Ajal Sang Penyebar Maut Bab 09 : Siapakah Mbah Buyut?

Bab 09 : Siapakah Mbah Buyut?

Apabila Kiai Dolah Pekih mempunyai perasaan sepedih itu, adakah mustahil perasaan yang sama juga menghinggapi para pejuang lainnya yang jujur? Jaka Pratama ternyata juga tengah terjerumus ke dalam pikiran seperti itu. Di punggung kudanya, tatkala ia sedang menempuh perjalanan menuju Desa Cuplak yang jaraknya tinggal beberapa kilo lagi, ingatannya tidak dapat dihindarkan dari merenungkan nasib pendekar Cina yang berjiwa ksatria itu.

Sebagai musuh ia seorang lawan yang gagah berani. Ia mau mengakui keburukannya setelah barangkali sekujur umurnya dipenuhi dengan keburukan-keburukan. Ia datang dari negara antah-berantah karena jauhnya, ke sebuah negeri yang asing baginya. Ia pasti meluruk ke tanah Jawa untuk mencari nama dan harta. Namun ia masih tetap memiliki harga diri dan kehormatan. Ia rela menghabisi nyawanya sendiri untuk sesuatu yang dianggap-nya sebagai prinsip hidup, sebagai keyakinan.

Dalam peperangan batin yang akhirnya dimenangkan oleh keyakinan akan kewajibannya meneruskan perjuangan, apa pun yang harus dihadapi, Jaka dengan kudanya mulai mendekati desa yang dituju.

Sang surya telah menyerahkan diri kepada ketetapan garis edarnya. Sinarnya makin redup ketika bulan dalam lintas putarnya mengelilingi bumi, sudah melewati bagian cakrawala lainnya, membuat benda-benda di bumi kehilangan bayang- bayang. Cuplak terbenam oleh warna hitam, yang kemudian muncul menjadi remang-remang.

Jaka Pratama tidak memasuki desa itu, melainkan mengitar ke sebelah selatan agar, tanpa banyak diketahui orang, bisa mencapai makam Sunan Sebolampar sebelum kegelapan Isya menggulung lembayung Maghrib.

Jaka turun dari Karbala dan membiarkan kuda itu menunggu di belakang sebatang pohon asam. Makam Sunan Sebolampar yang bertutup kelambu dengan cungkup ijuk di atasnya, berdiri kaku di sebelah gubuk milik juru kuncinya, Mbah Bungkuk.

Makam itu terletak di ujung desa, terpisah dari rumah-rumah penduduk oleh sebuah hutan, sungai dangkal, dan sawah lima belas petak. Tidak ada makam lain di sekitar itu. Suasana amat sepi, mencengkeram gerak kehidupan men-jadi ilusi yang mengerikan. Seolah-olah Sunan Sebolampar tengah menyampaikan wejangannya tentang dunia yang bakal sirna, tentang alam yang bakal berubah menjadi awang-uwung kembali, kosong. Tak kan ada apa-apa lagi. Yang ada hanya tidak ada.

Jaka menghela napas, presis ketika seseorang juga sedang menghela napas. Orang itu mengendap-endap bersama sejumlah anak buahnya yang berpakaian serba gelap.

Terdengar salah satu di antara mereka berkata: "Apa Siauw Sian Giap telah tewas oleh bajingan itu?" suara itu agaknya tidak sekadar bertanya, tetapi lebih banyak terdorong oleh ketakutannya.

Orang yang tadi menghela napas menjawab: "Engkau takut bernasib seperti dia?"

"Ti-tidak. Cuma kabarnya, bersendirian saja dia dapat menghadapi sepuluh musuh tangguh. Apalagi menurut berita, di gubuk itu sedang berkumpul delapan atau sembilan orang dengan dia. Apa kita punya harapan?"

"Tidak, kalau engkau terus menggigil ketakutan." Lalu diam agak beberapa lama. Mereka terus mengendap-endap. Dan tiba-tiba suara gemetar tadi bertanya lagi: "Jam berapa pemimpin kita datang dengan membawa balabantuan?"

