Tengkorak Maut Jilid 34

 
Jilid 34

SETELAH hening beberapa saat pengemis dari selatan bertanya pula: "saudara cilik apa rencanamu selanjutnya?"

Han Siong Kie menghela napas panjang, sahutnya dengan wajah serius:

"Terpaksa aku harus berangkat ke Thian lam, semoga saja masih sempat untuk menghadang para tiang lo itu kembali ke sarang harimau"

".. sayang aku sipengemis tua sedang terluka, kalau tidak niscaya akan kubantu usahamu itu"

"Engkoh tua tak usah repot-repot, paling penting merawat dulu lukamu hingga sembuh" cepat sianak muda itu menampik

.

"Bagaimana kalau kupilih kan beberapa orang jago lihay dari perkumpulanku untuk menyertai perjalanan ini?"

"Tak usah.. tak usah Maksud baik engkoh tua biarlah kuterima dalam hati saja"

"Aaah, perkataan apaan itu? Budi kebaikanmu terhadap kay pang setinggi langit, aah, jemu untuk membicarakan soal budi, lebih baik tak usah dibicarakan lagi" "Engkoh tua aku bermaksud untuk segera melanjutkan perjalanan mumpung masih sempat untuk menyusul mereka"

"Ehm, begitupun ada baiknya, aku akan segera mengirim berita kilat kekantor- kantor cabang dan menyuruh mereka menghadang jalan pergi ketiga orang tiang lo itu"

"Terima kasih atas bantuan engkoh tua"

"Juga tentang jejak dari Hekpek siang yau, aku percaya tak lama kemudian berhasil ditemukan anak muridku, pasti akan kukirim kabar itu padamu secepatnya"

"Kalau begitu siaute mohon diri lebih dulu" ucap Han Siong Kie seraya bangkit berdiri

"Selain itu.?"

"Apakah engkoh tua ingin mengucapkan sesuatu lagi??" Pengemis dari selatan mengangguk.

"Kantor cabang kami di Nio kang meliputi daerah operasi sampai wilayah Thian lam, jika kau ada urusan minta saja bantuan dari mereka, pasti akan kupesan sendiri kepada toucunya untuk mengabarkan berita ini kepada anak buahnya, lencana bambu ini boleh kau terima, bila ada keperluan gunakanlah lencana ini sebagai tanda pengenal "

"Akan siaute ingat selalu dihati, baik-baiklah jaga diri engkoh tua" kata pemuda itu kemudian setelah menerima lencana bambu itu.

"Semoga kau sukses selalu" "Selamat tinggal"

Han Siong Kie telah meninggalkan markas besar kay pang di kuil Bu hao si dan melanjutkan perjalanannya menuju Thian lam.

Waktu itu fajar baru menyingsing, suara ayam berkokok memecahkan kesunyian dipagi itu. Bintang masih tersisa di langit, angin pagi yang dingin berhembus lewat menyegarkan badan, Han Siong Kie melakukan perjalanannya dengan kecepatan penuh.

Tiga li baru lewat, ketika secara tiba-tiba sesosok bayangan manusia diantara remang-remangnya cuaca orang itu menghadang jalan perginya.

Han Siong Kie merasa kaget dan mengerem gerak laju tubuhnya, tapi setelah mengetahui siapa yang berada dihadapannya ia berseru tertahan-"Aaah nona.. rupanya kau"

Tak asing lagi orang itu bagi Han Siong Kie sebab dia tak lain adalah orang yang ada maksud.

"Oh masih kenal dengan aku?" sapa orang yang ada maksud sambil tertawa aneh.

"Ada urusan apa nona berdiri disini" "Menunggu kau"

"Menunggu aku" bisik pemuda itu sambil mundur selangkah karena tercengang, "dari mana nona bisa tahu kalau aku berada disini dan akan lewati jalan ini?"

-00000d0w0000

BAB 70

"AH terlalu gampang untuk mengetahui jejakmu, bukankah jalan raya disini hanya ada satu? Asal kami berdua masing- masing menghadang disetiap sudut jalanan ini, pastilah seorang diantaranya kami akan berjumpa dengan kau, bukankah begitu?"

"Jadi ada orang yang bertugas menantikan kedatanganku? siapa orang kedua itu?"

"Tak perlu kau tahu" Han Siong Kie berkerut kening, selang sesaat kemudian ia bertanya pula. "Ada urusan apa nona menunggu kedatanganku disini?"

"Boleh aku tahu dulu kemana kau akan pergi...?" "Ke Thian lam"

"Wah kebetulan sekali, untung aku bertemu dengan kau, kalau tidak maka akibatnya amat sukar dilukiskan dengan kata-kata"

"Kenapa?" tanya anak muda itu terkejut.

"Seorang jago yang mengaku sebagai Manusia bermuka dingin dengan membawa lencana ok kui cu pai dan memimpin tiga puluh orang jago telah berangkat ke Thian lam untuk mengambil alih kursi kebesaran dari Wi It beng, bahkan ketiga orang tianglo dari perguruan Thian lam bun pun menyertai dirinya.”

"Manusia bermuka dingin ? Boleh aku tahu ada berapa orang manusia muta dingin didunia ini?" tanya Han Siong Kie keheranan-

"Tentu saja hanya satu"

"Kalau memang demikian, aku jadi tidak mengerti, dengan apa yang nona maksudkan?"

"Untuk mengangkangi istana Huan mo kiong, pihak Thian che kau telah mengutus seorang utusan khususnya menuju ke Thian lam untuk mengambil oper kedudukan wi It beng, bukan saja utusan khusus itu telah menyaru seperti kau, bahkan membawa pula lencana ok kui cu paya"

"Aah, masa telah terjadi peristiwa seperti ini?" teriak Han Siong Kie terkesiap.

Orang yang ada maksud segera tertawa dingin "Memangnya aku membohongi kau, Ketahuilah, utusan khusus dari Thian che kau yang menyamar sebagai dirimu itu bernama Thio Wi wan "

"Tadi nona mengatakan bahwa dalam rombongan ini terdapat pula tiga orang tiang lo dari Thian lam bun serta dua puluh orang jago lihay, siapakah mereka itu?"

"Ketiga orang tianglo itu masing-masing bernama To It Hui, Ang pat siu serta san jin ho, mereka dengan menyertai manusia muka dingin gadungan itu berangkat ke Thian lam untuk melakukan pembersihan terhadap perguruannya."

"Masa ketiga orang tianglo itu tak dapat membedakan mana yang asli dan mana yang gadungan?"

"Dalam tubuh perkumpulan Thian che kau terdapat aneka ragam jago yang rata-rata berilmu tinggi, termasuk pula ilmu menyamarnya, mungkin kau sendiripun akan pangling dibuatnya"

Han Siong Kie merasa darah panas dalam tubuhnya mendidih, hawa napsu membunuh menyelimuti wajahnya, dengan penuh kebencian serunya: "Mereka harus dijagal semua"

"Siapa yang akan kau jagal"

"Semua anggota perkumpulan Thian che kau, dari ketua sampai pelayan-pelayannya"

"Urusan yang tak penting lebih baik tak usah kau bicarakan dulu, ketahuilah Thia We wan yang menyaru sebagai dirimu dengan membawa ketiga orang tianglo dari dua puluh orang jagonya sudah berangkat semenjak tiga hari berselang, padahal dengan kepandaian yang di miliki mereka dalam tujuh hari saja istana Huan mo kiong sudah tercapai, kau sudah ketinggalan tiga hari. aku kuatir tak mungkin bisa kau susul diri mereka"

Han Siong Kie tidak menjawab, pikirnya dalam hati: "Engkoh tua sudah mengirim surat kilat kepada kantor cabangnya dan memerintahkan anak murid Kay pang menghalangi jalan pergi ketiga orang tianglo itu, tapi dengan adanya utusan dari Thian che kau, situasi jadi makin berbahaya, aku harus segera mengejar dengan sepenuh tenaga, siapa tahu bisa kutempuh perjalanan siang malam sebelum mereka tiba di antara Huan mo kiong, aku bisa sampai duluan?" Berpikir sampai disini ia lantas bertanya: "Nona mendapatkan keterangan ini dari mana?"

"Kau tak perlu tahu, pokoknya kedatangan aku kemari adalah untuk menyampaikan kabar ini kepadamu"

"Terima kasih atas bantuan nona, kalau begitu aku akan segera melakukan perjalanan-"

"Silahkan"

Setelah menjura, berangkatlah Han Siong Kie meninggaikan tempat itu, cepat sekali gerakan tubuhnya, dalam sekejap mata ia sudah berada jauh sekali dari sana.

