Ajal Sang Penyebar Maut Bab 01 : Awal Keresahan

Bab 01 : Awal Keresahan

Bumi masih bertengger di tempatnya. Malam tetap menyongsong hadirnya terang. Namun matahari kian redup di hati manusia. Sehingga, meski waktu belum lagi parak senja, warna ke-labu yang kian pekat membuat dunia terasa makin senja. Masyarakat tidak juga mendapatkan ketenteraman. Kehidupan tambah berat menindih rakyat kecil. Mereka tidak mengeluh, karena takut. Tidak demikian yang terjadi di istana Sang Mahaprabu Minak Sembuju. Dengan Jaka Pratama menempati wisma keputraan di Blambangan, Sang Raja merasa terlindung oleh tangan-tangan yang kukuh dan bersih. Pada mulanya keadaan Jaka pun setenteram suasana di sekelilingnya. Ketiga orang istrinya, Siti Darwati yang anak keduanya telah berusia tujuh bulan, Puspa Sari yang tampaknya tengah mengandung lima bulan, dan Dewi Sekar Arum yang bulan kemarin tidak datang darah kotornya, hidup rukun dan saling menghargai satu sama lain.

Namun berita yang terdengar dan kurir Demak membuat dada Jaka jadi bergolak. Ki Wiryoprakoso, melalui utusan tersebut, menceritakan situasi terakir yang tengah berkembang. Wali kesepuluh yang datang dari negeri Parsi telah mengajarkan aliran Wihdatul Wujud yang sebetulnya tidak cocok untuk masyarakat Jawa yang masih belum mendalam betul pengertian Islam mertaka. Dengan pelopor ajarannya Imam Al Hallaj, orang awam menyangka bahwa ajaran wali kesrpuluh tersebut, Syaikh Sidi Dzunnar, atau dalam lidah Jawa menjadi Syeh Siti Jenar, yang artinya Tuan Terhormat Yang Mempunyai Api, sama saja dengan aliran yang sebelumnya diberantas oleh para wali lainnya, yaitu bahwa Tuhan menyatu dalam diri manusia. Timbullah akibatnya keresahan dalarn kehidupan beragama serta bernegara di kalangan masyarakat Demak. Padahal Kesultanan Demak belum sempat mengukuhkan tapak-tapak dasar-nya hingga mencengkeram ke seluruh wilayah. Masih banyak yang meragukan wewenang dan kekuatan pernerintahan Demak, sementara sang Wall Kesepuluh menyebarkan ajaran yang mem-bust pare pengikutnya merasa begitu merdeka tanpa ada suatu kekuasaan pun yang berhak memerintah sesama manusia, termasuk raja atau Sultan. Sebenarnya yang diajarkan Syeh Siti Jenar tidak seperti yang diyakini oleh murid-muridnya.

Kalaupun ia sering menyatakan: "Aku adalah Allah, Allah adalah Aku," bukanlah sama dengan ilmu Manunggaling Kawula Lawan Gusti. la sudah tiba pada pendalaman yang makrifat dan hakikat, sehingga apabila ia menyadari akan dirinya, justru ia menyadari akan Tuhan yang menciptakan kehidupan. Bila ia memandang diri-nya seolah-olah ia tidak menampak jasad kasar, melainkan kuasa dan kehendak Tuhan semata-mata. Tidak akan ada dia jika Tuhan tidak berniat untuk menciptakannya. Tapi lantaran secara syariat ajaran tersebut telah menanamkan kegelisahan dan kekacauan akidah, maka para wali memutuskan untuk mengadakan sidang guna membahas masalah itu, dengan menghadapkan Syeh Siti Jenar beserta salah satu muridnya yang paling berpengaruh, Ki Kebo Kenongo.

Sidang tersebut lebih bersifat musyawarah untuk meminta pertanggungjawaban sang Guru dengan muridnya yang kebetulan memiliki kekuasaan selaku bupati Pengging, yang berarti mempunyai wilayah dan rakyat. Jaka Pratama menyesalkan timbulnya ketegangan tersebut, justru ketika ia telah berhasil membina hubungan yang erat antara Blambangan dengari Demak, walaupun dalam masalah terpokok, agama, kedua kerajaan itu sangat berbeda. Bahkan dilihat dari akidah, amat bertolak belakang. la sudah lama mendengar tokoh ulama dari Parsi yang alim dan zuhud itu, Syeh Siti Jenar. Orangnya sudah cukup tua, dengan janggut putih yang lebat dan panjang. Pribadinya amat menarik, tetapi tegar dan tidak kenal kompromi. Ia suka mengenakan jubah hijau dengan seuntai tasbih besar yang terbuat dari batu-batu kota Najaf, tempat suci orang-orang Syi'ah.

Kedatangannya di tanah Jawa disambut gembira oleh para wali, karena dia pejuang yang ikhlas dan tekun. Kesembilan wali mengangkat-nya menjadi saudara, sebab ilmu tasawwuf yang diyakininya amat luas dan dalam. Padahal ilmu tasawwuf bagi para wali merupakan suatu aliran yang dapat dijadikan jembatan untuk mendekati masyarakat Jawa yang tadinya memeluk agama Budha dan Hindu. Bahkan para wali juga menganut aliran tersebut dalam batas-batas yang tidak berlawanan dengan syariat. Maka Syeh Siti Jenar diberi keleluasaan serta dibantu guna menyebarkan pahamnya. Ia bebas keluar-masuk istana Demak dan daerah-daerah kekuasaannya seperti para wali yang sembilan. Namanya yang telah berubah menjadi Syeh Siti Jenar tersebut telah ditransformasikan lagi kepada pengertian kejawaan, Syeh Lemah Abang. Ajarannya dengan cepat memperoleh banyak peminat, termasuk Ki Kebo Kenongo, bupati Pengging. Daerah Pajang dan sekitarnya adalah ladang yang amat subur bagi paham Syeh Lemah Abang.

