-->

Ajal Sang Penyebar Maut Bab 08 : Misteri Mbah Buyut

Bab 08 : Misteri Mbah Buyut

Tiba-tiba Kiai Dolah Pekih terkejut melihat Pandu berdiri mendadak berbarengan dengan terkuaknya pintu kamar dan berhentinya kidung dolanan yang tengah disenandungkan oleh Putih Wewangi. Di ambang pintu, gadis tersebut terpaku kaget ketika matanya bertatapan dengan pandangan sendu Pandu Nayarana. Sekonyong-konyong ia menaruh rasa iba kepada pemuda remaja tersebut, tanpa mengetahui untuk apa. Sampai ia lupa bahwa keterkejutannya yang membuat ia keluar dari kamar, adalah lantaran ia mendengar beberapa pasang kaki melangkah tergesa-gesa menuju ke rumah Mbah Buyutnya. Demikian pula Pandu. Ia berdiri serentak adalah karena mencurigai bunyi telapak kaki menjejak tanah dengan terburu-buru. Namun pada saat matanya berbenturan dengan sepasang bintang kejora yang bening itu, ia lupa akan kecemasannya. Ia hanya melihat keindahan yang melenyapkan semua ketakutannya, keindahan yang jujur pada wajah yang polos itu, wajah Putih Wewangi.

Begitu juga Kiai Dolah Pekih. Kakek itu pun terperanjat. Tidak oleh suara-suara beberapa pasang kaki yang didengarnya pula, melainkan oleh Pandang-memandang antara kedua remaja tersebut, yang nampaknya menyimpan kekuatan saling memikat satu sama lain.

Kiai Dolall Pekih mengepuskan napas, sambil hatinya membatin: jangan-jangan mereka telah menjalin hubungan rahasia? Tidak, tidak dengan maksud buruk andaikata ia akan menghalang-halangi hubungan itu. Kalaupun ia kelak berusaha memisahkan mereka adalah demi kepentingan anaknya, demi kepentingan keturunannya, dan demi kepentingan perjuangan. Putih Wewangi harus menjadi menantunya, harus menjadi pendamping anaknya, Kembar Ula. Apa pun yang musti dilakukannya.

"Astaghfirullah, mengapa aku melantur begini?" gumam Kiai Dolah Pekih menyadari keburukannya. Maka cepat-cepat ia menyapa Pandu Nayarana, lantas berkata kepada Pandu serta kepada Putih Wewangi: "Tidak usah cemas, Ngger Pandu dan Genduk Putih. Mereka bukan orang lain. Mereka orang-orang kita sendiri." "Siapa mereka, Kiai?" tanya si gadis sambil matanya sekali- sekali masih tertuju ke arah Pandu. Kiai melihat hal itu, namun ia hanya menghela napas: "Masak engkau tidak dapat menebak?"

"Seperti ada tiga orang, Kiai, apa betul?" tanya Pandu mengira-ngira.

"Huh! Orang bodoh juga tahu, mereka terdiri dari tiga orang," potong Putih, menampilkan kembali watak aslinya yang suka usil. Kali ini Pandu cuma mengganda tersenyum, sementara Kiai mengharap agar peristiwa kecil itu merupakan permulaan dari perpisahan mereka, tidak untuk kejelekan, melainkan supaya Putih Wewangi menjadi akrab dengan Kembar Ula.

Sayang, Pandu tidak berbuat seperti yang sudah-sudah, menanggapinya dengan hati panas yang sama. Bahkan anak muda yang berwajah setampan Arjuna itu menjawab ramah: "Oh, jadi Rayi Putihpun mempunyai pendapat yang sama, bahwa mereka terdiri dari tiga orang?"

"Tentu, sebab aku punya otak," sahut Putih belum surut tabiat aserannya.

"Kalau begitu kita ada jodoh," ucap Pandu berseloroh.

Putih Wewangi memerah wajahnya. Jantung-nya berdegup lebih kencang. Ia merasakan getaran nikmat, tetapi segera tertutup kembali oleh kecentilannya yang lugu: "Iiiih, dasar tak tahu di untung. Tuan Putri-mu tidak marah saja engkau sudah untung. Jodoh? Enak amat. Umur belum setahun jagung, jasa belum ada buat negara, sudah membayang-bayangkan soal- soal perjodohan. Mata Keranjang!"

