-->

Tengkorak Maut Jilid 38

 
Jilid 38

BAB 78

"SIAPA yang menjadi adik Thay-mu?" tukas Buyung Thay dengan wajah dingin dan perasaan tak senang hati.

Tamu bergodek indah Huan Kang tertawa tersipu-sipu, kembali ia berseru: "Adik Thay kau. . ."

"Tutup mulut Bukankah engkau memaki diriku sebagai perempuan lonte yang tak tahu malu?"

"Adik Thay buat apa kau mengingat-ingat selalu ucapan yang diutarakan dalam keadaan marah, biarlah aku minta maaf kepadamu"

"Huan Kang Kalau engkau seorang yang cerdik tentu kau akan mengerti apa akibatnya jika kau selalu membuntuti aku dengan mati-matian"

"Adik Thay. . ."

"Manusia she Huan, engkau tidak berhak menyebut aku dengan panggilan seperti itu" Raut wajah Tamu bergodek indah Huan Kang berubah jadi merah seperti kepiting rebus, lama sekali ia baru tertawa getir dan berkata lagi:

"Dua puluh tahun berselang aku mengejar dirimu, tapi kau tak bersedia menerima luapan cintaku kemudian kau menikah dengan orang dan bercerai kembali, sungguh tak kusangka sampai saat inipun kau masih tetap menolak cintaku"

"Huan Kang, Cinta itu tak dapat dipaksa, cinta harus muncul dari hati kecil tanpa paksaan"

"Oooh sungguh tak kusangka Huan Kang sudah dua puluh tahun lamanya mengejar Buyung Thay" batin Han Siong Kie dalam hati "tampaknya orang ini terlampau romantis, tapi aneh sekilas pandangan tampaknya usia Buyung Thay baru dua puluh tahunan tapi kalau didengar dari pembicaraan mereka agaknya ia sudah berusia setengah baya, sebetulnya berapa usia perempuan ini? Sungguh mencurigakan”

Sementara itu Tamu bergodek indah Huan Kang telah memandang sekejap kearah Han Siong Kie dengan sikap bermusuhan, kemudian serunya kepada nyonya berbaju merah itu. "Jadi dialah yang kau cintai?"

"Apa sangkut pautnya antara persoalan ini denganmu?" ejek Buyung Thay atau nyonya berbaju merah itu dengan nada yang sinis.

"Hmm Tahukah kau, bahwa meninjau dari usianya, ia pantas untuk menjadi putramu?"

Han Siong Kie marah sekali setelah mendengar perkataan itu, ia merasa ucapan tersebut amat menyinggung perasaan hatinya, maka tak tahan lagi bentaknya:

"Manusia she Huan, aku harap kalau sedang berbicara janganlah mengikut sertakan diriku, apa lagi menyinggung perasaanku" Waktu itu tamu bergodek indah Huan Kang sedang dipengaruhi pula oleh rasa cemburu, diapun melotot besar seraya berteriak.

"Kalau tujuanku memang menghinamu, lantas kau mau apa?"

"Tidak apa-apa, aku hanya akan memberi pelajaran yang setimpal untuk manusia bermulut besar seperti kau"

"Memberi pelajaran? "jengek orang she Huan itu, tiba-tiba ia menengadah dan tertawa terbahak-bahak.

Tiba tiba nyonya cantik berbaju merah itu menukas sambil tertawa dingin:

”Heeeh heeeh heeh Huan Kang, tiada sesuatu yang lucu dan kau tak usah tertawa melulu, ketahuilah bahwa kau bukan tandingannya, kalau tak percaya cobalah sendiri!"

Tamu bergodek indah Huan Kang menarik kembali gelak tertawanya dan melotot sekejap kearah nyonya cantik berbaju merah itu dengan gusar lalu kepada Han Siong Kie ia berseru:

”Bocah keparat !“

Makian ini kembali mengobarkan hawa amarah dari Han Siong Kie, cepat dia membentak keras.

“Huan Kang, kalau engkau berani memaki aku lagi segera kubunuh kau sampai mampus!”

“Bocah keparat tak nanti bisa kau lakukan, Lihat serangan!" dengan kemarahan yang tak terkendalikan lagi, Han Siong Kie membentak keras dan melancarkao dua buah pukulan berantai.

Tamu bergodek indah Huan Kang tak mau unjukkan kelemahan, dia mendengus dingin serta menyambut datangnya ancaman itu dengan keras lawan keras. “Blaang!” satu benturan keras menggelegar di udara secara beruntun Huan Kang mundur lima langkah dengan sempoyongan sebelum ia berhasil berdiri kembali dengan tegak.

Melihat keadaan tersebut nyonya cantik berbaju merah itu segera menutup bibirnya sendiri dan tertawa.

Masih mendingan kalau perempuan itu tidak tertawa melihat senyuman tersebut Huan Kang semakin marah bercampur malu hawa napsu membunuh seketika menyelimuti seluruh wajahnya tiba-tiba ia menerjang maju delapan depa kemudian secara beruntua melancarkan tiga buah serangan berantai yang amat dahsat ketiga buah serangan itu bukan saja dilancarkan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat bahkan semuanya tertuju pada bagian tubuh yang mematikan.

Han Siong Kie tak mau kalah sepasang telapak tangannya diputar pula dengan gencar tiga buah serangan maut yang dilancarkan musuhnya itu dengan mudahnya dapat dipunahkan semua.

Bercampur aduk perasaan hati Tamu bergodek indah Huan Kang setelah menyaksikan ketiga buah jurus serangannya mengena pada sasaran yang kosong, sekarang ia semakin membenci Han Siong Kie dan kegagalannya untuk memperoleh balasan cinta dari nyonya berbaju merah ini tertumpah diatas tubuh pemuda itu, kalau bisa ingin sekali ia bunuh musuhnya dalam satu bacokan.

Akhirnya dia tertawa seram, suaranya tajam dan menggidikkan hati, kemudian sambil mendengus dingin katanya:

"Manusia bermuka dingin, sambutlah kembali beberapa buah seranganku ini."

Sepasang telapak tangannya tiba-tiba digetarkan keras, lalu segera ditarik dan di tolak kembali kemuka secara cepat dia bacok dada Han Siong Kie, Anak muda itu tak berani bertindak gegabah, telapak tangan kirinya lantas disilangkan didepan dada untuk menjaga segala kemungkinan, sedangkan telapak tangan kanannya membalas serangan musuh dengan menghantam batok kepala orang itu.

"Huan Kang, kau berani bertingkah dihadapanku?" Tiba-tiba Buyung Thay si nyonya cantik baju merah menghardik.

Bersama dengan bentakan tersebut, telapak tangannya langsung diayun kemuka membacok tubuh tamu bergodek indah Huan Kang.

Tapi berbareng itulah terdengar dua kali jeritan tertahan berkumandang memecahkan kesunyian, bayangan manusia saling berpisah satu sama lainnya dan terjungkal satu kaki dari arena, yang satu mencelat sedang yang lain roboh terduduk.

Orang yang mencelat adalah Huan Kang sedangkan orang yang jatuh terduduk tak lain adalah Han Siong Kie.

Kiranya dalam cemburu benci, malu dan marahnya Tamu bergodek indah Huan Kang telah menggunakan ilmu andalan keluarganya Kuay ciang cong to, telapak tangan kilat bersembunyi golok untuk membereskan nyawa Han Siong Kie.

Apa yang dinamakan sebagai Kuay ciang cong to ini luar biasa hebatnya, sekilas pandangan orang akan mengira kalau dia sedang menyerang kilat, tapi justru dibalik tipu muslihat itulah diam-diam dua bilah pisau tajam yang disembunyikan dibalik ujung bajunya digunakan untuk menyerang bagian yang mematikan ditubuh lawan.

Dalam keadaan demikian bukan saja orang tak menyangka, sering kali jago lihay yang bagaimanapun tinggi ilmu silatnya tak akan lolos dari ancaman maut tersebut.

Ketika Huan Kang menggetarkan sepasang lengannya tadi Buyung Thay segera mengetahui bahwa orang itu hendak menggunakan ilmu Kuay ciang cong to nya untuk mencelakai Han Siong Kie, tapi sayang untuk mencegah tak sempat lagi, maka dia ambil keputusan untuk menghantam tubuh Huan Kang dengan suatu serangan dahsyat yang disertai dengan sepenuh tenaganya.

Kendati demikian tindakan itu toh masih terlambat setengah langkah, Han Siong Kie masih juga terluka oleh serangan golok tersembunyi itu.

