Alap-Alap Gunung Gajah Jilid 06

Jilid VI

SEDIKIT memang ada miripnya antara si Pepriman dengan Sogapati, terutama dalam hal umur, tinggi badan maupun potongannya dan juga mata maupun mulutnya. Kedua pemuda itu memiliki sepasang mata yang bersinar-sinar melukiskan kejantanan yang gigih, dan mulut yang kecil mengatup menggambarkan kekerasan hati.

“Jadi benar, kau tidak menyamar sebagai si Pepriman?!” Cunduk Puteri menegas.

Sogapati mengangguk.

“Apakah kau mempunyai saudara kembar?” Tanya Cunduk Puteri pula.

“Mengapa nona?” Sogapati terheran-heran. “Ayah ibukupun aku tak tahu, apalagi saudara!”

Cunduk Puteri mengangguk-angguk.

“Kata guru, aku cuma seorang bocah yatim-piatu ketika beliau mengambil diriku menjadi

murid. Siapa dan betapa orang tuaku, guru tak pernah menceritakannya kepadaku!”

Cunduk Puteri berwatak polos dan terus terang. Ia manggut-manggut sambil berkata : “Jadi jelas dia yang telah menolongku, menyapu jarum-jarum beracun itu! Lagi-lagi dia! Lagi-lagi dia yang menolongku! Sogapati!” Seru dara itu pula. “Apabila menilik gerakan dan langkah- langkahnya yang hebat dan aneh itu, memang mirip dengan ilmu delapan langkah membunuh naga dari Loning. Akan tetapi kalau kuingat-ingat memang bukan. Tidak, tidak sama dengan ilmu langkah ajaib itu.” “Benar nona. Tentu saja dia lain dengan aku, bukan aku! Tetapi apakah nona sendiri juga tak mengenalnya?” 

Cunduk Puteri menggeleng-gelengkan kepalanya.

Dalam hati, ia menduga bahwa pemuda jembel itu tentu saat ini berada tidak jauh dari dirinya. Bukankah ia dapat muncul dan menghilang seperti malaikat? Di saat-saat ia menghadapi bahaya, pemuda jembel itu selalu muncul memberikan pertolongan. Habis siapakah dia sebenarnya?

Si dara mengingat-ingat, mencari nama orang yang patut diduga menjadi si Pepriman itu, akan tetapi sampai puyengpun ia takkan mendapatkannya.

“Nona Cunduk Puteri”, kata Sogapati tiba-tiba. “Ada apa?”

“Setelah kau mengetahui bahwa aku bukanlah jembel yang kau temui digunung Gajah itu, apakah kau segera turun tangan membunuhku? Aku adalah musuhmu ingatlah, tiada harganya kau mempertaruhkan jiwa untuk diriku yang tak berguna ini!”

Cunduk Puteri terdiam.

Memang, bila mengingat bahwa Sogapati adalah anggota Paguyuban Banjardawa yang memusuhi dirinya, tentulah Cunduk Puteri takkan segan-segan untuk turun tangan membunuhnya.

Akan tetapi ada suatu pikiran lain baginya. Cunduk Puteri yang cerdik dan pandai dalam ilmu taktik dan cara-cara pertempuran, maklum bahwa Sogapati sangat berguna dipergunakan sebagai alat untuk menarik perguruan Loning kepada pihaknya. Dan ini adalah masalah yang sangat penting. Tidak kecil artinya bantuan tenaga perguruan itu dalam perjuangan.

Maka katanya : “Tidak! Manusia sejati tak pernah bekerja setengah-setengah. Aku telah

menolongmu dan kini aku bermaksud untuk mengantarkan dirimu keperguruan!”

“O, Cunduk Puteri!” Sogapati terkejut dan wajahnya makin pucat. Apakah bila guru mengetahui aku sebagai anggota paguyuban Banjardawa masih akan menerima diriku lagi? Guru benar-benar hendak mensucikan diri dari segala urusan dunia ini, ia sama sekali tak mau terlibat didalamnya. Harap nona segera turun tangan membunuhku saja ”

Sejenak Cunduk Puteri terkejut, akan tetapi akhirnya manggut-manggut mengerti.

“Tapi...”, kata dara itu kemudian. “Urusan sudah terlanjur begini. Kau boleh tetap ikut rombonganku, sampai kau sehat kembali. Baru sesudah itu kau pergi kemana saja kau suka!”

Mendapat perlakuan yang demikian baik dari si dara dan mendengar kata-kata yang terakhir itu. Sogapati merasa tulang-tulang sendinya seakan dilolosi dan hatinya tersayat-sayat oleh keharuan. Sedangkan ketua paguyuban yang pernah dibantu oleh dia sendiri bertindak begitu kejam atas dirinya, tetapi sebaliknya dara musuh ini malah melindunginya dengan begitu baik. Dari rasa harunya itu timbullah rasa malu bukan buatan. Dan terasalah olehnya, betapa dirinya benar-benar seorang pemuda tiada guna, rendah dan rnemalukan. Dugaan semula bahwa para musuh-musuhnya yang dikira sebagai orang-orang sombong yang suka memberontak kini tersapu bersih, tertukar oleh rasa kagum. Kagum kepada mereka yang secara gigih telah berusaha menentang penjajah bersama paguyuban Banjardawa, terutama sekali kagum akan kecantikan dan ketinggian budi dara Pucung ini.

Saat itu, teman-teman mereka yang memanggang hasil buruannya sudah mulai memanggil- manggil untuk mencicipi panggang daging segar. Dan sekalian para murid itupun berebutan untuk mulai melahap masakan itu. Ketika mendadak terdengar suara jeritan melengking yang sangat nyaring dari arah timur laut, mirip lengkingan orang yang ditikam oleh maut.

Sekalian yang berada dihutan itu terkejut. Dan mereka celingukan mencari-cari. Tetapi lengkingan yang serupa itu terdengar beberapa kali lagi dari arah yang sama. Cunduk Puteri mendapatkan firasat. Cepat-cepat seperti diperintah oleh hati nuraninya ia perintah seluruh anak buahnya untuk bersiap-siap dan melakukan pengejaran.

Dengan gopoh dan tergesa-gesa sekali, mereka menburu kearah timur laut, kearah datangnya suara tadi serupa itu terdengar pula, akan tetapi lebih menjauh pula.

Demikianlah, mereka melakukan pengejaran hingga ketepi hutan, tetapi suara lengkingan itu berada semakin jauh saja, bergerak kearah timur laut.

Ketika mereka keluar dari hutan, hari telah malam dan langit jernih membiru tampak ditaburi cahaya bintang-bintang. Bulan sedang bersembunyi dibalik selembar awan tipis yang bergerak sebagai kapas.

Sayup-sayup. Cunduk Puteri menangkap datangnya suara dari arah belakang telinganya. Pabila ia berpaling maka terlihatlah olehnya serombongan orang-orang berkuda yang sedang berjalan menuju kehutan itu.

“Ach...”. Cunduk Puteri mengeluh..... “Tidak salah. Tentu dia pula yang telah menolongku. Dibelakang itu tentulah sisa rombongan anggota paguyuban Banjardawa...” Demikianlah, Cunduk Puteri menduga pasti, bahwa yang telah bersuara melengking mirip orang disembelih itu tentulah si jembel alias si Pepriman itu. Cemas dan penasaran sekali, si dara memikirkan hal ini... Kecuali atas terima kasih pertolongan pemuda tak dikenal itu, juga ia merasa jengkel juga bahwa ia merasa seakan-akan dipermainkan olehnya.

Cunduk Puteri segera memecah rombongan menjadi dua. Serombongan murid-murid Pucung dan murid Kenistan untuk mengambil jalan ketimur lurus untuk menyelamatkan diri. Sedangkan si dara sendiri bersama Sogapati yang digendongnya bergerak terus menuju timur laut, kecuali untuk melakukan pengejaran terhadap ‘si penolong’, juga sekaligus memancing para pengejar agar tidak memburu kearah murid-rnurid Pucung dan Kenistan itu.

Sengaja Cunduk Puteri memberikan seluruh kuda untuk rombongan yang pertama. Sedangkan ia sendiri dengan mempergunakan ilmu ringankan tubuhnya yang cukup tinggi, berlari sambil berseru-seru :

“Hai Pepriman sombong! Tunggu!!”

Demikianlah seruan semacam itu sengaja diulang-ulang oleh Cunduk Puteri untuk menarik perhatian para pengejar.

Cara yang dilakukan ini, membuat Sogapati semakin terharu dan kagum.

