Ajal Sang Penyebar Maut Bab 02 : Pembantaian Kejam

Bab 02 : Pembantaian Kejam

Malam itu sedang dilakukan upacara berkabung semalam suntuk pada hari yang ketujuh belas semenjak kematian Syeh Lemah Abang dan Ki Ageng Pengging. Mereka tengah melaksanakan suluk-suluk suci sambil menangis dan meraung-raung, meratapi kesyahidan pemimpin mereka yang tercinta. Sebagian penduduk, terutama kaum wanita, malah sudah berada dalam keadaan setengah pingsan dan histeris. Mereka mencakar badan sendiri, merobek-robek pakaian dan menyayat daging hingga mengucur darah di berbagai tempat. Dupa dan setanggi mengepulkan asap kepedihan yang mengerikan.

“Wahai para kadang Bagus Kuning,” tiba-tiba seorang laki-laki jangkung berjubah hitam muncul di tengah-tengah mereka begitu saja, seperti keluar dari perut bumi. ”Aku datang kemari diutus oleh arwah Syeh Lemah Abang dan Ki Ageng Pengging untuk memimpin kalian melampiaskan dendam kepada para wali yang lalim.”

Mendadak suasana berubah seketika. Mereka yang terlibat dalam upacara maut tersebut membelalakkan mata ke arah tokoh berjubah hitam yang baru muncul itu. Yang menangis menghentikan tangisnya, yang menyiksa dm menunda perbuatannya, dan sebagian lagi berdiri terpaku di tempatnya.

“Aku bernama Syeh Lemah Kobar, yang bertugas membakar bumi menjadi bara api untuk menghancurkan keganasan para wali. Aku membawa mandat dari neraka untuk menyeret para wali ke dalarn api dendam Syeh Lemah Abang.”

Kini semua pandangan tertuju penuh kepada lelaki jangkung yang berjubah hitam tersebut.

Mereka belum percaya, tetapi juga belum tidak percaya. Mereka masih menunggu.

Aku tahu kalian belum mengenal nama Syeh Lemah Kobar, karena aku tidak akan muncul kalau tidak dipanggil oleh arwah saudaraku, Syeh Lemah Abang. Siapa yang percaya kepadaku, akan selamat dan akan menyatu dengan Gusti Allah, dan kelak akan berkumpul bersama Syeh Lemah Abang di alam keabadian. Siapa yang ingkar terhadapku akan disiksa, tidak saja di akhirat, namun juga di alam kasunyatan sekarang ini.”

Semua yang berada di tempat itu kian terdiam. Mereka tidak berani berbisik-bisik, sebah jika benar Syeh Lemah Kobar adalah saudara Syeh Lemah Abang, pasti ia memiliki keramat atau kesaktian yang berimbang.

“Kuminta, siapa yang percaya kepadaku berkumpul di sebelah kanan, dan yang membangkang di sebelah kiri,” ucap Syeh Lemah Kobar makin lantang, menyaksikan pengaruh ucapannya telah mulai termakan oleh mereka.

Ia mempunyai maksud, dengan siasat memilah-milah tersebut pasti orang-orang Demak atau para agen Santri Pitulas yang diselundupkan ke kalangan murid Syeh Lemah Abang akan minggir ke sebelah kiri, mengingat pendalaman keislaman mereka yang telah kukuh.

Ternyata siasatnya gagal total. Tidak seorang pun di antara mereka yang berani melangkah ke kiri, termasuk tiga orang yang dicurigainya sebagai golongan Islam Putih jika dilihat dari penampilan mereka yang tenang dan penuh percaya diri.

Syukur, syukur. Sesuai dengan nama desa ini, kalian memang orang-orang yang berhati kuning dan bagus-bagus. Tapi aku masih belum puas, sebab di antara kalian ada beberapa penyelusup dari Demak,” ucap Syeh Lemah Kobar sesudah kehabisan siasat. Ia membuka kertas catatan yang diperoleh dari Raka Jinangkar, pemimpin gerombolan Keris Bersilang. Ia lalu membacakan salah satu nama yang menempati urutan paling atas. Ketika orang-orang tengah terpana dalam tanda tanya dan ketakutan, ia menyebutkan nama itu.

