-->

Ajal Sang Penyebar Maut Bab 03 : Pembunuh Misterius

Bab 03 : Pembunuh Misterius

Demikianlah sejak malam itu, yang berkibar di tengah angkasa adalah bendera hitam dengan gambar tengkorak berwarna putih dan dua keris menyilang di bawahnya. Kemudian, penjagaan pos-pos penting di seluruh Desa Bagus Kuning langsung diambil alih oleh anak buah Keris Bersilang.

Tanpa kabar atau berita, Syeh Lemah Kobar lenyap begitu saja, tidak seorang pun yang tahu kemana lolosnya. Namun ada sedikit kelegaan di hati penduduk, yakni upacara berkabung dengan mengamalkan suluk-suluk sambil meratap semalam suntuk bakal dilanjutkan terus hingga empat puluh hari semenjak kematian Syeh Lemah Abang dan Ki Kebo Kenongo. Itu pun jika janji Raka Jinangkar ditepati, atau mudah-mudahan Raka Jinangkar tidak mengingkari janji.

Tapi sungguh ngeri. Dari malam kedua setelah Desa Bagus Kuning diperintah oleh Raka Jinangkar, tiap jam dua terdengar salak anjing maraung-meraung dan sebatang mayat tanpa kepala tercampak di teratak rumah Ki Lurah Brajanala yang kini ditempati Raka Jinangkar.

Begitulah terjadi tiap malam sampai hari yang ke lima.

Yang lebih aneh dan mengerikan lagi, Raka Jinangkar seperti tidak rnengambil peduli sama sekali, bahkan tenang-tenang main domino sambil menikmati tuak hingga mabuk.

Rakyat gemetar namun masih bisa merasa lega karena tidak ada yang kehilangan suami, anak, atau keluarga. Jadi, mayat siapakah yang digeletakkan tiap malam tanpa kepala? Orang dari mana mereka? Siapakah yang melakukannya?

Malam yang keenam masalah itu baru diperbincangkan oleh Raka Jinangkar yang sampai hari itu belum mendapat kontak dari si topeng, si jubah hitam, Syeh Lemah Kobar, atau siapa saja namanya.

Sudah lima mayat yang dionggokkan di depan hidung kita. Dan kita belum mampu melacak mayat-mayat siapa itu, dan orang mana yang berani mencabuti kumis kita,” ucap Raka Jinangkar dengan marah.

Salah satu tangan kanannya, pendekar dari Desa Janur Kemukus, menjawab, ”Saya sudah memerintahkan untuk berjaga-jaga tiap malam.

Dan saya ikut terjun langsung. Namun aneh, mayat-mayat itu seperti tiba-tiba saja terlempar dari langit. Pada waktu kami mengejar ke arah yang kami perkirakan si penunggang mengambil posisi, di sana hanya tertinggal bau wangi yang menyengat hidung.”

“Goblok! Apa urusan begini saja uku harus bertindak sendiri?” damprat Raka Jinangkar memperlihatkan sifat aslinya yang temberang.

“Tidakkah kita lebih baik pura-pura tidak tahu? Toh kelihatannya mayat-mayat, itu tidak ada hubungannya dengan Keris Bersilang?” sahut seorang pendekar lain, Raja Bagaspati dari Desa Ambarsari.

“Yang jelas, bukan tidak ada maksud apa-apa mayat-mayat itu diletakkan di desa ini,” bantah Raka Jinangkar. ”Kalau kita tinggal diam, siapa tahu ada malapetaka besar yang bakal mengancam kita?”

“Apa barangkali sebagai siasat adu domba, atau semacam lempar batu sembunyi tangan?” sambut pendekar berikutnya.

“Itu maksudku. Kita harus menyelidikinya hingga tuntas,” ujar ketua gerombolan Keris bersilang tersebut.

Tepat pada malam itu pula tatkala para tokoh gerombolan pembangkang itu sedang berunding dengan sengit, sesosok tubuh yang halus pembawaannya tengah berbisik kepada kuda tunggang yang bagus.

