Tengkorak Maut Jilid 14

 
Jilid 14

KARENA kemunculan harta mustika tadi, perhatian semua orang ditujukan kearah sarung tangan Hud jiu poo pit itu, dan Han Siong Kie untuk sementara waktu terlupakan. Nenek bertoya emas Oei Ciu Kiok yang jalan perginya dihadang, hatinya merasa mendongkol bercamcur gusar, sambil menggertak gigi dan melototkan matanya bulat2 ia berseru:

"Dewa berjalan dalam tanah, apakah engkau hendak merampas barang milik orang lain? terus terang kuberitahukan kepadamu, aku oei ciu Kiok bukanlah lampu lentera yang kehabisan minyak, orang lain mungkin jeri kepadamu, tapi aku nenek tua sama sekali tidak memperdulikan akan soal itul"

Dewa berjalan dalam tanah menggerakkan badannya yang gemuk dan cebol hingga maju beberapa depa kedepan, sambil picingkan matanya jadi kecil ia menjawab:

"Ooooh tidak berani aku tidak berpikiran begitu, cuma kedatangan kita orang2 persilatan pada saat ini toh dikarenakan satu tujuan? tidak sepantasnya kalau engkau lupa kawan dan pergi dengan begitu saja"

suara bisikan dan kegaduhan menyelimuti seluruh gelanggang, berpuluh2 pasang mata yang memancarkan keserakahan sama2 ditujukan kearah kitab pusaka Hud ji Poo pit yang berada dalam saku nenek bertoya emas, semua orang mengilar dan ingin mendapatkannya.

Rupanya nenek bertoya emas mengetahui akan kekuatan sendiri, ia sadar asal manusia cebol itu turut campur dalam perebutan ini, maka semua perhitungannya akan meleset, rasa benci dan dendam segera menyelimuti hatinya, sambil silangkan toyanya didepan dada ia berseru:

"Cebol sialan, aku nenek tua mohon beberapa petunjuk ilmu silat darimu"

"ooooh jangan salah paham, aku bukan datang kesini

untuk ajak engkau berkelahi" sahut Dewa berjalan dalam tanah sambil mengebaskan ujung bajunya, "seorang pria sejati tak akan berkelahi dengan kaUm wanita sekalipun menang juga tak bisa dibanggakan." "Kentut busuk"

Cahaya ke emas2an berkelebat lewat, toya emas itu bagaikan beribu2 ekor ular emas secepat kilat meluncur kedepan dan menghantam sekujur badan Dewa berjalan dalam tanah.

Merasakan datangnya ancaman tersebut, Dewa berjalan dalam tanah segera menggerakan tubuhnya dan meloloskan diri dari kurungan bayangan toya lawan ia menghardik:

"Tahan-. "

Cahaya emas jadi lenyap tahu2 ujung toya emas tersebut sudah kena dicengkeram oleh Dewa berjalan dalam tanah.

Demontrasi kepadaian yang amat luar biasa ini seketika membuat para jago persilatsn yang berada disisi gelanggang jadi amat terkesiap dan berubah wajah mereka, sama sekali tak mengira kalau ilmu silat yang di miliki Dewa berjalan dalam tanah begitu lihaynya sehingga dalam sekali gebrakan saja toya emas lawannya berhasil digenggam.

Paras muka Nenek bertoya emas yang pada dasarnya sudah jelek, kini berubah makin jelek lagi. sorot mata penuh kebencian dan perasaan dendam memancarkan keluar dari mata nenek tua, rambutnya yang telah beruban pada bangkit berdiri bagaikan landak.

Tiba2 Dewa berjalan dalam tanah mengendorkan cekalannya, Nenek bertoya emas segera mundur tiga langkah kebelakang.

Kenyataan dengan jelas membuktikan bahwa suatu persekongkolan untuk menghadapi ahli waris dari iblis diantama iblis, kini sudah berubah jadi suatu perebutan benda mustika yang melibatkan setiap umat persilatan dari segala penjuru kolong langit. Dengan sorot mata yang tajam Dewa berjalan dalam tanah menyapu sekejap wajah semua jago yang hadir disana, kemudian tertawa terbahak2.

"Haahh haahh..haahh.. tujuan dari kehadiran rekan persilatan semua pada saat ini adalah untuk menghadapi anakan iblis tersebut, kemudian mencari tahu jejak dari iblis tua serta membalas dendam berdarah dari masing2 perguruan, oleh karena itu kita tak boleh merobah tujuan kita hanya disebabkan karena kemunculan benda pusaka yang sama sekali tak terduga ini"

semua orang anggukkan kepalanya tanda menyetujuinya namun sorot mata yang memancarkan kerakusan masih belum tergeser dari tubuh nenek bertoya emas.

Setelah berhenti sebentar Dewa berjalan dalam tanah melanjutkan kembali kata2nya:

"Dewasa ini kita harus bereskan dahulu persoalan kita yang terpenting, sedangkan mengenai pusaka yang muncul secara tak terduga ini Hiiihhh biiihhh hilihhh setiap orang yang hadir disini berhak untuk memperoleh bagian, penyelesaian boleh kita lakukan belakangan saja cuma ..."

Bicara sampai disini ia lantas berpaling kearah Nenek bertoya emas dan menambahkan-

"oei ciu Kiok. sekali lagi kuperingatkan kepadamu jikalau engkau hendak mengangkangi benda mustika tersebut seorang diri maka orang pertama yang akan dicari oleh iblis diantara iblis atau Tengkorak maut adalah engkau, percayakah engkau bahwa dengan kekuatanmu kamu bisa lolos dari bencana itu?"

Ucapan yang tajam dan tepat itu segera mengena dihati Nenek bertoya emas, membuat bulu kuduknya tanpa terasa pada bangun berdiri, ia gelagapan dan tak mampu mengucapkan sepatah katapun- Dipihak lain.. setelah berdiri termangu2 beberapa saat lamanya, Han Siong Kie tersadar kembali dari lamunannya, sambil menahan rasa sakit yang tak terkirakan selangkah demi selangkah ia berjalan menuju keujung hutan, mempertahankan kehidupan adalah suatu tindakan yang jamak sebagai umat manusia, pemuda itu sadar bahwa jiwanya pada hari itu terancam bahaya, tapi sepenuh tenaga ia berusaha untuk mencoba selamatkan jiwanya dari ancaman tersebut.

Terdengar Dewa berjalan dalam tanah berkata kembali:

"sekarang lebih baik saudara sekalian menangkap bocah muda itu lebih dahulu. janganlah biarkan dia lolos dari tempat ini, siapa tahu kalau bocah muda itu sengaja menggunakan siasat untuk menipu kira dengan pura2 tak berkepandaian, karena melihat jumlah kita yang terlalu banyak dan sadar kalau tak mampu melakukan perlawanan, kita tidak boleh termakan oleh tipu muslihatnya itu..."

Kobaran semangat tersebut segera membangkitkan kembali semangat para jago untuk menangkap Han Siong Kie, tapi sebelum sempat berbuat sesuatu, mendadak Nenek

bertoya emas dengan suara yang keras dan nyaring bagaikan geledek berseru:

"Bagus... bagus sekali manusia cebol berani benar

engkau gunakan ilmu mencopet untuk mencuri benda mustika Hud jiu Poo pit dari sakuku, ayoh cepat serahkan kembali kepadaku"

Begitu bentakan tersebut diutarakan keluar, sorot mata semua orangpun tanpa sadar sama2 dialihkan keatas badan Dewa berjalan dalam tanah.

Paras muka Dewa berjalan dalam tanah sama sekali tak berubah, deagan nada dingin ia menjawab: "Heemmm hheeemmm engkau tak usah ribut2 terus untuk sementara waktu biarlah benda mustika aku yang simpan lebih dahulu".

Rasa benci dan dendam Nenek bertoya emas terhadap Dewa berjalan dalam tanah sudah mendarah daging, ia kontan mendengus dingin.

"Hmm engkau tak usah berlagak sok. perkataan semacam itu hanya bisa membohongi bocah berumur tiga tahun, kalau aku nenek tua tidak percaya dengan pribadimu lantas bagaimana??"