“Inilah contohnya seorang pendekar sejati!” Kata pemuda itu dalam hatinya. “Walaupun aku mati, agaknya tidaklah sia-sia apabila aku mengorbankan jasadku yang tak ada guna ini untuk menyelamatkannya...”

Dan pada detik itulah, tiba-tiba Cunduk Puteri menghentikan larinya, karena didepannya tampak berdiri seorang laki-laki tua berkulit hitam yang matanya cekung dalam, tapi sinar kilatnya menyeramkan. Disampingnya berdiri seorang laki-laki tua pula yang memiliki wajah tampan, sikapnya keagung-agungan, angkuh sekali.

Tergetar rasanya hari Cunduk Puteri. Selama ini ia sering mendengar nama Ki Genikantar yang ditakuti orang, kini ia berhadapan dengan orangnya, maka setidak-tidaknya berpengaruh juga. Apalagi guru Bantarkawung itu ada ditemani oleh Ki Gede Ayom demang Moga juga dikenal orang sebagai orang berilmu tinggi juga.

“Siluman cilik! Hendak minggat kemana kau?” Bentak Ki Genikantar seraya menatapi

sekujur tubuh si dara, seakan-akan sedang menjajagi dalam ilmu lawan.

Saat itu atas kemauan sendiri Sogapati telah melorot turun dari gendongan sambil mencabut sepasang golok pendeknya. Hatinya sudah tetap bertekad untuk membantu si nona, walaupun dengan taruhan nyawa sekalipun. Dan Cunduk Puteri melihat si sakit ia gembira tapi juga terharu. Lalu dara itu berdiri gagah dengan kedua kaki terbuka lebar dan kedua tangan siap dipinggang.  

Kiranya paguyuban Banjardawa hanyalah berujud kawanan ajag yang suka makan kawan sendiri. Patutlah, sebab ketuanya malah benggolannya para penjahat!” Kata si dara dengan sikap menantang.

“Kau, budak ingusan kemarin sore berani menghina paguyuban Banjardawa, menghina perguruan Bantarkawung! Hei, budak lancang! Mengingat dirimu hanyalah seorang gadis cilik tak pantas diajak bertarung, maka biarlah aku mengampuni jiwamu asal kau kembalikan tawanan itu.”

“Aku tidak butuh dikasihani. Kalau aku hendak pergi juga, kalian mau apa? Dengarkan! Aku hendak membawa Sogapati menghadap gurunya untuk mendapatkan pengobatan, bukan pergi ke kadipaten untuk meniupkan fitnah, agar terbit pemusuhan besar antara kadipaten dengan perguruan Loning! Apalah hasilnya bagimu penghuni bumi nusantara ini, bila sesama bangsamu berkelahi, saling bunuh, tak mengenal damai? Apakah hendak menjualnya kepada Kompeni?” Cunduk Puteri tertawa renyah mengejek.

Apa yang dikatakan oleh Cunduk Puteri memang benar belaka, tidak meleset sebagai yang direncanakan oleh Ki Genikantar atau paguyuban Bantardawa. Dan dibuka rahasianya begitu rupa, Ki Genikantar tampak tersentak. Kelihatannya ia sangat geram. Matanya berkilatan sinar berapi, mulutnya menggigit-gigit dan tangannya meremas-remas hingga terdengar suara sendi-sendi jari tangannya gemeletik.

“Budak sombong. Ayahmu belum tentu patut menghinaku! Cari mati sendiri!”

Seraya berkata demikian, maka Ki Genikantar memperdengarkan suara menggereng dari mulutnya. Sepasang tangannya yang panjang dan hitam itu tiba-tiba bergerak. Tangan kanan menyambar kebawah kaki si dara, sedangkan tangan kiri menghantam kedepan dengan telapak tangan terbuka.

Sekali bergerak Genikantar telah melancarkan serangan yang mematikan. Sebab ia tahu bahwa lawannya walaupun hanya seorang dara remaja belaka, akan tetapi tak boleh dipandang ringan.

Cunduk Puteri berlaku tenang. Dan inilah merupakan keunggulan para pendekar ini. Sekali ia melompat mundur, maka kedua serangan beruntun itu dapat dibikin punah.

Namun Ki Genikantar bukanlah tokoh hijau yang belum berpengalaman dalam pertarungan. Bicara tentang pengalaman tentunya si dara berada jauh dibawahnya. Hanyalah watak si dara yang keras, berani dan tenang itulah kiranya ia dapat memainkan ilmu silatnya dengan sebaik-baiknya.

Ki Genikantar telah melanjutkan serangan tangan kirinya dengan menubruk maju kedepan. Dan telapak tangan yang semula menghantam itu dirubahnya mencengkeram kearah buah dada si dara.  

Semua gerakan itu dilakukan dengan cepat seolah tak terduga. Andaikata Cunduk Puteri sendiri tak memiliki ketabahan yang luar biasa, dalam gebrakan kedua ini tentulah ia akan dapat dicelakai.

Dalam kaadaan tubuh masih melayang diudara si dara tak dapat berpikir ataupun berbuat banyak. Segera ia mengangkat tangan kanannya menyambut serangan.

“Aiiiihhhh!” Kecuali ngeri mendapat serangan yang ‘kurang ajar’ itu, si dara terkejut sekali, demi mendapat kenyataan bahwa tenaga dorongan lawannya sangatlah besar. Begitu tangannya bertemu, si dara merasa seperti memikul beban sebuah gunung yang mendidih.

Untunglah, buat yang sekian kalinya, ketabahannya yang luar biasa telah menolongnya. Menyadari bahwa tenaga lawan jauh lebih besar, sedangkan dirinya tidak sedang berpijak diatas tanah, maka si dara buru-buru menarik kembali tenaga dorongnya, setelah mana ia menutup diri dengan pemusatan batinnya, menerima dorongan tenaga lawan itu dengan napas ditahan.

Akibatnya, tubuh Cunduk Puteri terlempar keras melayang seakan terbang, lebih dari sepuluh langkah jauhnya. Namun begitu turun kembali ketanah, Cunduk Puteri sudah lantas bersiap siaga kembali. Menyadari bahwa lawan memiliki tenaga yang lebih besar, maka Cunduk Puteri merubah siasat. Dengan mengandalkan ilmu ringankan tubuhnya si dara selalu menghindarkan bentrokan adu tenaga. Sebaliknya, Ki Genikantar yang yakin bahwa ia boleh membanggakan tenaganya, selalu berusaha dengan pancingan untuk adu tenaga. Akibatnya pertarungan itu berubah seakan-akan orang yang saling kejar.

Cunduk Puteri seakan menjadi kupu-kupu yang beterbangan menghindar dan mendekat, sedangkan Genikantar seolah-olah menjadi sebuah gunung karang yang kokoh perkasa.

Dalam waktu singkat, mereka telah menghabiskan tigapuluh jurus. Dan perlahan-lahan bahwa Ki Genikantar berada diatas angin.

“Keluarkan senjatamu!” Bentak Ki Genikantar seraya melancarkan tendangan bergelombang. Kedua kakinya berubah menjadi baling-baling yang secara beruntun melontarkan tendangan kearah lawan.

Semula memang si dara bermaksud hendak menjajagi sampai dimana ilmu kepandain guru Bantarkawung itu dalam permainan tangan kosong. Kini telah disadari olehnya, bahwa nama Bantarkawung bukanlah nama kosong belaka.

Satu tendangan bisa dihindarkan maka menyusul tendangan yang lain yang bila dapat dihindarkan akan datang pula tendangan susulan yang lebih dahsyat lagi. Itulah dalam perguruan Bantarkawung disebut “gelombang bersusun di laut selatan”.

Seketika si dara terdesak hebat, tampak kerepotan. Maka ketika tangannya bergerak kepinggang, selanjutnya kedua tangan dara itu telah memegang cambuk ditangan kiri dan pedang ditangan kanan.

“Awas!” Serunya, seraya menyabetkan ujung cambuk kearah kaki Ki Genikantar yang sedang

meluncur.

“Bagus!” Seru Ki Genikantar seraya menarik kembali. Selanjutnya, setelah si dara

mempergunakan sepasang senjata itu, pertarungan berlangsung dalam keadaan seimbang.

Di pihak lain, Ki Gede Ayom demang Moga yang melihat Sogapati tergeletak diatas rumput, bermaksud meringkusnya. Akan tetapi segera mengurungkan maksudnya ketika ternyata Sogapati tahu-tahu telah menggerakkan sepasang goloknya sambil berseru :

“Paman demang, apakah tidak hanya menurunkan derajat saja menyerang orang yang sedang terluka?”

“Siapa sudi menyerang dirimu? Kau adalah penghianat paguyuban, maka kami pengurus berhak menghukummu!”

