya sayangnya, dara ini belum cukup lama melatih diri sehingga kemampuan mengerahkan pukulan sakti itu belum dapat dikemudikan dengan semuanya. Hanya apabila timbul kemarahan yang melampaui batas, maka barulah ilmu pukulan itu sccara tak sengaja muncul keluar.

“Nona Cunduk...” Pepriman berbisik mendekati. Ia tahu cara bagaimana untuk mencairkan hati dara itu yang kini sedang bergumpal dalam kemarahan.

Ia tahu bahwa dendam telah membakar hangus hati dara itu bahkan juga boleh dikata membakar hangus seluruh hari depannya. Maka itu tidaklah dapat disalahkan apabila Cunduk Puteri terjerumus kedalam api kemarahan yang melampaui batas itu.

Di pulau Jawa ini, terdapat satu pepatah ‘Sadumuk batuk, sanyari bumi’ yang berarti ada dua

hal yang selalu ditegakkan orang, bila perlu dengan perang tanding, yaitu kehormatan dan tanah!

Kehormatan Cunduk Puteri yang telah dihancurkan oleh Windupati, yang melibatkan pula Sogapati didalamnya, sulit orang akan memaafkannya. Dan hal itu dimaklumi oleh Pepriman.

Maka dengan lemah lembut, pemuda itu menghibur :

“Cunduk, apalah manfaatnya, apabila tanganmu di kotori darah cantrik itu? Mungkin dia Sogapati, tetapi Sogapatipun tak ada harganya untuk menyebabkan kau turun tangan sendiri membunuhnya. Orang yang jelas-jelas mengkhianati hidupmu adalah Windupati. Dan guru biadab itu telah kau bunuh, kau hukum sesuai dengan dosanya. Jadi, untuk apakah menumpahkan darah  

lebih banyak lagi, Cunduk. Lihatlah, betapa sebenarnya negeri membutuhkan setiap kesatria yang sudi membhaktikan jiwa raganya untuk pertiwi. Ingatlah akan pesan Eyang Dewi. Apakah tidak lebih baik kau kendalikan amarahmu, dan kita bersama memasuki api peperangan dibarat sana?”

Cunduk Puteri tidak mendengar ucapan yang mengandung kemesraan itu. Dimatanya melintas bayangan mengerikan yang pernah dialaminya diperguruan Loning.

Tentang kamar celaka itu. Tentang penghinaan Windupati, kemudian tentang nasibnya dijerumuskan kedalam sumur Bengkelung.

Dan semua noda itu kini terasa sangat menyayat hatinya, demi Pepriman berada disampingnya. Pemuda pujaannya telah mengetahui perihal nasibnya yang buruk dan malang itu, dan tidak mungkinkah dia akan menjauhi?

Cunduk Puteri tidak insyaf sama sekali, bahwa kandungannya kian hari kian membesar, dan sedikitpun tak pernah lepas dari pengamatan Alap-alap Gunung Gajah.

“Tentunya Nona Cunduk menyesali nasib, terhina dan terluka. Dan penghinaan itu merupakan jalur menghitam yang menghubungkan hari lalu dengan hari depan. Tetapi apalah kata orang tentang diri seorang dara yang bernasib malang yang kemudian berubah dari jiwa seorang pendekar menjadi seorang pembunuh?”.

Ah, kau Pepriman. Kau laki-laki dan kau takkan dapat merasakan sedalam mana penghinaan

telah menikam hidupku!” Cunduk Puteri membentak dengan suara bercampur sedu sedan. “Cunduk...” Pepriman berbisik. “Masih ingatkah kau akan cerita seorang Joko Bledug?”. “Oh...” Cunduk Puteri memutar tubuhnya, menghentikan kata-katanya.

“Joko Bledug sekarang telah menjadi seorang Pepriman, seorang jembel hina dina. Dan kau ketahui, Cunduk, betapa kehinaan telah menyeret hidupku dengan begitu kejam. Aku... aku takkan melupakanmu, Cunduk...”

“Bledug, oh!” Dan serta merta kedua muda mudi berpelukan dengan mesranya. Seluruh derita

batin tertumpah dalam tangis ratapan yang mengalir lemah dari mulut Cunduk Puteri.

Pepohonan tepi hutan bergoyang-goyang disilir angin yang menyapu. Demikianlah hati muda mudi yang bertemu dalam penderitaan itu bergoyang-goyang lembut, seakan-akan menemukan nafas kagembiraan yang baru yang menyegarkan.

“Bledug... aku telah mengandung...”