Namun Sunan Kudus menampak gejala-gejala yang kurang beres. Padahal sikap dakwahnya sangat toleran, sehingga membangun menara di masjidnya berbentuk candi Hindu dan melarang masyarakat Islam dalam kawasannya menyembelih lembu guna menghormati kepercayaan orang-orang Hindu. Ia juga membuat pancuran air wudlu sejumlah delapan buah berupa delapan kepala arca untuk mengingatkan pemeluk- pemeluk agama Budha kepada ajaran Sang Sidharta Gautama ketika di Benares, yakni Asta Sanghika Marga atau Jalan Berlipat Delapan. Ia merasa khawatir begitu mengamati dengan teliti pengaruh dan akibat ajaran Syeh Lemah Abang itu.

Suluk-suluk Syeh Lemah Abang telah diidentikkan dengan ajaran Manunggaling Kawulo Lawan Gusti yang panteistis. Lantaran paham Syeh Lemah Abang sebetulnya hanya cocok untuk orang-orang yang berada pada tingkatan khowasul- khowas, yaitu golongan yang telah mendalami dasar-dasar tasawwuf pada pengertian makrifat dan hakikat Dengan demikian Sunan Kudus buru-buru menghadap sultan Demak, Raden Patah, untuk mengingatkan bahaya yang bisa timbul sewaktu-waktu akibat tersebarnya ajaran itu di kalangan masyarakat swam. Akan tetapi Sultan berpendapat agar suasana kerajaan jangan dipergawat dengan kesan adanya pertentangan di dalam. Sebab Demak masih menghadapi perjuangan yang lebih besar, yaitu menyingkirkan batu-batu penghalang terhadap integritas dan kedaulatan Kesultanan Demak. Apalagi sepanjang berita terakhir yang sampai kepada Sultan, bangsa Peringgi dari negeri Portugis tengah mengintai kesempatan untuk membelitkan belalai keserakahan mereka ke Nusantara, setelah berhasil menyerbu dan men-duduki negeri Malaka di Semenanjung Melayu. Sementara itu, Syeh Siti Jenar terus mengumandangkan ajarannya:

"Syeh Lemah Abang yektinipun, ing kene ora ana, amung Pangeran sejati "

"Syeh Lemah Abang sebetulnya, di sini tidak ada, melainkan Tuhan yang sesungguhnya "

Sunan Kudus makin menampak nyata betapa bahaya kian mengancam ketika dirasakannya kepatuhan para kawula Demak kepada Sultan tambah meluntur akibat ajaran Siti Jenar. Militansi dan disiplin yang diperlukan dalam membina kekuatan telah goyah lantaran pendapat yang keliru, bahwa setiap pribadi mempunyai kebebasan mutlak tanpa keharusan tunduk kepada orang lain, termasuk terhadap Sultan, yakni suatu penghayatan yang salah dari ajaran Syeh Siti Jenar. Para pengikut Syeh Lemah Abang banyak yang meremehkan syariat, terutama perintah berjihad, karena mereka mempunyai pandangan, bahwa Tuhan yang bersatu dengan Aku tidak memerlukan formalitas-formalitas, yang penting adalah gerak batin. Jihad tidak selayaknya dengan senjata, melainkan sekadar memerangi hawa nafsu dan menyingkirkan diri dari segala rangsangan duniawi. Oleh sebab itu, Ki Kebo Kenongo, selaku bupati 'Pengging’, dipanggil menghadap ke pusat, yaitu istana Kerajaan Demak, untuk mempertanggung-jawabkan kepercayaan yang dianutnya.

Di muka para wali ia diminta untuk bertobat dari kesesatan pandangan hidupnya, kekeliruan akidahnya. Terutama agar ia menghentikan penyebaran paham tersebut kepada rakyat yang berada di bawah kekuasaannya, sekalipun untuk dia sendiri bebas buat menganutnya. Namun Ki Kebo Kenongo atau Ki Ageng Pengging menolak. Padahal ajaran Syeh Lemah Abang telah merenggangkan kepatuhan masyarakat terhadap Kerajaan, sedangkan Demak tengah memerlukan jiwa para pejuang yang di-landasi ketaatan terhadap hukum- hukum syariat, termasuk kewajiban berjihad bagi kepentingan tanah air. Maka Sultan pun menurunkan titah untuk menahannya.

Ki Kebo Kenongo tetap bersikeras pada pendiriannya. Oleh sebab itu dengan terpaksa sekali dijatuhkanlah hukuman mati atasnya dalam suatu persidangan yang dipimpin oleh Sunan Kudus, sesuai dengan usul Sunan Kalijaga yang disetujui oleh Kanjeng Sunan Giri. Kemudian gurunya, Syeh Lemah Abang. dipersilakan untuk menghadiri persidangan yang sama, dengan masalah dan anjuran yang sama. Tetapi wali berdarah asli Parsi itu, yang hatinya bagaikan terlingkari api, jelas tak kan bersedia surut dari keyakinannya. Juga meskipun telah diterangkan betapa ajaran tersebut mengakibatkan banyak rakyat yang menolak patuh kepada pimpinan, karena mereka beranggapan memiliki hak mutlak atas diri masing-masing. Mereka menganggap dirinya sebagai insan kamil, manusia sempurna yang harus menolak kekewibawaan orang lain, meskipun terhadap Sultan, guru, atau pemimpin. Dapatkah Demak menggerakkan kekuatan jika wibawanya tidak ditaati oleh rakyatnya sendiri? Syeh Lemah Abang memilih mati daripada menghentikan kegiatannya. Ia mengerti akan pengaruh jelek yang ditimbulkan oleh pahamnya. Ia mengakui bahwa ajarannya telah menyebabkan banyak akibat buruk yang merongrong semangat perjuangan rakyat. Tapi ia berpendapat, kewajiban menyampaikan terus paham itu tidak boleh dihentikannya. Ia akan berjalan tetap pada pendiriannya. Adapun akibat buruk yang timbul bukanlah menjadi tanggung jawabnya. Hal itu semata-mata lantaran kebodohan mereka yang menerima salah ajaran-nya, dan merupakan tanggung jawab kebodohan mereka belaka.