Menanti bayangan punggung pemuda itu sudah lenyap dari pandangan, orang yang ada maksud baru menghela napas panjang, ia melepaskan kain kerudungnya sehingga tampaklah wajahnya yang cantik, dari sakunya dia itu mengambil secarik sapu tangan dan menyeka air mata dikelopak matanya.

Mengapa nona itu bersedih hati? Tak seorangpun yang tahu

Dalam pada itu Han Siong Kie telah mengerahkan ilmu meringankan tubuh Ho keng gin im nya hingga mencapai pada puncaknya, siang malam ia menempuh perjalanan tiada hentinya, beratus-ratus li sudah ditempuh dengan kecepatan penuh.

Hari ketiga, sebelum lohor pemuda itu sudah tiba dikota sik bun ki, suatu kota yang berjarak tiga ratus li dari istana Huan mo kiong. Dikota sik bun ki inilah kantor cabang Kay pang untuk wilayah Niu kang bermarkas.

Akan tetapi sampai waktu itu, bukan saja tiada kabar berita dari pihak kay pang, jejak ketiga orang tianglo itupun tak ada yang tahu.

Han Siong Kie semakin kuatir, ia merasa tak ada harapan lagi untuk menyusul ketiga orang tianglonya.

Pemuda itupua sadar, jika orang yang menyaru sebagai dirinya tiba lebih dahulu di istana Huan mo kiong dengan tampangnya yang persis seperti dirinya serta andaikan lencana ok kui cu pai, tidak susah baginya untuk mendapat kepercayaan dari orang-orang perguruan dan bila sampai dia mendapat kepercayaan penuh dari anggota Thian lam bun yang setia, runyamlah keadaan dan hancurlah perguruan itu.

Denggan langkah yang lambat ia memasuki sebuah rumah makan yang memakai merek "Ing khek ki", sambil melepaskan lelah dan menangsal perut, pemuda itu hendak menggunakan kesempatan tersebut untuk mencari akal guna menanggulangi kejadian ini.

Untuk sementara waktu baiklah kita tinggalkan dulu Han Siong Kie, mari kita bercerita kembali setelah To It hui, Ang Pat sin dan Wi Jin ho mendapat tugas untuk mengubur jenasah seng Thian pa dan Liok sau tan yang mati dalam pertarungan melawan gerombolan wi It beng.

Setelah menyelesakan tugas menguburkan, ketiga orang tianglo ini melakukan perjalanan kian kemari untuk mencari jejak Han Siong Kie, akan tetapi jejak dari ketuanya ini lenyap tak berbekas, mereka jadi murung tak habis mengerti.

Ditengah jalan secara kebetulan mereka mendengar kalau Wi It beng telah menjual perguruan Thian lam bun kepada pihak Thian che kau, bahkan istana Huan mo kiong telah dirubah menjadi kantor cabang Thian che kau untuk wilayah Thian lam. Melihat keruntuhan yang mengancam perguruan ini, ketiga orang tianglo ini jadi marah bercampur sedih, mereka lantas mengambil keputusan untuk berangkat ke Thian lam serta mengumpulkan anak murid yang setia untuk bersama membasmi Wi It beng dari muka bumi. 

Dalam perjalanan menuju ke Thian lam inilah, secara tak terduga ketua mereka, Han Siong Kie telah muncul dengan membawa dua puluh orang jago bersenjata lengkap. menurut keterangan kedua puluh orang ini adalah anggota baru Thian lam bun yang baru diterimanya. sungguh gembira sekali ketiga orang tianglo tersebut menjumpai kenyataan itu.

Mereka lebih percaya lagi setelah Ciangbun suhengnya menunjukkan tanda kebesaran ok kui cupay, malahan mennrut pengakuan ciang bun suhengnya ini lencana tersebut berhasil dirampas kembali setelah berusaha dengan segala kemampuan yang dimilikinya.

Tentu saja mimpipun mereka tak menyangka kalau ciangbun suheng yang berada dihadapan mereka ini sebetulnya adalah ciang bun suheng gadungan

Meskipun dalam hal berbicara dan tingkah lakunya banyak hal yang mencurigakan ketiga orang tianglo ini, tapi dengan manisnya "Han Siong Kie" gadungan berhasil memberi jawaban yang memuaskan, hal ini membuat ketiga orang tianglo itu semakin percaya.

Tatkala rombongan tiba dikota sik bun ki, anak murid Kay pang cabang wilayah Niu kang yang baru mendapatkan surat kilat dari markas besarnya segera memberi penyambutan yang meriah, bahkan setiap saat menanti perintah mereka.

Tindakan ini sama sekali diluar dugaan siapa pun, tentu saja perbuatan dari orang Kay pang mencengangkan mereka.

Thia Wi wan yang menyamar sebagai Han Siong Kie gadungan tidak terlampau curiga oleh tindakan Kay pang ini sebab dalam anggapannya kaum pengemis itu sudah menggabungkan diri dengan Thian che kau, maka segala sesuatunya ini tentulah kaucu mereka yang mengatur.

Karena itu diapun tidak memberikan reaksi apa-apa, sebaliknya menerima sambutan itu sewajarnya.

Begitulah kesalahan paham yang terjadi pada waktu itu, oleh karena kedua belah pihak tidak mengucapkan apa-apa, tentu saja siapapun tak menyangka kalau apa yang sedang berlangsung pada hakekatnya adalah suatu kesalah pahaman.

Kita kembali pada Han Siong Kie yang asli, ketika tidak berhasil mendapatkan akal yang jitu untuk menanggulangi kesulitan tersebut, dengan uring-uringan dia keluar dari kedai arak itu

Ditengah jalan tiba-tiba dari sisi tubuhnya terdengar seseorang berseru kaget ketika ia berpaling ternyata orang itu adalah seorang pengemis tua yang berpakaian tambal- tambalan.

Satu ingatan dengab cepat melintas dalam benaknya, ia berpikir:

"Sebelum berpisah dengan engkoh tua pengemis dari selatan, ia telah berpesan kepadaku bila ada kesulitan minta saja bantuan dari Kay pang, kenapa aku tidak mencari berita dari mereka?"

Serta merta ia membuntuti kemana perginya pengemis tua itu.

Sebentar kemudian mereka sudah keluar dari kota dan menuju ke tanah alas yang sepi sebelum Han Siong Kie sempat mengucapkan sesuatu, pengemis tua itu telah berpaling seraya memberi hormat, katanya:

"Ditempat ini banyak tersebar mata-mata dari istana Huan mo kiong, sebelum rencana disusun dengan matang, lebih baik ciangbunjin sedikit merahasiakan jejakmu" "Rencana? Rencana apa?" tanya Han Siong Kie.

Ucapan itu membuat si pengemis tua jadi terbelalak. lama sekali dia termangu sebelum akhirnya bertanya:

"Bukankah engkau adalah Han sauhiap. ketua dari Thian lam bun ?"

"Betul"

"Maksudku lebih baik untuk sementara waktu ciangbunjin kembali dulu kedalam kuil Po cu bin, agar supaya..."

"Kuil Poo cu bin ? Aku tak mengerti apa yang kau maksudkan ?"

Pengemis tua itu semakin terperanjat, dengan gugup dia mundur tiga langkah, matanya terbelalak dan mulutnya melongo, untuk sesaat tak dapat mengucapkan sepatah kata pun-

Han Siong Kie bukan orang bodoh, ia segera sadar bahwa dibalik peristiwa ini pasti ada hal-hal yang tak beres, lencana bambu pemberian dari lam key atau pengemis dari selatan itu segera di ambil keluar, sambil menunjukkan lencana itu, tegurnya: "Kau kenal dengan benda ini ?"

"Tentu saja "sahut pengemis tua itu dengan sikap yang sangat menghormat. "Benda itu adalah tanda kepercayaan dari tianglo kami, ciangbunjin "

"Jelaskan apa yang terjadi dalam kuil Po cu bio yang kau maksudkan tadi" tukas pemuda itu cepat.

Agak tertegun pengemis tua itu, tapi ia lantas menerangkan:

"Bukankah ciangbunjin serta para tianglo perguruan Thian lam sedang merundingkan rencana pembersihan atas unsur jahat dari istana Huan mo kiong di kuil Pun cu bio?" Sesudah mendengar perkataan itu mengertilah sudah Han Siong Kie apa yang sudah terjadi.

