-->

Alap-Alap Gunung Gajah Jilid 03

Jilid III

TRAAAK! Tahu-tahu kedua tongkat Sawung dan Galing memanjang dengan sendirinya, kira-kira menjadi dua depa. Kiranya senjata tongkat itu adalah tongkat bersamburg yang dapat dipendek-panjangkan. ItuIah sebabnya tongkat itu disebut tongkat kuro-isin (kura-kura malu). Sebagai kura-kura, apabila malu lantas menyembunyikan kepalanya kedalam badan, bisa pendek bisa panjang, begitulah kira-kira yang dimaksudkan.

Melihat kedua pemuda yang bersenjata aneh itu, maka Ki Jagabaya berseru kaget : “Eh. Kalian Sawung Galing! Sejak kapan kalian jadi begundal guru cabul itu he?”. Sawung dan Galing tertawa terkekeh.

“Mana itu guru cabul? Kalian manusia-manusia rendah, hina dina, tukang fitnah, harus

rasakan tanganku!”.

Memang, sebenarnya kedua pemuda ini mempunyai kisah tersendiri dalam perguruan Blimbingwuluh. Mereka adalah sepasang penyamun muda berasal dari Penggarit yang baru sebulan yang lalu menyatakan diri takluk dan ingin diambil murid oleh Ki Ageng Tampar Angin atau Kiai Teger.

Ketika sebulan yang lalu Kiai Teger dalam perjalanan pulang dari ibukota Mataram, kedua penyamun muda itu telah mencegatnya dan bermaksud merampok. Mereka tidak menduga bahwa Kiai Teger adalah seorang guru sakti yang hanya membawa gendongan berisi kitab-kitab pelajaran agama belaka.

Kedua begal muda itu mengira gendongan orang berisi emas berlian, dan memaksa Kiai Teger untuk menyerahkannya.

Kiai Teger tersenyum ramah, sambil menurunkan gendongan lalu katanya :

“Kalian kedua begal muda! Sayang sekali kalau kepandaian dan keberanianmu kau

pergunakan untuk perbuatan-perbuatan tercela.

Buntalanku ini memang berisi intan berlian. Bahkan lebih mulia dari pada segala intan berlian yang pernah ada diatas dunia ini. Tetapi barang ini tidak boleh disentuh oleh tangan yang tidak suci jasad jiwanya. Kalau kalian bermaksud hendak memilikinya juga, pergilah dulu kalian menyucikan diri.”

Mendengar jawaban orang yang demikian, bukan main gusarnya kedua  begal muda itu.

Seketika mereka membentak.

“Banyak mulut!” Pergiiiii!” Sambil membentak demikian. Sawung dan Galing bersama-sama menubruk kearah buntalan bermaksud untuk membawanya lari. Tetapi tak disangka begitu kedua tangan mereka menyentuh  buntalan, seketika mereka merasa tubuhnya jadi kaku sebelah, dan rnereka tidak dapat bergerak sama sekali.

“Sudah kukatakan, benda-benda mulia dalam gendonganku itu tidak boleh disentuh oleh

orang yang kotor tangan dan hatinya. Bagaimana sekarang?”

Sawung dan Galing berusaha mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengusir kelumpuhannya itu akan tetapi sia-sia. Bahkan kini keduanya terguling ketanah mereka memandang kearah Kiai Teger dengan mata penasaran dan gusar, akan tetapi juga ngeri.

“Sudahlah. Bangkitlah kalian. ”

Kedua penyamun muda itu hanya melihat orang hendak dirampok itu menggerakkan kedua tangannya. Tahu-tahu mereka merasa telah sehat kembali, segar bugar bagai sediakala. Ketika mereka meloncat bangun dan menggerakan anggota badannya, ternyata benar-benar mereka telah pulih segar bugar tak kurang suatu apa.

“Kau apakan kami, hei...” sahut Kiai Teger dengan bibir tetap tersenyum. “Didalam buntalanku memang berisi segala rajanya mustika dan intan berlian. Benda-benda mulia itu sengaja diturunkan Tuhan untuk meluruskan sifat-sifat manusia yang bengkok dan sesat, sebagai kalian ini. Maka apabila kalian bermaksud hendak memilikinya, kalian harus menyucikan diri suci jiwa dan raganya. Maka benda-benda mulia ini, nanti akan membawa manfaat dengan sendirinya atas diri kalian.”

Sejak saat itulah, maka Sawung dan Galing sepasang begal muda itu takluk kepada Kiai Teger, dan mereka bersumpah untuk tidak mengulangi perbuatan jahatnya. Bahkan mereka dengan sungguh-sungguh memohon kepada Kiai Teger untuk mengambil murid pada mereka.

Kiai Teger tidak keberatan. Didalam agama, menyelamatkan orang dari jalan sesat adalah merupakan kewajiban mulia. Maka sejak itulah kedua begal muda itu diangkat jadi murid. Sepanjang perjalanan dari ibukota Mataram itulah mereka mulai dididik dengan pelajaran agama dengan amal perbuatan yang di perintahkan Tuhan. Dan kedua pemuda itu sedikit demi sedikit mulai menyadari bahwa apa yang diajarkan dalam kitab pelajaran agama itu kiranya memang sebenarnya raja mustika dari segala intan berlian dari segala intan berlian yang pernah ada diatas dunia ini.

Akan tetapi, kecuali Kiai Teger yang telah percaya pada perubahan watak kedua pemuda kembar ini, sebaliknya murid-murid Kiai Teger yang lain masih meragukannya. Baik Tugeni maupun Suro masih menganggap bahwa pemuda kembar itu harus masih perlu di uji kesetiaannya. ltulah sebabnya mereka berdua diutus untuk mencari berita ketika guru mereka ditawan kekademangan Ampelgading.

Dalam hal kepandaian silat, tentu saja Sawung dan Galing boleh dikata tidak kalah dengan Tugeni Suro. Akan tetapi kedua pemuda kembar ini tidak pernah tersinggung apabila mereka diperlakukan sebagai keroco, atau murid baru yang belum punya kepandaian. Bahkan mengenai kewajiban melindungi atau menjaga nama baik perguruan, kedua pemuda kembar ini pun belum dipercayainya.

Memangnya kedua pemuda kembar itu adalah pemuda yang keras hati dan agak berangasan juga, maka begitu melihat kekejian dan kekejaman orang kademangan Ampelgading terhadap Kiai Teger, mereka lantas terbangkit amarahnya. Adatnya yang berangasan berkobar.

Ketika keduanya tahu bahwa gurunya akan dibawa kepengadilan kadipaten, maka Sawung dan Galing cepat-cepat menyelinap kebawah kereta tawanan. Keduanya bergantung merapat pada bawah kerangkeng. Begitulah, maka akhirnya begitu kereta tawanan tiba disebuah bebulak (pesawahan) keduanya lantas bergerak. Nama Sawung dan Galing sebagai sepasang penyamun kembar dari Penggarit memang sudah banyak dikenal. Dan Ki Jagabaya Karangsari insyaf bahwa ia menghadapi lawan berat. Akan tetapi  jumlah pengawal sangat banyak, mengapa harus takut menghadapi dua orang?

Ki Jagabaya sendiri, sebelum mendapat kedudukan sebagai seorang pamong sebagai sekarang, dulu dia adalah seorang murid dari perguruan Loning, yang tempatnya ada disebelah utara kadipaten Pemalang, ditepi pesisir.

Nama perguruan Loning dapat disejajarkan dengan nama perguruan Blimbingwuluh. Hanya bedanya, kalau perguruan Loning dipimpin oleh seorang nelayan sakti yang berjuluk “Kiai Cucut Kawung”, adalah suatu perguruan yang menutup diri dari pergaulan luar. Terhadap pergolakan pendekar-pendekar yang menentang penindasan Kompeni waktu itu, Kiai Cucut Kawung dan para muridnya tidak ambil pusing.

Berbeda sekali dengan perguruan Blimbingwuluh yang dipimpin oleh Ki Ageng Tampar Angin seorang bekas opsir Mataram. Dalam setiap gerakan menentang penjajahan orang asing, perguruan Blimbingwuluh selalu ambil bagian. Sehingga perguruan ini, kecuali dihormati dan disegani oleh teman saperjuangan, juga sangat dimusuhi oleh lawan-lawannya.

Ki Jagabaya mahir dalam ilmu golok. Begitulah, perguruan Loning memang dikenal orang sebagai perguruan ilmu golok sakti yang dikagumi diseluruh pantai utara pulau Jawa.

Sayangnya, Ki Jagabaya ini baru tergolong pada murid tingkat ketiga, sudah meninggalkan perguruan, sehingga baru sebagian saja ilmu golok Loning dikuasainya, jauh daripada sempurna.

“Tangkap! Bunuh pemberontak!” Demikianlah seru Ki Jagabaya memerintah para pengawal untuk menyerbu maju. Sejak ia menjadi seorang yang berpangkat, maka kebiasaan menyebut pemberontak sudah merupakan alat baginya untuk menggertak lawan.

Para pengawal dan ketiga belas rampok itu telah mengurung maju. Sambaran senjata bagaikan hujan bertubi-tubi meluncur kearah Sawung dan Galing. Tetapi permainan tongkat kedua pemuda kembar itu benar-benar lihay. Senjata yang bisa pendek bisa panjang itu ber-putar-putar sebagai kitiran, mengeluarkan sinar kemilau yang berkeredepan sebentar memanjang, sebentar bergulung- gulung. Dan senjata lawan yang seperti ditumpahkan itu dapat ditangkis, berpentalan, sebagian malah membalik kearah pemiliknya.

“Minggir!” Geweng berseru. Ketiga bekas rampok itu penasaran. Dengan adanya pengeroyok yang terlalu banyak sebenarnya memang tidak menguntungkan bagi pihaknya sendiri.

Sekarang demi para pengawal yang lain mundur maka ketiga bekas rampok, Geweng, Rasman Teglong dan Gering Blanggur dapat bergerak lebih leluasa. Mereka masing-masing bersenjatakan sebuah bandringan yang bandulnya terbuat dari sebuah bola besi bergigi.

