Alap-Alap Gunung Gajah Jilid 09

Jilid IX

KETIKA tiba-tiba matanya melihat Sogapati yang sedang merayap bangun membereskan pakaiannya, tampak oleh Cunduk Puteri sebagai seekor anjing yang menjijikkan dan menimbulkan dendam. Tidak pakai omong barang sepatah, maka Cunduk Puteri melancarkan tendangan kilat sambil memperdengarkan suara lengkingan nyaring dari tenggorokannya.

Bress! Gedebluk! Sogapati baru saja berhasil memunahkan totokan yang melumpuhkan seluruh anggota tubuhnya. Dan tenaganya belum pulih sebagai biasa, indera dan ketangkasannya sedang lenyap entah ke mana. Begitu ada tendangan meluncur kelambungnya, seketika tubuh pemuda itu terpental, menghantam dinding.

Bukan main lihai dan kejinya perbuatan yang dilakukan oleh Windupati ini. Dengan pasti ia tahu jarak waktu berapa lama Cunduk Puteri akan terbius dalam keadaan setengah sadar, begitupun terperinci pula kekuatan totokan yang dilancarkan kepada Sogapati, sehingga kedua korban itu dapat siuman kembali dalam waktu yang hampir bersamaan.

Namun, kali ini, begitu siuman Sogapati harus menelan sebuah serangan yang mengenai lambungnya, telak, seakan menumbuk isi perut. Masih harus membentur dinding, maka kalau hanya pingsin lagi saja itu masih termasuk beruntung.

Tidak hanya sekali Cunduk Puteri menendang tubuh Sogapati yang tergeletak itu, akan tetapi mempergunakan pemuda itu sebagai bola sepak, ditendang dan dicakar. Habis babak belurlah pemuda pingsan itu.

Semua ini dilakukan oleh Cunduk Puteri sambil menjerit-jerit dan memekik-mekik.

Suara jeritannya yang nyaring melengking, dan suara gedubrakan yang terdengar dari kamarnya telah membangunkan seluruh murid perguruan Loning yang segera berdatangan memburu kesitu.

“Apa yang kau lakukan, disitu murid?” Terdengar suara teguran dari luar.  

Yang masih mampu mendengar hanyalah Cunduk Puteri. Dan gadis ini mengenal, itu suara Windupati! Teringat olehnya tuak wangi itu. Dan terbayang pula, sesuatu yang menyakitkan ditubuhnya.

Rasa sakit ini, tidak sesakit hatinya yang tertikam oleh kekecewaan dan dendam.

Sehingga dengan lompatan garang, Cunduk Puteri menerjang pintu kamar, menubruk kedepan Windupati.

Windupati masih berdiri angkuh, dengan sebelah tangan mencabuti janggutnya. Dengan sebelah tangannya didorongnya tubuh Cunduk Puteri kesamping, sehingga tubuh si dara yang sedang meluncur kedepan itu terlempar dengan keras.

Cunduk Puteri melompat bangkit berdiri, secepat lompatan macan tutul. Dan begitu tegak kedua kakinya, ia memperdengarkan suara menggereng, persis macan tutul.

“Sabar?” Seru Windupati seraya meraya meraya menggerakkan telapak tangannya kedepan. “Kau sedang berbuat apa? Apa maksudmu berdua dalam kamar, tiduran dan amuk-amukan?”

“Bangsat keji!” Teriak Cunduk Puteri dengan mata beringas. “Kau racuni kami, kau buat kami jadi ” Cunduk Puteri tak sanggup melanjutkan kata-katanya, karena pada ingatannya yang

demikian, terasa kembali rasa sakit dibagian tubuhnya yang tadi berdarah.

Windupati tertawa terbahak-babak.

“Kalian benar-benar manusia tak tahu malu! Kalian datang menumpang untuk melakukan perbuatan mesum aku sebagai orang yang menyayangi murid yang sudah mendapatkan pasangan, sulit untuk menolaknya! Sekarang setelah semuanya itu terjadi dan kalian rasakan, mengapa harus

mencari maki kepada kami?!”

“Windupati jahanam! Mati kau!” Dengan tak perduli Cunduk Puteri mengamuk sehebat- hebatnya. Ia menerjang, memukul, mencakar dan menggigit, seperti gerakan orang yang tak mengerti ilmu silat lagi. Api kemarahan dan dendam, telah merubah gadis ini menjadi liar dan ganas seperti srigala.

“Hai iblis cilik! Pergi!” Berbareng kata-katanya itu, maka Windupati menggerakkan tubuhnya merendah. Kemudian kedua tangannya bergerak cepat memukul lambung dan pundak Cunduk Puteri.

Memangnya Cunduk Puteri dalam keadaan setengah gila mendadak, kesadaran dan pikirannya awut-awutan seperti rambutnya, maka setiap serangannya dengan mudah dapat dihindari oleh Windupati. Sebaliknya ketika Windupati melancarkan serangan, dengan telak dua bagian tubuh si gadis terkena pukulan. Kontan tubuhnya melayang beberapa depa jauhnya, dan jatuh dalam keadaan pingsan.

“Lemparkan pengacau itu kehutan!” seru Windupati memberikan perintah kepada murid- muridnya. Dan dua orang pemuda tampak maju kedepan mcngangkat tubuh Cunduk Puteri, menaikkannya keatas kuda kemudian membawanya membedal keluar pintu pekarangan perguruan.

Sementara Cunduk Puteri dilemparkan orang kedalam hutan Loning, maka menjelang subuh hari Sogapati tersadar dari pingsannya.

Lambung, dada dan kepala, seluruh tubuhnya terasa sakit-sakit dan nyeri mengentak-entak.

Pada tempat-tempat yang terasa sakit-sakit itu, kelihatan membengkak.

Akan tetapi Sogapati tidak menghiraukan rasa sakitnya ini. Ia teringat pada Cunduk Puteri, dan dengan susah payah pemuda itu merayap bangun.

Dicarinya gadis itu, dalam kamar itu tidak ada. Ketika Sogapati membuka pintu kamar, suasana dalam perguruan itu sudah kembali sunyi. Hanya tampak para petugas murid jaga yang berjongkok dalam gardu monyet diatas tembok pekarangan, disudut.  

Semua rumah-rumah tempat tidur para murid, tertutup rapat, terkunci seakan-akan mereka menganggap bahwa Sogapati tidak akan berbuat sesuatu apa. Atau agaknya lebih tepat dikatakan bahwa mereka menganggap Sogapati takkan mampu berbuat suatu apapun!

Dan memang demikianlah kenyataannya Sogapati hanya berjalan terpincang-pincang dengan hati membekal kebimbangan dan penyesalan.

Dalam jalannya yang tidak teratur itu. Sogapati mencoba mencari-cari Cunduk Puteri kesetiap penjuru pekarangan perguruan. Tetapi kemanapun dia mencari tentu saja takkan dijumpainya dalam pekarangan itu.

Sedih hatinya, seakan dia ingin menangis. Mengapa semuanya itu ierjadi? Ya, mengapa ia mau mendengar bujukan paman gurunya.

Dan mengapa ia bermaksud menodai Cunduk Puteri yang sesungguhnya kecuali dikagumi olehnya juga di cintainya pula!

Aneh, tapi mengapa paman Windupati membisikkan bujukan itu? Mengapa dia bermaksud mengawinkan dirinya dengan Cunduk Puteri, dan mengapa pula menyuruh untuk melakukan pesta dikamar bersama gadis itu mengapa-mengapa.

Mengapa terjadi semuanya itu? Dan siapa orang yang secara diam-diam telah menotokku?

Segala kemelut pikiran itu mengantarkan tiap langkah pemuda ini menuju rumah tinggal paman gurunya.

Mendadak berkelebat dalam ingatannya suatu dugaan.

Dalam perguruan Loning ini, setiap orangnya hampir dikenal benar oleh Sogapati, beserta ilmu kepandaiannya dan perwatakannya.

Orang yang mampu melancarkan tiga totokan secara tepat dau jitu serta yang memiliki tenaga totokan begitu hebat, berapa jumlahnya di dalam perguruan itu?

Sogapati sejenak meragu. Mungkinkah? Mungkinkah perbuatan itu paman gurunya sendiri, Windupati yang melakukannya? Tetapi pikiran ini segera dibantahnya sendiri.

Ia tahu, bahwa paman gurunya adalah seorang yang memegang keras adat dan kesusilaan dalam perguruan. Paman gurunya pula yang menyanggupi untuk membawa perguruan Loning dalam pihak pejuang. Akan tetapi bantahan inipun dibantah pula kembali.

Sogapati teringat, betapa sinar mata paman gurunya waktu melihat kemolekan bentuk tubuh Cunduk Puteri. Teringat pula, betapa paman gurunya tertawa aneh waktu menyuruh dia membopong Cunduk Puteri kekamar.

Habis siapakah orang yang mampu melontarkan tiga buah serangan gelap secara jitu?

Tak ada orang yang patut dicurigai... walaupun Windupati tidak pernah disebut orang sebagai jago senjata rahasia kecuali paman gurunya sendiri, Windupati!!

Sedang kesimpulannya tiba disitu, Sogapati membelalakan matanya kearah pintu rumah Windupati, yang secara tiba-tiba telah menjeblak terbuka, dan tampak seorang laki-laki kekar kasar berdiri angkuh diambang pintu.

