-->

Ajal Sang Penyebar Maut Bab 05 : Kiai Dolah Pekih

Bab 05 : Kiai Dolah Pekih

Memang, jika manusia telah bergelimang dengan lumpur, ia pasti tidak akan mampu keluar dari kubangan itu tanpa berlumurkan lumpur, kecuali sesudah diguyur air pencuci. Begitu pula bila manusia telah bergaul dengan dosa. Maksiat yang satu akan mengantarkannya kepada maksiat yang lain, dan biasanya dengan porsi dosa yang lebih besar. Karena itu mereka yang bijak tentu tak kan berani mencoba-coba berkenalan dengan dosa, betapapun kecilnya, kalau tidak ingin terjerumus ke dalam lembah nista. Para wali telah mengajarkan kepada Jaka Pratama, bahwa perbuatan yang paling mulia untuk menjadi orang suci adalah jangan mendekatkan diri dengan dosa. Melakukan kebaikan boleh ditunda, tetapi menghindari dosa harus seketika itu dilaksanakan. Tidak ada "nanti" buat menolak maksiat. Yang ada "sekarang" juga. Itulah sebabnya dalam menyampaikan larangan-Nya melalui Kitab Suci Alquran, Tuhan berfirman: "Jangan kamu mendekati perzinaan," lantaran semua keburukan bermula dari dekat-dekat atau coba-coba. 

Sungguh bersyukur Jaka Pratama, sepanjang perjalanan hidupnya ia selalu berusaha untuk menjadi orang baik, walaupun barangkali belum jadi orang baik. Niat inilah yang membebaskan Jaka dari siksaan batin berupa buruk sangka, dengki atau iri hati. Tetapi niat ini pula yang sering kali membuatnya dengan mudah terjebak ke dalam perangkap musuh, karena ia sama sekali menolak untuk berburuk sangka kepada niat orang, betapapun kemungkinan busuk telah dibayangkan sebelumnya.

Namun sikap polos begitu bukan selalu merugikan. Kadang- kadang dengan kejujuran dan kebersihan hatinya itulah ia dapat menaklukkan kekasaran lawan. Bahkan tidak jarang, dari sifat itu ia dengan cepat memperoleh sahabat yang tulus dan akrab. Seperti yang kini dialaminya dengan Pandu Nayarana, putra Pandu Dewabrata almarhum. Kepada ayahnya Jaka begitu erat dan sejiwa, malah melebihi hubungan persaudaraan biasa, andaikata Jaka mempunyai Pik atau abang kandung. Kini, putranya yang baru menjelang genap tujuh belas tahun, tanpa disangka-sangka sudah mempercayai dirinya sebagai seorang paman. Sudah tentu anggapan ini melahirkan anggapan yang sama pada Jaka. Ia berjanji dengan sepenuh hati, akan mendidik dan menggembleng Pandu Nayarana sebagai kemenakan sendiri. Bahkan akan diperlakukannya sejajar dengan anak kandung, walaupun jika benar anak kandung, berarti ketika Pandu Nayarana dilahirkan, ia adalah seorang ayah yang berumur tujuh tahun. Selepas melewati malam kemarin yang tegang, Jaka dan Pandu melanjutkan perjalanan sesuai dengan petunjuk peta menuju ke utara. Sebentar malam, jam sembilan, mereka akan ditemui oleh rekan Santri Pitulas yang telah menolong mereka, di suatu desa kecil, Wonorejo, kurang lebih enam hari berkuda sebelum bandar pelabuhan Jepara. Yang sebenarnya, Pandu pun belum jelas, seperti apa orang yang menolongnya itu. Menurut keterangan dari peta yang dibawa Pandu, mereka harus menunggu di langgar Kiai Dolah Pekih, satu-satunya ulama yang tidak terpengaruh oleh ajaran klenik Syeh Lemah Abang di wilayah itu. Dalam shalat Isya, Jaka dan Pandu sempat menjalankan jamaah bersama lima orang makmum lainnya. Tiga orang putra kiai sendiri, yang dua orang adalah pendatang yafg barn tiba menjelang waktu Ashar tadi siang.

Selesai mengerjakan sembahyang bersama, seperti hari-hari sebelumnya, Kiai Dolah Pekih, meskipun kadang-kadang hanya didengarkan oleh ketiga putranya, selalu memberikan wejangan-wejangan tentang agama. Dalam santapan rohaninya kali ini kiai tua yang jalannya sudah harus ditopang tongkat itu menyampaikan keprihatinannya terhadap segala kekejaman yang kian meningkat.

"Manusia telah buta. Bukan matanya, melainkan hatinya. Oleh sebab itu hati mereka hanya tersisa sebagai gumpalan darah atau daging semata, seperti hati babi atau anjing. Hati manusia sudah kehilangan rasa iba, rasa ham, sebab hidup telandikerudungi dosa-dosa. Dosalah yang mematikan hati. Telinga pun jadi budek, tidak mampu mendengarkan ratap tangis dan jerit pilu janda-janda beranak banyak yang suaminya dibantai demi kekuasaan, demi pang-kat, demi kekayaan. Telinga mereka tidak lagi mempunyai kepekaan untuk meneruskan suara-suara Iolongan ketakutan kepada hati, karena telinga tidak sedikit pun bisa mendengar, semen- tara pintu hati telah tertutup rapat-rapat."