Ucapan ini seketika membungkamkan mulut Dewa berjalan dalam tanah, dari malu ia jadi gusar dan segera teriaknya:

"Anggap saja aku telah merampasnya dari tanganmu engkau mau apa?"

suasana dalam gelanggang kontan berubah jadi hening sunyi dan sedikiteun tak kedengaran apa2, semua orang tahu sampai dimana kelihayan ilmu silat yang dimiliki Dewa berjalan dalam tanah, oleh karena itu tak seorang pun ingin turun tangan lebih dahulu kendatipun begitu tak seorang manusiapun yang tinggalkan gelanggang.

Kesunyian yang mencekam seluruh jagad mendatangkan napsu membunuh yang berlapis2 dalam benak setiap orang.

Dalam pada itu, Han Siong Kie dengan tubuh sempoyongan telah berjalan, kurang lebih seratus tombak dari tempat semula..

Mendadak bayangan manusia berkelebat lewat, tujuh orang imam dan lima orang padri tahu2 menghadang jalan perginya.

Ketujuh orang imam tersebut adalab rombongan jago lihay partai Khong-tong yang dipimpin oleh Kui Goan cu, sedangkan lima orang padri adalah Seng Gong taysu dari gereja siau lim- si serta empat orang hweesio muda lain yang bertubuh kekar. Dengan paras muka membesi Kui Goan cu menegur: "Siau sicu, aku harap engkau bersedia menjawab dengan sejujurnya, benarkah gurumu adalah penyaruan dari Tengkorak maut.?"

"Hmm aku tak dapat menjawab pertanyaanmu itu" sahut Han Siong Kie dengan suara lemah.

"Pinto datang kemari karena sedang melakukan perintah guruku,jika siau sicu tak bersedia menjawab pertanyaanku ini, bagaimana kalau kuundang kedatangan sicu keatas gunung Khong tong untuk menemui guruku??"

Walaupun sudah putus asa dan tak mempunyai kekuatan untuk melawan, keangkuhan dan kejumawaan Han Siong Kie masih menguasahi benaknya, ia menggeleng dengan ketus: "Aku tidak mau"

"Kui Goan too heng" sela Seng Gong taysu dari samping " lebih baik biar pinceng bawa dulu sicu ini pulang ke gunung Siong san, bila urusan kami telah selesai barulah kami undang kehadiran para wakil dari pelbagai perguruan untuk menyelesaikan persoalan ini, entah bagaimanakah pendapat kalian?"

Malaikat bertenaga raksasa Leng Beng cu yang beradat keras dan berangasan tak dapat menahan sabar lagi, terutama ia pernah mengalami kerugian besar ditangan Han Siong Kie, dengan suara keras segera bentaknya:

" Kenapa musti ribut terus? ayoh, kita bekuk dulu bangsat cilik ini"

Bersamaan dengan selesainya perkataan itu, telapak yang besar bagaikan kipas langsung dibabat kearah dada si anak muda itu.

Ia tak tahu kalau kepandaian silat Han Siong Kie telah punah, dalam serangannya itu ia gunakan tenaga sebesar dua belas bagian, sebelum serangan tiba angin pukulan sudah cukup membuat pemuda itu sempoyongan, agaknva Han song Kie bakal mampus terhajar oleh serangan dahsyat itu..

Disaat yang kritis dan amat mencekam perasaan itulah.. tiba2 jeritan ngeri berkumandang memecahkan kesunyian- tubuh malaikat raksasa Leng Beng cu yang tinggi besar mencelat keudara, kemudian roboh terkapar diatas tanah. Darah kental.. perlahan2 meleleh keluar dari batok kepala bagian belakang.

Enam imam dan lima padri lainnya yang menyaksikan peristiwa itu, sama2 merasa tercekat hatinya dan tanpa terasa bulu kuduk pada bangun berdiri.

Dengan sempoyongan Han sing Kie mundur beberapa langkah kebelakang, "Blaam" ia roboh keatas tanah dan jatuh tak sadarkan diri

Sementara itu enam imam dari partai Khong-tong dan lima padri dari gereja siau lim si masih memandang kearah mayat malaikat raksasa Leng Beng cu dengan pandangan terkesiap. mata mereka terbelalak dan mulut mereka melongo, sementara badannya gemetar keras, rupanya diatas batok kepala imam raksasa itu tertancap selembar daun yang tipis.

Membunuh orang dengan sambitan daun, kepandaian ampuh semacam itu jarang sekali ditemui dalam kolong langit.

sesosok bayangan manusia laksana menyambar kilat berkelebat lewat dari sisi badan lima padri enam imam tersebut, semua orang merasa terperanjat, diantaranya Kui Goancu dan seng Goan taysu yang merupakan jago lihay kelas satu dalam dunia persilatann, ternyata tak sempat melihat jelas paras muka bayangan tersebut, bukan begitu saja, mereka pun tak tahu apakah orang itu seorang pria atau wanita. Malaikat penyakitan yang menggeletak di atas tanah, kini lenyap tak berbekas. Melukai orang, menyelamatkan orang rupanya dilakukan oleh seorang yang sama dan dalam waktu yang bersamaan, tapi siapakah orang lihay itu?

Bentakan keras, benturan nyaring berkumandang datang dari samping gelanggang.

Tidak jauh dari tempat kejadian itu, beberapa ratus orang jago persilatan sedang melangsungkan suatu pertarungan yang paling seru dan paling dahsyat untuk memperebutkan kitab pusaka Hud jiu Poo pit.

sekali lagi seng Gong taysu menyapu sekejap mayat Leng Beng cu yang terkapar diatas tanah, kemudian dengan badan ngeri ujarnya kepada Kui Goan-cu: "Too heng, mungkinkah perbuatan ini dilakukan oleh Iblis diantara iblis."

sebelum padri dari gereja siau lim si itu menyelesaikan kata2nya imam tua itu cepat- cepat menukas:

"Apabila kenyataan sesuai dengan berita yang tersiar dalam persilatan dan Tengkorak maut bukan lain adalah penyaruan dari iblis diantara iblis, itu berarti persoalan ini sudah mencapai keadaan yang paling serius dan kritis, pinto harus segera pulang ke gunung untuk minta petunjuk ketua kami" seng Gong taysu mengangguk:

"Betul, akupun mempunyai maksud untuk berbuat demikian."

Begitulah, salah satu diantara enam orang imam tersebut segera membopong jenasah dari Leng Beng-cu, kemudian tanpa membuang waktu lagi mereka segera berangkat untuk kembali kegunung Khong tong guna memberi laporan kepada ketua mereka.

Dipihak lain, pertarungan sengit untuk memperebutkan kitab pusaka Hud jiu Poo pit masib berlangsung dengan serunya, semua pihak mengerahkan segala kemampuan yang dimilikinya untuk merampas benda mestika ttu dari tangan orang lain, belum selang seperminum teh, sudah belasan orang jago lihay persilatan yang menemui ajalnya ditempat tersebut..

-oood0wooo-

BAB 29

SEMENTARA itu, dipihak lain ketika Han Siong Kie sadar kembali dari pingsannya, ia temukan tubuhnya berbaring di tengah sebuah hutan belantara yang gelap hingga sinar matahari tak mampu menembus sampai kebawah.

Rasa sakit bagaikan di tusuk dengan jarum membuat pemuda itu tak dapat dikuasahi lagi mendengus berat. "Nak, engkau telah sadar?"

Teguran itu dirasakan Han Siong Kie amat mengetuk perasaan hatinya. dari suara itu pula dia segera mengetahui siapakah yang telah menolong jiwanya dari ancaman maut.

"Kau..kau.. adalah orang yang kehilangan sukma? bisiknya dengan suara gemetar.

"Benar"

"Kau.. untuk sekian kalinya telah menolong aku, budi kebaikan sebesar ini tak akan kulupakan untuk selamanya"

"Nak,jangan pikir yang bukan2 sekarang makanlah dahulu obat ini,pengaruh obat tersebut akan mengurangi penderitaan dalam tubuh.."

Baru saja Han Siong Kie akan menyatakan rasa terima kasihnya, sebutir obat dengan cepat telah meluncur masuk kedalam mulutnya dan tertelan kedalam perut.

