Tengkorak Maut Jilid 15

 
Jilid 15

MENDADAK... seorang kakek cebol berbadan gemuk munculkan diri dari barisan para jago, setibanya ditengah gelanggang ia merogoh kedalam sakunya dan ambil ke luar sebuah benda, setelah diletakkan diatas tanah sambil tertawa seram katanya:

Inilah sarung tangan Hud jiu Poo pit, aku Dewa berjalan dalam tanah tidak ingin mencicipi harta kekayaan ini, sekarang benda ini kuserahkan kembali kepada rekan2 persilatan semua.

Habis berkata ia enjotkan badandan buru-buru tinggalkan tempat celaka itu.

sarung tangan tembaga hitam memancarkan Cahaya yang menyilaukan mata, semua sorot mata para jago dengan pandangan serakah ditujukkan keatas benda tersebut.

Siapapun ingin mendapatkan benda mustika yang diidamkan oleh setiap orang itu, siapapun ingin memilikinya, tindakan dari Dewa berjalan dalam tanah benar2 berada diluar dugaan setiap jago yang hadir digelanggang.

Han Siong Kie malahan dibuat terperangah oleh sikap lawannya, ia tak mengira kalau Dewa berialan dalam tanah secara suka rela bersedia serahkan benda mustika itu kepadanya, mungkin juga manusia cebol itu sudah mengerti andaikata ia tidak serahkan benda itu maka sulitlah baginya untuk meloloskan diri dari sana, selain itu mungkin diapun sudah dibuat ngeri oleh pemilik benda itu..

Sementara masih berpikir, pemuda she Han itu siap maju kedepan untuk memungut sarung tangan Hud jiu Poo pit itu..

Segulung desiran angin yang sangat aneh menggulung lewat dan mendorong sarung tangan Hud jiu Poo pit segera menggelinding sejauh dua tombak dari tempat semula, di ikuti seorang kakek tua berjubah hitam dan bermuka merah bagaikan darah tampil ditengah gelanggang.

Han Siong Kie merasa amat terkesiap, dengan cepat ia berpaling kebelakang, ketika sepasang mata saling bertemu pemuda itu merasakan hatinya tercekat, dari pancaran mata kakek baju hitam itu ia dapat merasakan hawa sesat yang membikin hati orang jadi bergidik.

Suasana jadi gaduh dan rata2 para jago persilatan yang hadir disana sama2 menunjukkan paras muka ngeri bercampur takut.

"siapakah engkau? tegur Han Siong Kie dengan nada dingin.

Kakek tua berjubah hitam itu mengerutkan wajahnya, lalu dengan seram ia menjawab: "Aku adalah Dewa racun Yu Hoat"

Dewa racun Yu Hoat tersohor karena ilmu racunnya yang sangat lihay dan tiada tandingan dikolong langit. setiap orang persilatan yang mendengar namanya pasti akan berubah wajah dan ketakutan, tak nyana iblis tua tersebut telah munculkan diri di tempat itu. 

Han Siong Kie berpengalamau cetek dan tak kenal banyak jago persilatan, tentu saja ia tak tahu siapakah manusia yang menyebut diri sebagai Dawa racun Yu Hoat ini, ia segera mendengus dingin. "Apa maksudmu datang kemari ?" tegur Han Siong Kie.

Dewa racun Yu Hoat tertawa seram tiada hentinya.

"Heehhh..heehhh..heehhh . Malaikat penyakitan aku telah tertarik sekali dengan sarung tangan tembaga milikmu itu, aku harap engkau bersedia menghadiahkan kepadaku"

"Hmm engkau jangan mimpi disiang hari bolong" teriak Han Siong Kie dengan nada menghina

Pada waktu itu dua sosok bayangan manusia laksana kilat menerjang kedepan dan menyambar sarung tangan mustika Hud jiu Poo pit yang berada kurang lebih dua tombak jauhnya itu.

"Cari mampus" hardik Dewa racun Yu Hoat dengan geram, telapaknya langsung di ayun kedepan membabat tubuh kedua orang itu.

Ditengah jeritan ngeri yang menyayatkan hati dua sosok bayangan manusia itu mencelat kebelakang dan roboh terkapar diatas tanah, setelah berkelejit sebentar mereka tak berkutik lagi, darah hitam mengalir keluar dari ketujuh lubang inderanya.

Diam2 Han Siong Kie merasa bergidik juga menghadapi kelihayan musuhnya yang amat luar biasa itu, ia tak mengira kalau kekejian racun Dewa racun Yu Hoat sudah mencapai taraf yang tak terkirakan-

Dewa racun Yu Hoat sendiri sama sekali tidak memandang sekejappun kearah dua sosok mayat yang mati akibat keracunan itu, sekali lagi dengan nada menyeramkan ia berseru: "Malaikat penyakitan, apakah engkau bersedia hadiahkan benda itu kepadaku?"

Han Siong Kie mendengus dingin.

"Hmm kalau engkaupunya kepandaian, silahkan ambil sendiri dari atas tanah" Air muka Dewa racun Yu Hoat berubah sangat hebat, ia menggerakkan tubuhnya dan meluncur dua tombak kedepan, baru saja ia hendak ambil benda itu...

Mendadak tanpa angin tanpa puyuh sarung tangan mustika Hud jiu Poo-pit tersebut melayang sendiri ketengah udara.

Ia menjerit kaget dan segera mengikuti ke arah mana sarung tangan itu meluncur, ternyata Malaikat penyakitan dengan tenangnya sedang memegang sarung tangan mustika tadi.

Kiranya pada saat yang terakhir Han Siong Kie telah menggunakan unsur "mengisap" dari ilmu telapak Mo-mo ciang hoat untuk mengisap pusaka Hud jiu Poo pit itu sehingga melayang kearahnya.

Kepandaian mengisap benda yang didemonstrasikan sianak muda itu seketika mencengangkan hati para jago yang hadir dalam gelanggang.

Mungkin kejadian ini merupakan kejadian yang pertama bagi Dewa racun Yu Hoat dimana ia jatuh kecundang ditangan orang, paras muka yang semula sudah pucat karena gusar kini berubah jadi kehijau2an, sepasang matanya memancarkan dua gulung cahaya yang menggidikkan hati.

"Bocah keparat" geramnya dengan penuh kemarahan, " engkau sendiri yang sudah ogah hidup, jangan salahkan kalau aku bertindak keji kepadamu"

"ooh.. kalau memang lihay, silahkan mencoba sendiri untuk merampas benda tersebut dari tanganku"

Han Siong Kie masukkan sarung tangan mustika Hud jiu Poo pit itu kedalam sakunya kemudian himpun tenaga dan bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan yang tak diinginkan, perasaan hatinya kaku dan tawar sementara hati kecilnya kebat kebit, sebab ia tahu bahwa ilmu racun yang dimiliki pihak lawan amat dahsyat dan tak mungkin bisa dilawan dengan andalkan tenaga dalam belaka. Dalam pada itu Dewa racun Yu Hoat maju selangkah kedepan.

Suasana dalam gelanggang tercekam dalam ketegangan, setiap orang merasakan hatinya kebat kebit tak karuan-

Seorang makhluk racun tua yang sudah tersohor akan kelihayannya akan berhadapan dengan seorang ahli waris iblis sakti yang pernah menggetarkan kolong langit.

Berpuluh2 pasang mata tidak sakejappun beralih dari tengah gelanggang, mereka ingin tahu siapakah yang bakal menang diantara kedua orang itu.

Han Siong Kie putar otak tiada hentinya, ia menganggap siapa menyerang lebih dulu dialah yang menang posisi, mendadak serangan telapak ditangan dan serangan jari tangan kanan dilancarkan secara berbareng....

Ditengah gulungan angin pukulan yang maha dahsyat terselip desingan totokan jari yang tajam dan luar biasa.

Dewa racun Yu Hoat tertawa dingin, secepat kilat tubuhnya menyingkir lima depa kesamping, setelah menghindarkan diri dari gempuran yang maha dahsyat itu, disaat sang badan berkelebat lewat sepasang telapaknya diluncurkan kedepan secara berbareng, kecepatannya luar biasa sekali.

Baru saja Han Siong Kie merasakan serangan jari dan telapaknya mengena disasaran yang kosong, segumpal angin pukulan berbau amis telah meluncur tiba.

