Tengkorak Maut Jilid 09

 
Jilid 09

"OOH... Engkoh Kie bile aku tahu apa yang sebetulnya kau tentu akan menerima diriku bukan?? aku tahu bahwa kau membenci kaum wanita tapi aku mohon pada mu janganlah membenci aku Janganlah kau tinggalkan diriku, Engkoh Kie sewaktu kita angkat saudara didepan benteng maut diatas bukit batu karang, bukankah kau telah mengabulkan permintaanku?? tak akan tinggalkan aku walau dalam keadaan apapun juga?? tapi sekarang kita harus berpisah antara langit dan bumi, kita harus berpisah untuk beberapa saat lamanya."

"Engkoh Kie aku menyesal sekali. Menyesal mengapa tidak kau beri tahu tentang kegadisanku sejak dulu maafkanlah daku, aku takut aku takut bila kau tahu bahwa aku adalah

seorang gadis maka kau akan meninggalkan driku, aku takut kehilangan engkau."

"Engkoh Kie aku tidak ingin banyak berbicara lagi, pokoknya aku cinta kepadamu, sampai kemanapun aku tetap mencintai dirimu." Wajah Han Siong Kie tetap kaku dingin dan hambar, raut mukanya kelihatan pucat pias dan menyeramkan.

Tonghong Hwie memeluk mayat Han Siong Kie itu dengan penuh kasih sayang, bibirnya yang pucat tak berdarah dikecup dan diciumnya dengan penuh cinta.

"Engkoh Kie, dahulu aku pernah membayangkan pada suatu hari kita bisa duduk berdampingan dengan penuh kemesrahan, kau belai rambutku yang hitam dan aku bersandar dalam pelukanmu yang hangat.. tapi sekarang semuanya telah buyar. Dan kau .. kau tak akan membuka matamu kembali, kau tentu akan merasa kedinginan tanpa ada yang mendampingi serta menghangatkan tubuhmu."

Seperti orang yang sinting, tak waras otaknya gadis itu memeluk mayat Han Siong Kie yang dingin dan kaku, ia keluar dari liang kubur tersebut, kemudian menutup kembali liang tadi dengan tanah.

Setelah itu selangkah demi selangkah ia berjalan tinggalkan tempat itu dengan langkah yang berat dan gontai, gadis itu berjalan menuju kearah bukit dimana ia berada beberapa waktu berselang.

Dicarinya sebuah tempat yang datar dengan pemandangan yang indah, lalu membaringkan jenasah itu keatas tanah.

"Engkoh Kie, lihatlah tempat ini indah bukan?? apakab kau puas dengan tempat ini sebagai tempat peristirahatanmu yang terakhir??"

Ia lepaskan rambut palsunya yang kotor dekil dan awut2an itu hingga terurailah rambutnya yang panjang halus dan berwarna hitam, kemudian membersihkan pula salep obat yang menutupi mukanya, dalam waktu singkat muncullah seraut wajah yang cantik jelita bagaikan bidadari dari nirwana, ia melepas kan jubah luarnya yang dekil dan bertambal sulam itu hingga munculah potrongan badan yang ramping dan padat berisi. "Engkoh Kie, inilah aku inilah adik angkatmu Tonghong Hwie" bisiknya dengan suara lirih, "Lihatlah engkoh Kie, pandanglah engkoh Kie inilah diriku ini, mengapa kau tidak membuka mata yang jeli itu? dahulu, bukankah kau pernah berkata bahwa namaku mirip sekali dengan nama seorang perempuan? ooh Engkoh Kie, tahukah kau bahwa aku sebenarnya adalah seorang gadis muda."

Gadis itu berhenti sebentar untuk menarik napas panjang2, lalu lanjutnya kembali:

"Engkoh Kie, sejak detik ini pengemis cilik sudah mati, dikolong langit sudah tak ada lagi manusia yang bernama Pengemis cilik Tonghong Hwie, aku akan muncul didalam dunia persilatan dengan wajah asliku, aku hendak melanjutkan hidupku demi untuk membalas dendam sakit hatimu, aku hendak basmi semua penjahat yang tergabung dalam perkumpulan Thian chee kau, aku hendak suruh mereka memberikan ganti rugi yang tak ternilat besarnya"

"Seluruh manusia yang ada dikolong langit tak seorangpun yang mengenali diriku.. karena untuk pertama kalinya aku akan berkelana didalam dunia persilatan dengan wajah yang asli."