“Karbala, kau kutinggalkan disini, Ya. Jangan kemana-mana sampai aku datang lagi atau kuberi isyarat supaya kamu mencari aku. Mengerti?”

Aneh bin ajaib. Kuda itu seolah-olah memahami perkataan majikannya. Ia mengangguk-anggruk dan meringkik.

"Bagus, engkau memang sahabatku yang setia, Karbala." Sudah tentu siapa pun dapat menebak, siapa orang yang tengah mengendap-endap itu. la memang Jaka Pratama yang baru tadi petang berhasil mencapai desa Bagus Kuning.

Ia masih teringat akan sejumlah nama yang tercatat di kertas yang dicuri penjahat, selain tiga agen Demak yang harus dihubungi.

Dengan membiarkan kumis dan jenggotnya tumbuh lebat dan mengecatnya dengan getah akar kembang wedi yang dicampur minyak sereh sehingga berubah coklat keputih- putihan, orang muda itu kelihatan lebih tua lima belas tahun.

Menurut petunjuk lisan, ketiga agen Demak itu bisa dihubungi kalau pagi di pasar desa yang hari pasarannya tiap Selasa. Salah satu di antaranya berjualan cendol, dengan kain kuning di Ujung pikulannya. Sesudah waktu Dzuhur ia harus mencari penjual jagung bakar, yang di tempat dagangannya selalu tersedia lima jagung yang hangus. Sedangkan lepas Ashar sampai Isya, ia dapat berhubungan dengan penjaja bajigur yang kakinya pincang sebelah Mereka adalah penduduk ash Desa Bagus Kuning.

Niatnya Jaka akan memasuki desa itu petang tadi. Tetapi ada perubahan situasi yang tadinya tidak diperhitungkan sehingga ia mengurungkan rencana tersebut. Sebab ternyata desa Bagus Kuning telah dikuasai gerombolan yang telah menjebaknya beberapa hari yang lalu dengan bendera yang bergambar tengkorak dan keris bersilang. Ia harus mencari tahu, apakah orang-orangnya sama dengan penjahat yang mencuri kertas catatannya? Atas alasan itulah ia memoles wajahnya dengan kumis dan jenggot agar tidak nampak wajah aslinya. Pakaiannya juga ditukar-nya dengan yang berwarna hitam.

Ia sedang berlindung di balik serumpun semak duri untuk mengawasi sebuah rumah yang lampunya terang di dalam. Saat itu menjelang tengah malam. Tiba-tiba pintu rumah itu terbuka, dan beberapa lampu dipasang sekeliling halarnan. Untung Jaka telah mendekam lebih ke bawah sehingga kemungkinan besar tak kan kepergok oleh sinar itu. Kemudian beberapa bayangan yang kebetulan berpakaian sama dengannya, serba hitam, menyebar ke segenap sudut seperti menunggu sesuatu yang akan mereka jebak di dalam bubuk. Gerakan mereka sangat ringan. Berarti orang-orang itu memiliki kepandaian yang bisa diandalkan.

Pekerjaan apa yang sedang mereka rencanakan? Jaka memang sempat menyadap selentingan bahwa Desa Bagus Kuning sedang digegerkan oleh munculnya mayat-mayat tanpa kepala saban malam. Mungkinkah mereka sedang menunggu hendak menangkap si pembuang mayat?

Sungguh peristiwa yang bakal menarik dan terang. Ia akan melihat saja. Namun jika perlu ia akan bertindak secara sembunyi-sembunyi seandainya ia harus turun tangan. Bukankah yang jelas gerombolan Keris Bersilang adalah lawan yang mengincar dirinya? Berarti mereka yang bermusuhan dengan gerombolan itu, kalaupun bukan kawan, adalah orang-orang yang menentang gerombolan tersebut. Pasti tidak keliru jika ia membantu orang-orang itu.