Ia tahu bahwa angin pukulan tersebut mengandung sari racun yang amat jahat, barang siapa terkena pasti akan mati, tapi untuk meloloskan diri dari ancaman tanpa tersentuh oleh pukulan itu bukanlah suatu pekerjaan yang mudah.

Dalam keadaan gelisah cepat2 jalan darahnya ditutup, sepasang telapakpun mendadak melepaskan pukulan. "Bluumm" dentuman keras bergelepar diudara, Dewa racun Yu Hoat tergetar mundur lima langkah kebelakang dengan sempoyongan-

Han Siong Kie sendiri merasakan kepalanya nanar dan agak berkurang, kulit badan diluar pakaiannya terasa panas bercampur gatal, ia tahu bahwa tubuhnya sudah terkena racun keji, dalam terkesiapnya hawa napsu membunuh menyelimuti wajahnya, sepasang telapak diayun berbareng dan sepuluh desiran angin pukulan segera meluncur kedepan.

Dewa racun Yu Hoat amat terperanjat setelah mengetahut angin pukulan beracun yang berhasil menyapu tubuh lawan, ternyata sama sekali tidak dirasakan oleh musuhnya, mungkinkah Mala ikat penyakitan telah berhasil melatih tubuhnya sehingga kebal terhadap serangan pukulan beracun-

.

Disaat pikiran tersebut masih berkelebat dalam benaknya, desiran angin totokan telah meluncur datang dengan hebatnya, jika terkena serangan tersebut niscaya tubuhnya akan berlubang dan mampus.

Dalam keadaan terkesiap bercampur gelisah, dewa racun itu tidak ambil perduli soal gengsi lagi, cepat2 ia jatuhkan diri ke atas tanah dan bergelinding sejauh delapan depa lebih dari tempat semula...

Jeritan ngeri kembali berkumandang tiada hentinya, delapan orang jago persilatan yang berdiri disekitar tempat kejadian tersambar oleh serangan tersebut dan segera roboh terkapar diatas tanah.

Dewa racun Yu Hoat sendiri saking terkejutnya keringat dingin sampai mengucur keluar tiada hentinya, ia tahu berdiam terus ditempat itu tak akan menguntungkan dirinya, dengan cepat ia enjotkan badan dan melarikan diri terbirit2.

Han Siong Kie sendiripun menyadari bahwa persoalan penting yang dibebankan di atas pundaknya masih banyak yang belum terselesaikan, ia tak ingin buang waktu lebih jauh, setelah menyapu sekejap kearah para jago yang hadir ditempat itu, dengan langkah lebar ia segera berlalu dari gelanggang tersebut.

semua jago lihay baik dari golongan hitam maupun dari golongan putih tak ada yang berani tampil kedepan untuk menghadang jalan perginya, mereka semua membungkam dalam seribu bahasa.

Desiran angin menembusi angkasa bergema dari kejauhan, beberapa sosok bayangan manusia tiba2 dengan kecepatan bagaikan kilat meluncur masuk kedalam gelanggang.

Dengan cepat Han Siong Kie menghentikan langkah kakinya, begitu tahu siapa yang datang ia merasa amat girang dan hampir saja menyapa, tapi dengan cepat ia teringat kembali dengan penyaruannya pada waktu itu, ucapan yarg hampar meluncur keluar segera tertelan kembali kedalam perut.

Orang yang barusan datang bukan lain adalah saudara angkatnya yakni Lam kay pengemis dari selatan, dibelakangnya mengikuti pula empat orang pengemis berusia lima puluh tahunan yang semuanya membawa sebuah toya penggebuk anjing.

Pengemis dari selatan dan Padri dari utara, adalah jago2 lihay yang amat tersohor namanya dikolong langit pada waktu itu, kecuali beberapa orang gembong iblis jarang sekali ada orang yang mampu menandingi dirinya, kemunculan jago tua ini segera merubah suasana dalam gelanggang itu.

Berada dibadapan orang banyak. tentu saja Han Siong Kie tak dapat membongkar rahasia sendiri, ia segera maju selangkah kedepan dan memberi hormat. "Locianpwee, tolong tanya ada urusan apa engkau datang mencari aku?" tanyanya.

sikap yang sopan dari Han Siong Kie seketika membnat para jago terperangah dibuatnya, mungkinkah nama besar pengemis selatan telah menggetarkan hati Malaikat penyakitan sehingga ia bersikap begitu menghormat.

Tentu saja termasuk pengemis dari selatan sendiripun tak tahu apa sebabnya musuh mereka bersikap hormat.

Dengan sorot mata yang sangat tajam pengemis dari selatan mengawasi wajah Han Siong Kie beberapa saat lamanya, kemudian ia menegur:

"Engkau yang bernama Malaikat penyakitan??" "Betul, itulah aku"

"Dan engkau adalah ahli waris dari Mo tiong-ci mo iblis diantara iblis??"

"Dugaanmu tak keliru"

"Engkau baru saja keluar dari dalam benteng maut??" "Benar"

"Benarkah tengkorak maut bukan lain adalah iblis diantara iblis?"

"Keliru besar pendapatmu itu" "Keliru besar?"

"Benar, keliru besar sekali"

"Baik" kata Pengemis dari selatan kemudian setelah termenung sebentar, "aku tak mau ambil perduli apakah berita itu benar atau tidak- aku pengemis tua hanya ingin mengajukan satu pertanyaan kepadamu.."

"Katakanlah, apa yang ingin kau tanyakan?" "Sekarang gurumu ada dimana?"

Diam2 Han Siong Kie terkejut, tentu saja tak dapat menerangkan dimanakah gurunya berada, setelah berpikir sebentar ia balik bertanya . . "Ada urusan apa locianpwee mencari guruku?" "Empat puluh tahun berselang guru iblismu itu telah membantai seorang ketua cabang, tiga orang hiangcu, dua belas orang kepala regu dan lima puluh orang murid perkumpulan kay-pang kami dari kantor cabang sam siang, ini hari kami datang kemari untuk menagih hutang berdarah itu?"

Han Siong Kie jadi kelabakan dibuatnya, untuk beberapa saat lamanya ia tak tahu bagaimana musti menjawab.

Empat orang pengemis tua dibelakang pengemis dari selatan dengan nyata menunjukkan perasaan sedih bercampur gusar.

Pelbagai ingatan berkelebat dalam benak Han Siong Kie, ia berusaha mencari akal untuk mengatasi masalah pelik yang memusingkan kepalanya ini.

-oood0wooo-

BAB 31

SETELAH termenung beberapa saat lamanya, pemuda itu berpikir dalam hatinya, menurut perkataan gurunya orang2 yang dibunuh adalah mereka2 yang pantas dibinasakan, sedang menurut keterangan yang pernah diberikan put lo sianseng, seorang jago kawakan dari persilatan, gurunya tak pernah membunuh orang tanpa sebab.

Bagi dia sendiri, boleh dibilang tak sepotong keteranganpun yang diketahui olehnya mengenai dendam permusuhan yang terikat selama puluhan tahun belakangan ini, tapi sebagai ahli waris dari gurunya sudah menjadi kewajiban babinya untuk memikul tanggung jawab itu.

Apa yang harus ia terangkan kepada engkoh tuanya ini ?

Dalam pada itu pengemis dari selatan dengan muka memancarkan kegusaran telah menegur kembali dengan suara berat: "Bocah keparat, sudah kau pertimbangkan masak2 persoalan ini??"

"sepuluh hari kemudian, bagaimana kalau aku berkunjung sendiri kemarkas besar locianpwee untuk memberikan keterangan?"

"Itu sih tak perlu, aku hanya ingin tahu jejak dari gurumu" "Tapi aku tak mungkin bisa menerangkan soal ini kepada

locianpwee"

"Bocah keparat, janganlah banyak main akal muslihat di hadapanku, bicaralah terus terang kemudian masing2 menempuh jalannya sendiri"

"Andaikata aku tidak bersedia untuk menjawab, apa yang hendak locianpwee lakukan?"

Empat orang pengemis tua dibelakang pengemis dari selatan segera mendengus dingin, dari sikap mereka jelas menunjukkan bahwa beberapa orang jago itu siap untuk melancarkan serangan-

Pengemis dari selatan sebera menengadah dan tertawa ter- bahak2.

