Adipati Yuyurumpung

Penyadur : Harjono HP
BAGIAN I

CERITERA INI terjadi disekitar tahun  mengambil tempat diwilayah daerah Pati. Sebagian ancar-ancar pada waktu itu kerajaan yang telah berdiri megah adalah PaJayaran di Jawa Barat dengan Prabu Ciung Wanara sebagai pemegang jabatan. Kerajaan Majapahit belum lagi lahir, mungkin sedang dibangun oleh Raden WiJaya. Dan wilayah Pati adalah meruoakan daerah yang bebas terlepas dari lingkungan kedua kerajaan itu.

Memang benar dimasa-masa sebelumnya, yaitu sewaktu PaJayaran berada dibawah kekuasaan aja daerah Pati adalah termasuk dibawah perintahnya. Namun sesudah Raja Siliwangi turun dad tachtanya, wilayah Pati mulai membandel dan akhirnya melepaskan diri. Kemudian daerah-daerah yang bebas ini dikuasai oleh para adipati, yang merupakan raja-raja kecil memerintah dilingkungan kadipatennya sendiri-sendiri.

Untuk memperluas daerah kekuasaannya, para adipati sering pada bentrokan lalu serang menyerang, siapa kuat dialah yang menang. Hukum pada waktu itu didasarkan atas kekuatan, dan bukan atas keadilan. Siapa yang kuat dialah yang akan berkuasa. Sedang yang lemah akan dijadikannya suapan, untuk diinjak-injak yang berkuasa itu.

Karena itu untuk saling mengimbangi kekuatan, biasanya para adipati pada memelihara jago-jago gulat yang sakti, yang selalu akan mengawalnya kemana saja adipati itu pergi. Dan jago-jago kelalhi inilah yang disebut: SONDONG. Hatta, maka tersebutlah pada waktu itu daerah lingkungan Pati terbelah menjadi dua persekutuan, ialah persekutuan Barat dan persekutuan Timur. Masing-masing persekutuan terdiri dari dua orang adipati.

Persekutuan Barat adipati-adipatinya ialah Adipati Parang- gartida dan Adipati dari Kemaguhan. Sebagai kepalanya dimana ia merupakan pimpinan yang berkuasa tiap harinya yaitu dipegang oleh Adipati dari Kemaguhan sendiri yang bernama Yuyurumpung.

Mungkin memang telah ditakdirkan, seperti juga namanya yang jelek, maka keadaan jasmaninya sang Adipati ini juga sangat menyedihkan. Hidung besar, mulut lebar dengan bibir bergaris- garis. Tubuhnya pendek beserta kepala degil bagai buah kelapa dan mbendol kebelakang hanya kalau memakai kuluk kebesaran (topi) niscaya selalu akan jatuh. Belum lagi terhitung yang lain, yaitu ditiap kakinya ditumbuhi satu mata bubul (semacam penyakit kapalan).

Namun demikian Adipati Yuyurumpung sangat terkenal serta ditakuti, sebab selain ia berkuasa, dia adalah juga seorang yang sakti. Dia pandai mengerjakan barang-barang kegaiban yang tidak sembarangan orang akan dapat memiliki kepintaran itu.

Adipati Paranggaruda sendiri adalah tak berbeda, tubuh nya juga cacad, bahkan ia merupakan saudata kembar Yuyurumpung. Ketika sama-sama berguru dulu keduanyapun tunggal ajaran dan senantiasa tak pernah berpisah. Begitu-lah disebutkan, apabila kedua Adipati kembar ini sedang berjalan bersama memeriksa keadaan wilayahnya, maka orang orang yang kebetulan pada melihat sering jadi tertawa sebab menurut anggapan mereka seolah-olah sedang menyaksikan dua jin yang diutus dari Laut Kidul.

Adapun daerah persekutuan Timur terdiri dari Adipati Carangsaka dan Adipati Maja Asem. Kepala persekutuan Timur bernama Suksmayana. Ia dibantu oleh adiknya yaitu Kembang Jaya. Berlawanan dengan Adipati-adipati dari persekutuan Barat, maka Suksmayana ini orangnya cakap, halus budi, cendekiawan serta wataknya lembah manah, sopan santun terhadap siapa saja. Sampai kepada bawahannyapun ia selalu menghormat dan menghargai.

Karena itu tak anehlah kalau para kawulanya pada tunduk dengan taat serta mengagung-agungkan kebijaksanaannya dan rasa kemanusiaan Adipati yang mulia ini.

Dan Suksmayana kelebihannya ialah karena ia memiliki dua pusaka wasiat. Pusaka itu yang satu berujud kuluk (topi) yang disebut Kanigara, dan kedua berujud sebilah keris bernama liambut pinutung. Kasiat kedua pusaka ini, siapa yang memiliki akan menjadi Adipati besar didaerahnya! Dan inilah sebabnya maka setelah tahu akan tuahnya yang besar itu, Adipati Yuyurumpung dari persekutuan Barat jadi bernafsu sekali ingin merebutnya!

Orang ketiga dari persekutuan Timur adalah Adipati dari Carangsaka yang bersebutan Puspandengjaya Ia tak banyak berselisih dengan Suksmayana, hanya bedanya Puspandengjaya lebih bersifat ketua-tuaan sedikit. Adipati Carangsaka ini tenar karena mempunyai seorang puteri yang cantik molek. Namanya Dewi Rajung Wulung Demikianlah seperti disebutkan diatas antara Adipati itu selalu saling bentrokan karerta ingin metuaskan Jayahannya Dan dua persekutuan itupun samalah halnya mereka bermusuhan dan saling mendendam, tontar-maantartah rasa curiganya.

Kadang-kadang cuma ditimbulkan oleh sebab-sebab yang remeh namun tak jarang sering dijadikan alasan yang besar, kemudian disangkut pautkan dengan soal pemerintahan, sampai akhirnya berperang. Dan salah satu pertandingan yang tersengit yang pemah terjadi yaitu ketika Adipati Yuyurumpung mengadu ayam dengan Sondong Singa Jembangan dari persekutuan Timur. Sondong Singa Jembangan ini adalah seorang brandal, perampok, pemadat dan penyamun ulung. Semboyan hidupnya hidup bebas, merampoki orang-orang kaya atau kepala kampung yang jahat dan serakah.

Dia memang orang yang nekat tak punya rasa malu lagi dihadapan umum dan wata.knya yang mblubut adalah kelewat lewat. Kalau ia mengadu ayam, tidak peduli pada slain sa-ja kalab atau menang mesti minta bayaran. Jadi betapa gila perbuatannya ini dan menggelikan!

Begitu juga pada seat berhadapan dengan Adipati Yuyu- rumpung. Sings Jembangan membopong ayam muds yang baru saja bisa berkokok. Sedang ayam jago Yuyurumpung adalah benar- benar ayam pilihan yang jarang tertandingi. Baru saja kalangan dimulai dan kedua ayam turun dari bopongan, tiba-tiba jago si Singa Jembangan lari tarbirit-birit kemudian dikejar ayam Yuyurumpung dan dihajar mati-matian. Keruan saja ayam jago Singa Jembangan kalah karena masih muda dan tak terlatih.

“Nah, ayammu sudah sekarat Singa! Mana duitmu!” tagih Yuyurumpung.

Tetapi Singa Jembangan menolak untuk memberi bayaran. Tak malu dimata orang banyak. Bahkan ia berdsi berkacak pinggang. “Mana duitmu, Singa!” bentak Yuyurumpung, mengulang.

“Aku tak mau membayar!” jawab Singa Jembangan. “Heh ! Gila kau ini Singa!”

“Tak peduli, ayamku masih muda, tentu saja kalah!” “Itu salahmu!” “Bukan salahku! Sebab ini berarti kau tak melindungi binatang!” jawab Singa Jembangan licik.

Dan mendengar jawaban ini, Adipati Yuyurumpung jadi mendelik dengan bibir gemetar. Ia tahu bahwa dirinya sedang berhadapan dengan orang linglung. Lalu dengan suaranya yang kecil melengking. Adipati ini marah dengan keheranan.

“Uwah! Alasanmu ini seperti perbuatan orang sinting Singa!” Peduli apa?”

“Uwah! Kau harus membayar! Kalau membangkang kutangkap!”

Oleh gertakan Adipati ini maka darah Singa Jembangan jadi mendidih. Dengan meninggalkan sopan santun ia maju melangkah, kemudian menghantam kepala sang Adipati Karuan saja Adipati yang tak menduga-duga itu jadi seperti disambar petir. Ia mencak- mencak dengan suara melengking. Hal ini membuat Singa tambah bernafsu. lain Adipati yang degil itu diringkus, ditendang dan dibantingnya.

Dengan gigi meringis Yuyurumpung bangun. Seluruh tubuh linu- linu, tulang serasa hendak patah. Sakit hatinya timbal karena dimalukan dimata umum. Ia mencabut kerisnya. Tetapi sebelum keris itu tercabut, Singa Jembangan telah sigap atendahului. Adipati Yuyurumpung dibopong, lalu ditelentangkan ketanah. Sesudah itu kain dan celananya cepat-cepat ditarik, hingga lepas dari ikat pinggang. kemudian dibawa lari kencang-kencang. Orang-orang yang pada melihat Adipatinya hampir telanjang bulat, jadi pada melengos pura-pura menatap kearalt lain.

Yuyurumpung baru sadar dan cepat-cepat jongkok sambil merentetkan dart mulutnya kata-kata makian. “Nah, kejarlah saya kalau berani!” tantang Singa Jembangan. Sudah barang tentu Adipati Jujorumpung cuma kemerahan saja mukanya dan tak bisa beringset sedikiipun Ia menoteh kiri kanan, kawatir kalau perawan-perawan pada mengintip dari rumah-rumah mereka.

Dan segera setelah peristiwa itu terjadi, Adipati Yuyurumpung menuntut kepada Adipati Maja Asem agar mengembalikan celananya. (Rumah Singa Jembangan termasuk persekutuan Timor).

Adipati Maja Asem Suksmayana yang lemah hati dan sopan santun menerima tuntutan itu, dan bermaksud mengganti kerugian dengan pembayaran berujud hasil bumi, padi ketela atau yang lain- lain-nya lagi.

Namun keputusan ini tak disetujui oleh adiknya, yaitu si Kembang Jaya.

“Jangan diperturutkan tuntutan itu kangmas! Biarlah dia merasakan, Sebagai Adipati, kenapa mengadu ayam pada sembarang orang diladeni. Lagi pula perbuatannya ini pasti akan ditiru orang banyak!”

“Tetapi Kembang Jaya, aku tahu soal yang remeh ini pasti akan dijadikannya alasan yang besar yang kemudian menyangkut pemerintaban dierah. Sudah semenyak lama Yuyurumpung mencari cari sebab untuk memulai berperang. Ke-hendaknya jelas, ia akan menggempur kadipaten kita. Karena itu biarlah kuganti kerugian, tentang perbuatannya rendah tentu saja kita takkan mempedulikan, sebab ia yang akan bertanggung-jawab sendiri!”

“Jadi bagaimana sikap kangmas menghadapi maksudnya yang kurang-ajar itu?”

Kita belum kuat untuk menerima dia dimedan laga. Lagi pula kalau soal yang sekecil ini akan menerbitkan peperangan, alangkah lucunya dipandang orang. Karena itu dalam soal celana ini kita mengalah saja. Perdamaian perlu dari segalanya.”

Setelah mencapai kata sepakat, Adipati Suksmayana lalu mengirim utusan ke Kemaguhan membawa barang-barang basil bumi beberapa bagor untuk pengganti kerugian. Namun kerfatangan utusan ini tak berkenan dihati Adipati Yuyurumpung. Malab ia marah-marah dan menghardik pada uttLan dari Maja Asem itu.

“Uwah! Mengejek ya? Aku tidak butuh padi, jagung atau ketela! yang kuminta celana yang dibawa tikus busuk itu. Gudang Kemaguhan sudah penub dengan basil bumi. Ajo minggat, lekas pulang! Katakan pada Adipatimu, aku minta celana itu!”

Dua utusan yang tak tahu apa apa itu, seluruh tubuhnya jadi menggigil kena bentakan. Sesudah menyembah lalu pelan-pelan keluar, dan bagor berisi basil bumi digendongnya dipunggung dibawa pulang.

Kehendak Adipati Suksmayana memang perdamaian. Ka-rena itulah maka tuntutan Adipati Kemaguhan Yuyurumpung itu terpaksa dikabulkan pula.

Suatu pagi beliau datang sendiri kerumah Sondong Singa Jembangan Serentak melihat Adipatinya datang, Singa Jembangan yang pagi itu sedang terlentang dibalai balai jadi gugup mendadak serta menyilkan tamunya masuk penuh hormat yang berlebih- lebihan.

“Ada apa gerangan kanjeng berkenan datang kepondok hamba sepagi ini?”

“Ya, karena ada sesuatu kepentingan, Sondong Singa Jembaregan.” “Aduh, tetapi bukankah gusti bisa utusan saja dan tak perlu payah-payah datang sendiri.”

“Soalnya penting, Singa. Celana Adipati Kemaguhan itu dimintanya. Kalau aku tak bisa mengembalikan pasti mereka akan membuat alasan kecil ini untuk memulai berperang, Aku tahu Yuyurumpung mencari-cari soal saja selama ini.”

“Wahh! Tetapi Adipati Kemaguhan itu tak perlu diperhatikan sampai begitu besar. Ia seorang bangsat, Kanjeng! Pastilah Gusti tahu benar, bagaimana perangai Yuyurumpung menggencet rakyat kecil. Menaikkan pajak! Merampas ternak! Mengganggu bini orang! Dan kikirnya alang kepalang!”

Adipati Suksmayana mengangguk-anggukkan kepala dengan sabarnya. “Barangkali benar tuduhanmu itu, Sondong Singa Jem- bangan. Tetapi ini bukan soal pribadinya, melainkan persoalan gawat yang menyangkut pemeriutahan!”

Sondong Singa Jembangan menyetnbah, dan berkata lagi: “Sendika, kanjeng. Bila kanjeng yang menghendaki pasti hamba akan mengembalikannya. Tetapi maaf kanjeng, celana itu sudah ada agak sepasar saya pakai. Sore nanti hamba akan mengantarkannya ke Ketanguhan.”

Dengan dada rasa lapang Adipati Maja Asem pulang dari Jembangan. Disepaajang jalan betiau tersenyum-senyum memikirkan kekuraagajaran salah satu kawulanya yang nekat ini.

Sebaliknya dirt Sondong Singa Jembangan sepeninggal Adipatinya ia segera membungkus celana itu rapi-rapi. Kemudian sorenya diantarkan ke Kemaguhan. Tetapi tatkala Adipati Yuyurumpung membuka bungkusan itu, ia segera menyerit jerit dan melompat-lompat sekarat. “Uwah! Bangsat! Babi kau!” maki Adipati Yuyurumpung. Dan ia menatap celauanya yang dtbungkus itu ternyata penuh dilengketi gula Jawa, ditaburi semut campur kotoran kerbau.

Melihat adegan yang lucu ini, Sondong Singa Jembangan tertawa terkekeh-kekeh. Samba undur dari muka lawannya, ia menggertak “Yuyurumpung! Sesungguhnya kau harus malu. Perkara celana saja, sampai kau bawa ke Adipatiku! Licin benar cara kau mencari alasan! Nah, sekarang celana itu telah kau terima! Dan bila kau benar-benar ini sakti kejarlah aku!”

Beserta darah naik sampai dikepala, Adipati Yuyurumpung menarik keris mengejar lawannya dengan membabi buta. Sondong Singa Jembangan lari bergembira dan meughilang diseberang kali,

Dengan kejadian ini, Yuyurumpung kembali mengajukan tuntutannya terhadap Maja Asem. Sebagai alasan dikemukakannya, bahwa Sondong Singa Jembangan dari persekutuan Timur berbuat kelewat batas terhadap dirinya.

Namun sekali ini tuntutan ini tak lekas dikabulkan. Bahkan Maja Asem perlu membela diri. Kembang Jaya yang selalu gampang marah terhadap tindak-tanduk Yuyurumpung yang mencurigakan itu menyarankan kepada kakaknya, agar hal ini tak usah diperturutkan. “Kita harus menolak tegas-tegas tuntutan itu kangmas. Kalau kangmas menuruti juga nafsu setan si Yuyurumpung, itu, ini berarti akan merendahkan martabat dan kewibawaan Maja Asem. Sudah terang peristiwa ini tak ada sangkut pautnya dengan soal pemerintahan!”

Adipati Suksmayana berpikir-pikir sejenak. Sesudah direnungkan baik-baik bahwa saran adiknya ini benar, akhirnya. beliau menurut. Dan tentu saja dengan keputusannya ini membuat Adipati Yuyurumpung jadi tersinggung kehormatannya. Tidak lama kemudian Adipati yang serakah ini mengajak diadakannya suatu perundingan dengan alasan untuk menetapkan daerah perbatasan secara nyata-nyata, agar masing masing kadipaten dapat mencegah adanya kemungkinan kerusuhan-kerusuhan yang bakal terjadi.