"Sekarang apa sebutanku setelah kau tinggalkan?? istri yang ditinggalkan? Benar, aku adalah istri yang kau tinggalkan."

Setelah melampiaskan seluruh rasa sedih yang berkecamuk dalam benaknya, Tonghong Hwie mulai menggali sebuah liang kubur ditempat itu dengan ilmu pukulannya yang sempurna tak lama kemudian muncullah sebuah liang sedalam beberapa tombak ditempat itu, kemudian sambil membaringkan jenaSah Han Siong Kie disudut kiri ia tinggalkan sebuah liang lain disisinya.

"Engkoh Kie, liang disebelah sini adalah untuk tempat penguburan bagi tubuhku" bisiknya. Dengan pandangan yang tajam ia menatap wajah Han Siong Kie yang tampan dan kaku itu, sekejappun ia tak berkedip.

Inilah pandangan yang terakhir kalinya, dikemudian hari wajah ini akan rusak, membusuk dan akhirnya tinggal tulang2nya saja yang berwarna putih.

Senja telah tiba, sang surya tenggelam dibalik gunung ....

malam haripun menjelang tiba.

Untuk yang terakhir Tonghong Hwie mencium bibir si anak muda itu dengan penuh rasa cinta kemudian ia mulai bekerja menguruk liang tadi dengan tanah.

"Selamat tinggal engkoh Kie" bisiknya untuk sementara waktu kita akan berpisah dahulu, setelah dendammu berhasil kutuntut balas, aku segera akan menyusul dirimu, aku akan mendampingi dirimuuntuk selamanya.

Diatas kuburan tadi dipancangnya sebuab batu nisan, dengan ilmu jarinya yang sakti ia segera mengukir beberapa patah kata diatas batu itu.

Disinilah bersemayan manusia berwajah dingin Han Siong Kie serta pengemis cilik Tonghong Hwie

Memandang tulisan itu ia tertawa, tertawa yang sedih dan memilukan

"Engkoh Kie, selamat tinggal semoga sukmamu dilangit bisa memahami perasaanku, semoga aku bisa cepat membalaskan dendam bagimu hingga aku bisa mengiringi dirimu berbaring dalam satu liang."

Setelah memberi hormat kearah kuburan tadi, ia putar badan dan berlalu dari situ Dalam sekejap mata tubuhnya telah lenyap dibalik kegelapan.

Suatu tengah hari, didepan kuburan Han Siong Kie tiba2 muncul dua orang perempuan misterius, kedua orang itu mengenakan kain kerudung putih di atas wajahnya, dilihat dari potongan tubuh kedua orang itu terlihati bahwa mereka berdua adalah seorang gadis muda dengan seorang perempuan berusia setengah baya. Pertama2 gadis muda itulah yang buka suara lebih dahulu, ujarnya:

"Ibu, Tonghong Hwie boleh dianggap seorang gadis yang terlalu kabur pengertiannya mengenai cinta, coba lihat dia telah mengukir nama mereka berdua di atas batu nisan, entah apa maksudnya??"

"Dia telah ber siap2 setelah menyelesaikan tugasnya untuk membalas dendam, ia akan mati pula didepan kuburan ini sehingga dia dikubur dalam sebuah liang yang sama"

"Ibu, mengapa kau tidak menceritakan keadaan yang sebenarnya??"

"Tidak bisa, kita tak boleh menceritakan keadaan yang sebenarnya kepada gadis itu."

"Sekarang keadaan demikian mungkin saja peristiwa tragis yang tidak diinginkan bisa dihindari, sebaliknya kalau kita ceritakan keadaan yang sebetulnya. oooh.. akibatnya sukar kita dugg mulai sekarang.."