Sogapati belum sempat mangucapkan sesuatu. Tetapi teguran yang bengis terdengar oleh telinganya :

“Sogapati! Jangan injakkan kakimu lagi diatas tanah pekarangan Loning! Enyah dan jangan

kembali, walaupun berita kematianmu!”.

“Paman... paman. !” Sesuatu yang meluap-luap membuat Sogapati tergagap.

“Tak perlu permohonan! Kukatakan, perguruan Loning tak boleh dikotori orang mesum sepertimu!”.  

“Siapa itu? Siapa melakukannya?” Sogapati ingin meneriakkan kalimat ini, akan tetapi

kemarahan dan kekagetannya membuat ia hanya ternganga aa...uu tak keruan.

“Pergi kataku!”.

Seraya membentak demikian, Windupati menarik tali pinggannya yang terbuat dari tambang kulit macan kumbang. Sekali ditarik, terdengar suara bersereset tajam yang sangat nyaring. Dan ketika ia menggerakkan tangannya menyabet. Sogapati terpelanting dengan muka berjalur merah berdarah.

Dua tiga kali tali pinggang itu disabetkan, dan suara ledakan nyaring bercampur dengan suara gedebukan sebatang tubuh yang jatuh bangun mengejutkan pagi yang sunyi.

Sogapati tidak mengaduh, tidak juga memohon ampun.

Dengan siksa cambukan yang melukai tubuhnya dan darah yang menetes-netes dari lukanya, maka dugaannya semakin pasti. Yakin, bahwa Windupatilah orangnya yang menyebabkan seluruh bencana memalukan ini!

Sekujur badan dan muka Sogapati penuh dengan jalur-jalur merah berdarah. Pakaiannya cabik-cabik, akan tetapi lebih cabik-cabik adalah hatinya sendiri. Ia ingat, disaat ia baru siuman yang pertama kali dikamar itu, bahwa samar-samar ia melihat Cunduk Puteri yang telah ternoda. Jeritan yang melengking dari mulut dara itu, adalah lengkingan seorang dara yang kehilangan barang yang paling berharga ditubuhnya.

Sungguh mati, walaupun harus dibelah dada Sogapati saat ini, ia yakin bahwa dirinya belum sampai tiba pada menodai Cunduk Puteri. Jadi... orang yang menodai dara itu, tentulah Windupati.

“Windupati terimalah.....” Seraya memperdengarkan teriakan serak seperti itu, Sogapati melompat ke depan, menubrukkan kepalanya kearah perut paman gurunya, dengan maksud mengajak mati bersama.

Akan tetapi Windupati tidak lengah.

Sambil memperdengarkan suara tawanya yang menyeramkan, ia mergedutkan tali pinggangnya. Benda yang panjang mirip cambuk itu membalik kedepan dan ujungnya menyambar leher Sogapati.

Sebelum murid yang malang itu berhasil mencapai maksudnya, tubuhnya telah terayun keras sekali, dan kemudian terlempar keluar melewati tembok pekarangan perguruan.

Masih untung, gerakan Windupati saat itu dilakukan dalam keadaan tergesa-gesa, sehingga libatan tali pinggang itu tidak terlampau keras.

Andaikata serangan itu telah diperhitungkan oleh Windupati sebelumnya, agaknya walaupun leher Sogapati rangkap tiga akan putuslah semuanya, terbeset tali pinggang yang ulet dan tajam itu.

Darah mengalir deras dari leher Sogapati yang sobek lebat. Namun entah dengan kekuatan dari mana asalnya, pemuda ini tidak ingat kepada rasa sakit pada tubuhnya, kecuali sakit yang amat sangat dihatinya.

Dengan cepat ia memberontak bangun dari jatuhnya. Akan tetapi segera Sogapati tersungkur kembali, ambruk ketanah karena baik lengan dan kakinya seakan-akan telah remuk hancur.

Kabut-kabut samar-samar mulai mengambang. Udara pagi yang sejuk melingkupi bumi.

Dengan susah payah, dan langkah seakan beringsut-ingsut, Sogapati meninggalkan tembok perguruan loning.

Bukan ia telah memaafkan paman gurunya, akan tetapi suatu pikiran baru yang timbul dari dendam telah membawanya pergi dari tempat itu! Dalam hatinya ia berkata, walaupun harus merangkak seperti kepiting, tetapi ia harus dapat menjumpai Cunduk Puteri untuk minta maaf, kemudian mengajaknya bersatu membalaskan dendam.  

Sebentar jatuh bangun, pingsan ataupun merangkak lagi. Sogapati memilih jalanan yang sepi untuk menuju hutan terdekat.

Sepanjang jalan darahnya berceceran, memberikan jejak berdarah yang mengerikan hari telah siang dan mukanya yang sembab berdarah-darah membiru, serta tubuhnya yang bengkak-bengkak tampak nyata. Menjelang tengah hari, barulah pemuda itu mencapai tepian hutan.

“Cunduk Puteriii... maafkan...”, dan pemuda itu tergeletak pingsan kembali.

Telah seminggu lamanya Sogapati berada dalam hutan itu, hidup menyembunyikan diri di akar-akar atau cabang-cabang pohon.

Luka-luka ditubuhnya telah agak sembuh, unggal bekas-bekas yang sedang mengering, membuat wajahnya jadi buruk dan menyeramkan.

Sedang ia memakan buah-buahan sambil nangkring dicabang, mendadak telinganya menangkap langkah-langkah kaki orang.

Dan tak lama kemudian, terlihatlah dua orang laki-laki yang sedang berjalan melintas dibawahnya.

Sogapati terkejut. Ia mengenal kedua laki-laki itu.

Yang seorang adalah seorang laki-laki gagah bersenjatakan sebuah pentungan kayu hitam yaitu Walikukun murid kepala perguruan Kenistan yang tercerai-berai itu.

Sogapati pernah berkenalan dengan orang itu belum lama berselang ketika Cunduk Puteri memperkenalkannya, dalam waktu singgahnya dihutan Bengkelung.

Adapun orang kedua, yang buntuug kupingnya sebelah dan mengucurkan darah yang seperti pancuran tidak lain adalah seorang anak murid Loning angkatan belakangan, berarti masih tergolong adik seperguruan Sogapati sendiri.

Tiba dibawah pohon tempat Sogapati menyembunyikan diri itu, maka murid Loning itu mogok berjalan dan Walikukun mencengkeramkannya kepundak murid itu hingga ia melolong- lolong kesakitan.

“Ampuun... aku tak sanggup berjalan lagi...” rintih murid Loning itu seraya meringis

kesakitan.

“Kalau tidak, katakan dimana sekarang kedua tamu diperguruanmu itu! Desak Walikukun. “Sogapati telah diusir dari perguruan.... aduuhh, aduuhh” murid Loning itu menjerit-jerit

ketika Walikukun semakin gemas dan meremas pundaknya. “Ampun... aku tidak tahu, aduuh!”.

“Aku hanya minta keterangan sebenarnya! Yang kuperlukan saja yang kau katakan. Kemana Cunduk Puteri dibuang?”.

Sogapati terperanjat, serasa ada geledek menyambar diatas kepalanya. Tidak disangka bahwa nasib Cunduk Puteri akan begitu menyedihkan. Dalam keadaan seperti apa gadis itu dibuang?

Kerutukkkk!!! terdengar tulang yang remuk. Dan murid Loning yang malang itu melolong kesakitan ketika pundaknya dihancurkan oleh remasan tangan Walikukun.

“Jawab!” bentak Walikukun.

Untuk selintas, terasa juga keinginan Sogapati untuk menolong saudara seperguruannya itu. Akan tetapi ia tahu, bahwa saudara seperguruan yang itupun tidak pernah berusaha menolong waktu diri Sogapati dan Canduk Puteri menderita penganiayaan dari Windupati. Semua saudara seperguruan tak ada yang beriba hati, bahkan semua seperti mencemoohkan mengapa aku harus menolongnya? Bukankah kedatangan Walikukun saat ini justeru sedang membela Sogapati sendiri???

“Tidak membuka mulut, kubeset pula kupingmu yang satu lagi! Ancam Walikukun.  

Dan bret! benar-benar jarinya mencengkeram kuping murid Loning itu, hingga daun telinganya beset, dilemparkan kedalam hutan. Darah membanjir, membasahi pakaian murid itu.

“Ampun..... ampun..... Cunduk Puteri dibuang ke sumur mati..... dihutan Bengkelung ”

Demikianlah, murid yang tak tahan penyiksaan ini akhirnya membuka mulut pula. Kemarahan Walikukun saat itu, takkan lebih atau kurang sebagai yang dirasakan oleh Sogapati. Seseorang yang dibuang kedalam sumur mati dihutan Bengkelung, andaikata tidak mati karena hancur menubruk dasar sumur, juga akan mati kelaparan!

“Satu-satu!” Dan preeekk. Sambil membentak, Walikukun mengayunkan tangannya, menghantam kepala murid Loning yang malang itu.

Tak ampun lagi murid yang tak berdaya itu mati seketika dengan kepala remuk.