“Aku tahu Cunduk. Dan penderitaan kita bersama ini, yang telah membimbing diriku, berani

untuk menjumpaimu.”

“Seharusnya kau membiarkan aku membunuh Sogapati, Bledug. Dia... dia...”

“Dia tak berdosa. Penderitaan batin tak usah di berati dengan dosa-dosa lebih banyak lagi, Cunduk. Windupati orang yang bertanggung jawab, dan dia adalah ayah bayimu...”

Cunduk Puteri kembali menangis. Tak tahu lagi perasaan apa yang telah mengaduk-aduk hatinya. Seorang calon manusia yang tumbuh dari buah dendam, kelak akan lahir diantara mereka. Dan selamanya akan merupakan duri dalam daging, ataupun titik noda yang membesar didepan mata.  

Tetapi semuanya itu adalah peristiwa, nasib dengan segala bentuk permainannya. Justeru noda itu pula kiranya yang telah membimbing Pepriman untuk berani mencintai Cunduk Puteri.

Sogaklenting duduk diam memandang jauh kedepan dengan kosong. Suatu perasaan rela berkorban, tumbuh dari penyesalannya yang besar. Tak perlu meratapi nasibnya, meratapi Cunduk Puteri yang saling mencintai dengan Joko Bledug atau Pepriman, sebab ia tahu nilai dirinya sudah tak ada lagi yang patut dibanggakan didepan dara pahlawan itu.

Lebih dari tiga jam mereka berteduh ditempat itu. Menjelang rembang petang, mereka melanjutkan perjalannan. Hanya dalam waktu tidak sampai satu jam mereka telah memasuki perbatasan kota kadipaten.

Pepriman dan Cunduk Puteri merasa perlu untuk melakukan penyamaran, sebab mereka menduga pasti bahwa disekitar kota tidak sedikit terdapat bagundal-begundal kompeni yang hidup secara sembunyi-sembunyi.

Sedangkan Sogapati tentu saja tak perlu menyamar sebab dengan bentuknya yang sudah demikian berubah orang takkan mengenal siapa dia sebenarnya.

Ketika mereka sedang berjalan menyusuri sebuah jalan berbatu, yaitu jalan tepian kota yang menuju ke barat, didepan mereka terlihat sebuah kereta yang sedang berhenti.

Begitu mereka bertiga ini muncul diujung jalan, maka terdengar suara jeritan nyaring dari dalam kereta itu, diberengi dengan terdengarnya suara bentrokan senjata.

Pepriman bergegas mendekati. Maka tampaklah seorang laki-laki tua sedang mengobat- abitkan sebuah tongkat melawan tiga keroyokan tiga orang laki-laki bersenjata golok. Lelaki tua itu terus berteriak minta tolong “Anakkuu... anakku. ” Seraya menunjuk-nunjuk kesuatu arah.

Melihat seoraag tua yang kewalahan dibawah ancaman hujan golok maka Pepriman buru-buru turun tangan menolong. Akan tetapi lelaki tua itu malah berseru-seru “Tolonglah puteriku, anak muda. Tolong puteriku!”

Dan bersamaan dengan itu, dikejauhan terdengar jeritan seorang gadis Pepriman jadi gugup dan bingung. Untunglah Cunduk puteripun telah turun membantu seraya berseru : “Pepriman, kau tolong gadis itu”

Tanpa pikir panjang. Pepriman berlari cepat memburu kearah datangnya jeritan itu masuk kedalam kegelapan.

Sedangkan Cunduk Puteri dengan beberapa kali gebrakan telah berhasil membuat pengeroyok itu lari tunggang langgang kaok-kaokan. Buru-buru Cunduk Puteri menghampiri lelaki tua itu, yang berada disamping roda kereta, sedang empas-empis ketakutan.

Dengan tergopoh, orang tua itu berkata penuh hormat.

“Aduh nyonya penolong. Terima kasih atas budi pertolonganmu. Andaikata tidak bertemu

kalian saat ini, entah bagaimana nasibku. Tetapi puteriku. puteriku. ” Dan orang tua itu menangis

menatap sangat bersedih.

Seharusnya Cunduk Puteri terkejut, merasa bahwa penyamarannya mudah dikenal orang. Saat ini, ia berdandan sebagai seorang pemuda, akan tetapi orang tua itu tetap memanggilnya sebagai nyonya penolong.

Orang tua itu, kecuali cerdik dan selalu gugup tampak sedikitpun ia tidak menderita cidera. Apabila melihat permainan tongkatnya yang ngawur dan keroyokan tiga orang bergolok tadi,

sepatutnya lelaki tua itu tentu telah terluka. Namun semuanya itu tidak menimbulkan kecurigaan Cunduk Puteri.