"Tapi.. bukankah dia hendak menuntut balas bagi kematiannya.."

"Nak. ia tak mungkin bisa menyelesaikan tugas untuk membalas dendam..usahanya pasti akan mengalami kegagalan "

"Kenapa??"

"Dengan ilmu silat yang dimilikinya saat ini, bila digunakan untuk berkelana didalam dunia persilatan mungkin masih lebih dari cukup tetapi kalau digunakan untuk menuntut balas, oooh masih terlampau jauh sekali satu jalan yang bisa dia tempuh hanyalah pulang kerumah dan berlatih ilmu silat lagi asal dia sudah berada dirumah maka sulitlah baginya untuk melepaskan diri lagi dari situ"

"Ia melarikan diri dari rumah tanpa sepengetahuan ayahnya, setelah pulang kerumah, tentu saja ayahnya tak akan membiarkan dia untuk pergi lagi tanpa pamit."

"Dengan kejadian tersebut mungkinkah bakal terjadi hal2 yang mengenaskan lagi?? "

"Semoga saja tidak"

"Ibu dengan perkatanmu itu bukankah berarti bahwa masih ada kemungkinan untuk terjadi suatu peristiwa yang tidak diinginkan" seru gadis muda itu.

"Kemungkinan memang selalu ada, hanya kemungkinan tersebut tipis sekali "

"lbu, apa sebabnya kau berbuat begitu??, dapatkah kau beritahukan kepadaku?"

"Gampang sekali, aku berbuat demikian agar bisa mencegah terjadinya suatu peristiswa yang lebih tragis lagi daripada kejadian sekarang ini"

Gadis muda itu gelengkan kepalanya berulang kali, suaranya tiba2 berubah aneh katanya:

"Ibu kau berbuat demikian tentu disebabkan karena mempunyai suatu maksud yang lain bukan."

"sedikitpun tidak salah"

"Mengenai asal usul dari nona Tonghong Hwie serta Han Siong Kie, dapatkah aku mengetahuinya lebih jelas lagi?"

"Tidak nak. sampai waktunya aku pasti akan menceritakan keseluruhannya kepadamu." Jawaban ini diutarakan perempuan setengah baya itu dengan nada penuh kepedihan. Rupanya gadis muda tadi merasa tidak puas dengan sikap ibunya yang serba misterius itu, dia tidak buka suara lagi dan membungkam dalam seribu bahasa.

Untuk beberapa saat lamanya suasana disekitar kuburan itu sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun.

"Nak, bongkarlah kuburan itu " akhirnya perempuan berusia setengah baya itu buka suara memecahkan kesunyian. "Ibu secara tiba2 aku merasa agak takut"

"Apa yang kau takuti ??"

"Seandainya ia tak berhasil menyadarkan diri kembali, bukankah jiwanya akan berkorban dengan percuma?, bukankan dia bakal mati secara konyol."

Rupanya perempuan berusia setengah baya itu merasakan hatinya bergetar keras, segera sahutnya:

"Itu tak mungkin terjadi, ilmu pernapasan kura2 sakti adalah suatu kepandaian aneh yang diwariskan sejak jaman kuno, tak mungkin terjadi hal2 yang diluar dugaan dengan dirinya"

"Sekalipun begitu, aku tetap merasa bahwa tindakan yang kulakukan pada masa yang lalu terlalu menyerempet bahaya "

"Bukan kau saja, akupun mempunyai perasaan yang sama dengan dirimu, tetapi bila aku harus melakukan pertolongan tanpa memikirkan segala akibatnya bisa kau bayangkan betapa hebatnya akibat yang kita terima, bukankah jerih payahku selama puluhan tahun lamanya, dendan menahan malu dan hina, bakal hancur berantakan??"

"Ibu mengapa terhadap putrimu kau bersikap rahasia sekali, apa saja yang perlu kau rahasiakan??"