"Oooh ciangbunjin itu adalah ciangbunjin gadungan, orang lain yang telah menyaru sebagai diriku, tak sempat kujelaskan lagi duduknya perkara kepadmu, cepat katakan dimanakah letak kuil Puy cu bio itu?"

Sesudah termangu-mangu sejenak pengemis tua itu menunjuk ke arah sebelah timur seraya sahutnya:

"Kuil Pun cu bio berada didalam hutan waru sana"

Han Siong Kie tidak membuang banyak waktu lagi, dia lantas menjejakkan kakinya keatas tanah dan melayang ke arah tempat yang ditunjuk.

Sesaat kemudian ia sudah berada didepan hutan yang dimaksudkan, sebelum sempat melangkah masuk. dua orang laki-laki kekar telah melayang keluar dari balik pepohonan sambil membentak: "siapa disitu ? Berhenti"

Tapi setelah mengetahui siapa yang datang, paras muka dua orang laki-laki itu berubah hebat, mereka menjerit kaget lalu kabur masuk kedalam hutan.

"Mau kemana kalian ? Hayo kembali " sambil membentak Han Siong Kie mendorong telapak tangannya kedepan lalu dihisap kebelakang.

Seketika itu juga muncullah dua gulung tenaga hisapan yang sangat besar menarik tubuh kedua orang laki-laki itu sehingga tak bisa berkutik, mereka coba meronta dan berusaha kabur, namun bukan saja tubuhnya jadi sempoyongan, malahan tubuh mereka terasa tertarik semakin kencang kebelakang.

Bisa dibayangkan betapa takutnya mereka berdua, pucat muka kedua orang itu dan peluh dingin membasahi tubuhnya, sukma serasa melayang tinggalkan raganya. Manusia muka dingin yang asli bisa muncul dihadapan mereka, peristiwa ini tak pernah terbayang oleh mereka walaupun dalam impianpun.

Tapi kedua orang laki-laki itu tak sudi menyerahkan diri dengan begitu saja, setelah tahu bahwa sia-sia untuk meronta dari belenggu tenaga hisapan tersebut, serentak mereka meloloskan senjata tajamnya.

Hawa napsu membunuh telah menyelimuti seluruh wajah sianak muda itu, sinar matanya tampak aneh sekali. tegurnya dengan keras: "Kalian bardua adalah anggota Thian che kau??"

"Benar" sahut salah seorang diantara mereka. "Kalau begitu, mampuslah kalian"

Dua orang laki-laki itu coba melawan dengan pedangnya, tapi sebelum mereka dapat berbuat sesuatu, Han Siong Kie telah menyentilkan ujung jarinya kedepan..

Dua gulung angin desingan tajam secepat sambaran kilat meluncur kedepan dan menghajar hiatto kematian di tubuh dua orang laki-laki itu.

Untuk tidak sampai mengejutkan orang-orang yang berada dalam kuil, pemuda itu mengambil keputusan untuk membasmi lawannya dengan serangan paling cepat dan paling jitu, maka pilihanpun terjatuh pada ilmu jari Tong kim ci yang tak ada tandingannya itu.

Dua kali dengusan tertahan memecahkan kesunyian, darah segar muncrat keluar dari lubang didada mereka, tanpa banyak berkutik, tapi dua orang laki-laki itu terjungkal ketanah, dan tewas seketika itu juga .

Setelah musuhnya tak berkutik Han Siong Kie menyapu pandang sekejap sekeliling tempat itu kemudian secepat sukma gentayangan dia masuk kedalam kuil. sementara itu dalam ruangan kuil Thia Wi wan utusan khusus dari Thian che kau dengan kedudukannya sebagai ketua Thian lam bun duduk dikursi utama, tiga orang tianglo duduk disampingnya dan belasan orang lelaki berpakaian ringkas dengan berbaris menjadi dua deret berdiri jajar di luar ruangan tersebut.

Pada waktu itu ada dua orang berbaju biru sedang melangkah masuk kedalam ruangan sambil berlutut mereka berkata: "Tecu berdua menghunjuk hormat untuk Ciangbunjin"

"Bangun" seru Thia Wi wan dengan gayanya yang angkuh.

Dengan nada agak emosi, salah seorang dari kakak berbaju biru berkata lebih lanjut:

"Pada saat ini kelima orang tianglo yang masih tertinggal diruang Goan lo wan telah dijebloskan kedalam penjara bawah tanah, berita yang kita kirim tak dapat mereka terima, tapi dari sekian banyak anak murid Thian lam bun yang berhasil kita hubungi, sebagian besar bersedia untuk berbakti kepada Ciangbunjin, hanya sebagian kecil saja yang mati-matian membela Wi It beng, namun kekuatan mereka tak perlu terlalu di kuatirkan "

"Apakah berita yang kita susupkan kesana dapat diketahui oleh komplotan dari Wi It beng?"

"Aku rasa tak mungkin"

"Baik, mundurlah keluar ruangan sana sambil menunggu perintah berikutnya"

Dengan hormat dua orang kakek baju biru itu memberi hormat kemudian mengundurkan diri.

Thia Wi wan lantas berpaling kearah ke tiga orang tianglonya, lalu berkata pula: "Menurut maksudku, malam nanti setelah kentongan ketiga kita langsung menyerbu ke dalam istana Huan mo kiong, menggunakan kesempatan dikala semua orang terlelap tidur kita bekuk dahulu Wi It beng, sementara tianglo bertiga berusaha untuk melepaskan kelima orang tianglo yang disekap itu dari penjara, meskipun kaki tangan Wi It beng akan melakukan perlawanan, kita bantai saja mereka yang berani membangkang kemudian baru kita jatuhi hukuman yang setimpal kepada Wi It beng sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan. Entah bagai manakah menurut pendapat kalian bertiga?"

"Apa yang diucapkan suheng memang benar, kami semua siap melaksanakan perintah" ucap To It hui ketua para tianglo dengan sikap yang sangat hormat.

Seorang laki-laki berpakaian ringkas tiba-tiba lari masuk dengan wajag gugup, setibanya didepan ruangan, ia berlutut seraya berseru:

"Lapor ciangbunjin, dua orang saudara kita yang meronda didalam kuil kedapatan sudah berubah jadi mayat"

"Apa?"

"Dua orang saudara kita yang bertugas meronda keamanan dalam kuil kedapatan telah dibunuh, mereka mati tertotok jalan darah kematiannya oleh sejenis ilmu totokan yang lihay"

Thia Wi wan segera meloncat bangun, oleh karena ia menyaru sebagai Han Siong Kie dan mengenakan topeng kulit manusia, maka perubahan wajahnya sama sekali tidak kelihatan, meski begitu sinar matanya amat memancarkan hawa napsu membunuh yang mengerikan.

Dengan paras muka berubah hebat, ketiga orang tianglo itupun meloncat bangun.

Belasan orang laki-laki berpakaian ringkas yang berjejer diluar pagar ruangan segera menunjukan sikap kaget, serentak mereka bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan..

Siapapun tahu bahwa dua orang laki-laki yang bertugas meronda disekitar kuil itu memiliki ilmu silat yang cukup tangguh, tapi kenyataanya mereka dibunuh orang tanpa sempat bersuara ataupun melepaskan tanda bahaya, dari sini dapat diketahui bahwa ilma silat yang dimiliki penyergap itu luar bissa sekali.

Suasana tegang segera menyelimuti angkasa, semua orang bersiap siaga, siapapun tak berani bertindak gegabah.

Akhirnya dengan suara yang berat Thia Wi wan berkata kepada To It hui yang berada disisinya:

"To tianglo mungkinkah Wi It beng telah menerima laporan dan menyerang lebih dulu mendahului kita?"

"Entahlah" sahut To It hui dengan wajah tegang "tapi aneh mengapa saat ini tidak nampak adanya gerakan apa2"

"Mungkinkah mereka sedang menyusun suatu rencana busuk untuk menjebak kita?"

"Biar kukeluar sebentar untuk memeriksa keadaan diluar situ"

"Bawalah sepuluh orang jago kita dan lakukanlah pemeriksaan yang seksama diseputar kuil ini"perintah Thia Wi wan-

"Terima perintah" sahut To It hui.

Dengan dikawal oleh sepuluh orang busu berpakaian ringkas berangkatlahj tianglo ini keluar pintu kuil.

