Tengkorak Maut Jilid 13

 
Jilid 13

DENGAN kepandaian sakti yang dimiliki pemilik benteng maut, asal jari tangannya dikerahkan sedikit tenaga saja, pemuda itu pasti mampus.

sebelum Han Siong Kie mengucapkan sesuatu, terdengar pemilik benteng maut berkata kembali.

"Bocah muda, engkau adalah orang pertama yang dapat menyarangkan pukulannya secara telak dibadanku, meskipun engkau kalah tapi aku akan menganggap pertarungan yang kedua ini berakhir dengan seri"

Han Siong Kie merasakan hatinya amat sedih dan sakit bagaikan di iris2 dengan pisau belati, rasa putus asa, kecewa muncul dari dasar hatinya. Kendatipun begitu, ia masih tetap ngotot serunya: "Menang yaa menang, kalah yaa kalah, kau tak usah pura2 berlagak baik hati kepadaku ”

"Hmm!" pemilik benteng maut mendengus dingin "sekarang kita sampai pada jurus yang terakhir engkau masih mempunyai kesempatan sebesar sepertiga!"

Tiba2 Han Siong Kie teringat kembali akan ilmu jari Tong kim ci yang diyakinkan gurunya Iblis diantara iblis selama empat puluh tahun lamanya tanpa terasa semangatnya bangkit kembali.

Ilmu jarj Tong-kim ci adalah sejenis kepandaian yang sangat ampuh, setiap benda yang berada dalam jarak lima tombak jika terkena serangan itu pasti akan tembus dan hancur.

Pikirnya dalam hati.

“Kalau aku sisipkan ilmu jari Tong-kim ci dalam seranganku yang tak terduga olehnya kendati pun tengkorak maut memiliki tubuh yang kebal serangan pasti ia tak akan lolos dari serangan mautku ini.”

Beberapa saat kemudian, pikiran lain berkelebat pula dalam benaknya:

“Tapi. . perbuatan itu bukan perbuatan dari seorang lelaki sejati yang pantas dipuji sebagai seorang manusia dari golongan lurus aku tak boleh menyergap orang secara menggelap, aku harus berterus terang dan bersikep jantan”

Berpikir sampai disitu dengan nada serius ia lantas bertanya:

“Poocu, apakah engkau andalkan ilmu Kim kong sinkang untuk melindungi badanmu?”

“Dugaanmu tepat sekali!” “Aku hendak mengeluarkan sejenis kepandaian ilmu jari yang sangat ampuh. aku harap poocu suka bertindak hati- hati”

“Haaahh haaahh haaahh, Ilmu jari apakah itu? coba katakana!"

“Ilmu jari Tong kim ci!”

Tiba2 pemilik benteng maut merasakan sekujur badannya gemetar keras, dengan nada terperanjat ia mengulangi:

“Apa kau bilang ? ilmu jari Tong kim ci ?” “Tepat sekaii.”

"Haaahh haaahh hhaaahh sungeuh tak nyana empat puluh tabun kemudian Iblis di antara iblis berhasil melatih ilmu jari yang telah lama lenyap dari dunia persilatan itu kejadian ini sama sekali diluar dugaanku, bagus..bagusss..bagus..bagus, aku akan menyambut serangan ilmu jari Tong kim cimu itu"

"Kalau begitu ber hati2lah poocu" "Tak usah kuatir seranglah"

Han Siong Kie segera mengayunkan telapak tangan kanannya, segulung desiran angin tajam laksana kilat meluncur kedepan dan menghajar pemilik benteng maut. Tengkorak maut sama sekali tidak menghindar ataupun berkelit dari serangan tersebut.

"Duukkk" benturan nyaring bergema di angkasa tubuh pemilik benteng maut mundur satu langkah kebelakang dan mulutnya memperdengarkan suara dengusan tertahan-

Han Siong Kie merasakan sekujur badannya dingin bermandikan keringat, diluar dugaan ilmu jari Tong kim-ci yang paling di andalkan ternyata tidak mempan untuk merobohkan lawannya. Lama... lama sekali.. pemilik benteng maut baru tertawa ter bahak2 "Haahh haahhh haahhh bocah muda, kali ini anggap engkau yang menang"

"Tapi... tapi poocu toh tidak menghindar ataupun melancarkan serangan balasan?" seru Han Siong Kie agak sangsi.

"Memang benar aku tidak menghindar atau membalas, tapi serangan jarimu itu hampir saja membuyarkan tenaga sakti pelindung tubuhku, dalam kolong langit dewasa ini kecuali engkau seorang, mungkin tiada orang lain yang mampu melakukan hal seperti ini, oleh sebab itulah engkau ku anggap menang"

Han Siong Kie merasa sedih sekali, tentu saja keadaan seperti itu tak bisa dikatakan sebagai suatu kemenangan, bagaimana caranya ia ceritakan kejadian ini kepada gurunya..

Walaupun begitu, diam2 pemuda itu masih bersyukur karena pihak lawan hanya akan beradu tiga gebrakan belaka, dan di dalam pertarungan tersebut dialah yang berada di pihak pemenang, dus berarti dia mempunyai kesempatan untuk keluar dari benteng itu, jika ia bisa lolos dari benteng itu berarti pula dia masih mempunyai kesempatan untuk menuntut balas.

Pada saat itulah.. tiba-tiba pintu besi sebelah kanan memperdengarkan suara gemerincingan yang amat nyaring, suara ramai yang muncul dari sustu tempat ibarat neraka ini kedengaran seram sekali, sebelum pemuda itu berbuat sesuatu. kembali berkumandang suara gelak tertawa yang mendirikan bulu roma.

Dengan hati terkesiap Han Siong Kie memandang kearah pintu besi yang telah berkarat itu. dia ingin tahu manusia macam apakah yang telah memperdengarkan gelak tertawa seram itu. Dalam pada itu, pemilik benteng maut telah berpaling kearah pintu besi itu kemudian mengancam dengan suara berat :

"Hati2 kalau sampai kupunahkan seluruh ilmu silatmu!"

Gelak tertawa itu sama sekali tidak mereda, kurang lebih sepeminum teh kemudian orang itu baru berhenti tertawa dan berseru :

"Hey bocah muda, ditinjau dari nada suaramu aku yakin kalau usiamu belum melampaui dua puluh tahun. sungguh tak nyana pemilik benteng maut yang gagah perkasa telah mengaku kalah kepadamu, haahh haahh haahh peristiwa ini benar2 merupakan berita aneh yang belum pernah kujumpai selama puluhan tahun belakangan ini!"

Han Siong Kie tegurnya dengan cepat. "Siapa engkau?"

Sebelum orang yang berada diruangan batu itu sempat menjawab pemilik benteng maut sudah tertawa dingin tiada hentinya sambil berseru:

"Heee heehh heeehhh orang sbe Ko engkau telah melanggar psraturan benteng kami yang melarang setiap penghuni ditempat ini mengajak bicara dengan orang asing ilmu silatmu harus dipunahkan sama sekali”

Satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak Han Siong Kie pikirnya:

"Oooh rupanya orang yang ditawan ini sbe Ko tapi peraturan macam apa itu? masa cuma bicara sepatah dua patah kata dengan orang asing ilmu silatnya ia lantas dipunahkan? peraturan ini terlalu semena2 bukankah orang persilatan lebih baik dibunuh daripada dihina? peraturan ini sungguh teramat keji..."

Sementara itu terdengarlah orang yang berada dalam ruang batu itu telah berseru dengan suara keras: "Tengkorak maut aku Ko Sun Ki sudah delapan belas tahun lamanya dikurung di tempat ini masa.."

Sekujur badan Han Siong Kie bergetar keras setelah mendengar nama orang itu bagaikan kena listrik secara beruntun ia mundur tiga langkah kebelakang.

"Ko su Ki Ko su Ki "serunya berulang kali "engkau adalah

malaikat hawa panas Ko su Ki??"