"Nak suatu hari kau bakal mengetahui dengan sendirinya, sekarang bila kukatakan kepadamu maka hal itu akan merugikan dirimu saja, kau tak akan mendapatkan keuntungan apa2"

"Ibu coba kamu lihat, orang She Han ini kenapa dia?" "Dia dia ibaratnya naga sakti diantara manusia. "

"Nak apakah kau telah jatuh cinta padanya" tiba2 perempuan itu bertanya.

Mendengar pertanyaan itu gadis muda itu segera menundukkan kepalanya dengan ter-sipu2 dan mempermainkan ujung bajunya..

"Nak. hal itu jangan sekali kau lakukan " bentak orang berusia setengah baya itu secara tiba2, "ingatlah baik2, kau tidak boleh jatuh cinta kepadanya, janganlah kau tanyakan mengapa, pokoknya kau tak boleh punya perasaan senang atau cinta kepada pemuda ini, dikemudian hari kau akan mengetahui dengan sendirinya mengapa aku melarang kau berbuat begitu, dan sekarang laksanakanlah segala sesuatunya menurut perintahku.. "

Dengan tubuh yang bergetar per lahan2, gadis itu berjalan mendekati kuburan tadi, telapak tangannya bekerja cepat.. dalam beberepa buah pukulan gencar pasir dan batu beterbangan memenuhi angkasa, sekejap mata muncullah tubuh Han Siong Kie dari balik permukaan tanah.

"Nak, sekarang boponglah tubuhnya dan keluarkan dari liang kubur itu." kembali perempuan setengah baya itu memerintahkan.. "ibu, aku..aku tidak mau?? Aku tidak mau mambopong tubuhnya"

"Belum lama berselang, ketika ia sedang terluka bukankah kau pernah membopong tubuhnya?"

Gadis muda itu tidak menjawab, ia loncat keluar dari dalam liang kubur itu dan sebera berdiri disisi liang tadi. Mengapa ia tak mau membopong tubuh Han Siong Kie?? karena ibunya melarang dia mencintai pemuda itu maka ia merasa hatinya tersinggung.

Melihat tindakan putrinya itu, perempuan berusia setengah baya tadi terpaksa menghela napas panjang, ia loncat masuk kedalam dan membopong sendiri tubuh pemuda itu, kemudian perintahnya lagi kepada gadis muda itu "sekarang tutuplah kembali liang tersebut dengan tanah"

"Mengapa harus kita timbun lagi liang itu?, toh jenasah Han Siong Kie telah kita ambil??"

"Mungkinpada suatu ketika Tonghong Hwie bakal datang kemari untuk menjenguk kuburan itu, kita tak boleh membangkitkan rasa curiganya hingga rahasia ini terbongkar"

"Tetapi... bukankah dikemudian hari Han Siong Kie munculkan diri kembali didalam dunia persilatan.."

"Aku telah memiliki rencana yang masak mengenai persoalan ini. oooh.. nak aku telah melakukan suatu kesalahan besar"

"Kesalahan apa??"

"Aku tak seharusnya menyuruh Tonghong Hwie pulang ke rumah"

"Kenapa??"

"Bisa jadi hal ini akan menghancurkan seluruh rencana besarku .. aku harus mencari akal untuk menghalangi dia pulang kerumah"

Rupanya gadis itu tahu sekalipun bertanya, ibunya belum tentu mau menerangkan kepadanya maka dengan mulut membungkam dia segera bekerja cepat menimbun kembali liang itu dengan tanah.

Dalam pada itu perempuan setengah baya tadi telah membaringkan tubuh Han Siong Kie di bawah sorot cahaya sang surya, dengan hati yang gelisah bercampur cemas kedua orang itu duduk disisinya sambil menanti perubahan selanjutnya.

suasana sangat hening dan sunyi, kesunyian yang penuh ketegangan...

Beberapa waktu sudah lewat dengan cepatnya, namun tubuh Han Siong Kie masih menggeletak kaku diatas tanah, sama sekali tidak memperlihatkan gejala atau pertanda bahwa dia akan sadar dari pingsannya.

"Ibu, coba lihat.."

Dikala keputus-asaan sedang menyelimuti hati mereka berdua, gadis muda itu menjerit tertahan.