"Lho, lho, kok marah. Maksud saya jodoh dalam perjuangan. Jangan mengharap berlebih-lebihan, ah," bantah Pandu agak penasaran. Putih Wewangi tiba-tiba seperti tersengat lebah. Mulutnya terkatup seketika dengan mata yang berkedip-kedip untuk menahan air matanya agar tidak turun. Ia sungguh tersinggung oleh ucapan Pandu itu, karena memang nyata- nya begitu, dan Pandu telah menusuknya langsung tepat di terasnya. Pemuda itu jadi tidak mengerti. Ia hanya bermaksud menggoda, tapi kenapa Putih nampaknya sangat berubah. Apakah ia marah?

Kiai Dolah Pekih hanya diam memperhatikan kedua anak muda tersebut, yang sejak pertemuan mereka pertama kali sudah sering bergaduh dan bersilang kata. Untung Akas Lelaras sekonyong-konyong masuk diikuti oleh Atma Sanjaya dan Praja Karana, yang kebetulan usia mereka tidak jauh berbeda.

Tentu saja bukan ketiga ksatria muda itu yang menimbulkan jejak-jejak kaki di luar tadi. Sebab mereka berdatangan dari arah yang lain, setelah melakukan perondaan seperlunya. Tapi anehnya, begitu mereka berada di dalam rumah, langkah-langkah yang mencurigakan tadi lalu menghilang pula. Malam yang menjelang larut itu bagaikan tidak menyembunyikan apa-apa selain angin sepoi dan udara yang menggigit. Seolah di luar telah terbentang suasana damai abadi, tanpa permusuhan dan pecah-belah.

Kiai Dolah Pekih segera berbisik, "Ssst, dengarkan baik-baik. Sebentar lagi akan ada peristiwa menarik."

"Teristiwa apa, Kiai? Ke mana tiga orang pendatang yang menurut Kiai bukan orang lain itu? Mengapa bunyi tapak-tapak kaki mereka mendadak lenyap?" tanya Putih tidak sabar hingga lupa terhadap sakit hatinya kepada ucapan Pandu barusan.

Kiai Dolah Pekih membiarkan pertanyaan Putih tidak berjawab. Ia malah memanggil ketiga putranya. Kembar Sugra, Kembar Wusta, dan Kembar Ula. Kiai lantas berbisik dengan suara pelan kepada mereka : "Ingat, hati-hati!" Ketiga anak muda itu pun segera keluar dari rumah melalui pintu belakang. Sesudah tidak terdengar lagi dengusan napas mereka, Kiai ben kata kepada Atma Sanjaya, yang usianya paling tua di antara Praja Karana dan Akas Lelaras.

"Apa yang kautemukan pada waktu meronda barusan?"

Akas Lelaras memandangi Atma Sanjaya, apakah jawabannya akan sama dengannya seandainya pertanyaan itu ditujukan kepadanya. Ternyata sama. Sebab Atma Sanjaya menjawab:

"Saya menjumpai seorang anak kecil berumur kira-kira lima tahun, sendirian di tengah kebun kurang lebih lima belas depa dari rumah ini. Waktu saya dekati, anak itu berlari menghindar."

"Apa yang kamu lakukan?" tanya Kiai.

"Karena dia anak kecil, jadi saya biarkan, meskipun hati saya merasa bersalah lantaran tidak mengejar dan membantunya."

Kiai Dolah Pekih mengerutkan kening. "Hem," gumamnya. "Sebagai petugas ronda, seharusnya engkau melacak dan mencari tahu, siapa anak kecil itu. Mengapa malam-malam berada di dalam kebun tidak terlalu jauh dari rumah Mungkinkah ia hanya sendirian? Padahal umurnya baru lima tahun?"

"Kami memang bersalah, Kiai," potong Praja Karam, yang agaknya juga mengalami peristiwa yang tidak berbeda. "Tapi .

. . , pada waktu kami hendak menguntitnya, kami mencurigai suara-suara lain yang lebih membuat kami cemas karena bersumber di bagian belakang rumah ini."

"Kalian memang mempunyai peruntungan yang baik," sahut Kiai. "Kalau kauikuti anak kecil itu, engkau pasti pulang tinggal nama, Praja." "Jadi, tindakan kami itu benar?" tanya Akas Lelaras seraya. membetulkan leher bajunya karena tiba-tiba badannya menjadi dingin, terbawa oleh suara dingin Kiai pada waktu men-ceritakan bahaya yang mengancam mereka.

"Tidak," sahut Kiai.

"Hah?" ketiga anak muda tersebut sama-sama terbeliak bingung.

"Sebab kalian memang sengaja dipancing untuk kembali ke rumah atau untuk mengikuti anak kecil itu," sahut Kiai masih belum membuat mereka mengerti masalahnya.