“Sawung Galing!” Kalian toh orang sebagai kami, orang-orang yang menyukai kehidupan

bebas! Apa perlunya merendahkan diri, membela Kiai Teger si guru cab. ”

“Tutup mulutmu?” Bentak Galing memotong pembicaraan Geweng.” Kalian ini maling cilik macam apa berani membandingkan dirimu terhadap kami!” Gusar bukan main, pemuda kembar ini. “Aku sedang memperbaiki diri berbuat demi kebajikan kau sebut merendahkan diri. Lantas dirimu, maling tua bangka. Apakah kalian tidak menjadi begundal rendah, orang yang menjilat menghinakan diri sendiri hanya sekedar mencari selamat? Huh!”

“Kutubusuk cilik. Mulutmu tajam lebih tajam dari senjatamu! Rasakan gebukanku!” Bentak

Geweng dengan mata terbuka lebar karena malu dan penasaran.

Ketiga senjata bandringan meluncur dari tiga arah mengurung pemuda kembar itu. Akan tetapi Sawung dan Galing bertindak cepat. Keduanya saling beradu punggung sambil melintangkan tongkat.

Begitu tongkat digerakan, maka terdengar bunyi nyaring, senjata yang berbentrokan. Geweng membuang diri kebelakang, sambil menjerit ketika ternyata bandul bandringnya menyambar muka sendiri dengan sangat cepatnya. Geweng dapat menyelamatkan diri dari sambaran senjata sendiri, akan tetapi harus berguling- gulingan ditanah menghindari jojohan tongkat Sawung yang menusuk secara beruntun. 

Melihat seorang temannya terancam bahaya. Gering Blenggur dan Rasman Teglong bermaksud memberi pertolongan. Akan tetapi Galing dapat menduga maksud mereka, dan semakin mempercepat permainan tongkatnya.

Memangnya kedua benggolan maling itu hanya menang dalam hal tenaga kasar belaka. Dalam hal ketangkasan dan kecepatan gerak, Galing ternyata lebih unggul. Ketika Gering dan Rasman menyabet kearah kaki dan leher, justeru Galing telah mendahului bergerak, menyelinap diantara sinar rantai bandringan lawan dan tongkatnya melakukan gerakan memutar setengah lingkaran, menikam kearah pusar Rasman, selanjutnya menyotek kearah Gering.

Bukan main kecutnya kedua bekas benggolan begal itu. Menarik senjatanya sudah tak mungkin, menangkis tak sempat lagi. Akhirnya, keduanya serempak berseru sambil melepaskan senjatanya keduanya berlompatan mundur untuk ambil langkah seribu alias ngacir.

Bersamaan dengan itu, terdengar jeritan Geweng yang melolong seperti anjing terjepit. Kiranya tongkat Sawung telah amblas sedalam sejengkal kedalam dadanya, amblas hingga kepunggung, Geweng hanya sejenak sempat menggeliat, akhirnya diam tak berkutik putus nyawanya.

Galing dan Sawung bermaksud mengejar Rasman dan Gering. Akan tetapi pada saat itu

terdengar Ki Jagabaya berseru lantang : “Lariii!”

Dan kiranya Ki Jagabaya telah mengusiri kereta dengan dikawal para pengawal yang Iain melarikan tawanan secepatnya. Rupanya, dalam kesempatan Sawung dan Galing dikerubut oleh ketiga benggolan begal itu Ki Jagabaya telah menukar kuda kereta yang terluka dengan kudanya sendiri, dan kuda seorang pengawal. Begitu melihat suasana pertarungan yang tidak menguntungkan maka ia bersama beberapa pengawal bermaksud melarikan tawanan, setelah sebelumnya membunuhi kuda-kuda yang tertinggal.

Sawung dan Galing terperanjat, mereka berdua cepat-cepat berlompatan mengejar. Tetapi bukan hanya dia saja, kiranya Gering Blanggur dan Rasman Teglong yang telah kehilangan kudanya juga berlarian, bukannya mengejar akan tetapi mencari selamat, masuk ke dalam semak belukar sambil mencaci maki.

Andaikata saat itu Sawung Galing bermaksud membunuh sisa dua begal itu agaknya tidaklah sulit. Akau tetapi kedua pemuda itu tidak suka menurutkan haws napsu belaka. Mereka lebih mementingkan keselamatan gurunya, maka ia terus melakukan pengejaran.

Namun, dalam hal kecepatan lari kiranya sulitlah bagi kedua pemuda itu untuk mengejar rombongan Ki Jagabaya. Lewat tengah malam, mereka telah tertinggal jauh, bahkan suara keteprak lari kuda maupun gemeritnya roda kereta telah semakin sayup, semakin samar hingga akhirnya tak terdengar sama sekali.

Tiba dikademangan Petarukan, barulah kedua pemuda itu beristirahat sejenak untuk menghilangkan lelah. Juga mencari isi perut, sebab sejak mereka meninggalkan perguruan Blimbingwuluh. mereka tidak sempat mengisi perut barang sekali.

Sedang mereka melahap ikan panggang yang ditangkapnya dari sebuah kali mendadak mereka mendengar sayup-sayup derap seekor kuda yang berlari dengan sangat kencangnya.

Tidak selang berapa lama, maka mereka melihat seorang bertubuh ramping yang mengendarai kuda dengan sangat tangkasnya, menuju kearah mereka.

Belum juga habis herannya kedua pemuda itu, maka penunggang kuda itu telah berpaling kearah api pediangan tempat kedua pemuda tadi membakar ikan sambil berseru nyaring :

“Bodoh! Apa yang kalian lakukan disitu?”. Kiranya penunggang kuda itu hanyalah seorang dara remaja, usianya takkan lebih dari lima belas tahun. Wajahnya lonjong telur, sepasang matanya bersinar-sinar seperti bintang timur.  Mengenakan pakaian serba hitam, rambutnyapun tergelung, dan disembunyikan dalam kerudung sutera berwarna hitam pula. Dibagian atas ubun-ubunnya terdapat seikat perhiasan yang berbentuk

seperti sisir tetapi terbuat dari baja warna putih yang bertatahkan mutiara.

Melihat itu seketika Sawung dan Galing bangkit berdiri sambil berkata hormat : “Ah, kiranya nona Cunduk Puteri... yang datang.”

Cunduk Puteri adalah seorang dara remaja, puteri tunggal Mbah Pucung. Mengingat akan ayahnya yang tergolong angkatan tua yang berkepandaian sangat tinggi, tidaklah aneh apabila dara remaja itupun memiliki kepandaian dan ketangkasan yang mengagumkan.

Hampir disetiap penjuru pesisir utara tanah Jawa mengagumi nama dan kecantikan dara ini. Terlebih-lebih adalah sepak terjang si dara yang menimbulkan pujian orang, karena dimanapun ia berada selalu melakukan darma bhakti kebajikan, melawan kesewenang-wenangan dan membela kaum lemah.

Dara ini telah dua tahun lamanya mengembara sambil mengamalkan budi maupun kebajikan. Sehingga namanya yang mengagumkan itu hampir dikenal oleh setiap orang. Namun, orang jarang mengenal orangnya. Kenal nama tidak kenal orang. Hanya ada satu tanda yang selalu dipakai oleh si dara yaitu hiasan pada ubun-ubunnya yang disebut cunduk. Nama asli dara ini jarang orang yang mengetahuinya, tetapi bila melihat seorang dara perkasa cantik yang mengenakan cunduk, langsung orang dapat menerkanya, dialah Cunduk Puteri! 

“Ya, aku Cunduk Puteri! Bukankah kau berdua ini bekas maling yang diambil murid oleh

Kiai Ageng Tampar Angin?”.

Sawung dan Galing tersenyum masam. Walaupun ucapan dara itu mengandung ejekan, tetapi suaranya merdu dan renyah, sedap didengar.

“Aku Sawung. Dan adik kembarku bernama Galing, setelah kau mengetahui bahwa aku adalah sepasang bekas maling yang diambil murid oleh guruku, habis Cunduk Puteri ada petunjuk apakah?.

Cunduk Puteri tertawa kecil. Memangnya dia seorang dara jelita yang lincah maka tawanya terdengar renyah ditelinga dan giginya yang indah berderet rampak, rampak sebagai untaian mutiara yang bersinar kemilau.

Untuk sejenak kedua pemuda kembar itu terdiam dalam pesona.

“Memangnya kalian bodoh, apakah marah aku sebut begitu?” Kata si dara sambil

menghabiskan tawanya.

“Kebodohan kami ada dimanakah, nona?” Tanya Sawung sambil menekan jantungnya yang berdebar.

“Kalian berdua mengejar-ngejar tawanan yang dibawa lari oleh kuda pilihan sebagai si Demung kuda Ki Jagabaya. Jangankan berharap hendak menolong orang sedangkan menyandak saja tidak! Dan ada satu hal kebodohan yang kalian lakukan pula, yaitu untuk apakah kalian hendak membebaskan gurumu? Sia-sia saja!

Gurumu telah terkena jahat “pacet-wulung” andaikata kalian dapat membebaskan juga, dengan cara apakah kalian akan menolong gurumu dari amukan racun itu?”.

Kedua pemuda kembar itu saling pandang, kemudian mengangguk-anggukkan kepala.

“Nona Cunduk Puteri!” Sahut Sawung dengan sikap kemalu-maluan. “Memang aku belum patut untuk di sebut sebagai murid Ki Ageng Tampar Angin. Guruku telah berkata bahwa aku tak perlu menolong guruku, sebaliknya aku harus pulang kerumah perguruan untuk...”. “Untuk menyaksikan kematian teman-temanmu dan hancurnya perguruanmu?” Cunduk Puteri

memotong. 

“Cunduk Puteri!” Galing berkata lantang,  nadanya tersinggung.  “Walaupun  kami  berdua

bukanlah tandinganmu, akan tetapi kau tak berhak berkata seperti itu!”.