Untunglah bentakan dari perempuan tadi membuat Han Siong Kie lebih waspada dan berhati-hati maka meski tempat yang mematikan berhasil dilindungi, sepasang lengannya terhajar juga oleh kedua bilah pisau tajam itu sehingga tembus, darah segar segera berhamburan membasahi seluruh tubuhnya.

Huan Kang sendiri terhajar pula oleh serangan kilat yang dilancarkan Buyung Thay nyonya cantik baju merah itu sehingga mencelat sejauh beberapa kaki dan muntah darah segar.

Semua kejadian itu berlangsung dalam sekejap mata, setelah menghantam Huan Kang sampai terluka Buyung Thay segera memburu kesamping Han Siong Kie dan bertanya dengan penuh perhatian.

"Adikku sayang, bagaimana keadaan luka yang kau derita?"

Sambil menggigit bibir Han Siong Kie bangkit berdiri tapi ketika mulut lukanya tergoncang, tak tahan lagi ia mendengus tertahan.

Cepat-cepat nyonya cantik berbaju merah itu memeriksakan lukanya, waktu itu lengan kirinya sudah tertembus sampai berlubang gagang golok masih menongol diatas lukanya.

Waktu itu Han Siong Kie telah menutup semua jalan darahnya sehingga darah tidak mengalir dengan derasnya lagi. Dengan sepasang jari tangannya yang lentik nyonya cantik baju merah itu menjepit gagang goloknya lalu dicabut keluar kemudian membubuhkan pula obat luka kedua buah mulut luka tersebut.

Han Siong Kie kesakitan setengah mati sampai sekujur badannya gemetar keras, peluh membasahi jidatnya, tapi dengan sinar mata yang penuh perasaan terima kasih, dia mengerling sekejap kearah Buyung Thay dan bisiknya lirih: "cici, banyak terima kasih atas pertolonganmu"

"Tak usah berterima kasih kepadaku adikku sayang, beristirahatlah sebentar."

"Tidak. Dia akan kubunuh" "Siapa yang akan kau bunuh?" "Huan Kang"

"Dia sudah pergi dari sini"

Han Siong Kie tidak percaya dan segera menengadah, benar juga waktu itu bayangan tubuh tamu bergodek indah Huan Kang telah tak kelihatan lagi, terpaksa dengan rasa dendam ia bersumpah:

"Aku tak akan melepaskan dia dengan begitu saja, suatu ketika bila kami bertemu lagi nyawanya pasti akan kucabut"

"Adikku sayang, tak usah kau pikirkan yang bukan-bukan, sekarang beristirahatlah dahulu?"

Tangannya yang putih halus dan empuk seperti tak bertulang ditaruh di atas bahunya, kemudian membelai dengan penuh kasih sayang.

Han Siong Kie merasakan sekujur badannya gemetar keras, ia merasa seperti ada segulung aliran listrik menjalar disekujur badannya membuat ia merasa hatinys syur-syuran dan segulung hawa panas yang aneh menjalar naik sampai di atas pipinya. "Adikku sayang bagaimana pendapatmu tentang makian dari Huan Kang tempo hari" terdengar nyonya itu berbisik dengan suara yang lirih lagi lembut sekali. satu ingatan segera melintas dalam hati Han Siong Kie, sahutnya dengan cepat: "Cici aku sama sekali tidak mengerti apa-apa dengan dirimu"

"Seandainya aku benar-benar adalah seorang perempuan yang tak tahu malu, bagaimanakah pendapatmu?"

"Tentang soal ini... tentang soal ini. . ." "Bagaimana pendapatmu?"

"Aku sendiripun tak tahu apa yang musti kujawab" "Engkau tak akan memperdulikan aku lagi?"

Han Siong Kie merasa kebingungan dan tak tahu apa yang musti dijawab, tak akhirnya ia menggeleng. "Tidak "

Nyonya cantik berbaju merah itu tak mau melepaskan desakannya dengan begitu saja ia mendesak lebih jauh:

"Jadi engkau tak memperdulikan perempuan macam apakah diriku ini?? "

"Aku percaya engkau bukanlah perempuan sejenis perempuan yang dikatakan oleh Huan Kang"

"Kenapa ?" "Sebab sebab..." "Hayo katakanlah"

Merah padam selembar wajah Han Siong Kie, tapi dia menjawab juga secara berterus terang.

"Sebab, kau terlampau cantik"

"Hiiih hiiih hiiih adikku sayang, tidakkah kau merasa bahwa ucapanmu itu terlampau bersifat kekanak-kanakan?"

Serta merta Han Siong Kie berpaling empat mata pun saling bertemu satu sama lainnya, bibirnya yang kecil mungil seperti buah tho cuma berada diluar dan mendatangkan suatu perasaan aneh baginya.

Si anak muda itu gemetar keras, ia merasa timbulnya suatu perasaan aneh dan balik selangkangannya ia tidak takut tapi merasa seperti membutuhkan sesuatu..

Akhirnya bibir yang merah kecil mungil itu tampak sedikit gemetar itu telah berada tak sampai tiga inci di depan bibir sendiri.

Han Siong Kie benar-benar tak mampu menguasahi diri lagi, ia tubruk perempuan cantik itu dan memeluknya erat- erat, bibirnya ditempelkan diatas bibir yang merah merekah itu, Buyung Thay melenguh dan menyandarkan tubuhnya di dada si anak muda, mereka berciuman dengan mesra, ujung lidah menggeliat kesana kemari bagaikan ular mencari gua, mereka saling saling menghisap, saling menggumul.

Pemuda itu merasa peredaran darahnya berjalan makin kencang, hawa napsu birahi yang sukar dikendalikan menyelimuti kesadarannya, jantung terasa berdebar keras diantara kedua pahanya dia merasa ada benda keras yang terasa mengganjal, ia merasa tak mampu mengendalikan diri lagi, ia jadi kalap dan bernapsu.

Saat itu Han Siong Kie telah lupa akan diri sendiri, lupa akan keadaan di sekelilingnya.

Napas mulai memburu, ia merasa dorongan nafsu birahinya tak terkendalikan lagi. pemuda itu merasakan sesuatu kebutuhan yang sangat mendesak, kebutuhan itu sudah mencapai pada puncaknya, ia tahu hanya perempuan ini yang bisa memenuhi kebutuhan tersebut, sebab dialah yang memiliki tempat penyaluran itu,

Ia peluk perempuan itu erat-erat, tangannya telah menjelajah dari atas sampai ke bawah. Akhirnya dia membopong nyonya cantik itu dan dibawa masuk kedalam lembah hitam, pemuda itu akan mencari tempat nyaman dibalik semak belukar untuk melakukan hubungan asmara itu disana sebab dia sudah terbakar oleh birahi dan birahi itu sudah tak terkendalikan lagi.

Saat ini Han Siong Kie telah membaringkan perempuan itu diatas tanah, membuka bajunya satu demi satu dan akan membawa sang perahu masuk dermaga, terlihat sepasang buah bukit yang putih mulus dan masih kencang, tak tahan dia mengecup kedua buah dada itu.

Buyung Thay mengeluh lirih, ”Adik...”

Si anak muda juga tak tahan, “Cici..aku..aku mau..”

Akhirnya berlayarlah sang perahu menuju dermaga, biarpun dihalangi semak belukar akhirnya sampai juga.

Tangan kecil dan mulus si nyonya memeluk pinggang si anak muda, membantunya mengayuh perahu dan jeritan kecil Buyung Thay menandakan bahwa perahu sudah ditambatkan.

Di bawah rindangnya pohon dan empuknya rumput bak permadani, keduanya tertidur lelap hingga matahari sore akan tenggelam.

Akhirnya Han Siong Kie bangun lebih dulu, dia lihat si nyonya cantik juga menggeliat bangun. Diantara belahan pahanya ada mengalir darah segar, ia heran hingga dia menyesal dan kasihan “Cici..maafkan aku..” serunya sambil menutupi bagian terlarang tersebut dengan baju si nyonya.

Buyung Thay menarik baju dari si anak muda sambil tersenyum, “Adik..aku bahagia..akhirnya kepada kaulah...”

Ucapannya belum selesai dari kejauhan berkumandang suara ujung baju tersampok angin, meski lirih tapi cukup tajam bagi pendengaran Han Siong Kie. Kontan saja pemuda itu terkesiap. ia menjadi sadar kembali, cepat-cepat ia berpakaian serta membantu perempuan itu berpakaian kemudian berbisik: "Cici ada orang datang"

Warna merah dadu masih menghiasi wajah Buyung Thay, perlahan-lahan ia membuka matanya dan menatap wajah pemuda itu dengan tatapan mata yang mesra dan sayang.

