-->

Ajal Sang Penyebar Maut Bab 06 : Liong Hitam Dari Hainan

Bab 06 : Liong Hitam Dari Hainan

Memang nampaknya sudah menjadi hukum alam bahwa perjuangan mencapai cita-cita  kebaikan   tidak   akan pernah sepi dari halangan dan godaan. Tepat sekali apa yang pernah diucapkan oleh Nabi saw., bahwa jalan menuju surga selalu dipenuhi dengan kesulitan dan ancaman, sementara jalan menuju ke neraka dihiasi dengan keindahan dan kenikmatan.

Buktinya, tatkala Jaka dan kelompoknya tengah berusaha mati-matian untuk mengamankan berlangsungnya pekerjaan di Jepara dalam rangka mempersiapkan armada yang tangguh guna memerangi angkatan laut Peringgi,  yang menurut berita   terakhir sudah mulai mengepung dan menggempur Samudera Pasai, sekelompok bajingan yang diperkuat  dengan beberapa pendekar hitam yang licik dan tinggi ilmunya sedang merencanakan usaha sabotase dan penghancuran terhadap armada Demak yang hakal dipimpin oleh putra Sultan, Pangeran Sabrang Lor. "Bagaimana usulmu, Saudara Liem?" tanya seorang laki-laki jangkung yang memimpin pertemuan di sebuah rumah yang terletak di Pecinan bandar Jepara itu.

Yang ditanya, bermata sipit dengan rambut berkuncir di kepalanya, menjelaskan, "Oweh sudah kasih tahu, heberapa peralatan yang diperlukan untuk memperbaiki kapal-kapal itu dipesan kepada misanan oweh, Liem Goan Phok."

"Maksudmu, yang akan dikirimkan nanti alat-alat  yang rapuh dan sudah  tua-tua?" tanya anggota rapat yang lain, seorang pria kekar dengan sepasang mata burung gagak.

"Sudah. Tidak mungkin. Sebab tukang-tukang yang ditugaskan mengerjakan perbaikan kapal-kapal itu tidak hanya ahli dalam bidang mereka, tetapi juga sangat setia kepada Sultan," jawab Liem, yang julukannya dikenal di kalangan para jagoan sebagai Liong Hitam dari Hainan. "Mereka tidak bisa ditipu, apalagi disuap. Mereka amat teliti."

“Jadi apa rencanamu, Saudara Liem?" tanya pemimpin rapat.

"Kuli-kuli yang membawa  barang-barang  pesanan itu saja yang kita ganti," jawab Babah Liem.

"Bagus. Aku setuju," sambut pemimpin rapat, si jangkung yang mukanya selalu bertopeng. "Bagaimana pendapat Saudara-Saudara yang lain?"

Ia mengarahkan pertanyaan  itu kepada  para peserta rapat yang terdiri atas berbagai golongan, sejumlah dua belas orang.

Dengan serempak mereka menjawab: "Setuju!” "Tapi bagaimana pendapat  misanmu itu? Apa ia bersedia menukar kuli- kulinya dengan menyerahkannya kepada kita?" tanya si jangkung.

"Itulah kesulitan oweh. misanan oweh itu orangnya jujur dan beragama Islam. Susah diajak kerja yang katanya kotor-kotor," sahut Babah Liem murung.

"Hahaha….. ," tiba-tiba pemimpin  rapat  tertawa gembira. "Babah Liem tidak perlu bingung. Soal itu gampang. Yang penting kita tahu kapan saat-saat pengirimannya ke kawasan pelabuhan, dan melalui jalan mana!"

"Apa maksudmu hendak menghabisi nyawa Liem Goan Phok?" tanya Babah Liem cemas. Betapapun jahatnya si Liong Hitam dari Hainan, tetapi rasa bersaudara masih dijunjung tinggi olehnya. Apalagi Liem Goan Phoklah yang mula-mula menolongnya ketika ia dikejar-kejar serdadu Demak akibat perbuatan cabulnya hendak memperkosa seorang gadis kampung. Untung perkosaan itu belum terjadi, hingga usaha Liem Goan Phok menyelamatkan nyawanya tidak begitu mengalami hambatan.