Suasana diseputar kuil tersebut amat sepi dan tak nampak sesosok bayangan manusiapun, yang terdengar hanya suara mendesis daun kering yang terhembus angin.

"Geledah sekitar kuil ini " perintah To it hui. sepuluh orang busu berpakaian ringkas itu segera menyebarkan diri dan mulai melakukan penggeledahan disekitar tempat itu.

Hutan itu luas dan mencapai satu hektar, oleh sebab banyak semak belukar dan pepohonan tumbuh disana, sukarlah bagi mereka untuk memandang lurus kedepan.

Tiba-tiba dua jeritan lengking berkumandang memecahkan kesunyian, suara jeritan itu keras dan mengerikan, membuat bulu kuduk orang pada bangun berdiri, secepat kilat To It hui melayang ke tempat berasalnya jeritan itu, apa yang kemudian terlihat seketika membuat hatinya bergidik,

Dua sosok mayat menggeletak dibalik semak belukar dengan dada berlepotan darah, kedua orang itu tak lain adalah dua orang diantara sepuluh jago yang ditugaskan melakukan penggeledehan.

Lubang sebesar jari tangan berhasil ditemukan dibagian dada mayat-mayat itu. To It hui tahu bahwa busu-busu ini mati karena suatu serangan ilmu jari yang maha dahsyat.

"Aaah, bukankah luka ini berasal dari ilmu jari Tong kim ci?" ingatan tersebut tiba-tiba melintas dalam benaknya.

Paras muka tianglo ini kontan berubah hebat, peluh dingin membasahi sekujur tubuhnya, menurut apa yang diketahui hanya ciangbun suhengnya seorang yang dapat mempergunakan ilmu jari ini, tapi Han Siong Kie toh masih duduk dalam kuil? Masakah ada orang lain yang pandai pula menggunakan ilmu jari Tong kim ci?"

"Tapi siapakah jago lihay itu?" demikian ia berpikir, "mengapa ia datang kemari dan melukai anak murid perguruan kami??"

Tianglo ini cukup mengerti, bila orang itu pandai menggunakan ilmu jari Tong kim ci berarti pula tenaga dalamnya amat sempurna, atau dengan perkataan lain orang itu pastilah seorang tokoh sakti yang berilmu tinggi.

Berpikir sampai disitu, tak tahan lagi hatinya bergidik dan peluh dingin mengucur keluar semakin deras.

Sementara To It hui masib termenung dengan keheranan, jerit kesakitan kembali berkumandang saling menyusul..

Satu jeritan-.. dua jeritan-. tiga kali jeritan tidak lebih tidak kurang persis sepuluh kali jeritan itu menandakan bahwa sepuluh orang busU yang bertugas melakukan penggeledahan telah tewas semua ditangan orang.

Tidak banyak bicara lagi ketua tianglo dari Thian lam bun ini segera kabur kembali kedalam kuil.

Tapi baru saja dia melangkah masuk ke halaman kuil itu untuk kesekian kalinya tianglo ini dibikin tertegun, bahkan hampir saja tidak percaya dengan kenyataan yang tertera didepan matanya.

Dihalaman tengah depan ruangan kuil telah bertambah lagi dengan seorang manusia bermuka dingin-

Tatkala dia alihkan pandangannya ke arah atas kuil disana dia saksikan ciangbun suhengnya dengan wajah yang kaku tanpa emosi dan tatapan mata setajam sembilu sedang melotot manusia muka dingin yang berada ditengah halaman itu tanpa berkedip.

Dua orang tianglo, dua orang kakek baju biru serta delapan orang busu berbaju ketat yang berada di sana semuanya berdiri menjublak dengan muka tercengang. Di tengah keheningan yang mencekam seluruh angkasa itu, manusia muka dingin yang berada diatas pelataran kuil itu tiba tiba tertawa seram, lalu menegur:

"Bajingan keparat, besar amat nyalimu. Berani betul menyamar sebagai wajahku..." Manusia muka dingin yang berdiri ditengah halaman menjengek sinis, hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh wajahnya, dengan suara menyeramkan ia menjawab:

"Thia Wi wan, kau tak usah berlagak pilon lagi,. ketahuilah bahwa sandiwaramu telah berakhir, muslihatmu selama ini hanya sia-sia belaka"

Sebutan Thia Wi wan yang sengaja diucapkan dengan nada berat itu kontan menggetarkan badan manusia muka dingin yang berada diatas pelataran kuil, ia mundur selangkah ke belakang kemudian sambil menyeringai katanya:

"Bajingan, jangan sembarangan ngebacot, tampaknya kau sudah bosan hidup,"

sekali melejit ia sudah melayang diudara kemudian dengan suatu gerakan tubuh yang cepat orang itu melayang turun tepat dihadapan manusia muka dingin yang berada di tengah halaman itu,

Kecuali delapan orang busu berbaju ringkas yang mengetahui duduk perkara yang sebenarnya, baik ketiga orang tianglo itu maupun dua orang kakek berbaju biru berdiri saling berpandangan dengan muka kaget bercampur keheranan. sebab baik potongan badan, maupun potongan wajah kedua orang manusia muka dingin ini boleh dibilang persis satu sama lainnya, ibarat pinang yang dibelah dua.

Tiga orang tianglo dari Thian lam bun itu mulai curiga, sebelum kemunculan manusia muka dingin yang kedua ini.. mereka masih tidak merasa apa-apa, tapi sejak mendengar logat bicara orang yang kedua ini, secara lapat-lapat mereka mulai merasa bahwa logat serta nada waktu berbicara dari manusia muka dingin kedua ini jauh lebih mirip dengan ciangbunjin suheng mereka daripada yang mereka ikuti selama beberapa hari ini. Sebelum bertemunya kedua orang tokoh ini, mereka tidak begitu merasa, tapi sekarang mereka dapat merasakan suatu perbedaan yang menyolok sekali.

sebagaimana telah diketahui, manusia muka dingin yang munculkan diri sekarang memang tak lain adalah Han Siong Kie pribadi setelah melenyapkan dua busu orang jago lihay Thian che kau pengikut Thia Wi wan setelah mendahului To it hui masuk lebih dulu kedalam kuil itu.

Langkah pertama yang akan dilaksanakan adalah membongkar rahasia penyaruan Thia Wi wan dan tentu saja lebih baik lagi kalau bisa menyingkap tampang aslinya.

Dengan tatapan berapi-api Han Siong Kie mengawasi musuhnya lalu berkata lantang:

"Thia Wi wan, kalau tidak kau tunjukkan tampang setanmu pada saat ini juga, kau akan menunggu kapan lagi?"

-0000d0w0000-

BAB 71

SETELAH kemunculan sianak muda itu Thia Wi wan utusan khusus dari Thian che kau itu menyadari bahwa apa yang dibebankan kepadanya tak mungkin bisa terlaksana lagi, kendatipun begitu ia masih tetap membentak nyaring:

"Manusia latah yang tak tahu diri, berani benar bicara tak karuan dihadapanku Hmm Rupanya sebelum kubereskan nyawamu, kau tak akan merasa jera"

sambil membentak ia menerkam kedepan dan melepaskan sebuah bacokan maut ketubuh lawan.

Bukan saja serangan itu secepat kilat, kedahsyatannya luar biasa sekali, membuat hati orang mendesir rasanya. "Thia Wi wan, kau anggap pukulan itu bisa mematikan aku?" jengek Han Siong Ki sinis "hari ini kau bakal mampus ditanganku"

Telapak tangannya dibabat kearah muka dengan taktik membuang ia punahkan ancaman lawan, sementara telapak tangan kirinya hampir pada saat yang bersamaan melepaskan pula serangan kilat ketubuh musuhnya.

Walaupun dua buah pukulan dilancarkan dalam waktu yang tidak bersamaan, namun kecepatannya mengerikan sekali.

Gagal dengan serangannya, cepat Thia Wi wan mengigos kesamping dan menyingkir kesisi gelanggang.

Han Siong Kie membentak keras, ia tidak membiarkan musuhnya kabur dengan begitu saja, sambil mementangkan kelima jari tangannya, kepala Thian wi wan dicengkeramnya dengan hebat.

Utusan khusus dari Thian che kau ini bukan musuh yang empuk. dengan cekatan ia miringkan kepalanya kesamping, lalu secara beruntun melancarkan dua buah serangan balasan-

Meleset dengan cengkeraman kilatnya, separuh tubuh Han Siong Kie ikut berputar ke samping dengan manis sekali ia berhasil menghindarkan diri dari serangan kilat musuh.