Karena hanya itulah satu-satunya jalan yang dapat diambil, maka Sunan Kudus memutuskan hukuman mati atas diri Syeh Lemah Abang. Bukan didasari benci atau memusuhi ajarannya, tetapi lantaran itulah alternatifnya, yakni menghindari madlarat yang ternyata jauh lebih besar dibandingkan dengan manfaatnya, seandainya bukan eksekusi yang dijalankan. Dan ketika hukuman itu dilaksanakan, pada hakikatnya yang dibunuh bukan Syeh Siti Jenar atau ajarannya, melainkan pengaruh buruk dari ajarannya. Dengan ikhlas Syeh Lemah Abang menerima keputusan tersebut, sebab ia yakin melalui jalan itulah ia bakal bertemu dengan Tuhannya. Demikiari pula Sunan Kudus. Setelah kepala Syeh Lemah Abang terpisah dari badan-nya, ia berkata dengan penuh kepercayaan :

"Syeh Siti Jenar adalah kafir di hadapan manusia, namun ia mukmin sempurna di hadapan Tuhan."

Ucapan ini sebetulnya menirukan dan membenarkan apa yang pernah dikatakan oleh Sunan Giri pada saat menjelang eksekusi dijalankan. Peristiwa hakiki dari penghukuman terhadap Syeh Siti Jenar itu tidak dimengerti oleh kaum awam dan para pengikutnya, sehingga bercabul-lah dendam di kalangan mereka kepada para wali. Dan inilah yang dirisaukan oleh Ki Wiryoprakoso serta Jaka Pratama. Bertanyalah Siti Darwati pada suatu malam, mewakili kedua istri Jaka Pratama yang lain:

"Ada apa, Kangmas, kok nampak murung saja?"

"Kurir Demak yang datang kemarin memberitakan keadaan yang kurang menyenangkan di Demak," ucap Jaka Pratama di tepi tempat tidur seraya menunduk dan memegangi kepala- nya.

"Jadi? Bagaimana rencana Kangmas?" tanya Siti Darwati cemas, diperhatikan dengan sikap yang sama oleh Puspa Sari dan Dewi Sekar Arum.

"Terpaksa saya harus meninggalkan kalian, Diajeng," ucap Jaka seraya menatap mereka satu per satu.

"Apa tidak ada jalan lain kecuali meninggalkan kami?" tanya sang istri dengan wajah berubah murung.

"Ada," jawab Jaka spontan.

Ketiga perempuan itu sangat gembira. Mereka bertanya serempak: "Bagaimana?" "Kerajaan Demak harus kita boyong ke sini," sahut Jaka tersenyum.

"Ih, Kangmas nakal," ujar para wanita seraya tertawa kecut. Dan Jaka jadi kelabakan karena mereka mencubitinya bergantian, melebihi kewalahannya ketika tengah malam ia harus melayani mereka bergantian.

Esoknya, diliputi suasana keharuan, ia dilepas oleh para punggawa Blambangan atas perintah sang Raja di daerah perbatasan. Kuda putihnya yang tersohor, Karbala, masih tetap mengawaninya dengan setia. la meninggalkan Blambangan dengan sedih, namun lebih sedih lagi jika membayangkan apa yang kini tengah berlangsung di wilayah Demak.

Berdasarkan pengamatan Ki Wiryoprakoso atas kuasa dari Senapati Sunan Kalijaga, yang sangat mengancam stabilitas keamanan Demak bukanlah para pengikut Syeh Lemah Abang atau Bupati Ki Ageng Pengging yang nama aslinya Ki Kebo Kenongo. Melainkan orang-orang yang menunggangi dendam mereka dengan cara mengipas-ngipas serta membakar-bakar, agar dendam itu berkobar menjadi benih pemberon-takan.

Adapun para pengikut Syeh Lemah Abang sendiri, sesuai dengan ajaran tasawwuf, telah pasrah terhadap segala kejadian yang menimpa pemimpin mereka. Lantaran mereka beranggapan, kematian Syeh Lemah Abang adalah takdir, yakni jalan untuk mukswa supaya menyatu kepada Sang Murbeng Dumadi, Allah Yang Maha Agung.

Hari itu sultan Demak baru saja memperoleh laporan Panglima Syarif Hidayatullah melalui seorang kurir dari Banten, bahwa negeri dan rakyat Banten menyambut baik kehadiran bendera Demak dan bersedia tunduk di bawah kekuasaannya, terutama dalam menghadapi Portugis yang konon mengancam akan menduduki Ujung Kulon, apabila Malaka telah mutlak berada di bawah wewenangnya. Sultan sedang berpikir akan mengirimkan sebuah armada di bawah pimpinan putranya, Laksamana Dipati Unus, untuk menghadang dan menghancurkan angkatan laut Portugis yang kini tengah mengincar Samudera. Untuk itu ketahanan dalam negeri harus ditingkatkan. Kepada para wali Sultan meminta agar pasukan Santri Pitulas yang sudah berhasil menunjukkan keampuhannya dalam menyelesaikan semua tugas, segera dilipat-gandakan jumlah maupun mutunya.

Karena itulah Jaka Pratama dipanggil untuk kembali bertugas. Dari kemampuan dan pengalamannya ia diharapkan akan dapat memberikan sumbangan yang berharga dalam menata dan memimpin kembali pasukan Santri Pitulas. Sudah dua hari Jaka meninggalkan perbatasan Blambangan. Pada waktu kudanya dengan sigap mulai memasuki kawasan Kerajaan Demak, ia mencium suasana yang berbeda di sepanjang perjalanan. Rasanya daerah yang dilaluinya penuh dengan kabut kesedihan. Bahkan beberapa orang penduduk yang dijumpainya untuk menanyakan ke mana jalan yang lebih pendek ke kampung berikutnya, tampak begitu ketakutan, seolah-olah ada bayangan ngeri yang mengancam keselamatan mereka dari detik ke detik.

