Tengkorak Maut Jilid 11

 
Jilid 11

DENGAN perasaan apa boleh buat Han Siong Kie berkata: "Beberapa waktu berselang aku pernah mendapat budi

kebaikan dari nona Go karena itu "

"Karena itu engkau hendak membalas budi kebaikannya itu, kalau tidak tak nanti sikapmu begitu gelisah bercampur cemas"

Dengan mulut membungkam Han Siong Ki mengangguk diam2 ia merasa kagum atas ketajaman mata nenek tua ini serta kecermatannya untuk menilai keadaan. "Kek koan apakah engkau dengan tulus ikhlas hendak menyelamatkan jiwanya?" terdengar nenek tua itu bertanya kembali.

"Tentu saja" "

"Engkau sudah menikah belum?"

"Tentang soal itu... bertunanganpun belum masa sudah menikah apa maksud cianpwee mengajukan pertanyaan itu?"

"Tentu saja aku punya alasan2 tertentu untuk mengajukkan pertanyaan2 tersebut, engkau sudah punya kekasih atau belum?"

"Cianpwee, terus terang saja kukatakan terhadap orang perempuan ehmm sebetulnya saja aku tak tertarik, bahkan boleh dibilang mendekati kata benci"

Sebetulnya pemuda itu mau mengatakan perasaan batinya itu dengan kata2 yang jauh lebih tajam, tetapi secara tiba2 ia teringat bahwa pihak lawan juga merupakan seorang perempuan karena itu terpaksa ia harus memperlunak perkataannya.

"Ooooh jadi kalau begitu engkau belum punya istri maupun kekasih??" sela sang nenek menegaskan.

Han Siong Kie mengangguk tanda membenarkan. "Waahh kalau begitu persoalan ini gampang sekali

diselesaikan"

"Gampang diselesaikan?? apa maksudmu?? " tanya sang pemuda keheranan.

"Bukankah engkau hendak membalas budi kebaikannya itu??"

"sedikitpun tak salah, aku memang ada maksud untuk menyelamatkan jiwanya" "Bagus, kamu memang baik hati tapi untuk menyelamatkan selembar jiwanya apakah engkau bersedia mengorbankan segala sesuatunya??"

"Mengorbankan segala sesuatu??" "Benar "

"Pengorbanan dalam bentuk apa??" "Menjadi suami istri dengan dirinya."

Sekujur badan Han Siong Kie gemetar keras, ia mundur tiga langkah kebelakang dengan tindakan lebar se-akan2 pemuda itu tak percaya dengan pendengarannya sendiri.

"Cianpwee apa... apa yang kau katakan?" serunya dergan hati terkesiap.

"Menjadi suami istri dengan dirinya pada saat ini juga" tegasnya dalam satu jam ini.

"Kee... kee... kenapa ha... harus begitu??" "Untuk menyelamatkan jiwanya "

"Aku sama sekali tidak mengerti akan perkataanmu itu."

"Barang siapa terkena racun Jit bin san kecuali berbuat begitu tiada obat lain yang dapat menyelamatkan jiwanya apakah engkau bersedia menolong jiwanya?”

Bagaikan disengat kala sekujur badan Han Siong Ki gemetar keras badannya merinding dan bulu kuduknya pada bangun berdiri.

“Aku... aku... tak. tak mungkin akan melakukbn perbuatan yang tolol itu!"

“Kalau begitu maafkanlah daku, aku tak bisa membantu dirimu untuk menyelamatkan jiwanya lagi " kata sang nenek dengan dingin "mulai sekarang bersiap21ah untuk mengatur soal memakamkan jenasahnya” Habis berkata ia bangkit berdiri dan siap berlalu,

Keringat dingin sebesar kacang hijau mengucur keluar tiada hentinya membasahi tubuhnya yang gemetar pemuda itu tak sudi menikah dengan gadis tersebut tapi ia adalah tuan penolong yang pernah menyelamatkan jiwanya ia tak tega gadis itu mati dalam keadaan mengenaskan.

"Cianpwe tunggu sebentar ...kau..kau.. jangan pergi dulu!” akhirnya pemuda itu berseru.

“Jadi engkau telah menyanggupi?”

“Selain melakukan perbuatan tersebut, apakah ada cara lain yang bisa digunakan untuk menolong jiwanya? aku bersedia untuk mengorbankan segala apapun!”

"Ada!"

Han Siong Kie amat kegirangan, buru2 dia barseru : "Bagaimanakah caranya?”

“Kalau engkau merasa tega hati, sekarang juga carilah seorang pria lain yang memiliki tenaga dalam sebesar seratus tahun latihan untuk menggantikan kedudukanmu !"

Han Siong Kie terbungkam dalam seribu bahasa, bicara menurut perasaan hati kecilnya dan jiwa sebagai seorang pendekar. ia merasa keberatan untuk berbuat demikian. disamping itu dalam waktu singkat dia harus pergi kemana untuk mencari seseorang yang memiliki tenaga dalam sebesar seratus tahun tenaga latihan? bersediakah orang ini untuk melakukan perbuatan semacam itu?

Dalam pada itu paras muka Go Siau Bie dari semu merah telah berubah jadi kehitam2an, napasnya mulai memburu dan agak tersengkal.

Dengan suara dalam nenek tua itu berkata kembali: "Bagaimanakah keputusanmu aku harap engkau segera menetapkan, mungkin tidak sampai satu jam kemudian ia bakal mati secara mengenaskan, aku tahu diantara kalian memang tak ada dasar cinta, peristiwa ini mungkin dilakukan terlalu ter-gesa2, tapi engkau musti ingat bahwa tindakan ini dilakukan untuk menyelamatkan jiwanya, untuk membalas budi kebaikan yang pernah kau hutang darinya, disamping itu dia toh putri dari ketua perkumpulan pat gi pang, paras mukanya tidak termasuk jelek, apakah engkau merasa bahwa gadis itu tak pantas jadi bini mu?"

Han Siong Kie merasakan hatinya amat sakit bagaikan di tusuk oleh pisau yang amat tajam, mimpipun ia tak menyangka bakal terjadi peristiwa semacam ini...

Untuk menyanggupi permintaan tersebut? hati kecilnya merasa tak bersedia, untuk menampik, ia merasa kasihan melihat tuan penolongnya sebentar lagi harus mati secara mengenaskan.

Sementara ia masih bingung dan tak tahu apa yang musti dilakukan, untuk kesekian kalinya nenek tua itu mendesak kembali.

"Waktu telah mendesak sekali, apakah engkau telah mengambil keputusan?"

Han Siong Ki putar otaknya keras2, ia memandang sekejap kearah wajah Go siau Bi yang telah berubah jadi merah menghitam akhirnya timbullah kasihan, ia ambil keputusan untuk berkorban demi keselamatan gadis tersebut.

"Baiklah" ia berseru sambil mengangguk.

Secepat kilat nenek itu merogoh sakunya dan ambil keluar sebuah botol porselen kecil, dari botol itu ia tuangkan tiga butir plt berwarna hijau dan dimasukan kedalam mulut Go siau Bi kemudian jari tangannya menari serta melepaskan delapan belas totokan kilat, semua totokan dilakukan dengan kecepatan yang sukar diikuti dengan pandangan dan ketetapan yang mengagumkan.

Selesai melakukan kesemuanya itu dengan muka serius pesannya kepada sianak muda itu.

"Ingatlah baik2, saat inilah kesempatan yang paling baik bagimu untuk membalas budi kebaikan yang pernah kau peroleh dari dirinya dan mulai hari ini engkau tak boleh melakukan perbuatan2 yang menyakitkan hatinya lagi sebab ia sudah menjadi istrimu, jika engkau tidak melaksanakan kesemuanya itu maka akulah yang menanggung semua dosa dan kesalahan ini"

"Cianpwee bolehkah aku tahu siapa namamu?"

"Tentang soal ini" nenek tua itu ragu sejenak "aku she Ong orang2 persilatan menyebut diriku nenek ong engkau boleh memanggil aku dengan sebutan itu saja"

Han Siong Kie mengambil setahil perak dan diangsurkan kedepan katanya dengan halus. "Cianpwee jumlah yang sangat kecil ini harap diterima sebagai biaya pengobatan"

"Haaahhh...haaahhh... haaahhh tidak usah pengobatan yang kulakukan saat ini akan kuanggap sebagai batuan sukarela" seru sang nenek sambil tertawa nyaring "semoga kalian berdua hidup rukun dan damai hingga akhir hayat nanti, selamat tinggal dan jangan lupa kalau waktu sudah tak  banyak lagi."