Perlu diketahui, kedua orang yang sedang bertempur ini masing-masing adalah jago kelas satu didunia persilatan, meskipun hanya tiga gebrakan namun tiap jurus serangan tersebut tersimpanlah daya penghancurt yang cukup menghantar nyawa lawan, siapa saja sedikit meleng niscaya akan menggeletak tak bernyawa.

Diam-diam Thia Wi wan mulai tercekat hatinya dan ketakutan, ia dapat merasakan bahwa ilmu silat yang dimiliki musuh ternyata jauh diatas kepandaian yang dimilikinya.

Sementara itu Han Siong Kie telah mendengus dingin, sepasang telapak tangannya dilontarkan secara bergilir, dengan jurus-jurus serangan Mo hwe liau goan (api iblis membakar ladang) Mo ciang ciang liong (telapak tangan iblis menaklukan naga) serta Mo ong ko ciat (raja iblis menyembah loteng istana) ia titir musuhnya habis-habisan.

Desingan angin tajam seketika itu juga menyelimuti seluruh angkasa bagaikan amukan gelombang samudra, segulung demi segulung menghantam kemuka tiada hentinya.

Thia Wi wan betul-betul terkesiap dan pecah nyali, kontan tubuhnya terdesak mundur lima langkah lebar.

"Duuk." sebuah pukulan akhirnya berhasil menghajar bahu kiri jago lihay itu, Thia Wi wan segera mendengus kesakitan dan mundur dengan sampoyongan, sakitnya bukan kepalang sehingga serasa merasuk ketulang sumsum.

".. Ha yo perlihatkan kembali wujud aslimu" ejek Han Siong Kie dengan sinis.

Menggunakan suatu gerakan sambaran yang kecepatannya luar biasa sekali, dia menyapu kewajah musuh.

Jeritan kaget berkumandang memecahkan kesunyian, topeng kulit manusia yang menutupi wajah Thia Wi wan tersambar lepas sehingga tampaklah muka aslinya yang bopeng.

Ketiga orang tiang lo itu dan dua orang kakek berjubah biru sama-sama memperdengarkan jeritan kaget, nampaknya mereka tak menyangka kalau ciangbun suheng yang selama ini dihormati dan disanjung itu kenyataannya adalah manusia muka dingin gadungan, pucat pias wajah kedelapan orang busu berbaju ringkas itu, serentak mereka meloloskan senjatanya siap melancarkan serangan kilat.

Han Siong Kie betul-betul sangat marah, serunya lagi dengan lantang:

"Anjing keparat, anakan kunyuk, apa yang hendak kau tanyakan lagi sekarang ?" Thia Wi wan terkekeh kekeh dengan seramnya. "Heeehhh heehhh heeehhhhh manusia muka dingin,

sekalipun penyaruanku berhasil kau bongkar, tapi jangan

harap kau bisa tinggalkan tempat ini dalam keadaan hidup,"

Dipihak lain ketiga orang tianglo dari Thian lam bun itu merasa marah, sedih dan malu, mereka malu karena kurang ketelitian, mereka hampir saja mengakibatkan kejadian yang fatal dan tak tertolongkan, untung di saat yang kritis, kelicikan musuhnya berhasil terbongkar.

Dengan tatapan tajam Han Siong Kie memandang sekejap ke arah ketiga orang tianglonya, kemudian ia berkata:

"Tangkap dan bunuh kedelapan orang anjing geladak itu, jangan lepaskan seorangpun diantara mereka dalam keadaan hidup",

Dengan hormat tiga orang tianglo dan dua orang kakek berjubah biru itu mengiakan-serentak mereka menerkam ke arah delapan orang laki-laki berbaju ringkas itu.

Suatu pertempuran sengit tak dapat dihindari lagi, kedua belah pihak sama-sama mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk saling merobohkan.

Thia Wi wan merasa panik bercampur gusar, ia membentak keras, tiba-tiba sambil maju kemuka sebuah pukulan maut dilancarkan ke tubuh pemuda itu

"Bangsat, rupanya kau sudah bosan hidup, maki Han Siong kie dengan marah sambil menghimpun hawa sakti si mi sinkang, dia lepaskan sebuah pukulan dahsyat ke depan.

Tatkala dua gulung tenaga pukulan itu saling bertemu satu sama lainnya, terjadilah ledakan keras yang memekikkan telinga.

Sambil mendengus tertahan, Thia Wi wan mundur sejauh satu kaki dengan sempoyongan, mukanya penuh berlepotan darah, di tambah lagi wajahnya yang pada dasarnya hitam dan penuh bopeng, hal ini membuat tampangnya kelihatan semakin mengerikan. selang sesaat kemudian dia baru muntah darah seggr.

Han Siong Kie sendiripun diam-diam merasa terperanjat, sebab dalam serangannya barusan dia telah sertakan tenaga si mi sin kang sebesar sepuluh bagian, tapi kenyataannya pihak musuh tak berhasil dirobohkan, dari sini dapatlah diketahui bahwa tenaga lwekang orang itu cukup sempurna.

Sementara itu pertarungan dipihak lain pun sudah mencapai pada puncaknya, dari antara delapan orang laki-laki kekar yang memberikan perlawanan sengit, ada dua orang diantaranya sudah menggeletak menjadi mayat, dengan begitu maka tersisalah enam orang musuh yang kebetulan merupakan lawan tanding seorang melawan seorang dari pihak Thian lam bun.

Walaupun begitu, diantara dua belas orang yang sedang bertempur, ilmu silat dari dua orang kakek berjubah biru itu paling lemah, mereka ketitir hebat dan cuma bisa mempertahankan diri belaka.

Dengan hawa napsu membunuh menyelimuti wajah Han Siong Kie, pemuda itu membentak lagi dengan marah:

"Orang she Thia hendak kau serahkan tidak lencana ok kui cupay tersebut?"

"Kau tak usah bermimpi di siang hari bolong" sahut Thia Wi wan sambil menyeka noda darah dibibirnya.

"Mau diserahkan kepadaku tidak?" pemuda itu kembali membentak.

"Kalau tidak lantas kenapa?"

"Tidak kau serahkan? HHmm Memangnya tak bisa kuambil sendiri? Akan kuambil kembali lencana itu berikut jiwa anjingmu" Sekali lagi Han Siong Kie melancarkan bacokan kilat dengan sepasang telapak tangannya.

Thia Wi wan tak berani menyambut serangan tersebut dengan kekerasan, cepat dia melejit kesamping untuk menghindar.

Sementara itu dua orang kakek tua berjubah biru dari Thian lam bun itu sudah terdesak hebat sehingga keadaannya sangat kritis, jiwanya setiap saat terancam ditangan lawan.

Ini membuktikan bahwa anak buah Thian che kau yang ditugaskan dalam operasi kali ini bukanlah manusia-manusia sembarangan, rata-rata mereka berkepandaian tinggi.

Dua jerit kesakitan yang memilukan hati menggelegar memecahkan kesunyian, dengan tongkat kepala setannya secara beruntun To It hui dan Ang Pat siu telah membinasakan musuh-musuhnya, cepat mereka memburu kemuka dan menolong dua orang rekan mereka yang ketitir hebat.

Sementara itu tianglo yang lainpun telah berhasil membunuh musuhnya dalam sekejap mata delapan orang laki- laki berbaju ringkas itu sudah menggeletak semua menjadi mayat.

Sementara itu pertempuran antara Han Siong Kie melawan Thian wi wan masih berlangsung dengan serunya, bacokan demi bacokan maut dilepaskan secara berantai, tatkala pukulan yang dilepaskan tidak mendatankan hasil yang diharapkan, daripukulan telapak tangan ia lantas mengubah serangannya menjadi serangan jari.

Gulungan demi gulungan angin jari tangan menyambar kian kemari, memaksa Thia Wi wan harus meloncat kesana kemari dengan repotnya.

Jauh sebelum bertugas Thia Wi wan sudah pernah mendengar tentang kelihayan serta kedahsyatan ilmu jari Tong kim ci, sekuat tenaga dia berusaha untuk meloloskan diri dari ancaman maut, tapi suatu ketika akhirnya ia terlambat untuk menghindar.