Jaka Pratama sangat heran. Ada apakah gerangan di daerah ini?

"Selamat sore, Kisanak," ucap Jaka petang itu kepada seorang lelaki yang sedang duduk di depan rumahnya. "Apa di desa ini ada penginapan tempat saya dapat melepaskan lelah untuk semalam?"

"Pakne, masuk!" tiba-tiba seorang perempuan muncul dari dalam, menyuruh suaminya segera masuk.

Tidak sepotong pun jawaban yang diterima Jaka Pratama. Bahkan sambutan yang agak ramah juga tidak. Ia hanya memperoleh tatapan mata tidak acuh serta penuh kecurigaan dan ketakutan.

Jaka Pratama masih berdiri di depan pagar ketika pintu digebrak rapat dari dalam. Dengan langkah gontai Jaka menuruni tangga lalu menuntun Karbala, melewati rumah demi rumah dengan sikap penghuninya yang sama saja. Ngeri dan seperti tidak peduli. Ia merasa belum tua benar, sebab usianya kini baru menginjak dua puluh empat tahun. Ia yakin ingatannya masih tajam, jauh daripada pikun. Dan dengan ingatannya itu, ia bisa memastikan daerah yang kini dilaluinya jelas berada di bawah kekuasaan Kesultanan Demak. Tapi mengapa bendera yang berkibar di puncak tiang di tengah alun-alun itu bergambar tengkorak dengan dua keris bersilang di bawahnya?

Ksatria yang pernah malang-melintang dengan julukan Santri Putih Bertangan Besi itu makin kebingungan tatkala anak-anak kecil pun lari serabutan menghindari pertemuan dengannya. Apakah ia disangka bakal menyebarkan wabah sampak atau cacar?

Untunglah masih ada seorang tua bijaksana yang mau bertegur sapa dengannya, yaitu ketika ia sudah hampir putus asa menjelang malam turun. Orang tua itu tinggal di sebuah gubuk reyot paling ujung.

Tadinya kakek tersebut tidak nampak, masih berada di dalam rumahnya. Begitu Jaka berjalan terseok-seok bersama kudanya, orang tua itu keluar dan memanggilnya.

"Anak muda, mari singgah di rumah saya," teriak lelaki tua itu dengan suara parau.

Jaka menoleh dan mengangguk. "Terima kasih, Aki, terima kasih," jawab Jaka seraya menambatkan kudanya di pekarangan si kakek. "Maaf, barangkali saya mengganggu ketenangan Aki," ucap Jaka tatkala berhadap-hadapan dengan kakek tersebut.

"Ah, tidak mengapa. Silakan masuk," sahut kakek sambil membawa Jaka memasuki gubuknya.

Wajah orang tua itu memang penuh keriput. Rambut dan janggutnya yang panjang juga sudah memutih seluruhnya. Namun sungguh aneh, kulit di lehernya yang kekar sama sekali tidak ada kerut-merutnya. Demikian pula matanya, nampak bersih, bahkan agak liar.

Sediaaya Jaka akan menaruh curiga. Tetapi di dinding ia melihat gantungan pigura bertuliskan lafal Allah dan Muhammad. Berarti kakek itu seorang pemeluk agama Islam, sehingga ia merasakan tenteram dan aman.

"Jauh juga rupanya perjalanan yang telah Raden tempuh?" tanya si kakek sesudah Jaka dipersilakan duduk.

Jaka makin heran. Dari mana kakek ini tahu untuk memanggilnya dengan sehutan Raden? Biasanya penduduk desa yang herusia lehih tua hanya memanggil polos, engkau, dan tidak membahasakan Raden kecuali bila yang dipanggil memang berdarah bangsawan. Sebutan Raden masih mahal sekali waktu itu. Seseorang bisa dihukum penjara kalau membahasakan Raden kepada orang yang tidak mempunyai hak, atau menyebut dirinya Raden padahal ia bukan keturunan ningrat. Jaka berpikir, apakah orang tua ini mengenal siapa dia sebenarnya?

"Betul juga dugaan Aki. Saya datang dari Blamhangan," jawab Jaka seadanya. Ia tidak berburuk sangka untuk tidak menceritakan sejujurnya. Rasanya tidak sampai hati mencurigai seorang kakek yang mau beramah-tamah, sementara semua orang seperti hermusuhan dengannya. Berkilat pandangan di mata si kakek. "Hem, hetul-betul jauh. Kalau begitu kami tidak keliru."

"Kami?" tercuat rasa heran pada Jaka, lantaran si kakek membahasakan dirinya dengan kami, padahal sepanjang pengamatan Jaka di situ hanya ada dia sendirian. Agaknya si kakek juga menyadari ketelanjuran omongnya. Mukanya beruhah sebentar sebelum ia menjawab: "Maksud saya, Aki dan Nyai."

"Oh," gumam Jaka. "Kok Nyai tidak kelihatan?"

Agak gelagapan kakek itu menerangkan: "Nyai saya sedang ke rumah cucu di seberang kali. Baru saja, belum lama."

Sayang, Jaka tidak mengusut lebih jauh. Andaikata ia mau bertanya sedikit lagi, pasti si kakek akan kehabisan dalih. Sebab tidak ada tanda-tanda bahwa sebentar tadi di rumah tersebut pernah ada seorang perempuan tua. Sepatutnya Jaka menaruh curiga, ketika beberapa saat kemudian di meja telah terhidang sejumlah makanan yang masih hangat. Tapi waktu itu Jaka tengah khusyuk mengerjakan sembahyang Maghrib, dijamak dengan Isya. Dan wiridnya begitu lama, sehingga tatkala ia duduk di muka hidangan tersebut, semua masakan yang tersedia sudah menjadi dingin.