“Yang merasa punya nama Wuku Panyilang silakan maju ke depan.” Orang-orang jadi ribut. Mereka sudah mengenal betul siapa Wuku Panyilang. Ia adalah putra lurah Bagus Kuning yang sangat murka mendengar kematian Syeh Lemah Abang dan Ki Kebo Kenongo. Bahkan ayahnya sekarang sedang mengumpulkan kekuatan, dan sejak kemarin malavn meluruk ke desa-desa lain dalam kawasan Kabupaten Pengging untuk merencanakan pemberontakan terhadap Kerajaan Demak.

Anak muda yang disebut itu sama sekali tidak menaruh was- was ketika ia menyibakkan kerumunan penduduk Bagus Kuning untuk maju ke depan. Begitu pula para warganya. Mereka tahu Syeh Lemah Abang sangat dekat dengan ki lurah dan putranya, sehingga pasti Syeh Lemah Kobar juga sudah mendengar namanya. Maka dengan bangga Wuku Panyilang berdiri tegap di hadapan Syeh Lemah Kobar yang tatapan matanya terasa menusuk hingga ke jantungnya.

Ia menggigil, tapi tidak sampai ketakutan karena tiba-tiba rasa takut yang hampir menyerbu dirinya tadi mendadak terpupus oleh hawa panas yang kian lama tambah menghebat. Ia tidak keburu menjerit tatkala tubuhnya mengejang dan berubah hitam, menyebarkan bau daging hangus. Wuku Panyilang telah tewas oleh aji Awu Geni yang dilancarkan oleh Syeh Lemah Kobar dalam kekuatan yang berlipat ganda dibandingkan dengan sebelumnya karena telah diperdalam keampuhannya melalui tapa brata berbulan-bulan.

Masyarakat ribut dan menjerit-jerit tatkala Syeh Lemah Kobar berkata: “Para kadang semuanya. Anak muda ini adalah pengkhianat yang licik, karena itu kuhukum seperti kelak mereka yang ingkar akan dihukum di neraka.”

Kini para hadirin betul-betul dilanda kebingungan, selain ketakutan. Dari cara hukuman yang dijatuhkan atas Wuku Panyilang, jelas Syeh Lemah Kobar amat sakti. Tetapi alangkah mustahilnya tuduhan yang dilontarkan kepada putra ki lurah itu. Ia penyelundup dari Demak?

Ia pengkhianat yang sangat licik? Tidak mungkin. Narnun tidak seorang pun berani bersuara.

Mereka terbenam dalam keterkejutan yang sekonyong- konyong dan kengerian yang memuncak menyaksikan jenazah Wuku Panyilang tergolek begitu memilukan. Badannya melepuh seperti dibakar api unggun. Tangan- tangan dan kedua kakinya mengerut, kulitnya berubah warna, dari putih menjadi hitam lebam.

Akan tetapi ketakutan ada batasnya. Dan tatkala ketakutan telah tiba di pucuk yang terjauh, yang akan tumbuh justru kenekatan tanpa mempedulikan lagi keselamatan sendiri.

Demikian pula yang terjadi atas para sahabat Wuku Panyilang. Mereka berpendapat telah berlaku ketidakadilan yang curang. Karena itu seorang pemuda maju ke muka, lalu berteriak gemas:

“Kami tidak yakin bahwa Tuan adalah saudara sang Guru Agung Syeh Lemah Abang. Siapakah Tuan yang sebenarnya?”

Sebagian penduduk yang masih punya nyali ikut mengangguk- angguk, sementara yang penakut menyingkirkan diri ke tempat yang paling gelap.

Namamu siapa, hai anak muda?” bentak Syeh Lemah Kobar berang. ”Apa engkau tidak menyesal telah berkata tidak sopan kepadaku?”

Saya adalah sahabat karib Wuku Panyilang.

Ia seorang putra setia yang tidak hanya patuh kepada romonya, ki Lurah Brajanala, melainkan juga seorang murid yang taat berbakti kepada Syeh Lemah Abang. Mengapa Tuan tanpa suatu sebab telah membunuhnya?”

