Alap-Alap Gunung Gajah Jilid 07

Jilid VII

MALAPETAKA yang sangat mendadak itu cukup menggetarkan nyali mereka. Dan kegemparan di antara mereka terjadi. Terdengarlah bisik-bisik seakan hal itu adalah suatu firasat buruk.

Yang lebih gempar lagi adalah sisa perajurit yang tertinggal disebelah belakang jurang baru itu. Kebo Sulung, Tambakeso maupun Tambarekso dan Toh Kecubung ada dalam rombongan ini, akan tetapi mereka tak dapat menguasai keadaan. Perajurit-perajurit itu kacau balau, sebagian hendak kembali mengambil jalan memutar lewat mulut lembah Pegat-sih guna menyeberang ke tebing barat, sebagian lagi geger kalut sendirian tak tahu apa yang harus diperbuat.

Pada saat kegemparan itulah, tiba-tiba saja diantara para perajurit itu tampak seorang pemuda berpakaian compang-camping yang dengan sangat tangkasnya melempar-lemparkan perajurit paguyuban dari atas kuda ke dalam dasar selat Pencuci Dosa.

Kegegeran semakin menjadi-jadi. Jrrit dan pekik mereka yang dilemparkan kedalam dasar selat, berbaur dengan suara ringkikan kuda dan pekik teriak kekagetan, menambah suasana kalut itu menjadi semakin kalang kabut.

Entah darimana dan kapan munculnya pemuda jembel yang rambutnya riap-riapan itu tahu- tahu telah merenggut sekian puluh jiwa perajurit. Ketika melihat kejadian itu, segera Kebo Sulung melompat maju menerjang untuk menghadapi amukan orang.

“Setan, setan!”

“Siluman Pencuci Dosa! Siluman selat!”

Demikianlah pekik dan jerit ketakutan para perajurit yang kocar-kacir itu. Mereka mengira bahwa pemuda jembel dan kotor itu tentulah setan selat Pencuci Dosa. Hal itu tidaklah mengherankan, sebab sepak terjang si pemuda jembel yang sangat dahsyat. Ia ibaratkan dapat menghilang disebelah sini, tahu-tahu muncul disana dan melemparkan korban kebawah. Kemudian menghilang lagi, dan sedang orang-orang makin geger tahu-tahu beberapa orang menjerit kaget, terlempar lenyap kedasar selat.

Dalam tempo tidak lebih dari sepermakan sirih, maka tidak kurang dari limapuluh perajurit yang mati lenyap terlempar kebawah.

Dapatlah dimaklumi bahwa apabila orang banyak sudah mulai kalut, maka tak mudahlah untuk mengendalikannya. Tambarekso, Tambarekso muupun Toh Kecubung dan Kebo Sulung, berusaha mengejar jembel yang mengamuk itu. Akan tetapi seorang lawan itu benar-benar seperti setan, berkali-kali menghilang dibalik tubuh beberapa perajurit yang segera menjadi korban.

“Semua turun dari kuda, tiarap!” Kebo Sulung berteriak lantang. Sekalian perajurit segera

mengerjakan perintah, berlompatan dari kuda untuk kemudian bertiarap.

Pada saat itulah, baru tampak dengan jelas macam apa adanya seorang pemuda jembel yang telah memakan korban jiwa puluhan perajurit paguyuban itu.

Dia adalah seorang pemuda bertubuh tegap, berbaju compang-camping, rambutnya riap- riapan menutupi mukanya. Ia selalu tertawa ha-ha he-he, dan pandang matanya jelilatan tajam menyeramkan. Akan tetapi, tidak terlampau menyeramkan sekali, sebab ternyata ia bukanlah setan seperti yang mereka duga, akan tetapi adalah manusia biasa, manusia yang kurang waras otaknya.

Begitu melihat sekalian perajurit sudah tiarap, maka pemuda jembel yang tidak lain adalah si Pepriman atau Joko Bledug itu tertawa keras sambil berseru gembira kearah Kebo Sulung.  

“Apa maksudnya ini, kakang Kebo Sulung! Baru enampuluh murid Gunung Kelir dan

anggota sintren serta nelayan yang kubunuh, tetapi kau sendiri yang menghentikan?!”

Kebo Sulung terperanjat bukan kepalang. Sungguh di sambar geledekpun agaknya tidak sekaget mendengar kata-kata pemuda jembel itu. Mukanya sampai merah hijau saking marah dan bingungnya, akhirnya ia membentak gugup :

“Ngaco! Kau... kau ngomong apa?”

“Masakah kakang lupa! Aku si Pepriman yang telah kau perintah membunuh Dadamanuk murid Bantarkawung itu!” sahut pemuda jembel itu.

“Monyet! Bangsat! Anak celeng! Mulutmu ngaco apa?” Kebo Sulung gelagapan. Tangannya yang menggigil cepat sekali bergerak, tahu-tahu pancaloka telah di ayun-ayunkan ditangannya, dan menerjang kearah pemuda jembel itu.

Brang! Toh Kecubung telah menggerakkan perisainya menyegat, berbareng Tambakeso menggerakkan kebutan bajanya menangkis, dan Tambarekso mengeprak dengan kipas bajanya. Akan tetapi, ketiga senjata itu terhajar membalik, dan ketiga jago tua itu terhuyung mundur.

Toh Kecubung tertawa berkakakan, antara marah dan penasaran.

“Pantas hanya murid-muridku belaka yang dilempar kebawah selat, kiranya setan jembel ini

suruhanmu !”

“Tidak salah! Anggota sintrenku hilang separuh, tidak tahunya aku membiarkan musuh dalam

selimut. Kebo Sulung! Kiranya kau ular berbisa dalam paguyuban. Serahkan jiwamu!” “Ganti nyawa murid-muridku!”

Toh Kecubung, Tambakeso dan Tambarekso maju berbareng, menghadang majunya Kebo Sulung yang bermaksud mendekuti Pepriman.

“Kalian minggir. Hendak kubekuk anjing kotor itu!” bentak kebo Sulung bingung.

“Ha ha ha, untuk apa?” kata Toh Kecubung. “Untuk main sandiwara?” kata Tambarekso.

“Bocah sombong ini harus mampus!” Dan Ki Tambakeso yang tampaknya sudah tak dapat menahan murkanya lagi, telah menerjang kedepan dengan kebutannya menyabet kearah kepungan Kebo Sulung.

“Apa kalian sudah gila? Apa-apaan ini?” Kebo Sulung melompat mundur menghindar seraya berseru bingung : “Mengapa kalian mengerubutiku?”

Namun Ki Tambarekso pun sudah menerjang dan Toh Kecubung mengayunkan tombak pendeknya.

Kebo Sulung hanya dapat memainkan senjata pancalokanya untuk melindungi diri seraya berseru bingung.

“Tunggu! Jangan termakan fitnah anjing kotor itu! Aku tdak kenal dia! Aku tidak kenal dia!”

Namun ketiga tokoh tua itu mana mau mendengar ocehan orang? Mereka bertiga ini adalah orang-orang yang murid atau anak buahnya sebagian besat tewas dilemparkan kebawah selat oleh si jembel. Si jembel itu mengaku orang yang telah membunuh Dadamanuk, anak murid Bantarkawung. Dan kini telah melakukan pembunuhan terhadap murid-murid itu. Ia mengaku sebagai suruhan Kebo Sulung, bagaimana mereka bisa menyangkalnya?.

Adalah untuk kenyataan murid Guha Gempol sama sekali tidak mendapat gangguan, bahkan yarg terjerumus kedalam jurang jadi-jadian itupun hampir semuanya murid-murid Bantarkawung, habis perlu bukti apalagi?  

Memangnya pikiran kaget sedang dibikin kalut oleh kejadian serba mendadak itu, ditambah tindakan oleh si jembel yang demikian walaupun Kebo Sulung bersumpah tujuh kali disambar geledek, takkan ada yang bakal mempercayainya.

Kebo Sulung memutar senjata pancalokanya. Bunyi keleningan nyaring bergema, dan gelombang angin sangat dingin menyambar dahsyat. Berkali-kali terjadi benturan senjata yang mengakibatkan ketiga lawannya itu tergentak mundur.