"Haahhh... haaahhh haaahh tebakanmu tepat sekali hey

bocah cilik, tebakanmu sangat tepat, aku memang salah satu diantara sepasang malaikat panas dingin yang disebut orang malaikat panas Ko su Ki sungguh tak nyana orang persilatan masih mengenal nama serta julukanku ini"

Tanpa sadar Han Siong Kie teringat kembali akan perbuatan2 kejam yang dilakukan malaikat dingin Mo siu Ing selama ini karena suaminya lenyap tak berbekas ia telah limpahkan semua kemarahannya pada umat persilatan, setiap tahun ia harus membantai seratus orang jago persilatan untuk melampiaskan amarah dan dendamnya itu.

Disamping kesemuanya itu, pemuda tersebutpun teringat kembali akan janjinya dengan Malaikat hawa dingin Mo siu Ing, andaikata ia dapat mencari tahu jejak dari Malaikat hawa panas Kosu Ki, maka dia akan menangkan sarung tangan pusaka Hud jiu poo pit yang sebelah lain-

Tak nyana apa yang semula dianggap sebagai suatu pekerjaan yang sangat berat, kini berhasil didapatkan dengan gampang, ternyata malaikat hawa panas Ko su Ki disekap dalam istana maut.

Saking emosi dan terpengaruh oleh keadaan, sekujur badan pemuda itu gemetar keras, ia tak tahu benarkah sarung tangan Hud jin Poo pit yang sebelah kiri masih berada dalam sakunya.. Tak tahan lagi ia berseru dengan suara keras: "Ko cianpwee, istrimu.."

"Tutup mulut" mendadak pemilik Benteng Maut membentak keras, suaranya amat dahsyat bagaikan guntur yang membelah bumi ditengah hari bolong membuat seluruh- ruangan bergetar keras dan pantulan suaranya memekikkan telinga.

"Kraaakk..! kraaakk..!" bunyi gemurutukan yang nyaring bergema tiada hentinya dari dalam ruangan batu itu tak terdengar suara dari Ko Su Ki lagi, jelas ada orang lain telah menggerakkan alat rahasia yang terpasang dalam ruang batu itu sehingga menggeserkan kedudukan malaikat hawa panas kearah sebelah lain.

Menyaksikan keadaan tersebut, dengan cepat Han Siong Kie putar badan, kemudian serunya kepada pemilik benreng maut :

"Poocu, apa yang telah kau lakukan terhadap dirinya?” Pemilik benteng maut tertawa seram tiada hentinya.

"Heehh..heehh..heehh . bocah muda, perbuatanmu itu sama artinya sedang menggali liang kubur buat diri sendiri!"

“Poocu. apa masudmu mengucapkan kata2 seperti itu?” tegur Han Siong Kie dengan hati bergetar keras.

“Engkau telah kehilangan hakmu untuk tinggalkan benteng ini dalam keadaan selamat”

“Kenapa musti begitu?”

“Sebab rahasia benteng kami selamanya tidak diijinkan untuk bocor kedalam dunia persilatan”

Hawa amarah segera berkobar dalam dada Han Siong Kie membuat paras mukanya berubah jadi merah padam, ia mendengus dingin. "Hmmm! apa yang hendak poocu lakukan terbadap diriku?" tantangnya kemudian.

“Akan kumusnahkan segenap ilmu silat yang kau miliki dan selama hidup disekap dalam istana ini.”

Sorot mata penuh kemarahan dan kebengisan terpancar keluar dari balik mata Han Siong Kie andaikata pihak lawan benar2 akan memusnahkan ilmu silat yang dimilikinya maka ia bersiap sedia untuk melakukan perlawanen hingga titik darah penghabisan.

00000dOw00000

BAB 27

DENGAN langkah yang tegap dan sikap yang gagah, sianak muda itu maju kedepan beberapa langkah, serunya dengan penuh kegemasan-

"Jadi poocu telah mengambil keputusan untuk menghadapi diriku dengan cara tersebut??"

"Hmm setiap perkataan yang kuucapkan keluar berat laksana bukit karang, selamanya aku tak akan merubah perkataan yang telah diucapkan keluar"

"Kalau begitu akupun akan beritahu kepada mu, jangan mimpi perbuatanmu itu dapat terlaksana"

"Heeeh heehh heeehhh" pemilik benteng maut tertawa seram tiada hentinya "buat aku tengkorak maut, tak ada perbuatan yang tak mungkin bisa kukerjakan"

Han Siong Kie menggertak giginya kencang2, segenap tenaga dalam yang dimilikinya dihimpun menjadi satu dan siap untuk melakukan pertarungan terakhir yang akan menentukan mati hidupnya .... "Bocah muda, engkau masih coba akan melewati?? " jengek pemilik benteng maut sambil mendengus dingin.

"Tepat sekali selama hayat dikandung badan aku akan melakukan perlawanan yang gigih hingga titik darah penghabisan-"

"Kau anggap masih ada kesempatan bagimu untuk melakukan kesemuanya itu ?"

"Aku tak sudi mandah dibunuh dan dijagai orang tanpa melakukan perlawanan"

"Kalau memang engkau merasa punya kemampuan, apa salahnya kalau mencobanya lebih dahulu??"

Begitu ucapan terakhir meluncur keluar dari mulutnya, Pemilik Benteng maut segera menggosokkan sepasang telapaknya satu dengan yang lain, kemudian didorong kearah depan-

segumpal angin pukulan yang sangat tajam dan aneh segera meluncur keluar dengan dahsyatnya.

Han Siong Kie tak berani bertindak gegabah menghadapi serangan musuh yang begitu dahsyat, tatkala pihak lawan melepaskan pukulan mautnya, diapun segara ayunkan sepasang telapaknya kearah depan-.

Gulungan angin pukulan yang tajam dengan cepat meluncur kearah depan, namun sewaktu bertemu dengan gulungan angin aneh yang enteng seakan2 tiada benda itu ternyata ibarat saiju bertemu dengan api, setelah lenyap tak berbekas..

Si anak muda itu jadi amat terperanjat hingga merasa sukma melayang tinggalkan raganya, dari serangan telapak ia segera merubah ilmu jari sakti Tong kim ci untuk menghajar mundur serangan lawan-. siapa tahu tenaga murninya sama sekali tak dapat dihimpun kembali, pemuda itu rasakan badannya lumpuh total.

Sementara itu dari balik sepasang telapak Pemilik benteng maut yang didorong keluar, gulungan angin serangan yang aneh masih meluncur keluar tiada hentinya.

Rasa kaget dan terkesiap yang dirasakan Han Siong Kie saat itu benar2 sukar dilukiskan dengan kata2, dalam hati kecilnya ia mengeluh:

"Habis sudah riwayatku entah ilmu aneh apa yang

digunakan pihak lawan?? kenapa tenaga murniku tak dapat dihimpun kembali??"

Tapi sianak muda itu tak mau menyerah kalah dengan begitu saja, sekali dua kali secara beruntun ia telah mencoba sampai delapan kali banyaknya, akan tetapi hawa murninya masih tetap buyar dan sama sekali tidak dapat dihimpun kembali Akhirnya dengan lunglai dan putus asa ia turunkan

telapaknya kebawah.

Tiba2 satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia merasa pernah menjumpai ilmu sakti yang sangat aneh itu, belum lama berselang ia pernah mengalami nasib sama seperti hari ini dengan cepat berputar ia berpikir keras.

Akhirnya pemuda itu ingat, ketika berada diwilayah Liao hian tan pusat markas besar perkumpulan Thian che kau, ketua muda dari perkumpulan itu pernah menggunakan pula ilmu silat yang sangat aneh itu, membuat dia dalam waktu singkat mengalami kemacetan dalam pengerahan tenaga dalam, tapi itu hanya berlangsung sebentar saja untuk kemudian hawa murninya pulih kembali seperti sedia kala.

Waktu itu tenaga dalam yang dimilikinya hanya separuh dari apa yang dimiliki saat ini, dari sini dapat diketahui bahwa pengetahuan ketua muda perkumpulan Thian che- kau terhadap ilmu aneh tersebut masih cetek sekali, sedang pemilik benteng maut benar2 telah menguasahi segenap keampuhan ilmu tadi.

Tapi kenapa ketua muda perkumpulan Thian che kau bisa menggunakan pula kepandaian aneh itu.? jangan2 antara perkumpulannya dengan Benteng maut terikat hubungan yang erat? Kenangan lain yang memilukan hati, dengan cepat menyelinap kembali dalam benaknya..