“Mengapa tak berhak?” Cunduk Puteri tertawa. “Apa yang kukatakan adalah apa yang sebenarnya telah terjadi. Andaikata waktu itu kau menuruti pesan gurumu, tentulah nasib perguruan Blimbingwuluh tidak demikian menyedihkan.  ”.

“Cunduk Puteri!” kedua pemuda kembar itu berkata serempak. “Apa maksudmu sebenarnya?”

“lnilah kebodohanmu yang ketiga? Sedang kalian secara sia-sia mengejar kereta tawanan maka perguruanmu dihancurkan orang! Sekarang tinggal bangkai berserakan, bangkai saudara- saudaramu, bangkai-bangkai saudara seperguruanmu! Pondok-pondok berguguran tinggal hanya puing-puing belaka. Agaknya hanya tangan orang-orang biadab saja yang mampu membuat neraka yang demikian mengerikan diatas perguruan Blimbingwuluh.”

Mendengar penuturan Cunduk Puteri yang bernada sungguh-sungguh itu, seketika Sawung Galing tergetar tubuhnya. terkejut hingga jatuh lemas berlutut sambil menangis. Keduanya menggerung-gerung dengan penuh rasa penyesalan. Mereka menyesal karena tidak mau mendengar nasehat yang telah dikatakan oleh gurunya.

“Guruuu... Ampunkan kami guru. Kami tidak becus. Kami lancang, dan sudah sepatutnya dihukum oleh kebandelan kami ini...” demikian Galing yang lebih banyak bicara itu berseru-seru diantara suara tangisnya.

Melihat yang demikian Cunduk Puteri setengah tertawa, tetapi juga setengah hendak tertawa.

Ketika mendadak kedua pemuda kembar itu bangkit, terus sebraaat, keduanya berlari. Tetapi kedua pemuda itu segera tersentak kaget ketika melihat seekor kuda mencegat didepan mereka.

“Cunduk Puteri?” Sawang dan Galing berseru serempak, kaget dan juga marah. “Hendak kemana kalian?”

“Kubunuh, kucincang, pembunuh-pembunuh biadab itu. Kuhancurkan sekalian manusia-

manusia kejam yang tak berhati itu!” Sawung berseru-seru penuh semangat.

“Siapa yang hendak kalian bunuh? Siapa pembunuh biadab itu?”

Kedua pemuda kembar itu jadi celingukan dan saling pandang. Mereka baru ingat bahwa mereka telah melakukan kelalaian pula. Mereka tidak mengetahui siapa pembunuh-pembunuh itu, bagaimana mereka hendak membalas pembunuh itu?

“Cunduk Puteri!   Katakan   siapa   pembunuh-pembunuh   itu!   Biar   aku   mengadu   jiwa

dengannya.”

Cunduk Puteri menghela napas.

“Aku sendiri tidak tahu, siapa pembunuh-pembunuh itu. Waktu aku kembali dari Peninggaran, aku melihat nyala api diarah perguruanmu. Tetapi aku tiba disana hanya mendapatkan puing-puing dan bangkai berdarah berserakan!”

“Kalau aku sendiri melihat pembunuh-pembunuh itu, apakah kalian kira aku takkan turun tangan? Walaupun antara perguruan Pucung dan Blimbingwuluh tidak ada sangkut paut apapun, akan tetapi akupun tak mungkin membiarkan orang-orang biadab berbuat sewenang-wenang!”

Pemuda kembar itu berhenti menangis. Sambil mengepal-ngepal tinju karena amarah, mereka mencoba untuk menduga-duga, siapa gerangan pembunuh-pembunuh keji itu.

“Demi Tuhan. Cunduk Puteri, katakanlah apa yang harus kami perbuat!” Kata Sawung

dengan bersungguh-sungguh. “Yang telah hancur, biarlah hancur kembali keasalnya. Yang telah tewas, ya sudahlah kau relakan mereka pergi menghadap kepada Sang Maha Pencipta. Kewajibanmu adalah  mempertahankan yang masih hidup agar membawa guna. Kalian tak perlu mengejar kekadipaten, akan tetapi adalah lebih baik secepatnya mencari obat penawar racun yang mengeram dalam tubuh

gurumu...”

Kedua pemuda kembar itu termangu sejenak. Kemudian katanya :

“Kau benar Cunduk Puteri! Terima kasih untuk budi pertolonganmu”.

“Tak usah kau sebut-sebut hal itu lagi. Aku sekarang sedang dalam perjalanan menuju kebarat, barangkali aku dapat menjejaki pengiriman tawanan itu. Sebaiknya sekaranglah kalian berangkat!”.

Demikianlah, setelah mengucapkan terima kasihnya lagi, maka kedua pemuda kembar itu lalu melompat pergi, menghilang kedalam semak belukar untuk melakukan perjalanan menuju arah barat daya, yaitu lembah Telagasona, tempat kediaman Dewi Cundrik.

Sementara itu, Cunduk Puteri sendiri telah membalapkan kudanya, lurus menuju kearah barat.

X

X X

TELAH dua hari Iamanya Joko Bledug mengisi perutnya dengan masakan serba merah yang disajikan oleh Dewi Cundrik. Setidak-tidaknya, lebih dari lima kali pemuda remaja itu makan masakan yang serba aneh tetapi sangat sedap rasanya itu.

Pada malam pertama ia makan masakan itu timbul kecurigaan Joko Bledug.

Joko Bledug menduga barangkali Dewi Cundrik telah memasukkan racun dalam masakan itu. Akan tetapi bila ternyata pada pagi harinya Joko Bledug mendapatkan dirinya sehat walafiat, bahkan badannya terasa sangat segar bugar, maka dugaannya itu lenyap seketika.

Sementara itu, sikap Dewi Cundrik semakin baik terhadapnya, walaupun dengan cara demikian sesungguhnya membuat Joko Bledug semakin muak kepadanya.

Terlebih-lebih apabila wanita bermuka tembem buruk itu merayunya, Joko Bledug benar- benar ingin memukulnya. Akan tetapi jangan harap ia akan dapat berbuat seperti itu. Baru saja Joko Bledug hendak bergerak Dewi Cundrik telah mendahului memijit pergelangan tangan menotok pinggang atau mendorongnya sampai terjungkir balik.

Diam-diam Joko Bledug mencari akal untuk melarikan diri dari cengkeraman wanita itu.

Sementara itu, semua santapan serba merah terus mengalir kedalam perutnya.

Demikianlah, tanpa disadari sesungguhnya Dewi Cundrik telah mencekoki pemuda hijau itu dengan masakan yang mengandung racun keji, Joko Bledug tidak insyaf, bahwa sedikit demi sedikit jalan darahnya semakin lancar, semakin cepat dan kadang-kadang seakan-akan menderu-deru.

Hingga pada malam yang kedua ini, Joko Bledug tersentak dari tidurnya ketika tiba-tiba ia merasa tubuhnya sangat panas. Seluruh kulit ditubuhnya seakan menguapkan hawa hangat, dan anehnya pada saat itu ia sangat membutuhkan sesuatu.

Dalam kehangatannya ini. Joko Bledug merasa sangat gugup dan gelisah, entah mengapa. Ia mencoba menguasai diri, memusatkan perhatian untuk menekan kebutuhan aneh ditubuhnya itu. Akan tetapi ia segera terkejut. Tenaga batinnya seakan telah lenyap. Apabila ia menekan pengaruh kegelisahan itu seakan ia mendorong sesuatu kedalam lumpur, ambles tak menemui dasar. Makin keras Joko Bledug mengerahkan tenaga, memusatkan perhatian, terasa semakin buyar tenaga batinnya, seakan-akan telah menjadi tempat kosong belaka.

Joko Bledug terkejut. Akan tetapi sudah terlambat. Keinginan aneh dalam tubuhnya yang menderu-deru itu, tak dapat dikendalikannya lagi. Joko Bledug ingin melihat perempuan! Perempuan... Apapun perempuannya itu. Hatinya tambah gelisah dan Ia melompat-lompat sambil berteriak-teriak, memanggil-manggil tetapi juga memaki-maki. 

Tidak puas dengan perbuatannya seperti itu maka Joko Bledug berlari-lari dalam kamarnya, berputaran ratusan kali, seakan-akan tak ada lelahnya.

Dalam keadaan setengah mabuk setengah gila itu, Joko Bledug melihat alam sekitarnya jadi tampak serba merah. Semua tampak sebagai warna merah yang mengembang memecah, mengembang memecah tak menentu bentuk. Akan tetapi bila binar-binar warna itu akhirnya membentuk diri, terujudlah sesosok bayangan manusia betina, seorang perempuan yang mirip dengan.  Dewi Cundrik!

Di sudut, tampak Dewi Cundrik. Di pintu Dewi Cundrik! Di langit-langit kamar Dewi Cundrik. Alangkah menyebalkan bentuk perempuan itu! Tetapi aneh, kali ini Joko Bledug tidak menghardik Dewi Cundrik, tidak juga mengusirnya. Dihampirinya bayangan wanita itu, disentuhnya. Dan Joko Bledug ingin mencaci maki, tetapi tidak! Ada satu hasrat luar biasa yang memaksa dirinya tidak mau kehilangan bentuk wanita itu.

Mengapa kali ini Dewi Cundrik tidak beruban? Tidak tembem-tembem wajahnya jelek menjijikkan? Tetapi yang tampak adalah sesosok tubuh wanita semampai yang berwajah jelita dengan senyumnya yang manis mengambang!

Oh, Joko Bledug berani bersumpah. Tangan yang sedang meraba-raba adalah meraba wajah seorang wanita jelita. Pakaian dan bau harum yang serba semerbak adalah semua tanda-tandanya Dewi Cundrik, akan tetapi wajah jelita dengan rambut hitam berkilau seperti sutera ini milik siapakah?