Demikianlah dahsyatnya senjata pusaka pancaloka. Jangankan terkena pukulan senjata itu, sedangkan terkena sambaran angin dinginnya saja tokoh-tokoh kuat sebagai Toh Kecubung maupun Tambakeso dan Tambarekso dibikin menggigil kedinginan.

Pada setiap benturan senjata ketiga jago tua itu merasa tangannya kesemutan. Namun tidak membuat mereka jerih, sebaliknya malah menduga bahwa anggapan mereka benar. Kebo Sulung semakin sombong dengan senjata rampasannya itu dan bermaksud menyerakahi cita-cita paguyuban Bantardawa, begitulah kata mereka dalam hatinya. Dan perlawanan ketiganya semakin sengit saja.

Sementara itu, si pemuda jembel itu berseru sambil berkelebat pergi : “Kakang Kebo Sulung! Sekarang lebih mudahlah untuk menumpas ketiga monyct tua itu. Kukira bantuanku tak perlu lagi ”

“Bangsat! Jahanam! Terkutuk! Aduh!” Kebo Sulung memekik-mekik menyumpahi pemuda jembel itu. Kesempatan sedetik yang terbuka itu telah dipergunakan oleh Tambarekso untuk mengebutkan kipas bajanya. Kipas itu melebar, dan sebelah ujung yang runcing mencocok kearah mata Kebo Sulung. Walaupun sesaat ia lengah, akan tetapi Kebo Sulung menyadari adanya ancaman bahaya itu. Cepat ia menggerakkan senjatanya menangkis keatas. Siapa duga kipas itu telah memutar dan ujung yang semula berada di bagian bawah telah menggores dada Kebo Sulung.

“Awas! Kalian terlalu mendesik. Jangan katakan aku terlalu kejam. Aduuuh!”. Sekali lagi, kesempatan Kebo Sulung berbicara ini telah dipergunakan oleh Tambakeso untuk mengebutkan kebutan bajanya menyerempet pundak Kebo Sulung.

Dua kali mendapat luka ini, maka Kebo Sulung benar-benar jadi marah sekali. Semula ia menduga bahwa ketiga sahabatnya itu akan dapat disadarkan mengenai duduknya perkara, akan tetapi setelah ketiganya itu benar-benar bermaksud hendak membunuhnya bagaimana dapat tinggal diam? Dalam hal kepandaian ilmu silat, memang Kebo Sulung boleh dikata setingkat diatas mereka. Senjata yang dipergunakannya merupakan senjata pusaka yang sangat ampuh. Maka walaupun ketiga lawannya itu bersatu bekerjasama dengan baik, Kebo Sulung masih bisa memberikan perlawanan bahkan mampu melancarkan serangan balasan.

Pertarungan semakin seru, makin lama giat saling bunuh diantara mereka makin nyata, tampak pada serangan-serangan mereka yang selain mengarah pada bagian-bagian tubuh yang mematikan.

Dewi Cundrik dan Genikantar yang berada dirombongan yang terpisah oleh jarak ratusan meter menjadi kaget dan bingung. Mereka melihat kekacauan pada rombongan Kebo Sulung, akan tetapi mereka tidak melihat jalan, sehingga mereka tak tahu bahwa orang-orang mereka sendiri sedang terlibat dalam pertarungan sengit.

Dewi Cundrik dengan mengerahkan tenaga batinnya memperdengarkan suara seruan yang berkumandang hingga kekaki kaki langit :

“Kebo Sulung! Toh Kecubung! Cepat kalian ambil jalan memutar melalui mulut lembah Pegat-sih. Kemudian menggabungkan diri dengan barisan serdadu! Kita tunggu dipadang Banjardawa!!”

Beberapa saat suara seruan wanita sakti itu berkumandang menghantam kaki bukit, dan membalik dalam bentuk genta yang memanjang. Akan tetapi tidak terdengar sahutan dari Kebo Sulung.

Sebaliknya kapitan Morgan yang telah menjawab bahwa Kebo Sulung maupun temannya terlibat dalam perang tanding sesamanya.  

“Bagaimana? Tanya Dewi Cundrik dan Genikantar hampir serempak. “Mereka bertarung sama sendirinya! jawab Morgan van Oranye. “Mana boleh jadi?” Teriak Dewi Cundrik kaget dan tak percaya.

“Kenapa tidak boleh jadi???” Tiba-tiba terdengar suara sahutan dari arah para murid Bantarkawung. Dan ketika para murid itu sedang terkejut celingukan mencari orang yang berbicara tahu-tahu beberapa orang diantara mereka telah terlempar kedalam selat.

“Tolooooong!” “Ampuuuuunnn!” “Gustiiii!!!”

Seakan orang-orang itu sedang berlomba mencari mati, maka tubuh perajurit paguyuban itu beterbatagan melayang kedalam selat, diiringi suara lolongan ngeri dari mulut mereka.

“Siapa kau!” bentak Genikantar seraya melayang maju, menghampiri seseorang yang sedang

mencomoti murid-murid Bantarkawung dan melemparkannya kedalam selat.

Guru Bantarkawung itu melihat seorang pemuda berpakaian compang-camping yang rambutnya riap-riapan menutupi muka, sedang pringas-pringis seperti orang gendeng, akan tetapi kedua tangannya dengan cepat sekali telah bekerja melempar-lemparkan murid-murid Bantarkawung itu.

Tanpa banyak pikir lagi, Ki Genikantar telah mendorongkan tangannya kedepan. Terdengar suara mendesis dibarengi timbulnya kabut tipis warna hitam yang menyambar kedepan.

Itulah ilmu pukulan andalan guru Bantarkawung ini yang disebut “Sepasang siluman dari barat”. Dahsyatnya pukulan ini ibarat damparan gelombang samudera, mempunyai tenaga dorong lebih dari ribuan kati. Janganlah manusia biasa, sedangkan pohon-pahonpun bisa tumbang oleh pukulan itu.

Ketika pukulan tiba maka tidak hanya pemuda jembel itu yang roboh terjengkang, bahkan murid-murid Bantarkawung yang berada disampingnya ikut-ikutan roboh terjengkang muntahkan darah.

Murid-murid Bantarkawung itu tewas, sebaliknya si jembel yang dimaksudkan untuk dibunuh telah melompat bangun sambil berseru kearah Dewi Cundrik.

“Guru! Kenapa kau tidak menolongku? Lihatlah murid-murid Bantarkawung telah sebagian

besar kubunuh mampus!”

Ki Genikantar beejingkrak kaget. Sedangkan Dewi Cundrik terbelalak matanya, ternganga mulutnya, tak tahu apa yang harus dikatakan olehnya.

“Guru, cepat tolonglah aku. Kalau tidak mau lagi aku membubuhi saudara-saudara

Dadamanuk!”

“Apa artinya ini, Cundrik?” bentak Ki Genikantar dengan mata merah berapi.

Dewi Cundrik masih gelagapan. Sungguh mimpipun tidak, bahwa ada kejadian yang begitu aneh, masakah seseorang tak dikenal telah mengucapkan kata-kata seperti itu?

“Cundrik! apa maksudmu membunuhi murid-muridku???. Bentak Ki Genikantar seraya melangkah maju setindak. Kedua tangannya terkembang disamping badan, siap untuk melancarkan pukulan “sepasang siluman dari barat”.

“Tunggu, tunggu, tunggu! Hai setan alas! Kau monyet kotor ngaco apa? Siapa kau? Siapa kau  

ha?” “Aku si Pepriman yang kau suruh rnembunuh Dadamanuk, guru”. sahut si jembel sambil

tertawa bahak-bahak.

“Cundrik!!! Ki Genikantar memperdengarkan suara menggereng seperti macan, kedua tangannya yang berembang didorongkan kedepan, menghantam.

Dewi Cundrik melompat mundur, seraya berseru-seru bingung :

“Genikantar, kau gila? Mengapa kau menyerangku! Tunggu! Sabar!!”

Wuuuss! Sekali lagi Genikantar mendorongkan kedua tangannya yang terbuka, dengan lebih keras lagi sehingga kabut tipis yang menguap dari pukulan itu, mendesus keras, mementalkan beberapa murid Guha Gempol yang tersenggol. Sedangkan Dewi Cundrik sendiri telah menghindar mundur berjumpalitan.