Ibunya siang-go cantik ong cui Ing telah menerima sebuah pukulan dahsyatnya sebelum ia mendapat celaka, namun perempuan itu sama sekali tidak menderita luka apapun jua, jangan2 ilmu yang dipergunakan olehnya adalah ilmu Kim kong sinkang dari pemilik benteng maut?

Ditinjau dari kedua tanda tersebut dapatlah ditarik kesimpulan bahwa perkumpulan Thian che kau mempunyai ikatan hubungan yang erat dengan pemilik benteng maut.

Berpikir sampai disini dengan penuh emosi ia berseru: "Apa hubungan benteng maut dengan perkumpulan Thian

che kau?"

"Apa?? perkumpulan Thian che kau" seru pemilik benteng maut tercengang.

"Benar perkumpulan paling besar dikolong langit dan daya pengaruhnya melampaui perkumpulan serta partai2 lainnya"

"Belum pernah aku dengar yang dinamakan perkumpulan Thian che kau itu"

Han Siong Kie terperangah mendengar jawaban tersebut tapi dengan cepat la tertawa dingin tiada hentinya.

"Heeahh..heehh..heehh... bocah cilik dan kaum wanitapun kenal apa yang dinamakan perkumpulan Thian che kau, masa engkau sebagai pimpinan persilatan sama sekali tak kenal nama itu, omong kosong ucapan yang cuma bisa membohongi anak kecil" "Omong kosong..? HHmm aku bukan seorang manusia yang suka omong kosong, bocab muda kau anggap dengan mengada-ada pembicaraan maka engkau dapat meloloskan diri dengan menggunakan kesempatan itu? HHmm ... kalau engkau punya jalan pikiran semacam itu, maka terus terang kukatakan kepadamu, pikiran semacam itu hanya suatu impian disiang hari"

Pemilik benteng maut segera rentangkan sepasang telapaknya, jari tengah kiri dan kanannya di sentil kearah muka, dua desiran tajam laksana kilat meluncur kearah depan.

Dalam keadaan hawa murni yang sama sekali buyar, Han Siong Kie sama sekali tak mempunyai kemampuan untuk menangkis ataupun menghindarkan diri dari datangnya anca tersebut, ia rasakan badannya jadi kaku dan enam buah jalan darahnya tahu2 sudah tertotok semua hingga segenap hawa murninya buyar sama sekali.

Ditengah gelak tertawa yang membetot sukma, pemilik benteng maut enjotkan badan berlalu dari situ, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas.

Han Siong Kie segera merasakan tubuhnya seakan2 terjerumus kedalam sebuah jurang yang tiada tara dalamnya, sukma serasa melayang tinggalkan raganya, ia merasa tubuh kasar itu sudah bukan menjadi miliknya lagi, ia merasa hatinya tercekam dalam suasana yang berat.. ia merasakan pukulan batin yang keras..

Dalam suatu sentilan jari yang sangat ringan, Pemilik benteng maut telah membuyarkan tenaga dalam hasil latihan selama dua ratus tahun yang dimiliki olehnya..

Pemuda itu menjublak dengan mata terbelalak lebar, badannya mulai sempoyongan bagaikan orang mabuk.

Setelah tenaga dalamnya punah berarti semua harapan, budi, dendam, cinta dan segala perasaan hatinya ikut lenyap tak berbekas. Dua titik air mata tanpa terasa menetes keluar membasahi pipinya.. Lama.. lama sekali, ia baru berseru dengan nada serak:

"Tengkorak maut, hari kiamat bagimu tak akan terlalu jauh.. suatu saat pasti akan tiba saat sialmu itu.."

Pemuda itu temukan suaranya begitu lirih dan lemah, paling banter hanya bisa berkumandang sampai sepuluh tombak jauhnya dari tempat semula.

Pada saat itulah.. dari belakang tubuhnya berkumandang suara aneh yang mendirikan bulu roma, dengan kaku Han Siong Kie berpaling kebelakang, makhluk aneh setengah manusia setengah setan yang berambut panjang dan pernah ditemui sewaktu masuk kedalam benteng tadi tahu2 telah berdiri tiga langkah dihadapan mukanya.

Sorot matanya yang begitu dingin, menyeramkan dan membuat orang selama hidup tak dapat melupakannya kembali itu terpancar keluar lewat sela2 rambut dan menatap wajahnya tanpa berkedip.

Tanpa terasa pemuda itu kembali merasakan hatinya bergidik dan bulu romanya pada bangun berdiri, sorot mata yang terpancar keluar dari balik mata makhtuk aneh itu, sama sekali tiada pancaran hawa manusia barang sedikltpunjua.

Setelah menatap Han Siong Kie beberapa saat lamanya, mahluk aneh itu putar badan dan berjalan kearah ruang batu disisinya diruang malaikat hawa panas Ko Su Ki mula-mula disekap.

Ia membuka rantai besi didepan pintu, membuka pintu baja yang berat kemudian menggape kearah Han Siong Kie dan menuding kearah dalam ruangan batu itu..

Tentu saja Han Song Kie mengerti apa yang dimaksudkan makhluk aneh itu, ia akan dijadikan tawanan dalam benteng maut dan selamanya tinggal disana. Api kegusaran dan rasa dendam seketika berkobar dalam dadanya, ia tak menyangka kalau akhirnya dia bakal musnah ditangan musuh besar pembunuh keluarganya, dia ingin sekali membinasakan makhluk aneh itu kemudian musnahkan ruang batu dan akhirnya mencari tengkorak maut dan beradu jiwa dengan dirinya.

Namun sianak muda itu mengerti apa yang dibayangkan olehnya itu tak mungkin bisa dilaksanakan untuk selamanya sebab tenaga dalam yang ia miliki sama sekali telah punah.

Untuk kedua kalinya Makhluk aneh itu memberi tanda kepadanya, agar Han Siong Kie masuk kedalam ruangan.

Pemuda itu menggertak gigi kencang2, sorot matanya memancarlan api kegusaran dan rasa penasaran, sekujur badannya gemetar sangat keras.

Dengan perasaan putus asa ia menengadah memandang langit yang berwarna abu2, gumamnya seorang diri:

"Sungguh tak nyana aku bakal musnah dalam keadaan begini, dendam berdarah belum sempat kutuntut balas perintah guruku belum sempat kulaksanakan, sekalipun mati aku tak bakal mati dengan mata terpejam."

Belum habis dia bergumam, tubuhnya telah maju dengan sempoyongan, lengannya terasa jadi kencang dan sepasang kakinya sudah terangkat tinggalkan permukaan, bagaikan anak ayam disambar elang, tahu2 badannya sudah diangkat makhluk aneh itu dan dilemparkan kedalam ruang batu itu.

"Blaaamm.. badannya mencium tanah keras2, sekujur badannya terasa amat sakit bagaikan tulangnya sudah patah semua begitu terhempas keatas tanah pemuda itu sama sekali tak dapat berkutik lagi.

"Kraakk Kraakk " pintu baja tertutup rapat kemudian dikunci dari luar. seketika itu juga suasana dalam ruangan itu jadi gelap gulita, begitu gelapnya hingga susah untuk melihat kelima jari tangan sendiri, hawa lembab yang dingin dan menyayat badan menyelimuti seluruh ruangan membuat badan jadi sakit bagaikan ditusuk2 jarum.

Dengan tenang dan sama sekali tak berkutik ia berbaring diatas papan batu yang dingin dan keras, benaknya serasa kosong melompong tiada ingatan apapun juga.

Dalam waktu singkat, ia tak mempunyai pikiran lagi, ingatan apapun tak tersisa dalam benaknya, pemuda itu merasakan dirinya seolah2 sudah mati . Waktu telah kehilangan arti dan manfaatnya dalam ruang baja yang gelap itu.

Ketika matanya sudah biasa dengan kegelapan dan ia sudah dapat membedakan setiap benda yang ada disekelilingnya, kesadaran perlahan2 pulih kembali seperti sedia kala, pertama-tama ia saksikan lebar ruang batu itu tiga tombak. empat penjuru merupakan dinding batu yang keras kecuali itu tiada sesuatu apapun yang tertinggal disana.