“Aku tak berhianat! Aku tak bersalah! Kalau pengurus paguyuban bermaksud mempergunakan diriku untuk mengadu domba kadipaten dengan perguruan Loning jangan harap maksud itu akan dapat dilaksanakan begitu mudah!”

“Tutup mulut!” bentak Ki Genikantar seraya membalikkan tangannya menghantam kearah Sogapati. Akan tetapi Cunduk Puteri cukup awas dan cepat-cepat meluncurkan pedangnya memotong, sehingga terpaksa Ki Genikantar cepat-cepat menarik kembali serangannya.

Sejenak Ki Gede Ayom tertegun, diam. Ia sadar bahwa maksud rahasia paguyuban Banjardawa untuk melancarkan taktik adu domba, seperti sudah kebabaran, sebab telah diketahui oleh Sogapati sendiri juga Cunduk Puteri. Maka apabila semula ia bermaksud membiarkan Ki Genikantar memberesi si dara seorang diri, kini terpaksa demang Moga itu mengangaap perlu harus segera menutup mulut! Menutup mulut kedua muda-mudi itu.

Terpikir hal yang demikian, maka ia memperdengarkan suara mendehem, tahu-tahu dengan cepatnya, sebelah kakinya telah terayun menghantam tengkuk Sogapati.  

Diserang dengan begitu mendadak dan cepat itu, walaupun Sogapati mempunyai sepasang golok ditangan, tak mungkin mampu menyelamatkan diri. Pemuda itu terbelalak dan harapannya telah putus. Ia pasrah pada nasib.

Sekali tendangan kilat itu mendarat ditengkuk, takkan perlu didua kali, tentu akan putuslah nyawa Sogapati. Akan tetapi, sedang ia sekian lama menunggu datangnya sang ajal mencabut nyawanya, tendangan maut itu tidak kunjung datang.

Kaki Ki Gede Ayom telah terayun, akan tetapi sedang setengah jalan, tahu-tahu ada sebutir batu kecil yang mengetuk sambungan lututnya. Demang itu tergetar tubuhnya sejenak, terasa kakinya lumpuh seketika. Cepat ia mengerahkan tenaga batinnya, mendesak keluar pengaruh timpukan itu. Memang hanya sebentar ia berlaku demikian, akan tetapi setelah pulih kembali tenaganya ia mengurungkan serangannya.

Ki Gede Ayom sadar, bahwa ada orang sakti yang berada disekitar tempat itu. Lontaran batu kecil tanpa suara yang dilakukan dengan sangat cepat dan tepat itu mustahil dilakukan oleh orang sembarangan.

Pikiran Ki Demang ingat pada Mbah Pucung. Kiai Kenistan ataupun Kiai Cucut Kawung yang melakukan serangan gelap itu. Menduga bahwa ada orang sakti yang melindungi kedua muda- mudi itu, maka Ki Gede Ayom tak mau bertindak gegabah.

Ki Genikantar boleh diharapkan untuk memenangkan pertarungan, namun hal itu masih memakan waktu. Sedangkan lawan, nyatanya ada orang sakti yang siap sedia membantu, yang mereka sulit untuk diduga kekuatannya.

Maka Ki Gede Ayom segera berseru :

“Cundrik! Mereka ada disini!”

Rombongan Dewi Cundrik, Kebo Sulung yang sedang mendatangi cepat-cepat memburu.

Cunduk Puteri diam-diam mengeluh, ia menduga bahwa ia takkan dapat menyelamatkan dirinya lagi. Menghadapi Genikantar seorang diri saja ia sudah kerepotan, apalagi bila mereka dibantu dengan munculnya Dewi Cundrik dan yang lain-lain?

Sedang si dara menjadi tambah gelisah, tiba-tiba dari arah hutan disamping gelanggang pertarungan terdengar suara gemerisik. Tahu-tahu beberapa ranting dan daun-daun hutan berterbangan susul menyusul menyambar kearah Ki Genikantar maupan Ki Gede Ayom.

Ki Genikantar juga Ki Gede Ayom jadi repot menghadapi serbuan cabang dan daun-daun itu. Dan pada detik itulah nampak berkelebat sesosok bayangan yang melompat dari arah hutan, menyambar kearah Sogapati seraya berseru : “Lariiii  !”

Tak usah ditanya pada siapa seruan itu ditujukan. Cunduk Puteri dapat mempergunakan kesempatan itu buat berlari mengikuti bayangan orang yang membawa Sogapati.

“Kejar! Tangkap!” Ki Genikantar berteriak-teriak sambil melontarkan beberapa kali pukulan jarak jauh, namun bayangan para buron itu telah lenyap menyelinap kedalam hutan.

Rombongan Dewi Cundrik dan yang lain telah tiba, namun mereka hanya dapat bergabung dengan Genikantar dan Ki Gede Ayom untuk melakukan pengejaran belaka.

oooOooo

DI TEPI kali Comal, di wilayah perbatasan antara kademangan Ampelgading dengan kademangan Podeh, tampak duduk tiga orang muda diatas batu-batuan sambil merendam kaki kedalam air.  

Seorang yang pertama, yang berada pada tempat yang agak terpisah adalah seorang dara berpakaian serba hitam dengan sebuah Cunduk diatas kepalanya, tak lain dan tak bukan adalah Cunduk Puteri adanya.

Yang seorang pula, yang duduk bersandar pada batu besar adalah Sogapati.

Sedangkan yang seorang lagi, yang duduk berpeluk lutut, adalah seorang pemuda berpakaian jembel yang rambutnya riap-riapan menutupi muka. Dialah Joko Bledug sesunggulnya.

Dalam pertarungan antara Cunduk Puteri melwan Genikantar memang Joko Bleduglah yang telah secara diam-diam membantu mereka. Dan malam itu mereka melarikan diri, terus menuju ketimur tanpa berhenti. Siang dan malam mereka tak pernah beristirahat, keluar masuk hutan mengingat bahwa para pengejar mungkin setiap waktu bisa menyusul mereka.

Hingga tiba pada hari yang ketujuh, tibalah mereka ditepi kali comal yang besar dan deras airnya itu, dan beristirahat setelah mereka yakin para pengejar mungkin telah tersesat jalan.

Berkali-kali Cunduk Puteri juga Sogapati menghaturkan terima kasihnya atas budi pertolongan pemuda jembel itu, namun si pemuda berpakaian compang-camping itu hanya bersikap acuh tak acuh saja.

Bahkan secara tiba-tiba ia telah bertanya :

“Nona Cunduk Puteri. Buat apakah kau mempertaruhkan nyawamu untuk melawan paguyuban Banjardawa, menjual jiwa melawan kompeni dan segala antek-anteknya? Apa yang anda peroleh?”

“Untuk kejayaan Mataram, sudah barang tentu. Untuk kejayaan bangsa kita! Mengapa kau

bertanya begitu? Apakah itu salah?” sahut Cunduk Puteri tegas.

“Tidak! Tidak salah!” si jembel menggeleng-gelengkan kepalanya. “Bahkan sebaliknya, kedengaran sangat mulia. Tapi..... apakah Sultan Mataram pernah menyuruhmu berbuat begitu, nona?”

Pertanyaan itu dirasa memang ganjii sekali, sehingga Sogapati dan Cunduk Puteri saling pandang.

“Tidak pernah, memang. Kami berbuat hanyalah sekedar menunaikan darma bhakti seorang rimba persilatan yang mengaku dirinya sebagai orang gagah. Seorang pendekar sejati adalah pendekar yang berani mengorbankan segala-galanya untuk bumi pertiwinya, untuk bangsanya dan untuk kemanusiaan!” kata Cunduk Puteri menerangkan.

Tiba-tiba si jembel atau Joko Bledug itu nampak terkejut. Ia mengangkat wajahnya memandang langit biru yang cerah. Dan bola matanya berputar-putar seperti orang yang sedang berpikir keras.

Untuk bumi pertiwi, untuk bangsa dan untuk kemanusiaan...“ Joko Bledug menggumam sendiri, langkah mulianya itu. Jadi... kau nona, bersama perguruan Pucung, Perguruan Kenistan dan sekalian kelompokmu itu merupakan kelompok kesatria?”

Cunduk Puteri setengah mengangguk, setengah mengelak. Memang, tak ada yang berani mengaku bahwa dirinya seorang kesatria.

“Saudara Pepriman!” kata Cunduk Puteri kemudian. “Walau tidak secara langsung, apa yang kau lakukan sebenarnya telah membantu pihak kami, pihak yang menentang kompeni dan segala kambratnya, sesuai dengan cita-cita Mataram. Berarti secara tidak langsung saudara telah menempatkan dirinya sebagai seorang kesatria.”