Jaka dan Pandu menunduk, membenarkan wejangan yang singkat namun berkesan itu. Begitu pula ketiga putra Kiai, mereka bahkan menangis pelan, dengan mata basah dan wajah merah. Yang aneh kedua pendatang baru itu. Mereka nampak sangat gelisah. Barangkali merasa tersentuh oleh ucapan Kiai yang bersumber dari salah satu ayat Surat Al Haji. Memang ayat ini pendek, tetapi lugas dan dalam pengertiannya. "Oleh sebab itu di dalam surat Al Hujarat kita diperingatkan agar jangan gegabah mempercayai berita yang dibawa oleh orang fasik, yakni orang yang selalu durhaka kepada hukum-hukum Tuhan. Kalau kepada Tuhan mereka berani berdusta, apalagi kepada manusia, bukan? Jika datang kabar-kabar burung atau desas-desus dari kaum fasik, hendaknya diyakini dulu benar-tidaknya, jangan tergesa-gesa mengambil ke-putusan atau tindakan. Karena dengan ke- putusan atau tindakan yang ceroboh engkau bakal mendatangkan kerugian dan bencana kepada orang-orang yang tidak berdosa. Kamu akan menyesal dan sesal itu tak kan ada guna-nya."

Jaka dan Pandu tambah menunduk. Ketiga putra Kiai kian terisak. Dan kedua pendatang makin gelisah.

"Tidak ingatkah kalian betapa Alquran mengatakan bahwa boleh jadi pada sesuatu yang kamu benci terdapat kebaikan bagi kamu, dan pada sesuatu yang kamu senangi malah ter- simpan keburukan yang mengancam kamu? Tidak percayakah kalian kepada firman Tuhan ini sehingga terus-menerus mengumbar permusuhan satu sama lain? Apakah kalian sampai hati memakan bangkai saudara sendiri? Tentu saja tidak. Tetapi mengapa kalian masih juga saling membenci dan mencaci-maki? Sungguh, jika tidak bertobat, kalian termasuk golongan yang rugi." Tatkala Kiai menutup wejangannya dengan kalimat-kalimat di atas, tiba-tiba kedua pendatang baru itu keluar dari langgar dan menghilang tanpa jejak. Kiai tersenyum, Jaka dan Pandu kebingungan. Ada apa sebenarnya?

Sesudah bersalam-salaman, Kiai Dolah Pekih mempersilakan Jaka dan Pandu singgah  di rumahnya yang sederhana, bersebelahan dengan langgar. Mereka diajak makan bersama oleh Kiai dan ketiga anaknya. Anehnya umur mereka hampir sama satu dengan lainnya.

Dalam berbincang-bincang setelah selesai makan, Jaka bertanya: "Apakah Kiai tidak menerima suatu pesan, tentang seseorang yang akan datang kemari, misalnya?"

Kiai meletakkan jari telunjuknya di depan bibir: "Sssst, mengapa kautanyakan orang yang akan  datang,  dan tidak orang yang sedang datang?"

Jaka tersentak. Ia kaget bercampur kagum akan ketinggian  ilmu Pangrungu Kiai Dolah Pekih. Ia sudah bisa menangkap suara langkah orang beberapa detik sebelum pendengaran Jaka menangkapnya.

"Ada apa, Paman?" tanya Pandu keheranan.

"Seseorang sedang mengendap-endap kemari," jawab Jaka.

Pandu jadi mengkerut. Ia merasa  seperti  bocah kecil yang tidak tahu apa-apa dibandingkan dengan kelihaian orang-orang kosen itu.

Tatkala Jaka mengindera bunyi gemerisik sosok itu melompat ke genteng, Kiai langsung berteriak dengan sopan :

"Silakan masuk melalui pintu depan. Kita tidak lucu lagi kalau setua ini main kucing-kucingan?” Yang berasa di genteng tidak menjawab. Ia malah melompat turun dan suaranya makin jauh ketika orang itu tergesa-gesa menghilang.

“Siapakah dia Kiai? Mengapa tiba-tiba melarikan diri?” tanya Jaka makin tidak mengerti, apalagi Pandu.

“Engkau menanyakan dia, apa engkau tidak lebih tertarik kepada bunyi tapak kaki tiga orang yang sedang melangkah kemari? Satu orang diantaranya berkaki pincang, yang satu lagi jangkung?”

“Apa?” Jaka terbeliak. Bunyi langkah itu kini baru tertangkap oleh aji Wasis Rungu Jaka. Tentang yang satu pincang, Jaka tidak heran karena suara langkahnya memang berat sebelah. Tetapi bagaimana menebak bahwa yang satu jangkung?

“Kau dengar bunyi langkah orang yang jangkung itu?” tanya Kiai itu seolah mengetahui apa  yang dikagumi oleh Jaka. “Selalu terlambat satu atau dua detik dibandingkan dengan yang lain.”

Jaka mengangguk cerah kepada Kiai Dolah Pakih. Ia mengucapkan terima kasih melalui anggukannya itu, sebab ia mendapat pengetahuan  baru untuk mengetahui apakah orang itu jangkung  atau  pendek dari langkah kakinya. Memang orang jangkung yang panjang adalah kakinya. Karena itu, pijakan kakinya pasti lebih lama jaraknya daripada yang pendek.

Pandu Nayarana dan ketiga putra Kiai cuma diam saja, tidak berusaha melibatkan diri dalam pembicaraan  antara Kiai dan Jaka, menyadari bahwa  ilmu  mereka  masih kalah jauh. Mereka tidak mendengar suara apa-apa kecuali desiran angin malam yang dingin.

