Tengkorak Maut Jilid 20

 
Jilid 20

TENGKORAK maut gadungan tertawa dingin, sambungnya kemudian:

"Manusia berwajah dingin, apa yang sudah kujanjikan tak akan kupungkiri lagi, Nah sekarang terimalah kembali benda pusaka ini"

Pusaka Hud jin po pit yang berada dalam genggemannya benar2 disambitkan kearah pemuda itu, Han siong Kie menyambutnya dengan cepat lalu berdiri tertegun, mimpipun dia tak menyangka kalau pusaka yang tak ternilai harganya itu bisa diperoleh kembali dengan mudah.

setelah mengembalikan pusaka Hud jiu po pit tersebut ketangan sang pemuda mendadak Tengkorak maut gadungan menengadah dan terbahak bahak dengan serunya:

"Haahhh haahh haahhh manusia berwajah dingin, sekarang aku akan beritahu kepadamu secara blak blakan Tahukah engkau, apa sebabnya kuajukan syarat tersebut kalau aku tidak berbuat demikian, tak nanti kau akan menjawab dengan sejujurnya, dan sekarang apa yang ingin kuketahui sudah kudapatkan, maka benda mustika itupun akan kutarik kembali"

"Mampukah kau berbuat demikian?" teriak Han siong Kie dengan penuh kegusaran.

"Mampu atau tidak. toh sebentar lagi akan kubuktikan"

Begitu dia selesai berbicara, sebuah angin pukulan yang maha dahsyat secepat kilat meluncur kedepan dan menggulung tubuh musuhnya:

Cepat2 Han siong Kie simpan pusaka Hud jiu po pit itu kedalam saku, lalu dengan keras lawan keras dia sambut datangnya ancaman tersebut.

"Blaaamm " suatu ledakan dahsyat yang memekikkan

telinga menggeletar di angkasa, pasir dan debu beterbangan memenuhi seluruh angkasa, diantara daun yang berguguran kedua belah pihak mundur selangkah kebelakang.

Tengkorak maut gadungan membentak keras, tubuhnya melesat kedepan dan menerjang Han siong Kie dengan penuh kekejaman, pukulan tangan kanannya mengancam pelbagai jalan darah kematian diatas dada, sedangkan tangan kiri mencengkeram kearah pinggang. Meskipun dalam satu jurus terdapat dua gerakan yang berbeda, akan tetapi kedua buah serangan tersebut dilakukan dengan keCepatan yang sukar dilukiskan dengan kata2.

Han siong Kie segera putar telapak dan mengunci seluruh tubuhnya dari jangkauan lawan-

Tengkorak ataut gadungan menarik kembali serangannya, tapi ketika mencapai separuh jalan tiba2 menyerang kemali secara beruntun dia lancarkan delapan belas buah pukulan berantai.

seketika itu juga Han siong Kie terdesak mundur tiga langkah kebelakang, menggunakan kesempatan disaat pihak lawan menghabiskan serangan yang terakhir, dengan jurus Mo ong ko ciat atau raja iblis menyembah loteng istana dia lancarkan serangan balasan.

Jurus Mo ong ko ciat ini merupakan jurus serangan yang mempunyai daya penghancur paling dahsyat diantara pukulan Mo mo ciang hoat lainnya, begitu serangan dilepaskan maka ibaratnya hujan badai yang disertai angin puyuh, suasana betul2 mengerikan.

Tengkorak maut gadungan tak berani menangkis dengan kekerasan, dengan cekatan dan melesat beberapa kaki dari tempat semula ...

Han siong Kie segera berubah gerak serangannya, tanpa menarik kembali telapak tangannya, sepuluh jari segera menyentil ke depan, dengan ilmu jari Tong kim ci yang maha dahsyat dia serang tubuh bagian bawah lawan-

Meskipun begitu,arah yang diserang bukan bagian yang mematikan, sebab pemuda ini tak ingin membunuh orang secara sembarangan sebelum membuktikan manakah pembunuh keluarganya yang sebenarnya.

Pada saat sianak muda itu menyerang dengan ilmu jari Tong kim ci tengkorak maut gadungan putar badannya ibarat sukma yang gentayangan, tapi justru dengan perbuatan itu secara tepat sekali dia malah berhasil lolos dari ancaman ilmu jari Tong kim ci yang maha dahsyat itu, bukan begitu saja dengan memakai kesempatan yang sangat baik tadi, dia malahan menyerang kepunggung pemuda itu.

Han siong Kie amat terperanjat, baru saja ilmu jarinya mengenai sasaran yang kosong, dan serangan itupun belum sempat di tarik kembali, ancaman dahsyat telah meluncur tiba dari samping.

Untuk menangkis sudah tak mungkin lagi, dalam gugup dan kagetnya, sekuat tenaga ia coba meloncat kebelakang.

"Blaamm" ditengah benturan keras yang memekikan telinga, Han siong Kie mendengus tertahan, tubuhnya kena dihajar sampai mencelat kebelakang sejauh delapan kaki dengan sempoyongan, buru2 ia leluarkan ilmu bobot seribu untuk menahan diri, hampir saja pemuda itu muntah darah segar.

"Manusia berwajah dingin, saat kematianmu telah tiba " sambil menghardik, sekali lagi Tengkorak maut gadungan

menubruk ke depan dengan serangan yang maha dahsyat,

sepasang telapak tangannya dilringi deruan angin tajam mengurung seluruh tubuh Han siong Kie dan membacoknya silih berganti.

Han siong Kie berkelit sedapat mungkin, segenap hawa murni yang dimilikinya disalurkan kedalam telapak tangan untuk datangnya serangan tersebut.

"Blaamm.." benturan keras kembali terjadi, hawa murninya bagaikan gulungan ombak disamudra menyebar diseluruh penjuru, batang pohon bertumbangan, daun dan ranting berguguran-.

Dengan sempoyongan Tengkorak maut gadungan tergetar mundur dua langkah kebelakang. Han siong Kie sendiripun terpukul mundur satu langkah lebar, darah panas dalam rongga dadanya bergolak keras, tak dapat di cegah lagi dia muntah darah segar.

Tengkorak maut gadungan menyeringai seram, untuk kesekian kalinya ia menerjang maju kedepan, bayangan telapak menyelimuti angkasa bagaikan barisan bukit, mana yang sungguhan mana yang tipuan susah di ketahui denganjelas, desingan angin tajam men-deru2, suasana benar2 mengerikan sekali.

Dalam waktu singkat, secara beruntun dia telah melacarkan lima buah serangan berantai.

Dalam keadaan seperti ini Han siong Kie hanya bisa bertahan tanpa mampu melakukan serangan balasan. sekali lagi ia terdesak mundur sampai sejauh satu tombak lebih.

Tengkorak maut gadungan sama sekali tidak memberi kesempatan bagi Han Siong Kie untuk memberikan perlawanannya, serangan berantai begitu ha bis digunakan, sepasang telapak tangannya kembali meluncur kedepan dengan pukula n angin puyuh berhawa panas dan dingin, ibarat gunting yang tajam langsung menggulung keluar.

Han siong Kie menggigit bibirnya kencang-kencang, dengan ilmu gerakantubuh cahaya kilat lintasan bayangan, ia berkelebat membentuk gerakan setengah lingkaran busur ditengah udara, sesudah mendekati tubuh la wan, dengan "Ku tiam sam seh" tiga jurus kilat ilmu kura2, dia balas melancarkan serangan maut.

Leng ku sam seh adalah ilmu ciptaan dari Leng ku sengjin setelah jago aneh ini berhasil melatih ilmu tenaga dalamnya hingga mencapai enam puluh tahun hasil latihan, sekarang dimainkan oleh Han Siong Kie yang mempunyai tenaga dalam yang sebesar dua ratus tahun hasil latihan, bisa dibayangkan betapa dahsyat dan luar biasanya ilmu serangan itu. Tapi sayang Tengkorak maut gadungan bukan manusia sembarangan, kegesitan dan kelincahannya bukan kepalang hebatnya, dengan suatu gerakan yang sangat ringan dia berhasil memunahkan seluruh rangkaian ilmu serangan yarg ditujukan kearahnya itu.