Namun begitu, sebetulnya Jaka sudah sangat keheranan, melihat makanan yang dihidangkan terlalu mewah dibandingkan dengan keadaan gubuk tempat kakek itu tinggal.

"Wah, macam-macam sekali makanannya," ucap Jaka tidak enak, merasa terlalu disambut berlebihan oleh seorang kakek yang tua dan miskin. Dalam hatinya ia berjanji, besok, kalau ia akan meninggalkan rumah itu, akan diserah-kannya sekeping uang emas untuk si kakek. Dengan uang itu, ia yakin kakek bakal dapat memperbaiki gubuknya lebih bagus daripada seluruh rumah yang terdapat di desa itu.   

Tapi agaknya ia tidak akan sempat melaksanakan niatnya. Sesudah sepotong daging ayam ditelannya, dan separo cangkir teh manis diteguknya, mendadak matanya berkunang- kunang. Kepalanya jadi berat, dipenuhi warna-warni yang berputar bagaikan gasing dalam ingatannya. Ia sempat menggerakkan tangannya untuk mencabut keris Naga Wulung yang terselip di pinggangnya. Namun ia lupa menelan racikan penawar racun sebelum menyantap hidangan yang disediakan seseorang yang belum dikenalnya. Atau tepatnya, ia tidak menganggap perlu untuk berjaga-jaga, jangan-jangan ia bakal diperdaya dengan makanan beracun oleh seorang kakek yang dikiranya sangat ikhlas menyambut kedatangannya. Karena itu tangannya terkulai lemas dan tubuhnya yang tegap menggelosor jatuh ke bawah tanpa sadar sama sekali.

Jaka Pratama telah terjebak dalam perangkap busuk akibat terlalu percaya kepada orang lain, didasari keyakinannya untuk hanya bersangka baik kepada sesama manusia. Ia lupa bahwa akhir-akhir ini dunia makin kotor oleh keserakahan dan kerakusan nafsu iblis yang mengeram di hati manusia. Untung musuh yang bermuka buruk itu tidak membubuhi racun maut, atas perhitungan, apabila racun maut yang dicampurkan ke dalam makanan tersebut, pasti Jaka akan mampu mencium keanehan baunya. Dengan racun yang cuma membuat pingsan, makanan tadi terbukti hampir tidak berubah baunya sedikit pun.

Adapun untuk pekerjaan selanjutnya, membunuh Jaka, bisa dilakukan dengan cara lain. Siasat lawan telah berhasil dengan gemilang. Beberapa sosok tubuh berkelebat masuk tidak lama sesudah itu, dan menggotong Jaka, entah hendak dibawa ke mana. Kakek yang nampaknya jujur itu menggeledah seluruh pakaian Jaka. Ia tertawa gembira dan mengangguk kepada anak buahnya setelah menemukan apa yang dicarinya. Secarik kertas berisi  catatan tertentu, yang untuk itu komplotannya, berlambang tengkorak dengan dua keris bersilang di bawahnya, dijanjikan seseorang dengan hadiah besar guna mendapatkannya.

Orang yang misterius itu akan menunggu di puncak suatu bukit tengah malam nanti, yakni bukit yang oleh penduduk dinamakan Gundukan Alit, kurang lebih tiga jam perjalanan ke arah barat, melewati sebuah hutan kecil dan dua sungai besar. Kakek tersebut harus menyerahkan kertas catatan itu di sana, sekalian menerima hadiahnya. Gerombolan itu segera berangkat menuju ke tempat yang telah ditentukan. Mereka berjumlah tujuh orang, termasuk si kakek, yang kini telah melepaskan penyamarannya sehingga kembali kepada wujud aslinya, seorang pria berumur 39 tahun dengan badan tegap dan tatapan mata yang beringas. Kuda Jaka Pratama digebah sesudah dilepas ikatannya. Mereka tidak mengambil kuda itu, karena jika tertangkap pihak berwenang bahwa kuda yang mereka miliki adalah hasil kejahatan, pasti akibatnya akan lebih buruk bila dibandingkan dengan keuntungan untuk menguasainya.

Barangkali inilah satu-satunya kekeliruan mereka, di samping pekerjaan yang nyaris sempuma. Di tengah perjalanan, tatkala mereka menyusuri sungai pertama yang lebih besar dan deras daripada kali berikutnya, tubuh Jaka dilemparkan dari atas tebing, presis melontarkan gedebok pisang, tanpa perasaan sama sekali.

Mereka menyangka telah melakukan perbuatan yang paling kejam, dan mereka bangga, sebab konon, hidup di dunia yang kejam, hanya sikap yang paling kejam sajalah yang dapat mengantarkan mereka kepada tujuan yang hendak dicapai. Belas kasihan adalah kebodohan yang amat dungu. Mereka tidak tahu bahwa Jaka Pratama telah menguasai ilmu Selo Kumambang, warisan dari mertuanya, Sang Prabu Minak Sembuju, raja Blambangan.

IImu itu adalah suatu kesaktian yang membuat dirinya dapat mengapung di air dalam keadaan bagaimana pun. Tidak itu saja. Pada waktu ia pingsan, air justru merupakan obat yang akan membuatnya sadar dalam sekejap mata. Jadi, melemparkan Jaka Pratama ke dalam sungai adalah kekeliruan mereka yang kedua, kekeliruan yang lebih besar dari yang pertama.

Di Gundukan Alit tepat tengah malam, sososok manusia bertopeng dengan tubuh tinggi kurus telah menunggu kedatangan mereka.

"Engkau membawa yang kupesan?" sosok bertanya. Suaranya sengau tapi melengking tajam, pertanda ilmu batin yang dimilikinya telah mencapai titik tertinggi.

"Apa kami pernah gagal?" jawab pemimpin rombolan dengan angkuh.

"Bagus," sambut si topeng seraya menyerahkan pundi-pundi berisi hadiah yang dijanjikan, sesudah dengan matanya yang bagaikan burung elang memeriksa isi tulisan dalam kertas yang diberikan kepadanya, di bawah sinar purnama tanggal empat belas.

