-->

Tengkorak Maut Jilid 32

 
Jilid 32

SEHABIS mengucapkan kata-kata tersebut, seperti sukma gentayangan saja sianak muda itu menerjang maju kedepan.

Meskipun pemuda itu bertindak cepat, nikoh tua itupun tidak berlambat, baru saja Han Siong Kie mencoba untuk menerobos lewat dari sisinya, tahu-tahu nikoh tua itu sudah menghadang dihadapan mukanya sembari melancarkan tiga buah serangan berantai.

Ke tiga buah serangan tersebut bukan saja dilancarkan secara beruntun dengan kecepatan yang luar biasa, terasalah desingan angin puyuh yang menyertai serangan itu hebatnya luar biasa.

Terkesiap Han Siong Kie menghadapi serangan sedahsyat itu, dia coba berkelit ke samping untuk menghindar, lalu dari samping dia lepaskan sebuah serangan balasan.

Nikoh tua itu bergerak kesamping, bukan saja dengan gerakan yang enteng ia berhasil menghindari serangan tersebut, malahan menggunakan kesempatan tersebut ke lima jari tangan kirinya seperti jepitan baja mencengkeram urat penting dipergelangan tangan Han Siong Kie, sementara tangan kanannya dikebutkan kemuka menghajar hiatto-hiatto penting disekitar dada bagian luar.

Cepat dalam serangan, aneh dalam jurus pukulan, kelihayan nikoh tua ini jarang di temui dalam dunia persilatan.

Selihay-lihaynya nikoh tua itu, Han Siong Kie jauh lebih lihay, ia putar telapak tangan kanannya dengan cepat, dari gerakan dia rubah serangannya menjadi gerakan mencengkeram, arah yang diancam adalah pergelangan tangan lawan, sementara telapak tangan kirinya tidak ketinggalan, ia putar satu lingkaran didepan dada dan menutup semua hiatto pentingnya dari ancaman.

Gagal dengan serangan kilatnya, nikoh tua itu mundur tiga langkah kebelakang, menyusul sebuah pukulan kilat kembali dilancarkan.

Han Siong Kie tak mau unjukkan kelemahan nya, dia lepaskan pula sebuah pukulan untuk menyambut ancaman itu.

"Blaang" benturan keras tak dapat dihindari lagi, masing- masing pihak terjengkang mundur satu langkah.

Dalam hati Han Siong Kie merasa terperanjat, ia tak mengira kalau nikoh tua itu sanggup menerima pukulan saktinya yang disertai dengan tenaga sebesar enam bagian.

Ia kaget nikoh tua itu lebih kaget sebab dalam serangannya barusan dia telah mengerahkan tenaga sebesar sepuluh bagian, tapi nyatanya bukan saja tak berhasil merobohkan lawan, dia sendiri yang terdesak mundur satu langkah.

Untuk sesaat kedua belah pihak sama-sama tertegun, mereka sama-sama menyadari bahwa musuh yang sedang dihadapi adalah musuh tangguh yang belum pernah dijumpai sebelumnya. Paras muka nikoh tua itu berobah hebat, jubah pendetanya yang lebar menggelembung sendiri tanpa terhembus angin, sinar matanya berkilat dan perlahan-lahan telapak tangannya diangkat keatas.

Meskipun Han Siong Kie terperanjat dan tidak mengerti ilmu aneh apakah yang sedang dikerahkan musuhnya namun sianak muda itu tak berani bertindak gegabah, dia pun menghimpun hawa sakti si mi sinkang nya sebesar delapan bagian, telapak tangannya dialingkan didepan dada, siap menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan.

Sementara itu nikoh tua tadi telah mengangkat telapak tangannya sejajar dada, kemudian didorongkan kemuka perlahan-lahan, segulungan angin pukulan yang maha dahsyat segera meluncur kedepan dan menyapu benda apa saja yang dilewatinya.

Han Siong Kie memandang pukulan itu dengan serius, sepasang telapak tangannya balas didorong kemuka dan menyambut ancaman tersebut dengan tenaga si mi sinkang sebesar delapan bagian.

"Blaaang" ledakan keras menggelegar di angkasa, diantata suara nyaring terdengar dengus tertahan menggema diudara, dengan sempoyongan nikoh tua itu mundur lima langkah, paras mukanya pucat pias, napasnya ngos-ngosan seperti kerbau, peluh sebesar kacang kedelai mengucur keluar tiada hentinya.

Han Siong Kie sendiripun merasakan hatinya bergoncang keras, dia terdorong mundur satu langkah lebar.

Setelah berhenti sebentar nikoh tua itu menggigit bibir, tiba-tiba ia menerjang lagi kedepan, sepasang telapak tangannya dengan desingan tajam disapu kembali keluar.

Sapuan tersebut tampaknya saja sangat lambat pada hakekatnya cepat melebihi kilat bahkan sudut sasarannya jauh dari keadaan biasa bukan saja disertai hawa pukulan yang aneh bahkan membuat orang tak mampu untuk menangkis datangnya ancaman itu

Han Siong Kie seketika terdesak hebat, dia mundur terus berulang kali tanpa mampu membalas.

Bagaikan gulungan ombak sungai yang berkepanjangan serangan itu datang secara bergelombang dan tiada putusnya, sianak muda itu mundur terus kebelakang dan akhirnya ia terjebak disuatu batuan cadas yang tinggi dan besar, waktu itu ingin mundurpun sudah tiada jalan lagi.

Sadarlah pemuda itu bahwa keadaannya sudah ketitir hebat, bila ia tidak unjukkan kesaktiannya lagi tak nanti dia bisa menaiki bukit itu. Berpikir demikian dia lantas membentak: "Maaf, terpaksa aku akan bertindak kasar"

Dengan jurus Mo ong ko ciat (raja iblis menyembah loteng istana) ia lepaskan sebuah pukulan dengan tenaga sebesar sepuluh bagian.

Walaupun jurus serangan ygng dipergunakan masih merupakan jurus-jurus lama, akan tetapi setelah dia berhasil mempelajari ilmu sakti si mi sinkang, kekuatan daya serangannya ternyata jauh berbeda.

Jerit kesakitan menggema di angkasa, dengan sempoyongan nikoh tua itu mundur sejauh satu kaki lebih, darah segar mengucur keluar membasahi ujung bibirnya.

Han Siong Kie tertegun, dia tak menyangka kelihayannya sudah mencapai tingkatan setinggi itu, semua dalam keadaaa begini tak sempat lagi baginya untuk berpikir lebih jauh, serentak tubuhnya berkelebat dan menerjang ke atas puncak bukit.

Selang sesaat kemudian ia sudah mencapai seratus kaki sebelum puncak bukit, beberapa batang pohon Siong muncul didepas mata, dan d ibalik pepohonan itu tampaklah sebuah bangunan kuil yang terbuat dari batu cadas gunung. Han Siong Kie merasa semangatnya berkobar, ia percepat gerakan larinya.

Mendadak sesosok bayangan abu-abu muncul dari balik pepohonan dan langsung menerkam kedepan, sebelum tiba angin pukulan yang tajam sudah keburu menyapu lebih duluan-

Sungguh terkejut sianak muda itu, ia tahu tenaga dalam yang dimiliki pendatang ini jauh lebih hebat daripada dua orang nikoh yang telah dijumpai, cepat tubuhnya menukik dan membentuk sebuah gerakan setengah busur diudara kemudian melayang turun ke muka bumi.

Bayangan abu-abu itnpun melayang turun ternyata dia adalah seorang nikoh berlengan tunggal.

Sebelum Han Siong Kie sempat buka suara, nikoh berlengan satu itu sudah menegur lebih dahulu:

"Sicu, engkau anggap kepandaian silatmu sudah hebat maka secara beruntun kau lukai dua orang seperguruanku dan kemudian datang mengacau bukit Tay huang san ini"

"Aku tidak bermaksud main kasar, aku memohon dengan sopan dan menuruti tata cara yang selayaknya akan tetapi merekalah yang memaksa aku untuk menggunakan kekerasan maka janganlah kau salahkan jika terpaksa kulukai pula kedua orang rekan seperguruanmu itu!"

“Hmm! Selama enam puluh tahun belum pernah ada orang asing yang berani menginjakkan kakinya di bukit Tay huang san ini”

"Aku datang kemari karena mendapat titipan dari seseorang aku datang untuk mencari orang, lain daripada itu aku tiada maksud apa-apa apalagi berbuat keonaran!”