Demikianlah, suatu pertarungan seru kembali berkobar, kedua belah pihak sama2 mengeluarkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk merebut menyerang dengan musuhnya, dan semua jurus serangan yang dipergunakan adalah jurus2 ampuh yang jarang ditemui dikolong langit.

Dalam waktu singkat wilayah sepuluh kaki disekitar gelanggang sudah berubah amat menyeramkan, pasir beterbangan bagaikan lapisan horden, pepohonan b ertumbangan ke atas tanah, gempuran2 gencar saling membentur hingga menimbulkan ledakan2 yang memekikkan telinga.

Berbicara tentang hal tenaga dalam maka tenaga dalam yang dimiliki Han siong Kie masih setingkat lebih tinggi daripadi musuhnya, tapi berbicara tentang pengalaman dan keampuhan jurus serangan maka dia masih belum sang gup untuk melampaui musuhnya.

seperminuman teh kemudian, Han siong Kie sudah terjerumus kembali dalam posisi yang sangat berbahaya, setiap saat jiwanya terancam oleh maut.

"Blaamm. " suatu ledakan keras berkumandang diangkasa, menyusul dengusan kesakitan menyayat kesunyian, Han siong Kie mencelat delapan depa kebelakang hingga menumbuk diatas sebuah dahan pohon yang amat besar, kontan dia merasakan matanya ber-kunang2 dan kepalanya pusing tujuh keliling, kembali darah segar muncrat keluar dari bibirnya.

Tengkorak maut gadungan tertawa seram.

"Heeeh heeeh heeeeh manusia berwajah dingin, aku lihat sepanjang hidupmu kali ini tiada harapan untuk merasakan jadi kaisar di Thian lam lagi Nah, dengankanlah perkataanku, rahasia kepalsuanku hanya kau seorang yang tahu, setelah kau mampus maka kemungkinan besar pihak partai Thian lam akan menuntut balas terhadap Benteng maut...haaah haaah haaah padahal wajah asli dari Motiong ci mo telah diketahui pula oleh umum, pelbagai jago dari golongan putih maupun golong hitam ber bondong2 pasti akan menuju ke Thian lam dan menuntut balas terhadap anak muridnya."

"Tutup mulutmu” hardik Han siong Kie penuh kegusaran-

Rupanya ucapan terakiir dari Tengkorak maut telah menimbulkan satu ingatan dalam benak Han siong Kie, ditengah hardikan tersebut, selangkah demi selangkah dia maju ke depan, lencana ok kui cu pai pun diambil keluar dari sakunya. Tengkorak maut gadungan tertawa sinis, ejeknya:

"Manusia berwajah dingin, apakah engkau masih ada pesan2 terakhir yang hendak kau sampaikan??"

"Aku inginkan nyawamu." jerit sang pemuda itu dengan marah.

"Haahh. haahh. haahh.. kematian sudah diambang pintu, apa gunanya kau menggonggong terus seperti anjing"

sementara itu selisih jarak kedua belah pihak tinggal satu kaki belaka, suasanapun semakin menegang.

suatu ketika tiba2 Tengkorak maut gadungan putar telapak tangannya, satu pukulan yang maha dahsyat segera diayunkan kearah depan

Han siong Kie putar telapat tangannya pula, hawa murni disalurkan keluar maka mitiara diatas lencana ok kui cu pay tersebutpun secara tiba2 memancarkan cahaya tajam yang menyilaukan mata, cahaya tersebut langsung memancar keatas wajah Tengkorak maut gadungan

Menghadapi serangan yang luar biasa itu, Tengkorak maut gadungan menjerit kaget, sepasang lengannya terkulai lemas ke bawah, dengan sempoyongan dia mundur beberapa langkah kebelakang.

Han siong Kie mendengus dingin, telapak tangan kirinya terayun kedepan, scgulung angin pukula n yang maha dahsyat langsung meluncur kemuka dengan cepatnya.

Ditengah jeritan kesakitan yang memekikan telinga, tubuh Tengkorak maut gadungan tergetar mencelat sejauh dua tombak kebelakang dan. Bluk... Terbanting keras2 diatas tanah.

Han siong Kie enjotkan badan menubruk musuhnya yang sudah menggeletak lemas itu..

Disaat yang amat kritis itulah sesosok bayangan manusia ibarat sukma gentayangan menyelinap datang bersembunyi dibalik pepohonan yang lebat, dalam waktu singkat orang itu sudah berada kurang lebih tiga tombak dibelakang sianak muda itu.

Perlu diketahui lencana ok kui cu pay itu, mempunyai sebiji mutiara yang berkasiat luar biasa, apabila hawa murni disalurkan ke dalam mutiara tadi maka terpancarlab serentetan cahaya tajam yang bisa memunahkan kesadaran dan kekuatan musuhnya, semakin sempurna hawa murni yang dimiliki musuh semakin besar pula dayapengaruh cahaya tersebut, sebelum cahaya tajam itu ditarik kembali maka kesadaran serta kekuatan tubuh lawannya belum dapat dipulihkan kembali.

Tentu saja perbuatan seperti ini bukanlah suatu perbuatan dari seoraog lelaki ksatria, sepanjang hidupnya belum pernah Motiong cimo mempergunakan khasiat itu guna pengaruhi orang.

Lain keadaannya dengan Han siong Kie, sebenarnya dia ingin berduel dengan mengandalkan kekuatan as liny a, tapi dalam kenyataan dia memang bukan tandingan la wan bahkan nyawanya terancam oleh bahaya maut, maka dalam keadaan demikian ia telah manfaatkan khasiat tersebut.

-000dewi000-

BAB 41

ALASAN yang paling penting diantara kesemuanya itu adalah kemungkinan besar bahwa tengkorak maut gadungan inilah musuh besar pembantai keluarganya, maka ia tak dapat lepaskan musuhnya dengan begitu saja, dia harus berusaha untuk membongkar rahasia ini.

per lahan2 Han siong Kie simpan kembali lencana ok kui cu pay tersebut kedalam sakunya, dengan sorot mata memancarkan napsu membunuh yang amat tebal ia awasi tengkorak maut gadungan yang menggeletak diatas tanah tanpa berkedip.

Dalam pada itu Tengkorak maut gadungan telah sadar kembali dari pengarub cahaya aneh, meskipun luka yang dideritanya cukup parah tapi ia berusaha untuk meronta bangun dari atas tanah, kain cadar hijaunya serta pakaian bagian dadanya telah basah dan merah oleh muntahan darah, hal ini membuat keadaannya bertambah menyeramkan

"Manusia berwajah dingin, apa yang hendak kau lakukan atas diriku?" tegurnya kemudian-

Dengan muka dingin menyeramkan Han siong Kie menjawab

"Mati hidupmu harus ditemtukan oleh suatu peristiwa yang hendak kubuktikan, cuma " "cuma bagaimana?"

"Sekalipun kau harus mampus, kematianmu tak perlu disesalkan, tapi andaikata aku bisa membuktikan bahwa peristiwa itu bukan hasil perbuatanmu, maka hari ini aku bersedia untuk lepaskan dirimu tapi jika lain kali sampai berjumpa lagi, akan kucabut selembar jiwa anjingmu itu"

Tengkorak maut gadungan mundur dua langkah ke belakang tanyanya dangan seram: "Peristiwa apa yang hendak kau buktikan atas diriku? "

Hawa napsu membunuh menyelimuti seluruh wajah Han siong Kie, serunya dengan suara dalam:

"Lima belas tahun berselang "

Mendadak.. beberapa rentet desiran angin tajam membokong dari belakang tubuh Han siong Kie.

Mimpipun sianak muda ttu tak pernah menyangka kalau dalam keadaan seperti itu di belakang tubuhnya telah bersembunyi seseorang yang menyergap dirinya tepat dikala dia hendak membongkar rahasia besar tersebut, dari desiran suara yang memancar datang, ia tahu bahwa serangan itu adalah serangan senjata rahasia yang dilepaskan oleh seorang tokoh silat yang lihay.

Dalam kejutnya buru2 dia berkelit enam depa kesamping, desiran tajam seketika menyambar lewat dari sisi tubuhnya.