"Goblok kalau aku membunuh  saudara  misanmu itu. Dia malah harus  kita pelihara dan kita baik-baiki. Yang kita garap kuli-kulinya," jawab si jangkung.

"Syukurlah," ucap Babah Liem lega.

"Seperti kemarin malam, setelah selesai rapat ini, semua harus kembali ke pos masing-masing. Besok  kita berkumpul  pada jam yang sama, di pos dua   belas. Tugas Babah Liem yang harus dilaporkan besok malam adalah menyelidiki rencana pengiriman perlengkapan berikutnya, ucapan dan melalui  jalan  mana.  Dalam rapat besok supaya sudah bisa kita tentukan rencana yang matang untuk memulai gerakan ke dalam kawasan pelabuhan Jepara," ujar si jangkung menutup pertemuan malam itu.

Lalu, dengan gerakan yang cepat dan ahli mereka menyelinap keluar dari rumah itu, yakni rumah kosong di daerah Pecinan kepunyaan saudagar Liem Goan Phok, yang buat sementara waktu ditempati oleh saudara misannya, Liong Hitam dari Hainan, atau nama sehari- harinya Liem Hoat Nyan.

Paginya, kota Jepara telah hidup semenjak  matahari mulai berangkat naik. Pasar Jepara yang sibuk menandakan kehidupan masyarakatnya yang serba tercukupi kebutuhannya. Mereka tidak cuma mampu menjual, tetapi juga mampu membeli. Kesanggupan untuk berjual-beli itulah yang meramaikan kegiatan pasar.

Yang termasyhur dari kota Jepara adalah  barang- barang ukiran hasil keterampilan para ahli ukir setempat. Tidak dapat dimungkiri, keahlian penduduk pribumi dalam pekerjaan ukir-mengukir berasal dari negeri Cina yang diwariskan oleh Kiai Telingsing kepada para   santrinya. Dan Kiai Telingsing yang bijaksana serta taat beribadah itu adalah seorang babah muslim yang nama aslinya The Sun Ging. Jadi tidak terlalu mengherankan ialah di kota Jepara suasana kehidupan yang harmonis dan membaur antara penduduk asli dengan  para pendatang  dari negeri Cina sudah berlangsung demikian  akrab dan alamiah. Di Pecinan, misalnya, bisa ditemukan dalam berbagai kegiatan, betapa orang-orang bermata sipit dengan kulit tubuh yang berwarna pucat bekerja bahu- membahu dengan penduduk bermata bundar yang berkulit seperti buah sawo menjelang masak. Bau-bauan pun campur aduk antara keringat bawang putih yang kecut dengan bau jengkol dan petai busuk.

Jarak dari pasar ke pelabuhan sebetulnya tidak berapa jauh. Tetapi tidak seperti biasanya, hari-hari terakhir ini penjagaan untuk memasuki daerah pelabuhan diperketat hingga beberapa kali lipat.

Tidak ada yang lebih sibuk hari itu kecuali taoke  kaya Liem Goam Phok. Ia harus  menyediakan bahan-bahan yang diperlukan untuk menyelesaikan perbaikan sepuluh kapal yang akan segera berlayar menuju Malaka dan Samudera Pasai.

Untuk itu ia mengangkat beberapa tangan  kanan, dipimpin oleh saudara misannya yang   pandai   dan cekatan, Liem Hoat Nyan. Laki-laki setengah umur yang bahasa Jawanya masih  berantakan ini tampaknya memang biasa-biasa  saja. Namun dari matanya yang tajam dan pundaknya yang tegap, orang dapat mengukur kecerdasan dan kekuatannya. Itulah  yang membuat Babah Liem  Goan Phok ,sangat percaya  kepadanya dalam segala urusan.