Genikantar, jangan main gila kau! Itu jembel gila tidak kukenal, bagaimana aku pernah

menyuruhnya?”

“Kau kenal, atau keponakanmu sekali mana aku tahu? Ayo jangan minggat kau siluman hina!

Kau kira aku tidak tahu akal licikmu?” kata Genikantar dengan penuh penasaran.

“Siapa punya akal licik! Genikantar, jangan termakan akal busuk bocah edan itu. Aku tidak

kenal dia. Benar, aku tidak tahu siapa dia!”

“Pokoknya, kau ganti nyawa murid-muridku yang telah kau suruh bunuh oleh jembel busuk itu! Jangan diharap bahwa menyerakahi wewengkon satu kadipaten akan dapat kau gagani dengan mudah!” Genikantar mengejek.

Dewi Cundrik menghela napas, cepat-cepat ia berusaha menguasai bathin sendiri yang diterkam kepanikan sesaat yang mengejutkan. Ia sadar bahwa pemuda jembel tak dikenal itu telah dengan sengaja meniupkan api perpecahan dengan caranya yang licik dan lihai. Akan tetapi siapakah dia ini?

Akan tetapi, tidak banyak kesempatan bagi Dewi Cundrik untuk diam berpikir. Terasa segelombang angin tajam menyambar bagaikan guguran batu gunung yang menubruk. Dewi Cundrik tidak lengah. Sedikit ia menggeser letak kakinya dan tangan kirinya yang berkuku-kuku panjang itu mengebas.

Duuuk! Dua tenaga besar saling bentur, Ki Genikantar tergentak mundur meringis kesakitan. sedang Dewi Cundrik terlempar berjumpalitan beberapa langkah kebelakang.

“Genikantar!” “Banyak mulut!”

Kedua tokoh kosen dari paguyuban Banjardawa itu segera terlibat dalam perang tanding yang sangat seru. Pukulan-pukulan cepat, serangan-serangan kilat mereka yang tampak sebagai kelebatan bayangan itu, seakan-akan hanya berujud kilatan-kilatan warna belaka, dan asap tipis yang mengepul.

Pertarungan itu berlangsung sangat cepat, sehingga baik para murid Bantarkawung ataupun murid-murid Guha Gempol, hanya melihat bertarungnya dua kabut berwarna kehitaman dan kemerah-merahan belaka.

Dua kabut lain warna yang bergulung-gulung itu sebentar berkumpul, sebentar berpencar, untuk kemudian saling gempur lagi. Mendadak terdengar sebuah letupan kecil, tahu-tahu dua gulungan kabut itu berpencar jauh. Kabut hitam bergoyang-goyang mundur, sedangkan kabut merah melayang seperti selendang tipis terbawa oleh angin dan jatuh pada jarak puluhan depa jauhnya.

“Berbahaya! Nama Guha Gempol bukan omong kosong! Tetapi jangan dikira Bantarkawung akan mudah begitu saja kau hina !” kata Ki Genikantar seraya berdiri tegak. Seluruh wajahnya berkeringat, dan pada sudut mulutnya tampak setitik darah yang mulai mengering.   

Sedangkan dipihak lain, tampak seorang wanita berwajah pucat pasi terbatuk-batuk dan memuntahkan darah segar. Wanita itu adalah seorang wanita yang bentuk tubuh dan gayanya sama dengan Dewi Cundrik, akan tetapi pada wajah yang pucat pasi itu terlukis suatu wajah yang jelita dengan mata bersinar-sinar seperti nyala api. Kiranya dia adalah Dewi Cundrik, hanya kini ‘kedok setan’ yang menutupi mukanya telah hancur robek dan terbuang.

“Omong besar!” Dewi Cundrik berkata serak. “Kalau Guha Gempol bermaksud menghancurkan Bantarkawung apa susahnya?” Dan kini wanita itu dengan susah payah telah berdiri tegak dengan kedua tangan siap melancarkan serangan.

Agaknya kedua orang tokoh sakti itu tentu akan segera bergebrak kembali, andaikata tidak segera datang rombongan Kebo Sulung dan kawan-kawannya.

Jauh-jauh Kebo Sulung telah berteriak-teriak :

“Guru! Guru! Jangan terpancing hasutan busuk! Tunggu!” Dan rombongan perajurit-perajurit yang terluka itu berduyun-duyun tiba.

Melihat Jalasutro dan Jalaputro yang terluka, Genikantar bertanya gusar : “Siapa melukaimu,  

ha?” Tetapi kedua murid itu hanya menggelengkan kepala.

“Bukan main! Mana dia?” kata Kebo Sulung agak terperanjat. “Dia siapa?” tanya Dewi Cundrik.

“Jembel jahanam itu! Jembel kurang ajar itu! Hampir saja kami terbinasa hancur oleh pertarungan gila! Bangsat celaka!” Kebo Sulung mengumpat sejadi-jadinya. “Untunglah aku dapat menguasai keadaan. Andaikata tidak, entah apa jadinya. Sahahat Toh Kecubung percayakah kau sekarang, bahwa pemimpin-pemimpin kitapun kena diapusi oleh monyet jembel itu?”

Toh Kecubung tertawa getir. Ia ingat memang, andaikata Kebo Sulung tidak memiliki ilmu kepandaian dan pusaka ampuh, agaknya penggawa kadipaten itu akan binasa terpotong-potong dikerubut. Akan tetapi dibalik rasa syukur itu terselip pula suatu rasa was-was dan iri kiranya ilmu kepandaian Kebo Sulung diatas kepandaian ketiga tokoh sebagai Toh Kecubung sendiri, Tambarekso dan Tambakeso.

“Jadi bagaimana, coba jelaskan Kebo Sulung !” Genikantar masih penasaran.

“Sungguh memalukan sekali. Aku yakin, bahwa jembel hina itu merupakan orangnya perguruan Pucung atau perguruan Kenistan. Sengaja ia didatangkan kepada kami untuk menyebarkan fitnah busuk. Bukankah apabila kita bertarung sendiri, kita akan hancur dan lemah dengan sendirinya? Coba saja ingat, bukankah jembel itu pula yang telah membantu Cunduk Puteri membunuh Dadamanuk? Terang-terang dia bukan Sogapati, tetapi juga jelas bukan orang sendiri. Ia.... ia.... mempunyai ilmu silat mirip-mirip perguruan Blimbingwuluh. ”

Tercengang sekalian yang hadir. Jelas rasa malu, penasaran dan marah terlukis pada wajah- wajah mereka, terutama sekali muka Ki Genikantar yang hitam botak itu seakan berobah menjadi tembaga.

“Guru.... kau telah.... telah membuka ”, Kebo Sulung berkata ragu-ragu.

“Genikantar! Sekarang sudah jelas persoalannya. Jika kau masih penasaran ingin menjajal

keunggulan ilmu silat Guha Gempol   ”.

“Ya, maafkan kesalah-pahaman tadi. Yang sudah harap dilupakan saja. Kukira orang-orang

Kompeni sedang menunggu kita dipadang pertemuan”, potong Ki Genikantar.

Setelah para ketua-ketua itu selasai berkata, maka sedikit demi sedikit mereka lantas bergerak keselatan, beriringan pergi menuju hutan Banjardawa. Sedangkan si jembel alias Pepriman itu, kini telah pergi meninggalkan mereka, pergi tanpa ada seorangpun yang mengetahui sebelumnya.

Tebing panjang selat Pencuci Dosa telah kembali sunyi, hanya bangkai-bangkai berserakan atau darah yang berceceran akibat peperangan.

Dan diantara timbunan mayat yang bergelimpangan, tampak seseorang pemuda berpakaian compang-camping dan kotor yang tertawa-tawa sambil berjalan hilir mudik, seperti ada yang dicarinya. Dan tiba pada jurang jadi-jadian itu, si pemuda jembel berhenti. Lalu melongokkan kepalanya kebawah, setelah itu ia berseru kaget karena bergidik. Mendadak diudara tampak berterbangan beberapa ekor burung gagak yang memekik kegirangan mencium bau bangkai. Si jembel meringis, seraya memandang binatang-binatang itu. Lalu tangannya menjumput sesuatu dan dilemparkan keudara sambil memekik. Bersamaan dengan suara pekikan si jembel itu, maka terdengar pula pekik kematian burung gagak diudara. Kemudian tampak tiga ekor burung gagak yang menggelepar jatuh, terbanting keatas tebing karang dengan kepala yang telah remuk.