Joko Bledug tak tahu apa yang harus diperbuatnya, kecuali menurutkan hasrat yang menderu- deru didadanya hasrat untuk mengusap-usap wajah jelita itu.

“Joko Bledug...” Sesosok wanita berwajah jelita itu membisiki telinga Joko Bledug dengan

suaranya yang merdu.

Ini suara Dewi Cundrik! Suaranya! Begitulah teriak Joko Bledug dalam hatinya. Akan tetapi ia tidak merasa muak. Kejijikan yang selalu timbul setiap mendengar suara wanita itu, kini lenyap sama sekali. Yang tampak dan terasa adalah segugus wanita rupawan yang bertubuh lembut dan bersuara merdu.

“Hawa disini sangat panas... Mari kita mencari angin diluar...” Wanita itu berkata pula, dengan kemerduan nadanya dan kemanisan senyumnya. Walaupun ia seribu kali Dewi Cundrik agaknya Joko Bledug takkan peduli lagi. Dipeluknya wanita itu.

Joko Bledug memejamkan mata dengan kedua tangan bergelantung dileher wanita itu, ketika ia merasa tubuhnya dibawa melayang-layang keluar dari dalam kamar tahanan itu.

Di luar angin bertiup semilir, menyegarkan. Bulan peang, berlayar dilangit, perlahan-lahan meninggalkan pusat langit.

Ketika terasa tubuhnya didudukkan, maka Joko Bledug membuka mata. Ia melihat sekelilingnya. Pohon- pohon gempol yang rindang, masih tetap ada, rindang dengan daun-daunnya yang lebar tebal. Pemandangan selat yang sempit didindingi oleh tebing-tebing batu yang tinggi tegak, masih seperti sedia kala. Dan bayangan hutan sebelah barat tampak masih juga menghitam dengan daun-daun lembut yang memantulkan cahaya keemasan.

Ah, semuanya tetap sebagai semula. tetapi mengapa Dewi Cundrik begitu jelita dan rupawan.

Dimanakah wanita berwajah tembem dan buruk itu?

“Joko Bledug maukah kau memperisterikan diriku?” Bisik wanita itu.

Joko Bledug tidak tahu apa itu artinya memperisteri tetapi ia hanya melihat wanita itu begitu menawan, cantik jelita dan menggairahkan... “Kau bukan Dewi Cundrik bukan?” tanya Joko Bledug dengan suara yang gemetaran.

Wanita itu tersenyum. Tersenyum dan tersenyum. Langit tetap bagai semula bertabur bintang,

dengan purnama yang merayap tak kenal lelah. “Kalau aku Dewi Cundrik, bagaimanakah?”. “Aaah, tidak apa-apa...”.

“Tidak apa-apa! Tidak apa-apa memang. Walaupun wanita itu mengaku seribu kali Dewi Cundrik, toh nyatanya dia sangat memikat hati Joko Bledug. Andaikata dia bukan wanita yang tembem buruk dan beruban itupun, agaknya Joko Bledug akan menyerah pula.

Malam sunyi. Kesunyian itu bergantungan seperti embun yang mulai membulat pada dahan dan ranting. Angin lembut dari barat, mempermainkan daun-daun gempol, menimbulkan bisik- bisik, desah dan tak jelas, seperti suara desah yang keluar dari mulut Joko Bledug! Oh. Joko Bledug terlalu muda! Terlalu hijau!

Ketika semuanya telah selesai terjadi diluar kesadarannya, maka Joko Bledug seakan merasa suatu kehilangan. Kehilangan tenaga dan semangatnya. Bahkan akhirnya kehilangan wanita cantik jelita yang tadi mempesonakan dirinya, kini telah bertukar dengan wajah seorang wanita yang tembem buruk beruban dan memuakkan!

“Apa artinya ini? Apa yang kau lakukan Cundrik?” Pekik Joko Bledug sambil tersentak kaget, melonjak dari baringnya. Pemuda ini gugup dan gopoh mengenakan pakaiannya, sementara Dewi Cundrik sendiripun sedang merapikan pakaiannya pula.

“Apa yang kulakukan?” Sahut Dewi Cundrik seraya tertawa cekikikan. “Sama dengan apa yang kau lakukan... hihihik!”.

“Cundrik! Dewi Cundrik. Kau gi-gila! Gilaaaaa!” Joko Bledug memekik-mekik matanya jelilatan, sedangkan otaknya bekerja keras.

Seluruhnya dialami, sejak bangkitnya suatu perasaan aneh, hingga timbul semua bentuk serba merah, hingga munculnya bentuk jelita hingga mereka membaringkan diri dibawah bayangan pohon gempol, hingga segala-galanya terjadi... membuat Joko Bledug bergidik gemetaran seluruh tubuhnya.

“Mengapa? Mengapa? Mengapa sampai terjadi begini?” Joko Bledug meremas kepala sendiri, menghantam dada sendiri, kemudian mencakar muka akan tetapi ketika Dewi Cundrik menggerakan tangannya pemuda hijau itu terjatuh lemas, tergolek tak berkutik.

Pendengaran Dewi Cundrik yang sangat tajam tiba-tiba menangkap suara langkah orang dikejauhan. Tubuh wanita itu berkelebat pergi dibareng suara jeritannya yang melengking.

Tiba pada tepi rawa-pacet atau telaga-lintah. Dewi Cundrik berhenti. la memandang lurus kedepan, keseberang rawa, dan terlihat olehnya dua orang pemuda samar-samar sedang berdiri dengan sikap gagah.

“Cundrik! Dewi Cundrik! Serahkan obat anti racun pacet-wulung! Kalau tidak kau berikan, aku Sawung Galing akan menghancurkan istanamu ini!” Terdengar suara dari seberang rawa yang lantang bergema. Jelas bahwa orang yang sedang bersuara itu adalah orang yang memiliki kepandaian.

Mendengar itu Dewi Cundrik tertawa terkekeh-kekeh.

“Kalau tak sanggup menyeberang kemari, bilang saja terus terang. Aku Dewi Cundrik bersedia menjumpai kalian kesitu, tapi katakan dulu, apakah kalian muda yang cakap ataukah buruk?”

“Iblis! Siluman gila! Kami Sawung dan Galing adalah pemuda tampan, bukan seperti mukamu yang tembem dan menjijikkan!”. “Bagus!”.

Bersamaan dengan suara bentakannya itu maka Dewi Cundrik tampak berkelebat. Tubuhnya

yang tinggi ramping melayang-layang diatas air telaga dengan sangat ringannya seperti kupu-kupu putih, karena yang tampak hanyalah rambutnya belaka yang putih seperti kapas. Tak selang berapa lama tahu-tahu Sawung dan Galing memekik tertahan karena terkejut.

Sama sekali kedua pemuda kembar itu tak menduga bahwa yang termashur sebagai Dewi Cundrik, seorang wanita sakti yang berwajah buruk, ternyata seburuk yang mereka lihat sekarang.

Kecuali mulut luka yang keradak berwarna abu-abu itu, dahinya lebar seperti ladang yang gundul. Alisnya gompyok seakan alang-alang dimusim kering. Matanya cekung dan sangat dalam, yang terlihat hanyalah biji matanya belaka yang tajam berkilat-kilat. Kedua pipinya tembem, dan mulutnya cablak dengan kedua bibir yang biru tebal, mengingatkan orang pada bibir yang disengat lebah.

Walaupun kedua pemuda kembar itu adalah pemuda-pemuda yang tak pernah kenal takut, akan tetapi mereka masih tergetar juga melihat ada manusia yang berbentuk lebih menyeramkan dari siluman.

Sebaliknya Dewi Cundrik tak henti-hentinya mengamat-amati pemuda kembar itu dengan mata penuh selera. Sawung dan Galing memiliki wajah yang kukuh dan gagah, melukiskan orang yang berwatak keras. Perawakannya sedang dan kekar, sempurna dengan bentuk dan sikap seorang jantan.

“Oh, jadi kalian ini sepasang begal cilik dari Penggarit, Sawung dan Galing?” Tegur Dewi

Cundrik mengejek.

“Tadinya memang. Kini kami bukan begal lagi. Kami datang untuk meminta obat racun

pacet-wulung kepadamu Dewi”.

“Hmm, untuk Teger si guru cabul?”.

“Untuk guruku. Ki Ageng Tampar Angin alias Kiai Teger. Kau tak berhak untuk menghina

guruku? Kalau ada guru cabul, tentu bukanlah guruku tapi adalah...”

“Tutup mulutmu!” Dewi Cundrik membentak dengan mata mendelik. “Kalian begal cilik mau

jual didepan nyonya besarmu? Kalau aku tak mau memberikan obat itu kalian mau apa?” “Sawung mendengus. “Kami akan membegal lagi?”

“Sudah, sudahlah” Dewi Cundrik bersikap halus kembali. Bagi wanita ini, tak ada laki-laki muda gagah yarg memikat hatinya. “Ngomong besarpun tak ada gunanya. Jangankan membegal kami sedangkan untuk menyebrangi rawa pacet ini saja kalian tidak mampu. Lebih baik kalian menurut kepadaku hidup berbahagia di istana Guha Gempol bersamaku!”

Traaak! “Aiiiiii” tongkat ditangan Sawung mendadak memanjang ujungnya yang runcing tajam menyambar lambung Dewi Cundrik dengan sangat cepatnya. Tetapi pemuda ini segera kecelik. Andaikata Dewi Cundrik dapat dilukainya dalam sekali gebrakan tentulah dia bukan si Dewi Cundrik siluman Guha Gempol yang namanya menggemparkan dunia persilatan.

Sawung berpikir, bahwa yang dikatakan oleh Dewi Cundrik tentang mereka takkan mampu menyebrangi rawa pacet memang benar belaka. Andaikata kedua pemuda kembar itu bisa menyebrang, tentu telah sejak tadi mereka menyelinap masuk kedalam istana wanita sakti itu.