"Ssst, bangsat itu sudah masuk ke dalam. Huh, kumpulkan kejantananmu. Senapati Wong Pamungkas pasti datang pada waktunya," jawab Yang ditanya. Tapi, apakah betul Wong Pamungkas akan datang pada waktunya?

Yang jelas, ketika gerombolan orang-orang seram itu sedang mengepung gubuk Mbah Bungkuk, Dewi Sekar Dadu telah mendapatkan jejak ke arah mana Mbok Lisoh yang sedang dicarinya tengah terbirit-birit menelusuri anak dan laki-laki yang jadi bapaknya. Ia memperoleh berita itu dari Wulan Suminar. Gadis itu berhasil menyadap pembicaraan beberapa orang kuli pelabuhan yang sedang meminta upah kepada mandor Cina bertubuh gemuk dengan kuncir di kepalanya. Maka tanpa menunggu lebih lama dari beberapa kejap, perempuan ningrat berusia pertengahan yang masih tetap cantik itu buru-buru melangkahkan kaki ke tempat yang dituju bersama murid kesayangannya, Wulan Suminar. Tiba di sana, Dewi Sekar Dadu menangkap sesosok bayangan yang mencurigakan.

Gerakannya sangat gesit tatkala bayangan itu seperti sedang merayap di genting. Sesudah jelas dari sikap dan tanda- tandanya, bahwa sosok itu adalah Wong Pamungkas, Wulan Suminar memekik, "Jahanam!"

Gadis yang kini telah pulih kecantikannya tersebut amat mendendam kepada bajingan yang pernah menculik dan menyekapnya itu. Ia ingin menghirup darahnya. Namun, pada waktu mereka berdua mengejarnya, Wong Pamungkas bukannya datang memapak, malah melarikan diri dengan mengganda suara tertawanya yang melengking dan menusuk perasaan.

Kedua perempuan itu mengejar. Akan tetapi mereka sekonyong-konyong dihadang oleh enam orang pesilat tangguh, anak buah Wong Pamungkas.

Orang-orang itu tadinya bertugas membinasakan siapa pun yang terjebak mengikuti seorang anak kecil berusia lima tahun yang belum lama sebelumnya dilontarkan begitu saja oleh Wong Pamungkas seperti melemparkan kedondong busuk.

Meskipun kedua Srikandi tua dan muda tersebut tidak sampai terdesak di bawah angin, namun untuk menghadapi enam orang petarung andalan, telah menghabiskan waktu mereka lebih dari setengah jam. Dan dalam tempo sepanjang itu, rasanya mustahil akan dapat melacak perjalanan Wong Pamungkas, apalagi menyusulnya. Tapi mereka tidak putus asa.

Sesudah keenam orang musuh mereka tertundukkan dengan men-derita luka-luka cukup parah, mereka segera ber-gegas mengejar Wong Pamungkas. Dalam perjalanan Dewi Sekar Dadu berpesan: "Ingat, Nduk. Kita tidak menginginkan Wong Pamungkas sebagai mayat. Sebab, kalau sudah mati, ia tak kan ada gunanya buat anak itu dan ibunya. Kita hanya akan menuntut tanggung jawabnya selaku bapak."

Dengan wajah asam Wulan Suminar meng-angguk. Tidak hanya tangannya saja yang mengepal, bahkan hatinya juga menggumpal dengan rasa marah yang meluap.

"Tapi . , masih sempat berdalih. "Jangan kuatir. Kecuali jika ia menolak tanggung jawabnya sebagai laki-laki dan bapak, berarti tidak ada manfaatnya lagi ia terus hidup. Bahkan kematiannya akan disyukuri oleh orang banyak," sahut Dewi Sekar Dadu dengan bijaksana.