Setelah melampiaskan kemarahannya itu, maka Walikukun berdiri tegak dengan gagah, dengan api dendam yang meluap-luap memancar dimatanya, berseru lantang berkumandang :

“Alap-alap Gunung Gajah menghendaki perdamaian!! Menghendaki persaudaraan sesama manusia! Akan tetapi bukan berarti manusia yang tidak tahu membalas guna! Budi dibayar budi, jiwa dibayar jiwa!”

Selesai mengucapkan kata-katanya itu maka Walikukun berkelebat pergi, menyelinap kedalam lebatnya hutan.

Walaupun memiliki ilmu lari cepat yang tinggi, akan tetapi hutan bukanlah merupakan jalan, ataupun padang yang luas, sehingga perjalanan Walikukun agak terlambat.

Agak jauh dibelakangnya, pada jarak yang tidak kurang dari seratus langkah, Sogapati mengejar membuntuti.

Perjalanan dari hutan Loning kehutan Bengkelung memakan waktu kurang lebih tiga hari. Dan kini Walikukun telah mendapatkan sumur mati yang dimaksud. Dengan menggigit bibir menahan rasa pilu dan sedih, ia berjongkok, memandang kearah dalam sumur.

Ketika ia mengangkat mukanya kembali, maka tampak pula sebutir air matanya yang meleleh dipipinya.

Duh, siksa dan azab sebagai apa yang harus dialami oleh Cunduk Puteri, seorang para pejuang yang dikaguminya dan diam-diam juga dicintai itu menerima ajalnya?

Pinggiran sumur yang terbuat dari batu itu direngutnya. Sebungkah batu tergenggam ditangannya.

Dan ketika pemuda itu menggereng seperti macan, maka bungkahan batu itu telah hancur jadi kerikil.

“Cunduk Puteri..... oh, demi Tuhan! Jiwaku akati kujual untukmu, dengan harga semahal- mahalnya. Semua murid Loning harus mati! Mati! Mati kuhancurkan semua! Semua! Kucemplungkan mereka kesumur mati!”

Demikianlah Walikukun berteriak-teriak seorang diri seperti orang kalap.

Membayang dalam ingatannya, wajah dan senyum Cunduk Puteri yang jelita manis, akan tetapi juga membunyikan sikap perkasa yang mengagumkan.

Memilukan, seoraog gadis yang dipuji sanjung oleh setiap laki-laki, oleh setiap rakyat jelata itu, harus menerima kematian dengan cara yang begitu mengenaskan.

Murid Loning yang dibunuh oleh Walikukun itu, adalah murid yang waktu itu membuang Cunduk Puteri kesumur mati ini.  

Adapun kedatangan Walikukun kembali ketempat ini, adalah atas perintah Pepriman, alias Joko Bledug yang kini telah menjadi pemimpin meraka di Gunung Gajah, untuk menjemput Cunduk Puteri!

Karena perjalanan dari Gunung Gajah ke Loning itu melintasi banyak daerah-daerah musuh, dan mungkin gangguan-gangguan dijalan, maka sengaja Walikukun sendiri yang menyanggupkan diri untuk menjemput gadis itu. Rupanya juga ada sedikit keinginan yang terselip, sesungguhnya pemuda inipun rindu pada kecantikan wajah dan kemanisan senyum Cunduk Puteri.

Namun, ketika baru tiba didaerah luar perbatasan Loning, dari berita-berita yang terbawa mulut orang, Walikukun mendengar bahwa Cunduk Puteri terbunuh di perguruan Loning. Jelas dalam berita itu, bahwa yang membunuh, bahkan menodai Cunduk Puteri adalah Sogapati!

Kemarahan pemuda ini, seketika meluap, daa dendamnya kepada Loning beserta sekalian isinya, berkobar-kobar.

Ketika ditepi hutan ia menjumpai seorang murid Loning yang mempermainkan sebuah cunduk kepala, maka Walikukun yakin bahwa murid Loning inilah yang mengetahui keadaan Cunduk Puteri.

Sebuah cunduk rambut yang terbuat dari baja warna putih, dan bermatakan berlian, milik siapa lagi, kalau bukan milik Cunduk Puteri.

Tanpa tanya lagi, Walikukun segera mencekuk murid Loning itu. Tentu saja murid itu melawan, akan tetapi Walikukun si kepala murid Kenistan itu jauh lebih kuat dari padanya. Dan selanjutnya, ia menjadi bola sepak Walikukun.

Akhirnya murid Loning itu mengaku bernama Doyo. Dia bersama seorang temannya, yang pagi itu membawa tubuh Cunduk Puteri yang dalam keadaan ternoda dan pingsan itu, untuk dibuangkan kehutan.

Sebenarnya waktu itu, nasib Cunduk Puteri akan menjadi lebih menyedihkan, andaikata kedua murid Loning itu tidak sama-sama rakusnya. Mereka berdua memangnya sudah demikian berselera ketika pertama kali melihat Cunduk Puteri.

Nah, saat itu, mereka dipercaya untuk membuang tubuh pingsan dara itu kehutan. Dalam kesempatan seperti itu, setan merasuk ketubuh kedua murid yang berjiwa rendah itu. Keduanya bermaksud menodai Cunduk Puteri lebih jauh.

Akan tetapi nasib mempunyai ketentuan tersendiri. Karena nafsunya mereka masing-masing, maka kedua murid itu bukannya menggagahi Cunduk Puteri secara bergantian, akan tetapi sebaliknya saling baku hantam untuk memperebutkan kesempatan lebih dahulu.

Lama keduanya menguras tenaga secara sia-sia, karena memang mereka mempunyai kepandaian yang setingkat akhirnya mereka kehabisan tenaga, dan dalam kebingungannya itulah mereka mengambil keputusan untuk tidak mengganggu jasad Cunduk Puteri, akan tetapi masing- masing mengambil milik gadis itu buat kenangan.

Doyo mengambil cunduknya, sedangkan temannya mengambil kerudung gadis yang malang itu. Setelah itu mereka mencemplungkan tubuh si gadis kedalam sumur mati.

Rupanya benda kecil yang khusus milik pengenalan Cunduk Puteri itulah yang akhirnya membawa bencana bagi Doyo. Begitu ditemukan oleh Walikukun, akhirnya didesak dan dibunuh.

Walikukun dengan berurai air mata mengelilingi sumur mati itu, memeriksa dengan teliti, barangkali ada cara untuk menuruni kedalam sana. Ia duduk, bangkit duduk, kemudian mundar mandir, akan tetapi ia tak tahu dengan cara bagaimana ia akan dapat menemukan.

Lebar mulut sumur mati kira-kira empat langkah. Akan tetapi dalamnya yang orang ngeri untuk membayangkannya. Sebab menurut cerita, sumur itu telah ada sejak kalangan rimba persilatan mengenal hutan Bengkelung.  

Pernah orang mencoba, menyambung sepuluh batang bambu untuk menjajagi kebawah, akan tetapi dasar sumur itu belum tersentuh.

Untuk menuruni sumur dengan merayap, agaknya cekakpun belum tentu mampu melakukan cara itu.

Sebab dinding sumur adalah tanah berlumut yang sangar licin. Belum dibayangkan hewan berbisa macam apa yang mungkin bersembunyi didalamnya, atau racun macam apa saja yang mengendap disana.

Untuk memikirkan kemungkinin merayap kebawah, Walikukun yang tak pernah mengenal takut itu bergidik ngeri.

Gelap.... gelap. menghitam kedasar sana.

Sedianya, Walikukun bermaksud untuk segera kembali menjumpai pemimpinnya di Gunung Gajah melaporkan hasil perjalanannya, ketika tiba-tiba ia melihat seorang laki-laki berpakaian robek-robek, dan bermuka lorek-lorek sedang berjalan terpincang-pincang kearahnya.

Walikukun terkejut, meremang bulu kuduknya, melihat adanya orang yang berwajah begitu menyeramkan penuh dengan bekas cambuk yang jeretetan dedel duwel. Sambil melanjak gugup, ia berseru :

“Hai, Hendak kemana dan siapa kau!”

Orang berpakaian robek-robek dan bcrwajah lorek-lorek itu tidak lain adalah Sogapati. Ia mendengar apa yang di sumpahkan oleh Walikukun ditepi sumur mati itu, maka kini ia tahu bahwa ia tidak boleh menyebut namanya sendiri.

“Orang menyebutku sebagai Kiai Sogaklenting, dan akulah sebenarnya juru kunci sumur mati ini  ” Sahut Sogapati dengan suara diserak-serakan.

“Apa katamu!” Walikukun terperanjat dan marah. Ia pernah sekian tahun lamanya menghuni hutan ini, dan tinggal didekat sumur ini, akan tetapi tidak pernah didengarnya ada makhluk yang begitu menjijikan mengaku di rinya sebagai juru kunci sumur mati, “Kalau begitu kau mengenal diriku, Sogaklenting?!.

Sogapati tertawa menyeringai. Dan bibirnya yang sombang-sambing menyingsat, itu menjijikan.

“Tentu saja. Bukankah kau Walikukun, murid kepala perguruan Kenistan yang tengah tinggal beberapa tahun disini?”

“Sogaklenting!” Kini Walikukun telah lebih berani. “Tentu kau tahu bahwa Cunduk Puteri

dicemplungkan orang kemari!”

