Tengkorak Maut Jilid 36

 
Jilid 36

WI IK BENG menjengek sinis, bukannya maju ke depan dia malahan kembali ke kursi kebesarannya dan duduk disitu, serunya sambil mengulapkan tangannya.

“Ringkus bangsat yang tekebur itu!”

Dua belas orang pengawal yaag berada di belakangnya segera mengiakan dan terjun ke dalam gelanggang, namun sikap mereka tidak setenang tadi lagi, sekarang orang-orang itu maju ke depan dengan wajah ngeri kaget dan perasaan tak tenang

Setibanya ditengah arena mereka lantas meloloskan senjatanya dari dalam sarung, enam orang pengawal yang berbaju kuning memakai pedang sedangkan enam orang pengawal yang berbaju hijau, tiga menggunakan ruyung dan tiga lainnya memainkan senjata garden.

“Kalian berani membangkang perintah dengan membantu pengkhianat melakukan kejahatan?” bentak Han Siong Kie dengan gusar.

Dua belas orang pengawal itu segera menghentikan gerak tubuh mereka, tapi hanya sebentar saja sebab mereka melanjutkan kembali gerakannya menyerbu ke gelanggang.

Han Siong Kie mendengus marah, ia tahu percuma saja menggertak dengan ucapan, sebelum dipakainya kekerasan tak mungkin pemberontakan tersebut dapat dipadamkan, maka dia berpaling lalu perintahnya kepada tiga orang tianglo itu.

“Hadapi mereka, barang siapa berani menentang perintah bunuh saja tanpa ampun!”

To It hui, Ang Pat siu serta Sah Jia ho segera mengiakan, mereka segera mempersiapkan senjata toya kepala setan, kemudian menyerbu kedalam arena dengan garang.

Setelah tiga oracg tianglo-nya bertempur, Han Siong Kie lantas melejit ke udara dan melayang turun di hadapan Wi Ik beng.

Menyaksikan tibanya terkaman itu serentak Wi Ik beng meloncat bangun kemudian melepaskan sebuah tendangan keras yang mengakibatkan kursi kebesarannya memcelat ke depan.

Sementara itu tiga orang tianglo dan dua belas pengawal sudah terlibat dalam suatu pertarungan yang seru benturan senjata bentakan nyaring serasa mengguncangkan seluruh istana Huan mo kiong.

Tiba-tiba dari samping gelanggang muncul empat orang kakek tua dengan suatu gerakan yang sangat cepat mereka menerobos dari samping dan langsung menyerang Han Siong Kie.

Si anak muda itu mengejek dingin ia menunggu sampai serangan musuh hampir bersarang di tubuhnya mendadak sepasang telapak tangannya dilontarkan kemuka,

Jerit kesakitan yang keraa dan memekikkan telinga segera berkumandang memecahkan kesunyian, tidak jelas apa yang terjadi hanya tahu-tahu empat orang kakek tua yang baru saja menerkam kedepan telah mencelat kembali dengan tubuh berlumuran darah. Han Sing Kie sendiri sehabis menghajar mundur empat jago yang menyeraag datang mengalihkan kembali sorot matanya ke atas wajah Wi Ik beng mukanya nampak semakin keren kewibawaan yang terpancar keluar dari wajah pun membuat orang tak berani pandang enteng dirinya.

Wi Ik beng juga tak gentar menghadapi lawannnya ia menyeringai seram lalu mengejek :

“Bocah keparat, tempo hari beruntung kau bisa lolos dari kematian, tapi ini hari heeh heeeh heeeeh…tak nanti bisa muncul Hun-si mo-Ong lagi yang akan selamatkan jiwamu dari ancaman bahaya maut!"

Han Siong Kie tidak melayani ejekan itn. dia malahan berkata dengan nada dingin.

“Wi Ik beng ! Sudah terlampau banyak kejahatan yang kau lakukan. hampir saja perguruan Thian lam bun musnah di tanganmu.. hehh heeehh kuanjurkan kepadamu lebih baik segeralah menyerah dan menanti hukuman yang akan dijatuhkan kepadamu!”

"Bajingan cilik, tak usah banyak bacot ! Justru perbuatanmu ini sama ibaratnya dengan kunang-kunang yang menerkam api, mencari mampus buat diri sendiri, sambut dulu seranganku ini!”

Berbareng dengan selesainya ucapan itu sepasang telapak tangannya segera didoroog kemuka melancarkan sebuah pukulan dahsyat.

Han Siong Kie mendengus dingin ia tak sudi tunjukkan kelemahan dihadapan masuhnya, dengan keras lawan keras dia sambut datangnya ancaman yang sangat keras itu.

Di satu pihak Wi Ik beng menggunakan ilmu tay boan yo sinkang sedang dipihak lain Han Siong Kie mempraktekkan ilmu Si mi sinking, keduanya sama-sama merupakan ilmu pukulan sakti yang mengerikan. “Blaang!” tatkala dua gulung tenaga pukulan itu saling berbenturan satu sama lain-nya, pancaran hawa berpusingpun ikut memancar keempat penjuru.

Kedua belah pihak masih tetap berdiri tetap di tempat semula, hanya saja di antara wajah Wi Ik beng yang menyeringai seram terlintas warna putih kepucat- pucatan, jelas ia sudah menderita sedikit kerugian di-dalam benturan barusan.

Masih baru ingatan Wi Ik beng ketika ia berhasil menghajar luka manusia bermuka dingin dengan ilmu boan yo sinkangnya yang lihay waktu itu seandainya Hun-si-mo ong tidak muncul tepat pada saatnya mungkin si anak muda itu sudah mampus di tangannya.

Tapi sekarang baru beberapa bulan tidak bertemu ternyata pihak lawan seakan-akan telah berubah menjadi seorang manusia yang lain, bukan saja kemampuannya lebih hebat berkali lipat bahkan mampu untuk menghadapi serangannya dengan kekerasan, kenyataan ini membuat hatinya tercekat dan bergidik..

Diapun merasa keheranan apa sebabnya bahan peledak yang telah dipasang dipintu istana tidak meledak seperti yang direncanakan, tidak meledaknya bahan mesiu itu hampir saja membuat ia tak percaya dengan kemampuan diri sendiri.

Dalam pada itu, pertempuran yang sedang berlangsung ditengah gelanggang telah memasuki babak baru, dari dua belas orang pengawal yang terlibat dalam pertempuran, ada tiga orang sudah menderita luka parah ditangan ketiga orang tiang lo tersebut. suasana pertarungan bertambah seru dan tegang, bentakan dan benturan senjata semakin kerap menggelegar diangkasa.

Han Siong Kie sendiripun tak ingin terlalu banyak memberi waktu kepada musuhnya untuk mengatur pernapasan. setelah mendengus dingin, secara beruntun ia lancarkan tiga buah pukulan berantai, ketiga buah pukulan itu semuanya disertai dengan sepuluh bagian hawa sakti si mi sinkang, bukan saja kecepatannya seakan-akan sebuah pukulan saja bahkan hawa tekanan yang di hasilkan sangat mengerikan.

Tiga bentutan keras menggelegar saling menyusul, kali ini wi It beng kena dihajar sampai mundur dua langkah lebar.

Tiba-tiba dari samping gelanggang kembali muncul bentakan nyaring, tiga orang kakek berjubah abu-abu pada saat yang bersamaan dengan membawa tiga gulung hawa pukulan yang dahsyat serentak menghantam tubuh Han Siong Kie.

Merasa dirinya disergap. Han Siong Kie sangat marah, kegusarannya memuncak dan napsu membunuh semakin berkobar dalam dadanya, ia tarik telapak tangannya kebelakang kemudian menyumbat datangnya ancaman dari tiga orang kakek itu dengan serangan gencar pula. 

Hampir bersamaan waktunya ketika si anak muda itu menarik kembali sepasang telapak tangan, wi It beng membentak keras lalu melancarkan pula sebuah pukulan dengan sekuat tenaga.

Padahal ketika itu Han Siong Kie baru saja melepaskan pukulan keras yang menghajar tiga orang kakek tadi sehingga mundur sempoyongan sebelum ia sempat berbuat sesuatu angin cukulan dari Wi It beng tadi sudah menggulung datang.

Dalam keadaan seperti ini tiada jalan lain bagi Han Siong Kie kecuali menangkis ancaman itu dengan tenaga seadanya.

"Blaaang" benturan keras kembali terjadi karena tak sempat mempergunakan tenaganya Han Siong Kie merasakan hawa darah didalam dadanya bergolak keras, ia kena dipaksa untuk mundur sejauh delapan depa dengan sempoyongan.

