-->

Alap-Alap Gunung Gajah Jilid 11

Jilid XI

BUKAN buatan gusar dan penasarannya wanita itu. Selanjutnya dengan mengertak gigi, Dewi Cundrik menerjang maju, kedua tangannya bekerja cepat, menghantam dan mencakar, mengirimkan serangan balasan.

Memangnya Nyai Kenistan rada-rada jeri menghadapi ilmu racun lawan maka ia harus main loncat-loncatan mundur untuk menghindari serangan lawannya itu.

Tadi dalam dua gebrakan Dewi Cundrik dibikin terdesak, hal itu terjadi karena wanita itu jeri menghadapi ilmu selendang lawan. Sekarang dengan api kemarahan yang berkobar, ia menerjang seperti singa betina, maka untuk selanjutnya Nyai Kenistan sendiri tidak dapat main desak-desak terus lagi.

Yang tampak pincang, adalah pertarungan Ki Cucut Kawung melawan Toh Kecubung dan Tambakeso. Toh Kecubung telah bertahan sekuat tenaga dengan tombak pendek ditangan kanan dan perisai setengah lingkaran.

Dan Tambakeso dengan kebutan baja ditangan kiri dan sebuah trisula ditangan kanan, mencoba untuk menahan amukan mahayogi dari Loning itu.

Akan tetapi ilmu golok dari Loning yang sangat termashur itu, kali ini benar-benar sedang menunjukkan kehebatannya. Dalam gebrakan yang kedua puluh, tombak pendek Toh Kecubung telah terlempar akibat tendangan lawan, dan begitupun trisula ditangan Tambakeso, melayang terbang, jatuh rnenikam muridnya sendiri.

Permainan golok Ki Cucut Kawung kecuali cepat dan dahsyat, juga mengandung perbawa besar. Kemana saja golok itu digerakkan, selalu mengeluarkan hawa panas yang santer. Dan setiap gerakannya, selalu penuh dengan gerak-gerak pecahan, yang sulit untuk diduga kemana jalannya.

Golok ditangan guru Loning itu terus bergetar, membuat bayangan golok kembar berpuluh- puluh, seakan-akan setiap penjuru tampak dikuasai oleh sinar senjata itu.  

Dengan mengikuti langkah-langkah sakti yang disebut Delapan Langkah Membunuh Naga, walaupun hujan senjata meluruk kearah dirinya, akan tetapi Ki Cucut Kawung selalu dapat menyelamatkan diri, bahkan sekaligus balas menyerang.

Tidak kurang dari dua puluh lima orang korban jatuh dipihak Paguyuban Banjardawa oleh amukan pertapa gagah itu. Toh Kecubung dan Tambakeso sendiri sebenarnya sudah main mundur- mundur terus, tak sempat balas menyerang.

“Tidur!” Bentak Ki Cucut Kawung seraya menyabetkan goloknya secepat kilat keleher

Tambakeso!

Tambakeso terperanjat buru-buru ia merendahkan tubuhnya, seraya mempergunakan kebutan bajanya menghajar pergelangan tangan lawan. Akan tetapi mendadak golok itu barhenti menyerang, berbalik memapas kearah gagang kebutan baja.

Tambakeso mandi keringat dingin. Bahaya itu datang terlampau cepat, dan ia tidak bisa mengimbangi maka ia berteriak, minta tolong. Pada saat itu memang Toh Kecubung sedang maju untuk mengayunkan perisai bajanya, membelah kedada Cucut Kawung.

Apa hendak dikata, kiranya hal itu telah berada dalam perhitungan guru Loning itu. Sedang perisai itu meluncur datang, maka ia telah mendoyongkan tubuh kesamping dengan cepat. Perisai meluncur maju mengenai tempat lowong, sebaliknya Cucut Kawung dengan tubuh masih mendoyong itu menggerakkan kakinya menendang.

Tak ampun lagi, terdengar tulang terhajar tendangan, dan terdengar Toh Kecubung menjerit kesakitan dengan tubuh terguling-guling ditanah.

Melihat kawannya ‘tidur’ maka Tambakeso melompat mundur sejauh beberapa tombak sambil berseru : “Mundur!”

Sekalian murid Nelayan kosen itu berlarian mundur, mengikuti ketua mereka, termasuk juga anak murid Gunung Kelir, dengan gopoh dan ketakutan mereka serabutan pergi membawa tubuh guru mereka yang terluka.

Ki Cucut Kawung tertawa terbahak. Pertapa sakti ini tidak suka melawan kurcaci-kurcaci, maka ia hanya berdiri menonton, menyaksikan lawan yang sedang dihajar mundur oleh pejuang- pejuang Gunung Gajah.

Pertarungan diantara Kiai Kenistan dan Ki Genikantar masih berjalan seru. Demikian pula antara Dewi Cundrik dan Nyai Kenistan. Akan tetapi bergerak mundurnya murid-murid Gunung Kelir dan para nelayan anak buah Tambakeso, menyebabkan kedua ketua Paguyuban Banjardawa itu jadi gelisah.

Mereka tahu, bahwa dipihaknya harus menerima kekalahan untuk sekali ini. Menghadapi Kiai dan Nyai Kenistan, mereka masing-masing tidak dapat mencapai kemenangan. Bagaimana andaikata Ki Cucut Kawung turun membantu?

Pikir punya pikir, agaknya Ki Genikantar dan Dewi Cundrik mempunyai maksud yang serupa, yaitu mengurdurkan diri.

Maka segera terdengar Ki Genikantar bersiul nyaring. Anglo merahnya diputar cepat melindungi depan badan. Selanjutnya gegeduk paguyuban Banjardawa itu melompat mundur tujuh tombak, diikuti Dewi Cundrik yarg berlari mundur sambil mencaci maki kalang kabut. 

Baik Kiai Kenistan maupun isterinya tidak bermaksud mengejar. Mereka membiarkan lawannya berlarian meninggalkan mereka, menuruni tebing selat Pencuci Dosa, untuk kemudian menghilang didalam lebatnya hutan-hutan belukar yang tumbuh diluar tebing.

Tidak kecil juga korban yarg telah jatuh pada pihak pejuang Gunung Gajah. Duapuluh orang terbinasa termasuk mereka yang dilemparkan kedalam jurang oleh Ki Genikantar dan Dewi Cundrik. Sedang yang menderita luka tidak kurang dari duapuluh tujuh orang.  

Segera mereka bekerja keras, merawat yang terluka dan mengubur yang telah tewas.

Termasuk Walikukun sendiri, luka-luka yang diderita olehnya tidaklah ringan.

Nyai Kenistan dan suaminya menghampiri bekas murid kepala itu. Setelah memeriksa beberapa saat maka ia mengeluarkan sebuah bungkusan daun dari dalam kantong bajunya. Kiai Kenistan lantas menyuruh orang mengambil air. Dengan cara mengaduk sedikit jejamu yang terdapat dalam bungkus daun itu, maka Nyai Kenistan mencekoki muridnya dengan ramuan obat itu.  

“Monyet tua itu memang berbahaya. Pukulan cakar bromo yang mengenai kulitmu ini, untungnya tidak terlalu dalam atau mengenai tulang. Andaikata begitu walaupun isteriku tergolong ahli jamu gandring agaknya akan kerepotan juga?” Kata Kiai Kenistan seraya melirik senyum kearah isterinya. Dan Nyai Kenistan melengos dengan sepasang bibirnya mengulum senyum manja.

Matahari sore sedang merangkak kepunggung bukit, selat Pencuci Dosa yang siang tadi tampak putih berkilau menyilaukan, kini telah berganti warna, tersepuh warna jingga, Batu-batu karang yang menonjol disana sini, berubah sebagai tonggak-tonggak suasa yang berkilau. Udarapun sudah tidak panas sebagai tadi, bahkan kini angin laut yang berembus menyusuri selat terasa sejuk nyaman.

Malam itu, mereka beristirahat disekitar tebing-tebing selat. Kiai dan Nyai Kenistan asyik bercakap-cakap dengan murid-murid mereka, setelah makin tahun lamanya mereka berpisah dan bercerai berai.

Semua penuturan pengalaman selama lima setengah tahun ditinggal gurunya itu diceritakan oleh Walikukun kepada kedua gurunya itu. Dan memang kedua guru Kenistan itu paling sayang kepada murid kepala mereka ini, sehingga sampai jauh malam mereka bercakap-cakap tidak henti- hentinya.

Adapun Ki Cucut Kawung sudah sejak senja tadi melakukan semedhi, berdiam diri dibalik sebuah batu karang besar. Jago tua itu telah menguras tenaga terlalu banyak, selama ini. Dan sekarang begitu urusan beres, ia lantas melakukan semedhi untuk memulihkan tenaga.

Lewat tengah malam Ki Cucut Kawung mendapatkan Kiai dan Nyai Kenistan serta Walikukun mendatangi. Maka guru Loning itu lantas mengakhiri semedhinya simbal tertawa. “Ada hal penting?”

Nyai Kenistan yang lebih lincah berbicara, menyahut :

“Kakang Cucut! Bagusnya kabar yang kuperoleh ini, baru terdengar sekarang melalui

muridku ini, andaikata tidak begitu, entah bagaimana jadinya...”

“E... ee... ee... ada soal apa adi Kenistan, coba jelaskan! Aku orang tua tidak biasa bicara

melit-melit, kuharap kau suka berkata ceplos-ceplos saja!” Ki Cucut Kawung sambil tertawa.

“Kasihan Mbah Pucung, kabar yang kudapat ini adalah bencana besar baginya ” kata Nyai

Kenistan lebih lanjut.

“Kalau kabar duka itu kabar buat Mbah Pucung, mengapa malam-malam begitu kalian

mengabari aku? Besok toh masih bisa?”

Kiai Kenistan tampak mendongkol melihat sikap isterinya yang masih belum suka bicara secara gamblang. Akan tetapi lelaki ini memang tidak pernah memotong pembicaraan isterinya, maka ia hanya mendecih-decih belaka.

“Cobalah Walikukun ceritakan olehmu, apakah kabar itu khusus buat Mbah Pucung melulu, atau ada sangkut pautnya dengan Loning”. Begitulah Nyai Kenistan lantas menyuruh muridnya untuk meneruskan bicara.

Ki Cucut Kawung yang tidak dapat meraba maksud orang, hanya tengok sani sini kebingungan. Demikianlah, selanjutnya Walikukun lantas menceritakan tentang meninggalnya Cunduk Puteri, anak tunggal Mbah Pucung, yang tewas secara terhina dilingkungan perguruan Loning.