"Haaah haaahh haaahhh bocah muda, engkau tak dapat ambil keputusan dengan seenaknya sendiri"

"Jadi locianpwee ada maksud untuk turun tangan??" "Andaikata engkau tidak bersedia untuk bicara terus

terang, apakah aku pengemis tua harus pulang dengan tangan

hampa?"

Diam2 Han Siong Kie mengerutkan dahinya setelah mendengar perkataan itu, dalam kenyataan ia sungkan untuk turun tangan dan bertarung melawan kakak angkatnya sendiri, lagipula bertempur dengan kekerasan belum tentu dapat menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi. Untuk meloloskan diri tentu saja sangat mudah sekali baginya, perbuatan itu dapat dilakukan ibarat membalik telapak sendiri, sebab termasuk pengemis dari selatan sendiri, seorang manusiapun yang dapat mengejar jalan perginya.

"Hmm, tentu saja tak sudi pergi dengan cara begitu, sebab demi nama besarnya dan nama besar gurunya ia tak boleh berbuat begitu, kalau mau pergi maka dia harus pergi secara gagah dan terang2an-"

Rupanya empat orang pengemis tua dibelakang pengemis dari selatan sudah tak sabar menahan diri lagi, mereka silangkan tongkat penggebuk anjingnya didepan dada, kemudian salah satu diantaranya berseru:

"Tiangloo, buat apa engkau banyak bicara dan bersilat lidah terus dengan bangsat itu?"

Dengan pandangan yang dingin dan menyeramkan, Han Siong Kie menyapu sekejap empat orang pengemis tua itu, mulutnya tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Menyaksikan tingkah laku anak buahnya, buru2 pengemis dari selatan goyangkan tangannya mencegah mereka turun tangan, serunya:

"Jangan bertindak gegabah kalian masih bukan tandingannya..." kemudian sambil berpaling kearaa Han Siong Kie sambungnya lebih lanjut:

"Bocah muda, aku pengemis tua paling segan untuk mengulur waktu lebih baik bertindaklah lebih terus terang dan terbuka "

Baru saja Han Siong Kie hendak menjawab. tiba2...

Pada saat itulah dari tempat kejauhan berkumandang datang suara pekikan setan yang amat membetot hati, suara itu begitu nyaring dan melengking diangkasa membuat semua jago persilatan yang hadir dalam kalangan sama2 merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri Bersamaan dengan makin mendekatnya pekikan setan yang tajam dan memekikkan telinga itu, sesosok bayangan merah meluncur dari tengah udara dan jatuh ketengah gelanggang.

Benda itu bukan lain adalah sebuah tengkorak kepala yang penuh berlepotan darah, dengan angker dan seramnya benda tersebut bercokol digelanggang.

"Tengkorak maut" tak kuasa lagi Han Siong Kie menjerit lengking dengan nada terperanjat.

Pemilik benteng maut bisa muncul secara tiba2 ditempat tersebut, peristiwa ini benar2 berada di luar dugaan setiap orang.

Pengemis dari selatan dan keempat orang pengemis tua itu dengan hati terkesiap dan badan merinding, ber sama2 mundur satu tombak lebih kebelakang.

suasana dalam gelanggang seketika berubah jadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, begitu sunyinya hingga jarum yang jatuh ketanahpun dapat kedengaran-

Maut..kematian serta hawa seram yang menggidikkan mencekam seluruh angkasa, menekan perasaan setiap jago yang hadir di situ.

Paras muka semua jago persilatan yang hadir disana sama2 berubah jadi pucat keabu2an, badan serta tulang mereka terasa kaku dan tak bertenaga, tak seorangpun berani bergeser barang setengah langkahpun dari tempat semula, jangan dikata melarikan diri, untuk bergerak majupun tak berani, se-akan2 mereka beranggapan bahwa elmaut akan menjemput nyawa mereka jika mereka berani maju.

Dalam pada itu Nenek bertoya emas yang sedang bersemedi telah menyelesaikan latihannya, luka yang diderita sudah separuh bagian sembuh, sambil bangkit berdiri ia pungut senjata toyanya yang tergeletak diatas tanah. Tapi tiba2 sorot matanya bertemu dengan tengkorak darah yang menggeletak ditengah gelanggang, nampaknya nenek itu merasa amat terperanjat, dengan sempoyongan tubuhnya roboh kembali keatas tanah dan sedikitpun tak berkutik.

Han Siong Kie sendiri dengan pandangan yang tajam dan sama sekali tak berkedip menatap tengkorak berwarna merah itu, pelbagai ingatan dan perasaam berkecamuk dalam benaknya...

Kenapa Pemilik benteng maut munculkan diri secara tiba2? apakah ia sudah tahu kalau jalan darahnya yang tertotok telah dibebaskan orang?

orang yang kehilangan sukma minta kepadanya untuk berkunjung kembali kebenteng maut dan menceritakan asal usulnya, rahasia apakah yang terkandung dibalik peristiwa itu?

Kalau Pemilik benteng maut menanyakan urusan tentang dibebaskannya jalan darah yang tertotok, apakah dia harus mengeluarkan kutungan telapak tangan dari 0rang yang kehilangan sukma?

Kenapa orang yang kehilangan sukma mengutungi telapak tangan sendiri?

Ingatan tersebut berkecamuk tiada hentinya dalam benak sianak muda itu, Kian lama darah panas dalam dadanya kian mendidih, dendam berdarah ditambah rasa dendam karena orang yang kehilangan sukma harus mengutungi telapak tangan sendiri, membuat pemuda itu ingin melampiaskan semua perasaannya ke atas tubuh Pemilik benteng maut.

Dalam waktu singkat, suasana disekitar gelanggang jadi beku dan membeku.

Suasana sepi, hening dan tak terdengar sedikit sUarapUn, begitu sunyinya se-akan2 berada disuatu tanah pekuburan yang luas. Jago persilatan yang berkumpul di empat penjuru tak ada yang berkutik ataupun menunjukkan sesuatu reaksi apapun, mereka punya perasaan seakan2 sedang menunggu keputusan hukuman.

Tulang tengkorak yang penuh berlepotan darah ditambah mayat2 yang sejak semula telah bergelimpangan diatas tanah, menambah seramnya suasana disekeliling tempat itu.

Lama kelamaan.. akhirnya Han Siong Kie tak kuasa menahan diri, ia berteriak dengan geram:

"Tengkorak maut, kenapa belum juga munculkan diri?"

Teriakan tersebut kembali menggetarkan hati setiap jago persilatan yang hadir disekeliling gelanggang, mungkinkah Tengkorak maut betul2 bukan hasil penyaruan dari iblis diantara iblis? sebab kalau tidak ahli waris dari iblis diantara iblis yakni Malaikat penyakitan tak mungkin akan menantang gembong iblis itu untuk beradu kepandaian. Kenapa Malaikat penyakitan berani menantang Tengkorak maut untuk adu kepandaian?

Tentu saja kecuali Han Siong Kie pribadi, tak seorangpun yang mengetahui alasannya.

Dalam pandangan sebagian besar orang persilatan, Tengkorak maut bukan saja mendatangkan rasa seram dan ngeri, diapun membawa kemisteriusan yang membingungkan hati, selama puluhan tahun belakangan ini belum pernah ada orang yang menyaksikan paras muka aslinya.

sekarang, kecuali rasa kaget dan terkesiap mencekam perasaan hati setiap jago yang hadir disitu, merekapun merasa keheranan dan ingin tahu duduk perkara sebenarnya.

Begitu suara bentakan diri Han Siong Kie berkumandang diudara, pekikan setan itu segera berhenti berggema, semua orang merasakan pandangan matanya jadi kabur dantahu2 ditengah gelangang telah bertambah dengan sesosok bayangan manusia berjubah hijau, bertopi hijau dan berpakaian cadar warna hijau pula. "Aaah.. Pemilik benteng maut" para jago sama2 berbisik dalam hatinya.

Han Siong Kie sendiri dengan mata melotot besar bagaikan gundu menatap gembong iblis tersebut tanpa berkedip.

Suasana ditengah gelangggang makin sunyi dan tebang, apalagi setelah Tengkorak maut munculkan diri.

Sementara itu Tengkorak maut sendiri dengan seram dan angkernya berdiri dihadapan Han Siong Kie, ia membungkam dalam seribu bahasa.

Pengamis dari selatan beserta kempat orang pengemis tua disisinya tanpa disadari telah mundur kebelakang dan mendekatt tepi kalangan dimana para jago berkumpul.