"sreeett sreeeett" beberapa titik bintang malam meluncur dari samping badan dan menyambar keatas dahanpohon beberapa tombakjauhnya dari gelanggang, ketika diamati dengan lebih seksama pemuda itu hampir menjerit kaget, ternyata benda yang di sambitkan kearahnya itu bukan senjata rahasia, melainkan hanya beberapa lembar daun pohon-

Dari kemampuannya memetik daun melukai orang, dapat diketahui betapa dahsyat dan sempurnanya tenaga dalam yang dimiliki orang itu.

Dengan cepat pemuda itu berpaling, tapi apa yang terbentang di depan mata hampir saja membuat ia jatuh pingsan, sekujur badannya langsung menjadi kejang. Kenapa bisa begitu? Kiranya orang yang menyergap pemuda itu bukan lain adalah ibunya sendiri, siang go, siang go cantik ong cui Ing adanya.

Paras muka siang go cantik ong cui Ing dingin kaku tanca emosi, ia berdiri tiga tombak dihadapan pemuda itu dan menatap wajahnya tanpa berkedip.

Han siong Kie amat tersiksa batinnya, ia merasa hatinya amat sakit bagaikan ditembusi beribu-ribu batang anakpanah, mukanya berkerut kencang hingga berubahjadi aneh sekali.

Untuk sesaat la many a dia cuma bisa berdiri tertegun belaka sambil merasakan hati yang pedih karena tersayat2 oleh kenyataan yang terpentang didepan mata.

Berulang kali ibu kandungnya telah turun tangan keji terhadap dirinya, kejadian ini sama sekali tak masuk diakal, tapi kenyataan membuktikan lain-

Dalam pada itu Tengkorak maut gadungan telah bersuit nyaring, menggunakan kesempatan yang sangat baik dia telah meluncur masuk ke dalam hutan lebat diseberang sana, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya telah lenyap

daripandangan-

Mengikuti berlalunya Tengkorak maut gadungan- siang go cantik ong cui Ing cun enjotkan badan dan berlalu pula menuju kesatu arah yang sama.

Han Siong Kie tak mampu berbuat apa2, dia cuma bisa berdiri kaku ditempat semula bagaikan patung, sama sekali tak dapat berkutik barang sedikitpun jua.

Angin gunung berhembus lewat mengibarkan ujung bajunya, cahaya sang surya memancar diatas tubuhnya meninggalkan ba yangan diatas permukaan tanah.

Lama.. lama sekali... pemuda itu masih berdiri tertegun tanpa berkutik barang sedikit pun jua. Ia sedang berpikir... dan terpikir lebih mendalam ....

”Apa tujuan ibunya menyergap dia ? kalau toh maksudnya agar Tengkorak maut gadungan bisa kabur dari cengkeramannya, kenapa begitu??"

Tengkorak maut gadungan bersedia menggunakan pusaka Hud jiu po pit sebagai umpan untuk mengetahui latar belakang keadaan dari benteng maut, kenapa ia berbuat begitu ?"

Ditinjau dari gerakan ilmu silat yang dimiliki Tengkorak maut gadungan, rasanya berasal dari satu cumber dengan pemilik benteng maut yang asli, cuma dia masih kalah dalam kematangan, kenapa bisa begitu? rahasia apa yang tersembunyi dibalik kesemuanya itu? 

Ketua muda perkumpulan Thian Che kau yakni Yu Sau-kun pernah mempergunakan ilmu aneh yang bisa membuat orang tak mampu menghimpun tenaga dalamnya untuk menghadapi dia, ilmu tersebut persis seperti ilmu shatalira n Benteng Maut, mungkinkah antara perkumpulan Thian Che kau dengan benteng maut ada hubungan yang erat?

Dan sekarang ibunya yang telah kawin dengan Ketua perkumpulan Thian-che kau telah munculkan diri serta menolong jiwa Tengkorak maut gadungan, apakah mungkin antara Tengkorak maut gadungan dengan pihak perkumpulan Thian che kau juga mempunyai hubungan yang akrab.?"

Makin dipikir ia semakin kebingungan dan untuk beberapa waktu sianak muda itu tak tahu apa yang musti dilakukan.

seandainya Tengkorak maut gadungan benar2 pembantai keluarga Han dan kini ibunya telah menyelamatkan jiwanya, tindakan tersebut boleh dibilang mendekati perbuatan yang luar biasa, bisa bikin orang jadi gila karena mendongkol.

Bukan saja berulang kali ibunya hendak membinasakan anak kandung sendiri, bahkan sekarang dia telah melepaskanpulapembunuh besar keluarganya wa la upun tuduhan tersebut hanya terbatas pa da kecurigaan belaka.

Lama sekali ia termenung, akhirnya tanpa disadari pemuda itu berpekik keras: "Bunuh"

"Nak. siapa yang akan kau bunuh?" teguran yang lirih ini namun penuh kasih sayang berkumandang dari samping gelanggang.

sekujur badan Han siong Kie gemetar keras, dari nada cara orang itu dengan cepat ia dapat mengetahui kalau dia bukan lain adalah "orang yang kehilangan sukma" yang serba misterius itu, maka diapan tidak berpaling sebab pemuda itu tahu orang yang kehilangan sukma tak akan munculkan diri.

" Engkau adalah orang rang kehilangan sukma?" tegurnya kemudian-

"Benar nak" panggilan yang hangat dan penuh kasih sayang berkumandang kembali di sisi telinganya.

Panggilan tersebut mengingatkan kembali Han Siong Kie akan ibunya yang baru saja berlalu, ia merasa hatinya amat pahit seperti di iris2 dengan pisau belati tanpa kuasa tubuhnya mundur beberapa langkah ke belakang.

"Anak, bukankah engkau sangat membenci ibumu??" orang yang kehilangan sukma menegur lagi.

Han siong Kie menggigit bibir kencang2 dan menjawab: "Benar, rasa benciku telah merasuk ketulang sum-sum.."

”Jadi kalau begitu teriak "Bunuh" yang kau jeritkan tadi, adalah ditujukan kepada nya?"

Paras muka Han siong Kie kembali berkerut kencang, dengan penuh kebencian dia menjawab:

"Benar Aku harus bunuh dia dari muka bumi" "Apa ?Jadi engkau hendak membinasakan ibumu ?? " suara orang yang kehilangan sukma agak gemetar, nadanya penuh emosi dan rasa tercengang, rupanya dia tak menduga akan jawaban tersebut.

"Benar Aku harus membunuhnya.."

"Ah, masa dikolong langit ada anak yang hendak membunuh orang tua serdiri?"

"Dan dikolong langit mas a ada ibu yang membunuh putra sendiri.?" Han siong Kie balik bertanya dengan suara parau.

Dua titik air mata jatuh berlinang membasahi wajahnya yang telah berubah jadi hijau membesi.

Lama sekali orang yang kehilangan sukma termenung, akhirnya ia berkata:

"Tapi dia toh tidak turun tangan keji atas dirimu? buktinya sampai sekarang kau masih hidup dikolong langit?"

"cianpwe, ketahuilah perkataanmu itu tak dapat menghapuskan perbuatan gila dan kalapnya yang telah dilakukan selama ini atas diriku"

"Mungkin saja apa yang kau katakan tidak keliru, tapi kadangkala persoalan yang ada dikolong langit tak dapat dibahas dan dipecahkan dengan keadaan serta jalan pikiran pada umumnya"

"Kenapa bisa begitu?" tanya sang pemuda agak tidak mengerti

"siapa tahu kalau ibumu mempunyai kesulitan yang tak bisa diutarakan keluar dengan kata2? siapa tahu juga dia berbuat demikian karena terpaksa? atau mungkin dia mempunyai rencana yang maha penting yang hendak dilaksanakan?"

"Apakah cianpwe dapat mengambil suatu kenyataan sebagai bukti kebenaran dari ucapanmu itu?" "suatu hari aku bisa mengambil kenyataan sebagai bukti, dan sekarang belun waktunya"

”Jadi kalau begitu cianpwe berkata begitu cuma untuk menghibur hatiku belaka??"