Ucapan ini menggugah kembali kecerahan wajah Wulan Suminar meskipun malam terlalu gelap buat memberi kesempatan munculnya bayang-bayang. Karena itu, tatkala mereka sadaf bahwa perjalanan yang mereka tempuh men- dekati sepertiga ke Desa Cuplak, kesadaran itu telah terlambat untuk mengetahui betapa Wong Pamungkas tiba-tiba melompat di hadapan mereka.

Dewi Sekar Dadu terkejut. Apalagi Wulan Suminar. Sebab tahu-tahu Wong Pamungkas telah berdiri mengangkang seraya berteriak: "Kalian berdua memang lonte-lonte keparat! Tuanmu ini telah mengampuni kalian tadi dengan sama sekali tidak mau menjatuhkan tangan, sebab aku punya urusan yang tidak boleh diganggu. Namun rupanya kalian tidak bisa diberi hati." Wulan Suminar sudah begitu murka sampai siap-siap hendak menerjang. Tetapi Dewi Sekar Dadu keburu mencegah lewat isyarat, lalu berkata kepada musuh bebuyutan murid kesayang-annya itu dengan nada menyindir: "Wong Pamungkas! Apa engkau tidak punya ucapan yang lebih kasar dari lonte keparat buat kami?"

"Hahaha . . . ," Wong Pamungkas tertawa melengking walaupun tampaknya tidak ingin tertawa.

"Kami datang tidak untuk mengambil nyawa-mu, melainkan untuk meminta pertanggung-jawabanmu. Kami mewakili Mbok Lisoh dan anak yang dilahirkannya akibat kejalanganmu," sahut Sekar Dadu sesabar mungkin.

"Haha . . . ," lagi-lagi Wong Pamungkas hanya tertawa.

"Engkau manusia atau binatang? Apa engkau tidak punya perasaan?"

"Kalau aku tidak punya perasaan, bagaimana aku mau membuntingi si Lisoh? Aku punya perasaan, maka aku menginginkan dia pada waktu itu."

"Lalu mengapa engkau tidak mau bertanggung jawab?" "Karena aku punya perasaan."

"Kurang ajar!"

"Lho! Apanya yang kurang ajar? Aku meninggalkan Lisoh karena aku punya perasaan. Yaitu perasaan bosan."

"Jahanam!" hardik Wulan Suminar. Ketika ia hendak melancarkan serangan, Dewi Sekar Dadu kembali mencegahnya.

"Apa engkau tidak punya sedikit rasa kasithan? Tidak usah kepada Lisoh. Kasihanilah anaknya, yang juga darah dagingmu." "Hahaha . . . ." menyemburat lagi tertawa Wong Pamungkas. Kali ini terselip suara getir ketika ia menjawab: "Kasihan? Apakah orang lain pernah memikirkan kata kasihan bagi si kembar kecil yang bernama Gagak Rancang dan Pamungkas?"

Dewi Sekar Dadu tertegak membisu. Ia mematung di tempat berdirinya. Diam. Sampai Wulan Suminar kebingungan melihat perubahan sikap gurunya, yang tiba-tiba matanya seperti kebasah-basahan.

Pada masa remajanya Dewi pernah mendengar kisah tentang salah satu punggawa ayahnya, bersama Barong Anggodo. Ia mempunyai pelayan cantik dari desa. Perawan asli itu hamil. Barong menuduh bahwa pelayannya telah berbuat serong dengan sesama pelayan. Gadis itu diusir dari istana Barong, dan digebah pula dari kampungnya. Dalam kesengsaraan di luar batas itulah sepasang anak kembar dilahirkan. Mula-mula yang diberi nama Pamungkas, menyusul kemudian si Gagak Rancang. Menurut kebiasaan di tanah Jawa, yang lahir belakangan itulah yang dianggap sebagai abang. Dengan alasan ia membiarkan adiknya lahir duluan.