Kehendak Yuyurumpung begitu memaksa sehingga Adipati Maja Asem terpaksa pula mengabulkan. Perundingan itu berjalan satu minggu dan dihadiri oleh orang orang panting. Segerombolan duduk wakil-wakil persekutuan Barat dengan orang-orangnya yang berwatak garang. Segerombolan lagi adalah wakil-wakil dari persekutuan Timur. orang-orangnya lebih menunjukkan kesolehanallanya Sondang Singa Jembangan saja yang sebentar sebentar string manunjukkan kekurangajarannya bernada menantang.

Dalam perundingan itu akhirnya diputuskan bahwa batas daerah ditentukan oleh sebuah sungai yang melintasi kedua daerah itu. Adipati Yuyurumpung amat murka dalam perundingan itu. Gerak geriknya manunjukkan kepongahan. “Rakyatmu tak boleh melewati kali ini. Begitu juga rakyat kami. Siapa yang melanggar akan dihukum sembelih!”

“Tetapi bagaimana bila ada peristiwa pembunuhan yang terjadi ditepi sungai itu?” tanya Adipati Suksmayana.

“Kita akan mengangkat jaksa secara bersama-sama. Dan jaksa inilah nanti yang menyelidiki si korban. kalau kepala si korban menggeletak keseberang Timur sudahlah pasti bahwa pembunuhnya orang orang dari daerah Barat. Begitu pula sebaliknya. Kalau kepalanya mengarah kebarat berarti orang timur yang membunuh!”

“Tetapi bila korban itu ternyata seorang pengacau bagaimana kita akan memutuskan penyelesaiannya?” “Uwah! Bagaimanapun hal itu akan ditentukan oleh jaksa yang kita angkat. Kemudian saja dan wakil dari Maja Asem yang harus bertanggung jawab. Kalau si Jaksa menetapkan bahwa pihakku yang bersalah, maka saya dan semua pengiring harus melepaskan pakaian dan menyerahkan kepadamu. Dengan demikian kami akan pulang beramai-ramai kewilayah sendiri dengan telanjang bulat! Sebaliknya orang kalian juga harus demikian apabila jaksa menentukan bersalah!”

“Jadi jaksa itu merangkap hakim juga?” “Nah! Tentu saja demikian. Jelas bukan?”

Kembang Jaya yang berfikiran cerdas jadi curiga, sebab dibalik kata-kata itu pastilah Yuyurumpung punya maksud-maksudnya tertentu. Lalu dia membisiki kakaknya.

“Lucu juga buah pikirannya. Tentu ada sesuatu yang tersembunyi didalamnya.”

“Biarkan sajalah! Percaya saja pada keadilan, siapa yang membuat lobang, dia sendiri akan masuk kedalamnya.”

“Akankah kangmas setujui juga usulnya itu?”

“Tak ada alasan untuk menolak. Namun kita harus berjoang untuk memilih hakim yang paling tidak harus memihak pada kita!”

Dan persidangan jadi memuncak ketika mencapai taraf pemilihan jaksa. Masing-masing bersitegang mempertahankan pilihannya sendiri-sendiri. Bantah membantah, serang-menyerang seperti suasana dalam pertandingan mulut. Dan jerit lengking Yuyurumpung sexing sering terdengar mengatasi kegaduhan hiruk pikuk itu. Akhirnya Adipati Maja Asem menang, setelah dibantu oleh adiknya si Kembang Jaya. “Adipati Yuyurumpung. Saja percaya bahwa tuan adalah orang yang selalu tahu keadilan. kami sudah menyetujui usul tuan. Apa tidak sejogjanya bila wan menyetujui pula usul kami?”

Adipati Yuyurumpung melirik kekanan kiri sambil mengerut- ngerutkan muka berfikir. Sesudah itu bertanya keras-keras.

“Siapa orangnya yang kau pilih tadi?” “Singapadu!”

“Uwah ! Apa dia masih kerabat Singa Jembangan?”

“O, Tidak. Sama sekali lain. Hanya namanya saja yang hampir mirip. Seperti juga mangkubumi tuan yang bersebutan Singabangsa Adipati Yuyurumpung lain menarik mangkubuminya yang bernama Singabangsa, dan bertanya,

“Betulkah itu Singa?” “Sebenarnyalah begitu, Gusii”

Oleh keterangan si Mangkubumi, Adipati Yuyurumpung jadi puas. Dan akhirrija kata sepakat tercapai, dan sidang menetapkan kesimpulan mengangkat orang yang bernama Singapadu sebagai jaksa sekaligus merangkap dua tugas, menjabat hakim pula.

Untuk menjaga adilnya, maka rumah jaksa Singapadu didirikan diatas jembatan yang menghubungkan dua wilayah Timur dan Barat itu.

Sjahdan setelah perundingan itu bubar, maka Adipati Yuyurumpung tertawa-tawa kemenangan. Sampai dikadipaten ia berceritera pada mangkubutninya. “Kakang, kita harus membalas dendam.”

“Apa yang akan gusti lakukan?” tanya Mangkubumi Singabangsa. “Diseberang Barat, jadi termasuk wilayah kita ini ada seorang Sondong jagoan. Namanya Sondong Majeruk. Dia hendak kuangkat jadi pengawas lalu lintas dengan kekuasaan penuh. Kau tahu sendiri apa anti kekuasaan bagi seorang Sondong?”

Yuyurumpung diam sejenak lalu selanjutnya, “Masih ingatkah kau kakang bahwa aku bernafsu sekali memiliki pusaka-pusaka Suksmayana itu. Kuluk Kanigara dan keris Rambut Pinutung. Siapa yang memiliki dua pusaka ini akan menjadi Adipati besar yang menguasai Pesantenan!”

“La!u, gusti?”

“Uwah! Betapa bodoh kau ini! Bukankah kedua barang itu harus kita miliki?”

“Tetapi caranya, gusti?” “Tentu saja kita curi!”

“Jadi gusti hendak mencuri pusaka itu.” tanya Singabangsa dengan mata melotot.

“Uwah! Senjata makan tuan! Aku sendiri yang mengadakan perbatasan daerah, masak harus melanggamya. Goblog amat kau ini Singa. Apa gunanya aku. mengangkat Sondong.Tentu Soudong itu yang kusuruh mencuri dan... ...... setelah berhasil ia harus cepat- cepat menyeberang jembatan. Dengan hilangnya dua pusaka si Suksmayana sudah akan terkapar mati!”

“Kalau dia menuntut. Gusli?”

“Tentu saja talk boleh. Dan apa yang kita nantikan pasti datang! jalan perang!” Wah, bukanaah hebat caraku int?”

Mangkubumi Singabangsa mengangguk-angguk tersenyum hingga gigpnya yang tak teratur tampak meringis. “Wah, sungguh hebat gusti!” Mangkubumi Singabangsa mengagunainya. Ia memuji-muji setinggi langit akan buah pikiran gustinya ini. Namun tiba-tiba ia surut kembali tatkala Adipati Yuyurumpung berkata dengan suara tandas serta hati-hati : “Singa! Hanya satu penghalang yang merisaukan hatiku benar. Tidak lain adalah Singa Jembangan. Kau tahu kakang Singa, dia berada dibawah kekuasaan Maja Asem!”

Mendengar nama ini disebut, mangkubumi Singabangsa matanya redup berkedip-kedip seperti lampu kehabisan minjak. Sebentar ingatannya betbalik mengenang-ngenangkan apa yang pemalt dilihat. Sondong Singa Jembangan bukan Sondong sembarang Sondong.

Selain mahir bersilat, pencak dan gulat, membandelnya kelewat- lewat. Kalau tak hati-hati, siapa yang berani melawannya pasti akan dimalukan dimata orang banyak. Dan apabila kelak pecah perang rasanya dia nanti yang merupakan lawan paling ampuh didaerah sekitar itu.”

“Bagaimana pendapat gusti, andaikata dia kita singkirkan lebih dulu?” tanya Singabangsa memancing satelah sejenak merenung.

“Nah, itulah soalnya! Tetapi sulitnya bahwa kita tak punya alasan tertentu untuk mengasingkari orang busuk itu. Tetapi marilah kita pikirkan saja cara sebaik-baiknya Masakan tidak dapat menggulung bangsat itu!”

Selama beberapa hari Adipati Yuyurumpung selalu kelihatan berdiam berpuja sendiri untuk mencari jalan bagaimana cara menyebak orang yang paling dibencinia itu. Rupa-nya memang sulit benar mencari-cari alasan, dasar Sondong Singa Jembangan adalah orang yang paling disegani didaerah itu, jadi kalaupun dapat ditangkap tentu dia akan melawan, padahal yang terang belum pasti dia ada difihak yang salah. Namun bagaimana sukamya toh Yuyurumpung tetap tak berputus asa. Suatu kali mesti harus berhasil.

Tersebutlah isteri Adipati Yuyurumpung yang paling baru bernama Rubijah. Perkawinannya dengan perawan muda itu sebenarnya merupakan paksaan. Rubijah sendiri, bahkan juga ayahnya sebenarnya tidak setuju sewaktu adanya pelama-ran. Tetapi Adipati yang serakah ini memaksa juga, dan mengancam pada orang tua si gadis, bahwa kalau anaknya tak diberikan maka seluruh isi rumah termasuk semua keluarganya hendak dimusnahkan. Tentu saja mendengar ancaman ini si orang tua jadi menggigil ketakutan. Dan akhirnya. Rubijah digelandang kekadipaten, dinikahi.

Selama di Kadipaten Kemaguhan, kerja Rubijah cuma menangis dan termenung. la ingat pada Kudasuwengi kepala desa Jembangan yang pemah melamamya. Pada lelaki itulah sesungguhnya Rubijah hendak menggantungkan seluruh hidupnya. Sungguh, tiap kali ia mengingat nama itu seluruh hatinya malonjak-lonjak hendak babas. Tetapi pagarKadipaten dan penjagaan begitu kuatnya. Dan Adipati Yuyurumpung sendiri seperti tak ambit pusing pada kesedihannya. la biasanya selalu menggoda dengan tertawa terkekeh disertai tangan yang menjalar kesana kemari menyengkelkan. Dan tiap kali Rubijah ingin ini semua, ia jadi jijik dan ingin mati saja cepat cepat. Buat apa hidup meladeni orang yang tak dicintainya. Lebih-lebih lagi seperti Adipati Kemaguhan ini. Presis setan tampangnya. tubuh pendek, kepala degil. mata juling dan omongannya melengking tinggi seperti jerit kuda betina!

Pada suatu hari Rubijah mendengar berita bahwa Kuda suwengi memasuki Kadipaten Kemaguhan. Ia segera mencari cari kesempatan, dan apabila penjagaan itu benar-benar lama maka ia segera menemui Kudasuwengi dan bersama-sama melarikan diri. Sudah barang tentu ketika Adipati Yuyu-rumpung dilapori hal ini mendadak ia jadi kalap dan menggebrak-gebrak meja, seperti orang yang kehilangan harta bendanya yang paling mahal. Segera Mangkubumi Singa-bangsa dan Kepala polisi Gagakpahit dipanggilnya menghadap.

“Apa kau berdua tidak tabu larinya kedua iblis itu?” “Siapakah dia?” tanya Gagakpahit.

“Kudasuwengi! Keparat itu melarikan biniku yang paling muda!”

“Kudasuwengi lurah Jembangan?”

“Ya.” Jika demikian terang dia lari pulang kerumahnya.” “Nah! Tangkap kalau begitu!”

Mangkubumi Singabangsa dan Gagakpahit saling menatap, dengan hati berbimbang-bimbang.

“Uwah, kenapa kalian cuma diam saja? Apa tidak mendengar perintahku? Saja bilang tangkap iblis itu kata Yuyurumpung membrondong membuat dua bawahannya jadi tergagap-gagap.

“Penangkapan itu gampang saja Gusti. Tetapi soalnya Jembangan termasuk wilayah Maja Asem?”jawab Mang-kubumi sambil menyembah.

“Uwah! Jangan pakai usul-usul begitu! Apa peduliku. Kalau Adipati Maja Asem menuntut, akulah yang hendak melawannya. Dia pasti tak bersitegang kalau sudah kuterangkan. Sebab dia orang alim tentu tak setuju dengan perbuatan rakyatnya yang melarikan isteri orang lain!”

“Tetapi sendang Singa Jembangan, gusti?” Kenapa kausebut-sebut si laknat itu?” “Sebab ia adik Kudasuwengi,”

“Adik Kudasuwengi?” Ulang Yuyurumpung dengan mata mendelik kaget. Seperti disengat kalajengking, ia melompat dari duduknya lalu mondar-mandir. Mukanya kemudian merah menyala- nyala serta jantungnya semakin santer. Teriaknya membabi buta.

“Jahanam betul laknat itu. Uwah, tetapi barangkali inilah suatu alasan yaug paling bagus untuk melenyapkan ondong sinting itu. Perintahkan pada si gamel, agar menyiapkan kudaku!!

Kedua bawahannya berebutan mencari si tukang kuda. Setelah siap, Adipati Yuyurumpung turun dari pendapanya lalu naik keatas punggung binatang itu dengan ditalap lebih dulu. Tangan kirinya erat berpegang pada kendali, sedang tangan kanan menyangking cambuk. Sekali lecut kuda terbang, seperti anak panah lepas dari busumya. Dan mulailah pengejaran itu terjadi. Disepanjang perjalanan Yuyu-rumpung mulutnya mengomel memaki-maki. Marahnya alang-kepalang. Sebab dengan pencurian si Rubijah ini berarti kehormatan dirinya sebagai Adipati dihina terang-terangan.

“Apakah Kudasuwengi seorang yang cakap !” tanyanya kepada Mangkubumi Singabangsa. Kabarnya begitu. Orangnya tampan, pinter dan halus budi.” Setan! Kau berani memuji orang lain dimuka hidungku Apa kau kira aku kalah cakap dengan bang;at itu?”

Singabangsa tak berani menatap gustinya, ia kelicutan dengan mengarahkan pandangan kesamping. Lalu sesudah itu menyawab mengada-ada. “Ah, itu cuma desas-desus orang saja gusti. Hamba sendiri belum pemah menyaksikan. Tetapi hamba jakin pastilah orangnya takkan melebihi kaki gusti ini!”

“Huss! Jangan menghina terlampau menghina begitu. Kedua kakiku ada mata bubulnya!” Mangkubumi Singabangsa mestinya mau ketawa, tetapi ia takut, lalu mencari-cari.

“Eh maksud hamba maksud hamba tentulah tak bisa menandingi kecakapan seorang Adipati.”

Adipati Yuyurumpung tertawa kesenangan. Kemudian ia memerintahkan agar memukul kentongan sebagai tanda bahaya. Setelah ia sendiri mencambuki kudanya membabi buta.

Sewaktu kentongan tanda bahaya terdengar beruntun runtun, Kudasuwengi cepat-cepat menyembunyikan diri memasuki warung ditepi jalan. Pemilik warung disuap dengan segelintir mas agar mau pergi meninggalkannya. Tetapi kemudian orang ini melapor pada rombongan Adipati Yuyurumpung. Sudah barang tentu Adipati hatinya kesenangan, dua orang itu diganyarinya senyum.

“Apa dia masih berada disana?”tanyanya.

“Ya, gusti dengan seorang perempuan molek!”

“Huss! Dia itu isteriku yang diserobot jangan kausama-kan dengan perempuan perempuan lain!” jawab Yuyurumpung cemburu.

“Eh, maksud hamba ….. gusti perempuan!” “Gusti putri! Goblok”

“Oh ya. Gusti putri.” “Masihkah ada disana?”

“Masih. Pintunya ditutup rapat dan masuk kamar berdua dua.” sampai disini Adipati itu tak bertanya-tanya lagi, tetapi terang hatinya kelewat panas dihinggapi kecurigaan dan kecemburuan yang menauncak. Seluruh tubuhnya gemetaran dan sambil menggertak kudanya ia memberi aba: “Singabangsa! Gagakpahit! Ringkus orang biadab itu!”

Kedua bawahan yang diperintah mengikuti dibelakangnya sambil menyiapkan selaras senapang pada diri masing-masing. Akhirnya ketiga-tiganya berhenti beberapa meter dimuka sebuah kedai yang tertutup pintunya dari dalam. Hanya ada sebuah jendela yang terbuka. 

“Hai Kudasuwengi. Kaulah yang berada didalam?” teriak Yuyurumpung.

Seorang yang berperawakan gagah muncul mukanya di jendela dengan menyawab:

“Ya, akulah Kudasuwengi.”

“Hai, rupanya kaulah bangsat itu. Sekarang turuti perintahku Kembalikan Rubijah dan kau menyerahlah baik-baik.”