" Eng kau keliru besar, aku tiada maksud menghibur hatimu dan membuat tenteram hatimu, ketahuilah aku tidak lebih hanya seorang manusia yang sudah kehilangan sukma"

Han siong Kie tertegun, ia telan air liur dan untuk beberapa saat lamanya tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Terdengar orang yang kehilangan sukma berkata lagi: "Nak. janganlah menyalahkan siapapun, kehidupan

manusia telah ditentukan oleh takdir, dan nasiblah yang akan

mengatur se gala2nya bagimu "

"Aku yang muda tidak percaya dengan segala nasib atau takdir"

" Kenapa begitu? Bukankah apa yang kau telah alami dari kecil sampai dewasa juga merupakan suratan takdir?"

"Tidak bukan takdir yang menentukan manusia, adalah perbuatan manusia sendiri yang menentukan segala2nyal"

"Nak, engkau terlalu keras kepala, bersediakah engkau untuk mendengarkan perkataanku lagi? Hapuslah rasa benci dan dendam terhadap ibumu, bila semua bukti dan kebenaran dibuktikan oleh kenyataan yang akan terbentang dimasa mendatang”

Han siong Kie tertawa sedih. "Aku sudah tak punya ibu lagi" bisiknya lirih.

"Kalau ucapanmu ini sampai terdengar oleh ibumu. oh Betapa sedihnya dia? mungkin dia akan menangis dengan sedihnya. "Mungkinkah begitu? setiap saat dia berusaha untuk membinasakan diriku...masa ia sudi menangis karena aku haaah haaaahh haaahhh.."

Dengan penuh kesedihan dan kepedihan Han siong Kie menengadah dan tertawa kalap. suara tertawanya sangat tak sedap didengar, bukan saja tidak mirip tertawa bahkan lebih mendekati tang isan kuntilanak di tengah ma lam buta, rupanya dia ingin melampiaskan seluruh rasa benci, sedih, gusar dongkol danpatah semangat dalam gelak tertawa itu. Lama...lama sekali...dia baru berhenti tertawa.

"Nak, aku tak dapat menyalahkan kau jika kau sampai berbuat demikian, sebab nasiblah yang telah menentukan se- gala2nya" ujar orang yang kehilangan sukma dengan suara lirih.

"Tidak bukan nasib yang kualami tapi kenyataan hidup dari seorang manusia."

”Jadi engkau tidak percaya dengan nasib atau takdir??" "Benar, aku sama sekali tidak percaya"

"Tapi suatu hari engkau akan percaya dengan sendirinya." "Tidak selamanya aku tak akan percaya"

Janganlah terlalu keras kepala, yang kumaksudkan sebagai takdir adalah suatu kejadian nyata yang tak dapat dirubah atau ditolong oleh kekuatan manusia dan engkau hanya bisa mengikuti perkembangan dari kenyataan tersebut, mengikuti evolusialam, kalau toh sudah ditakdirkan untuk mati, siapa yang dapat menghindarkan diri? dan siapa pula yang bisa menolong? Nah, disinilah letak arti yang sebenarnya dari Takdir"

Han siong Kie mendengus dingin, ia segera membantah: "Aku tahu apa yang cianpwe katakan memang cengli dan

masuk diakal, tetapi bagi pandanganku nasib tetap berada di tangan manusia sendiri yang menentukan setiap perbuatan dan setiap kejadian yang ada dikolong langit adalah manusia itu sendiri bukan takdir"

Jadi engkau tak dapat merubah pandangan hidupmu terhadap ibumu?"

" Kalau toh dia tidak menganggap aku sebagai putranya, kenapa aku harus menghormati dirinya sebagai ibuku?"

"Bocah, ucapanmu itu keliru besar, engkau telah melanggar dasar hidupmu sebagai seorang putra manusia"

Han siong Kie menghela napas sedih, katanya:

"Lima belas tahun berselang, aku masih berusia tiga tahun ketika seluruh keluargaku di bantai orang, dengan keji sampai detik ini kedua ratus sosok kerangka manusia mereka belum tertanam dalam tanah, dan dia... ia bisa lolos dari pembantaian tersebut dengan selamat, malahan dia kawin lagi dengan orang lain, bukan saja dendam keluarganya tidak dituntut balas bahkan setiap kali berusaha membinasakan diriku"

"Mungkin engkau telah melupakan sesuatu" tiba2 orang yang kehilangan sukma berseru dengan suara aneh.

"Apa yang kulupakan?"

"Apakah engkau pernah berpikir dengan cara bagaimana ibumu bisa lolos dari kematian?"

Untuk beberapa saat lamanya Han siong Kie berdiri tertegun, ia melongo dan tak mampu menjawab:

"Ehmm Benar juga perkataan ini" pikirnya di hati kejadian ini memang merupakan suatu teka teki besar

Pemuda itu pernah berpikir sampai kesitu tapi tak pernah menemukan jawabannya, ia penuh keheranan atas kejadian ini, dari mana ibunya bisa locos dalam keadaan selamat ditengah pembantaian keji tersebut?" Paman gurunya telapak naga beracun Thio Lin sesaat sebelum bunuh diri hanya sempat beritahu kepadanya kalau ibunya sudah kawin lagi, dan pernah hendak membunuh mereka berdua, selain itu beliau tak pernah menceritakan kejadian yang berhubungan dengan pembantaian tersebut, bahkan berpesanpula kepadanya agarjangan membalas dendam, kenapa ia berbuat begitu.

Teka teki suatu teka teki yang tak bisa terjawab. setelah termenung dan berpikir beberapa saat lamanya,

diapun berseru dengan penuh emosi.

"Apakah cianpwe tahu apakah sebab-sebabnya?"

"Tentu saja tahu oleh karena itu aku dapat mengucapkan kata2 seperti ini kepadamu"

" Cianpwe, kenapa tidak kau terangkan se-jelas2nya?" "saatnya belum tiba kalau kuucapkan keluar bukan saja

tidak bermanfaat bagimu malahan bisa mendatangkan celaka"

Han siong Kie mendengus sambil menggertak gigi, ia terbungkam dalam seribu bahasa.

Beberapa saat setelah suasana diliputi keheningan, orang yang kehilangan sukma berkata lagi:

"Nak. aku berharap agar engkau bersedia untuk mengunjungi Benteng maut sekali lagi"

"Akan kuingat selalu dihati"

"Kenapa tidak segera kau laksanakan"

"Dewasa ini aku harus selesaikan dahulu persoalan yang menyangkut perguruanku, tapi cianpwe tak usah kuatir Pokoknya suatu saat aku akan berkunjung kebenteng maut, sebab tanpa perkataan dari cianpwe pun aku juga bisa melakukannya sendiri" "Maksudku, aku harap agar engkau menceritakan asal usulmu yang sebenarnya kepada pemilik benteng maut"

"Tentang soal ini tentu saja"

Tanpa sadar Han siong Kie meraba pusaka Hud jiu popit yang ada dalam sakunya, dalam hati dia berpikir:

"sekarang aku harus berangkat dulu kebukit Ke lou san untuk menemukan diri malaikat hawa dingin Mo siu ing, setelah kuberitahukan jejak dari malaikat hawa panas Ke su ki, sepasang sarung tangan pusakapun bisa bersatu dan aku dapat melatih ilmu si mi sinkang, waktu itulah baru kukunjungi benteng maut untuk menuntut balas. Belum habis dia berpikir, orang yang kehilangan sukma telah berkata lagi:

"Nak mulai detik ini engkau sudah menjadi musuh bebuyutan dari perkumpulan Thian che kau"

"Aku bisa memahami akan persoalan ini"

"Engkau harus jaga diri baik2 terutama sekali terhadap sergapan mereka"

"Terima kasih cianpwe atas peringatanmu" "Nah, sekarang kau boleh berlalu "

"sebelum pergi, terlebih dahulu aku hendak mengajukan dua pertanyaan terlebih dahulu "

”Coba katakan”

"Pertama, didunia persilatan sebetulnya terdapat berapa banyak Tengkorak maut?"

"Yang kau maksudkan delapan belas tahun berselang ataukah delapan belas tahun kemudian?"

"Delapan belas tahun berselang?" " Waktu itu cuma seorang"

" Lalu kalau delapan belas tahun kemudian?" "Ada dua orang"

"Apakah pemilik benteng maut rela membiarkan orang lain mencatut nama besarnya? "

"Tentu saja dibalikperistiwa itu masih terdapat alasan- alasan lain yang dalam sekali artinya"

"Boleh aku tahu apa sebabnya??"