"Nah, sekarang ada kejadian menarik. Coba jelaskan apa yang menurut pendapatmu, barangkali sama dengan pendapatku, sebagai kejadian yang menarik?" tanya Kiai Dolah Pekih kepada Jaka.

Pendekar muda itu mengerti bahwa Kiai  sedang menguji kemampuannya. Jaka menegakkan   daun kupingnya dan berusaha meningkatkan daya dengarnya.

"Dua orang asing tiba-tiba  melompat menghadang perjalanan ketiga orang tadi," jawab Jaka sedikit ragu-ragu.

"Betul," ujar Kiai membenarkan. "Lalu ...?"

"Mungkin mereka sedang sapa-menyapa atau berunding, karena tidak ada bunyi langkah yang ditapakkan, berarti mereka berdiri diam di tempat masing-masing."

"Cocok."

"Yang dua orang nampaknya lantas pergi menghindar dengan buru-buru. Sedang yang tiga orang melanjutkan perjalanan sambil berpencaran, saling berjauhan satu sama lain."

"Bagus," sambut Kiai gembira. "Engkau memang patut menjadi pendekar sejati."

"Mengapa mereka berjauh-jauhan, Kiai?" tanya Jaka mengalihkan diri dari pujian yang membuat wajahnya merah padam tadi.

"Sebentar lagi juga engkau akan memperoleh jawabannya," ucap Kiai tanpa mengacuhkan pertanyaan Jaka. "Bagaimana? Sudah bisa mengira-ngira?"

"Ya, Ya. Kini saya paham," ujar Jaka riang. "Rupanya barusan mereka diberi tahu ada  musuh yang menghadang di tengah jalan. Yang dikuatirkan itu ternyata memang benar."

"Maksudmu?" tanya Kiai. "Musuh itu sudah menghalang-halangi ketiga orang tersebut."

"Berapa jumlahnya?"

"Yang maju ke depan baru satu orang," sahut Jaka.

"Itulah yang tadi hendak mengintip dari genteng. Adapun kedua orang yang kaukatakan berunding dengan mereka, adalah dua pendatang yang beberapa waktu berselang ikut bersembahyang Isya bersama kita."

Pandu Nayarana kian kagum kepada paman angkatnya. Demikian pula ketiga orang putra Kiai Dolah Pekih. Umur ksatria yang sudah mereka kenal julukannya itu, Santri Putih Bertangan Besi, tidak terpaut jauh dari usia mereka,  namun  kepandaiannya  hampir berimbang dengan ayah mereka. Hebat!

"Apa lagi yang kaudengar?" tanya Kiai tidak sabar.

"Tidakkah kita perlu menolong ketiga orang itu, Kiai?" tanya Jaka dengan cemas.

"Mengapa?"

"Sebab, di samping seorang musuh yang maju berterang- terang, saya mendengar ada empat orang lainnya yang sekarang mengepung dari segala jurusan."

"Betul dugaanmu. Tapi engkau tak perlu kuatir. Tinggal beberapa detik lagi sudah pukul sembilan, bukan? Nah, pada saat itu mereka bertiga akan memperoleh bantuan dari seorang pendekar yang cukup tangguh."

Namun Jaka tidak bisa menghibur diri untuk tidak merasa waswas. Dari bunyi pertempuran yang kini mulai berkecamuk, jelas sekali betapa ketiga orang itu berada di bawah angin. Mereka sangat kerepotan menghadapi serbuan gencar yang menyambar-nyambar dari semua arah oleh kelima lawarinya.

Orang yang pincang rupanya dikepung oleh dua orang, begitu juga yang jangkung. Agaknya hanya si   pendek yang bertempur satu lawan satu dengan penyelusup yang belum lama tadi   bermaksud   menguping   pembicaraan Jaka dan Kiai Dolah Pekih dari genteng.

Tetapi persis apa yang diperkirakan oleh Kiai Dolah Pekih, beberapa saat menjelang  pukul sembilan  tepat, terdengar bunyi telapak kaki kuda menjejak bumi bagaikan sembrani sedang melesat dengan cepatnya. Begitu mendekati arena pertempuran, si pengendara kuda melompat dari tunggangannya, dan langsung terjun ke dalam kancah pertarungan. Kehadirannya membangkitkan semangat juang ketiga orang yang hampir terdesak hebat itu, sehingga dalam beberapa gebrakan mereka telah lolos dari posisi terjepit.

Jaka sangat gembira. Apalagi ketika kemudian ia mendengar dari kacaunya pijakan-pijakan kaki yang tertangkap oleh aji Wasis Rungunya, bahwa kelima orang penghadang tadi tergesa-gesa menyelamatkan diri, Jaka sungguh amat lega. Mereka telah hertempur dengan dahsyat, namun penghabisannya tidak seorang pun yang tewas. Meskipun Jaka tidak dapat membayangkan, bagaimana seandainya keadaan terjadi kebalikannya, bila kelima penjahat tersebut yang memegang kartu di atas meja. Mungkin, jika kedatangan si penunggang kuda terlambat beberapa menit saja, sudah akan jatuh korban yang gugur di pihak ketiga orang yang dihadang itu.

Karena situasi sudah terdengar tenang, Jaka bermaksud menanyakan, siapakah orang-orang itu, baik yang dihadang maupun yang menghadang, dan juga siapakah pengendara kuda yang ilmunya cukup tinggi itu.

"Sebentar lagi kalian akan mengetahui persoalannya. Tunggu saja, mereka mulai berjalan kemari," ujar Kiai memotong rasa ingin tahu Jaka.

Mereka tidak perlu lama-lama menunggu. Sebab keempat orang tersebut kini telah berdiri di ambang pintu.