Pagi itu ia dipanggil babah taoke di tengah kesibukannya melayani para langganan yang sedang menaksir barang- barang kelontongnya.

"Hoat Nyan, untuk mengantarkan papan-papan nanti malam, engkau harus pilih betul kuli-kuli yang dapat dipercaya. Jangan sampai ada orang jahat masuk. Kalau tidak, kita semua bakal celaka," ujar Babah Liem dengan keras.

"Koh Goan Phok tidak usah kuatir. Selama ini oweh kan tidak pernah salah?" sahut Hoat Nyan atau yang diam- diam di kalangan gerakan rahasia dikenal dengan julukan Liong Hitam dari Hainan.

"Kamu tahu, apa taruhannya jika kita kebobolan orang- orang jahat?"

Hoat Nyan segera menggeserkan jari   telunjuknya   ke leher, "Mati."

"Bukan hanya kita, tetapi seluruh keluarga  kita. Sebab yang akan diperbaiki adalah kapal-kapal perang dan menyangkut nasib Kerajaan Demak," lanjut Liem  Goan Phok. "Kita harus memahami, kalau sampai ada usaha busuk menjegal pekerjaan itu, jelas wibawa Kerajaan Demak akan hancur."

"Oweh paham, Koh. Jangan kuatir," sahut Hoat Nyan. Ia sebenarnya tengah dilanda kecemasan di hatinya.

Dari pembicaraan singkat itu bisa diketahui betapa hati- hatinya Babah Liem mengurus pesanan angkatan laut Demak tersebut. Itulah yang membuat pihak penguasa sangat mempercayainya, dan merasa tidak   perlu   untuk ikut campur memeriksa atau meneliti secara ketat, kecuali sekadar kewaspadaan rutin saja.

Dan hal ini pula yang sedang diperbincangkan oleh Kiai Dolah Pekih dengan Jaka Pratama beserta seluruh anak buahnya, yakni sesudah mereka dengan selamat dapat berkumpul di Desa Tirta Waringin, setelah melalui perjalanan malam yang menegangkan.

"Jadi, apa keberatan Romo Kiai?" tanya Jaka tentang ganjalan perasaan yang membebani  hati Kiai Dolah Pekih.

Sambil mengerutkan kening Kiai menjawab, "Barangkali karena terlalu dikejar oleh waktu dan kurangnya punggawa yang dibutuhkan, Pangeran Sabrang Lor tidak berapa hati-hati dalam menyelesaikan persiapan untuk pemberangkatan armadanya."

"Sembrono?" desak Jaka tidak sabar.

"Bukan, bukan sembrono. Hanya kurang cermat." "Misalnya?"

"Dalam memilih tenaga pekerja, termasuk kuli-kuli, beliau tidak memerintahkan untuk melakukan penelitian yang saksama, umpamanya asal-usul, latar belakang, dan riwayat maaa lalu mereka. Buat pekerjaan sepenting itu mestinya harus ditelusuri hingga kepada yang sekecilkecilnya.”  Jawab Kiai Dolah Pekih.

"Benar juga pendapat.”ucap Jaka menguatkan. la makin hormat terhadap kebijakan orang tua yang cermat itu.

“Jadi, apa yang harus kita lakukan?"

“Sebetulnya aku kuatir, kalau-kalau rencanaku dianggap terialu jauh melampaui wewenang tugas yang kita terima. Namun aku berpikir, sepanjang missi kita adalah menyelamatkan keberangkatan armada Demak agar tidak terkendala kelancarannya, maka betapapun kelak Pangeran Sabrang Lor menyalahkan kita, masih ada hak untuk membela diri buat kita."