"Tidak aku tak dapat beritahu kepadamu"

Han siong Kie meras akan hatinya jadi dingin separuh, dia lantas berseru lagi:

"Aku lihat ilmu silat yang dimiliki Tengkorak maut asli maupun gadungan berasal dari satu sumber yang sama, mungkinkah di balik kejadian ini.."

"Nak. dikemudian hari engkau akan paham sendiri" tukas orang yang kehilangan sukma dengan cepat, "sekarang aku belum bisa memberitahukan kepadamu, Nah, katakanlah persoalan yang kedua"

Kedua, apa hubungannya antara perkumpulan Thian che kau dengan Benteng maut?"

"Kenapa kau ajukan pertanyaanseperti itu??"

" Ketua muda perkumpulan Thian che- kau Yesau kun pernah menggunakan suatu jenis ilmu aneh yang pernah kujumpai pula sewaktu berada didalam benteng maut "

"Maafkaniah daku, aku tak mampu menjawab pertanyaanmu itu."

Han siong Kie merasa amat berduka sekali setelah mendengar jawaban tersebut, teka teki tetap merupakan teka teki, ia tak habis mengerti kenapa orang yang kehilangan sukma sengaja berbuat rahasia terhadap dirinya walau dalam hal apapun juga. Tiba2 ia teringat kembali akan satu peristiwa, ketika jalan darahnya ditotok oleh Pemilik Benteng Maut dengan ilmu manunggalnya sehingga hawa murninya tak dapat berkumpul kembali, bukankah orang yang kehilangan sukma telah mengutungi lengan sendiri karena dia telah bebaskanjalan darahnya yang tertotok. malahan berpesan kepadanya andaikata bertemu kembali dengan pemilik benteng maut, kutungan tangan itu harus diserahkan kepadanya. ?

Berpikir sampai disini tak tahan lagi dia berseru:

" Kalau dugaanku tidak keliru, kemungkinan besar cianpwe sendiripun mempunyai hubungan yang erat sekali dengan pihak benteng maut?"

"Dengan dasar apa kau bisa berpikir demikian?" tanya orang yang kehilangan sukma dengan suara kaget bercampur tertegun

"Dasar apa ? Dasarnya karena cianpwe dapat membebaskan jalan darahku yang ditotok oleh pemilik benteng maut dengan ilmu totokan menunggalnya"

"Nak. ketahuilah ilmu silat yang ada dikolong langit sebenarnya bersumber dari satu orang, air yang mengalir di sungai2 toh akhirnya berkumpul disamudra ? sebenarnya tiada sesuatu yang aneh dalam persoalan ini"

"selain itu, aku masih punya bukti pula kenapa cianpwee kutungi lengan sendiri dan berpesan kepadaku agar diserahkan kepada pemilik benteng maut."

"Cukup,. cukup nak, sekarang kau boleh berlalu dari sini" tukas orang yang kehilangan sukma dengan cepat.

Dengan perasaan tak habis mengerti Han siong Kie, gelengkan kepalanya berulang kali.

"Budi kebaikan Cianpwee tak akan kulupakan untuk selamanya, suatu ketika pasti akan kubalas semua budi kebaikan itu, sekarang baiklah aku yang muda mohon diri lebih dahulu”

Habis berkata dia lantas menjura dalam2 kearah mana berasalnya suara itu, kemudian ia putar badan dan bergerak menuju kearah jalan raya.

sepanjang perjalanan bayangan dari ibunya selalu berkecamuk dalam benaknya, ia meras a tragedi tersebut merupakan suatu kejadian yang paling tragis, dan dialah peran utama dalam tragedi tersebut.

Kenapa orang yang kehilangan sukma selalu berusaha untuk melindungi ibunya, perbuatannya ini sangat mencengangkan hatinya.

Mungkinkah dia berbuat demikian karena berdasarkan pengamatannya yang penuh welas kasih? karena tak tega menyaksikan tragedi dirumah tangga orang lain maka dia berusaha untuk memperbaiki hubungan yang telah retak itu? pikirnya dihati.

Tanpa sadar diapun teringat kembali akan diri lima orang tianglo yang telah berangkat lebih duluan.

Gerak tubuhnya ma kin dipercepat, ibarat segulung asap ringan dia bergerak maju ke depan mengikuti jalan raya yang terbentang jauh kedepan-

Tak sampai dua jam lamanya, dia sudah melampaui jarak sejauh tiga ratus li lebih, akan tetapi kelima orang tianglo itu belum juga kelihatan jejaknya.

sementara sianak muda itu masih berpikir dengan keheranan, tiba2 dari arah depan bergerak datang belasan sosok bayangan manusia dengan gerakan yang enteng.

Han siong Kie menghindar disamcing jalan karena dalam keadaan begini dia tak ingin mencari gara2, mendadak ia temukan bahwa belasan orang itu ternyata kawanan jago dari perkumpulan Kay-pang, dan orang yang berjalan dipaling depan bukan lain adalah Pengemis dari selatan yang selama ini dianggap sebagai "Engkoh tua" nya.

Cepat2 sianak muda itu menghentikan langkahnya ditengah jalan dan menghadang jalan pergi beberapa orang itu.

Dipihak lain, ketika rombongan yang dipimpin pengemis dari selatan mengetahui bahwa jalan pergi mereka dihadang orang, belasan orang itupun segera menghentikan gerak tubuhnya.

" Engkoh tua" Han siong Kie segera menegur dengan muka berseri-seri karena gembira.

setelah mengetahui siapa yang datang, pengemis dari selatan menengadah dan tertawa ter-bahak2.

"Haaah... haaah... haaah saudara cilik, kembali kita telah berjumpa muka. "selama berpisah apakah engkoh tua berada dalam keadaan sehat walafiat??"

"Haaah... haaah... haaah... selamanya aku pengemis tua Cuma punya satu bibir dua pundak, apanya yang sehat atau tidak??"

sementara itu kedua belas orang pengemis tua yang datang bersama pengemis dari selatan telah melotot kearah Hansiong Kie dengan penuh kegusaran, seakan2 kalau bisa mereka hendak telan pemuda itu bulat2.

Tentu saja Han siong Kie mengetahui juga apa sebabnya pihak lawan memandang ke arahnya dengan sikap bermusuhan, namun ia sama sekali tidak gentar.

setelah menyapu sekejap kearah kawa nan pengemis itu, ujarnya lagi kepada pengemis dari selatan-

" Engkoh tua, aku lihat engkau sedang melakukan perjalanan dengan tergesa-gesa, kemana engkau akan pergi?"

Paras muka pengemis dari selatan berubah beberapa kali, akhirnya sambil tertawa ha hihi jawabnya. "Kemana aku hendak pergi tak usah dibicarakan, eh saudara cilik bersediakah kau untuk menemani aku pengemis tua minum arak sampai mabuk.?"

"Tentang soal ini.."

„Jadi kau tidak bersedia"

"Bukanya tidak sudi, kebetulan aku masih ada urusan penting yang harus diselesaikan lebih dahulu, maka lebih baik dikemudian hari saja..“

"saudara cilik ketahuilah, secawan arak yang hendak kusuguhkan kepadamu mempunyai arti persahabatan kita yang maha besar"

Han siong Kie termenung dan berpikir sebentar, akhirnya dia menjawab:

"Aaai baiklah, kalau toh engkoh tua berkata begitu lebih baik aku turut perintah saja"

Mendengar kesanggupan dari sianak muda itu, pengemis dari selatan segera berpaling kearah dua belas orang pengemis tua lainnya dan berseru lantang: "siapkan meja perjamuan dalam kuil Leng koan bin“

Kedua belas orang pengemis tua itu sama-sama memberi hormat sambil mengiakan, setelah melirik kembali kearah Han siong Kie denganpandanganpenuh kebencian, mereka putar badan dan berlalu dari situ.

Memandang hingga bayangan tubuh kedua belas orang pengemis tua itu sudah lenyap dari pandangan, Han siong Kie baru berkata lagi kepada pengemis dari selatan-" Engkoh tua, kenapa secara tiba2 kau hendak undang aku untuk minum arak?"