“Apa? Kesatria?” mendadak mata Joko Bledug terbelalak. Selama ini, apa yang dilakukannya hanyalah sekedar menurutkan kata hati atau apa yang dirasakan secara tiba-tiba saja, tak pernah ia memikirkan sebelumnya. Kini ia mendengar bahwa dara pendekar yang kenamaan itu telah memasukkan dirinya kedalam golongan kesatria, walaupun ia tahu itu penggolongan yang  

terhormat, akan tetapi sebaliknya dari merasa gembira, ia bahkan memekik kaget sambil menjambaki rambut sendiri.

“Aku? Aku kesatria?” Joko Bledug menggumam. Habis siapa itu yang disebut sebagai anak durhaka, murid murtad ataupun pengkhianat perguruan?”

Seluruh jalan hidup yang dilaluinya kini terungkap kembali. Pergaulannya terhadap Dewi Cundrik dan pembunuhan atas diri Sawung dan Galing itu harus digolongkan, harus digolongkan kemana?

“Nona yang baik...”, kata Joko Bledug dengan suara penuh nada berharap, akan tetapi matanya jelilatan mengerikan. Dapatkah nona menceritakan kepadaku, mengapa sampai timbul pergerak yang demikian? Mengapa pula ada paguyuban Banjardawa? Dan mengapa pula antara paguyuban Banjardawa dergan pihakmu saling bermusuhan, sedangkan menurut hematku perbuatan paguyuban Banjardawapun hakekatnya menunaikan dari bhakti orang rimba persilatan. Tak ada bedanya dengan kau, suka membunuh, suka pada peperangan dan segala macam pertumpahan darah!”

“Pepriman”. Cunduk Puteri memperbaiki duduknya. “Ceritanya panjang, akan tetapi aku akan menceritakan kepadamu, agar kau sebagai orang asing disini dapat mengetahui duduk perkara sebenarnya.

“Bahwa saat kini” demikianlah si dara mulai ceritanya. “Pihak kompeni, yaitu orang kulit putih bangsa asing, sedang bermaksud untuk menguasai bumi kita. Mereka adalah orang-orang yang secara sewenang-wenang merampas hak milik kita. Menimbulkan kekacauan diantara kita. Tanah dan kemakmuran kita, malam purnama kita, musim panen kita, gadis-gadis kita semua hendak mereka renggutkan dari kami, hendak mereka rampas dari kami!”

Joko Bledug memutar-mutar bola matanya, berpikir.

“Dan Mataram, sebagai pemilik bumi pertiwi ini tentu saja tidak merelakan hal ini terjadi. Dalam hal ini, kadipaten Pemalang, dan para demang maupun para tokoh rimba perrsilatan walaupun belum pernah diadakan janji bersama telah sepakat dan setujuan untuk menentang kekuatan asing itu sekuat-kuatnya. Namun, dibalik itu juga ada saja orang-orang yang tidak sependapat dengan pihak ini, sebagai contoh adalah para tokoh paguyuban Banjardawa.

Pembicaraan sampai disitu, sedianya Joko Bledug hendak mengucapkan sesuatu, akan tetapi tak jadi.

“Paguyuban Banjardawa, dengan mendapatkan bantuan dari pihak Kompeni secara diam- diam telah melakukan rencana jahatnya, yaitu menghancurkan kesepakatan maupun keseia-sekataan dari pada orang Mataram. Dimulainya dengan cara penghancuran perguruan Blimbingwuluh!”

Tiba pada kata Blimbingwuluh ini, seketika wajah Joko Bledug iadi pucat. Hanya sayangnya baik Cunduk Puteri maupun Sogapati tidak melihat perubahan sikap itu.

“Perguruan Blimbingwuluh dihancurkan dengan cara fitnah dan segala akal licik maupun kepalsuan. Hingga berakibat Kiai Teger guru mereka hilang sampai sekarang tak kedengaran kabar beritanya lagi, sedangkan perguruan itu sendiri aku melihat dengan mata kepalaku sendiri telah berubah menjadi neraka berdarah yang mengerikan. Tidak seorangpun dari murid perguruan yang tinggal hidup, kecuali Sawung dan Galing maupun anak angkat guru itu sendiri, yaitu Joko Bledug yang semula dikabarkan menghilang. Akan tetapi, menyesal sekali, kabar terakih yang kita dengar, Sawung dan Galing tewas dibunuh oleh Joko Bledug, sedangkan anak angkat guru itu sendiri juga tewas setelah secara memalukan main gila dengan Dewi Cundrik, pembunuh guru Blimbingwuluh itu!”  

Cepat Joko Bledug menghapus air mata yang mendadak merabak hendak meluncur turun. Sejak semula, pertanyaan-pertanyaan Joko Bledug sendiri, sesungguhnya tertuju kearah ini. Ia hendak mencari berita tentang keadaan sebenarnya mengenai ayah angkatnya. Akan tetapi sebaliknya dari berita itu yang diperoleh bahkan berita tentang kebusukan Joko Bledug itu sendiri yang diterima. “Maaf, maaf nona!” Joko Bledug memotong bicari dengan suaranya yang parau. “Apakah orang yang bernama Kiai Teger itu tidak punya sedikit kemampuan sehingga dirinya mudah difitnah, dan perguruannya dihancurkannya begitu saja?”

“Ah, Pepriman!” sahut Cunduk Puteri. “Apabila dihitung-hitung, agaknya diantara Mbah Pucung, Kiai Kenistan maupun guru-guru yang lain, belumlah sejajar apabila dibandingkan dengan Kiai Teger. Namun sebagai salah aku paparkan didepan, paguyuban Banjardawa secara licik dan lihai telah menghancurkan perguruan Blimbingwuluh dengan fitnah. Kiai Teger tertipu oleh Dewi Cundrik bersama muridnya Kebo Sulung yang bekerja sama dengan Jagabaya Ampelgading. Akhirnya Kiai Teger kecuali menderita siksa yang demikian beratnya, ia masih harus menanggung kehinaan, yaitu dituduh sebagai guru cabul, maling aguna dan lain sebagainya. Kau tahu Pepriman, bahwa saat itu juga baik ayahku maupun Kiai Kenistan melakukan pengejaran kekadipaten Pemalang untuk memberikan pertolongan. Namun sekarang kau ketahui akibatnya, bukannya Kiai Teger terbebas dari ancaman siksa, namun ayah dan Kiai Kenistan menghilang sampai sekarang ”

Tiba pada pembicaraan ini, Cunduk Puteri sendiri menundukkan muka berduka sekali.

Wajahnya muram seolah-olah dibayangi putus asa.

Diam-diam Joko Bledug mengeluh.

“Benar-benar aku ini seorang anak durhaka, dan seorang murid murtad, bahkan murid terkutuk! Ketika orang lain membela ayahku maka aku main gila bersama wanita siluman itu, bahkan akhirnya membunuh saudara seperguruan. Patutkah aku masih sudi hidup sampai sekarang?” kata Joko Bledug dalam hati. Dan yang muncul dimukanya adalah sikap yang ganjil, jelilatan hahahehe, ataupun menangis sendirian.

Segala macam ingatan yang memukul jantungnya itu seakan menjadi segar kembali. Semua kesalahan-kesalahan masa lalunya bagai sedang dibeberkan didepan mata. Dan teringat semuanya itu, maka Joko Bledug menangis tersedu-sedu.

“Saudara Pepriman. Mengapa kau menangis?” Sogapati bertanya bingung. “Apakah aku telah salah bicara?” Cunduk Puteri menyambungi.

“Tidak!” Joko Bledug menggelengkan kepalanya. “Semuanya karena aku! Karena aku! Karena aku yang hina dan tak becus ini! Nona Cunduk Puteri! Bilakah anda akan membawa teman- temanmu menyerbu paguyuban Banjardawa?”

Cunduk Puteri diam. Kecuali memang ia belum dapat memastikan kapan dilaksanakannya rencana itu, karena mengingat kekuatan yang belum ada, kedua iapun masih meragukan sikap pemuda yang mengaku bernama Pepriman itu. Siapa tahu dia hanyalah seorang musuh?