Mimpipun tidak, Ki Cucut Kawung, bahwa bepergian pejuang Gunung Gajah meninggalkan markas adalah dengan maksud menggempur hancur perguruan Loning. Kakek gagah perkasa ini menggereng-gereng seperti macan, dan kedua tangannya mengepal-ngepal. Sebuah batu yang terinjak dibawah kakinya remuk bertaburan jadi kerikil tajam.

“Kurang ajar! Geram Ki Cucut Kawung. “Windupati jahanam! Coba kau jelaskan sejelas- jelasnya Walikukun, biar aku dapat merasakan betapa sakitnya rasa mukaku disayat-sayat oleh orang kepercayaanku sendiri?”

Dengan hati-hati Walikukun lantas mengulangi ceritanya, dari apa yang berhasil dikorek dari mulut seorang murid Loning yang bernama Doyo yang telah mencuri hiasan rambut Cundrik Puteri. Juga dari pengakuan Sogapati yang telah rusak muka dan seluruh tubuhnya akibat kekejian perbuatan Windupati.

Dalam hal ini, tentu saja Walikukun tidak berani melebihi atau mengurangi cerita dari apa yaug diperoleh dari Doyo dan Sogapati. Sebab ia tahu akibatnya mendustai tokoh sebagai Cucut Kawung itu!

Selesai Walikukun menguraikan kejadian semua itu, maka tampak Ki Cucut Kawung bergoyang-goyang pada duduknya Walikukun tak tahu apa yang akan diperbuat oleh guru Loning itu. Akan tetapi ketika ia mengejapkan matanya, dan mambuka kembali, ternyata guru Loning itu telah berkelebat pergi sambil memperdengarkan suara seruan yang gametar.

“Aku percaya kata-katamu Walikukun! Kuharap kalian semua jangan mencampuri urusanku menguliti muka perguruan Loning yang terpomok kotoran...”

Semua yang mendengar tahu apa yang bakal diperbuat oleh guru Loning yang berangasan ini.

Dan mereka menghela napas.

“Walikukun, apakah kau tak berdusta?” Kiai Kenistan meyakinkan hatinya sendiri. Ia sendiri merasa malu dan sedih atas kejadian pedih yang menimpa perguruan Pucung dan Loning. Dapatlah dibayangkan betapa telah menganga jurang dahsyat diantara dua perguruan itu, yang apabila orang kurang dapat menyelamatkan, agaknya dunia rimba persilatan akan memasuki babakan baru, yaitu babakan permusuhan diantara orang segolongan.

“Kiai guru, mana berani murid lancang mulut di hadapan sekalian para sesepuh...” sahut

Walikukun.

“Tapi kau tahu akibatnya pengaduan ini?” Kiai Kenistan masih juga menegur kurang puas. “Kalau tidak diberi tahu, nanti Kakang Cucut juga akan menyalahkan kita, bagaimana kau ini

Kiai?” Kali ini Nyai Kenistan yang menyeletuk bicara.

Pikir-pikir, mereka akhirnya tiba pada suatu kesimpulan bahwa takdir juga yang telah berlaku atas diri Cunduk Puteri, yang secara tak terelakkan telah mengalami bencana yang menyedihkan itu.

Semua kalangan rimba persilatan mengakui, betapa kerasnya aturan yang berlaku didalam pintu perguruan Loning, dimana saat itu Ki Cucut Kawung sebagai seorang tokoh angkatan tua yang merupakan orang terkemuka didalam golongan kaum lurus, selalu menjunjung tinggi peribudi, menegakkan kebenaran dan keadilan.

Ilmu golok Loning yang terkenal sangat lihai itu, bersumber pada ilmu-ilmu sakti kaum pertapa sejati, bertolak dari kekuatan yang ditulang-tulangi dengan kejujuran. Siapa sangka, secara tak terduga telah muncul ‘adat’ baru disana yang diperbuat oleh Windupati.

Kiranya tepat sebagai pepatah, tak ada gading yang tak tetak, tak ada kebaikan yang tanpa  

cela. Diantara nama Ki Cucut Kawung yang disegani orang dengan ilmu-ilmu yang tinggi, sikapnya tegas membela pihak yang benar, maka disitu terselip pula noda yang besar pula, seperti apa yang dilakukan oleh adik seperguruan Ki Cucut Kawung itu sendiri.

Sebenarnya yang membuat Kiai dan Nyai Kenistan cemas, adalah kemungkinan terbitnya perpecahan diantara kaum lurus sendiri, yaitu antara perguruan Pucung dan Loning, yang justeru dua perguruan besar yang sangat terkemuka, dan sangat disegani lawan.

Di satu pihak, Ki Cucut Kawung yang merasa adanya syetan yang menyelusup dalam perguruan dan bermaksud melakukan pembersihan, maka dipihak lain, mungkinkah perguruan Pucung akan menerima kejadian itu demikian saja? Mungkinkah Mbah Pucung bersama murid- muridnya yang terkemuka yang sebenarnya juga telah banyak tersebar disekitar pantai utara pulau Jawa bagian barat dan timur akan tidak menuntut balas dan mendendam.

Mungkin Mbah Pucung dengan wataknya yang serba bijaksana dan berpandangan luas menerima pukulan batin itu dengan dada yang lapang, dan meletakkan kejadian itu pada tempat yang sebenarnya. Dia akan menuntut yang berdosa saja, dia akan membunuh serigala yang memangsa kambing saja. Akan tetapi bagaimana dengan murid-muridnya, dan dengan adik-adik seperguruan Mbah Pucung yang berada tersebar dilain daerah? Bukankah dalam waktu yang tidak lama lagi akan terjadi gelombang besar, penyerbuan ke Loning?

Ngeri Kiai Kenistan bersama isterinya membayangkan hal itu. Amarah orang banyak sering berjalan tidak sehat. Windupati yang berdosa dalam hal itu, akan tetapi tidak ada orang yang berani menjamin bahwa perguruan Loning tidak akan mengalami gangguan sesuatu apa.

Memikir hal yang demikian, maka Kiai Kenistan bersama isterinya bermaksud menjumpai Mbah Pucung untuk melaporkan berita itu, sekaligus juga mencari jalan penyelesaian yang lebih baik. Untuk itu, maka setelah berpesan kepada Walikukun agar membawa anak buahnya kembali ke Gunung Gajah, mereka sendiri berdua lantas menuruni mulut jurang Pencuci Dosa.

Seluruh keadaan dan kejadian yang dialami Alap-alap Gunung Gajah semua telah dipaparkan jelas kepada Walikukun. Dan Kiai Kenistan suami isteri menganggap bahwa penyerbuan ke Loning harus dibatalkan. Tidak perlu. Ki Cucut Kawung sendiri telah turun tangan. Orang-orang Gunung Gajah tak perlu membuka pintu persengketaan yang belakang hari akan menyebabkan timbulnya gelombang perang besar.

Walikukun dengan hati yang tidak puas telah membawa pasukannya kembali keperjalanan menuju markas Gunung Gajah. Sedangkan Kiai Kenistan dan Nyai Kenistan telah mulai menuruni mulut jurang.

X

X X

SETELAH kira-kira dua jam lamanya Pepriman menguras tenaganya menggentarkan jalan darah dalam tubuh. Kiai Teger, maka pemuda itu telah menjadi luar biasa letihnya, seakan sudah habis tenaganya terkuras. Pada jidat dan seluruh mukanya bahkan setiap ujung rambutnya, tampak berkeringat membulat besar-besar bergantungan. Wajah pemuda itu putih puncat bagai kertas, dan hawa yang keluar dari sekitar badannya terwujud seperti selapis kabut dua warna merah dan putih.

Kabut dua warna itu kian lama kian menebal, dan membungkus tubuh si pemuda seakan-akan sebuah patung yang diselimuti salju di senja hari.

Racun pacet wulung yang beredar dalam darahnya keluar bekas luka yang kena tusukan jarum, tampak sebagai pancuran kecil warna hitam yang merupakan darah keracunan itu.

Beberapa lama Pepriman terus mendorongkan tenaga sakti kedalam tubuh ayah angkatnya, maka makin banyak darah hitam busuk yang mengucur keluar melalui bekas tusukan jarum itu.

Demikianlah sedikit demi sedikit tubuh bagian kiri Kiai Teger yang semula berwarna hitam gelap itu berangsur menjadi putih kembali, putih, untuk kemudian bersemu merah sebagaimana kulit manusia biasa.  

Rupanya, racun jahat yang mengendap dalam tubuhnya itu belum menyerang jantung, berkat pertolongan keempat tokoh sakti sahabat guru Blimbingwuluh itu yang telah berusaha menghalangi beredar majunya racun itu.

Namun keempat orang sakti itu memiliki hawa batin yang serupa, yaitu panas atau warna merah belaka. Sehingga racun pacet wulung sendiri yang pada dasarnya memiliki dua sifat panas dan dingin itu, tidak dapat mereka usir keluar, walaupun mereka telah berusaha sampai lima tahunan lebih.

Racun pacet wulung dari Dewi Cundrik siluman Guha Gempol itu, memang kecuali ganas sekali daya kerjanya, juga amat sulit dicari penolaknya, bahkan boleh dibilang hampir tidak ada.

Racun pacet wulung itu, dibaut oleh Dewi Cundrik dari ramuan segala racun dan bisa, yang disuntikkan kedalam pacet merah yang memang dipelihara oleh wanita itu. Dengan adanya berbagai racun dan bisa ataupun kotoran yang dimasukkan kedalam tubuh lintah merah itu, maka binatang yang sebenarnya sudah memiliki dasar racun itu lantas mati, dan berubah warna menjadi hitam.

Selanjutnya, bangkai lintah itu dimasukkan kedalam sebuah guci yang ditutup rapat untuk kemudian dipanggang diatas perapian besar, hingga kemudian bangkai lintah itu berubah menjadi arang. Setelah itu barulah untuk waktu yang tak terbatas, guci itu ditanam dalam tanah, diambil hanya pada waktu wanita itu membutuhkannya.

Itulah sebabnya, maka sebenarnya binatang yang hidup dan bernama pacet wulung itu tidak ada. Dun ilmu meramu racun jahat seperti ini, diperoleh Dewi Cundrik sejak masa mudanya, ketika ia menjadi murid seorang nenek sakti dari Seberang, yang dijuluki Nini Dewi Podang atau lebih terkenal dengan sebutan Ninik Arak-arak (Baca kisah Sejengkal Tanah Si Geseng).