"Apa tugas kami selanjutnya?" tanya pemimpin Keris Bersilang.

"Melipatgandakan anggota dan menguasai seluruh desa perbatasan, sehingga Kerajaan Demak terkepung dalam jaring lingkar Keris Bersilang."

"Sudah tujuh desa kami kuasai, termasuk desa saya. Keenam orang yang mengiringkan saya kemari adalah tokoh-tokoh pendekar dari keenam desa yang telah kami taklukkan." "Bagus," jawab si topeng kian puas.

"Petunjuk dan bantuan yang kalian perlukan akan kuberikan pada kesempatan lain. Ingat, tidak usah mencari aku atau menanyakan siapa aku. Sebab akulah yang akan mencari kalian."

Setelah itu si topeng melayang turun dengan gerakan kilat yang membuat ketujuh orang itu mendesah kagum. Dalam beberapa detik sosok tadi tidak kelihatan lagi, meninggalkan bau amis yang menusuk hidung di tengah angin malam yang semilir dingin.

Rasa dingin itu Pula yang mula-mula dialami Jaka Pratama ketika ia siuman bahwa dirinya berada di dalam sungai yang arusnya sangat kencang. Ia tidak perlu berpikir dulu apa sebabnya ia berada di dalam air. Yang paling perlu dilakukannya ialah berusaha melawan arus dan berenang ke pinggir. Meskipun harus bergerak dengan susah payah, toh akhirnya Jaka berhasil mencapai tepian kali, lantas berpegangan kepada sebatang akar untuk memanjat ke atas.

Ia hampir kehabisan tenaga ketika kemudian dapat menghempaskan tubuhnya ke lumpur. Di situ ia beristirahat dengan menelentangkan badannya di tanah becek, sambil menghimpun napas dan kekuatannya sedikit demi sedikit.

Bulan bergeser melewati awan-gemawan dalam bias cahaya yang kian terang. Jaka memejamkan mata, tanpa mengambil peduli terhadap keindahan malam yang terpeta di sekujur kaki langit. Yang indah buat Jaka sekarang ini adalah tidur hingga tenaganya terkumpul kembali. Siapa tahu, besok pagi. Ia tidak mau berpikir macam-macam, sebab dengan berpikir macam- macam dalam keadaannya seperti sekarang, ia kuatir akan teringat kepada keluarganya dan menjadi berduka karenanya. Pada waktu seorang ksatria tengah berjuang, kesedihan akibat, mengenang keluarga bukan saja merupakan aib, melainkan juga kelemahan yang dapat berakibat fatal. Lantaran urusan adalah masalah pribadi, sedangkan perjuangan ialah mengorbankan kepentingan pribadi bagi bagi tujuan yang sangat mulia yakni keselamatan negara dan bangsa.

Tidak berarti bahwa seorang pejuang tidak punya hak untuk memikirkan keluarga. Sekali-sekali tidak. Tetapi dalam saat, sedang melaksanakan tugas, seharusnya pikiran lain disingkirkan lebih dulu, agar seluruh konsentrasi dapat dipusatkan pada keberhasilan kewajibannya.

Dengan tekad sekeras itulah Jaka Pratama baru bisa menaklukkan rasa sakit yang meruyak sekujur tubuhnya, sampai akhirnya dapat terpulas dengan lelap. Kalau tidak, ia bakal tersiksa oleh rasa sakit itu sehingga tidak mungkin dalam tempo singkat dapat memperoleh tenaganya yang hampir lenyap seluruhnya akibat keampuhan racun yang dibubuhkan ke dalam makanan dan minuman yang masuk ke badannya.

Pada saat yang sama, ketika pagi-pagi Jaka masih tergolek di atas lempung, seekor kuda yang tangkas tengah mengais- ngais tanah dan menciumi tetumbuhan atau rumput, untuk mencari majikannya. Kuda itu adalah Karbala yang kehilangan jejak di tebing, tempat Jaka dilemparkan ke dalam sungai. Kuda itu kebingungan di tebing tersebut. la berulang kali mendenguskan moncongnya ke atas dan ke hawah, seraya meringkik dengan panik, seolah-olah sedang memanggil- manggil Jaka Pratama dengan kekuatiran yang menanjak.

Pada waktu siangnya Jaka Pratama terjaga, dan tiba-tiba mendengar suara Karbala lamat-lamat. Di suatu tempat yang jauh dari situ terdengar pula suara lain, lenguhan napas penuh kepuasan. Suara lenguhan itu keluar dan mulut seorang lelaki jangkung yang badannya kurus ceking tetapi wibawanya berada di atas sejumlah laki-laki lain yang nampaknya semua bertampang beringas dan dingin.

"Paman, kita telah mendapatkan daftar nama-nama yang harus disingkirkan," ucap laki-laki tadi kepada seseorang yang lebih tua dan sedang mengunyah sirih di depannya.

"Maksudmu?" tanya si pemakan sirih seakan kurang peduli. "Dari surat ini, ternyata Jaka Pratama diperintahkan oleh panglima perang Demak untuk menghubungi beberapa agen Santri Pitulas yang telah menyelusup ke beberapa tempat dan kelompok," kata si jangkung sembari meneliti kertas yang telah dirampas oleh pemimpin gerombolan Keris Bersilang.

"Hem, bagus. Berarti pekerjaan kita sudah hampir berbuah."

"Jangan memandang enteng, Paman. Kita harus menyelidiki dulu secara teliti sebelum bertindak."

"Aku tidak begitu paham."

"Maksud saya, apakah nama-nama yang tercantum di sini betul-betul orang-orang Demak yang harus dihubungi Jaka Pratama atau bahkan sebaliknya, yang harus dicurigai atau dihabisi karena mereka adalah musuh-musuh Demak? Sebab kertas ini hanya berisi nama-nama, dan tidak mencantumkan sikap apa yang harus diambil oleh Jaka Pratama. Ah, memang lihai senapati Demak yang wali itu."