Ttba-tiba Pandu, anggota termuda, menyela pembicaraan mereka, ''Kiai tidak usah ragu-ragu. Bagi kejayaan angkatan laut Demak menghadapit tentara kafir Peringgi, berkorban nyawa pun tidak sia-sia. Maksud saya, sampai pun misalnya nanti kita dituduh bersalah oleh Pangeran dan dijatuhi hukuman mati, saya rela, Kiai."

“Hahaha … ," sambut Kiai dengan tertawa menandakan kegembiraannya. "Yang kita butuhkan memang tekad semacam itu. Jadi kalian rela, sebagaimana yang diikrarkan oleh Pandu Nayarana?"

Semua serempak menyetujui ikrar itu. Nlereka berpendapat, apalah artinya tetap hidup apabila Kerajaan yang mereka khidmati runtuh kewibawaannya? Nyawa mereka sebagai pribadi-pribadi kawula Demak tidak akan ada maknanya tanpa didasari kebesaran Kerajaan yang mereka junjung.

"Kalau begitu, dengarkan rencanaku baik-baik, jangan sampai ada yang salah melakukannya. Setiap orang akan mendapat tugas yang cukup berat dan herhahaya. Tantangannya adalah nyawa kalian."

Lalu dengan bisik-bisik Kiai memhentangkan siasat yang telah dirancangnya. Semua mendengarkan dengan teliti dan mencatat yang kirakira perlu serta tidak mengundang risiko bahaya seandainya catatan itu jatuh ke tangan musuh.

Sesudah mereka memahami tugas   masing-masing, Kiai Ialu herpesan, "Kalian boleh memacu kuda  secepat mungkin untuk tiba di kampung Cuplak sebelum petang. Dari sana, sesudah pertemuan kita yang terakhir, kalian harus masuk ke Jepara dengan jalan kaki."

Berbareng saatnya tatkala mereka menjawab setuju, pada saat itu pula seseorang menyerbu masuk dengan menghamhurkan hau wangi, sementara seorang lainnya berjaga-jaga di luar.

Tentu saja semua yang berada di dalam ruangan itu terperanjat, mengingat tempat pertemuan itu sudah sangat dirahasiakan. Yang nampak tenang hanya Kiai Dolah Pekih. Hingga orang bisa curiga, bahwa kedatangan kedua penyerbu itu memang sudah diharapkannya, atau setidak-- tidaknya telah diketahui sebelumnya. "Kalian ternyata amat teledor. Andaikata yang masuk bukan saya, tidakkah kalian sudah tewas semuanya?" damprat si penyerbu, seorang gadis cantik berusia sekitar tujuh belas tahun. "Karena yang masuk engkau, maka engkaulah yang akan habis di sini," tiba-tiba Pandu menjawab, sebelum ada yang bisa mencegahnya. la sudah keburu merentangkan tangannya hendak meringkus gadis itu, sebab suara yang didengar dari gadis itu, bau yang menyebar dari gadis itu, mengingatkannya akan suara centil yang pernah mendampratnyakemarin malam dengan nada kurang ajar.

"Hem, agaknya engkau mau berkenalan dengan majikan cantikmu ini, ya," sahut si gadis seraya menghindar dengan sigap. "Ayo, kita bertempur di luar."

Tanpa menunggu jawaban lagi, gadis manis yang masih remaja itu segera melompat keluar. Ia tegak dengan sikap tempur yang kukuh, menandakan kemampuan berkelahinya yang memadai. Di sebelahnya juga berdiri dalam sikap yang sama seorang anak muda berusia sebaya.

Pandu, sebagai pemuda yang sedang panas-panasnya, tanpa meminta izin lagi, telah bersiap hendak melayang keluar ruangan, tetapi Kiai sudah bergerak mendahuluinya.

Di luar Kiai langsung menghardik, namun dengan suara bernada orang tua terhadap cucunya yang nakal, "Genduk ayu, kelakuanmu kok masih grabak-grubuk begitu. Kamu kira aku tidak tahu siapa engkau? Kita tengah  dikejar waktu. Jangan memperlarnbat urusan. Serahkan kepadaku surat itu."