"Ibuku tanpa dosa telah diusir dari istana oleh laki-laki yang menghamilinya, Barong Anggodo. Satu-satunya kesalahan ibuku hanyalah bahwa ia orang melarat yang berparas cantik. Suatu dosa besar bagi si miskin apabila berwajah elok. Sebab akhirnya akan jadi santapan orang-orang terhormat atau jadi pelacur jalanan. Untung yang seharusnya jadi ayahku itu mati waktu aku masih berumur tujuh tahun. Kalau tidak, dengan kedua tanganku sendiri akan ku-ajari laki-laki itu bagaimana caranya menikmati kesakitan dan penderitaan.''

Sepanjang mengungkapkan kalimat-kalimat itu, tampak muka Wong Pamungkas makin gelap dalam kegelapan malam. Namun dari kedua rongga matanya menyorot api berwarna biru sembari dadanya megap-megap oleh napas yang tertahan-tahan.

"Dan kau tahu, bukan, yang dilakukan oleh para bangsawan dan orang-orang berada? Mereka menuding ibuku sebagai penipu, pemfitnah, dan lonte murahan. Jadi, apa aku tidak berhak menudingmu sebagai lonte keparat?"

Dewi Sekar Dadu berusaha mengekang dirinya, sementara Wulan Suminar menggeretakkan gerahamnya. "Lalu, mengapa engkau justru berbuat serupa itu kepada Lisoh yang miskin dengan anaknya, yang juga anakmu, si Thole?" desak Dewi Sekar Dadu, mencoba menusuk hati nurani Wong Pamungkas, barangkali bajingan itu masih me-miliki sisa- sisanya.

"Karena aku sekarang sudah jadi orang besar dan terhormat. Karena aku sekarang sudah punya istana dan kekayaan yang melimpah," sahut yang ditanya gampang saja.

"Sungguh tunggang-balik cara berpikirmu," sahut Dewi Sekar Dadu sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Seharusnya, lantaran engkau pernah disengsarakan oleh bapakmu yang orang besar, sehingga ibumu terlunta-lunta dalam penderitaan, wajarlah jika engkau sekarang menolong orang- orang miskin yang teraniaya. Tapi mengapa malah kebalikannya? Engkau bahkan berbuat sewenang-wenang atas mereka?"

"Hahaha … ," Wong Pamungkas tertawa gelak-gelak. "Dulu, waktu aku masih melarat, masih belum punya kedudukan, aku juga sering membantu mereka, supaya aku dapat nama. Malah aku terpaksa menjilat-jilat kepada para bangsawan dan kaum menak. Kini giliranku berada di atas. Aku tidak mau menyia-nyiakannya." "Hem, memang otakmu sudah harus dicuci dengan darahmu," gumam Dewi Sekar Dadu menggeram.

Begitu pula Wulan Suminar. Wajah-nya sudah menyala dengan warna api, tidak lagi warna bunga mawar yang sedang mekar.

"Hahaha … ," lagi-lagi Wong Pamungkas tertawa melengking. Kini suaranya kian mengecil tetapi padat mengental, menandakan tenaga yang keluar tidak menyebar percuma, melainkan mengumpul, menjadi simpanan kekuatan dalam.

"Kaulihat bagaimana nasib manusia yang sok pahlawan, sok suci?" tanya Wong Pamungkas, tidak kepada siapa-siapa, namun lebih banyak untuk menunjang keyakinannya sendiri. Pertanyaan yang tanpa pernah membutuhkan jawaban. "Contohnya adalah abangku, Rakian Gagak Rancang. Ia sudah punya nama, tapi konon ia menginginkan nama yang harum, yang tak bercatat. Ia tidak memanfaatkan kesempatan yang telah diperolehnya. Ia dibantai oleh tentara Girindrawardhana sampai luka parah."

"Maaf, boleh aku bertanya?" sela Dewi Sekar Dadu.

"Silakan, sebelum engkau kehilangan kesempatan sebentar lagi," sahut Wong Pamungkas sambil menyeringai sinis.

"Betulkah Rakian Gagak Rancang itu saudaramu?" "Semua orang tahu, ia abang kandungku."

"Tapi, mengapa waktu itu engkau tidak menolongnya, bahkan menganiayanya?"