"Jika kalian mengejar anak kecil itu, kalian pasti binasa. Mereka sudah menyiapkan jebakan yang arnpuh. Tetapi, karena kalian kembali ke rumah ini, maka ada kawan kita yang hampir celaka."

"Oh, kami tidak tahu, Kiai," ucap Atma Sanjaya menyesal. "Andaikata kami mengerti persoalannya, lebih baik kami bertiga yang lebur jadi abu."

"Kalau begitu, izinkanlah kami membayar hutang sekarang," ujar Akas Lelaras sembari bersiap hendak segera keluar. Kiai mencegah:

"Cukup. Kalian lebih baik berjaga-jaga di sini. Kita tunggu saja berita yang akan dibawa oleh ketiga anakku. Dari kabar itu nasib kita bakal ditentukan: berhasil atau gagal," gumam Kiai dengan wajah menjadi mendung.

"Ada apa sebenarnya, Kiai," tanya putih Wewangi memotong kebisuan Kiai Dolah Pekih yang roman mukanya masih berkabut. Ia sangat penasaran dan hampir berjingkrak-jingkrak dengan hanya menjadi pendengar yang tidak paham sejak beberapa lama tadi. "Putih, engkau ingin berjasa?" tanya Kiai kembali, tidak langsung menjawab.

"Maksud Mbah Kiai?" Putih pun bersikap seperti itu, tidak menyahut, malah bertanya.

"Kalau engkau ingin berjasa, diamlah, jangan banyak bertanya dulu," sahut Kiai, masih dengan nada beku.

"Saat ini, tutup mulut lebih baik daripada selalu memamerkan gigimu."

Sebetulnya Putih tidak tersinggung oleh ucapan Kiai yang agak tajam itu, mengingat hubungannya yang sangat dekat dengan Kiai selaku putri sahabat karibnya. Namun tak urung ia murka bukan kepalang ketika Pandu memperhatikannya sambil menyungging senyum. Ia menyangka Pandu mentertawakannya, mengejek kebodohannya. Karena itu Putih membuang muka dengan dada bergolak oleh dendam.

Sebenarnya Pandu Nayarana tidak sejelek itu. Ia hanya memandang Putih dengan maksud menyampaikan simpatinya. Ia ingin berada di tempat lebih akrab dalam hati Putih Wewangi, agar di lingkungan sendiri tidak selalu terjadi salah paham. Maka Pandu tidak tahu bahwa wajah asam itu ditujukan kepadanya. Malah ia mengira Putih terlalu kurang ajar terhadap Kiai Dolah Pekih sampai berani bersikap begitu kepadanya.

Kebetulan ketika ketegangan memuncak di ruangan itu, tidak oleh gawatnya situasi di luar andaikata mereka tahu, melainkan oleh per-tempuran tanpa suara antara dua remaja yang sebenarnya mempunyai tabiat sama, serba panas dan cepat tersinggung. Sebuah jeritan panjang 'terdengar melengking di kejauhan.

"Ada apa pula, Kiai?" tanya Akas Lelaras, kawan karib Putih Wewangi yang kini mulai erat dengan rekan-rekan lainnya. "Ssst," hanya itu yang diucapkan oleh Kiai Dolah Pekih. Betapapun disembunyikan, kelihatannya Kiai menyimpan ketegangan di wajahnya. Dan ini menular kepada semua yang berada di ruangan itu. Mereka menjadi waswas menyaksikan kecemasan yang terbayang pada kedua bola rata Kiai yang meredup. Jeritan itu belum seluruhnya berhenti tatkala dan arah yang berlawanan, mungkin pada jarak yang lebih dekat, terdengar sebuah suara dalam nada tinggi.

"Jahanam!" suara itu mengutuk tajam. Jerit itu berubah menjadi terbawa kesetanan yang kian hilang terbawa oleh angin. Segenap yang berada di ruangan itu makin kebingungan. Apalagi tidak berapa lama kemudian, hampir di dekat pintu depan, kedapatan seseorang tengah menangis.

Dari suaranya, jelas yang menangis adalah seorang perempuan separuh baya. "Tidak bersediakah Kiai menghapus ketegangan kami dengan menceritakan, gerangan apa yang sedang berlangsung di luar sana?" akhirnya Praja Karana, anggota Santri Pitulas termuda itu, tidak sabar lagi menahan rasa ingin tahunya.

"Kulup, bukankah engkau selalu digembleng dengan puasa mutih, puasa petigeni dengan hanya berbuka tiga teguk air waktu Maghrib? Bukankah engkau sering mengerjakan wirid dan dzikir di tengah malam buta dalam curahan air   teriun yang deras dan dingin?" itulah sepotong jawaban Kiai.