"Criit" segulung desingan angin jari tangan tepat menembusi bahunya secara telak, dengan sempoyongan ia mundur kebelakang dan hampir saja roboh terjengkang, darah segar berceceran membasahi separuh tubuhnya keadaan diri utusan khusus Thian Che kau itu bertambah mengenaskan.

Setelah membereskan kedelapan orang lawannya, ketiga orang tiang lo dan dua orang kakek baju biru itu sudah mengurung sekitar gelanggang itu rapat-rapat, semua perhatian mereka telah tertuju ketengah gelanggang dimana pertarungan masih berlangsung.

Perlahan-lahan Han Siong Kie maju beberapa langkah kemuka sambil mengayunkan telapak tangannya ia berseru:

"Thia Wi wan, serahkanlah jiwa anjingmu"

Tiba-tiba disaat yang kritis, Thia Wi wan mengayunkan tangannya ke depan, menyusul mana serentetan sinar tajam yang menyilaukan mata memancar keluar. Seketika itu juga Han Siong Kie merasa matanya silau dan tenaga dalamnya punah.

"Aduh celaka" demikianlah ia berpekik kagetnya bukan kepalang menghadapi kejadian yang tak terduga itu.

"Duuuk.. . " sebuah pukulan dahsyat tak dapat dihindari lagi, diiringi dengusan tertahan Han Siong Kie terhajar sampai mencelat sejauh dua kaki lebih dan muntah darah segar.

Betapa terperanjatnya To It hui berlima menyaksikan kejadian itu, mereka menjerit kaget dan segera memburu ke muka.

Kiranya disaat yang amat kritis, Thia Wi wan dengan suatu gerakan yang tak terduga telah mengambil keluar lencana Ok kui cu pay, sisa hawa murni yang dimilikinya segera disalurkan kedalam lencana itu sehingga memancarlah sinar aneh dari mutiara di atas lencana tadi.

Han Siong Kie tidak menduga sampai ke situ, perhatiannya langsung buyar setelah terkena sorotan cahaya mutiara tadi, disaat keadaan itulah Thia Wi wan manfaatkan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya, sebuah pukulan gencar herhasil menghantam tubuhnya dengan telak.

Masih beruntung tenaga lwekang yang dimilikinya cukup sempurna, kalau tidak mungkin nadi pentingnya sudah putus dan tewaslah pemuda ini secara konyol.

Tanpa berpikir panjang, ketiga orang tianglo dan dua orang kakek baju biru itu menerjang kedalam arena, dengan menghimpun segenap kemampuan yang dimilikinya mereka terjang Thia Wi wan.

"Bangsat, rupanya kalian bosan hidup semua" maki Thia Wi wan dengan mendongkol.

sepasang telapak tangannya dilontarkan kemuka, angin puyuh yang maha dahsyat langsung menyapu kedepan dan menghajar kelima orang itu sampai jumpalitan tak karuan.

Han Siong Kie yang terluka tak sudi unjukkan kelemahan dihadapan musuhnya, dia menghirup udara dalam-dalam, wataknya yang angkuh membuat pemuda itu sekuat tenaga mempertahankan diri, ia bangkit dan duduk.

Dengan wajah menyeringai seram Thia Wi wan menerjang kehadapan sianak muda itu kemudian ujarnya pula dengan suara menyeramkan:

"Ciangbunjin sekalipun aku tak dapat melaksanakan tugasku dengan sebaik-baiknya, tapi ketahuilah membinasakan dirimu juga termasuk pahala yang amat besar, pejamkan matamu dan terimalah kematian ini"

Seraya berkata telapak tangan kanannya lantas diayun kedepan.. "Duuk Blaang.." Ditengah jerit kesakitan, bukan Hian Siong Kie yang termakan oleh pukulan itu, sebaliknya justru Thia Wi wan yang mencelat kebelakang sambil muntah darah, ia terbanting dan jatuh terduduk dilantai.

Hawa sakti si mi sinkang yang berhasil diyakinkan Han Siong Kie memang terhitung suatu kepandaian yang tangguh, kendatipun ia sudah terluka parah, hawa murninya sama sekali tidak menjadi buyar, sambil menggertak gigi ia sudah menghimpun sisa kekuatan yang dimilikinya untuk siap sedia menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan, akhirnya pukulan kilatnya berhasil juga merobohkan musuhnya.

sekalipun demikian, ia sendiripun lantas roboh terjengkang keatas tanah dengan badan yang lemas.

Bagi Thia Wi wan, kejadian ini benar-benar peristiwa yang sama sekali diluar dugaan, mimpipun tak pernah diduga olehnya bahwa musuhnya masih mampu menyerangnya walaupun sudah terluka parah, cepat dia pusatkan perhatiannya, lalu bangkit berdiri tanpa mengucapkan sepatah katapun sebuah pukulan dibacok kebawah.

Dengan mata melotot besar. Han Siong Kie dapat menyaksikan tibanya bacokan itu, apa daya ia tak mampu untuk melawan, pemuda itu hanya bisa melotot sambil menantikan saat kematiannya.

Ketiga orang tianglo yang terguling ditanah itu segera meloncat bangun dan sekali lagi menerkam kedepan, sekalipun mereka telah berusaha dengan sepenuh tenaga, pada hakekatnya tindakan itupun terlambat setengah langkah, tak mungkin serangan itu bisa mereka bendung.

Untunglah disaat yang sangat kritis dan berbahaya, dari luar kuil terdengar suara bentakan nyaring: "Tahan"

Menyusul bentakan itu, tampak Thia Wi wan mundur tiga langkah lebih dengan sempoyongan. Seorang nyonya muda baju merah yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan telah berdiri ditengah arena. Dari mana nyonya cantik ini datang dan dengan cara apa ia tiba diarena, tak seorangpun yang tahu.

Dengan rasa heran bercampur kaget Han Siong Kie berpaling, berdebar keras jantung nya tatkala sinar mata mereka bertemu, dengan muka merah padam karena jengah cepat pemuda itu tundukkan kepalanya.

Memang cantik nyonya berbaju merah itu, demikian cantiknya hingga sukar diibaratkan dengan kata-kata.

Ia tak percaya kalau didunia ini terdapat seorang perempuan secantik itu, terutama sepasang biji matanya yang penuh daya tarik. sungguh membuat hati orang terpesona dan tak berdaya untuk melawannya.

Jangankan Han Siong Kie yang masih berjiwa muda, malahan ketiga orang tianglo yang sudah lanjut usiapun berdiri tertegun dengan mata melotot besar, rasa kagum jelas tercermin diatas wajahnya.

Kemunculan nyonya baju merah itu diluar dugaan siapapun, apalagi tindakannya menghalangi Thia Wi wan untuk melepaskan serangan mautnya atas diri Han Siong Kie, lebih-lebih mengejutkan lagi hati mereka. .

Lama sekali Thia Wi wan termangu, akhirnya sambil menyeringai katanya dengan sinis: "Kau hendak menangkap ikan diair keruh? Hendak kau campuri urusan kami ini ?"

"Kalau iya kau mau apa?" sahut nyonya baju merah itu dengan dingin, ketus dan mengerikan-

"Sebutkan dulu siapa namamu ?"

"Mau tahu namaku ? Hmmm Bercermin dulu dengan tampangmu yang bopeng dan jelek masih belum pantas untuk mengetahuinya" "Keparat, perempuan hina..."

"Ploook ploook" belum habis Thia Wi wan memaki, tempelengan keras sudah bersarang dulu diwajahnya, muncullah bekas telapak tangan yang merah bengkak di pipi Thia Wi wan yang bopeng itu.

"Kalau engkau berani bicara tak benar lagi, jangan salahkan kalau kucabut selembar jiwamu" ancam nyonya baju merah  itu sambil mendengus dingin.

Tempelengan itu keras dan pedas, Thia Wi wan merasa kepalanya jadi pening dan hampir saja jatuh semaput.

Cepat nian tamparan tersebut, bukan saja Thia Wi wan tak tahu bagaimana caranya ia ditempeleng, bahkan ketiga orang tianglo yang menonton dari sampingpun tak sempat melihat dengan cara apakah nyonya cantik itu memberi "hadiah" kepada lawannya.

Sebagai salah seorang dari sepuluh utusan khusus Thian che kau, ilmu silat yang dimiliki Thia Wi wan terhitung ampuh dan jarang ada yang bisa menandinginya, tentu saja ia tak sudi menelan kekalahan di tangan orang dengan begitu saja.