Habis bicara dia ambil gulungan kain di ujung ruangan dan berlalu dari ruangan tersebut.

Diluar pintu kamar seorang gadis baju hitam telah menanti kedatangannya, ia melihat kemunculan nenek tua itu, dengan suara setengah berbisik segera tanyanya: "Ibu, apakah semua urusan telah beres ??"

"Hmm beres..." "Perbuatanmu ini apakah tidak terlalu..."

"Nak, terpaksa aku harus berbuat demikian, aku kuatir jika sampai terjadi hal yang tak kuinginkan itu."

"Tapi apakah mereka bisa bahagia??" "Aku rasa bisa"

Suara itu kian lama kian lirih akhirnya lenyap dari pendengaran. Han Siong Kie sebagai seorang pemuda yang memiliki tenaga dalam sebesar dua ratus tahun latihan memiliki ketajaman mata dan pendengaran melebihi siapapun, kendati bisikan yang dilakukan ibu dan anak diluar pintu itu dilakukan dengan suara lirih namun semua pembicaraan berhasil didengar dengan amat jelas, sekujur badannya kontan gemetar keras.

Tiba2 satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia merasa amat kenal sekali dengan suara itu, bukankah suara itu adalah suara dari "Yo sim jim" orang yang ada maksud beserta ibunya "su hun jin" orang yang kehilangan sukma?? mengapa mereka berdua harus mengatur kesemuanya ini...??

Ia berkelebat kearah pintu dan mengejar keluar, namun bayangan orang yang kehilangan sukma berdua telah lenyap tak berbekas.

Dengan perasaan bimbang bercampur curiga akhirnya sianak muda itu harus balik kembali kedalam kamar.

"Apakah aku harus melakukan perbuatan seperti apa yang dianjurkan oleh orang yang kehilangan sukma??" ingatan tersebut berulang kali berkecamuk dalam benaknya.

Butiran keringat sebesar kacang kedelai mengucur keluar tiada hentinya, pelbagai pikiran yang saling bertentangan berkecamuk dalam seluruh benaknya.

Ketika sorot matanya berpapasan dengan wajah Go siau Bi yang berbaring diatas pembaringan, hampir saja pemuda itu bersorak kegirangan, ia temukan paras muka yang berwarna merah semu ke hitam-hitaman itu sudah lenyap tidak berbekas, hal ini membuktikan bahwa tiga butir obat yang diberikan orang yang kehilangan sukma telah menunjukkan reaksinya.

Dengan hati berdebar keras ia duduk di samping pembaringan sambil menantikan perubahan selanjutnya, pemuda itu ambil keputusan untuk menunda pelaksanaan " Niat" nya tersebut sambil menunggu perkembangan lain.

Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benaknya, ia mulai berpikir apa sebabnya orang yang kehilangan sukma membohongi dirinya serta mengatur siasat agar dia kawini Go siau Bi??

Suatu persoalan yang rumit dan diliputi oleh suatu tanda tanya besar...

Mengapa orang yang ada maksud mengatakan: "... Untuk menjaga segala kemungkinan.." kemungkinan apakah yang bakal terjadi?

Diam2 pemuda itu bersyukur karena ia belum mengawini gadis itu secara gegabah, kalau tidak entah bagaimanakah akibatnya?.

Seperminum teh kemudian, Go siau Bi mulai menggerakkan tubuhnya dan membuka sepasang matanya kembali.

"Nona Go, akhirnya engkau sembuh juga." seru Han Siong Kie tanpa sadar.

Per-tama2 Go siau Bi temukan dirinya di atas pembaringan, ketika ia berpaling kesamping maka ditemuilah seorang pemuda asing yang berwajah penyakitan duduk dihadapannya tanpa terasa ia menjerit lengking dan loncat bangun dari atas pambaringan dengan rasa terkesiap curiga bercampur tak habis mengerti, ia tatap pemuda dihadapannya itu tanpa berkedip. "Kau.. kau.. siapakah kau?" "Malaikat penyakitan"

"Apa? malaikat penyakit? "dengan hati terkesiap Go Siau Bi mundur satu langkah kebelakang.

"Sedikitpun tidak salah."

"Lalu... lalu dimanakah kita berada saat ini?" "Rumah penginapan"

Sekujur badan Go siau Bi gemetar keras suatu perasaan halus seorang gadis dara itu tanpa sadar memeriksa pakaian yang dikenakan olehnya sewaktu menyaksikan pakaian bagaian dadanya telah terbuka, pandangan matanya jadi gelap dan hampir saja ia roboh tak sadarkan diri

Rasa malu dan gusar berkecamuk jadi satu dalam dadanya, tiba2 ia membentak keras: "Bajingan keparat, aku akan beradu jiwa dengan dirimu" Han Siong Kie terperangah.

"Blaammm" sebuah pukulan yang amat keras bersarang diatas bahu pemuda itu dan "Blaamm" kembali pukulan lain menghajar dadanya.

Dalam keadaan tertegun bercampur kaget sianak muda itu sama sekali lupa untuk mengerahkan tenaga guna melawan hajaran2 yang dilontarkan keatas tubuhnya itu tanpa dapat dikuasai ia terdorong mundur sejauh tiga langkah kebelakang.

sementara itu, ketika Go siau Bi melihat pihak lawan sama sekali tidak melakukan pembelaan terhadap serangannya, ia jadi terperangah dan hentikan serangannya setelah membereskan pakaiannya bagian dadanya yang terbuka, ia tatap wajah lawannya tajam2 kemudian sambil menuding kemuka teriaknya keras:

"Malaikat penyakit, aku bersumpah tak akan hidup berdampingan dengan dirimu" Butiran air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, ia mengira kesucian tubuhnya telah ternoda ditangan lawan.

Han Siong Kie sendiri sebetulnya hendak melepaskan topeng kulit manusia yang dikenakan olehnya, tapi setelah berpikir sebentar ia segera batalkan niatnya itu sebab "orang yang ada maksud" pernah berpesan kepadanya bahwa manusia berwajah dingin sudah mati..

Sambil tertawa getir ujarnya:

"Nona Go, duduklah dahulu dan mari kita perlahan berbicara persoalan ini"

"Apa? darimana engkau bisa tahu kalau aku she Go?" "Nona, pikirlah kembali.. apa yang kau alami setengah hari

berselang?"

Rasa sangsi dan bingung terlintas diatas wajah Go siau Bi, ia dapat merasakan bahwa Malaikat penyakit yang berada dihadapannya tidak mirip seorang pemuda yang bermoral bejad, maka setelah mendengar perkataan itu, dara tersebut mulai duduk tenang dan mengingat kembali kejadian yang telah dialaminya beberapa waktu berselang.

Ia masih ingat ketika dirinya dikejar kejar oleh seorang kakek baju hijau dan seorang busu baju hijau, setelah tertawan tiba2 hidungnya mencium bau harum yang sangat aneh dan kesadarannya seketika lenyap tak berbekas.

Gadis ini mulai berpikir kenapa ia berada ditempat ini dan dari mana pula pemuda berwajah penyakitan itu bisa tahu kalau dia she Go?

Dalam pada itu dara tersebut sudah merasa yakin bahwa tubuh bagian bawahnya tidak menunjukan gejala kelainan atau rasa sakit, bahkan gaun yang dia kenakan masih utuh sama sekali ini membuat hatinya agak lega. Dari perubahan wajah Go Siau Bi sianak muda itupun sudah tahu bahwa dara tadi mulai mengenang kembali peristiwa yang telah menimpa dirinya ia lantas berkata:

"Ketika aku sedang melakukan perjalanan kutemui nona sedang diculik oleh para durjana dari istana Huan mo kiong karena itu "

"ooooh jadi siangkong yang telah menyelamatkan diriku?" "Benar, aku kasihan melihat nona menderita ditangan

lawan maka aku telah menyelamatkan dirimu"

"Waah kalau begitu akulah yang telah salah menuduh diri

siangkong dengan pikiran yang bukan2, bila aku telah melakukan kekerasan kepadamu harap siangkong bersedia memberi maaf"

Habis berkata ia memberi hormat.

Dengan cepat Han Siong Kie menyingkir ke samping. "Nona tak usah banyak adat" serunya.

Pemuda itupun segera menceritakan bagaimana ia telah membawa gadis itu kesitu untuk mencari pengobatan tentu saja ia telah merahasiakan persoalan tentang permintaan dari orang yang kehilangan sukma untuk mengawini gadis itu.