Beberapa saat kemudian rasa nyeri dan sakit dalam tubuhnya semakin berkurang, buru2 ia merangkak bangun dan duduk diatas tanah, sepasang matanya terbelalak lebar2, namun suasana disekitar situ sunyi senyap tak terlihat sesosok bayangan manusia pun, ia tak tahu dimanakah orang yang kehilangan sukma menyembunyikan diri.

"Cianpwe, kenapa engkau tidak unjukkan diri untuk berjumpa dengan diriku?" ujarnya dengan perasaan tulus .

"sekarang masih belum tiba waktunya"

"Dari mana cianpwae bisa tahu kalau aku "

"Untuk sementara waktu engkau tak usah bertanya soal itu lebih dahulu, bukankah engkau telah masuk dalam benteng maut??"

"Benar aku telah berkunjung kedalam benteng tersebut" "Dan engkau sudah bertemu dengan pemilik benteng

maut?. "

"sudah dia adalah seorang manusia berkain cadar dimuka yang amat misterius, bertemu atau tidak sama sekali tak ada bedanya"

"Sudah kau ceritakan tentang asal usulmu?" "Tidak. aku belum menceritakan apa2 kepadanya"

Mendengar jawaban tersebut orang yang kehilangan sukma menghela napas panjang. "Aaaai .. nak mengapa engkau tidak turuti perkataanku?"

"Sebab aku masih belum mengerti apa sebabnya cianpwee suruh aku berbuat begitu" jawab Han Siong Kie dengan perasaan minta maaf.

"Aaai.. nak engkau sudah salah, kini berbuat kesalahan yang jauh lebih besar, aku suruh engkau berbuat begitu tentu saja dengan disertai maksud-maksud tertentu, sedangkan mengenai apa sebabnya untuk sementara waktu aku tak dapat beritahu padamu, bukannya aku berlagak sok rahasia, dalam kenyataan aku tak dapat beritahukan persoalan ini langsung dengan mulutku sendiri aaai .. sekarang..."

Han Siong Kie merasa tak habis mengerti terhadap ucapan orang yang kehilangan sukma ia tak paham apa sebabnya perempuan itu tak dapat beritahukan persoalan itu kepadanya dengan mulut sendiri? suatu teka-teki yang membingungkan hatinya. Terdengar orang yang kehilangan sukma berkata kembali.

"Nak. kalau toh engkau tak mau berbuat seperti apa yang kupesankan kepadamu, mengapa engkau mengunjungi benteng maut dan bisa lolos dalam keadaan selamat?"

"Aku sedang melakukan tugas yang dibebankan guruku" "Jadi engkau benar2 sudah angkat iblis diantara iblis

sebagai gurumu?"

"Perkataan cianpwee sedikitpun tak salah"

"Boleh aku tahu kisahnya hingga engkau berjumpa dengan iblis diantara iblis serta angkat sebagai gurumu?"

Han Siong Kie mengangguk secara gamblang dan tidak merahasiakan sesuatu apapun ia menceritakan semua kejadian yang dialaminya selama ini.

Selesai mendengar kisah tersebut dengan penuh emosi orang yang kehilangan sukma berseru:

"Kau maksudkan seorang gadis yang menyebut diri sebagai istri yang ditinggalkan telah selamatkan engkau dari dalam benteng"

"Benar, ia bersedia menolong aku karena akupun pernah selamatkan selembar jiwanya"

"Sungguh tak nyana dia.." mendadak orang yang kehilangan sukma teringat akan sesuatu dan perkataan yang belum sempat di selesaikanpun terpotong ditengah jalan- "Ciancwee kenal gadis yang bernama istri yang ditinggalkan itu?" tanya Han Siong Kie cepat dengan perasaan tercengang.

"oooh... tidak... tidak aku tidak kenal, saat ini tenaga dalam yang kau miliki masih belum dapat dihimpun kembali" buru- buru orang yang kehilangan sukma mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain.

Dengan penuh panasaran dan rasa jengkel Han Siong Kie mendengus dingin-

"Hmm Benar, tenaga dalamku tak dapat dihimpun kembali, menurut gadis yang bernama Istri yang ditinggalkan, asal jalan darahku yang tertotok bisa dibebaskan maka tenaga dalamku masih tetap utuh seperti sedia kala"

"Maksudmu???"

"Mungkin dalam dunia persilatan tak ada orang lagi yang bisa bebaskan jalan darahku yang tertotok dengan kepandaian khusus benteng maut itu."

orang yang kehilangan sukma termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian dengan nada yang sedih ia menjawab:

"Ucapanmu memang tidak keliru, dikolong langit dewasa ini memang jarang sekali ada orang yang mampu membebaskaa totokan jalan darah yang dilakukan secara khusus itu."

"Apakah cianpwee dapat membebaskan pengaruh totokan tersebut?" tanya sang pemuda dengan penuh harapan.

"Aku?"

"Aku hanya menduga begitu, sebab dengan tenaga dalam yang cianpwee miliki kemungkinan besar..."

"Dugaanmu tepat sekali, aku memang dapat membebaskan totokan tersebut" Mendengar jawaban tersebut Han Siong Kiejadi amat terperanjat dan merasakan jantungnya berdebar keras, ia dapat merasakan bahwa perkataan yang diucapkan oleh orang yang kehilangan sukma diutarakan dengan perasaan hati tertekan, tak tahan lagi dia berseru: 

"Cianpwee....kau..."

"Aku tak apa2 nak. aku akan bebaskan jalan darahmu yang tertotok" ujar orang yang kehilangan sukma lagi dengan suara lebih tenang dan datar.

Han Siong Kie merasa amat terharu sekali hingga seluruh badannya gemetar keras, ia tak menyangka kalau orang yang kehilangan sukma menyanggupi untuk bebaskan jalan darahnya yang tertotok. setelah jalan darah itu bebas maka tenaga dalam yang dimilikinya akan pulih kembali seperti sedia kala dan pertama2 dia akan mengunjungi suhunya lebih dahulu meskipun kedatangannya akan mendatangkan kekecewaan bagi gurunya tapi keadaan jadi jauh lebih baik dari pada sama sekali tak dapat berjumpa dengan dirinya.

Kedua dia akan merampas kembali sarung tangan Hud jiu Poo pitnya dan mengunjungi malaikat hawa dingin sehingga sepasang benda mustika itu dapat bersatu kembali dan..

Belum habis dia berpikir suara dari orang yang kehilangan sukma telah berkumandang: "Nak, aku ada satu pertanyaan hendak kuajukan kepadamu"

"Katakanlah yang hendak kau tanyakan?"

"Kau... kau... apakah engkau sangat membenci ibumu?"

Han Siong Kie tak menyangka kalau pihak lawan akan mengajukan pertanyaan tersebut, mendengar pertanyaan itu bagaikan di pagut ular berbisa sekujur tubuhnya bergetar keras. Ucapan terakhir dari paman gurunya Telapak naga beracun Thio Lin sesaat sebelum meninggal dunia kembali berkumandang dalam sisi telinganya:

"...aku pernah membawa engkau untuk menemui ibumu, tapi ia hendak membinasakan kita berdua secara keji."

Selain itu, iapun teringat kembali dengan adegan ketika ibunya Siang Go cantik ong cui Ing turun tangan secara keji terhadap dirinya, ketika ia berada diwilayah Lian huan tan pusat kekuasaan perkumpulan Thian che kau.

Makin diingat perasaan hatinya makin sakit bagaikan di iris2, dengan penuh penderitaan ia mendengus berat. "Aku... aku tak punya ibu" sahutnya kemudian.

"Kebencianmu kepadanya sudah mencapai ketingkat itu??" tanya orang yang kehilangan sukma lebih jauh.

Han Siong Kie menggigit bibirnya kencang2. "Aku tak mau mengungkap soal dirinya lagi."

"Tapi dikolong langit toh tak ada orang tua yang tidak menyayangi putra kandung sendiri???"

"Benar, bagi orang lain mungkin saja perkataan itu benar... tapi bagi diriku tidak"

"siapa tahu kalau ia mempunyai kesulitan yang memaksa dirinya terpaksa harus berbuat begitu??"

