-->

Ajal Sang Penyebar Maut Bab 10 : Pencuri Wadi Buaya Putih

Bab 10 : Pencuri Wadi Buaya Putih

Itulah yang telah terjadi atas Jaka Pratama, sebagaimana diperkirakan dengan tepat oleh Mbah Buyut, Nyi Ageng Panataran. Namun tidak setepat yang berlangsung sesudahnya. Jaka Pratama telah berhasil membobol genting, dan kini telah melompat keluar. Di tengah gelap ia tidak lagi melaksanakan niatnya, melawan kaum penyerbu untuk melindungi jiwa Mbah Bungkuk. Bahkan ia melesat bagaikan pengecut yang ketakutan menjauhkan diri dari pertempuran yang seharusnya sebentar kemudian akan berkecamuk. Tanpa memikirkan nasib apa yang bakal menimpa Mbah Bungkuk, Jaka Pratama dengan langkah tergesa-gesa disertai kehati-hatian melebihi biasanya segera mendatangi tempat Karbala disembunyikan. Lantas dengan dada lega ia memerintahkan kudanya membawa pergi dirinya selekas mungkin. Ke mana? Benarkah Jaka Pratama telah men-jadi penakut? Sungguh sayang jika demikian.

Seorang pahlawan yang dipuja-puja sebagai ksatria teladan, yang disangka tidak pernah mengenal kata undur-jurit, mundur dari pertarungan, telah mengambil keputusan sejelek itu, membiarkan seorang kakek tua renta berhadap-hadapan melawan tiga belasan pendekar tangguh yang haus darah? Sungguh dunia sudah terbalik. Begitu yang dipikirkan oleh Wulan Suminar, tatkala tiba di tempat itu bersama gurunya, dan menjumpai Mbah Bungkuk tanpa seorang pelindung pun.

"Jadi ia sudah pergi dari sini?" tanya Dewi Sekar Dadu kepada Mbah Bungkuk yang tengah megibar-ngibarkan bendera putih. Mbah Bungkuk mengangguk. Bertepatan dengan dampratan yang tiba-tiba bergema dari kalangan para penyerbu.

"Hai, perempuan. Kalian berdua jangan ikut campur dalam urusan ini. Kami hanya akan meringkus orang-orang Glagah Wangi," teriak salah seorang di antara mereka. Pasti pemimpin-nya. "Di sini tidak ada orang-orang Glagah Wangi," sahut Mbah Bungkuk.

"Bohong!" "Boleh kalian hitung dengan sebelah tangan. Kami hanya bertiga, dua perempuan dan seorang kakek tua kelahiran Cuplak asli," jawab Mbah Bungkuk lagi.

"Dusta! Kami tadi melihat si Santri Kinasih masuk ke dalam." "Boleh kauperiksa. Ia memang tadi kemari. Tapi sekarang sudah keluar lewat genting."

"Dia sudah jadi pengecut," sambung Wulan Suminar yang makin mendongkol terhadap kelakuan Jaka Pratama. Betapapun sebelumnya is menghargai jago muda itu, malah pernah jatuh hati, tetapi melihat perubahan sifatnya yang bagaikan langit dengan bumi, tidak punya rasa tanggung jawab, ia marah bukan main.

Sayang Dewi Sekar Dadu dan Mbah Bungkuk tidak mau membuka rahasia mengapa Jaka Pratama pergi demi memelihara rencana rahasia mereka, sehingga perasaan menghina masih tetap bercokol di hati Wulan Suminar, sampai kelak menimbulkan salah paham dengan Jaka Pratama, dan hampir melahirkan tragedi mengenaskan.

"Bila tidak percaya, boleh salah satu di antara kalian memeriksa gubuk saya sekarang," tantang Mbah Bungkuk.

"Jangan harap kami terpikat oleh jebakanmu, orang tua jahat," jawab pemimpin para penyerbu.

"Kami hanya ingin menyelamatkan nyawa kalian," jawab kakek.

"Apa kami takut menghadapi pertarungan?"

"Tentu tidak. Sebab kalian menyangka Wong Pamungkas dan Liem Hoat Nyan bakal kemari, bukan? Tidak mungkin." Tidak ada suara bantahan. Boleh jadi mereka dihinggapi kebimbangan lantaran siasat mereka telah tertebak dengan jitu.

"Wong Pamungkas sudah lari lintang pukang sebab diancam oleh tokoh sakti yang ditakutinya, Ki Ageng Panataran," ucap Dewi Sekar Dadu meneruskan penegasan Mbah Bungkuk. Mereka kedengaran saling berbisik. Dan Wulan Suminar juga berbisik kepada gurunya.

"Jadi, tokoh sakti yang barusan membuat ngeri Wong Pamungkas adalah Ki Ageng Panataran?" gadis itu bertanya heran.

Dewi Sekar Dadu mengangguk. Lalu is ber-teriak nyaring kepada kaum pengepung agen-agen Wong Pamungkas itu: "Apa kalian mau membuang jiwa yang berharga untuk seorang pemimpin atau majikan yang tidak ada harganya?"

"Apalagi kami sejumlah sembilan orang telah siap menghancurleburkan kalian dari belakang," tiba-tiba sebuah suara tua terdengar memekik dari kegelapan, yakni sesudah belum lama berselang beberapa ekor kuda yang tadinya dipacu kencang terdengar berhenti mendadak, dan para penunggangnya berloncatan dengan sigap.

Mbah Bungkuk pun keheranan dan berkata: "Kiai Dolah Pekih, selamat datang di tempat saya yang buruk ini."

"Terima kasih, Mbah. Saya membawa para pendekar muda yang haus darah," jawab Kiai Dolah Pekih bernada ancaman, membikin kaum penyerbu mulai berpikir-pikir. Ketahuan dari suasana yang diam mencekam. Dan dengus-dengus napas yang tidak teratur menandakan keadaan mereka tengah dihinggapi rasa takut makin membesar.

"Boleh kami tambahkan keterangan kami?" ucap Kiai Dolah Pekih.

Tidak ada sepatah suara pun yang membalas. Tidak berarti bahwa mereka tidak peduli. Bahkan sebaliknya, mereka mulai memikirkan cara untuk menyingkir dari tempat itu secara diam- diam. Dasar mereka cukup beralasan. Sembilan orang pendekar tangguh berada di belakang mereka, ditambah dua pejuang tanpa tandingan, Dewi Sekar Dadu dan Wulan Suminar, Srikandi Cantik dari Desa Sirandu, cucu Mbah Kiai Kanapi. Jelas, tiga belas orang pesilat macam mereka tak kan mampu menimpali. Sebab keberanian mereka adalah karena Wong Pamungkas berjanji akan datang bersama anak buahnya.