“Sekian tahun lamanya aku dan anak-anak murid Pucung maupun Kenistan menjadi buron. Buron kadipaten Pemalang maupun paguyuban. Sebagai kau tahu, kadipaten Pemalang mempunyai seorang anggota paguyuban yang walaupun hal itu dilakukan secara diam-diam, namun jelas mempengaruhi sikap kadipaten sendiri terhadap kami. Kami tak punya kekuatan, Pepriman. Andai kata ada ayahku, Kiai dan Nyai Kenistan walaupun belum tentu membawa hasil, tentu perlawanan itu akan segera kami lakukan.  ”

Lama Joko Bledug diam tak bergerak. Akhirnya secara tiba-tiba ia memandang marah kearah Sogapati seraya membentak :

“Sogapati! setelah kau sehat sekarang, boleh kau pergi ke paguyuban kembali!”

Sogapati terkejut, ia menyahut dengan gugup :

Saudara yang bernama Pepriman! Walaupun aku bukan seorang kesatria, namun bukanlah seekor anjing yang yang tak tahu membalas budi. Aku sudah diusir bahkan hendak dicelakakan oleh paguyuban dan kalian yang telah menolong kami. Andaikata kalian tidak memperbolehkan aku menyumbangkan selembar jiwaku yang tiada guna ini, biarlah aku akan membantu kalian secara jalanku sendiri!”  

Cunduk Puteri mengangguk-angguk. Tambahan tenaga sebagai Sogapati, cukup menggembirakan hatinya. Apalagi bila pemuda itu dapat menghubungi dan membujuk gurunya.

Yang menjadi pikiran si dara, yang sesungguhnya adalah si Pepriman itu sendiri. Pemuda yang sakti seperti dia ini, andaikata bergabung dalam satu barisan dengannya, tentulah merupakan bantuan yang besar sekali artinya.

Maka sungguh tak terkatakan gembiranya Cunduk Puteri, ketika mendengar kata-kata si Pepriman yang demikian.

“Andaikata aku pantas untuk ikut menyumbangkan hidupku ini untuk cita-cita mulia seperti kalian, tentu aku akan melakukannya. Tetapi saat ini aku bermaksud untuk mencari ketiga angkatan tua yang hilang itu, Kiai Teger, Mbah Pucung dan Kiai maupun Nyai Kenistan!”

Beberapa hari sejak saat itu, pergaulan mereka semakin karib. Dan semakin lama bergaul, semakin tumbuhlah rasa persaudaraan maupun rasa secita-cita dan tujuan.

Mereka bertiga bergaul seakan benar-benar bersaudara, atau dilahirkan dari rahim yang sama.

Walanpun sesungguhnya tidak demikianlah yang sebenarnya terjadi.

Cunduk Puteri adalah seorang dara remaja, seorang gadis yang sedang menanjak dewasa. Dalam perkembangan jasmani maupun rohaninya, tentu saja mengalami banyak perubahan. Perubahan yang oleh si dara sendiri seolah-olah tidak disadari.

Makin hari bergaul, makin lama berkumpul, maka tumbuhlah suatu perasaan aneh yang sebelumnya tak pernah dirasakan olehnya, yaitu asmara.

Asmara datang seperti maling, tanpa permisi dan tidak melewati pintu. Tahu-tahu rasa kagum yang kian menebal dihati, berkembang menjadi suatu kerinduan. Dan anehnya, mengapa ia selalu merasa kesepian apabila si Pepriman sedang pergi.

Boleh jadi Cunduk Putcri adalah seorang dara pendekar yang gagah perkasa. Akan tetapi menghadapi amukan asmara, dia tidak ubahnya manusia biasa, manusia yang dilahirkan akibat buahnya asmara itu sendiri.

Mereka telah membangun sebuah gubuk sederhana, yang dipergunakan sebagai rumah tinggal, tetapi juga sebagai markas tempat pertemuannya para murid Pucung maupun murid Kenistan yang telah mereka hubungi sebelumnya.

Saat itu adalah musim peralihan, dari musim penghujan kepada musim kemarau. Tumbuh- tumbuhan sedang tumbuh segar dan subur. Angin yang senantiasa semilir bertiup membawa wewangian yang terbit dari hutan tepian kali. Apabila malam tiba, maka langit selalu cerah dengan bintang dan rembulan yang berseri.

Sedang hendak membaringkan dirinya, tiba-tiba Cunduk Puteri mendengar suara seruling yang ditiup mendendangkan irama gembira seorang gembala.

Begitu merdu dan menyentuh hati, nada dan irama dendang seruling itu. Terkadang iramanya mengiris-iris jantung sebagai ratapan seorang pemuda yang patah hati. Akan tetapi terkadang merendah parau dan lamban sebagai irama duka seorang kelana.

Semuanya itu menyentuh hati si dara hingga ia buru-buru melompat bangun dari tempat tidurnya. Ia ingat bahwa Sogapati sedang pergi berburu sejak lima hari yang lalu, dan si Pepriman sehari sebelumnya telah menghilang entah kemana.

Ketika Cundruk Puteri berada diluar rumah, maka di tepi sungai ada seseorang sedang duduk bersandar pada sebuah pohon, meniup suling dengan asyiknya.

Setapak demi setapak, seakan ditarik oleh pengaruh irama merdu itu, si dara berjalan menghampiri. Dan tanpa terasa ia telah berada didekat orang yang meniup suling itu, yang tidak lain si Pepriman adanya.

“Cunduk Puteri...” desah suara yang mirip keluhan terdengar dari mulut Pepriman.  

Cunduk Puteri mengambil tempat duduk disisi pemuda itu. Entah sejak kapan ia mencium bau apek dari pemuda jembel itu mungkin karena sudah terlalu biasa atau karena si Pepriman sendiri telah mencuci pakaiannya.

“Sogapati belum datang?” tanya Pepriman pula.

“Belum. Pepriman, sejak kapan kau akan merubah cara hidupmu yang demikian?”

Pepriman tampak tersentak. Ia memutar duduknya.

“Mengapa?” tanyanya.

“Ya, siapa orangnya yang bisa percaya bahwa kau bernama Pepriman, bahwa kau seorang jembel yang sebenarnya?”

Pepriman tertawa walaupun sumbang kedengarannya.

“Alasannya?” tanyanya.

“Aku tidak tahu. Tetapi hatiku berkata demikian. Kau terlalu berrahasia. Lagu sulingmu adalah lagu gembala. Dan didunia ini, mana ada gembala yang tidak mempunyai asal usul? Dimana ada gembala yang tinggal sendiri menghuni Gunung Gajah, sedangkan tempat itu adalah sebuah padang tandus dan gersang?”

Pepriman terdiam. Ada perasaan haru yarig merayap dalam tali hatinya. Baru kali ini, terasa olehnya ada orang yang memperhatikan dirinya, mengingat asal-usulnya, bahkan juga memikirkan siapa sebenarnya dia. Apa lagi yang menaruh perhatian itu justeru seorang dara jelita, seorang pendekar remaja yang termashur namanya.

“Sepanjang ini ingatankui, Pepriman. Ada seorang pemuda penggembala yang pandai ilmu silat, adalah Joko Bledug, anak Kiai Teger guru Blimbingwuluh. Akan tapi kudengur pula, bahwa pemuda angon itu telah tewas di daerah Telagasona, perguruan Guha Gempol. Jadi kau ini sebenarnya siapakah?”

“Nona Cunduk!” Suara Pepriman serak terharu. “Aku memang seorang jembel, seorang Pepriman biasa, tak ada hubungannya dengan Joko Bledug ataupun perguruan Blimbingwuluh. Bukankah Joko Bledug terkenal sebagai piatu yang diambil anak oleh Kiai Teger yang akhirnya menjadi seorang anak durhaka, murid murtad bahkan seorang pengkhianat perguruan?”

“Benar, memang kabar yang kudengar demikian. Tapi...” Cunduk Puteri melirik tajam kearah Pepriman, “kabar itu tersiar dari Dewi Cundrik sumbernya. Sedangkan kita semua tahu bahwa Dewi Cundrik adalah seorang iblis wanita yang berwatak keji dan cabul. Kecuali ia suka merusak keremajaan seorang pemuda, juga memang seorang jagoan fitnah yang tak ada duanya di dunia ini. Sebagai dikabarkan orang bahwa pusaka pancaloka jatuh ketangan Kebo Sulung adalah karena dijual oleh Joko Bledug kepada penggawa muda kadipaten itu. Akan tetapi siapa orangnya yang percaya?”

Pepritnan diam.

“Pepriman. Alangkah bahagianya aku, andaikata kau adalah Joko Bledug sendiri, dan kau dapat memberikan keterangan yang sebenarnya mengenai bencana yang menimpa perguruan Blimbingwuluh itu!