"Kalijaga?" tanya pria tua itu sebal.

"Betul," jawab si jangkung, rupanya merupakan pemimpin besar dari suatu gerakan bawah tanah yang hendak menumbangkan pemerintahan Demak.

"Padahal dulu dia sering berteman denganku kalau merampok. Aku adalah sahabat karibnya dalam kejahatan, semasa dia belum tergoda oleh Sunan Bonang. Waktu itu namanya Raden Seca, anak bangsawan Majapahit, adipati Tuban, yang lebih suka jadi penyamun. Namanya kemudian diubah menjadi Lokajaya. Tidakkah engkau pernah mendengar, di mana ada Lokajaya di situ pasti ada Lokawana, namaku sendiri? Kami tidak pernah bertengkar, barangkali hingga kini ia masih tetap menganggapku sahabat, seandainya jalan kami tidak berbeda."

"Siapa tahu Sunan Kalijaga masih beranggapan demikian?"

"Terangkan saja, jaugan bikin aku pusing. Kau kan tahu, yang paling kubenci hanya satu, berpikir," tegur sang paman berubah sewot.

"Hahaha . . . ," si jangkung tertawa melihat ulah pamannya, yang sudah tua tetapi masih suka uring-uringan dan ugal- ugalan.

"Maksud saya begini, Paman punya kesempatan untuk menemui Sunan Kalijaga sebagai seorang sahabat. Siapa tahu Paman akan dipercaya untuk bekerja di istana?"

"Hem, betul juga pendapatmu. Engkau memang pantas jadi raja, Pamungkas. Otakmu encer, tanganmu kejam, hatimu batu. Itulah yang patut dimiliki oleh seorang penguasa kerajaan."

"Hahaha …… ," kembali Wong Pamungkas tertawa melengking. Ternyata setelah lama tidak muncul di dunia luar, kini Wong Pamungkas menjalin kerja sama dengan paman iparnya, seorang pemimpin rampok yang kaya-raya dan memiliki istana di suatu tempat yang dirahasiakan dengan anak buah berjumlah puluhan orang. Bukan itu saja. Wong Pamungkas mendapat dukungan dana dari pamannya itu, Aditya Lokawana, untuk membangun wilayah kekuasaan melingkari kawasan perbatasan Demak di desa-desa pedalaman yang lemah penjagaannya. Untuk itu ia telah mengadakan hubungan. rapat dengan partai sakit hati Keris Bersilang. Gerombolan tersebut diketuai oleh seorang penjahat muda bemama Raka Jinangkar, yang dahulunya adalah ajudan bupati Pengging, Ki Ageng Kebo Kenongo. Semenjak majikannya dibunuh oleh para wali, ia menghimpun anak buahnya untuk mengumpulkan kekuatan guna melawan pemerintah Demak. Kebetulan ia bertemu dengan Wong Pamungkas. Dan saat itulah ia makin mengembangkan kekuatannya dengan cara merekrut anggota sebanyak- banyaknya.

“Paman, mari kita berbagi tugas. Paman Lokawana berangkat ke Demak atau Glagah Wangi. Usahakan agar dapat bertemu muka langsung dengan Sunan Kalijaga. Saya akan mendatangi desa Bagus Kuning untuk mengusut nama-nama yang tertulis dalam surat ini. Setuju?" ujar Wong Pamungkas kepada pamannya.

Sebagaimana diakui sendiri oleh Lokawana, ia paling malas untuk berpikir. Karena itu ia tentu saja menjawab bahwa ia sanggup melakukannya, tanpa mempertimhangkan baik-buruk atau bahaya yang mungkin mengancamnya. Buat Wong Pamungkas, sungguh beruntung dapat menemukan paman ipar macam Aditya Lokawana sesudah bertahun-tahun tidak pernah berjumpa. Sebab pamannya itu tidak saja kejam, lihai, tetapi yang terpokok, dia adalah orang bodoh yang gampang diperkuda bagi kepentingan ambisinya.

Kesepakatan antara keponakan yang jahat dengan paman ipar yang buruk barangkali akan merupakan malapetaka seandainya tidak ada yang mampu menghalang-halanginya. Apalagi kini mereka telah mempunyai kawasan kekuasaan dan pengaruh melalui persekongkolan mereka dengan gerombolan Keris Bersilang yang dipenuhi dendam untuk menghancurkan semua yang berbau Demak atau kewalian. Padahal Kerajaan Demak sedang dilanda berbagai macam kesulitan akibat berkecamuknya peperangan melawan musuh dari semua jurusan. Majapahit masih belum hancur sama sekali. Bahkan Prabu Udara Brawijaya VII yang kini memegang tampuk pemerintahan meneruskan kekuasaan Prabu Brawijaya VI atau Raja Girindrawardhana yang telah meninggal beberapa bulan yang lalu, kelihatannya cukup punya nyali untuk memperhebat tekanan kepada Demak. Sementara itu kesehatan Sultan Demak, Raden Patah, akhir- akhir ini justru makin menurun dan ia sering jatuh sakit.

Namun demikian, dalam situasi rawan semacam itu, Raden Patah masih mampu mengambil keputusan yang gagah berani. Dalam keadaan sakit ia memanggil putranya, Raden Surya, yang juga dikenal dengan nama Dipati Unus.

"Angger putraku," ucap Sultan terpatah-patah. "Rencana kita untuk memberi pelajaran telak kepada bangsa Peringgi harus segera dilaksanakan. Mereka telah menduduki Malaka. Ummat Islam di sana telah datang berkali-kali minta bantuan angkatan laut Demak. Malah saat ini, mereka mulai mengancam Kerajaan

Samudera Pasai di pulau Sumatera. Siapapun armadamu, dan dalam sepuluh hari ini engkau harus sudah berlayar ke utara. Untuk itu engkau kunobatkan sebagai Pangeran Sabrang Lor.