Sebelum para penjebak tadi menyadari, kerisikan bunyi tertangkap oleh aji Wasis Rungu yang dikuasai Jaka sehingga ia tahu beberapa tombak di sebelah kanannya ada seseorang sedang mengendap-endap dengan gesitnya, dan sekonyong- konyong sebuah bungkusan besar terlempar dari puncak pohon dan jatuh di bagian yang paling terang di tengah-tengah tempat jebakan.

Hebat. Para anggota gerombolan begitu terperanjat karena mereka kebobolan lagi. Namun mereka cukup sigap. Dengan serempak mereka melayang ke arah pohon itu. Si pelempar mayat dalam pandangan Jaka juga sangat licik. Ia tidak bergerak sedikit pun. Ia memepetkan tubuhnya yang langsing ke tengah-tengah cekungan antara dua ranting besar. Dan berbarengan dengan itu, seorang lainnya melompat ke atas dari arah yang berlawanan, yaitu dari tempat yang tadi tertangkap oleh pendengaran Jaka yang peka.

Tentu saja para pengepung jadi bingung.

Mereka teperdaya. Serentak mereka berlompatan mengejar bayangan yang melompat tadi, yang jelas sekali ilmu ringan tubuhnya sangat hebat.

Tetapi si pelempar mayat yang berada di pohon kali ini belum tentu dapat meloloskan diri. Sebab pada waktu ia melayang turun, tiba-tiba masih ada sosok hitam lain yang menghadangnya di bawah. Agaknya sosok yang satu ini sengaja menyembunyikan diri tanpa sepengetahuan si pelempar mayat. Pasti ia telah mendekam di tempat itu sejak sebelum halaman luas tersebut diterangi dengan lampu- lampu. Buktinya para pengejar bayangan yang lain itu jumlahnya presis sama dengan yang menyebar ketika pintu terbuka dan lampu-lampu mulai dipasang di sekitar halaman.

Jaka Pratama ikut berdebar-debar ketika si penghadang membentak: "Berhenti!"

Sosok langsing itu akan lari tanpa mau meladeni bentakan tersebut. Namun langkahnya terhenti tatkala sebuah pisau kecil melayang, disusul dengan dua pisau lainnya. Sosok itu melompat-lompat dengan cekatan, berkelit dan menangkis. Tapi tak urung salah satu dari tiga pisau itu menyambar ke kepalanya.

"Sret!" bunyi logam itu sangat nyaring ketika membabat ikat kepala sosok langsing tersebut. Seketika itu juga segumpal rambut tebal terurai dari kaitannya. "Sundal! Ternyata engkau seorang perempuan. Siapa kamu?" bentak si penghadang, yaitu kepala gerombolan Keris Bersilang sendiri. Kini jelas tidak ada kesempatan lagi untuk melarikan diri. Perempuan itu lalu membalikkan badan dan berdiri dengan kedua kaki membentuk kuda-kuda yang tangguh.

"Jangan tanya siapa aku. Tanyakan siapa mayat yang kulemparkan itu!" ucap si perempuan, bukannya menjawab malah mengajari. Kocak juga wanita pemberani tersebut.

"Baik. Kuturuti nasihatmu, sebab sebentar lagi aku akan tahu siapa engkau sebenarnya melalui mayatmu. Mayat siapa itu?"

"Apa engkau tidak tertarik untuk mengetahui siapa lima batang mayat sebelumnya? Sayang. Engkau memang berhati dingin sehingga tidak merasa perlu untuk menengok mayat-mayat itu sebelum kauperintahkan anak buahmu mengubur mereka."

"Diam! Jangan ulur-ulur saat kematianmu. Katakan! Siapa mereka?" bentak ketua Keris Bersilang tersebut makin berang.

"Baik. Aku juga tidak sudi berlama-lama denganmu," dengus si perempuan tanpa gentar. "Tolong jawab dulu, ada berapa orang saudaramu?"

"Ha? Apa maksudmu?" teriak ketua Keris Bersilang dengan cemas.