Ketika tidak ada seorang pun yang membuka mulut, Kiai Dolah Pekih melanjutkan perkataannya: "Komplotan yang dipimpin oleh Liem Hoat Nyan telah diringkus oleh para punggawa Demak. Mereka tidak berkutik sama sekali. Walaupun si Liong Hitam dapat meloloskan diri, tetapi ia sedang dikejar dan dikepung. Laksamana Pangeran Sabrang Lor pasti akan berhasil membawa armadanya menjadi singa- singa laut yang ditakuti. Karena itu silakan kalian meninggalkan tempat ini dengan aman, dan jangan berani kembali lagi. Atau terpaksa kami laksanakan hukum perang atas kalian. Terserah mana yang akan kalian pilih."

Walaupun tidak ada sahutan bahwa mereka memilih pergi dengan aman, namun dari bunyi gemerisik yang sibuk dan beberapa lama kemudian suara kaki-kaki kuda menghentak- hentak dengan kacau dari kejauhan, Kiai Dolah Pekih tahu bahwa anak-anak buah Wong Pamungkas tersebut bukan jago-jago berjiwa besi.

Setelah keadaan di tempat itu tidak seperti pernah terjadi apa- apa sebelumnya, dan malam di seputar kawasan makam Sunan Sebolampar menjadi begitu samun dan dingin, Wulan Suminar segera mengusi:

"Apa tidak sebaiknya kita ikut melacak kemana Wong Pamungkas pergi? Bukankah selama bajingan itu masih berkeliaran, keamanan Demak bakal terus terancam?" "Tidak akan banyak gunanya. Sudah terlambat," sahut Mbah Bungkuk mencegah.

"Iiih, Mbah Bungkuk kok begitu, kasih contoh tidak baik buat kami, angkatan muda," potong Putih Wewangi ceplas-ceplos tanpa dapat dihalangi oleh sahabatnya, Akas Lelaras.

"Rayi! Jangan omong semaumu!" hardik pemuda itu, membuat Putih terheran-heran. Baru sekali ini Akas Lelaras berani berkata agak keras kepadanya. Biasanya ia hanya menuntut dan membiarkan apa yang ia perbuat atau kata-kan. Putih Wewangi tambah sewot.

Dengan geregetan ia mendamprat lebih keras: "Kakang belum lama jadi laki-laki. Aku kan sudah lama jadi perempuan. Terhadap keputusan golongan tua, tidak berarti kita harus mengikut saja. Mati pikiran kita nanti. Kalau Mbah Bung-kuk mengatakan tidak ada gunanya lagi kita melacak Wong Pamungkas, padahal aku lebih condong untuk menyetujui Kanjeng Bibi Wulan Suminar, tidakkah seharusnya Mbah Bungkuk menerangkan alasannya?" bantah si gadis menggunakan kalimat-kalimat panjang, dan dengan cara bicara yang mencerocos bagaikan sekum-pulan anak-anak itik berebutan menuju ke sungai.

Mbah Bungkuk tertawa berderai. Kiai Dolah Pekih senyum- senyum. Dewi Sekar Dadu menatap ke tempat lain. Sedangkan Wulan Suminar diam membisu.

Cep-klakep. Itulah satu-satunya ungkapan yang tepat untuk menggambarkan keadaan Akas Lelaras sebagai reaksi spontan terhadap teguran Putih Wewangi yang tajam dan mengenai dasar sikapnya selama ini. Kalau dia tidak takut dianggap telah berubah jadi bukan laki-laki lagi, sudah sejak mula-mula air matanya akan turun. Dan kalau tidak takut dianggap cengeng, dia pasti sudah mencak-mencak serta melawan si centil itu. Sebetulnya tidak seburuk itu pembawaan Akas Lelaras. Ia adalah seorang pemuda yang pemberani, tabah dan setia. Ia hanya tidak ingin menyakiti hati seorang gadis, terutama yang bernama Putih Wewangi. Ia ingin bersikap lembut-lembutnya kepada gadis itu. Kalaupun ia senantiasa menjadi Pak Turut terhadap Putih, bukan karena ia belum jadi laki-laki. Justru lantaran jauh di lubuk hatinya ia ingin menjadi satu-satunya lelaki dalam hidup Putih. Maka kelembutannya telah berlebih- lebihan sampai hampir dianggap banci oleh sang gadis. Ia sudah memuja Putih Wewangi semenjak bapaknya almarhum menjalin hubungan persahabatan dengan ayah si gadis, ketika usia Putih barn sebelas tahun dan ia sendiri tengah meng- injak dua belas tahun. Apapun yang dikatakan orang tentang perasaannya tersebut, ia sebetulnya tidak rela apabila Putih jatuh ke dalam perlindungan atau kekuasaan laki-laki lain. Ia mendambakan dengan sepenuh jiwa-raganya, tidak hanya sebagai pelindung, bahkan jika perlu berkorban untuk sang pujaan, Rayi manis Putih Wewangi. Untunglah suasana berubah sedikit tatkala Kiai Dolah Pekih berkata:

"Nduk, ucapanmu yang kedengaran congkak itu memang betul. Tapi bukan waktunya untuk saling berbantahan. percayailah buat sementara dulu, bahwa saran Mbah Bungkuk pasti punya alasan yang kuat."

Kentara sekali betapa tampaknya Kiai Dolah Pekih berada dalam persimpangan sikap, ingin memarahi kelancangannya, tetapi tidak ingin gadis itu tersinggung.

Orang yang arif macam Dewi Sekar Dadu dan Mbah Bungkuk sudah dapat menebak, bahwa di belakang sikap tersebut tersembunyi tujuan tertentu. Dan tujuan tertentu itu rasanya tidak salah kalau dihubungkan dengan umur anak sulung Kiai Dolah Pekih yang sudah matang untuk beristri tetapi selalu menolak apabila ditawari calon istri oleh ayah-nya, dengan berbagai dalih dan alasan.

"Hahaha. . . ," Mbah Bungkuk lebih mencerahkan suasana itu dengan tertawanya yang terpingkal-pingkal.