Di pihak lain ketika tiga orang pengawal kena dilukai segera muncullah dua orang kakek dan tiga orang laki-laki kekar yang membantu delapan orang pengawal untuk mengerubuti To It hui bertiga karena bertambahnya lima orang musuh yang cukup tangguh ilmu silatnya ini. To It hui bertiga mulai terdesak hebat dan tak kuasa mempertahankan diri lagi mereka lebih banyak memainkan toya kepala setannya untuk mempertahankan diri daripada melancarkan serangan balasan.

Wi It beng sendiri setelah berhasil dengan serangan mautnya secepat kilat menerjang kedepan, telapak tangan nya membacok batok kepala musuh, sementara kelima jari tangan kirinya dipentangkan lebar-lebar seperti cakar setan dan mencengkeram dada anak muda itu.

satu jurus dengan dua gerakan, semuanya dilancarkan dengan tenaga serta kecepatan yang hebat.

Han Siong Kie tak mau kalah, dia tangkis bacokan musuhnya itu dengan telapak tangan kiri, sedangkan tangan kanannya berputar balik ke atas dan balas mencengkeram urat nadi di pergelangan tangan musuh.

Wi It beng menjengek dingin, telapak tangan kanannya yang semula akan membacok batok kepala, tiba-tiba berubah dan malahan membacok bahu pemuda itu, sedangkan tangan kirinya yang melancarkan cengkeraman dirubah menjadi serangan bacokan dan membabat ke arah pinggang.

Han Siong Kie putar tangan dan segera berganti jurus pula. "Blang Blang " sepasang telapak tangan akhirnya saling

bertemu satu sama lainnya, bayangan tubuh kedua belah pihakpun saling berpisah satu sama lainnya.

Menggunakan kesempatan yang sangat baik inilah tiga orang kakek berbaju abu-abu yang kena dipukul mundur tadi menyergap lagi kemuka tanpa menimbulkn suara mereka lancarkan serangan dahsyat dan mengancam punggung Han Siong Kie. Pemuda itu tidak menggubris tibanya ancaman malah berlagak seolah-olah tidak mengetahui akan datangnya ancaman tersebut padahal secara diam-diam ia telah mengerahkan hawa sakti Si mi sinkangnya yang lihay untuk melindungi seluruh badan.

"Dukk.. duuk!" ketiga serangan yang dilancarkan oleh tiga orang kakek berjubah abu-abu itu menghajar punggung Han Siong Kie bukannya si anak muda itu yang terpental olehnya malahan justru mereka bertiga lah yang kena dihantam sampai mencelat mundur beberapa langkah.

Kejadian ini segera menggemparkan seluruh jago yang hadir disana hinggga tak dapat dikuasai lagi mereka berteriak kaget.

Han Siong Kie tak mau membuang waktu sesudah tiga orang kekek itu dihajar mundur sepasang telapak tangannya segera berputar satu 1ingkaran didepaa dada lalu dengan disertai hawa sakti sebesar dua belas bagian dia menyerang kembali diri Wi Ik beog.

Pada waktu itu Wi Ik beng sudah mengetahui bahwa tenaga dalam yang dimiliki Han Siong Kie jauh lebih tinggi dari kepandaian sendiri, ilmu Boan yo sinkang yang sangat diadalkan ketika gagal untuk menghajar musuhnya ia jadi bergidik, maka sewaktu musuh melepaskan serangan maut lagi ia tak berani menyambut dengan kekerasan tapi dengan mengandalkan kelincahan tubuhnya barkelit kesamping.

Mendadak dari tengah arena pertarungan berkumandang suara jerit kcsakitan yang keras.

Han Siong Kie capat menarik kembali serangannya sambil berpaling, ia saksikan tianglo-nya yang kelima Sah Jin ho sedang muntah darah dan mundur dengan sempoyongan sedangkan dua bilah pedang dan sebuah ruyung telah menyambar dari belakarg menyongsong tubuhnya yang sedang sempoyongan itu. “Bangsat!” maki pamuda itu amat gusar, “Kalian harus dihajar sampai mampus”

diiringi bentakan keras bagaikan burung garuda dia melayang di angkasa sebelum tubuhnya mencapai sasaran, ilmu jari Tong kim ci yang sadis itu telah dilepaskan lebih dahulu.

"Criit.. criiit. criit.." tiga desingan angin tajam menyambar kemuka, menyusul kemudian tiga kali jerit lengking yang memekikkan hati bergema dari mulut ketiga orang jago itu, darah segar memercik ke empat penjuru sambil mendekap dadanya yang berlubang dan membuang senjata andalan mereka, orang-orang itu roboh terkapar di atas tanah dan tak lama kemudian menghembuskan napasnya yang penghabisan.

Sepanjang masa hidupnya belum pernah anak murid istana Huan mo kiong menyaksikan ilmu sesakti itu, apa yang barusan terpapar didepan mata seketika membuat hati mereka bergidik, muka jadi pucat mata terbelalak. keringat dingin membasahi tubuhnya dan bulu kuduk pada bangun berdiri, belum apa-apa mereka sudah merasa keder lebih dahulu oleh kelihayan pemuda itu.

Bukan kawanan jago yang berada ditepi arena saja yang tercekat dibuatnya bahkan pengawal lihay yang sedang terlibat dalam pertempuran seru melawan tiga orang tiang lo pun dibuat ketakutan setengah mati sehingga serasa sukma melayang tinggalkan raganya.

Tapi sebelum ingatan kedua sempat terlintas didalam benak mereka, dengan gerakan secepat sambaran kilat Han Siong Kie sudah terjun pula kedalam arena pertarungan-

Bisa dibayangkan apa yang terjadi dengan ikut sertanya Han Siong Kie dalam pertarungan yang tak seimbang itu, keadaan si anak muda itu ibaratnya harimau diantara kawanan domba, dalam waktu singkat bayangan manusia menyambar kian kemari dengan dahsyatnya. Jeritan-jeritan kesakitan yang memilukan hati serta membuat hati orang bergidik menggelegar tiada hentinya, percikan darah memancar keempat penjuru, kutungan anggota badan, mayat yang bergelimpang memenuhi suasana dalam gelanggang pertarungan itu.

Hanya sekejap mata tak sampai seperminuman teh, sekian banyak jago lihay yang terlibat dalam pertarungan itu telah membungkam untuk selamanya, mereka telah berubah menjadi mayat-mayat kaku yang penuh berlepotan darah, mereka mampus dalam keadaan yang mengerikan.

Serasa mau meledak dada Wi Ik beng menyaksikan kematian dari jago-jago lihaynya disamping rasa takut makin mencekam perasaannya, tiba-tiba ia membentak keras: "Maju semua"

Tapi perintahnya kali ini tidak peroleh tanggapan, sekian banyak anak muridnya yang berkumpul disekitar arena tak ada yang menggeserkan tubuhnya lagi, agaknya orang-orang itu dibikin keder oleh kelihayan musuh dan mengetahui bahwa kemajuan mereka ke arena tak lebih hanya menghantar kematian bagi diri sendiri Wi It bong naik pitam sekali, dia menghardik:

"Hayo maju. semua Barang siapa berani membangkang perintah, kuhajar sampai mampus"

Meski disertai ancaman dan bentakan itu diutarakan dengan wajah menyeringai seram, kawanan jago itu masih tetap membungkam dan berdiri ditempat tak seorangpun yang sudi mengorbankan nyawanya lagi dengan percuma.

Posisi yang semula menguntungkan Wi Ik beng sekarang telah berubah menjadi keuntungan Han Siong Kie anak muda itu segera manfaatkan kesempatan yang sangat baik itu, dia maju tiga langkah kedepan lalu sambil menuding kearah lawannya ia berkata: "Penghianat. Bajingan murtad. Rasain sekarang pembalasan dari kami, hayo cepat menyerah dan menerima hukuman"

Sekarang sinar mata semua orang ditujukan keatas wajah Han Siong Kie, dibalik tatapan tersebut penuh mengandung rasa kaget, ngeri, seram sangsi dan tak tenang serta merta susana dalam gelanggangpun ikut berubah menjadi sepi tapi menyesakkan napas.

Wi Ik beng menyeringai seram dengan sinar matanya yang licik dan bengis dia memandang sekejap kawanan jago yang semula setia padanya tapi sekarang tak sudi menjual nyawa baginya lagi itu, ia sadar bahwa masa jayanya sudah lewat dan sekaranglah masa keruntuhan bagi kekuasaannya.

Meski demikian, sebagai manusia licik keji dan banysk tipu muslihatnya itu dia tak sudi menyerah kalah dengan begitu saja, ia masih selalu mencari kesempatan untuk mengembalikan situasi tidak menguntungkan itu menjadi menguntungkan baginya.

Han Siong Kie telah maju lagi beberapa langkah. ia telah bersiap sedia menghukum pengkhianat perguruannya itu.