Hal ini membuktikan bahwa malaikat hawa panas Ko su Ki telah dipindahkan ketempat lain, bagaimanakah nasibnya sukar di duga dan sekarang ia telah menggantikan tempat kedudukannya itu serta menjadi penghuni tetap dalam ruang batu itu.

Malaikat hawa panas Ko su Ki sudah di sekap selama delapan belas tahun lamanya disana tapi tenaga dalamnya sama sekali belum punah, ia masih ada harapan untuk bisa meloloskan diri dari tempat terkutuk ini sedang dia sendiri? setengah dari harapan yang mereka milikipun tak ada, kehidupannya akan berakhir disana.

Pemuda itu bangkit dan duduk bersandar disisi dinding teringat kembali kenangan masa lampau hatinya terasa amat sakit bagaikan di iris2. Dendam berdarah atas kematian dua ratus jiwa anggota keluarganya tak mungkin bisa dituntut balas untuk selamanya.

Keluarga paman gurunya telapak naga beracun Thio Lin ikut musnah dari muka bumi dan mereka hanya akan merana dan penasaran dialam baka.

sepuluh hari kemudian jika gurunya Mo tiong ci mo tidak dijumpai kemunculannya sesaat sebelum meninggal ia mesti sedih gusar dan penasaran, pukulan batin yang diterimanya waktu itu pasti sulit dilukiskan dalam kata2, cita2 serta harapannya yang terkandung sejak empat puluh tahun berselang akan musnah bagaikan kabut ditempa sinar matahari dan pasti akan mati tak tenang.

Budi kebaikan yang dilimpahkan orang yang kehilangan sukma dan orang yang ada maksud selama hidup tak mungkin bisa dibalas.

Adik angkatnya Tonghong Hwei selama ini menganggap dia sudah mati bahkan mendirikan tugu untuk memperingati kematiannya tak lama kemudian dia pasti akan bunuh diri untuk menyusul dirinya, meskipun aku tak membunuh Pak-jin tapi Pak jin mati lantaran aku..

Hampir saja pemuda itu otaknya jadi sinting, dosa karena tidak berbakti, tidak setia kawan- tidak setia pada perguruan, semuanya menimpa dirinya. Kematian, belum tentu bisa membebaskan semuanya itu dari dalam benaknya. Ia merasa hatinya tersayat, terluka, dan akhirnya mengucurkan darah.

"Apa yang harus kulakukan untuk mengatasi semua kesulitan ini? ingatan tersebut hampir merampas seluruh perhatian serta pikirannya.

Apakah dia harus hidup lebih jauh dalam keadaan yang lemah dan sama sekali tak berguna? apakah dia harus menerima keadaan tersebut hingga akhir hidupnya? Mungkinkah dia harus menyelesaikan sendiri kehidupannya yang penuh kegagalan serta kekecewaan itu?

Ia sama sekali tidak mempunyai pikiran untuk berusaha meloloskan diri dari situ, sebab segenap tenaga dalam yang dimilikinya telah musnah, sekalipun masih utuh, untuk meloloskan diri dari cengkeraman Pemilik benteng maut boleh dibilang ibaratnya bermimpi disiang hari bolong.

Cukup andalkan barisan rumah batu yang aneh dan sakti, tipis sudah harapannya untuk melarikan diri.

Rasa putus asa, bagaikan sebilah pisau tajam yang menyayat hatinya. Rasa ingin mati, kian lama kian tebal menyelimuti benaknya.

Mendadak... jari tangannya menyentuh suatu benda, serta merta ia ambil benda tadi dan diperiksanya dengan seksama.

Ternyata benda itu adalah sebuah bungkusan kain kecil, ketika diangkat terasa berat sekali, dengan cepat ia buka kain tadi.

Apa yang terlihat?? ternyata isi bungkusan itu adalah sebuah telapak tangan yang terbuat dari tembaga.

Ledakan rasa girang tak terbendung lagi, gumamnya seorang diri: "Hud jiu Poo pit. Kitab pusaka tangan Buddha... kitab pusaka..."

Tak dapat diragukan lagi, benda itu pasti sudah tertinggal tatkala malaikat hawa panas Ko su Ki dipindah dari tempat itu.

Jika sepasang sarung tangan itu digabungkan menjadi satu, maka dia akan berhasil mempelajari ilmu sakti see mi sinkang, bila ilmu sakti itu sudah diyakinkan olehnya maka ia tak usah jeri terhadap keampuhan Tengkorak maut lagi.

Tapi.. ketika ia teringat kembali bahwa tenaga dalam yang dimilikinya telah musnah dan harapannya untuk meloloskan diri telah punah, bagaikan kepalanya diguyur air dingin, ia berdiri terbelalak dan tak mampu berbuat sesuatu apapun-

Apa gunanya kitab pusaka tangan Buddha jika ia tak dapat melatihnya? benda itu ibaratnya barang yang tak berguna..

"Criing" tangannya jadi kendor dan benda mustika yang diincar setiap umat persilatan itu terlepas dari cekalannya dan jatuh kembali keatas tanah. seluruh ingatan dan pikirannya kembali tersita untuk memikirkan soal kematian-

Ia tak sudi hidup dalam keadaan cacad dan tak bertenaga, pemuda itu merasa lebih baik mati daripada menanggung derita dan kekecewaan-. sementara ia sedang putus harapan dan siap untuk bunuh diri

"criing criing" sentilan jari yang menyentuh permukaan pintu baja berkumandang tiada hentinya.

Han Siong Kie sama sekali tak mendongak ia segan untuk melakukan segala sesuatunya.

"Malaikat penyakitan, malaikat penyakitan" serentetan suara perempuan yang pernah di kenal olehnya berkumandang disisi telinga.

Sekujur tubuh Han sing Kie bergetar keras siapakah perempuan itu? mengapa ia muncul dalam benteng maut, dari mana ia tahu kalau dirinya disekap disitu? "Malaikat penyakitan " untuk kedua kalinya suara panggilan itu berkumandang. Han Siong Kie segera mendekati pintu baja itu dan tak tahan lagi dia bertanya. "Siapakah engkau?"

"Aku? engkau tak perlu tahu dulu, aku ingin tanya apakah engkau benar2 adalah malaikat penyakitan ahli waris dari Mo tiong ci mo?"

"Benar"

"Apakah engkau masih ingat dengan seorang gadis yang pernah kau tolong dari tangan empat pengawal baju hijau dari istana Huan mo kiong?" Han song Kie termenung dan berpikir sebentar lalu menjawab:

"Akulah gadis yang kau maksudkan itu" "Engkau??"

"Betul, aku adakah istri yang ditinggalkan"

"Ooooh jadi nona adalah gadis yang menyebut diri sebagai istri yang ditinggalkan? sekarang aku ingat sudah"

Setelah berhenti sebentar, dengan rasa sangsi ia bertanya kembali:

"Kenapa nona bisa sampai disini ? dan darimana pula engkau tahu kalau aku disekap ditempat ini??"

"ooooh... soal itu engkau tak usah tahu" "Apa nona adalah anggota benteng ini ??"

"Sudah kukatakan tadi, lebih baik tak perlu banyak bertanya, pernahkah engkau mendengar cerita tentang seorang sahabat yang membalas jasa atas budi yang pernah diterima olehnya???"

"Ada apa ? apakah nona..."

Sebelum pemuda itu sempat menyelesaikan kata2nya, gadis itu telah menanggapi:

"Dugaanmu tepat sekali, aku memang hendak membalas jasa baik yang pernah kuterima dari tanganmu, sekarang aku hendak tolong engkau untuk keluar dari benteng ini."

Sekujur badan Han Siong Kie gemetar keras hampir saja ia tidak percaya dengan telinga sendiri serunya dengan suara gemetar: "Nona hendak menolong aku lolos dari benteng ini"

"Betul tunggulah sebentar disitu aku segera akan muncul dalam ruangan batu itu" Begitu mengucapkan kata2 tersebut suaranya seketika lenyap tak berbekas. Han Siong Kie merasakan hatinya bergejolak keras hampir saja tak dapat menahan pergolakan emosi yang luar biasa itu, gumamnya seorang diri:

"suatu pertemuan aneh benar2 kejadian ini merupakan suatu pengalaman aneh membuat orang bingung dan sama sekali tak habis mengerti" sesudah berpikir beberapa saat lamanya diam2 ia berpikir lebih jauh:

"Aaah tidak betul gadis yang menyebut dirinya sebagai istri yang ditinggalkan ini pastilah anggota benteng maut ini, kalau tidak dengan tenaga dalam yang dimilikinya tak mungkin ia bisa pergi kesana kemari dalam benteng tersebut dengan leluasa tapi apakah hubungannya dengan tengkorak maut, kalau toh dia anggota istana maut, kenapa tenaga dalam yang dimilikinya begitu biasa? bikin kepala jadi pusing."