Gadis itu mendadak kelabakan. Ia seperti pencuri tertangkap tangan. Waktu ia hampir kehilangan keseimbangan, Jaka muncul pula dari   dalam, menyusulnya.

"Maksud saya hanya ingin … ," ucap gadis itu terpotong di tengah. Karena Jaka sekonyong-konyong memutus kalimatnya dengan berkata: "Itulah sebabnya engkau tidak kuringkus tadi malam. Sebab aku tahu engkau tidak bermaksud buruk," ucap Jaka.

Kiai menoleh, memandangi Jaka. Orang tua itu berkata, "Jadi engkau pun mengetahui apa yang dilakukannya tadi malam?"

Pertanyaan ini lebih menunjukkan kekaguman Kiai akan kecerdasan dan kelihaian Jaka daripada sekedar keheranan. Gadis itu lebih-lebih  lagi. Ia tidak cuma kagum, melainkan tidak percaya, dan kini  bahkan memuja- muja Jaka, seolah-olah malaikat yang tahu segala-galanya.

"Engkau telah mempertaruhkan jiwamu untuk merebut surat itu dari tangan dua orang anak buah   Keris Bersilang, tadi malam, ketika burung merpati yang membawa surat itu menuju kemari dipanah oleh kedua orang itu. Engkau berhasil merebutnya setelah membunuh mereka dengan mengorbankan lengan kirimu yang ter- sabet pedang, dan pinggang kanan kawanmu itu yang keserempet tombak. Betul, bukan?"   ucap   Jaka selanjutnya.

"Oh, maafkan kebodohan saya yang menganggap Tuan- Tuan sebagai orang-orang teledor yang tidak tahu apa- apa," jawab gadis itu kian gelagapan,  dengan  wajah makin pucat karena rasa malunya. Namun toh ia senang, sebab ternyata kegegabahannya dipuji oleh orang yang dipujanya, Jaka Pratama.

"Inilah surat itu," sahut si gadis sembari mengeluarkan secarik kertas tergulung kecil kepada Kiai Dolah Pekih.

"Kau tahu, Genduk manis, surat inilah yang kami tunggu-tunggu," jawab Kiai gembira, membikin si gadis kian bangga dengan perbuatannya. Ia melirik tajam ke arah Pandu, tatkala anak muda itu mengawasinya dengan roman kecut di muka pintu.

"Ayo, kita masuk kembali," ujar Kiai seterusnya.  "Dan kau, Genduk, juga kawanmu itu, karena kalian berdua sudah banyak tahu urusan kami, kepalang basah, kalian kuterima jadi anggota kami."

"Kiai!" Pandu  memekik  kecil,  memprotes  keputusan Kiai. Ia kurang senang terhadap gadis itu.

"Sudahlah, nanti engkau akan  menyetujui  keputusanku ini, kalau sudah kuceritakan siapa dia dan kawannya itu, serta mengapa mereka kuangkat jadi anak buah kita," sahut Kiai dengan tegas.

Andaikata gadis itu diam saja, di belakang hari tak kan ada persoalan apa-apa dengan Pandu.

Tetapi dasar gadis centil, mendengar ucapan Kiai yang membelanya, ia mencibirkan bibir seraya mengejek Pandu, "He! Tak tahu malu. Huh!"

Akibatnya Pandu jadi tambah geram dan menyimpan dendam kepadanya. Untunglah pemuda itu bisa mengendalikan diri dan herjanji akan memperhitungkan dendam itu kelak, jika sudah ada kesempatan yang baik.

Sesampai di dalam, di depan seluruh anak buahnya, termasuk Jaka dan kedua pendatang tidak diundang tadi, Kiai berbicara dengan suara pelan namun menekan, menunjukkan betapa pentingnya perkara yang sedang dihadapi.