Tiba tiba pada saat itulah dari kedua belah sisi pintu samping berkamandang suara teriakan yang gaduh, menyusuul muncullah beberapa puluh sosok bayangan manusia, di paling depan adalah lima orang kakek berjubah sutera halus sedangkan lainnya tua muda beraneka ragam, meski coraknya berbeda-beda namun ada satu yang sama yakni wajah mereka penuh diliputi perasaan guaar dan mendendam.

Paras muka Wi Ik beng berubah hebat, bergidik hatinya menyaksikan kemunculan orang-orang itu sebab ia cukup mengenali orang-orang itu sebagai kawaenan jago yang selama ini disekap dalam penjara bawah tanah. Aneh kenapa mereka bisa terlepas dari sekapan bawah tanah? Siapa yang melepaskan mereka? demikian ia berpikir dengan rasa keheranan.

Kalau Wi Ik beng terkejut, maka Han Siong Kie kegirangan, wajahnya lantas berseri sebab ia tahu bahwa Heng tee sian y«ng diserahi tugas untuk membebaskan para tahanan telah berhasil dengan sukses.

Sementara itu para tahanan yang terlepae itu sudab menyebarkan diri dan membentuk barisan pengepungan yang mengepung seluruh arena ditanah lapang itu.

Sekarang Wi Ik beng semakin menyadari bahwa semua harapannya telah punah, apa yang dibayangkan semula tak mungkin terwujud lagi, raaa putua asa, kecewa dan takut bercampur aduk menjadi satu, akhirnya dia menjadi kalap, sambil tertawa seram tubuhnya bergerak kedepan dan menerkam Han Sioag Kie bagaikan kerbau gila. Serangan yang dahsyat dibarengi dengan auara tertawa yang seram dan mendirikan bulu kuduk membuat tampang gembong iblis itu kelihatan menakutkan.

Han Siong Kie mendengus dingin, begitu musuh bergerak maju serentak diapun mengayunkan jari tangannya kedepan, serentetan desingan angin tajam segera memancar ke tubuh musuh.

Wi Ik beng tak menyangka kalau si anak muda itu akan menyerang dengan serangan jari tangan, ia terkena dan menjerit kesakitan, tubuhnya yang sedang menerjang kemuka segera terhenti ditengah jalan, kemudian mundur dengan sempoyongan, darah segar muncrat keluar membasahi separuh tubuhnya yang kekar.

Untung Han Siong Kie ada niat untuk menghukum penghianat perguruan ini menurut peraturan perguruan, maka dalam melancarkan serangan dia masih mengira-ngira, meski sampai melukai namun tidak sampai mencabut nyawanya, andaikata bukan begitu dengan kedahsyatan dari ilmu jari Tong kim ci, niscaya sedari tadi dada gembong iblis itu sudah berlubang.

Kelihayan dari pemuda itu makin menakutkan hati orang- orang yang berada dalam lingkaran kepungan, keringat dingin membasahi tubuh mereka, bahkan ada pula yang ketakutan sampai terkencing-kencing.

Menggunakan kesempatan itu, lima orang kakek berjubah sutera memburu maju ketengah gelanggang dan memberi hormat kepada Han Siong Kie seraya berkata: "Tecu berlima memberi hormat dan salam bagi kesehatan ciangbUnjin"

"Tianglo berlima tak usah banyak adat" tegur Han Siong Kie sambil memutar separuh badannya.

Disaat si anak muda itu sedang putar badan, wi It beng telah menggunakan kesempatan itu untuk kabur, tiba-tiba ia melompat ke belakang dan kabur ke dalam ruang tengah.

Sudah tentu Han Siong Kie tak sudi melepaskan musuhnya dengan begitu saja, ia menjejak kakinya dan mengejar ke dalam.

Ketika ia berhasil mengejar sampai kedalam ruangan itu, wi It beng berhasil mencapai tepi meja sembahyangan dan jari tangannya telah menempel diatas sebuah ukiran bunga botan yang berada diatas dinding, katanya sambil menyeringai seram:

"Heeehhh . .heeehhh . . heeehhh bocah keparat, kau tak usah keburu merasa bangga, sekaranglah saat kematianmu sudah tiba"

Baru saja menyelesaikan kata-katanya, delapan orang tianglo yang berada diarena telah menyerbu pula ke dalam ruangan itu.

Wi Ik beng tertawa semakin seram, ia sampai terkekeh kekeh karena girang, kembali jengeknya: "Bagus... bagus sekali Memang lebih pantas kalau kalian mampus menjadi satu, hingga dalam perjalanan menuju keakherat nanti kamu semua tak usah merasa kesepian"

Mula-mula Han Siong Kie agak tertegun, sebab ia tak mengerti apa yang dimaksudkan, tapi sebagai seorang pemuda yang cerdik, dengan cepat dapat diketahui olehnya akan apa yang dimaksudkan lawan, anak muda itu segera tertawa pula terbahak-bahak.

"Haahh haaah haaah Wi Ik beng sayang apa yang kau harapkan kembali akan sia-sia belaka, kau harus menghadapi kembali kenyataan yang akan mengecewakan dirimu, Tidak percaya? Silahkan saja untuk mencobanya sendiri"

Paras muka Wi Ik beng berobah hebat, ia memencet tombol rahasia itu kuat-kuat namun tiada sesuatu apapun yang tejadi, ruangan tersebut masih utuh seperti sedia kala.

Sekarang dia baru percaya bahwa alat rahasianya sudah tak berfungsi lagi, kenyataan ini membuat wajahnya semakin pucat, otot-otot hijaunya pada menongol keluar, keringat sebesar kacang kedelai membasahi seluruh jidat dan badannya, dalam keadaan seperti ini dia hanya bisa memandang musuhnya dengan mata terbelalak.

"Engkau merasa tercengang bukan, apa sebabnya alat-alat rahasiamu mendadak jadi barang rongsokan yang tidak berfungsi lagi?" jengek Han Siong Kle sinis.

Wi Ik beng tertawa seram tiba-tiba dia mengundurkan diri dari ruangan itu lalu mengambil sebuah benda bulat merah sebesar kepalan dari sakunya, lalu sambil tertawa seram katanya.

"Heeehhh . . heeehhh . . heeehhh alat rahasia itu boleh tak berfungsi juga tak mengapa. aku toh masih bisa mengandalkan keampuhan dari peluru sakti Hong thian pek lek tan, (bahan peledak penghancur langit) Hemm hemm jika peluru ini sudah kulemparkan kemuka, sekalipun malaikat yang sedang kuhadapi juga jangan harap bisa lolos dalam keadaan hidup haahh haahhh.”

Kali ini baik Han Siong Kie maupun ke delapan orang tianglo itu tak berani bergerak secara gegabah, mereka tertegun dan berdiri di tempat, sebab mereka cukup mengenal apa yang dinamaksn peluru sakti tersebut, jika sampai diledakkan niscaya tak seorangpun diantara mereka dapat lolos dari situ dengaa selamat.

Kejadian ini memang cukup keji dan di luar dagaan mereka, siapa yang menduga kalau gembong iblis itu telah mempersiapkan benda peledak yang bisa digunakan untuk menyelamatkan jiwanya itu?

Wi Ik beng telah bersikap jumawa lagi aeperti semula, sebab ia cukup mengetahui keampuhan benda yang berada ditangannya itu ia coba menggertak dengan pura-pura akan melemparkan benda itu ke depan, betul juga! Han Siong Kie serta ke delapan orang tianglo itu serta merta ikut mundur selangkah ke belakang.

Pelbagai ingatan lantas berkecamuk dalam benak Han Siong Kie, dia berusaha untuk menemukan selusin akal yang bisa digunakan untuk mengatasi kesulitan itu, tapi usahanya itu tidak mendatangkan apa-apa.

Ia cukup mengetahui tentang kemampuan yang dimilikinya sekarang tapi secepatnya ia bertindak tak mungkia bisa mencegah lawannya untuk tidak melemparkan benda peledak Hong thian pek-lek tan tarsebut apa lagi ia cukup mengenali kedahsyatan dari peluru itu sedikit saja tersentuh benda keras segera akan meledak dahsyat.

Dengan kapandaian yang dimiliki Han Siong Kie sekarang kemungkinan besar ia dapat menyelamatkan diri dengan selamat tapi bagaimana dangan kedelapaa orang tianglo-nya? Apakah mereka harus dikorbankan begitu saja dengan sia-sia? Suasana jadi hening sepi dan tak kedengaran sedikit suara pun tapi justru dibalik keheningan itu terasalah hawa pembunuh yang sangat tebal menyelimuti seluruh ruangan.

Kini kaselamatan mereka bersembilan telah berada di cengkeraman Wi Ik beng asal orang itu melemparkan benda peledaknya maka berarti pula habis sudah riwayat mereka.

Delapan orang tianglo itu hanya bisa menggeram menahan amarah yang berkobar namun mereka tak dapat berbuat apa- apa lagi kecuali menghela napas panjang.