Selesai mendengarkan kisah tersebut Go siau Bi merasa amat berterima kasih sekali, kembali ia memberi hormat sambil berkata:

"Budi kebaikan siangkong suatu ketika pasti akan kubalas terimalah penghormatanku ini"

"Tak usah kau lakukan kesemuanya itu" buru2 Han song Ki goyangkan tangannya berula kali "anggaplah kesemuanya ini sebagai takdir dan justru karena peristiwa ini juga akupun bisa membalas kebaikan budi yang pernah kau lepaskan beberapa waktu yang lalu" Go siau Bi terperangah, ia membelalakkan matanya lebar2 dan berseru dengan hati tercengang:

"Siangkong, apa... apa yang kau ucapkan?"

Han Siong Kie merasa bahwa ia telah salah berbicara, buru2 serunya kembali: "Nona, apakah engkau kenal dengan manusia berwajah dingin Han Siong Kie?"

Pucat pasi selembar wajah Go siau Bi mendengar nama itu, tubuhnya mundur dengan sempoyongan, jawabnya dengan sedih :

"Kenal, tapi dia dia telah mengalami nasib yang jelek dan

meninggal dunia"

Han Siong Ki merasa tak habis mengerti, ia tak tahu kenapa Go Siau Bi begitu terpukul hatinya mendengar ucapan tersebut karena pandangan yang sempit dia merasakan anti perempuan yang berkecamuk dalam dadanya membuat pemuda itu tak mampu meresapi perasaan antara pria dan wanita. Dengan nada dingin katanya:

"Benar, nasibnya memang jelek dan kematian yang menimpa dirinya hampir boleh dibilang sama sekali diluar dugaan siapapun"

-000d0w000-

BAB 23

"SIANGKONG apa hubunganmu dengan dirinya?" tanya dara itu.

"Saudara sehidup semati"

"Oooh.. jadi dia... dia.. adalah saudara angkatmu?" Han Siong Kie mengangguk dingin, ujarnya kembali:

"Sudah lama berselang ketika ia dihantam oleh musuhnya hingga tercebur kedalam sungai, aku dengar jiwanya ditolong oleh seorang nona atas peristiwa itu saudaraku selalu mengingat dan mengenangnya dan sering kali membicarakan dengan diriku, sekarang ia telah mati maka sudah sepantasnya kalau akulah yang membayar budi pertolongan yang kau lepaskan kepadanya"

Dengan sedih Go siau Bi menghela napas panjang. "Aaai.. siangkong keliru besar, aku melepaskan budi

bukannya mengharapkan pembalasan, lagipula aku bisa menolong jiwamu hal itu hanya terjadi karena kebetulan, karenanya tak dapat dikatakan sebagai budi atau hutang, justru hari ini akulah yang telah berhutang budi terhadap diri siangkong.."

"Oooh... Bukannya aku bermaksud begitu, sahabat karibku itu paling mengutamakan membedakan mana budi mana dendam, sedang aku.."

Belum habis ia berkata, tiba2 dari halaman luar berkumandang datang suara gelak tertawa yang amat keras dan menggetarkan seluruh angkasa, diikuti seseorang dengan suara yang berat berteriak:

"Malaikat penyakit, ayoh keluar untuk berbicara"

Sekujur badan Han Siong Kie bergetar keras, segera pikirnya didalam hati:

"Kurang ajar manusia darimanakah yang telah mengejar diriku sampai kesinii?"

Go siau Bi pun kelihatan agak tercekat hatinya, ia segera berseru:

"Siangkong, ada orang menantang dirimu"

Han sioag Kie mengangguk dan sebera melangkah keluar dari ruangan. .

Ditengah halaman ia temukan seorang imam berjubah abu2 yang mempunyai perawakan badan setinggi delapan depa berdiri sambil melotot gusar kearahnya, sepasang matanya melotot bagaikan biji gundu, tampangnya bengis dan menyeramkan. sianak muda itu jadi keheranan, pikirnya:

"Heran aku sama sekali tak kenal dengan hidung kerbau ini, kenapa ia datang mencari gara2 dengan aku??"

Dalam pada itu imam tersebut dengan suara yang keras bagaikan geledek telah berseru kembali:

"Apakah engkau adalah Malaikat penyakit yang baru saja munculkan diri di dalam dunia persilatan??"

"Tidak salah, tolong tanya siapakah diri totiang??" "Aku adalah Malaikat raksasa Leng Bengcu dari partai

Khong-tong."

"Bolehkah aku tahu ada urusan apa totiang datang mencari diriku??"

"Aku harap engkau bersedia menuju ke pantai sungai kurang lebih lima li diluar kota"

Han Siong Kie tercengang bercampur tidak habis mengerti, ia tak tahu apa sebabnya partai Khong-tong mengutus jago lihaynya untuk mencari gara2 dengan dirinya.

"Apakah aku boleh tahu ada urusan apa kau mencari aku?" tegurnya dengan suara dingin-

Malaikat raksasa Leng Beng cu tertawa seram. "Heehh..heehh..heeehh sampai waktunya engkau akan

tahu sendiri, sekarang maafkanlah kalau terpaksa pintu akan

jalan lebih dahulu."

Tanpa banyak bicara ia putar badan dan berlalu dari situ, diatas lantai bekas tempat yang dilalui olehnya tersisalah bekas2 telapak kaki sedalam satu cun. Han Siong Kie tertawa dingin, sekarang ia telah menduga babwa pihak lawan datang untuk mencari balas, hanya ia tak habis mengerti darimana munculnya dendam tersebut.

"Kini luka yang diderita Go siau Bi telah sembuh, aku memang sudah sepantasnya untuk menerus kan perjalanan" pikirnya dihati.

Tapi sebelum ia berangkat tinggalkan tempat itu, dari arah belakang telah berkumandang suara teguran dari Go Siau Bi. "Siangkong, apa yang telah terjadi?"

"Ooh tak apa2, hanya suatu perjanjian yang harus segera kupenuhi"

"Menurut penglihatanku, imam tersebut mengandung suatu maksud yang tidak benar, lebih baik tak usah kau gubris" Han Siong Kie tertawa tawa.

"Aku rasa kejadian ini hanya suatu kesalah pahaman belaka, nona maafkan daku, sekarang aku ada urusan penting yang harus segera diselesaikan, selamat tinggal nona dan sampai jumpa kembali lain waktu"

Bicara sampai disitu ia segera memanggil pelayan dan membereskan rekening kamarnya.

Go Siau Bi seperti mau mengucapkan sesuatu, wajahnya sedih sekali namun tak sepatah katapun yang meluncur keluar, setelah tertegun beberapa saat akhirnya dia berkata: "Siangkong, benarkah engkau adalah saudara sehidup semati dengan Han Siong Kie?"

"Sedikitpun tidak salah"

"Tentunya siangkong mengetahui juga bukan asal usulnya?"

"Tentu soal ini kenapa sih nona menanyakan persoalan itu?" Air mata mengembang dalam kelopak mata Go siau Bi dengan sedih jawabnya lirih: "Terus terang kukatakan siangkong aku telah serahkan hatiku kepadanya"

Bagaikan disambar petir disiang hari bolong Han Siong Kie merasa amat terperanjat sekali untuk beberapa saat lamanya ia terpaku dan berdiri ter-mangu2

"Sedari kapan bibit cinta itu mulai bersemi apakah sejak ia beristirahat selama tiga hari dikamar tidurnya itu? Nona engkau telah serahkan hatimu kepadanya?" pemuda itu berseru tertahan-

"Benar sejak aku selamatkan jiwanya dari dalam sungai dan merawat dirinya selama tiga hari dikamar tidurku, aku telah bersembahyang didepan meja abu ayahku dan menyerahkan hatiku padanya."

Han Siong Ki merasakan jantungnya berdebar keras, persoalan ini betul2 merupakan suatu persoalan yang memusingkan kepalanya, diam2 ia bersyukur karena ia telah berubah wajahnya danpihak lawanpun sudah menyaksikan sendiri liang kubur yang digunakan untuk mengubur jenasahnya, kalau tidak pemuda itu tak dapat membayangkan sampai dimanakah kesulitan yang bakal dia alami

Andaikata gadis yang mengutarakan isi hatinya adalah gadis lain, mungkin pemuda itu hanya tersenyum belaka tapi pihak lawan pernah melepaskan budi kebaikan kepadanya urusan jadi tambah rumit. Dengan suara dalam segera ujarnya: "Sungguh tak beruntung, ia sudah mati"

"Benar. Ia telah mati, tapi aku telah serahkan seluruh jiwa ragaku kepadanya, karena itu aku hendak mengorbankan seluruh kehidupanku untuk berbakti kepada keluarganya" Air mata yang mengembang dalam kelopak mata, akhirnya menetes juga membasahi pipinya.