"Raka Jinangkar. Ketahuilah, manusia ini terikat oleh hukum karma. Kalau alam tidak langsung melaksanakan keadilannya, maka tangan manusia sendiri yang harus menjalankan hukum itu. Raka Jinangkar, aku adalah putri kepala Desa Janur Kemukus, yang waktu kau-bunuh ayahku beserta ketiga orang adikku yang masih di bawah umur kebetulan aku sedang menuntut ilmu di padepokan. Kawanku tadi adalah putra lurah Desa Ambarwari. Ayah dan ibunya kaubantai dengan keji, demikian pula kedua orang adiknya. Sayang engkau hanya mempunyai tujuh orang saudara, dan ketujuh-tujuhnya kaududukkan sebagai kepala desa pada daerah-daerah yang telah kautumpas para lurahnya."

"Jadi?" tanya Raka Jinangkar gemetar.

"Betul dugaanmu. Termasuk mayat yang keenam tadi semuanya adalah saudara-saudaramu. Sayang malam ini aku kepergok. Padahal tinggal satu lagi saudaramu, yang sama bengis dengan-mu, yang harus kuhabisi. Sayang."

"Perempuan busuk. Terimalah pembalasanku!" jerit Raka Jinangkar seraya menyerbu dengan ganas. Dari tangannya seolah berkobar-kobar lidah api oleh serangan keris pusakanya yang menyambar-nyambar bagaikan ular mengamuk.

Perempuan itu cukup lihai juga. Tapi sesudah sembilan jurus berlangsung, Jaka menampak sudut-sudut yang lemah pada serangannya, disamping titik-titik lowong dalam pertahanannya, yang dapat dipakai lawan buat menghantam. Untuk itulah dari tadi Jaka memperhatikan dengan saksama pertarungan mereka, dan pada saat-saat yang rawan ia membantu Si perempuan tanpa tersadari oleh Raka Jinangkar. Sebab siapa pun perempuan itu, jelas ia tidak sekubu dengan gerombolan Keris Bersilang.

“Hem, keparat, betina. Engkau belum mau menyerah?” geram Raka Jinangkar dengan gemas sesudah berkali-kali gagal memanfaatkan kelemahan lawannya akibat serangan balik yang mendadak dan tidak disangka-sangka.

Laki-laki berdarah besi itu tidak habis pikir. Siasat apa yang dilancarkan oleh musuh yang kadang-kadang kelihatan lemah, tapi tiba-tiba pada waktu ia memasukkan pukulan mautnya, serbuan tenaga dalam yang berpusar-pusar seperti angin beliung membuyarkan serangannya. Aji apa yang dimiliki perempuan ganas ini‘?

Tentu saja si perempuan pun mula-mula sangat terperanjat atas kedatangan tenaga mengejut yang tidak pernah dibayangkannya. Tatkala ia sudah hampir putus asa karena ternyata jurus yang dikeluarkannya justru mengundang serbuan lawan yang dahsyat akibat pendalamannya kurang matang, sekonyong-konyong suatu aliran aneh mendorong tenaga intinya untuk mengelak atau membalas serangan lawan lebih gencar, padahal ia tahu saat itu ia berada pada posisi terdesak.

Pertarungan. sudah berkecamuk hingga tiga puluh jurus. Jaka menganggap telah cukup keras perempuan itu terkuras tenaganya. Andaikata tidak segera diakhiri, pasti si wanita akan menderita parah lantaran kehabisan napas. Maka Jaka pun segera bertindak. Kali ini tidak membantu si wanita, melainkan menjentikkan sebutir biji jeruk yang didapatkan dengan kakinya. Lalu, sebuah bayangan mungil seperti kunang-kunang terbang mendengung, biji jeruk itu menyambar dengan kencang ke betis Raka Jinangkar. Disusul dengan biji jeruk yang kedua menghantam tangan kanannya berbareng dengan pukulan tangan kiri si perempuan menangkis serbuan lawan, dan sambaran kakinya menyampok betis kepala gerornbolan itu.

Raka Jinangkar tergolek kaku, tanpa daya gerak sama sekali. Si perempuan agaknya tahu diri. Ia mengerti ada juru penolong yang secara sembunyi-sembunyi menyelamatkan jiwanya.