Wi Ik beng kembali tertawa seram katanya: "Manusia bermuka dingin bila engkau bersedia untuk

menyerahkan lencana mustika Ok kiu cu pay tersebut

kepadaku, maka aku pun barsedia pula untuk mengampuni jiwamu!”

”Jangan mimpi!” tukas Han Siong Kie tanpa berpikir panjang.

"Hehhh heeehhh heeehhh jadi kau lebih suka mampus menjadi abu..?” kembali gembong iblis itu mengejek.

"Kami mati adalah gugur demi perguruan, sedang kau sepanjang masa kau akan dikenal orang sebagai manusia yang paling berdosa!”

“Haaaahhh haaahhh haaah, kau tak usah mencoba untuk menakut-nakuti aku dengan ancaman semacam itu" kata Wi Ik beng sambil tertawa seram, ”aku tak akan perduli mau bernama busuk atau dicaci maki orang, pokoknya sekarang mati hidup ada ditanganmu sendiri”

”Murid pengkhianat!” bentak Han Sion Kie dengan marah, sekali lagi kuberitahukan kepadamu, tak nanti kami akan penuhi permintaanmu itu”

Sepasang mata elang Wi Ik beng berputar kesana kemari, akhirnya ia tertawa seram, “Baiklah kalau toh keputusan kalian adalah demikian akan kuberi kematian yang mengerikan kepada kalian semua” katanya, “tapi sebelum kematian menyelesaikan riwayat hidupua, akan kupertunjukkan lebih dahulu suatu atraksi yang menarik hati”

Ia berhenti sebentar lalu berseru keras” ”Pelindung hukum kiri dan kanan, cepat kemari!”

Dua sosok bayangan manusia munculkan diri dari belakang ruangan itu dan kemudian berdiri di kedua belah sisi Wi Ik beng, dia adalah dua orang manusia aneh yang berkerudung yang satu berbadan hitam dan yang lain berbadan putih.

Agak tercengang delapan orang tianglo itu menyaksikan kemunculan dari sepasang manusia aneh itu sebab sepanjang pengetahuan mereka belum pernah dalam perguruan mereka punya sepasang pelindung hukum yang berbentuk seaneh itu,

Berbeda dengan Han Siong Kie, dia kenal siapakah sepasang manusia berkerudung hitam dan putih itu maka ketika menyaksikan kemunculan kedua orang itu darahnya langsung mendidih, sinar matanya memancarkan cahaya yang menggidikkan hati tak tahan lagi ia mendengus dingin.

Kiranya dua orang manusia aneh ini tak lain adalah Hek pek siang yau sepasang siluman hitam dan putih yang tiba-tiba lenyap jejaknya sewaktu berada dibukit Tay huang san-

Tentu saja tak pernah terduga olehnya bahwa Hek pek siang yau yang sangat lihay itu telah bersedia menjadi pelindung hukum kiri dan kanan dari Wi It beng.

Sementara itu dengan suara yang amat bangga gembong iblis she Wi itu sudah berkata:

"Tentunya kalian semua sudah pernah mendengar tentang Hek pek siang yau sepasang siluman putih hitam yang tersohor namanya itu bukan? Heehh... heehh.. heehh.. kedua orang inilah orangnya" Meskipun sudah sekianpuluh tahun ke delapan orang tianglo itu berdiam diwilayah Thian lam mereka cukup mengenal siapakah Hek pek siang yau yang pernah menyapu dataran Tionggoan pada lima puluh tahun berselang itu, bisa dibayangkan betapa terperanjatnya mereka setelah mengetahui bahwa sepasang pelindung hukumnya adalah gembong iblis tersebut.

Dan sekarang Wi It beng ternyata dapat menundukkan dua orang iblis itu serta menjadikannya sebagai pelindung hukum, kejadian ini boleh dibilang sulit untuk dipercaya, bila kenyataan tidak terpapar di depan mata.

Napsu membunuh telah menyelimuti seluruh wajah Han Siong Kie, pada saat ini dia hanya menginginkan sesuatu yakni menyerang dua orang siluman itu serta membacoknya sampai mampus.

Waktu itu Wi Ik beng masih mengangkat tinggi-tinggi bahan peledak Hong thian pek lek tan itu, sementara sepasang matanya mengawasi setiap orang yang berada dalam ruangan itu tanpa berkedip. kewaspadaannya sedikitpun tidak mengendor karena kehadiran dua orang pelindung hukumnya.

"Harap pelindung hukum berdua segera menghukum mati semua penghianat perguruan yang berhasil kabur dari penjara bawah tanah dan kini berada diluar lapangan itu" demikian ia memerintahkan.

Ssepasang mata Han Siong Kie memancarkan sinar berapi- api, hampir saja biji matanya melotot keluar karena marah, dia telah bersiap sedia untuk mengorbankan jiwanya sendiri untuk beradu jiwa dengan orang-orang itu.

Sebab ia cukup memahami betapa lihaynya sepasang siluman hitam dan putih, dengan kelihayan mereka bukan suatu pekerjaan yang terlampau sulit baginya untuk membantai seratus dua ratus orang jago-jago berilmu biasa. atau lebih mendekati sebagai pekerjaan yang terlampau sepele.

"Terima perintah" sementara itu Hek pek siang yau telah menyahut, menyusul kemudian terdengar jeritan kaget menggema memecahkan kesunyian dalam ruangan itu

Apa yang terjadi? Terlihatlah Hek pek siang yau dengan seorang dari kiri yang lain dari sebelah kanan dengan suatu gerakan secepat kilat mencengkeram lengan Wi It beng kemudian entah dengan cara apa tahu-tahu bahan peledak Hong thian pek lek tan itu sudah kena dirampas oleh siluman hitam.

Kejadian itu sama sekali diluar dugaan dan tak pernah terduga lebih dahulu, bukan Han Siong Kle saja yang dibuat kaget dan tak habis mengerti, delapan orang tianglo itupun dibikin termangu-mangu sampai tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Paras muka Wi It beng telah berubah jadi pucat seperti mayat, dengan suara agak gemetar ia membentak:

"Eeh..apa maksud kalian berdua dengan perbuatan ini?" Siluman putih segera menengadah dan tertawa terbahak-

bahak.

"Haaah haaah haaahh Wi Ik beng, kau ini terhitung manusia macam apa? Berani benar menjadikan kami berdua sebagai pelindung hukummu? Haaah haaah haaahh tahukah engkau, mengapa kami berdua datang kesini?"

Wi It beng berusaha untuk meronta dan melepaskan diri dari cengkeraman kedua orang itu, tapi tak berhasil, akhirnya ia menyerah kalah, tanyanya dengan lirih: "Apa maksud kalian berdua datang kemari?"

"Membersihkan perguruan dari unsur-unsur manusia penghianat semacam dirimu ini" seperti kena disambar geledek disiang hari belong, wi It beng berdiri terbelalak dengan mulut melongo dan keringat dingin membasahi jidatnya, untuk sesaat dia tidak mampu berkata apa- apa.

Delapan orang tianglo itupun terkejut bercampur keheranan, mereka tak memahami dengan apa yang telah di katakan Hek pek siang yau, membersihkan perguruan? Sedari kapan dua orang siluman yang bernama besar ini menjadi anak murid Thian lam bun?

Hanya Han Siong Kle seorang yang memahami kejadian itu, mesti demikian dia sendiripun merasa kaget bercampur tercengang sebab dia hanya tahu bahwa Hek pek siang yau tiba-tiba lenyap tak berbekas kemudian mereka muncul di istana Huan mo kiong sebagai pelindung hukum tapi secara tiba-tiba mereka bertindak sebaliknya lagi apa gerangan yang terselip dibalik segala sesUatunya ini?

Dalam pada itu siluman hitam telah berkata kepada diri anak muda itu.

"Ciangbunjin silahkan memberi perintah kepada kami apa yang harus kami lakukan terhadap penghianat ini?"

Han Siong Kie agak ragu-ragu sejenak, tapi akhirnya ia berkata: "Totok lebih dahulu jalan darahnya"

Wi It beng betul- betul mati kutunya, sekarang ia baru gemetar keras seperti orang yang sakit demam keringat mengucur keluar seperti hujan, matanya melotot besar dan darah kental sempat mengucur keluar dari kelopak matanya, wajah yang menyeringai mengerikan dapat menunjukkan bagaimanakah perasaan hatinya pada saat ini.

Delapan orang tianglo hanya dapat berdiri pula disisi ruangan dengan mata terbelalak dan tubuh kaku seperti patung, mereka benar-benar tak dapat menyelami kemisteriusan dari ciangbUn siau suhengnya ini. Sementara semua orang masih termenung, sepasang siluman hitam dan putih telah berkata:

"Kami akan melaksanakan perintah dengan sebaik-baiknya"

Dengan suatu totokan kilat, kedua orang itu lantas menghajar beberapa buah hiat-to penting disekujur badan Wi Ik beng, bekas ketua cabang perkumpulan Thian che kau untuk wilayah Thian lam ini segera menjerit tertahan dan roboh terkulai diatas tanah.