Han Siong Kie terharu dan badannya gemetar keras, dia paling benci kepada kaum wanita tapi perasaan cinta yang begitu suci dan murni yang diutarakan gadis itu telah mencair dihatinya, hampir saja ia hendak lepaskan topeng kulit manusia yang dikenakan diwajahnya, tapi setelah berpikir sebentar akhirnya ia batalkan niatnya itu. Dengan nada suara setenang mungkin dia berkata:

"Cinta suci yang nona perlihatkan benar2 mengagumkan, sukma yang ada didalam baka pasti akan tersenyum setelah mengetahui akan hal ini.. sayang rasa cinta nona yang begini murninya aku tak dapat disalurkan sesuai dengan apa yang nona harapkan"

"Kenapa?"

"Sebab dia tak punya rumah dan tak punya keluarga, dikolong langit hanya hidup sebatang kara"

Go siau Bi tak dapat menahan rasa sedihnya lagi, ia menangis terisak. ujarnya:

"oooh aku tak menyangka kalau asal usulnya begitu menyedihkan dan patut dikasihani, sekarang akupun hidup sebatang kara, ibuku telah lama meninggal, ayahku juga mati ditangan orang sampai2.. impianku yang terakhirpun ikut lenyap dan musnah"

Han Siong Kie merasakan tenggorokannya tersumbat dan seakan-akan hendak menangis, ia berharap segera tinggalkan gadis itu karena ia takut terlalu lama berdiam, ia takut ia tak dapat menahan pergolakan perasaan dalam hati kecilnya, disamping itu diapun berharap cepat2 membuka tabir rahasia yang menyelimuti tantangan dari pihak Khong tong pay itu.. Dengan cepat ia alihkan pembicaraan kesoal lain dan berkata:

"Nona Go, tahukah engkau bahwa Han Siong Kie mempunyai sesuatu rahasia hati yang amat besar?"

"Rahasia apa?"

"sepanjang hidupnya dia paling.. paling.. benci berhubungan dengan kaum wanita, atau bicara dengan kata yang lebih tak sedap didengar, ia paling benci dengan kaum wanita"

"Kenapa? " tanya Go siau Bi terperangah.

"Mungkin ia pernah menderita sesuatu macam pukulan batin yang hebat, dan pukulan batin yang amat parah itu datangnya dari kaum wanita, bagaimanakah duduk persoalan yang sebenarnya aku tak begitu jelas, tapi aku menguasahi penuh akan wataknya ini"

"Sungguhkah hal ini?"

"Aku tidak akan membohongi diri nona"

Mau tak mau Go siau Bi harus mempercayai perkataan itu, ia masih ingat dengan jelas sikap dan nada ucapan Han Siong Kie sewaktu meninggalkan pesanggrahan Teng to siau cu tempo hari, semuanya menunjukkan sikap yang begitu dingin hingga menggidikkan hati. Ia sebera mengangguk dan menjawab:

"Mungkin apa yang kau ucapkan memang benar2 merupakan kenyataan, tapi sekarang dia telah mati, rasa cintaku kepadanya-pun hanya selalu kusimpan dalam hati, aku tak pernah menunjukkan perasaanku itu di hadapannya, mungkin disinilah letak keberuntunganku, hingga tak usah dipandang dan dihadapi dengan sikap dingin"

"Ucapan nona sangat mengharukan hatiku, semoga engkau bisa baik2 jaga diri selamat berpisah"

"Budi kebaikan siangkong tak akan kulupakan untuk selamanya"

"Nona terlalu serius" ditengah pembicaraan tersebut tubuhnya dengan cepat telah berlalu dari rumah penginapan itu.

Setelah keluar dari rumah penginapan dengan cepat Han Siong Kie berangkat menuju ketepi sungai kurang lebih lima lie dari kota, perasaan hatinya kalut dan bingung, cinta suci dari Go siau Bi telah mengharukan perasaan hatinya, dan rasa bencinya terhadap kaum wanita tanpa terasa per-lahan2 jauh lebih menipis.

Beberapa saat kemudian, ia telah berada ditepi sungai, dari tempat kejauhan ia lihat ada tujuh orang telah menanti kedatangannya ditepi sungai yang berpasir, ketujuh orang itu berdandan sebagai imam semua, salah satu diantaranya bukan lain adalah malaikat raksasa Leng Beng cu.

Tujuh pasang mata yang tajam menyambut kedatangannya, dibalik cahaya yang tajam itu terpancarlah rasa benci, dendam yang amat tebal.

Dengan suatu gerakan yang manis Han Siong Kie melayang turun dihadapan ketujuh orang itu dan berhenti kurang lebih dua tombak dihadapannya.

seorang imam tua berambut ke perak2an yang berdiri dipaling depan segera buka suara dan menegur:

"Apakah sicu yang disebut orang sebagai malaikat penyakitan?"

"Sedikitpun tidak salah" jawab sang pemuda sambil mengangguk.

"Pintu adalah Kui Goan cu dari partai Khong tong, kami dengar orang berkata bahwa sicu adalah ahli waris dari Mo tiong ci mo. iblis diantara iblis, apakah berita ini benar?"

Han Siong Kie merasa amat terperanjat, ia tak menyangka kalau berita tersebut begitu cepat sudah tersiar dalam dunia persilatan-

Ketika terjadi pertarungan sengit melawan pengawal istana Huan mo kiong,jurus serangan yang dipergunakan olehnya berhasil diketahui asal usulnya oleh pihak lawan, dan sungguh tak nyana baru satu hari setengah telah muncul musuh2 tangguh yang mencari gara2 dengan dirinya. Ia sendiripun tak tahu sebelum gurunya Mo tiong ci mo mengasingkan diri, perselisihan apa saja yang pernah dilakukan olehnya dengan orang persilatan, tapi setelah ia menerima pelajaran ilmu silat darinya itu berarti diapun harus bertanggung jawab pula atas resiko yang harus dihadapi.

Setelah berpikir sebentar dengan suara ketus dia segera menjawab: "Sedikltpun tidak salah, aku memang ahli waris dari dia orang tua"

Paras muka ketujuh orang imam itu berubah hebat, rasa benci dan dendam yang menghiasi wajah merekapun semakin menebal.

Kui Goan cu dengan sorot mata memancarkan cahaya kilat berseru dengan paras serius.

"Kalau memang begitu pinto akan mengajukan satu pertanyaan lagi, pinto harap siau sicu bersedia menjawab pertanyaanku dengan sejujurnya"

"Ajukanlah pertanyaanmu itu"

"Apakah gurumu masih hidup dikolong langit?" "Masih ada apa?"

"Sekarang ia berada dimana?"

"Harap tootiang terangkan dahulu maksud kedatangan kalian"

"Tak ada gunanya kami terangkan padamu, asal engkau bersedia mengatakan dimanakah gurumu berdiam maka pinto tanggung kami tak akan menyusahkan dirimu"

"Seandainya aku tidak bersedia menjawab apa yang hendak kau lakukan?" ejek Han Siong Kie ketus.

Paras muka ketujuh orang imam itu kembali berubah hebat, ditengah perasaan benci yang teriintas diatas wajah mereka hawa amarah mulai berkobar membakar hati mereka. Dengan suara beratpenuh kemarahan Kui Goan cusegera menjawab:

"siau sicu, kami tak akan membiarkan engkau bertindak sesuka hatimu, kalau engkau tidak bersedia menjawab maka ia berarti engkau sudah bosan hidup dikolong langit"

"Aaah belum tentu kalian mampu mengapa-apakan aku" ejek Han Siong Ki sambil mendengus sinis.

Malaikat raksasa Leng Beng cu yang berdiri dibelakang imam tua itu kontan berteriak dengan suara yang keras bagaikan guntur membelah bumi. "Belum tentu?. Huuh akan kusuruh engkau rasakan kelihayan kami.." sambil berseru ia segera menerjang maju kedepan sambil melepaskan satu pukulan.

Kun Goan cu yang berada disampingnya segera menghadang jalan pergi rekannya itu sambil berseru: "Jangan terburu napsu."

Kemudian kepada Han Siong Kie ia menambahkan. "siau sicu, aku anjurkan kepadamu lebih baik jawablah

dengan sejujurnya semua perkataan yang kuajukan" "Maaf aku tak dapat memberitahukan kepadamu"

"Jadi siau sicu tetap keras kepala dan tak mau menjawab pertanyaanku itu?"