Sambil melayang pergi ia berteriak nyaring: Terima kasih Kisanak. Lain kali gadis ini akan menghamba kepadamu sebagai balas budi.” “Ya, ampun, mengapa begini kesudahannya? Ia akan menghamba kepadaku, berarti aku harus talibat lagi dengan urusan rambut panjang? Ah, dasar sial.” Demikian kutuk Jaka menyesali diri.

“Dan kau, Raka Jinangkar. Hari ini ku ampuni, sebab majikan cantikmu akan bikin perhitungan sendiri di kemudian hari. Dalam tempo tiga bulan semenjak malam ini, jangn harap engkau masih bisa menikmati kedegilanmu.”

Lantas suara itu menghilang bersamaan dengan berkepulnya bau harum yang menyengat hidung. Bau itu semacam minyak kembang melati yang juga biasa ditaburkan Jaka Pratarna pada pakaiannya untuk menghindari asam keringat yang dapat mengganggu orang lain.

Hanya ketajaman baunya barangkali satu berbanding sepuluh dengan yang dipakai gadis itu.

Menjelang lenyap sama sekali, perempuan centil tadi masih sempat berkata: ”Rupanya engkau suka juga dengan minyak melati. Mudah-mudahan kita ada jodoh, Kisanak.”

Tambah menggigil hati Jaka. Ia tahu bagaimana watak perempuan kalau sudah nekat dalam urusan perjodohan. Ah, mudah-mudahan ia hanya bercanda. Sebab, bila sungguhan, huh, sampai ia mempunyai istri tiga orang juga lantaran kenekatan golongan rambut panjang. 

Namun ia tidak mau memperpanjang pikiran tentang masalah itu. Masih banyak yang harus diselesaikan sebelum ia boleh merusuhkan hati dengan soal-soal pribadi.

Dengan kesimpulan begitu ia pun cepat-cepat mengundurkan diri dari kawasan itu. Ia harus kembali kepada Karbala. Tidur hingga pagi. Baru merencanakan langkah-langkah selanjutnya. Ia akan melakukan shalat tahajud beberapa rakaat untuk bermunajat kepada Tuhan, memohon petunjuk dan keselamatan dari hadirat-Nya.

Esoknya, di rumah Ki Brajanala almarhum yang ditempati oleh Raka Jinangkar dan anak buahnya, suasana bagaikan berkabut pekat.

Tidak hanya oleh mendung duka cita, sebab ternyata memang betul, keenam mayat yang dionggokkan berturut-turut di halaman rumahnya adalah mayat-mayat saudaranya. Hal ini makin dikuatkan dengan kedatangan saudara bungsunya yang mengabarkan hahwa keenam saudaranya yang lain telah lenyap tanpa herita. Tetapi Raka Jinangkar merasa dipermalukan akibat dipencundangi oleh seorang wanita, masih gadis lagi. Juga anak buahnya yang mengejar bayangan yang satu tadi malam tidak berhasil menjejaki ke mana bayangan itu melarikan diri.

“Kita harus- memperketat penjagaan di wilayah yang telah kita kuasai. Sekarang kalian berangkat ke desa-desa yang tidak berlurah itu,” perintah Raka Jinangkar kepada dua belas pendekar paling tangguhnya.

“Untuk tiap desa diperkuat oleh dua orang di antara mereka. Buat sementara, sebagai pemimpin seluruh desa itu, kecuali di wilayah adik bungsuku ini, kalianlah yang bertanggung jawab. Jangan ragu-ragu untuk mengambil tindakan keras. Tiap orang yang kalian curigai, habisi saja bersarna seluruh keluarganya, agar yang lain tidak berani coba-coba melawan kita. Dan kau, Dimas, betapapun gawatnya keadaan saat ini, kuharap engkau kembali ke tempat tugasmu. Engkau yang mengawasi semua pekerjaan anak buahku. Bawalah dua puluh orang pengawalku, pilih sesukamu untuk memperkukuh kedudukanmu,” ujar Raka Jinangkar selanjutnya kepada adiknya. "Bagiku sendiri, sebentar lagi akan datang balabantuan yang dijanjikan si topeng. Menurut kabar, mereka terdiri atas pendekar-pendekar bangsa manca-negara, terutama para hongcu dari negeri Cina."