Dengan ilmu sakti Jangkar Bumi Pepriman dapat mengusir racun itu walaupun sebagian masih tertinggal karena racun itu terlalu lama bekerja lagi pula Pepriman sendiri sedang menderita luka, apa pula ilmu sakti Jangkar Bumi yang dimilikinya belum mencapai kesempurnaan.

Namun begitu, tak lama antaranya, tampak tubuh Kiai Teger berkutik, untuk selanjutnya guru itu membuka matanya. Sekujur tubuhnya terasa sangat nyaman, seluruh rasa sakit, pedih, nyeri, ngilu dan gegremetan seperti digigiti ribuan semut, telah hilang, bertukar dengan rasa lapang dan juga lapar.

“Ketika mencoba napasnyapun sudah agak lega, maka Kiai Teger menghela napas, sambil mengawasi keadaan sekelilingnya. Justeru pada saat itulah ia melihat seorang pemuda yang duduk bersila disisinya, pemuda itu rambutnya riap-riapan, mukanya pucat seperti mayat, akan tetapi mulutnya berlepotan darah. Sedang pakaiannya penuh dengan tambal-tambalan dan robek-robek mirip seorang pengemis terlantar. Pada saat itu, pemuda tersebut memejamkan mata, sehingga Kiai Teger tidak dapat melihat bahwa mata pemuda itu sendiri saat itu telah kehilangan tenaga untuk mengeluarkan cahaya.

Ketika pandangan matanya bertemu dengan seorang kakek berkulit warna perunggu yang tersenyum kearahnya, maka Kiai Teger tahu bahwa kakek itu adalah Mbah Pucung sahabatnya sendiri.

Kiai Teger berusaha hendak bangkit, akan tetapi Mbah Pucung mencegahnya, dan menasehati agar tetap terbaring dulu.

Kiai Teger bermaksud untuk menanyakan siapa adanya pemuda jembel yang berada didekatnya itu. Ia baru membuka mulutnya untuk bertanya, ketika pada saat itu juga, si pemuda yang sejak tadi duduk bersila dengan nafas tersengal-sengal itu bangkit berdiri perlahan-lahan. Kemudian memutar tubuh dengan lambat, lalu melangkah terhuyung kedepan dengan kaku seperti mayat untuk selanjutnya terdengar bunyi bergejubyar, kiranya ia telah mencebur kedalam sungai bawah jurang.

“Bledug!” Mbah Pucung berseru seraya melompat kedepan, tubuhnya melayang cepat

menyambar, akan tetapi tubuh si pemuda telah terbawa arus kali.  

Dengan kepala tunduk, Mbah Pucung memandangi air kali bawah jurang yang tidak diketahuinya kemana ia bermuara. Dan entah bagaimana nasib pemuda itu selanjutnya. Mbah Pucung tak sanggup menerkanya.

“Kakang Pucung kau memanggil nama Bledug?” Tanya Kiai Teger dengan suara lambat.

Mbah Pucung mengangguk kemudian berjalan menghampiri.

“Jadi diakah yang telah menolongku?”.

Mbah Pucung diam. Tetapi jelas dari pandangan sinar matanya terlukis suatu sikap tak berdaya.

“Ahhh...” Kiai Teger mengeluh. Terdengar napasnya menghempas, selanjutnya ia pingsan

kembali.

Setelah beberapa lama Mbah Pucung manggut-manggut tubuhnya, Kiai Teger tersadar lagi.

Sebuah mata telah membutir pada sudut matanya.

“Kau menangis Teger?”

Kiai Teger diam. Terlalu banyak yang hendak di ucapkannya, akibatnya tidak sepatah juga yang keluar dari mulunya.

“Menyesal sekali sdalah kami berempat yang tidak mampu memberi pertolongan secara sungguh-sungguh kepadamu Teger. Dengan terpaksa sekali aku tidak dapat menghalangi maksud baik pemuda itu. Ahhh.. dia begitu sungguh-sungguh ingin menghaturkan sedikit kebaikan untukmu yang kami berempat tidak mampu melakukannya, apakah itu kesalahan bagiku?” Kata Mbah Pucung.

Sunyi sekali suasana di dasar jurang itu. Hanya selang-seling suara titik air yang menetes dari beberapa tumbuhan merambat yang berbunyi sangat lemah mengisi kesunyian itu, sehingga justeru bertambah-tambah sepi tenaga.

“Kakang Pucung, siapakah sebenarnya yang bersalah, hingga kalian para sesepuh mengorbankan sekian banyak waktu, tenaga dan pikiran untuk aku yang sebenarnya sudah tak berguna lagi?” Tanya Kiai Teger kemudian.

Setelah diam beberapa saat, Mbah Pucung menjawab :

“Tidak ada Teger, tidak ada! Adalah keyakinan belaka yang menyebabkan kami berempat membawamu kemari, dan merawatnya sebisa mungkin. Keyakinan bahwa kau tidak bersalah, Bahwa kau berada dipihak yang benar!”.

“Semua perbuatan dan usaha untuk meyakinkan kebenaran, tidak pernah salah, kakang Pucung. Mungkin usaha itu bisa gagal, akan tetapi hal itu boleh terjadi untuk sementara. Pada saatnya nanti, ia akan tetap unggul, dimenangkan oleh Kodrat! Tetapi kakang Pucung...” beberapa saat Kiai Teger diam, agaknya menyusun kalimat yang hendak diucapkannya.

“Usaha bajik menuju kebenaran akan berhasil, memang. Namun apabila usaha bajik itu dilaksanakan dengan sebuah tenaga dosa, apakah tujuan bajik itu masih dapat digolongkan pada kebaikan lagi?”.

Mbah Pucung mengerti. Ia tahu, bahwa yang dimaksudkan oleh Kiai Teger adalah pertolongan orang yang berdosa... tentu yang dimaksud adalah Joko Bledug... yang telah memenangkan usaha kebaikau itu. Menurut aturan orang gagah dalam dunia persilatan, terutama golongan persilatan Suci Hati seperti perguruan Blimbingwuluh, setiap tujuan baik haruslah dilaksanakan dengan cara yang baik dan ditangani oleh orang yang baik pula.

Akan tetapi timbul sebaliknya suatu pertanyaan. Seorang maling budiman, yaitu maling yang membagikan hasil curiannya kepada orang-orang yang sengsara hidupnya, masih dapatkah itu disebut sebagai kebajikan?  

Mencuri itu jelas sebuah kejahatan. Dan membagi-bagi harta benda kepada orang yang kekurangan itu adalah kebajikan. Terang cara ini bertentangan kebajikan murni yang dituntut oleh golongan kaum lurus sebagai Kiai Teger itu.

Mendadak saja, Mbah Pucung teringat akan pertanyaan Joko Bledug yang terakhir, yaitu

sebuah pertanyaan : “Beranikah Mbah Pucung menyebut dirinya tak berdosa?

Tergetar hati kakek itu. Yang Maha Suci adalah Tuhan. Dan selama seseorang disebut sebagai mahluk, dapatkah mengaku dirinya tidak pernah melakukan suatu kedosaan? Akan terlalu sombonglah ia, bila ia berani menyebut dirinya demikian.

Dan kenyataan adalah pertanyaan si pemuda yang demikianlah yang membuat Mbah Pucung tak berdaya menolak pertolongan pemuda itu.

“Teger...”, kata Mbah Pucung kemudian “Perguruan Suci Hatimu berpegang teguh pada ikatan Kodrat! Nah, kodrat itulah yang telah membuatmu dari siksaan racun pecet wulung. Saat ini, kupikir kau lebih baik merawat ‘rumah jiwamu’ yaitu tubuhmu, untuk selanjutnya soal dosa-dosa dan kejahatan bekas anak angkatrnu itu bisa kita bicarakan dikemudian hari.

Terlampau banyak yang dipikirkan oleh Kiai Teger dalam saatnya baru hidup kembali itu. Ia tak mampu menyangkal nasehat sahabat tuanya itu dan selanjutnya ia tinggal diam.

Mendadak saja, sedang Mbah Pucung terdiam antara berpikir dan berangan-angan, terdengar olehnya suara daging yang terbacok, dan ketika kakek itu menoleh, terlihatlah olehnya paha Kiai Teger telah terpisah dari gembungnya, sedang ditangan guru Blimbingwuluh itu masih terpegang sebatang golok yang berdarah.

“Tegeeerrr!” Mbah Pucung menjerit kaget, akan tetapi kaki kiri yang terbacok itu justeru telah

terlepas dari badan, tak mungkin disambung lagi.

Dan terlihatlah Kiai Teger yang memejamkan mata menahan sakit, dengan bibir tersenyum tampaknya ia sudah pingsan kembali.

Cepat-cepat Mbah Pucung mengurut beberapa tempat dibawah pinggang kawannya itu. Dan darah yang semula menyemprot keluar itu, dengan segera berhenti mengalir keluar.

Bukan main haru dan sedihnya kakek tua ini, melihat orang yang dikaguminya itu kini sudah tapa daksa, berkaki satu. Hampir-hampir ia menangis menyaksikan kejadian yang terlampau mengerikan itu. Akan tetapi, ketika terlihat oleh sesuatu pada kaki yang terbuntung itu, si kakek balik tersenyum.

Kiranya kaki kiri Kiai 'Feger yang kini terlepas itu sedikit demi sedikit berubah menghitam. Mula-mula jalan darahnya belaka yang menghitam, lama kelamaan seluruhnya hingga kekulit jadinya hitam semuanya. Dan Mbah Pucung sadar, bahwa sisa racun pacet wulung memang masih pada kaki itu.

Cepat-cepat Mbah Pucung mengubur kaki buntungan itu dengan hati lega. Sambil duduk menghadapi timbunan tanah kuburan kecil itu, si kakek bersyukur kepada Tuhan. Mungkin Kiai Teger membacok kakinya karena dimaksudkan ia tak sudi menerima budi pertolongan anak angkatnya, akan tetapi hal itu justeru membawa kebaikan.

Dengan buntungnya kaki itu, bukankah berarti sisa racun telah habis terbuang? Sebagai dinyatakan didepan karena tenaga batin dalam diri Joko Bledug belum mencapai tingkat sempurna, tentulah tidak dapat ia membersihkan seluruh racun itu. Dan racun itu justeru tertinggal dibagian bawah tubuh sebagai kaki itu. Dengan dibuntunginya kaki itu, bukankah lebih baik?