"Ayo, masuk, tidak usah segan-segan," ujar Dolah Pekih dari tempatnya duduk.

Yang muncul mula-mula adalah si penunggang kuda yang cekatan itu. Pandu segera menandainya sebagai agen Santri Pitulas yang juga menjadi anggota Keris Bersilang, selain agen yang satu yang telah   menolongnya   dan sering dihubunginya, tetapi belum cukup jelas dikenalnya. Yaitu yang menjadi anggota Ki Lurah Brajanala.

Ketika sesudah itu tiga orang lainnya masuk ke dalam rumah Kiai Dolah Pekih, Pandu dan Jaka terbelalak heran. Bukankah mereka si penjual cendol, si pedagang jagung, dan si penjaja bajigur?  Bukankah mereka sudah terbunuh? Pandu sampai mengucak-ngucak   matanya, curiga kalau-kalau pandangannya sudah tidak wara.s

Namun tidak. Mereka memang ketiga agen di Desa Bagus Kuning yang telah dibantainya satu demi satu. Oh, Gusti, mengapa begini kesudahannya?

"Hahaha …… , kalian heran?" tanya Kiai Dolah Pekih sembari tertawa geli menyaksikan keheranan Jaka dan Pandu. "Baiklah, dengarkan dengan saksama, akan kuberikan penjelasan seperlunya." Keempat  orang  yang haru datang tadi   dipersilakan makan malam dulu, sementara Kiai Dolah Pekih mulai mengutarakan penuturannya.

"Beberapa hari sebelum engkau memasuki Desa Bagus Kuning, telah terjadi perebutan kekuasaan di situ dengan terbunuhnya Ki Lurah Brajanala dan anaknya. Yang berdiri dibelakang kerusuhan itu adalah seorang pendektir tua yang menyamar sebagai Syeh Lemah Kobar.

nya     dia     adalah      Wong      Pamungkas      yang ucap Kiai ditujukan kepada Jaka Pratama.

Jaka menggeram, "Hem. "Hatinya mengutuk. Kapan ia akan dapat menghabisi biang kerok penyebar maut itu?

"Setelah itu ia rupanya dapat mencium mata rantai gerakan rahasia kita, walaupun tidak seluruihnya. la telah banyak melakukan kekeliruan yang sangat merugikan dirinya dengan mengandalkan surat yang dicurinya dari kamu. Karena nama-nama yang harus dicurigai dan dihuhungi bercampur aduk jadi satu. Maka bila tidak memegang surat yang lain, yang kausimpan dan berisi kode-kode tertentu untuk menandai mana kawan mana lawan, pastilah akan mengalami  kesulitan  dan kekacauan. Hanya kebetulan, ia menemukan identitas ketiga agen itu pada surat tersebut, dan sekali itu tebakannya tepat. Karenanya ia menyuruh   beberapa tangan kanannya untuk menculik penjual cendol, pedagang jagung, dan penjaja bajigur, yaitu mereka yang sedang makan bersama itu."

"Maksud Kiai, yang saya bunuh di Bagus Kuning bukan agen-agen yang asli?" tanya Pandu agak lega.

"Betul," jawab Kiai.

"Saya, kok, belum paham, Kiai," sela Jaka. Mereka tadinya diculik oleh para tangan kanan Wong Pamungkas," ujar Kiai Dolah Pekih.

"Lalu?" tanya Jaka jadi tidak sabar.

"Karena Wong Pamungkas ragu-ragu, mereka tidak dibunuh, hanya disembunyikan dalam kerangkeng dengan penjagaan ketat oleh anak buah Keris Bersilang. Tempat ketiga agen yang diculik itu digantikan oleh orang-orang Wong Pamungkas yang agak mirip atau dirias sedemikian rupa agar memper dengan aslinya. Bukankah Wong Pamungkas sangat ahli dalam masalah itu?"

Jaka mengangguk. Ia teringat bagaimana Wong Pamungkas begitu banyak menmbulkan malapetaka dengan kepandaiannya menyamar jadi orang lain.

"Hal ini dapat kami ketahui. Maka kami atur agar hari itu gerombolan Keris Bersilang bepergian semua dengan cara memancing mereka melalui berita yang didesas-desuskan oleh Atma Sanjaya, agen Santri Pitulas yang sedang makan itu, bahwa musuh sedang mengamuk di Desa Ambarsari. Nah, sementara Atma Sanjaya melakukan penipuannya, agen lain memerintahkan kepada Pandu Nayarana   supaya membunuh ketiga agen palsu itu tiap kali engkau hendak melakukan kontak dengan mereka. Sesudah itu Atma Sanjaya cepat-cepat kembali untuk membebaskan ketiga agen kita tersebut."

Jaka dan Pandu kini baru merasa puas sesudah mendengar cerita yang sebenarnya. Biar tuntas sekalian, Jaka pun menanyakan tentang dua pendatang yang buru-buru pergi tadi sore, serta seorang lainnya yang nekat menyatroni rumah Kiai Dolah Pekih lewat genteng beberapa  saat yang lalu. "Oh. Iya," jawab Kiai. "Dua pendatang yang ikut  jamaah tadi adalah santi-santri  pengikut  Syeh  Lemah  Abang dari aliran yang  tidak  menyeleweng terhadap syariat Islam. Jumlah mereka tidak banyak, sehingga terpaksa terbawa-babawa ke dalam pengaruh para pemberontak yang jumlahnya lebih besar dan kebanyakan merupakan penganut aliran klenik yang sesat. Dengan saya membacakan dan terangkan ayat-ayat Alquran, rupanya mereka insyaf akan kesalahannya, sehingga mereka menunggu kehadiran ketiga agen kita itu untuk memberi tahu bahwa mereka akan dicegat oleh serombongan kawan-kawan kedua pendatang tersebut, yang dipimpin oleh orang yang mencoba menguping Dembicaraan kita dari genteng tadi," ujar Kiai menutup penjelasannya.