Tidak aneh. Dalam keadaan mendadak seperti itu, dimana dara itu berada dalam suasana serba gembira disamping Pepriman, kewaspadaannya sangat berkurang. Dan diluar sadarnya, bahaya besar mengancam seperti tatapan mata harimau yang siap menerkam.

Dengan tanpa pikir lagi, Cunduk Puteri menarik lelaki tua itu untuk naik keatas kereta.  

Kemudian dengan keras, disentakkannya kendali, maka keretapun melancar cepat, memburu kearah jalan yang ditempuh oleh Pepriman yang sedang melakukan pengejaran.

“Paman, tahukah kau kemana puterimu dibawa bangsat-bangsat itu?” Tanya Cunduk Puteri

itu tanpa berpaling.

Dan laki-laki tua yang duduk dibelakangnya itu membelalak lebar matanya, menjawab dengan mulut tersenyum bengis.

“Kerumah mereka tentu...” “Paman tahu rumah mereka?”

“Hemm... belok kiri, belok kanan, belok... kiri kanan”, dan entah apa lagi yang dikatakan oleh lelaki tua itu, yang merupakan komando bagi Cunduk Puteri dalam mengendalikan les kuda.

Beberapa saat kereta itu meluncur, maka mereka telah tiba pada sebuah jalanan yaug sunyi, dimana dikanan kiri jalan itu terdapat pekarangan-pekarangan kosong yang ditanami ketela pohon.

Disitulah lelaki tua itu menunjuk sambil berkata :

“Ditanah lapang yang terdapat diseberang barak besar itulah markas mereka!”

Agak dikejauhan Cunduk Puteri melihat sebuah barak besar yang beratap rumbia. Barak itu gelap didalamnya, hanya diluarnya saja terlihat sebuah lentera merah yang tergantuag bergoyang- goyang ditiup angin.

Cunduk Puteri bermaksud hendak turun dari kereta. Akan tetapi baru saja ia menghentikan lari kuda, terasa olehnya pungguragnya sangat sakit sekali. Ia terkejut dan sadar bahwa dirinya telah kena dikelabui orang, akan tetapi kesadarannya itu telah terlambat.

Totokan keras yang mengenai punggung diatas kepungan dan iga, membuat dara itu tergolek tak berdaya. Segera Cunduk Puteri mengerahkan tenaga batinnya untuk memunahkan totokan orang, akan tetapi kiranya totokan itu terlalu kuat. Dan dara itu segera mengetahui siapa adanya orang yang mampu melakukan totokan hebat itu.

Lelaki tua itu tertawa terbahak-bahak sambil menyoret tubuh Cunduk Puteri dari dalam kereta. Didepan dara itu si laki-laki tua membuka ikat kepalanya, maka terbuka pulalah cambang bauk dan kumis jenggotnya yang tak teratur, hingga tampaklah dia siapa orangnya.

“Kiranya...” Cunduk Puteri terbelalak kaget. Sungguh mimpipun tidak, bahwa seorang tokoh sebagai Ki Gede Ayom demang Moga sanggup melakukan perbuatan memalukan, menjebak anak- anak muda dengan tipu muslihat.

Demang Moga, Ki Gede Ayom tertawa mengejek.

“Kau kaget, Cunduk Puteri, bahwa nasibmu demikian? Hm.... penyamaranmu kurang sempurna.

Alap-alap Gunung Gajah si jembelmu itupun sekarang tak tentu bagaimana nasibnya...

hahaha ”

“Tua bangka tak tahu malu. Mau bunuh aku, bunuh cepat. Buat apa memamerkan muka tuamu!” Bentak Cunduk Puteri kalap. Akan tetapi ia hanya dapat terengah-engah belaka, ataupun matanya terbelalak.

Untuk mengamuk jangan mimpi dia, menggerakkan tangan dan kakipun ia tak mampu lagi.

“Kau ada membawa Kiai Tanjung Nyai Tanjung?” Tanya Ki Gede Ayom. “Untuk mencincangmu, orang tua?” Bentak Cunduk Puteri.  

“Tidak,” sahut Gede Ayom sambil tertawa ayam. “Justeru untuk membunuh kalian para pemberontak. Orang-orang seperti kalian, tak boleh terlalu lama hidup mengotori dunia. Kecuali....kecuali...”