Sementara itu Han Siong Kie sudah berpaling kearah mulut lembah. Beberapa sosok bayangan manusia dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat telah melayang masuk kemulut lembah itu, menyusul kemudian terdengar mereka berseru kaget, agaknya beberapa orang itu sudah menemukan mayat- mayat dari It Tiong khi sekalian yang bergelimpangan diatas tanah-

"Yu Tongcu seorang lantas menegur dengan suara yang nyaring, benarkah Ban tok Cuncu masih hidup?"

"Hamba tak berani mengelabuhi Kaucu" sahut suara yang lain.

Dari tanya jawab Han Siong Kie segera mengetahui siapakah yang telah datang, rasa kagetnya bukan alang kepalang, ia tak mengira kalau Thian che kaucu Yu Pia lam telah berkunjung ke lembah hitam ini.

Orang yang memberi jawaban tak lain adalah Dewa racun Yu Hua, diantara dua belas orang yang menyelidiki telaga beracun, hanya dia seorang yang meninggalkan tempat itu dengan selamat.

Han Siong Kie cukup memahami akan ketangguhan dari kaucu perkumpulan Thian che kau ini sebab utusan khusus yang diandalkanpun berilmu sedemikian lihaynya, apa lagi sang ketuanya sendiri entah sampai di manakah taraf kehebatannya? Dan pemuda itupun menduga bahwa sang kaucu dari perkumpulan Thian che kau ini pastilah seorang manusia yang licik, sebab ia telah memerintahkan anak buahnya untuk menyaru sebagai dia dan mengelabuhi semua orang dikolong langit, sedangkan dia sendiri tak pernah berada dalam perkumpulannya, tak seorangpun yang mengetahui perbuatan apa saja yang sedang dilakukan olehnya?

Selain daripada itu, dia memerintahkan anak buahnya untuk menyaru sebagai Tengkorak maut dan mengacau dunia persilatan-

Seandainya orang yang kehilangan sukma tidak memberi petunjuk kepadanya, mungkin sampai sekarangpun dia masih dikibuli tanpa merasa.

Menyusul kemudian diapun teringat kembali akan ibunya si siang go cantik ong cui Ing yang telah kawin lagi dengan Yu piau lam, kemudian terbayang pula akan Thio sau kun, putra paman gurunya si tangan sakti naga beracun Thio Lin yang telah menganggap Yu Pia lam sebagai ayah.

Dendam lama sakit hati baru semuanya berkecamuk dalam hati kecilnya, ia merasa inilah kesempatan yang sangat baik untuk membuat perhitungan dengan ketua dari perkumpulan Thian che kau ini.

Dalam pada itu suara dari Yu Pia lam telah berkumandang lagi.

"Yu Tongcu, benarkah It Tiong khi sekalian bersebelas mati semua karena keracunan?"

"Lapor kaucu, semestinya disebut dua belas orang bukan sebelas orang"

"Kenapa ?"

"sebab hamba pun terkena pula racun jahat yang sangat jahat itu" "Tapi engkau toh tidak mati?"

"Boleh dibilang nyaris mampus secara konyol, untunglah hamba pandai pula dalam ilmu racun dan lagi sekujur badanku penuh mengandung racun, maka ketika racun bertemu dengan racun, hamba berhasil lolos dari kematian yang mengerikan itu"

"Ehmm Aku toh sudah berpesan kepada It Tiong khi, jika makhluk tua beracun itu masih hidup atau rencana kita tak dapat tercapai dengan sukses, maka ledakkan lembah hitam dengan bahan peledak. kenapa ia tak menuruti nasehatku? Mungkin ia sok pintar dan bertindak menurut kehendak hatinya sendiri??"

"Tidak. It Tiong khi tidak sok pintar, dia telah mengumumkan perintah dari kaucu, akan tetapi Ban tok cousu keburu sudah munculkan diri lebih dahulu waktu itu kamipun tidak bertempur malahan segera mengundurkan diri dari sana tapi entah apa sebabnya ketika tiba dimulut lembah tahu-tahu kami sudah keracunan hebat dan satu persatu rekan-rekan hamba mampus semua"

Han Siong Kie ikut mendengarkan perkataan itu, dari pembicaraan tersebut ia lantas tahu bahwa Dewa racun Yu Hua sengaja merahasiakan peristiwa dimana jiwanya dia selamatkan dari situ, dapat pula diketahui bahwa Thian che kaucu Yu Pia lam sama sekali tidak tahu kalau ia dan Hek Pek siang yau hadir pula didalam lembah tersebut.

Sementara ia masih termenung, Buyung Thay si nyonya cantik baju merah itu sudah menyikut pinggangnya sambil berbisik:

"Seett kau tahu tidak orang itu adalah Yu Pia lam ketua dari perkumpulan Thian che kau?"

"Oooh aku sudah tahu"

"Lantas apa yang hendak kau lakukan?" "Tentu saja membuat perhitungan dengan bangsat itu" "Sekarang juga ?"

"Ehmm. kenapa tidak sekarang juga??" "Engkau tahu, kenapa ia berkunjung kemari?"

”Mungkin mendapat laporan dari muridnya, mungkin juga sengaja menguntit perjalanan dari Dewa racun Yu Hua serta rombongannya"

"Oh iya, aku lupa bertanya kepadamu, mayat-mayat yang terkapar ditempat luaran itu..."

Sebelum Buyung Thay menyelesaikan pertanyaannya, secara ringkas Han Siong Kie telah menceritakan bagaimana Than che kaucu berniat jahat dengan mengirim orang untuk mencari barang peninggalan Ban tok Cousu.

Selesai mendengar cerita itu, paras muka Buyung Thay berubah hebat, serunya agak tertahan-

"Jadi kalau begitu, disinilah letak telaga beracun lembah hitam yang tersohor karena angkernya itu??"

Han Siong Kie mengangguk tanda membenarkan.

"Dan Ban tok cousu berdiam disini? " kembali perempuan itu bertanya.

"Ehmm memang berdiam disini."

"Kalau begitu lebih baik kita cepat tinggalkan tempat ini, jangan sampai menerbitkan keonaran, apalagi mencari kesulitan bagi diri sendiri"

"Jangan gelisah," tukas Han Siong Kie sambil mengulapkan tangannya, " engkau jangan munculkan diri lebih dahulu, biar aku muncul dan berjumpa dengan Yu pia- lam itu, sebab aku harus membuat perhitungan dengan dirinya" "Adikku, sekarang bukan saat yang tepat bagimu untuk membuat perhitungan" cegah Buyung Thay dengan alis mata berkernyit.

"Kenapa??"

"Sebab luka yang kau derita masih belum sembuh" "Aaah luka sekecil ini tidak terhitung seberapa, aku tak

akan memikirkannya dihati"

"Akan tetapi aku dengar ilmu silat yang dimiliki Yu Pia- lam sangat lihay??"

"Eh cici, bukankah engkau kenal dengan orang itu?" "Dua puluh tahun berselang aku memang kenal dia, tapi

dua puluh tahun kemudian ia telah berubah menjadi seorang

manusia yang lain, apa lagi dewasa ini dia adalah seorang pemuka dunia persilatan yang tak terkalahkan"

"Kau tak usah menguatirkan tentang aku"

Dalam pada itu suara pembicaraan dimulut lembah telah berkumandang kembali:

"Yu Tongcu, apakah sekarang engkau sudah berhasil memahami sifat-sifat dari racun yang terkandung dalam telaga beracun ini?" suara dari Yu Pia lam kembali terdengar.

"Maafkanlah ketidak becusan hamba, bila racun biasa tentu saja hamba bisa memahaminya, tapi racun ini bukan sembarangan racun, orang lain tak mungkin bisa memahami jenis serta sifat dari racun yang terkandung dalam telaga itu, tentu saja terkecuali Ban tok Cousu sendiri"

"Kalau memang begitu, akan kuperintahkan untuk memusnahkan saja lembah ini, setelah lembah dihancurkan kita ledakkan pula puncak tebing diatas celah sana niscaya telaga itu akan tertimbun lenyap" Dari pembicaraan tersebut, Han Siong Kie tahu jika ia tidak segera munculkan diri, niscaya orang itu akan melaksanakan niat jahatnya.