"Untuk sementara waktu letakkan saja tubuhnya disana" perintah Han Siong Kie sambil menunjuk kebawah sebuah meja sembahyangan yang berada dihadapannya.

Siluman hitam segera mengangkat tubuh Wi Ik beng yang sudah tak dapat berkutik akibat pengaruh totokan itu kedalam ruangan dan meletakkannya diatas lantai, setelah itu barulah bersama siluman putih jatuhkan diri berlutut didepan Han Siong Kie, katanya:

"Ciangbunjin, ampunilah kesalahan kami berdua yang telah berlalu tanpa memberi kabar"

"Bangun" tukas Han Siong Kie sambil ulapkan tangannya, "apa yang sebetulnya telah terjadi?"

Setelah memberi hormat, sepasang siluman hitam putih itu baru bangkit berdiri, kata siluman putih:

"Waktu itu, ketika tecu berdua mendapat perintah untuk menanti dibawah bukit Tay huang san, secara tiba-tiba telah menemukan jejak dari seorang musuh besar kami yang tempo hari berhasil melepaskan diri dari jaringan kami berdua."

"Maksudmu, musuh besar yang lolos dari jaringan kalian pada lima puluh tahun berselang?"

"Benar" siluman putih mengangguk tanda membenarkan "Siapakah orang itu??" "Hun si Mo ong, Raja iblis pengacau jagad"

Han Siong Kie agak terkejut, ia cukup mengenal siapakah Hun si Mo ong itu, sebab dia tak lain adalah gurunya Im yang siang sat (sepasang malaikat hawa dingin dan panas) bukan saja ilmu silatnya sangat tinggi sehingga di segani baik oleh jago-jago dari golongan putih maupun golongan hitam, bahkan ia pernah berhutang budi juga kepadanya, sebab tanpa bantuan dari orang itu, niscaya ia sudah mampus ditangan wi it beng.

Yang satu malaikat hawa panas Kho su khi sampai kini sudah delapan belas tahun lamanya tersekap dalam benteng maut, sudah pasti Hun si Mo ong dan malaikat hawa dingin akan berdaya upaya untuk menyerbu ke benteng maut serta menyelamatkan jiwa malaikat hawa panas.

Itu berarti pula kemungkinan besar setiap saat Hun si mo ong bakal munculkan diri disekitar benteng maut itu.

Namun ia tidak memberi komentar apa-apa terhadap dua orang siluman itu, hanya tanyanya:

"Bagaimana selanjutnya?"

"Karena besar sekali hasrat kami berdua untuk membalas dendam maka tanpa meninggalkan pesan kami segera melakukan pengejaran, dalam pertempuran yang kemudian terjadi kedudukan kami seimbang meski sudah bergebrak ratusan jurus belum juga bisa ditentukan siapa yang menang, siapa kalah, akhirnya Hun si Mo ong tidak sabaran lagi untuk melayani kami lebih lama, tiba-tiba ia tinggalkan kami berdua dan kabur dari sana. sudah tentu kami berdua tak bisa melepaskan dirinya dengan begitu saja, tiga hari sudah kami saling kejar mengejar akhirnya bukan saja gagal untuk membalas dendam, jejak dari ciangbunjinpun tidak berhasil kami temukan lagi..."

Han Siong Kie anggukkan kepalanya berulang kali. "Selanjutnya?" ia bertanya lebih jauh. Siluman putih Iantas menyambung kata-katanya lebih jauh: "Kemudian secara tiba-tiba kami telah berjumpa dengan

perempuan berkerudung yang pernah memberi peringatan

kepada kita sewaktu berada dimulut lembah kematian"

Agak terkejut pemuda itu setelah mendengar cerita itu, dia tahu perempuan berkerudung yang dimaksudkan siluman putih itu pastilah orarg yang kehilangan sukma, perempuan misterius itu.

setelah berhenti sejenak siluman putih telah berkata kembali:

"Perempuan berkerudung itu memerintahkan tecu berdua untuk berangkat ke wilayah Thian lam, serta berusaha memasuki istana Huan mo kiong dan menjadi musuh dalam selimut di situ, katanya dengan berbuat demikian kemungkinan besar bencana yang menimpa perguruan kami bisa terhindari, selain daripada itu diapun berpesan kepada tecu berdua agar memperhatikan mana ciangbunjin yang sesungguhnya dan mana yang gadungan.."

"Berdasarkan apa kalian bisa mengetahui kalau aku adalah ciangbunjinmu yang asli??"

"Dari ilmu sinkang serta logat berbicara ciangbunjin, setelah itu meski ada orang pandai menyaru dan ilmu kepandaian menyarunya sudah mencapai tingkatan yang tinggi, pastilah diantara kesempurnaan terdapat pula titik kelemahan, asal diperhatikan dengan seksama tak sulit untuk mengetahuinya."

"Yang paling penting lagi, mereka yang mengenakan topeng kulit manusia niscaya wajahnya akan kaku dan sedikitpun tak berperasaan"

"Ehmm, masuk akal" kata Han Siong Kie sambil menganggukkan kepalanya berulang kali. "Sebab itulah tecu berdua mohon pengampunan dari Ciangbunjin."

"Kalian berdua sangat berjasa dalam peristiwa ini, dan apalagi yang harus dihukum"

"Kalau begitu tecu berdua mengucapkan banyak terima kasih atas kemurahan hati ciangbunjin" seru dua orang siluman itu cepat.

Han Siong Kie lantas memperkenalkan ke delapan tianglonya kepada dua orang siluman itu, kemudian secara ringkas ia menceritakan pula bagaimana kisahnya sehingga Hek pek siang yau masuk menjadi anggota perguruan Thian lam bun.

Pada saat itulah seorang kakek gemuk. cebol dan berkepala kecil munculkan diri dari ruang belakang.

Cepat-cepat Han Siong Kie menjura seraya berkata: "Engkoh tua, banyak terima kasih atas bantuanmu"

-000dw000-

BAB 75

"TAK USAH... TAK USAH" seru Hong tee sian sambil goyangkan tangannya berulang kali, "andaikata Hek pek siang yau tidak turun tangan memusnahkan para penjaga yang meronda diistana bawah tanah, aku si tua bangka juga belum tentu bisa turun tangan, untunglah urusan dapat terselesaikan dengan baik dan akupun harus buru-buru berangkat tinggalkan tempat ini"

"Engkoh tua, kenapa kau musti terburu-buru untuk berangkat pulang?Beberapa hari lagi siaute juga akan berangkat kembali ke daratan Tionggoan, apa salahnya kalau kita melakukan perjalanan bersama?" "Kau masih ada banyak persoalan yang musti diselesaikan lebih dulu, aku bisa tak betah untuk menunggu terlampau lama, biaer aku berangkat saja lebih dulu"

"Tapi paling sedikit engkoh tua harus minum secawan arak lebih dulu sebelum berangkat, tidak keberatan bukan?"

“Tak usah..tak usah! Di perkampungan Oh-bau san ceng sudah tersedia segudang arak wangi. Tee heng sian si tua bangka itu masih menunggu kehadiranku disitu. biar ku minum sampai puas disana saja, selamat tinggal !”

Tidak menunggu jawaban lagi, dia lantas ngeloyor keluar dari ruangan itu dan tahu-tahu bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas,

Han Siong Kie serta ke delapan orang tianglonya ingin menghantar keberangkatannya tapi ketika mereka tiba diluar ruangan, bayangan sicebol itu sudah tak kelihatan lagi.

Demikianlah setelah suasana menjadi reda kembali, dalam istana Huan mo kiong diselenggarakan pertemuan besar para pemuka partai, dalam pertemuan inilah diputuskan hukuman pancung kepala bagi Wi Ik beng yang telah mengkhianati perguruan serta melakukan tindak kekejian terhadap sesama anggota perguruan, selain daripada itu para pengikutnya juga dijatuhi hukuman setimpal dengan enteng beratnya perbuatan mereka bagi yang berat kesalahannya diusir dari perguruan, sementara yang enteng kesalahannya diwajibkan membuat pahala untuk menebus dosa-dosanya.

Maka setelah hukuman dilaksanakan suasana di istana Huan mo kiong pun pulih menjadi tenang kembali.

Hari ketiga secara resmi Han Siong Kie dilantik menjadi ketua perguruan Thian lam bun, dia menghapus gelarnya sebagai Tee kun atau kaisar itu dan mewajibkan anak muridnya menyebut ciangbunjin saja; Selain daripada itu julukan seperti ciangkun atau jendral serta pengawal istana juga dihapus, nama Goan lo wan tetap dipertahankan sedangkan nama-nama untuk istana Sing si tian, Wi gi tian, Bu si tian dan Sian ci tian masih tetap dipertahankan hanya penjabat penjabat saja yang diganti.