"Surat ini datang dari Jepara, dari agen kita yang bekerja sebagai mandor pada Babah Liem Goan Phok. Ada gerakan-gerakan mencurigakan dari saudara misan Babah Liem, yang bernama Liem Hoat Nyan." Kiai diam sebentar, membuat yang lain kian tegang. Agaknya ia sedang berpikir, apakah urusan itu perlu dibentangkan seluruhnya atau tidak. Sesudah ia   yakin akan pendiriannya, barulah ia melanjutkan :

"Gerakan macam mana yang  tengah  direncanakan, belum dapat tercium dengan jelas. Tapi sejak semalam, banyak orang asing yang mencurigakan berdatangan  ke kota Jepara. Padahal nanti malam ada pengiriman bahan-bahan perlengkapan yang amat penting untuk mempersiapkan sepuluh kapal yang tangguh guna mengimbangi kekuatan angkatan laut Peringgi di perairan Malaka dan Samudera Pasai. Jadi, yang harus kita jaga adalah   keselamatan   pengiriman   bahan-bahan perlengkapan tersebut."

"Hem,- Jaka menggumam. Ia tidak habis pikir, masih ada saja pengkhianat yang rela mengorbankan nasib bangsa dan negara hanya untuk kepentingan harta dan kedudukan.

"Siapakah kira-kira yang berdiri di belakang semua gerakan busuk ini?" tanya Pandu yang tidak kuat menahan gejolak perasaannya.

"Tidak usah Kiai yang menerangkan. Saya bisa menebak," potong si gadis menimbrung, membikin Pandu mendadak uring-uringan lagi. Biarpun tidak terucapkan secara lisan, tetapi kentara sekali dari wajahnya yang berubah asam.

"Aku tidak bertanya kepadarnu," potong Pandu

"Tapi aku bisa menjawab. Aku percaya,  tokoh   di belakang layar adalah Syeh Lemah Kobar. Dia juga yang membiayai gerombolan sakit hati Keris Bersilang," ucap si gadis tanpa dapat dibendung oleh kegeraman Pandu. Kiai tertawa geli memperhatikan ulah kedua remaja yang sebetulnya serasi untuk berjodoh, namun selalu hertabrakan dengan sengketa remeh-remeh.

"Dugaanrnu cukup beralasan, Genduk," ujar Kiai. Tanpa disadarinya, ucapan ini dianggap tidak bijaksana oleh Pandu, karena seakan-akan Kiai membela si gadis, padahal dia   orang   baru.   Pandu   malah   menganggap   Kiai   telah menyepelekan anggota lama, yakni dia sendiri.

"Apakah kalian tahu, siapa sebenarnya Liem Hoat Nyan?" tanya kiai kepada yang hadir.

"Yang jelas bukan adik kandung Babah Liem," jawab si gadis mendahului yang lain. Dengan genitnya ia kembali melirik ke arah Pandu, seperti menyatakan kelebihannya dibandingkan dengan anak muda itu. Pandu melengos dengan benci, dan si gadis tertawa mengikik.

"Betul. Tapi siapa dia sebenarnya?" tanya Kiai belum puas.

Jaka, yang dari tadi diam, menyahut, "Melihat gelagat dan sepak terjangnya selama ini, Liem  Hoat Nyan adalah Liong Hitam dari Hainan, yang kabarnya dulu pernah dikejar-kejar tentara Demak. Dan saya yakin, Babah Liem Goan Phok tidak tahu sama sekali bahwa saudara misannya itu adalah anak buah Wong Pamungkas."

Kiai Dolah Pekik membenarkan sinyalemen Jaka Pratama. Lalu ia berbisik-bisik mengadakan perundingan dengan Jaka. Ksatria muda itu tampak mengangguk-angguk dan menjawab pelan, “Saya rasa, rencana Kiai sangat tepat untuk menghadapi kelicikan mereka."