“Hem,” geram si jubah hitam. Ia tergetar jangan-jangan sudah salah mengambil tindakan.

Tapi kini telah telanjur. Ia tidak boleh surut. Sebab jika ia mundur dan mengakui kekeliruannya, itu berarti membuka kelemahan diri di hadapan masyarakat luas. Akibatnya, mereka bisa tidak menghargainya lagi. Dan kelanjutannya dapat menghancurkan wibawanya untuk menguasai masyarakat dalam genggamannya.

Maka dari itu ia bersikeras menjawab: ”Engkau mau membela seorang sahabat yang telah berkhianat?”

“Tidak. Saya membela seorang sahabat yang tidak bersalah,” sahut pemuda itu dengan berani.

“Ada lagi yang berpihak kepada pengkhianat' itu? Ayo maju!”

Tiga orang pemuda lain kemudian melangkah pula ke muka.

"Siapa nama kalian?" tanya si jubah hitam dengan suara kian keras.

Keempat pemuda itu menyebutkan nama mereka satu per satu. Syeh Lemah Kobar kembali kertas catatannya. Cocok. Nama mereka tercantum dalam urutan berikutnya. Si jubah makin ragu-ragu. Namun sudah telanjur. Apa boleh buat. Mengorbankan empat pemuda lagi yang tidak bersalah tidak menjadi soal baginya, daripada cita-cita yang telah disematkannya bakal berantakan. Dengan gerakan tangan yang tidak tertangkap oleh mata biasa, Syeh Lemah Kobar menghantamkan aji Awu Geni terhadap mereka. Dalam tempo hanya beberapa detik keempat-empatnya terjerembab ke tanah, langsung tewas dalam keadaan yang sama mengerikannya seperti yang dialami Wuku Panyilang. Orang- orang kini tidak lagi takut, melainkan sudah mati ketakutan. Kalau-kalau nasib semacam itu akan menimpa pula diri mereka.

"Masih ada lagi yang berani meragu-ragukan kebenaran penjelasanku?" hardik Syeh Lemah Kobar dengan hentakan suara yang melumat-lumat nyali seluruh hadirin.

Malam dalam sekejap telah berubah menjadi tabir hitam yang menutupi sinar bulan, meski-pun purnama belum seluruhnya menggelincir ke persembunyiannya. Sebab yang tertutup bukan cahaya di mata, melainkan cahaya di hati manusia. Betapapun benderangnya alam raya, apabila, hati digumpal kesedihan dan kepekatan, marnpukah mata jasmani menembus kepekatan?

Syeh Lemah Kobar tengah berasa pada puncak kenekatannya karena telah melakukan tindakan keliru sejak mula-mula. la seperti pencuri yang tertangkap basah ketika sedang melaksanakan kejahatannya. Apa ia akan menyerah, jika menyerah atau melawan kesudahannya sama juga? Pasti sang pencuri akan mengambil pilihan yang kedua, membabibuta apa pun akibatnya. Terbukti sikap yang makin keras itu berhasil mengungkung masyarakat didalam cengkeramannya. Mereka tidak berani bergeser sedikit pun, seolah takut membangunkan macan buas. Mereka terpacak kaku dengan badan menggeletar, bukan lantaran angin malam yang menderu seram, melainkan oleh bayangan maut yang memancar dari mata Syeh Lemah Kobar.

"Para kadang Bagus Kuning, murid-murid abangku Syeh Lemah Abang," ucap si jubah hitam sambil berdiri mengangkang di belakang kelima jenazah yang berserakan di tanah bagaikan tumpukan sampah terbakar. "Sudah lima orang pengkhianat yang menjadi korban. Aku tidak mau korban-korban selanjutnya berjatuhan. Karena itu taatilah aku seperti kalian mentaati abangku, Syeh Lemah Abang."