"Jadi?" tanya Putih mendesak, mulai bangkit kembali sifat asliriya yang senantiasa serba tidak puas.

"Jadi kalian harus bersabar sebentar lagi, sebab semua yang telah kalian lakukan itu sebetulnya bukan untuk menempa kesaktian, tetapi semata-mata melatih, dan menggali kekuatan pribadi. Dengan kita memiliki keyakinan teguh, mempunyai kepercayaan diri yang kokoh, memegangi pedoman hidup yang pasti, kesaktian itu Bakal datang setiap kali dibutuhkan tanpa diundang. Itulah yang dikenal sebagai keramat atau mukjizat di kalangan orang-orang mulia dan nabi-nabi," sahut Kiai Dolah Pekih. "Kesabaran adalah sumber keselamatan, jalan terbaik untuk selalu terhindar dari malapetaka. Tunggu dulu, sampai ketiga putraku datang kembali," ucap Kiai seterusnya.

Meskipun demikian, kecemasan yang tadi menggelantung di ruangan itu telah mulai men-cair bersama kabut tipis yang makin tipis meng-hilang dari wajah Kiai Dolah Pekih. Suara tangis perempuan tadi tambah mendekat. Lalu tiba-tiba pintu depan terkuak sedikit, dan muncullah seorang anak kecil telanjang bulat berusia lima tahun. Mukanya separuh hitam, tidak oleh jelaga, rupanya daki tebal karena beberapa hari tidak mandi yang rnenghiasi kebocahannya.

Budak laki-laki itu, dalam bayangan Putih Wewangi, tampak bagaikan setan kecil yang sutra mencuri dan oleh orang-orang kampung disebut tuyul. Gadis itu bahkan terpekik lirih seraya menutupi matanya.

"Hiiii," gumam si gadis ketakutan, lebih takut daripada seandainya ia menginjak cecoro. Akas Lelaras tertawa. Kiai tertawa. Semua ter-tawa. Hanya Pandu yang tidak berani tertawa. Ia hanya tersenyum kecil. Takut kalau-kalau Putih tersinggung dan nyapnyap kepadanya. Namun sebelum sempat Putih marah-marah, anak kecil itu telah membuka mulut dan bertanya iba :

"Mana ayah saya? Mana romo?" Dan pada saat semua terbengong, kecuali Kiai Dolah Pekih, Kembar Sugra, Kembar Wusta, dan Kembar Ula pun masuk melalui pintu depan. Disusul beberapa lama sesudah itu, dengan munculnya Harjo, Harno, dan Hargo, yakni ketiga orang agen Demak yang dikenal sebagai pedagang-pedagang bajigur, jagung bakar, dan cendol. "Kenapa perempuan itu tidak kalian ajak masuk?" tanya Kiai kepada anak tertuanya, Ula.

"Barangkali, jika Romo sendiri yang mengajak, ia baru bersedia masuk," jawab yang ditanya. Kentara ia baru mengalami peristiwa gawat, terlihat dari mukanya yang sebentar-sebentar menarik urat dan napasnya yang masih terengah-engah.

"Semuanya selamat?" tanya Kiai. "Alhamdulillah," jawab Kembar Ula. "Bandit itu?" desak Kiai ingin tahu. "Sayang sekali," ujar Ula menyesal.

"Maksudmu, ia melarikan diri?" tanya Kiai tambah ingin tahu. "Tidak," sahut Ula.

"Jadi?" kembali Kiai bertanya waswas.

"Ia mengejar sesosok bayangan ramping yang melayang dengan cepat."

"Untung bagi kalian," sahut Kiai sanga lega.

Hingga di sini pembicaraan antara ayah dan 6anak itu sama sekali tidak dipahami maksudnya oleh yang lain. Mereka makin penasaran, tetapi Kiai Dolah Pekih belum juga menjelaskan seluk-beluk peristiwa itu. Malah, dengan langkahnya yang terseok-seok, Kiai lantas keluar dari rumah untuk menghilang beberapa saat.

Pada waktu masuk lagi ia mengiringkan seorang perempuan yang kedua matanya bengkak oleh tangis dan ratap duka.

"Saya menyesal Ndoro, saya tidak tahu apa-apa. Saya hanya ingin bertemu dengan laki-laki yang memberikan seorang anak kecil kepada saya. Sungguh, saya cuma berkepentingan hendak menjumpai bapak si Thole, anak saya," ucap perempuan yang agaknya pernah cantik itu mengiba-iba.