"Aku tak ambil peduli apa maksud kedatanganmu pokoknya kehadiranmu disini sudah merupakan suatu pelanggaran pantangan atas peraturan dari kuil kami ini" “Heeehh heeehhhe heehh tolong tanya apa yang hendak suthay lakukan terbadap diriku ?” ejek Han Siong Kie sambil tertawa dingin.

“Kau akan kutangkap kemudian dijatuhi hukuman sesuai dengan peraturan yang berlaku disini" jawab nikoh berlengan satu dengan wajah hijau membesi.

"Menangkap aku? Suthay angap aku bisa ditangkap dengan gampang seperti apa yang kau bayangkan?”

“Hmmm ! Jadi sicu tidak percaya? Kalao begitu mari kita buktikan bersama !”

Begitu kata terakhir diutaraksn keluar kelima jari tanganaya seperti cakar garuda melancarkan cengkeraman lagi.

Si anak muda itu terkesiap cepat nian ancaman tersebut, buru buru dia bsrkelit kesamping untuk menghindar, hanya sedikit terlambat niscaya dia bakal kena ditangkap.

Gagal dengan cengkeraman mautnya nikoh berlengan satu itu tidak merubah gerak serangannya, dari cengkeraman ia mengubab menjadi serangan telapak tangan dan langsung dihantam kedada pemuda itu dengao cepat.

Han Siong Kie ingin menghindar cuma tak sempat lagi terpaksa dia kerahkan hawa sakti Si mi sin kangnya untuk menerima pukulan itu dengan kekerasan.

“Blaaang !” Han Siong Kie merasa dadanya jadi sesak dan susah bernapas, dengan sempoyongan ia mundur tiga langkah ke belakang hampir saja darah segar muntah keluar, pandangan matanya berkunang dan kepalanya jadi pening.

Nikoh berlengan satu pun tidak memperoleh keuntungan apa apa telapak tangannya yang tergetar oleh tenaga sinkang musuh terasa sangat sakit bagaikan mau patah, dengan gontai ia mundur sejauh delapan depa, rasa kaget dan tercengang menghiasi seluruh wajahnya. Kecuali gurunya, selama hidup belum pernah dijumpai musuh setangguh ini, apalagi usianya belum dua puluh tahunan, hal ini semakin mencengangkan hatinya.

Dipihak lain Han Siong Kie dibikin naik pitam oleh kejadian yang baru dialaminya, hawa sakti Si mi sinkang lantas disalurkan mengelilingi seluruh badan, dari kejauhan dia lepaskan sebuah pukulan dahsyat.

Nikoh berlengan tunggal itu terkesiap. cepat-cepat tangannya berputar membentuk satu lingkaran kilat, gerakan itu sama sekali tidak menimbulkan suara sedikitpun-

Han Siong Kie terperanjat ia merasa bahwa tenaga pukulan yang dilancarkan dengan kekuatan sebesar delapan bagian itu mendadak punah sama sekali hingga lenyap tak berbekas.

Ia menggigit bibir, sepasang telapak tangannya sekali lagi meluncurkan serangan dengaan mengerahkan tenaga sebesar sepuluh bagian, kali ini terlihatlah pancaran cahaya aneh dari raut wajahnya.

Nikoh berlengan tunggal ini lebih tercekat lagi hatinya, kalau orang lain tidak tahu maka hati kecilnya jauh lebih paham dari siapapun juga untuk memunahkan daya pengaruh serangan musu barusan dia harus mengerahkan ilmu sakti Pay yap sin khinya hingga mencapai dua belas bagian dengan susah payah ancaman musuh baru bisa dipunahkan, tapi sekarang musuh telah menambahkan serangannya hingga mencapai sepuluh bagian, dia yakin bahwa kepandaian nya tak mampu untuk membendung kedahsyatan lawan.

Tampaknya nikoh berlengan tunggal itu bakal mati konyol.

Disaat yang kritis tiba-tiba terdengar seseorang berseru nyaring dari tempat kejauhan.

"Biau hian cepat mundur, pukulan itu adalah ilmu si mi sinkang, engkau tak mampu untuk menghadapinya" Ucapan tersebut cukup mencengangkan hati Han Siong Kie, ia tahu kalau tebakannya tidak keliru maka orang yang baruran berbicara tak lain adalah Tay huang sinni pemilik kuil Bu cuan ini, ia merasa bahwa kata-kata tersebut berasal dari balik kuil, kalau toh demikian adanya dari mana nikoh sakti itu bisa mengetahui akan asal usul ilmu silatnya?"

Mungkinkah ia sudah berhasil melatih ilmu Thian sao tong, suatu kepandaian melihat jauh.

Paras muka nikoh tua yang bernama Biau hian itu berubah hebat, dia melirik sekejap kearah Han Siong Kie. kemudian putar badan dan lenyap dibalik batu-batu cadas.

Karena musuhnya telah mengundurkan diri, maka sianak muda itupun membatalkan erangannya, dengan ilmu menyampaikan suara serunya kearah puncak bukit sebelah depan sana.

"Locianpwe, boanpwe ada urusan hendak bertemu dengan cianpwe, harap engkau bersedia memaafkan kelancanganku ini"

"Sebutkan asal usul perguraanmu " kata-kata tersebut muncul kembali dari atas puncak bukit.

"Boancwe bernama Han Siong Kie, ketua dari perguruan Thian lam bun "

"Engkau adalah ketua dari istana Huan mo kiong diwilayah Thian-Iam ? Ada urusan apa datang kemari ?"

"Boanpwe mendapat pesan dari seseorang dan sengaja datang kemari untuk mencari orang"

"Siapa yang kau cari ?"

“Seorang nona yang bernama Go siau bi" "Siapa yang suruh engkau datang kemari ?" "Put to sianseng, kakek dari nona Go " "ooooh, jadi engkaulah yang bernama Manusia muka dingin Han Siong Kie " sekali lagi anak muda itu terperanjat, sahutnya cepat: "Benar, boanpwelah yang bernama Han Siong Kie."

"Memandang diatas wajah Put lo sianseng aku tidak akan mempersoalkan lagi kesalahanmu mencari gara-gara ke atas bukit kami ini. Nah Cepatlah turun dari bukit ini."

Perasaan hati yang semula sudah menjadi tenang, kini bergolak kembali, ucapan tersebut dirasakan Han Siong Kie sebagai suatu ejekan, rasa ingin menang lantas muncul kembali.

"Cianpwe, aku toh sudah mengutarakan maksud kedatanganku ? Masa sebelum tujuanku kesampaian kau telah mengusir aku turun gunung?" serunya dengan hati tak puas.

"Aku perintahkan kepadamu untuk segera turun dari bukit ini " tiba-tiba suara dari Tay huang sinni berubah jadi amat dingin dan ketus, bahkan ucapan tersebut diutarakan sepatah demi sepatah kata.

Sesabar-sabarnya Han Siong Kie setelah diperlakukan sekasar itu diapun tak dapat menahan diri lagi tampiknya:

"Aku datang kemari bukan untuk mendengarkan perintahmu, kalau aku tak mau turun gunung kau mau apa?"

"Hmm Membandel" maki Tay huang sinni ketus, "Kalau begitu apa yang hendak kau lakukan ?"

"Setelah persoalan yang dititipkan pada ku telah kuselesaikan, tanpa disuruh aku bisa turun gunung sendiri"

"Persoalan apa yang hendak kau kerjakan ditempat ini?" "Aku ingin bertemu dengan nona Go siau bi dan bercakap-

cakap sendiri dengan dirinya" "Sicu, ketahuilah bahwa pinni adalah seorang pendeta beragama, aku tak ingin bersilat lidah dengan dirimu, lebih baik cepat-cepatlah tinggalkan tempat ini"

"Maaf, aku tak dapat menuruti kehendakmu itu"

"Hmm sicu, jangan kau anggap ilmu sakti si mi sinkang yang kau miliki itu adalah suatu kelandaian sakti yang tiada tandingannya lagi dikolong langit" Agaknya Tay huang sinni mulai naik darah oleh sikap lawannya yang keras kepala.

"Akupun sama sekali tidak berpendapat demikian, tapi bila ada orang ingin main-main denganku, akan kubuktikan bahwa kepandaian tersebut masih lebih dari cukup bagiku untuk mempertahankan diri"

Suasana hening untuk sesaat, diantara hembusan angin bukit yang sepoi-sepoi akhirnya terdengar Tay huang sini berkata lagi, hanya kali ini suaranya jauh lebih lembut: "Sicu, aku rasa engkau tak usah bertemu lagi dengan nona Go"

"Kenapa?" Tanya si anak muda itu cepat. "Sebab dia tak ingin berjumpa lagi denganmu "

Jawaban ini membuat Han Siong Kie membungkam, sebab inilah kejadian yang sangat tidak diharapkan olehnya, suatu kejadian yang membuat ia jadi jengah dan merasa serba salah, tapi haruskah ia mengundurkan diri dengan begitu saja

?