Rencana apa itu, tidak seorang pun mengetahuinya, kecuali Kiai dan Jaka Pratama. Agaknya hal itu dianggap sangat penting sehingga perlu dirahasiakan, termasuk terhadap para anak buah yang lain. Yang jelas, begitu selesai perundingan tersebut, Jaka Pratama kemudian keluar dari ruangan. Tidak beberapa lama sesudah itu terdengar bunyi kaki kuda dipacu dengan kencang dan melesat kian jauh.

Pada waktu semuanya memandang   kebingungan,   Kiai, lalu berkata kepada mereka, "Kita berangkat ke Desa Cuplak  satu per satu. Kita harus bersikap seolah-olah tidak saling mengenal satu sama lain. Seperti yang telah kuberitahukan, kita akan berkumpul di ... ,"

Belum lagi berakhir ucapan Kiai Dolah Pekih, si gadis centil yang membuat Pandu sebal itu menjawab,  "Di rumah  Mbah  Bungkuk,  juru  kunci makam keramat Sunan Sebolampar."

Kiai sangat terperanjat mendengar kelancangan si gadis yang dapat menebak dengan tepat. Karenanya dengan tergagap ia bertanya, "Kau tahu dari mana, Genduk?"

Gadis itu tersenyum lebar, "Makanya jangan meremehkan kaum wanita. Kami punya senjata ampuh untuk membuat bocor segala rahasia, yaitu dengan keramahan dan kelemahan kami."

"Jadi, siapa yang berhasil  kau rayu dengan kecantikanmu sampai engkau mengetahui rahasia ini?" tanya Kiai Dolah Pekih seraya memperhatikan semua yang berada di ruangan itu, seakan-akan  ia menyangka ada yang berkhianat. Padahal mereka sama sekali belum tahu apa-apa. Toh mereka terpaksa membuang   muka agar tidak bertatapan mata dengan Kiai Dolah Pekih.

"Yang penting, jangan kita lanjutkan rencana semula, bertemu di rumah Mbah Bungkuk," sahut si gadis tanpa mengindahkan kebimbangan yang lain. "Alasanmu, Nduk?"

"Pertemuan di tempat itu telah bocor kepada pihak musuh." "Dari mana kau tabu?"

"Tadi malam, dari salah satu anggota Keris Bersilang sebelum ia menghembuskan napas terakhirnya."

Semua orang mau tidak mau sangat kagum akan kecerdasan gadis yang penampilannya masih kekanak-kanakan itu. Termasuk Pandu, walaupun terpaksa. Tanpa terasa ia menggumam, "Astaghfirullah. Untung " Kali ini Pandu tidak

malu-malu untuk memuji si gadis dengan tatapan matanya yang tulus, dalam ramuan sikap yang tiba-tiha berubah serba canggung.

"Wah, susah juga akibatnya," keluh Kiai.

"Mengapa tidak engkau sampaikan hal ini sejak Ladi, sehelum Jaka berangkat? Padahal … ,"

Si gadis punya ulah kembali. la memotong dengan cepat ucapan Kiai yang belum selesai itu: "Saya tadi sempat menyisipkan surat ke dalam kantong pelana kudanya, yang berisi sama dengan yang saya sampaikan kepada Kiai."

"Meskipun begitu, aku perlu bertemu dengan Jaka Pratama sesudah yang kutugaskan kepadanya berhasil dilaksanakan," sahut Kiai masih kurang puas.

"Bagaimana kalau saya sarankan untuk berkumpul di rumah nenek saya, di dalam kota Jepani?" sahut si gadis.

"Bisa juga, di mana saja pun boleh. Tetapi, bagaimana cara memheritahukannya kepada Jaka?" ucap Kiai yang tetap tidak tenang. "Raden Jaka Pratama pasti akan ke sana, Kiai," sahut si gadis tanpa ragu-ragu. "Kauanggap dia tahu segala-galanya, termasuk yang berada di dalam benakmu?" tanya Kiai tanpa bermaksud memperoleh jawaban, sebab lebih cenderung bernada menggerutu.