Suara si jubah hitam meskipun kecil melengking namun berkumandang memenuhi semua penjuru, menancap langsung ke dalam jantung semua yang mendengarnya. Sampai mereka kian tertegak kaku, presis pokok-pokok kayu tanpa daun. Suasana berubah namun untuk beberapa lamanya, hingga tiba-tiba serombongan penunggang kuda muncul dari kegelapan. Orang-orang mulai berani berbisik- bisik, walaupun rasa takut jauh lebih mencengkam hati mereka.

"Ki Lurah datang. Kasihan ya, orang tua itu, sudah kehilangan anaknya sekarang."

Bisikan tersebut, andaikata dapat didengar oleh Pak Lurah, sungguh merupakan kata sambutan untuk mengelu-elukan kehadiran kepala desa yang amat dicintai dan dipatuhi rakyatnya itu.

"Saudara-saudaraku. Ada kejadian apa di sini?" ujar ki Lurah ditujukan kepada para warganya.

Tiba di tempat terang, Ki Lurah menghentikan kudanya, diikuti sepuluh orang penunggang kuda, anak buahnya. Ki Lurah belum sempat memperhatikan onggokan mayat di mukanya karena terlindung oleh bayangan hitam, tatkala seorang kakek berjubah hitam maju ke depan dan bertanya:

"Siapa engkau?" hardik Syeh Lemah Kobar.

"Siapa aku?" ulang Ki Lurah kaget. Lalu, tiba-tiba is tertawa gelak-gelak: "Siapa kau? Hahaha . . .. Apa tidak terbalik, Tuan? Bukan-kah aku yang punya hak untuk bertanya: "Siapa kamu?" "Jangan umbar bacot di mukaku. Jawab! Siapa kamu?" sahut si jubah hitam kehabisan sifat sabar. Masyarakat diam-diam menggelengkan kepala. Alangkah kasarnya orang yang mengaku saudara Syeh Lemah Abang ini. Sungguh seperti bumi dengan langit perbedaan wataknya dengan Syeh Lemah Abang. Anak buah Ki Lurah Brajanala sudah gatal hendak mencabut senjata. Namun ki Lurah masih melayani dengan tenang.

"Sebetulnya aku tidak perlu menjawab pertanyaanmu karena sikapmu jauh bertentangan dengan pakaianmu. Aku adalah lurah Desa Bagus Kuning."

"Ho, jadi engkau bapak dari anak yang sudah mampus itu," sahut Syeh Lemah Kobar melanjutkan kenekatannya, setelah memergoki kenyataan pahit yang tidak bisa dihindarinya lagi.

"Apa? Anakku tewas?" teriak Ki Lurah seraya melayang dari punggung kudanya, menuju jenazah yang dituding oleh si jubah.

"Oh, Ngger, putraku. Dosa apa yang kulakukan, sampai anakku harus jadi korban?" ratap ki Lurah ketika ternyata betul apa yang dikatakan si jubah. Ia menangis amat sedih karena Wuku Panyilang merupakan satu-satunya biji mata.

Lalu, sesudah ia sadar bahwa yang mati tak kan mungkin hidup lagi betapapun air mata darah dicurahkannya, Ki Lurah berdiri kembali, menghadapi si jubah hitam.

"Siapa yang bertanggung jawab atas senuta kekejaman ini?"

"Maksudmu apa, Kisanak?" sambut si jubah hitam enak saja.

“Kurang ajar! Siapa yang telah membunuh anakku?" hardik ki Lurah menyala-nyala.

"Pengkhianatannya." "Apo?" damprat Ki Lurah makin berkobar.

"Ia kubunuh bersama keempat sahabatnya karena mereka bersekongkol dengan orang-orang Demak," sahut Syeh Lemah Kobar tetap tenang.

"Samber Bledek! Tidak ketemu di akal! Fitnah keji!" bentak ki Lurah yang untungnya masih mampu mengendalikan diri dalam kemurkaannya yang menyalak.

"Ki Lurah Brajanala, bertobatlah engkau, kembalilah manunggal dengan Gusti dalam wujud menyatukan diri bersama suluk Syeh Lemah Abang," ucap si jubah hitam, seolaholah ia orang suci. "Aku bernama Syeh Lemah Kobar, yang datang kemari atas panggilan ruh abangku, Syeh Lemah Abang, untuk meluruskan jalan kalian menuju kejayaan. Karena itu mereka yang berkomplot dengan para wali Glagah Wangi harus dilenyapkan. Ikhlaskan kematian anakmu dan anak-anak kalian semua. Anggaplah keper-gian mereka ke alam kelanggengan sebagai sesaji bagi Hyang Mahagusti."