“Tak perlu membujuk. Aku sudah mengerti siapa kau. Kau adalah seorang demang yang tidak tahu di untung. Kau kesayangan adipati, tetapi dengan rakusnya kau merindukan kedudukan itu. Huh. Cocak nguntal elo (dengan peribahasa lain, menggantang asap).”

“Hahaha... kau bocah ingusan tahu apa! Marilah lihat!” Seraya berkata demikian, maka Gede Ayom mengikat kaki dan lengan dara itu. Baru kemudian menyeretnya kedalam barak.

Kiranya barak itu hanyalah sebuah bangunan kosong belaka. Disitu merupakan jalan yang menembus pintu rahasia yang terdapat disamping. Begitu mereka melintas pintu itu, maka mereka tiba pada sebuah sumur.

Gede Ayom membawa Cunduk Puteri mencebur ke dalam sumur yang ternyata adalah sumur mati, yang ternyata merupakan jalan terowongan menuju tanah lapang yang berada kira-kira lima ratus langkah diluar barak itu!

Tiba pada tanah lapang, maka Cunduk Puteri segera melihat pemuda pujaan hatinya berdiri menyandar pada sebuah tonggak dimana didekat kakinya tampak api pediangan yang menyala besar, Dan disisi pemuda itu, tampak pula berdiri seorang dara yang dengan sikap sangat mesra berbisik-bisik sambil lelendotan seperti dara manja!

Dengan segera Cunduk Puteri mengenali siapa adanya gadis, Satu-satunya dara yang selama ini menjadi saingan cintanya, dialah Dewi Yoni, puteri Ki Gede Ayom.

Rupanya sengaja Ki Gede Ayom tidak membawa Cunduk Puteri mendekat pada Pepriman.

Dara itu dilemparkan keatas tanah, kemudian masih perlu juga kakinya diikatkan pada sebuah batu besar.

Andaikata tidak usah diikat begitupun, Cunduk Puteri sendiri tentu tak sudi mendekati Pepriman yang sedang berbisik-bisik dengan Dewi Yoni. Walaupun samar-samar, tetapi Cunduk Puteri telah mendengar mengenai hubungan pemuda pujaan hatinya itu dengan si Puteri demang.

“Baru kemarin ia berjanji...” Cunduk Puteri mengeluh dalam rintihan seorang diri. Air matanya mengalir turun dengan deras. “Tidak ada laki-laki yang dapat dipercaya. Semua jahanam, pembohong, mata keranjang dan biadab!”

Saat itu, Cunduk Puteri berharap Pepriman akan memberontak, mencaci maki, akan tetapi tidak. Pepriman tampak diam saja, berdiri tenang, sedangkan Dewi Yoni dengan cara yang sangat genit, sedang merangkul pemuda itu didepan sekian banyak orang yang hadir disekitar perapian itu.

Kekecewaan Cunduk Puteri membesar seketika. Ia sadar bahwa kekasih yang telah jatuh dalam pelukan gadis lain yang lebih cantik dan suci, tidak ternoda dan anak orang kebanyakan sebagai dia, agaknya takkan balik kembali.

Pepriman didalam benak si dara telah berubah menjadi burung terbang yang telah menemukan tempat peraduannya. Tak mungkin diharap burung itu akan melintas kembali.

Dan bila kedukaan itu makin besar, maka sejalur api kebencian memasuki hatinya. Berci!

Benci sekali. Tak ada laki-laki yang patut dipercayai!

Dalam kebencian yang berkobar itu, maka Cunduk Puteri berusaha meronta. Tadi, karena kagetnya, ia tak mampu memunahkan totokan Ki Gede Ayom.

Sekarang, dengan suatu keinginan yang hendak segera bebas agar segera dapat pergi meninggalkan Pepriman, maka kekuatan batinnya yang terhimpun secara mukjijat didalam tubuh, bergolak dengan cepat.

Dan ilmu sakti Malaikat Papat adalah terlalu tinggi apabila hanya untuk memunahkan totokan orang belaka.  

Dengan segera dara itu dapat membebaskan totokan dan mampu menggerakan tangan dan kakinya, Tinggal tali yang mengikat, bagi Cunduk Puteri bukanlah soal lagi.

Didekat perapian, terdengar Gede Ayom berkata keras agaknya dimaksudkan agar terdengar jelas oleh Cunduk Puteri :

“Cobalah jangan malu-malu, Pepriman. Katakanlah bahwa kau mencintai gadis Pucung yang telab terhina itu. Katakanlah! Bahwa kau sudi menerima barang bekas yang telah rusak dan hina dina itu. Hahaha Ataau benar-benarkah seperti katamu tadi, bahwa kau hendak memperisterikan

anakku?”