Kegembiraan kakek itu memang beralasan, dan tidak selang beberapa saat tampak Kiai Teger telah bangkit duduk. Mbah Pucung menghampiri untuk membalut luka bekas bacokan itu.

Hari itu, Kiai Teger benar-benar telah dapat memperoleh kesehatannya kembali. Ia makan dengan lahap, hidangan yang dipersiapkan oleh Mbah Pucung, sehingga dalam waktu tidak lama semangatnya berangsur pulih kembali.  

Pada hari itu pula, Kiai dan Nyai Kenistan telah datang kembali sehingga rasa sedih pada mereka semakin berkurang.

Tubuhnya yang semula tinggal tulang dan kulit, kini berangsur segar, dagingnya berisi dan bertenaga. Maka dua minggu kemudian, Kiai Teger telah dapat berrjalan-jalan walaupun dengan loncat-loncatan.

Akan tetapi mereka menduga bahwa sudah terlalu lama terasing dari dunia ramai. Perubahan yang terjadi dikalangan rimba persilatan sudah terlalu banyak yang tidak mereka ketahui. Dan juga karena di dorong oleh kerinduan hidup pada dunia ramai, maka merekapun meninggalkan itu!

X

X X

MUSIM kering telah lewat! Langit selalu mendung dan hujan mulai turun beberapa hari terakhir ini. Pepohonan yang semula tampak layu, mulai pulih segar kembali. Dedaunan menghijau segar, dan cabang ranting yang semula gundul menumbuhkan tunas baru seolah-olah memberi napas baru pada kehidupan.

Dalam perhitungan panata-mangsa disebut orang dengan istilah mangsa kelima (musim kelima) yang lazim pula dengan kesuburan baru itu disebut dengan bahasa yang indah sebagai ‘pancuran emas sumawur ing jagat’ penanggalan Masehi, kira-kira bulan Oktober.

Pantai utara pulau jawa yang bulan yang lalu tampak sebagai tanah gersang dan musim layu, kini berseri kembali. Bapak tani turun kesawah dan ladang menabur benih menanamkan harapan.

Pada jarak kira-kira, setengah hari perjalanan disebelah barat laut kadipaten Pemalang, terdapat sebuah desa Tanjungsari. Ya, sebuah perkampungan nelayan, tetapi juga terdapat banyak sawah ladang, dimana para nelayan itu sekembalinya dari bakerja menangkap ikar. turun bercocok tanam.

Pada tepi dusnn yang membatasi wilayah kadipaten ini dengan wewengkon kadipaten Tegal, terdapat beberapa warung besar, yaitu warung-warung yang juga dipakai sebagai penginapan dan rumah tinggal.

Sebagai biasa, pada musim ini, nelayan-nelayan berpenghasilan baik. Dan tidak sedikit para nelayan mudanya yang pergi mengunjungi warung itu, karena ditempat itu tersedia pula perempuan-perempuan yang biasa menjual diri mencari nafkah dengan cara membasahi bibir dan memerlukan suara rayuannya.

Hari itu, adalah hari along (banyak hasil ikan), dan warung Tanjungsari sejak pagi ramai dengan pengunjung yang pergi datang untuk mencari hiburan, sebab kecuali adanya perempuan- perempuan murahan itu, juga sebuah tanah lapang diadakan orang beberapa macam potongan seperti sintren, tayuban dan wayang kulit.

Kira-kira tengah malam, sedang pertunjukan tiba-tiba pada saatnya mencapai puncak keramaian, dan warung penginapan dipenuhi dengan pasang-pasangan orang yang senang pelesiran, tampaklah sebuah kereta tua yang di kusiri oleh seorang lelaki setengah tua melencur sangat cepat dari arah barat.

Kereta itu tertutup oleh tirai berwarna biru, agaknya dalam kereta ada isinya. Kuda yang menarik kereta itupun gagah sekali, seekor kuda hitam yang tinggi besar dan sehat.

Yang sangat menarik perhatian orang, adalah kusir itu, yang agaknya adalah orang asing daerah ini. Lelaki itu tubuhnya kekar dan mukanya kasar. Menarik sekali rambutnya dikonde seperti wanita dan tidak mengenakan ikat kepala, Kecuali itu, ia mengenakan anting-anting pada kupingnya, juga dilehernya melingkar sebuah kalung besar yang terbuat dari buah kemiri. Apabila orang melihat pada kumis lelaki kusir itu maka orang teringat pada tokoh Setiaki dalam pewayangan, dimana kumis keliwat besar dari pada ukuran mukanya.  

Tiba didepan sebuah warung, maka kusir itu menghentikan keretanya, Lalu tanpa turun dari tempataya duduk, lelaki itu berseru dengan suaranya yang besar mengguntur sambil menggoyangkan lengannya yang mengenakan gelang tembaga beberapa buah.

“Pelayan!”

Seorang pelayan sebuah warung, yang sejak tadi melongo memandang kearah kusir itu, berlari gopoh menghampiri sambil tertawa. Sudah pasti dikepalanya terbayang sebuah persen yang besar.  

Tanpa menghiraukan pelayan yang bersikap terlalu hormat itu, kusir tadi berkata :

“Katakan kepada majikanmu, kosongkan semua kamar!”

Mendengar kata-kata kusir itu, si pelayan tadi terheran-heran. Jumlah kamar dalam penginapan warung itu, tidak kurang dari tigabelas kamar, yang hampir semuanya telah terisi orang menginap ataupun orang yang sedang bersenang-senang. Kusir itu hanya seorang penumpang kereta kalau toh ada, paling banyak juga antara dua atau tiga orang, buat apa mengosongkan semua kamar.

Mengingat bahwa sikap orang itu yang tidak menyenangkan, maka si pelayan berubah tidak terlalu hormat kepadanya. Dan sambil hendak melangkah pergi, menjawab.

“Kamar sudah terisi semua!”

“Aku bilang kosongkan semua!” Kusir itu tiba-tiba membentak, dan tangannya bergerak kedepan. Tahu-tahu pelayan yang tadi hendak pergi itu, berjalan mundur kebelakang dengan gopoh sampai menubruk kereta.

Orang-orang yang melihat kejadian itu mengira pelayan itu sedang melawak, maka mereka tertawa. Padahal, apa yang dirasakan oleh pelayan itu justeru adalah sebaliknya. Tahu-tahu ia merasa tengkuknya sangat nyeri, seperti dijepit tang baja, dan tubuhnya diseret kebelakang hingga menubruk roda kereta. Pelayan itu jadi ketakutan, dan mulutnya meringis menahan sakit.

“Ampun gusti... aku cuma orang suruhan...” pelayan itu menggigil takut dan menahan sakit.

Kusir itu masih memegangi tengkuk si pelayan, berkata dengan nada dingin :

“Suruh majikanmu mengusir semua tamu! Pergi!”

Bersamaan dengan terdengarnya perintah pergi, maka tubuh pelayan itu meluncur maju seperti didorong, tahu-tahu ia telah melabrak dinding warung, hingga ia jatuh tersungkur dengan hidung berdarah.

Mendengar kegaduhan itu, maka majikan atau pemilik warung bergegas keluar, untuk menjumpai dan menegur pelayanya yang dikira kurang baik memberikan pelayanan.

Akan tetapi belum sempat majikan itu menegur pelayannya, terdengar suara gemerincing nyaring mengejutkan, disusul dengan melayangnya beberapa gelang tembaga yang menancap kedinding, disebelah kepala majikan warung itu.

Si majikan terperanjat dan ketakutan. Dilihatnya empat buah gelang tembaga menancap didinding warung itu, yang membentuk sebuah bintang bersegi empat, seperti bentuk mata angin.

“Catursuda... Catursuda...!”.

Terdengar majikan warung itu mengeluh, dan orang-orang yang melihat gelang-gelang tembaga itu menyerukan sebuah nama, Catursuda, dengan nada dan roman muka yang menunjukkan rasa ngeri.

Catursuda adalah nama seorang pertapa sakti, tukang teluh yang hidup didalam hutan lereng gunung Slamet! Semua orang hampir mengenal nama itu, sebagai nama yang sangat menakutkan, karena kabarnya pertapa sakti itu dapat membangkitkan sebuah wabah yang mengakibatkan kematian besar-besaran disuatu daerah. Suatu daerah yang terkena wabah Catursuda itu, setiap hari akan mengalami kematian empat orang-empat orang, dan kata orang, tak pernah ada obat penawarnya lagi.

Celakalah sebuah daerah yang didatangi tukang teluh itu, demikianlah pikir orang saat itu. Sehingga dengan adanya tanda gelang didinding itu, maka tanda disuruh sekalian penghuni rumah penginapan itu, yang makan-makan, yang bersenang-senang, yang sedang berdua dikamar, ataupun kebetulan yang berada di situ, berhamburan pergi dengan ketakutan.

Bahkan dengan adanya kegaduhan itu, ketakutan menjalar dengan cepat. Di sana-sini terdengar bisik-bisik orang, yang gugup dan ngeri, maka selanjutnya seperti orang dikomando warung-warung yang lain pada menutup pintu. Semua pertunjukkan buru-buru menghentikan keramaian, dan tidak berapa lama kemudian, sekitar tempat itu menjadi sunyi.

Pemilik warung itu, dan sekalian pelayannya, entah pergi kemana, semuanya menghilang.

Tentunya mereka sengaja menjatuhkan diri, menyelamatkan diri dari wabah Catursuda.

Begitu hebatnya pengaruh nama Catursuda, sehingga walaupun baru mendengar namanya saja, orang sudah hampir mati karena ketakutan.

Setelah melihat tempat itu menjadi sepi, maka kusir itu membawa keretanya memasuki halaman penginapan. Didekatnya pintu kereta kedepan pintu penginapan, maka dari balik tirai yang berkilauan itu tampak sesosok, bayangan yang menerobos keluar, melayang kearah dalam rumah penginapan.

Sosok bayangan tadi kiranya adalah seorang kakek tua bongkok yang kini duduk bersila diatas meja makan. Memiliki bentuk tubuh dan raut mukanya, kakek itu berusia sekitar delapan puluhan tahun. Mukanya menyeramkan buruk sekali. Dahinya lebar tetapi matanya kecil sipit, seolah-olah hampir terpejam. Akan tetapi sinar matanya sangat tajam, berkilat-kilat seperti mata pisau. Hidung besar dan pesek, amblas pangkal hidungnya, hingga ujung hidungnya yang lebar dan menyendul itu seperti katak nongkrong. Mulutnya rusak mungkin bekas korengan, sehingga beberapa giginya kelihatan dari luar karena bibirnya sobek disana sini.