"Genduk Putih yang memang putih kulitnya dan insya Allah putih hatinya. Manusia memang bukan pokok kayu jati yang hatinya galih dan coklat. Engkau seharusnya mengerti bahwa Putih Wewangi memang perempuan, dan Akas Lelaras tetap lelaki, dari dulu sampai hari-hari yang panjang di kelak kemudian. Ayo, sebaiknya kita berziarah dulu ke makam almarhum Sunan Sebolampar untuk berdoa agar arwahnya diterima Allah dalam kedudukan yang sesuai dengan amal salehnya. Dan kita meminta kepada Allah supaya yang hidup dapat meneruskan perjuangannya tanpa putus asa, bagaimanapun beratnya rintangan yang mungkin bakal kita hadapi. Setuju? Sesudah itu kita beristirahat di rumahku, yang meskipun gubuk tapi cukup buat menampung duapuluh orang gemuk dan tambun."

Meresapi makna hidup yang serba tidak pasti, belum tentu semua manusia memahami hakikat-nya Pandu tercenung di depan makam Sunan Sebolampar. Ia adalah seorang wali yang tidak kebagian nama karena ia selalu merahasiakan amal kebaikannya. Keharumannya baru tercium orang ketika ia tewas membela seorang pelacur yang ingin bertobat, tapi dihalang-halangi gendaknya, kepala perampok yang kaya dan mempunyai puluhan anak buah.

Bajingan jahat yang keji itu bernama Lokawana, dan pernah menjadi kawan Lokajaya, salah satu julukan Sunan Kalijaga sebelum diinsafkan oleh Sunan Bonang. Wulan Suminar menekur. Air matanya menetes, mengenang almarhum Kanjeng Sunan Sebolampar, seorang ulama besar, yang dengan tulus ikhlas tanpa rasa takut namanya bakal jadi aib, telah rela mengorbankan hidupnya yang berharga demi membela seorang pelacur yang digebah sebagai sampah masyarakat, betapapun pelacur itu kadang-kadang menangis perih dalam tertawa pulasannya. Perempuan manakah ber- sedia menjual dirinya dengan suka cita apabila tidak lantaran terpaksa? Kecuali seandainya perempuan itu memang hanya manusia pada jasadnya dan serigala dalam jiwanya?

Atma Sanjaya, ksatria dari padepokan Glagah Wangi, dengan umurnya yang masih sangat muda, merasa belum mencapai apa-apa bila dibandingkan dengan perjuangan Sunan Sebolampar, yang secara diam-diam tanpa diketahui orang lain, ternyata telah banyak memberikan sumbangan yang kelewat mahal bagi tegaknya agama Allah di bumi tercinta ini.

Dan Kiai Dolah Pekih menggeletar suaranya tatkala dengan khusyuk ia mengungkapkan doa kepada Yang Mahakuasa:

"Ya, Allah Yang Mahatunggal. Bukankah Engkau pernah berfirman dalam sebuah hadits Qudsi, bahwa siapa yang mencari Engkau, Engkau akan cari dia, siapa yang mencintai Engkau, Engkau akan cintai dia, dan siapa yang meminta ampun kepada-Mu, Engkau akan ampuni dia? Almarhum telah mencari-Mu sepanjang hidupnya. Almarhum selalu mencintai- Mu dengan sepenuh jiwanya. Almarhum senantiasa menyesali dosanya dan memohon ampun kepada-Mu. Karena itu carilah dia, cintailah dia, dan ampunilah dosa-dosanya. Berikanlah kepada kami petunjuk-Mu melalui contoh tindak lakunya, agar kami tidak goyah dalam mengemban amanat-Mu, menuju ketinggian asma dan agama-Mu. Amin."

Semua yang berdiri mematung di makam itu, di tengah angin malam yang menyanyikan suara Tuhan, di bawah hamparan langit yang menjanji-kan kurnia Tuhan, dalam kesadaran yang meningkat akan kuasa Tuhan, semuanya, tanpa kecuali, menangis tersedu-sedu sebagai luapan rasa syukur dan keimanan yang jernih, pada waktu bibir mereka yang mengigil mengucapkan amin. Mbah Bungkuk yakin bahwa manusia hanya akan memperoleh jalan keluar atas segala kemelut yang dialaminya apabila mau berkaca kepada riwayat perjalanan pars penghuni kubur. Sebab sebenarnya kehidupan yang sekarang adalah sekadar mengulangi rekaman peristiwa-peristiwa yang telah terjadi, cuma berbeda warna dan cuacanya. Dan apabila manusia bersedia membuka hatinya untuk menerima kenyataan bahwa yang pasti di dunia ini hanya kematian, maka tak kan pernah manusia mengalami siksaan batin akibat keserakahan dan ketakutan.

Betapapun demikian, ada kalanya sekeras-keras hati manusia, jika tidak dibutakan oleh kebencian dan dendam, bakal tiba saatnya kesadarn, bahwa kehadiran orang lain terbukti sangat dibutuhkan. Bagaimanapun kejamnya seorang pembunuh, bukankah ia juga memerlu-kan setidak-tidaknya seseorang tempat ia dapat membanggakan keganasannya?

Bagaimanapun tingginya kedudukan raja, tidakkah ia mem- butuhkan rakyat, paling tidak untuk memuja dan menyembahnya? Sayang Wong Pamungkas tidak sejauh itu sempat berpikir.

Ia menganggap orang lain adalah korban yang sah boat memuaskan sesuatu yang telah direnggutkan dengan paksa semasa kanak-kanaknya. Kasih sayang dan pengertian. Ia tumbuh melewati usia kecilnya dalam tekanan kebencian dan cemooh. Ia tidak mengenal takut, yaitu hanya apabila ia yakin bahwa tidak ada sesuatu yang perlu ditakutinya.

Tapi sebenarnya, kekejiannya dalam membunuh dan membantai manusia bersumber dan ketakutannya, tidak dari keberaniannya. Terhunjam di dasar jiwanya ketakutan terhadap bayangan dirinya sendiri yang kerdil, yang hina, yang sampah.

Maka untuk melawan kejaran bayangan buruk itu ia harus menyingkirkan semua yang dianggapnya harus dimusnahkan, demi kelanggengan dan kelestariannya selaku makhluk yang ingin tetap hidup, ingin tetap dihormati, ingin tetap di-takuti. Tetapi ketika ia tahu bahwa seseorang boleh jadi mampu mengalahkannya dalam segala hal, maka ia akan berubah menjadi seekor tikus yang paling pengecut, yang akan tergebah lari hanya oleh bunyi sebatang lidi patah. Karena itu, tatkala suara orang yang dibenci sekaligus ditakutinya itu mengancam akan membuka pantangan membunuh, Wong Pamungkas menyusutkan porsi kebenciannya, dan yang meluap adalah ketakutannya. Ia lari terbirit-birit sambil berpikir untuk dapat menghilangkan satu-satunya momok ini. Sebab ia tahu, rahasia kelemahannya berada di tangan Ki Ageng Pana- taran dan istrinya. Tiba-tiba ia tertawa gembira di tengah keresahannya, tatkala ia teringat bahwa wadi kulit buaya putih yang merupakan pelindung nyawanya kini dipegang oleh Nyi Ageng Panataran, atau Mbah Buyut. la percaya, kalau ia dapat merebut wadi itu, dan ia yakin pasti dapat merebutnya, tiga orang Ki Ageng Panataran pun tak kan ditakutinya lagi.