Si jembel mengambil bangkai tiga ekor gagak itu, lalu satu sama lain diikatnya dengan seutas tali. Setelah itu barulah ia mencemplungkan bangkai binatang itu kedalam jurang.

Selesai mengerjakan itu semua, barulah si jembel berkelebat pergi sambil memperdengarkan suara lengkingannya yang memanjang.

oooOooo

TAK ada tali yang begitu kuat mengikat antara manusia dengan manusia yang lain kecuali benang cinta yang terentang antara hati mereka.

Bahwa manusia berkembang biak adalah berkat membuahnya cinta. Cinta antara manusia laki-laki dan wanita. Begitu kokohnya belenggu ini, sehingga kadang-kadang membuat manusia terkurung padanya, pikiran dan perasaan terkepung ibarat perajurit yang sudah kehabisan daya.

Sebagai juga Dewi Yoni, putri tunggal Demang Moga Ki Gede Ayom yang kini tak habis- habisnya menunggu kedatangan seseorang yang sangat jauh-jauh sekali sebab seolah-olah terasa bahwa dia takkan datang lagi.

Joko Bledug sudah mati? Dia seorang anak durhaka, murid murtad, bahkan seorang jejaka yang telah menjadi korban kejalangan wanita cabul sebagai Dewi Cundrik?

Walaupun hal ini telah didengar dari Sogapati, dari ayahnya sendiri, bahkan semua orang dari kalangan rimba persilatan mengatakan demikian, namun hati gadis ini tetap bersikeras. Dikatakannya kepada ayahnya, bahwa bila Joko Bledug telah mati, ia ingin melihat bangkai dan kuburannya, bila masih hidup, dimana ia kini berada!

Hal ini sungguh sangat menggelisahkan ayah ibunya. Sebagai sore ini, ketika Dewi Yoni sedang menyirami bunga, ayahnya telah mendekati sambil berkata :

“Yoni. Jangan kau membuat ayah selalu gelisah. Apalah kekurangan sebagai Kebo Sulung itu? Masih muda, tampan dan berkedudukan sangat tinggi pula. Semuda itu, ia telah menjadi orang kepercayaan adipati, sedangkan ayahmu ini, Yoni. Cobalah kau berpikir sehat. Bicara mengenai ilmu kepandaian, untuk kadipaten Pemalang ini, agaknya tidak banyak orang yang dapat menandingi Kebo Sulung, apalagi kini ia memiliki pusaka Pancaloka ”

“Apakah ayah mengetahui dari mana dia memperoleh pusaka Pancaloka itu?” Dewi Yoni

bertanya dengan kepala merunduk.

“Dibelinya dan Joko Bledug. Cobalah kau pikir ”

“Apakah masuk akal ayah, bahwa orang sebagai Joko Bledug itu menjual pusaka perguruan

kepada orang ini?” Dewi Yoni mendebat.  

“Masuk akal atau tidak, kenyataannya adalah begitu. Murid yang murtad dan durhaka sebagai Joko Bledug, apanya yang tidak masuk akal? Jangankan hanya menjual benda pusaka perguruan, sedangkan membunuh dua saudara seperguruanpun dilakukannya!” Gemas juga Ki Gede Ayom melihat sikap puterinya yang membangkang itu.

“Yoni ” kata Ki Gede Ayom pula menyambung.

“Selama ini kau adalah seorang anak penurut. Mengapa dalam soal jodoh ini kau hendak berkeras kepala? Apakah kau hendak menunggu kedatangan seorang penjahat yang sudah mati akan melamarmu?” suara Ki Gede Ayom agak halus kembali.

“Menjadi isteri Kebo Sulung, berarti kau akan mendapatkan martabat hidup yang tinggi dan terhormat. Ayah tentu saja menginginkan hidupmu dikemudian hari akan bahagia, bukan menjadi isteri seorang manusia durhaka sebagai Joko Bledug, si yatim piatu yang tak tahu guna itu!”

“Ayah. !” Dewi Yoni menangis terisak-isak.

“Kau adalah anak seorang demang! Demang, Yoni! Kau tahu?!” Ki Gede Ayom tambah

ngotot.

“Menolak lamaran Kebo Sulung sama dengan mengundang gusti adipati untuk murka kepada kita! Dan kau tahu akibatnya bila seorang demang mendapatkan marah dari seorang adipati?”

Dewi Yoni semakin sedih. Dikepalanya, tergambar suatu pergulatan yang sangat sengit, antara cinta pertama yang tulus yang telah terjalin dengan Joko Bledug, dengan kesenangan hidup yang dapat dinikmati bersama Kebo Sulung.

Teringat olehnya saat-saat ia masih bocah, bersama dengan Joko Bledug seringkali bermain diladang-ladang Blimbingwuluh! Atau mandi-mandi dikali, berburu binatang atau belajar ilmu silat.

Dewi Yoni ingat benar betapa Joko Bledug adalah seorang pemuda yang rendah hati, suka mengalah, tetapi juga keras sebagaimana watak seorang laki-laki yang sejati.

Pernah suatu hari mereka pergi berburu ikan dikali Blimbingwuluh Dewi Yoni membawa anak panah, sedangkan Joko Bledug membawa sebatang gagang pancing. Dalam waktu cepat, kedua bocah yang berilmu kepandaian itu dapat mengumpulkan ikan tidak kurang dari limapuluh ekor ikan dari berbagai jenis. Lele, ikan gabus, ikan pari juga ada ikan sumbilang.

Bidikan Dewi Yoni selalu tepat, begitupun sabetan tali pancing Joko Bledug tak pernah meleset.

Saat itu, hari telah lewat asar, dan matahari sudah semakin rendah menuruni lereng gunung.

Tiba-tiba mereka melihat seekor ikan mas yang sangat besar, sebesar kendang sintren.

Dengan sangat bernafsu mereka memburunya. Ketika Joko Bledug hendak melecutkan gagang pancingnya maka Dewi Yoni telah berseru mencegah : “Jangan, Bledug! Tangkap dia hidup-hidup, buat kupelihara di kolam tamanku!”

Joko Bledug mengerti, mengerti bahwa sabetan pancingnya disaluri tenaga bathinnya, akan dapat membunuh ikan mas itu. Maka ia buru-buru mencebur kedalam air untuk memburunya.

Baik Dewi Yoni maupun Joko Bledug adalah bocah-bocah yang mahir dalam ilmu berenang ataupun menyelam. Akan tetapi jangan lupa bahwa jagonya segala perenang maupun penyelam didunia ini mana ada yang dapat menandingi seekor ikan?

Ikan mas itu memang dahsyat sekali bentuknya, elok dan menyenangkan. Sisik-sisiknya kuning kemerahan dan gemerlapan. Ekornya lebar dan bergerak-gerak seperti kipas bila meluncur. Dan sepasang matanya merah saga seperti permata merah delima. Dewi Yoni sangat bernafsu sekali untuk menangkapnya, sehingga Joko Bledug yang tahu kehendak gadis itu berusaha keras untuk menangkapnya.

Joko Bledug menyelam dan mengejar, akan tetapi ikan itu demikian gesit dan lincahnya menyelinap dan menghilang diantara batu-batuan. Sehingga Joko Bledug merasa kewalahan sekali.  

Senja telah turun, akan tetapi ikan mas itu belum juga tertangkap. Tetapi Joko Bledug tidak berhenti mengejar, karena Dewi Yoni merengek-rengek terus-menerus, sambil berseru-seru : “Kalau tidak bisa menangkap ikan itu, jangan jadi temanku lagi!”

Entah mengapa, Joko Bledug seolah sangat takut kehilangan gadis cilik itu. Mereka sama- sama bocah dibawah umur, akan tetapi ikatan bathin mereka seakan sudah menunjukkan keanehan- keanehan yang jarang ada pada bocah lain seusia mereka.

Akhirnya tibalah mereka pada sebuah air terjun. Ikan mas itu tampaknya sengaja minta untuk diburu, muncul mengejek, atau kemudian menghilang lagi. Muncul lagi setelah Joko Bledug kebingungan, untuk kemudian berputar-putar diantara batu-batuan.