Dengan begitu ditengah gelanggang pada saat ini tinggalkan Han Siong Kie dan Tengkorak maut itu saja yang berdiri saling berhadap2an.

Han Siong Kie menggertak gigi menahan rasa benci dalam hatinya, dengan suara lantang ia menegur:

"Poocu, engkau ada urusan apa datang kemari?"

Tengkorak maut sama sekali tidak menjawab pertanyaan sianak muda itu, dengan suara dalam ia berseru lantang:

"Hari ini sengaja aku berbuat murah hati, semua orang yang hadir disekitar gelanggang segera enyah dari sini"

Suara itu tidak begitu keras, tapi semuajugo persilatan yang hadir disekitar gelanggang, baik dekat maupun jauh sama2 merasakan telinganya jadi amat sakit.

se akan2 mendapat pengampunan, tanpa membuang waktu barang sedikitpun juga, para jago sama2 putar badan dan kabur dari tempat celaka itu dalam sekejap mata, semua orang sudah berlalu tak berbekas. Hanya seorang jago yang tidak berlalu dari situ, orang itu bukan adalah ketua para tiang loo dari perkumpulan Kay pang, pengemis dari selatan adanya.

Tindakan dari pengemis tua ini sama sekali diluar dugaan Han Siong Kie, membuat sianak muda itu tercengang, bukankah kakak angkatnya dengan jelas mengetahui kalau kepandaian silat bukan tandingan Tengkorak maut ? bahkan belum lama berselang hampir saja jiwanya melayang ditangan gembong iblis itu, sekarang kenapa ia tidak pergi? maksud tujuan apa yang terkandung dalam hatinya? Tanpa berpaling kembali Tengkorak maut berseru:

"Hey pengemis tua yang tak tahu diri, rupanya engkau sudah bosan hidup dikolong langit?"

Pengemis dari selatan tertawa dingin tiada hentinya. "Heeeeh heeeehh heeeehhh poocu, apakah engkau hendak

turun tangan terhadapapku pengemis tua?"

"Tentu saja, seandainya engkau masih juga tak tahu diri " "Bagaimana sih baru bisa dikatakan tahu diri?"

"Sekarang sudah tak sempat lagi, engkau telah ditakdirkan untuk mampus ditanganku"

"Poocu apakah engkau sudah lupa dengan janjimu terhadap sutay cou perkumpulan kami Song Tiat koay?"

"Heeeehh heehhh heeehhh pengemis busuk, lebih baik jangan bermain setan dihadapanku "

Mendengar jawaban tersebut, tiba2 Pengemis dari selatan membentak keras:

"Bangsat kurang ajar, berani benar engkau menyaru sebagai tengkorak maut untuk meracuni dunia persilatan-"

Han Siong Kie sangat terperanjat mendengar seruan itu. "Tengkorak maut ini adalah tengkeorak maut gadungan?" pikirnya dihati,

“berdasarkan alasan apa engkoh tua mengatakan Tengkorak maut ini adalah tengkorak maut gadungan?" setelah termenung sebentar, sianak muda itu berpikir lebih jauh:

"Aaah benar, persoalannya pasti terletak pada kata2 yang tercantum dalam janji antara sutay cou perkumpulannya Song Tiat koay dengan pemilik benteng maut dan Tengkorak maut yang hadir didepan mata pada saat ini sama sekali tak tahu akan persoalan itu"

Sementara ia masih termenung, bayangan hijau berkelebat lewat didepan matanya, dengan suatu jangkauan buas tahu2 Tengkorak maut itu sudah berdiri kurang lebih beberapa tombak dihadapan Pengemis dari selatan.

Menyaksikan datangnya terjangan tersebut, tanpa sadar pengemis dari selatan merasakan badannya merinding dan bulu kuduknya pada bangun berdiri, dengan cepat ia mundur beberapa langkah kebelakang.

Han Siong Kie tak ingin menyaksikan engkoh tuanya terancam bahaya, buru2 ia enjotkan badan dan ikut meluncur kedepan, dengan suatu gerakan yang manis ia rebut posisi disamping Tengkorak maut tersebut.

Dengan suara yang dingin menyeramkan Tengkorak maut mendengus dingin, serunya:

"Hei pengemis tua, engkau hendak selesaikan dirimu sendiri ataukah aku yang harus turun tangan untukmu?"

Pengemis dari selatan kembali mundur selangkah kebelakang, hardiknya lantang:

"Tengkorak maut engkau telah membunuh anak murid perkumpulan kami dalam kuil Bu hoo ditepi pantai pek swi tan, kemudian membinasakan pula pangcu kami yang baru dikuil sian kong bio."

"Tutup mulut, aku mau tanya kepadamu, engkau hendak turun tangan sendiri ataukah aku yang harus turun tangan bagimu??"

Pengemis dari selatan tertawa seram tiada hentinya. "Heeehhh heeeehh hheeehh Tengkorak maut, hari kiamatmu telah tiba"

Tengkorak maut mendengus penuh kegusaran, sepasang telapaknya diayun keatas dan telapaknya segera didorong ke arah luar.

Han Siong Kie merasakan hatinya tercekat, ia dapat membuktikan sekarang kalau Tengkorak maut yang hadir dihadapannya saat ini adalah Tengkorak maut gadungan, tapi berdasarkan apakah engkoh tuanya menuduh kalau tengkorak maut yang sedang dihadapinya saat ini adalah Tengkorak maut gadungan?

"Aah benar" pikir pemuda itu kemudian "pastilah bangsat tua ini tidak dapat menjawab pertanyaan yang dia ajukan tadi"

Rupanya semaktu Tengkorak maut memutar telapak tangannnya kearah depan itulah Han Siong Kie dapat melihat bahwa sepasang telapak musuhnya ini walaupun satu hitam yang lain putih namun sedikitpun tidak bercahaya, sebaliknya dia masih ingat pemilik benteng maut yang asli mempunyai telapak kiri yang hitam pekat dan bercahaya tajam, sedangkan telapak kanan berwarna putih bagaikan pualam.

Pengemis dari selatan mengalihkan sorot matanya kearah luar dan menyapu kesana kemari dengan hati gelisah, rupanya ia sedang menunggu datangnya bala bantuan-

Tiba2 Han Siong Kie membentak keras: "..Hey harap. tunggu sebentar" "Bocah keparat, engkau tak usah gelisah lebih dahulu" seru Tengkorak maut tanpa berpaling barang sedikitpun jua, "aku akan mengantar keberangkatan pengemis tua ini lebilh dahulu.. "

Sambil berkata sepasang telapaknya digetarkan keras2.

Pengemis dari selatan ayunkan telapaknya, tiba2 ia temukan kalau tenaga dalam yang dimilikinya tak dapat dihimpun kembali, kejadian ini amat mengejutkan hatinya membuat pengemis itu merasakan sukmanya serasa melayang tinggalkan raganya, dengan muka berubah jadi hijau membesi ia mundur tiga langkah kebelakang.

Tengkorak maut berpekik nyaring, sepasang telapak ditarik dan didorong kearah depan, dua gulung angin pukulan yang amat panas dengan cepat menggulung kearah depan...

Paras muka Pengemis dari selatan berubah pucat pias, ia tak bisa bergerak kecuali menunggu saat kematian bagi diri sendiri

Disaat yang amat kritis dan amat berbahaya itulah mendadak dari arah samping menggulung lewat segulung angin pukulan yang maha dahsyat, begitu kerasnya pukulan itu membuat badan pengemis dari selatan terpental sejauh satu tombak lebih dari tempat semula dengan nyaris ia berhasil lolos dari gempuran Tengkorak maut yang maha dahsyat dan mengerikan itu.

Orang yang barusan melancarkan serangan bukan lain adalah Malaikat penyakitan ahli waris dari iblis diantara iblis.

Perbuatan malaikat penyakitan melancarkan serangan untuk menyelamatkan jiwanya ini, dengan cepat membuat pengemis dari selatan jadi tertegun dan tidak habis mengerti.

Dipihak lain dengan penuh kegusaran Tengkorak maut berpaling kearah Han Siong Kie lalun bentaknya: "Malaikat penyakitan, kalau engkau pingin mampus janganlah bertindak terlalu terburu nafsu"

Dari ucapan ini Han Siong Kie semakin dapat tarik kesimpulan kalau tengkorak maut yang sedang dihadapinya saat ini bukanlah Tengkorak maut yang asli, tapi pemuda itu belum merasa yakin seratus prosen, ia ada maksud untuk mencoba sekali lagi sebelum ambil keputusan.