Melihat pakaiannya, memang kakek itu seperti seseorang pertapa. Apalagi dengan sikap duduknya bersila itu, benar-benar menggambarkan bahwa dia seorarg jago bertapa.

Kusir bertubuh kekar itu kini telah bersimpuh dilantai, bersila menghadapi si kakek yang bersila diatas meja itu.

Mereka tidak bercakap-cakap, hingga penginapan besar itu seperti rumah kosong tak berpenghuni.

Selang beberapa lama, barulah kakek bongkok itu membuka mulut.

“Kau ringkus tikus diluar itu Bala!”

Mendengar perintah yang mendadak itu, kusir itu melengak. Ia tidak mendengar sesuatu, akan tetapi majikannya justeru menyuruh dia menangkap orang.

Kiranya kusir itu cuma seorang cantrik (bujang) dari si kakek bongkok itu. Walaupun ia tidak mendengar sesuatu, tetap saja dengan sepatuh ia melompat keluar warung.

Pada saat itu, diatas atap rumah itu terdengar suara berdesir seperti berdesirnya angin lalu. Telinga kusir yang bernama Bala itu tidak dapat mendengar suara yang sangat lemah itu, sebaliknya si kakek bongkok yang bersila diatas meja cukup paham bahwa suara yang terdengar diatas rumah bukanlah suara angin, akan tetapi suara langkah seseorang yang berilmu kepandaian tinggi.

Ternyata si kakek tidak meleset sama sekali. Baru saja Bala keluar pintu warung, maka dari atas wuwungan rumah tampak melayang turun sesosok bayangan hitam yang sangat ringan sekali gerakannya. Dan begitu bayangan itu mendarat dihalaman rumah, langsung melancarkan serangan.

Bala ternyata sangat tangkas. Begitu terasa kesiur, angin serangan menyambar kearahnya, ia telah melompat minggir sambil mengebaskan tangan kebelakang.  

Bret! Terdengar suara kain robek. Bala terhuyung kedepan, sedang orang yang baru datang langsung menyerang itu tertawa berkakakan. Pada kipas yang terpegang orang ini, tampak secabik kain baju yang berkibar ditiup angin. Sedang lengan baju Bala telah robek selebar kira-kira setengah jengkal, sehingga menampakkan lengan itu yang besar berbulu-bulu lebat.

Bala terkejut. Tenaga pengebas yang dilancarkannya tadi tidak kurang kekuatannya untuk menggebuk mati seekor kerbau. Tetapi lawan kiranya lebih hebat, pukulan itu dapat dipunahkan sekaligus, bahkan kain baju telah dibuatnya robek.

Merasakan kelihayan lawan, Bala merasa keder juga. Akan tetapi ia ingat bahwa masib ada majikannya di tempat itu, maka ia tak perlu berkecil hati lagi. Segera ia membentak bengis.

“Siapa berani menjual lagak didepan cantrik padepokan Catursuda?” Dengan mempergunakan Catursuda Bala mengharap lawan tak dikenal itu akan menjadi jeri. Tidak diduga, orang dengan kipas ditangan itu bahkan tertawa bergelak. Suara tawanya sangat nyaring, agaknya sengaja berbuat demikian untuk menyindir kakek bongkok yang berada didalam rumah penginapan itu.

“Cuma seorang cantrik!” Kata orang dengan kipas ditangan itu. “Cepat majikanmu suruh

keluar menampakkan diri!”

Bala lebih terkejut, demi ia memperhatikan kipas yang berada ditangan lawannya. Kipas itu tampak dikembangkan sekarang, maka terlihatlah gambar seekor ular hitam yang sedang menelan sebuah bukit. Gambar itu terlukis demikian indah dengan sulaman benang warna yang berkilauan, sehingga walaupun hanya sejenak terlihat, akan tetapi Bala segera dapat mengenalnya.

“O, kiranya yang mulia Sri Naga Dumung yang datang ” Berubah sikap cantrik Catursuda

itu, membungkuk hormat sambil menunjukkan sikap yang jeri.

“Ya, aku Naga Dumung! Katakan pada majikanmu bahwa aku menunggu disini!” Sahut orang

bersenjata kipas itu.

“Tak perlu! Aku sudah datang!” dan entah sejak kapan kakek bongkok itu bergerak tahu-tahu ia telah berada didalam kereta kembali, menjawab sambil tertawa bergelak.

Adapun orang yang menamakan dirinya sebagai Sri Naga Dumung itu, usianya masih baya, kira-kira empat puluhan tahun. Tubuhnya tinggi kurus dengan wajah putih dan tampan. Sayangnya bibirnya yang hitam karena terlalu banyak minum candu itu, selalu menyunggingkan senyuman yang mengejek.

Seraya mengipas-ngipas dadanya, Sri Naga Dumung berkata, nadanya perlahan, akan tetapi terdengar nyaring dan bergema.

“Dari lereng gunung Slamet, Agung Catursuda telah turun hingga kedaerah pesisir ini, tentulah membawa urusan penting. Aku Naga Dumung tak suka mencampuri urusan orang, akan tetapi melihat penduduk yang ketakutan jadi timbul kegembiraanku untuk menyaksikan kehebatan ilmu teluh Gunung Slamet yang kabarnya dapat menandingi kekuasaan Dewa!”.

Nada ucapan Naga Dumung ini terdengarnya ramah dan bersahabat, akan tetapi bagi Bala ataupun si kakek bongkok yang berada dalam kereta itu, yang sebenarnya memang Catursuda, ditanggapi sebagai sebuah tantangan.

Dan terdengar suara mendengus dari dalam kereta.

Sri Naga Dumung adalah seorang pengembara atau seorang petualang, namanya dikenal orang sebagai begal tunggal yang menguasai belahan hutan sebelah selatan pegunungan.

Kabarnya, Sri Naga Dumung ini sangat tenar nama diwewengkon Banyumas sebelah utara dan Kedu sebelah barat, sebagai seorang penyamun yang bebas malang melintang menjalankan rolnya, tanpa pemerintah Mataram dapat menanpkap atau mengalahkannya.

Apabila tokoh penyamun inipun telah datang berkunjung kebelahan tanah pesisir utara, maka suatu pertanda bahwa keamanan dan ketenteraman wewengkon itu bakal menemui gangguan hebat.  

Rupanya Catursuda sendiri belum dapat menjajagi sampai dimana ilmu kepandaian begal itu. Dan sebagai orang tua yang sudah kenyang dengan pengalaman dalam dunia rimba persilatan, ia takkan mau berbuat gegabah.

“Catursuda tidak biasa berjalan dengan kaki, bekerja dengan tangan. Dengan tajamnya lidah, dunia kecil ini toh dapat digengam dalam kepalan, mengapa kita harus saling pamer kebodohan, sahabat Naga Dumung? Apakah tidak lebih baik kita bertukar pikiran, berbicara tentang perburuan dan padang penyimpanan?” Terdengar jawaban dari dalam kereta. Dan walaupun kalimat-kalimat itu diucapkan dengan suara mendesis-desis seperti ular, namun terasa menggetarkan daun telinga. Orang-orang yang berilmu lumrah saja tidak mustahil akan menderita luka hanya mendengar suara itu saja.

Hal ini dilakukan oleh Catursuda rupanya untuk mengimbangi ilmu serangan dengan mempergunakan suara. Kalau tadi suara Naga Dumung terasa berat menekan seperti beban ratusan kati, sebaliknya suara pertapa gunung Slamet ini terasa menusuk-nusuk sangat tajam.

Pertandingan adu kekuatan ulon (suara) itu berjalan dengan seimbang. Naga Dumung tersenyum keningnya berkerut setelah itu barulah ia tertawa sambil berkata mengejek.

“Benar kata orang kau lumpuh, Catursuda?” Tawa Naga Dumung semakin keras. “Terhadap orang yang cacad, tentu saja aku tak dapat berlaku ladak...”

Sambil berkata demikian maka Sri Naga Dumung berkelebat masuk kedalam rumah penginapan. Tetapi belum juga ia mengambil tempat duduk disebuah kursi, terasa ada kesiur angin melintas. Dan untuk selanjutnya tampak Catursuda telah duduk membongkok diatas meja, ditempat tadi dia duduk bersila.

“Bagus! Naga Dumung berseru memuji. Catursuda tertawa.

“Tak perlu juga banyak memuji sahabat!” Kata Catursuda. “Kita telah sejak lama mengagumi

nama masing-masing. Ini hari kita bertemu apalah jeleknya kalau kita berkenalan...”

Begitu mengakhiri kata-katanya, maka Catursuda mengulurkan tangannya seperti orang hendak berjabatan tangan. Jarak antara tempat bersila kakek bongkok itu dengan Naga Dumung, tidak kurang dari satu tombak. Akan tetapi Naga Dumung melihat tangan kakek itu telah berada didepan mata, walaupun kakek itu sama sekali tidak menggeser duduknya.

Sebuah pertunjukan ilmu kesaktian yang mengagumkan, dan diam-diam dalam hati Naga Dumung mengagumi pula kesaktian kakek bongkok itu. Tetapi tentu saja Naga Dumung tak sudi dikalahkan dalam gebrakan tanpa pertarungan itu, dengan segera iapun tahu bahwa ia harus memberi jawaban dengan cara yang setimpal.

Selanjutnya, ketika tangan kakek bongkok itu terus terulur maju seperti hendak membentur dada si Naga Dumung, maka tahu-tahu kursi tempat duduk Naga Dumung itu mengapung naik dan berputaran.

Cepat-cepat Catursuda menarik kembali tangannya, sebab kalau tidak, kursi duduk Naga Dumung yang sedang meluncur turun kini, dapat menimpak lengan kakek itu. Walaupun andaikata tidak terluka juga, sudahlah dapat dihitung kakek bongkok itu kalah dalam segebrakan.

Catursuda tertawa bergelak, hingga tubuhnya yang kurus dan bongkok itu bergoyang-goyang seperti batang pimping ditepi padang.

“Hebat ilmu sakti Angin Gunung memang bukan nama kosong!” Kata Catursuda masih juga

tertawa.