Kini melihat hadirnya Dewi Cundrik ditempat itu, Sawung hendak mempergunakan kesempatan ini untuk memaksa wanita siluman itu agar menyerahkan obat penawar racun pacet- wulung. Tapi siapa duga siluman itu begitu lihaynya, sedikit menggoyangkan pinggangnya, maka ujung tongkat Sawung hanya mengenai tempat kosong. Sikap halus Dewi Cundrik segera bertukar dengan tawa bengis yang menyeramkan. Kedua tangannya terangkat keatas, dengan jari-jari terbuka, seperti kelelawar raksasa yang hendak  menerkam mangsanya.

“Monyet tak tahu dikasihani!” Dewi Cundrik menggeram.

Galing yang mengerti jalan pikiran kakak kembarnya, telah menggerakan tongkatnya menjojoh tiga kali berturut-turut kearah muka Dewi Cundrik.

Setiap serangan Suwang maupun Galing adalah serangan cepat yang sangat berbahaya sebab selalu terarah pada tempat-tempat yang mematikan. Namun mereka ketemu batunya, bentrok dengan biangnya siluman dan iblis sakti. Wanita sakti itu hanya menggerak-gerakan mukanya sedikit kekiri kekanan atau kebelakang, dan semua serangan Galing hanya mengenai angin kira-kira satu mili diluar kulit muka wanita itu.

Bukannya Sawung tidak menyadari bahwa dirinya akan dapat dikalahkan oleh wanita itu. Soalnya dia terpaksa harus melakukan hal itu, apabila ia tidak ingin melihat dirinya ditinggal pergi oleh siluman Guha Gempol itu.

Ketika melihat serangan Galing yang cukup berbahaya itu hanya dihindari oleh Dewi Cundrik tanpa bergeser dari tempatnya, maka Sawung membarengi dengan sabetan tongkatnya kearah kaki wanita itu. Mustahil siluman itu tidak melompat mundur, yang berarti Galing mendapat kesempatan untuk melancarkan serangan yang mendesak. Dalam hal bertarung secara bekerja sama kedua pemuda kembar itu memang memiliki keuletan dan kehebatan yang patut di kagumi. Apabila yang seorang melancarkan serangan maka yang seorang secara serentak telah melakukan penjagaan sekaligus menutup jalan keluar bagi lawan untuk lari.

Akan tetapi siapakah yang mau lari? Sawung Galing bukanlah lawan Dewi Cundrik.

Entah dengan cara bagaimanakah, tahu-tahu wanita itu lenyap dari pandangan mata. Dan sebelum kedua pemuda itu sadar akan apa yang bakal terjadi, mereka merasa tangannya kesemutan dan senjata mereka terlepas dari cekalan.

“Aku disini, hihihik!” Terdengar suara tawa Dewi Cundrik yang merdu, namun dalam saat

seperti itu terdengar oleh pemuda kembar itu seperti ringkikkan kuntil-anak.

Kedua pemuda itu hendak berpaling kebelakang, kearah datangnya suara tawa itu. Akan tetapi aneh, terasa lutut mereka dibentur oleh benda yang kecil tapi keras. Dan Sawung maupun Galing jatuh berlutut dengan wajah pucat pasi. Dalam keadaan seperti ini andaikata Dewi Cundrik berniat kejam terhadap mereka, maka untuk membunuhnya semudah orarg menyentuh hidung sendiri.

Sekali lagi Dewi Cundrik memperdengarkan suara tawanya yang melengking nyaring dan menyeramkan. “Kalian ini cuma anak kecil ingusan tak tahu apa-apa. Kau membela gurumu mati- matian, sedangkan anak kesayangan guru itu sendiri justeru berpihak dan mencintaiku...”

Sawung Galing terkejut. Kekalahan yang begitu cepat ditemaninya telah cukup mengejutkan akan tetapi tidak sehebat kejutan yang ditimbulkan oleh ucapan wanita itu.

Namun kedua pemuda kembar itu tak bisa berbuat suatu apapun ketika Dewi Cundrik mengempit tubuh mereka dikanan kiri, dan membawanya berloncaian di atas air rawa pacet.

Ketika mereka dimasukkan kedalam sebuah kamar tahanan, mereka merasa bahwa dewi Cundrik telah membebaskan mereka dari totokan atau sentuhan gaib yang membuat mereka tak berdaya. Diam-diam mereka bingung, terheran-heran dan menduga-duga. Kata-kata Dewi Cundrik yang terakhir tadi terasa terngiang terus ditelinga.

Dewi Cundrik mendapatkan Joko Bledug yang sedang tergoler letih, lesu dan setengah sadar. Tampak wanita itu mengeluarkan sebuah botol kecil yang berisi cairan warna merah seperti darah. Setelah itu, di angkatnya muka Joko Bledug, lalu dituangkannya isi botol kecil itu kedalam mulut pemuda itu dengan paksa. Walaupun dalam keadaan tidak seluruhnya sadar, akan tetapi Joko Bledug menduga bahwa wanita itu tentu sedang tidak bermaksud baik. Entah racun macam apalagi yang dicekokkan dengan  paksa itu. Joko BIedug mencium bau harum semerbak, dan cairan manis madu yang mengalir melalui kerongkongan. Akan tetapi ia bermaksud menahan napas dan mencoba untuk

memuntahkannya. Namun ketika jari Dewi Cundrik mengurut leher pemuda hijau ini perlahan- lahan tanpa dapat dicegah cairan itu meluncur terus memasuki kerongkongan, terasa anyir seperti darah.

Rasa penasaran, amarah dan muak, membuat Joko Bledug pingsan kembali. Agaknya juga karena pengaruh cairan merah itu. Pemuda itu sendiri berharap akan mati karena racun itu, tetapi ternyata tidak. Dewi Cundrik tidak membunuhnya. Bahkan setelah meminumkan cairan tersebut kedalam mulut Joko Bledug wanita itu lintas tersenyum gembira. Dan perlahan-lahan tangannya mulai bergerak meraba peniti baju sendiri.

Disambar guntur sekalipun, Sawung Galing takkan percaya akan apa yang dilihat oleh matanya. Kini ketika mereka membuka pintu kamar yang ternyata tidak dikunci oleh Dewi Cundrik, maka mereka melihat sepasang manusia yang sedang tergolek diatas sebuah balai-balai batu, yaitu Dewi Cundrik dan Joko Bledug.

Mereka melihat sepasang manusia itu tidak berpakaian dan sedang melakukan sesuatu yang tidak patut disaksikan orang lain. Sawung mengucek-ucek matanya, menampar muka sendiri karena mengira bahwa mereka telah mati di neraka. Tetapi tidak! Mereka masih hidup, bahkan dapat mendengar dengan nyata yang sedang dipercakapkan oleh sepasang manusia diatas balai-balai batu itu.

“Tujuh ringgit ataukah sepuluh ringgit, pusaka pancaloka kau jual kepada Kebo Sulung,

Bledug?” Berkata Dewi Cundrik dengan suara merintih dan merayu. “Sepuluh ringgit” Joko Bledug menjawab.

“Karena kau mengetahui rencana ayah angkatmu hendak menodai Nyai Tratih. Karena kau

tidak menyetujui perbuatan keji dan kotor itu, bukankah begitu?” Tanya Dewi Cundrik pula. “Benar begitu” sahut Joko Bledug.

“Dan kau lebih percaya kepadaku. Kau mencintaiku Bledug?”. “Aku mencintaimu!''.

“Sekarang ada dua orang maling, begal, yang datang hendak membunuhmu Bledug. Dia mencaci maki dirimu, menuduh dirimu sebagai seorang manusia tak berbudi, seorang murid murtad yang harus dihukum mati. Apakah lebih baik dibunuh ataukah bunuh Bledug?”.

“Lebih baik membunuh”.

“Karena membunuh lebih kesatria daripada dibunuh!” Dewi Cundrik memperdengarkan tawa bengis. Kemudian lanjutnya : “Kecuali mereka menuduhmu sebagai murid durhaka, mereka juga hendak merampas diriku dari tanganmu. Dikatakannya kecantikanku hanya seimbang untuk mereka, kau jelek dan mereka tampan. Kau tidak seimbang menjadi suamiku katanya. Sanggupkah kau menghukum orang yang bermulut lancang itu Bledug?”.

“Sanggup!”.

“Lakukanlah!” Begitu selesai berkata demikian maka Dewi Cundrik telah melompat dari atas balai batu itu. Setelah melemparkan selembar pakaian keatas tubuh Joko Bledug maka wanita itu lantas menghilang, tinggal terdengar suara tawanya yang menyeramkan saja yang berkumandang memenuhi guha.

Dewi Cundrik telah pergi, Joko Bledug bangkit, mengenakan pakaian selembar itu kemudian mengangkat mukanya. Maka terlihatlah wajahnya yang merah membara seperti kepiting panggang. Matanya jelilatan, hidungnya kembang kempis dan bibirnya bergetar. Tangan dan kakinya menggigil hebat, akan tetapi ia melangkah dengan terhuyung. “Mana maling cilik yang hendak membunuhku?” Suara Joko Bledug terdengar serak dan menyeramkan. 

Lalu tubuhnya yang terhuyung-huyung itu melangkah garang, menyosoh-nyosoh lantai guha batu itu mendekati kamar dimana Sawung dan Galing ditahan.

Sawung Galing terkejut dan gugup bukan main. Dilihatnya Joko Bledug yang semula dikenalnya sebagai seorang bocah pendiam, baik hati dan selalu ramah itu, kini tampak seperti seekor macan kumbang yang sedang lapar. Dan walaupun lambat. akan tetapi pasti bahwa ia sedang menghampiri Sawung dan Galing.

Sawung Galing berlompatan keluar menyambut dengan hati penuh duka dan kasihan, mereka bermaksud untuk menyadarkan anak angkat gurunya itu. Mereka tahu Joko Bledug sedang berada dalam pengaruh jahat Dewi Cundrik, yang walaupun mereka tidak melihat Dewi Cundrik mencekokkan cairan merah, tetapi mereka yakin tentu wanita siluman itu telah dengan sengaja meracuni kesadaran bocah itu.