Kuatir kalau-kalau rencana liciknya tertebak oleh Ki Ageng Panataran atau musuh-musuhnya yang lain, maka begitu keluar dari batas Desa Cuplak, ia memacu ilmu ringan tubuhnya untuk lari menuju ke jurusan selatan, sementara bagian barat menuju ke Janur Kemukus dan arah timur menuju ke Jepara.

Sebetulnya ia telah menghitung-hitung, bahwa saat ini pasti kekuatan penjagaan para punggawa Kerajaan Demak yang bertugas di Jepara sedang dikerahkan untuk mengamankan pelabuhan. Berarti pusat kota Jepara sedang sepi. Sedangkan rumah Nyi Ageng terletak di lingkungan pusat kota.

Ia adalah seorang nenek yang sudah rapuh, kurang dengar barangkali, dan sendirian. Wadi buaya putihnya berada di tangan Nyi Ageng. Bukankah ini kesempatan yang paling bailk untuk merebutnya, dan tentu saja dengan membunuh Nyi ageng sekalian, perempuan pikun yang amat membencinya dan sangat dibencinya itu?

Wong Pamungkas begitu percaya akan keberhasilannya. Sebab salah satu jago muda yang mungkin dapat mengimbangi kepandaiannya lebih dari dua puluh jurus hanyalah Jaka Pratama. Dan Jaka Pratama nampaknya tidak herani mempertaruhkan nama harumnya untuk bertempur melawan dia, sebab jika kalah akan hancurlah ketenarannya yang telah dibangun semenjak bertahun-tahun. Apalagi Jaka Pratama telah jadi menantu seorang raja, telah jadi bangsawan yang berkedudukan sederajat dengan para pangeran. Tentu saja dengan dikelilingi istri-istri cantik, dengan anak yang lucu dan sehat, Jaka Pratama pasti lebih memilih hidup tenang dan berkecukupan daripada berlumuran darah untuk terperosok ke dalam kehinaan sepanjang sejarah.

"Hahaha. . . ," Wong Pamungkas tertawa gelak-gelak memikirkan kepandaian, kesaktian, dan kecerdasannya. Ia sangat kagum akan dirinya. Dari seorang anak jadah yang digebah dan compang-camping, kini telah mencapai ke- hormatan sebagai salah satu senapati terpercaya Kerajaan Majapahit. Dan sebentar lagi, apabila saatnya sudah matang, ia akan melangkah jadi mahamenteri, tangan kanan Prabu Brawijaya VII.

Untuk selanjutnya, dalam sekali tebas ia akan menduduki takhta raja gung binathra, penguasa tunggal Kerajaan Majapahit. Bukankah tidak ada raja yang dilahirkan sebagai raja? Ken Arok buktinya. Raden Wijaya buktinya. Dan masih segudang dalam catatannya, betapa banyak raja besar yang dahulunya adalah orang kecil yang tidak dipandang sebelah mata. Karena itu ia tidak keberatan untuk memutar dulu ke arah selatan, sebelum beberapa waktu kemudian, sesudah ia yakin tidak ada seorang pun yang memperhatikan tindak- tanduknya, Wong Pamungkas lalu berbalik langkah melalui jalan pintas menuju ke bandar Jepara.

Ia tidak mengeluh meskipun malam itu tenaganya telah terkuras melebihi takaran. Toh yang akan disergapnya cuma seorang nenek pikun, agak budek barangkali, setengah rabun barangkali, yang kini berada sendirian di rumah-nya. Ia tahu Ki Ageng Panataran sudah lama berpisah dari istrinya walaupun mereka belum atau tidak berniat untuk bercerai.

Hampir melampaui sepertiga terakhir malam yang lengang itu, Nyi Ageng sudah bersiap hendak mengambil air sembahyang. Ia ingin melakukan salat tahajud. Ia ingin bermuhajat yang panjang hingga Shubuh, untuk menangisi dosanya selama ini. Ia amat menyesal telah melawan keputusan suaminya menjadi pertapa. Ia telah dibutakan oleh dendam kepada Wong Pamungkas. Ia ingin mencari padepokan suaminya, dengan meminta tolong kepada cucunya, Putih Wewangi. Umurnya sudah sangat lanjut. Kalaupun takdir menjemputnya kapan saja, ia ingin telah memperoleh maaf dari Ki Ageng. Maka dengan badan reotnya yang digerogoti oleh incok dan rematik hampir sepuluh tahun, ia pun bangkit dari pembaringannya.

Bunyi derit balai-balai bambu di kamarnya menghilangkan bunyi dent pintu belakang yang dibuka pelan-pelan. Nyi Ageng tanpa curiga melangkah terseok-seok melewati kamar tengah. Ia membuka pintu yang menuju ke dapur. Dulu, ketika pendengarannya belum terganggu oleh usia tuanya, suara cicak melompat pun ia mampu melacaknya. Tapi kini ia hanya mempercayakan diri pada kebiasaan dan firasatnya. Padahal firasat tidak bisa datang setiap saat yang tertentu. Apalagi matanya sudah setengah rabun. Sedangkan dulu pun ia lebih bergantung kepada daya dengarnya yang cukup peka. Tidak heran kalau ia tidak terusik oleh dengus napas yang terengah-engah dari seseorang yang ben sembunyi di balik pintu. Tiba-tiba Nyi Ageng terhenti. Ia menjerit:

"Siapa?"

Pertanyaannya tidak berjawab. Ruang dapur gelap pekat bagi matanya, walaupun di situ ada lampu sentir yang sinarnya mulai melemah karena sudah disundut sejak sore.

"Ada orang?" kembali ia bertanya, karena firasatnya menangkap sesosok bau manusia di ruangan itu. Tatkala ia sedang ragu-ragu dan menyiapkan sisa-sisa kepandaiannya guna berjaga-jaga, seekor kucing melompat sambil memekik:

"Ngeong!"

"Huh," gumam Nyi Ageng.