"Apa salahnya kalau tootiang terangkan dahulu maksud kedatanganmu itu?"

"setelah kuutarakan kelUar, apakah siau sicu dapat memberi pertanggunganjawabnya?"

"Mungkin "

Tiba2 diatas paras muka Kun Goin cu yang penuh keriputan terlintas rasa sedih, yang amat tebal ujarnya dengan penuh emosi: "Empat puluh tahun berselang gurumu telah membinasakan cin siu Toojin, ketua ke sembilan belas dari partai kami beserta tiga puluh orang anggota perguruan"

Dengan hati terperangah Han Siong Kle mundur satu langkah kebelakang, ia tak menyangka gurunya pada empat puluhan tahun berselang telah membinasakan ketua ke sembilan belas dari partai Khong tongpay beserta tiga puluh orang muridnya, ia tahu peristiwa tersebut merupakan suatu peristiwa besar yang luar biasa sekali tanpa sadar serunya:

"Benarkah telah terjadi peristiwa semacam ini?"

"Pinto tak akan sengaja mengarang cerita bohong untuk mencari gara2, setiap umat persilatan dikolong langit mengetahui akan kejadian ini"

"Apakah tootiang tahu apa sebabnya hingga terjadi peristiwa berdarah itu?"

"Dahulu suhumu gemar membunuh manusia, ia membunuh orang bagaikan membabat rumput, apa sebabnya dia melakukan peristiwa yang biadab itu mungkin hanya dia seorang yang tahu"

"Jadi maksud tootiang engkau hendak mencari guruku untuk menuntut balas atas peristiwa berdarah itu?"

"Bu liang siu hud peristiwa berdarah ini sudah dipeti es kan selama empat puluhan tahun lebih, tentu saja sekarang harus diselesaikan sebagaimana mestinya"

Tentu saja Han Siong Ki tidak akan mengerti apa sebabnya gurunya Mo-tiong ci-mo, membunuh cing siu toojin beserta ketiga puluh lima orang anggota perguruannya pada masa silam tapi pada saat ini tentu saja ia tak bersedia menerangkan dimanakah gurunya sebab masa hidupnya masih tinggal sepuluh hari bahkan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya telah diberikan padanya membuat kakek itu jadi loyo dan sama sekali tak bertenaga. Pemuda itu merasa dia sebagai ahli warisnya sudah menjadi kewajiban untuk menyelesaikan setiap persoalan yang diwariskan gurunya pada dia. Maka dengan suara lantang ia bertanya:

"Jadi maksud tootiang bagaimana caranya hendak menyelesaikan persoalan ini?"

"Apakah siau sicu dapat mengambil keputusan mengenai masalah tadi?"

"Aku akan menyelesaikan semua tanggung jawab dengan segala kemampuan yang kumiliki"

"Haaahh.... Haaahhh... haaahhh bocah cilik, engkau benar- benar tak tahu diri" seru Kui Goan cu sambil tettawa seram "lebih baik katakan saja dimana gurumu berdiam, pinto akan pergi mencari dirinya dan menyelesaikan sendiri persoalan ini dengan dirinya"

"Maaf, aku tak dapat memenuhi keinginanmu"

"Bocah keparat yang tak tahu tingginya langit tebalnya bumi, lebih baik tutup bacot anjingmu itu dan tak usah berlagak sok di tempat ini. " bentak Malaikat rakrasa Leng

Beng-cu dengan penuh kegusaran.

Sambil membentak keras ia maju kedepan, telapak tangannya yang lebar bagaikan kipas segera diayUn kedepan mencengkeram tubuh Han Siong Kie, serangan ini bUkan saja dilancarkan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, bahkan disertai pula tenaga pukulan yang maha dahsyat.

Dengan cekatan Han Siong Kle berkelit ke samping, tegurnya dengan suara ketus: "Aku anjurkan lebih baik persoalan ini diterangkan dahulu sampai selesai sebelum main kekerasan"

Tatkala menyaksikan cengkeramannya mengenai sasaran yang kosong, malaikat raksasa Leng Beng cu semakin naik pitam, dengan gusar bentaknya : "Tutup bacot anjingmu, tooya akan beri pelajaran lebih dahulU kepadamU sebelum pembicaraan diteruskan"

sepasang telapak dilancarkan berbareng, segulUng hembusan angin pUyuh segera menggulUng kemUka bagaikan amukan ombak yang menghajar tepian pantai, kedahsyatannya benar2 sesuai dengan julukannya sebagai malaikat raksasa.

Diam2 Han Siong Kle terkesiap juga menghadapi serangan dahsyat itu, buru2 dia ayun telapak kanannya dan melancarkan satu pukulan dengan tenaga sebesar tujuh bagian.

"Blaamm.. ditengah getaran keras yang menggelegar diangkasa, pasir dan batu beterbangan memenuhi di angkasa, malaikat raksasa mundur delapan langkah kebelakang dengan sempoyongan.

Paras muka semua imam yang bordiri di tepi gelanggang sama2 berubah hebat, rasa bergidik timbul dalam hati mereka semua, mereka tak menyangka kalau sebuah pukulan lawan yang dilakukan dengan tangan sebelah berhasil memukul mundur Leng Beng cu yang tersohor akan kekuatan alamnya itu, peristiwa ini benar2 mengejutkan. Buru2 Kui Goan cu maju ke depan dan berkata dengan suara dalam:

"Siau sicu, tenaga dalam yang engkau miliki benar2 luar biasa sekali, tapi peristiwa berdarah ini sudah sepantasnya kalau diselesaikan sendiri oleh gurumu.."

Sementara itu Han Siong Kle telah mengambil keputusan dalam hatinya untuk menangani persoalan itu, dengan suara dingin menyeramkan ia segera menjawab:

"Maaf, sudah kukatakan tadi bahwa persoalan ini tak bisa kupenuhi"

Air muka Kui Goan cu berubah hebat, per-lahan2 ia mundur tiga langkah kebelakang. Sekali lagi malaikat raksasa Leng Beng cu membentak keras kemudian bagaikan banteng terluka menerjang kedepan.

Han Siong Kle berdiri tegak bagaikan sebuah bukit karang, sepasang telapaknya berputar satu lingkaran dengan suatu gerakan yang sangat aneh, kemudian melepaskan satu pukulan mendorong balik tubuh malaikat raksasa, inilah gerakan bertahan yang tercantum dalam ilmu pukulan Mo mo ciang hoat, kesaktiannya luar biasa dengan perubahan yang sukar diikuti dengan kata2, meskipun hanya suatu gerakan yang sangat gampang namun tubuh lawan seketika terpental kebelakang.

Dalam hati kecilnya kendatipun Leng Beng-cu merasa amat terperanjat, namun ia tak sudi menelan kekalahan tersebut dengan begitu saja, setelah mundur, ia maju kembali kedepan, telapaknya yang besar bagaikan raksasa dengan menciptakan bayangan telapak bagaikan bukit segera melepaskan pukulan balasan, kedahsyatannya sukar dilukiskan dengan kata2.

Han Siong Kie memutar telapaknya dengan kencang, badannya tetap tegak bagaikan bukit Thay san, kendatipun Leng Beng cu telah melepaskan serangkaian pukulan yang mematikan, namun tetap gagal untuk menembusi pertahanan lawan, ini mengakibatkan ia jadi penasaran dan membentak keras tiada hentinya.

Lima orang imam yang berdiri dibelakang Kui Goan cu rupanya sudan kehabisan sabar, sambil membentak mereka segera terjunkan diripula kedalam gelanggang pertarungan.

Dalam sekejap mata hawa pukulan menderu2, bayangan telapak berkelebat memenuhi angkasa bagaikan bukit.

Enam sosok bayangan manusia saling melepaskan pukulan berantai secara kalap dan menggila, mereka berusaha merobohkan musuhnya secepat mungkin.. Han Siong Kie sendiri makin bertempur ia merasa semakin mantap hatinya, dengan jurus pertahanan yang tercantum dalam angin pukulan Mo mo ciang hoat, kendatipun keempat orang imam tersebut berusaha melontarkan jurus serangannya dari sudut yang manapun, usaha mereka selalu mengalami kegagalan total.

Kadangkala mereka berhasil menemukan titik kelemahan yang dalam pikiran mereka pasti akan menghasilkan suatu pukulan yang mantap. tetapi setelah pukulan dilontarkan ternyata dengan suatu gerakan yang sangat enteng dan seperti tak disengaja pukulan tersebut tertangkis kembali, hal ini membuat ketujuh orang jago lihay daripartai Khong-tong jadi kelabakan setengah mati. suatu ketika Han Siong Kie berseru lantang:

"Totiang, ketahuilah bahwa kesabaran orang ada batas2nya, apakah engkau hendak paksa aku untuk melukai orang??"