"Aku telah berjanji kepada Put lo sianseng, bahwa persoalan ini akan kuselesaikan dengan segala kemampuan yang kumiliki" pikir pemuda itu dalam hati "dan lagi akupun merasa banyak berhutang budi kepada Go siau Bi, apakah aku harus mengundurkan diri karena persoalan ini ? Toh Go siau bi bisa menjadi nekad adalah gara-gara karena aku ? Tatkala ingatan tersebut terlintas dalam benaknya, pemuda itu lantas berseru: "Dia mau berjumpa denganku atau tidak adalah urusan pribadinya sendiri, pokoknya bagaimanapun juga aku harus bertemu dengannya "

"Hmm Engkau hendak berbuat sewenang-wenang ditempat ini ?"

"Tidak. aku tidak berbuat sewenang-wenang, aku hanya bertindak menuruti perasaan hatiku sendiri"

"Ketahuilah wahai Han sicu, pinni bisa simpatik terhadap pengalaman serta tragedi yang menimpa kehidupan nona Go, telah kukabulkan permintaannya itu dan sekarang akan kucukur rambutnya menjadi nikoh, mulai detik ini ia sudah menjadi murid Buddha dan dia tak akan menjumpai dirimu untuk selamanya."

"Tidak Tidak boleh" teriak Han Siong Kie dengan setengah menggembor, paras mukanya berubah hebat.

"Tidak boleh ? Dengan berdasarkan apa engkau melarang kebebasan orang untuk memilih dan melakukan apa yang disukainya Haaah haaah haaah sicu, kau harus tahu kendatipun pinni telah menjadi murid Buddha, akan tetapi aku tidak terikat oleh suatu pantangan, yakni pantangan membunuh"

Habislah kesabaran Han Siong Kie, dia mendengus penuh kemarahan, sekali menjejak permukan tanah, seperti anak panah yang terlepas dari busurnya pemuda itu melayang keatas puncak bukit.

Sewaktu tiba didepan pintu kuil ia lihat pintu gerbang tertutup rapat, seorang dara baju putih tampak berlutut didepan pintu kuil itu tanpa bergerak. siapa lagi dara itu kalau bukan Go siau bi

Han Siong Kie merasa jantungnya berdebar keras, lama- lama sekali ia menatap dara itu kemudian bisiknya: "Nona Go " Go siau bi tidak menjawab, ia masih tetap berlutut tak bergerak.

"Nona Go " sekali lagi anak itu muda itu memanggil dengan lemah.

-000dw000-

BAB 66

PENGALAMAN yang dialami Go siau bi memang mengenaskan, berulang kali ia menyatakan cinta kepada pemuda pujaannya, namun setiap kali tidak mendapat tanggapan yang serius.

Sejak mengalami kejadian didalam perkampungan oh han san ceng bertekadlah gadis ini untuk cukur rambut menjadi pendeta dan menjalankan sisa hidupnya dengan mengabdikan diri kepada sang Buddha.

Kendatipun tekadnya sudah bulat, tak dapat dipungkiri bahwa rasa cintanya terhadap Han Siong Kie telah padam terlebih lagi ia tak menyangka kalau si anak muda itu bakal datang ke bukit Tay huang san mencari dirinya.

Untuk sesaat pikirannya jadi kacau balau tak karuan, rasa cinta yang masih membakar dalam dadanya serasa makin bergolak dengan hebatnya.

Pannggilan dari Han Siong Kie, dirasakan olehnya bagaikan beberapa buah martil yang menghantam diatas dasar perasaan hatinya yang mulai menjadi dingin dan kaku.

Tapi akhirnya perlahan-lahan ia bangkit berdiri juga.

Berhadap-hadapan muka dengan sinar mata yang saling bertemu seketika membuat sekujur badan Han Siong Kie bergetar keras tanpa sadar dia mundur satu langkah ke belakang. Raut wajab yang tertera di hadapan matanya sekarang bukanlah wajah yang segar dan ayu lagi, wajah gadis itu sudah kusut dan layu, ibaratnya daun yang sudah kering dan bunga yang hampir rontok, walau pun baru berpisah selama beberapa bulan tapi gadis itu sudah berubah, banyak sekali perubahannya.

Dari wajahnya yang kusut dan layu itu tidak nampak kesegarannya lagi, tidak tercermin kembali bahwa dara ita masih ramaja dan muda, biji matanya yang dulu bening sekarang diliputi kehampaan dan kepedihan dengan tatapan agak kaku ia mengawasi kekasih hatinya yang membuat ia jadi putus asa dan tak bergairah lagi untuk bidup.

Dengan sedih Han Siong Kie berkata;

“Nona Go ada beberapa persoalan ingin sekali kubicarakan dengan dirimu”

Sekilas cahaya terang sempat menghiasi wajah Go Siau bi yang layu meski sedetik kemudian telah lenyap lagi tanpa bekas.

"Mungkinkab ia telah berubah pikiran dan sekarang mulai mencintai diriku?" demikian pikirnya di hati.

Tapi sejenak kemudian dengan sedih ia membantah kembali jalan pikirannya itu ia bertanya dengan suara yang pedih:

"Han siangkong mau apa engkau datang kemari?” "Aku aku ingin bercakap-cakap dengan nona!" sahut

pemuda itu tergagap

“Hanya ingin berbicara saja? Apa yang bendak kau bicarakan dengan diriku?”

"Aku minta nona bersedia untuk membatalkan niatmu untuk cukur rambut menjadi pendeta!"

"Kenapa?” Tertegun Han Siong Kie menghadapi pertanyaan tersebut untuk sesaat ia jadi gelagapan dan tak tahu apa yang mesti dijawab tapi untunglah satu ingatan cepat melintas dalam benaknya dengan serius pemuda itu menjawab:

“Kakek nona Put lo sianseng muncul kembali dari pengasingannya karena ayahmu mati terbunuh maka sengaja beliau melatih nona agar nona bisa membangun kembali perkumpulan Pat-gi pang yang tercerai berai itu"

Hebat sekali perubahan wajah Go Siau bi setelah mengetahui bahwa maksud kedatangan pemuda itu bukan lantaran dia, katanya:

“Ooh jadi kau datang kemari hanya untuk menyampaikan pesan dari kakekku?”

Han Siong Kie semakin kikuk ia tertawa jengah dan menyahut:

“Nona Go bila engkau bersikeras untuk masuk jadi pendeta bukan saja kakekmu akan merasa kecewa dan bersedih hati bahkan sukma ayahmu di alam baka pun tak akan menyetujui tindakan dari nona”

Sekali lagi Go Siau bi menukas ucapan lawannya yang belum selesai ia berkata.

"Han sioog Kie engkau datang kemari hanya untuk mengucapkan beberapa patah kata itu?”

"Tentang soal ini."

"Katakan saja yaa atau bukan?”

“Selain daripada itu aku pun ingin menyampaikan rasa sesalku terhadap nona”

“Masih ada perkataan lain yang hendak kau ucapkan?”

Han Siong Kie jadi gelagapan, ia tak tahu apa yang mesti dibicarakan pada saat ini. Go Siau bi makin ketus sikapnya, nada perkataaanya lebih dingin daripada es ia berkata:

“Han siong Kie sekarang juga kau bolah pergi tinggalkan tempat ini!”

“Tapi nona, kau "

“Ketahuilah Han siangkong, tiap manusia mempunyai tujuan dan cita-citanya sendiri, tak usah kau paksa diriku untuk menuruti kehendak hatimu itu !”

Serba salah jadinya keadaan Han Siong Kie waktu itu dia tak tahu bagaimana musti mengatasi keadaan yang serba riku ini.

"Kraaak !” pintu kuil yang semula tertutup rapat, perlahan- lahan terpentang lebar, dari bilik pintu muncullah seorang nikoh tua yang berwajah merah. setajam sembilu sorot matanya nikoh itu agung tampaknya dan sangat berwibawa.

Sementara Go Siau bi sendiri telah putar badan serta berlutut kembali ke atas tanah.

Menyaksikan kemunculan nikoh tua itu Han Siong Kie segera maju dia memberi hormat tegurnya :

"Apakah locianpwe adalah pemilik kuil ini ?"

"Ehmm " tiada jawaban kecuali dengusan dingin, dengusan tersebut amat ketus dan tak sedap didengar.

sekuat tenaga Han Siong Kie berusaha untuk mengendalikan perasaan sendiri, ia bertanya:

"Sudahkah locianpwe menyanggupi permintaannya untuk mencukur rambutnya menjadi pendeta?"