"Hahaha. . . , itulah kelebihanku, mempunyai perasaan yang peka di atas orang lain. Andaikata tidak kuaniaya pun ia pasti cacat. Lebih baik kusempurnakan sekalian supaya yang cacat jangan hanya raganya, melainkan juga otaknya, sehingga ia tidak bisa menyesali lagi atau bersedih terhadap tapadaksanya. Dan dengan demikian aku pun memperoleh keuntungan, dipercaya oleh golongan Girindrawardhana agar aku dapat mencapai kedudukan tinggi untuk melampiaskan dendam yang tidak dapat dilaksanakan oleh abangku. Dendam itu ialah memanfaatkan kesempatan jadi orang besar buat berlaku sewenang-wenang atas rakyat kecil, sebagaimana kami alami dahulu semasa kecil. Jelas?"

"Oh, di zaman penduduk Tanah Jawa telah berbudaya tinggi dengan agama-agama besar sudah membentuk mereka menjadi manusia berkepribadian luhur, yang di dasar jiwa mereka membenih karsa manunggal kepada Sang Murbeng Dumadi melalui perbuatan-perbuatan kebajikan, yang kesucian hati mereka bersumber dari hijaunya alam dan makmurnya bumi Jawa Dwipa semenjak berabad-abad, masih ada seorang macam engkau, Wong Pamungkas, yang tidak merasakan dosa dalam segala tindak dosamu. Oh, Gusti Ingkang Mahaagung, mugiya peparing eling dumateng sato arupe menungso puniko saderengipun lebur dados bubur timah ing ngarso Panjenengan," gumam Dewi Sekar Dadu berisi doa kepada Yang Mahakuasa.

"Hahaha. . . ,'. Wong Pamungkas terpingkal-pingkal. "Terima kasih atas segala doamu, supaya Tuhan memberi ingat kepadamu sebelum disiksa jadi bubur timah? Hahaha Aku

akan membalas doa untukmu sebelum engkau menyusul para penghuni kubur lainnya. Duh, Gusti Ingkang Mohosuci, mugiya andadosaken priyan-tun putri ingkang sampun peyot punika supados wangsul moblong-moblong ayunipun kangge sisihan kulo mbenjang ingdalem Swargi. Hahaha

"Kanjeng Dewi, kekurangajarannya sudah biadab. Apa Kanjeng Ibu akan diam saja?" Wulan Suminar dengan getaran suara bagaikan air pangs hampir mendidih sudah tidak dapat lagi memperpanjang kesabarannya.

Dewi Sekar Dadu masih tetap tenang, walaupun dalam doanya tadi sebetulnya Wong pamungkas hanya mengejek. Murid mana tak kan marah jika gurunya dihina sebagai perempuan tua yang sudah peot agar dikembalikan kecantikannya untuk menjadi pendamping bagi bajingan itu kelak di dalam surga? Namun terpaksa Wulan pun hanya berdiri diam karena gurunya masih belum berbuat apa-apa.

"Hem, jangan salahkan aku kalau terpaksa kubuka pantangan untuk tidak membunuh sesama manusia dalam bulan Suro." Ucapan ini tercetus begitu saja di tengah kebisuan Dewi Sekar Dadu dan muridnya, ketika Wong Pa-mungkas tengah mengatur kuda-kuda melihat Dewi Sekar Dadu telah mulai menghimpun tenaga dalamnya.

Wulan Suminar memandangi gurunya dengan heran, lalu menatap ke arah Wong Pamungkas yang juga sama sekali tidak membuka suara sejak beberapa saat tadi. Jadi siapa yang mengeluarkan suara penuh wibawa itu? Dan siapa pula yang dimaksudkan bakal dibunuhnya? Ajaib bukan main.

Suara itu bagaikan datang begitu saja dibawa angin lalu, lantas menghilang begitu juga seperti ketika datang. Yang mengherankan, Wong Pamungkas berubah pucat pasi di tengah wajahnya yang berkulit pucat. Kemudian, bandit tengik itu menggenjot bada.nnya, dan kabur sipat-kuping seperti tikus dikejar kucing.