Sungguh diluar dugaan, begitu melihat munculnya Sawung Galing maka Joko Bledug memperdengarkan suara menggerang seperti harimau, terus menubruk sambil membentak : “Kalau kedua maling cilik itu!”

Sawung Galing belum habis bingungnya. Sehingga terkaman Joko Bledug yang sangat mendadak itu membuat keduanya tak sempat menghindar. Mereka mengangkat tangan menangkis.

Duukk! Bukan main tenaga Joko Bledug. Kecuali pukulannya panas seperti api, juga tenaganya sangat besar lebih dari ukuran biasa. Sawung Galing terpental jatuh, berdebruk menghantam dinding kamar.

“Adi Bledug! Ingat! Ingat! Aku kakang Sawung!” “Ingat adi Bledug! Aku kakangmu Galing!”

Tetapi sepasang mata dan telinga Joko Bledug seperti tidaK dapat melihat dan mendengar ucapan kedua pemuda kembar itu. Sepasang jari-jari tangannya mencengkeram kedepan, ganas seperti cakar macan.

Semua serangan yang dilancarkan oleh Joko Bledug adalah jurus-jurus pilihan dari ilmu silat Blimbingwuluh. Sebagai Sawung dan Galing, kedua pemuda ini belum lama, baru sebulan, mencicipi ilmu pelajaran dari Kiai Teger. Walaupun betapa berbakatnya kedua pemuda kembar itu, tak mungkin mampu mengimbangi Joko Bledug yang sejak kecil digembleng oleh ayah angkatnya.

Kedua pemuda kembar itu mengelak kesamping, seorang kekiri dan seorang kekanan maksudnya agar seorang dapat selamat. Siapa duga secara tiba-tiba Joko Bledug mendoyongkan tubuhnya kedepan, kedua tangan masih mencakar Sawung, kaki kanannya meluncurkan tendangan datar menyambar leher Galing.

Sekali lagi kedua pemuda kembar itu mengaduh sarnbil tubuhrya bergulingan menjauh, Sawung mengucurkan darah dari luka dimukanya yang robek oleh cakaran Joko Bledug.

Serempak keduanya melarikan diri, berlari cepat meninggalkan kamar menuju kehalaman istana Guha Gempol itu, Joko Bledug masih terus memburunya sambil terus memperdengarkan suara menggeram seperti singa.

“Adik Bledug! Kenapa kau? Kenapa? Aku kakang Sawung?” “Bledug! Aku Galing!”

Kedua pemuda kembar itu berkaok-kaok terus berseru menyadarkan Joko Bledug. Mereka sama sekali tidak melakukan perlawanan dan hanya berlarian terus dikejar-kejar oleh Joko Bledug. Mereka bingurg, tak tahu apa yarg harus mereka perbuat. Sementara itu, sambil mengejar Joko Bledug selalu melancarkan serangan menendang, menerkam ataupun memukul. Sehingga berkali-kali kedua pemuda kembar itu terjatuh bangun dan  menderita luka-luka.

Menyedihkan sekali keadaan pemuda kembar itu. Mereka berlarian tak keruan arah sambil terus menghindari serangan Joko Bledug yang membuta.

Andaikata mereka mau melawan, walaupun Joko Bledug merupakan murid tertinggi ilmunya dalam perguruan Blimbingwuluh, agaknya sepasang pemuda kembar yang gagah berani tak mungkin begitu mudah dapat dilukai.

ltulah kesulitannya. Mereka tetap dikuasai oleh rasa sedih dan kasihan terhadap anak angkat gurunya yang sedarg terkena pengaruh jahat orang lain. Namun akibatnya, karena mereka menyayangi bocah itu, malahan membuat mereka sendiri dihajar habis-habisan.

Ketika Sawung agak terlambat, sebelah tangan Joko Bledug telah mencengkeram iganya, dan dengan tangannya yang lain bocah itu melancarkan pukulan kearah leher. Melihat detik yang menentukan itu, seketika berkobar kemarahan Galing. Dasarnya pemuda ini lebih berangasan daripada kakak kembarnya maka ia berseru sambil menerjang maju.

“Bledug! Jangan terlalu memaksa!”.

Kedua tangan beradu keras. Terdengar suara tulang yang patah. Galing menjerit kesakitan, tubuhnya terpelanting dengan keras. Tetapi untungnya Sawung dapat terbebas dari ancaman maut.

“Bagus!” Joko Bledug mendengus menyeramkan. “Kalian ingin mencoba kelihaian ilmu silat Blimbingwuluh?”

Sementara itu Sawung  telah menegur adik kembarnya sambil merengut kecewa : “Adi!

Mengapa kau melawan orang yang sedang tidak sadar?”

“Kau bisa mati kakang!” Galing berseru sambil menangis.

“Apalah bedanya mati ditangan saudara seperguruan sendiri, dengan mati ditangan siluman menjijikan itu? Hiduppun tak ada artinya adi? Toh penawar racun pacet wulung tidak kita peroleh.”

“Tidak kakang! Tidak!” Galing menjawab sambil terus berlarian. “Aku tak mau mati sia-sia kakang! Kita toh memangnya bekas begal! Buat apa menuruti kelemahan hati sendiri? Aku sudah berusaha menyadarkan adi Bledug, tetapi agaknya ia terlalu menyombongkan ilmunya.”

“Tidak adi. Jangan melawan...”

Kedua pemuda kembar itu lari lagi. Namun mereka hanya berputar-putar dihalaman istana itu beIaka. Mereka tidak melihat jalan menuju keluar dari ancaman maut itu. Kembali ke Blimbingwuluh, berarti mereka harus menyebrangi rawa pacet, alias menyerahkan nyawa kepada lintah-lintah yang kelaparan itu. Atau ketimur? Mereka melihat dinding gunung batu karang yang tegak, tingginya lebih ratusan meter. Cecakpun agaknya belum tentu dapat selamat untuk mendakinya. Keselatan? Mereka tahu, jalan keselatan adalah jalan menerobos terowongan guha Gempol itu. Kccuali tempat itu sangat asing bagi mereka, juga berarti menyerahkan jiwa kepada Dewi Cundrik, sebab tempat itu adalah termasuk istananya. Kebarat? Ah, mereka telah mendengar bahwa disebelah barat istana guha Gempol atau Telagasona itu di batasi oleh jurang-jurang dalam yang tak pernah terduga dalamnya. Bahkan cerita orang, kabarnya tempat itu dihuni oleh raksasa- raksasa yang sangat buas. Betapa mengerikan, menerima kematian dari keganasan seorang raksasa yang tentu akan meIahap dan mengunyah-ngunyah tubuh mereka!

Akhirnya keduanya jadi bertambah kalut dan penasaran. GaIing telah berkali-kali melakukan perlawanan.

“Kakang. Kakang. Aku dapat menerima sakit ataupun kematian. Akan tetapi aku tak dapat

menahan penghinaan, kakang!” seru Galing diantara kemarahannya yang membuat suaranya serak. “Adi Bledug tidak menghina kami, adi. Dia dalam keadaan tidak sadar!”. “Persetan! Aku tak mau dibunuh tanpa melawan!”

Akan tetapi Sawung tetap berkeras dengan sikapnya. la marah terhadap perbuatan adik

kembarnya dan sering mengomel terus walaupun ia sendiri terjungkir balik menahan pukulan.

Di dalam hidupnya, Galing paling sayang dan disayang oleh kakak kembarnya. Dan rasa hormatnya kepada kakak kembarnya itu ibarat tidak ada batasnya. Sehingga walaupun dalam hati ia tidak setuju akan tetapi akhirnya menurut juga.

Namun, sebagai kata pepatah, sebelum ajal berpantang mati. Kedua pemuda kembar itu berpandangan sejenak. Dan tanpa melahirkan kata-kata, mereka telah melakukan perbuatan yang sama, keduanya berlari kencang kearah barat.

Joko Bledug sungguh-sungguh seperti macan gila, memburu dengan buas dan garang sambil terus melakukan serangan-serangan ganas. Berjam-jam mereka uber-uberan menuju ke arah barat, diatas jalanan berbatu karang yang mendaki. Kedua pemuda kembar itu mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk berlari secepatnya, akan tetapi akhirnya Joko Bledug hampir dapat menyandak pula.

Mendadak mereka tiba pada sebuah pendakian yang terakhir, sebuah dataran batu ditempat ketinggian yang luasnya hanya kira-kira sepuluh depa. Begitu mereka tiba seketika dua pemuda kembar itu tertegun kaget, berdiri dengan muka pucat pasi.

Dihadapannya kini menganga sebuah jurang yang sangat lebar, yang pada mulut jurang itu tampak gelap berkabut tidak jelas sampai dimana batas-batasnya. Dari bawah sana didasar jurang terdengar suara menyeramkan, suara angin yang melengking-lengking, suara air terjun, dan segala macam suara yang sulit dikenal, yang serba mengerikan.

Apa yang diceritakan orang tentang jurang maut itu kini telah berada didepan mata. Menceburkan diri kedalam jurang sama halnya dengan membiarkan tubuhnya remuk hancur tak berbentuk, dan entah dimana bangkai mereka akan mengendap, bayangan kematian yang demikian membuat hati kedua pemuda kembar itu jadi ciut. Tetapi untuk surut kembali tak mungkin lagi, sebab justeru disaat itu Joko Bledug telah menyerang tiba.

“Adi Bledug! Kau keterlaluan?” pekik Galing seraya memutar tubuhnya, dan dengan mata merah berapi bersiap untuk menghadapi serangan. “Kakang Sawung kita tak mungkin rnenerima kematian secara begini! Tidak!”

“Jangan adi! Jangaaannnn!” Sawung berseru bingung.

Tetapi Sawung sendiri harus berbuat bagaimana. Sementara Joko Bledug dengan suara gerengan keras menerkam maju, kedua tangannya berubah seperti sepasang cakar, mencengkeram leher kearah dua pemuda kembar itu.