“Mudah saja kau memerintah! Mu bukan bawah-anmu, tentu saja tak mau. Aku orang wilayah Maja Asem.”

“Iblis! maid Yuyurumpung. Engkau adalah orang tang memasuki wilayahku. Bahkan hendak menyerobot isteriku. Isteri seorang Adipati yang berkuasa didaerah ini.”

“Rupanya kau kurang sadar Yuyurumpung. Bukan aku yang menyerobot, melainkan kaulah yang melarikan tunanganku!” jawab dari jendela.

“Apa kau bilang? Uwah, iblis kau! Anak kambing kau! Hai dengarkanlah Kudasuwengi, sekarang ini tak boleh sembarang orang menyeberangi sungai.”

“Tetapi cinta tak bisa diselubungi kali atau gunung. Kami sudah saling berjanji!” Seorang yang berperawakan tinggi gagah muncul mukanya di jendela dengan menyawab. “Ya akulah Kudasuwengi!” Adipati Yuyurumpung diam sejenak. Ia menghela napas dengan pancaran mata yang tajam, menatap kearah kedai itu. Dua bawahannya hanya melongo saja menyaksikan pertandingan mulut itu. Agak beberapa saat suasana diam. Kemudian Adipati Yuyurumpung mengusap-usap mulutnya, lalu berteriak lagi lantang

: “Kudasuwengi! Jangan banyak cerewet. Keluarlah, aku sudah tak sabar menunggu!”

“Kau sajalah yang masuk, Yuyurumpung!” “Keluarlah!”

“Masuklah!”

“Setan keparat! Baik aku masuk, kita bertanding dikamar, disaksikan perawan yang molek itu! He-he!”

Sehabis berkata begitu Adipati Yuyurumpung mengedipkan matanya sebelah dan mengangguk memberi tanda. Secepat kilat Gagakpahit yang menangkap bahasa arti aba-aba ini, segera turun dari kudanya, kemudian lewat menyisi mendekati kedai itu. Adipati Yuyurumpung dan Singabangsa tersenyum-senyum mengikuti.

Setelah menginjak dibawah jendela yang terbuka, maka Gagakpahit melompat tinggi-tinggi dengan segenap kekuatannya. Dengan napas berdegup-degup tidak sabar kedua tangannya sudah mencengkeram-cengkeram seperti hendak menangkap sesuatu. Lalu desis kemarahan terdengar berkali-kali.

Namun sayang, baru saja ia masuk menongolkan muka, tiba-tiba kepalanya sudah dihantam oleh Kudasuwengi dari belakang. Gagakpahit jatuh tersungkur mencium tanah. Baru saja mencoba untuk bangun dengan memulihkan kekuatan, tengkuknya sudah diinjak, lalu ditendang keras-keras kearah dinding. Karuan saja Gagakpahit mengaduh kesakitan. Mata berkunang- kunang, bumi bergoyang hendak roboh sebab pukulan Kudasuwengi jatuh beruntun-runtun. Gelap seluruh pengiihatannya.

Ia memutar badan, tetapi, perutnya telah kena tendangan yang agak keras. Ia jatuh lagi, menggeliat, kemudian merangkak-rangkak kesamping. Tetapi dasar kemarahan Kuda-suwengi mencapai puncaknya. Meliliat sasaran yang enak itu, ia segera menendang pantat, sehingga Gagakpahit jauh terbalik.

“Nah, saya dengar kau kepala polisi. Betulkah ha?” “Setan kau Kudasuwengi.”

“Saya kira kau takkan bisa menangkap seorang pencuripun.

Kasihan juga dengan cara-caramu ini. “

Gagakpahit tak menyawab, ia hanya meringis saja menahan sakitnya. Seluruh tubuh terasa lungkrah dengan tulang-tulang hendak patah.

“Hem! Kau remukkan badanku Kudasuwengi.”

“Tak peduli, kita bertanding berebut kemenangan.” Karena takutnya si Gagakpahit masih tetap juga merangkak sampai dihalaman luar, dengan kedua kaki dan tangannya.

Dan melihat pemandangan semacam ini Adipati Yuyu-rumpung mukanya jadi kecut dengan matanya mendelik kaget.

“Singa, siapakah yang merangkak sepertt kebau itu?” “Rasanya Adi Gagakpahit, gusti.”

“Uwah! Jadi kepala polisiku dikalahkan oleh Kuda-suwengi rupanya! Jahanam! Anak kambing! Setan!” merentet kata-kata makian Adipati Yuyurumpung.

Setelah Gagakpahit mendekat, hampir menciumi telapak kaki kuda yang dinaikinya, Adipati Yuyu-rumpung segera menghardik, “Tolol! Ajo bangun, jangan kasih pertunjukan yang memalukan itu lama-lama.”

Gagakpahit bangun dan tunduk kemalu-maluan ditatap dua orang yang lain.

“Uwah! pantas dengan lagakmu ya? Tampangmu saja yang serem, dengan dua kepal kumis. Setelah diadu, baru saja mulai seluruh muka sudah pucat.” tambah Adipati Yuyurumpung menghajar bawahannya.

Hal ini semakin menjadikan Gagakpahit tak tahan berdiri lama, matanya redup seperti hendak menangis.

“Nab, Singa! Ikutkan aku. Kita dekati kedai itu!” Yuyurumpung mencambuk kudanya. Sekejap saja tiba dimuka warung itu. Ia segera turun dari punggung binatang kendaraannya, dan dengan kalem memasuki kedai itu beserta langkah jalannya yang agak pincang.

“Kudasuwengi, bukakan pintu !” Tak ada sautan dari dalam.

“Kudasuwengi, buka pintu. Kembalikan isteriku!” teriak Yuyu- rumpung mengulang. Namun suasana sepi, membuat khajal Yuyu- rumpung menghubungkan dengan kejadian-kejadian yang aneh- aneh!

Pelan-pelan darah kemarahannya mengalir menyalani seluruh tubuh, hingga naik sampai dikepala. Giginya menggeletuk-geletuk penuh kegemasan. Agak sejenak ia bertumpang tangan dengan mata tertutup. Dari jaub dua orang bawahannya mengawasi saja dengan keheran-heranan.

Dan memanglah mengagumkan! Seperti kekuatan seorang raksasa, sehabis ia bersemedi itu Yuyurumpung mendobrak pintu dengan mudahnya. Pintu ambrol dan berderak suaranya. Sesudah itu Yuyurumpung tenang mencari-cari lawannya.

Ketika mereka berhadapan, segcralah terjadi pertandingan yang ramai. Dorong-mendorong, hantam-menghantam berkali-kali, diseling tarikan napas sesak dan keringat yang memancar dari tubuh.

Kudasuwengi merasa kewalahan melawan Adipati yang degil ini. Seperti kidang, tiap kali hendak dihantam Adipati Yuyurumpung sudah melompat dengan aksinya. Bahkan ia kembali mendekat sambil mengadakan tohokan berat diperut lawannya membuat Kudasuwengi seperti diperas-peras ususnya dan seluruh isi perut seakan-akan hendak muntah keluar.

Baru saja ia dapat menyadarkan diri dan akan membuat serangan, Yuyurumpung sudah melompat tinggi-tinggi dan ta- ngannya menyambar pelipis si lawan. Tetapi sekali ini Kuda- suwengi dapat mengelak kesamping. Sekilas ia menatap suatu sasaran yang baik. Dengan ancang-ancang yang tinggi ia menye- jakkan kakinya kearah mata bubul sang Adipati. Keruan saja Yuyurumpung jadi meringis sambil melengking-lengking. Dan kutukan makian teruslah hebat keluar dari mulutnya.

Dengan kaki kepincang-pincangan sedikit, Yuyurumpung melancarkan serangannya bertubi-tubi. Kepalan tangannya sangat berat terasa, seperti hantaman besi besi geligen. Ada beberapa saat Kudasuwengi hanya bertahan mengelakkan runtuhan bahaya yang datang. Rupanya ia memang kalah pintar jika dibanding dengan Adipati Kemaguhan ini.

Melihat musuhnya kewalahan meladent, Adipati Yuyurumpung tertawa terkekeh-kekeh dan semakin kalap. Beberapa langkah Kudasuwengi undur kebelakang, kearah dinding bambu. Tiba-tiba ia melihat sepotong kayu. Dan inilah yang diharapkan. Segera kayu dapat ditarik, cepat ia pukulkan ketubuh Adipati yang degil itu. Namun ajaib rupanya! Kudasuwengi seperti hampir- hampir tak percaya. Potongan kayu itu patah ditengah serta Yuyurumpung, sendiri masih tetap tegak berdiri dengan mulut tertawa kepongahan.

“Nah, cobalah hantam lagi!” tantang Yuyurumpung

Melihat kesaktian musuhnya ini, Kudasuwengi sedikit mulai disarangi ketakutan. Rasa gentamya timbul. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri, ia harus berlari keluar dan menghindar dari wilayah Barat sungai.

Tetapi baru saja ia hendak keluar, Yuyurumpung tak memberi kesempatan. la meloncat dan menotok tengkuk Kudasuwengi.

Kudasuwengi jatuh terhuyung-huyung, disusul dengan hantaman dipinggangnya berat sekali.

Mengetahui musuhnya benar benar telah jatuh Adipati Yuyurumpung segera meringkusnya dengan gampang. Dengan nafas naik-turun kepayahan ia memanggil dua bawahannya:

“Singabangsa! Gagakpahit!”

Mangkubumi Singabangsa dan Gagakpahit datang tergopoh gopoh.

“Ya, gusti?”

“Ikatkan iblis ini diekor kudaku! Biar nanti kuseret sepanjang jalan!”

Kudasuwengi digotong, keluar, diikuti oleh Adipati Yuyu- rumpung.

Setelah telah kuat melilit dan semuanya siap, maka Adipati degil itu lalu naik dipunggung kudanya. Sekali matanya melirikkan mengawasi tubuh musuhnya yang terlentang diatas tanah. Ketnudian ia melecutkan cam-buknya sekali. Kuda lari menderap- derap seperti jalannya angin, dan tubuh Kudasuwengi terseret disepanjang jalan ke Kemaguhan.

Waktu itu Rubijah yang mengintip lewat dapur kedai, mendadak menjerit dan menyebut nama kekasihnya berkali-kali.

Dan setelah ketiga jagoan persekutuan Barat itu hilang ia segera lari ke Jembangan. Sebab seperti pecan Kudasuwesengi, ia harus melaporkan kejadian ini kepada adiknya yaitu Sondong Singa Jembangan.

Sewaktu Rubijah datang, waktu itu Sondong Sirga Jembangan sedang tidur mendengkur dibalai-balai, sebab semalaman tak pulang kerumah. Belum sampai bicara apa-apa tangisnya telah terdengar tagi dengan sedu sedan yang memilukan, hingga membuat isteri Singa Jembangan jadi gugup bertanya.

“Kenapa mbakyu? Kenapa? Ah, belum-belum kok sudah menangis, saya kan bisa jadi bingung.”

“O Allah di. Siapa yang tahan melihat siksaan yang begitu berat?” jawab Rubijah dengan menundukkan mukanya, beserta air mata menetes-netes membasah pipinya yang montok.

“Siapa yang disiksa mbakju? Kenapa mbakju menangis seperti Ini?”

“Kakang Kudasuwengi yang disiksa. Kasihan dia di, kita harus cepat-cepat menolongnya.”

Tiba-tiba tanpa diketahui lebih dulu, Sondong Singa Jembangan telah keluar dari kamar dalam, dan mendekati tamunya. Tak sabar ia bertanya.

“Siapa yang menyiksa kakang Kudasuwengi, mbakju!” “Adipati Yuyurumpung dari Kemaguhan. Dicencangnya kakangmu diekor kuda, kemudian diseret sepanjang jalan.”

“Yuyurumpung, Adipati tak berbentuk itu?” Rubijah hanya mengangguk sebagai jawabnya.

Sondong Singa Jembangan sendiri sejenak tak dapat birjara, tetapi kelihatan matanya kemerah-merahan, dan dadanya berdebaran tertiup api kemarahan. Wataknya memang keras, lebih lebih lagi apabila mendengar salah satu saudaranya mendapat celaka. Tanpa perhitungan lebih dahulu ia akan segera pergi menuntut bela.

“Sudahlah mbakyu, tenangkan dulu fikiranmu. Biar kulabrak si Yuyurumpung.”

Sondong Singa Jembangan cepat menghindar, kemudian setelah masuk kedalam lalu lari keluar dan menutup pintu pendapa.

Langkahnya keihatan sangat tergesagesa dengan harapan lekas sampai ditujuannya. Sedang hatinya diliputi rasa kasihan, kasihan terhadap kakaknya yang menyandang sengsara itu. Dan dendamnya tiba-tiba memuncak bila ingat nama Adipati Yuyurumpung seorang Adipati yang serakah, dengki serta suka melakuka siksaan yang keji.

Disepanjang jalan ketika memasuki wilayah Kemaguhan, Sondong Singa Jembangan jadi mengamuk. Apa yang ditemui diperjalanan dirusaknya, dan dihancur luluhkan. Ladang ladang pertanian penduduk, sawah-sawah dikanan kirinya, semua dibikin berantakan.

Tiba-tiba ia berpapasan dengan segerombolan penggembala yang sedang duduk menuggu binatang piaraannya. Begitu Sondong Singa Jembangan merdekat, tanpa bertanya jawab lebih dulu, ia telah menendangi kambing-kambing yang sedang asjik makan rumput Keruan saja semua pada bubar dengan penuh ketakutan. Dan sebagai lontaran ke marahannya orang-orang penggembala pada berteriak-teriak ramai.

“Larl! Lari! Ada orang gila mengamuk! Ada orang gila mengamuk!”

Dan sebagian yang lain mulutnya mengomel dengan kata-kata memaki maki.

“Setan! Apa salahku terhadapmu ha? Benar-benar sembrono perbuatanmu!”

Tetapi Sondong Singa Jembangan tak ambil pusing. Ia terus berlaku dengan langkah-langkah panjang Seperti seorang raksasa yang menakutkan, ia merajai disepanjang jalan. Kemudian terus saja ia menuju kearah Barat ke Kadipaten.

Waktu itu sudah sore, matahari tinggal beberapa jengkal diatas gunung. Tiba-tiba sewaktu Sondong Singa Jembangan menginjak jalan perempatan tiba-tiba dari arah jauh ia melihat seseorang jang sedang naik kuda, dengan menyeret sesuatu. Lalu dibelakangnya mengiringi dua orang yang lain. Debu-debu kelihatan beterbangan dijalan. Dan ke-tiga ekor kuda yang dinaiki itu arahnya menuju ketempat Singa berdiri.

Dengan tenang Sondong Singa Jembangan berkacak pinggang menanti. Kemudian apabila. telah dekat benar, mata Singa Jembangan segera menghentikannya. Dan orang yang naik kuda itu ternyata memang Adipati Yuyurumpung. Kemarahan Singa jadi meledak tambah hebat. Tetapi Yuyurumpung tak memperhatikan isyarat yang dikeluarkan. Bahkan ia terus mencambuk kudanya. Melihat kenekatannya ini, Sondong Singa Jembangan merasa seperti ditantang. Cepat ia mengejar, lalu dengan parang yang terhunus dipotongnya ekor kuda Yuyurumpung. Kudasuwengi terpelanting lepas ketanah dengan tubuh lecet-lecet mengeluarkan darah. Adipati Yuyurumpung sendiri, tertawa eleh gejolak kudanya yang meringkik karena kesakitan jatuh tersungkur mencium batu Agak sakit juga badannya, kemudian segera bangun kepayahan, dari mulutnya seperti biasa menyembur kata-kata makian.

“Bedebah betul Singa! Kau tahu sekarang ini kuda mahal harganya?”

“Apa peduliku, Yuyurumpung? Kau menyiksa orang yang tak berdosa begini kejam! Ajolah kita bertanding. Aku jemu melihat tampangmu!”

Sondong Singa Jembangan melangkah maju kedepan, dengan gigi gemeletuk dan bibir gemetar. Tangannya sudah mengepal- ngepal tidak sabar.

Adipati Yuyurumpung agak kebingimgan sejenak. Kemudian ia memerintah : “Singa! Gagakpahit! Tangkap orang gila ini!”

Mangkubumi Singabangsa dan Gagakpahit berpandang- pandangan. Hatinya ragu-ragu sadikit takut. Bahkan tubuhnya mulai menggigil. Adipati Yuyurumpung jadi jengkel melihatt adegan semacam ini. Lain ia berteiiak lagi diarahkan kepada dua orang bawahannya.

“Tangkap orang gila ini!” katanya. “Kenapa kalian diam? Tuli ya? Ajo lekas, tangkap orang ini!”