Selesai makan bersama, keempat orang yang baru tiba itu lantas menggabungkan diri dalam pembicaraan  dengan Kiai, Jaka, dan Pandu. Ketiga orang itu dengan bangga mengisahkan riwayat pembebasan   mereka   dari kerangkeng gerombolan Keris Bersilang   atas   bantuan Atma Sanjaya, dan bagaimana Raka Jinangkar seperti kebakaran jenggot sesudah menyadari mereka   telah dikibuli mentah-mentah.

"Kami bertiga mempunyai nama yang hampir mirip. Ilarjo, Ilarno, dan Hargo," ucap ketiga orang penjual cendol, pedagang jagung, dan penjaja hajigur itu. "Kami bertiga memang Penduduk asli Desa Bagus Kuning. Tapi kebetul- an kami tidak mempunyai tanggungan keluarga atau saudara, termasuk famili yang jauh sekalipun. Itulah sebabnya kami nekat bersedia menjadi penghubung kekuasaan Demak, dan tidak terpengaruh untuk mengikuti aliran klenik dari sebagian besar penganut paham Syeh Lemah Abang, atau yang dikenal dengan sebutan kaum 'abangan', diambil dari nama suci pepunden kami, Syeh Lemah Abang."

"Maaf," ujar Jaka ditujukan kepada Kiai Dolah Pekih. "Bolehkah saya bertanya tentang sesuatu yang mungkin dapat .menyinggung perasaan Kiai?"

"Silahkan," sahut Kiai.

"Di manakah kedudukan Kiai dalam gerakan rahasia ini?'' lanjut Jaka menahan rasa malu.

"Nah, ini   yang sebetulnya hendak aku jelaskan," sahut Kiai seraya tertawa. "Seperti kalian ketahui, Wonorejo ini jaraknya hanya enam hari berkuda dari Jepara. Dan desa ini adalah desa pertama yang tidak condong kepada pemberontak, walaupun masih berada dalam kawasan pengaruh Pajang, sesudah beberapa desa di atasnya semua mendukung usaha pembangkangan.  Aku mendapat tugas langsung dari senapati Demak, Sunan Kalijaga untuk mengatur rencana pembasmian pemberontakan,  terutama  agar pekerjaan serta persiapan di Jepara tidak terganggu oleh sabotase kaum penjegal. mengingat dalam   beberapa   waktu mendatang sebuah armada laut akan dikirimkan untuk memerangi kaum Peringgi dari Portugis yang mengancam keselamatan Tanah Melayu dan Samudera Pasai. Armada itu akan dikepalai oleh putra Sultan sendiri, Laksamana Dipati Unus yang bergelar Pangeran Sabrang Lor”

Tengah mereka dengan tekun mendengarkan penjelasan Kiai Dolah Pekih, tiba-tiba kedengaran  seekor kuda dipacu mendekat. Berdasarkan kebiasaan, Jaka sudah hendak melompat keluar untuk melakukan penjagan seperlunya. Tetapi Dolan Pekih mencegah.  Yang lain- lain bengong saja karena belum mendengar apa-apa. "Tenanglah. Dia bukan lawan kita." kata Kiai. Beberapa saat kemudian barulah Sanjaya mendengar bunyi kuda dipacu.

"Dari mana Kiai tahu  hahwa  penunggang  kuda  itu bukan musuh?- tanya Atma Sanjaya yang  sama herannya seperti Pandu Nayarana serta lain-lainnya, sesudah mereka mendengar derap kuda itu.

Kiai menjawab seraya tersenyum,  "Dalam  kesaktian, kalian harangkali lebih tinggi dari aku. Dalam kesigapan, aku tak kan mampu mengimbangi Jaka Pratama. Tetapi pengalaman dan ketenangan berada di pihakku. Begitu pula penglihatan dan pendengaran. Sebab melihat itu tidak saja dengan mata kasar, tetapi harus  diimbangi dengan mata batin. Demikian pula halnya dengan daya dengar. Kepekaan melacak bunyi dan membeda- bedakannya harus didukung oleh ketajaman  rasa, karsa, dan kejujuran."

Jaka dan Pandu saling herpandangan, pertanda bahwa mereka merasa telah memperoleh pengetahuan dan gemblengan baru yang pasti akan sangat berguna.

Sesudah diam sebentar, Kiai melanjutkan, "Jaka, bagaimana kesanmu terhadap derap kuda itu? Ragu-ragu atau lempang dan langsung?

Jaka tidak perlu berpikir sebab ia sudah sempat mengamati bunyi tapak-tapak kuda tersebut. Ia menjawab pasti, "Sepanjang pendengaran saya, ia langsung kemari tanpa bimbang atau membelak-belok."

"Itulah yang menunjukkan  bahwa ia bukan  musuh.  Ia kan sendirian. Kalau musuh tentu akan turun dari kudanya, dan datang mengendap-endap kemari. Semua yang hadir baru bisa memahami apa yang dimaksudkan oleh Kiai Dolah Pekih. Mereka memuji ketajaman prarasa Kiai dalam hati masing-masing.