"Ehmm sudah kenapa ??"

"Aku rasa dengan kedudukan cianpwe yang agung dan dihormati orang, tentunya engkau tak akan mengingkari janji sendiri bukan ?" "Apa maksudmu dengan perkataan itu?" tegur Tay huang sini dengan wajah berubah.

"Bukankah locianpwe telah menyanggupi permintaan put lo sianseng untuk menolak permintaan nona Go menjadi pendeta

?"

Ketika ucapan tersebut diutarakan keluar tanpa bisa dicegah lagi Go siau bi berpaling serta melotot sekejap kearah sianak muda itu.

"Ehmm, memang ada kejadian seperti itu" kata Tay huang sinni tetap ketus, "tapi aku tidak menyanggupi untuk tidak mencukurkan rambut cucunya, aku hanya setuju untuk memberi kesempatan kepadanya untuk mempertimbangkan kembali persoalan ini"

"Tapi bukankah perbuatanmu sekarang "

"Pinni simpatik terhadap tragedi yang menimpa dirinya dan sekarang aku sudah berubah pikiran" tukas nikoh itu cepat.

"Apakah sudah locianpwe bayangkan akibat-akibatnya bila aku melakukan hal ini atas dirinya?"

"Bagi kami orang-orang beragama tak pernah terpikirkan apakah ada akibat atau tidak tindakan yang kami ambil, semua persoalan kami pertimbangkan dengan keadaan berjodoh atau tidak"

"Hmm orang beragama mengutamakan belas kasihan, tindakan dari locianpwe ini "

"Tutup mulutmu" bentak Tay huang sinni marah "ia sudah tiga hari tiga malam berlutut didepan pintu kuilku, apakah pinni tak boleh berbuat belas kasihan dengan memenuhi keinginannya "

Waktu itu tiba tiba Go siau bi berpaling dan berkata: “Han Siong Kie sekarang juga engkau boleh turun dari

gunung ini tak usah kau campuri lagi urusanku ini!” Sadarlah Han Siong Kie bahwa perjalanaannya kali ini hanya sia sia belaka dia menghela napas panjang putar badan dan siap berlalu dari tempat itu.

"Tungggu sebentar" mendadak seseorang berseru suara itu sangat dikenal sekali olehnya.

Han Siong Kie putar badan seraya berpaling tapi apa yang muncul didepan matanya membuat pemuda itu dengan wajah tercengang mundur tiga langkah ke belakang.

Dibelakang Tay huan sinni telah bertambah dengan seseorang dan orang itu adalah seorang perempuan berkerudung yang sangat dikenal olehnya sebab dia tak lain adalah Orang yang kehilangan sukma, perempuan misterius itu.

Mimpi pun Han Siong Kie tak mengira kalau Orang yang kehilangan sukma bisa muncul dalam kuil Bu cu-an ini, ini suatu kesengajaan? Ataukah suatu kebetulan belaka?

"Biau hian, Bawa li sicu itu masuk kedalam” terdengar Tay huang sinni berkata kepada nikoh buntung yang berdiri disamping gelanggang.

Nikoh buntung itu mengiakan dia membangunksn Go Siau bi dan berjalan masuk ke dalam kuil.

Sementara itu Han Siong Kie hanya berdiri termangu- mangu sambil menatap wajah Orang yang kehilangan sukma tanpa berkedip.

“Han Sioog Kie !” terdengar Tay huang sinni menegur dengan suara yang berat dan ketus, “Sebagai seorang Ciangbunjin dari suatu perguruan, tahukah engkau bahwa perbuatanmu memasuki wilayah terlarang dari perguruan ini adalah suatu perbuatan yang melanggar tata susila?”

Han Siong Kie semakin termangu, ucapan lawan terasa menusuk perasaan hatinya terutama kata-kata yang menyangkut soal kedudukannya sebagai ketua dari suatu perguruan membuat pemuda itu tak bisa banyak berkutik.

Akhirnya setelah termenung sebentar ujarnya dengan ketus:

“Apa yang hendak locianpwe lakukan atas diriku ini ?” “Berbicara tentang tingkat kedudukan pinni tidak pantas

untuk turun tangan atas dirimu tapi tindak tandukmu kelewat

pongah dan jumawa, perbuatanmu telah menodai keangkeran serta kewibawaan nama besar Tay huabg san kami dimata umum maka untuk menyelesaikan masalah ini terpaksa kita harus tentukan menang kalah dengan pertarungan adu tenaga dalam”

Memang inilah yang diharapkan Han Siong Kie, sebab semenjak ia menerima pesan dari Put lo sianseng sudah terlintas satu ingatan untuk mengadu kepandaian dengan tokoh silat itu

"Maksud Locianpwe engkau hendak mengajak aku untuk bertaruh dalam pertarungan ini?" katanya kemudian dengan serius.

"Benar .. "

"Dan pertarungan ini adalah pertarungan atas mati dan hidup ?"

"Haah, tidak sampai seserius itu asal sudah ditentukan siapa menang siapa kalah, hal ini sudah lebih dari cukup "

"Bagaimana setelah menang kalah dapat ditetapkan ?" "Jika engkau yang menang maka pinni tak akan

mempersoalkan kehadiranmu lagi di bukit ini, bahkan akupun

tak akan memaksa Go siau bi untuk mencukur rambut menjadi pendeta"

"Seandainya aku yang kalah ? Apa yang harus kulakukan ?" "Kalau engkau kalah maka kau harus menyanggupi sebuah syarat yang akan pinni ajukan "

"Apa syaratmu itu ?"

"Syarat itu rasanya terlampau awal bila kuutarakan pada saat ini, pokoknya tak akan merugikan dirimu "

"Andaikata menang kalah tak dapat ditentukan? Apa yang harus kulakukan?"

"Akan kubiarkan engkau turun dari bukit ini dengan selamat

"

Perasaan hati Han Siong Kie bergolak keras, setelah

mendengar ucapan tersebut, dia merasa beruntung karena bisa mendapat kesempatan untuk bertarung melawan seorang tokoh silat yang lihay. Tapi diapun kuatir bila kalah maka syarat apakah yang bakal diajukan kepadanya ? Mampukah ia melaksanakan syarat tersebut ?

"Locianpwe, pertarungan yang bagaimana kah akan kita langsungkan? " ia bertanya kemudian.

Tay huang sinni termenung dan berpikir sebentar, lalu sahutnya:

"Pinni telah bersumpah tak akan keluar dari pintu kuil ini barang selangkahpun, sekarang kita berdiri dengan selisih jarak lima kaki, baiknya kalau kita masing-masing berdiri tak bergerak ditempat semula dan masing-masing melancarkan tiga buah serangan baik ilmu macam apa pun yang dimiliki boleh digunakan siapa bisa memaksa lawan untuk bergeser dari tempat kedudukannya maka dialah yang menang!”

Han Siong Kie msngangguk berulang kali setelah mendengar usul tersebut melancarkan serangan dari jarak lima kaki memang bukan suatu pekerjaan yang mudah bila orang itu bukan seorang tokoh silat bcrilmu tinggi maka jangan harap bisa menggeserkan musuhnya dari tempat kedudukan. Dengan perkataan lain dalam pertarungan ini bukan saja orang tak bisa bermain licik atau main sabun bahkan harus benar-benar mengandalkan ilmu sejati. Sekali pun bisa menggeserkan orang itu dari kedudukannya akan tetapi tak sampai melukai lawannya.

Tiba tiba ia teringat kembali ilmu Tong kim ci yang maha sakii itu semenjak ia berhasil melatih ilmu Si mi sinkang belum pernah kepandaian tersebut dicoba kembali kedahsyatannya apa salahnya bila menggunakan kesempatan ini dia mencoba kembali keampuhan ilmu tersebut?

Sementara pemuda itu masih termenung Tay huang sinni telah berkata lagi.

"Li sicu aku minta engkau menjadi saksi dalam pertarungan ini tentunya engkau bersedia bukan?”

Seraya berkata nikoh itu memandang sekejap kearah Orang yang kehilangan sukma.

Cepat perempuan miaterius itu memberi hormat ia menyahut.

"Boanpwe akan mengikuti perkataan suthay!” dia pun melompat keluar dari kuil itu dan berdiri di samping gelanggang.

Dalam waktu singkat suasana gelanggang diliputi ketegangan dan keseriusan semua orang menahan napas dan menantikan berlangsungnya pertarungan itu dengan hati berdebar.