Maka diapun melayang keluar dari tempat persembunyiannya disana, ia saksikan seorang manusia baju hijau yang berkain kerudung warna hijau pula berdiri menghadap mulut lembah. Disampingnya berdiri Dewa racun Yu Hua, sedangkan dibelakangnya berdiri dua orang kakek berjubah hitam dengan sulaman matahari, rembulan dan bintang diatas dadanya, dibelakang dua orang kakek itu berdiri pula satu deret laki-laki berbaju hitam yang jumlahnya mencapai dua puluh orang lebih.

Kemunculan yang secara tiba-tiba ini segera mengejutkan Thian che kau sekalian terutama Dewa racun Yu Hua, wajahnya segera terlintas suatu perubahan aneh yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Setelah berdiri dihadapan manusia berbaju hijau itu, Han Siong Kie segera menegur:

"Jadi engkau ketua dari perkumpulan Thian che kau?" "Benar siapakah kau?"

"Manusia bermuka dingin"

Mendengar siapakah musuhnya ini, ketua perkumpulan Thian che kau itu lantas menengadah dan tertawa terbahak- bahak, dua orang utusan khusus yang berada dibelakangn segera unjukkan pula muka beringas penuh napsu membunuh, sedangkan lima belas orang laki-laki dibelakang tampak ketakutan.

Setelah tertawa seram beberapa saat, Yu Pia lam berhenti tertawa dari balik kain kerudung hijaunya memancar keluar dua rentetan sinar hijau yang amat tajam, sinar setajam sembilu itu menatap wajah musuhnya tajam-tajam. Han Siong Kie agak bergidik, segera pikirnya. "sungguh amat sempurna tenaga dalamnya, aku harus waspada" Dalam pada itu Yu Pia lam telah berkata dengan penuh hawa pembunuhan:

"Manusia bermuka dingin, aku tak pernah menyangka kalau bisa berjumpa dengan engkau ditempat sedemikian indahnya ini"

"Heehh... heehh... heeehh akupun ikut merasa diluar dugaan bisa bertemu dengan kau disini tapi malahan kebetulan sekali daripada aku harus menempun perjalanan jauh untuk mencari jejakmu" balas Han Siong Kie sambil tertawa dingin.

"Manusia bermuka dingin, dewasa ini hanya engkau seorang yang berani memusuhi aku secara terang-terangan, dan memandang keberanianmu ini kau boleh mampus dengas badan utuh"

"Haaahh.... Haaahhk.... Haaahh... Yu Pia-lam, engkau tak takut bualanmu yang tekebur itu bisa mengundang datangnya geledek yang akan menyambar lidahmu sampai putus"

Thian che kaucu Yu Pia lam tidak tahu akan asal usul Han Siong Kie yang sebenarnya, sedangkan Han Siong Kie tahu bahwa dialah suami ibunya yang baru, rasa dendam dan benci yang ber-tumpuk2 dalam hatinya membuat pemuda itu jadi menyeringai seram, kalau dapat ia hendak mencincang musuhnya ini hingga hancur berkeping. "Manusia muka dingin tak akan bunuh diri ataukah "

Sebelum ketua dari perkumpulan Thian che kau itu sempat menyelesaikan kata-katanya, Han Siong Kie telah menukas dengan sinis:

"Yu Pia lam tan meski anggap kolong langit sudah menjadi milikmu, tapi aku heehh... heeehhh. .heeehhh kau masih belum berhak untuk bersikap angkuh dihadapanku, ini hari juga aku akan menuntut kembali hutang-hutangmu yang berminat untuk membunuh aku serta menelan perguruanku" "Bocah keparat kau tak usah banyak bicara lagi, apakah ada pesan terakhir yang akan kau tinggalkan?"

Hawa napsu membunuh yang sangat tebal telah menyelimuti seluruh wajah Han Siong Kie, dengan sinis ia berkata pula:

"Bukan aku yang seharusnya meninggalkan pesan terakhir, pantasnya kaulah yang tinggalkan pesan-pesanmu"

Yu Pia lam tertawa seram, selangkah demi selangkah ia maju ke depan, mengikuti langkah kaki itu suasana dalam arenapun ikut bertambah tegang.

Kedua puluh orang laki-laki berpakaian ringkas itu mengalihkan pula seluruh perhatiannya ke arena, mungkin mereka bukan jeri atau takut terhadap nama besar manusia muka dingin melainkan sangat berharap bisa menyaksikan kelihayan dari ilmu silat ketuanya.

Sampai detik ini kawanan jago dari perkumpulan Thian che kau masih belum pernah menyaksikan kaucunya turun tangan melawan seseorang, maka merekapun tak tahu sampai dimanakah taraf kelihayan kungfu dari ketuanya ini.

Selama belasan tahun, Yu Pia lam selalu menempatkan seseorang yang menyaru sebagai dirinya untuk mengurusi masalah dalam perkumpulan, sedeng ia sendiri teramat jarang berada dalam markas besarnya, tentang soal ini kecuali beberapa Orang tokoh tingkat atas yang mengetahuinya boleh dibilang sebagian besar anak muridnya tidak mengetahui akan rahasia ini.

Lain halnya dengan Han Siong Kie, ia mengetahui jelas sekali hal ini, sebab orang yang menyaru sebagai kaucunya yakni pimpinan dari para utusan khusus telah menemui ajalnya ditangannya. Sementara itu dua orang utusan khusus yang berada dibelakang Yu Pia lam telah maju kedepan, ujarnya sambil memberi hormat:

"Membunuh ayam kenapa musti memakai golok penjagal kerbau? Hamba siap menantikan perintah"

Yu Pia lam mengangguk.

”Kalau begitu hadapilah orang itu dengan hati-hati” sahutnya,

Dua orang utusan khusus itu lantas mengiakan, satu dari sebelah kiri yang lain dari sebelah kanan bersamaan waktunya menerjang ke hadapan Han Siong Kie.

Setelah memperoleh pangalaman-pengalaman dalam beberapa pertempuran yang lampau, sekarang Han Siong Kie tak berani lagi menilai rendah kekuatan dari dua orang utusan khusus itu sebab berbicara tentang kelihayan hakekatnya kspandaian silat setiap utusan khusus ini adalah jago-jago tangguh yang masih lebih hebat daripada pengemis dari selatan dan padri dari utara, mendingan kalau dia dalam keadaan segar bugar padahal saat ini bahunya sedang terluka dan belum sembuh serta pergumulannya dengan Buyung Thay tadi juga menguras tenaganya, tentu saja pemuda itu musti bertindak lebih cermat lagi.

Setelah dua orang anak buahnya maju Yu Pia lam sang ketua dari perkumpulan Thian che kau itu mundur satu kaki kebelakang.

Begitulah sambil membentak nyaring dua orang utusan khusus dari perkumpulan Thian che kau itu menerjang ke muka dan melancarkan serangan dahsyat ke tubuh Han Siong Kie.

Serangan itu bukan saja dilepaskan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat bahkan disertai juga dengan tenaga kekuatan yang maha dahsyat mengerikan sekali tampaknya. Han Siong Ke tidak berani bertindak gegabah dengan jurus Tee pau siang wi (melepaskan jubah menyingkir dari kedudukan) dia melayang tiga depa kebelakang kemudian sepasang telapak tangannya direntangkan untuk menyerang dari samping.

Sementara serangan yang dilancarkan kedua orang utusan khusus itu mengena di sasaran yang kosong sepasang telapak tangan si anak muda itu telah menyergap datang tepat pada waktunya dalam keadaan seperti ini terpaksa mereka terpencar ke samping masing-masing membentuk gerak setengah lingkaran busur udara kemudian menyerang jalan darah serta bagian mematikan dari lawannya menghindar sambil menyerang gerakan tubuh yang digunakan dua orang itu pun hebat selali.

Menghadapi keadaan seperti ini Han Siong Kie lantas memutar otaknya dan berpikir:

”Jika dalam beberapa gebrakan mendatang aku gagal untuk mengalahkan mereka, lama-kelamaan tenaga dalamku pasti akan mengalami kerugian besar, jika sampai demikian keadaannya mana mungkin aku dapat menghadapi Yu Pia lam lagi?"

Menyadari betapa gawatnya pada saat itu, ia semakin tak berani bertindak gegabah, sementara itu serangan jari tangan dan telapak tangan dua orang itu telah menyergap tiba dengan hebatnya.

Maka diapun lantas merentangkan sepasang lengannya dan menangkis kedua ancaman tersebut dengan suatu gerakan yang manis, inilah taktik bertahan dari ilmu pukulan Mo tiong ci mo dengan adanya tangkisan itu maka gagallah serangan dari dua orang itu untuk menghantam tubuh lawannya.