Tiba didekat air terjun, maka ikan mas itu mengambangkan diri, seolah-olah ia betul-betul menyerah. Joko Bledug tak ingat akan bahaya, buru-buru menubruknya dengan bernafsu.

Tetapi sungguh malang, kiranya ikan itu seolah-olah pandai ilmu silat, begitu tubuhnya terpeluk oleh Joko Bledug, ekornya menyabet dengan keras. Dan Joko Bledug terpekik, tubuhnya terlempar melayang jatuh kedalam air terjun.

Untungnya Joko Bledug mempunyai keuletan tubuh yang telah terlatih.

Mendapat serangan keras dari ikan mas itu, ia tidak pingsan, akan tetapi sulit juga untuk bertindak, mengingat sekarang dirinya telah berada dalam air terjun, dimana dibawahnya terdapat pusaran air yang dahsyat dan mengerikan.

Dewi Yoni menjerit ketakutan, lalu sambil berlari keatas tebing berseru-seru : “Bledug.

Biarlah, aku tak mau ikan mas itu. ”.

Mendengar seruan yang demikian, lain pula dugaan Joko Bledug. Ia yakin bahwa Dewi Yoni tetap menginginkan ikan itu, akan tetapi kuatir Joko Bledug akan mendapat bahaya, maka ia berkata begitu. Sebaliknya Joko Bledug bahkan lebih bersemangat. Kali ini ia benar-benar diuji keuletan dan kekerasan hatinya oleh ikan itu, juga oleh Dewi Yoni sendiri.

Maka ia segera menahan napas, kemudian menyela dalam-dalam sambil mencari. Bukan main kuatnya goncangan air terjun yang deras itu seakan membanting-banting tubuh si bocah. Sebentar dibanting kekanan, ketepi atau dibantingkan kedasar. Dan lebih-lebih serunya lagi, disitu kiranya banyak sekali terdapat ikan-ikan mas besar yang lantas mengerubut.

Joko Bledug segera mengerahkan tenaga bathinnya. Kaki tetap berenang, akan tetapi kedua tangan dibesetnya kesamping dengan penumpahan tenaga bathinnya. Ketika ia memutarkan kedua lengannya, kuat-kuat, maka gelombang air membuncah, terdengar suara berdebut tahu-tahu ikan- ikan kecil dan ikan-ikan lainnya sedang berlompatan, bertaburan keluar air, akhirnya jatuh keair dalam keadaan telah mati.

Namun, ikan mas besar bermata merah delima itu, tidak juga muncul, bahkan Joko Bledug merasa sebelah kakinya kena dibentur oleh sebuah benda tajam.

Joko Bledug memekik nyaring, kemudian mendorongkan kedua tangannya kedepan sambil menyelam. Kiranya saat itu ikan mas besar itu sedang hendak menyerang dengan sirip sampingnya. Joko BIedug memiringkan tubuhnya. Ikan itu meluncur lewat, dan sebelah lengan Joko Bledug mengenai badannya.

Bukan main! Ikan itu seperti memiliki kekebalan, dan pukulan Joko Bledug sepenuh tenaga itu hanya membal belaka. Sementara itu, namanya manusia, Joko Bledug harus mengambil napas keudara. Bila ia muncul begitu saja, agaknya terlalu mudah ikan itu akan menyerang kakinya. Maka dengan tangkas, Joko Bledug telah menjejakkan kakinya ketubuh ikan sekuat-kuatnya.

Ketika tubuhnya mumbul keudara, si bocah menyedot napas, begitu meluncur kembali kebawah, si bocah langsung melancarkan dorongan kedepan.

Justeru saat itu ikan mas besar itu sedang menyeruduk maju. Tepat pukulan Joko Bledug mengenai kepala, sehingga ikan itu terbanting. Joko Bledug pun tak mau membuang kesempatan.  

Sedang ikan itu dalam keadaan setengah puyeng, ia menubruknya, rnenunggangi sambil memasukkan kedua tangannya kedalam insang ikan itu, yaitu pada kanan kiri rahang.

Tentu saja ikan itu kesakitan bukan main. Ia lantas berontak sekuatnya. Namun kedua kaki Joko Bledug telah mengempit tubuh binatang itu dengan sekuat tenaga. Akhirnya, ikan itu melompat-lompat keatas air dengan garang dan kalap, sementara tubuh Joko Bledug menggemblok erat, persis seperti menunggang seekor kuda liar.

Diatas tebing kali, telah berkumpul banyak orang kampung, termasuk diantaranya adalah Kiai Teger dan Ki Gede Ayom. Kedua orang sakti itu datang ketika orang-orang kampung melaporkan kejadian itu.

Melihat munculnya penunggang -kuda air- itu. Kiai Teger maupun Ki Gede Ayom tertawa, tetapi juga cemas.

Tampak darah mengucur dari lengan dan dada Joko Bledug, dan air kali bersimbah darah. Dewi Yoni berteriak-teriak menangis, tetapi Joko Bledug sudah tak mau peduli.

Berkali-kali ikan mas itu membawa penunggangnya melompat dan menyelam, akhirnya ia kehabisan tenaga terutama karena alat pernapasannya yang dicengkeram oleh Joko Bledug itulah yang menyebabkan binatang itu cepat kehabisan tenaga.

Kiai Teger melemparkan jala keair, dan ketika ia menariknya, maka dalam jala itu telah terjerat Joko Bledug bersama ikan itu. Bersorak-sorailah orang kampung melihat kejadian itu. Dan segera mereka menggiring “pahlawan ikan mas” mereka pulang keperguruan. 

Ikan mas besar itu kini telah berada dalam kolam ditaman bidadari kademangan Moga. Dan sore ini Dewi Yoni sedang merenungi, ketika ayahnya sedang memarahinya, maka si gadis melihat ikan mas besar itu menampakkan diri seakan naenari-nari.

Teringat semuanya itu maka teringatlah oleh si dara, sepatah kalimat yang pernah diucapkan oleh Joko Bledug pada waktu kejadian penangkapan ikan mas itu. “Yoni. Ikan ini sudah kubawa kekolam tamanmu, maka jangan putus persahabatan kita sampai mati ya?”

Kalimat si bocah yang sederhana itu kini tidak sederhana lagi membawa arti dalam hati si  

gadis.

Dan Dewi Yoni kembali tersedu-sedu menangis. Persahabatan sampai mati? O, begitu dalam

berkesan, bukankah itu berarti menghendaki hidup berumah tangga, bersatu dan berbahagia?

Tapi mengapa kini Joko Bledug sudah mati? Mati sebagai seorang anak durhaka, murid murtad, ataupun pengkhianat perguruan? Tak mungkin, tak mungkin! Dan Dewi Yoni tetap tak percaya.

Melihat putrinya yang keras kepala itu. Ki Gede Ayom tambah marah.

“Yoni, kau tahu? Mengapa kau kumasukkan dalam perguruan Loning bukan Blimbingwuluh?!” bentaknya.

Dewi Yoni diam, hanya menggelengkan kepala.

“Aku tidak suka melihat pergaulanmu dengan bocah yatim piatu itu berkembang makin buruk. Dan aku tidak melihat tanda-tanda besar pada dirinya. Hm, Yoni. Sebagai juga kakang Teger telah kuduga akan tersesat jalan, sekarang sudah menjadi kenyataan, ia telah terbinasa dalam kamar siksa kadipaten sebagai seorang guru celaka dan terkutuk! Apa lagi yang dapat diharapkan dari seorang ayah busuk sebagai Kiai Teger dan anak angkatnya, seorang bocah durhaka dan cabul, Yoni!”

Dewi Yoni tak tahan mendengar semuanya itu, maka ia cepat-cepat berlari kekamarnya sambil tetap meratap. Pada malam berikutnya, maka dari dalam kademangan Moga tampak sesosok bayangan langsing yang menerobos keluar dari taman bunga, dan berlari cepat menuju jalan pegunungan.

Bayangan itu bergerak sangat cepat, seakan terbang melintasi jalan-jalan berbatu lereng- lereng dan hutan belukar.

Tidak sulit untuk menebak siapa bayangan itu, yang tidak lain adalah Dewi Yoni yang sedang pergi menurutkan kekecewaan hatinya.