"Rupanya engkau, jantan si Manis. Manis, Manis, pasanganmu banyak betul. Malam ini kucing dari mana lagi, baunya kok berbeda dari yang kemarin?"

Sambil tertawa mengikik, Nyi Ageng melanjutkan langkahnya. Ia menggeleng-geleng. Si Manis, sih, tidak ada larangan berganti-ganti Pasangan, sebab si Manis hanya seekor kucing, tidak berakal dan tidak mengenal aturan moral.

Tidak demikian manusia. Walaupun dalam masalah berahi mungkin sama saja, tetapi dalam pelepasan berahi harus dipatuhi cara-cara dan norma-normanya. Nyi Ageng agak menekur merenungkan hal itu, lantaran akhir-akhir ini makin sering terjadi perkosaan dan perzinaan sewenang-wenang, yang dilakukan tidak oleh orang-orang terbuang, melainkan juga oleh mereka yang konon terhormat dan dihormati. Nyi Ageng sudah mendekati pintu belakang. Ia memegang gerendel hendak membukanya.

Betapa terkejut dia. Gerendel sudah terlepas dari cantelannya. Pintu agak menganga selebar jari kelingking. Kembali Nyi Ageng menghentikan langkahnya. Kembali ia menyiapkan bekas-bekas kesaktiannya. Dan kembali ia bertanya kepada ruangan yang remang-remang itu.

"Siapa? Ada orang?"

Namun, sesudah ditunggu beberapa lama tidak ada apa-apa, cuma bunyi angin kencang yang bertiup dari halaman belakang, bahaya pun tidak muncul juga. Maka Nyi Ageng menarik kesimpulan yang melegakan. Pasti kesembronoan Putih Wewangi.

"Dasar si centil cucuku. Rupanya ia lupa mengunci pintu tadi, sehabis buang air kecil di empang. Sudah dewasa tapi masih seperti anak ingusan." Atau barangkali si Lisoh? Tidak mungkin. Perempuan malang itu masih tidur melingkar di balai-balai sebelahnya, memeluk si Thole dengan lelap. Maka Nyi Ageng pun kembali tertawa sendirian:

"Dasar bocah manja, si Putih Wewangi. Teledornya bukan main. Apa dia anggap Jepara sekarang masih seperti Jepara dulu, aman dari pencuri?" Guman sendirian ini membuat hati Nyi Ageng jadi lega.

Ia tidak takut kehilangan barang-barang berharga. Ia takut kehilangan benda paling berharga yang sempat membikin per- pecahan dengan suaminya, wadi buaya putih milik Wong Pamungkas yang sekarang disimpan dalam kotak terbikin dari porselen Cina. Kotak itu terletak di samping tempat tidurnya, dilekatkan pada sebuah lengkungan batang jati besar, terkunci rapat, dan hanya bisa dibuka oleh dia sendisi atau suaminya.

Kecuali kalau ada orang yang mempunyai ilmu sihir dari negeri antah-berantah sehingga dapat membongkarnya. Dengan hati-hati agar tidak tergelincir, Nyi Ageng menuruni tangga menuju ke pancuran. Halaman belakang cukup gelap, tetapi belum cukup untuk membuat Nyi Ageng tidak bisa melihat apa-apa. Ia hafal betul di mana tempat pancuran berdiri, dihubungkan dengan pipa buluh dari sumber air yang terdapat di ujung sungai. Kebun milik Nyi Ageng sangat luas. Dan di sebelah kebun itu terbentang sawah yang terhalang pemandangannya oleh sekerumun pokok-pokok besar membentuk hutan anakan.

Suara air yang mengucur sejuk selama Nyi Ageng berwudlu memberi kesempatan kepada sosok bayangan yang tadi menyelinap di balik pintu guna mengendap-endap dengan cekatan me-masuki kamar Nyi Ageng yang sudah terbuka lebar. Sosok itu bertubuh jangkung dengan pung-gung agak membungkuk. Seperti yang sudah mengerti lika-liku rumah itu, sosok tersebut mendekati balai-balai Nyi Ageng.

Ia menampak seorang perempuan tergolek pulas memeluk anak kecil berusia lima tahun. Sosok itu berhenti sebentar untuk mengawasi kedua tubuh yang membujur di atas dipan bersebelahan dengan balai-balai Nyi Ageng. Ia menghela napas, sebelum dengan cepat mengeluarkan sebilah benda runcing dari balik bajunya.

Benda itu berkilat-kilat hanya oleh sinar redup dari sebatang lilin yang tersisa sepertiga, menandakan bahwa baja yang di- pergunakan untuk membuat benda tersebut termasuk kelas pilihan. Beberapa saat ia ragu-ragu, seakan-akan terpojok kepada dua keputusan, meneruskan ren-cana semula atau mengurungkannya. Agaknya ia amat berat hendak menetapkan tindakannya. Tapi akhirnya, setelah menghela napas dua tiga kali lagi, nampaknya ia menjadi tidak peduli dengan apa yang bakal terjadi. Siapa pun perempuan itu, siapa pun anak kecil itu, tugas ini hares dilaksanakan sesegera mungkin. Apalagi tatkala telinganya menangkap batuk Nyi Ageng sesudah selesai mengambil air sembahyang, dan kini tengah menaiki tangga belakang. la tidak boleh terlambat sedetik pun.

Dengan kesigapan seorang ahli, bayangan serba hitam itu mengangkat benda runcingnya, lalu memasukkannya dengan tepat ke dalam sebuah celah di samping kotak porselen milik Nyi Ageng. Dengan membolak-balikkan benda itu ke atas dan kebawah, ajaib bukan main, kotak yang kelihatannya tidak berlubang itu terbuka serentak dibarengi bunyi "ting" yang sangat halus.

Ia menjulurkan tangannya ke dalam lubang kotak yang sudah terbuka. Lantas secekatan seperti masuknya, ia keluar melalui pintu depan setelah menutup lagi kotak itu sebagaimana tadinya. Di tangannya kini tergenggam selembar kulit buaya putih yang berbentuk bundar lonjong.

Sebelum lolos menyelusupi kehitaman di luar, ia masih sempat memperhatikan lembaran kecil itu, lalu berkata pelan:

"Maaf, Nyi Ageng. Bukan saya kurang ajar. terpaksa mengambil kulit ini supaya tidak tersebar malapetaka."