Di tengah ribut-ribut, Mbah Buyut keluar dari kamarnya. Ia adalah seorang nenek berusia lanjut, namun kaki-kakinya masih sanggup menjejak tanah dengan tegap.

Putih Wewangi, yang tiba-tiba melihat neneknya keluar dari kamar, segera memapaknya dengan pertanyaan: "Mbah Buyut, apakah perempuan itu bukan Mbok Lisoh?"

Nenek keriput itu menyahut, "Ya, dialah Mbok Lisoh yang pernah mengasuhmu selama satu bulan pada waktu engkau berumur sebelas tahun."

Putih tersentak. "Tujuh tahun yang lalu. Dan ketika itu Mbok Lisoh cantik sekali." Dalam gumamnya Putih merenungi dirinya sendiri. Berarti suatu saat kelak ia pun akan mengalami nasib yang sama. Kecantikan hanya akan tinggal bekasnya saja. Putih menghela napas panjang. "Ampun, Ndoro Putri, saya tidak bermaksud jahat. Saya tidak tahu apa-apa," ratap perempuan itu di kaki Mbak Buyut.

Nenek tua itu cuma melenguh tatkala mengucap: "Begitulah selalu nasib perempuan yang menyerahkepada kodrat, yang lemah dan tetap bodoh. Senantiasa menjadi korban dari kepolosannya, oleh keserakahan laki-laki yang tidak bertanggung jawab." Semua yang berada di situ makin bingung, makin berpusar-pusar dalam teka-teki tanpa jawaban. Mereka hanya menunggu kesediaan Kiai Dolah Pekih ataupun Mbah Buyut untuk menjelaskan rangkaian kejadian yang masih tersembunyi tersebut. "Apo boleh saya terangkan sekarang?" tanya Kiai kepada perempuan tua yang usianya sedikit lebih lanjut daripadanya itu.  

"Silakan. Rasanya untuk sementara tidak ada lagi bahaya yang mengancam," sahut si nenek seraya duduk di kursi goyang yang teronggok di sudut.

"Baiklah, anak-anak, kalian duduk baik-baik, dan dengarkan keteranganku dengan saksama," ujar Kiai Dolah Pekih memulai penjelasannya. Tentu saja tawaran ini disambut gembira dan penuh perhatian oleh mereka, termasuk ketiga putra Kiai sendiri. "Putih, tolong sediakan air teh manis untuk si Thole, dan barangkali masih ada bubur blohok, kauambilkan satu piring. Kasihan, kelihatannya ia letih dan lapar," ucap Mbah Buyut kepada Putih Wewangi ketika melihat anak kecil itu menggelendot di pangkuan ibunya dengan lesu.

Untung agaknya ia sudah amat mengantuk sehingga lupa menanyakan bapak-nya. "Dan jangan lupa, ambilkan kain sarung, agar anak itu jangan kedinginan."

Seraya masuk ke dapur, Putih berpesan: "Paman Kiai, ceritanya tahan dulu sampai saya datang," ujarnya menyimpan kedongkolan hatinya, walaupun ia tidak berani memperlihatkannya terang-terangan. Mbah Buyut tahu perubahan sikap itu, tetapi ia hanya tersenyum, sebab sudah memahami sifat cucunya yang binal namun sebetulnya berjiwa halus dan suka menolong orang.

Dan memang, Kiai Dolah Pekih tidak bermaksud mau bercerita langsung. Ia menoleh kepada perempuan yang bernama Lisoh itu, dan bertanya: "Ceritakan, bagaimana awal mulanya hingga engkau terlibat dalam urusan ini?"

"Lisoh, katakan terus terang, jangan ada yang kausembunyikan kalau engkau masih setia kepadaku," ucap Mbah Buyut dari kursinya.

Tatkala, sambil mengusap-usap kepala anak-nya dengan kasih sayang, Lisoh hendak memulai kisahnya, Putih masuk ke ruangan itu membawa yang diperintahkan neneknya. Dengan suara gemetar Lisoh lantas bersiap menuturkan ri- wayat sedihnya:

"Baik, Ndoro Putri."