"Kesulitan? haaahh haaahh haaah"

Dengan kalap dan penuh ledakan perasaan emosi, Han Siong Kie tertawa keras, diantara gelak tertawanya penuh mengandUng rasa sedih, gusar, saklt hati serta perasaan lain yang mengacaukan pikirannya, ia benci kepada ibunya yang berhati kejam bagaikan seekor ular beracun itu

"Nak, cinta kasih orang tua terhadap anaknya tiada berbeda dikolong langit, suatu ketika engkau akan paham dengan sendirinya" nasehat orang yang kehilangan sukma lebih jauh.

"Hmm sekarangpun aku sudah mengerti" jawab pemuda itu penuh kebencian.

Melihat kekerasaa hati pemuda itu, orang yang kehilangan sukma menghela nafas panjang.

"Aaaai nak, suatu hari engkau akan merasa menyesal atas Cara berpikir serta pandangan yang kau kemukakan pada saat ini"

Han Siong Kie tercengang dan tidak habis berpikir terhadap ketepatan orang yang kehilangan sukma menebak latar belakangnya, siapakah orang itu? kenapa ia bisa tahu akan asal usulnya dengan begitu tepat? kenapa ia begitu menaruh perhatian terhadap dirinya? 

Dari pertolongan yang diberikan perempuan ini setiap kali ia sedang mengalami kesulitan atau mara bahaya, hal ini sudah jelas membuktikan bahwa pertolongan itu bukan diberikan secara kebetulan saja, se-akan2 ia selalu mengikuti kemanapun dia pergi, kenapa ia berbuat demikian??

suatu teka teki yang tak terjawab? sejak kemunculan orang yang ada maksud hingga saat ini, teka-teki tersebut selalu membelenggu perasaan hatinya. Berpikir sampai disitu tak tahan lagi ia bertanya: "sekali lagi aku mohon bertanya, siapakah name cianpwee??"

"Nak, waktunya belum tiba, lebih baik janganiah kau tanyakan lebih dahulu tentang soal itu"

"Agaknya cianpwee merasa paham sekali dengan semua asal usulku..?"

"Betul, dan mungkln apa yang kuketahui jauh melebihi apa yang kau bayangkan sekarang" satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak Han Siong Kie, jangan2 orang yang kehilangan sukma adalah sanak keluarga sendiri atau saudara saperguruan dari ayahnya, sebab perguruan dari ayahnya hingga saat ini masih merupakan teka teki besar, andaikata ia berhasil mendapat keterangan dari mulut perempuan ini mengenai sebab musabab bunuh dirinya sang paman guru Telapak naga beracun Thio Lin, siapa tahu kalau ia bakal memperoleh tanda2 yang bakal menguntungkan penyelidikannya? Berpikir sampai disitu, dengan nada menyelidik ia segera bertanya:

"Cianpwee, ada satu persoalan yang sampai kini tidak kupahami, aku harap apa yang membingungkan hatiku itu dapat kuketahui dari keterangan cianpwee, apakah engkau bersedia untuk menjawab?"

"Apa yang ingin kau tanyakan? coba utarakan lebih dahulu" "Mengenai perguruan dari ayahku"

"ooooh tentang soal itu" orang yang kehilangan sukma sangsi sebentar "kali ini engkau bakal kecewa lagi sebab aku masih belum dapat memberitahukan soal ini kepadamu."

Mendengar jawaban tersebut Han Siong Kie dibuat apa boleh buat oleh kemisteriusan orang yang kehilangan sukma hatinya terjelos dan ia segera berseru: "Kalau begitu anggaplah aku telah banyak bertanya"

orang yang kehilangan sukma sama sekali tidak gusar oleh sindiran tersebut, beberapa saat kemudian ia berkata: "Nak, sekarang engkau boleh bangkit berdiri"

Han Siong Kie menurut dan bangkit berdiri

"Jangan bergerak, jangan berpaling kebelakang" kembali orang yang kehilangan sukma berkata.

Han Siong Kie merasakan hatinya jadi amat tegang, jantungnya terasa berdebar keras, ia tahu orang yang kehilangan sukma akan membebaskan jalan darahnya yang tertotok.

Desiran angin tajam menggulung, tiba2 dari tempat yang tak jauh dari sana "Duukk duuk duuk secara beruntun bersarang di atas beberapa jalan darah penting sianak muda itu, sekujur badannya gemetar keras, dan ia merasakan hawa murni yang mulai bergerak dalam tubuhnya, dengan cepat pemuda itu coba menyalurkan hawa murninya, ia merasakan tenaga dalamnya dapat dihimpun kembali dengan cepatnya.

Rasa girang yang menyelimuti hati pemuda itu sulit dilukiskan dengan kata2, ia segera berteriak:

"Aku berhasil pulihkan kembali tenaga dalamku aku segar kembali..."

"Benar anakku, meskipun tenaga dalammu telah pulih seperti sedia kala, namun akibat hantaman toya emas tadi luka dalam yang kau derita cukup parah, sekarang semedilah dahulu dan salurkan hawa murninu mengelilingi seluruh badan sebanyak sepuluh kali dengan pengerahan tenaga itu maka daya kerja obat yang kau telan tadi akan menunjukkan kasiat yang lebih besar."

Han Siong Kie menurut dan segera pejamkan matanya rapat2 berdiri ditempat itu juga dia salurkan hawa murninya mengelilingi seluruh badan sebanyak sepuluh kali setelah itu dia rasakan badannya jadi segar bugar kembali dan rasa sakit yang semula menyelimuti badannya kini sudah lenyap tak berbekas.

"Nak" rintihan lirih berkumandang datang dari balik hutan belantara.

Tenaga murni yang dimiliki Han Siong Kie saat itu telah pulih kembali seperti sedia kala, rintihan yang bagaimana lirihnya tak mungkin bisa mengelabuhi pendengarannya, ia terperangah mendengar suara aneh tersebut. "Cianpwee kee . . kenapa engkau.." ia segera menegur "Sambutlah bends ini"

Sebuah bungkusan berwarna putih tiba2 meluncur ke arahnya.

Dengan cepat Han Siong Kie terima benda itu dan diperiksanya dengan seksama, seketika itu juga sekujur badannya gemetar keras dengan bulu kuduk pa da bangun berdiri matanya terbelalak lebar bagaikan disambar geledek di siang hari belong dengan jantung berdebar keras secara beruntun ia mundur lima langkah ke belakang keringat dingin mengucur keluas membasahi seluruh badannya.

Ternyata benda yang dilemparkan orang yang kehilangan sukma barusan bukan lain adalah sebuah telapak tangan manusia yang ditebas sebatas pergelangan, darah masih mengalir dari bekas kutungan tersebut, jelas telapak tangan itu ditebas belum lama berselang atau mungkin disaat ia mendengar suara rintihan lirih tadi.

Dengan badan gemetar keras karena terkesiap bercampur kaget Han Siong Kie berdiri menjublak tanpa sanggup mengucapkan sepatah katapun lama... lama sekali ia baru berseru: "cianpwee kau... kau..."

"Nak engkau tak usah kaget, akulah yang telah menebas kutung telapak tangan sendiri"

Han Siong Kie mundur dengan sempoyongan, hampir saja ia tak sanggup berdiri tegak dengan amat terperanjat ia menegur: "Kenapa cianpweee kenapa engkau berbuat

begitu??"

orang yang kehilangan sukma menghela napas panjang, suaranya agak gemetar.

"Nak baik2lah simpan telapak tanganku itu, dikala engkau berkunjung kembali kedalam benteng maut dan bertemu dengan pemilik benteng maut, seandainya ia bertanya siapakah yang telah bebaskan jalan darahmu yang tertotok maka serahkanlah potongan telapak ini kepadanya"

Han Siong Kie merasakan telinganya mendengung keras dan pandangan matanya jadi gelap. hampir saja roboh tak sadarkan diri

"Cianpwee jadi engkau telah mengutungi telapak tanganmu karena telah membebaskan jalan darahku yang tertotok?" jeritnya dengan suara amat serak.