"Kraaakrk kraaakkk "sebuah dinding batu per lahan2 bergeser kesamping dan muncullah sebuah pintu kecil.

Han Siong Kie rasakan jantungnya berdebar keras dengan pandangan tajam dia awasi terus pintu kecil itu.

sesosok bayangan tubuh yang ramping dan mulus per lahan2 muncul dalam ruangan itu, dia bukan lain adalab "Istri yang ditinggalkan"

Mendadak pelbagai pikiran dan ingatan berkecamuk dalam benak sianak muda itu pikirnya.

"Dewasa ini tenaga dalam yang kumiliki sama sekali telah buyar, sekalipun aku berhasil ditolong oleh " istri yang ditinggalkan" hingga lolos dari benteng maut tapi tugas yang dibebankan guruku belum terlaksana dengan muka apa aku harus berjumpa dengan guruku Mo tiong ci mo? disamping itu musuh bebuyutan yang punya dendam dengan aku terlalu banyak. sekalipun muncul dengan muka asliku atau dengan wajah malaikat penyakitan orang lain sudah pasti tak akan lepaskan diriku, kenapa aku musti menerima uluran tangannya sehingga berhutang budi kepada gadis yang bernama istri yang di tinggalkan ini??

Berpikir sampai disini dengan nada dingin ia lantas berkata: "Apakah nona hendak tolong aku untuk keluar dari benteng ini?"

"Benar, dengan menempuh bahaya aku melakukan hal ini, maksudku tidak lain adalah guna membalas budi atas pertolongan yang pernah engkau berikan padaku"

"Maksud baik nona biarlah kuterima dalam hati saja, nona tak usah menempuh bahaya ini demi diriku"

Istri yang ditinggalkan tertegun mendengar jawaban tersebut, dengan nada tercengang bercampur tak habis mengerti ia berseru:

"Jadi engkau rela mengorbankan dirimu untuk dikubur dalam benteng ini??"

"segenap tenaga dalam yang kumiliki telah punah, keadaanku tidak jauh berbeda dengan seorang manusia cacad, apa arti hidup bagiku??"

"Ooooh tentang soal itu terus terang kuberitahukan kepadamu, tenaga dalam yang kau miliki masih utuh, hanya jalan darahmu tertotok mengakibatkan urat dan nadi mu jadi kacau balau, oleh sebab itulah hawa murnimu tak dapat dihimpun kembali"

setelah mendengar keterangan tersebut, timbullah harapan untuk hidup dalam hati kecilnya, rasa putus asa yang semula menyelimuti hatinya kini tersapu lenyap dari benaknya, dengan penuh emosi ia berseru: "Sungguhkah apa yang nona ucapkan itu??"

"Aku rasa tiada kepentingan apa2 bagiku untuk membohongi dirimu" "Lalu kepandaian apakah yang telah digunakan oleh pemilik benteng maut untuk melukai diriku ??"

"Suatu kepandaian rahasia yang tak pernah diwariskan kepada siapa2 dari Benteng Maut"

"Nona dapat memunahkannya?"

"Tentu saja dapat" sahut gadis itu sambil mengangguk "tapi aku tak dapat membebaskan jalan darahmu itu, sebab untuk melepaskan engkau dari sini aku telah menempuh suatu jalan yang amat berbahaya, jika aku bebaskan pula jalan darahmu yang tertotok itu berarti kematian yang tak bisa ditawar lagi bagiku, sebab itulah peraturan dari benteng maut ini"

"jadi nona adalah anggota benteng maut? " tegur Han Siong Kie dengan suara dalam.

"Benar, ucapanmu itu sama sekali tak keliru"

"Apa hubunganmu dengan pemilik benteng maut ini??" "Maaf untuk sementara waktu aku tak dapat

memberitahukan soal ini kepadamu"

"Tapi aku harus mengetahuinya lebih dahulu"

Rasa serba salah dan keberatan terlintas diatas wajah istri yang ditinggalkan, setelah ragu2 beberapa saat lamanya, ia tetap gelengkan kepalanya berulang kali. "Aku tak dapat beritahukan rahasia ini kepadamu" katanya. Melihat keputusan gadis itu, Han Siong Kie segera berpikir dalam hati:

"Kalau ditinjau dari sikapmu itu, sudah pasti ia mempunyai hubungan yang luar biasa dengan Tengkorak maut, sebaliknya antara aku dengan Tengkorak maut terikat oleh dendam sedalam lautan, darimana aku boleh menerima budinya ? tapi...Aaaai kalau aku tetap berdiam disini mana mungkin dendamku bisa terbalas?" Harapan untuk pulihkan kembali kekuatan tubuh yang dimilikinya mendorong sianak muda itu untuk cepat2 tinggalkan benteng yang mirip neraka ini.

Dalam keluarga bakti kepada gurunya... serta masalah lain yang pelik kembali berkecamuk dalam benak pemuda itu, akhirnya tak tahan lagi ia bertanya:

"Siapakah orang2 dalam persilatan yang sanggup membebaskan aku dari pengaruh totokan ini?"

"Sulit untuk dikatakan? dunia persilatan amat luas, banyak keanehan yang terlingkup didalamnya, soal ini harus dilihat dari rejekimu sendiri, kalau ada jodoh aku rasa gampang untuk temukan manusia seperti itu, sebaliknya kalau tidak berjodoh...apa mau dikata lagi?"

Dengan mulut membungkam Han Siong Kie mengangguk. pikirnya didalam hati:

"Guruku Mo tiong ci mo sangat hapal dengan ilmu silat yang dimiliki Tengkorak maut, mungkin ia bisa bebaskan pengaruh totokan ini, selain itu bukankah masih ada orang yang kehilangan sukma, serta Put to sianseng beberapa orang jago misterius yang berkepandaian lihay? siapa tahu.."

Terdengar gadis itu berkata lebih jauh:

"Setelah engkau keluar dari benteng ini, aku harap engkau bersedia merahasiakan apa yang pernah kau saksikan dalam benteng ini sehingga tidak sampai bocor kedalam dunia persilatan?"

"Tentang soal ini aku bisa memenuhinya, tapi sebelum itu akupun hendak mengutarakan dua hal lebih dahulu"

"Katakanlah cepat"

"Pertama aku punya janji dengan malaikat hawa dingin Mo siu In untuk mencarikan jejak suaminya yakni malaikat hawa panas Ko su Ki untuk mencegah malaikat hawa dingin melakukan pembantaian lagi.

terhadap orang persilatan terpaksa aku harus bocorkan jejak suaminya itu kepada perempuan tersebut"

"Tentang soal itu sih boleh saja, jika malaikat hawa dingin berani mencari gara2 kemari itu berarti dalam benteng kami ini akan bertambah dengan seorang penghuni lagi"

"Kedua jika tenaga dalamku telah pulih kembali maka aku akan menyatroni kembali benteng maut ini.."

"Apa engkau akan datang lagi?" "Betul"

"Kenapa?"

"Untuk membalas dendam"

"Oooh engkau punya dendam dengan poocu benteng ini?" "Benar, dendamku lebih dalam dari pada samudra, jikalau

nona menyesal untuk melepaskanku pergi dari sini sekarang juga engkau masih sempat menarik kembali tawaranmu itu"

Paras muka gadis yang bernama istri yang ditingalkan itu berubah hebat, akhirnya dengan sedih ia berkata:

"Baik, engkau boleh terhitung sebagai seorang pendekar jujur yang jarang ditemui dalam dunia persilatan, hari ini kulepaskan dirimu karena ingin membalas budi pertolongan yang pernah kau berikan kepadaku sedangkan mengenai rencanamu untuk menuntut balas dalam benteng maut ini, hal itu boleh dianggap masalah lain"

"Dan nona tak akan menyesal dengan perbuatanmu itu?" "Tiada alasan menyesal bagiku untuk perbuatan yang telah

kulakukan dengan penuh kesadaran." "Kalau begitu kuucapkan banyak terima kasih lebih dahulu atas bantuanmu itu"

"Engkau tak usah berterima kasih kepadaku, kita satu bayar satu, budi diantara kita sama sekali telah terhapus, dan sekarang kitapun harus segera berangkat"

"Bagaimana caranya kita keluar dari sint?"