Dan pada waktu akhirnya penunggang kuda itu dipersilakan masuk, Atma Sanjaya menyambut hangat :

“Dimas Praja," teriaknya gembira. "Pandu, inilah anggota Santri Pitulas yang kaubilang   belum kaukenal  rupanya tapi sudah berulang kali berhubungan dengannya."

"Jadi, Kangmas yang lebih dulu bergabung dengan  Ki Lurah Brajanala sebelum saya datang?" tanya Pandu menegaskan.

"Betul, Dik Pandu," jawab santri itu. Nama lengkapnya Praja Karana. Ia termasuk anggota Santri Pitulas termuda, namun tugasnya cukup berat.

Jaka Pratama, meskipun dialah dulu yang memimpin pasukan Santri Pitulas yang kini telah berkembang pesat dan makin tersohor  namanya, karena sudah dua tahun lebih terpisah hubungan dengan Glagah Wangi, rasanya sangat ketinggalan jauh sehingga banyak yang tidak dikenalnya sebah mereka anggota-anggota baru, dan banyak pula yang tidak mengenalnya kecuali julukannya yang harum, Santri Putih Bertangan Besi.

"Baiklah, karena semua yang ditunggu sudah datang, kita mulai saja memhicarakan tugastugas yang harus kalian laksanakan," ujar Kiai Dolah Pekih memotong tatakrama mereka, mengingat waktu sangat terbatas.

Setelah semuanya mengambil tempat di tikar mengelilingi Kiai Dulah Pekih, barulah orang tua ya ng  s ud ah  t i da k b er i st er i s e me n ja k e mp a t t ah un lalu. karena meninggal dunia itu mengungkapkan pengarahannya : Tugas saya menghimpun dan memimpin kalian cukup sampai di sini. Karena untuk selanjutnya semua wewenang itu akan kulimpahkan kepada yang lebih muda sesuai dengan petunjuk dari pusat, yaitu kepada Ananda Jaka Pratama alias Santri Putih Bertangan Besi."

Demi mendengar ucapan tersebut Jaka mengangkat kepalanya, sementara yang lain kelihatan berwajah cerah menandakan bahwa mereka puas bakal dipimpin  oleh tenaga muda yang berpengalaman, apalagi pernah menjabat ketua pasukan Santri Pitulas pada masa bujangannya dulu.

"Kepada Jaka Pratama aku menitipkan ketiga   anakku yang lahir kembar ini, karena mereka juga termasuk anggota yang harus   kaumanfaatkan   tenaganya. Sedangkan aku akan mengawasi dari jauh, dan pasti akan membantumu sewaktu-waktu. Yang jelas, tempat ini mesti segera kita tinggalkan, sebab kurasa sudah tidak aman lagi. Bukan kita takut, melainkan demi menjaga kerahasiaan dan keberhasilan tugas kita."

"Boleh saya bertanya, Kiai?" tanya Jaka memotong. "Silakan."

"Sebenarnya tugas apa yang harus saya laksanakan?"

Kiai tidak menjawab. Ia mengambil secarik kertas dari kantung bajunya. "Tugas itu tercantum jelas dalam kertas ini," katanya seraya menyerahkannya kepada Jaka.

"Ingat, Jaka," ujar Kiai seterusnya. "Masih ada beberapa orang lagi anak buahmu yang akan bergabung belakangan. Semua tercantum namanya  di kertas  itu, dan anggaplah catatan  pada kertas yang berhasil dirampas oleh para penjahat dari tanganmu beberapa waktu yang lalu sebagai tidak ada lagi, karena memang rencana telah kita rombak kembali sehubungan dengan terjadinya musibah itu. Pada catatan  yang  baru  ini, selain kaudapati sejumlah nama para anggota dan calon-calon  anak buahmu lengkap   dengan   perincian tugas masing-masing sepanjang keadaan memungkinkan, juga bisa kaujumpai ciri-ciri khusus pada mereka untuk kamu cocokkan kebenarannya."

"Terima kasih, Kiai," sahut Jaka terharu. Ia tidak hanya bangga diserahi kepercayaan memimpin tugas suci ini, namun juga sangat berterima kasih terhadap para  wali yang masih menganggapnya sebagai orang sendiri.

"Nah, berangkatlah malam ini juga. Sekitar dua jam berjalan dari sini, ada belokan sungai pertama   yang kalian jumpai, telah kusediakan enam ekor kuda untuk Harjo, Harno, dan Hargo, serta buat ketiga anakku, Kembar Ula, Kemb.ar Wusta dan Kembar Sugra. Jalanlah berpencar, paling banyak bertiga atau berdua-dua. Besok subuh aku masih akan menemuimu di sebuah surau terbengkalai yang terletak satu jam berkuda sebelum memasuki Desa Tirto Waringin. Aku menunggu kalian disana sebagai batu ujian terakhir, apakah kalian dapat mengemban tugas berat in: atau tidak."

Sesudah menyampaikan   pesan-pesan   tersebut,   Kiai Dolah Pekih segera berpamitan untuk berangkat Iebih dulu. Dengan ketiga putra kembarnya ia berpelukan lama, karena baru malam inilah ayah dan anak saling berpisah.