Hek pek siang yau pun secara resmi diangkat menjadi pelindung hukum kiri dan kanan.

Untuk memeriahkan peritiwa ini dalam istana Huan mo kiong diselenggarakan pesta besar besaran selama tiga hari tiga malam.

Ketika pesta ditntup pada malam yang ketiga Han Siong Kie lantas mengajak To It hui pimpinan dari para tianglo itu untuk menjabat ketua selama dirinya tak berada disitu selain daripada itu memerintahkan pula para ahli alat rahasia untuk membetulkan kembali semua alat rahasia yang telah rusak.

Menantikan sianak muda itu meresmikan semua rencananya maka To It huipun berkata:

"Ciangbunjin, apakah kedua orang pelindung hukum akan turut serta didalam perjalanan ini?"

Tentu saja Han Siong Kie mengetahui apa yang sedang dipikirkan oleh kepala tianglonya ini, dia lantas tersenyum.

"Apakah tianglo kuatir bila pihak Thian che kau tak puas dengan peristiwa ini serta melakukan penyerangan kembati?" ia bertanya.

"Begitulah yang tecu kuatirkan"

"Kedua orang pelindung hukum akan turut serta dengan diriku untuk mengunjungi bukit Tay teng san dalam tiga sampai lima hari tentu akan balik lagi kemari"

"Dan apakah ciangbunjin harus kembali juga kedaratan Tionggoan" "Benar, sebab aku masih ada dendam sakit hati yang belum terbalas, budi dan dendan harus kuperhatikan dulu sampai jelas sebelum dapat kembali lagi kesini"

"Jika demikian adanya, kedua orang pelindung hukum tak perlu kembali lagi, ditengah jalan lebih penting lagi kalau mereka melindungi keselamatan ciangbunjin dalam usaha pembalasan dendam ini"

Han Siong Kie tersenyum dan gelengkan kepalanya berulang kali.

"Tak usah" katanya, "keselamatan istana kita jauh lebih penting daripada soal-soal yang lain."

"Bila ciangbunjin membutuhkan bantuan kami, kirim saja perintahnya kemari, serentak kami akan.."

Han Siong Kie berpikir sebentar lalu menukas:

"Jika aku membutuhkan bantuan kalian, akan kuminta pertolongan dari pihak Kay pang untuk mengirim berita lewat merpati pos, dan perintah itu akan datang dari kantor cabang perkumpulan Kay pang dikota Niu kan.."

selesai mengatur segala sesuatunya, dibawah hantaran dari segenap anak murid perguruan Thian lam bun, berangkatlah Han Siong Kie dan Hek pek siang yau tinggalkan istana Huan mo kiong

-000dw000-

Bukit Tay keng san.

Luasnya mencapai beratus-ratus li pepohonan tumbuh sangat lebat, tanah perbukitan berlapis-lapis bukan saja banyak tebing yang curam serta jurang yang dalamnya beratus-ratus kaki, batuan disitupun terdiri dari batu-batu karang yang tajam dan licin, tak nampak bayangan manusiapun yang berlalu lalang disitu. Pagi itu ketika fajar baru menyingsing dan sang surya memancarkan sinarnya keempat penjuru, tiba-tiba nampaklah tiga sosok bayangan manusia berkelebat lewat dimulut tanah perbukitan tersebut.

Mereka bukan lain adalah Han Siong Kie ketua dari perguruan Thian lam bun yang diiringi oleh kedua pelindung hukumnya siluman hitam dan siluman putih.

Ketika tiba disebuah lembah Han Siong Kie lantas menunjuk kearah depan seraya berkata:

"Menurut keterangan dari penduduk pribumi katanya disinilah letak mulut masuk menuju kebukit Tay keng san, Bagaimana pendapat kalian berdua?"

"Tecu berpendapat demikian pula" jawab siluman hitam dengan hormat. siluman putih yang berada disisinya lantas bertanya:

"Ciangbunjin bolehkah kami bertanya apa maksud serta tujuan ciangbunjin berkunjung ke tempat segersang dan sesunyi ini?"

Han Siong Kie tersenyum misterius:

"Pokoknya kedatanganku kemari adalah demi kebaikan kalian berdua, bukankah sudah puluhan tahun lamanya kalian berharap agar apa yang selama ini dicita-citakan bisa tercapai?" katanya.

Sepasang siluman hitam dan putih saling berpandangan sekejap, mereka tampak termangu dan tidak mengerti apa yang sedang di maksudkan ketuanya.

Melihat kedua orang pelindung hukumnya masih tidak mengerti, Han Siong Kie berkata lagi:

"Bukankah kalian berdua pernah berkata bila wajah kalian dapat pulih kembali menjadi wujud yang sebenarnya maka kalian berdua akan segera menikah dan menjadi suami istri?" "Benar" sahut siluman hitam "tetapi ..."

"Coba jawab dahulu, siapakah didunia ini yang dapat memunahkan daya racun "Gi beng tok ko” yang bersarang di tubuh kalian berdua itu?" kembali pemuda itu menukas.

“Ban tok cousu!"

”Nah itulah dia, kalau begitu tak sia-sia perjalanan kita kali ini !”

Jawaban tersebut segera mendebarkan hati Hek pek siang yau, dengan setengah ber-emosi mereka berteriak:

”Jadi Ban tok cousu masih hidup di dunia ini?”

”Masihkah hidup sampai detik ini belum dapat kupastikan, tapi semoga saja dia masih hidup!”

Perasaan yang semula jadi gembira sekarang terpadam lagi ibarat terguyur air dingin, dengan masgul siluman hitam berbisik:

”Apakah ciangbunjin berhasil menemukan suatu titik terang maka membawa kami berdua berkunjung kemari?”

“Benar, aku dengar meski Ban tok cousu tak mempunyai ahli waris yang berkelana dalam dunia persilatan akan tetapi kemungkinan besar dia masih hidup dalam telaga racun yang berada di lembah hitam bukit Tay keng san!"

"Telaga racun dilembah hitam?” "Benar! Telaga racun dilembah hitam!”

"Menurut apa yang kami dengar katanya telaga racun adalah suatu telaga yang berisi air racun baik manusia maupun binatang yang terkena air telaga itu seketika akan mati dalam keadaan mengerikao, apakah..”

"Bagaimanakah keadaan yan sesungguhnya tak usah kita bicarakan dulu, mari kita cari tempat itu! Setelah tiba disana persoalan lain baru kita bicarakan lagi!” Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh berangkatlah ketiga orang itu melanjutkan perjalanannya menyelusuri tanah liar yang masih lebat dengan pepohonan serta semak belukar dan agaknya belum pernah dijamah oleh manusia.

Sudah tiga hari mereka menjelajahi setiap jengkal tanah yang berada disekitar sana namun lembah hitam yang dicari- cari belum juga ditemukan.

Telaga racun terletak didalam lembah hitam bila lembah hitam itu tidak berhasil ditemukan tentu saja telaga racunnva tak dapat ditemukan pula sekalipun akhirnya telaga racun bisa ditemukan belum tentu Ban tok Cou-su itu masih hidup disana, maka pelbagai ingatan berkecamuk dalam benak ke tiga orang itu.

Han Siong Kie tentu saja menyadari pula bahwa harapan untuk berhasil dengan perjalanan kali ini tidak besar tapi untuk mewujudkan janjinya ia tak mau berpikir panjang, baginya sampai dulu di tempat tujuan kemudian baru membicarakan soal-soal lain.

Sepasang siluman hitam putih jauh lebih gelisah lagi, sebab berhasil atau tidaknya mereka menemukan Ban tok cousu sangat mempengaruhi pula kehidupan serta kebahagiaan mereka dihari kemudian.

Waktu itu mereka berhenti diatas sebuah tanah perbukitan yang berbatu cadas yang bertumbuhan sangat jarang.

Tiba-tiba serentetan suara jeritan yang memilukan hati dan bersuara dalam secara lapat-lapat berkumandang dari bawah tebing sana, bahkan berasal tak jauh dari sekitar situ.

Tiga orang itu merasa sangat terperanjat, Han Siong Kie segera menggerakkan tubuhnya menuruni tebing itu dengan gerakan yang cepat, kurang lebih lima puluh kaki kemudian muncullah sebuah tebing yang menjorok kedalam hingga membentuk sebuah celah selebar puluhan kaki, karena adanya celah itu maka tebing karang itupun terbagi menjadi dua bagian hingga mencapai kaki tebing tersebut.

Oleh sebab disepanjang celahan tebing itu tumbuh pepohonan yang lebat, sulitlah bagi orang untuk mengetahui keadaan itu sebelum mereka berada dekat sekali dengan celah- celah tadi.