Serangan yang dilancarkan ketujuh orang imam itu semakin membabi buta, ibaratnya hujan badai mereka hamburkan semua pukulan yang rasanya dapat mendatangkan hasil untuk meneter dan mendesak lawan.

Diam2 Kiu Goan cu mengerutkan dahinya, ia telah menyadari bahwa ilmu silat yang dimiliki ahli waris dari Mo tiang ci mo ini sudah berhasil mencapai kesempurnaan bagaikan gurunya, jika pertarungan itu dilanjutkan, maka akhirnya toh pihak merekalah yang akan mengalami kerugian besar, karena itu setelah termenung sebentar dia segera berseru:

"Kalian semua segera mundur"

Keringat sebesar kacang kedelai telah mengucur keluar membasahi seluruh tubuh tujuh orang imam itu. napas mereka tersengkal2 bagaikan kerbau, mendengar perintah itu dengan cepat mereka tarik kembali serangannya dan mengundurkan diri kebelakang. Dengan paras muka amat serius Kui Goan cu maju beberapa langkah kedepan, ujarnya:

"Siau sicu apakah engkau tetap keras kepala dan tidak bersedia mengatakan tempat tinggal gurumu?"

"Sudah beberapa kali toh kuterangkan, permintaan kalian itu tak mungkn bisa kupenuhi"

"Kalau memang begitu, terpaksa pinto harus berbuat kasar kepada dirimu..."

"Silahkan"

Kiu Goan cu mengibaskan sepasang ujung bajunya, angin pukulan yang tajam bagaikan gunting segera menghantam tubuh Han Siong Kie.

Ku Goan cu adalah pemimpin dari Khong-tong sam tiang lo, tenaga dalam yang dimilikinya amat sempurna bisa dapat dibayangkan kedahsyatannya serangan yang dilancarkan olehnya ini.

Han Siong Kie scndiri diam2 merasa kagum juga melihat sikap imam tua yang tetap menjaga kesopanan kendatipun ia telah berhadapan muka dengan ahli waris musuh besarnya,

Pemuda itu tak mau melukai orang sebelum mengetahui jelas duduk perkara yang sebenarnya.

Ketika menyaksikan datangnya guntingan angin pukulan yang tajam dengan cekatan tubuhnya berkelebat delapan langkah kesamping guna meloloskan diri, serunya dengan suara dalam:

"Tootiang, apakah engkau bersedia mendengarkan penjelasanku??"

"Katakanlah " ujar Kui Goan cu sambil menarik kembali serangannya. "Aku sama sekali tidak mengerti dengan duduk persoalan yang mendasari terjadinya peristtwa berdarah itu, sementara tootiang sendiripun tidak bersedia menerangkan, hal ini membuat urusannya jadi makin kabur dan membingungkan hati..." Malaikat raksasa Leng Beng cu yang berada disamping segera menyela dengan gusar:

"Mo tiong ci mo membunuh manusia bagaikan membabat rumput, masih ada perkataan apa lagi yang harus diucapkan?"

Dengan sorot mata berkilat Han Siong Kie segera berpaling kearah Leng Bengcu, katanya:

"Jadi menurut maksudmu, apa yang harus dilakukan?"

Leng Beng cu merasa amat terperanjat, ia ngeri sekali melihat sorot mata la wan yang begitu tajam, bulu kuduknya tanpa terasa pada bangun berdiri Kui Goan cu segera maju kedepan dan balik bertanya:

"Lalu apa pula maksud siau sicu? apa yang hendak kau lakukan untuk menyelesaikan persoalan ini?"

"Dewasa ini aku masih ada urusan penting yang harus diselesaikan lebih dahulu, aku tak ada kesempatan untuk menemani kalian lebib jauh, sepuluh hari kemudian setelah berhasil mengetahui jelas duduk persoalan ini, setiap saat kunantikan petunjuk dari kalian dalam dunia persilatan, cara bagaimana kalau tootiang yang menentukan waktu dan tempat untuk menyelesaikan persoalan ini?"

Sebelum Kui Goan cu sempat menjawab Leng Beng cu berseru lebih dahulu. "Hmm engkau anggap bisa lolos dari sini dangan alasan begitu gampang??" Han Siong Kie mengejek sinis.

"Kalau aku mau pergi siapa yang mampu menghalangi kepergianku?"

"Cobalah untuk kabur dari sini" Han Siong Kie tak lagi menunda waktu terlalu lama lagi, karena dia harus segera melaksanakan perintah gurunya untuk adu kekuatan dengan pemilik Benteng Maut.selain itu sebelum duduk perkara dibikin jelas ia tak tahu tindakan apa yang harus dilakukan olehnya, maka ujarnya kemudian dengan dingin,

"Perkataanku sudah kuutarakan cukup jelas, setiap saat kunantikan petunjuk dari kalian maaf"

Tubuhnya meluncur kedepan dengan gerakan tubuh cahaya kilat lintasan bayangan, didalam sekejap mata tubuhnya sudah berada sejauh sepuluh tombak dari tempat semula kemudian dalam beberapa enjotan tubuhnya telah lenyap diujung jalan.

Tujuh orang jago lihay dari partai Khong tong itu hanya bisa berdiri saling berpandangan, mereka tahu bahwa gerakan tubuh pemuda itu terlalu cepat sehingga tak mungkin bagi mereka untuk menyusulnya.

Dalam pada itu Han Siong Kie sendiri sambil melakukan perjalanan cepat otaknya berputar terus tiada hentinya.

Ia berusaha menemukan alasan yang kuat untuk menerangkan apa sebabnya partai Khong tong beserta ketiga puluh lima orang muridnya dibunuh habis oleh gurunya dimasa silam??.

Ditinjau dari pembicaraan tersebut, sedikit banyak pemuda itu dapat merasa bahwa gurunya gemar sekali membunuh manusia atau dengan perkata an lain musuh besarnya tersebar luas di seluruh kolong langit.

Sekarang asal usulnya telah diketahui orang, berarti pula setiap langkahnya kemungkinan besar mengundang banyak kesulitan bagi dirinya.

Tiga hari kemudian tatkala fajar baru menyingsing ia telah berada kurang lebih seratus li dari benteng maut ditepi pantai, dibalik pepohonan bambu berdirilah sebuah bangunan mungil, tanpa terasa Han Siong Kie menghentikan langkahnya disitulah letak pesanggrahan Teng to siau cu tempat tinggal Go siau Bi, ia tak akan melupakan tempat itu, sebab ketika tubuhnya dihajar oleh pemilik benteng maut hingga tercebur kedalam sungai ditempat itulah jiwanya tertolong.

Dengan sedih pemuda itu memandang pesanggrahan Teng to siau cu, kenangan lama terlintas lagi dalam benaknya.

Tiba2 jeritan ngeri berkumandang datang dari arah pesanggrahan Teng to siau cu diikuti jilatan api membubung tinggi ke angkasa

-000d0w000-

BAB 24

HAN SIONG KIE berhenti sebentar kemudian dengan satu loncatan lebar ia meluncur kearah pesanggrahan Teng to siau cu. Dibawah jilatan api terlihatlah beberapa bayangan manusia berkelebat lewat, dari dalam pesanggrahan itu menuju keluar.

Han Siong Kie segera meluncur kemuka sambil membentak keras: "semuanya berhenti?" Beberapa sosok bayangan manusia itu segera menghentikan gerakan tubuh mereka, orang yang berjalan dipaling depan adalah seorang pria setengah baya yang berwajah bersih dibelakangnya mengikuti delapan orang pria baju hitam.

Tatkala kesembilan orang itu menyaksikan orang yang menghadang jalan pergi mereka adalah seorang pemuda berwajah penyakitan, suara tertawa dingin berkumandang tiada hentinya.

Pria setengah baya itu dengan nada yang sinis segera menegur: "Keparat cilik, apa maksudmu menghadang jalan perginya kami?." sambil menuding kearah pesanggrahan Teng to siau cu yang sedang dimakan api Han Siong Kie menegur:

"Apakah kalian yang membunuh orang dan melepaskan api untuk membakar pesanggrahan tersebut?"

"Sedikitpun tidak salah engkau mau apa?"

Napsu membunuh terlintas diatas wajah Han Siong Kie, katanya kembali.