Tiba2 gadis itu melancarkan sebuah totokan kilat keatas tubuh Han Siong Kie..

sianak muda itu seketika merasakan badannya merasa gemetar keras, sebelum ingatan kedua sempat berkelebat dalam benaknya, ia sudah roboh terkapar diatas tanah.

Ketika ia sadar kembali dari pingsannya, terasa angin dingin berhembus lewat menggidikkan badan- suara gulungan ombak terdengar kembali dengan jelas, ketika ia buka matanya tampaklah bintang bertaburan diangkasa, dinding benteng yang hitam pekat berdiri mentereng dihadapannva, ternyata ia sudah berada diluar benteng maut.

"Saudara, sekarang engkau boleh segera tinggalkan tempat ini Nah, inilah benda milikmu yang ketinggalan, baik2lah kalau menyimpannya.”

Begitu ucapan tersebut selesai diutarakan, sebuah buntalan terjatuh disisinya sedang gadis itu sudah lenyap dari pandangan.

Han Siong Kie bangkit berdiri, dalam hati ia merasa bersyukur karena isi buntalan itu adalah sebagian dari Hud jiu Poopit yang diidamkan setiap umat persilatan, semula benda itu merupakan benda milik malaikat hawa panas yang tinggalkan disana, tapi gadis istri yang ditinggalkan mengira sebagai miliknya, kini benda itu dibawa keluar dan diserahkan kembali kepadanya. Bukankah itu berarti bahwa benda mustika itu berjodoh dengan dirinya?? andaikata masih ketinggalan dalam benteng maut, bukankah semua harapannya ikut lenyap?

setelah menyimpan buntalan itu baik2, pemuda itu melirik sekejap kearah Benteng maut yang bercokol bagaikan iblis raksasa itu, kemudian putar badan dan berlalu dari sini.

setelah tenaga dalamnya punah, keadaan Han Siong Kie tidak jauh berbeda dengan manusia biasa, selangkah demi selangkah berjalan tinggalkan benteng itu.

Ia merasa dirinya seperti baru sadar dari suatu impian buruk, dalam sehari belaka dari seorang jago persilatan yang ampuh telah berubah jadi manusia biasa yang lemah tak bertenaga.

Dan satu hal yang mimpipun tak pernah disangka olehnya, ia telah berjumpa kembali dengan Tonghong Hui yang dirindukan olehnya selama ini...

Jika Tonghong Hui tahu kalau malaikat penyakitan yang telah ditolongnya olehnya bukan lain adalah engkoh Kie yang dianggap sudah mati dibunuh oleh orang2 perkumpulan Thian che kau, serta ia bersumpah hendak balaskan dendam sakit hatinya itu, mungkin ia bisa mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk bebaskan sianak muda itu dari pengaruh totokan.

Sedangkan Han Siong Kie sendiri, andaikata ia tahu kalau "istri yang ditinggaikan" adalah adik angkatnya Tonghong Hui, mungkin iapan akan membuka rahasianya hingga apa yang kemudian terjadipun bisa dibayangkan setiap orang.

Sayang, Takdir telah menentukan lain, sepasang merpati itupun harus melewatkan kesempatan baik itu dengan Begitu saja. .

Dengan susah payah Han Siong Kie menyeberangi jembatan batu dan tiba ditepi pantai berpasir, seCara lapat2 ia merasa se akan2 melihat adik angkatnya Tonghong Hui sedang duduk diatas batu cadas dimana mereka berjumpa untuk pertama kalinya, rasa sedih menyelimuti seluruh wajah pemuda ini.

Dengan langkah yang ling lung ia naik ke atas daratan dan per-lahan2 meneruskan perjalanannya lewat jalan raya.

Ingatan pertama yang berkelebat dalam benaknya saat ini adalah bagaimana caranya tiba ditempat tinggal gurunya dengan gerak badan paling cepat dia harus tiba disitu sebelum sepuluh hari lewat karena gurunya pernah berkata bahwa ia masih ada pesan lain yang hendak disampaikan.

sementara itu dari tempat2 tersembunyi tidak jauh dari jalan raya berpuluh2 pasang mata dengan sorot mata penuh rasa kejut dan tercengang sedang mengamati gerak gerik dari Han Siong Kie..

Dengan mata kepala sendiri mereka saksikan pemuda itu masuk kedalam benteng dan sekarang mereka saksikan pula ia muncul dari dalam benteng dalam keadaan selamat.

Meskipun dari langkah kaki Han Siong Kie yang berat dan lambat menimbulkan perasaan heran dan tak habis mengerti dalam hati kecil mereka, namun siapapun tak berani mencabut kumis harimau secara gegabah kelihatannya dan kedahsyatannya Malaikat Penyakitan sudah amat tersohor dikolong langit:

-00d000w00-

BAB 28

SECARA diam2 mereka terus menguntit dibelakangnya, jauh dibelakang dan sangat hati2 sekali hingga sedikitpun tak menimbulkan suara, mereka takut jejaknya ketahuan oleh pemuda lihay itu. Tentu saja mimpipun ia tak mengira kalau Malaikat penyakitan yang mereka takuti dan segani, kini sudah merupakan seekor harimau ompong. segenap ilmu silatnya punah tak berbekas.

sebaliknya Han Siong Kie sendiripun tak menyangka kalau ia dikuntit dan diawasi gerak geriknya oleh para jago silat.

Dengan cepat berita itu disiarkan oleh para jago persilatan yang berjaga disekitar benteng Maut kesegala penjuru dunia dengan cara yang paling cepat.

Malaikat penyakitan, ahli waris dari Mo-tiong ci-mo setelah masuk kedalam benteng maut ternyata telah muncul kembali dari benteng itu dalam keadaan selamat.

Begitu kabar itu tersiar dikolong langit sebagian besar orang persilatan segera menganggap pemilik benteng maut atau yang dikenal sebagai Tengkorak maut,pastilah hasil penyaruan dari Mo tiong ci mo, sebab pada empat puluh tahun berselang, Tengkorak maut dan iblis diantara iblis tak pernah munculkan diripada saat yang bersamaan.

Dengan tersiarnya kabar itu, maka Han Siong Kie menjadi sasaran dari perhatian segenap umat persilatan. terutama sekali mereka2 yang pernah merasakan kelihayan dan menderita kerugian ditangan Tengkorak maut serta iblis diantara iblis..

Fajar telah menyingsing sang surya memancarkan

cahaya ke emas2an dari ufuk sebelah timur.

Han Siong Kie merasa lapar, dahaga bercampur penat . . .

perjalanan yang ditempuh semalam suntuk hanya berhasil melampaui jarak sejauh enam puluh li, ia mempunyai tujuan untuk menuju kota yang terdekat, makan hingga kenyang kemudian membeli kuda untuk melanjutkan perjalanan.

Sebuah hutan lebat terbentang di depan mata, nun jauh diseberang hutan ia temukan sebuah dusun kecil penemuan itu membuat semangatnya bangkit kembali, ia segera percepat langkahnya menuju dusun tersebut.

Tiba2 desiran ujung baju tersampok angin berkumandang datang dari arah depan.

Han Siong Kie terkesiap. serentak ia menghentikan langkah kakinya dan berpaling ke arah mana berasalnya suara itu.

Tiga sosok manusia meluncur datang dari depan dan secepat kilat mengepung sianak muda itu dalam posisi segi tiga.

Diikuti...sreet sreeet desiran tajam bergema tiada hentinya beb erapa puluh sosok bayangan manusia muncul dari arah empat arah delapan penjuru, diantara mereka terdapat aneka ragam manusia, dari padri, imam sampai kaum pengemis dari kay-pang jumlahnya diantara seratus orang..