"Bukan hegitu, Kiai," ujar si gadis membantah. "Jadi . . . ?"

"Karena saya juga menyertakan rencana tersebut dalam surat yang saya selipkan itu, lengkap dengan petanya," sahut si gadis melanjutkan penjelasannya.

"Oh, puji kersaning Allah," sahut Kiai dengan perasaan sangat lega dan makin kagum. Demikian pula yang lain-lain. Anehnya, tatkala si gadis menyaksikan betapa besar perubahan orang-orang itu dalam bersikap kepadanya, mendadak is jadi gernetar, takut tidak mampu memikul pujian tersebut. Perasaan ini membuatnya justru tidak berani lagi berlaku sembrono dan kurang ajar. Apalagi tatkala Kiai herkata:

"Biasanya aku paling benci kepada kelancangan dan sikap sok tahu. Tetapi kali ini aku amat berterima kasih terhadap kelancanganmu, meskipun untuk kesempatan lain aku tidak suka tindakan senacam itu," ujar Kyai ditujukan kepada si gadis. "Mengerti?"

Gadis itu mengangguk. Kemudian, tanpa diminta ia berkata, "Agar para kadang dan para paman di sini tidak was-was kepada saya, izinkanlah saya menerangkan apa yang sebetulnya Bakal dijelaskan oleh Romo Kiai Dolah Pekih. Saya bemama Putih Wewangi. Ayah saya lurah Desa Janur Kemukus. Romo Kiai adalah sahabat karib ayah saya. Teman saya ini bernama Akas Lelaras, putra lurah Desa Ambarsari. Orang tua kami berdua telah dibantai oleh gerombolan Keris Bersilang pimpinan Raka Jinangkar. Dan saya tahu, Keris Bersilang adalah begundal gerakan rahasia Wong Pamungkas. Jadi kami merasa wajib membantu Tuan-Tuan, kalau perlu dengan mengorbankan jiwa kami. Saya memang belum pernah bertemu muka dengan Kiai, tetapi ayah saya berpesan agar saya berusaha mencari dan ngenger kepada beliau."

"Nab, disitulah kelebihan kami, orang tua-tua. Meskipun engkau belum pernah bertemu denganku, aku sudah tahu dedek-jenger-mu, artinya sudah mengenal betul dirimu dengan segala sepak terjangmu," sambut Kiai makin ramah, dan nampaknya kian menyukai Putih. Akhirnya kesepakatan diperoleh pada saat itu, bahwa mereka akan berkumpul sore nanti sesudah Maghrib di rumah nenek Putih Wewangi yang terletak di tengah kota ukir Jepara. Perjalanan menuju sana sudah diatur sedemikian rupa agar tidak menimbulkan kecurigaan di pihak lawan. Sebab, kalau hanya sekadar memusnahkan komplotan pengkhianat itu, rasanya tidak ada masalah yang menyulitkan. Bukankah Kiai dan para anak buahnya mempunyai wewenang dari Senapati Demak untuk mengamankan pekerjaan menyiapkan armada itu?

Persoalannya adalah bahwa mereka harus bergerak diam- diam agar Pangeran Sabrang Lor dan segenap jajaran prajurit laut yang dipimpin-nya tidak mendengar ada kerihutan itu, supaya keberangkatan mereka tidak terganggu oleh keresahan dan ketidaktenangan. Lagipula, Kiai dan Jaka herikrar hendak memusnahkan komplotan tersebut langsung ke Kiang keladinya, yakni Wong Pamungkas. Karenanya Kiai dan Jaka berusaha mengadakan jebakan halus agar Wong Pamungkas tidak ragu-ragu untuk terjun sendiri dalam gerakan gelap yang direncanakannya tersebut.