“Tahu sih tidak, akan tetapi mendengar. Waktu itu aku tidak sedang disini, kau harus tahu bahwa sebagai juru kunci tentu tidak seharusnya siang malam nongkrong disini. Memang Cunduk Puteri telah dicemplungkan oleh murid Loning jahanam itu! Hendak mengapa kau Walikukun?”

Sikap Walikukun berubah hormat. Lalu dengan sikap sangat mengharap, ia berkata :

“Sogaklenting. Dengan cara apa aku hendak menuruni sumur ini?” “Kau ingin mampus?”

“Tetapi aku harus menemukan jasad gadis pejuang itu! Hidup dan matinya aku harus dapat

menyaksikan sendiri. Dapatkah kau menolongnya Sogaklenting?”.

“Hemmh, bodoh!” Sogapati mendengus. “Seekor kadalpun takkan dapat kembali bila menuruni sumur ini, apalagi kau? Tapi Walikukun, katakan padaku, siapa pembunuh gadis pahlawan itu?”  

“Sogapati!” Jawab Walikukun tegas. “Andaikata ada seribu Sogapati dapat kutemui, semuanya akan kubunuh, belum tentu impas hutangnya padaku. Semua murid Loning harus mati ditanganku! Mati” Kembali Walikukun bersemangat, menunjukan sikapnya yang gagah mengagumkan.

Sogapati sendiri mengakui dalam hatinya, bahwa murid Kenistan itu memang tidak sedang membual. Untuk melakukan pembunuhan besar-besaran terhadap murid Loning mungkin dia mampu melakukannya.

Akan tetapi untuk apa? Siapa yang berdosa menodai dan mencelakai Cunduk Puteri, mengapa seluruh murid Loning harus dibunuh-bunuhi? Bila demikian halnya, lantas manakah lebih baik antara pihak Walikukun dan Loning.

Marah dan angkara adalah sumber tenaga manusia, yang mungkin menyesatkan. Makin dituruti, sesungguhnya orang akan semakin tersesat dalam suatu kesalahan yang makin membesar, yang akan mengangakan pintu bencana bagi dirinya sendiri.

Dan Sogapati menyadari itu.

“Tak perlu sahabat Walikukun! Untuk apa mengumbar hawa amarah yang sebenarnya hanya menyeret dirimu pada kerendahan martabat sampai dibawah tingkat hewan. Ketahuilah olehmu, bahwa bukan Sogapati yang telah menodai dan membunuh pahlawan wanitamu itu, akan tetapi Windupati! Percayalah, apa yang kukatakan adalah suatu kebenaran, kebenaran begitu pasti, sebagai ucapan seseorang yang hampir mati. Walikukun tak perlu kau bertele-tele mencari akal untuk menuruni sumur ini. Aku sendiri yang akan turun kesana untuk menemukan dia!”

Walikukun terperanjat. Sejenak ia meragu, mungkinkah Sogaklenting berkata sungguh- sungguh. Akan tetapi jelas, pada wajah yang lorek-lorek itu terlukis suatu tekad yang mengeras baja.  

“Cukup sekarang kau kembali ke Gunung Gajah untuk melaporkan hal ini kepada Alap-alap Gunung Gajah, siapakah dia?” Tanya Sogaklenting alias Sogapati selanjutnya.

“Alap-alap Gunung Gajah adalah pemimpin pejuang kami, sahabat kami dan sahabat Cunduk Puteri, juga sahabat bagi semua pejuang!

Kau ingin tahu, dialah pewaris ilmu sakti Blimbingwuluh dan perguruan istana pulau Maceti!”

Sogapati tak perlu mendengar apa itu segala istana pulau Maceti. Niatnya hanya satu, membulat, yaitu menyusul Cunduk Puteri untuk ‘memohon maaf’ sambil meninggalkan harapan untuk pembalasan dendam.

Maka katanya :

“Sahabat Walikukun! Kau harus percaya bahwa pembunuh dan orang yang menodai Cunduk Puteri adalah Windupati. Apabila pemimpinmu yang bernama Alap-alap Gunung Gajah itu ada kemampuan, pergilah balaskan dendam gadis pahlawanmu itu. Tak perlu mengganggu orang yang tak berdosa. Perjuanganmu suci dan bersih, serta mulia. Jangan kotori dengan dendam-dendam tak bernilai itu. Kau mengerti?”.

Tak ada yang tidak dapat dipercaya dari orang yang berbentuk sangat sederhana dan berwajah lorek menyeramkan itu. Walikukun tergetar hatinya ketika melihat juru kunci yang mengaku bernama Sogaklenting itu telah berdiri dibibir sumur.

Suatu kengerian menbayang dimuka Walikukun. Akan tetapi sebaliknya senyum aneh yang membayangi di wajah Sogaklenting yang mengerikan itu.

Tubuh Sogaklenting mulai bergoyang kebelakang, tinggal gebrusnya saja kedalam sumur.

Dan Walikukun belum juga beranjak dari tempatnya se-akan-akan sedang berpikir, apakah ia hendak selamatkan laki-laki bermuka lorek itu atau tidak. “Sudahlah, pergilah Walikukun, menjumpai pemimpinmu. Dendamu belum terbalas. Dendam pejuang, dan juga dendamku. Karena... akulah sesungguhnya. Sogapati orang yang paling menyesal atas kematian Cunduk Puteri!”

Begini fitnah dan siksa kuterima dari Windupati!.

Dan kau tidak segera pergi membalaskan sakit hati pahlawan wanitamu?

“Selamat jalan, sahabat! Selamat tinggal. Aku harus pergi menjelaskan kepada Cunduk Puteri

duduk persoalan yang sebenarnya, agar dia suka memaafkan aku...”.

Bicara sampai disini, maka Sogaklenting alias Sogapati menghentakkan tubuhnya kebelakang.

Segera ia disambut oleh tempat kosong, dan meluncurlah tubuhnya kebawah menuju dasar sumur.

Walikukun tertegun, kaget dan tercengang. Ada sekilas keinginannya untuk menyambar tubuh orang yang mengaku sebagai Sogapati itu, akan tetapi entah mengapa kakinya seakan berat, lengket diatas tanah.

Belum ia melakukan sesuatu, maka tubuh laki-laki bermuka lorek itu telah menghilang kedalam sumur.

Ketika senja baru mulai tiba, Walikukun telah berlarian menuju jalan kembali ke Gunung Gajah. Apabila ia hendak menurutkan kemarahan hatinya, ingin rasanya itu menyatroni perguruan Loning dan menantang Windupati.

Akan tetapi ia ingat akan pesan Alap-alap Gunung Gajah! Ia tidak takut mungkin mati ditangan Windupati, karena guru kedua perguruan Loning itu terlalu tinggi ilmunya, akan tetapi ia ingat, bahwa kematiannya akan merugikan cita-cita perjuangannya. Perkumpulan Gunung Gajah sedang membutuhkan hanyak tenaga jiwa orang yang memiliki kegagahan.

oooOooo

KABAR terbunuhnya Ki Tambarekso kepala rombongan sintren Limbangan dan Jagabaya Karangsari menimbulkan kegemparan baru dalam kalangan rimba persilatan. Terutama sekali, bagi Kebo Sulung yang telah kehilangan ayahnya.

Dan penggawa kadipaten muda ini, kini membawa rombongan murid perguruan Guha Gempol menuju kademangan Ampelgading. Sepanjang jalan rombongan iring-iringan yang berjumlah tidak kurang duaratusan orang berkuda itu, membuat keonaran-keonaran. Memangnya murid-murid Guha Gempol adalah murid-murid buas yang sehari-harinya sengaja disekap hidupnya dibelakaig istana Telagasona, maka begitu melihat kota ramai, atau barang-barang cantik lantas berebutan memiliki.

Jangan dikata apabila mereka melihat seorang wanita cantik. Tidak perduli wanita itu ada suaminya atau perawan orang, yang penting mereka bilang di Telagasona tidak ada wanita kecuali guru mereka.

Sepanjang perjalanan mereka itu, kegegeran, kekacauan dan kegemparan terjadi.

Kebo Sulung tampaknya sengaja tidak melarang orang-orang bawahannya ataupun adik-adik seperguruannya itu melakukan keonaran, seakan-akan untuk menunjukkan bahwa kepada setiap manusia yang hidup diwilayah Pemalang timur itu, bahwa Kebo Sulung harus ditakuti.

Seolah-olah penggawa muda itu ingin berkata, bahwa seluruh anggota keluarganya adalah keluarga yang harus ditakuti, jangan sampai ada orang yang berani mengganggunya.

Apalagi membunuh, sebagai yang dilakukan oleh si jembel atas diri Jagabaya itu.  

itu. Malanglah nasib pengemis-pengemis ataupun para jembel yang terdapat sepanjang perjalanan

Setiap   tampak   orang   yang   berpakaian   compang-camping,   apakah   dia   laki-laki   atau  

perempuan, anak kecil atau nenek-nenek, habis dibasmi dibunuhi dengan cara yang sangat keji.

Kebo Sulung tahu, bahwa pembunuh ayahnya adalah si jembel sakti yang pernah membunuh Dadamanuk, maupun jembel yang pernah mengacau pertemuan di selat Pencuci Dosa. Akan tetapi dendam dan kesombongan telah bicara. Maka habis ludeslah setiap pengemis atad jembel diwilayah Pemalang timur ini.