Begitu serangan musuh berhasil dipunahkan, ia menggetarkan lengannya lebih jauh dengan suatu kecepatan yang luar biasa telapak tangannya langsung membacok tubuh dua orang itu.

-ooo0dw0ooo-

BAB 79

DUA orang utusan khusus dari perkumpulan Thian che kau itupun bukan manusia sembarangan, hanya berbeda satu inci saja dua orang itu tahu-tahu sudah terlepas dari lingkaran ancaman.

Akan tetapi baru saja mereka mundur ke belakang Han Siong Kie telah membentak keras, sepuluh jari tangannya direntangkan ke depan terasalah sepuluh gulung desiran angin tajam meluncur ke tubuh dua orang utusan khusus itu dan terdengar suara tajam yang memekikkan telinga.

Dua orang utusan khusus itu terperanjat, mereka tidak menghentikan gerakan tubuhnya tapi berputar satu lingkaran diudara, begitu lolos dari ancaman yang mengerikan itu serentak mereka berdua menyergap lagi dengan hebatnya.

Baru saja Han Siong Kie merasakan serangan jari tangannya mengenai pada sasaran yang kosong, angin pukulan lawan yang sangat kuat telah menyapu datang dari kedua belah sisi gelanggang, cepat ia rubah serangan jarinva menjadi serangan telapak tangan, sekali tolak dia sambut datangnya kedua angin pukulan itu dengan kekerasan.

"Blaang Blaaang" dua kali benturan keras menggelegar diangkasa, dalam bentrokan tersebut dua orang utusan khusus terpukul mundur delapan langkah lebar dengan sempoyongan.

Sedangkan Han Siong Kie sendiri merasakan bahunya yang terluka terasa sakit sekali, akhirnya diapun ikut mundur selangkah lebar ke belakang. Kejadian ini sangat menggemparkan suasana disekitar arena, lima belas orang jago lihay Thian che kau yang berada disana tampak terperanjat dan merasa ngeri sekali.

Ketua perkumpulan Thian che kau sendiri meski kepalanya berkerudung topi warna hijau sehingga tak dapat dilihat bagaimanakah perubahan wajahnya waktu itu, akan tetapi dari getaran tubuhnya yang keras, jelas menunjukkan bahwa kedahsyatan tenaga dalam yang dimiliki orang bermuka dingin itu telah menggetarkan hatinya.

Dalam pada itu dua orang utusan khusus itu telah maju menyerang lagi setelah dipukul mundur ke belakang.

Utusan khusus yang berada disebelah kiri membentak keras, secara beruntun dia melancarkan tiga buah bacokan berantai, ketiga buah serangan itu semuanya cepat, hebat dan seolah-olah hanya merupakan sebuah serangan belaka.

Han Siong Kie memutar badannya setengah lingkaran- dengan mengerahkan hawa sakti si mi sinkangnya, dia siap menerima ancaman itu dengan kekerasan-

Hampir bersamaan waktunya utusan khusus yang berada disebelah kanan tanpa mengeluarkan sedikit suarapun telah melancarkan pula serangan kilat kearah Han Siong Kie, jika cengkeraman tersebut sampai terkena pada sasarannya, nicaya tulang punggung Han Siong Kie akan terhajar sampai remuk.

"Blaaanng.." kembali terdengar suara benturan keras yang memekikkan telinga, disertai dengus tertahan seseorang, ternyata utusan khusus yang berada disebelah kiri itu terhantam pukulan si mi sinkang yang telah menggunakan tenaga besar itu sehingga tubuhnya mencelat sejauh satu kaki dari tempat semula.

Baru saja serangan itu dilepaskan, Han Siong Kie telah merasakan tibanya desingan angin tajam dari belakang, ia tahu ada orang sedang menyergap punggungnya, dalam keadaan demikian tak sempat lagi pemuda itu berpikir panjang, cepat ia bergeser dua depa kesamping untuk menghindarkan diri.

Kendatipun ia menghindar cukup cepat, dan meski cengkeraman tersebut tidak bersarang telak. toh ujung jari lawan sempat melewat diatas mulut luka diatas bahunya yang terkena ilmu kuay ciang coat to dari tamu bergodek indah Huan Kang.

Rasa sakit yang bukan kepalang serasa menusuk sampai ke tulang sumsum, tak tahan lagi ia mendengus tertahan, secara beruntun tubuhnya mundar lima langkah sebelum keseimbangan tubuhnya dapat dipertahankan kembali, darah mengalir keluar dengan derasnya..

Utusan khusus itu bukan manusia yang tidak berpengalaman, sekilas pandangan saja dia sudah tahu bahwa bahu Han Siong Kie menderita luka yang parah, kalau tidak demikian maka berbicara dari kehebatan tenaga dalamnya, luka kulit yang tak seberapa itu tidak nanti akan membuat dia mendengus tertahan dan mundur dengan sempoyongan. Maka sambil melancarkan serangan kembali dengan dahsyatnya, ia membentak nyaring:

"Manusia muka dingin, sekalipun kaupunya sayap jangan harap bisa lolos dari sini dalam keadaan selamat"

Han Siong Kie menggigit bibir keras-keras, ia melepaskan serangan pula untuk melayani ancaman tersebut.

Suatu pertempuran sengitpun lantas berkobar diarena tersebut, tapi bagaimanapun juga tenaga dalam yang dimiliki Han Siong Kie jauh lebih sempurna meski ia harus bertempur dengan membawa luka, namun serangan-serangannya makin lama makin dahsyat, dalam lima gebrakan saja ia sudah berhasil ketitir hebat dan terancam oleh bahaya maut.

Sementara itu utusan khusus lainnya yang kena dihajar sampai mencelat tadi telah menggunakan kesempatan itu untuk mengatur pernapasan, kemudian ia menerjang kembali musuhnya.

Thian che kaucu yang berada disisi arena tidak bergerak pun tidak berbicara, cuma sepasang matanya yang tajam mengawasi jalannya pertarungan itu tanpa berkedip.

Sedangkan dua puluh orang laki-laki baju hitam itu sudan berkerumun di tepi arena, setiap saat mereka siap untuk menerjang masuk kedalam arena untuk membantu kawan- kawannya . .

Dari keadaan yang terpapar didepan mata sekarang, boleh dibilang posisinya sangat tidak menguntungkan bagi si anak muda itu.

Han Siong Kie cukup mengerti sampai dimanakah dalamnya rasa dendam antara pihak Thian che kau dengan dirinya, sekarang bahunya yang terluka belum sembuh, sementara Yu Pia lam mengawasi terus dari tepi arena, hal ini sudah sangat merugikan bagi posisinya, apalagi kalau ia tak berhasil mengalahkan dua orang utusan khusus itu, sebaliknya malahan dia sendiri yang kehabisan tenaga, bagaimana akibatnya sulitlah untuk dibayangkan mulai sekarang.

Sesudah mempertimbangkan untung ruginya, hawa napsu membunuh lantas menyelimuti seluruh wajahnya, dengan jurus Mo ong ko ciat (raja iblis menyembah loteng istana) dia menyerang dengan sekuat tenaga.

Mo ong ko ciat adalah salah satu diantara tiga buah jurus mematikan dari ilmu pukulan Mo mo ciang hoat, bisa dibayangkan bagaimana akibatnya bila serangan tersebut dilancarkan dengan sekuat tenaga?

"Blaang" seseorang menjerit kesakitan, suaranya keras dan memilukan hati, menyusul kemudian sesosok bayangan manusia mencelat ke udara diiringi muncratnya noda-noda darah. Hampir bersamaan waktunya serangan dahsyat yang dilancarkan utusan khusus yang baru selesai dari semedinya itu sudah menyerang datang, sungguh dahsyat serangan itu membuat udara jadi sesak dan sukar untuk bernapas.

Secepat kilat Han Siong Kie memutar badannya kembali dia melancarkan pukulan dengan menggunakan si mi sinkang sebesar sepuluh bagian.

"Blaang" sekali lagi terdengar ledakan keras, kali ini pasir dan batu beterbangan membentuk selapis kabut, utusan khusus yang melancarkan sergapan itu menjerit kesakitan dan mundur dengan sempoyongan.

Han Siong Kie sendiri tetap berdiri ditempat semula, meski kakinya telah masuk ketanah sedalam setengah depa.

Kejadian ini diluar dugaan kawanan jago dari Thian che kau, lima belas orang laki-laki kekar itu sampai berdiri tertegun dengan paras berubah jadi pucat.