“Pertunjukan ilmu tenung Lintah Laut hanya terdapat dipedepokan Catursuda. Aku sudah dapat menyaksikan kehebatannya sekarang, dan aku takkan berhenti mengagumi!” sahut Naga Dumung.

“Banyak mulut!” Tiba-tiba Catursuda membentak. “Apa maksudmu sebenarnya?”.  

Naga Dumuug tertawa mengejek.

“Sudah jelas. Kita sama-sama saling mengagumi! Dan sekarang kita dapat berkenalan! Bukankah ini lebih baik, daripada keburu mati penasaran?” Sahut Naga Dumung masih juga tertawa mengejek.

“Kau hendak menjajal aku orang tua?”.

“Itupun kalau kau tidak keberatan haha...” ejekan Naga Dumung makin tajam.

Muka Catursuda berubah merah padam. Dari sela-sela giginya yang mencuat keluar dari mulutnya terdengar suara mendesis.

Tampaknya kakek bongkok itu sudah hendak melancarkan serangan. Akan tetapi mendadak ia menghela napas, dan mukanya kembali terang. Lalu dengan suara bernada tawa, kakek ini berkata, seakan-akan kepada dirinya sendiri :

“Maaf sahabat. Walaupun aku seorarg tua bangka tak berguna, namun aku adalah seorang sesembahan di wilayah gunung Slamet. Terhadap angkatan muda sepertimu mana boleh aku tak tahu diri? Aku mempunyai seorang cundrik. Dan kalau kau dapat mengalahkannya dalam lima jurus, kau boleh berkata kepada dunia, bahwa aku Catursuda telah kau kalahkan.

Bukan main mendongkolnya Naga Dumung mendengar kata-kata kakek bongkok itu. Sedang menurut perhitungan Naga Dumung, walaupun ia belum pernah bergebrak dengan kakek itu, ia boleh berharap tidak akan dapat dikalahkan. Mengapa sekarang ia justeru harus bertanding melawan cantrik?

Kalah terhadap Catursuda, tidaklah akan menghilangkan muka, akan tetapi bagaimana jika sebaliknya ia kena diakali oleh cantrik yang agaknya juga tidak berkepandaian rendah!

Akan tetapi Naga Dumung masih yakin juga! Masakah dalam lima jurus tidak dapat mengalahkan cantrik itu? Dalam gebrakan tadi dihalaman penginapan sudah membuktikan bahwa Naga Dumung boleh tidak usah cemas. Tantangan tak mungkin ditolak! Maka sambil memperdengarkan suara tawanya yang bengis, Naga Dumung telah bangkit dari duduknya tahu- tahu kipasnya telah menjojoh tujuh kali beruntun-runtun kearah Bala yang saat itu telah berdiri disisi meja.

Brakk! Bala yang melihat hebatnya serangan, cepat-cepat menggeser kaki kirinya kesamping, memutar tubuh dengan maksud melancarkan serangan balasan. Meja tempat cantrik itu berdiri, terbelah menjadi tujuh potong. Dan Catursuda tampak menyingsingkan bibirnya, menyengir. Jelas sekali bahwa sekali turun tangan, Naga Dumung bermaksud membinasakan lawan, dengan jurus serangan yang sangat berbahaya itu. Akan tetapi Bala dapat menghindarinya dengan baik. Sehingga dalam kecemasannya, kakek bongkok merasa sedikit bergirang.

Bala sedang memutar tubuh dengan cepat. Tapi saat itu Naga Dumung bernafsu besar untuk merobohkan cantrik itu dalam jurus yang lebih pendek dari lima jurus. Maka sebelum cantrik itu sempat melancarkan serangan balasan, ia harus menjatuhkan dirinya berguling-guling, sebab kipas lawan telah menjojoh sembilan jalan darah dibelakang tubuh.

Sampai berkeringat dingin Bala, waktu ia bangkit melompat dari lantai. Dalam hati ia harus mengakui keunggulan ilmu ‘angin gunung’ yang dilancarkan oleh Naga Dumung. Akan tetapi cantrik inipun bukan seorang cantrik sembarangan. Ia tak sudi merendahkan martabat gurunya, terjatuh dalam lima gebrakan.

Dalam pikiran Bala, masakah gurunya membuat pertaruhan tanpa perhitungan? Dan memang terlalu gegabah Naga Dumung, apabila ia menerima tantangan yang tidak ringan itu.

Belum sempat Naga Dumung melancarkan serangan yang ketiga, maka tampaklah Bala menggigilkan kedua lengannya. Dan tampaklah empat bayangan berwarna kemerahan, melayang cepat secepat anak panah berputar sambil memperdengarkan suara berdengung.  

Keempat bayangan kemerahan itu membuat lingkaran masing-masing kearah empat jurusan yang berbeda-beda. Akan tetapi pada detik berikutnya, keempat bayangan kemerahan itu telah meluncur datang dari empat arah mata angin, utara selatan timur barat, menghantam kearah empat jalan darah Naga Dumung.

Naga Dumung mendengus dingin. Sambil membuka kipasnya, maka ia menggerakkan senjata itu turun naik dengan sangat cepat menangkis. Mulutnya selalu mencibir, hendak melontarkan ejekan.

Terdengar suara berdentang denting nyaring, pertanda senjata-senjata rahasia Bala dapat dikebas runtuh. Akan tetapi mendadak sekali Naga Dumung menjerit kaget sambil melompat kesamping, ketika diluar tahunya senjata rahasia yang datang dari arah barat, tidak runtuh kena sekali kebas. Sebaliknya benda itu berputar membalik, dan tahu-tahu telah menghantam tepat kearah jidatnya.

Walaupun dalam kecepatan geraknya Naga Dumung masih dapat menyelamatkan diri, akan tetapi beberapa lembar rambutnya kena terpapas oleh senjata rahasia itu, yang kiranya adalah gelang-gelang tembaga yang di pakai oleh cantrik itu.

Catursuda memperdengarkan kemenangannya.

“Belum juga tiga jurus!” Bentak Naga Dumung dengan kemarahan yang tambah berkobar. Dan kali ini memperhebat serangannya. Tangan kanan memegang kipas, tangan kiri dengan gerakan serupa cakar burung garuda menyambar kearah kempungan cantrik itu.

Bukan main dahsyatnya tekanan yang dilancarkan ini. Bala seakan terkurung oleh bayangan kipas yang berkelebatan memutar, membentuk bayangan putih setengah lingkaran, menutup setiap gerak bagi lawannya untuk meloncat keluar.

Tampaknya pada jurus ketiga ini, Bala tentu akan dapat dirobohkan. Akan tetapi Catursuda tampak menggoyangkan kepala sambil mendehem. Dan pada detik yang sangat berbahaya itu, tahu- tahu Bala mengangguk-angguk seperti burung engkuk, dan kedua anting-anting telinganya yang besar-besar itu, mendadak lepas dari tempatnya, menyambar dengan kecepatan kilat kearah telapak tangan kiri Naga Dumung, sedangkan yang satu lagi menghantam ulu hati.

Nyata disini, bahwa apabila Naga Dumung melanjutkan serangannya, tak luput tangan kirinya akan hancur, sementara jiwanya sendiri tentu akan melayang, walaupun Bala itu sendiri pasti binasa dengan tubuh hancur. Akan tetapi mana Naga Dumung kesudian roboh ditangan seorang cantrik belaka?

Secepatnya Naga Dumung menarik kembali kedua serangannya, dan kipasnya mengebut. Anting-anting yang menyambar kearah ulu hatinya, kena terkebas hingga selanjutnya benda itu sambil mengaung menyambar kearah Catursuda yang sedang duduk menunduk seperti orang yang mengantuk.

Catursuda membuka matanya yang sipit sambil berkata tenang seperti tidak terjadi sesuatu.

“Aku tidak ikut-ikut, Naga Dumung! Ingat, sudah tiga jurus, hahahaaa...” Dan apabila Naga Dumung melirik, sekilas ia melihat anting-anting yang tadi dibelokkan kearah kakek bongkok itu, kini telah menyelip diantara kedua jarinya yang kurus berbonggol-bonggol.

“Celaka...”, Naga Dumung mengeluh dalam hati. Tua bangka bongkok itu begitu lihay.

Apabila dia bermaksud keji terhadapnya, agaknya bukan sulit untuk menurunkan tangan kejam.

Dengan pikiran yang demikian, maka semakin keraslah niat Naga Dumung untuk merobohkan cantrik itu dalam lima jurus. Dengan demikian maka ia boleh tidak usah kuatir akan tingkah polah kakek bongkok yang sakti itu.

Naga Dumung tahu, bahwa lawannya sebagai Catursuda yang sangat kenamaan itu, tak mungkin akan mengingkari janji. Namun, pertaruhan tadi belum sempurna, maka perlulah diperbaiki. Katanya :  

“Hai tua bangka! Tinggal dua jurus lagi. Bagaimanakah kalau dia kalah?”

Mendengar pertanyaan itu, Catursuda kembali mempertunjukan sikapnya yang acuh tak acuh yaitu mengantuk.

“Siapa bilang Bala bakal kalah?” kakek bongkok itu tertawa menyindir. “Tapi biar puas hatirnu, baiklah kukatakan. Dia kalah dalam lima jurusmu, maka berarti aku telah kau kalahkan! Dan sebagai orang yang kalah, buat apa aku hidup lebih lama lagi? Aku toh tidak pernah kalah? Dan kalau tidak, masakah aku masih tidak malu hidup sampai sekarang!”

Sungguh merupakan kata-kata yang terlalu menyombong. Dan Naga Dumung yang pada dasarnya memiliki watak terlalu angkuh, semakin terbakar oleh api kemarahannya. Ia semakin bernafsu untuk merobohkan Bala dalam dua jurus berikutnya!

Benar-benar penyamun tuaggal itu lupa, bahwa dengan kemarahan yang tidak terkendali itu, justeru membuat ia kurang hati-hati dan lemah!

Ketika Naga Dumung hendak membuka serangan yang keempat, mendadak Catursuda berseru :

“Tunggu! Haha... kau tidak adil Dumung!”.

“Apanya yang tidak adil?'' Naga Dumung membentak. Dan dadanyapun hampir meledak

karena marah.

“Kau belum menyebutkan taruhanmu!” Sambung Catursuda.

Benar juga memang. Catursuda telah meletakkan taruhannya, yaitu terima mati apabila Bala dapat dikalahkan dalam lima jurus. Akan tetapi sampai sekarang Naga Dumung belum menyebutkan taruhannya sendiri.