Singabangsa dan Gagakpahit sama-sama maju kedepan dengan muka kepucatan. Tetapi belum sampai menyerang, dengan kekuatannya Sondong Singa Jembangan telah bisa menangkap mereka berdua. Seorang terpegang ditangan kanan, seorang terpegang ditangan kiri. Kemudian dua orang sahabat ini, ditumbukkan kepalanya keras-keras. Tiada terdengar jeritan sekalipun, tetapi tahu-tahu keduanya telah pingsan. Sondong Singa Jembangan tak puas kalau hanya sampai disini. Kedua orang yang menelentang itu lalu diseret kesawah, kemudian direndam kepala masing-masing kedalam parit. Semua itu dikerjakan dengan tawa tergelak -gelak, membuat Adipati Yuyurumpung mengkal hati dan darahnya mendidih, beserta kumis pendeknya yang bergerak-gerak tertarik sedikit keatas. Sesudah dua orang ini dihajamya dengan sengir, Sondong Singa Jembangan kemudian menyerahkan kepada kakaknya Kudasuwengi. Lalu ia sendiri ganti maju menghadapi Adipati Yuyurumpung yang berdiri dengan mengkal hati melihat adegan yang menghina itu, sebab Mangkubumi Singabangsa dan Gagakpahit dikalahkan oleh lawannya.

“Nah, marilah sekarang kita bertanding Adipati !” tantang Singa Jembangan,

“Uwah! Sombong benar kau Singa?”

“Ya, sebab hanya akulah lawanmu yang seimbang. Kakang Kudasuwengi orang yang tak pintar bergulat. Apa-lagi kau kerubut ! Majulah!”

“Jangan besar mulut begitu! Lihat apa yang kepegang!” Secepat kilat Adipati Yuyurumpung meloncat kemuka sambil menjojohkan kerisnya kedada Singa Jembangan, tetapi Sondong Singa Jembangan orang yang kebal, ia tak mempan ditusuk senjata itu.

“Nab, ulangilah lagi!” perintah Sondong Singa Jembangan, sambil membuka dadanya lebih lebar.

Adipati Yuyurumpung menusukkan keris itu lagi kuat kuat tetapi hasilnya sacra saja.

“Nah, sekarang tusukkan kepunggungku!” Sondong Singa Jembangan membalik memberikan punggungnya Dan Sang Adipati menusuk pula. Tetapi punggung itu justru lebih keras, hingga pucuk kerisnya jadi patah. Gentar juga ia melihat kesaktian lawannya ini. Akhirnya setetah puas benar, Singa Jembangan sekarang maju kedepan. Dengan gigi gemeletuk mengandung geram ia mengangkat Adipati yang degil itu tinggi- tinggi kemudian la bantingkan keranah.

Sang Adipati terkapar, mulutnya meringis dengan papas tersengal sengal.

“Uwah! Kuat betul tenagamu! Iblis!”

Belum sampai sang Adipati bangun dari terlentangnya, Singa Jembangan telah menginjak-injak lagi. Sang Adipati menggeliat- geliat, seperti potongan batang pisang menggelinding. Singa Jembangan kemudian lari dengan tertawa terbahak-bahak.

“Kalau benar-benar jantan, kejarlah aku!” kata Singa Jembangan.

Adipati Yuyurumpung bangun mendadak lalu mengejar musuhnya. Namun larinya pontang-panting dan sebentar sebentar berhenti, sebab mata bubulnya terasa sakit karena menginjak kerikil yang tajam. Melihat kejadian ini Singa Jembangan semakin tertawa latah-latah.

Dengan memaki-maki Adipati Yuyurumpung mengejar lagi, tetapi Singa Jembangan meloncat kesawab dengan kakinya yang panjang.

Sang Adipati terpaksa berhenti, sebab dipikimya ia takkan bisa meloncat selebar itu, maklum kakinya pendek. Salah-salah bisa terpelanting dan masuk lumpur. Betapa semakin gilanya nanti musuhnya itu. Akhirnya ia balik lagi dengan hati mengkal serta sakit. “Nah sekarang tusukkan ke punggungku!” kata Sondong Jembangan. Hati Singa Jembangan belum puas dengan permainan ini. Ia mengejar, lalu menubruk, dan sang Adipati jatuh lagi terkapar ditanah. Begitulah berulang kali pergulatan itu terjadi, sampai akhirnya sang Adipati merasa kehabisan nafas dan tobat benar- benar. Ia sadar bahwa semakin lama meladeni musuhnya, berarti dirinya semakin akan menjadi permainan belaka, sebab tingkah laku Singa Jembangan seperti orang sinting.

Akhirnya sang Adipati bermaksud lari pulang ke Kemaguhan. Dan menginjak jalan persimpangan dimana dua bawabannya dihajar oleh Singa Jembangan ternyata dua orang itu sudah tak ada lagi. Semakin terbirit-biritlah Adipati Ju jurumpung. Dan Singa Jembangan sendiri semakin tertawa terpingkal-pingkal.

“Sekarang baiklah kita pulang saja kakang Kudasuwengi. Untuk apa menurutkan Adipati gila itu!

Sondong Singa Jembangan menggendong kakaknya, kemudian mereka pergi kearah Timur kekampungnya sendiri, Jembangan. Waktu itu matahari sudah hampir tenggelam, dan jalan yang dilewati ketihatan remang-remang mengiajak malam.

Setelah Yuyurumpung sampai di kadipaten kembali ternyata Singabangsa dan Gagakpahit sudah menekur duduk disitu. Mukanya masih pucat dan tubuhnya kelemasan. Kemudian terdengar atumya :

“Duh, malang benar gusti. Hamba menjadi bulan-bulanan orang gila itu.”

“Heil! Kau kin aku tidak? Dibantingnia tubuhku, diinjak- injaknya, lalu diajaknya aku berlari diaras kerikil, kemudian ditantangnya meloncati sawah selebar itu! Iblis! Setan! Anak kambing si Singa Jembangan!” umpat sang Adipati. “Jadi sebaiknya bagaimana gusti agar orang gila itu bisa kita musnahkan?”

“Gagakpahit! Besok panggillah Sondong Majeruk datang kemari! Kutaksir hanya dialah orang yang sanggup menghabisi si sinting itn!”

“Sendika, gusti!”

“Nah, sekarang kalian boleh pulang. Istirahatkanlah badanmu agar segar kembali! Punggungku sendiri serasa remuk. Tulang- tulangnya.”

Pada esok harinya Sondong Majeruk dipanggil dan kemudian menghadap Adipati Kemaguhan, Yuyurumpung.

Sondong Majeruk adalah seorang yang mempunyai perawakan agak tinggi. Badannya kukuh, bertenaga dan cekatan tiap kali mengerjakan tugas. Dadanya yang dempal itu berbulu dan bibimya dihiasi dengan kumis serta memiliki jenggot runcing pula.

Kalau Sondong Majeruk berjalan, maka terlihat gayanya agak membungkuk bungkuk sedikit seperti gerak orang yang hendak memukul lawan dari arah belakang dengan mengendap-endap. Hal ini mungkin disebabkan karma umumya yang sudah tua dan lagi sebagai seorang Sondong yang sudah terkenal di daerahnya, disetiap saat ia selalu berada dalam kesiap-siagaan, kalau sewaktu waktu ada serangan.

Tatkala dia memasuki regol Kadipaten Kemaguhan, maka pada waktu itu Adipati Yuyurumpung yang sedang duduk di kursinya, dipendapa maka segera turun dan menyambut tamunya dengan sikap ramah sekali.

Biasanya Adipati Yuyurumpung tak pemah tertawa terhadap siapapun. Namun anehnya pada yang satu ini, sang Adipati kelihatan begitu gembira dan senang hatinya, hingga sehabis tertawa, maka senyumnyapun lalu berhamburan.

“Ha .... Marilah masuk Sondong Majeruk” sambut Adipati Yuyurumpung.

Sondong Majeruk tersenyum membalas. Dan senyumnya mempunyai gema arti yang sangat dalam, seakan-akan membayangkan kelaki-lakiannya yang sejati.

Sesudah naik kependapa, Sondong Majeruk duduk bersimpuh dihadapan Adipati Yuyurumpung Sikapnya sangat khidmat, menandakan ia menjadi orang yang selalu taat serta setia menyalankan tugas.

Belum sampai sang Adipati menanyakan sesuatu, Sondong Majeruk sudah menyembah lalu munjuk atur :

“Gusti Adipati. Ada perlu apakah kiranya gusti memanggil saya datang kemari?”

“Tentu saja ada tugas yang penting, Sondong Majeruk. Tetapi terlebih dahulu aku hendak mengetahui tentang keluargamu. Dalam keadaan baik-baik saja bukan?”

Sondong Majeruk tertawa, menggeleng-gelengkan kepala. Dirasanya sang Adipati selalu menaruh perhatian yang banyak terhadap lingkungan keluarganya. Oleh karena itulah maka Sondong itu lalu menyawab tergesa-gesa:

“Keluarga yang mana yang gusti maksud?”

“Yang mana saja.” sang Adipati Yuyurumpung menyahut, kemudian meneruskan, “Yang nomor satu, yang nomor dua, yang nomor tiga, atau sudah bertambah lagi Sondong Majeruk?” “Memanglah begitu, gusti. Keluarga saya dalam keadaan biasa, sederhana saja, tetapi kalau gusti hendak menambah gaji saja, niscaya keluarga saya itu akan bertambah baik.”

“Terdiri dari siapa saja isterimu itu, Sondong? Janda atau gadis?” “Gadis dan janda!” jawab Sondong Majeruk dengan tanpa tedeng

aling-aling.

Adipati Yuyurumpung tertawa terbahak-bahak, membuat Mangkubumi Singabangsa dan Gagakpahit yang menghadap, ikut terkekeh-kekeh kegelian juga. Hingga dengan demikian sebentar itu pendapa Kadipaten kelihatan riult serta ramai, meski hanya berisi empat orang saja.

Sebentar kemudian pembicaraan agak terhenti, sebab terseling dengan datangnya suguhan yang dihidangkan. Minuman lebih dahulu yang keluar. Kemudian diiring dengan nasi dengan lauk- pauknya yang lezat-lezat cita rasanya.

Sesudah Adipati Yuyurumpung menyilahkan, maka mereka berempat lain makan bersama-sama dengan lahap, sampai perut jadi kembung.

Diantara bunyi piring dan cangkir yang berdenting ber sentuhan kedengaran pula percakapan-percakapan yang diseling gelak tawa kelegan. Tetapi Sondong Majeruk sikapnya. lebih tenang, tak banyak tingkah. Lebih-lebih lagi ia tahu kalau dirinya berhadapan dengan priyayi agung. Apabila semuanya telah selesai, dan semua sisa-sisa hidangan ditarik kebelakang oleh abdi-abdinya, maka Adipati Yuyurumpung lalu mulai mengajak bicara tamunya menuju kearah inti-inti yang sesungguhnya.

“Sondong Majeruk!” katanya. “Semenjak daerah perbatasan engkau amati ternyata keadaan Kadipaten Kemanguhan sekarang manunjukkan tanda-tanda yang baik. Semua lalu-lintas sangat lancar, orang-orang menyalankan tugas dengan aman. nya. Nab. untuk jasa-jasamu yang telah kau buktikan ha, aku tak segan-segan menaikkan gajimu. Dan dengan demikian kau bisa menaikkan taraf kehidupan keluargamu.”

“Ya. gusti. Tentu saja kalau gusti suka menaikkan pendapatan saya pastilah isteri-isteri saya juga akan bisa membeli kain-kain yang baru dengan bedak dan perhiasan-perhiasan yang bagus.”

“Ya, atau kau bisa kawin lagi!” sahut Mangkubumi Singabangsa cepat-cepat. Mereka bertiga pada tertawa riuh. Hanya membuat Adipati yang sedang memutar otak itu jadi marah dan menggertak Mangkubuminya.

“Huss! Jangan main-main begitu!”

Singabangsa cepat menutup mulutnya, diikuti dua orang yang lain.

“Sondong Majeruk! Disamping apa yang sudah kukatakan semua itu kepadamu, sesungguhnya telah lama aku mempunyai lawan yang sangat kubenci. Dan bahkan kakak lawanku itu baru-baru ini melarikan isteri mudaku.” kata Adipati Yuyurumpung dengan tenang, seperti seorang yang sedang melaporkan sesuatu untuk meminta pembelaan.

“Siapa orang itu Gusti ?” “Sondong Singa Jembangan.”

Sondong Majeruk tunduk menganggukaanggukkan kepalanya Berkali-kali matanya mengejap-ngejap seperti orang yang sedang mencari jalan keluar.

“Kau kenal orang itu Sondong Majeruk?” tanya Adipati Yuyurumpung mengejar terus.

“Dia adalah kawan seperguaran saja yang tertua. “ “Dia?” ulang sang Adipati kaget dengan nada kecewa.

“Ya, Gusti. Sesungguhnya saja mempunyai dua saudara seperguruan. Yang tertua Sondong dari Jembangan. Kemudian yang kedua Sondong dari Medari. Sondong Medari ini bukan adik kandung saja sendiri.”

“Tetapi bukankah Medari itu termasuk wilayah Maja Asem, Sondong Majeruk?”

“Memang demikian Gusti.”

“Wah, kalau begirtu repot juga rencanaku ini. Dan mungkin bisa gagal betantakan.”

“Gusti punya rencana penting kiranya?”

Untuk menarik perhatian, maka sebentar itu Adipati Yu- yurumpung diam tak mengeluarkan banyak suara. la bertopang dagu, dengan muka kesedih-sedihan. Ketiga orang yang duduk bersimpuh dihadapannya memang nyata-nyata telah terkena sandiwara ini. Mereka ikut larut dalam kesedillan serta menunyukkan sinar wajah yang berbela sungkawa.

Sesudah dipandangnya cukup, maka Adipati Yuyurumpung lalu mulai lagi bicaranya, membuka kesepian itu.

“Begini Sondong Majeruk. Sekiranya engkau berkelahi melawan salah seorang saudaramu itu. Apakah kau berani?”

“Oh, gusti, Sebenarnya kami bertiga berikrar tak hendak bertanding kekuatan seperti itu. Bahkan untuk menjaga keseimbangan, apabila salah seorang hendak mencuri atau menyamun orang harus selalu memberi tahu satu sama lain lebih dahulu. Dengan demikian kegiatan kami masing-masing dapat kami ketahui bersama-sama.”

“Apabila salah satu ada yang melanggar?” “Seumpama salah satu ada yang melanggar, pasti akan diselesaikan secara laki-laki. Sebab ini memang sudah merupakan tekad kami semua?”

Sang Adipati mendehem, menghentikan pertanyaannya.

“Tetapi gusti, Sebenarnya saja bisa keluar dari ikrar kami bersama itu.”

“Caranya?”

“Yaitu kalan benar-benar gusti bisa menaikkan gaji saja. Sebab bukankah dengan gaji yang cukup itu saya tak perlu lagi meramnok, menyamun atau mencuri lagi? Jumlah pendapatan yang saja terima dari gusti sudah cukup. Itu kalau gusti benar-benar setuju.

Adipati Yuyurumpung cepat-cepat menyahut.

“Bagus! Bagus! Te.ntu saja aku setuju sekali Sondong Majeruk. Meskipun dalam soal ini sebenarnya merupakan urusanmu. Seperti juga aku berurusan dengan Sondong Singa Jembangan, adalah urusan pribadiku sendiri. Sekarang beginilah yang kumaksudkan, apa sebenarnya engkau kupanggil kemari. Sudah lama sebenarnya aku mengidam-idamkan pusaka milik Adipati Maja Asem. Pusaka itu ada dua macam, Sondong Majeruk. Yang pertama berujud keris bernama Rambut Pinutung, yang kedua berujud kuluk (topi mahkota) bernama Kanigara. Hasratku memiliki benda pusaka- pusaka itu sangat besar, sebab aku tahu bahwa barang siapa yang bisa memiliki benda-henda itu, dikelak kemudian hari akan menjadi Adipati Pesantenan yang besar, yang akan mengusai seluruh daerah yang luas pula. Dan kiranya cuma akulah yang paling tepat untuk menjadi Adipati Pasantenan itu!

“Bagaimana gusti tahu, bahwa cuma gustilah yang paling tepat jadi Adipati Pasantenan?” “Ya! Bukankah aku lebih tegas dad pada Adipati Maja Asem? Aku lebih memiliki darah lelaki dari padanya. Dan buktinya seandainya aku memegang dua pusaka itu pastilah dalam sebentar saja Pasantenan telah kukuasai. Tetapi dia? Apa yang kau lihat? Si Suksmayana itu tak dapat berbuat sesuatu. Sebab penghalangnya adalah aku!”