"Hamba menurut apa kata Rama," sahut sang putra mahkota dengan patuh. Itulah saat yang ditunggu-tunggunya, membuktikan kepada orang-orang kafir, bahwa armada Demak tidak boleh dianggap remeh. Seketika itu pangkalan angkatan laut Demak, Jepara, mulai diliputi kesibukan guna memper-siapkan keberangkatan armada pimpinan Laksamana Pangeran Sabrang Lor menuju Malaka.

Justru pada saat itu Jaka sedang dilanda kebingungan mengamati keadaan dirinya. Ia tergolek hingga matahari menyengat tubuhnya. Sewaktu ia telah mendapatkan kesadarannya kembali, ia malah jadi panik tatkala surat yang diamanatkan kepadanya untuk dilaksanakan telah lenyap dari kantung bajunya. Ia amat kuatir, apabila surat itu jatuh ke tangan musuh, hanya ada dua kemungkinan yang bisa terjadi. Musuh akan salah paham dalam mempelajari isi surat itu, sampai mereka dengan gegabah melakukan tindakan yang di luar perhitungan. Meskipun hal ini tidak akan membuat jatuhnya. korban di pihaknya, namun bakal merusak strategi yang sudah diatur dengan cermat oleh Sunan Kalijaga. Kemungkinan lain musuh dapat menangkap maksud surat itu dengan tepat. Jelas jika hal ini yang terjadi, kerugian di pihak Demak akan berlipat kali lebih besar.

Jaka sempat menyesali kebodohannya sendiri. Mengapa dalam zaman serba gila begini ia masih bersikap selalu baik dan tidak pernah menyangka buruk terhadap kebaikan orang? Oh, andai-kata ia tidak mengikuti bisikan ketulusan hatinya, pasti ia tak kan terjebak oleh racun yang disediakan kakek jahat itu.

Tapi sesal berkepanjangan tidak akan ada gunanya, bahkan bisa mempergawat kondisi selanjutnya. Karena itu ia segera membersihkan badan, lantas memakai kembali pakaian yang kotor oleh lumpur itu setelah dicuci dan di-keringkan. Untuk beberapa lama ia duduk ber-sila di suatu gundukan tebing sungai yang agak tinggi. Dengan pemusatan pikiran dan segenap rasa kepada suatu fokus, Allah, ia mulai berhasil menghimpun kekuatan dalamnya lagi. Darah panas bergolak- golak dari jantungnya, menggelegak ke atas, membobol semua sekatan berupa kesedihan, kelemahan, dan kelesuan. Tatkala hawa panas seolah-olah membuat ubun-ubunnya mengepulkan asap, Jaka sangat bersyukur menyadari bahwa ternyata kemam-puannya mengendali-tenaga inti batin masih berada pada puncak kesanggupannya. Ia gembira dan gerakannya menjadi ringan berkat segenap organ tubuhnya telah kembali kepada fungsinya secara normal.

Pandangan matanya kian tajam karena didukung oleh ketajaman tatapan batinnya. Pendengarannya makin peka lantaran dikuatkan oleh Jaya tangkap tenaga dalamnya.

Pada saat itulah is mendengar bunyi meringkik sayup-sayup sampai dari puncak tebing di dekat batu cadas beberapa kilo di mukanya. la sangat mengenali suara itu. Maka tanpa ayal is melompat-lompat seperti kijang berahi menuju ke tempat itu. Tepat sekali dugaannya. Di sana si Karbala masih terus mengendus-enduskan hidung ke atas dan ke bawah, hampir putus asa melacak tuannya.

Begitu Jaka datang menghampiri bagaikan bayangan malaikat yang turun dari langit, si Karbala langsung mengangkat kedua kaki depan-nya, menandakan kegembiraannya bertemu kembali dengan majikan yang dicintainya.

"Karbala, engkau memang sahabatku yang, setia," ujar Jaka seraya mengelus-elus suri kuda-nya yang berjumbai di lehernya.

Kuda ranggi berbulu putih mulus itu segera rnenyedeprok ke tanah, seakan-akan menyatakan kesiapannya untuk segera terbang mengantarkan sang majikan ke mana pun di muka bumi ini.

"Engkau sudah merumput, Karbala?" bisik Jaka penuh kasih sayang. Kuda itu mengangguk-angguk, menandakan bahwa perutnya telah cukup kenyang. Ia tidak sabar untuk membawa Jaka di punggungnya.

"Aku malah belum makan," ucap Jaka menggumam, Berbareng dengan itu ia melompat ke ujung batu cadas, lalu dengan bertolak dari batu itu ia melayang ke atas sebelah kiri untuk merenggut dua butir buah mangga masak dari pohonnya. Berbekal kedua butir buah liar yang langsung dilahapnya itu, Jaka segera menempatkan tubuhnya di punggung Karbala. Dan kuda itu langsung berdiri, kemudian melangkah gesit melompati semak demi semak menuju arah yang ditunjukkan oleh majikannya.

“Kita terus ke barat, mengunjungi desa Bagus Kuning,” bisik Jaka kepada Karbala.

Dengan patuh kuda yang setia itu melaju, melewati tepian kali, mengerahkan selumh kelincahannya. Berdasar peta yang tidak terampas dari pelana Karbala, ia hams menyeberangi sungai tersebut sebelum tiba di hutan kecil yang dikenal penduduk dengan sebutan Alas Setan Gundul, karena konon, menurut legenda, di hutan itu bermukim keluarga setan yang kepalanya gundul semua.

Adapun data Bagus Kuning yang dimaksud terletak dalam wilayah Kabupaten Pengging, dalam lingkungan daerah Pajang, masih termasuk ke dalam kekuasaan Bintara Demak. Penduduknya rata-rata menganut aliran Syeh Lemah Abang, dan sangat fanatik serta amat Sakit hati terhadap penghukuman mati atas pemimpin mereka, Ki Kebo Kenongo dan gurunya.