Han Siong Kie coba melongok ke bawah, tapi dalamnya celah itu sukar diukur dan lagi yang tertampakpun hanya kegelapan yang pekat, meski ketajaman anak muda itu luar biasa diapun hanya dapat melihat sedikit pepohonan secara lapat-lapat.

sementara itu sepasang siluman hitam dan putih telah tiba pula disini, mereka ikut melongok kebawah tapi apa yang kemudian tertampak membuat hati merasa jadi bergidik,

"Ciangbunjin, apa yang berhasil kau temukah?" siluman hitam segera bertanya.

Han Siong Kie tidak menjawab pertanyaan itu, agaknya ia sedang memikirkan suatu persoalan yang pelik.

"Mungkinkah jerit kesakitan yang memilukan hati itu berasal dari dasar lembah di balik celah tebing karang itu? " terdengar siluman putih bergumam seorang diri.

Ketika mendengar ucapan tentang lembah didasar celah tebing, tiba-tiba satu ingatan terlintas dalam benak Han Siong Kie, serta merta ia berteriak kegirangan: "Horeee, disinilah letak lembah hitam itu"

Sepasang siluman hitam dan putih tertegun, tapi dengan cepat mereka memahami pula teriakan dari ketuanya.

Sebagaimana namanya Hek kok atau lembah hitam, lembah tersebut tentulah bukan lembah biasa seperti lembah- lembah lainnya dan sekarang dibawah celah tebing karang itu terdapat sebuah lembah yang gelap gulita, karena letaknya yang terjepit diantara tebing-tebing karang dikedua belah sisinya, keadaan tersebut memang mirip sekali dengan nama lembah hitam itu, maka setelah memahami keadaan yang dihadapinya, semangat mereka tanpa terasa berkobar kembali.

Bila segala sesuatunya dapat berjalan dengan lancar, mereka berdua dapat memulihkan kembali raut wajah mereka yang sebenarnya sehingga apa yang sudah dicita-citakan selama puluhan tahun terwujud, bukan saja mereka berdua akan terlepas dari penderitaannya sebagai siluman aneh, kebahagian sudah berada diambang pintu. Terdengar Han Siong Kie berkata lagi:

"Bukan saja tempat ini adalah Lembah Hek kok yang sedang kita cari-cari, bahkan ada orang persilatan telah menyerbu ke tempat itu, dengarkan jeritan tadi, bukankah suara itu tampak berkumandang dari dekat tapi kedengarannya jauh, berat dan lirih? Pastilah suara itu berasal dari lembah Hek kok, hayo kita berangkat kesana dan coba memastikan apa yang sebenarnya sudah terjadi "

Ia lantas berangkat lebih dahulu menuruni tebing batu karang itu

Dengan gerakan cepat tiga orang itu berlarian menelusuri celah tebing itu hingga tiba dikaki tebing tersebut.

Dalam waktu singkat mereka sudah berada didasar tebing yang dimaksudkan, benar juga mereka temukan sebuah mulut lembah yang luasnya tak sampai sepuluh kaki.

Ketika mereka mencoba melongok kedalam, udara disitu sangat lembab dan gelap. pemandangan pada jarak lima puluh kaki sulit untuk dilihat dengan nyata.

Han Siong Kle menuding kearah bekas-bekas telapak kaki yang tertera nyata disekitar mulut lembah itu, lalu katanya:

"Coba, lihat Ada orang yang telah datang kemari mendahului kita, bahkan jumlahnya diatas sepuluh orang" "Menurut orang persilatan Lembah hitam telaga racun adalah daerah terlarang bagi setiap umat persilatan" ujar siluman putih dengan perasaan heran "aneh kenapa orang- orang itu berdatangan kemari? Masa mereka memcunyai hubungan dengan Ban tok cousu?"

"Keadaan pada saat ini kurang begitu jelas, lebih baik kita masuk dulu kedalam lembah" tukas Han Siong Kie sambil melarang siluman itu melanjutkan kata- katanya.

Seperti sukma-sukma gentayangan, tiga orang itu melanjutkan perjalanannya menelusuri lembah itu dengan cepat, enteng dan tidak menimbulkan suara.

Beberapa puluh tombak baru saja mereka lewati, tiba-tiba terdengar suara bentakan keras memecahkan kesunyian. "siapa disitu? Harap segera berhenti"

Berbareng dengan menggemanya bentakan itu, dua sosok bayangan manusia telah munculkan diri menghadang jalan pergi mereka.

Karena perjalanannya terhadang, tiga orang itupun menghentikan gerakan tubuhnya sambil mengawasi penghadang mereka itu

Dua orang itu adalah laki-laki berusia setengab baya yang bertubuh kekar, seorang bersenjata golok kepala setan ang besar sedangkan yang lain bersenjata ruyung sembilan

Ketika dua orang itu menyaksikan tamu yang munculkan diri adalah manusia aneh bertubuh putih dan hitam, mereka lantas menjerit kaget dan mundur beberapa langkah dengan hati berdebar.

Lama sekali mereka tertegun, akhirnya laki-laki bersenjata ruyung itu berkata setengah membentak.

"Dalam lembah ini sedang ada urusan, lebih baik kalian jangan melanjutkan perjalanan dan mundur saja dari tempat ini" Hek pek siang yau mendengus dingin tanpa mengucapkan sepatah katapun mereka menerjang kemuka dengan kecepatan kilat menyusul kemudian terdengar dua jeritan ngeri yang menyayat hati menggema memecahkan kesunyian, tahu-tahu dua orang laki-laki itu sudah mati konyol.

Han Siong Kie tak senang hati melihat kejadian anak buahnya, dengan dani berkerut ia lantas menegur:

"Mengapa kalian bunuh kedua orang itu sebelum menanyakan apa yang terjadi?"

Hek pek siang yau tak berani menjawab, mereka hanya tundukkan kepalanya rendah-rendah:

"Padahal kalau mereka tidak dibunuh, siapa tahu kalau sedikit keterangan berhasil kita korek dari mulutuya?" kembali Han Siong Kie berkata "coba lihat kesempatan yang baik telah kalian buang dengan begitu saja"

"Tecu berdua tahu salah, harap ciangbunjin suka mengampuni kesalahan kami ini" kata dua orang siluman itu segera.

"Hayo berangkat" seru anak mudaitu kemudian, maka merekapun melanjutkan perjalanan lagi.

Lembah itu panjang sekali, empat penjuru yang terlihat hanya dinding karang yang menjulang tinggi ke angkasa, apa yang tertampak dari bawah hanyalah setitik celah kecil belaka, dengan sendirinya tak ada sinar matahari yang bisa memancar kedasar lembah itu.

Udara disana jadi sangat lembab, banyak lumut hijau dan jamur yang tumbuh disana, bukan saja gelap menyeramkan, bahkan mendatangkan pula suasana yang menggidikkan hati.

Luas lembah itu yang terlebar hanya empat puluh kaki, sedangkan tempat yang tersempit mencapai tiga puluh kaki lebih. Dalam waktu singkat mereka sudah memasuki lembah itu sejauh tigali lebih, namun suasana masih tetap hening, tak sesosok manusiapun yang mereka jumpai. suatu ketika tiba- tiba Han Siong Kie memperlambat gerakan tubuhnya, lalu berbisik: "Kita sudah tiba ditelaga racun, coba lihatlah kedepan sana! Agaknya banyak orang bekumpul disana, kita harus bergerak dengan lebih berhati-hati lagi, sebelum melakukan sesuatu tindakan selidiki dahulu gerak-gerik beberapa orang itu!"

Hek pek siang yau tak berani membangkang, mereka pun memperlambat gerak majunya dan coba memperhatikan keadaan di depaan sana dengan seksama.

Benar juga, beberapa puluh kaki didepan sana, diantara kilapan cahaya yang terpantul dari permukaan air tampak bayangan manusia bergerak kian kemari. bahkan secara lapat- lapat terdengar pula suara pembicaraan manusia yang ramai.

Tanpa menimbulkan sedikit suara pun, dua orang itu mengikuti dibelakang Han Siong Kie menyusup kemuka serta mendekati tepi telaga itu.

Yang dimaksudkan telaga racun tak begitu luas lebarnya cuma mencapai setengah hektar, airnya berwarna hitam kebiru-biruan, ditengah telaga terpapar sebuah garis sinar yang berasal dari celah bukit nun diatas sana air yang berwarna hitam itu ber-riak kecil dan kelihatan mengerikan sekali. Ditepi telaga berkumpal belasan sosok bayangan manusia, mereka semua mengenakan jubah berwarna hitam, dari kejauhan tampak samar lukisan warna putih yang tersulamkan diatas dada.