Keterangan Adipati Yuyurumpung dengan sombong sambil menunjuk-nunjuk kearah dadanya sendiri. Mangkubumi Singabangsa dan Gagakpahit yang semenjak tadi merenung-renung dengan khajal bebasnya, sekarang ikut pula mengangguk-angguk seperti baru sadar bahwa kata kata sang Adipati itu memang mengandung kebenaran yang hebat. Sedang Sondong Majeruk sendiri tenang saja, namun begitu semua kata-kata Yuyurumpung dimasukkan dalam hati benar-benar. Sang Adi-pati mulai bicara lagi menyerah :

“Nah. Sondong Majeruk. Sekarang soal ini aku serahkan padamu, bagaimana jalannya agar aku bisa memiliki kedua pusaka itu. Sangguplah kiranya?”

Sondong Majeruk belum menyahut, tetapi segera Adipati Yuyurumpung meneruskan bicara lagi :

“Apabila kau berhasil, besarlah hadiah yang akan kau terima. Kau akan bisa mengangkat seluruh keluargamu menjadi kaya. Bahkan kalau kau mau, kau bisa membuat keluarga baru lagi!”

Sondong Majeruk mendengarkan janji sang Adipati. Sesudah itu dia sendiri berkata :

“Saja adalah abdi gusti Adipati. Karena itu apabila gusti memerintahkan tugas kepada saya, tentulah akan saya kerjakan pula!” “Bagus, Sondong Majeruk: Bagus! Sungguh kau pantas menjadi contoh bagi kawula-kawula Kemaguhan ini akan taat serta setiamu terhadap perintahku. Nah, apabila, nanti kau sudah berhasil, lekaslah lari menyeberang sungai, tentu kau akan selamat, Jika Adipati Maja Asem berontak akulah yang akan menghadapinya.”

Sondong Majeruk mengangguk menyetujuinya.

Atas kegembiraan sang Adipati yang meluap, seketika itu juga diperintahkan untuk mengadakan pesta besar-besaran secara mendadak, merayakan si Sondong Majeruk. Untuk kedua kalinya hidangan yang lezat-lezat membanjir. Lalu beberapa nayaka dan perajurit-prajurit yang kebenaran sedang sowan bertugas diajaknya pula bersantap, termasuk peracijurit-prajurit jaga.

Seperti mendapat kehormatan yang besar bagi mereka itu sebab selamanya belum pemah terjadi sang Adipati kelihatan begitu bermurah hati. Semuanya bersila menunduk dan makan sekenyang- kenyangnya, seperti baru mendapatkan kesempatan yang tak bisa dicari-cari lagi.

“Nah, ajolah jangan malu-malu dan jangan takut-takut! Singabangsa! Gagakpahit! Pelopori mereka makan seperti dirumahmu sendiri kalau dilayani bini-binimu yang kemaju itu! Ha ha ha!” kedengaran suara sang Adipati yang meleng-king nyaring itu mengatasi geremang orang orang yang sedang makan dengan menyodorkan suguhan ganti berganti. Singa-bangsa dan Gagakpahit tersenyuna malu-malu, namun begitu tangannya kelihatan menjangkau kesana kemari dengau enak saja. Abdi-abdi wanita yang bergiliran mengantar minuman dan makanan sebentar-sebentar disuguhi senyum sang Adipati.

Bahkan kadang kadang tak jarang sang Adipati mencubit pantat atau pipi mereka yang menggiurkan itu. Dan Abdi-abdi itu terpaksa diam, meski dalam hati merasa jijik serta muak. Ketika pesta telah selesai, maka kemudian Sondong Majeruk diberi sebagian dari hadiahnya lebih dulu. Sedang sebagian yang lain akan dilunasi setelah tugasnya berhasil.

“Sondong Majeruk! Lalu kapan kira-kira kau dapat membawa pusaka itu ke Kemaguhan?” tanya Adipati Yuyurum pung.

“Dalam minggu ini juga saya berharap dapat menghaturkan kedua pusaka tersebut. Dan janganlah dipanggil Sondong lagi. kalau saja tak bisa mempersembahkan kedua pusaka itu kehadapan gusti!” sumpah Sondong Majeruk dengan lancang serta tegas.

Adipati Yuyurumpung mengangguk-angguk serta sangat kagum pada keberanian, utusannya ini.

“Sungguh kau hebat, Sondong Majeruk! Belum pemah aku menemui orang seberani kau ini!” Adipati Yuyurumpung menepuk nepuk bahu si Sondong Majeruk, disaksikan dua orang bawahannya yang tersenyum senyum pula kepuasan.

“Sekarang juga saya mohon diri do'a restu gusti.”

“Baiklah Sondong Majeruk. Tugasmu akan berhasil dengan iringan do'a pangestuku.”

Cepat Sondong Majeruk keluar dengan langkah yang pasti. Gayanya membungkuk-bungkuk seperti jago tinju yang terkenal. Sampai dihalaman diantar orang bertiga. Sondong, itu tak menoleh- noleh lagi. terus berjalan mengarah kedesanya.

Yuyurumpung, Singabangsa dan Gagakpahit yang ditinggalkan senyumnya tersungging dibibir. Sebenrar lagi pusaka itu akan pindah ketangan sang Adipati, dan Kemaguhan akan menjadi tampuk pemerirttahan dari seluruh Pesantenan.

Tarkala datang dirumah, Sondong Majeruk tak mau bicara apa apa lagi. Pikirannya terpusat pada cara-cara tentang pencurian kedua pusaka itu. Bahkan karena terlalu tegangnya dia berfikir, sampai-sampai makanpun dia agak ogah-ogahan. Padahal hari itu isterinya memasak sedikit agak diistimewakan. Tentu saja dengan perobahan yang tak disangka-sangka ini, tak anehlah kalau kemudian sang isteri itu jadi bertanya keheran heranan.

“Apa kau sedang sakit?” “Tidak aku sehat walafiat.”

“Tetapi kenapa mesei begini! Apa kau baru saja disuguhi gadis cantik dan sekarang gadis itu masih membayang bajang pula diangan-angan?”

“Tidak.”

“Apa kau baru saja berkelahi dan kalah?” “Tidak.”

Tiba-tiba karma rasa tak sabamya, isterinya jadi mendamprat menggebrak-gebrak amben dengan marah.

“Jadi apa sebabnya begini ha?” Cobalah bilang terus terang.

Jangan mencoba-coba bersandiwara!”

Sondong Majeruk maklum akan hal ini. Dibiarkannya dulu isterinya itu melepaskan mengkal hatinya. Apabila sudah tepat masanya, kemudian ia bilang dengan hati-hati.

“Mirah, aku termenung sebab sedang tirakat!”

“Tirakat? Tirakat? Tirakat apa lagi kini? Alasanmu selalu macam-macam!”

Seperti perempuan kebanyakan, maka diam-diam isterinya dihinggapi kecemburuan karena oleh suaminya yang kelihatan ganjil itu. “Benar Mirah. Aku tirakat. Tetapi jangau kau tanya untuk apa aku berbuat seperti itu!”

Mirah melengos menyingkiri tatapan pandang Sondong Ma- jeruk. Mukanya kelihatan kembali kemerah-merahan, serta matanya bersinar-sinar tajam seperti harimau betina hendak mencakar.

“Tak usah banyak ngomong. Aku sudah tahu maksudmu. Sesukamulah berbuat. Memang sebentar lagi pipiku peot, kulit- kulitku keriputan tak bisa menarik lagi. Carilah ganti yang lebih muda dan genit!”

“Kcnapa kau bilang seperti itu Mirah? Sungguh hanya kaulah isteri yang paling kusayangi. Apa kau tak merasa bahwa hampir semua harta benda yang kuperoleh itu kuberikan kepadamu?”

“Ya, tetapi kaupun meladeni yang lain lain itu. Dan tiap kali pulang selalu muka yang muram itu temui! Aku jadi bosan kalau mesti seperti ini terus-terusan.”

“Ah. jangan begitu Mirah. Mereka sudah kusuruh mengalah.

Mengalah dalam segalanya!”

Sondong Majeruk mendekati isterinya. Tangannya hendak meraih pipi Mirah yang montok itu. Biasanya Mirah akan selalu membiarkan saja. Tetapi sekali ini tidak. Sebelum tangan Sondong Majeruk menyangkau, Mirah telah sigap berdiri, kemudian dengan geraknya yang kemayu lari masuk kamar. Dan pintu ditutup keras- keras.

Sondong Majeruk tersenyum ketawa melihat tingkah isterinya yang lucu, cemburuan itu. Lalu ia menggumam sendirian seperti berpasrah diri.”

“Oallah! Perempuan perempuan! Duniamu cinta melulu!” Sementara itu hari telah mendekati sore. Burung-burung telah pulang kesarangnya Para penggembala beramai-ramai menggiring ternaknya menuju kekandang. Angin sebentar bertiupan dan dingin sampai ketulang-tulang.

Sondong Majeruk masih duduk bersidakep diatas ambin Pandangnya tajam mengarah kedepan. Dan pikiran diputar untuk mencari jalan. Dirasanya tugas sekali ini sungguh amat berat dilakukan. Kalau tidak atas permintaan Adipati dae-rahnya niscaya tak mungkin ia mengabulkan.

Kerja yang akan dia lakukan ini bukan berarti hanya sekedar mencari pusaka-pusaka Rambut Pinutung dan Kuluk Kanigara saja. Tetapi lebih luas lagi adalah menyangkut perang tanding dengan orang-orang persekutuan Timur. Kadipaten Maja Asem. Dan salah seorang dari Maja Asem iru terdapat Sondong-Medari, adik kandungnya sendiri :

“Betapa berat! Saudara seketurunan darah hendak bertemu dimedan perang. Betapa mungkin la hendak membunuh adiknya sendiri. Adik yang sewaktu masih kecil dalam bimbingan orang tua, selalu kelihatan rukun dan memberikan kasih sayangnya.

Kehidupan didunia memang aneh. Kadang kadang orang dipertemukan dalam suasana mengharukan hanya karena di kuasai oleh uang Seperti dirinya ini. Tetapi dia sudah terlanjur berjanji dihadapan Adipati itu dan disaksikan sebagian kawulanya.

Kalau ia tak menepati apa yang telah dikatakannya, bagaimana sorak hinaan dan ejekan yang akan dilampiaskan kepadanya? Lalu mukanya hendak ditaruh dimana? Sungguh suatu hal yang sulit, tetapi juga menyangkut perasaan dan kemanusiaan Sampai disini khayal Sondong Majeruk berjalan, tiba-tiba ia sadar serta bangun dari duduknya. Dilihatnya diluar sudah gelap remang remang. Sudah saatnya memulai kerja itu. Pelan ia melangkah mendekati pintu kamar kemudian memanggil isterinya:

“Hai Mirah! Aku pergi sebentar lagi? Tetapi jangan kau tanya kemana aku pergi!”

Dari dalam kamar tak terdengar suara apa-apa.

“Kau mendengar suaraku, ha?” ulang Sondong Majeruk lebih keras. Tetapi kali inipun isterinya belum menjawab juga.

“Kalau nanti kau dengar ketukan empat kali, lekas bukakan pintu. Itu berarti aku pulang. Kau dengar pesanku ini?”

Isterinya tetap membisu, menyehabkan Sondong Majeruk berteriak marah-marah :

“Kau tuli hah? Kau dengar tidak bicaraku ini?!”

Oleh teriakan yang dahssyat ini, mirah menyawab gugup dari dalam kamar.

“Ya ya ya! Aku dengar! Minggatlah sana! Carilah yang baru lagi dan tak usah pulang!”

Sondong Majeruk tertawa terbahak bahak. “Sadarlah, bukanlah kalau aku tak pergi kau akan mati kelaparan? O ya Mirah! Apakah masih ada sisa candu?”

Isterinya muncul diambang pintu, lalu menyawab:

“Kau tahu sendiri, candu itu habis semenjak hari kemarin!”

Sondong Majeruk mengeluh. Kemudian menguap lebar, karena mulutnya sudah amat haus, ketagihan. Lalu ia berkata. perlahan, seperti memberi tahu pada dirinya sendiri. “Heh! Belakangan ini candu sudah hilang dari pasaran Pedagang pedagang yang berada di Kalingga tidak juga punya barang ini. Barangkali sudah dijualnya ke Pajajaran. Mungkin dikiranya Kemaguhan tak perlu lagi pada candu. Bedebah betul-betul pedagang-pedagang itu! Pikiran hanya dipusatkan untuk menggendutkan perutnya sendiri.”

Sondong Majeruk menguap lagi, sambil melebarkan matanya. Ruas-ruas tulang yang merasa linu-linu dipijit-pijitnya dan ia menghela napas panjang.

“Mirah! Aku pergi sekarang! Do akan agar aku berbasil ya? Kau mau oleh-oleh apa hem?”

“Kau mau menyamun lagi?”

“Tidak. Kan aku sudah jadi pegawai Kemaguhan?” “Mau kemana?”

“Sudahlah! Tutup mulutmu. Nanti malam saja bukakan pintu, kalau aku pulang!”

“Heh! Mudah mudahan kau disambar geledek kalau cari bini baru!” umpat isterinya dengan kcsal.

Dengan tertawa terbahak, Sondong Majeruk meninggalkan rumahnya. Langkahnya pasti, menderap diiringi irama yang gagah.

Dibalik baju-baju tutupnya yang biru tua berpalang lorek, pundaknya yang besar itu kelihatan datar. Dadanya bidang, serta gaja jalannya membungkuk-bungkuk ketenangan. Kedua tangan yang berotot-otot menggurat itu, menggantung kebawah. Dipinggangnya terselip sebilah keris yang tak pernah ketinggalan, setiap kali ia bepergian.

Waktu itu hari telah menginjak kesenja, sebentar lagi malam datang mengembang. Angin bertiupan dingin, membuat Sondong Majeruk sebentar-sebentar menyejapkan mulut serta memeluk leper baju kutungnya lebih rapat.

Kepekatan mulai turun dari tempat ketempat. Bintang-bintang dilangit satu dua menampakkan dirinya, berkelip-kelip dengan sinarnya.

Tetapi ia tak mempedulikan b;ntang-bintang itu. Torus saja kakinya dilangkahkan dengan pasti, tetapi juga selalu hati-hati serta waspada.

Apabila ada jalan simpangan menuju kuburan, maka kesanalab ia membelokkan arahnya. Kemudian diambilnya segenggam tanah kuburan, sebagai syarat yang utama bagi kebiasaan orang yang hendak melakukan pencurian.

Tanah-tanah ini nanti akan ditaburkan kerumah yang menjadi sasarannya itu, agar penghuni-penghuninya lekas tersekat mulutnya dan kemudian jadi tertidur.

Sesudah dirasanya cukup, Sondong Majeruk lalu balik kembali mengikuti jalan yang menuju ke Maja Asem. Tidak lama lagi ia sudah melintasi seberang sungai perbatasan. Matanya mulai ditajamkan, dan telinganya dijereng lebar agar bisa cermat menangkap suara. Sebab ia kini berada di daerah musuh. Jalannya sekarang mengendap-endap, mencari tempat yang sunyi, agar tidak berpapasan dengan orang. Langkahnya sangat tenang dan dilakukan dengan diam-diam.

Dan tatkala tengah malam telah tiba, ia sudah memasuki Kadipaten Maja Asem. Sebentar ia menengadah keatas pagar perbentengan. Kemudian menoleh kekiri kanan.

Namun waktu ia akan memulai memanjat pagar itu tiba-tiba tanpa disangka-sangka pantatnya seperti dicocok dengan benda tajam. Lalu dari belakang menyusul sebuah suara : “Hai turun! Tikus mana pula ini, sore-sore mulai kerja!”

Seperti disengat kalajengking rasanya. Tubuh Sondong Majeruk menggigil seperti orang yang hendak masuk perangkap. Kemudian ia turun dan berdiri tenang. Orang tersebut mendekat, meneliti seluruh tubuh Sondong Majeruk. Ternyata ia seorang perajurit keliling yang membawa tombak.

Sondong Majeruk berfikir kalau tak lekas-lekas bertindak tentulah hanya akan memperhambat kerja saja. Dan benarlah. Sewaktu perajurit itu hendak mencoba menarik keris dipinggang orang yang dihadapi, Sondong Majeruk telah bergerak dengan tangkas.

Orang itu disekap mulutnya, kemudian dicekik lehemya. Tetapi mengeluarkan sesuatu si perajurit telah telentang kaku.

Kemudian majat ini diseret ketempat yang gelap dan ditimbuni dedaunan.

Sondong Majeruk tak mau mundur kali ini. Pagar benteng dipanjatnya cepat-ccpat dengan hati yang masih agak berdebaran pula. Lalu ia melompat masuk. Kini dia telah berada didalam halaman gedung Kadipaten itu. Tanah pekuburan dilemparkannya sedikit demi sedikit kearah Renting serta tangga pendapa. Sesudah habis semua, ia mengundurkan diri untuk menunggu akibatnya. Duduknya bersimpuh ditempat gelap dibalik kayu yang tertumpuk dekat kandang.

Matanya tak berkedip melirik kesana kemari.