Tiba di Ampelgading, segera demang Ampelgading dipecat dan dipenjarakannya. Kebo Sulung ada membawa surat titah dari adipati Pemalang, dan siapakah yang berani menyangkal kewibawaan kadipaten?

Tidak hanya demang belaka, termasuk bawahannya ataupun orang-orang lain yang dicurigai ataupun dibenci, disuruh orang tangkap dan dikirim ke penjara kadipaten.

Untuk sementara, yang menjabat demang wilayah Ampelgading ini, telah diangkat seorang murid Guha Gempol yang sebelumnya memang telah mendapat berkenan dari adipati.

Semuanya itu berjalan lancar sesuai dengan yang direncanakan oleh Kebo Sulung. Sedikit demi sedikit dan satu-satu demang-demang yang tidak menyokong paguyuban Banjardawa akan dilenyapkannya. Dan apabila seluruh demang sekadipaten telah berdiri dipihaknya, bukankah suatu hal yang sangat mudah untuk menyingkirkan sang adipati?

Ya, rencana ini tentu saja menggembirakan Kebo Sulung, sebab dia yakin, dengan bantuan gurunya, ia akan sanggup menduduki kursi empuk di kadipaten itu.

Tentu saja hal ini rahasia, tak satu orangpun yang mengetahui, kecuali satu orang, yaitu orang yang selalu membangkitkan semangatnya setiap ia bertemu pandang, orang yang membangkitkan birahinya pabila tercium hawa keringatnya. Dialah wanita janda baru yang kini sedang menunggu kedatangannya diambang pintu. Ya, dialah Nyi Tratih ibu tirinya yang kini telah resmi menjanda sejak kematian Jagabaya dilapangan Karang Tumbak.

Ketika Kebo Sulung melompat gagah dari punggung kudanya, maka Nyi Tratih mengagumi ketangkasan pemuda itu. Dan apabila akhirnya penggawa muda itu melompati tubuh ibu tirinya yang terbaring, maka Nyi Tratih perlahan-lahan memuji kejantanan pemuda itu.

Semua inilah rahasia, rahasia bagi semua orang, bagi kedua laki perempuan yang mengerjakan kemesuman itu, juga rahasia bagi arwah Jagabaya Karangsari yang tentu akan terbelalak lompat matanya, andaikata menyaksikan perbuatan kedua insan rendah!

Kiranya, perbuatan mesum dan hina itu telah berulang kali mereka lakukan tanpa sepengetahuan siapa pun, kecuali mereka sendiri. Memang, sesuatu yang paling nikmat, adalah cinta yang dicuri. Akan tetapi juga paling terkutuk!

Ketika suaminya mati terbunuh itulah, Nyi Tratih merasa seakan-akan bebaslah sudah dari segala rintangan. Dan ketika ayahnya binasa oleh musuh itulah, bagi Kebo Sulung merupakan saat- saat paling bahagia dalam hidupnya.

Tak hati-hatinya mereka menenggelamkan dirinya kedalam limpahan buih birahi. Dari sejak kedatangannya hingga tiga hari berturut-turut, Kebo Sulung tak pernah beranjak dari rangkulan ibu tirinya, yang ibarat kawah gunung yang mendidikan gelora yang meledak.

Namun, kiranya akan terkutuklah kisah ini, andaikata adegan-adegan mesum seperti itu dapat berlangsung di atas dunia dengan begitu nikmat belaka tanpa gangguan.

Peristiwa itu terjadi, ketika pada hari yang kesepuluh Kebo Sulung mengeram diri dikamar ibu tirinya. Saat itu, hari telah lewat tengah malam. Dan Kebo Sulung maupun Nyai Tratih, sedang tergeletak letih sehabis menyusuti keringat yang membasahi sekujur tubuhnya.

“Kebo Sulung...” demikianlah Nyi Tratih membuka pembicaraan dengan mata separuh mengantuk sayu. “Kudengar Dewi Cundrik telah membuka kedoknya. Kalau tak salah pendengaranku wanita siluman itupun mencintaimu. Begitu pula dari kademangan Moga kudengar bahwa kau telah melamar puteri demang itu. Lantas masih kudengar pula, kabarnya kau pun mengejar-ngejar Cunduk Puteri. Habis aku ini tergolong isteri tingkat yang keberapa?”

Mendengar pertanyaan yang demikian, Kebo Sulung tinggal tenang. seolah-olah pertanyaan itu telah diduga sebelumnya.

Baru setelah memperdengarkan suara yang sangat angkuh, penggawa itu menjawab :

“Mengapa kau tanya begitu manis? Aku toh laki-laki, kalau hanya mempunyai empat orang kekasih, apalah halangannya. Yang terang, kaulah yang bakal kujadikan permaisuri, permaisuri adipati Kebo Sulung, adipati Pemalang yang baru, nanti ” dan Kebo Sulung tertawa lagi.

Nyi Tratih merengut. “Itu tidak adil!” katanya, “tertangkapnya Ki Ageng Tampar Angin, itupun berkat bantuanku. Aku yang mengatur semua siasatnya. Aku yang membakar hati ayahmu hingga ia berdaya upaya untuk membekuk guru itu. Habis Dewi Yoni ataupun Cunduk Puteri melakukan kebaikan apakah untuk jabatanmu nanti?”

Kebo Sulung terdiam. Dewi Yoni sangat jelita, itulah sebab utama yang membuat Kebo Sulung yang mata keranjang itu ingin memilikinya.

Sebab lain, memang Kebo Sulung sedang berusaha menarik setiap demang diseluruh wilayah Pemalang kedalam pihaknya.

Tentang Cunduk Puteri tidak lebih dan tidak kurang juga tidak hanya karena terdorong oleh keinginannya untuk memiliki yang cantik belaka.

Sebagai juga penggawa ini tertarik kepada Nyi Tratih ibu tirinya sendiri, itupun karena ia tertarik pada kecantikan perempuan itu.

Kebo Sulung adalah seorang mata keranjang yang berambisi besar. Setiap hubungannya dengan perempuan cantik, selalu didalamnya terselip maksud untuk mengejar cita-cita. Cunduk Puteri adalah seorang pahlawan wanita yang telah tersohor dan sangat tinggi ilmu silatnya. Apabila gadis itu terjatuh kedalam perangkap amarahnya, bukankah itu berarti sambil menyelam minum air? Cunduk Puteri berpihak kepadanya, berarti lebih dari separuh gerakan pejuang yang menentangnya dapat dilumpuhkan!

“Aku mau menjadi permaisuri tungga! Tak perlu ada orang lain lagi sebagai sainganku! Kau harus mengusir semua keinginanmu yang lain Kebo Sulung” Kata Nyi Tratih pula sungguh- sungguh. “Kalau tidak.  ”

“Jangan serakah, Tratih,” jawab Sulung. “Apakah terhadap guru akupun dapat menolak

keinginannya?”

“Tidak perduli!” Nyi Tratih duduk, mengikatkan kain sebatas dadanya. “Mana patut, seorang murid mengawini gurunya? Kau sudah mengenal siapa aku, Kebo Sulung.   Aku tak suka ada sesuatu yang merintangi cita-cita dan keinginanku. Kau tahu, betapa sebenarnya aku sangat mencintai Kiai Teger? Tetapi kukorbankan dia demi cita-citaku! Demi cita-citamu! Ya, karena aku mencintaimu, dan mengagumi rencaaamu! Sekarang, apabila ternyata cita-cita itu nanti bakalan menjadi barang rayahan sekian banyak peremuan yang ikut mujur, lebih baik kugagalkan seluruhnya!”.

“Tratih!” Kebo Sulung berseru, terkejut juga penasaran.

“Tidak! Aku yakin, bahwa dikemudian hari kaupun akan meninggalkan diriku, membikin aku

kapiran, mumpung belum ”.  

Tiba-tiba Kebo Sulung tertawa bergelak. Lalu sambil melompat berdiri, berkata “

“Segala sesuatu sudah kuperoleh darimu! Kalaupun kubuang kau jauh-jauh, apa

halangannya?”.

“Sudah kuduga!” Berbareng itu, Nyi Tratih telah mendorongkan tangannya kedepan, dibawah selimutnya. Cepat bagaikan kilat gerakan perempuan ini. Bret! Kebo Sulung terlambat mengelak, sebelah dada kirinya terluka mengeluarkan darah.

Kebo Sulung melompat mundur, kaget dan gusar. Lalu dengan mata berapi-api ia menerjang maju.

Dalam hal ilmu kepandaian, Nyi Tratih memang bukanlah lawan Kebo Sulung. Walaupun dulu semasa gadisnya Nyi Tratih mendapat banyak ilmu kepandaian dari Kiai Teger, akan tetapi wanita ini memang terlalu banyak mengikatkan dirinya kepada gurunya daripada kepada ilmu-ilmu yang diturunkan.

Akan tetapi Nyi Tratih telah mempunyai andalan, yaitu sebuah senjata yang sangat termashur dikalangan rimba persilatan, yaitu Kiai Pancaloka. Benda pusaka itu telah sejak kemarin dicurinya dari dalam baju Kebo Sulung.

Dan begitu merasa terdesak, seketika Nyi Tratih memasukan tangannya kebawah kasur. Begitu ia menarik kembali tangannya, maka lima buah cahaya kilat tampak menyambar dibarengi suara gemerincingnya genta-genta yang nyaring.