Seorang pemuka silat yang sudah tersohor namanya semenjak enam puluh tahun berselang akan bertarung melawan seorang pemuda belasan tahun yang memiliki ilmu tinggi, pertarungan semacam ini boleh dibilang merupakan suatu peristiwa yang langka dan jarang ditemui dikolong langit tak heran kalau peristiwa tersebut menggetarkan hati setiap orang yang hadir disitu. "Han sauhiap. silahkan engkau melancarkan serangan lebih dahulu " Suatu ketika Tay huang sinni berkata dengan wajah serius.

"Tidak. lebih baik locianpwe yang turun tangan lebih dahulu" kata Han Siong Kie dengan hati bergetar.

"Pini adalah seorang angkatan tua, tidak pantas untuk turun tangan lebih dahulu, lebih baik sauhiap duluan"

"Kalau memang begitu, maaf kalau terpaksa boanpwe bertindak lancang . . nah, sambutlah seranganku ini"

Dengan menghimpun hawa sakti Si mi sinkangnya mencapai sepuluh bagian, perlahan-lahan telapak tangannya diangkat kemuka dan lantas didorong ke depan.

Segulung angin pukulan yang tipis halus dan sama sekali tidak menimbulkan suara, berhembus ketubuh lawan-

Meskipun enteng sekali pukulan itu tampaknya pada hakekatnya mengandung tenaga dahsyat yang cukup merontokkan nyali orang.

Disaat Han Siong Kie melancarkan serangan Tay huang sinni sendiripun memutar tiga kali sepasang telapak tangannya didepan dada.

suatu getaran keras menyusu terjadinya ledakan yang memekikkan telinga Tay huang sini hanya tergetar sedikit tubuhnya, sementara kuda-kudanya masih kelihatan kokoh sekali.

Pukulan si mi sinkang sebesar sepuluh bagian ternyata berhasil dipunahkan oleh nikoh tua itu dengan enteng, sedikit banyak tercekat juga hati Han Siong Kie, diam-diam ia menjulurkan lidahnya.

Paras muka Tay huang sinni sendiri berubah jadi amat serius, tampaknya nikoh itu tidak berkeyakinan dapat menangkan pertarungan ini. orang yang kehilangan sukma sendiripun tampak sangat tegang, sampai-sampai badannya ikut gemetar keras.

Gagal dengan serangan yang pertama, Han Siong Kie menghimpus kembali tenaganya mencapai dua belas bagian, sambil melepaskan pukulan serunya lantang: "sambutlah seranganku yang kedua ini"

Ketika sepasang telapak tangannya dilontarkan kedepan, secara lapat-lapat tampaklah asap putih yang tipis menyertai deruan pukulan itu.

Tay huang sinni menggerakkan sepasang ujung bajunya untuk menangkis, ia membentuk gerakan aneh didepan dadanya, selapis hawa hijau yang menggulung tebal seketika melapisi seluruh badannya, jelas nikoh ini sudah mengerahkan ilmu Pay yap sin khinya hingga mencapai pada puncak kehebatannya.

Cahaya putih dan cahaya hijau segera bertemu satu sama lainnya, dan tak bisa di cegah terjadilah ledakan yang memekikkan telinga.

Sekujur badan Tay huang sini gemetar keras, tubuhnya goncang bagaikan ranting pohon terhembus angin puyuh, nyaris kedudukannya jebol dan tubuhnya terdorong maju ke depan.

Untunglah ia menggigit bibir sambil berkerut dahi, sekuat tenaga padri itu berusaha mempertahankan diri, peluh sudah mulai membasahi seluruh badannya.

Dua jurus serangan sudah lewat tanpa menghasilkan apa- apa, sekarang tinggallah jurus yang terakhir. pemuda itu tahu bila serangan yang ketigapun mengalami kegagalan, sudah pasti dialah yang bakal menderita kekalahan.

Bila dipikir kembali akan kedudukan Tay huang sinni yang begitu tinggi dan terhormat, kalah ditangan padri perempuan ini belum terhitung suatu kejadian yang memalukan, tapi Han Siong Kie mempunyai pandangan yang lain, dia harus dapat menangkan nikoh tua ini karena bagaimanapun juga dia adalah seorang ketua dari suatu perguruan besar.

Dan menang kalah akan ditentukan dalam jurus serangan yang terakhir ini.

Han Siong Kie mementangkan kesepuluh jari tangannya lebar-lebar, segenap hawa sakti yang dimilikinya disalurkan kedalam jari tangan itu, ia telah mempersiapkan diri untuk melangsungkan pertarungan yang terakhir ini dengan menggunakan ilmu jari Tong kim ci.

Setajam sembilu pancaran sinar mata Tay huang sinni, dia menatap wajah pemuda itu tanpa berkedip. sepasang telapak tangannya disilangkan didepan dada.

Akhirnya pemuda itu membentak keras, sepasang tangannya bergetar, sepuluh gulung desingan angin jari dengan membawa suara yang memekikkan telinga langsung meluncur kedepan-

Bersamaan dengan dilepaskannya serangan jari tangan itu, ingatan lain melintas kembali dalam benak pemuda itu tiba- tiba sepasang telapak tangannya digeser kekiri dan kekanan.

Dia tahu ilmu jari Tong Kim ci yang disertai hawa sakti Si mi sinkang ini mempunyai kedahsyatan yang menggidikkan hati ia tak ingin membunuh dengan serangan maut itu sebab bukan itu tujuannya ia jadi tak tega dan disaat yang terakhir, serangan maut tersebut digeserkan sedikit kesamping.

"Criit! Criit!” berkali-kali terjadi desiran keras masing- masing pintu gerbang yang terbuat dari kayu tebal tahu tahu sudah bertambah dengan sepuluh buah lubang besar yang tajam.

Hampir saja Orang yang kehilangan sukma menjerit keras karena terperanjat Tay huang sinni pun berdiri dengan wajah pucat pias peluh dingin membasahi tubuhnya diam-diam ia bersyukur karena jiwanya lolos dari ancaman bahaya maut. Begitulah karena hatinya terketuk untuk tidak melakukan pembunuban Han Siong Kie telah melepaskan sebuah kesempatan yang sangat baik untuk merebut kemenangan sambil menarik kembali telapak tanganoya dia berkata.

“Locianpwe sekarang tibalah giliranmu untuk melancarkan serangan”

"Berhati-hatilah sicu, aku akan segera melancarkan sebuah pukulan!” kata Tay huang sinni kemudian dengan wajah serius.

Sepasang telapak tangannya didorong ke tengah kedepan, segulung angin puyuh yang berkekuatan besar lantas menggulung ke muka.

Han Siong Kie memutar sepasang telapak tangannya dengan taktik "membuang" dari ilmu Mo mo ciang hoat dia salurkan hawa Si mi sin kangnya untuk memunahkan ancaman tersebut sekali pun pukulan musuh berhasil disingkirkan namun badannya ikut bergoncang pula dengan kerasnya.

Pemuda itu mencoba untuk menjaga diri tapi saat itulah Tay huang sinni telah mengulangi kembali serangannya dengan gerakan yang tidak jauh berbeda dari gerakan pertama, kembali gulungan angin pukulan keras melanda kedepan.

Han Siong Kie merasa tenaga pukulan lawan yang datang melanda kali ini sangat berat cepat-cepat dia putar tangannya untuk menangkis.

Siapa tahu kali ini Tay huang sinni berlaku cerdik, begitu musuh hendak menangkis tiba-tiba tenaga pukulannya ditarik kembali kebelakang. Dengan adanya kejadian ini, maka baru saja Han Siong Kie melepaskan pukulan untuk menangkis, tahu-tahu tenaga yang dipancarkan keluar itu telah dihisap oleh lawannya.

Mimpipun si anak muda itu tak menyangka kalau rahib tua itu bakal menggunakan taktik " menggetar" dan menghisap hampir bersamaan waktunya, hilanglah keseimbangan.

"Aduh celaka "jeritnya dihati tak dapat dicegah lagi tubuhnya sempoyongan dan serta merta kakinya melangkah maju. orang yang kehilangan sukma pun berkata sambil mengangguk: "Nak engkau kalah. "

Han Siong Kie tertegun, ia cuma bisa berdiri menjublak sambil membungkam dalam seribu bahasa.

Karena kasihan pada musuhnya, ia telah menyingkirkan daya sasaran serangan Tong kim ci nya kesamping sehingga membuang kesempatan untuk mendapat kemenangan dengan begitu saja.

Sekarang kenyataan telah berbicara lain, dia telah dikalahkan dalam pertarungan tersebut, untuk menyesalpun rasanya tak ada gunanya lagi.