"Aku ingin tahu apa alasannya sehingga kalian melakukan pembunuhan dan pembakaran rumah itu?"

setelah tertawa seram tiada hentinya pria setengah baya itu menjawab dengan nada menghina:

"Bocah keparat, rupanya engkau sengaja mencari gara2 dengan kami, tahukah engkau siapakah toayamu"

"Sebutkan siapa nama mu?"

"Heehh... heeehhh... heeehhh keparat aku hendak menerangkan lebih dahulu setelah toaya menyebutkan namanya itu berarti saat kematian bagimu sudah tiba, kami berasal dari perkumpulan Thian che kau"

"Apa? perkumpulan Thian che kau??" "Sedikitpun tidak salah, engkau takut?"

Han Siong Kie terbayang kembali pemandangan sewaktu ia hampir menemui ajalnya ditangan orang perkumpulan Thian che-kau, napsu membunuh yang amat tebal segera berkelebat diatas wajahnya, dengan suara menyeramkan ia berkata:

"Engkau tak usah menyebutkan namamu lagi, sebab dengan dasar kaki tangan perkumpulan Thian che- kau sudah lebih dari cukup bagiku untuk melimpahkan sesuatu kepada kalian"

"Melimpahkan apa?" "Kematian"

"Haahh..haahhhahh.. keparat cilik, benar engkau pentang bacot bicara yang bukan2, ketahuilah justru karena ucapanmu yang tidak keruan, kematian akan tiba lebiih cepat atas dirimu" "

Perlahan2 Han Siong Kie maju tiga langkah kedepan, sepatah demi sepatah ujarnya dengan dingin:

"Membunuh orang membakar rumah, tujuannya untuk membabat rumput seakar2nya, sayang orang yang kalian cari tak berada di sini, bukankah begitu???"

Paras muka pria berusia pertengahan itu berubah sangat hebat.

"Keparat cilik, apa hubunganmu dengan budak sialan dari perkumpulan pat gi pang tersebut??" tegurnya.

"Hmm tentang soal ini lebih baik engkau tak usah tahu"

Delapan orang pria baju hitam itu mendengus dingin, salah satu dlantaranya dengan gusar berkata:

"Hiangcu, lebih baik kita musnahkan saja bangoat ini, buat apa kita banyak bicara lagi "

Dengan sorot mata yang tajam bagaikan sambaran kilat Han Siong Kie menyapu sekejap kearah pria baju hitam iltu, membuat pria tersebutjadi bergidik dan bulu romanya pada bangun berdiri, sebelum ucapan nya diutarakan hingga selesai, ia telah menelan kembali katanya.

Pria setengah baya yang dipanggil sebagai Hiang cu itu mendengus dingin, nafsu membunuh yang amat tebal menyelimuti seluruh wajah nya, dengan nada seram ia berseru.

"Bajingan cilik, dengarkanlah baik2, toa-yamu adalah Hiang cu bagian urusan luar dari perkumpulan Thian che kau yang disebut Lauseng dengan begitu setelah mampus engkau tak akan jadi setan kebingungan" Han Siong Ki mendesis penuh penghinaan:

"Huuh bagus sekali Lau Seng engkaupun harus ingat baik2 namaku orang menyebut diriku sebagai malaikat penyakitan"

"Apa? malaikat penyakitan? " "Sedikitpun tidak salah"

Tiba2 dari balik hutan bambu tidak jauh dari gelanggang berkumandang datang suara seruan yang amat merdu.

"Lao hiangcu, kalian cepat mengundurkan diri dari situ dia.. dia adalah..."

Sembilan orang jago lihay dari perkumpulan Thian che kau itu nampak terperangah dan tak tahu apa yang musti dilakukan.

Han Siong Ki melirik sekejap kearah hutan bambu itu, kemudian sambil berpaling kearah Lau Seng ujarnya.

"Lao hiangcu, aku melihat kamu bersembilan lebih baik bereskan nyawa kalian sendiri daripada aku musti repot2"

"Lao hiangcu," suara merdu tadi kembali berkumandang datang: "dia adalah ahli waris dari Mo tiong ci mo iblis diantara iblis"

Begitu mendengar akan sebutan Mo tiong ci- mo paras muka sembilam orang yang ada dalam gelanggang berubah hebat, keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh badan, Mereka tak menyangka kalau pemuda ingusan yang menyebut diri bernama malaikat penyakitan itu ternyata bukan lain adalah ahli waris dari Mo-tiong ci mo seorang tokoh sakti yang angkat nama ber-sama2 pemilik benteng maut.

Bersama dengan berakhirnya suara peringatan tadi tampaklah sesosok bayangan tubuh manusia yang berbadan ramping melarikan diri dari balik hutam bambu. Sembilan orang jago lihay dari perkumpulan Thian che kau itu saling bertukar pandangan sekejap sebelum sempat kabur, Han siong Ki mendengus dingin dan berseru: "Lao seng engkau saja yang musti mampus lebih dahulu"

Telapak tangan terayun, segulung desiran angin tajam laksana kilat meluncur kedepan.

Jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memecahkan kesunyian, sebelum ingatan kedua sempat berkelebat lewat dalam benak Lau seng, dadanya sudah berlubang dan selembar jiwanya melayang tinggal kan raga kasarnya.

Delapan orang pria baju kitam lainnya jadi ketakutan setengah mati, mereka rasakan sukma serasa melayang tinggalkan raganya, tanpa banyak bicara orang2 itu putar badan dan kabur ter birit2.

Napsu membunuh telah membakar hati Han Siong Kie, tentu saja ia tak akan membiarkan musuh2nya melarikan diri dengan begitu saja, badannya meluncur kedepan dan laksana kilat berputar membentuk setengah lingkaran busur.

Delapan orang pria baju hitam itu merasakan pandangan matanya jadi kabur dan tahu2 segulung deruan angin pukulan yang maha dahsyat menghantam datang, memaksa tubuh mereka tergulung kembali ketempat semula.

"Disinilah mayat2 kalian akan dikuburkan" serentetan suara teguran yang dingin bagaikan es bergema diangkasa.

Meyusul ucapan tersebut, gulungan angin puyuh yang maha dahsyat bagaikan ambruknya sebuah bukit segera menindih tubuh kedelapan orang pria baju hitam itu.

Jeritan2 ngeri yang mendirikan bulu roma bergema saling susul menyusul, darah segar berhamburan membasahi seluruh lantai, delapan sosok mayat roboh bergelimpangan diatas tanah. Han Siong Kie menghembus kan napas lega, sorot mata nya dialihkan kearah pesanggrahan Tang to siau cu, meskipun api telah padam namun bangunan tersebut sudah tinggal puing yang berserakan, ia segera menghela napas panjang dan berpikir:

"Kecepatan gerak tubuh Go siau Bi jauh ketinggalan jika dibandingkan dengan kecepatan gerakku, mungkin ia masih belum kembali kesini.."

Setelah berdiri termangu beberapa saat, akhirnya dia gantung kesembilan sosok mayat itu diatas bambu, kemudian dengan darah ia menulis beberapa huruf diatas sebuah batu besar, tulisan itu berbunyi demikian:

"Membunuh orang melepaskan api adalah perbuatan dosa yang tak dapat diampuni, kaki tangan Thian chee kau sampai habis. Tertanda: malaikat penyakitan"

Tujuannya meninggalkan tulisan itu adalah berharap andaikata Go siau Bi telah kembali kesitu, maka ia dapat membaca peringatan yang ditinggalkan kepadanya itu sehingga kewaspadaannya dipertingkatkan dan tidak sampai terjatuh ketangan orang2 perkumpulan Thian che kau.

Sejak Go siau Bi gagal membalas dendam diwilayah Lian huan tau dan nyaris dibunuh kalau bukan tertolong oleh orang yang ada maksud" tentu saja orang2 dari perkumpulan Thian che kau tak akan melepaskan dirinya dengan begitu saja.

Han Siong Kie menyapu sekejap seluruh gelanggang, sebelum ia tinggalkan tempat itu, mendadak anak muda itu menemukan sesosok bayangan manusia muncul pada jarak kurang lebih delapan depa dibelakang tubuhnya, ia sangat terperanjat dan secepat kilat ia putar tubuh kearah belakang.

Kurang lebih satu tombak dihadapannya berdirilah seorang sastrawan berusia setengah baya yang mengenakan jubah berwarna abu2. orang itu bisa mendekati tubuhnya hingga jarak satu tombak tanpa diketahui jejaknya, dari sini bisa diketahui betapa dahsyat dan sempurnanya tenaga dalam yang dimiliki orang itu.