Dipendapa dilihatnya ada tiga empat orang yang sedang berjaga. Sondong Majeruk melepas manteranya. Dan seorang demi seorang lama-lama pada menguap kepayahan dengan tubuh terasa lemas lunglai. Akhirnya tak lama kemudian mereka jatuh tertidur. Satu-satu terdengar dengkumya bersengguran, bersahut-sahutan.

Keadaan jadi sunyi senyp, tinggal lampu-lampu pendapa saja yang tetap dengan sinamya terang kekuning-kuningan.

Sondong Majeruk berdiri membetulkan letak bajunya. Ia berjalan mendekati pintu samping. Atas khasiat mantra dan tenaga raksasanya ia dapat menyebol pintu ini. Setelah lewat kamar-kamar dan longkangan (ruangan kosong) akhirnya ia masuk keruang dalam.

Langsung ia menuju kekamar peraduan Adipati Suksmayana. Dilihatnya sang Adipati sedang tidur begitu tenang. Disampingnya membujur isterinya yang molek. Sungguh suatu pasangan yang sangat bagus dan serasi, seperti batara Kuma-Jaya dan Dewi Ratih, yang sedang tidur ditaman Kaindran.

Sondong Madieruk agak berpikir pikir sejenak. Dalam keadaan yang sesunyi itu, jelas sekali terdengar betapa hatinya berdetak. Ia menjelajahkan mata mencari-cari dimana kira-kira pusaka itu disembunyikan. Lalu ia menciapat jalan, biasanya orang-orang Jawa menaruh benda benda pusaka selalu diletakkan diatas kepala-nya. Pikirannya itu temjata benar juga. ia melongok-longok-kan kepala, dan tepat diatas kepala sang Adipati ada dua benda yang dunaksudkan.

Gemetaran juga tubuh Sondong Majeruk. Jangan-jangan sang Adipati bangun dengan tiba-tiba. Tetapi untuk tidak menunda- nunda waktu, segera Sondong Majeruk mendekati dua pusaka- pusaka itu. Kemudian ia duduk bersimpuh dan menyembah tiga kali, sesudah itu dengan hati hati diangkatnya Kuluk Kanigara beserta keris Rambut Pinutung. Sewaktu ia pergi keluar, langkalauya seperti orang diburu macan. 'T'ergesa-gesa hendak sampai diluar, sebab kawatir kalau ketahuan. Melewati jalan yang dilalui semula, akhirnya Sondong Majeruk sampai diluar.

Seperti kebiasaan para Sondong-sondong, maka Sondong Majerukpun ketika menginjak halaman kembali, lalu berteriak- teriak menyumbari musuhnya, dengan kedua tangan memeluk benda keramat itu :

“Hai orang Maja Asem! Bangunlah! Jangan keenakan tidur lelap, sebab rumahmu kecurian. Dan tahukah kau, barang apa yang hilang dari tempatnya? Inilah. Kuluk Kani-gara beserta kcris Rambut Pinutung! Kalau kau tak rela kejarlah aku!”

Setelah berkata begitu Sondong Majeruk melompati pagar, kemudian menghilang dikegelapan malam, dengan lari membabi buta.

Larinya seperti lari seorang ksatria yang menang perang. Dijalan, tak diacuhkan semuanya. Ia mesti cepat-cepat sampai dirumah, untuk menyimpan kedua pusaka itu, dan kemudian esok harinya menyerahkan kepada Adipati Kemaguhan si Yuyurumpung.

Sementara itu terbangunlah Adipati Suksmayana. Gugup ia mencari dua huah pusakanya. Ternyata sudah hilang dari tempatnya semula. Maka gemetarlah dia. Kenaudian lari kependapa dan memerintahkan agar kentongan dipukul sebagai tanda adanya pencurian.

Sebentar saja terbangunlah seluruh penduduk dari Kadipaten Maja Asem geger seketika. Gema bunyi kentongan be-runtun runtun meriuh.

Orang orang berdatangan ke kadipaten dan saling bertanya dari mulut kemulut mencari keterangan. Sedang anak bini ditinggalkan dirumah, bahkan pada meringkuskan badannya menarik selimut lebih keatas dengan tubuh menggigil ketakutan. Kembang Jaya yang pada waktu itu sedang enak-enak tidur dirumahnya juga mendadak terbangun dari tidur lelapnya, kemudian memerintahkan pelajan untuk memperlengkapi kudanya. Setelah disiapkan ia segera melompati punggungnya dan melecut kudanya bertubi-tubi kearah Kadipaten.

Kudasuwengi dan Sondong Singa Jembangan yang sudah mengabdikan diri pada Adipati Suksmayana, segera menuju ke Kadipaten pula.

Sebentar saja pendapa telah ramai didatangi orang-orang Dan tatkala Adipati Suksmayana meneranakan tentang hilangnya dua buah pusaka Maja Asem, maka seluruh orang jadi tersirap darahnya. Bahkan karena kagetnya ada sebagian orang yang berdiri tertegun tegun dengan mulut melongo. Macam-macam tapsiran penduduk yang diberikan pada adanya kejadian yang tak disangka sangka itu.

Sebagai seorang ahli, Sondong Singa Jembangan segera memeriksa jejak pencurinya. Sebentar-sebentar ia mencium-cium seperti laku seekor anjing polisi. Kemudian meledak bicaranya :

“Jagad Dewa Batara! Hamba kenal betul siapa pencurinya!” Orang orang jadi terkejut serta menoleh, termasuk Kembang

Jaya dan Adipati Suksmajaya sendiri. Lalu mereka bertanya hampir berbareng:

“Siapa pencuri itu?” “Orang Kemaguhan, Gusti!

“Orang Kemaguhan? Siapa?”

“Siapa lagi kalau bukan saudara seperguruan hamba sendiri!” jawab Sondong Singa Jembangan.

Adipati Suksmayana merasa perlu membicarakan soal, ini berdua saja. Karena itulah kemudian Sondong Singa Jembangan dipanggil masuk kedalam. Setelah Sondong itu menghadap besimpuh, sang Adipati bergegas bertanya:

“Katakanlah! Aku berjanji takkan menghukumnya asalkan kedua buah pusaka itu dikembalikan kepada kami!”

Sondong Singa Jembangan menyawab, “Pencurinya adalah Sondong dari Majeruk!”

Seketika itu juga Adipati Suksmayana terdiam. Juga Kembang Jaya beserta lain-lain orang yang kebenaran ikut menghadap. Mereka semua kenal siapa Sondong Majeruk itu!

Mendengar namanya saja orang sudah cukup bergetar jantungnya. Berkatalah Adipati Suksmayana kemudian: “Apakah engkau sanggup menangkapnya?”

Sondong Singa Jembangan berdiann diri, dengan muka menunduk berfikir-fikir. Setelah itu menyawab terus terang apa adanya.

“Hamba sebenarnya tidak takut terhadapnya. Tetapi hamba terpaksa menolak untuk berbuat demikian. Harap gusti ketahui, Sondong Majeruk punya adik kandung sendiri. Andai kata hamba bertengkar dengan dia, sudah pasti hamba akan dikerubut. Karena itu hamba menolak.”

“Tetapi bukanlah kau bisa menggunakan wadyabala perajurit Maja Asem, Sondong Singa Jembangan?”

“Ada soal yang lain lagi gusti. Kami telah berikrar tak hendak berkelahi, kecuali kalau kami melanggar wilayah masing-masing.”

Mendengar keterangan ini Adipati Suksmajaya jadi bersedih hati. Pandangnya runtuh ketanah, menandakan orang berputus asa. Sondong Singa Jembangan merasa kasihan pula Karena itu ia memberikan usulnya. “Namun gusti tak perlu cemas hati. Masih ada jalan yang lebih baik. Sekarang panggil saja Sondong dari Medari. Bukankah Medari termasuk Maja Asem? Kita adu dia dengan kakaknya. Saya percaya bahwa dia sanggup menangkap kakaknya sendiri.”

“Lalu siapa seyogyanya yang pergi kesana?”

“Perintahkan saja pada Raden Kembang Jaya dan kakak hamba Kudasuwengi. Pastilah dia akan datang. Tetapi usul hamba, jangan ditangguhkan sampai besok pagi. Sebab hamba rasa, dua buah pusaka tersebut pasti sudah akan berpindah tangan!”

Saran Sondong Singa Jembangan memang sangat bagus dan meyakinkan. Semua diusulkan karena terdorong rasa cintanya pada Maja Asem. Dan oleh saran yang bersungguh-sungguh itu. maka Adipati Suksmayana memerintahkan secara mendadak agar malam ini juga Sondong dari Medari segera dipanggil menghadap ke Kadipaten.

Siapakah sebenarnya Sondong Medari itu?

Orangnya semampai dengan tubuh kukuh. Matanya Bening menyinar tajam, tetapi selalu bergerak-gerak. Hal ini menandakan bahwa ia adalah seorang yang cerdik lagi licin, Pada bibimya tersungging sebuah kumis yang seleret tipis.

Apabila Sondong Medari tersenyum dia akan kelihatan tampan. Lebih lebih lagi karena kulit badannya sendiri kekuning kuningan. Jadi senyumpun lihat saja. karena tampangnya yang bersih itu, orang takkan mengira kalau ia seorang sondong, jago kelahi dan gemar pula menyamun. Tetapi dalam tugasnya menyamun atau merampok itu, ia mempunyai ancar-ancar serta dasar yang baik. Tidak pada setiap orang dia mau merampok. Orang-orang yang menjadi mangsanya, adalah orang-orang kaya yang kikir, serakah atau kejam terhadap sesamanya. Dikabarkan bahwa Sondong Medari mempunyai isteri yang tersebar dibeberapa tempat. Adapun maksudnya bukan semata-mata karena didorong nafsu belaka. Melainkan berdasar atas kecerdikan pikir. Tiap-tiap rumah isterinya itu tentulah akan dijadikan pos pengungsian atau tempat bersembunyi apabila dia habis mencuri atau menyamun orang ditengah jalan.

Terhadap isterinya ini, ia selalu berusaha berbuat adil. Semua dijamin hidupnya serta diberi harta kekayaan. Dan pada mertuanya iapun bersikap hormat bahkan sering dikunjungi, sebagai umumnya orang muda yang harus selalu sayang dan patuh kepada orang tua. 

Karena kepandaiannya dalam melindungi keluarganya itulah, maka tak aneh kalau semua isterinya itu senantiasa keli-hatan akur satu sama lain, apabila kebenaran mereka saling berjumpa.

Medari adalah sebuah pedusunan yang orang-orangnya hidup dari bertani mengolah tanah.

Kepada sahabat-sahabatnya tetangga kanan-kiri inipun Sondong itu kelihatan jujur, tak pernah berbuat kesombongan atau perihal sesuatu yang sekiranya bisa menyakitkan hati.

Sondong Medari menyamun bukanlah mengambil tempat dikampungnya sendiri, melainkan jauh dari Maja Asem dan mempunyai tempat-tempat tertentu. Jadi bagi para tetangga itu, mereka tak merasakan adanya kejahatan pada diri Sondong, sebab Sondong itu tak pemah berbuat kejelekan kepada mereka semua atau orang-orang kampungnya sendiri.

Malam itu Sondong Medari tidak dapat tidur oleh karena kehabisan candu. Sudah seminggu ini matanya jadi merah dan selalu berkunang-kunang.

la menguap sepanjang hari dari waktu-kewaktu. Rintihnya senantiasa terdengar setengah mati. Makan tidak dayan, minumpun hanya kadang kala saja. Yang diinginkan hanyalah candu. Kegemaran mengisap cando adalah dinamakan „neret‟. Apabila penyakit seperti ini telah merasuk dalam tubuh orang, maka sebenarnya hal itu akarn sangat berbahaya.

Dalam ketagihannya yang memumiak, ia niscaya lupa terhadap semua harta bendanya. Biasanya orang orang yang terkena penyakit senaacam ini hidupnya lekas jadi melarat, barang-barang kekayaan akan dijualnya kemudian dibelikannya candu. Padahal harga candu amatlah mahalnya.

Seperti bainya penyakit berjudi, maka perempuan, minum semuanya adalah penyakit-penyakit masyarakat yang berbahaya. Apabila orang telah terkena salah satu, maka ia akan lupa terhadap semuanya semuanya, bahkan hanya harta benda tetapi bahkan termasuk anak isterinya. Orang melakukan kerja kemaksiatan semacam ini semakin lama bukanlah semakirs jera, melainkan semakin menjadi-jadi. Ingin terus menerus terlaksana permintaannya. Apabila rasa ketagihan datang, karena rasa tak tahan lagi, biasanya mereka berani berbuat apa saja, demi untuk memperoleb barang yang dibutubkars itu.

Juga Sondong Medari malam itupm demikian. Badannya jadi lemah lunglai karena ketagihan. Semangatnya bergerak jadi kurang. la hanya mengumpat-umpat saja tak menentu.

Ia sesungguhnya tahu, dimanakah candu itu bisa diperoleh. Di Kalingga! Tetapi Kalingga adalah terlalu jauh untuk waktu sekarang. Sebab tenaganya benar-benar habis dikikis oleh candu.

Sewaktu fikiran Sondong Medari sedang ramai-ramainya dipenuhi oleh persoalan candu ini, tiba-tiba datanglah utusan dari Kadipaten Maja Asem. Gugup ia bangun dari tempat duduknya, kemudian ia menyilahkan tamunya. Apabila Kembang Jaya yang diantar Kudasuwengi itu menerangkan maksud kedatangannya, maka bersuka citalah Sondong Medari karena dirasanya ia mendapat jalan untuk memperoleh barang yang diharap-harapkan itu.

“Hamba sanggup mengerjakan perintah itu. Tetapi hamba minta upah setengah kilo candu Dan nanti apabila telah herhasil hamba minta dijamin tiga kilo candu setiap bulannya!”

“Tiga kilo candu? Kau sanggup menghabiskannya?” tanya Kembang Jaya kelesu-lesuan.

“Ya, tiga kilo. Kalau hamba sedang ketagihan seperti malam ini hamba sanggup menelan setengah kilo candu sekaligus!”

Tanpa tanya jawab lebih panjang, segera Sondong Medari dibawa ke Kadipaten. Ternyata ia telah membuktikan kesanggupannya itu. Tatkala dia memperoleh candu setengatt kilo dari Adipati Suksmayana, maka ditelannya sekaligus dengan lahap, karena ketagihan itu telah memuncak.

Seketika itu seluruh tubuhnya jadi segar dan kekuatan timbul kembali. Kemudiau ia menyembah hormat, sambil berjanji hendak mencuri kembali kedua pusaka yang hilang itu.

“Dapatkah kau mengembalikan ketis Rambut Pinutung dan kuluk Kanigara itu ? Adipati Suksmayana bertanya menegaskan.

“Hamba sanggup!” “Kalau gagal?”

“Potonglah leher hamba.” jawab Sondong Medari mamap.

“Nah, janjimu didengar dan disaksikan orang banyak. Karena itu hati-hatilah! Sebaliknya kalau berhasil, pahala besar sekali yang akan kau terima. Engkau akan kami angkat menyjadi pegawai tetap Kadipaten serta memperoleh jaminan  kilo candu setiap bulan.”  Gembiralah hati Sondong Medari oleh janji sang Adipati itu. Apabila demikian, pastilah hari-hari selanjutnya ia tak perlu lagi merampok atau menyamun. Namun tak sampai hatilah ia menangkap kakak kandungnya sendiri? Ya, kalau bisa ia hendak membawa Sondong Majeruk keperundingan saja, atau setidak- tidaknya hendak dibujuknya mencari perdamaian. Satu-satunya jalan yang paling balk hanya inilah. Tetapi kalau ia tetap berikrar, apa boleh buat. la mesti menghadapi dengan cara kejantanan. Maka berbalik surut oleh karena kaki telah dilangkahkan serta mulut terlanjur berjanyi. la harus bertahan sampai salah satu mati terkapar diatas tanah. Pada perasaannya ia jakin bahwa dirinya duduk diatas segi kebenaran.

Adipati Suksmayana yang dibela adalah orang jujur. Dan kedua pusaka yang hendak diambilnya itu ialah milik Kadipa-en Maja Asem, secara syah. Untuk kejujuran tak dibenarkan apabila orang tak mau berkorban.

Pada malam itu juga diiring oleh doa puji seluruh kawula Maja Asem, ia berangkat. Terlebih lulu ia pulang kembali kerumah untuk membangunkan lembunya yang bernama Gumarang. Lembu ini adalah merupakan kendaraan yang sering dinaikinya apabila ia menempub jarak yang jauh. Tetapi malam itu Gumarang nampak malas, barangkali perutnya lapar atau matanya masih mengantuk. Sondong Medari tak sabar lagi. Diambiloja cambuk kemudian Gumarang dilecutnya dengan membabi buta. Mendadak lembu itu meloncat, keluar kehalaman. Tetapi ia tak juga mau berjalan. Bahkan berdiri dengan man membesar seperti orang yang sedang marah.