Namun Lisoh masih tetap diam sembari mengusap air matanya. Sesudah semuanya nyaris tidak sabar, barulah Lisoh membuka mulutnya lagi: "Tujuh tahun saya menghamba di rumah ini, dan saya amat bahagia bersama keluarga Ndoro Putri yang baik dan selalu ramah. Enam tahun yang lalu saya diminta Ayah untuk pulang ke kampung karena Ibu sakit keras. Di tengah perjalanan, pada suatu tempat yang sepi, terjadilah malapetaka menimpa saya. Seorang laki-laki jangkung dengan badan kurus bungkuk mencegat dan membius saya dengan asap kuning yang berbau wangi. Saya tidak mengenal siapa dia, tapi yang jelas, sesudah itu saya merasakan ada perubahan di tubuh saya. Ternyata saya hamil. Dan Thole inilah anak saya akibat musibah itu. Saya diusir orang kampung sampai saya terlunta- lunta tanpa tujuan. Untunglah ada seorang perempuan cantik yang baik hati mau memelihara saya sebagai pembantu di rumahnya yang terpencil dan jarang dihuninya. Perempuan itu bernama Dewi Sekar Dadu, putri sulung raja Blambangan."

Mereka yang mendengarkan kisah itu menggeretakkan gigi karena dihinggapi perasaan yang sama, marah. "Saya sudah mulai melupakan aib itu karena Thole lebih membutuhkan perhatian saya, dan waktu saya habis untuk dia tanpa ada kesempatan buat berduka."

Putih Wewangi sudah mau melompat saja, ingin menerkam laki-laki yang berhati binatang itu.

"Kemudian . . . ?" ia mendesak tidak sabar.

"Beberapa saat yang lalu, ada yang datang menemui saya, pada waktu saya mencari Thole yang sejak dua hari lepas keluar dari rumah dan tidak pulang-pulang. Ketika saya sedang dirundung kesusahan yang tak tertahankan, orang itu mengatakan bahwa anak saya diambil oleh bapaknya."

"Siapa bapaknya?" kembali Putih yang cerewet bertanya- tanya.

"Nduk, cucuku," tegur Mbah Buyut. "Biarkan dia bercerita." "Habis, saya geregetan. Akan kukunyah laki-laki itu," umpat Putih membuat semua orang tersenyum mengkal. Kecuali Pandu yang terpaksa membuang muka, menyembunyikan tertawanya.

"Saya diberi tahu bahwa bapaknya bernama Wong Pamungkas," ucap perempuan itu pelan-pelan.

Semua yang mendengar nama itu terbeliak. Gigi-gigi makin menggeretak, selain Kiai Dolah Pekih dan Mbah Buyut yang kelihatannya dapat mengawal emosi mereka.

"Ia ... ?" tanya Putih lagi tambah penasaran.

"Saya dijanjikan akan dapat memperoleh kembali anak saya dan menemui bapaknya asal saya menunjukkan di mana rumah Ndoro Putri," kata perempuan tersebut amat menyesal. "Kalau saya tahu bahwa ini semua merupakan usaha jahat terhadap para Ndoro sekalian, pasti saya tak kan menuruti permintaan orang itu."

"Jadi, siapa dia?" lagi-lagi Putih tidak sabar bertanya. "Saya tidak tahu. Nampaknya seperti orang dari negeri seberang."

"Dari Tiongkok?" desah Putih.

"Betul, matanya sipit, kepalanya memakai kuncir."

"Hem, Paman Kiai, berarti rencana kita ini Juga telah bocor ke pihak musuh," geram si gadis yang merasa dialah penanggung jawab rencana tersebut.

Kiai Dolah Pekih memotong ucapan Putih dengan menjawab: "Belum tentu."

"Tapi, mereka kan sudah menebak dengan tepat?" bantah si centil.

"Engkau ingin tahu penjelasanku?" kata Kiai balik bertanya. "Bagaimana?" ucap Putih makin tidak sabar saja. "Akan kuceritakan, tapi ada satu syarat yang harus kaupatuhi. Mau?"

"Huh. Syarat apa?"

"Dengarkan baik-baik, dan jangan bertanya-tanya. Setuju?" "Baiklah," sahut si cerewet terpaksa.

Maka akhirnya Kiai Dolah Pekih meluluskan permintaan orang-orang itu dengan menjelaskan seluk-beluk kejadian tersebut sejak permulaan. "Kita mula-mula mendengar langkah beberapa orang yang mendatangi tempat ini, bukan? Mereka adalah orang-orang kita sendiri, yaitu Hargo, Harno, dan Harjo. Aku dapat memastikannya dengan memperhatikan bunyi langkah-langkah mereka sebagaimana sudah pernah kuberitahukan kepada kalian. Ketika kita sedang menunggu- nunggu kedatangan mereka, tiba-tiba suara langkah mereka lenyap sama sekali, bertepatan dengan munculnya Atma Sanjaya, Akas Lelaras, dan Praja Karana. Coba, ceritakan peristiwa yang telah kaualami, Harjo."