"Syukur, berarti ada harapan kekuatan kita bakal meningkat," sambut sang adik dengan gembira.

"Ingat, kalian semua mempunyai tugas sampingan, yaitu melacak di mana kedua bajingan yang tadi malam itu bersembunyi. Mereka adalah anak lurah Ambarsari dan Janur Kemukus. Hati-hati kalau berhadapan dengan mereka," pesan Raka Jinangkar kepada adik dan segenap anak buahnya sebelum mereka berangkat meninggalkan Desa Bagus Kuning.

Sesudah itu rumah tersebut berubah samun kembali. Buat menghibur diri, Raka Jinangkar mengajak anak buahnya main kartu dan menenggak tuak. Mata mereka mulai merah, hati mereka mulai terbakar.

Pada saat itulah Jaka Pratama dengan langkah ringan memasuki pintu gerbang Bagus Kuning. Iklim yang bersih lantaran masih banyak pepohonan rindang tumbuh di sepanjang jalan, tidak terusik sedikit pun oleh musim pergolakan yang mengubah sebagian manusia menjadi iblis atau serigala. Barangkali karena alam masih memberi kurnia dengan udara yang bersih di desa-desa, nampaknya penduduk kampung pun tetap memiliki keramahan, kepolosan, dan kejujuran mereka. Kalaupun ada yang telah ber-ubah dari sikap semula, pasti akibat pengaruh dari luar, atau mungkin mereka tidak dilahirkan dan dibesarkan di kampung.

Dengan riang Jaka Pratama berjalan teguh menapaki lorong- lorong beralas batu kerikil. Karbala disembunyikannya di sebuah gua dekat hutan tempatnya tidur malam tadi. Ia yakin kuda itu Bakal aman di sana, tidak saja karena Karbala seekor binatang yang cerdas, tetapi juga berdasar perhitungannya, gua itu belum pernah dijamah tangan manusia.

Ia berniat menuju ke pasar untuk mengadakan kontak dengan agen yang dijanjikan. Seorang penjual cendol dengan ujung pikulan diberi ikatan selembar kain kuning. Sandi yang harus dipakai adalah tanya jawab yang dimulai dengan ucapan:

"Boleh saya pinjam kain kuningnya?" Kontaknya akan menyahut: "Buat apa?" "Untuk menghapus daki."

"Daki yang mana?"

"Yang mengotori pakaian kita."

Nampaknya pekerjaan kali ini akan berjalan lancar. Sebab dari luar pasar, di tengah-tengah keramaian masyarakat yang sedang berjual-beli, Jaka sudah melihat kain kuning itu melambai-lambai tertiup angin.

Agar tidak menimbulkan kecurigaan, Jaka berjalan dengan langkah-langkah yang wajar. Menurut pesan, semua agen yang mesti dihubunginya tidak mengenal orang yang akan melakukan kontak dengannya, demi menjaga kerahasiaan dan keberhasilan tugas yang akan dilaksanakan. Sebab saat ini, kekuatan Demak belum dapat dipecah besar-besaran ke wilayah pedalaman, mengingat ancaman yang lebih kritis datang dari kawasan pantai. Tenaga harus sepenuhnya dikerahkan guna menjaga setiap kemungkinan agar bandar- bandar pelabuhan tidak sampai jatuh ke tangan musuh, baik yang datang dari kaum Peringgi, laskar laut Majapahit, maupun armada Cina yang masih men-dendam kepada orang Jawa.