Meski demikian ia tak berani gegabah, sebab dia tahu nyonya baju merah yang muncul secara tiba-tiba ini pada hakekatnya memiliki kungfu yang sangat luar biasa lihaynya, kedahsyatan serangan itu dapat ia rasakan sewaktu hendak membunuh Han Siong Kie tadi, tiga gulung desingan angin dingin telah memaksanya untuk mundur tiga langkah. setelah termangu sejenak. diapun membentak lagi:

"Jika kau tak bersedia menyebutkan nama serta asal usulmu lagi, Harap jangan salahkan kalau "

"Kalau kenapa?" jengek nyonya dengan sinis. "Jangan salahkan kalau aku akan turun tangan tanpa belas kasihan lagi"

"Ciis" Thia Wi wan mungkin orang lain tak tahu asal usulmu itu, tapi Koh nay-nay (nyonya muda) mengetahuinya seperti melihat jari tanganku sendiri Huuh Kamu itu apa? Tindak tandukmu jauh lebih busuk dari seekor anjing budukan, tapi Heehh heehh heeehh siapa berani berhutang dia harus berani ditagih, aku tak akan membunuh dirimu sebab lain hari toh ada yang bakal mencari sendiri jejakmu. Nah enyahlah dari tempat ini"

Wajah bopeng Thia Wi wan berkerut kencang, sinar buas memencar keluar dari matanya, ia membentak lagi: "sebenarnya siapakah engkau ?"

"Kau bersikeras ingin mengetahuinya ?"

"Tentu saja, selamanya aku tidak pernah membunuh manusia yang tak bernama"

"Hiiih hiiihh hlih" nyonya cantik baju merah itu tertawa merdu, suaranya amat jalang dan mengkili-kili telinga pendengarnya.

Meskipun hanya cekikikan biasa, namun berakibat lain bagi pendengaran Thia Wi wan, seketika itu juga ia merasa sekujur badannya seperti dirambati oleh semut dan di gigit nyamuk sebanyak ribuan ekor, perutnya amat sakit bagaikan disayal- sayat.

Dengan wajah berobah hebat dia msndur beberapa langkah kemudian serunya dengan ketakutan:

"Aaah kau, kau adalah..."

"Thia Wi wan, tentunya engkau tahu bukan dengan peraturanku ?"

Seketika itu juga Thia Wi wan membungkam dalam seribu bahasa, dia tak berani bicara lagi, malahan sinar buas yang semula mencorong keluarpun kini lenyap tak membekas. Diam-diam Han Siong Kie terperanjat, ia berpikir:

"Siapa gerangan nyonya cantik baju merah ini ? Mengapa secara tiba-tiba muncul disini ? Padahal tenaga lwekang yang dimiliki Thia Wi wan toh lihay sekali, mengapa dia begitu jeri dan ketakutan kepada perempuan ini? Dan apa pula peraturan yang dimaksudkan perempuan itu? Heran, sungguh mengherankan"

Pemuda itu benar-benar merasa tak habis mengerti, selamanya belum pernah dia dengar tentang manusia seperti ini dalam dunia persilatan-

Sementara sianak muda itu masih melamun, nyonya cantik baju merah itu sudah ulapkan tangannya seraya berseru:

"Sekarang kau boleh pergi dari sini"

Dengan gemas dan penuh kebencian Thia Wi wan melotot sekejap kearah Han Siong Kie, kalau menurut suara hatinya dia belum rela sebelum membinasakan musuhnya ini, tapi ia tak berani membangkang, kendatipun di hati kecilnya dia pun membenci nyonya baju merah itu, namun sikap tersebut tak berani ia perlihatkan pada wajahnya.

"Bagaimana? sudah bosan hidup rupanya? " ejek nyonya baju merah itu sambil tertawa ringan.

"Bolehkah aku tahu, apakah hubunganmu dengan bocah keparat int?" tanya Thia Wi wan sambil keraskan hatinya.

"Kau tak usah tahu, pokoknya segera tinggalkan tempat ini"

Dengan perasaan apa boleh buat Thia wi wan melirik sekejap kearah nyonya baju merah itu, kemudian putar badan dan siap berlalu. "Eeh, tunggu dulu" Tiba-tiba nyonya itu berseru kembali.

"Apa yang hendak kau katakan lagi?" tanya Thia Wi wan sambil putar badan, wajahnya kelihatan agak tertegun- "Tinggalkan dulu benda itu" kata si nyonya cantik dengan dingin.

"Benda apa yang kau minta?" "Lencana ok kui cupay"

"Tidak. tidak bisa kuberikan kepadamu" seru Thia Wi wan dengan paras muka berubah.

"Hmm Kau anggap dengan andalkan kepandaian silatmu yang tak seberapa itu, kau bisa pergi dengan gampang?" .

"Bila kuserahkan benda itu kepadamu, bagaimana mungkin aku bisa memberi laporan kepada kaucu kami?"

"Katakan saja benda itu sudah kuambil"

"Tapi.. persoalan ini menyangkut soal mati hidupku.." "Sudah tak usah cerewet lagi mau diserahkan tidak?" "Maaf Permintaanmu itu tak dapat kupenuhi"

Dengan lemah gemulai nyonya cantik baju merah itu bergerak maju kedepan, sinar membunuh yang menyeramkan melintas dari balik matanya. "Hayo, kalau berani ulangi lagi kata-katamu itu" tantangnya.

Menyaksikan semua peristiwa yang sedang berlangsung dlarena, ketiga orang tiang lo dan dua orang kakek baju biru itu lantas berpikir:

"Jangan-jangan tujuan dari nyonya baju merah yang misterius ini pun lencana ok kui Cu pay itu? Wah, kalau sampai terjatuh ketangannya, runyamlah kami perguruan Thian lam bun"

Han Siong Kie yang sedang menggeletak sedang berpikir pula pada waktu itu.

"Kenapa tidak kugunakan kesempatan yang baik ini untuk menyembuhkan lukaku? Thia Wi wan sudah ketemu batunya, sudah pasti dia tak bisa melukai aku lagi, sedang perempuan baju merah ini..rasanya juga tak akan merugikan aku."

Ia memaksa bangun, setelah duduk bersila, semua perhatian lantas dipusatkan menjadi satu, dan diapun mulai mengatur pernapasan.

Dalam pada itu suasana ditengah arena sudah meningkat hingga titik ketegangan-

kenyataan sudah terpapar jelas, bila Thia Wi wan berani mengulangi kembali kata-katanya, niscaya akan mampus diserang oleh nyonya baju merah itu.

Tampaknya Thia Wi wan merasa jeri sekali terhadap nyonya baju merah itu, meski demikian diapun tak berani menyerahkan lencana ok kui cupay itu kepada orang lain, bisa jadi nyawanya akan dicabut oleh ketuanya sendiri.

Sesudah berpikir putar balik, akhirnya ia mengambil keputusan untuk melarikan diri dari situ, ia menjejakkan kakinya ke tanah dan meloncat keluar..

Baru saja ia bergerak bayangan merah telah melintas dihadapan matanya, menyusul segulung desiran angin dingin yang menusuk tulang berhembus lewat.

"Kau benar-benar sudah bosan hidup?" tegur nyonya baju merah yang telah berdiri dihadapannya itu dengan ketus.

Thia Wi wan tarik napas panjang, terpaksa dia ambil keluar lencana itu dan diangsurkan ke depan- "Ambillah..."

Sebelum lencana itu diambil, tiba-tiba telapak tangannya membalik dan serentetan cahaya aneh memancar keluar dari mutiara diatas lencana tersebut.

"Bangsat, rupanya kau sudah bosan hidup", Maki perempuan itu menyusul seseorang mendengus tertahan. Lencana ok kui cu pay tahu-tahu sudah berpindah tangan sementara Thia Wi wan dengan peluh sebesar kacang membasahi jidatnya mundur jauh di belakang sana.

"Thia Wi wan" kata nyonya baju merah itu sambil tertawa dingin "mumpung aku belum berubah pikiran, cepatlah sipat ekor dan enyah dari sini"

"Kalau engkau masih membangkang terus, Hmm. Hmm. jangan salahkan kalau kubunuh dirimu secara keji" Keadaan dari Thian Wi wan pada saat ini ibaratnya ayam jago yang dikecundangi, dengan loyo dan sedih tundukkan kepalanya rendah-rendah, ia bergumam.