Harjo, yang agaknya masih terpengaruh oleh perjalanan mendebarkan yang barusan dilaluinya, menjawab hati-hati :

"Ketika kami tengah tergesa-gesa melangkah, seorang perempuan lari terbirit-birit diikuti oleh seorang Cina berkuncir dengan perawakan gemuk pendek. Kami cepat-cepat menyembunyi-kan diri."

"Apa pula yang kaulihat di kebun yang sepi tadi, Atma Sanjaya?" tanya Kiai Dolah Pekih kepada anggota Santri Pitulas yang telah bekerja keras selama beberapa minggu itu.

Atma Sanjaya berusaha mengumpulkan ingatannya kembali, lantas berkata: "Seorang laki-laki jangkung dengan tubuh agak membungkuk berkelebat menghilang bersamaan dengan munculnya seorang anak kecil yang melarikan diri dari kami dengan ketakutan.”

Kiai Dolah Pekih kemudian menjelaskan secara terperinci: "Dialah Wong Pamungkas yang membuat perempuan ini memekik panjang, dan jeritannya kita dengar jelas. Ia mencoba memancing Atma dan yang lain-lainnya agar menguntit bocah itu, sebab di sebelah sana kebun beberapa orang kosen telah menghadang untuk meringkus, sementara Wong Pamungkas bermaksud menyatroni rumah ini." Kiai diam beberapa saat. Kekosongan yang membuat Putih Wewangi hampir melontarkan ketidaksabarannya dengan hendak bertanya itu, tiba-tiba dipecahkan oleh Mbah Buyut: "Wong Pamungkas tidak tahu bahwa kalian sedang berkumpul di sini. Sebab yang dicarinya, bekerja sama dengan Cina itu, adalah aku sen-diri, bukan orang lain. Ia ingin membinasakan, setidak-tidaknya mencelakakan diriku, karena suatu peristiwa yang terjadi lima tahun yang lalu."

"Peristiwa apa, Mbah Buyut?" tanya Putih keheranan.

Ternyata neneknya juga terlibat dengan urusan yang kini melibatkan dirinya sendiri. Ia tidak pernah menduganya, menandakan betapa rapinya Mbah Buyut menyembunyikan identitas dan peranannya.

"Saat ini belum ada gunanya kuterangkan. Kelak akan kujelaskan kepadamu, apabila saatnya tiba untuk melampiaskan dendam keluarga kita. Sekarang lebih baik kita biarkan Kiai Dolah Pekih melanjutkan keterangannya," sahut Mbah Buyut dengan kilatan pandangan yang menyimpan misteri duka.

Kiai Dolah Pekih menatap iba beberapa saat ke arah Mbah Buyut, tetapi yang dipandang hanya memejamkan mata di kursinya. "Andaikata tidak ada pertolongan yang datang tanpa diduga- duga, walaupun merupakan peristiwa yang wajar harus terjadi, barangkali di antara kita ada yang jatuh sebagai korban," ucap Kiai Dolah Pekih seraya mengepuskan napas tuanya berulang-ulang.

"Apa maksudnya, Paman Kiai?" tanya Putih. "Ingat janjimu. Nduk?" sanggah Kiai Dolah Pekih.

Kemalu-maluan Putih mengangguk, disambut sesungging senyum oleh Pandu Nayarana. Hal ini membuat Putih melotot tajam kepada Pemuda tampan itu.

"Apa janjimu?"

"Diam," jawab Putih pelan.

"Nah, diamlah. Biar aku saja yang bersuara," ucap Kiai memperingatkan.

Sesudah Putih menyudut di tempat duduknya, Kiai pun meneruskan penuturannya, yang semua itu didapatnya melalui kesaktian Aji Pangrungu serta pendalaman dan pendalaman hidup yang panjang.

"Rupanya Dewi Sekar Dadu, pada waktu mendapati perempuan ini tidak berada di rumah bersama anaknya, segera berangkat untuk menelusuri jejaknya ditemani murid kesayangannya, Wulan Suminar."

Pandu Nayarana mengangkat kepalanya mendengar nama itu. Juga yang lain-lain, sebab nama Wulan Suminar, cucu Mbah Kiai Kanapi, tengah tersohor ke mana-mana karena kesaktian serta kebaikannya. Malah ia memperoleh julukan kehormatan dari masyarakat, Srikandi dari Desa Sirandu, walaupun yang bersangkutan tidak suka terhadap julukan tersebut. "Mereka memergoki rencana busuk Wong Pamungkas dan konco-konconya. Merekalah Yang mengocar-ngacirkan musuh-musuh kita belum lama tadi. Itu pula sebabnya Wong Pamungkas segera meninggalkan rumah ini buru-buru, supaya tidak berbentrok dengan kedua pendekar wanita itu. Ia tidak mau mengambil risiko untung-untungan, meskipun jika berhadap-hadapan aku yakin Wong Pamungkas dapat mengatasi kelihaian mereka dalam pertarungan yang ganas dan seru."