"Betul tapi engkau tak usah sedih ataupun memikirkan persoalan itu didalam hati"

Air mata jatuh berlinang membasahi seluruh wajah Han Siong Kie, ternyata orang yang kehilangan sukma mengutungi telapak tangan sendiri karena ia telah bebaskan jalan darahnya yang tertotok tapi apa sebabnya ia berbuat demikian? Bukan saja berulang kali ia telah berutang budi kepadanya, sekarang iapun berutang budi yang jauh lebih besar dari pada budi2 lainnya sebab orang itu telah mengorbankan lengannya untuk selamatkan jiwanya, bagaimana mungkin budi sebesar ini dapat dibalas?? saking terharunya pemuda itu menangis terisak. serunya dengan suara ter-bata2: "cianpwee kau... kau... kenapa kau berbuat demikian untukku?? kenapa??"

"Dikemudian hari engkau akan mengerti dengan sendirinya kenapa aku rela berkorban demi dirimu"

"Kalau sejak permulaan tadi aku sudah tahu begini, aku lebih rela tak punya kepandaian silat daripada harus mengorbankan telapak tangan cianpwee"

"Nak masih banyak pekerjaan dan tugas yang harus kau kerjakan, dalam keadaan begini engkau tak boleh kehilangan ilmu silat sebab hal itu sangat penting bagimu untuk menyelesaikan semua pekerjaan tersebut" "Kendatipun begitu tiada alasan bagi cianpwee untuk berkorban sebesar ini demi diri ku"

"Siapa bilang tak beralasan? alasan tentu ada dan dikemudian hari engkau akan paham sendiri apa sebenarnya alasan itu"

"Tapi bagaimana mungkin aku bisa hidup tenteram akibat peristiwa ini?"

"Aku toh sudah suruh engkau tak usah pikirkan kejadian ini didalam hati?" sela orang yang kehilangan sukma dengan cepat, Han Siong Kie menghela napas panjang.

"Aaai budi yang cianpwee lepaskan kepadaku ibaratnya sang surya di angkasa bagaimana mungkin aku dapat membalas budi kebaikan sebesar ini"

"Nak. kejadian ini toh sudah berlalu kenapa musti engkau pikirkan terus?, sekarang ini kita masih berada didaerah pertempuran, sementara pertarungan seru masih terus berlangsung dengan hebatnya"

"Pertarungan sengit?? siapa yang sedang bertempur?" tanya sang pemuda keheranan:

"orang2 persilatan yang datang kemari karena kehadiranmu"

"Lalu apa sebabnya mereka saling bertempur sendiri?" "Mereka sedang memperebutkan kitab pusaka Hud jiu Poo

pit yang terjatuh dari sakumu."

"oooh" Han Siong Kie berseru tertahan, perasaan hatinya merasa bergetar kertas. Kitab pusaka Hud jiu Poo pit sangat mempengaruhi rencana pembalasan dendamnya, tapi kini manusia2 tamak sedang memperebutkan benda miliknya itu secara memalukan sekali, tanpa terasa darah panas bergelora dalam benak pemuda ini. sementara dia masih melamun, tiba2 terdengar orang yang kehilangan sukma berkata:

"Nak. aku hendak pergi dari sini, ada sebuah permintaan aku harap bagaimanapun juga harus kau sanggupi, apakah engkau bersedia??"

" Harap cianpwee katakan keluar, aku bersumpah pasti akan melaksanakannya"

"Kunjungilah Benteng maut sekali lagi, Ceritakanlah asal usulmu yang sebenarnya"

Tercekat hati Han Siong Kie mendengar permintaan itu, pikirnya didalam hati:

"Baiklah kusanggupi saja permintaan ini, tapi terlebih dahulu aku harus berhasil merampas kembali kitab pusaka Hud jiu Poo pit kemudian berangkat kebukit Kou lou san untuk menjumpai Malaikat hawa dingin dan memberitahukan jejak malaikat hawa panas, setelah sepasang sarung tangan itu berhasil aku memepelajari ilmu sakti sie mi sinkang akan kukunjungi kembali benteng maut. Berpikir sampai disini ia lantas menjawab: "Aku turuti permintaan cianpwee"

"Apakah sekarang juga engkau akan berangkat kesitu?" Pemuda itu menggeleng.

"Aku masih ada dua persoalan penting yang harus diselesaikan lebih dahulu, kemudian baru kukunjungi kembali benteng maut"

"Baiklah kalau begitu, tapi ingat, engkau harus ceritakan asal usulmu yang sebenarnya, selain itu asal usulmu hanya boleh kau ceritakan kepada pemilik benteng maut seorang, janganlah sampai ada orang kedua yang mengetahui rahasia ini"

Walaupun dalam hati kecilnya sangsi dan bercampur curiga, namun diluaran ia menyahut juga: "Akan kuingat selalu di dalam hati"

Mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya, buru2 melanjutkan kembali kata2nya.

" Cianpwee, belum lama berselang ketika berada dalam sebuah rumah penginapan, aku telah bertemu dengan seorang cianpwee yang menyebut diri sebagai ong Popo, ia berhasil menemukan racun cabul Jit bi san yang mempengaruhi seorang gadis, apakah cianpwee itu adalah..."

"Dugaanmu tidak keliru, orang itu memang aku"

satu ingatan kembali berkelebat dalam benak Han Siong Kie, segera pikirnya:

”Jangan2 paras muka itu adalah paras muka yang asli dari orang yang kehilangan sukma??"

sementara itu perempuan tersebut telah berkata kembali. "Nak, apakah engkau telah melaksanakan perkataanku dan

berbuat.."

"Maaf cianpwee, ketika kutemukan bahwa racun yang mengeram dalam tubuh nona Go siau Bi telah punah, maka aku tidak melakukan petunjuk dari cianpwee"

"Apa?? engkau tidak melakukan seperti apa yang kuucapkan?."

orang yang kehilangan sukma termenung beberapa saat lamanya, kemudian ia menghela napas sedih.

"Aaaai .. perhitungan manusia toh akhirnya tak dapat menangkan perhitungan takdir."

Terperangahlah sianak muda itu mendengar keluhan tersebut, dengan nada tercengang ia berseru:

"cianpwee, apa yang kau katakan??" "oooh...tidak tidak apa-apa, Nak Aku tak dapat berdiam

terlalu lama disini, selamat tinggal"

Han Siong Kie berdiri membungkam ditempat semula se- akan2 baru sadar dari suatu mimpi yang aneh, sesaat kemudian ia baru enjotkan badan dan meluncur kearah luar hutan.

Beberapa saat kemudian hutan belantara sudah ditinggalkan dan suara bentakan keras dan bentrokan senjata mana lapat2 mulai terdengar dari kejauhan-

Pemuda itu segera mempercepat gerakan badannya meluncur kearah gelanggang, sementara itu pertarungan diantara para jago persilatan masih berlangsung dengan sengitnya, korban yang terluka dan mati terkapar dimana2..

Pada saat itu Nenek bertoya emas sambil memegang toyanya sedang berdiri disisi kalangan.

seorang kakek tua bermuka lebar bertelinga besar sedang terlibat dalam suatu pertarungan yang amat seru melawan Dewa yang berjalan dalam tanah.

Kedua belah pihak sama2 merupakan jago lihay dunia persilatan, pertarungan yang sedang berlangsung waktu itu benar2 seru sekali hingga membuat orang jadi tertegun dan berdiri menjublak.

Desiran angin puyuh disertai gulungan pasir dan debu beterbangan diseluruh angkasa, begitu tajam serangan2 yang mereka lancarkan sehingga membuat para jago yang mengikuti jalannya pertarungan darijarak lima tombakpun merasakan tajamnya desiran angin pukulan tersebut.

Tiba2.. Nenek bertoya emas menghentakkan toyanya keatas tanah, kemudian terjunkan diri kedalam gelanggang pertarungan, bersama sama dengan kakek bermuka lebar bertelinga besar ia mengerubuti Dewa berjalan dalam tanah habis2an- Berbicara tentang ilmu silat, kepandaian yang dimiliki Dewa berjalan dalam tanah seimbang dengan kepandaian kakek bermuka lebar bertelinga besar itu,jika dibandingkan dengan kepandaian Kim ciang Popo atau nenek bertoya emas maka kepandaian mereka setingkat lebih tinggi, bila satu lawan satu tentu saja keadaan seimbang, tapi setelah main kerubut maka situasi dalam gelanggang pertarungan pun kembali mengalami perubahan besar.