"Besar sekali arti persahabatan dalam secawan arak itu” sahut pengemis dari selatan dengan alis mata berkenyit.

"Aku tak habis mengerti" " Untuk sementara waktu tak usah kita bicarakan dulu tentang persoalan ini, aaai sebenarnya saja aku engkoh tua menyayangkan sesuatu atas dirimu"

"Menyayangkan diriku? Kenapa??"

"Kemungkinan besar kehidupanmu dimasa depan akan hancur berantakan tanpa mampu dicegah lagi"

"Engkoh tua, aku benar2 tidak mengerti dengan perkataanmu itu..."

"Bukankah malaikat penyakitan adalah hasil penyaruanmu??" Pengemis dari selatan menegaskan.

Han Siong Kie kerutkan dahinya lalu mengangguk "Benar, akulah malaikat penyakitan."

-ooodewiooo-

BAB 42

SENYUMAN yang semula menghiasi ujung bibir pengemis dari selatan, seketika lenyap tak berbekas,alis matanya berkenyit dengan suara dalam ia lantas berseru: "Jadi kalau begitu engkau benar2 adalah anak murid dari Mo tiong ci mo?"

"Benar, tapi apa salahnya aku menjadi muridnya?"

"Mo tiong ci mo adalah seorang gembong iblis yang kejam dan berhati keji, ia membunuh orang bagaikan membabat rumput, entah sudah berapa banyak umat persilatan yang menemui ajalnya ditangan iblis ini..."

Han Siong Kie tertawa rawan.

"oleh sebab itu maka engkoh tua merasa kasihan dan sayang buat masa depanku?" sambungnya dengan cepat. Pengemis dari selatan tertegun, akhirnya ia berbisik lirih: "saudara cilik, kau telah berubah"

"Berubah ? darimana kau tahu kalau aku berubah??" "Dari pembicaraanmu barusan "

"Tidak Aku sama sekali tak berubah, mungkin dalam hati kecil engkoh tua ada urusan yang memusingkan, maka pandanganmu yang ikut pula berubah"

"saudara cilik, seandainya pada saat ini aku pengemis tua ingin mengetahui jejak dari gurumu, apakah engkau bersedia untuk menjawab??"

"Tentu saja Kenapa tidak berani kuterangkan??"

" Kalau begitu, tolong tanya gurumu sekarang berada dimana??"

"Dia orang tua telah mengakhiri masa hidupnya didunia ini

"

"Apa ? gurumu sudah mati ?" teriak pengemis dari selatan

amat terperanjat. "Benar "

Paras muka pengemis dari selatan berubah beberapa kali, kemudian ia berkata lagi:

"Aku pengemis tua mengira apa yang tersiar dalam dunia persilatan hanya berita yang keliru, tak tahunya memang benar2 demikian adanya, saudara cilik Eogkau tentu tahu bukan Musuh besar dari Mo tiong ci mo tersebar di mana2, apabila dia telah mati maka "

"sang murid akan menanggung semua hutang dari gurunya" sambung sang pemuda dengan cepat.

Mendengar ucapan tersebut sekujur badan pengemis dari selatan gemetar keras, ia segera berseru lagi. "saudara cilik, kita bersahabat lebih dulu sebelum terjadinya pelbagai peristiwa ini, hal ini menandakan kalau kita punya jodoh, dan sekarang kita berduapun masih saling bersahabat, kata2 yang kurang sedap didengar lebih baik tak usah kita bicarakan dulu, tiga li dari sini terdapat sebuah kuil leng koan bio, bagaimana kalau kita minum-minum dulu sampai puas?"

Agaknya Han siong Kie dapat memahami arti dari ucapan kakak tuanya ini, ia lantas berkata:

"Engkoh tua, bukankah kau katakan tadi bahwa secawan arakmu ini mengandung rasa persahabatan yang maha besar?"

Pengemis dari selatan cuma mengangguk dan tidak menjawab.

"Apakah bisa kuatirkan bahwa dengan secawan arak itu maka kau hendak memutuskan hubungan persaudaraan yang sudah terjalin?"

Paras muka pengemis dari selatan berubah hebat, serunya sambil tertawa sedih: "Apa maksud perkataanmu itu??"

"Engkoh tua, kalau toh sudah tahu buat apa pura2 berlagak pilon lagi? Aku tahu dimata orang Bu-lim antara mendiang guruku dengan pihak Kay pang pernah terjadi sengketa, engkoh tua sebagai tianglo dari Kaypang tak mungkin bisa berpeluk tangan dalam persoalan ini, sedangkan aku sebagai ahli waris dari Mo tiong ci mo harus bertanggung jawab terhadap perbuatan guruku, untuk itu engkoh tua akan undang aku untuk minum arak. tentu saja hal ini disebabkan karena dimasa lalu kita pernah mempunyai hubungan yang akrab, tapi setelah selesai minum arak kemungkinan besar kita harus selesaikan persoalan ini diujung senjata, kalau arak itu tak bisa dikatakan sebagai arak pemutus hubungan, lalu mau disebut apa lagi?" Pengemis dari selatan mengangguk lirih, dua titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, air mata itu tercucur keluar karena pancaran emosi dalam hatinya. Han Siong Kie sendiripun ikut bersedih hati, pikirnya: "Engkoh tua memang seorang jago yang berperasaan halus.." sementara itu pengemis dari selatan telah berkata lagi dengan sedih:

"saudara cilik, sebenarnya setelah minum arak nanti persoalan ini baru akan kuterangkan, siapa tahu kau telah berhasil membongkarnya lebih dahulu, tak salah sekarang kita memang masih bersahabat, tapi satu jam kemudian kita bisa saling berhadapan sebagai musuh bebuyutan, akupengemis tua sebagai ketua tianglo perkumpulan Kay pang tak dapat mengingkari sumpahku terhadap cousu, dan tak dapat pula cuci tangan dari pertanggungan jawab ini, apa lagi terhadap semua anggota perkumpulan..."

Han Siong Kie sama sekali tidak gentar atau sedih karena persoalan ini, sebab dia sudah mempunyai rencana yang masak untuk menanggulangi persoalan tersebut, dalam kitab catatan tentang budi dan dendam yang ditinggalkan Mo mo cuncu, ia telah membaca semua latar belakang peristiwa pembunuhan itu, dan ia merasa cukup beralasan untuk menangkis semua tuduhan tadi.

Pembicaraanpun dialihkan kesoal lain, pemuda itu bertanya

:

”Engkoa tua, mata2 perkumpulan Kay pang tersebar di

mana2, apakah kalian berhasil menemukan sumber serta asal usul diri Tengkorak maut gadungan?"

Pengemis diri selatan geleng kepala dan menghela napas panjang.

"Tiada sesuatu jejak pun yang berhasil kami temukan'' sahutnya.

"Menurut pendapat engkoh tua. mungkin kah tengkorak maut itu adalah tengkorak maut generasi kedua?" "Saudara cilik, engkau bisa berkata demikian tentu punya dasar buktinya bukan?"

"Benar, aku bisa berkata demikian karena mendasarkan dari beberapa hal. Pertama ilmu silat yang digunakan Tengkorak maut gadungan ternyata berasal dari satu sumber dengan Tengkorak maut asli, hanya saja kehebatan mereka terpaut dalam hal kematangan serta kesempurnaan belaka Kedua, dengan kemampuan yang dimiliki Tengkorak maut asli, tak mungkin bukan kalau dia biarkan oraag lain mencatut namanya ?”

Pengemis lua dari selatan mengangguk2 tanda membenarkan, ujarnya kemudian :

”Saudara cilik, perkataanmu memang masuk diakal, tapi siapa yang menduga kalau Tengkorak maut sebenarnya ada yang asli dan gadungan ? Apalapi tenaga dalam yang dimiliki Tengkorak maut gadungan juga sangat hebat, susah dicarikan tandingannya dikolong langit dewasa ini, mampukah kau untuk membuktikan kecurigaan itu? Padahal kecuali kau dan aku, dikolongan langit ini tak ada orang ketiga yang tahu kalau Tengkorak maut sebenarnya ada dua, yang gadungan dan yang asli”

Diam2 Han Siong Kie menggigit bibir menahan emosi hatinya, terbayang kembali akan perbuatan ibunya Siang go cantik Ong Cui Ing yang telah menolong tengkorak maut gadungan dari ancaman maut, hampir saja dadanya meledak karena mendongkol.