"Lalu, apa yang harus kita kerjakan sekarang?" tanya Putih memotong, lupa akan janjinya.

Namun kali ini Kiai Dolah Pekih membiarkannya saja, sebab ia menganggap ceritanya sudah cukup dibentangkan hingga di situ, buat sementara.

"Kita menunggu kedatangan Jaka Pratama. Kuperkirakan menjelang fajar, apabila benar-benar surat Putih dibacanya dan dia mengikuti petunjuk itu, pasti ia akan tiba di tempat ini. yang jelas, kita harus mencari kepastian, siapakah Cina gemuk yang berkuncir itu, untuk memperoleh bukti-bukti, dari pihak mana di bandar Jepara ini tangan-tangan kotor berusaha menghancurkan upaya Kerajaan Demak dalam rencananya hendak membinasakan armada Peringgi." Kiai Dolah Pekih menggeram tatkala menutup ucapannya tersebut, melampiaskan rasa pepat di dadanya tiap kali teringat akan kekejaman bangsa Peringgi di Malaka terhadap orang-orang Melayu sebagaimana didengarnya dari sebagian di antara mereka yang berhasil lolos dan di-tolong oleh kapal-kapal niaga Demak di tengah lautan ganas.

Meskipun begitu, masih ada juga pengkhianat yang rela menjual kehormatan bangsa kepada musuh-musuh kafir itu, hanya untuk memperoleh balasan upah yang tidak seberapa. Mereka tidak punya malu untuk bekerja sama dengan orang- orang asing yang kedatangannya di Tanah Jawa memang hanya bertujuan mengeruk keuntungan sehanyak-banyaknya, tanpa mempedulikan betapa kotor-nya pun usaha yang mereka jalankan.

Barangkali orang-orang asing pantas berbuat demikian karena mereka tidak memiliki harga diri dan nilai-nilai budi pekerti. Namun, sebagai orang Jawa, yang dilahirkan dari rahim seorang ibu dan ayah Jawa, yang menjadi besar dalam lindungan adat-istiadat dan keramahan kehidup-an Jawa, dan jika mati kelak pun akan dikubur di bumi Jawa dengan doa dan mantra-mantra Jawa, sungguh tidak ketemu nalar jika ada yang menyerahkan dengan rela kehormatan bangsanya kepada belas-kasihan orang-orang asing yang bagaikan benalu itu.

Itulah yang sering kali membuat Kiai Dolah Pekih ingin menjauhkan diri dari pahit getirnya perjuangan. Bukan takut mati. Tidak. Manusia, betapapun juga, toh pasti akan mati. Melainkan semacam rasa putus asa, apakah ada gunanya sepak terjang yang dilakukannya, kalau orang lain malah seakan-akan cuma meraih keuntungan dari situasi yang run- cing itu.

Sebaiknya, pada sebagian bangsa sendiri, seperti Wong Pamungkas dan konco-konconya, kalau perlu keyakinan mereka jual hanya untuk mendapatkan nama atau kedudukan dan kekayaan yang pada hakikatnya cuma perhiasan maya belaka.

"Ah, Karbala, sebaiknya aku tidak terlalu memandang ke luar. Kalau tidak, kita akan bertemu dengan tikungan buntu tanpa berbuat sesuatu. Untung, Karbala, aku telah menyematkan ikrar, bahwa bakti dan ibadatku, hidup dan matiku, hanyalah untuk Allah, Tuhan seru sekalian alam," demikian bisik Jaka kepada kudanya tiap kali hampir terpeleset oleh kegalauan hatinya.

Ia tidak peduli apakah Karbala paham atau tidak. Yang penting ia telah mengeluarkan segala kandungan kebimbangannya. Tadinya ia ragu-ragu, ke mana seharusnya pergi: langsung ke Jepara atau ke Cuplak? Namun, setelah dipertimbangkannya masak-masak, musuh pasti akan mengetahui bahwa rencana mereka sudah terbongkar jika Desa Cuplak ditinggalkan sama sekali. Ia memperhitungkan, andaikata di Cuplak mesti bertempur, dengan mengandalkan nasib baik ia masih akan dapat tiba di bandar Jepara sebelum fajar. Di atas itu, ia sangat mengkhawatirkan keadaan Mbah Bungkuk yang tentunya bakal menjadi sasaran orang-orang yang menghendaki kematiannya.