"Setan Ireng! Engkau masih bisa berlagak kesuci-sucian sesudah melakukan keganasan atas anak-anak yang tidak berdosa? Engkau pasti seorang penipu. Syeh Lemah Abang tak kan mempunyai saudara macam kamu!" bantah Ki Lurah sembari menghunus goloknya.

"Sabar, Ki Lurah, sabar, sebelum terlambat. Bertobatlah engkau, sujudlah kepadaku, saudara guru pepundenmu, Syeh Lemah Abang," ucap si jubah. Nyala sorot matanya yang licik menampar-nampar semua yang berani menatapnya, dan mereka akhirnya menundukkan kepala atau memindahkan mata ke arah yang lain.

Ki Lurah sudah tidak mau mendengarkan lagi. Sedianya ia hendak menyerang ganas dengan goloknya, namun tiga sosok bayangan melayang mendahuluinya dengan mencecarkan sabetan kelewang dan keris-keris panjang. Mereka adalah anak buah ki Lurah yang paling tangguh.

Orang pertama menyerimpung dari bawah, yang kedua menyambar ke arah perut, sedang yang ketiga membabat bagian atas.

Serangan ketiga lawan ini jelas sangat sulit untuk dihindari. Sepanjang pengalaman mereka dalam beberapa puluh kali pertempuran, hanya empat orang yang mampu bertahan lebih dari sepuluh jurus. Lain-lainnya rata-rata sebelum tujuh jurus pasti telah binasa dalam keadaan yang mengerikan. Orang- prang yang menyaksikan serangan itu juga berpendapat sama seperti yang terpikir oleh Ki Brajanala. Betapapun lihainya si jubah hitam, kalau sudah diserang dengan jurus simpanan ketiga anak buahnya tersebut, jurus Tri Naga Laksa Hasta atau tiga naga bertangan sejuta, pasti tak kan mampu bertahan dalam lima jurus. Sebab, walaupun nampaknya jurus itu hanya satu, namun kembangannya berubah-ubah bagaikan mempunyai seribu cabang, menyambar-nyambar silih berganti.

Tapi alangkah bengongnya Ki Lurah. Ia melihat si jubah hitam hanya berdiri tegak, sedikit pun tidak bergerak sama sekali. Beberapa saat kemudian barulah Ki Lurah terjaga dari mimpinya. Si jubah hitam tidak berdiri diam, melainkan tubuhnya tengah berputar melebihi kencangnya putaran gasing. Itulah yang disebut ilmu Panggalan Setan. Uh, tokoh dari mans orang berjubah hitam itu? pikir Ki Lurah mulai waswas.

Ia belum menemukan jawaban terhadap pertanyaannya sendiri tatkala berturut-turut terdengar suara mengeluh tiga kali. Dengan kaget Ki Lurah memandangi arena pertempuran. Ketiga anak buahnya menggeletak di tengah lapangan dalam keadaan sekarat. Sebelum mereka sempat mendapat pertolongan, nyawa ketiganya telah melayang lebih cepat.

"Siapa lagi yang ingin musnah menjadi awang-uwung?" tantang Syeh Lemah Kobar dengan pongahnya.

"Jangan menyombong dulu, Kisanak," hardik Ki Lurah tiba- tiba, tercuat dari kedongkolannya. ''Belum tentu engkau tidak berlawan."

"Hem," geram si jubah.

"Maksudmu, engkau akan turun tangan?" "Barangkali tidak perlu," elak Ki Lurah. "Jangan putar-putar. Apa maksudmu?"

"Asal engkau mau bunuh diri, aku tidak perlu turun tangan," sahut Ki Lurah.

"Hahaha . . . ," si jubah tertawa mengikik. "Mimpi apa engkau, Kisanak, berani menggonggong begitu."