Desiran angin tajam berkumandang membelah angkasa, dengan cepat kedua orang perempuan itu bangkit dari atas tanah dan berpaling kearah mana berasalnya suara tadi.

Tampaklah beberapa sosok tubuh manusia dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat sedang berlarian menuju keatas bukit tersebut, orang yang berlari dipaling depan adalah seorang gadis muda dengan pedang terhunus, sedang dibelakangnya menyusul lima orang pria berbaju hitam.

Rupanya gadis itu sedang melarikan diri dari kejaran orang2 dibelakangnya.

Perempuan berusia pertengahan itu segera menyambar jenasah Han Siong Kie dari atas tanah sambil buru2 serunya: "Mari kita bersembunyi untuk sementara waktu"

Dengan gerakan tubuh yang cepat kedua orang itu segera berkelebat menyembunyikan diri dibelakang sebuah batu cadas.

Agaknya gadis muda yang sedang melarikan diri itu sudah kehabisan tenaga, baru saja tubuhnya mencapai puncak bukit tersebut ia sudah kena disusul oleh kelima orang pengejarnya, dengan cepat kedua belah pihak terjerumus dalam suatu pertarungan yang sengit.

Diantara kelima orang pengejar itu terdiri dari seorang kakek tua berwajah buruk dengan empat orang pria kekar berbaju hitam.

Raut wajah gadis muda tadi cantik jelita, tetapi pakaiannya telah kusut dan tidak keruan, tusuk kondenya terlepas hingga rambutnya terurai kebawah, keadaannya mengenaskan sekali.

Terdengar kakek berwajah buruk itu membentak keras: "Budak busuk. berani betul kau datang mengintai wilayah

Lian huan tan kami...Hm kau betul-betul sudah bosan hidup, aku mau lihat kau hendak lari kemana lagi??"

Ditengah bentakan keras secara beruntun ia lancarkan tiga jurus serangan kilat yang mana seketika membuat gadis itu terdesak hebat dan mundur kebelakang dengan sempoyongan.

Sementara itu empat orang pria kekar berbaju hitam lainnya segera menyebar diri ke empat penjuru dan bersiap2 menghalangi maksud dara itu untuk meloloskan diri "Bajingan busuk. nonamu akan beradu jiwa dengan dirimu" bentak gadis itu gusar.

Pedangnya bekerja dengan cepat melancarkan serangan ber-tubi2, desiran angin tajam bagaikan hembusan taufan dan gulungan ombak menyapu dan mengurung musuhnya habis2an.

Kakek berwajah jelek itu seketika terdesak hebat, ia mundur tiga langkah kebelakang dan cepat2 putar telapaknya untuk memunahkan serangan gencar tersebut.

Sekalipun serangan itu hebat tapi sayang tusukan2 pedang itu dilancarkan dalam keadaan nekat, setelah serangan itu lewat, napasnya jadi ter-sengkal2 dan peluh membasahi seluruh tubuhnya. Kakek tua itu menyeringai seram, ia sudah merasakan bahwa musuhnya telah kehabisan napas, sembilan pukulan berantai segera di lancarkan kembali kedepan, setiap pukulan mengandung tenaga penghancur yang maha dahsyat...

Jeritan ngeri bergema memancarkan kesunyian, sebuah pukulan yang maha dahsyat itu sempat bersarang ditubuh gadis itu, membuat badannya terlempar sejauh delapan depa kebelakang, ia muntah darah segar dan tak tertahan lagi tubuhnya jatuh terduduk diatas tanah.

"Bangsat tua " jeritnya dengan rasa dendam. "sekalipun nonamu sudah mati dan jadi setan, aku akan mencari dirimu untuk menuntut balas"

Kakek berwajah jelek itu tertawa seram.

"Hmm.. budak ingusan, aku ingin lihat dengan cara apa kau hendak balas dendam terhadap diriku"

Selangkah demi selangkah ia berjalan mendekati gadis itu, telapak tangannya diayun ke udara dan siap menghajar batok kepala musuhnya.