Sementara itu Pengemis dari selatan telah menghela napas panjang, ujarnya lagi:

"Aaai.. dunia persilatan yang sudah belasan tahun mengalami ketenangan, sekarang terancam kembali oleh teror dan pembantaian secara keji. Mungkinkah saat kiamat sudah hampir tiba??" Tiba2 dari sepasang mata Han siong Kie memancar keluar serentetan cahaya yang sangat aneh, ucapnya dengan suara meyakinkan:

"Aku yakin teka teki yang menyelubungi asli dan gadungannya tengkorak maut, tidak lama kemudian akan terbongkar "

"Semoga saja begitu saudara cilik, mari kita berangkat.." "Baik, silahkan engkoh tua membawa jalan "

Berangkatlah dua orang itu menelusuri jalan raya menuju kearah muka.

sesaat kemudian mereka telah tiba ditengah sebuah bukit, sambil menunjuk kearah bukit yang ada disebelah kanan, katanya: "Itu dia, kita akan menuju kesitu"

Kedua orang itu berangkat meninggalkan jalan raya berganti menyelusuri jalan kecil menuju kearah hutan yang dimaksud.

Meskipun diluaran pengemis dari selatan tidak menunjukkan sikap apa2, namun perasaan hati yang sesungguhnya amat berat dan tertekan, sejak bertemu dengan Han siong Kie dalam hutan tho ia merasa amat berjodoh sekali dengan pemuda itu sehingga mengikat diri menjadi saudara, tak disangka banyak urusan didunia, yang tak dapat diramalkan, akhirnya pemuda yang menjadi saudaranya itu telah menjadi ahli waris dari Mo tiong ci mo, seorang gembong iblis yang punya ikatan dendam dengan perkumpulannya.

Empat puluh tahun berselang, Mo tiong ci mo dengan andalkan kepandaian silatnya yang tinggi telah memusnahkan cabang perkumpulannya yang ada dikota swat siang, dimana dari sang Tuo-co, ketiga orang hiang-cu, dua belas orang komandan sampai empat puluh orang anggota perkumpulannya telah dibantai secara keji. setelah kejadian itu, tiba2 jejak Mo tong ci mo lenyap dari dunia persilatan, walau begitu pihak Kay pang bersumpah akan menebus hutang berdarah itu.

Dan kini, Mo tiong ci mo telah meninggal dunia, itu berarti hutang berdarah tersebut harus ditanggung oleh Han Siong Kie sebagai ahli waris tunggalnya.

Ini berarti pula persaudaraan diantara mereka akan berakhir, dari saudara angkat akan jadi musuh bebuyutan yang tak bisa berdiri bersama. kejadian semacam ini boleh dikata merupakan suatu kejadian yang amat tragis.

Pengemis dari selatan mengetahui sampai dimanakah taraf kemampuan yang dimiliki Han Siong Kie, sebab kelihayannya sudah tersohor diseluruh kolong langit, ia tahu hutang darah perkumpulannya belum tentu bisa ditagih, terbayang akan peristiwa yang bakal terjadi, tak kuasa lagi ia merinding hingga bulu kuduknya pada bangun berdiri

Pengemis itupun tahu, seandainya sampai terjadi pertarungan sengit, dengan semangat anggota perkumpulannya, maka suatu pertumpahan darah yang mengerikan tak bisa dihindari lagi, ia tak berani melanjutkan pemikirannya, sebab ia tahu bagaimanapan juga akibatnya pasti tragis dan mengerikan..

Han siong Kie sendiri sama sekali tak jadi gentar atau bingung oleh peristiwa tersebut, sebab ia sudah mempunyai rencana yang masak. Ia yakin urusan itu dapat dipecahkan secara mudah.

sebuah kuil besar yang antik dan rusak dimakan usia berdiri angker dibalik pepohonan yang lebat.

sebuah papan nama tergantung didepan pintu kuil, tulisan itu berwarna emas walaupun sekarang telah kotor oleh debu, secara lapat2 tulisan tersebut masih dapat dikenali sebagai kuil "Long koan bio" Ketika mereka hampir tiba didepan pintu, seorang pengemis setengah baya munculkan diri dari balik ruangan dan jatuhkan diri berlutut, katanya dengan lantang:

"Tecu Ciu song tuccu dari cabang kota kang leng menyambut dengan hormat kedatangan tianglo"

"ciu Tuocu tak usah banyak adat, sudah kau siapkan meja perjamuan?"

"semuanya telah siap" jawab Ciu Seng dengan hormat, ia segera bangkit dan menyingkir kesamping.

"Bagus, bawa jalan"

Tiga orang itu secara beruntun masuk ke dalaw kuil, setelah menyeberangi dua buah halaman yang luas, sampailah mereka dalam ruang tengah yang besar dan bersih.

Dimana mereka berjalan lewat, semua anggota perkumpulan Kay pang sama2 bungkukkan badan memberi hormat.

Han Siong Kie hanya mengintil dibelakang saudaranya, walaupun mukanya tetap tenang, namun ia cukup menyadari betapa tegangnya situasi disana, semua sorot mata yang ditujukan ke arahnya rata2 memancarkan rasa dendam dan marah yang tak terkendalikan.

Diatas meja perjamuan tersedia belasan macam sayur yang berbau harum, disampingnya tersedia pula sebuah guci arak yang masih disegel.

Pengemis dari selatan mempunyai tingkat kedudukan yang sangat tinggi dalam perkumpulannya, ia tak pernah terikat oleh segala tata cara yang ber-belit2, kepada Ciu Seng yang mendampinginya ia berkata:

"Perintahkan semua orang untuk tinggalkan tempat ini, aku hendak makan minum sepuasnya dengan saudara cilik, bila ciang bunjin sudah tiba nanti, kasi kabar kepadaku" "Baik tianglo" dengan sangat hormat Ciu Seng mengundurkan diri dari ruangan itu, menyusul anak murid lainnyapun sama2 berlalu dari sana, sebentar kemudian dalam ruangan yang luas tinggal mereka berdua.

"saudara cilik, ayoh duduklah " ucap pengemis dari selatan. setelah dua orang itu ambil tempat duduk, pengemis dari

selatan segera membuka segel diatas guci arak yang tersedia, bau harum semerbak berhembus keluar membuat seluruh ruangan jadi wangi.

"Arak bagus" puji Han Siong Kie dengan suara lantang.

Merekapun meneguk arak dengan riang gembira, pengaruh alkohol membuat kedua orang itu melupakan kenyataan yang sebentar lagi bakal terjadi, senda gurau berjalan amat lancar, se-olah2 diantara mereka memang tiada persoalan apa2. setengah jam kemudian, dari luar ruangan berkumandang suara teriakan keras: " Ciang bunjin tiba"

Pengemis dari selatan segera bangkir berdiri, mukanya berkerut kencang, sambil tertawa getir serunya kepada anak muda itu:

"saudara cilik, tampaknya tali jodoh di antara kita harus berakhir sampai disini saja."

Han Siong Kie mengulum senyuman, ia tidak mengucapkan sesuatu, perlahan tubuhnya ikut bangkit dari tempat duduk.

suara langkah kaki yang riuh berkumandang dari luar, menyusul sekelompok manusia melangkah masuk kedalam halaman luar.

orang yang dipaling depan adalah seorang pengemis berusia lima puluh tahunan, mukanya amat kereng, dia langsung menuju keruang tengah, sementara enam belas orang pengikutnya barsama dua belas orang pengikut dari pengemis selatan menunggu dihalamam depan- sementara itu anak murid Kay-pang yang lain menyebarkan diri keempat penjuru, dalam waktu singkat mereka sudah membentuk sebuah lingkaran tembok manusia yang kuat, jumlah mereka sekitar dua ratus orang, kecuali suara langkah kaki tiada kedengaran suara lain.

"Tio Hui menjumpai pangcu " seru pengemis tua dari selatan sambil melangkah tiga tindak kemuka.