Galing sudah kehabisan akal. Sambil memekik nyaring, cepat pemuda itu menjatuhkan diri sambil menyapukan sebelah kakinya kearah kaki Joko Bledug. “Siapa saja boleh mati disini!” Pekiknya.

Walaupun tidak ingin melawan, akan tetapi Sawung juga menangkis, karena kesempatan untuk mundur tak ada lagi.

Di lain pihak, Joko Bledug yang sepenuhnya berada dalam pengaruh racun merah yang dicekokkan kepadanya, ia hanya tahu bahwa kedua pemuda lawannya itu hendak membunuh dirinya. Ia merasa bahwa apa yang dialaminya tadi adalah suatu kebahagiaan, suatu ucapan mesra penuh kasih sayang yang didengarnya dari Dewi Cundrik merupakan kebenaran menyeluruh dalam pikirannya. Seumur hidup, bocah ini belum pernah merasakan ujudnya kasih sayang seorang wanita, seorang ibu. Sejak kecil ia dirawat dan dibesarkan oleh Kiai Teger, oleh ayah angkatnya, yang walaupun dalam keadaan sehari-hari ayah angkat sangat menyayanginya, akan tetapi kasih sayarg seorang laki-laki tentu berbeda dengan kasih sayang seorang wanita!

Bahkan perasaan yang kini sesungguhnya berkecamuk dalam hatinya, ia merasakan adanya sesuatu yang sangat indah mengagumkan yang terdapat hanya pada wanita yang memelukinya tadi? Joko Bledug tak mau kehilangan kebahagian yang tadi. Ia begitu tenggelom dalam suatu bahagia palsu yang dengan secara keji telah dicurahkan oleh Dewi Cundrik kepadanya. Joko Bledug tidak  tahu apa itu artinya permainan asmara jahanam yang telah diperankan Dewi Cundrik terhadap dirinya. Pemuda hijau itu hanya tahu bahwa tak ada suatu kenikmatan rasa bahagia yang pernah

dirasakan kecuali dari wanita itu. Dan Joko Bledug tak mau kehilangan nikmat itu! Tidak! Maka segala bisikan mesra Dewi Cundrik benar-benar merupakan komando baginya!

Kedua pemuda pendatang itu, dikatakan oleh Dewi Cundrik akan membunuhnya. Tidak boleh jadi. Maka Joko Bledug sebaliknya yang harus membunuh kedua pemuda itu!

Ketika Sawung dan Galing melakukan perlawanan. Joko Bledug cepat merubah gerakannya sambil menggereng : “Pembunuh keji! Jangan ganggu kesenanganku! Kubunuh kau! Ketahuilah aku Joko Bledug anak Ki Ageng Tampar Angin!”

Selesai mengatakan ucapannya itu Joko Bledug melompat maju. dua kakinya melakukan gerakan-gerakan aneh sebentar kekiri, sebentar kekanan, tahu-tahu berubah terhuyung-huyung dan ketika tubuhnya hampir roboh ketanah tahu-tahu tubuhnya melompat keudara, kakinya membuat gerakan menggunting, sedangkan kedua tangannya bergantian memukul susul menyusul. ltulah dalam ilmu silat Blimbingwuluh atau aliran Suci Hati disebut jurus “garuda anggunting layung”.

Kiranya hanya Joko Bleduglah seorang murid Blimbingwuluh yang mampu melancarkan serangan sakti itu. Karena harus dilancarkan dengan kecepatan tinggi dan ilmu ringankan badan yang hampir mencapai tingkat sempurna.

Jangankan Sawung dan Galing, kedua pemuda yang baru sebulan menjadi murid Kiai Teger. Andaikata Tugeni sendiri belum tentu bisa menyelamatkan diri dari serangan yang amat berbahaya itu.

Galing dan Sawung bukanlah orang pengecut. Melihat datangnya serangan yang tak mungkin dihindarinya itu, mereka bermaksud mengadu jiwa. Biarlah mereka mati bersama, begitu pikir Galing. Dan pemuda itu lalu dengan nekad menubruk kedepan sambil melontarkan pukulan. Sementara itu Sawung yang hakekatnya memang tak suka berkelahi melawan Joko Bledug hanya mengangkat kedua tangannya untuk melindungi muka.

Akibatnya sungguh menyedihkan. Galing tak dapat melindungi lehernya dari guntingan Joko Bledug. Pemuda kembar ini tak sempat berteriak lagi, lehernya kontan terpelintir, tewas seketika. Akan tetapi pukulannya berhasil juga mengenai lambung Joko Bledug.

Di lain pihak, Sawung yang hanya berusaha melindungi muka dan kepalanya tak sempat mengelak ketika pukulan Joko Bledug berubah menurun. Tujuh kali secara susul menyusul dada pemuda itu tergempur pukulan Joko Bledug. Tubuh Sawung melayang terlempar kebelakang. Terdengar pekiknya yang penuh kekecewaan, disaat mana tubuhnya telah meluncur masuk kedalam jurang.

Joko Bledug sendiri begitu turun kembali ketanah lantas terhuyung dan roboh. Dadanya memuntahkan darah kental merah. Sesaat kemudian ia telah tergoIek pingsan.

Beberapa lama kemudian. Joko Bledug siuman. Ketika ia membuka matanya maka yang pertama kali terlihat olehnya adalah alam sekitarnya yang serba remang-remang. Fajar sedang menyerak ditimur udara pagi yang segar meniupkan hawa berembun yang menyegarkan.

Bila ia bangkit dari tanah maka dilihatnya seseorang, seorang pemuda yang tergeletak tewas disampingnya Joko Bledug terperanjat dengan segera diamat-amatinya siapa orangnya yang telah meninggal dunia itu.

Sedikit demi sedikit Joko Bledug dapat mengenal bahwa pemuda itu adalah murid ayah angkatnya, seorang diantara pemuda kembar bekas begal yang bernama Galing.

Mengapa Galing terbunuh? Siapa yang telah membunuhnya?

Joko Bledug mengerutkan kening, mengingat-ingat. Lalu sedikit demi sedikit terbangkit kembali dalam ingatan-ingatannya yang samar-samar antara nyata dan tidak, apa saja yang dialami sejak semalam. Tentang pertemuannya dengan wanita jelita yang seperti Dewi Cundrik. Tentang perbuatan yang dilakukan dengan wanita itu. Lalu tentang dicekokinya cairan bau harum oleh  wanita jelita itu. Lalu tentang dua pembunuh yang bermaksud membunuhnya!

Dewi Cundrik? Dua orang pembunuh? Mungkinkah mereka itu Sawung dan Galing kedua rnurid ayahku itu? Mengapa, mengapa mereka berada disini dan mengapa Galing terbinasa. Dimanakah Sawung?

Sedikit demi sedikit, satu demi satu, setiap peristiwa yang terjadi pada malam hari itu terbayang seperti rentetan bayangan yang mencekam.

Saat itulan, tiba-tiba Joko Bledug berteriak, memekik dengan hati penuh kemarahan dan penyesalan. Seluruh tubuhnya gemetaran, untuk kemudian ia menubruk, memeluki Galing sambil meratap.

Tewas dengan leher terpelintir seperti yarg dialami oleh Galing adalah kematian yang terjadi akibat serangan jurus “garuda anggunting layung”. Jurus ganas dan dahsyat itu hanya dapat dilakukan oleh orang Suci Hati, orang-orang dari perguruan Blimbingwuluh yang telah kehabisan akal.

Hlabis siapakah orang Blimbingwuluh yang kehabisan akal? Tidak ada orang ditempat itu kecuali Joko Bledug sendiri. Teringat akan hal yang demikian maka duka sesal dan ratapan Joko Bledug makin menjadi-jadi.

Peristiwa duka tentang ayahnya yang telah dicelakai oleh Dewi Cundrik diserahkan kekamar siksa tentang pencurian pusaka Pancaloka, dan penghancuran perguruan Blimbingwuluh telah cukup melukai batin bocah ini, karena ia selalu anak kesayangan Kiai Teger tidak dapat berbuat sesuatu, bahkan kini ia telah jatuh terjerumus dalam kehinaan melayani nafsu rendah Dewi Cundrik.

Bahkan terakhir kini ia telah membunuh Galing dan tentu juga Sawung, kedua murid ayah angkatnya.

Apa gunanya ia menjadi anak angkat Kiai Teger, guru sakti yang sangat mencintainya itu. Inikah semua pembalasan budi untuk gurunya? Untuk perguruan Blimbingwuluh? Apalah artinya ia mempelajari ilmu silat dan kepandaian, untuk membunuh saudara seperguruan sendiri?

Penyesalan, rasa duka dan malu terasa menampar-nampar muka dengan sangat keras. Joko Bledug gemetaran, menggigil dan akhirnya terjengkang jatuh. Kian diingat kian mendidih penyesalan dan malu itu mengamuk hebat didada. Betapa ia dapat berbuat tak senonoh, main asmara dengan wanita yang telah mencelakai ayah angkatnya? Itukah balas budi seorang anak yang berasal dari bayi kapiran dipinggir kali?

“Ayah! Ayah! Bunuhlah aku... Aku cuma anak anjing tiada guna!” Joko Bledug memekik sekuat-kuatnya, suaranya lantang berkumandang membentur dinding bukit dan jurang. Lalu tampak pemuda itu melompat-lompat jatuh tersungkur, bangkit, mencakari sekujur tubuh, mencakar muka dan merobek-robek baju sendiri seakan hendak merobek kulit daging sendiri.

Wajahnya sebentar pucat, sebentar merah menyala seperti bara. Dan matanya terkadang guram seperti orang putus asa, akan tetapi sesaat kemudian telah berubah jadi liar dan jelilatan dan merah beringas.

Segala yang tampak didepannya, dihantarn dan ditendangnya! Dihancurkannya batu-batu, dipukulinya dinding-dinding bukit, juga dadanya sendiri. Setelah itu kijang dikejar pemburu, Joko Bledug berlari memasuki mulut guha Gempol, istana Dewi Cundrik.