Wulan Suminar bergerak hendak memburu, namun gurunya mencegah: "Jangan. Kita harus tahu diri.”

"Mengapa, Kanjeng Ibu? Bukankah ia amat jahat?" potong muridnya tidak puas. "Kita berdua tak kan mampu menghadapi dia seorang. Aku menguatirkan nasibmu yang masih muda. Untunglah datang seorang tokoh sakti yang membuat Wong Pamungkas lintang- pukang. Terima kasih, Pukulun," ucap Dewi Sekar Dadu seraya membungkuk ke arah empat penjuru, ditujukan kepada suara gaib yang tidak kelihatan orangnya tersebut.

Tiba-tiba suara itu meniawab sebelum gaung-nya lenyap sama sekali. Suara itu berkata : "Lebih baik kalian membantu para kadang Demak yang akan dijebak di makam Sunan Sebolampar, tapi nanti justru akan berganti mengepung kaum perusuh."

Suara itu kedengaran makin jauh, kemudian gaib tanpa bekas.

"Siapa tokoh sakti itu, Kanjeng Dewi?" tanya Wulan Suminar masih kebingungan.

"Pada waktunya kelak engkau akan tahu. Sekarang belum saatnya, demi menjaga peranan yang dipegangnya dalam gerakan suci para ksatria Bintara Demak."

"Jadi, apa yang akan kita kerjakan sekarang?" tanya Wulan Suminar masih penasaran.

"Kaudengar saran pukulun tadi? Kita harus mendatangi makam Sunan Sebolampar, barangkali ada yang dapat kita lakukan," jawab sang guru.

Maka kedua perempuan tersebut segera ber-gerak menuju ke tempat yang dimaksudkan, yang jaraknya tinggal beberapa tombak lagi.

Di sana, Jaka Pratama baru saja berkata kepada Mbah Bungkuk di gubuknya: "Mbah, sebentar lagi kita akan dapat tamu-tamu tidak diundang." "Jangan waswas, denmas. Biarpun Mbah tidak bisa bertempur, tapi Mbah bukan penakut," jawab Mbah Bungkuk yang punggungnya sudah membungkuk dimakan usia tuanya.

Konon Mbah Bungkuk dilahirkan pada masa pemerintahan Hayam Wuruk di Majapahit. Berarti sudah seratus tahun lebih umurnya. Ketika itu gelap sudah mendekati dua pertiga malam, yakni tatkala suara bernada tajam meng-hardik dari sisi kanan gubuk Mbah Bungkuk. 

"Hai, wong-wong Glagah Wangi. Keluar kalian dari persembunyian!"

Jaka berbisik kepada Mbah Bungkuk, "Agak-nya mereka tidak tahu, Mbah, bahwa di sini hanya terdapat saya sendirian."

"Ada berapa orang yang datang mengepung kita?" tanya Mbah Bungkuk.

"Dari bunyi tapak-tapak kaki yang sempat saya hitung, sekitar dua belas atau tiga belas orang," sahut Jaka sambil mengernyitkan jidat.

"Apa tidak terlalu banyak bagimu?"

"Saya bakal kewalahan, Mbah, kalau kita tidak mengatur siasat. Mungkin Mbah punya saran?" tanya Jaka, sementara hatinya mengeluh, bahwa ia telah terperosok ke dalam rencananya sendiri, betapapun rencana itu dilaksanakannya dengan tujuan mulia, menyelamatkan kepentingan perjuangan dan keselamatan Mbah Bungkuk.

Kakek tua itu berpikir sejenak, lantas men-jawab, "Biarkan aku yang keluar sambil membawa bendera putih."

"Artinya kita menyerah?" sahut Jaka keberatan. Bukan karena sok pahlawan, tetapi sekadar suatu kebimbangan, apakah bukan merupakan kecurangan, jika sudah mengibarkan bendera putih namun secara diam-diam melakukan serangan dari belakang?