"Sau sicu, apakah engkau merasa bahwa pertarungan ini berlangsung tidak adil?" tiba-tiba Tay huang sinni bertanya.

Han Siong Kie tertawa jengah dan menggeleng. "Tidak. boanpwe sama sekali tidak mempunyai pikiran

semacam itu "

"Jadi engkau sudah mengaku kalah ?"

"Tentu saja, boanpwe tak akan memungkiri kekalahan yang telah kuderita ini, aku tak mau bertolak dari kenyataan yang berada di depan mata, katakan saja apa syarat yang harus kuturuti itu ?" "Seandainya pinni telah mengajukan syarat tersebut, dan ternyata sau sicu tidak bersedia untuk melakukannya, apa yang musti... "

"Boanpwe tidak akan menolak semua syaratmu, sebagai seorang manusia persilatan aku akan memegang teguh setiap janji yang telah kuucapkan" jawab pemuda itu dengan tegas.

Orang yang kehilangan sukma tiba-tiba menimbrung pula: "Atas petunjuk dari locianpwe boanpwe telah ditunjuk

sebagai saksi maka setelah pertarungan berakhir dan menang

kalahpun telah ditentukan, boanpwe harap locianpwe segera mengajukan syarat yang hendak cianpwe ajukan sehingga pertaruhan inipun bisa kita akhiri sampai disini saja . ."

Sepasang mata Tay huang sinni memancarkan sinar tajam, ia memandang sekejap ke arah Han Siong Kie lalu katanya:

"Gampang dan sederhana sekali syaratku ini, aku cuma minta engkau segera menikah dengan Go siau bi dan menjadi suami istri yang berbahagia "

Hebat sekali perubahan wajah Han Siong Kie, tanpa sadar secara beruntun ia mundur lima langkah kebelakang.

Mimpipun ia tak menyangka kalau syarat yang diajukan Tay huang sinni adalah mengenai persoalan itu.

Pertama kali ketika ia selamatkan Go siau bi dari tangan pengawal pribadi istana Huan mo kiong dan menginap sebuah rumah penginapan, orang yang kehilangan sukma telah menyaru sebagai tukang obat dengan maksud menjodohkannya dengan gadis itu, kedua kalinya Put to sianseng ajukan pinangan bagi cucu perempuannya ternyata pinangan itupun atas usul dari orang yang kehilangan sukma.

Sekarang adalah untuk ketiga kalinya peristiwa itu terjadi, temyala orang yang kehilangan sukmalah sebagai saksinya. Sekalipun orang bodoh juga akan tahu bahwa kejadian ini bukan suatu kejadian yang kebetulan saja, sudah pasti orang yang kehilangan sukmalah yang telah mengatur segala sesuatunya.

Lalu apa maksudnya perempuan misterius itu mengatur segala sesuatunya itu? Apa alasannya?

Tanpa sadar sianak muda itu mengalihkan pandangan matanya kewajah orang yang kehilangan sukma dan ingin sekali melihat mimik wajahnya pada saat itu, sayang mimik wajahnya tertutup oleh kain kerudung berwarna hitam.

"Bagaimana sau sicu? jawablah sejujur nya" terdengar Tay huang siani bertanya.

Kacau dan bingung perasaan Han Siong Kie pada saat ini tanpa disadarinya ia menyahut.

"Aku tak dapat menerima syaratmu itu "

"Jadi engkau hendak menjilat ludahmu sendiri? " tegur Tay huang sinni dengan wajah serius.

Tanpa sadar si anak muda itu mundur satu langkah kebelakang dia berusaha untuk membela diri, katanya:

"Cianpwe aku minta ajukan syarat lain, tentang syaratmu yang itu aku tak dapat menyanggupinya "

"Tidak bisa, selamanya pinni hanya akan mengajukan sebuah syarat saja, tidak nanti akan kuulangi dengan mengajukan syarat lain"

"Tapi boanpwe benar-benar tak dapat melakukan permintaan dari locianpwe itu"

"Ooh jadi engkau bermaksud untuk mengingkari janji?" ejek nikoh tua itu dengan sinis. "Boanpwe mempunyai kesulitan yang tak bisa dikatakan kepada orang lain, maafkanlah daku locianpwe, syaratmu itu tak dapat kulaksanakan"

"Jadi kau anggap Go siau bi tidak pantas untuk mendampingi dirimu sebagai seorang istri?"

"Bukan... bukan begitu maksud boanpwe, terus terang saja boanpwe katakan babwa aku.. sebenarnya aku telah..telah.."

"Apa maksudmu Katakan saja blak-blakan" "Sebenarnya boanpwe telah serahkan hati dan tubuh

boanpwe ini kepada gadis lain, dan antara aku dengan dia

telah telah terikat oleh tali perkawinan"

"Ada yang menjodohkan?” "Tidak..tidak ada"

"Ada persetujuan dari orang tua?" "Ju...juga tii tidak ada"

"Kalau toh tidak ada kan hal itu sama sekali tidak menghalangi engkau untuk menerima syaratku ini?"

Sungguh sedih dan pedih perassan hati Han Siong Kie apalagi teringat bahwa Tonghong Hwi, yang dicintainya telah tiada di dunia ini, kepedihan tersebut akhirnya tercetus keluar dengan kata-kata: "Dia dia telah meninggal dunia"

"Kalau benar sudah mati urusan ini kan lebih gampang untuk diselesaikan? Apa yang kau pusingkan lagi?"

"Jiwa dan perasaan boanpwe telah lama terkubur bersama matinya gadis itu, pada hakekatnya yang cianpwe lihat sekarang tak lebih hanya sesosok mayat hidup belaka, sesosok tubuh yang tidak berperasaan dan tidak kenal arti lagi"

Sekilas perasaan serba salah melintas di wajah Tay huang sinni, ia terbungkam untuk beberapa saat lamanya, tapi selang sesaat kemudian ia telah berkata lagi dengan suara keras: "Menurut apa yang pinni ketahui, engkau sudah pernah bersentuhan badan dengan Go siau bi, lantaran cintanya padamu, ia rela mengasingkan diri dan hidup sebagai seorang pendeta, tidakkah kau tergetar perasaan hatinya oleh kesungguhan serta kemurnian cinta kasihnya itu?"

"Aaai, pada hakekatnya boanpwe tidak punya ingatan untuk memikirkan persoalan yang lain"

"Tahukah engkau bahwa perbuatanmu telah menghancurkan masa depan seorang dara ?"

"Boanpwe menyesal sekali atas kejadian ini, tapi apa boleh buat lagi boanpwe tak kuasa menerima kenyataan tersebut"

"Selain itu tahukah engkau bahwa tidak berbakti ada tiga macam, dan yang paling utama adalah tiada keturunan, apakah engkau gembira melihat keluarga Han putus keturunan?"

-000d0w000-

BAB 67

UCAPAN tersebut bagaikan sebilah pisau belati yang menusuk kedalam ulu hati Han Siong Kie, sekujur badannys gemetar keras.

Pada hakeketnya tak pernah ia berpikir sampai kesoal itu, tapi heran mengapa Tay huang sinni menegur dirinya dengan kata-kata semacam itu? Bukankah dia adalah seorang pendeta yang tidak mencampuri urusan keduniawian lagi?

"Locianpwe apakah engkau hendak memaksa boanpwe untuk mengingkari janjiku terhadap orang yang sudah tiada lagi?" katanya tiba-tiba.

Orang yang kehilangan sukma yang selama ini membungkam terus mendadak menyela: "Nak bila engkau bersedia untuk memegang janji kepada orang yang telah mati, mengapa tidak pula kau penuhi kewajibanmu sebagai rasa baktimu pada orang tua yang telah tiada ? Kau harus dapat membedakan mana yang serius dan mana yang tidak. toh setelah kau laksanakan kewajibanku untuk berbakti pada orang tua, engkau masih dapat pula memenuhi janjimu kepada orang yang telah tiada?"

"Bila aku sampai berbuat demikian, bukankah perbuatanku ini justru akan menyiksa nona Go siau bi untuk selama- lamanya?"

"Siapa bilang begitu ?"

"Cianpwe" tiba-tiba Han Siong Kin menengadah dan menatap wajah perempuan misterius itu tanpa berkedip "tolong tanya, apakah kesemuanya ini adalah hasil dari rencana locianpwe ?"

Orang yang kehilangan sukma terbungkam, ia tak sanggup memberikan jawaban.

"Sau sicu, apakah engkau lupa bahwa hasil ini adalah suatu hasil dari pertaruhan antara engkau dan aku ?" Tay huang sini menyela dari samping dengan dingin

"Oooh.. jadi engkau menggunakan kebahagiaan dari seorang dara sebagai bahan pertaruhan? Pantaskah perbuatanmu itu?" seru pemuda itu marah-marah.