Yu Pia lam tidak berpeluk tangan belaka, dia mendengus dingin, tanpa menggerakkan badannya tahu-tahu dia telah melayang maju kedepan.

Waktu itu dua orang utusan khusus dari perkumpulan Thian che kau yang terluka itu telah bangkit berdiri, kemudian dengan badan masih gontai berdiri disamping gelanggang.

Han Siong Kie berdiri mengawasi musuh besarnya ini tanpa berkedip. hawa napsu membunuh sudah menyelimuti seluruh wajahnya.

"Manusia muka dingin" terdengar Yu Pia lam berkata dengan suara yang mengerikan "Aku telah membatalkan janjiku untuk memberi kematian yang utuh untukmu, sekarang aku hendak menangkap kau hidup, hidup kemudian akan kukorek keluar jantungmu di hadapan meja abu dari beberapa orang utusan khusus dan anak muridku yang telah tewas ditanganmu" Han Siong Kie mendengus dingin.

"Hmmm Yu pia lam, akupun hendak membunuh engkau untuk membalaskan dendam bagi arwah anak muridku yang telah mati secara penasaran, selain itu akupun akan membalaskan dendam bagi kawan- kawan persilatan yang kau bunuh secara keji"

"Heeehh heeehh heeehh bocah keparat" seru Yu pia lam sambil tertawa dingin, "Kematianmu sudah berada didepan mata, buat apa masih ngibul terus menerus?"

"Hari ini juga kau akan kutangkap dalam keadaan hidup..". "Hmm Mampukah engkau berbuat begitu?"

"Bocah keparat, kalau engkau tidak percaya nanti buktikan saja bersama" seraya berkata sepasang telapak tangan segera di ayun ke depan melancarkan serangan dahsyat.

Semenjak tadi Han Siong Kie telah membuat persiapan, cepat diapun menggerakkan sepasang telapak tangannya untuk menangkis datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras.

Tiada suara yang terdengar, dan tiada desingan tajam yang menyertai serangan dua orang itu.

Tahu-tahu diangkasa sudah terjadi benturan keras yang memekikkan telinga, daerah seluas lima kaki di sekitar arena dipenuhi oleh desingan angin tajam yang membuat pasir debu beterbangan sampai-sampai dua orang urusan khusus yang terluka parah di sisi gelanggangcun tergulung duduk diatas tanah oleh angin tajam tadi.

Dua puluh orang laki-laki berpakaian ringkas itu semakin ketakutan, sehingga sukma serasa melayang tinggalkan raganya.

Secara beruntun mereka mundur sampai beberapa langkah kebelakang. Baik Han Siong Kie sendiri maupun Yu Pia lam sama-sama berdiri sekokoh bukit karang ditempat semula, setengah incipun mereka tidak bergeser dari tempat asalnya meski sekilas pandangan kekuatan kedua belah pihak seimbang, tapi oleh sebab luka pada bahunya Han Siong Kie merasakan setengah badannya linu dan sakit sekali hingga sukar ditahan. Yu pia lam menyeringai seram, ejeknya:

"Bocah keparat, tampaknya kepandaianmu hebat juga, tak aneh kalau lagakmu soknya bukan kepalang, coba rasain lagi sebuah pukulanku ini"

Han Siong Kie adalah seorang pemuda angkuh yang tinggi hati, ia tak sudi menunjukkan kelemahan dirinya dihadapan lawan, tentu saja diapun tak mau menghindar ke samping, sekali lagi dia sambut pukulan dahsyat itu dengan keras lawan keras.

Suatu ledakan keras yang memekikkan telinga menggema kembali di udara, kali ini Yu Pia lam merasakan tubuhnya berguncang keras, sedangkan Han Siong Kie terdesak selangkah lebar kebelakang, seluruh lengan kirinya sakit seperti patah, peluh mulai membasahi ujung hidung dan jidatnya.

Sudah puluhan tahun Yu Pia lam hidup mengasingkan diri sambil menekuni ilmu silatnya, ia mengira setelah muncul kembali dalam dunia persilatan maka ilmu silatnya pasti nomor wahid dikolong langit, tak tahunya dua kali serangan yang dahsyat tidak berhasil merobohkan seorang pemuda berusia dua puluh tahunan, rasa kaget dan tercengangnya sukar dilukiskan dengan kata-kata, tapi justru karena itu niatnya untuk membinasakan Han Siong Kie juga semakin menebal.

Sepasang telapak tangannya lantas disodok keudara, suatu gulungan angin yang sangat aneh segera memancar kedepan-

. Han Siong Kie tidak merasa terlampau asing dengan gerakan aneh itu, sebab Tengkorak maut gadungan pernah mempraktekkan dihadapannya, sedang ketua muda perkumpulan Thian kau Yu sau kun pernah memakainya, dia tahu dibawah pengaruh angin yang aneh itu, dia tak akan mampu mengerahkan tenaga dalamnya lagi.

Tentu saja ilmu yang digunakan sendiri oleh Yu Pia lam, seorang tokoh dunia persilatan yang berilmu sangat tinggi ini mempunyai daya kekuatan yang lain daripada yang lain-

Han Siong Kie terkesiap. ia ingin menjajal sampai dimanakah kedahsyatan ilmu si mi sinkang yang dimilikinya, maka diluaran ia berlagak pilon, sementara tenaga dalamnya telah disalurkan keseluruh tubuh untuk menutup jalan darah besar maupun kecil dalam tubuhnya.

Ketika angin aneh itu menyentuh badannya, segera terdengarlah serentetan suara ledakan yang beruntun, agaknya hawa sakti yang memancar keluar dari badannya telah berhasil mematahkan ancaman dari angin serangan yang aneh itu.

Sementara itu sesudah melepaskan pukulan anehnya, Yu Pia lam telah menyergap maju dengan serangkaian serangan aneh, tangan yang satu mencengkeram jalan darah Cian keng hiat dibahu, sementara tangan yang lain mengancam darah penting dibagian dada.

Han Siong Kie tertawa dingin, telapak tangan kanannya langsung membacok tangan musuh yang mencengkeram bahunya sedangkan telapak tangan kanannya menghantam batok kepala lawannya.

Kali ini Yu Pia lam benar-benat sangat terperanjat, mimpipun ia tak menyangka kalau musuhnya masih dapat menghimpun tenaga sambil melancarkan serangan sekalipun ia sudah menyerang dengan ilmu Coan hiat san goan ciang (pukulan penyusup jalan darah pembuyar tenaga). Bukan begitu saja, bahkan serangan musuh sangat kuat dan ganas sekali, bila sampai terserang oleh pukulan musuh itu niscaya batok kepalanya akan hancur berantakan.

Dalam keadaan begini dia lantas menarik kembali sepasang telapak tangannya lalu mundur selangkah.

Waktu itu serangan dari Han Siong kie belum dipakai sampai seluruhnya, cepat ia tarik kembali serangannya sambil memutar badan, sebuah pukulan dengan gerakan Leng ku it-si kembali dilancarkan-

Yu pia lam mengeram gusar, matanya jadi hijau mengerikan, dia layani semua ancaman musuh dengan kekerasan, deruan angin pukulan segera menyelimuti seluruh angkasa.

Pertarungan ini benar-benar merupakan suatu pertarungan paling sengit yang belum pernah terjadi didunia ini kedua belah pihak sama-sama merupakan jago lihay, kedua belah pihakpun sama-sama berhasrat untuk membinasakan musuhnya bahkan serangan yang digunakan semuanya merupakan jurus aneh yang mematikan ini membuat deruan angin pukulan dan beterbangannya pasir serta debu makin menebal.

Dua puluh orang jago lihay dari perkumpulan Thian che kau sama-sama berdiri dengan mata terbelalak hampir saja mereka lupa dimanakah mereka sedang berada pada waktu itu.

Dalam waktu singkat tiga puluh gebrakan sudah lewat, namun Han Siong Kie merasa separuh tubuh bagian kirinya semakin kaku dan kesemutan, otomatis daya serangan dari telapak tangan kirinya ikut berkurang sekarang dia hanya bisa mempertahankan diri dengan andalkan telapak tangan kanan belaka, keringat dingin telah membasahi tubuhnya, tapi sikapnya yang angkuh membuat pemuda itu tak sudi mengundurkan diri dengan begitu saja. Ilmu pukulan dan ilmu jari tangan lantas dimainkan berbareng dengan memaksakan diri ia mempertahankan terus posisinya.