Tanpa curiga Nyi Ageng lambat-lambat masuk ke dalam tempat sembahyang yang dibangun Ki Ageng berdampingan dengan bilik tidur. Tidak ada yang berubah letak benda-benda di dapur ataupun di musala. Nyi Ageng pun dengan hati lega dan tenang memasang telekungnya dan mengangkat kedua tangan sambil berbisik lembut: "Allahu Akbar!" Kemudian ia hanyut di tengah kesyanduan yang kenikmatannya terasa kian memuncak. Ia membaca surat Al Fatihah seperti sedang berbincang-bincang dengan Tuhan. Alam ter-bentang lapang, dan jiwa tersingkap terang. Sampai ketika seusai salam pada dua rakaat yang ketiga, terdengar suara melengking nyaring di belakangnya, merusak suasana damai tatkala ia tengah memohon ampun ke hadirat Yang Mahakuasa.

"Nenek pikun! Jangan lama-lama duduk di situ. Serahkan wadi buaya putih kepunyaanku!" Suara menyakitkan telinga itu keluar dari seorang laki-laki tinggi kurus dengan badan agak membungkuk. Keringatnya menebarkan bau asam yang tajam, padahal angin malam yang bertiup melewati liang-liang dinding begitu semerbak dan sejuk. Mendengar suara mirip lengkingan iblis itu Nyi Ageng seperti terjaga dari mimpi. Dan bagaimanapun ia telah mengekang perasaannya, namun toh tidak sanggup menahan kekagetannya. Suara itu kalau tidak salah adalah "Masih ingat bukan, kepadaku? Wong Pamungkas?" lanjut suara itu bernada angkuh. Dari lagunya sudah kedengaran betapa orang itu mengangap dirinya tidak berharga untuk disopan-santuni.

Nyi Ageng menjadi tidak terkejut lagi setelah dapat memastikan dengan yakin bahwa orang itu adalah Wong Pamungkas. Sekarang ia lebih dari terkejut. Ia kuatir kalau- kalau Wong Pamungkas tahu di mana ia menyimpan wadi maut miliknya, lalu dapat merampasnya. Bila demikian, dunia bakal sepuluh kali lebih kalau dari keadaannya saat ini. Tetapi Nyi Ageng masih bisa dengan tenang membuka telekungnya, lantas bangkit dan meng-hadapi tamu yang tidak diharapkan itu. Dengan tabah, dalam suara reotnya, ia berkata: "Aku dengar kabar engkau telah menjadi lebih besar daripada ketika engkau mengemis-ngemis kepada suamiku tempo hari?"

"Hahaha. . . ," Wong Pamungkas mengganda tertawa. "Selangkah lagi aku sudah jadi mahapatih Kerajaan Majapahit yang perkasa. Hahaha ..”

"Berarti engkau orang yang punya kedudukan terhormat?" tanya Mbah Buyut, nenek dari putri lurah Janur Kemukus itu, menusuk.

"Jelas," sahut Wong Pamungkas bangga, tanpa mempedulikan niat apa yang terkandung dalam pertanyaan si nenek.

"Hartaku bergudang-gudang, istanaku tidak kalah dibandingkan dengan keprabuan mana pun di muka bumi ini."

"Maka seharusnya engkau juga bersikap sebagai orang besar. Tidak seperti maling kelas kecoa yang mengendap-endap ke dalam rumah orang tanpa mengetuk pintu, jauh larut malam lagi. Apa memang begitukah tata krama para punggawa tinggi Kerajaan Majapahit sekarang?"

Wong Pamungkas menyempitkan keningnya yang seperti alun-alun pasir di depan keraton Majapahit. Dengan mendengus ia menghentak keras:

"Puih!" ludahnya meledak ke lantai. "Kalau aku memasuki rumah orang baik-baik, tentu saja aku akan minta permisi lebih dulu. Tapi yang kumasuki malam ini adalah tempat tinggal seorang pencuri yang lebih keji daripada maling jemuran."

Nyi Ageng mulai tersinggung. "Engkau tak kan berani selancang itu kalau kau tahu suamiku berada di sini." "Hahaha Aku tidak perlu mendatangi suamimu, sebab yang kuperlukan adalah istri-nya, nenek tua yang hampir masuk Jiang landak," jawab Wong Pamungkas telak.

"Kalau aku laki-laki, aku tak kan lama-lama berada di depan seorang perempuan pikun," sahut nenek lebih telak.

"Aku juga tak kan lama-lama di sini, asal kaukembalikan wadi buaya putihku," jawab Wong Pamungkas seraya mendesak ke muka. Nenek sudah menduga apa yang dicari Wong Pamungkas. Dengan tegas ia menjawab:

"Wadimu memang aku yang menyimpan. Tapi jangan harap engkau akan memperolehnya tanpa mendapatkan izin suamiku."

"Yang kuperlukan benda kecil itu, bukan izin suamimu, bantah Wong Pamungkas. Wajah pucatnya mulai memerah.

"Bila aku menolak?"

"Nenek tahu, bukan, bagaimana kebiasaan Wong Pamungkas pantang permintaannya ditolak?" ucap Pamungkas. Ia lebih banyak keluyuran daripada menetap di Trowulan memimpin strategi perang. Karena itu watak kasarnya makin binal.

"Apa engkau tidak tahu bahwa umurku sudah di ujung tanduk?" jawab Nyi Ageng Panataran. Ia dahulunya seorang pendekar cukup tangguh walaupun tidak mencapai tingkatan petarung kelas wahid. Namun sisa-sisa keberaniannya masih lebih besar daripada sisa-sisa kepandaian-nya.

"Jadi?" tanya Wong Pamungkas pendek. Ia mulai geregetan, terdengar dari gemeretak gigi-giginya yang bagaikan taring- taring macan kumbang.

"Hem," nenek tabah itu cuma menggumam. "Katakan terus terang, apa maumu? Kalau perlu kubayar dengan meluluskan semua keinginanmu. Mau harta? Mau kubangun rumahmu agar lebih megah dan indah dari istana si Jimbun, sultan Demak yang melarat serta tengah sekarat itu?" ucap Wong Pamungkas makin naik pitam.

"Jelasnya, aku tidak membutuhkan apa-apa lagi, termasuk umur yang lebih panjang. Pengabdianku sudah tuntas. Pengorbananku sudah ikhlas. Hanya satu yang kuhendaki, ampunan dari suamiku karena kelancanganku mengambil tanpa seizinnya wadi buaya putihmu. Maka, apapun yang diperintahkan suamiku tentang benda itu, pasti akan kukabulkan. Sekalipun seandainya ia menyuruhku untuk mengembalikannya kepadamu, walaupun aku lebih suka melihat engkau musnah menjadi debu," jawab nenek sekaligus menumpahkan pendaman rasa bersalahnya.