“Tratih!” Kebo Sulung mundur setindak, matanya terbelalak kaget, “Kembalikan pusaka itu!”

“Huh!” Nyi Tratih mendengus dingin. Dan matanya yang semula selalu sayu itu memancarkan cahaya kilat pembunuhan. “Pusaka ini kau peroleh dengan mencuri, akhirnya dicuri orang pula, kaget?”

“Tratih......”, suara Kebo Sulung berubah halus dan terbata-bata. “Baiklah akan kuturuti kehendakmu, asal kau kembalikan Pancaloka kepadaku!”

“Terlambat, Kebo Sulung, Aku telah mempunyai pilihan lain yang berharga darimu. Hihik!”

Dan bersamaan itu, dari atas loteng, tampak meluncur turun sesosok bayangan, dengan ringannya ia telah mendarat dilantai dengan tak bersuara. Kiranya dia adalah seorang pemuda tampan yang gerak geriknya sangat lincah. Pemuda itu memang tampan sekali dan Kebo Sulung mengaku dalam hatinya, bahwa patutlah kalau Nyi Tratih terpikat kepadanya!

“Betina terkutuk! Betina rendah! Siapa dia?” Bentak Kebo Sulung, seraya menunjuk kearah

pemuda yang baru muncul itu.

“Tak usah kau tanyakan siapa dia! Dia kekasihku, calon adipati Pemalang! Sekarang terimalah ajalmu!”

Bersamaan dengan suara bentakannya itu, Nyi Tratih mengayunkan senjatanya, menyerang kearah Kebo Sulung.

Berkelebatnya lima buah bintang pada senjata pancaloka itu tampak seperti lima buah bianglala yang saling menyilang, menyilaukan.

Dengan ilmu silat Suci Hati yang dimainkan oleh Nyi Tratih, tentu saja kiai pancaloka berobah lebih dahsyat dari pada bila senjata itu berada di tangan Kebo Sulung.

Seketika Kebo Sulung menghindar, membuang diri kebelakang, mepet pada dinding, akan tetapi sambaran sebutir bintang atau genta pusaka itu masih sempat menyerempet pundaknya. Kebo Sulung menjerit kesakitan.  

“Ia bermaksud melarikan diri ke pintu, akan tetapi si pemuda tampan itu telah mencabut goloknya dan menyambut dengan sebuah sabetan dahsyat. Kebo Sulung terpelanting mundur kembali kedinding.

“Pengawal! Pengawaaal!” Serunya. Dan dalam keadaan yang begitu terdesak, Kebo Sulung

tak ada harapan lain kecuali mengharap bantuan para pengawalnya.

Nyi Tratih terus mengejarnya dengan senjata pancaloka ditangan kanan. Seluruh kamar itu seakan telah penuh dengan sambaran hawa dingin yang telah keluar dari pusaka itu. Sehingga Kebo Sulung hanya mampu berlarian mundar mandir mengelilingi tempat tidur belaka sama sekali tidak mampu balas menyerang.

Bantal, kasur, tempat sftih paidon (pispor) habis pecah bertaburan karena dipergunakan oleh Kebo Sulung untuk melindungi diri, akan tetapi terkena benturan pancaloka benda-benda hancur berkeping-keping.

Pucat pias wajah Kebo Sulung seperti kapas dibasuh. Keringatnya berbutiran sebesar-besar biji jagung. Ia menyesal, bahwa selama ia memiliki Kiai Pancaloka, tak pernah ia membawa senjata miliknya, yaitu ‘batok bumi’ yang selalu ditinggalkan dirumah perguruannya.

Ketika para pengawal datang menyerbu maka mereka telah disambut oleh pemuda tampan yang bersenjatakan golok itu. Dan diluar kamar segera terjadi pertarungan yarg riuh dan gaduh.

Permainan golok pemuda tampan itu ternyata cukup hebat. Setiap gerakannya menimbulkan kilatan cahaya yang berpebawa besar. Setiap digerakan selalu menimbulkan korban. Jerit dan pekik kesakitan terdengar susul menyusul! Suara bentrokan senjata meringkikan kuda semakin gaduh.

Akan tetapi jumlah pengawal Kebo Sulung cukup banyak. Mereka terdiri dari murid-murid Dewi Cundrik yang tentu saja memiliki ilmu kepandaian yang cukup lumayan juga. Sehingga selang beberapa saat ketika hampir semua pengawal itu datang, pemuda tampan bergolok itu berbalik terkepung.

Di lain pihak, Kebo Sulung yang hampir kehabisan daya itu, berteriak-teriak memanggil pengawal untuk minta bantuan. Tiga orang pengawal menerobos masuk akan tetapi ketiganya segera menjerit ngeri didepan pintu, tubuhnya terjengkang roboh dengan kepala remuk.

Datang lagi tujuh orang pengawal yang lain. Akan tetapi yang inipun ibarat mengantarkan nyawa belaka.

Ketujuh-tujuhnya habis terbinasa oleh sabetan Kiai Pancaloka. Kesempatan itu dipergunakan oleh Kebo Sulung untuk menjebol kamar.

Akan tetapi hal itu diketahui pula oleh Nyi Tratih, yang segera menubruk maju sambil menyabetkan senjatanya.

Krakkkk. Brush. Kebo Sulung dapat menerobos keluar, akan tetapi ia harus menderita hancur sebelah tangan kirinya.

Sabetan Kiai Pancaloka hampir saja mengenai batok kepalanya, maka dengan nekad penggawa k.adipaten itu mengangkat tangannya menangkis.

Akibatnya, remuk hancur tulang lengannya, terasa olehnya oleh rasa ngilu dan nyeri yang menusuk jantung, dan penggawa muda itupun roboh terkapar.

Nyi Tratih yang sudah kesetanan itu masih menubruk maju lagi. Akan tetapi terasa beberapa senjata berkesiur dari arah belakang. Terpaksa Nyi Tratih menyabetkan senjata kebelakang. Beberapa senjata terpental dari pegangan, dan pengawal-pengawal yang menyerang itupun berpelantingan jatuh.

Akan tetapi, kesempatan yang hanya sejenak ini telah dipergunakan oleh pengawal-pengawal Kebo Sulung yang lain untuk menolong majikan mereka. Murid Guha Gempol yang berada diluar  

rumah telah berhasil membawa lari Kebo Sulung keatas kuda, kemudian mengeprak bmatang itu kabur.

Beberapa pengawal yang masih hidup, melihat majikan mereka telah terluka hebat, maupun teman-temannya yang lain sudah kabur, juga tak mau ketinggalan. Segera berserabutanlah mereka lari mencari selamat. Yang terlambat, tentu saja menjadi mangsa pemuda tampan bergolok itu, binasa dibawah sinar golok.

Buru-buru Nyi Tratih berlari mendapat si pemuda tampan yang masih berdiri dihalaman rumah. Sambil berseru gembira, dan tersenyum genit penuh rayuan, berlari memeluk, merangkul dan menciumi dengan penuh nafsu.

Akan tetapi mendadak ia terkejut, ketika secara tiba-tiba pemuda tampan itu telah merampas Kiai Pancaloka dari tangannya.

“Aiih, mengapa kau?” Tanya Nyi Tratih, kaget dan keheranan.

“Dasar perempuan hina, pelacur murahan! Karena nafsu rendahmu tak tahu kau siapa aku?”

Sambil berkata begitu pemuda tampan itu telah membuka ikat kepalanya.

Segulungan rambut yang hitam panjang tergerai jatuh. Dan ketika pemuda tampan ini membuka kancing bajunya, maka Nyi Tratih insyaf, bahwa selama ini ia telah mencintai orang yang sejenis dengannya.

Nyi Tratih ternganga, semangataya terbang melihat kenyataan yang begitu mengejutkan.

Ia hanya gemetar menggigil, ketika pemuda tampan yang kini ternyata telah menjadi seorang gadis itu memutar senjata Kiai Pancaloka sambil bertindak maju.

Yang tertampak oleh Nyi Tratih, adalah pemuda tampan yang dua minggu yang lalu datang, mengaku sebagai seoraag anak murid Loning, yang sedang menunggu kedatangan Kebo Sulung.

Pada waktu itu, memang Nyi Tratih sendiri juga sedang demikian kangennya menanti pemuda pujaan hatinya itu.

Siapa sangka telah datang pula seorang pemuda yang jauh lebih tampan dari kekasihnya. Memangnya Nyi Tratih ini termasuk sebagai seorang wanita bermoral rendah, yang suka mengejar cinta, segera ia jatuh hati.

Si pemuda tampan, kelihatannya menyambut rayuan Nyi Tratih, dan tentu saja Nyi Tratih jadi lupa pada Kebo Sulung bahkan menjanjikan akan memeriksa apa saja yang diminta oleh pemuda tampan itu saja asalkan. tentu saja asalkan pemuda itu mau diajak tidur sekamar sepembaringan.

Pemuda tampan itu meminta pusaka Kiai Pancaloka dan hal itu tentu dipenuhinya oleh Nyi Tratih. Apalagi janji-janji yang diucapkan oleh si pemuda tampan tentang ‘Permaisuri kadipaten’ atau hidup bahagia berdua, semuanya itu memabukkan janda itu, sehingga mengakibatkan peristiwa seperti sekarang ini terjadi!