Gadis beradat keras yang membawa kekecewaan hati itu, berlari terus menuju kearah timur laut. Tak ada maksud hatinya yang tertentu kecuali hanya melampiaskan rasa kecewa dan kesal belaka. Ia mengenakan pakaian sebagai seorang pemuda, dengan ikat kepala hitam wulung, baju hitam buram dan kain gringsing. Dipinggangnya, terselip pada tali pinggangnya yang lebar dari kulit macan, terselip sepasang golok. Tidak lupa dibawah hidungnya, terlukis pula sebaris kumis yang tipis dan manis.

Tentu saja dasarnya  gadis ini sangat jelita, maka dalam dandananya itu tampak sebagai seorang jejaka tampan yang lemah lembut dan mempesonakan.

Tujuh hari berikutnya, maka “pemuda tampan” itu telah memasuki daerah perbatasan

Ampelgading selatan.

Daerah perbatasan itu berupa sebuah dusun yang sangat panjang dimana sekelilingnya tumbuh hutan belukar yang sangat lebat. Sebagai tiap perbatasan dusun yang lain, disitupun dipasang orang lentera-lentera batas yang terbungkus dengan kertas merah, yang bisa digunakan oleh setiap orang yang menempuh perjalanan jauh, bahwa tempat itu adalah merupakan batas, dan akan menginjak wilayah luar.

Juga tidak ketinggalan, setiap malam hari ada seorang petugas jaga atau ronda yang kecuali menjaga ketenteraman dusun dari gangguan binatang buas yang mungkin datang dari hutan, juga menjaga ketertiban maling-maling yang sering beraksi dipedusunan.

Dusun yang tersebut ini, adalah dusun Karang Tumbak namanya, masih termasuk dalam wilayah kademangan Ampelgading. Ketika Dewi Yoni memasuki batas dusun, kira-kira jam sembilan malam.

Keadaan dusun disetiap malam hari, biasanya sunyi, gelap dan menyeramkan. Tidak tampak orang yang lalu lalang, kecuali suara binatang malam ataupun gonggongan anjing dikejauhan belaka yang mengisi keheningan malam.

Akan tetapi Karang Tumbak ini lain dari pada yang lain. Jumlah lentera-lentera yang dipasang orang lebih banyak dari harr-hari biasa. Sedangkan diluar rumah tampak beberapa orang lelaki menggerombol-gerombol sambil mengobrol. Sementara itu, dikejauhan kira-kira ditengah dusun terdengar suara tetabuhan yang berkumandang nyaring, diselang-seling pula dengan suara-suara nyanyi perempuan yang terdengar sangat merdu dan riang.

Kiranya disana, dibawah sebuah teratak panjang yang berada disebuah lapang tengah dusun, sedang berlangsung sebuah pertunjukan, yaitu sintren!

Dari orang-orang yang berbondong pergi menuju tontonan itu, Dewi Yoni mendengar bahwa sintren itu adalah sintren dan Limbangan yang sangat terkenal itu. Terkenal karena sintrennya sangat cantik, dan penyanyi-penyanyi yang merupakan anggota rombongan itupun merupakan gadis-gadis desa yang menarik. Kecuali itu, juga pertunjukan kuda lumping atau jaran -ilir-nya sangat mengagumkan.

Mendengar adanya pertunjukan yang termashur itu, maka Dewi Yoni buru-buru pergi kesana, ikut mencampurkan diri kedalam bondongan orang yang pergi menonton.

Lapangan yang berukuran hampir satu hektar itu hampir penuh oleh penonton yang berjejal- jejal. Agaknya tidak sedikit pula penonton yang agaknya datang dari luar daerah yang juga ingin melihat bagaimana mashurnya sintren itu.  

Dengan mengandalkan pada tenaganya. Dewi Yoni menyelusup terus maju mendekati pertunjukan, yaitu sebuah lingkaran besar yang dipagari oleh gadis-gadis penyanyi yang tidak kurang dari limapuluh orang banyaknya, Para penyanyi itu duduk bersimpuh menghadap ketengah- tengah lingkaran, dimana tampak sebuah kurungan besar yang dibungkus dengan kain sutera warna- warni yang berkilau sangat indah.

Diluar lingkaran itu terdapat sebuah panggung kecil tempat duduk para penabuh tetabuhan, pimpinan rombongan sintren ataupun anggota rombongan yang lain seperti penarik jaran ilir dan para anggota rombongan yang lain.

Gadis-gadis penyanyi itu sedang menyemarakkan lagu sintrenen yang merdu dan nyaring dan irama tetabuhan terdengar mengalun penuh dengan getaran suatu perasaan, sebentar meninggi bagai jeritan seseorang yang sedang dilanda penyakit asmara, atau terkadang merendah sebagai damparan hati yang letih putus asa.

Ketika suara tetabuhan sedang menanjak makin tinggi maka dari atas panggung kecil itu tampak seorang lelaki tua turun sambil menggendong seorang gadis cilik berbadan ramping yang terbelenggu seluruh tubuhnya dengan seutas tali besar.

Gadis cilik itu berusia sekitar empat belasan tahun, wajahnya mungil, dan matanya bersinar- sinar. Akan tetapi pada sinar mukanya seolah meluk akan suatu kedukaan, mungkin karena ia dibelenggu seluruh tubuhnya, atau mungkin karena hal lain.

Akan tetapi, sudah menjadi kebiasaan sintren, merupakan suatu acara yang menakjubkan, ialah dia dimasukkan kedalam kurungan, dengan keadaan tubuh terbelenggu erat seperti itu.

Sintren cilik itu telah dimasukkan kedalam kurungan. Dan lelaki tua yang mengendongnya tadi, menyalakan api pedupaan.

Bau dupa kemenyan yang harum tertebar bersama mengalunnya asap kelabu dari atas angio yang bergelung-gelung.

Penyanyi-penyanyi itu semakin lantang bernyanyi, dan suara tetabuhan semakin bergema lantang berdengung.

Lelaki tua itu berkemak-kemik didepan pedupaan itu. Setelah bertepuk beberapa kali maka ia berdiri, tersenyum dan membungkuk hormat kesetiap pcnjuru kemudian berkata :

Sunyi senyaplah suasana. Gamelan dan tembang padam tiada terdengar lagi.

“Para hadirin yang kami hormati.....”, demikian laki-laki tua yang agaknya ketua dari rombongan sintren itu mulai bicara. “Sintren kita si Renggong Manis telah masuk kedalam peraduannya. Sebentar lagi bidadari akan turun mendandani pakaiannya, dan sintren kita segera muncul sebagai bidadari yang tercantik, bahkan lebih cantik dari sekalian bidadari-bidadari yang ada di Kahyangan!”.

“Para hadirin yang kami muliakan. Kami rombongan sintren dari Limbangan, adalah serombangan sintren sejati yang mempertaruhkan hidup pada nyanyi dan tari. Maka kami akan menerima dengan segala senang hati apabila para hadirin sudi memberikan saweran sebagaimana para hadirin relakan.  ”

Sampai disini laki.laki tua itu berbicara, maka para penonton hanya diam tercengang, seakan kena pesona yang mengalir diantara nada suara dari orang yang berbicara.

“Akan tetapi para hadirin yang kami muliakan! Kehidupan pesintrenan dinegeri kami ini tidak secerah langit pagi ataupun sejernih air telaga gunung Gajah. Kami yang selalu mencari nafkah dengan mempersembahkan tari dan nyanyi ini banyak mendapat tantangan, gangguan dan hambatan. Tidak kasihankah para hadirin mendengar itu semua?”

Semua para penonton pada diam, sebab mereka masih belum tahu.  

“Sintrenan kita sering dilarang, katanya menyebarkan maksiat! Tari dan jaran ilir kita diganggu, karena katanya mempersaudarakan setan! Dan tari silat kita dilarang karena merupakan alat untuk memberontak! Betulkah itu para hadirin?”

Para penontonpun diam, sebab hal inipun mereka baru mendengar.

Memang sebenarnya, demikian halnya. Adipati pemalang pernah mencanangkan suatu peraturan untuk rombongan sintren dari Limbangan ini. Bukan melarang kegiatan sintren dan seni nyanyi atau tariannya, akan tetapi memberikan peringatan agar pertunjukan sintren itu jangan sampai dirobah menjadi semacam tontonan “jual - kecantikan” yang sering dipertontonkan dihadapan mata.