Memangnya Naga Dumung sudah hampir pingsan karena marah dan penasaran, kini teringat bahwa sejak tadi Catursuda tidak menanyakan taruhan Naga Dumung. Si raja penyamun itu menganggap bahwa lawannya terlalu yakin akan mendapat kemenangan, maka agaknya sulitlah dilukiskan betapa murkanya si raja penyamun yang berangasan itu.

“Tiga kali akan membunuh diri, kalau aku kalah!” Seru Naga Dumung, menjawab.

“Hahaha... aku jadi ingin melihat bagaimana seseorang dapat menyiksa nyawa sendiri sampai

tiga kali hahaha...”

Andaikata Naga Dumung dapat berpikir sehat, maka seharusnya ia menyadari bahwa sebenarnya sejak tadi si tua bongkok itu sedang berusaha untuk membuat lawan kurang hati-hati karena nafsu amarah. Tetapi rupanya Naga Dumung tidak menyadari hal itu, sehingga dapatlah diramalkan bahwa dalam dua jurus selanjutnya, ia menemui kegagalan.

Naga Dumung sudah tidak mau memperhatikan ejekan kakek bongkok itu. Dan pada jurus yang keempat itu, ia telah yakin akan dapat merobohkan lawan.

Raja penyamun itu, tiba-tiba berubah gerakannya agak melambat, kipasnya digerakkan miring kekiri bergerak mengikuti gerakan kipas itu seperti orang menari.

Tidak terasa ada semilir angin yang berdesir dari gerakan kipas itu, akan tetapi Catursuda yang tampak wajahnya berubah pucat pasi.

Gerakan menari Naga Dumung itu, sebenarnya adalah jurus terakhir dalam ilmu pukulan sakti angin gunung, yang disebut gunung menyapu mega.

Sebenarrya bukanlah gerakan kipas atau tangan kiri Naga Dumung yang berbahaya akan tetapi adalah gerakan lima jarinya yang tersembunyi dibawah kipas, yang akan melancarkan serangan maut.  

Tentu saja Catursuda cemas. Ia tahu bahwa muridnya tidak akan mengenal bahaya yang tersembunyi itu dan menganggap bahwa serangan itu begitu ringan dan sepele.

Apa yang diduga oleh kakek bongkok itu ternyata benar belaka. Pada detik berikutnya, maka kipas Naga Dumung mematuk sangat cepat kearah mata Bala. Bala mendoyongkan tubuhnya, sambil kepalan tangan kanannya digerakan mengarah bawah pusar lawan. Justeru pada detik itulah, tiba-tiba kipas itu berhenti bergerak, dan kelima jari Naga Dumung ibarat lima batang tombak telah menusuk kearah tenggorokan.

Agaknya kagetpun sudah tak ada gunanya lagi bagi Bala, yang saat itu dengan mata terbelalak menerima nasib dengan putus asa. Namun kiranya sang ajal bagi cantrik itu belum tiba waktunya. Dan pada detik kematian itu dari arah luar pintu, tampak meluncur sebuah benda berwarna jingga yang mendesis seperti asap mendesak kelima jari Naga Dumung.

Bret! Kulit leher cantrik itu lecet berdarah, akan tetapi ia tidak terganggu jiwanya, karena tusukan ke lima jari Naga Dumung telah menceng kesamping.

Naga Dumuug berjingkrak saking murkanya. Mukanya merah membara, dan matanya terbelalak seperti hampir lompat dari pelupuknya. Lalu bibirnya yang bergetar itu hendak mendamperat. Akan tetapi agaknya ia tak perlu mendamperat, sebab orang yang telah mengganggu datangnya kemenangan itu kini telah muncul.

Entah sejak kapan datangnya, tampak diatas dua kursi yang mengelilingi meja tempat Catursuda duduk telah bertambah dua orang.

Yang seorang, yang kini duduk menghadap Naga Dumung adalah seorang wanita cantik berusia baya, yang genit selalu senyum-senyum. Sekali pandang, tidak mustahil ada beberara orang pemuda hidung belang yang akan jatuh hati pada wanita itu. Apalagi dari balik kuku jari itu keluar bau amis yang sangat menusuk.

Wanita ini tidak tain adalah ratu Istana Telagasona, atau Guru Guha Gempol, yang ditakuti karena ilmu racunnya yang tiada tandingan, Dewi Cundrik adanya.

Adapun seorang lagi, yang kini  tersenyum-senyum aneh dan tak tentu kepada siapa dia tersenyum, adalah seorang laki-laki tua berpakaian pertapa.

Laki-laki pertapa ini berkulit hitam mukanya buruk dan bengis, terlihat dari matanya yang tajam dan merah, serta hidungnya yang bengkung seperti betet. Dahinya botak, dan rambut yang tumbuh dibagian belakang, keriting bersemu merah. Apabila melihat pertapa itu memiliki lengan yang mengepulkan asap warna jingga, maka segeralah orang mengenalnya, dialah Ki Genikantar, mahaguru perguruan Bantarkawung.

Sambil tersenyurn tak keruan itu, Ki Gerikantar berkata penuh hormat.

“Sahabat Sri Naga Gunung. Agung Catursuda dan cantriknya itu adalah orang sendiri. Di pesisir pantai utara ini, masih hidup mahluk sombong sebagai Ki Cucut Kawung dan Mbah Pucung. Biarlah nanti guru Loning itu menikmati kematian dibawah tenung Lintah Laut, sedangkan tua bangka Pucung itu mati berlubang-lubang oleh tiupan Angin Gunungmu. Bukankah itu lebih menyenangkan kita akan membasmi orang-orang paling sombong diatas bumi ini?” Ki Genikantar menyambung kalimatnya itu dengan tertawa.

Agung Catursuda manggut-manggut, Dewi Cundrik mesem-mesem kearah raja penyamun itu.

Sebalikaya Naga Dumung masih panasaran katanya.

“Untuk apa aku membunuh seorang cantrik? Aku cuma hendak membuktikan bahwa...” “Pada jurus ketiga kau hampir jadi pecundang... hahaha...” Catursuda memotong sambil

tertawa mengejek.

Tentu saja ejekan kakek bongkok itu hampir membikin kelenger si raja penyamun. Dan tanpa dapat mencegah lagi, raja penyamun itu telah melompat, hendak mengeprak muka kakek bongkok itu dengan kipasnya.  

Akan tetapi Dewi Cundrik telah melompat menghadang, seraya tersenyum merdu, wanita itu mendesak maju menghampiri.

“Apakah dihadapankupun kau tidak dapat bertindak lebih sabar, kakang? O, istana Telagasona sepi sekarang. Tentu akan meriah apabila kita menari lagi disana, menghirup tuak sambil bernyanyi semalam suntuk. Masih ingatkah kau pada perkenalan kita dahulu?”

Memang senyum merayu Dewi Cundrik sangat tajam dan adem, setajam sembilu dan seadem- adem salju, terutama untuk lelaki yang berwatak pelesiran sebagai Naga Dumung si raja penyamun itu.  

Selanjutnya si raja penyamun itu cuma mendengus, untuk kemudian dengan tanpa diaba-aba dulu, ia telah bergandengan tangan dengan wanita itu lalu pergi keluar rumah penginapan untuk memandangi bulan di musim semi ini.

Setelah kedua lelaki perempuan itu keluar, maka dengan merubah seluruh roman mukanya, Ki Genikantar berkata penuh kesungguhan :

“Masih ada seorang munyuk yang belum masuk hitungan, yang baru muncul akhir-akhir ini,

adalah...”.

“Alap-alap Gunung Gajah?” Catursuda memotong sambil tertawa menghina.

“Syukur kalau kau telah mengetahuinya. Nyata-nyata bahwa Pucung, Loning, Kenistan dan Gunung Gajah berada disatu pihak, berarti kita menghadapi lawan yang tidak boleh dipandang ringan. Loning dan Pucung sudah pasti dapat diperhitungkan bakal hancur ditanganmu dau Naga Dumung. Kenistan suamt isteri itu, tidak perlu dikuatirkan karena ada aku dan Dewi Cundrik. Akan tetapi, mengenai Alap-alap Gunung Gajah itu...” Ki Genikantar tampak meragu.

Guru Bantarkawung, atau ketua Paguyuban Banjardawa itu tentu saja tidak sedang kuatir tanpa alasan. Ia dan Dewi Cundrik pernah bergebrak selintasan dengan pendekar jembel muda itu, dan nampaknya jago muda itu tidaklah terlalu hebat.

Akan tetapi Genikantar ingat, betapa pemuda jembel itu pernah mengakali hingga ia dan Dewi Cundrik pernah hampir saling gempur dengan sendirinya.

Kecerdasan dan kelicikan jembel itu yang sulit diperhitungkan. Dan... sebenarnya, juga ada sesuatu yang sangat menguatirkan, yaitu ilmu silat pemuda itu yang aneh dan tidak ketahuan asal usulnya itu.

Bicara terus terang, sesungguhnya Ki Genikantar sendiri mengakui bahwa ilmu kepandaian Alap-alap Gunung Gajah tidak lagi dibawah Kiai Kenistan ataupun Ki Cucut Kawang. Dan hal seperti itu, bagaimana tidak membuat dia kuatir?

“Jadi, apakah maksudmu mengundang kami ini cuma hendak memuji-muji kemampuan lawan didepanku?” Catursuda dengan nada tidak senang.

“Maaf, maaf bukan begitu, Agung. Didalam rencana besar kita, segala sesuatu harus diperhitungkan lebih dulu, masak-masak. Aku berharap, mudah-mudahan jembel muda itu ketemu tanding sendiri, entahlah, apakah cantrikmu juga bersedia menyumbangkan tenaga...” 

“Kau ini bagimana Genikantar?” Catursuda agak mencela. “Ku dengar kau juga mengundang Wigendro dari Sindanglaut. Sebagai seorang calon adipati, masakah patut kau berpikiran bimbang seperti itu. Aku tidak menghendaki sesuatu dalam urusan ini kecuali mengumpulkan kekuatan untuk melawan tentara Mataram. Asalkan setiap gerak-gerik dari kalangan keraton selalu dapat kau awasi, apalagi yang harus dibuat cemas? Bukankah tau telah mengajar adat anak buah jembel muda itu, diselat Pencuci Dosa?”