Melihat keadaan yang amat berbahaya itu, perempuan berusia pertengahan yang bersembunyi dibela kang batu itu segera berbisik kepada putrinya:

"Binasakan kelima orang itu, jangan biarkan seorangpUn diantara mereka lolos dalam keadaan hidup,"

"Membinasakan mereka semua??" jerit gadis itu dengan terperanjat.

"Benar, bunuh semua tanpa kecuali "

"Kenapa? apa gunanya kita bunuh mereka semua??" "Kau tak usah bertanya, gunakanlah jurus yang hebat

untuk membinasakan mereka semua "

"Tetapi mereka toh..." "Jangan banyak bicara lagi, cepat laksanakan"

Sementara itu si kakak berwajah jelek itu sudah mengayunkan telapak tangannya mengarah ubun2 gadis itu. nampaknya sesaat lagi gadis itu akan mati dalam keadaan yang mengerikan.

"Tahan " suatu bentakan keras berkumandang memecahkan kesunyian, disusul berkelebat datangnya sesosok bayangan manusia.

Kelima orang itu tersentak kaget, tanpa sadar kakek berwajah jelek itu menarik kembali serangannya sambil loncat mundur kebelakang.

Tapi sebelum dia sempat melihat jelas siapakah pendatang itu. segulung angin pukulan yang maha kuat dan dahsyat telah menyerang datang, hal ini membuat kakek tersebut terkesiap hatinya, sadarlah dia bahwa musuh yang baru saja munculkan diri itu memiliki tenaga dalam yang sangat hebat. .

Dalam keadaan tidak siap. ter gopoh2 ia enjotkan tubuhnya bergeser lima depa kesamping untuk melepaskan diri dari ancaman itu.

seorang perempuan muda berkerudung putih segera munculkan diri di hadapannya. Kakek itu jadi teramat gusar, bentaknya: "Perempuan sialan, siapakah kau?? berani  betul. "

Gadis berkerudumg itu sama sekali tidak berbicara, tidak menunggu hingga pihak lawan menyelesaikan kata2nya, sepasang telapak kembali bekerja cepat meluncurkan serangan yang maha dahsyat dengan kecepatan yang sukar dilukiskan dengan kata kata.

Kakek tua, itu ingin mengundurkan diri ke belakang, namun sudah tak sempat lagi, dalam keadaan terdesak terpaksa ia mengepos tenaga dan menghimpun segenap kekuatannya untuk menyambut datangnya serangan itu dengan keras lawan keras.

"Blammm" ditengah jeritan ngeri yang menyayat hati, kakek tua itu terpukul mencelat sejauh beberapa tombak kemudian roboh terjengkang diatas tanah, darah segar muncrat keluar dari bibirnya.

Melihat pemimpin mereka berhasil dilukai lawan, empat orang pria baju hitam yang selama ini hanya berdiri tegak ditepi kalangan segera membentak keras, serentak mereka menerjang kearah gadis itu.

Dara berkerudung putih itu mendengus dingin jengeknya. "Hmm manusia2 yang tak tahu diri, rupanya sudah bosan hidup,"

Tubuhnya herkelebar kesana kemari bagaikan gerakan sukma, telapaknya diayun dengan kecepatan penuh, bersama dengan menggemanya empat jeritan ngeri tampaklah keempat orang pria itu sudah roboh keatas tanah dalam keadaan tak bernyawa lagi.

Pecahlah nyali kakek tua itu, ia merasa sukmanya se-akan2 sudah terbang meninggalkan raganya, dengan suara keras ia berteriak:

"Budak bangsat, besar benar nyalimu, kau berani memusuhi perkumpulan Thian chee Kau kami?"

Mendengar ucapan itu, dara berkerudung putih itu terdiri tertegun, kemudian secepat kilat ia menerjang kemuka dengan gerakan yang kuat ia babat tubuh kakek itu.

"Duuk diiringi jeritan kesakitan yang mendirikan bulu roma, kakek berwajah jelek itu termakan oleh bacokan itu hingga batok kepalanya hancur berantakan, darah segar segera muncrat memenuhi empat penjuru. Melihat musuh2nya berhasil dipunahkan oleh seseorang yang tak dikenal, dara yang terluka itu segera maju kedepan dan memberi hormat ujarnya.