“Nak. jangan marah dulu !" bisik Orang yang kehilangan sukma dengan suara yang lembut, "Meskipun Go Siau bi bertekad untuk mencukur rambut menjadi pendeta. tapi pada hakekatnya dia masih sangat mencintai dirimu, dia tidak mengetahui kejadian ini dia pun tidak tahu menahu tentang pertaruhan ini tapi aku percaya dia tak bakal menampik kenyataan ini ! Percayalah!”

“Cianpwe, boleh aku bertanya apa sebabnya kau selalu berusaha untuk menjodohkan aku dengan nona Go ?”

“Tentu saja demi kau, demi keturunan dari keluarga Han!” “Jadi kalau begitu antara cianpwe dengan keluargaku

mempunyai hubungan yang sangat dalam?”

“Benar hubungan itu memang dalam..dan dalam sekali !” “Aku boleh tahu sampai dimanakah dalamnya hubungan

itu.”

“Tidak nak, untuk seat ini tidak ! Tapi di kemudian hari kau akan mengetahui dengan sendirinya!”

Han Siong Kie termangu, dia menatap wajah parempuan itu tanpa terkedip., lama kemudian pemuda itu baru berkata lagi:

“Maafkanlah daku cianpwe, boanpwe benar-benar tak dapat memenuhi apa yang kau harapkan itu!”

"Nak aku memperingatkan dirimu dengan bersungguh hati jangan kita bicarakan tentang pertaruhan itu sendiri bila engkau tidak punya keturunan apakah kau tidak kasihan dengan ayahmu yang berada dialam baka, dapatkah ia beristirahat dengan tenang di sana? Aku tak sengaja menakut- nakuti dirimu tapi engkau bakal menyesal di kemudian hari bila tidak kau turuti nasehatku ini. Nah, pertimbangkan sendiri”

Tay huang sinni pun sudah mengebaskan ujung bajunya sambil berkata.

"Kuil kami tak pernah menerima tamu mengenai pertaruhan itu sendiri mau dilaksanakan atau tidak aku pun tak bisa memaksa terserah pada kebijaksanaan ciangbunjin sendiri!"

Tanpa menunggu lagi dia putar badan dan masuk kedalam kuil. Memandang bayangan punggang Tay huang sinni yang lenyap dibalik pintu Han Siong Kie marasa hatinya kacau sekali kata-kata terakhir dari nikoh itu amat menusuk pendengarannya, terutama sebutan "ciangbunjin" yang sengaja diucapkan dengan nada berat, lebih-lebih mengetuk perasaannya.

Sebagai seorang pemuka dunia persilatan, menjadi kewajiban baginya untuk melaksanakan apa yang telah disanggupi, tapi perkawinan adalah suatu kejadian besar, ia tak ingin berbuat secara gegabah sehingga akhirnya harus di akhiri dengan tragedi.

Sementara pemuda itu masih termangu- mangu, orang yang kehilangan sukma telah berkata lagi:

"Nak, tegakah engkau membiarkan masa depan seorang dara hancur di tanganmu?"

Sakit hati, bingung dan sedih bercampur aduk dalam perasaan hati si anak muda itu, dia tak tahu apa yang harus dilakukan pada saat ini, terutama kata-kata tentang ketidak baktian sebagai seorang putra diantara tiga hal yang tidak berbakti, tak punya keturunan adalah tidak berbakti yang paling utama. Benarkah dia tak akan menikah dan membiarkan orang menganggapnya sebagai manusia yang tidak berbakti?

Sekarang ia baru menyesal, menyesal apa sebabnya tidak menggunakan ilmu jari Tong kim ci untuk mengalahkan musuhnya, ia tidak tega rahib itu terluka, tapi akhirnya dia sendirilah yang rugi.

Sebagai seorang laki-laki sejati, tidak nanti dia akan mengingkari janji. Kata-kata itu diucapkan sendiri olehnya, benarkah dia harus mengingkari janji.

Sekalipun ia sadar bahwa ia terjebak oleh suatu siasat yang disusun sangat rapi, toh dia kalah adalah suatu kenyataan yang tak dapat dibantah lagi. Sementara itu orang yang kehilangan sukma tidak menyia- nyiakan kesempatan itu, dia mendesak lebih lanjut.

"Nak, engkau sebagai putra manusia, menjadi kewajiban bagimu untuk menunjukkan kebaktiaanmu sebagai anak manusia, sekalipun engkau dapat membalaskan dendam bagi kematian ayahmu, belumlah lengkap kebaktianmu pada orang tua, mengertikah kau dengan kata-kataku ini ? .."

Han Siong Kie menggigit bibir, sahutnya:

"Apa yang cianpwe ketakan memang benar tapi sekarang aku harus membalaskan

dendam bagi kematian ayahku, hidup matiku sukar diramalkan manaa aku boleh merusak lagi masa dspan orang lain"

“Tentang soal itu harus dibahas secara tersendiri” tukas perempuan misterius itu, "jangan kau campur adukkan persoalaan yang satu dengan persoalan yang lain.

Gemas dan mendongkol sekali Han Siong Kie setelah mendengar ucapan itu akan tetapi ia tak sempat mengumbar hawa marahnya sebab setinggi langit budi yang pernah diterimanya dari perempuan ini.

Orang yang kehilangan sukma pernah menjamin kepadaaya bahwa Tonghong Hui tidak bakal mati tapi apa sebabnya ia selalu menghalang-halangi hubungannya dengan gadis itu?

Mengapa ia bertindak begitu misterius? Siapakah dia? Apa hubungannya dengan keluargaku? pelbagai ingatan selalu berkecamuk dalam benaknya membuat pemuda itu merasa kepalanya mau meledak.

"Cianpwe mengapa engkau selalu berbuat demikian kepadaku? Katakanlah apa sebabnya?"

"Apa sebabnya tentu saja demi kebaikanmu!” "Demi kebaikanku? Kebaikan apa? Terangkanlah.” "Belum waktunya nak, kalau kuterangkan sekarang juga tiada keuntungan apapun bagimu!”

Han Siong Kie tarik napas panjaog-panjang ia benar-benar dibikin apa boleh buat.

"Aaii„ agaknya bila tidak kusanggupi persoalan itu hari ini tak mungkin aku bisa pergi dari sini dengan tenang!” katanya.

"Kalau memang begitu mengapa tidak kau setujui saja?” desak perempuan misterius itu.

Han Siong Kie tundukan kepalanya rendah-rendah lama sekali dia membungkam dalam seribu bahasa.

Orang yang kehilangan sukma maju dan menghampiri si anak muda itu sambil menepuk bahunya ia berkata lagi:

"Nak, semestinya kau harus menerima syarat tersebut tidakkah kau merasa iba oleh ketulusan cinta nona Go kepadamu? Aku tahu bahwa engkau sebenarnya mencinta dia tentu saja kau tidak membantah kenyataan ini bukan?

Tapi karena soal Tonghong Hui engkau tak berani mencintainya aku tahu engkau tak ingin mencabangkan perasaan cintamu kepada orang lain dan kuakui bahwa tindakan semacam ini memang benar tapi engkau lupa bahwa antara engkau dengan Tonghong Hui sebenarnya tak mungkin bisa dijadikan satu sebab bila engkau keras kepala dan melanjutkan hubungan itu maka hubungan kalian ini akan berakhir dengan tragedy, benar-benar tragedi yang mengenaskan!”

Bukan untuk yang pertama kalinya Han Siong Kie mendengar ucapan semacam itu akan tetapi ia tak dapat mengendalikan perasaan sendiri sekujur badannya gemetar keras menahan emosi.

Dapatkah dia melenyapkan bayangan Tonghong Hui?

Mungkinkah ia melupakan gadis itu dari pikirannya? Tidak ! Tidak mungkin. "Apakab cianpwe artikan hubungan dendam itulah yang akan merupakan tragedi?” ujar pemuda itu kemudian "Tapi cianpwe antara aku dan dia telah terjadi suatu janji meskipun janji itu hanya berada didalam hati masing-masing ...”

“Janji apa"

"Dendam tak mungkin dibalas tapi cinta tak dapat dipadamkan oleh dendam macam apapun, dan kami bersedia mengorbankan diri demi cinta, biarlah kami membina cinta kami di alam baka bila cinta tersebut tak dapat kami pupuk didunia yang nyata ini!”

"Semenjak dahulu aku kan sudah terangkan bukan soal itulah yang akan mengakibatkan tragedy, kalian salah pabam!”