“Nah kami sesungguhnya hanya menginginkan kebebasan! Bebas menari, bebas rnenyanyi,

dan bebas mencari jalan hidup! Bukankah begitu tuan-tuan ? Apakah tuan-tuan setuju?”

“Setujuuuuuu!”, jawaban serempak dari para hadirin segera tcrdengar. Memangnya setiap orang menghendaki kebebasan semacam itu. Tetapi begitu sederhanakah sebenarnya cita-cita rombongan sintren dari Limbangan ini?

“Terirna kasih para hadirin. Pertunjukan akan segera kita mulai ”.

Seketika itu, maka serempak suara gamelan dan tembang kembali terdengar membelah angkasa. Dan ketika lelaki tua tadi membuka kurungan, maka tampaklah seorang sintren yang sedang duduk bersila dengan mata terpejam.

Sintren itu adalah si Renggong Manis yang tadi dimasukkan kedalam kurungan dengan badan terbelenggu erat. Kini ternyata telah bebas, tali besar ada tergulung disisi tubuhnya.

Dandanan sintren itu sangat menarik, dikepalanya penuh dengan rampyo-rampyo yang berkerlap-kerlip sebagai permata berlian, kain dan bajunya serba baru dan serba dari sutera, sedangkan pakaian bekasnya ada tertumpuk disebelah tali. Wajahnya yang mungil dan matanya yang bersinar-sinar tampak semakin molek, seakan-akan ia benar-benar bidadari yang sesungguhnya.

Sintren mulai menari, maka tepuk tangan penonton gemuruh kedengaran, selang beberapa saat maka mata uang, saputangan dan bantalan-bantalan kecil beterbangan ketengah arena pertunjukan.

Apabila pertunjukan sudah mulai menghangat, irama gamelan makin meninggi dan suara nyanyi kian nyaring maka seorang laki-laki dengan mata uang ringgitan mengacungkan tangannya keudara, sambil berseru-seru memanggil-manggil sintren.

Melihat uang ringgitan yang terangkat keudara, maka dua orang penyanyi tampak berdiri menghampiri sintren, kemudian dengan berbimbingan menghampiri laki-laki itu.

Selanjutnya uang ringgitan itu dijebloskan kedalam belahan dada sintren, dan laki-laki yang menyerahkan uang sebesar itu, bebas menciumi sintren itu, mencomot payudara atau pahanya. Sorak sorai kian membahana. Tidak mustahil pula, gadis-gadis penyanyi itupun mendapat bagian dicium dan diremas-remas payudaranya, Dan jangan marah jika orang yang ‘dermawan’ itu akhirnya memasukkan tangannya kedalam kain si sintren.

Si sintren berpindah dari tangan seorang laki-laki ketangan laki-laki yang lain, yang tentu saja memberikan uangnya. Memberikan uang dalam pertunjukan ini, seakan-akan merupakan perlombaan atau pamer, yaitu pamer keroyalan atau kekayaan.

Acara pertunjukan bartambah gaduh, dan semarak apabila kemudian meningkat secara lebih jauh, yaitu beberapa gadis penyanyi menghilang bersama laki-laki kedalam semak-semak, apa yang mereka kerjakan ditempat itu? madah dilihat dari kegugupan mereka setelah mereka meninggalkan semak-semak dimana ia mengancing bajunya yang terbuka dan mengikat kainnya yang tidak teratur.  

Bau mesum mengalun keudara, napas-napas yang memburu seakan mendorong suara gamelan semakin gaduh di antara sorak sorai penonton yang makin riuh pula.

Mendadak, terdengar jeritan nyaring. Dan tampak sintren si Renggong Manis berlari jatuh bangun dari arah semak-semak, dikejar oleh seorang laki-laki bertubuh tegap dan berkumis baplang.

Gagal menangkap gadis mungil itu..., maka laki-laki tegap itu melompat ketengah kalangan, sambil bertolak pinggang.

“Hai, Ki Tambarekso!” seru taki-laki berkumis baplang itu... apakah mulutmu tadi hanya membual belaka? Bagaimana kau membawa seorang sintren yang tidak mau menuruti permintaan orang yang telah memberikan uang dua ringgit?!”

Ki Tambarekso adalah nama pimpinan rombongan sintren Limbangan itu. Mendengar dan melihat orang yang memakinya dengan kasar itu, maka dengan wajah terkejut ia membungkuk hormat.

“Ki Jagabaya. Harap maafkan sintrenku yang kurang ajar itu, sebentar nanti akan kuberi pelajaran dia!” Berkata demikian, maka Ki Tambarekso memandang penuh ancaman kearah sintren, si sintren menundukkan muka, ketakutan dan meneteskan air mata.

Adapun laki-laki berkumis baplang tadi, benar ki Jagabaya adanya, Jagabaya Karangsari ayah Kebo Sulung. Tcntu saja tidak mengherankan kalau laki-laki itu dengan mudahnya dapat memberikan uang dua ringgit kepada sintren, sebab kecuali Jagabaya itu kaya, siapa orangnya yang tidak mendengar bahwa pegawai praja itu sering menindas rakyatnya?

“Tambarekso! Kuminta sintrenmu, hentikan pertunjukan ini, sebab dia hendak kubawa pulang!” seru Ki Jagabaya pula, dengan lagak semakin sombong.

Penonton berbisik-bisik, gaduh, seakan-akan memprotes kesombongan Jagabaya. Dan sintren itu sendiri tampak sangat ketekutan, akan tetapi Ki Tambarekso malah tertawa terbahak-bahak.

“Tentu saja kami tidak keberatan, Ki Jagabaya. Akan tetapi......” bicara sampai disini Ki Tambarekso tertawa rakus. “Karena Renggong Manis merupakan sintren kita yang paling cantik tentulah kami akan.  ”

“Tak perlu berliku-liku. Berapa kau minta ganti rugi?” Jagabaya memotong bicara dengan

suaranya yang lantang dan angkuh.

Sekali lagi Ki Tambarekso tertawa terbahak. Sinar matanya melukiskan kerakusan seseorang kepada harta.

“Tidak banyak Ki Jagabaya. Cuma duapuluh ringgit ”

Duapuluh ringgit, pada jaman ini adalah seharga lima hektar sawah. Bararti harga yang diajukan oleh pimpinan rombongan sintren itu cukup mengejutkan untuk penonton yang lain.

Akan tetapi, agaknya Jagabaya yaag telah berselera benar kepada sintren mungil itu dengan angkuhnya mengeluarkan sebuah pundi-pundi. Kemudian dari dalam pundi-pundi itu dituangnya uang ringgitan yang gemerincing berjatuhan. Setelah menghitung sejumlah duapuluh biji, lalu menyerahkan uang itu kepada Ki Tamberekso.

“Terima kasih, terima kasih. ” kata Ki Tambarekso seraya mengantongi jumlah ringgitan itu.

“Sekarang pertunjukan kami sudahi, dan Ki Jagabaya boleh membawa pulang sint ”

Baru bicara sampai disitu. Ki Tambarekso berpaling kearah sintren si Renggong Manis. Kiranya sintren sudah tidak berada ditempat lagi, tinggal tampak sesosok bayangan laki-laki berpakaian compang-camping yang berlompatan sengat cepat sambil memanggul tubuh gadis mungil itu menerobos keluar dari penonton yang berjejal itu.

“Tangkap!” Ki Tambarekso berseru kalap terutama sekali Ki Jagabaya yang telah merasa

mengeluarkan sekian banyak uang berseru-seru keras sambil berlari memburu.  

Kecuali Ki Tambarekso, Ki Jagabaya yang membalapkan kudanya dan para segenap para penari ‘jaran ilir’ yang mengejar tampak pula Dewi Yoni si pemuda tampan yang telah mengempos semangatnya untuk mengejar penculik sintren itu.

Seketika suasana yang tadi gembira penuh nyanyi dan tetabuhan itu bertukar dengan kegaduhan orang-orang yang menjerit-jerit kesakitan kareaa terinjak-injak ataupun penonton wanita atau bocah-bocah yang tergencet oleh mereka yang berjejalan itu.