"Jadi engkau tidak mau menyerah?" bentak ki Lurah.

"Ha? Menyerah? Kalimat apa itu, menyerah? Di lidahku tidak ada istilah menyerah. Sejak kecil aku hanya diajari: menang, menang."

"Baik, terimalah hukumanmu!" Seraya berteriak demikian, Ki Lurah mulai bersiap hendak menyerbu. Pada hawa dingin yang mengepul dari kuda-kudanya saja, sudah bisa ditebak betapa ampuhnya ilmu Ki Lurah.

Syeh Lemah Kobar sempat dibikin kagum. Ia tidak menyangka, di desa yang kecil dan terpencil ini, ada pendekar tidak ternama yang memiliki ilmu cukup tinggi.

"Pantas engkau punya nyali, Kisanak. Rupanya engkau punya andalan juga. Silakan pertontonkan kelebihanmu sebelum kuhentikan separo jalan," ujar si jubah, diawali memuji tetapi penghabisannya menjatuhkan.

"Kurang ajar!" teriak Ki Lurah kehilangan watak tenangnya.

 "Ada apa, Pakne, ada apa?" tiba-tiba dari kejauhan tampak seorang perempuan berlari-lari mendekat. Belum apa-apa, air matanya telah membanjir.

Agaknya seseorang telah memberi tahu kepadanya tentang peristiwa yang baru saja terjadi. Perempuan itu adalah Nyi Lurah, ibu dari Wuku Panyilang.

"Anak kita kenapa, Pakne? Kenapa?" ratap perempuan itu kian dekat. Ki Lurah jadi serba salah. Ia harus bertempur untuk membalaskan kematian anaknya, tetapi is juga harus memperhatikan istrinya yang pasti akan sangat terpukul bila melihat keadaan mayat biji mata satu-satunya.

Namun sebelum kebingungannya berkembang makin besar, sebuah penyelesaian telah diambil lebih dulu oleh Syeh Lemah Kobar.

"Jangan bikin suamimu bimbang. Terbang sana, mengikuti anakmu yang sudah mampus."

Maka sekonyong-konyong Nyi Lurah tertegak kaku oleh sambaran halus berbau amis yang dilakukan oleh Syeh Lemah Kobar. Aji Awu Geni. Dan sudah dapat dibayangkan bagaimana akibatnya terhadap din Nyi Lurah yang lemah itu. Tubuhnya luruh seperti jemuran terputus talinya. Dagingnya melepuh, kulit dan sekujur badannya berubah hitam lebam.

"Mbok! Oh, Mbok!" jerit Ki Lurah sambil menubruk istrinya yang telah terjerembab menjadi mayat. Tidak, bukan mayat lagi. Nyi Lurah telah menjadi setumpuk daging yang dipanggang dari dalam.

Semua orang sampai menutup hidung dengan wajah ngeri dan hati amat mual kepingin muntah, menyaksikan pemandangan yang jauh melampaui batas-batas perikemanusiaan. "Ibliskah engkau? Atau serigala?" jerit Ki Lurah hingga serak suaranya lantaran begitu ter-hempas melihat nasib perempuan yang tidak berdosa itu, istrinya, demikian menyedihkan.

"Hahaha . . . ," ringkik si jubah presis kuda edan. "Pendekar apa bisanya hanya menangis? Hai, para kawula Bagus Kuning. Lihat pemimpinmu. Ia tidak malu meratapi istrinya di depan rakyatnya. Apa pantas pemimpin macam dia kalian pertahankan sebagai lurah?" 

Tentu saja tidak seorang pun yang mau menjawab, apalagi mengiakan. Sebab, betapapun takutnya mereka kepada Syeh Lemah Kobar, kecintaan mereka kepada Ki Lurah jauh lebih besar. Apalagi mereka masih menyimpan harapan, siapa tahu kelihaian Ki Lurah mampu mengatasi kesaktian orang asing yang mencurigakan itu.

"Sudah pasti tidak. Seujung kuku pun tidak pantas," mendadak terdengar suara nyaring menjawab dari tempat gelap.