Yu Pia lam cukup memahami kelihayan ilmu jari Tong kim  ci lawan, diapun agak jeri untuk menghadapinya, maka sewaktu melayani serangan musuh gerak geriknya banyak tidak leluasa, kalau tidak begito mungkin sedari tadi Han Siong Kie sudah tak mampu mempertahankan diri.

Dua puluh gebrakan kembali sudah lewat namun Han Siong Kie belum kelihatan bakal kalah meski dalam hati kecilnya pemuda itu cukup memahami kekuatan sendiri, ia tahu kekuatannya sudah tak mampu digunakan lagi untuk bertarung sebanyak seratus gebrakan lagi dengan lawan-

Suatu ketika Yu Pia-lam melompat mundur delapan depa ke belakang, sepasang telapak tangannya diputar satu lingkaran diudara kemudian disilangkan didepan dada.

Han Siong Kie mengawasi gerak gerik musuhnya dengan tatapan tajam tapi apa yang ia lihat membuat hatinya tercekat, dilihatnya sepasang telapak tangan musuh telah berubah jadi bening seperti kaca, begitu bening dan putihnya membuat orang jadi bergidik rasanya:

"Ilmu silat apaan itu?" demikianlah pemuda itu berpikir, " belum pernah kujumpai kepandaian seaneh itu."

Akan tetapi waktu tidak mengijinkan dia berpikir panjang, sekalipun ia tahu bahwa lawannya telah menggunakan ilmu aneh dan rupanya dalam serangan berikut ini akan melepaskan pukulan yang mematikan. ia tak dapat berbuat lain kecuali mempertingkat kewaspadaannya .

Terdengar Yu Pia lam, ketua dari perkumpulan Thian che kau itu berkata: "Manusia muka dingin, jika engkau sanggup menerima sebuah pukulanku ini, maka hari ini akan kulepaskan dirimu dari sini" Han Siong Kie tertegun.

"Hian goan sin khi?" ia lantas berpikir kepandaian apakah itu? Belum pernah kudengar tentang ilmu semacam ini, tapi pasti ilmu itu adalah sejenis kepandaian yang maha sakti sebab kalau tidak tak nanti ia bersikap seangkuh itu"

Tentu saja Han Siong Kie tak sudi menunjukkan kelemahannya, ia tertawa dingin dan menjawab:

"Yu Pia lam, tak ada halangannya bagimu untuk mencoba, tapi aku katakan lebih dulu, hari ini aku tidak akan melepaskan engkau dengan begitu saja meski kau bermaksud melepaskan aku"

"Heeehhh.. heeehhh... heehhh bocah keparat, tak ada gunanya engkau banyak berbicara memangnya kau anggap hari ini bisa lolos dari sini dengan selamat?"

"Yu Pia lam, mengapa tidak kau lancarkan saja seranganmu itu daripada banyak bacot"

"Lihat serangan- Yu pia lam tidak membuang waktu lagi, sepasang telapak tangannya yang bening seperti kaca didorong ke depan, segulung desingan angin pukulan berwarna merah keemas-emasan dengan membawa daya tekanan yang sangat berat menggulung ke atas tubuh pemuda itu.

Han Siong Kie sendiri, walaupun sedang berbicara, diam- diam hawa murninya telah dihimpun mencapai dua belas bagian, maka ketika musuh melancarkan serangan, dengan keyakinan penuh diapun melepaskan segulung asap hijau yang maha dahsyat kedepan.

Kedua belah pihak sama-sama menyadari bahwa serangan ini menyangkut mati hidup kedua belah pihak, siapa meleng maka akibatnya kalau bukan tewas tentulah terluka parah. Han Siong Kie sudah bertekad untuk beradu jiwa dengan musuhnya, mampukah dia merobohkan musuhnya dalam serangan tersebut, ia tidak terlalu yakin, sebab luka di atas bahunya membuat tenaga dalam yang dimiliki mengalami kerugian besar.

Udara jadi beku dan kaku, semua jago perkumpulan Thian che kau yang berada di sekitar gelanggang melototkan matanya lebar-lebar, mereka mengawasi dua orang yang berada di arena itu dengan pandangan tanpa berkedip.

Cahaya merah dan hijau segera bertemu satu sama lainnya, ledakan keras menggelegar diangkasa, banyak pepohonan yang bertumbangan, batu dan rumput beterbangan keadaan jadi sangat mengerikan-

Yu Pia lam dan Han Siong Kie yang berada diarena masih berdiri saling berhadapan muka tanpa bergerak. hanya selisih jarak antara kedua belah pihak telah mencapai tiga kaki jauhnya

Paras muka Han Siong Kie pucat pasi, badannya gontai dan mulut luka pada bahunya mengucurkan darah lagi karena tergetar oleh bentrokan itu, deras sekali darah yang menetes keluar menetes dibaju maupun sepatunya.

Yu Pia lam sendiri oleh karena mengenakan kain kerudung diwajahnya maka orang tak dapat menyaksikan perubahan wajahnya tapi dari sinar matanya yang pudar serta getaran tubuhnya keras, ditambah kain kerudungnya yang besar, bisa diketahui bukan saja ia sudah terluka bahkan telah muntah darah

Suasana jadi hening sepi tak kedengaran sedikit suarapun. Paras muka Han Siong Kie kian lama berubah memucat,

tbuhnya ikut gemetar keras peluh membasahi jidatnya .

Ditengah keheningan inilah tiba-tiba Yu Pia lam tertawa dingin, bukan saja suaranya serak dan penuh mengandung hawa napsu membunuh, bahkan kedengarannya mengerikan sekali, ia maju selangkah demi selangkah menghampiri sianak muda itu.

”Kraass kraass” langkah kaki diatas daun kering dan bebatuan menimbulkan suara gemerisik yang mengerikan hati.

Suasana kematian makin lama semakin menebal mengikuti langkah kaki tadi.

Namun Han Siong Kie masih tak bergerak ditempat semula, dia tetap berdiri kaku seperti arca batu.

Tentu saja dia tahu apa yang akan dilakukan oleh Yu Pia lam, akan tetapi pada saat ini ia sudah tidak berkemampuan lagi untuk memberikan perlawanan.

Kematian semakin mendekatinya dalam waktu singkat jarak yang tiga kaki itu sudah makin memendek jadi satu kaki, lalu tinggal delapan depa, lima depa, akhirnya tinggal satu jangkauan tangan belaka.

Yu Pia lam sudah mengangkat telapak tangannya, ia siap menghajar batok kepala pemuda she Han itu.

"Tahan" mendadak terdengar bentakan merdu menggema dari bilik lembah hitam.

Yu Pia lam kelihatan terkejut, tanpa sadar ia menarik kembali telapak tangannya dan mundur tiga langkah kebelakang.

Menyusul bentakan tadi, sesosok bayangan merah melayang keluar dari balik pepohonan, kembali orang itu berkata:

"Yu Pia lam, sungguh memalukan dirimu sebagai seorang ketua perkumpulan yang berambisi menguasahi jagad, tak tahunya cuma manusia berlidah biawak. mulutnya tak bisa dipercaya" Dia tak lain adalah Buyung Thay, nyonya cantik berbaju merah itu.

Yu Pia lam menjerit kaget, kembali dia mundur tiga langkah ke belakang, serunya terbata-bata: "Kau.. kau.."

"Benar, memang aku Kenapa?" sahutnya dengan ketus. "Kau.. kau... apa maksudmu berbuat begitu?"

"Tidak bermaksud lain, aku cuma berharap agar engkau tidak menjilat kembali perkataan yang telah diucapkan, bukankah engkau telah berkata bila ia sanggup menerima sebuah pukulan Huan goan sin khimu itu, maka perselisihan diantara kalian akan dibereskan pada lain kesempatan??"

"Tapi apa sangkut pautnya persoalan ini denganmu?" "Aku merasa malu untuk perbuatanmu, tingkah lakumu itu

terlalu rendah dan memalukan, tidakkah kau lihat bahwa ia sudah menderita luka diatas bahu lebih dahulu sebelum pertarungan tadi dimulai? Tapi kau pun telah memanfaatkan kelemahan orang untuk keuntungan diri sendiri"

"Heehhh heeehh heeehhh perempuan lonte."

"Tutup mulut anjingmu Yu Pia lam kau tak usah melukai hati orang dengan kata-kata busuk seperti itu"

"Jadi engkau juga yang telah membantu bocah busuk itu ketika berada dalam perjalanan menuju ke Thian lam..?"

"Memang kenapa??"