Dalam pengamatan para mata-mata Santri Pitulas yang berhasil dikumpulkan oleh Ki Wiryoprakoso, di sekitar Pengging atau Pajang terdapat tanda-tanda gerakan yang makin membesar dan menguat, yang boleh jadi di-pimpin oleh seorang tokoh kawakan dengan dukungan dana yang hebat, untuk memberontak dan membebaskan diri dari kedaulatan Demak. Agaknya mereka telah menyusupkan orang-orangnya ke dalam gerakan-gerakan kecil dari beberapa kelompok pengikut Syeh Lemah Abang yang sakit hati kepada para wali. Mereka berusaha hendak menunggangi ketidakpuasan kaum Islam "abangan", begitulah mereka menamakan para pengikut aliran Syeh Siti Jenar, yang sebetulnya hanya bersifat lokal dan protes spiritual belaka. Sebab, selaras dengan yang mereka yakini, untuk membantu Tuhan tidak perlu dengan menimbulkan pemberontakkan fisik. Cukup dengan melipatgandakan pendalaman suluk serta amalan-amalan batiniah.

Lantaran dalam gerakan protes spiritual itu terdapat kaum muda, maka upaya para pemberontak tersebut dapat memperoleh sambutan juga dari mereka, sehingga mulailah darah mengalir dan mayat-mayat bergelimpangan, sebagaimana yang telah dilakukan oleh gerombolan Keris Bersilang.

Namun dalam penilaian Wiryoprakoso, yang berbahaya bukanlah gerombolan-gerombolan macam Keris Bersilang atau lain-lainnya. Yang harus dilacak dan dimusnahkan adalah tokoh atau kekuatan yang berdiri di belakang niereka.

Tatkala Jaka melangkah masuk ke dalam pasar, kian nyata bahwa yang ditemuinya tidak keliru. Penjual cendol itu presis seperti yang dilukiskan dalam surat, seorang pria separuh baya dengan sebelah mata agak menyipit.

Sudah tinggal dua langkah lagi Jaka tambah mendekati orang itu. Dan pada waktu ia mulai lu rnembuka suara, tiba-tiba kepala penjual cendol itu tersentak keatas, lalu terkulai di lehernya. Punggungnya menyender ke dinding batu di belakangnya. Jaka mengerti apa artinya gerakan aneh yang belum sempat menarik perhatian orang lain itu. Ada orang kosen yang membokong dengan senjata rahasia kecil dan telah menewaskan si penjual cendol. Sebenarnya Jaka dapat menangkap kelebatan sesosok tubuh yang berjalan cepat, menyelinap di antara manusia yang tengah lalu-lalang di pasar. Dan Jaka percaya pasti dapat mengejar serta menangkap pembokong tersebut.

Namun jika hal itu dilakukannya saat ini, ia kuatir bakal mengundang kecurigaan orang. Hal ini bisa sangat berbahaya bagi langkah-langkah berikutnya.

Karena itu, dengan seolah-olah tidak terpengaruh oleh kejadian tersebut, Jaka meneruskan jalannya menuju ke pusat keramaian di pasar, lalu membaurkan diri dengan masyarakat yang sedang berbelanja. Dan pada waktu bebe-rapa lama kemudian orang-orang di pasar ribut setelah mengetahui penjual cendol yang mangkal di pojok meninggal secara mendadak, Jaka sudah berada di hutan lagi untuk segera mendaki bukit kecil di sebelahnya dan memasuki gua tempat ia menyembunyikan Karbala.

Siang itu dihabiskan Jaka dengan berburu guna menambah persediaan bekalnya, sambil merintang-rintang waktu untuk merencanakan tindakan yang sepatutnya diambil agar tidak didahului oleh lawan yang agaknya telah mencium gerakannya. Yang masih membingungkan Jaka, siapa gerangan pembokong itu? Dan pihak manakah dia? Yang jelas, Jaka tidak menaruh curiga kepada gerombolan Keris Bersilang, sebab mereka nampaknya tenang-tenang saja.

Kini ia sedang mempertimbangkan, apakah usaha menghubungi kontak akan dilanjutkan-nya kepada agen yang kedua? Yaitu penjual jagung bakar yang di tempat dagangannya tersedia lima jagung yang hangus? Bila ditinjau dari segi keamanan, tentu saja siang ini menghubungi kontak adalah tidak bijaksana. Namun di-pandang dari perlunya melakukan tindakan secepat-cepatnya supaya tidak tertinggal oleh usaha busuk musuh, Jaka harus segera mengadakan kontak dengan agen kedua.