"Tidak. Yang menyerah bukan kita, aku. Sebab yang ditantang adalah orang-orang Glagah Wangi, padahal aku asli kelahiran Cuplak, dan tidak punya ikatan, apalagi menjadi anggota gerakan para pejuang Glagah Wangi. Betul, kan?"

"Baiklah, Mbah, meskipun saya tidak berapa suka melakukannya," sahut Jaka sesudah ragu-ragu sebentar. Kemudian tampak Mbah Bungkuk berbisik-bisik ke telinga Jaka Pratama. Sesudah itu is membuka pintu. Di tangan kanannya berkibar bendera putih dengan memanfaatkan sorban hajinya.  Yang mengepung rumah itu kebetulan segerombolan orang- orang sombong. Mereka begitu percaya akan kekuatan sendiri, dengan mengandalkan jaminan dari Wong Pamungkas, bahwa pada saatnya yang tepat bala bantuan bakal sudah siap di bagian belakang gubuk, untuk menjebak musuh yang mencoba melarikan diri. Karena itu mereka hanya menyebar di sebelah depan dan kedua sisi kanan serta kiri gubuk tersebut. Mereka tidak memperhatikan kemungkinan lolosnya lawan dari belakang. Dengan alasan yang sebetulnya masuk akal, yaitu bahwa di bagian belakang tidak ada pintu keluar atau jendela sama sekali.

Ketika salah seorang anak buah ada yang bertanya tentang masalah itu, agaknya sang pemimpin termasuk orang yang tidak mau diganggu gugat kebijaksanaannya. Dengan keras is menjawab:

"Mau lari dari mana mereka? Lewat lubang semut? Dan lagi, Liong Hitam, si Babah Liem Hoat Nyan, pasti sudah menunggu bersama seluruh bawahannya di tempat itu."

Dan Mbah Bungkuk pun membuka pintu. Dan Jaka Pratama pun membuka genting satu demi satu. Dan malam pun merayap terus. Dan, dan, dan…

Dan sekumpulan dan terangkai jadi satu menjalin peristiwa demi peristiwa, mengubah warna sejarah. Begitu pendek dan lugas kata "dan", namun memegang peranan utama dalam memutar lembar demi lembar kisah perjalanan anak-anak manusia di muka bumi. Kata "dan" itu pula yang kini melibatkan Kiai Dolah Pekih ke dalam jebakan peristiwa tanpa menemukan ujungnya. Lantaran pada waktu akibat kata "dan" itu Kiai Dolah memasuki tambahan usianya lebih tua sehari lagi manakala bunyi kentongan di gardu pelabuhan dipukul dua belas kali, bertambah pula persoalan yang harus segera diputuskan pemecahannya.

Kakek tua itu mendekati Mbah Buyut untuk bertanya: "Bagaimana saran Nyi Ageng terhadap masalah ini?" Mbah Buyut tidak menjawab. Ia malah bertanya: "Kira-kira apa yang akan Kiai lakukan seandainya Kiai adalah musuh Demak?"

Kali ini Kiai yang berpikiran dalam itu, terpojok tidak mengerti. "Maksud Nyi Ageng?"

"Bukankah Liem Hoat Nyan mengumbar berita ke mana-mana bahwa malam ini, jam satu nanti, ia akan mengirimkan perlengkapan-perlengkapan penting ke pangkalan laut armada Demak?"

"Tentu saja maksudnya agar kita bergerak menuju yang dikabarkannya itu," sahut Kiai Dolah Pekih dengan roman muka sangat cerah, seperti jendela yang disingkap tirainya.

"Artinya berita itu hanya isapan jempol belaka?"

Mbah Buyut, yang dipanggil Nyi Ageng oleh Kiai Dolah Pekih, merasa tidak perlu menjawab, sebab memang begitulah yang diinginkan si Liong Hitam dari Hainan, saudara misan babah Liem Goan Phok. Si kuncir itu memang orang yang boceng-lie, yang tidak tahu membalas budi.

"Jadi?" desak Kiai.