"Kalau memang bukan itu bukankah sama artinya bahwa tidak mungkin hubungan kami akan diakhiri dengan tragedi?”

"Tidak! Kemungkinan selalu ada dan bahkan pasti bakal terjadi!”

“Sekali pun ada kemungkinan boanpwe tidak untuk menghindarinya!” ucap Han Siong Kie dengan tegas.

Mendengar perkataan itu Orang yang kehilangan sukma mengbela napas sedih ia berkata:

“Aaai terserah apa yang hendak kau katakan? Aku hanya minta agar engkau memberi pertanggungan jawab kepadaku kepada Go Siau bi kepada Sinni locianpwe kepada mendiang ayahmu dan pada gurumu”

Sekujur badan Han Siong Kie gemetar keras mimik wajahnya berkerut menahan penderitaan batin serunya dengan lantang:

“Sekalipun aku kawin dengan Go siau bi mungkinkah perkawinan ini bisa berakhir dengan kebahagiaan, Akhirnya toh kita akan mengalami tragedi yang menyedihkan?" "Bahagia atau sedih adalah urusan belakang, siapa tahu kalau kenyataannya jauh berbeda dengan apa yang saat ini kau bayangkan?"

"Jadi maksud Cianpwe, kau memaksa Boanpwe untuk mengabulkan permintaanmu itu?"

"Yaa,angaplah perkataan ini merupakan suatu paksaan" sahut orang yang kehilangan sukma dengan suara berat.

Han Siong Kie tertegun dan tidak bicara, selang sesaat kemudian ia mengangguk. "Baik. Boanpwe menyanggupi permintaan mu itu"

"Jadi kau menerima syarat tersebut?"

"Benar, aku menerimanya, tapi akupun mempunyai sebuah syarat"

"Apa syaratmu itu?"

"Cianpwe harus menjelaskan kepada nona Go siau bi serta kakeknya, bila dendam berdarah berhasil boanpwe balas, waktu itulah kita baru bicarakan kembali soal cinta dan tiga tahun setelah menikah boanpwe akan meninggalkan keluarga dan pergi jauh"

"Seteleh tiga tahun, apakah engkau akan bunuh diri untuk menunjukkan ketetapan hatimu pada Tonghong Hui?" kata orang yang kehilangan sukma sampai mundur selangkah.

"Benar, kenapa ? "

"Andaikata Tonghong Hui belum meninggal dunia ?" "Aaah, hal ini aku rasa tidak mungkin"

"Baik, kukabulkan syaratmu itu dan kita pun tentukan perjanjian ini dengan kata-katamu ini"

Berbicara sampai disini, tiba-tiba orang yang kehilangan sukma berpaling, serunya kearah batu karang kurang lebih beberapa kaki didepan sana: "Locianpwe, silahkan mengunjukkan diri untuk memperkuat ikatan perkawinan ini "

Seorang sasterawan berusia setengah baya perlahan-lahan munculkan diri dari balik batuan cadas.

Dia bukan lain adalah kakek Go siau bi Put lo sianseng yang disegani banyak orang itu.

Han Siong Kie tertegun, kemunculan tokoh silat ini semakin memperkuat dugaannya bahwa apa yang terjadi pada saat ini adalah suatu siasat, suatu rencana besar dari orang yang kehilangan sukma.

Tapi yang mengherankan adalah Put lo sianseng dan Tay huang sinni kedua orang tokoh silat ini berilmu tinggi dan berkedudukan terhormat, tapi mereka bersedia untuk mendengarkan kata-kata orang yang kehilangan sukma malahan bekerja sama untuk memancingnya masuk jebakan, apa tujuan mereka?

sementara itu Put to sianseng telah berkata sambil tertawa ringan ucapnya:

"Bocah bagus, kemurunganku sudah dilenyapkan, mulai sekarang lohu bisa mengasingkan diri dan beristirahat dengan tenang".

Orang yang kehilangan sukma segera mendorong Han Siong Kie untuk maju katanya:

"Bagaimana juga penghormatan tak bisa dielakkan, hayo maju dan memberilah hormat kepada kakekmu."

Dalam hati Han Siong Kie menghela napas panjang, dengan kaku dia maju beberapa langkah dan jatuh berlutut dihadapan put lo sianseng, ketika ia menyembah sebanyak tiga kali ia tak dapat melukiskan bagaimanakah perasaan hatinya ketika itu, entah manis getir, kikuk atau kecewa.

Cepat Put lo sianseng ulapkan tangannya seraya berkata: "Cukup, Cukup Bangunlah nak, sebelum aku pergi mengasingkan diri, ada beberapa patah kata terlebih dahulu hendak kukatakan kepadamu, ketahuilah gurumu Mo tiong ci mo adalah sahabat lamaku, setelah engkau mewariskan kedudukannya aku harap engkau bisa membangun kembali perguruan Thian Lam bila melakukan segala persoalan janganlah terlalu memikirkan masalah itu dengan pikiran yang sempit".

Sekujur badan anak muda itu bergetar keras, peluh dingin membasahi tubuhnya tanpa terasa ia teringat kembali akan apa yang diberitahukan orang yang kehilangan sukma ketika berada di mulut lembah kematian.

Dikatakan Tee kun perguruan Thian Lam yang sekarang yaitu Wi It beng telah menjual perguruannya kepada Thian che kau, istana Huan mo kiong telah diubah menjadi kantor cabang Thian che kau sektor Thian lam.

Itu berarti sekarang ia berhadapan dengan tugas baru, tugss yang amat berat yaitu membersihkan anasir-anasir yang tidak benar dari tubuh perguruannya.

Tanpa terasa dia teringat pula akan Ok kui cu pay, tanda kebesaran Thian lam bun yang telah terjatuh ketangan orang orang Thian che kau, bila benda tersebut tidak berhasil ditarik kembali bukan saja dia tak akan mendapat kepercayaan dari anak muridnya selain itu dia pun merasa malu terhadap sukma gurunya di alam baka.

"Boanpwe akan mengingatnya selalu." sahut pemuda itu dengan hati bergidik.

Orang yang kehilangan sukma tertawa geli, ia menggoda : “Apa itu boanpwe ? seharusnya kau membahasai diri

sebagai siausay (cucu menantu)”

Merah jengah Han Siong Kie setelah mendenger godaan itu namun ia tetap membungkam. Pot lo sianseng berpaling kearah perempuan misterius itu lalu katanya lagi.

“Masalah anak Bi kuserabkan padamu, baik-baiklah mengatur segala sesuatunya!”

“Akan kulaksanakan dengan sebaik-baiknya” sahut Orang yang kehilangan sukma seraya menjura.

Put lo sianseng tersenyum dan manggut-manggut ia tidak berbicara lagi perlahan lahan tubuhnya bergerak tinggalkan puncak bukit itu dan akhirnya lenyap dikejauhan.

Menanti bayangan punggung kakek sakti itu sudah lenyap dari pandangan orang yang kehilangan sukma baru berkata lagi.

"Nak apa tujuanmu sekarang?”

“Mula pertama aku hendak berkunjung dulu ke benteng maut kemudian menyatroni perkumpulan Thian ce kau dan bikin perhitungan setelah kuambil kembali tanda lencana Ok- kui cu-pay aku hendek berangkat ke Thian lam untuk membasmi pengkhianat-pengkhianat itu dari muka bumi”

"Baik bila tugasmu telah selesai aku dan putriku akan mengantar nona Go menuju ke Thian-lam serta menyelenggarakan resepsi perkawinan bagi mereka berdua sekarang kau boleh pergi semoga kau bisa jaga diri baik-baik”

Han Siong Kie merasa seakan-akan baru saja mengalami suatu impian hanya sebelum impian itu habis dia keburu mendusin dengan wajah uring-uringan pemuda itu pun menuruni bukit tersebut.

Perasaan hatinya pada saat ini hampa, kosong . . sekarang Go siau bi telah menjadi calon istrinya dengan resmi, siapakah bakal menduga sampai kesitu?

setelah tiba di kaki bukit dan menghampiri tempat perpisahannya dengan Hek pek siang yau, mendadak pemuda itu tercekat, ternyata dua orang pembantunya telah lenyap tak berbekas.

Semestinya Hek pek siang yau tidak akan meninggalkan ketuanya tanpa pamit, atau mungkin telah terjadi sesuatu?

Han Siong Kie memeriksa keadaan disekitar tempat itu dengan seksama, namun ia tak berhasil menemukan sesuatu tanda-tanda pernah terjadinya pertarungan disana. Atau Hekpek siang yau telah menghianatinya ?

-000d0w000-