Berdasar kesimpulan tersebut maka Jaka mengeraskan hati untuk pergi lagi memasuki Desa Bagus Kuning. Antara bakda Dzuhur hingga kurang lebih jam tiga, ia harus menemukan penjual jagung bakar yang mangkal di dekat pos jaga menjelang pintu gerbang untuk memasuki pasar Bagus Kuning.

Keadaan pasar siang itu tidak sepadat tadi pagi. Kegiatan yang masih tersisa hanyalah jual-beli biasa, terutama barang- barang keperluan rumah tangga atau pakaian dan pecah- belah, bukan kebutuhan sehari-hari yang sudah diselesaikan waktu paginya. Kalaupun masih ada penjual makanan, kebanyakan yang sudah matang berupa jajan-jajan atau buah- buahan. Antara lain pedagang kacang goreng dan kacang rebus, penjual jagung bakar dan jagung godok.

Di muka penjual jagung yang harus dihubunginya, terdapat tiga orang pembeli yang sedang dilayani. Dua orang perempuan dan seorang anak kecil. Sesudah mereka pergi, menjelang Jaka mendekati penjual jagung bakar itu, seorang anak muda berpakaian putih bersih, umurnya sekitar tujuh belas tahun, menyerobot lebih dulu dan membeli tiga buah jagung yang baru saja dibakar setengah masak.

Setelah menyerahkan uang, anak muda itu cepat-cepat berlalu, bagaikan ada yang tengah mengejarnya. Karena setelah itu tidak ada lagi yang membeli, Jaka lalu buru-buru mengambil kesempatan.

Astaga! Penjual jagung bakar tersebut tanpa disadari Jaka lantaran tadi ia memperhatikan ke arah lain untuk melihat-lihat apakah aman atau tidak, ternyata sekarang telah bernasib sama seperti penjual cendol. Barangkali, oh tidak, malah ia yakin, anak muda tadi yang punya pekerjaan. Dialah yang membunuh si penjual jagung bakar. Dan Jaka menduga, tindakan itu dilakukannya sambil menjatuhkan uang pembayaran.

Anak muda dari mana dia? Umurnya baru sekitar tujuh belas tahun, tetapi sudah memiliki kelengkapan yang sempurna untuk menjadi pembunuh berdarah dingin. Ilmunya, luar dan dalam, cukup tinggi. Keberaniannya mergadakan aksi di siang hari bolong dalam keadaan yang begitu terbuka, terang membuktikan betapa ia percaya pada kemampuannya. Lalu ketenangannya dalam menghabisi nyawa manusia menunjukkan bahwa pekerjaan itu sudah biasa dilakukannya.

Sayang! Umur semuda itu, ilmu selihai itu, keberanian setinggi itu, dan sikap setenang itu, telah diselewengkannya di jalan yang sesat. Coba andaikata dia membaktikan diri bagi kepentingan negara atau bangsa, bukankah ia akan dapat memberikan jasa yang besar guna menolong kedaulatan negara agar tidak runtuh oleh makar jahat musuh-musuhnya? Lantas, seandainya ia binasa dalam menjalankan tugas mulia, di dunia namanya harum dan dikenang sebagai pehlawan, di akhirat ia akan disambut oleh para malaikat untuk langsung masuk ke dalam surga yang telah dijanjikan bagi mereka yang gugur membela bangsa dan negara.

Jaka sungguh merasa berduka. Pertama, karena dua orang agen yang akan dihubungi telah dihabisi lawan. Yang kedua, ia sangat sedih memikirkan betapa iklim pergolakan yang tidak menentu ini telah melahirkan pembunuh-pem-bunuh dengan segala kepentingan dan dalih masing-masing. Apakah kehidupan hanya akan terus berlangsung dengan membanjirnya perilaku kekerasan dan kekejaman? Apakah bumi harus hidup oleh kematian?