Kelima bintang Kiai Pancaloka berdesing nyaring. Lima batang bianglala yang menyilaukan datang menyambar.

Nyi Tratih masih terpaku menyesali kebodohannya dengan sepasang mata terbelalak nanar. Menyusul terdengar suara tulang remuk, seketika tampaklah tubuh Nyi Tratih melayang rubuh seperti daun tertiup angin rubuh dengan nyawa telah putus, karena kepalanya hancur berantakan.

Untuk menerka siapa adanya ‘pemuda tampan’ yang berubah menjadi seorang dara pembunuh ini, tentu saja tidak sulit. Seorang dara ayu dengan golok yang dipermainkan dengan ilmu silat Loning, siapa lagi kalau bukan Dewi Yoni, puteri tunggal demang Moga?

Sejak perpisahan dengan Joko Bledug alias si Pepriman jembel kotor dan gila itu, si dara masih menyimpan kekesalan dan kecewa. Pemuda yang dipujanya se tinggi langit, sampai ia pernah bertengkar pendapat dengan ayahnya kiranya benar-benar seorang pemuda mesum yang tak tahu budi.  

Rasa kesal dan kecewa ini dibawanya pergi, akhirnya kekecewaan itu berubah menjadi dendam dan kebencian. Dendam ini terarah kepada Kebo Sulung yang dianggapnya sebagai penyebab semua kehitaman itu.

Dibimbing oleh kebenciannya yang berkobar ini, secara kebetulan Dewi Yoni mendengar berita bahwa Kebo Sulung hendak mengadakan peninjauan ketimur, kedaerah kademangan Ampelgading.

Demikianlah, maka ‘pemuda tampan’ itu lantas mendahului pergi ke Ampelgading, hingga

akhirnya bertemu dengan Nyi Tratih yang saat itu kebetulan sedang siap-siap menyambut.

Dewi Yoni tahu bahwa Nyi Tratih adalah isteri Jagabaya, berarti ibu tiri Kebo Sulung. Akan tetapi melihat gerak-gerik janda itu, Dewi Yoni timbul curiga.

Itulah sebabnya, maka ia memerankan dirinya sebagai seorang pemuda yang mengobral cinta dan janji, yang kemudian berakhir dengan kejadian bersejarah ini semua.

Dengan senjata Kiai Pancaloka ditangan, maka sifat angkuh si dara semakin berkembang. Teringat olehnya bahwa untuk menjadi jago nomor satu diseluruh partai utara pulau Jawa, terbentang kini.

Ia ingat bahwa ayahnya dengan susah payah bergabung dalam paguyuban Banjardawa adalah untuk kenalkan kedudukan, sekarang dengan adanya Kiai Pancaloka ditangan bukankah jalan menuju kesitu telah terbuka?

Tinggal sedikit mencari bantuan lagi misalnya perguruan Loning, maka tidak hanya untuk naik pangkar saja akan tetapi untuk memiliki seluruh tanah Pemalangpun agaknya tidak terlampau sulit!  

Ayahnya sendiri, Ki Gede Ayom juga bukan tergolong demang yang berkepandaian lumayan belaka, akan tetapi cukup tinggi. Bila Dewi Yoni, dan ayahnya, kemudian didukung oleh perguruan Loning bersatu tujuan, ah, menguasai tanah kadipaten Pemalang agaknya semudah membalikkan telapak tangan belaka. Begitulah pikir si dara.

Apalagi ia tahu, bahwa selama ini gurunya, Ki Cucut Kawung yang selalu menghendaki sikap bebas dari perguruannya sedang berada dikamar ‘semedhi’ untuk waktu yang tidak terbatas. Adapun paman gurunya, Windupati, bujang tua itu tampaknya mudah untuk dipengaruhi, mengapa tidak dikejar sekarang, cita-cita itu?

Demikianlah, kemenangan sering membuat seseorang kurang waspada. Diperhitungkannya nasib seakan orang menjumlah angka-angka pasti belaka, ia lupa bahwa ada suatu hal lagi yang harus selalu diperhitungkan...... tak boleh dilupakan...... yaitu kekuasaan Sang Maha Pencipta! Perguruan Loning mudah saja dipengaruhi olehnya.

Dan teramat mudah untuk mengajak ayah sendiri mengejar cita-cita yang berwujud lamunan itu. Akan tetapi ketentuan atas kepastian, berada ditangan Yang Maha Kuasa jua adanya.

Kini dengan harapan besar yang memenuhi dadanya, Dewi Yoni menunggang kuda untuk mencapai perguruan Loning secepat-cepatnya!

X

X X

KETIKA Dewi Yoni sedang membalapkan kuda menuju perguruan Loning maka dikaki Gunung Gajah, Pepriman dengan sikapnya yang penuh wibawa sedang menyiapkan para bawahannya untuk pergi menuntut balas keperguruan Loning pula, guna membuat perhitungan atas penganiayaan Windupati terhadap Cunduk Puteri.

Walikukun yang merasa paling berduka atas kematian dara pahlawan Cunduk Puteri, maka dengan bersemangat yang berapi-api, menyiapkan laskarnya, mengatur barisan berkuda maupun kelompak-kelompok yang lain. Bendera peperangan dengan gambar burung alap-alap, berkibar-kibar ditempuh angin musim panas yang kering. Matahari yang terik membakar tubuh mereka yang sedang dibakar oleh dendam itu, hingga wajah-wajah mereka tampak sebagai perunggu-perunggu yang terbakar.

Barisan berkuda telah siap. Barisan pejalan maupun beberapa telik sandi, (spion) telah terlebih dahulu dikirimkan. Dan Walikukun gagah duduk dengan punggung lurus diatas kuda.

“Adi alap-alap!” Seru Walikukun dengan suara yang lantang berkumandang.” Laskar Gunung Gajah, murid-murid Kenistan adalah laki-laki sejati yang lebih suka menerima kematian dari pada dihina! Kami menunggu perintahmu sekarang!”

Pepriman, atau yang mereka sebut sebagai Alap-alap Gunung Gajah tampak berloncatan keatas sebuah batu karang yang menjulang tinggi, dimana tampak di bawahnya air telaga yang memburial seakan bergolak.

Setelah memperhatikan tatanan barisan, memperhitungkan semangat mereka yang sedang siap untuk memasuki api pertempuran, menghela napas baru kemudian berkata dengan suaranya yang lambat akan tetapi mantap.

“Saudara-saudaraku, pecinta bumi merdeka! Sebenarnya aku pandang kalian belum siap untuk melakukan petempuran besar, sebagai kini hendak menghadapi perguruan Loning. Akan tetapi memang, Windupati yang sombong dan biadab itu harus diberi sedikit pelajaran. Saudara- saudaraku! Jangan lupa, bahwa orang yang memusuhi kita adalah Windupati bersama begundal- begundalnya, oleh karena itu tidak seharusnya kalian memukul hancur perguruan Loning itu!”

Hening dan sunyi, tiada terdengar bisik-bisik siapapun kecuali sesekali suara kaki kuda yang tersentak-sentak karena gigitan lalat.

“Rencana perjalanan, dan tatacaraning perang semua telah disiapkan oleh kakang Walikukun. Aku berharap kalian takkan salah jalan, dan kembali dengan kemenangan. Selamat jalan saudara- saudaraku, sampai bertemu nanti diselat Pencuci Dosa!”

Selesai mengucapkan perintah dan pesannya itu maka Pepriman tampak menotolkan kakinya kebatu karang dibawah kakinya. Lalu tubuhnya tampak melesat keudara untuk kemudian menukik cepat seperti burung alap-alap, mencebur ambles kedalam air yang mengelogak dalam telaga.

Demi tubuhnya ditelan oleh menggelogaknya air telaga yang berpusar dan memancar, Alap- Alap Gunung Gajah telah menghimpun seluruh kekuatan hatinnya, dengan heningnya seluruh cipta, dipadamkannya gerak-gerik indera ditubuhnya.

Seketika tubuhnya menjadi berlipat ganda lebih berat ribuan kati, meluncur sebagai ikan hiu yang menyelam ke dasar lautan.

Itulah ilmu sakti satu diantara yang pernah diperoleh dari manusia raksasa Turonggo Benawi

dijurang raksasa yang disebut ‘cucut neba’.

Agaknya dengan ilmu sakti yang mirip gerakan ikan itu, Pepriman mampu merubah dirinya menjadi seekor ikan sakti, yang mampu hidup didalam air untuk sekian jangka waktu.

Segera setelah melintasi daerah mata air berpusar, tubuh Pepriman terbanting kedalam satu lapisan air yang berada pada tingkat yang paling bawah.

Di situ, sebaliknya kalau air yang berada diatas terasa hangat segar, maka pada bagian dasar ini, air terasa seakan beku, dingin seperri salju, sedang alirannya pun lambat perlahan-lahan.

Akan tetapi Pepriman tahu, bahwa pada lapisan inilah air yang sesungguhnya mengalir menuju sebuah anak sungai. Maka dengan mengerahkan tenaganya, ia menolak tubuh sendiri kedepan, hingga selanjutnya tubuh pemuda itu telah meluncur datar kedepan. dan kiranya ia telah

keluar dari batas telaga, memasuki suaru arus kali.

Disitulah, maka Pepriman meracut kembali aji cucut-nebanya, sehingga untuk selanjutnya tubuhnya lantas mengapung.  