Semua orang menoleh dengan gemas. Siapakah di antara rakyat Bagus Kuning yang sampai hati berkata sekeji itu? Sisa-sisa pasukan berkuda ki Lurah hampir mengambil tindakan. Tetapi seperti sebelumnya, Ki Lurah telah memberi isyarat agar mereka jangan ikut campur dulu. Ini masalah dendam dan kehormatan.

"Siapa engkau yang berani menghamburkan bau mulut di tempat gelap?" bentak Ki Lurah seraya bangkit. Di matanya kini bergolak nyala merah. Dengan gerakan yang indah dan cekatan, sesosok tubuh berperawakan tinggi tegap me-layang dari kegelapan, dan hinggap di tengah lapangan.

"Ha? Engkau? Raka Jinangkar?" teriak Ki Lurah keheranan. "Apa engkau berkomplot dengan bajingan berjubah ini?"

Setitik pun Ki Lurah tidak menyangka Raka Jinangkar akan bergabung dengan orang yang menyebut dirinya Syeh Lemah Kobar, meskipun ia tahu Raka Jinangkar menyimpan permusuhan kepadanya sejak dulu.

Selaku ajudan Ki Ageng Kebo Kenongo, bupati Pengging, Raka Jinangkar merasa tersinggung oleh sikap Ki Lurah yang terlalu mendekat kepada Syeh Lemah Abang. Mereka satu kubu, tetapi persaingan memperebutkan kedudukan sebagai orang kepercayaan Syeh Lemah Abang, yang berarti kekuasaan, pengaruh, dan harta kekayaan, telah membutakan kedua-duanya untuk saling bermusuhan secara terpendam. Rupanya kini, semenjak karisma dan wibawa yang mereka segani sudah sirna dengan kematian Syeh Lemah Abang dan Ki Kebo Kenongo, permusuhan tersebut mulai muncul ke permukaan. Apalagi Raka Jinangkar sedang membina kekuatan melalui kekuasaan atas desa-desa pinggiran. Satu- satunya lawan yang boleh jadi merupakan batu sandungnya adalah Ki Lurah Brajanala.

"Mestinya aku yang berhak menuntut tanggung jawabmu," bentak Raka Jinangkar sengit. "Aku tahu engkau telah melakukan kasak-kusuk dengan menghubungi agen-agen Demak. Menyerahlah di bawah bendera Keris Bersilang bila engkau ingin selamat."

"Bojleng, bojleng! Sejak kapan di perutmu tumbuh pusar, hai wong Pengging?" sahut Ki Lurah marah sekali.

"Sejak di rambutmu tumbuh uban," jawab yang digertak sama berangnya. Lantas ia menoleh ke arah Syeh Lemah Kobar:

"Maaf, Tuan, biar saya yang mengambil alih urusan ini," kata Raka Jinangkar kepada si jubah yang dikenalnya sebagai si topeng.

"Bagus," gumam si jubah yang merasa amat puas melihat kemampuan Raka Jinangkar dan kecermatannya dalam melaksanakan semua instruksinya. Ia memang telah mengirim kabar agar Raka Jinangkar menyusulnya ke desa Bagus Kuning. Sebab ia sudah memperhitung-kan, apabila mengalami kesulitan dalam menanamkan pengaruh di desa itu, sebaiknya orang dalam yang mengenal seluk-beluk aliran Manunggaling Kawulo Lawan Gusti yang menyelesaikan persoalan selanjutnya. Karena tujuan-nya hanya satu, menggerogoti kekuatan Demak dengan menumbuhkan kekuasaan lain di seputar kawasan perbatasan.

"Bagaimana, Ki Lurah. Kauterima tawaran-ku?" tanya Raka Jinangkar acuh tak acuh.

"Bocah kemarin sore, tangkaplah hadiahku," hardik Ki Lurah seraya melancarkan serangan pertama.

Jurus itu kelihatan biasa-biasa saja. Tapi tak kurang Syeh Lemah Kobar sendiri mengetahui bahwa gerakan yang tampak remeh tersebut mengandung simpanan tenaga dalam yang ber-pusar-pusar bagaikan kawah Gunung Bromo. Patut namanya juga Ngisor Kawah Ono Geni. 