Mendengar jawaban yang nekat ini Wong Pamungkas malahkehabisan akal. Ia berpendapat, semua yang disampaikan si nenek memang benar. Usia selanjut itu apa perlu dipertahankan lebih lama, toh setahun dua tahun lagi juga bakal runtuh sendirinya?

Jadi, kalau nenek itu dibunuh, tentu yang dibutuhkannya tak kan terlaksana, mengambil kembali wadi buaya putih yang merupakan penentu hari naasnya. Ia hams mencari cara lain agar nenek itu merasa tersakiti atau ketakutan sehingga bersedia meluluskan permintaannya. Apa kira-kira?

Sudah lama ia mendengar, Nyi Ageng mempunyai cucu yang sangat dikasihi. Kalau tidak salah, namanya Putih Wewangi, yang bapaknya telah tewas di tangannya. Oh, andaikata waktu itu aku tahu bahwa wadi itu ada pada si nenek, pasti gadis itu kuculik dan kujadikan sandera untuk ditukar dengan wadiku. Tetapi gadis itu sekarang, sesuai dengan rencana jebakannya, tengah berada di Desa Cuplak, atau barangkali sudah tewas dihabisi oleh anak buahnya yang ditugaskan menyergap rumah Mbah Bungkuk.

Akibat kehabisan akal, maka Wong Pamungkas berbuat asal- asalan. Dengan kekejiannya yang melebihi ukuran, Wong Pamungkas segera menggerakkan tangan berbareng menggeser kaki kirinya ke kanan. Dalam sedetik kuduk nenek itu telah berada dalam cengkeramannya, biarpun si nenek tadi sempat melakukan perlawanan sambil menghindar. Seraya tertawa melengking tanda kesal, ia mendorong nenek menuju ke kamar, presis se-ekor kucing menggondol anaknya.

"Tunjukkan di mana kausimpan wadiku. Kalau tidak, kululuhlantakkan tubuh peotmu," hardiknya menggelegar. Begitu berada di dalam bilik, mata kucing Wong Pamungkas menangkap dua sosok tubuh yang sedang tertidur lelap.

Tanpa membutuhkan waktu lebih lama, ia sudah dapat mengenali mereka, Thole, anak jadahnya, dan Lisoh, ibu si Thole. Mendadak ia memperoleh jalan sehingga membuat bibir yang tadinya melengkung ke atas berubah tersenyum gembira.

"Hahaha ...," ia tertawa dulu sebelum melontarkan nenek ke balai-balai dengan ganas. Lalu ia tertawa lagi lebih berkakakan, seolah-olah melepas fitrah kemanusiawiannya untuk membiarkan naluri kebinatangan yang mengeram pada nafsu setiap manusia untuk naik ke permukaan.

Secara di luar jangkauan perkiraan yang waras, Wong Pamungkas merenggut Thole dari dekapan ibunya, yang sebenarnya telah terjaga tatkala nenek terjerembab di tempat tidur barusan. Cuma ia tidak punya waktu untuk menjerit, apalagi mempertahankan anaknya karena sangat terkejut dan tak terpikirkan betapa laki-laki buas itu ternyata adalah ayah anaknya sendiri. "Ha?" itu saja yang terucap, terpotong oleh bentakan Wong Pamungkas yang menggeledek bagaikan seribu Gunung Merbabu runtuh jadi pecahan-pecahan batu dan abu.

"Kaulihat anak kecil ini, perempuan tua? Konon ia adalah darah dagingku. Tapi di depan matamu ia akan kubeset jadi dua potong daging busuk dengan membelahnya dari kedua kaki-nya," ucap Wong Pamungkas tanpa perubahan warna mukanya.

"Jangan! Jangan!" jerit Lisoh sesudah menyadari apa yang terjadi.

"Hahaha.... Siapa yang sanggup melarang aku untuk melakukan apa yang ingin kulakukan?" sahut Wong Pamungkas.

Dari sikapnya kentara sekali bahwa ia tidak tergerak oleh lolongan seorang perempuan yang dahulunya adalah perawan cantik yang sangat menarik hatinya sehingga dengan paksa ia melalap kegadisannya.  "Kasihanilah anakku, darah dagingmu sendiri ," tangis Lisoh mengiba-iba. Ia buru-buru bangun, lantas bersujud di kaki bapak anaknya itu.

"Nasib anak ini tidak tergantung pada belas kasihanku, tahu? Aku tidak punya wewenang untuk membiarkannya hidup, kecuali apabila nenek ini menginginkan dia terus hidup. Mohonlah belas kasihan kepadanya, jangan kepadaku," jawab Wong Pamungkas enak saja.

"Ndoro Ageng, tolonglah si Thole," ratap Lisoh kepada Nyi Ageng Panataran. Perempuan tua itu tengah tercabik-cabik jiwanya. Ia marah. Ia dendam. Dan ia sangat terharu melihat nasib Lisoh, perempuan jelata yang suratan takdirnya membuat dia terlunta-lunta dari suatu kesengsaraan ke kesengsaraan lainnya. Apakah nasib semalang itu harus ditimpakan pula kepada anaknya? Hati Nyi Ageng makin teriris tatkala tiba-tiba si Thole terjaga, dan sambil menangis memeluk laki-laki yang menggendongnya seraya memanggil:

"Romo?" Suara si Thole begitu memelas, sebab ia telah mengenali laki-laki yang mencengkeram badannya hingga sakit itu adalah ayahnya. Ia tidak pernah lupa terhadap laki- laki yang selama tiga hari tiga malam telah menyekapnya itu. Namun yang dipanggil romo oleh anak tidak berdosa itu hanya mendengus:

"Jangan banyak cingcong. Ajalmu tergantung pada Nyi Ageng."

"Gusti Senapati, punika putro panjenengan," jerit Lisoh dengan wajah kian ngeri melihat api berkobar di mata Wong Pamungkas. "Kasihanilah dia, walaupun Tuan tidak kasihani saya. Thole sangat merindukan seorang ayah."

"Huh!" damprat Wong Pamungkas seraya menghentakkan kakinya dari pelukan kedua tangan Lisoh sampai perempuan itu terhempas ke dinding.

"Jangan mengharapkan aku percaya akan bualmu. Kaukira aku tidak tahu bahwa perempuan itu seperti pelabuhan, tempat keluar-masuknya kapal-kapal? Hahaha "

"Astaghfirullah," seru Nyi Ageng penuh kutukan. "Hatimu terbikin dari batu apa, hai Wong Pamungkas? Tidak ada gunung karang yang lebih keras dari hatimu. Tega kau berbuat sekejam itu kepada anakmu sendiri, menolak kehadirannya sebagai seorang anak akibat kekejianmu? Dan kaulemparkan tanggung jawabmu kepada perempuan malang itu dengan menuduhnya berbuat yang sama kepada laki-laki lain?"