Han Siong Kie merasa amat terkejut menghadapi pemunculan jago yang Begitu banyaknya, ia sadar bahwa orang2 itu muncul untuk mencari gara2 dengan dirinya, padahal tenaga dalam yang ia miliki telah punah, bukankah itu berarti hanya jalan kematian yang bakal diterima olehnya?

Dalam keadaan Begitu, Han Siong Kie tidak dapat berbuat lain kecuali mengawasi tiga orang jago yang berada disekelilingnya.

orang pertama adalah seorang imam tua yang rambut maupun alisnya telah putih, sekilas memandang ia segera kenali imam tua tersebut sebagai Kui Goan cu, ketua Tiangloo dari partai Khong tong yang pernah cari tahu jejak gurunya, ia tercekat dan jantungnya berdebar keras.

orang kedua adalah seorang padri tua bermuka merah, sedangkan orang ketiga adalah seorang nenek tua bermuka jelek. berwajah keriput dan membawa tongkat kuning berwarna ke emas2an. Enam buah sorot mata yang tajam, laksana kilat menatap wajah Han Siong Kie tanpa berkedip.

setelah hening beberapa saat lamanya, per-tama2 Kui Goan cu dari partai Khong tong yang buka suara lebih dahulu tegurnya: "siau sicu, kembali kita berjumpa muka"

Han Siong Kie tahu bahwa ia tak dapat lolos dari kepungan lagi, sambil bulatkan tekad ia balas menegur dengan suara dingin, "Ada urusan apa kalian datang mencari aku?"

"Bu liang siu hud" seru Kui Goan cu sambil rangkap sepasang telapaknya "sebelum kita berbicara marilah aku perkenalkan dahulu dua orang jago ini, yang satu ini adalah Seng Gong taysu dari gereja siau lim si, sedang yang itu adalah Kim ciang popo dari gunung Yan san selain itu hadir pula umat persilatan dari pelbagai penjuru, adapun kehadiran kami semua adalah mengandung satu tujuan"

"Apa tujuan kalian?"

"Kami sangat berharap dapat mengetahui jejak dari gurumu Mo tiong ci mo"

Mendengar ucapan tersebut, diam2 Han sioag Kie mengeluh dalam hatinya.

"Habis sudah riwayatku ini hari, pasti aku akan menemui ajalnya ditempat ini."

Manusia apabila jiwanya terancam oleh bahaya maut, ia sudah putus asa kadangkala malah akan pasrah dan jauh lebih tenang sikapnya dari pada siapapun.

Demikian juga keadaan Han Siong Kie pada saat itu, bukannya jeri atau pecah nyali dia malahan berseru dengan nada angkuh:

"Kalau aku tidak bersedia menjawab kalian mau apa?" Paras muka tiga orang jago lihay itu seketika berubah hebat. Seng Gong taysu dari gereja siau lim si segera mendengus dingin.

"Hmm aku rasa siau sicu tak dapat ambil keputusan dengan seenak hatinya sendiri"

Kim ciang popo dari gunung Yao sanpun menepuk tongkat emasnya berulang kali, kemudian sambil menatap pemuda itu dengan pandangan tajam hardiknya.

"Hey bocah muda, aku harap engkau bersedia menjawab beberapa buah pertanyaanku secara jujur"

Han Siong Kie menyapu wajah Kim ciang po dengan pandangan dingin kemudian katanya.

"Aku bisa menjawab dengan sejujurnya asal pertanyaan yang kau ajukan pantas kujawab dengan jujur?"

"Hmm aku ingin tahu apakah Me tiong ci mo adalah hasil penyamaran dari pemilik benteng maut yang disebut Tengkorak maut"

Mendapat pertanyaan tersebut, Han Siong Kie malah terperanjat dibuatnya. "Darimana engkau bisa berkata demikiam?" serunya.

"Bukankah engkau adalah ahli waris dari iblis diantara iblis??"

"Tentu saja aku toh tak pernah menyangkal akan kebenaran tersebut?"

"Dan engkau bukankah baru saja keluar dari Benteng

maut??"

satu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benak Han Siong Kie, ia tahu tindakannya memasuki benteng maut serta lolosnya dia dalam keadaan selamat pasti sudah diawasi oleh kawanan persilatan, sehingga dalam waktu singkat Begitu banyak umat persilatan yang telah berkumpul disana. Dengan nada gamblang ia segera mengangguk tanda membenarkan-"Benar, aku memang baru saja keluar dari benteng maut itu"

"Kenapa engkau bisa keluar dari benteng tersebut dalam keadaan selamat?" desak Kim ciang popo lebih jauh.

"Aku rasa persoalan ini sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan dirimu, jadi aku harap lebih baik engkau tutup mulut saja"

Paras muka Kim ciang popo yang jelek seketika berubah sangat hebat, rambutnya yang telah beruban bergetar keras, serunya lagi dengan nada menyeramkan-"sebenarnya lblis diantara iblis adalah penyaruan dari Tengkorak maut atau bukan?"

"Berdasarkan alasan apa engkau ajukan pertanyaan yang ngawur seperti itu?"

"Berdasarkan kedudukanmu serta tingkah lakumu yang dapat keluar masuk Istana maut secara bebas"

Meskipun tenaga dalam yang dimilikinya telah punah, kecongkakan dan kejumawaan dalam sikap Han Siong Kie sama sekali tidak berkurang, kontan ia tertawa dingin tiada hentinya. "Heehh heehh heehh.. apakah engkau tidak merasa terlalu brutal ucapanmu itu?"

"ooh.. jadi engkau tidak bersedia untuk bicara?" "Jangan paksa aku untuk bicara kalau kau ingin tahu

dudukperkara yang sebenarnya kenapa tidak berkunjung sendiri kedalam Istana maut untuk melakukan penyelidikan?"

Ucapan yang kasar dan sangat mengena di hati itu seketika membuat paras muka tiga orang jago persilatan itu berubah hebat.

Beberapa waktu kemudian seng Gong taysu dari gereja siau lim si berseru kembali: "Kami akan berkunjung sendiri kesana untuk melenyapkan bibit bencana bagi umat persilatan, segenap umat Bu- lim akan bersatu padu untuk menghancurkan benteng maut dari muka bumi, tapi bagi siau sicu sendiri aku rasa lebih baik bicara terus terang saja sebab kalau tidak.."

"Kalau tidak kenapa?"

"segenap umat persilatan yang hadir dalam gelanggang hari ini mungkin tak akan melepaskan siau sicu dengan begitu saja"

"Termasuk taysu sendiri?"

"omintohud mau tak mau terpaksa aku harus ikut serta dalam pergerakan ini"

Dalam hati timbullah keinginnan bagi Han Siong Kie untuk menerangkan bahwa Tengkorak maut bukanlah hasil penyaruan dari Mo tiong ci mo, tapi sebelum ia sempat berbicara, Kim ciang popo telah tak sabar lagi dan segera membentak keras. "Bocah keparat, ayoh bicara"

Mendengar bentakan itu, Han Siong Kie merasa gusar sekali, ia tahu seratus orang jago persilatan yang berkumpul disana waktu itu, semuanya merupakan lawan2 dari Tengkorak maut ataupun iblis diantara lblis. bicara atau tidak baginya sama saja tak ada artinya, maka dengan ketus pula dia menjawab "Aku tak mau bicara engkau mau apa?"

sejak lama Kim ciang popo, yang beradat keras sudah ada keinginan untuk mencoba kelihayan Malaikat penyakitan yang dikatakan sangat lihay itu, toya emasnya segera direntangkan didepan dada lalu berseru:

"Bocah dungu, engkau anggap dengan andalkan beberapa ilmu silat sesatmu itu maka engkau sudah dapat malang melintang dikolong langit tanpa tandingan?"

Han Siong Kie sadar jika lawannya turun tangan maka dia pasti tak akan lolos dari cengkeraman mautnya tapi bagi sianak muda itu tak ada jalan lain kecuali menerima kematian tersebut dengan pasrah.

Rasa sedih murung dan kesal berkecamuk dalam benaknya, ia tak menyangka setelah nyaris mati dalam benteng maut akhirnya toh harus menerima kematian ditangan para jago persilatan-

Sambil menggertak gigi segera serunya:

"Engkau tak usah mengancam, aku tak terbiasa dengan gertak sambal macam itu"

"Anak iblis sialan mulutmu benar2 sangat tajam akan kujajal dirimu lebih dahulu" bentak Kim ciang popo dengan penuh kegusaran.