Tangis dan jerit, berbaur dengan suara derap kaki kuda maupun gedebuknya tapak kaki. Ki Tambarekso yang memiliki ilmu ringankan tubuh yang cukup tinggi, berada ditempat yang paling depan. Dibelakangnya tampak pemuda tampan, kemudian Ki Jagabaya untuk kemudian adalah anggota rombongan sintren yang lain.

Sabagai orang ketahui, bahwa rombongan sintren Limbangan bukanlah rombongan sintren biasa akan tetapi anggotanya merupakan orang-orang yang mempunyai ilmu kepandaian lumayan bahkan ada juga yang disebut-sebut sebagai penari jaran ilir itu, adalah pemuda-pemuda berkepandaian silat tinggi.

Adapun orang yang membawa lari sintren itu agaknya memiliki ilmu ringankan tubuh yang sangat tinggi. Walaupun Ki Tambarekso dan yang lain-lain telah mengerah seluruh tenaganya, tetapi tidak bisa menyandak. Agaknya takkan ada harapan mereka para pengejar itu akan dapat menangkapnya sebab penunggang- penunggang kuda sendiripun sebagai Ki Jagabaya tidak dapat menyandaknya.

Akan tetapi, tiba pada sebuah bebulak, tiba-tiba maling sintren itu menghentikan larinya. Setelah menyembunyikan sintren itu dibalik tebing batu yang meninggi, kembali maling itu melangkah ketengah jalan menghadang sambil bertolak pinggang.

“Bangsat! Maling busuk mau minggat kemana kau!” Bentak Ki Tambarekso dengan napas

memburu. Yang lain begitu tiba lantas mengurung maling itu.

Kiranya maling atau penculik sintren itu adalah seorang pemuda berpakaian compang- camping dan rambut riap-riapan menutupi sebagian rnukanya. Mendengar teguran ancaman itu si pemuda jembel itu tertawa cengar cengir sambil menengok kekiri dan kekanan seperti orang bingung.

Begitu melihat jelas keadaan si penculik semua pengejar itu jadi terkejut. Terutama adalah Ki Tambarekso. Kakek ini masih ingat benar pada kejadian di selat Pencuci Dosa itu dimana ia secara tolol telah kena dikelabuhi oleh jembel itu sehingga mengakibatkan pertarungan seru dengan Kebo Sulung.

Diantara kaget dan marahnya Ki Tambarekso telah menarik ikat pinggangnya yang kiranya adalah seutas cambuk. Kepala kumpulan sintren ini sangat terkenal dengan ilmu cambuknya.

Apabila ia telah mempergunakan senjata itu berarti ia tahu sedang berhadapan dengan seseorang yang benar-benar hendak dibunuhnya.

“Kau jembel busuk yang mengacau diselat Pencuci Dosa! Hmm, tempo hari kau luput dari kematian, sekarang kebetulan kau mencari mati ditanganku! Rebah!!”

Sambil membentak begitu. Tambarekso telah melecutkan cambuknya. Terdengar bunyi letusan nyaring diudara, memekakkan telirga. Selanjutnya ujung cambuk yang runcing tetapi lemas itu telah menyambar kearah tenggorokan si pemuda jembel.

Ya, pemuda jembel ini memang tak lain adalah si Pepriman. Dalam hal ilmu kepandaian, tentu saja sebagai Ki Tambarekso yang pernah menyaksikan betapa pemuda jembel itu dengan mudahnya melempar-lemparkan anggota paguyuban Banjardawa dengan mudah, sudah dapat menduga bahwa lawannya tak boleh dipandang ringan.

Akan tetapi sungguh tak disangka, bahwa pemuda jembel itu kiranya jauh lebih hebat dari pada dugaan.  

Sabetan cambuk Ki Tambarekso tadi adalah pukulan jurus maut yang disebut “membeli gunung mengebor kawah”. Sekali sabet ujung cambuk yang terbuat dari logam berkarat dan runcing itu tentu akan mematuk kearah tenggorokan.

Pemuda jembel itu masih juga berdiri diam, ketika tali pecut manyambar. Bahkan ketika tali cambuk itu telah melingkar dileher si jembel masih juga berdiri sambil tetap tertawa ha ha ha he he he.  

Akan tetapi ketika Ki Tambarekso mengedutkan senjatanya deagan penuh keyakinan bahwa korbannya tentu akan roboh binasa, kiranya pecut itu hanya menyabet angin belaka, Pemuda jembel itu entah dengan cara bagaimana, tahu-tahu telah berada diluar cambuk yang menggubat itu.

“Bedebah busuk! Jangan harap aku akan mengampunimu!” Dan Ki Tambarekso mengangkat

cambuknya lagi.

“Ki Jagabaya dari Karangsari melompat turun dari kuda, dan langsung mencabut goloknya,

diacungkan keudara sambil berseru :

“Cuma seorang pepriman belaka! Ayo kembalikan sintrenku, kalau tidak, golokku sering terlalu cepat bicara!” suaranya lantang sombong.

Mendengar ancaman Ki Jagabaya itu, mendadak sikap si jembel berubah menjadi keren dan gagah. Lalu dengan suara lantang dan berwibawa, ia menyahut :

“Kau macamnya Jagabaya yang mengandalkan kekuasaan dan hartamu untuk menindas si lemah! Sintren takkan kukembalikan kepadamu!! Bahkan kini kuminta sebelah tanganmu!”

Seraya berkata demikian, dari mulut si jembel terdengar suara lengkingan yang parau dan sangat menyeramkan.

Setelah itu tubuhnya berkelebat cepat, menubruk ke arah Ki Jagabaya.

Ki Jagabaya terperanjat. Cepat ia memapak serangan si jembel dengan bacokan goloknya.

Dan bersamaan dengan itu, Ki Tambarekso menyerang dengan cambuknya.

Semuanya terjadi terlalu cepat. Baik Ki Tambarekso, Jagabaya maupun si jembel adalah tokoh-tokoh yang mempunyai ilmu kepandaian tinggi.

Semua gerakannya dilakukan dengan sangat cepat dan kilat, akan tetapi tidak secepat sebagai sekarang yang terjadi.

Dalam segebrakan itu, terdengar pekikan Ki Jagabaya Karangsari melolong kesakitan, disusul tampaknya pergelangan tangan sepotong, yang terbang keudara.

Selanjutnya, tampaklah Ki Jagabaya yang melolong-lolong sambil memegangi lengan kanannya yang buntung dengan tangan kirinya, darah menyembur dari lukanya seperti semprotan.

Ki Tambarekso sendiri terbelalak, kaget dan pucatlah wajahnya.

Ia merasa dengan pasti, bahwa senjata yang memutuskan pergelangan tangan Jagabaya adalah cambuknya sendiri. Kakek kepala rombongan sintren ini tentu saja tidak menyerang Ki Jagabaya, akan tetapi entah mengapa terjadi keanehan seperti itu.

Sebenarnya yang terjadi demikian. Ketika Jagabaya membacokkan goloknya kedepan memapak si jembel, saat itu si jembelpun sedang menubruk kedepan. Menurut pantasnya, tidak akan luput tentu tubuh si jembel yang akan terbacok sampai terbelah. Akan tetapi tidak demikian.

Begitu melihat sinar golok, jembel itu yang telah menduga sebelumnya, lantas mengacungkan tangannya menyambut. Golok kena dijepit oleh dua jari si jembel, walaupun Jagabaya berusaha menarik, akan tetapi sia-sia.

Pada saat itu, datang sabetan cambuk Ki Tambarekso. Detik itulah dipergunakan oleh si jembel. Segera ia mendorongkan tangannya kesamping. Bukan leher si jembel yang terbelit cambuk, tetapi adalah pergelangan tangan Ki Jagabaya yang memegang golok. Ki Tambarekso merasa seakan senjatanya mengenai sasarannya, lalu mengedot sekerasnya. Tidak tahunya pergelangan tangan Jagabaya Karangsari yang terbuntungi olehnya.

Melihat darah yang menyembur-nyembur dari luka Jagabaya, dan melihat polah orang itu yang tetunggingan sambil melolong-lolong maka sinar mata si jembel semakin buas jelilatan sangat liar, menakutkan. Mulutnya mengatup rapat, rahangnya menjadi persegi. Rambutnya yang riap- riapan sebagian menutupi muka bertebaran oleh suara napasnya yang memburu.