Sambil tertawa dingin segera serunya kembali:

"Tengkorak maut kemarin malam pukulanmu telah kutukar dengan sebuah totokan jari, secara beruntung kita bisa bertarung dalam keaadaan seimbang, beranikah engkau sambut tiga buah totokan jariku lagi??"

Mendengar seruan tersebut, Tengkorak maut tergetar mundur tiga langkah lebar kebelakang, mukanya tertegun dan tak tahu apa yang musti dijawabi

Apa yang diucapkan Han Siong Kie barusan tidak lebih hanya pembicaraan kosong belaka, tujuannya adalah untuk menyelidiki apakah pihak lawan benar-benar Tengkorak maut yang asli atau bukan, dari sikap yang diperlihatkan pihak lawan, Han Siong Kie pun dapat memastikan kalau pihak lawan adalah Tengkorak Maut gadungan-Tak kuasa lagi ia tertawa ter-bahak2, serunya:

"Haah..haahh..haahh.. saudara, kepandaianmu untuk menyaru sebagai Pemilik benteng maut masih selisih jauh sekali"

Napsu membunuh yang tebal seketika memencarkan keluar dari balik lubang mata di atas kain cadar Tengkorak maut, sambil menyeringai seram ia berseru: "Bocah keparat, ini hari saat kematianmu sudah tiba"

Sepasang telapak direntangkan kesamping dan pukulan dahsyatpun segera siap dilepaskan-.. Han Siong Kie tak berani memandang rendah pihak lawannya, dengan cepat ia himpun segenap kekuatan yang dimilikinya untuk bersiap sedia menghadapi gempuran lawan.

Pada saat telapak tangannya sedang diangkat ketengah udara itulah, mendadak Tengkorak maut berkelebat kearah depan, sepasang telapaknya bukan menyerang kearah si anak muda itu sebaliknya malah menyerang Pengemis dari selatan yang berada disamping.

Tindakan ini sama sekali berada diluar dugaan Han Siong Kie, untuk menolong sudah tak sempat lagi, ia hanya bisa berdiri menjublak sambil memandang dengan mulut melongo.

Pengemis dari selatan sendiripun tak pernah menduga kalau pihak lawan bakal menggunakan akal selicik itu, sementara ia masih terperangah, angin pukulan telah menerjang tiba dengan hebatnya.

Ditengah dengusan ngeri karena kesakitan, tubuhnya terpental sejauh satu tombak lebih dari tempat semula, untung tenaga dalam yang dimilikinya cukup sempurna sehingga pukulan tersebut tidak sampai merenggut jiwanya.

Setelah roboh terkapar diatis tanah, dengan cepat ia loncat bangun, titik darah kental mengalir keluar dengan derasnya dari ujung bibir menodai jenggotnya yang berwarna putih.

Han Siong Kie benar2 dibuat sangat gusar sekali, tangan kanannya diayun kedepan melepaskan sebuah totokan jari dengan ilmu Tong kim ci yang dilatih dan diselidiki selama hampir empat puluh tahun lamanya oleh iblis diantara iblis itu.

Lima gulung desiran angin tajam disertai desingan yang amat memekikan telinga, secepat sambaran kilat menerjang kedepan-

Begitu merasakan keanehan dibalik desiran angin tajam itu, buru2 tengkorak maut menghindar kesamting namun gerakan itu agak terlambat satu tindak. Segulung desiran angin tajam langsung menghajar lengannya sehingga berlobang, dengan sempoyongan tubuhnya tergetar mundur tiga langkah kebelakang. jubahnya basah oleh darah segar.

Dengan cepat gembong iblis itu menutup jalan darahnya dan menghentikan aliran darah, sambil tertawa seram serunya:

"Bocah keparat, engkau jangan terkebur lebih dahulu, lihatlah aku akan cabut jiwa anjingmu"

Sembari berkata sepasang telapaknya disentak keluar melepaskan pukulan2 gencar.

sewaktu masih berada dalam benteng mautt tempo hari, dalam gerakan serangan semacam inilah Han Siong Kie kehilangan tenaganya, sekarang setelah menyaksikan pihak lawan menggunakan pula kepandaian seperti itu ia jadi amat terperanjat.

Hawa murninya dengan cepat dikerahkan menembusi seluruh bagian badan namun ia merasa jalan darahnya seakan akan tersumbat oleh sesuatu benda hingga tenaga dalamnya sama sekali tak dapat dikerahkan lagi.

Rasa terperanjat yang dialaminya kali ini benar-benar luar biasa sekali dan sukar dilukiskan dengan kata-kata, ia tak mengira kalau kepandaian silat yang dimiliki Tengkorak maut gadungan telah mencapai tingkat yang begitu tinggi, bahkan aliran kepandaian Tengkorak maut yang asli ...

Dalam cemas bercampur mendongkol, sekali lagi ia himpun segenap kekuatan yang di milikinya, kali ini ia berhasil menembusi jalan darahnya yang tersumbat dan hawa murni pun segera menghimpun jadi satu.

"Syukur aku dapat menghimpun kembali tenagaku" pikirnya didalam hati, " rupanya tenaga dalam yang dimiliki Tengkorak maut gadungan masih selisih jauh sekali kalau dibandingkan dengan kepandaian dari Tengkorak maut yang asli.."

Han Siong Kie mengenakan topeng kulit manusia diatas wajahnya, hal ini membuat paras mukanya tetap kaku dan sama sekali tidak mengalami perubahan, begitu Tengkorak maut gadunganpun tak dapat menyelidiki perubahan sikapnya sehabis mengeluarkan kepandaian aneh itu..

Untuk beberapa saat lamammya ia jadi terperangah, gembong iblis itu tak dapat menebak apakah kepandaiannya telah mendatangkan hasil atau tidak..

Dikala ia masih terperangah itulah Han Siong Kie berhasil menghimpun kembali seluruh kekuatan tubuhnya, bila ia lancarkan serangan kilat dalam keadaan begini, niscaya sianak muda itu bakal mati atau paling sedikit terluka parah.

setelah tertegun beberapa saat lamanya, Tengkorak maut menggetarkan sepasang telapaknya kearah depan. dua gulung angin pukulan berhawa panas dan hawa dingin dengan dahsyatnya meluncur kedepan.

Han Siong Kie segera silangkan telapaknya dan menyambut datangnya ancaman tersebut dengan keras lawan keras...

"Blaamm" ditengah benturan yang amat dahsyat, kedua belah pihak sama2 terdorong mundur sejauh satu langkah lebar kearah belakang.

Tengkorak maut menb entak keras, ia menerjang maju kedepan, secara beruntun iblis itu melancarkan delapan jurus serangan dahsyat yang semuanya menggunakan jurus2 yang aneh dan tenaga pukulan yang mengerikan hati..

Dibawah desakan dan serangan gencar pihak musuh, Han Siong Kie ketitir hebat sehingga harus mundur delapan langkah dari tempat semula.

Begitu delapan jurus serangan itu sudah berlalu, Han Siong Kie tak mau berdiam diri belaka, ia segera mengembangkun jurus2 serangan dari ilmu telapak Mo mo cianghoat untuk melancarkan serangan balasan- suatu pertarungan yang amat seru dan ramai pun segera berlangsung dengan hebatnya.

Dalam sekejap mata suara bentakan keras berkumandang memecahkan kesunyian, deruan angin pukulan menggulung diempat penjuru membuat pasir dan debu beterbangan diangkasa..

Seperminum teh kemudian, Han Siong Kie mulai terdesak dibawah angin, ia ketitir hebat.

Meskipun ia telah mengembangkan permainan ilmu jari Tong kim ci yang diyakininya, tapi pihak lawanpun telah mengadakan persiapan babkan kepandaian silat yang dipergunakan kian lama kian bertambah hebat hingga memaksa sianak muda itu sama sekali tak dapat berkutik.

Dua puluh jurus kembali sudah lewat, keringat dingin mulai mengucur keluar membasahi seluruh tubuh Han Siong Kie, ia mulai terjerumus dalam posisi yang sangat berbahaya.