Dengan berenang seperti biasa, maka Pepriman dapat menghanyutkan diri mengikuti jalannya arus. Kini ia telah mengambang menuju hilir diatas air kali didalam tanah.

Sebenarnya Pepriman mempunyai perhitungan yang demikian nekad-nekadan bukanlah karena ia terlalu berani atau ceroboh. Akan terapi semuanya itu telah diperhitungkan terlebih dahulu.

Pada waktu ia berada di selat Pencuci Dosa dan menemukan sebuah jurang ‘jadi-jadian’ maka ia telah mempunyai dugaan, bahwa dibawah jurang itu tentu ada sungai dalam tanah. Dan untuk mengadakan penyelidikan kemana arus kali itu mengalir. Pepriman telah mencemplungkan beberapa bangkai burung gagak kedalamnya.

Kiranya perhitungan itu benar semata-mata.

Ketika ia kembali ke Gunung Gajah, maka diatas air telaga gunung, didapatkannya bulu-bulu dan tulang burung itu yang tercerai berai berantakan.

Kejadian ini menggembirakan benar baginya. Dengan kesimpulan itu maka Pepriman yakin bahwa ada hubungan langsung antara telaga dan jurang pada selat Pencuci Dosa itu.

Demikianlah, dengan melawan arus kali dalam tanah itu. Pepriman terus mengerahkan

tenaganya, berenang menuju jurang ‘baru dalam selat itu’.

Karena keadaan dibawah tanah itu terlalu gelap yang tentu saja tidak dapat ditembusi sinar matahari maka Pepriman tak tahu lagi berapa lima ia berada ditempat itu. Yang terasa olehnya bahwa ia telah merasa sangat letih, lapar dan setengah mabuk.

Ia tidak tahu, bahwa sebenarnya ia telah berenang selama dua puluh empat jam berturut-turut.

Andaikata dia bukankah murid Kiai Turonggo Benawi, seorang pertapa sakti yang biasa hidup dibawah jurang, maka andaikata Pepriman tidak mati karena kelelahan, tentulah tubuhnya akan beku akibat air dibawah tanah itu.

Demikianlah, makin lama, dan makin bergerak maju, Pepriman merasa bahwa arus kali semakin deras, tetapi sebaliknya keadaan didepannya berubah menjadi agak temaram, terang-terang samar.

Sejak kecil Pepriman digembleng dengan penderitaan hidup dan disiplin ayah angkatnya Kiai Teger, sehingga kekerasan hatinya sudah ibarat baja gemblengan. Tak pernah ia mengenal putua asa, apalagi menyerah.

Maka didepannya begitu tampak bayangan cahaya, harapannya membesar, dan semangatnyapun kembali berkobar. Dengan mengerahkan seluruh tenaganya, ia mempercepat laju tubuhnya.

Dan tak selang berapa lama, akhirnya terlihatlah olehnya sinar terang yang menyilaukan didepan mata, pertanda jurang pada selat Pencuci Dosa itu sudah berada didekatnya kini.

Hampir bersorak Pepriman ketika ia mengangkat kepalanya, maka didepan sana tertampak selebar tanah yang menganga terbuka, sehingga sinar matahari sore telah menerobos masuk kedalam. Dengan hati seakan-akan melonjak-lonjak kegirangan, Pepriman melayangkan tubuhnya kedepan untuk segera mendarat pada tebing dasar jurang itu. Akan terapi, sedang pemuda ini mabuk oleh kegembiraan hatinya, mendadak terasa olehnya suatu gempuran angin yang sangat deras menyambar kearahnya.

Pepriman terkejut bukan buatan. Darimanakah asal angin yang begitu dahsyatnya seperti sambaran angin topan? Mungkinkah didalam jurang seperti itu terdapat sumber angin bumi yang memancar-mancar seperti pada kawah-kawah gunung?

Tidak mungkin, begitulah Pepriman menyangkal dugaannya sendiri. Gempuran angin tadi walaupun hanya mampu membuat dirinya tergentak mundur  setindak, akan tetapi mempunyai  

keanehan! Anehnya, ialah angin itu dapat menerjang tanpa menimbulkan suara kesiur! Itulah mustahil, bila angin itu adalah angin alam.

Diam-diam Pepriman menduga, bahwa didalam jurang itu tentu terdapat orang ataupun mahluk sakti!

Pepriman tidak tahu apakah mahluk sakti itu kawan atau lawan, namun jelas baginya bahwa ia harus berlaku hati-hati. Tak mungkin lagi hidup seorang kawan dibawah jurang seperti ini, pikirnya.

Dengan satu loncatan indah, Pepriman berhasil mendaratkan tangannya pada sebuah karang dibawah jurang itu, untuk kemudian dengan sikap berhati-hati ia melongokkan kepalanya. Tetapi ia harus cepat-cepat menarik kembali kepalanya ketika terasa sambaran angin dahsyat kali ini bukan hanya bertenaga besar belaka, akan tetapi juga tajam, nyata dari remukan batu karang yang beterbangan menyambar kearahnya.

Bukan main! Setiap pecahan karang itu meluncur seakan mempunyai mata, mengarah pada jalan-jalan darah maut pada tubuh Pepriman. Terpaksa ia harus melepaskan pegangan tangannya pada karang itu untuk selanjutnya ia membiarkan tubuhnya sendiri meluncur kembali kedalam kali.

“Kisanak! Atau eyang siapakah yang telah berbaik hati menyambut kedatanganku anak muda hina si Pepriman?” Sambil berseru demikian, Pepriman kembali melayangkan tubuhnya, dan mengulur tangannya untuk berpegang pada tonjolan batu karang yang lain.

Ia yakin bahwa orang sakti yang menghuni dasar jurang itu tidaklah bermaksud jahat.

Andaikata tidak mustahil dia tidak akan menguber untuk kemudian membunuhnya?

Kali ini, kekagetan dan kegugupan Pepriman menjadi berlipat-ganda. Begitu jari-jari tangannya berpegang pada karang, maka begitu cepat tanpa diketahui dari mana datangnya, tampak menghantam sebungkah batu besar, persis seakan hendak menggidik atau menumbuk jarinya.

Menghindar sudah tak mungkin lagi baginya, batu itu datang terlampau cepat dan tak terduga.

Maka dengan kekagetannya itu, seketika bergolaklah kekuatan batin si anak muda. Tenaga dalam tubuhnya yang selalu bergerak secara otomatis itu, membanjir keatas. Tanpa terasa Pepriman telah mengangkat sebelah tangannya. Dan dengan mengerahkaa seluruh kemampuannya, menyambuti tumbukan batu besar itu, mendorong balik sambil memekik.

Akibat tolakan tenaga Pepriman ini sungguh hebat. Batu besar yang semula hampir menggedik jari tangan si pemuda, mendadak berhenti bergerak, terapung diudara untuk sejenak, setelah itu batu tersebut memutar sangat cepatnya seperti gangsing, sambil sebentar bergoyang turun sebentar naik.

Hal itu terjadi kiranya karena tenaga dorongan Pepriman sedang saling dorong dengan tenaga orang yang melemparkan batu itu.

Pepriman merasa bahwa tekanan tenaga batu itu amat berat sekali, dan walaupun ia telah menguras hampir sembilan bagian tenaga batinnya, batu itu tidak dapat didorong mundur, kecuali berpusing-pusing belaka.

Mendadak sekali, sedang Pepriman berusaha untuk menguras habis seluruh kekuatan batinnya, tahu-tahu batu itu telah bergerak mundur dengan sendirinya, melayang cepat kearah samping dan membentur dinding jurang, menimbulkan suara gaduh dan gemuruh.

Bersamaan dengan suara itu, terdengar pula suara orang yang terpekik kaget sambil tertawa panjang.

“Tampaknya sahabat Benawi yang datang, Kiai! Persilahkan ia menemani kami menolong orang!”

Terdengar suara seorang tua yang agaknya sedang bercakap-cakap dengan orang lain. Rupaya orang yang diajak bicara menyahut :  

“Ah, tidak! Masakan si Benawi geblek itu hanya mempunyai tenaga sebegitu kecil! Setidak- tidaknya ia harus melontarkan batu itu kearahku. Walaupun dia picak, akan tetapi tangannya seperti bermata, hal itu yang membuatku kagum.

Andaikata tidak begitu, masakah orang-orang seperti kami ini masih menghormat si petualang

busuk seperti dia!”

Mendengar percakapan orang-orang didalam jurang itu, mendadak Pepriman terperanjat, agak gembira. Ia merasa seakan-akan suara itu pernah dikenalnya, akan tetapi entah dimana. Oleh karena itu si pemuda tampan berusaha membuka telinganya lebar-lebar, guna mencuri pembicaraan mereka itu. Anehnya, agaknya orang yang sedang bercakap-cakap itu sengaja berkata dengan keras agar orang yang sedang datang itu dapat mendengarnya.

“Ya, andaikata dugaanmu benar “ kata suara orang tadi menyambungi. “Misalnya dia bukan Turonggo Benawi. Tetapi siapakah diatas dunia ini yang memiliki kecepatan dan kesaktian ilmu pukulan ‘jangkar bumi’ seperti yang diperlihatkan orang itu mendorong balik dan memutar batu yang kau lempar itu, Kiai!