"Lencana ok kui cupay itu diserahkan sendiri kepadaku oleh kaucu ketika beliau menyampaikan perintah pada ku, aai, apakah engkau bisa membayangkan bagaimana akibarnya bila aku kehilangan lencana tersebut"

"Sudahlah, kau tak usah banyak bicara, katakana pada Yu Pia lam bahwa lencana mutiara itu sudah kuambil"

Thia Wi wan tak berani banyak bicara lagi, dia menghela napas panjang dan akhirnya berlalu dari kuil itu dengan tubuh lunglai.

suasana tercekam kembali dalam keheningan, tiada orang yang berbicara dan tiada orang bergerak. yang tampak hanya uap putih yang kian menebal disekitar ubun-ubun Han Siong Kie.

Sebagaimana diketahui, pemuda itu pernah berganti otot bersalin tulang setelah merendamkan diri air kerak bumi Tee long cwan, kemudian berhasil pula menguasahi ilmu sakti si mi sinkang, dengan dasar yang kuat ini tidaklah sulit baginya untuk menyembuhkan luka dalam yang dideritanya.

Tak selang seperminum teh kemudian, Han Siong Kie telah menarik kembali uap putih pada ubun-ubunnya dan melompat bangun. Menyaksikan itu, ketiga orang tianglo dan dua orang kakek baju biru itu segera menunjukkan wajah kegirangan.

"Ciangbunjin suheng, kiong-hi kau berhasil menyembuhkan kembali luka yang diderita" puji To It hui kegirangan.

"Terima kasih atas perhatian kalian semua" sahut pemuda itu seraya mengangguk.

Perlahan-lahan sinar matanya dialihkan ke wajah nyonya baju merah itu, tadi sewaktu berbaring pemuda itu tak dapat melihat jelas paras muka perempuan itu, tapi sekarang semuanya tertampak jelas dan tak dapat dicegah lagi jantungnya berdebar makin keras.

Kecantikan nyonya baju merah ini boleh dibilang sukar dicarikan tandingannya dikolong langit.

Kecantikan tak bisa dilukiskan dengan kata2, semenjak terjun kedalam dunia persilatan belum pernah Han Siong Kie menjumpai perempuan secantik nyonya baju merah ini, walaupun sebelumnya ia pernah berkenalan dengan perempuan-perempuan cantik seperti Go Siau bi, Tonghong Hui serta ibunya si siang go cantik ong cui ing, tapi kalau mereka dibandingkan boleh dibilang ibaratnya langit dan bumi.

Bukan begitu saja, bahkan dia memiliki kematangan sebagai seorang perempuan, kematangan inilah yang menggiurkan hati tiap pria yang menjumpainya.

Han Siong Kie adalah seorang pemuda penganut paham membenci kaum wanita didunia ini, tapi sekarang setelah berhadapan muka dengan nyonya baju merah yang kecantikannya melebihi siapapun ini, goyah juga hatinya, ia merasa perempuan ini memiliki segala sesuatu yang didambakan dan di inginkan selama ini, kecantikan serta kematangannya membuat ia terpesona dan tergiur jadinya. sementara pemuda itu masih termenung sambil melamun, dengan suara yang merdu bagaikan kicauan burung nuri, nyonya cantik baju merah itu menegur.

"Betulkah engkau adalah Manusia muka dingin yang baru- baru ini menggemparkan dunia persilatan-"

Bagaikan baru sadar dari impian Han Siong Kie jadi gelagapan, ia lebih-lebih malu lagi setelah sadar bahwa sikapnya didepan para tianglo kurang pantas.

"Benar Aa.. akulah yang kau maksudkan" sahutnya tergagap "terima kasih banyak atas bantuanmu"

-000d0w000-

BAB 72

NYONYA cantik baju merah itu tertawa manis sekali, tertawanya membuat hati terasa tergoda untuk kesekian kalinya Han Siong Kie merasa jantungnya berdebar keras, merah padam selembar wajahnya karena jengah.

"Bukankah kau juga merupakan pewaris dari perguruan Thian lam bun?" kembali nyonya muda itu bertanya.

"Benar"

"Bukankah benda ini adalah tanda kebesaran dari perguruanmu?" ujar nyonya itu lagi seraya memperlihatkan lencana ok kui cupay tersebut dihadapan Han Siong Kie.

Si anak muda itu terperanjat, ia jauh lebih sadar lagi daripada keadaan semula, tak disangkanya kalau lencana ok kui cupay bisa terjatuh ketangan seorang nyonya muda yang tak diketahui asal usulnya, tentu saja tak mungkln baginya untuk memintanya kembali, selain daripada itupun tak tahu apa tujuan nyonya cantik ini? Maka ketika mendengar pertanyaan itu, diapun mengangguk. "Benar, boleh kah aku tanya siapa nama nona?" Nyonya muda berbaju merah itu tidak menjawab, sebaliknya malah tertawa cekikikan genit dan merdu suara tertawanya sampai-sampai seluruh tubuhnya ikut berguncang keras.

Han Siong Kie tertegun dan melongo, ia tidak mengerti apa sebabnya nyooya itu tertawa geli.

Setelah puas tertawa, sambil mencibirkan bibir nyonya muda itu berkata lagi: "Nona? Apa kau lihat aku masih mirip sebagai seorang nona?"

Han Siong Kie semakin jengah, sampai seluruh wajahnya berubah jadi merah padam, sesudah tertegun beberapa saat ia baru berkata:

"Kalau begitu akulah yang telah latah menyebut, boleh kah aku tahu siapa namamu" ..

"Buat apa kau bertanya soal itu?" ujar nyonya muda itu sambil mengerling nakal.

Kerlingan itu penuh dengan daya pikat, begitu tajam dia mengawasi wajah Han Siong Kie sehingga membuat pemuda itu hampir saja tak berani beradu pandang dengannya.

Ia ingin sekali menghindari tatapannya, sebab baru kali ini dia merasa malu dihadapan perempuan, baru pertama kali ini dia menayadari betapa besarnya daya pesona seorang wanita, ia ingin menghilangkan ingatan tersebut dengan membayangkan sikap dinginnya kepada kaum wanita dimasa lampau tapi tak berhasil. Akhirnya dengan tergagap katanya.

"Ehmm . . kau .. oh. Tidak Kau telah memberi pertolongan kepadaku, maka sudah sepantasnya kalau kutanyakan namamu"

"Aku dapat membedakan mana budi dan mana dendam, kalau budi pasti akan kubayar, kalau dendam pasti akan kubalas." "Aaah, tak perlu Kau tak usah membalas budi atau dendam"

"Kenapa?" tanya pemuda itu keheranan-

"Sebab aku punya tujuan, aku menolong engkau karena mempunyai maksud tertentu"

Perkataan ini sangat mengejutkan Han Siong Kie, tak disangka olehnya kalau perempuan ini berani mengakui kalau kedatangannya bertujuan.

Tapi dengan begitu hatinya malahan jadi lebih tenang, dengan serius tanyanya pula: "Apakah tujuanmu itu?

Katakanlah"

Nyonya muda baju merah itu tertawa misterius, dia menggeleng.

"Tidak... Tak dapat kukatakan pada saat ini, hanya bisa kuberitahukan tujuanku hanya padamu seorang "

"Hanya padaku seorang ?"

"Betul. Bagaimana kalau kau suruh rekan- rekanmu menyingkir lebih dulu"

Meskipun keheranan, Han Siong Kie tak takut untuk memenuhi permintaannya itu, pikirnya:

"Memangnya aku Han Siong Kie takut kepadamu?Baik, akan kulihat permainan apa lagi yang hendak ia tunjukkan dihadapanku, bagaimanapun juga lencana 0k kui cu pay harus kuminta kembali, sekalipun harus ku bayar dengan mahal".

Berpikir demikian, diapun ulapkan tangannya kepada ketiga orang tianglo seraya berkata:

"Harap tianglo sekalian suka mengundurkan diri untuk sementara waktu keluar halaman" Ketiga orang tianglo dan dua orang kakek baju biru tampak rada sangsi, tapi akhirnya mereka memberi hormat dan mengundurkan diri dari situ.

sepeninggalnya kelima orang itu, nyonya muda baju merah itu menuding kearah pelataran lalu ajaknya: "Hayo kita duduk disana"

"Kan sama saja bicara sambil berdiri di sini?" "Kau takut?"

Han Siong Kie tersinggung dengan perasaan apa boleh buat terpaksa dia mengikuti nyonya itu duduk di pelataran kuil.

-000d0w000-