Pengemis dari selatan yang berada disisi kalangan meskipun pernah menerima budi pertolongan dari Han Siong Kie, namun dalam keadaan begini ia sama sekali tak bertenaga untuk memberi pertolongan, pengemis tua itu hanya dapat mengikuti jalannya pertempuran dengan hati amat gelisah.

Kini, Han Siong Kie sudah didesak hingga terpaksa harus mengubah taktik penyerangannya jadi posisi bertahan, kemudian ia sudah kerahkan segenap kesaktian jurus Mo-mo ciang hoat dalam bagian bertahan, namun ia masih tetap gagal untuk menutup rapat seluruh pertahanan tubuhnya secara sempurna.

Pemuda itu dapat menyadari bahwa tenaga dalam yang dimiliki Tengkorak maut ternyata jauh lebih tinggi satu kali lipat jika dibandingkan dengan Malaikat berhawa dingin Mo siu Ing. Ditengah suatu bentakan keras, tiba2 terdengar seseorang mendengus berat.

Han Siong Kie kena dihajar dadanya secara telak hingga tubuhnya mundur delapan depa kebelakang, hampir saja ia muntahkan darah segar.

Tengkorak maut bersuit nyaring, sekali lagi tubuhnya menerjang maju kedepan, segulung angin pukulan yang maha dahsyat ibarat tindihan sebuah bukit Tay-san langsung menggulung kearah tubuhnya dengan amat hebat dan dahsyat.

Han Siong Kie menggigit bibir kencang2, dia himpun segenap kekuataa yang dimilikinya untuk menangkis datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras.

Benturan dahsyat yang amat memekikan telinga bergelegar ditengah udara, Han Siong Kie sambil memuntahkan darah segar segera roboh tarkapar keatas tanah.

Tengkorak maut tertawa seram, dengan suatu sambaran kilat yang amat dahsyat ia cengkeram kearah pinggang Han Siong Kie, rupanya tujuan dari penyerangan itu bukan lain adalah untuk merebut kitab pusaka Hud jiu Poo pit itu.

Mendadak serentetan bentakan nyaring berkumandang

datang dari kejauhan-"Tengkorak maut engkau berani melukai orang?"

Segulung desiran angin tajam yang amat aneh tahu2 meluncur kedepan dan menyapu kesekeliling gelanggang.

Han Siong Kie seketika itu juga merasakan pinggangnya jadi kencang dan kitab pusaka Hud jiu Poo pit itupun sudah berpindah tangan dari sakunya kedalam genggaman Tengkorak maut.

Pada saat yang bersamaan pula Tengkorak maut meluncur kebelakang dan mundur sejauh beberapa tombak dari tempat semula. Gulungan angin aneh itu tidak berhenti sampai disitu saja, tubuh Han Siong Kie kena digulung sejauh satu tombak lebih dari tempat semula, tak tahan sianak muda itu kembali muntahkan darah segar dari ujung bibirnya.

Dalampada itu ditengah gelanggang telah bertambah dengan seorang dara muda yang berwajah sangat cantik.

Terdengar pengemis dari selatan dengan napas ter-engah2 berseru nyaring:

"Nona, kedatanganmu terlambat satu tindak, dimanakah kakekmu? kenapa tidak kelihatan?"

Dengan perasaan minta maaf gadis cantik itu melirik sekejap kearah pengemis dari selatan, kemudian jawabnya:

"Karena ada urusan yang sangat penting, kakekku tak dapat datang sendiri kemari, karena itu beliau memerintahkan siau titli untuk mewakili dirinya datang kesini"

Bicara sampai disitu, gadis cantik itu kembali putar telapaknya satu lingkaran dengan gerakan yang sangat aneh, segulung angin berpusing yang sangat aneh segera menerjang kearah Tengkorak maut.

Menyaksikan datangnya ancaman itu, gembong iblis tersebut dengan cepat menyingkir kesamping, setelah melotot sekejap kearah gadis cantik itu dengan pandangan penuh kebencian, ia mendengarkan suara pekikan panjang yang menyeramkan, sekali enjot badan sambil menyambar kepala tengkorak berwarna merah derah itu secepat kilat ia kabur dari tempat itu.

Gerakan tubuhnya benar2 cepat sekali sehingga sukar dilukiskan dengan kata2.

Sambil menggigit bibir Han Siong Kie bangkit berdiri dari atas tanah, tetapi setelah menyaksikan keadaan disekitarnya ia nampak terperangah dan sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun. Ternyata gadis muda yang baru saja menyelamatkan jiwanya bukan lain adalah Go Siau Bi yang pernah ditolong olehnya dan hampir saja menikah dengan dirinya atas praksasa dari orang yang kehilangan sukma.

Ia tahu sampai dimanakah taraf kepandaian silat yang dimiliki Go siau Bi, sungguh tak disangka olehnya hanya terpisah selama beberapa hari saja ternyata ia telah berubah jadi seorang yang lain . Lalu siapakah kakeknya?

Kenapa Tengkorak maut melarikan diri setelah bertemu dengan gadis cantik ini?

Pemuda itu sadar, andai kata GO Siau Bi tidak datang tepat pada saatnya, Tengkorak maut gadungan tak nanti akan melepaskan dirinya dengan begitu saja, bahkan Pengemis dari selatanpun akan mengalami nasib yang sama pula.

Karena itu dari temgat kejauhan ia segera menjura kearah Go siau Bi sambil berseru: "Nona, kuucapkan banyak terima kasih atas bantuan yang kau berikan kepadaku."

Go siau Bi tertawa tawa.

"Siauhiap tak usah berterima kasih kepadaku, sebab akupun pernah menerima budi kebaikan darimu"

Tentu saja gadis cantik ini mimpipun tidak menyangka kalau pemuda berwajah penyakitan yang berada dihadapannya sekarang, bukan lain adalah pujaan hatinya "Manusia berwajah dingin Han Siong Kie" adanya, tapi sianak muda itu mengetahui dengan cepat bahwa ia telah berhutang budi kepada dara tersebut. sekali lagi Go siau Bi berkata dengan lembut:

"Luka yang sauhiap derita cukup parah, terimalah obat penyembuh dari kakek yang amat mujarab ini agar engkau cepat sehat kembali "

Han Siong Kie tertawa angkuh, dengan nada amat dingin ia menukas perkataan lawannya: "Maksud baik nona biarlah kuterima di dalam hati saja, luka sekecil ini masih bukan suatu persoalan bagiku"

Go Siau Bi tidak banyak bicara lagi, ia segera berpaling kearah pengemis dari selatan sambil berseru:

"Locianpwee, siau li ingin mohon diri lebih dahulu"

Seraya berkata ia memberi hormat, kemudian kepada Han Siong Kie dia berseru pula. "Selamat tinggal"

Sekali enjot badan tubuhnya segera melesat dari sana dan lenyap dibalik pepohonan, kecepatan gerakan tubuhnya begitu luar biasa sehingga tak kalah hebatnya dengan Tengkorak maut gadungan.

Memandang hingga bayangan punggungnya lenyap dari pandangan, diam2 Han Siong Kie merasakan hatinya kesal, tanpa sadar ia menghela napas panjang.

Sementara itu sepeninggal Go siau Bi, pengemis dari selatan kembali berpaling ke arah Han Siong Kie sambil berkata:

"Hey bocah muda, jembatan tetap jembatan, jalan raya tetap jalan raya, meskipun

engkau telah melepaskan budi pertolongan kepadaku yang tak akan kulupakan untuk selamanya, tapi aku masih letap akan menagih hutang piutang antara gurumu dengan perkumpulan kami di masa yang silam !"

Has Siong Kie tidak langsung menjawab, sebaliknya hanya berpikir dalam hatinya:

“..Kalau aku sampai unjukkan paras asliku dalam keadaan demikian tak mungkin engkoh tuaku akan mengesampingkan urusan perkumpulan karena hubungannya dengan aku sudah tentu akupun tak dapat berdiam diri belaka terhadap urusan dari suhu. Sekarang persoalan yang paling penting adalah apa sebabnya suhu melakukan pembantaian dimasa silam ? perbuatan itu dilakukan karena desakan dari kemauan sendiri ataukah karena ada alasan tertentu ?"

Setelah berpikir lebih jauh, ia merasa persoalan ini baru dapat dibikin jelas seandainya telah bertemu dengan gurunya nanti apalagi usia gurunya tinggal beberapa hari saja. niscaya hutang piutang itu akhirnya akan jatuh keatas pundaknya.