Cahaya emas berkelebat lewat, toya emas itu secepat kilat meluncur kearah depan.

suasana dalam gelanggang seketika diliputi ketegangan, semua orang ingin tahu apa yang terjadi setelah nenek toya emas melepaskan serangan gencarnya.

Ditengah jeritan yang amat nyaring tubuh Han Siong Kie tersapu telak dan mencelat keangkasa, darah segar muncrat keluar dari bibirnya.

Tiga orang jago yang ada ditengah gelanggang kontan jadi tertegun dibuatnya.

Para jago yang ada disekeliling gelanggangpun memperdengarkan jeritan kaget bercampur nada heran.

"Blammm..." badan Han Siong Kie terlempar sejauh tiga tombak dari tempat semula dan roboh tak berkutik lagi diatas tanah.

Meskipun tenaga dalam masih dimiliki olehnya, tapi karena urat2 penting dalam tubuhnya ditotok oleh pemilik benteng maut maka hawa murni yang dimilikinya tak dapat dihimpun menjadi satu, kendatipun Begitu berkat tenaga dalam sebesar dua ratus tahun hasil latihan yang masih terkandung di dalam tubuhnya, ia selamat dari luka yang lebih parah akibat hantaman toya tersebut.

Peristiwa itu sama sekali berada diluar dugaan setiap orang, malaikat penyakitan yang dua hari berselang masih malang melintang tanpa tandingan dikolong langit, ternyata pada saat ini tak mampu menghadapi sebuah serangan dari Kim ciang popo.

"Apa yang sebenarnya telah terjadi?" per-tama2 Seng Gong taysu menegur lebih dulu dengan muka tercengang dan perasaan tidak habis mengerti.

Dengan perasaan bimbang dan ragu Kui Goan cu dari partai Khong tong ikut gelengkan kepalanya.

"Aku sendiripun tak dapat menjelaskan persoalan itu, sebab ketika untuk pertama kalinya aku berjumpa dengan bocah itu, jelas kuketahui bahwa ia memiliki ilmu silat yang sangat lihay."

"Hei hidung kerbau, engkau yakin tak salah melihat?" tegur Kim ciang oopo dengan marah.

sebutan " Hidung kerbau" itu dirasakan tajam dan pedas dalam hati Kui Goan cu, merah padam selembar wajahnya, dengan terbata2 ia lalu menjawab: "Bukankah ia telah mengakui sendiri akan hal itu??"

"Tapi kenyataan membuktikan kalau ia sama sekali tidak berkepandaian silat, bagaimana penjelasanmu tentang soal ini??"

Dalam pada itu dengan sempoyongan perlahan2 Han Siong Kie bangkit berdiri dari atas tanah, para jago yang hadir dalam gelanggang kembali dibuat gempar oleh kejadian tersebut.

Sambil mengenyitkan alisnya yang tebal, Seng Gong taysu segera berkata: "Kalau dikatakan ia sama sekali tak berilmu silat, hantaman toya tadi sudah cukup untuk mematahkan tulang punggungnya, tapi.. kenapa ia tidak mampus?" Kim ciang popo termenung beberapa saat lamany a, kemudian menjawab:

"Perduli bagaimanapun juga, duduk persoalan yang sebenarnya hanya bisa kita ketahui dari mulutnya sendiri"

Ia enjotkan badan dan melayang kehadapan Han Siong Kie.

Pada waktu itu pemuda she Han tersebut berdiri dengan sempoyongan, sekujur badannya terasa amat sakit, tenaganya ludas dan untuk berbicarapun tak kuat lagi, dengan pandangan sayu ia balas menatap wajah lawannya.

Mendadak.. Kim ciaog popo melihat sesuatu diatas tanah, ia temukan sebuah benda hitam menggeletak ditanah, ketika diambil ternyata benda itu adalah sebuah sarung tangan terbuat dari tembaga, diatas punggung dan telapak sarung tangan itu penuh terukir tulisan2 yang lembut.

Dengan hati berdebar perempuan itu, mengawasi lebih seksama lagi, tiba2 ia menjerit kaget:

"Aaaah kitab pusaka Hud jiu Poo pit"

Rupanya sewaktu tubuh Han Siong Kie terhantam oleh toya tadi dan mencelat keudara, tanpa disadari olehnya kitab pusaka tangan Buddha itu sudah terjatuh keatas tanah.

Betapa terperanjatnya sianak muda itu setelah mendengar seruan itu, tapi jiwanya pada saat ini terancam bahaya, tentu saja tidak sempat baginya lagi memikirkan benda itu lagi, maka melirikpun ia tidak.

Kui Goan cu dari partai Khong tong serta seng Gong taysu dari gereja siau lim si memiliki ketajaman pendengaran yang luar biasa, kedua oraog itu menerjang kedepan ketika dilihatnya benda yang berada dalam genggaman Kim ciang popo ternyata bukan lain adalah kitab pusaka Hud jiu Poopit yang sudah tersohor namanya didalam dunia persilatan sejak seratus tahun berselang, mereka sama2 berdiri terperangah dibuatnya.

Baik Kui Goan cu maupun Seng Gong taysu sama2 merupakan orangZ beribadah yang beriman tinggi namun setelah menjumpai benda mestika yang tak ternilai harganya itu tak urung mereka unjukan pula rasa tamak dan napsU serakahnya.

Tiba2 antara gerombolan jara jago yang hadir disisi gelanggang terdengar seseorang dengan suara yang aneh dan berseru:

"Kitab pusaka telapak Buddha dari mana anak iblis ini bisa dapatkan benda mustika itu??"

Begitu teriakan tersebut keluar dari mulutnya seketika itu juga suasana jadi gempar dan para jago persilatan yang berada disekeliling gelanggang sama2 menerjang kedepan bagaikan gulungan air bah.

Buru2 Kim ciang popo masukan kitab pusaka telapak Buddha itu kedalam sakunya kemudian enjotkan badannya dan melayang keluar gelanggang dalam dua tiga kali loncatan saja tubuhnya sudah berada tiga puluh tombak jauhnya dari tempat semula.

Ditengah suara bentakan dan hiruk pikuk yang amat memekikkan telinga, semua jago persilatan yang berada disekeliling tempat itu sama2 mengerahkan segenap kekuatannya untuk melakukan pengejaran.

Gerakan tubuh Kim ciang popo cepat bagaikan sambaran kilat, dengan kepandaian silat yang dimilikinya untuk meloloskan diri bukaniah suatu pekerjaan yang terlalu sulit, tapi ketika untuk ketiga kalinya ia melayang keudara, mendadak segulung angin pukulan yang amat dahsyat dan santar menerjang kearah badannya dan memaksa perempuan itu mau tak mau harus meluncur kembali keatas tanah. seorang kakek tua yang cebol dan gemuk bagaikan ibis, ibarat sukma yang melayang saja tahu2 sudah munculkan diri dihadapannya.

Begitu melihat siapa yang munculkan diri, diam2 Kim- ciang Popo tarik napas dingin, dengan hati terkesiap segera tegurnya:

"Tee heng sian Dewa berjalan dalam tanah apa maksudmu datang kemari?"

orang yang barusan munculkan diri itu bukan lain adalah " Tee heng sian" Dewa berjalan dalam tanah Tok Kun yang dikenal sebagai manusia paling sulit dilayani, jarang ada orang yang mengetahui akan asal usulnya, tiada orang pula yang mengetahui sampai dimanakah kelihayan tenaga dalam yang dimilikinya.

sementara itu dewa berjalan dalam tanah telah tertawa cekikikan sambil berkata:

"Hiihhh hiiihhh hiiiihhh Oei Cio Kiok siapa yang melihat ia mendapat bagian, masa engkau hendak mengangkangi benda mustika itu untuk kepentinganmu seorang diri?"

Dalam waktu yang amat singkat itulah semua jago persilatan yang mengejar dari belakang telah tiba disana dan mereka segera membentuk lingkaran kepngan yang berlapis- lapis.

-00d000w00-