Nenek bertoya emas sangat benci kepada Dewa berjalan dalam tanah setelah menyergap dari samping, semua serangan yang dilepaskan olehnya merupakan serangan2 keji yang luar biasa dahsyatnya.

Dalam waktu singkat Dewa berjalan dalam tanah terdesak pada posisi dibawah angin.

Tiga puluh gebrakan kemudian, Dewa berjalan dalam tanah telah terancam oleh bahaya, ia mulai terdesak hebat dan tak mampu membela diri, setiap saat kemungkinan besar jiwanya terancam.

Pada saat itulah Nenek bertoya emas dengan nada mengejek segera menyindir:

"Hei orang cebol katanya kamu lihay? kenapa tak becus begitu...?? kalau engkau bersedia serahkan kitab pusaka Hud jiu Poo pit itu kepadaku, maka urusan diantara kita mudah dirundingkan"

"oei Ciu Kiok" seru Dewa berjalan dalam tanah dengan nafas tersengkal2 " engkau benar2 tak tahu malu, hutang ini dikemudian hari pasti akan kutagih sendiri kepadamu"

"Huuhh... cebol, pentang dulu matamu lebar2 dan coba lihat dulu, apakah engkau mampu untuk meloloskan diri dari kurungan kami. ..???"

"Hmm siapa bilang tak mampu???"

"Kalau begitu, lihat saja bagaimana hasilnya nanti." Dalampada itu, kakek tua bermuka lebar bertelinga besar sekaligus telah melancarkan dua puluh empat buah serangan berantai yang memaksa Dewa berjalan dalam tanah sekali lagi terdesak mundur berulang kali.

Menggunakan kesempatan yang sangat baik itulah, Nenek bertoya emas segera membentak keras, toya emasnya membentuk selapis tembok emas yang amat rapat menyumbat mati jalan mundur Dewa berjalan dalam tanah

Dalam keadaan demikian, asal Dewa berjalan dalam tanah mundur dua langsah lagi kebelakang, niscaya tubuhnya akan menumbuk diatas dinding emas tersebut.

Tiba2 suara benturan keras yang amat memekikan telinga berkumandang, dari tengah udara bayangan manusia saling berpisah satu sama lainnya dan cahaya emaspun seketika lenyap tak berbekas dari pandangan..

Perawakan badan Dewa berjalan dalam tanah yang dasarnya sudah gemuk lagi cebol kini telah menggembang hingga bulat bagaikan sebuah bola udara.

sementara nenek bertoya emas dan kakek bermuka lebar bertelinga besar berdiri kurang lebih satu tombak dihadapannya dengan muka terkesiap bercampur ngeri.

Dari antara jago lihay yang hadir dalam gelanggang, segera terdengarlah ada orang yang menjerit kaget:

"Aaah ilmu sakti Tee tan-kang"

Ilmu sakti Dewa berjalan dalam tanah yang tak pernah digunakan selamanya. sekonyong2..

Sesosok bayangan manusia bagaikan burung elang menyambar turun ketengah gelanggang dengan kecepatan bagaikan sambaran petir.

"Malaikat panyakitan. " "Mala ikat penyakitan. " Jeritan2 kaget berkumandang diantara para jago persilatan, sasaran utama mereka yang hampir saja terlupakan ini ternyata muncul kembali ditengah gelanggang dalam kondisi segar, peristiwa ini benar2 berada diluar dugaan setiap orang.

-00d000w00-

BAB 30

ADA SATU hal yang tidak dimengerti oleh para jago persilatan, bukankah Malaikat penyakitan sudah kena dihajar oleh hantaman toya emas Kim ciang Popo sehingga luka parah? kenapa saat ini dia bisa munculkan diri dengan gorakan tubuh yang begitu cepat hingga menggidikkan hati?

Tentu saja, diantara para jago persilatan itu Kim ciang Popo lah yang merasa paling terperanjat dan bergidik.

Ketika musuh besar saling berjumpa muka, sorot mata kedua belah pihak sama2 berubah jadi merah berapi2.

Begitu mencapai permukaan tanah, dengan sorot mata yang tajam laksana kilat Han Siong Kie menatap wajah Kim ciang Popo tanpa berkedip. membuat nenek itu jadi merinding dan bulu kuduknya tanpa terasa pada bangun berdiri

Benarkah iblis kecil bermuka penyakitan yang berada dihadapannya sama sekali tak becus dalam ilmu silat seperti apa yang dialaminya belum lama berselang? atau mungkin ia sengaja sedang ber-pura2 berbuat begitu untuk mengibuli pandangan orang banyak terhadap dirinya??

Dalam pada itu Dewa berjalan dalam tanah telah tarik kembali ilmu sakti Tee tan kangnya, sambil picingkan matanya mengawasi ahli waris dari iblis diantara iblis itu dalam hati kecilnya diam2 ia mengambil pertimbangan, haruskah tinggalkan tempat ini? atau.. Suasana ditengah gelanggang seketika berubah jadi sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun

setelah lama sekali menatap wajah Nenek bertoya emas tanpa berkedip. dengan suara dingin ia menegur: "Bawa kemari"

"Apanya yang bawa kemari??" seru nenek bertoya emas pura2 tak mengerti.

" Nenek siluman, engkau tak usah berlagak pilon dihadapanku, ayoh bawa kemari".

seruan 'nenek siluman' yang bernada tak sedap didengar itu kontan membuat paras muka nenek bertoya emas yang pada dasarnya sudah jelek makin nampak jelek barupada kali ini ada orang berani memaki kejelekannya tepat dihadapan mukanya.

Begitu marah dan geramnya nenak tua itu sehingga sambil tertawa seram ia berseru:

"Bocah bangsat kemplangan toya ku tadi tidak berhasil mengirim engkau pulang ke rumah nenekmu sekarang.."

Belum habis ia berkata secepat sambaran petir Han song Kie telah meluncur kedepan dan tahu2 sudah kembali ketempat semula, dalam genggamannya kini telah bertambah dengan sejenis benda dan benda itu bukan lain adalah toya emas senjata andalan dari nenek bertoya emas tersebut.

Ditengah jeritan kaget yang berkumandang memecahkan kesunyian dengan hati terperanjat dia pecah nyali secara beruntun nenek bertoya emas mundur tiga langkah lebar ke belakang.

Demontrasi kepandaian sakti yang dilakukan Han Siong Kie ini dengan cepat membuat gempar seluruh gelanggang, paras muka semua jago persilatan yang hadir disitu sama2 berubah hebat, diam2 hati mereka terasa amat tercekat. sekali lagi dengan suara yang dingin dan amat ketus Han Siong Kie menegur: "sebetulnya engkau mau serahkan kepadaku atau tidak??"

Bagaimanapun juga nenek bertoya emas adalah seorang jago persilatan yang sudah lama tersohor akan kelihayannya dikolong langit, sudah tentu ia tak mau menelan penghinaan tersebut dengan begitu saja, dengan muka merah membara karena gusar ia membentak keras: "Bocah bangsat, rupanya engkau pingin mampus???"

sepasang telapak disilangkan satu sama lainnya, kemudian badannya menerjang ke depan sambil melancarkan serangan.

Han Siong Kie masih teringat terus dengan dendam sebuah pukulan toyanya, melihat datangnya serangan tersebut, ia segera mendengus dingin.

"Hmm sebuah pukulan toya dibalas dengan sebuah pukulan toya, itu baru dinamakan adil"

Cahaya emas berkelebat lewat, diiringi jeritan kesakitan yang mengerikan, sambil muntah darah segar tubuh Nenek bertoya emas mencelat sejauh tiga tombak dari tempat semula.

Jeritan kaget bergema diseluruh kalangan, setiap jago merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri

Dengan tenaga dalam yang dimiliki Kim ciang popo, ternyata ia tak mampu menahan sebuah seranganpun dari musuhnya, kepandaian ampuh semacam ini benar2 membuat hati orang terkesiap. mungkin dalam gelanggang saat ini tak seorang manusiapun yang merupakan tandingannya .

Dengan sorot mata memancarkan kebengisan selangkah demi selangkah Han Siong Kie berjalan menghampiri nenek bertoya emas yang terkapar diatas tanah, langkah kakinya yang berbunyi gemirisik menimbulkan napsu membunuh yang makin lama semakin tebal, begitu tegang suasananya membuat setiap ortang terpukau dan berdiri menjublak.