Kata-kata mengajar adat dan selat Pencuci Dosa itu, mengingatkan Ki Genikantar justeru pada kekalahan pihaknya sendiri. Kemunculan Ki Cucut Kawung dan suami isteri Kenistan dari bawah jurang, membuat Genikantar yang bermaksud mengajar adat pada laskar-laskar Walikukun, jadi berbalik kena terajar adat. Tidak kecil korban jatuh dipihaknya, dan hal ini tentu saja takkan dikatakan oleh Genikantar!

“Dari pertempuranmu waktu itu, tentulah kau dapat mengukur dengan jari kelingkingmu, betapa laskar Gunung Gajah tidak berarti apa-apa bukan? Aku percaya tidak sedikit yang kau peroleh dari gerakanmu saat itu! Catursuda menyambung bicaranya.

Diperoleh? Mendengar akan kata-kata ini, maka Genikantar teringat pada selat Pencuci Dosa dan pusaka Kiai Tanjung. Rupanya tua bangka bongkok itupun masih mengiler pada kedua pusaka itu, begitulah pikir Genikantar.

Memikir yang sedemikian, maka Genikantar tampak terkejut. Ia ingat bahwa undangan yang dikirimkannya ke Sindanglaut, seharusnya datang lebih dulu dari pada yang ke gunung Slamet ataupun kedaerah Banyumas. Mungkinkah Wigendro telah meadahului pergi ke selat Pencuci Dosa?

Di hati, guru Bandarkawung itu terkejut, akau tetapi dimulut berkata lain :

“Tentang urusan keraton tidak usah dikuatirkan lagi. Orang-orangku akan dapat mengirim warta setiap saat. Dan mudah-mudahan suatu waktu nanti, setelah selesai urusan ini, kadipaten Pemalang dapat berdiri dibelakangmu membalaskan sakit hatimu. Hanya... ingatkah kau akan cerita... tentang dua raksasa dengan seorang puteri raja?”

Dalam cerita pewayangan sering terjadi kisah yang sangat bodoh dan menyebalkan, yaitu tentang dua raksasa yang mendapatkan seorang puteri raja yang cantik. Pada kesudahan cerita, tidak scorangpun diantara raksasa itu sendiri yang berhasil memiliki puteri raja itu, karena mereka akhirnya saling bunuh sama sendirinya akibat nafsu dan keserakahan mereka masing-masing.

Dalam hal ini, dimaksudkan oleh Ki Genikantar bahwa dalam paguyuban Banjardawa sendiri, atau dalam kelompok pihak mereka yang hendak merebut kadipaten Pemalang, juga terdapat unsur kekuatan dari dalam yang agaknya akan saling cakar-cakaran, berebut dikemudian hari.

Dan pikiran ini cukup dipahami oleh Catursuda yang sudah lantas tertawa sambil berkata : “Aku toh bekas seorang tumenggung! Apakah kau masih meragukan kemampuanku?” “Terima kasih kalau kau berpikir sejauh itu. ” Ki Genikantar tertawa girang.

Pada saat itu, Naga Dumung bersama Dewi Cundrik memasuki ruangan, dalam keadaan yang lusuh dan lesu. Mereka yang berada dalam ruangan itu tahu apa-apa saja yang telah dilakukan oleh sepasang manusia cabul dengan melihat letak baju Dewi Cundrik yang terbuka dibagian dadanya, dan kelesuan Naga Dumung.

Tetapi justeru Genikantar tidak memikirkan hubungan mesum itu. Yang terlintas dalam benaknya, adalah kemudiannya Dewi Cundrik dan raja penyamun itupun membuat satu pihak tersendiri, yang nantinya bakal menjadi ‘seorang raksasa’ dalam kisah dua raksasa dengan puteri raja.  

Rupanya jalan pikiran Genikantar sejalan dengan Catursuda yang cerdik dan lihai. Terdengar kakek bongkok itu menyeletuk :

“Kalau sudah bersatu, lupa daratannya! biasanya anak-anak muda..... hehehe ”

Ada sindiran lain dalam kalimat itu. Tetapi rupanya baik Naga Dumung ataupun Dewi Cundrik tidak menyadari bahwa mereka telah dicurigai. Dan sepasang asyik masyuk itu hanya tertawa malu sambil bercubitan.

Demikianlah kelima orang yang diluar tampaknya sepihak setujuan tetapi didalam saling curiga mencurigai, bercakap-cakap dan berunding sepanjang malam hingga fajar mulai menyingsing ditimur.

X X X

TELAH terlalu lama kita meninggalkan Cunduk Puteri. Sebagai kita telah mengetahui didepan, bahwa dara pahlawan puteri tunggal Mbah Pucung itu mengalami nasib yang sangat mengenaskan, dinodai kesuciannya oleh Windupati, kemudian dalam keadaan terluka dan pingsan, dara yang malang itu telah dicemplungkan kedalam sumur mati dihutan Bengkelung oleh anak murid perguruan Loning.

Sejak dulu kala, sejak orang mengenal adanya sumur mati dihutan besar itu, orang mengira bahwa tempat itu merupakan pembantaian bagi orang-orang yang melintasi hutan, atau saudagar- saudagar yang tersesat dan terbunuh oleh penyamun. Hutan Bergkelung dulu terkenal sebagai tempat merajalela dari begal besar yang bernama Kaki Gagak Rawe.

Akan tetapi sejak Kaki Gagak Rawe dibinasakan oleh Kebo Sulung, maka hutan tersebut seakan menjadi daerah tak bertuan, walaupun sesungguhnya keangkeran dan keliaran rimbanya masih ditakuti orang. Bahkan selanjutnya orang mengangap bahwa hutan itu tempat berkuasanya para dedemit, siluman dan jin peri perayangan.

Pada saat dicemplungkan kedalam sumur mati, maka kedua murid Loning itu mengira bahwa nama Cunduk Puteri selanjutnya akan tinggal merupakan kenangan belaka. Tak ada orang yang dapat hidup setelah mengalami nasib demikian, apa lagi justeru saat itu Cunduk Puteri masih dalam keadaan pingsan.

Kalau tidak binasa hancur membentur dasar sumur yang entah terdiri dari batu tajam macam apa, setidak-tidaknya akan mati ditelan segala racun ataupun bisa entah apa lagi.

Akan tetapi memang hanya sampai disitu batas akal pikiran manusia. Mereka menghitung dengan angka-angka yang tercapai oleh akal pikiran, tidak mengingat bahwa hidup dan ajal seseorang berada ditangan yang Maha Kuasa.

Ketika tubuh Cunduk Puteri meluncur kebawah dibawa oleh berat badannya, maka didalam sumur terdengar suara mendesis-desis, mendengung-dengung ataupun keletak-keletik yang timbul oleh benda-benda di dalam gelap yang bergerak.

Ternyata benda-benda itu adalah binatang-binatang melata, yang rata-rata berbisa, seperti ular, kalajengking, kelabang dan sebangsanya, yang sebenarnya terkejut, dan memberikan ‘perlawanan’ dengan berbagai cara mereka. Ular-ular mematuk, kalajengking-kalajengking menyengat, dan kelabang-kelabang menggigit.

Tentang racun dan bisa binatang-binatang itu, tentulah terlalu hebat, mengingat mereka tinggal didalam alam yang tersembunyi, buas dan liar. Dalam waktu yang hanya selintasan itu, tidak terhingga jumlahnya racun, yang telah menerjang kulit tubuh dara itu. Untungnya si dara dalam keadaan tidak sadar, sehingga ia tidak dapat merasakan rasa sakit akibat serangan-serangan binatang-binatang itu.

Entah berapa lama Cunduk Puteri dalam keadaan demikian. Ia sadarkan dirinya, ketika ia merasakan seluruh tubuhnya terasa sakit-sakit bahkan seperti tulang-tulangnya seakan dilolosi.

Dengan tanpa bersuara, gadis itu membuka matanya. Dan alangkah terkejutnya ia, demi melihaat sekelilingnya. Pertama kali, ia melihat cuaca yang remang-remang dalam sebuah ruangan berukuran satu tombak persegi, pada dinding ruangan tampak benda-benda kecil bulat yang memancarkan sinar warna hijau. Rupanya sinar-sinar kecil inilah yang memberikan cahaya dalam ruangan itu hingga menjadi tampak samar-samar.

Akan tetapi, ketika si gadis memperhatikan, lebih-lebih ia terkejut seakan-akan berada dalam neraka, ketika ternyata bahwa benda-benda kecil bersinar hijau itu adalah sengat-sengat beberapa ekor ketonggeng raksasa yang besarnya hampir menyamai sebuah gelas.

Si gadis terpekik ketakutan, tetapi mulutnya tidak dapat mengeluarkan suara, rahangnya terkunci, sehingga ia hanya dapat membelalakkan mata belaka.

Mendadak terdengar suara yang lembut, akan tetapi jelas :  

“Tenang. Jangan banyak bergerak. Lukamu terlalu parah, dan racun pacet bumi, ular tanah hampir menyerang jantungmu!”

Cunduk Puteri sadar, bahwa agaknya orang yang bersuara ini, tentulah penolongnya. Ia telah teringat akan segala peristiwa yang telah menimpa dirinya, apa yang dialaminya diperguruan Loning. Dan kini ia sadar pula bahwa orang yang telah menotok lemas kepadanya, adalah sang penolong itu.

Dengan segera ia memeriksa, mencari-cari dengan matanya hingga akhirnya terkejut pula, ketika ternyata orang yang bersuara itu justeru orang yang kini sedang memangkunya.

Mengingat pada suaranya, agaknya si penolong adalah seorang wanita. Tetapi ia tidak kelihatan bagaimana bentuk dan roman wajahnya, karena seluruh tubuh wanita itu tertutup dengan jubah berwarna hitam dan yang tampak oleh Cunduk Puteri, hanyalah sepasang wanita itu belaka yang berkelopo-kelopo bersinar hijau seperti mata harimau.

Bergidik seluruh tubuh Cunduk Puteri. Ingin ia merayap pergi, atau menjerit, atau mengucapkan terima kasih, akan tetapi semuanya itu tidak dapat dilahirkan dengan kata-kata, terpancar pada matanya belaka. Dan kiranya wanita penolong itupun dapat membaca isi hati dara itu.  

“Hmm... Rupanya jodoh, yang telah mengantarkan ini bocah! Kau memiliki tiga syarat yang selalu ku pegang dalam hidupku yaitu... kau cantik, memiliki dasar ilmu silat dari kaum lurus, dan... bukan perawan...”