"Siapakah engkau??" tegur Han Siong Kie dengan perasaan hati amat terperanjat. Bukannya menjawab, sastrawan berusia setengah baya itu malahan balik bertanya:

"Apakah engkau adalah malaikat penyakitan yang belum lama munculkan diri didalam dunia persilatan??"

"Sedikitpun tak salah "

"Benarkah engkau ahli waris dari Mo-tiong ci mo iblis diantara iblis??"

"Saudara ada urus an apa menanyakan soal ini??"

"Sejak kapan Mo tiong ci-mo menerima engkau sebagai ahli waris nya??"

"Apakah engkau tak merasa bahwa pertanyaan yang kau ajukan itu keterlaluan??"

"Ehmm guru harimau murid pasti harimau, watak keras kepalamu tak jauh berbeda dengan watak gurumu, apakah ia berada dalam keadaan baik2??" Han Siong Kie tak segera menjawab, diam-diam pikirnya didalam hati:

"Guruku sudah empat puluh tahun lama nya mengasingkan diri didalam gua bawah tanah dan tersohor pada lima puluh tahun berselang, sedangkan engkau sipelajar rudin paling2 baru berusia empat puluh tahunan, huuh.. buat apa pura2 berlagak kenal? sungguh suatu lelucon yang menggelikan sekali." Dengan suara dingin ia segera bertanya: "Apakah engkau kenal dengan guruku?"

"Haahh... haahh..haahh. sedikit banyak kami masih mempunyai sedikit hubungan" sahut sastrawin setengah baya itu sambil tertawa ter-bahak2. "Tolong tanya tahun ini engkau telah berusia berapa tahun?"

"Ooooh tentang soal itu lebih baik tak usah kau tanya kan, gurumu akan memberitahukan sendiri kepadamu"

Han Siong Kie segera tertawa dingin.

"Saudara, apakah engkau masih ada perkataan lain ang hendak diutarakan keluar? maaf aku takpunya waktu senggang"

"Waktu seng gang? haahh..haahh..haah... bocah, engkau dapat bercakap cakap dengan aku, itu berarti bahwa engkau punya rejeki yang amat besar"

"Siapakah sebenarnya dirimu??"

"Engkau tak akan tahu siapakah diriku sebab pengalamanmu masih terlalu cetek eeei .. sampai dimanakah kesempurnaanmu mempelajari ilmu telapak Mo mo ciang hoat."

Diam2 Han Siong Kie merasa keheranan, mungkinkah sastrawan setengah baya itu punya hubungan dengan gurunya dimasa lampau? tapi hal ini rasanya tak mungkin bisa terjadi, kalau ditinjau dari wajah nya maka paling tinggi ia berumur empat puluh tahunan, sewaktu gurunya mengasingkan diri mungkin ia baru dilahirkan dikolong langit, jangan2 orang ini sedang mempermainkan dirinya??"

Dengan nada gusar bercampur mendongkol sianak muda itu berseru kembali:

"Sebenarnya apakah tujuanmu yang sebenarnya??"

"Jawab dulu pertanyaan2 yang kuajukan dengan sejujurnya

...."

"Jika aku menolak untuk memberijawaban, engkau mau apa??" "Gurumu sendiri tidak akan berani bicara selancang dan sekasar itu, berani benar engkau bersikap kurang ajar kepadaku"

Hawa amarah berkobar dalam benak Han Siong Kie, dengan suara ketus ia berseru kembali:

"Oooh... jadi engkau memang ada maksud untuk menghina dan mempermainkan guruku?"

"Tak dapat dikatakan menghina" "Kalau begitu selamat tinggal"

Pemuda itu enjotkan badannya dan melayang sejauh sepuluh tombak dari tempat semula, mendadak pandangan matanya jadi kabur dan sastrawan berusia pertengahan itu sudah berdiri kurang lebih satu tombak dihadapan muka nya.

Han Siong Kie jadi terkejut bercamput terkesiap. ia mulai menyadari bahwa ilmu silat yang dimiliki pihak lawan jauh lebih tinggi dari kepandaian sendiri.

Kendatipun begitu, sebagai seorang pemuda yang berwatak angkuh dan tinggi hati, sekalipun hati merasa kaget akan tetapi di luaran ia tetap bersikap angkuh. "Hmm saudara, sebenarnya apa maksudmu?" tegurnya sambil mendengus dingin.

"Aku ingin berbicara tentang sesuatu dengan dirimu" "Maaf, aku tak punya waktu senggang"

"Sekalipun engkau tak punya waktu senggang, pembicaraan tetap harus dilangsungkan, jika aku tidak mengijinkan engkau pergi maka sekalipun engkau bisa terbang juga tak akan dapat lolos dari sini"

Hawa amarah berkobar makin memuncak dalam benak Han Siong Kie, bentaknya keras2 "Aku tak sudi mendengarkan peringatanmu." sekali lagi dia enjotkan badandan meluncur kedepan. Tapi baru saja tubuhnya mencapai setengah jalan, se-akan tubuhnya menumbuk diatas sebuah dinding baja, yang tak berwujud, badannya terpental kembali keatas tanah.

"Aku toh sudah bilang bahwa engkau tak nanti bisa lolos dari sini, bagaimana??" ejek sastrawan setengah baya itu.

Han Siong Kie merasa makin terperanjat, kobaran api amarah yang berkecamuk dalam benaknya sukar dikendalikan lagi, sepasang telapaknya diayun kedepan dan secara beruntun dia lepaskan sembilan jurus pukulan berantai.

setiap jurus serangan yang dipergunakan adalah jurus2 pukulan aneh yang maha sakti dan maha dahsyat, mungkin dikolong langit dewasa ini jarang ada orang yang mampu menghadapi serangan berantai itu.

Si sastrawan setengah baya itu silangkan telapaknya dan dengan suatu gerakan yang sangat enteng dia punahkan ke sembilan jurus pukulan berantai yang maha dahsyat itu dengan nada tercengang serunya:

"Hey bocah, jurus serangan yang kau gunakan bukan saja mirip dengan ilmu pukulan Mo mo ciang hoat bahkan lebih mirip dengan langkah kura2 dari Leng ku siangjin" Han song Kie tersentak kaget dan mundur tiga langkah kebelakang dengan hati terkesiap. seratus tahun berselang Leng ku siangjin telah mati ditengah hutan belantara bahkan jenasah nya dialah yang menguburkan ketanah, dari mana sastrawan setengah baya itu bisa mengenali semua gerakan pukulanny a dengan begitu jelas?

"Akan kucoba lagi, apakab dia benar2 lihay atau tidak..." pikir pemuda itu dalam hati.

Tanpa mengucapkan sepatah katapun telapaknya berputar melancarkan kembali serangan serangan dahsyat. dengan gerakan yang cepat bagaikan sukma gentayangan sastrawan setengah baya itu menyingkir kesamping kemudian katanya:

"Hei bocah sungguh tak nyana engkau telah mewarisi segenap kepandaian silat yang dia miliki, jurus Mo hwee liau - coan atau api setan membakar ladang yang kau gunakan saat ini sedikitpun tak ada bedanya dengan jurus serangan yang dilakukan oleh Mo tiong ci mo sendiri dimasa lampau tapi secara bagaimana pula engkau bisa memperoleh warisan ilmu silat dari Leng ku sangjin?"

Han Siong Kie benar2 merasa amat terperanjat, ia tak dapat menduga asal usul dari sastrawan setengah baya yang berada dihadapannya, untuk beberapa saat ia cuma bisa berdiri dengan mata terbelalak dan mulut membungkam.

Lama sekali ia baru berkata. "Bolehkah aku mengetahui namamu?"

"Haaahhh haahhh haaahhh sudah puluhan tahun lamanya aku tak pernah menggunakan namaku lagi, baiklah kuberitahukan kepadamu, aku bernama Put lo sianseng (tuan awet muda)"

"Tuan awet muda?"

"Tidak salah, apakah gurumu tidak pernah mengungkap soal ini?"

Diam2 Han Siong Kie mengulangi kembali nama "Put li sianseng" itu sampai beberapa kali, berapa puluh tahun tak pernah menggunakan namanya lagi? bukankah itu berarti bahwa ia sudah berusia amat lanjut namun memiliki wajah yang awet muda. "oooh jadi aku harus panggil locianpwce kepadamu?" serunya tanpa terasa.

"Hh mm panggilan itu boleh juga"

"Bolehkah aku tahu tahun ini locianpwee berusia berapa?" "Aku? Hoohh hoohh hoohh seratus lima tahun" "Berapa? seratus lima tahun" "Sedikitpun tidak salah"

-00d000w00-