Berpikir sampai disitu, ia merasa lebih baik untuk menyimpan rabasia ini untuk sementara wsktu, sembari menjura katanya:

“Locianpwee, bagaimana kalau kita tetap dengan pembicaraan semula, selewatnya hari ini aku pasti akan berkunjung sendiri ke perkumpulan anda untuk memberi pertanggungan jawab?”

"Engkau akan datang sendiri untuk memberikan pertanggungan jawab?" tegur Pengemis dari selatan dangan alis mata melentik.

"Ucapanmu tepat sekali!"

“Siapa yang berhutang dialah yang harus membayar, sekalipun murid barus menanggung hasil perbuatan dari gurunya, tapi bagaimanapun juga,. .”

“Tentang soal ini dikemudian hari aku pasti akan memberi penjelasan yaig seterang2 nya.”

“Baik. kita tentukan begitu saja, untuk kali ini aku bersedia untuk msmpercayai perkataanmu.”

Dalam hati kecil Han Siong Kie terdapat banyak masalah rumit yang mencurigakan hatinya, namun dalam keadaan demikian ia merasa tak leluasa buka mulut, setelah ter- menung dan berpikir beberapa saat lamanya kemudian sambil keraskan kepala la berkata: "Locianpwee, kalau kita kesampingkan masalah dendam atau sakit hati antara perguruan, apakah engkau bersedia untuk menjawab beberapa buah pertanyaanku?"

Pengemis dari selatan termenung dan berpikir sebentar, kemudian jawabnya: "coba katakanlah"

"Kedatangan locianpwee pada saat ini adalah khusus untuk mencari satroni dengan diriku, ataukah karena Tengkorak gadungan tersebut?"

"Bocah muda, aku pengemis tua mendapat laporan dari anak buahku tentang kehadiran-mu disini, karena itu maksud tujuan dari kedatanganku adalah untuk mencari engkau"

"Apakah locianpwee tahu kalau tengkorak maut gadungan bakal munculkan diri?"

"Tidak, peristiwa ini sama sekali diluar dugaanku "

-ooodowooo-

BAB 32

"KALAU peristiwa ini memang sama sekali berada diluar dugaanmu, apa sebabnya ketika locianpwee sedang diancam oleh Tengkorak maut gadungan tadi, aku lihat se-akan2 engkau sedang menantikan kedatangan seseorang?" desak Han Siong Kie lebih jauh.

"Bocah muda, ketajaman matamu benar2 luar biasa sekali, aku pengemis tua memang sedang menantikan kemunculan seseorang?"

"Siapakah orang itu??" "Put-lo sianseng."

"Apa? Put lo sianseng...?" tanya Han Siong Kie dengan perasaan bergetar keras. "Perkataanmu tak keliru, apakah engkau pernah mendengar dari jago persilatan ini."

"Dua hari berselang, secara kebetulan aku pernah berjumpa satu kali dengan dirinya..."

"Oooh kiranya begitu"

"Locianpwee" ujar Han Siong Kie lagi setelah termenung beberapa saat lamanya. "Darimana engkau bisa mengatakan jika tengkorak maut tersebut adalah tengkorak maut gadungan?"

"Tentang soal ini..suatu kali aku pengemis tua serta sahabat karibku padri dari utara hampir saja menemui ajalnya ditangan iblis tersebut, kemudian susiokku Seng tat koay tiba2 munculkan diri dan membuat ia jadi kaget hingga kabur, waktu itu aku sudah curiga kalau dia adalah manusia gadungan, sebab kalau pemilik benteng maut pribadi yang kami hadapi, tak mungkin dia bakalan kabur sebelum bertempur, setelah peristswa itu paman guruku berkunjung sendiri kebenteng maut untuk bikin terang duduknya persoalan, dan dari perkataanku tadi yang sengaja kuutarakan keluar ternyata bangsat itu memperlihatkan asalnya..".

Tiba2 Han Siong Kie teringat kembali akan song Tiat-koay sewaktu ia menanyakan soal Tengkorak maut kepadanya tempo hari, ia tertawa tergelak sambil berlalu, katanya selama ini dia tak akan munculkan diri kembali dalam dunia persilatan dan keadaan tersebut dapatlah ditarik kesimpulan bahwasanya pengemis itu sudah menderita kerugian besar didalam benteng maut, tentu saja perkataan semacam ini tidak sampai diutarakan keluar pada saat ini.

Pokok pembicaraanpun segera dialihkan kemasalah lain, katanya.

"Mengapa Tengkorak maut gadungan melarikan diri ter- birit2 setelah kemunculan nona Go siau Bi tadi ?" "Mungkin ia agak jeri terhadap nama besar kakeknya" "Siapa sih kakeknya?"

"Put-loo sianseng" "Oooh kiranya begitu.."

Sekarang Han Siong Kie baru tahu apa sebabnya dalam beberapa hari yang amat singkat Go siau Bi telah berubah jadi seseorang yang lain, bahkan tenaga dalamnya peroleh kemajuan yang sangat pesat, tak tahunya dia adalah cucu perempuan dari Put loo sianseng, manusia sakti dari dunia persilatan-

Sementara sianak muda itu masih termenung, pengemis dari selatan telah bertanya kembali:

"Bocah muda, apakah engkau masih ada pertanyaan lain yang hendak kau ajukan kepadaku?" "

sebenarnya Han Siong Kie hendak minta bantuan dari engkoh tuanya tni untuk menurunkan perintah kepada anak buahnya dan bantu dia untuk menemukan jejak Tonghong Hui, tapi setelah teringat bahwa saat itu dia muncul dengan muka lain dan tak mungkin baginya untuk buka suara, terpaksa ia cuma berkata:

"Terima kasih banyak atas petunjuk dari locianpwee, selamat berpisah dan sampai jumpa lagi dilain waktu"

"Jangan lupa, ada pengemis tua selalu menantikan kabar berita dari kalian guru dan murid" seru Pengemis dari selatan menegaskan.

"Aku tak akan mengingkari janji, beberapa hari kemudian aku pasti sudah berkunjung kemarkas besar kalian"

Selesai berkata, ia enjotkan badan meluncur keluar dari hutan dan melayang kearah jalan raya. Sekarang perasaan hatinya bertambah berat, ia merasa se akan2 telah memikul beberapa beban yang lebih berat lagi.

Musuh besar gurunya tersebar dimana-mana bagaimanakah caranya untuk menyelesaikan semua pertikaian itu dikemudian hari??

Manusia macam apakah Tengkorak maut gadungan itu? kenapa ia hendak mencatut dari nama Tengkorak maut? dengan kedudukan dan kepandaian silat yang dimiliki Pemilik Benteng maut, apa sebabnya ia hanya berpeluk tangan belaka tanpa ada maksud untuk membikin terang duduknya persoalan? apa lagi aliran ilmu silat yang mereka miliki rupanya berasal dari satu sumber yang sama ....

Setelah kemunculan tengkorak maut gadungan, lalu musuh besar pembunuh keluarganya adalah Tengkorak maut yang asli ataukah tengkorak maut gadungan??

Kitab pusaka Hud jin Poo pit sudah dirampas oleh Tengkorak maut gadungan untuk merebutnya kembali jelas merupakan suatu pekerjaan yang amat sulit..

Teringat akan kitab pusaka hud jiu Poo pit itu, perasaan hatinya jadi murung bercampur sedih, sebab andaikata pusaka itu tak dapat direbut kembali maka ia tak akan berhasil melatih kepandaian silat yang lihay, itu berarti pula semua harapannya akan musnah bagaikan asap yang menguap, karena baik terhadap Tengkorak maut asli maupun terhadap Tengkorak maut gadungan, ia masih bukan tandingannya semua. Makin berpikir ia merasa makin murung, dan kacau pikirannya.

Akhirnya ia ambil keputusan untuk segera kembali dulu untuk menjumpai gurunya, dalam hati ia berdoa dan berharap agar dalam beberapa hari belakangan ini gurunya tidak sampai mengalami kejadian yang sama sekali diluar dugaan.

Siang malam tak hentinya ia melakukan perjalanan cepat, ketika fajar baru menyingsing menjelang hari ketiga, akhirnya sampailah pemuda itu ditengah hutan dimana Iblis diantara iblis berdiam.

Batu besar yang menyumbat mulut gua itu masih tetap berada ditempat semula, sedikit banyak pemuda itu merasa hatinya agak lega...