Mata ketiga kembar masih merah dan basah tatkala Kiai Dolah Pekih sudah tidak  nampak  lagi  bayangannya. Jaka kemudian mengambil alih pimpinan dan berkata :

"Yang jalan kaki bertolak di depan. Saya rasa Paman Harjo, Harno, dan Hargo lebih baik berangkat bertiga, disusul oleh Dinda Kembar, juga bertiga dengan selang waktu lima menit, agar dapat saling melindungi dan berhubungan setiap saat. Setelah  seperempat  jam, silakan Dimas Atma Sanjaya dan Praja Karana berangkat dengan naik kuda. Diperkirakan dalam satu jam dapat menyusul yang. telah berangkat lebih dulu dengan jalan kaki, sehingga setengah jam kemudian sudah tiba di belokan sungai yang kita tuju  sebelum  para  pejalan kaki sampai di sana. Sedangkan  saya  dan  Nanda Pandu Nayarana akan menyusul setengah jam setelah Dimas Atma dan Praja berangkat, untuk menjaga agar kami dapat mengawasi di bagian belakang. Insya Allah akan saya usahakan agar kami tiba di belokan sungai itu tepat pada waktunya."

Semua yang mendengarkan petunjuk ini mengangguk- angguk kagum terhadap kerapian dan kecermatan Jaka Pratama di, dalam mengatur rencana keberangkatan mereka. Apabila tidak ada halangan berarti, pasti ketepatan waktunya terjaga dan keselamatan mereka terjamin. Karena itu, ketika kemudian berturut- turut mereka melaksanakan giliran masing-masing, tersembul keyakinan yang kukuh akan keberhasilan gerakan mereka, yaitu melindungi keamanan bandar   Jepara   dari rongrongan kaum separatis yang hendak menggagalkan missi angkatan laut Demak untuk menghadapi armada Peringgi , di samping melacak dan menghancurkan biang keladi penyebar pembangkangan.

Setelah semuanya berangkat seperti yang direncanakan, Jaka segera menggamit tangan Pandu muda, dan mengajaknya menaiki kuda mereka sebelum saat yang ditetapkan tiba. Ketika Pandu memandang heran, seolah mempertanyakan mengapa Jaka melakukan hal yang seperti itu, padahal ia sendiri yang telah mengatur pembagian waktunya, ksatria   itu   menjawab   dengan isyarat

"Ssst, ada yang akan kuperlihatkan kepadamu."

Tanpa banyak bertanya lagi Pandu lalu melompat ke punggung kudanya setelah Jaka duduk di atas Karbala. Yang aneh, Jaka bukannya  memacu Karbala dengan cepat, melainkan membawanya berputar-putar mengitari danau kecil di ujung jalan.

Sekali putaran, Jaka tiba-tiba menghentikan kudanya sampai Pandu  terkejut  dan hampir  menerjang kuda Jaka. Sebelum Pandu mengerti apa tujuannya, Jaka sekonyong-konyong   menggebah   Karbala   dan memacunya dengan kencang selama beberapa menit. Setelah itu ia berhenti   mendadak.   Pandu,   walaupun masih tetap kebingungan, namun dengan  patuh dan cekatan menuruti apa yang dikerjakan pemimpinnya itu. Sampai ia tak tahan lagi dan bertanya bingung:

“Sedang apa-apaan Paman Jaka ini?” ucap Pandu mendongkol.

"Ssst, tenang saja. Sebentar lagi engkau juga akan tahu sendiri," sahut Jaka masih dengan gayanya yang kalem.

"Apa kita tidak harus menyusul buru-buru?” bantah Pandu tidak puas.

“Masih tersedia waktu untuk melihat tontonan yang bagus,” jawab Jaka seenaknya.

“Tontonan apa?"

"Kita akan menonton orang yang sedang menonton kita. Ada dua orang," sahut Jaka dengan suara rendah namun bernada nyaring, maksudnya supaya bagi yang dekat terdengar biasa, tetapi buat orang jauh tertangkap nyata. Mendadak Pandu terperanjat tatkala ia hendak menanyakan masalah itu lebih lanjut kepada Jaka, karena terdengar suara ketus menyahut dari suatu tempat yang cukup jauh:

"Tidak perlu kalian tonton. Kami bukan barang tontonan."

Suara itu membuat Jaka pucat pasi, padahal tadinya ia kelihatan berseri-seri, malah hendak tertawa terbahak- bahak. Mengapa begitu ganjil sikap Jaka?

"Kurang ajar," gumam Jaka dalam hati. Ternyata putri lurah Janur Kemukus."

Gumam Jaka tersebut kian mengeras pada saat penciumannya mengendus bau wangi kembang melati yang menusuk hidung. Pandu baru sadar dan bertanya :

"Bau hunga melati? Sedap betul. Kembang  dari mana yang begini harum?"

"Jangan omong semaumu,  bocah  cilik.  Kukemplang nanti kepalamu," bukan Jaka yang menjawab pertanyaan Pandu, melainkan suara tadi yang naik pitam, suara seorang gadis.

Pandu masih muda. Jadi ia cepat marah : "Sayang, kedengarannya engkau seorang gadis."

"Kalau aku lelaki mau apa? Aku lebih  suka jadi perempuan, tahu?" suara itu menjawab lagi.

"Sudahlah, kita sudah kepergok, lebih baik pergi saja," seseorang lainnya kedengaran mencegah. Kini suara seorang pemuda, yang begitu pelannya sehingga Pandu tidak mendengarnya. Hanya dengan kepekaan aji Wasis Rungu saja Jaka dapat menangkap suara yang lembut dan sabar itu. Agaknya si gadis tidak berusaha menolak.  Namun, sebelum berlalu dari tempat itu, ia berteriak nyaring :

"Hai, anak muda, jangan merasa diri tampan, ya. Aku kemari bukan tertarik kepadamu. Aku hanya  mau membantu pekerjaan Santri Putih Bertangan Besi, dan bukan membantu kamu. "

Lalu sesaat berikutnya, kedengaran suara dua ekor kuda (dilarikan menjauh dengan meninggalkan dentaman kaki- kakinya di hati Jaka sampai ksatria muda itu berdebar- debar memikirkan sepak terjang gadis itu, yang pernah ditolongnya di Bagus Kuning, namun ia belum tahu apa tujuan gadis itu yang sebenarnya.