Dengan sekuat tenaga Nenek bertoya emas berusaha untuk meronta bangun dari atas tanah tapi baru bangkit setengah jalan dengan lemas ia roboh kembali diatas tanah, hal ini menunjukkan bahwa luka dalam yang di derita olehnya cukup parah.

suasana dalam gelanggang tercekat dalam keseraman dan kengerian, hawa nafsu membunuh menyelimuti seluruh udara membuat jantung semua orang berdebar keras.

Tiba2 Dewa berjalan dalam tanah yang gemuk dan cebol itu meloncat maju kedepan dengan suara keras ia berteriak:

"Hei bocah muda benda yang kau inginkan berada ditanganku."

sambil berkata dia ambil keluar sarung tangan Hud jiu Poo pit itu kemudian di acungkan keudara setelah itu buru2 benda itu dimasukan kedalam sakunya.

Dengan cepat Han song Kie putar badan, toya emas yang berada dalam gengamannya dibuang keatas tanah.

TindakanDewa berjalan dalam tanah yang ksatria dan jantan ini mendapatpujian dari setiap jago yang hadir digelanggang, sebab dengan perbuatannya itu dia tidak kehilangan jiwa jantan seorang jago persilatan, sebab justru dengan perbuatannya itu maka dengan selembar jiwa dari nenek bertoya emas berhasil diselamatkan.

Dengan berlangsungnya peristiwa ini, dengan cepat memandang pula tujuan semula dari kehadiran jago persilatan ditempat itu.

Mula pertama tampaklah kakek bermuka lebar bertelinga besar itu menggeserkan tubuhnya kesisi Dewa berjalan dalam tanah, diikuti semua jago persilatan yang berada disekeliling tempat itupun berbareng maju satu tombak kedepan, dengan begitu gelanggangpun semakin diperciut hingga empat tombak belaka luasnya. suatu pertempuran sengit rupanya segera akan berlangsung..

Dengan sorot mata yang tajam bagaikan sambaran kilat, Han Siong Kie menyapu sekejap seluruh gelanggang, kemudian dengan nada dingin tegurnya kepada dua orang yang berada dihadapannya:

"siapakah kalian berdua ??"

"Aku adalah Dewa berjalan dalam tanah, bocah muda engkau pernah mendengar nama ku?" Han Siong Kie menggeleng.

"Belum pernah kudengar nama itu" katanya, sorot matanya segera dialihkan kearah kakek bermuka lebar bertelinga besar tadi.

sebelum buka suara orang itu sudah memperkenalkan diri lebih dahulu: "Aku adalah Heng sang Pedagang pejalan kaki Ku It Hui..."

"Hmm baru pertama kali ini kudengar nama mu itu"

Mendengar ejekan tersebut baik Dewa berjalan dalam tanah maupun Pedagang perjalan kaki Ku It Hui sama2 tertawa dingin tiada hentinya.

sekali lagi Han Siong Kie maju beberapa langkah kedepan sambil menatap wajah Dewa berjalan dalam tanah tajam2 serunya:

"Benda itu toh berada ditanganmu ayoh cepat serahkan keluar" Dewa berjalan dalam tanah tertawa seram:

"Heeehh...heehhh...heehhh... bocah muda, kenapa tidak kau tanyakan dulu kepada semua sahabat yang hadir dalam gelanggang pada saat ini, apakah mereka setuju kalau kuserahkan kembali benda itu kepadamu atau tidak??" Han Siong Kie segera naik darah, dengan muka merah membara ia mendengus dingin. "Hmm? sebenarnya engkau mau serahkan kembali benda itu kepadaku atau tidak??"

"Bukannya tak mau, cuma aku tak dapat berbuat demikian" "Heeebh... heeehh heeehhh kalau memang begitu, jangan

salahkan kalau aku tak akan berlaku sungkan2 lagi terhadap

dirimu"

Begitu ucapan terakhir diutarakan keluar sepasang telapaknya disertai tenaga dalam yang luar biasa dahsyatnya langsung membacok badan Dewa berjalan dalam tanah.

Menyaksikan datangnya ancaman tersebut, hampir pada saat yang bersamaan Dewa berjalan dalam tanah serta Pedagang pejalan kaki Ku It Hui melancarkan serangan secara berbareng untuk menyambut datangnya ancaman tersebut.

"Blammm" bentrokan dahsyat yang amat memekikan telinga berkumandang di seluruh angkasa, Dewa berjalan dalam tanah serta Pedagang berjalan kaki Ku It Hui sama- sama tergentar hingga mencelat sejauh satu tombak dari tempat semula itupun badan mereka masih sempoyongan tiada hentinya.

Han Siong Kie tak sudi memberi kesempatan lebih jauh kepada musuhnya untuk berganti napas tubuhnya sekali lagi menerjang kedepan telapak kirinya menghajar tubuh Pedagang berjalan kaki Ku It Hui sedangkan tangan kanannya dengan lima jari dipentangkan bagaikan kuku garuda langsung mencengkeram Dewa berjalan dalam tanah.

Dalam satu jurus terbagi menjadi dua gerakan yang secara terpisah mengancam dua orang jago lihay dari dunia persilatan bukan saja pukulan yang dilepaskan berat bagaikan tindihan sebuah bukit karang, cengkeramanpun cepat lakana kilat. Pedagang pejalan kaki Ku It Hui segera melayang delapan depa dari permukaan tanah, ia melepaskan sebuah serangan balasan yang tidak kalah hebatnya..

sedangkan Dewa berjalan dalam tanah menghindar kesamping dengan suatu gerakan yang cekatan ia meloloskan diri dari sambaran kilat tersebut..

Hampir pada saat yang bersamaan, delapan buah pedang pusaka disertai delapan buah desiran angin tajam menyergap tubuh Han Siong Kie dari arah belakang.

Dengan sigap Han Siong Kie meluncur ke udara dan melepaskan diri dari ancaman angin pukulan serta desiran pedang lawan, ketika dia berpaling kebelakang maka terlihatlah orang yang menyergap tubuhnya dengan serangan delapan bilah pedang tadi ternyata bukan lain adalah delapan orang pria setengah baya yang memakai jubah warna biru.

Dengan pandangan mata yang tajam pemuda itu menyapu sekejap wajah kedelapan orang jago pedang baju biru tersebut, lalu dengan suara adem tegurnya: "siapakah kalian berdelapan? sebutkan dahulu siapa nama kamu semua.."

"Kami adalah delapan pendekar pedang dari kota Tiong ciu"jawab salah seorang diantara delapan jago pedang itu dengan suara ketus dan dingin.

"Apa maksud kalian datang kemari?"

"Tujuan kedatangan semua umat persilatan yang berkumpul dalam gelanggang saat ini adalah sama yakni menuntut balas serta menagih hutang2 lama dari Mo tiong ci- mo."

Han Siong Kie terperangah dibuatnya, dari sini jelas sudah memperlihatkan bahwa musuh besar dari gurunya tersebar dikolong langit yang diketahui olehnya adalah jago2 dari partai Khong tong, gereja siau lim si serta Thian lam pay ditambah pula jago2 persilatan yang hadir dalam gelanggang dewasa ini...

Itu berarti dalam perjalanannya dikemudian hari ia telah memikul suatu tanggung jawab yang sangat berat pembalasan dendam pasti akan ditemuinya selama ini tapi dendam sakit hati apakah yang terikat diantara mereka? dia sendiripun tak tahu.

Berpikir sampai disitu diam2 dia ambil keputusan untuk merampas kembali kitab pusaka Hud jiu poo-pit lebih dahulu kemudian pulang ketempat tinggal gurunya untuk memberi laporan sebab batas waktu sepuluh hari sudah bakal habis, ia tak ingin gurunya mati dengan membawa penyesalan hingga gurunya mati tak pejamkan mata. setelah ambil keputusan dihati, dengan suara dingin segera katanya lantang:

"Pada waktu ini aku tak punya banyak waktu luang, dikemudian hari kalian pasti akan memperoleh penyelesaian yang adil dari persengketaan ini."