Rakyat Bagus Kuning amat kagum menyaksikan kelihaian lurahnya. Tapi kemudian mereka terpaksa memindahkan kekaguman kepada lawan pemimpin mereka itu. Raka Jinangkar hanya berkelit sedikit dengan menggeser kaki kiri. Tanpa memutar badan ia menendang ke samping. Seperti tersambar ular koros, jurus ampuh Ki Lurah tertahan dengan ganas. Jago tua yang tangguh itu sadar, bahwa musuh tidak dapat dianggap ringan. Tendangan sampingnya yang mampu menabrak pukulan mautnya jelas menjadi pertanda betapa ajudan Ki Kebo Kenongo memang patut memperoleh kedudukannya. Namun ia belum berada di bawah angin. Sambil seakan-akan hendak berguling ia justru membalikkan badan, lalu menghantam dari belakang. Kali ini jurus yang dipakai disebut Sawer Bromo Ora Lilo. Raka Jinangkar tahu ilmu ini telah memakan korban sangat banyak. Tapi ia bukan pendekar yang hanya besar nama. Kecepatan geraknya tatkala mengelak lantas menghantam dari atas, membuktikan bahwa dia memang memiliki kecekatan dan ketepatan perhitungan.

Keras lawan keras, halus lawan halus. Begitulah pertarungan antarpenganut aliran yang sama telah berlangsung 23 jurus. Tatkala jurus yang ke-24 belum berhasil menentukan siapa berada di atas angin, tiba-tiba sentilan batu kerikil yang tidak kelihatan lantaran cepat dan lembutnya menghantam jidat Ki Lurah dari sentakan jari kaki Syeh Lemah Kobar, presis pada saat Raka Jinangkar memukul ke arah sama.

"Kratak!" terdengar suara tulang pecah ketika ubun-ubun Ki Lurah tersambar kepalan tangan Raka Jinangkar yang kebetulan menggunakan jurus Driji Mlengkung Balung Remuk.

Ki Lurah menggelepar jatuh dengan otak berhamburan. Ia tidak sempat mengaduh kecuali air matanya menetes dua butir dan tangannya menggapai ke arah mayat istri dan anaknya. Syeh Lemah Kobar bertepuk-tepuk kegirangan seraya memuji, "Hebat, hebat! Betul-betul seorang kesatria sejati," teriak Syeh Lemah Kobar.

Raka Jinangkar mem bungkuk-bungkuk dengan bangga tanpa mempedulikan tangis terpendam yang membuat seluruh penduduk Bagus Kuning diam membisu. Para penunggang kuda anak buah Ki Lurah terpaksa ikut tidak bersuara, karena mereka harus mematuhi perintah mendiang atasannya, agar jangan ikut campur apabila tidak terpaksa.

"Para kadang Bagus Kuning sekalian," ucap Syeh Lemah Kobar kepada seluruh masyarakat yang hadir. "Selaras dengan hukum para ksatria, siapa yang menang dalam pertarungan yang adil dan jujur, dalam adu laga satu lawan satu, dia berhak mengambil segala yang dimiliki pecundangnya. Karena itu, semenjak detik ini, aku, mewakili pepunden kalian, Syeh Lemah Abang, berkenan dengan bangga menobatkan Raka Jinangkar sebagai pemimpin desa Bagus Kuning. Serta kunyatakan pula bahwa pemerintahan atas desa ini berada di bawah bendera Keris Bersilang."

Apalagi yang dapat dilakukan oleh orang-orang kecil itu selain pasrah terhadap kenyataan? Karena itu mereka sepatah pun tidak membantah atau protes. Sejarah telah menyodorkan bukti-bukti yang pahit, namun begitulah adanya, bahwa nasib rakyat berada dalam permainan mereka yang lebih kuat, lebih kaya, lebih kuasa. Menetapkan hijau atau merah bukanlah hak kaum awam. Mereka hanya berhak mengais sisa-sisa keserakahan orang-orang besar. Mereka hanya berhak memanfaatkan yang paling baik dari yang paling buruk.