“Cundrik! Cundrik! Kubunuh kau! Keluaaarr!” Joko Bledug berteriak-teriak dimulut guha. Tidak terdengar jawaban.

“Cundrik! Siluman, iblis jahanam! Lawan aku, anak anjing tak tahu membalas budi!”.

Tapi suasana istana Telagasona sunyi semata. Dengan garang Joko Bledug menyerbu masuk. Semua patung-patung, hiasan dinding guha, dan obor-obor yang menyala dibokor-bokor kuningan semua dihancurkan. Hiruk pikuk suara benda-benda keras yang terbanting pecah benda-  benda yang beradu kelantai atau dinding, akan tetapi belum juga tampak Dewi Cundrik munculkan

diri.

“Akan kuhancurkan istana jahanam ini... Cundrik! Kuhancurkan sebagaimana kau hancurkan perguruan Blimbingwuluh! Cundrik! Cundrik!”

Dari ruangan yang satu, Joko Bledug berlari keruangan yang lain. Dan terus mengamuk, menghancurkan setiap benda apa saja yang secara kebetulan terlihat oleh matanya.

Mendadak, terlihat olehnya sebuah tempayan besar dari kuningan yang berdiri disamping sebuah pintu batu, Joko Bledug menubruknya, terus bermaksud mengangkat tempayan itu. Tetapi kiranya benda itu bukan terletak begitu saja diatas lantai. Betapapun pemuda itu mengerahkan seluruh tenaganya tempayan itu sama sekali tidak bergeming dari tempatnya.

“Keparat Cundrik! Keluar! Dimana kau?”

Sambil berteriak demikian Joko Bledug menubruk sekuatnya, dan dengan sekuat tenaga mendorong tempayan itu dengan maksud untuk menggulingkan benda itu.

Tetapi tempayan itu bukannya bergulingan, bahkan dengan tiba-tiba telah berputar setengah lingkatan sambil memperdengarkan bunyi gemerit yang sangat nyaring. Dan baru saja Joko Bledug terkejut, kiranya lantai tempat ia berpijak telah membuka dan tak ampun lagi tubuhnya meluncur kebawah tak terkendalikan lagi?

Joko Bledug merasa tubuhnya melayang bagai daun kering tertiup angin, deras meluncur terus kebawah.

Cengkeraman maut akan segera menerkam dirinya, akan tetapi dalam hati Joko Bledug malah tertawa. “Syukurlah kalau aku dapat terkubur ditempat yang tersembunyi ini. Mati diatas bumipun tangan siapa yang patut merawatku?”.

“Aduh, mati akuu!” Kata Dewi Cundrik seraya mengeprak kudanya sehingga binatang tunggangan yang agaknya mengerti akan maksud majikannya segera mempercepat larinya, melompat-lompat dan nyongklang sambil memperdengarkan suara meringkik. “Ki Genikantar! Aku tidak ingat sama sekali bahwa malam ini adalah malam pertemuan kita. Apakah sahabat-sahabat yang lain juga sudah berkumpul?”.

Yang dipanggil sebagai Ki Genikantar adalah seorang laki-laki tua berusia sekitar enam puluh lima tahunan, yaitu orang yang berkuda disamping Dewi Cundrik ini.

Lelaki tua itu berperawakan tinggi kurus, kulitnya hitam, terutama sekali mukanya yang kelimis itu teramat hitam hingga tampak seakan-akan berwarna biru. Dahinya lebar, hidung dan mulutnya besar dengan kumis yang tak teratur tumbuhnya, seperti kotoran yang mengotori sekitar mulutnya belaka.

Kecuali sikapnya yang dingin, lelaki tua itu memiliki bentuk yang sangat menyeramkan adalah pada mata dan alisnya. Matanya celong dengan biji mata yang tajam berkilat seperti mata pisau. Sedangkan alisnya terlampau lebat dan panjang, hingga sebagian menutupi matanya yang cekung itu.

Ki Genikantar, biasa juga disebut orang sebagai Kiai Bantar Kawung, sebab memang laki-laki tua itu berpadepokan didaerah Bantar Kawung dan merupakan cikal bakal serta pendiri perguruan ditempat itu.

“Untuk kau, Dewi Cundrik, semua orang mau memaafkan, termasuk juga aku mengerti sebab kelalaianmu!” Jawab Genikantar diantara suara tawanya yang dingin meremangkan bulu kuduk.

“Mengerti bagaimana?” “Tentu kau terlalu asyik dengan daun-daun mudamu, dan lupa akan kewajiban, bukankah

begitu?” 

Dewi Cundrik tertawa. Tetapi belum habis tawanya, wanita itu tiba-tiba menghentikannya,

dengan terkejut. ”Kau mengintip!”

Kiai Bantar Kawung atau Ki Genikantar tertawa dingin. “Mengapa?”

“Ah, tidak. Mereka takkan bisa lolos dari lingkungan istanaku, kecuali memilih kematian dimakan raksasa?” Dan Dewi Cundrik tertawa lagi.

Tadi sejenak ingatannya terganggu pada mereka yang ditinggalkan dilingkungan istana Telagasona, yaitu Joko Bledug dan kedua pemuda kembar itu. Akan tetapi wanita itu segera mendapatkan jawaban untuk keragu-raguannya sendiri. Bukankah mereka takkan dapat melarikan diri?

“Kebiasaanmu menguasai pemuda-pemuda hijau itu agaknya Cundrik, yang menyebabkan kau awet muda” kata Ki Genikantar dengan mata disipitkan sehingga biji matanya benar-benar tersembunyi.

“Manakah lebih baik dari keinginanmu yang terlampau besar untuk menjadi yang dipertuan diseluruh bumi Pemalang?” Dewi Cundrik mengejek.

“Mana aku berani bercita-cita begitu gila-gilaan, sedangkan ditanah ini ada kau, Cundrik?”.

Dewi Cundrik diam. Terhadap tokoh tua itu, walaupun dalam sikapnya Dewi Cundrik selalu memandang rendah akan tetapi dalam hati sesungguhnya wanita itu mengakui keunggulan Ki Genikantar, terutama dalam hal menabri pengaruh dan mengatur tata gelaring perang.

Dewi Cundrik mengenal siapa adanya Ki Genikantar teman seperjalanannya itu. Ki Genikantar dan perguruan Bantarkawung adalah sebuah perguruan yang sejak puluhan tahun yang lalu merupakan perguruan yang menghasilkan tidak sedikit orang-orang berkepandaian tinggi. Di masa mudanya, Ki Genikantar adalah seorang bintara tentara Mataram, tidak mengherankan apabila perguruan Bantarkawung sekali waktu dapat membuat para murid perguruannya menjadi perajurit- perajurit gemblengan yang paham dengan ilmu perang.

Hanya sayangnya sejak Ki Genikantar meninggalkan jabatan keperajuritannya, ia telah merubah jalan hidupnya dengan cita-cita untuk menjadi orang besar, hartawan dan orang yang ditakuti oleh setiap orang dari rimba persilatan.

Berkali-kali perguruan yang letaknya dipunggung gunung yang membatasi antara belahan utara dan selatan pulau Jawa itu, melakukan penyerbuan-penyerbuan terhadap cabang perguruan lain dengan maksud mencari nama dan mencari upeti.

Puteri malam dengan lambat mulai terpelanting di sebelah barat pusat langit. Awan tipis yang tertebar bagai kapas berarak-arak tiada hentinya dihembus angin, seakan-akan menjadi pengawal sang ratu malam. Hutan yang menghitam sepanjang tepi jalan tinggal merupakan bentuk-bentuk kaku dan sepi, kecuali bisik-bisik dedaunan yang tersentuh angin semilir.

Sepi, tiada lagi kedua penunggang kuda itu terdengar bercakap-cakap. Hanya tinggal suara derap kaki kuda mereka yang kian lama kian berubah menjadi derap yang kelihatan.

Tanah lapang Banjardawa, yang merupakan tanah datar dan gundul, terletak diantara hutan Pener hutan Banjarsari. Gindang dan Lodaya, disaat ujung malam itu merupakan tempat pertemuan antara beberapa tokoh persilatan dari beberapa pintu perguruan.

Hampir tepat ditengah-tengah tanah datar itu terdapat dua buah batu bundar yang saat itu masih kosong. Sedang dihadapannya, berderet batu-batu bundar pula tetapi agak kecil, dalam bentuk setengah lingkaran telah tampak diduduki orang.

Tak lama antaranya muncul Dewi Cundrik dan Genikantar, yang langsung mengambil tempat duduk pada dua buah batu bundar yang sejajar itu. Begitu berdua ini muncul maka orang-orang yang duduk setengah lingkaran itu bangkit membungkuk hormat sambil mengucapkan salam, yang disambut oleh Genikantar dan Dewi  Cundrik dengan senyum gembira.

Sejenak suasana jadi hening kembali. Tetapi keheningan itu akhirnya dipecahkan oleh Dewi Cundrik yang memulai berbicara.

“Selamat berjumpa untuk saudara kita yang baru, Sogapati! Saudara-saudara sekalian, dalam kesempatan ini akan kami perkenalkan seorang sahabat kita yang baru kepada saudara-saudara sekalian, yaitu adik Sogapati, ahli golok kenamaan dari Loning!”. Sambil berkata Dewi Cundrik mengembangkan telapak tangannya ke arah seorang laki-laki berusia tiga puluh lima tahunan yang duduk pada tepi paling kiri. “Rupanya diantara sekian banyak anak murid Ki Cucut Kawung yang serba masa bodoh dan cuma memikir urusan dewek, masih ada juga seseorang diantaranya yang masih menghargai adanya perserikatan dan paguyuban. Nah saudara-saudara sekalian, tentang masuknya rekan kita yang baru tak perlu disangsikan. Dalam kesempatan beberapa jenak nanti, saudara-saudara dapat minta lihat beberapa jurus ilmu golok Loning yang termashur itu...”.