"Tianglo tak usah banyak adat" seru pengemis tua itu menghalangi tianglonya memberi hormat, kemudian sambil berpaling kearah Han Siong Kie katanya: "Jadi engkau yang bernama Manusia bermuka dingin Han Siong Kie?"

"Benar" anak muda itu mengangguk ketus.

"Empat puluh tahun berselang gurumu Mo tiong ci mo mempunyai sedikit persoalan dengan perkumpulan kami."

"Akulah yang akan membereskan" sambung Han song Kie cepat.

Mendengar jawaban tersebut, sorot mata yang penuh pancaran rasa dan gusar tertuju semua keatas tubuh Han Siong Kie.

"Kalau memang begitu, silahkan menuju ketengah halaman, kita lanjutkan pembicaraan disitu" ucap ketua Kaypang sambil persilahkan pemuda itu.

Han Siong Kie mendengus dingin, tanpa menggerakan bahu ataupun anggota badan, tahu2 sekali enjot badan, dia sudah melayang turun ditengah halaman.

Demontrasi ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi ini sangat menggetarkan hati setiap orang, diam2 jago lihay dari Kaypang itu sama terkesiap dan mengeluarkan peluh dingin

Ketua Kay pang tidak banyak komentar lagi, diapun melangkah ke tengah halaman, disana keenam belas orang pengiringnya berdiri berjejer dibelakang ketua mereka dengan tongkat Tah- kau pang siap ditangan.

Pengemis dari selatan sendiri dengan muka serius berdiri disamping kanan ketua nya.

suasana jadi tegang dan meruncing, setiap saat suatu pertumpahan darah bakal berlangsung disitu.

Dengan muka serius ketua Kay pang menyapu sekejap sekeliling halaman itu, kemudian tegurnya dengan lantang.

"Han sauhiap. betulkah engkau akan mewakili mendiang gurumu untuk menyelesaikan hutang darah yang dibuat gurumu pada empat puluh tahun berselang?"

Han Siong Kie mengangguk tegas.

"Benar Hutang yang dibuat guru sudah sapantasnya ditanggung sang murid, tolong tanya bagaimana caranya pihak Kaypang untuk menyelesaikan pertikaian ini?"

"Hutang darah bayar darah Hutang nyawa bayar nyawa" "sebelum salah satu mampus tak akan di akhiri? " "Benar"

suasana bertambah tegang, semua jago lihay dari Kay pang menunjukkan muka sedih dan marah, mereka siap melancarkan terjangan maut kearah musuhnya. Ketua Kay pang termenung sebentar, kemudian ujarnya lagi:

"Berbicara tentang pertolongan Han sauhiap dalam peristiwa penghianatan pengemis bintang langit Jin Jiet, sebenarnya perkumpilan kami merasa sangat berhutang budi kepadamu "

Ia menghela napas panjang, setelah berhenti sebentar , lanjutnya lagi: "Tapi peristiwa berdarah yang menimpa cabang samsiang merupakan hutang darah yang paling besar bagi perkumpulan kami, maka "

"Mengenai kasus pengemis bintang langit Jin Jit, aku lakukan kesemuanya itu demi persaudaraanku dengan engkoh tua Thio tianglo, mengenai soal ini ciang bunjin tak usah merasa menyesal atau berterima kasih, aku lihat lebih baik ciang bunjin pikirkan tentang hutang piutang perkumpulan Kay pang dimasa lampau"

Pengemis dari selatan tetap berdiri tanpa emosi, padahal hatinya merasa amat sedih hingga sukar ditahan.

Dengan muka serius ketua Kay pang berkata: "Kalau toh urusan sudah dibikin jelas, maaf kalau

perkumpulan kami terpaksa harus ambil tindakan"

Mengikuti bergemanya ucapan tersebut, suasana berubah jadi tenang, senjata mulai dicabut dan pertarungan siap terjadi:

Melihat kesemuanya itu, Han Siong Kie segera berpikir dihati:

"Mungkin semua orang penting dalam perkumpulan Kay pang telah hadir disini, itu berarti sudah tiba saatnya bagiku untuk mengungkap duduk persoalan yang sebenarnya." Berpikir sampai disitu, dengan muka serius dia lantas terkata: "cianghunjin, boleh aku ajukan satu pertanyaan"

"Katakan"

"seandainya kematian yang menimpa anak murid cabang kota samsiang yang terjadi pada Empat puluh tahun berselang adalah kematian yang sudah sepantasnya mereka terima, apa yang hendak ciangbunjin lakukan?" suatu pertanyaan yang aneh dan sama sekali diluar dugaan para anggota Kaypang berdiri menjublak, paras muka mereka berubah hebat.

sekilas rasa kaget dan heran sempat menghiasi pula air muka Pengemis dari selatan yang kaku, ia yakin saudara kecilnya tak mungkin berbicara tanpa bukti atau alasan yang kuat, dengan hati berdebar ia menunggu keterangan lebih jauh dari anak muda itu.

"Han sauhiap. apa arti dari perkatanmu itu?" tanya ketua Kaypang dengan muka tertegun karena heran-

"Maksudku, andaikata murid2 Kay pang yang terbunuh dimasa lampau memang mempunyai dosa yang tak dapat diampuni, apa yang akan ciang bunjin lakukan??"

"Tentang soal ini. " ketua Kay pang jadi ragu, "aku rasa

sauhiap tentu mempunyai alasan yang cukup kuat bukan??"

"Tentu saja? Meskipun mendiang guruku disebut orang sebagai Mo tiong ci mo iblis diantara iblis, namun selama hidup tak pernah membunuh orang tanpa alasan yang kuat, mengapa banyak orang yang beliau bunuh? Hal ini disebabkan karena terlalu banyak manusia yang patut dibunuh yang berkeliaran dalam dunia"

semua orang terperanjat mendengar ucapan itu, suasana hening tak seorang manusiapun buka suara.

Dengan hati sangsi ketua Kay pang melirik sekejap kearah Pengemis dari selatan sebab dalam tingkat kedudukan dipartai Kay pang pengemis selatan yang berkedudukan paling tinggi dan berpengalaman paling luas.

Apa lagi dikala Mo tiong ci mo masih berkeliaran dalam dunia persilatan, pengemis dari selatan juga sering berkelana, maka apabila ucapan Han Siong Kie tidak bohong, sedikit banyak diapun pernah mendengar akan kejadian tersebut. siapa tahu pengemis dari selatan sendiripun menunjukkan muka sangsi, kaget dan keheranan, maka dengan ragu2 ujarnya:

"Kalau menurut ucapan sauhiap. gurumu hanya dituduh secara se-mena2 oleh kawanan pendekar budiman??"

Ucapan itu sangat tajam dan mengandung sindiran. Han Siong Kie tertawa dingin

"Sukar untuk dibedakan mana baik mana buruk di antara sesama umat persilatan, karena banyak orang yang kelihatannya baik bersemangat jantan dan berjiwa ksatria tapi dalam kanyataan berjiwa kerdil, munafik dan suka melakukan perbuatan yang terkutuk. sebaliknya tak jarang orang yang kelihatan kejam, dianggap iblis, pembunuh besar dalam kenyataan seringkali melakukan kebajikan"

"Bolehkah kami menanyakan maksud sau hiap yang lebih mendalam mengenai persoalan ini?"

Hao siong Kie ternenung dan berpikir sebentar, akhirnya dia berkata:

"Empat puluh tahun berselang, diatas jalan raya menuju kota samsiang telah terjadi suatu peristiwa berdarah yang menggemparkan sungai telaga, apakah diantara kalian ada yang mengetahui peristiwa apakah itu?". .

Empat orang pengemis tua yang berdiri dibelakang ketua Kay pang saling berpandangan sekejap. kemudian mengangguk.

"Lanjutkan perkataanmu" ucap pengemis dari selatan Dengan wajah serius Han Siong Kie meneruskan kembali

kata2nya:

"Empat puluh tahun berselang, perusahaan ekspedisi yang paling besar dikota sam siang yakni Ceng bu piau kiok mendapat order untuk mengawal sejumlah barang yang sangat berharga menuju Thian lam, menurut apa yang kudengar selain intan permata serta mutu manikam yang mahal harganya, diantara partai barang berharga itu terdapat pula sebuah raja jinsom berumur sepuluh laksa tahun-..."

-ooodewiooo-