Wong Pamungkas bukannya jadi surut, malah kian meloncat kemarahannya.

"Baik, akan kuhitung sampai sepuluh angka. Jika pada hitungan kesepuluh tidak juga kau serahkan kepadaku wadi buaya putihku, akan kulaksanakan apa yang kujanjikan tadi, mem-belah anak ini menjadi dua bagian. Sesudah itu akan kucabut kepala ibunya, dan kugelindingkan batok kepala itu ke bawah kakimu. Bila hal itu pun masih kauanggap biasa, aku akan mencoba mengerjakan perbuatan yang selama ini belum pernah kulakukan dan belum pernah juga dilakukan oleh manusia lain, memperkosa se-orang nenek tua yang umurnya sudah di atas tujuh puluh tahun. Hahaha "

Nenek menggigil jijik mendengar ucapan Wong Pamungkas yang terakhir ini. Memperkosa dia? Ia, nenek-nenek, akan diperkosa? Hiiini

"Hahaha...," gelak Wong Pamungkas penuh kemenangan. "Akan kumulai sekarang meng-hitung dari permulaan. Satu tidak ada reaksi dari nenek.

"Dua   ," belum ada.

"Tiga ...," nenek masih berusaha agar tidak nampak ketakutannya.

"Empat ..., lima ..., enam tujuh   "

Pada waktu Wong Pamungkas sampai pada hitungan yang kesembilan dan kelihatannya akan sungguh-sungguh membeset Thole, anaknya sendiri, menjadi dua potong, Mbah Buyut langsung berteriak:

"Hentikan! Biarlah kali ini giliranmu yang menang."

"Hahaha begitu kan lebih baik. Memang Nyi Ageng betul-betul perempuan tua yang berhati mulia, suka menolong orang lain, kalau perlu dengan mengorbankan kepentingan sen-diri.

Hahaha ...," Wong Pamungkas tents tertawa, sebab ia berpikir, dengan memiliki kembali wadi pengapesannya, tidak ada lagi yang perlu ditakuti, dari siapa pun.

"Lepaskan dulu anak itu," ucap nenek, takut Wong Pamungkas mengkhianati janjinya.

"Tidak. Kauserahkan dulu wadi ku itu," sahut Wong Pamungkas menolak.

"Kalau demikian, biarlah kaubunuh dia, aku tidak peduli. Sebab, walaupun seandainya kuserahkan wadimu itu, apa gunanya bila engkau toh akhirnya akan membunuh si Thole?" sanggah Nyi Ageng tegas.

"Jadi engkau tidak percaya kepadaku?" potong Wong Pamungkas marah.

"Tentu. Daripada aku mempercayai janjimu, lebih baik kauyakini janjiku. Bahwa apabila kaulepaskan dia, pasti wadimu akan kukembalikan."

Wong Pamungkas mengerutkan kening. Lalu ia pun mengangguk.

"Baiklah, kuterima tawaranmu. Tapi awas, jika kau dusta, jangan tanya betapa bakal sangat mengerikan akibatnya," ucap Wong Pamungkas meruncing. Api di matanya bagaikan neraka yang turun ke bumi. Thole, dalam dekapannya, sampai mengedip-ngedipkan pelupuknya. Lisoh, yang memperhatikan kejadian itu berlangsung, tidak kuat untuk tidak menutupi wajahnya. Maka dengan amat berat, Wong Pamungkas menurunkan, atau lebih tepatnya mencampakkan di Thole ke lantai. Lisoh memburu anaknya, dan memeluknya dengan erat, seolah tidak akan mau melepaskannya lagi kepada bapaknya. Begitu melihat kedua ibu dan anak tersebut sudah aman, nenek lantas berkata kepada Lisoh:

"Ajaklah anakmu itu keluar dari sini. Sekarang urusannya antara aku dengan serigala itu," ujarnya tanpa takut membuka kemarahan Wong Pamungkas. Itulah keberanian nenek, sisa kependekarannya di masa lampau.

"Tidak! Aku keberatan! Mereka harus tetap di sini!" bantah Wong Pamungkas sambil berjingkrakan. Ia melonjak-lonjak sepanjang mendengar ucapan Nyi Ageng. Tangannya sudah tidak sabar hendak meremukkan batok kepalanya.

Sayang, di tangan nenek itulah tergantung nasibnya. Nyi Ageng menimpali kemurkaan Wong Pamungkas dengan bersikap setenang mungkin. Secara keras is berkata:

"Terserah engkau, Wong Pamungkas. Kauterima syaratku, biarkan mereka keluar dari ruangan ini, atau kaubunuh aku, kaubunuh mereka berdua. Masa Bodoh!"

"Hem," geram Wong Pamungkas. "Setan bodong!"

"Bagaimana?" tanya nenek mendesak.

"Baiklah," gumam Wong Pamungkas penghabisannya.

"Kuizinkan mereka keluar dari sini. Tapi ingat, jika engkau bohong, Nyi Ageng, aku akan tenteng engkau untuk mencari mereka, dan kemudian akan kulakukan apa yang telah kujanjikan sejak mula pertama."

Maka dari sebuah lemari yang tersimpan di bawah kolong tempat tidur, Nyi Ageng mengambil kunci berbentuk panjang dengan ujung Ineruncing seperti benda tajam. Wong Pamung- kas curiga sehingga ia siap memukul seraya berkata:

"Jangan berbuat macam-macam, Nyi Ageng. Apa yang kaupegang itu?"

Nyi Ageng sebetulnya tidak ingin menjawab. Tapi ia sempat mengumpat:

"Dasar pengecut berhati busuk. Ini cuma kunci biasa, tahu?"

Dengan tangan gemetar karena harus melakukan apa yang dibencinya, menyerahkan wadi penentu ajal si penyebar maut Wong Pamungkas, Nyi Ageng lantas memasukkan kunci itu ke lubang pembuka peti perselen di sebelah bale-bale. Lebih gemetar lagi Nyi Ageng pada waktu peti itu terbuka. Dan menjadi sangat gemetar berbarengan lega tatkala is melihat di dalam peti itu tidak ada benda apa-apa selain bangkai seekor cicak yang sudah mengering, mungkin cicak yang tersesat masuk tanpa diketahuinya.