Diam-diam Han Siong Kie merasa amat terperanjat sebab dandanan jubah hitam dengan sulaman putih diatas dadanya itu sangat dikenal olehnya itulah dandanan dari utusan khusus perkumpulan Thian che kau. ”Kurangajar, kembali berjumpa dengan orang orang Thian che kau ditempat ini" pikirnya kenbali dalam hati "aneh benar orang-orang itu, Mau apa mereka kirim orang ustuk mendatangi telaga racun yang berada di lembah hitam ini”

Salah seoreng diantara manusia-manusia berjubah hitam itu mempunyai sulaman matahari rembulan dan bintang diatas dadanya potongan badan orang itu sangat dikenal oleh Han Siong Kie sementara ia masih berpikir untuk mengingat kembali siapa gerangan orang ini kebetulan kakek itu berpaling kearahnya maka terlihatlab raut wajahnya yang pucat pias itu.

"Aaah.. Rupanya Tok kun Si dewa racun Yu Hua. Tak aneh kalau aku merasa kenal sekali dengan potongan tubuhnya"

Dewa racun Yu Hua sangat terkenal namanya dalam dunia persilatan karena pandai menggunakan pelbagai obat racun, ditinjau dari kehadirannya ditempat ini, bukanlah karena urusan biasa.

Tepat dibawah kaki Dewa racun Yu Hua menggeletak sesosok mayat yang separoh badannya telah menghitam karena hangus.

Kesunyian yang mencekam sekitar telaga racun itu segera dipecahkan oleh utusan khusus perkumpulan Thian che kau itu, terdengar ia berkata sambil menuding kearah mayat yang menghangus tadi.

"Yu tongcu, tampaknya obat mujarabmu tidak manjur, coba lihat kita sudah mengorbankan selembar jiwa lagi dengan percuma, aku lihat tugas kita kali ini. . ."

"Mana boleh kita tinggalkan tugas setengah jalan?" tukas Dewa racun Yu Hua dengan gelisah "Kaucu toh sudah menitahkan kepada kita agar berusaha dengan upaya apa pun untuk mendapatkan kitab beracun milik Bantok Coucu sebab hanya dengan memiliki kitab pusaka Tok keng itulah kita dapat menjagoi seluruh kolong langit tanpa tandingan" "Tapi benarkah Ban tok Cousu berdiam di dalam telaga racun ini? sekalipun ia benar-benar bermangkal disini, andaikata dia masih hidup bukankah kita. . ."

"Aaah, saudara It terlalu merisaukan hal yang bukan- bukan, andaikata Ban tok cousu benar-benar masih hidup dikolong langit, masa ia membiarkan kita merondai daerah kekuasaannya ini selama sehari semalam tanpa menunjukkan reaksi apapun?"

seorang tauto (hwesio yang pelihara rambut) yang berada disisinya tertawa seram, lalu katanya pula:

"Yu Tongcu, kau mendapat julukan sebagai Dewa racun, masakah masih belum berhasil kau temukan sifat racun yang terkandung dalam telaga racun ini?"

Utusan untuk perkumpulan Thian che kau dari marga It itu menyambung pula dari samping:

"Kalau toh obat pemunah yang dibuat Yu tongcu tidak menunjukkan kemanjurannya lagi..."

"Harap tenang, harap tenang lebih dulu Kalian jangan ribut sebelum waktunya" tukas Dewa racun Yu hua dengan cepat, dalam perjalanan kali ini siaute telah secara khusus membuat dua jenis obat anti racun kalau toh jenis pertama tidak manjur nah! Saudara itu harap maju kemari untuk mencobanya!”

Sambil berkata lantas menuding seorang pria berbaju berenang yang berdiri di samping.

Ketika dirinya ditunjuk laki-laki itu tak berani membantah sekali pun paras mukanya telah berubah jadi pucat seperti mayat dengan hati berdebar kerena ketakutan dia maju kedepan dan menghampiri dewa racun.

Dari sakunya Dewa racun Yu Hua ambil keluar sebuah botol porselen lalu mengeluarkan sejenis cairan berwarna merah dan dipoleskan keseluruh tubuh laki-laki itu. "Nah sekaraog engkau boleh segera terjun kedalam telaga" petintah Dewa racun Yu Hua kepada laki laki itu, ”setibanya dalam telaga ergkau harud memperhatikan keadaan di sekitarmu adakah gua atau pintu besi jikalau audah menemukan sesuatu jangan langsung masuk kedalam tapi cepatlah keluar dari permukaan dan laporkan apa yang dilihat setelah itu baru kita atur kembali rencana berikutnya"

Lelaki itu mengangguk dan perlahan-lahan mendekati tepi telaga sesudeb ragu-ragu sebentar akhirnya ia menjatuhkan kakinya coba dicelupkan kedalam air.

Semua perhatian dan sorot mata orang-orang itu dengan tegang dialihkan keatas wajah laki-laki itu suasana jadi hening dan sepi tampaknya semua gerak-gerik orang itu sudah menghisap perhatian mereka.

Han Siong Kie yang bersembunyi di tempat kegelapan pun merasa tegang sekarang ia baru tahu bahwa kedatangan rombongan tersebut adalah atas perintah Thian che kaucu dengan tujuan mengincar kitab racun peninggalan dari Ban tok cousu.

Padahal ilmu silat yang dimiliki Thian che kaucu sangat liehay dengan kemampuan yang dimilikinya sekarang pun telah cukup baginya untuk memimpin dunia persilatan andaikata kitab racun itu benar-benar berhasil ditemukan olehnya itu berarti dalam jagad saat itu tak seorang pun dapat menandingi kehebatannya lagi.

Tiba-tiba terdengar jeritan ngeri yang memilukan hati berkumandang memecahkan kesunyian suara itu menyeramkan bagi siapa saja yang mendengar sehingga bulu kuduk mereka tanpa terasa jadi bangun berdiri.

Laki-laki itu sudah terkapar ditepi telaga, sebelah kakinya sebatas lutut masih terbenam dalam air, tapi tubuhnya telah mengejang keras dan selembar jiwanya sudah melayang tinggalkan raganya. Peristiwa ini makin membuat suasana disana jadi menyeramkan, semua jago yang berada ditepi telaga cuma dapat saling berpandangan belaka, siapapun tak mampu bersuara.

Han Siong Kie sendiripun merasa bergidik sambil menjulurkan lidahnya ia berpikir dalam hati:

"Sungguh mengerikan.. tak nyana air telaga yang tampaknya tenang dan berwarna hitam itu sebetulnya mengandung racun dengan kadar yang sangat tinggi"

Utusan khusus perkumpulan Thian che kau yang tampaknya adalah pemimpin dari rombongan itu tiba-tiba buka suara serta bertanya dengan suara berat: "Yu Tongcu, apakah engkau masih mempunyai cara lain untuk dicoba?"

Dewa racun Yu Hua termenung lalu tundukkan kepalanya dan membungkam dalam seribu bahasa.

Tauto berambut panjang itu ikut menimbrung dengan wajah serius: "It beng, apakah kaucu mempunyai petunjuk lain?"

"Ada" Utusan khusus she It itu membenarkan-

Agaknya Dewa racun Yu Hua juga sudah kehabisan akal, mendengar pertanyaan itu ia lantas bertanya:

"Apa pesan dari kaucu?".

"Meledakkan lembah Hek kok dan menimbun telaga racun" "Menimbun telaga racun ?"

Beberapa orang jago itu termasuk pula dewa racun Yu Hua menjerit tertahan, agaknya mereka kurang percaya dengan apa yang didengar.

"Benar Meledakkan lembah ini dan menimbun telaga racun dengan tanah"

"Apa ...apakah.. cara ini tidak..." "Kenapa ?"

"Apakah tidak lebih baik kita tunda dulu pelaksanaan cara itu dan mencoba untuk mencari jalan lain??"

"Maksud kaucu, barang yang tak berhasil didapatkan lebih baik dimusnahkan dari muka bumi, daripada terjatuh ke tangan orang lain"

"Aaah, apakah pandangan itu tidak terlampau sempit? sudah puluhan tahun tempat ini lewat dalam keadaan sepi, tak seorang manusiapun berani mencari gara-gara dengan telaga racun. Menurut pendapatku dikolong langit dewasa ini mungkin tak seorang manusiapun dapat melawan  kedahsyatan dari racun itu"

"Yu tongcu, apakah engkau tidak merasa bahwa ucapanmu itu terlampau yakin akan sesuatu tanpa memikirkan yang lain?"

"Maksudmu?"

"Menurut apa yang aku It Tiong khi ketahui, dikolong langit dewasa ini masih ada seorang manusia yang tidak takut menghadapi pelbagai macam racun, kendatipun racun yang bagaimana kejipun"

"Aaah, masa iya? siapakah orang itu?" tanya Dewa racun Yu Hua dengan hati terperanjat.

"Aaah, Yu Tongcu ini benar-benar sudah lupa ataukah pura-pura menjadi seorang pelupa?" jengek It tiong khi. utusan khusus dari perkumpulan Thian che kau itu sambil tertawa dingin.

-000dw000-