Rasa berguncang jantung Pepriman. Dalam hati ia berkata : “Mungkin nama baik perguruan Blimbingwuluh dapat dibangkitkan kembali, akan tetapi kebusukan Joko Bledug bermain asmara dengan Dewi Cundrik dan pembunuhan atas diri Sawung dan Gilang mana bisa itu dihapuskan?”

“Seluruh perguruan Pucung. Kenistan maupun perguruan Loning, semua memusuhi Joko Bledug. Semua mengharapkan akan dapat menemukan pemuda busuk itu, untuk dihukum karena telah menjatuhkan martabat orang-orang rimba persilatan. Akan tetapi aku tidak. Andaikata saat ini aku dapat bertemu dengannya, akulah orang yang pertama kali akan mendengarkan pengakuannya,  

akulah orang yang pertama kali akan mempercayai akan penjelasannya, bahwa semua musibah itu

adalah akibat kelicikan dan kekejian Dewi Cundrik. ”

Cunduk Puteri masih terus berbicara, sedangkan Peprirnan secara diam-diam telah menghapus air mata yang menggelinding dipipinya.

“Nona ” Kata Pepriman serak. Joko Bledug sudah mati!”

“Bagi orang lain, tetapi bagiku tidak! Sahut Cunduk Puteri tegas. “Mengapa?”

“Aku telah mendengar penuturan ayahku, bahwa antara dia denganku telah diikat tali

perjodohan sejak kecil. Masakah aku akan menjadi janda sebelum berumah tangga?” “Cunduk Puteri” seru Joko Bledug tersentak.

Cunduk Puteri dengan tak sadar merapatkan duduknya ketubuh pemuda jembel itu. Tangannya yang halus dan lembut memegang pundak, dan terdengarlah bisiknya. “Jadilah kau Joko Bledug ”

Saat itu, Pepriman sedang mengangkat muka menengadah, Bulan terang yang sedang berlayar dilangit, memandikan cahaya dengan cahayanya yang gemilang. Maka tampaklah dengan nyata bahwa pemuda berpakaian compang-camping itu sesungguhnya adalah seorang pemuda tampan, seorang pemuda yang memiliki wajah bundar dengan sepasang mata yang sayu, hidung yang mancung dan mulut dagu yang berlekuk dalam, sehingga bibirnya yang menggantung itu tampak menggemaskan.

Rasa hangat dan mesra mengalir dari sentuhan Cunduk Puteri, perlahan-lahan menjalar kedalam kalbunya dan keharuan bercampur penyesalan saling rebut dihati pemuda itu. Hingga akibat pergolakan hatinnya itu, terbutir setitik air matanya.

Dari penjelasan ayah angkatnya, dulu. Pepriman ingat bahwa antara ayah angkatnya dengan Mbah Pucung, memang pernah mengikat tali persahabatan dengan maksud berbesanan. Kiranya, dara yang bernama Cunduk Puteri adalah seorang dara yang begitu sangat jelita dan berbudi sangat luhur dan perkasa.

Calon isterinya, adalah gadis pujaan bagi setiap rakyat pantai utara, orang yang dikagumi oleh segenap rakyat jelata, rakyat yang tertindas. Seakan-akan dara itu telah menjadi milik sekian ribu manusia yang mengimpikan hidup tentram bahagia dalam negerinya, akan tetapi Pepriman? Atau Joko Bledug?

Pemuda itu cuma seorang pemuda beriman rendah yang cepat jatuh dalam hubungan rendah dan cabul, pemuda yang tak tahu budi, seorang murid yang durhaka dan kejam, telah membunuh saudara seperguruan sendiri. Patutkah itu?

Terasa yang demikian, rasa malu yang amat sangat bergolak dalam batinnya. Perasaan yang tulus yang dilahirkan oleh Cunduk Puteri dengan kemesraan yang suci itu, bahkan seolah-olah mengejek dirinya, memperolok-olokan dirinya sebagai manusia tak berguna sebagai anjing tak tahu budi. Masakah berlian gendak dijajarkan dengan batu koral?

Angan-angan Pepriman berlari kepada pemeliharaan taman kademangan Moga. Di sana tinggal sekuntum bunga kademangan yang ayu-jelita, yang menjadi rebutan setiap pemuda sepanjang pantai utara pulau Jawa ini.

Di sana tinggal Dewi Yoni, seorang puteri Demang yang justeru masih merindukan Joko Bledug!

Semuanya gila! Mungkin Pepriman alias Joko Bledug sendiri yang gila! Akan tetapi yang terasa oleh pemuda itu, bahwa dirinya sesungguhnya hanyalah seorang tiada guna yang dicintai oleh dara-dara ayu! Bukankah mereka itu semua telah gila? Apa artinya mencintai seorang pemuda kotor, seorang pemuda cabul, durhaka dan khianat?  

Sejak masa kecilnya, Joko Bledug sering bertemu muka dengan Dewi Yoni, karena ayah dara itu, dulu sering beranjangsana ke perguruan Blimbingwuluh. Huhungan kedua orang tua mereka sangatlah akrabnya, seakan bersaudara, atau mitra sejati. Akan tetapi sejak Ki Gede Ayom menjadi seorang demang, maka hubungan itu telah merenggang, walaupun antara Joko Bledug dan gadis cilik itu masih terus merasakan persahabatan itu.

Tetapi semuanya itu telah berlalu. Perguruan Blimbingwuluh telah musnah. Dan nama Joko Bledug terkubur dijurang raksasa sebelah barat istana Telagasona. Apalagi yang ditunggu dari bocah gembala yang hina itu?

Saat itu, Cunduk Puteri telah menyandarkan kepalanya pada pundak si pemuda. Wajahnya yang jelita dan ceria itu, tambah mempesona ditimpa sinar bulan. Angin hutan semilir menyentuhi tubuh mereka yang sedang duduk ditepi sungai itu. Suara bisik-bisik dedaunan hutan menghimbau mereka pada suatu paduan rasa yang terasa berbisik-bisik dalam dada.

Tanpa sadar, Pepriman telah mendekap pipi dara itu ditarik berhadapan. Diatupnya wajah jelita yang tersenyum memejamkan mata itu. Namun tiba-tiba segumpal rasa rendah diri muncul dihati si pemuda tatkala tiba-tiba Cunduk Puteri membuka matanya.

“Ah, wajah ini begitu suci dan murni. Hati dara ini begitu luhur dan perkasa. Bolehkah tanganku yang kotor hina ini menyentuh kesuciannya?” tanya Pepriman dalam hati. Sedangkan yang meluncur dari mulutnya adalah seruan kaget. “Tidak! Tidak! Aku bukan Joko Bledug! Bukan!”

Cunduk Puteri teperanjat. Tapi ia merasa seakan sedang diayun dalam alam impian yang melenakan. Kini ia sadar bahwa pemuda yang mendekapnya tadi bukanlah Joko Bledug, maka cepat-cepat dengan wajah memerah ia melompat berdiri. Saat itupun Pepriman lebih berdiri dengan tubuh kaku.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Cunduk Puteri dengan nafas memburu. “Tidak! Tidak! Aku bukan Joko Bledug! Bukan!”

Cunduk Puteri tersedu-sedu. Lalu ia melarikan diri kembali memasuki pondok.

Pepriman masih berdiri kaku ditempatnya, tak tahu apa yang harus diperbuat. Dan paaa saat itulah, dari dalam hutan tampak Sogapati menerobos dan berlari keluar dengan terengah-engah.

Mendengar munculnya orang, Pepriman cepat berpaling.

“Apa yang terjadi?” serunya, bertanya heran melihat Sogapati yang gugup dan tergesa-gesa. “Mana Cunduk Puteri?” Pepriman, ada satu barisan pasukan disebelah barat gunung.

Mereka.... mereka ”

Pepriman berusaha menenangkan Sogapati. Lalu dengan wajah sungguh-sungguh bertanya :

“Kemana arah mereka?”

“Bergerak diatas tebing pencuci dosa. Bukan itu Pepriman! yang menjadikan pikiranku.

Mereka terdiri dari barisan orang-orang paguyuban Banjardawa, dan orang-orang kulit putih. ”

“Apa katamu?” Pepriman terkejut. Ia tahu orang-orang paguyuban Banjardawa memang merupakan sekutu dari orang-orang kulit putih yang dinamakan sebagai kompeni itu. Akan tetapi bila mereka secara besar-besaran telah rnengerahkan pasukan untuk mengerahkan pasukan untuk menguasai selat pencuci dosa itulah menimbulkan pertanyaan.

Pepriman teringat, dan ia manggut-manggut. Katanya :

“Sogapati. Kau bekas anggota paguyuban Banjardawa apakah tidak mengerti artinya mereka berada ditempat itu!”