"Siapa mereka, Paman?" tanya Pandu kian heran.

Jaka juga sama tidak mengertinya. Ia cuma menyahut, "Yang jelas belum berbuat buruk kepada kita."

"Jika mereka merencanakan jebakan?"

"Kita sanggup menghadapinya," jawab Jaka tenang.

"Kalau mereka banyak teman?" tanya Pandu mendesak. Ia betul-betul kuatir, jangan-jangan kedua orang itu mempunyai beberapa kawan yang jahat. Bila benar, bukankah tugas mereka bakal   menghadapi   hambatan yang amat berbahaya?

Kembali Jaka memperlihatkan ketenangannya. Ia malah bertanya pelan:

"Pandu memperhatikan langit yang makin terang?"

"Ya. Udara cerah, sehingga langit tambah bersih," jawab Pandu.

"Apa ada margasatwa tergebah dan burung-burung beterbangan terkejut?" "Saya lihat tidak ada, dari tadi," jawab Pandu masih belum paham.

"Artinya tidak ada yang membuat mereka ketakutan. Dan itu bisa diterjemahkan bahwa mereka memang hanya berkuda, berdua saja, tidak disertai sejumlah anak buah atau orang-orangnya," sahut Jaka menjelaskan keterangannya.

Pandu kini tahu maksud paman angkatnya itu. Dan ia berterima kasih telah memperoleh pengetahuan baru.

Terbukti kemudian perhitungan Jaka tidak meleset. Tepat pada waktunya, Jaka dan Pandu telah berkumpul dengan para anggota yang lain di belokan sungai yang dijanjikan.

Kedelapan orang yang sudah tiba lebih dahulu telah menunggu kedatangan Jaka dan Pandu dengan hati berdebar-debar. Mereka tidak sempat bertanya-tanya tentang perjalanan masing-masing, karena Jaka langsung membagi tugas:

"Kita ditunggu Kiai di Desa Tirto Waringin  pada waktu Shubuh besok. Berarti kesempatan untuk   berleha-leha tidak ada sama sekali. Kita harus bergerak buru-buru. Saya berpendapat, kalau Dimas Kembar bertiga mengetahui jalan yang lebih singkat ke sana, sebaiknya rombongan ini kita bagi menjadi tiga kelompok. Masing- masing dipimpin   oleh   seorang   Kembar.   Bagaimana pikiran Dimas sekalian?"

Kembar Ula yang segera menjawab, mewakili kedua saudaranya :

"Barangkali begitulah yang diinginkan romo kami. Sebab jalan yang biasa ditempuh orang umum memakan waktu lama, hingga siang besok baru tiba di tempat tujuan. Sedangkan sebetulnya ada tiga jurusan jalan pintas yang mungkin hanya kami sekeluarga yang mengetahuinya."

Sungguh aneh dan menakjubkan firasat yang dipunyai Jaka Pratama, seolah-olah ia sudah tahu bahwa perjalanan ke Desa Tirto Waringin dapat  ditempuh dengan empat macam jalan, yang satu jalan biasa, sedangkan ketiga lainnya merupakan jalan pintas.  Boleh jadi keputusan yang diambil Jaka ini adalah yang dimaksudkan sebagai batu ujian oleh Kiai Dolah Pekih. Andaikata masih banyak lagi ujian berikutnya, berarti Jaka telah lulus melewati ujian permulaan.

Oleh Jaka, rombongan itu diatur menjadi kelompok pertama, dipimpin oleh  Kembar  yang bernama Ula, terdiri atas Harjo dan Atma Sanjaya. Rombongan kedua beranggotakan Kembar yang bernama Wusta, Harno, dan Praja Karana. Sedangkan yang ketiga adalah Kembar termuda, Sugra, bersama Hargo dan Pandu Nayarana. Adapun Jaka sendiri, dengan berpedoman gambaran selintas mengenai ketiga jalan pintas tersebut, akan bertindak selaku pengawas, yang akan diusahakannya agar ia dapat mondar-mandir menemui ketiga rombongan itu, sampai mereka tiba dengan selamat  di Tirto Waringain.

Untuk giliran pertama Jaka akan mengikuti rombongan Kembar Ula, yang segera bertolak menempuh  jurusan jalan yang dituntun oleh putra tertua Kiai Dolah Pekih tersebut. Demikian pula kedua kelompok lainnya.

Selama setengah jam Jaka mengiringkan kelompok ini. Memang mereka harus melewati perjalanan yang cukup sulit, namun terkesan oleh Jaka bahwa arah yang dilalui betul-hetul potong kompas. Maka dengan lega hati Jaka memisahkan diri dari rombongan i tu, dan beralih menuju rombongan ketiga yang dipimpin oleh putra bungsu Kiai Kembar Sugra. Untuk perjalanan bolak-balik tersebut   ternyata   Karbala   mampu   membuktikan kelincahan dan kecerdasannya. Si gagah itu benar-henar merupakan kuda andalan yang tidak rugi jika diper- tahankan keselamatannya dengan segala daya upaya.