"Aku hendak membunuh engkau dari muka bumi"

Mendengar ancaman tersebut, Buyung Thay menengadah dan tertawa terkekeh-kekeh. "Heeehhh... heehhh... heeehh Yu Pia lam mampukah engkau membunuh aku?"

Yu Pia lam terbungkam, benar... Dengan luka dalam yang dideritanya sekarang ditambah pula dua orang utusan khususnya juga terluka parah, meski ada dua puluh orang jago lainnya tapi kalau suruh mereka melawan jago macam Buyung Thay, itu berarti hanya menghantar kematian mereka dengan sia-sia belaka. Maka setelah berpikir sebentar ia menjawab lagi:

"Sekalipun tidak sekarang, suatu saat aku pasti akan membinasakan dirimu"

"Yu Pia lam, aku akan menantikan hari seperti yang kau maksudkan itu, sekarang engkau boleh pergi dari sini" ujar nyonya cantik itu sambil tertawa tawa.

Han Siong Kie dapat memgikuti pembicaraan tersebut dengan sangat jelas, dari keadaan tersebut dia lantas mengambil kesimpulan bahwa kedua belah pihak tampaknya tidak terlalu asing, tapi apa hubungan mereka? Dan sebenarnya perempuan macam apakah Buyung Thay itu? setelah lama sekali tertegun, Yu Pia lam lalu bertanya lagi: "Jadi engkau telah jatuh cinta kepada bocah busuk ini?"

"Kau tak usah menanyakan tentang persoalan ini, sebab urusan ini bukan urusan yang menyangkut dirimu"

"Hmm engkau benar-benar seorang perempuan yang tak tahu malu" maki Yu Pia lam sambil meludah ketanah.

Paras muka Buyung Thay si nyonya cantik baju merah liu berubah hebat, hawa napsu membunuh menyelimuti wajahnya, ia lantas menghardik:

"Yu Pia lam tentunya engkau tidak mengharapkan sekarang juga kucabut nyawa anjingmu bukan?"

Yu Pia lam cukup licik, setelah mempertimbangkan untung ruginya dengan gemas ia mendengus.

"Buyung Thay" teriaknya "semoga saat perjumpaan diantara kita berdua tidaklah terlalu lama."

Buyung Thay balas mendengus: "Yu Pia lam aku anjurkan kepadamu lebih baik cepatlah tinggalkan tempat ini"

Ketua perkumpulan Thian che kau yang lihay ini tak berani membuang waktu lagi, ia putar badan memberi tanda kepada anak buahnya dan segera berlalu dari sana.

Sementara itu Han Siong Kle sudah tak kuat menahan diri lagi, keangkuhannya membuat ia tetap mempertahankan diri tanpa bergerak.

Menanti Yu Pia lam dan rombongan sudah lenyap dari pandangan, ia baru muntah darah segar dan tubuhnya ikut terjungkal ke atas tanah.

Buyung Thay sangat kaget, cepat ia menyambar tubuh Han Siong Kle yang sedang roboh itu.

"Adikku sayang kenapa kau?" tegurnya dengan cemas.

Han Siong Kie membelalakkan matanya tapi sebentar kemudian dipejamkan kembali.

Betapa gelisahnya Buyung Thay menyaksikan keadaan tersebut, cepat ia mengambil keluar tiga biji pil dari sakunya dan dijejalkan kemulut Han Siong Kie, kemudian sambil membopong pemuda itu segera berlarian keluar dari tanah perbukitan itu.

Setelah keluar dari tanah perbukitan Tay keng san, mereka menumpang dirumah seorang petani, dengan alasan suami istri yang bertemu penyamun untuk sementara mereka berdiam disana.

Buyung Thay meminta kepada tuan rumah untuk menyediakan air panas bagi mereka, mula-mula ia bersihkan dulu badan Han Siong Kle yang bermandikan darah itu, kemudian baru membubuhi obat luka diatas badannya, perhatian seperti itu persis seperti perhatian seorang kakak terhadap adiknya, mirip pula seorang istri yang memperhatikan suaminya. setelah luka luar diobati, barulah dia periksa luka yang didalam.

Untunglah luka yang diderita pemuda itu tidak separah seperti apa yang disangkanya, setengah jam kemudian Han Siong Kie telah sadar kembali dari pingsannya.

Ketika ia menemukan bahwa dirinya sedang berbaring dalam pelukan Buyung Thay, merah padam selembar pipinya, dengan jantung berdebar keras dan suara yang lemah dia berbisik: "Cici. kita berada dimana sekarang?"

"Rumah seorang petani"

"Sudah berapa lama kita tiba disini?" "setengah hari lamanya"

"Aku harus mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan cici"

"Aaah, adikku Kalau engkau berkata begitu sama artinya memandang asing akan diriku" tukas Buyung Thay sambil menutup bibirnya dengan jari tangan.

Dalam suatu kamar yang redup didampingi perempuan yang cantik jelita, tak tahan lagi Han Siong Kle merasakan jantungnya berdebar keras, tanpa terasa ia jadi teringat kembali akan adegan yang pernah terjadi dalam lembah hitam, betapa mesranya hubungan intim yang mereka lakukan saat itu.

Berpikir sampai disitu, merah jengah pipinya, hampir saja ia tak berani bertatapan muka dengan perempuan itu. Ia khawatir kejadian tersebut terulang lagi.

Rasa sakit yang secara lapat-lapat dari mulut luka dibahunya membuat pemuda itu sadar kembali dari lamunannya, ia lantas teringat untuk segera menyembuhkan luka dalam yang dideritanya. Maka ia meronta bangun dari pelukan Buyung Thay dan berusaha untuk duduk bersila.

"Titi apa yang hendak kau lakukan?" nyonya cantik baju merah segera menegur.

"Cici aku ingin menyembuhkan lukaku, bantulah aku untuk duduk bersemedi"

"Apakah engkau juga membutuhkan bantuanku untuk menyembuhkan luka itu?" tanya nyonya itu manja.

"Tak usah cici, aku cuma minta kau bersedia menjadi pelindung ku selama aku sedang bersemedi"

"Tapi lukamu terlampau parah"

"Aah luka sekecil ini tidak seberapa hebat, tak usah kau kuatirkan"

"Saat ini kita berada dirumah petani yang jauh dari kota, aku rasa tak mungkin akan terjadi hal-hal diluar dugaan, lebih baik biar kubantu dirimu agar lukamu cepat sembuh kembali."

"Ssttt... ada orang datang" tiba-tiba Han Siong Kie menukas sambil melarang perempuan itu bicara lebih jauh.

Buyung Thay cukup cekatan, cepat dia padamkan lampu lentera dimeja dan menerobos keluar lewat jendela, tapi udara amat bersih, suasana sunyi senyap. tak sesosok bayangan manusiapun nampak.

Perempuan itu merasa tak lega hatinya, kembali dia mengontrol sekeliling ruangan itu sebelum akhirnya kembali kedalam kamar dan memasang lampu lentera.

"Cici siapa diluar?" Han Siong Kie segera menegur dengan dahi berkerut kencang.

"Siapa pun tidak kelihatan"

"Aaah, masa iya? Kok aneh benar" "Sebetulnya apa yang berhasil kau lihat? "

"Kusaksikan sesosok bayangan manusia berkelebat lewat diluar jendela mana"

"Jangan-jangan matamu melamur dan salah melihat??" "Tidak mungkin" sahut pemuda itu menegaskan.

Buyung Thay mengernyitkan alis matanya, setelah berpikir sebentar diapun lantas berkata:

"Tidak ambil perduli siapa yang berani datang, selama kau merawat lukamu maka aku akan berjaga disini, akan kulihat siapa yang berani datang mencabuti kumis macan"

Tiba-tiba Han Siong Kie berseru tertahan, sambil menuding sebuah benda putih didepan jendela dia berkata: "cici, coba lihat Benda apakah itu??"

Dengan hati terperanjat Buyung Thay memburu kedepan dan mengambil benda tadi, kiranya secarik kertas putih dan diatas kertas itu bertuliskan bebarapa huruf sebagai berikut:

"Anjing pemburu telah mengejar sampai disini, tempat ini bukan tempat aman, cepat-cepatlah berlalu dari sini"

Dibawah surat peringatan itu tiada tanda tangan, tapi dari gaya tulisan serta bau kertas yang harum dapat dipastikan bahwa tulisan itu dibuat oleh seorang perempuan. Tapi siapakah yang menulis surat peringatan itu? siapa pula yang dia maksudkan anjing pemburu?

-ooo0dw0ooo-