“Di selat pencuci dosa?” Sahut Sogapati sambil menggelengkan kepalanya.  

itu. Saat itu, Cunduk Puteri telah muncul pula, dan segera menggabungkan diri dalam percakapan

“Memang selat maut itu mempunyai rahasia besar, hal ini kuketahui ketika aku membayangi  

orang-orang paguyuban Banjardawa membawa dirimu untuk dibawa kekadipaten. Aku sempat mendapatkan keterangan kebetulan waktu itu dituturkan oleh Dewi Cundrik pada muridnya!”

Begitulah, selanjutnya Pepriman menceritakan asal mulanya kejadian mengapa jalan sempit itu disebut selat pencuci dosa, hingga pada lenyapnya pusaka Kiai Tanjung dan Nyai Tanjung, yaitu keris milik Joko Tanjung maupun pisau pusaka milik Roro Tanjung.

“Jelas, kalau begitu mereka sedang mencari kedua pusaka itu!” Cunduk Puteri menyeletuk. “Itupun belum tentu” sahut Pepriman, “Kalau  untuk mencari pusaka itu saja, untuk apa

mengerahkan pasukan begitu besar?”

Mereka mengerti juga akan keterangan Pepriman. Untuk mencari pusaka yang menjadi incaran setiap kalangan rimba persilatan, tentulah orang akan berlaku hati-hati bahkan berahasia.

Beberapa saat ketiga muda-mudi itu tampak berunding dengan sungguh-sungguh, selanjutnya mereka lantas berkemas-kemas, tak selang beberapa lama Pepriman tampak menepuk-nepuk pundak Sogapati dan Cunduk Puteri secara bergantian sambil berkata :

“Apabila kalian ingin menemukan diriku kembali, bila selamat perjalananku ini, carilah aku ke Gunung Gajah. Kalian menjumpai Ki Cucut Kawung. dan katakan kepadanya bahwa uronggo Benawi mengharapkan ke-badirannya diselat pebetiei dosa “

Sogapati maupun Cunduk Puteri termangu. Mereka pernah mendengar nama Turonggo Benawi dari eerita orang-orang tua mereka atau golongan para sesepuh yang pernah menceritakan bahwa pernah hidup seorang penjahat kelas wahid yang bernama demikian, akan tetapi yang kemudian telah menghilang ratusan tahun lamanya.

Kedua muda-mudi itu ingin bertanya, akan tetapi Pepriman telah melompat pergi sambil

berseru, “Ki Cucut Kawung akan mengerti    ”

oooOooo

PANJANGNYA jalan maut yang disebut sebagai selat pencuci dosa, takkan kurang dari seribu limaratusan langkah. Di kanan kiri jalan, seluruhnya adalah tebing-tebing karang yang tinggi menjulang, memanjang dari batas Banjardawa hingga habis dalam sebuah lembah yang dalam, yang disebut lembah “Pegat-sih” (putus cinta). Termakan akal pula, lembah ini menyebut dirinya sebagai lembah pemutus cinta, karena tempat itu merupakan tempat yang memutuskan hubungan antara pantai utara dengan daerah pegunungan.

Tidak mudah menempuh perjalanan melewati lembah Pegat-sih, mengingat bahwa lembah ini merupakan hutan belantara yang penuh dengan jurang trebis, binatang buas dan binatang berbisa. Sedikit sekali orang yang pernah melintasi lembah ini, karena dianggap terlalu angker, lembah pembawa maut, sebagaimana jalan selat pencuci dosa.

Bedanya, selat pencuci dosa merupakan padang terbuka, artinya tempat yang tidak berhutan rimba, namun tidak kalah bahayanya. Jalan yang sempit, yang cukup hanya buat melintas seekor kuda itu, mendaki dan menurun sangat licin. Seluruhnya terdiri dari batu karang tajam yang rnerupakan kuku maut pula apabila seseorang terjatuh ditempat itu.

Jaman dahulu tempat ini merupakan sarang penyamun, atau begal-begal bertempat tinggal, sebab tempat ini aman dari pengejaran para pengaman praja. Orang yang melintasi selat ini apabila tidak mati terjerumus kedalam lubang-lubang maut yang terdapat disepanjang jalan, juga adanya gangguan dari para begal itu. Demikianlah, pada siang hari terik ini, disepanjang tebing selat pencuci dosa sebelah barat, tampak berbaris sepasukan perajurit kulit putih dan kulit hitam yang merupakan barisan kompeni yang dipimpin oleh seorang opsir berpangkat Kapitan, bernama Morgan van Oranye.

Kapitan ini membawahi tidak kurang dari limaratus orang serdadu campuran, yang kesemuanya bersenjata lengkap, klewang, beberapa senjara api maupun anak panah.

Sedangkan pada tebing sebelah timur, berhadapan dengan serdadu-serdadu itu, tampak pula menggerombol-gerombol para anggota paguyuban Banjardawa. Anak-anak murid Bantarkawung, anak-anak murid Guha Gempol, beberapa orang pula anggota sintren dibawah pimpinan Tambarekso dan para nelayan yang dipimpin oleh Tambakeso. Agak terpisah sedikit ketimur, adalah anak-anak murid Gunung Kelir yang dipimpin oleh guru mereka Toh Kecubung.

Seluruh barisan ini, merupakan anggota paguyuban Banjardawa, dan dipimpin oleh Ki Genikantar dan Dewi Cundrik, yang keduanya tampak sedang asyik merundingkan sesuatu.

Kebo Sulung tidak tampak dalam kedua barisan itu. Akan tetapi tampak ia berada dimulut lembah “pegat-sih”, yaitu ujung terakhir selat Pencuci Dosa, bersama beberapa orang perajurit. Bukan perajurit paguyuban Banjardawa ataupun serdadu kompeni, akan tetapi adalah perajurit- perajurit Kadipaten.

Kini matahari sedang tepat bertengger diatas kepala. Udara sangat panas, tak ada suatu apapun tempat bagi mereka untuk berlindung, kecuali puncak-puncak karang yang sebenarnya tidak banyak membawa arti.

Barisan anggota pasukan itu dalam keadaan sangat letih, sebab telah beberapa hari melakukan penggalian, memecah batu karang, menggempur batu-batu ataupun lubang-lubang yang menarik perhatian mereka.

Tepat sebagai dugaan si Pepriman, bahwa hadirnya sekian banyak perajurit dari beberapa pihak itu, guna mencari tempat penyimpanan benda pusaka Kiai Tanjung dan Nyai Tanjung.

Sudah lewat sepekan melakukan penggalian namun mereka belum menemukan benda-benda itu. Malah para serdadu yang dibawa oleh Kapitan Morgan rupanya hampir putus asa, dan uring- uringan. Terutama sekali opsir itu sendiri, berulang kali terdengar caci makinya atau kata-kata kutukan yang tak jelas kedengaran.

Sedang semua orang dalam kejemuan yang menegangkan itu, mendadak terdengar Kebo Sulung berseru marah.

“Hei Genikantar! Telah nyata sekarang, bahwa yang disebut-sebut sebagai pusaka Kiai Tanjung ataupun Nyai Tanjung hanya omong kosong saja. Kalian sekarang tidak segera meninggalkan tempat ini, mau tunggu apalagi?”

Ki Genikantar tampak terperanjat sekali, agak cemas juga. Sahutnya :

“Harap kami diberi waktu barang sepekan lagi untuk menemukan benda-benda pusaka itu. Masakah kami hanya main-main belaka? Sungguh pusaka-pusaka itu ada siatas selat pencuci dosa ini. Tidak enak kepada para utusan kompeni yang jauh-jauh telah datang untuk ikut mencari pusaka itu! Janganlah sampai mereka pulang dengan tangan kosong!”

“Tidak mungkin!” Seru Kebo Sulung dengan dada terangkat, pantas sekali melukiskan sikap seorang penggawa yang berpengaruh. Gusti adipati memberi kesempatan kepada kalian hanya sepekan. Selebihnya, kalian haus meninggalkan tempat!”

Ki Genikantar tampak kecewa. Buru-buru ia mengambil kudanya untuk kemudian membalapakannya menemui Kebo Sulung.

“Mohon dengan sangat, ya kami mengharap kelonggaran barang sehari dua hari lagi, untuk melakukan pencarian...” kata Genikantar setelah tiba didekat Kebo Sulung. “Kami yakin kami akan dapat menemukan benda itu, biarlah aku yang akan menghadap gusti adipati sendiri untuk mohon diperpanjang waktu kami  ”  

“Tidak! Sekarang juga, kalian orang-orang paguyuban Banjardawa maupun para serdadu kompeni, harus segera meninggalkan tempat ini. Ini adalah wewengkon kekuasaan gusti adipati. Sekali titah gusti adipati menyuruh kalian mengundurkan diri, mana boleh dirubah. Jelasnya kalian harus bubar, kalau tidak. !!!”