Sondong Medari lari kedalam rumaah, kemudian diambilnya sebilah keris. Wah, jika kau ngambek juga tak mau berjalan, ku- babisi nyawamu!” ancamnya. Ia mencambuknya lagi, lalu melompat kepunggung. Lembu Gumarang mundur beberapa langkah. Sondong Medari menusukkan kerisnya kepaha lembunya. Oleh tusukan rasa sakit mendadak lembu Gumarang melompat tinggi serta lari membabi buta merobohkan pagar dan merusak binasakan tanaman pekarangan para tetangga.

Ia terus lari disepanjang jalan dengan nekadnya. Tatkala akan menyeberang sungai perbatasan, ia tidak mau berjalan lagi.

Sondong Medari memecutnya berkali-kali. Tetapi embu Gumarang tetap bersitegang pada tempatnya. Seakan-akan ia sedang memperingatkan tuannya bahwa perjalanan malam itu sangat berbahaya.

Sondong Medari tak hendak memperpanjang waktu, ia mesti cermat serta harus cepat sampai di Majeruk. Diambilnya lalu ditusukkan keris kuat-kuat kearah lambung si Gu-marang. Seketika itu rubuhlah lembunya yang dahulu merupakan sahabat sepenunggangan.

“Ya, matilah kau sekarang! Tetapi jangan salahkan aku. Aku lagi menghadapi tugas penting, dan kau ngambek kuajak bekerja. Kalau saja masih sempat pastilah kumakan dagingmu. Selamat tinggal Gumarang, sekali ini aku bekerja sendirian!” Kemudian ia menyebrang kali dan menuju desa Majeruk. Waktu dia memasuki pedesaan itu malam naasih tetap berlangsung. Keadaannya gelap pekat. Angin berembus dingin serta dedaunan mulai ditimpa embun yang basah. Ia berjalan mengendap endap memasuki halaman perumahan kakaknya. Dari luar hanya terlihat nyala lampu yang tak seberapa terang. Sinamya menerobos melewati celah-celah dinding yang rapuh.

Sementara ia berfikir-fikir tiha-tiba terdengar suara. Ia faham sekali suara itu adalah suara Sondong Majeruk yang sedang bicara dengan isterinya. “Nab, aku pulang bukan? inilah kepentinganku mengapa aku pergi!”

“Kalau kau menerangkan maksudmu, tentulah akupun takkan bersakit hati” jawab isterinya.

“Soalnya, semula memang masih rahasia. Tetapi sekarang tak ada rahasia lagi. Kau tahu, Adipati Yuyurumpung dari Kemaguhan sangat bernafsu untuk memiliki keris Rambut Pinutung serta kuluk Kanigara. Sebab barang siapa yang bisa memiliki dua buah pusaka ini, niscaya ia akan menjadi Adipati besar yang menguasai daerah Pesantenan dan sekitarnya.”

“Tetapi apa sebab tidak kita miliki sendiri?” tanya isterinya. Sondong Medari mengintip dari celah dinding. Ia melihat dengan jelas, kakaknya tiba-tiba menengadah setelah mendengar tanya isterinya itu. Matanya bersinar-sinar.

“Benar! Benar! Pendapatmu memang bagus! Ya, apa salahnya kalau kita memiliki sendiri? Dengan demikian kita nanti akan jadi orang yang berkuasa. Mendadak Adipati Pesantena yang perkasa. Dan kau akan jadi permaisuriku.”

Selesai kicaranya isterinya menyambung lagi tergopoh-go-poh menyahut perkataannya. “Ah, tetapi jangan! Jangan! Lupakan saja perkataanku yang tadi.”

“Kenapa?”

“Sebab kalau engkau jadi Adipati. tentulah isterimu nanti akan bertambah tambah. Dan sementara itu pipiku sendiri sudah peyot” jawab isterinya.

Sondong Majeruk tertawa terkekeh kekeh, sudah itu menguap lebar--lebar. Percakapan itu hanya sampai disini. Sondong Majeruk kemudian menghampiri ambin, dan menelentangkan diri. Tidak lama lagi sudah jatuhf tertidur. Dengkumya bersengguran kedengaran dari luar, lalu membubung setinggi atap.

Isterinya meletakkan kedua pusaka keramat itu diatas meja dengan hati-hati sekali, sebab besok sudah akan dipersembahkan ke Kemaguhan. Sesudah itu dia kemudian tidur pula menyusul, menyejeri suaminya.

Sondong Medari yang berada diluar berlega hati. Ia menyabarkan dirinya, menunggu beberapa saat. Setelah dihitungnya saat yang paling tepat, akhirnya ia menggali tanah, inene-robos dinding bawah. Apa bila telah berhasil memasuki rumah, kemudian ia duduk bersimpuh, menyembah tiga kali, lalu kedua pusaka itu diangkat pelahan-lahan.

Semuanya dikerjakan dengan hati-hati serta waspada tetapi hatinya tenang saja Lewat pinta depan, ia sampai dihalaman, lalu menyumbari kakaknya keras-keras.

“Hai Sondong Majeruk, bangunlah! Jangan tidur lelap disisi isterimu! Ketahuilah bahwa barang curianmu telah kuambil kembali, Kalau kau tak rela, kejarlah aku!”

Seperti disambar petir, Sondong Majeruk melompat dari ambin. Dengan napas megap-megap tak teratur ia memeriksa barang curiannya ternyata telah musnah. Seketika ia lari ke-luar rumah dan bertanya : “Siapakah kau ha?”

“Adikmu sendiri, Sondong Medari?”

“O, iblis! Kembalikan buyung. Pusaka itu bukan miikku sendiri.” “Aku tahu, kau telah mencurinya dari Maja Asem. Kenapa tidak lapor kepadaku, bukankah Maja Asem wilayahku?”

“Esok pagi aku hendak melaporkan padamu, buyung. Sekarang malam telah larut!”

“Tidak! Kau hendak memutar balikkan sumpah kita. Dan lagi kau berada difihak yang salah.”

“Iblis! Kenapa kau bilang begitu padaku?”

“Ya, bukankah pusaka ini milik Adipati Suksmayana secara sjah? Kenapa kau curi, hanya karena diperintah oleh Yuyurumpung? Kau tahu Adipatimu orang serakah, tidak jujur dan licik?”

Sondong Majeruk merasa tak bisa menyawab. la mengakui kebenaran kata-kata adiknya itu. Tetapi sayangnya ia sudah terlanjur berjanji pada Adipati Yuyurumpung dan sebagai Sondong yang sudah tenar di Kemaguhan, tentulah akan malu apabila tugas ini tak dilaksanakan. Akhimya ia berkata menyawab :

“Sudahlah, bujung. Marilah, berikan pusaka itu padaku. Maafkan salahku. Kita berdamai saja.”

“Aku bisa memaafkan kesalahanmu, kakang. Tetapi pusaka ini tak bisa kau rebut. Aku mesti membawanya ke Maja Asem kembali, sebab ini kewajiban!”

Sondong Majeruk tak sabar lagi, meski disekitar hawa dingin, tetapi darah ditubuhnya mendidih panas. Lalu ia menantang.

“Bedebah! Apa kau kira aku tak tega mengajarmu, Sondong Medari? Aku bisa berbuat sekehendakku sendiri, kau peduli apa?”

Sondong Medari menyawab tenang:

“Nab kalau begitu kaulah yang telah memulai pertengkaran ini.” “Maksudku kita berdamai saja.”

“Baiklah, selamat tinggal!” Habis berkata Sondong Medari lalu melarikan diri mengarah ketempat yang gelap, merunduk-runduk agar tak dikejar oleh kakaknya.

“Iblis kau, Sondong Medari! Setan kau!” umpat Sondong Majeruk. Dan ia lalu menyusul memburunya. Apabila sekiranya hendak terkejar, maka Sondong Medari meletakkan kuluk Kanigara diatas tanah. Lalu ia maju memapas kakaknya. Dan terjadilah pergulatan yang seru. Dorong-mendorong, dari tempat ketempat sambil melancarkan serangan. Keduanya seperti banteng-banteng muda, yang seimbang kekuatannya.

Tetapi Sondong Medari kelihatan lebih lincah serta cekatan, hingga menyebabkan Sondong Majeluk agak kerepotan juga.

“Kau begini segar, sudah kemasukan candu barangkali mulutnya?”

“Ja, setengah kilo, kutelan sekaligus!” jawab Sondong Medari. “Nah! Pantas gerakanmu cekatan seperti ini!”

Mereka terus serang menyerang, Sondong Medari dapat menebah dada lawannya. Seperti terkena gumpalan batu besar, dada Sondong Majeruk terasa sesak, dan tenggorokan seakan akan disumbat. Lalu batuknya kedengaran beruntun-runtun. Apabila battik telah habis, dan nafas longgar kembali, kemudian ia berdiri gagah menyerang adiknya.

Sondong Medari maju, terhantam perutnya. Mendadak ia meringis ringis serta undur terhuyung-huyung. Serasa diaduk seluruh isi perut, dan bumi bagai goyang dengan pepohonan berputar-putar. Namun iapun tegak ketnbali, dan sewaktu totokan kedua datang ia bisa mengelak kesamping, bahkan lawannya bertanding itu tersungkur karena tertipu. dan akibat kekuatan yang disentakkan. Dengan menggerana-geram Sondlong Majeruk bangun. Lalu desisnya keluar.

“Heh! Pintar juga kau buyung. Beserta gigi gemeletuk panas, sehabis bicara itu secepat kilat ia menghantamkan kepalan tangannya kearah tengkuk Sondong Medari. Sondong Medari manbungkuk bungkuk, dengan mata buyar berkunang-kunang. la merasa malu apabila tak dapat menebus hutangnya yang sekali

Sewaktu kakaknia agak terlena sedikit, ia sudah bisa meloncat kebelakang silawan, lalu menjejakkan kakinya kearah punggung.

Keruan saja Sondong Majeruk tertelungkup ketanab. Mulutnya nyeri dan mengeluarkan darah karena mencium batu. Kedua jago yang sama-sama. tangguhnya berkelahi sampai fajar menyingsing hampir tiba. Waktu itu sadarlah Sondong Medari dan pikimya : “Kalau aku berkelahi disini, rentu akan dikerubut orang banyak sebab disini bukan daerahku.”

Terbawa oleh pikiran semacam ini maka ia kemudian melarikan diri dan lari secepat-cepatnya sambil menyahut pusaka yang tadi dileletakkan ditanah.

Sondong Majeruk jadi mendongkol, dnarahnya naik dengan gigi- gigi gemeletuk beserta tangan yang mengepal-ngepal. Maka ia. memburunya.

Dan Sondong Medari berhenti, menyerang, kemudian lari lagi. Sikapnya terus demikian. Dan tatkala mereka samnpai di sungai perbarasan perke}ahian semakin tambah sengit, mereka bergulat melontarkan amarah serta dendamnya yang bertumpuk-tumpuk. Sondong Medari dengan gigihnya mempertahankan diri. Dan Sondong Majeruk nampak tambah bernafsu pula, untuk segera mengalahkan lawannnya. Karena sudah sama-sama jemunya. maka untuk segera mengakhhiri perang tanding yang tak ada habis- habisnya itu. keduanya lalu sama-sama melolos sendiata. Kemudian saling menusuk perutnya, iga-iganya dan tempat yang lain lagi senjata didaratkan. Namun rupanya kedua orang ini sama-sama kebal pula, hingga kedua keris itu tak mempan sama sekali, dan tubuh mereka masih tetap utuh segar bugar. Sondong Medari lari, lalu berkata menceburkan diri kedalam sungai. Ia berenang secepat mungkin, pada pikimya asal kedua pusaka itu dapat diselamatkan.

Dan Sondong Majeruk tidak mau ketinggalaan. Iapun meloncat dan ambjur kebawah. Sekarang perkelahian terjadi dipermukaan air. Tangan-tangan mereka saling menjangkau, membanting-banting dan membenamkan. Gemuruh air terdengar menyelingi suara-suara hantaman mereka.

Keduanya sama-sama agak kepayahan sebab sebenrar sebentar mesti menghadang arunts air untuk bertahan ditempatnya, itu, apa lagi keadaan sekeliling sangat gelap. Akhirnya Sondong Medari berbasil juga mentiapai tepi diseberang. Kemudian lari membabi buta seperti setan. Sondong Majemkpun meloncat kearah seberang lalu memburu lagi dengan nafas terengah-engah. Jalan masih remang-remang, ia kuwatir kalau buruannya hilang.

Akhirnya apabila telah terkejar, kini perkelahian dilanjutkan didaratan. Tenaga baru seperti timbul kembali, sebab baru saja tersiram air yang dingin.

Sondong Medari sangat lincah gerakannya, hantamannya bertubi tubi datang. Bahkan sebentar-sebentar ia bisa menjegal lawannya, menyebabkan Sondong Majeruk rubuh ketanah.

Namun Sondong Majerukpun adalah orang yang sudah terlatih menghadapi lawan. Tiap kali jatuh, dengan gagahuja ia bangun kembali, hingga membuat Sondong Medari jadi keheran-heranan. “Sondong Majeruk! Kuat juga kau bertahan ha?”

“Sampai kiamatpun, aku tetap akan memburumu!” jawab Sondong Majeruk dengan bengisnya.

Sehabis berkata mereka lalu serang-menyerang. Keduania berputar-putar membentuk kalangan dengan kaki-kaki mengais tanah. Daun-daun disekitamya yang terinjak, bunyinya berderakan beserta debu-debu berterbangan. Nafas saling sama-sama kedengaran mendesah. Keringat membasahi seluruh tubuh.

Perkelahian didaratan ini berlangsung sampai siang hari. Dan akhirnya sampai petang hari datang mengembang. Mereka bergulat dengan tiada henti-hentinya. Sondong Medari menang masih segar juga nampaknya. Sedang lama-lama Sondong Majeruk semakin kelihatan letih karena candu yang menggugat dalam dirinya. la menguap berkali kali. Matanya nampak sangat mengantuk.

Akan tetapi didorong oleh kemauannya yang keras, ia masih kuasa menghalaukan lawannya dan mendupaknya menyingkir.

Keris masing-masing tinggal satu jengkal panjangnya, karena sudah satna-sama patah tak bisa mempan ditancapkan dalam kulit mereka yang wulet. Sekalipun demikian masih, ditusuk-tusukkan juga.

Sedikit banyak Sondong Medari mengakui, bahwa kakaknya sesungguhnya mempunyai tenaga raksasa yang kuat. Betapa menakutkan serangannya, apabila ia tidak diamuk oleh pengaruh candu itu.

“Habiskan tenagamu, Sondong Medari. Aku sedia menadahi.” “Akupun takkan mnndur kakang. Dan akuyjakin pasti kau akan

mampus nantinya, sebab berada dipiak yang salah.” “Jangan banyak cerewet! Cobalah bunuh aku.” tantang Sondong Majeruk jengkel.

Sondong Medari menusukkan keris, dan Sondong Majeruk menadahi dengan dadanya terbuka lebar beserta mulut menguap panjang-panjang. Sesudah itu ia sendiri membalas menusukkan kerisnya kearah mata Sondong Medari.

Seketika itu berkunang kunanglah mata Sondong Medari, matanya sangat pedih. Lalu dengan geramnya ia ganti menyarungkan kerisnya kearah perut lawannya. Dan perut Sondong Majeruk berbunyi berkerinyuk.

“Setan!” maki Sondong Majeruk terhadap perutnya itu sendiri. “Minta makan juga rupanya dia? Adakah kau melihat warung?”

“Kita bisa makan dulu!”

Sondong Medari tak menyahuti ia melihat sebuah kesempatan. Dan dengan cepatnya ia menyahut kedua pusaka itu kemudian dibawa berlari.

“Iblis! Pintar juga kau!” teriak Sondong Majeruk dan ia terus memburu. Tidak lama antaranya, datanglah Sondong Medari didesa sahabatnya yang bernama Ki Bandar.

Ki Bandar adalah seorang pedagang kebutuhan sehari-hari. Bagi Sondong Medari rumah sahabatnya ini menjadi sebuah perlindungan yang amat baik. yaitu apabila ia dikejar-kejar oleh polisi atau orang-orang ditengah jalan sehabis menyarum, maka kerumah Ki Bandar itulah dia sering kali bersembunyi. Begitulah malam itupun, ketika ia sampai didesa sahabatnya itu, segera saja ia menuju kerumah dan mengetuk pintunya.

“Siapa diluar?” Tanya suara teguran dari dalam. “Say. Sondong Medari” “Malam-malam begini lagi datang. Kenapa?” Ki Bandar diiring isterinya sesudah membuka pintu.

“Lindungilah saya. Badan saya amat lelah. Saya dikejar-kejar kakang Sondong Majeruk!” jawab Sondong Medari sambil masuk kedalam terburu-buru.

Tetapi bagi Ki Bandar sendiri, setelah mendengar keterangan itu jadi terkejut.