Tapi ingatan lain kembali berkelebat dalam benaknya membuat ia jadi ragu2 untuk mendorong batu besar itu kesamping, sebab perjalanannya kebenteng maut kali ini hanya membawa kekecewaan belaka, gurunya sudah empat puluh tahun berlatih diri hingga badannya cacad dan jiwanya terancam maut akibat tenaga dalamnya telah disalurkan kedalam tubuhnya, apa yang diharapkan hanya mendengar hasil laporan dari mulutnya, apakah ia tega membuat orang tua itu merasa kecewa ? membuat dia menyesal untuk selamanya?

Keringat dingin mulai mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, jantung mulai berdebar dengan kerasnya, ia tak dapat ambil keputusan bagaimana caranya untuk mengatasi persoalan ini?

sesudah termangu-mangu beberapa saat lamanya, pemuda itupun mantapkan hati dan segera menggeser hatu cadas tersebut dan masuk keruang bawah tanah.

"Siapa?" teguran yang lirih, lemah dan sama sekali tak bertenaga berkumandang dari balik ruang gua.

Han Siong Kie meras akan hatinya jadi kecut dan sedih sekali, buru2 jawabnya: "Suhu, tecu telah kembali"

Sambil menjawab pemuda itu melanjutkan kembali perjalanannya masuk kedalam ruangan, ia lihat gurunya Iblis diantara iblis sedang bersandar diatas dinding gua dengan badan yang lemas tak bertenaga, sepasang matanya yang sayu dan tak bersinar terbelalak lebar2, pancaran mukanya penuh mengandung perasaan pengharapan. Han Siong Kie segera memburu maju kedepan dan jatuhkan diri berlutut dihadapan gurunya.

"Nak, bagaimana dengan hasil perjalananmu kali ini?" tanya iblis diantara iblis dengan suara lemah.

Han Siong Kiem merasakan jantungnya berdebar keras dan perasaan hatinya tercekat. "suhu.."

Otot2 hijau pada menonjol keluar dari atas wajah iblis diantara iblis, ia segera mencengkeram bahu Han Siong Kie dan menggoncangkannya keras2 sambil berseru: "Bagaimana hasilnya? ayoh cepat jawab"

"Seperti apa yang suhu titahkan, tecu telah masuk kedalam benteng maut dan menantang Tengkorak maut untuk berduel."

"Cepat katakan bagaimana akhir pertarungan itu? ilmu jari Tong kim ci ilmu Tong kim-ci bagaimana hasilnya??"

"Ketika tecu mengeluarkan ilmu jari Tong kim ci, tubuh pihak lawan segera bergetar keras dan mendengus berat, rupanya ia sudah menderita luka."

"Haaah haaahh hhaaahhh ia terluka ? coba ulangi sekali lagi "

"Ia sudah terluka, cuma "

"Cukup anakku cukup, ia sudah terluka haaahh haaahhh hhaaaahhhh"

sambil tertawa keras bagaikan orang kalap Mo tiong ci mo iblis diantara iblis bersandar kembali keatas dinding gua, paras mukanya kian lama kian berubah hebat.

Kata2 selanjutnya tak mampu diutarakan keluar oleh Han Siong Kie, ia tak tega menyaksikan kakek tua itu mati dengan menanggung kecewa, dalam keadaan begini ia harus membohongi dirinya dan pemuda itupun tidak melanjutlan kembali kata2nya. "Benar suhu" sahutnya dengan kaku.

"Dan.. pemilik benteng maut telah terluka oleh totokan ilmu jari Tong kim ci ku..."

Napas iblis diantara iblis mulai memburu dengan cepatnya, kabut putih mulai menyelimuti biji matanya.

Menyaksikan keadaan itu Han Siong Kie jadi amat terperanjat, tak tertahan lagi ia menjerit keras: "suhu. suhu.. kau..."

"Aku..aku.. aku merasa sangat puas" gumam iblis diantara iblis bagaikan orang mengigau.

Kepalanya miring kesamping, matanya tertutup rapat dan kakek tua yang pernah menggetarkan sungai telaga ini menghembuskan napasnya yang penghabisan-

Han Siong Kie tak dapat menahan rasa pedihnya lagi, ia menangis ter sedu2, meskipun hubungan mereka sebagai guru dan murid belum berlangsung lama, tapi apa yang dilimpahkan iblis diantara lbiis kepadanya sudah cukup untuk membekali masa hidup selanjutnya..

Lama... lama sekali ia baru berhenti menangis, sambil berlutut dan menyembah layon gurunya ia berbisik:

"Oooh suhu, tecu telah membohongi engkau orang tua, harap engkau suka memafkan kesalahanku ini, tapi tecu berjanji, suatu hari tecu pasti akan benar2 mengalahkan pemilik benteng maut untuk menghibur arwah suhu dialam baka" Selesai berdoa pemuda itu bangkit berdiri.

Mendadak.. ia temukan disamping jenasah gurunya tergeletak sejilid kitab kecil di atas kitab kecil itu terletak sebuah tanda pengenal sebesar setengah telapak yang terbuat dari perak, karena sinar yang gemeriapan dengan perasaan keheranan pemuda itu segera pungut benda itu dari tanah. Pada permukaan tanda pengenal itu terukiriah seraut wajah setan yang bermuka bengis, tapi karena aus dimakan waktu pinggiran serta garis ukiran muka setan itu sudah banyak yang samar dan rusak.

Ketika ia membalik tanda pengenal itu ke permukaan yang lain, tiba2 saja serentetan cahaya yang amat menyilaukan mata memancar keempat penjuru dan menerangi seluruh bagian dari ruangan itu.

Han Siong Kie merasa amat terperanjat ketika diamati lebih seksama maka ditemuilah di tengah permukaan tanda pengenal terpancang sebutir mutiara sebesar buah kelengkeng, disekitar mutiara terukir beberapa huruf yang berbunyi: "Tanda pengenal mutiara setan bengis benda mestika dari istana"

Dengan perasaan tak habis mengerti Han Siong Kie gelengkan kepalanya berulang kali, tanda pengenal mutiara setan bengis sudah pasti adalah nama dari tanda pengenal itu, tapi apa maksud dari kata yang berbunyi benda mustika dari istana, istana apa yang dimaksudkan ? istana kaisar ?

istana raja muda Kenapa suhunya menyimpan benda seperti

ini?

Dengan perasaan keheranan ia ambil kitab kecil itu dan dibaca, pada halaman pertama terteralah huruf yang berbunyi: "Kitab Catatan budi dan dendam dari Mo mo Cungcu"

Han Siong Kie merasakan jantungnya berdebar keras, kitab tersebut sudah pasti tercantum rahasia hidup dari gurunya, ia numpuk benda itu bersamaan dengan tanda pengenal mutiara setan bengis, itu berarti gurunya mengandung maksud yang sangat dalam, ia sebagai ahli warisnya sudah menjadi kewajiban untuk memikul semua resiko dan tanggung jawab atas budi dan dendam suhunya selama masih hidup dan sekarang benda tersebut di letakkan disitu, itu berarti gurunya memang sengaja meninggalkannya untuk dia lihat.. Berpikir sampai disitu, pemuda itu mulai membalikkan lembaran berikutnya, terbaca olehnya kitab itu penuh berisikan tulisan2 kecil yang rumit dan rapat, warna merah yang menyiarkan bau amis tersiar keluar dari balik kitab itu, sebagai seorang pemuda yang cerdik, Han Siong Kie segera dapat menduga kalau tulisan itu tentulah ditulis oleh gurunya belum lama berselang dengan menggunakan darah badannya.

Ternyata apa yang diduga sedikitpun tak salah, terbaca olehnya tulisan itu berbunyi demikian.

"Tulisan ini ditujukan buat muridku.

Gurumu bukan lain adalah kaisar Tee kun angkatan ketiga belas dari istana Huan mo kiong yang berada diwilayah Thian lam "

Han Siong Kie merasakan jantungnya berdebar sangat keras, ia tak mengira kalau suhunya bukan lain adalah kaisar Tee kun angkatan ketiga belas dari istana Huan mo kiong, tak aneh kalau para pengawal istana Huan mo kiong segera kenali perguruannya dan menanyakan jejak dari gurunya setelah mengenali permainan ilmu telapaknya "

-00d000w00-