Ki Genikantar tertawa rnengejek.

Lalu katanya : “Lihatlah, berapa ratus anggota paguyuban Banjardawa, dan berapa ratus serdadu kompeni yang sedang bekerja keras itu. Apakah Kebo Sulung tidak kasihan pada perajurit kadipaten yang hanya sejumlah itu?”

Sambil berkata demikian, Genikantar menunjuk kearah perajurit kadipaten yang menggerombol dibelakang pemimpin mereka yaitu Kcbo Sulung.

Perajurit yang hanya berjumlah tigaratus orang itu tampak gelisah. Tampaknya ketegangan pemimpin mereka dengan rombongan pencari pusaka itu akan menjadi perang campuh. Bagaimana dengan jumlah perajurit yang kurang dari sepertiga jumlah lawan?

Yang agak mengherankan para perajurit kadipaten itu mengapa Kebo Sulung hanya membawa tigaratus orang perajurit, sedangkan yang dihadapi adalah tentara yang jumlahnya lebih dari seribu. Lebih dari itu lagi, rnengapa pula Kebo Sulung telah memilih tempat bagi mereka yang sangat tidak menguntungkan. Mereka berada di ujung selat, juga berarti dimulut lembah, yaitu satu tempat yang sempit dan rendah, yang sangat mudah bagi lawan untuk melancarkan pembasmian.

Perajurit-perajurit kadipaten yakin, bahwa apabila para pencari pusaka itu datang menyerbu, tak usah dengan kuda-kuda dan orangnya, cukup dengan anak-anak panah mereka, tentu pasukan kadipaten akan terbasmi habis. Padahal jalan untuk mengundurkan diri tak ada lagi, sebab berbentuk sebuah mulut lembah yang curam dan licin tajam. Belum terhitung bencana yang mereka ngeri membayangkan andaikata mereka dapat mundur hingga kelembah pegat-sih, sama saja menyerahkan nyawa kepada binatang-binatang buas dan jurang-jurang curam.

“Celaka ” seorang perajurit mengeluh.

“Ini perang tak seimbang. Satu dibanding tiga!”

“Menilik tempat kedudukan kita, agaknya kita telah digantung sebelum dihukum!” Perajurit yang lain mengeluh dengan kegelisahan yang rnenjadi-jadi. Mereka berharap mudah-mudahan perang konyol itu dapat dihindarkan.

Akan tetapi, terdengar Kebo Sulung membentak keras.

“Perajurit kadipaten adalah banteng-banteng nusantara yang tak kenal takut! Kami telah diberi

purbawasesa, apabila kalian tak mau rnenurutkan perintah, kami akan menghancurkan kalian!”

Jangan mimpi Kebo Sulung! Bersiap-siaplah kalian menggali kuburmu sendiri!” Teriak Ki

Genikantar seraya melambaikan tangannya kebelakang.

Serentak itu juga, maka terdengar suara pekik-sorak membahana di udara, disusul tampak beterbangannya anak-anak panah berapi menyambar kearah Kebo Sulung dan para perajuritnya.

Perajurit kadipaten jadi gempar. Kebo Sulung dengan tangkas sekali melompat maju menerjang kearah pasukan Genikantar, sambil menyampok setiap anak panah yang datang, ia menyerbu masuk kedalam pasukan lawan.

Tidak terperikan, betapa keadaan perajurit kadipaten yang berjumlah tigaratus orang itu. Mereka berada dalam tempat yang sempit dan sulit, dihujani anak-anak panah berapi dari atas, tentu saja mereka jadi kalang kabut, berebutan mencari selamat.

Akan tetapi tidak mudah. Mereka yang berlarian sambil berteriak-teriak itu, jadi bentur sesamanya, saling tubruk jatuh bangun. Sementara itu hujan panah berapi semakin bertubi-tubi, terkadang satu anak panah menembus tubuh dua orang perajurit. Dalarn waktu singkat pembunuhan masal itu berlangsung dengan sangat mengerikan.  

Beberapa orang perajurit yang berhasil merayap maju mengadakan perlawanan sebagai dicontohi oleh pemimpin mereka, akhirnya mendapatkan nasib yang lebih mengenaskan mereka dijarah rayah, dicincang habis-habisan.

Ada juga sebagian yang karena putus asa, berusaha menuruni lembah Pegat-sih, akan tetapi cara itupun tidak menolong. Mereka seperti sulung labuh geni (laron memburu api), satu demi satu terbinasa jatuh terpeleset, tersungkur ataupun terjungkir balik, tewas diterima oleh dasar lembah yang sangat dalam.

Demikianlah, pembantaian perajurit kadipaten itu berlangsung dengan sangat mengerikan. Pekik dan jerit kematian menyayat langit. Ratap dan lolongan mereka yang direnggut maut, seolah- olah terdengar sebagai jeritan dari neraka.

Neraka memang, dan mulut lembah pegat-sih, kini telah berubah menjadi neraka. Neraka kematian dari para perajurit kadipaten. Hampir tidak ada satu orangpun di antara mereka yang masih dibiarkan hidup, semuanya habis dibasmi oleh pasukan Genikantar.

Darah membanjir menganak sungai, menetes-netes menyusuri tebing, dan sebagai cucuran jatuhnya, membasahi dinding lembah.

Sorak sorai kemenangan, terdengar membahana dipihak. Genikantar. Mereka tanpa berperang dengan mudah dapat membasmi perajurit kadipaten yang berjumlah tigaratusan itu. dan diantara sekian banyak yang tertawa-tawa gembira, tampak Kebo Sulung yang menghampiri gurunya sambil berseru :

“Guru! Masih adakah kekuatan kadipaten yang meragukan kita?”

Ki Genikantar menghampiri Dewi Cundrik tertawa-tawa seraya memeluk pundak muridnya.

“Murid! Diantara sekian banyak anggota paguyuban Banjardawa, yang membuat pahala paling besar, tentu kau sendiri. Genikantar! Mulai saat ini sudah boleh diperhitungkan waktu untuk membuat pesta besar, hihi!”

“Ya, ya! Bantuan Kapitan Morgan sementara ini tidak akan meninggalkan kita. Atau kita

menuju kepadang Banjardawa dulu, dari sana kita lancarkan gerakan?!”

Barisan perajurit yang menang ini masih belum padam dari kegembiraan. Sorak sorai mereka tiada kunjung habis, seolah-olah mereka telah yakin bakal dapat mbedah kadipaten.

Perlahan-lahan mereka bergerak menuju keselatan menuju hutan Banjardawa. Derap langkah mereka bagai menggoyangkan tebing, suara derap kaki kuda rnembahana, sebagai gelombang layaknya barisan perajurit ini memulai sejarah baru bagi kadipaten Pemalang.

Pembunuhan besar-besaran telah mereka lakukan terhadap tigaratusan perajurit kadipaten, berarti mereka telah mengibarkan bendera peperangan.

Matahari makin condong kebarat, ketika barisan perajurit berkuda itu hampir tiba pada batas selat. Mereka tentu masih menyanyi-nyanyi dan bersorak-sorak gembira andaikata tidak secara tiba- tiba terjadi sesuatu.

Mendadak sekali terdengar suara gemuruh disusul dengan jerit dan pekik rnaupun ringkik kuda para perajurit paguyuban Bantardawa yang berada ditebing sebelah timur. Kiranya ditempat itu tarnpak sebuah lubang besar yang memanjang yang disebabkan oleh tanah terbang (longsor) sehingga mengakibatkan perajurit-perajurit paguyuban yang kebetulan sedang berjalan ditempat itu terbanting kebawah, lenyap dari permukaan bumi.

Geger dan gemparlah seketika iring-iringan pasukan ini, bahkan kini mereka terputus menjadi dua bagian. Bagian yang ditengah itulah, sebanyak hampir seratus orang bersama kuda-kudanya, lenyap terjerumus kedalam jurang yang mendadak timbul itu.

Ki Genikantar maupun Dewi Cundrik yang berada dibarisan depan cepat membalikkan kudanya dan berteriak-teriak menenangkan suasana. Dengan hati mengkirik mereka memeriksa  

kembali tanah longsor yang baru terjadi itu. Dilihatnya kebawah. O, dalamnya jurang yang baru itu tak terukur dalamnya. Gelap pekat dibawah sana. Berarti nasib para perajurit yang terjerumus tadi sudah pasti, yaitu mati.