“Kenapa berkelahi dengan saudara sendiri? tanya isteri Ki Bandar dengan nada meninggi.

Sondong Medari lari kebelakang dan bersembunyi digudang yang penuh dengan hasil bumi, seperti kacang kedele, jagung, beras dan sebagainya.

Sondong Medari bersembunyi dibalik timbunan padi. Kemudian tidur bersengguran dengan sembrononya, tanpa kuwatir sedikitpun.

Tidak lama kemudian Sondong Majeruk datang dengan tergopoh gopoh.

Nafasnya tak teratur. Badannya juga sangat lungkrah karena tak kemasukan candu. Dengan kasar ia mengetuk pintu. Dan apabila Ki Bandar telah mencungulkan kepala keluar, ia segera bertanya;

“Hai, kau melihat tikus itu?”

“Tikus yang mana?” tanya Ki Bandar dengan tubuh gemetar. Tikus yang mana lagi kalau bukan Sondong Medari”

“Saja tidak tahu.”

“Jangan bohong! Kau sembunyikan dia bukan?” gertak Sondong Majeruk ganas, membuat Ki Bandar semakin kaget mendadak, seperti hendak meletik dari tempatnya berpijak. “Sungguh, saja tidak tahu.”

“Awas! Kalau kau ikut campur, kuhabisi nyadiamu!” ancam Sondong Majeruk.

Tanpa minta ijin lebib dulu, Sondong Majeruk telah menyuruk masuk, kemudian menyelayahi kamar-kamar serta seluruh sudut rumah dengan gerak gerik menakutkan. Isteri Ki Bandar sendiri jadi menangis, namun ia tetap bungkam, sebab benar-benar dalam keadaan sulit.

Andai kata ia memberi tahukan hal yang sesungguhnya, pasti Sondong Medari akhiraja nanti akan membalas dendam Sedang kalau tidak, Sondong Majeruk mengancam dengan ganasnya. Karena terbawa kebingungan yang memusingkan maka adanya mereka duduk terhenyak diambin beserta badan menggigil serta tangan mengelus-elus dada. Lewat pintu tengah, Sondong Majeruk mendekati gudang, kemudian menyelidik tajam seperti laku seekor anying pemburu. Setelah jakin benar, ia berkata gembira.

“Nah, inilah tikusnya! Dia tidur didalam gudang rupanya!” “Bukan! Bukan itu!” teriak isteri ki Bandar menghalangi.

Tetapi Sondong Majeruk tak memperdulikan. Ia terus saja masuk, setelah pintu roboh didobraknya. Oleh bunyi dobrakan i.tu, Sondong Medari yang sedang enak-enak mendengkur jadi kaget dan bangun mendadak. Seketika itu juga ia menyerang dari arah dalam, Sondong Majeruk mengejarnja lagi. BAGIAN II

DILUAR udara sangat gelap. Awan hitam datang berarak-arak, kemudian langit diliputi mendung tebal. Tidak lama hujan turun dengan derasnya. Tetapi kedua jagoan yang sedang berkelahi itu, tak mempedulikan semuanya. Mereka terus bergumul dari tempat ketempat. Angin berdesau membawa bunyi yang menderu bercampur derai hujan yang lebat.

Pakaian mereka sudah basah kuyup tak karuan. Begitu juga pusaka yang dibawa oleh Sondong Medari. Sondong Medari lari lagi, kemudian berhenti menusukkan kerisnya, tak lama lagi lari pula.

Demikian ia berlaku terus menerus disepanjang jalan. Maksudnya ia hendak mengembalikan dua buah pusaka itu dulu kepada yang berhak, kemudian nanti Sondong Majeruk hendak dihadapi dengan sungguh sungguh.

Sebaliknya Sondong Majeruk tambah bernafsu. Ia terus memburu membabi buta. Matanya setengah terkatup karena mengantuk, sedang mulutnya menguap terus-menerus.

Kira-kira menyelang tengah malam, Sondong Medari tiba didesa Jantra. Ingatannya tiba-tiba timbul, bahwa didesa ini ia mempunyai isteri yang termuda lagi cantik. Dami isterinya itu adalah anak seorang janda. Badannya langsing, pinter merayu dan gerak- geriknya kemayu sekali. Tiap kali lelaki pada memandang, niscaya hatinya akan tergiur dan akhirnya jatuh cinta. Oleh ingatan ini maka Sondong Medari jadi cepat cepat melangkahkan kakinya menuju kerumah isterinya itu. Kalau pintu muka yang sudah tertutup itu diketuknya. Mertuanya yang datang membuka, sambil membawa lampu. Dan keluar tanyanya.

“Siapa ya?”

“Sondong Medari. Menantu Simbok yang tampan!”

Janda Jantra tertawa terkekeh-kekeh, sambil menggeret tangan menantunya. Kemudian memanggil-manggil anak perempuannya.

“Genduk! Bangunlah! lni suamimu yang datang. Pastilah dia capai benar.”

Tak lama kemudian isterinya nampak keluar dari kamarnya, sambil menggelung rambutnya yang terurai. Sekalipun matanya masih redup karena mengantuk, tetapi justru ajunya malah bertambah-tambah.

“Dami, Maafkan ya, tengah malam aku datang.”

“Wah, kakang” sahut isterinya yang manja. “Apakah saja mesti heran? Hujan sih! Coba kalau tak hujan pasti kakang tak mau kemari!”

Ibunya tertawa terkekeh-kekeh. Dan tersenyum malu-malu.

Namun hatinya lama-lama tergiur juga setelah menutup isterinya yang cantik.

“Suamimu kedinginan! Ajolah ambilkan baju. Dan ajak dia kekamar Kasihan!”

Dami mencibirkan bibimya dengan mata melirik ganas, lalu tersenyum menyindir.

“Ah, jangan tidur sini! Nanti membasahi diriku!” Sondong Medari jadi gemas. la mendekat dan mencubit pipi isterinya yang montok. lbunya tertawa lagi gelak Katanya:

“O Allah! Kalian orang-orang yang tak waras otak. Masak bercumbuan dihadapan orang tua begitu!”

Ketiganya tertawa serempak. Sesudah diam beberapa jenak, Sondong Medari ingat.

“O iya, Mi. Kalau tak salah aku masih punya sebutir candu, kusisipkan didinding.”

“Benar begitu kakang?” “Cobalah cari!”

“Ajolah, nduk! Barangkali suamimu lagi lemas. Karena kurang candu. Carikan lekas, biar dia timbul tenaganya!” tambah ibunya sambil terenyum dan ikut mencari pula dengan membawa dian kesana kemari.

Setelah sebutir candu itu ditemukan, Sondong Medari lalu merangkul isterinya dengan kasih. Kemudian ia memberikan pesannya. Ibunya melotot juga tak tahu apa yang dimaksud. la hanya menatap saja.

“Nah, sekarang dengarkan, Mi!” kata Sondong Medari. “Sebentar kakakku datang. Sambutlah dia, dan berikan candu ini.

Layanilah dia. Tetapi kau harus waspada dan hati-hati benar. Kalau

kau ditanya, jangan bilang bahwa aku disini. Aku hendak bersembunyi dibawah ambenmu!”

Dami menganggukkan kepala menurut dengan wajah sedikit takut. Sondong Medari sendiri jadi kasihan. Tetapi terpikir bahwa hanya inilah satu-satunya jalan yang paling baik. Janda Jantra sendiri jadi penasaran, dan melontarkan tanya tak sabar : “Apa kau berkelahi dengan kakakmu sendiri?” “Ya!”

“O Allah Tobat! Tobaaaaat !”

Baru saja mereka diam, tiba-tiba terdengar derap kaki diluar diikuti napas yang tersengal-sengal. Sondong Medari melompat kedalam dan bersembunyi dibawah ambin isterinya.

Pintu digedor-gedor dari luar Sondong Majeruk segera masuk tak sabar. Namun matanya mengawasi kesana kemari dengan sinar kejalangan. Ia segera menanyakan buruannya. Isteri Sondong Medari yang cantik dan kemaju itu menggoda dengan mempermainkan sebutir candu sambil berkata :

“Inilah candu adikmu. Dia berjanji malam ini mau datang, tetapi mana buktinya? Adikmu memang pintar! Huh!” lalu Dami meludah ketanah dengan gerak-gerik yang menggiurkan hati.

Tatkala Sondong Majeruk menatap candu itu, segera matanya membesar dan tertawa kegembiraan. Dengan kasar ia merampas candu itu dari tangan Dami. Kemudian dengan beraninia memegang pergelangan tangan siwanita dan menarik-nariknya.

“Ajo layanilah saya! Biar kuisap candu itu” “Saya nanti dimarahi adikmu!”

“Jangan takut! Akulah yang bertanggung jawab. Apa-bila dia marah, suruh dia menemui aku. Dan kalau dia tetap cemburuan, kau akan kukawin dan kubojong ke Majeruk.”

Sondong Majeruk masuk kekamar sambil meminta bedudan (pipa) dan dian, kemudian menelentangkan diri mengisap candu itu nikmat-nikmat. Dengan kasar Sondong Majeruk merampas candu dari tangan Dami. Kemudian dengan beraninya memegang pergelangan tangan wanita itu dan menarik-nariknya. Sondong Medari yang bersenibunyi dikolong amben, hatinya semakin gemas sambil mengikuti gerak-gerik kakaknya itu. Dan ketika ia melihat isterinya ditarik-tarik masuk, hatinya semakin panas serta nafsu amarahnya memuncak naik sampai dikepala.

Demikianlah, karena terkena pengaruh candu disertai rasa kantuk yang amat sangat, dalam sekejap saja Sondong Majeruk telah tertidur pulas, dengan. dengkumya membubung setinggi langit.

Dengan tak sabar Sondong Medari keluar dari tempat persembunyian ditolong oleh isterinya.

Agak beberapa saat ia menatap kakaknya yang sedang lelap dalam mimpi. Rasa keheranan datang menghilubau, tetapi kemudian hitang dan diganti dendam kenaarahan yang amat dalam, lebih. lebih kdlau dia ingat akan gerak-gerik kakaknya yang baru saja dilakukan. Akhirnya dengan otot-otot menge-jang dan bibir gemetaran beserta muka merah ia menarik keris pusaka Rambut Pinutung. Lalu hatinya berbicara :

“Kakang Sondong Majeruk! Maafkan aku, Kau terpaksa kubunuh dengan pusaka Rambut Pinutung Karena perbuatanmu kurang baik.

Pertama : kau mencuri tanpa memberi tahu padaku, itu berarti mengingkari ikrar kits tanpa perundingan lebih dulu.

Kedua : engkau membujuk isteri adikmu sendiri.

Ketiga : kau membela dan mengabdikan diri pada orang serakah seperti Yuyurumpung Adipatimu itu.”

Sesudah angan-angannya membantui kata-kata ini, Sondong Medari lalu membangunkan kakaknya. Sondong Majeruk bangun terkejut. Dan sebelum dapat berbuat sesuatu, dadanya sudah tertembus oleh keris pusaka Rambut Pinutung yang sakti itu. Ia menggeliat sekali dengan jeritan mengerikan, sudah itu mati terkapar diatas amben. Darahnya keluar membanyiri lantai kamar.

Sondong Medari segera bergegas keluar kemudian lari membabi buta menuju Kadipaten Maja Asem.

Dengan kejadian ini, sudah barang tentu janda Jantra serta anaknya jadi terkejut. Mereka berdua gemetaran tubuhnya, sebab ada pembunuhan ditengah malam. Dan memandang tak ada habisnya. “Apa yang mesti kita kerjakan genduk? Suamimu membikin susah orang saja.”

“Kita buang keperbatasan saja simbok? jawab anaknya. Dan merekapun bersepakatlah.

Dibawah hujan lebat yang tidak ada henti-hentinya,. mereka menyeret bangkai itu dari tempat ketempat. Darah sang tercecer ditanah cepat dapat hilang terbawa air hujan. Dan menyelang fajar menyingsing mereka telala berada di tepi sungai perbatasan. Bangkai Sondong Majeruk diletakkan begitu saja, tepat ditepi kali. Kemudian mereka berlari pulang kerumah dengan ketakutan yang amat sangat.

Sementara itu Sondong Medari telah menghadap Adipati Suksmayana dengan mempersembahkan kedua pusaka itu. Adipati Suksmayana sangat bersuka-cita dan mengucapkam terima kasih kepada Sondong Medari.

Tak lama kemudian terdengar kentongan jauh dipukul bertalu- talu menandakan adanya raja pati. Seluruh kadipaten gager dengan mendadak. Kemudian dari mulut-kemulut terdengarlah kabar bahwa Sondong Majeruk meninggal, karena dibunuh orang ditepi kali. Rombongan Adipati Maja Asem segera berangkat diiring pendereknya menuju ke perbatasan. Sedang Sondong Medari tak diperkenankan ikut. la sudah menduduki tugasnya yang baru sebagai pegawai Kadipaten dan mendapat jaminan candu  kilo gram setiap bulan.

Waktu rombongan Maja Asem tiba ditepi sungai, ternyata rombongan Yuyurumpungpun sudah siap menanti disitu. pertengkaran segera terjadi untuk mencari keterangan, kenapa pembunuhan itu sampai terjadi dan siapa pembunuhnya. Adipati Yuyurumpung dengan sombong menuduh fihak Maja Asem. Berulang kali bicaranya melengking-lengking mengatasi suara semua orang.

“Tentu orang-orangmulah yang membunuh! Tak ada lain!” “Kenapa kau yakin begitu?” tanya Suksmayana.

“Ya. Sebab Sondong Majeruk orang wilayah barat. tak mungkin dibunuh warga sendiri!”

Tiba-tiba Adipati Suksmayana mendapat akal, kemudian membelokkan persoalan kearah lain.

“Baiklah kalau tuan menuduh begitu. Tetapi sekarang ini mesti dicari sebabnya. Kenapa Sondong Majeruk sampai dibunuh? apa kesalahannya? Nah, cobalah tuan jawab!”

Adipati Yuyurumpung jadi gugup mendadak. Dengan polah dan gerak-gerik yang menggelikan ia menolak penyelidikan dibidang itu, sebab nanti akah terbuka rahasianya.

“Saya tak mau sebab-musabab itu dibongkar-bongkar. Porsoalan pembunuhan ini harus dibatasi. Yang kita cari tetap hanya satu : “Siapa pembunuh Sondong Majeruk!” Pertengkaran itu tak ada babis-habisnya, kedua rombongan sama-sama ngotot mempertahankan diri. Akhirnya jaksa Singapadu terpaksa didatangkan Ia sendiri yang memeriksa bangkai itu yang lain tak diperbolehkan ikut. Sesudah itu ia bertanya :

“Apakah tuntutan masing-masing?”

“Bagus,-bagus! Bagus! Tentu saja seperti yang dulu. Kalau bangkai menghadap ke Timur, berarti orang Barat yang membunuh dan aku yang bertanggung-jawab Tetapi kalau bangkai menghadap ke Barat tentu orang Tiimur yang membunuh dan bertanggung jawab!” kata Yuyurumpung kepongahan.

“Lalu apa pidananya?”

“Uwah! Tentu saja seperti yang dulu juga. Masak mau diganti- ganti!” hardik Yuyurumpung.

Waktu itu Adipati Suksmayana sudah cemas. Karena andaikata dia dan rombongannya yang kalah berarti harus menyerahkan pakaian dan pulang dengan telanjang bulat seperti perjanjian yang dulu diadakan.

“Sudah! Sekarang marilah kita buktikan dan kita lihat bangkai itu secara bersama-sama.” kata jaksa Singapadu. Berdesakan mereka maju kemuka. Setelah semua menyaksikan maka jaksa Singapadu kemudian menetapkan bahwa Adipati Yuyurumpung yang harus bertanggung jawab, sebab bangkai itu menghadap ke Timur, ini berarti orang barat pembunuhnya.

Seketika itu Adipati Yuyurumpung jadi pucat tak bisa bicara lagi.

Pelan-pelan membuka bajunya, ikat pinggang. kuluk sampai celana, diikuti oleh rombongannya termasuk Mangkubumi Singabangsa dan Gagakpahit. Dengan demikian mereka pada kembali pulang dengan telanjang bulat. Anak-anak penggembala yang kebenaran berpapasan dengan rombongan aneh ini, pada ketawa ramai, menyebabkan sang Adipati marah-marah tak keruan. Kemudian ia memerintabkan agar semua pintu rumah yang akan dilewati ditutup, agar supaya tak dilihat orang.

Namun begitu nyatanya banyak yang pada mengintip, lebih-lebih pan wanita” ingin menyaksikan Adipatinya yang degil itu berjalan telanjang bulat seperti orang sinting.

Sedang Mangkubumi Singabangsa dan Gagakpahit tak terdengar cakapnya disepanjang jalan. Mukanya menunduk ketanah, dengan air mata menetes-netes akibat sedih karena terkena aturan buatan Adipatinya sendiri.

TAMAT