"Malaikat penyakitan, omong kosong tak ada gunanya, kau anggap dengan mengucapkan kata2 tersebut maka urusan dapat diselesaikan dengan begitu saja??"

"Lalu apa yang kalian kehendaki??"

"Katakanlah tempat persembunyian dari iblis diantara iblis" "Andaikata aku tak mau bicara???"

Paras muka delapan pendekar pedang dari kota Tiong- ciu berubah hebat, pemimpin mereka segera berseru dengan nada kasar:

"Hmm aku rasa engkau tak mungkin bisa membungkam terus menerus"

"Huuhh... dengan andalkan kalian beberapa orang hendak paksa aku untuk bicara?, jangan mimpi disiang hari bolong" Dihina dan dimaki dengan kata kata yang begitu memandang rendah terhadap mereka, delapan pendekar pedang dari kota Tiong ciu tak mampu menahan hawa amarahnya lagi, ditengah bentakan keras delapan bilah pedang dengan menciptakan selapis cahaya tajam yang berkilauan langsung mengurung badan Han Siong Kie, hawa pedang mendesir dan memancar keempat penjuru membuat para jago yang berada lima tombak disekitar tempat itupun ikut merasakan desiran angin tajam tadi.

Dikolong langit tidak terlalu banyak manusia yang mampu menghadapi serangan gabungan dari delapan pendekar pedang itu sekalipun belum sampai tarap tiada tandingan namun jarang sekali ada jago yang berani beradu kepandaian dengan mereka berdelapan sekaligus.

Menyaksikan datangnya ancaman yang begitu dahsyat, diam2 Han Siong Kie merasa amat tercekat hatinya, sepasang telapak diayun berulang kali dan sekaligus melancarkan lima buah serangan berantai.

Kelima buah pukulan yang dilepaskan itu cepat sekali hingga se-akan2 merupakan suatu penggabungan satu jurus serangan belaka, bukan begitu saja bahkan tenaga murni yang disertakan dalam serangan tersebut merupakan tenaga hasil latihan selama dua ratus tahun yang maha dahsyat, bisa dibayangkan betapa dahsyat dan ngerinya serangan maut itu.

Dikala para jago persilatan yang hadir ditempat itu masih dibikin bingung dan tercengang oleh situasi yang mengerikan itu

"Bluumm .." suatu ledakan dahsyat yang sangat memekikkan telinga bergelegar diangkasa, jeritan ngeri berkumandang saling susul menyusul, tiga sosok bayangan manusia mencelat ketengah udara dan lima kilatan cahaya tajam menggaris ditengah angkasa. Suasana jadi gaduh dan kacau balau, bayangan manusia terpencar kesana kemari diantara delapan pendekar pedang dari Tiong- ciu, lima orang jago diantaranya kehilangan senjata, sedang tiga orang lainnya terpental sejauh dua tombak lebih dari tempat semula.

Paras muka mereka semua pucat pias bagaikan mayat, tubuh mereka gemetar keras dan untuk beberapa saat lamanya tak seorangpun diantara mereka yang buka suara ataupun meugucapkan sepatah kata.

Berhasil dengan serangannya yang pertama, Han Siong Kie tak mau buang tempo lebih jauh, secepat sambaran kilat ia menerjang kearah Dewa berjalan dalam tanah.

Pedagang pejalan kaki Ku It Hui yang berada disampingnya tanpa mengucapkan sepatah katapun tiba2 melancarkan sebuah pukulan yang mengerikan.

Han Siong Kie tak menduga kalau Pedagang pejalan kaki Ku It Hui bisa menyergap dari sisi gelanggang, waktu tidak mengijinkan baginya untuk berpikir panjang, berada ditengah udara tubuhnya segera berputar kearah mana berasalnya serangan itu, sepasang telapak didorong kedepan menyambut datangnya ancaman tersebut.

"Blaamm.." benturan nyaring kembali bergelegar diangkasa, Pedagang pejalan kaki Ku It Hui menjerit kesakitan, badannya mencelat sejauh empat tombak dari tempat semula dan terkapar diantara kerumunan para jago lainnya.

Dewa berjalan dalam tanah mengerti kalau gelagat tidak menguntungkan baginya, dalam detik terakhir itulah ia himpun tenaga sakti Tee tan kang miliknya, sekujur badan jadi bergelembung bagaikan bola angin.

Han Siong Kie yang menyaksikan keadaan aneh tersebut jadi tertegun untuk beberapa saat lamanya. Dewa berjalan dalam tanah menggeram aneh sepasang telapaknya didorong keluar.

"Blaaammm " suatu ledakan hebat dahsyat meluncur kedepan langsung menghantam tubuh Han Siong Kie.

Sianak muda itu amat terperanjat, sepasang telapaknya segera didorong kedepan untuk menyambut datangnya ancaman itu, ketika dua jenis tenaga bertemu satu sama lainnya segera terjadi suatu ledakan dahsyat yang memekikkan telinga kedua belah pihak sama tergentar mundur satu langkah kebelakang sementara sisa2 tenaga benturan itu bagaikan gulungan ombak segera memancar keempat penjuru.

Pada waktu itulah hujan senjata rahasia yang amat rapat bagaikan hujan gerimis tersebar diseluruh angkasa mengurung sekujur badan Han Siong Kie.

Pemuda itu membentak keras, sepasang telapak didorong kedepan secara beruntun, gelombang hawa murni selapis demi selapis memancar keluar dan mementalkan senjata2 rahasia yang mengancam kearahnya itu, tapi senjata rahasia tersebut berhamburan tiada hentinya bagaikan hujan gerimis, membuat siapapun yang memandang jadi terkesiap dan bergidik rasanya.

Menggunakan kesempatan yang sangat baik itulah delapan pendekar prdang dari kota Tiongciu mengundurkan diri dari gelanggang demikian juga dengan Dewa berjalan dalam tanah serta Pedagang pejalan kaki Ku It Hui kedua jago lihay ttu cepat2 mundur kebelakang. 

Diantara senjata rahasia yang berhamburan diangkasa terdapat pula jarum2 halus yang sangat beracun, serangan lembut seperti itu terang tak mungkin ditangkis dengan pukulan telapak, untuk beberapa saat Han Siong Kie dibikin kalang kabut dan kelabakan tiada hentinya, kejadian ini dengan cepat memancing timbulnya hawa napsu membunuh dalam hatinya.

Sepasang telapak berputar membentuk lingkaran, senjata rahasia yang berhamburan segera terpental keempat penjuru, kemudian sepuluh jari tangannya tiba2 dibentangkan lebar2.

sepuluh gulung desiran angin tajam, secepat sambaran kilat memancarkan keluar..

Ilmu jari Tong kim ci adalah sejenis ilmu sentilan yang luar biasa dahsyatnya, emas dalam jarak lima tombak pun akan berlubang jika termakan oleh serangan tersebut.

Jeritan ngeri yang menyayatkan hati bergema saling susul menyusul, begitu seramnya hingga menggidikkan hati semua orang.

seluruh jari berkelebat kesana kemari tiada hentinya, setiap penjuru dijelajahi secara merata dan tak ada yang kelewatan.

Jeritan ngeri berkumandang saling susul menyusul, seluruh hutan belantara itu tercekam dalam suasana yang betul2 mengerikan, se-akan2 dunia persilatan sedang menghadari hari kiamat.

Hujan senjata rahasia segera terhenti, sementara jeritan ngeri makin lama semakin banyak dan makin melengking..

Diatas permukaan tanah tertambah dengan mayat2 yang bergelimpangan disana sini, kurang lebih lima puluh sosok mayat terkapar di atas tanah dalam keadaan yang mengerikan, dada atau batok kepala mereka berlubang, darah kental mengucur keluar tiada hentinya. 

Pembantaian yang keji seperti ini, boleh dibilang jauh lebih mengerikan danjauh lebih menyeramkan daripada tindak tanduk Mo tiong ci mo dimasa lampau.

Semua jago persilatan yang hadir digelanggang tercekat semua dibuatnya, paras muka mereka pucat pias bagaikan mayat dan sukma seraya melayang tinggalkan raganya karena ketakutan.

Bau amis darah.. kebrutalan... kekejian menyelimuti seluruh gelanggang.

-oood0wooo-