"Kalian ingin melihat Wong Pamungkas mampus?" sahut Nyi Ageng yang tiba-tiba wajahnya berubah kelam.

Ketika semua yang berada di ruangan itu saling memandang, Mbah Buyut meluruskan punggungnya di kursi malas dan memanggil cucunya, Putih Wewangi, agar duduk lebih dekat kepadanya.

"Dengarkan baik-baik, terutama engkau, Putih," ucap Mbah Buyut, menekan. "Beberapa tahun yang lalu Wong Pamungkas datang merengek-rengek kepada suamiku, Ki Ageng Panataran, yang menjadi penasihat Prabu Girin- drawardhana dari Kediri. Ia mengemis-ngemis agar bisa diterima sebagai salah seorang pembantunya. Suamiku, yang melihat kecerdasan dan kelihaiannya, tanpa curiga menyanggupinya."

Semua terbeliak heran. Ternyata perempuan tua yang mereka hadapi sekarang itu adalah istri punggawa tinggi mendiang Girindrawardhana, musuh mereka dan .musuh pepunden mereka.

"Atas nasihat suamiku, sebetulnya Prabu Girindrawardhana sudah akan membatalkan rencana jahatnya menyerang Majapahit. Tetapi dengan kecerdasan dan kepandaian menjilat dari Wong Pamungkas, mendiang Prabu Girindrawardhana justru menuduh suamiku hendak berkhianat. Untung kami mengetahuinya lebih awal, sehingga sebelum keputusan hukuman mati dijalankan, kami sempat menyingkir menyelamatkan diri."

Semua menggumam lega, tanpa lupa mengutuk kejahatan Wong Pamungkas.

"Lima tahun yang lalu kami berdua dihadang oleh Wong Pamungkas dan anak buahnya, beberapa pendekar Tibet yang lihai, di suatu kelokan antara dua bukit di luar perbatasan Majapahit dengan Demak. Dalam pertempuran itu kami tersudut. Tetapi dengan kuasa Tuhan, suamiku dapat merebut wadi, atau rahasia kelemahan Wong Pamungkas, berupa selembar kulit buaya putih untuk menutupi pusarnya. Di situlah titik kematian Wong Pamungkas, yang hanya dapat dilindungi oleh kulit tersebut apabila is tidak ingin menemui ajalnya. Celakanya, sesudah peristiwa itu, suamiku bersumpah hendak menjadi pertapa dengan pantang membunuh sesama rnanusia. Kami bertengkar, tidak lagi sejalan, sebab aku masih menginginkan nyawa Wong Pamungkas yang telah menyengsarakan hidup kami. Untuk itu, pada suatu malam aku berhasil mencuri wadi itu dari suamiku, dan pertengkaran pun berkembang menjadi perpisahan hingga hari ini. Wong Pamungkas rupanya sudah mengetahui bahwa wadi itu berada padaku, makanya tadi ia mengerahkan kelicikannya untuk menyatroni tempat ini. Tujuannya tidak lain, pasti ingin merebut wadi buaya putih itu dari tanganku."

"Jadi?" tanya Putih Wewangi tidak tahan. Pertanyaan yang belum diharapkan oleh lain-lainnya. Mereka cemberut, tapi tidak sampai hati untuk mengomel.

"Wong Pamungkas hanya takut kepada suamiku, yang aku sendiri tidak tahu beritanya hingga hari ini. Ia paham, aku tidak punya daya apa-apa jika tidak dibantu oleh seseorang yang ilmunya sebanding dengan suamiku."

"Karena itu?" lagi-lagi dengan konyol, begitulah anggapan Pandu, Putih Wewangi bertanya penasaran.

"Berangkatlah kalian sekarang juga ke Cuplak. Aku yakin, melihat sepak terjang dan tabiat Jaka Pratama selama ini, pasti ia sedang berada di sana walaupun cucuku telah memberi surat kepadanya, dan barangkali ia pun sudah membacanya. Ia pasti tidak rela membiarkan Mbah Bungkuk jadi korban tanpa dibela."