"Go Siauw Bie mengucapkan banyak terima kasih atas budi pertolongan yang telah cici berikan kepadaku, bolehkah aku mengetahui siapakah nama cici?"

"Aku bernama orang yang ada maksud" Go Siauw Bi tertegun.

Sungguh aneh nama ini? benarkah itu adalah nama aslinya? ia membatin didalam hati. Meskipun dalam hati merasa sangsi namun perasaan itu tidak sampai diutarakan keluar.

Rupanya orang yang ada maksud bisa membaca pikiran orang, terdengar ia tertawa riang sambil tegurnya:

"Bukankah kau merasa bahwa namaku ini sangat aneh dan tidak sebagaimana mestinya?"

Go Siauw Bi tertawa jengah setelah mengetahui rahasianya diketahui lawan, maka dia pun tidak membantah.

Orang yang ada maksud tersenyum, dari sakunya dia ambil keluar sebutir pil mujarab dan segera diserahkan ketangan gadis she Go itu, katanya:

"Pil ini adalah pil mujarab, cepat telanlah agar luka dalam yang kau derita cepat sembuh"

Go Siauw Bi mengucapkan banyak terima kasih, ia terima pil itu dan segera dimasukkan kedalam mulut.

Menanti pil tadi sudah ditelan, orang yang ada maksud baru berkata lagi dengan suara dalam:

"Nona Go, apa sebabnya kau sampai di kejar2 oleh para durjana dari perkumpulan Thian chee kau??" Air mita GoSiauw Bi berubah jadi amat sedih, jawabnya dengan suara gegetun:

"Aku datang untuk menuntut balas atas sakit hatiku.. sungguh tak kusangka dendam gagal kutuntut, hampir saja selembar jiwaku pun ikut melayang.. kalau bukan cici yang menolong diriku tepat pada saatnya, entah apa yang terjadi dengan diriku pada saat ini.."

"Menuntut balas?? sakit hati apa yang terikat antara dirimu dengan pihak perkumpulan Thian chee kau??"

"Mendiang ayahku adalah Go Yu Too ketua dari perkumpulan Pat Gie pang, karena pada saat kaucu dari perkumpulan Thian chee kau mengadakan pesta ulang tahun tidak ikut hadir untuk menyampaikan selamat, maka pada suatu hari pihak perkumpulan itu mengirim Tongcunya si kupu2 warna warni Lie In Hiang untuk membinasakan ayahku, Kanglam Jit koay sahabat karib ayahku yang mengetahui kejadian ini segera datang mencari balas, siapa tahu merekapun dibunuh mati semua oleh Lie In Hiang. Karena itulah, ini hari aku sengaja datang kemari untuk menuntut balas"

"Jago lihay yang berada dalam perkumpulan Thian chee kau tak terhingga jumlahnya, wilayah Lian huan tau pun merupakan suatu daerah yang amat berbahaya, bila kau ingin menuntut balas atas sakit hatimu itu alangkah baiknya bila tindakan itu kau lakukan dengan penuh waspada serta rencana yang masak sebab kalau tidak maka perbuatanmu itu tak lebih hanya pergi menempuh bahaya saja. Menurut pendapatku lebih baik untuk sementara waktu tinggalkan dulu tempat ini, bila jejakmu sampai diketahui oleh anggota perkumpulan itu, akibatnya sungguh amat sulit untuk diharapkan mulai sekarang"

"Terima kasih atas petunjuk cici, akupun menyadari babwa tenaga dalam yang kumiliki cetek sekali, untuk membalas dendam hal itu masih merupakan suatu angan2 yang amat muluk2. Tetapi bagaimanapun juga aku hidup sebagai putra seorang manusia, dapatkah aku menahan diri untuk tidak melakukan pembalasan dendam itu??? baiklah untuk sementara waktu aku orang she Go akan menuruti nasehat cici, aku hendak mengunjungi guru yang pandai untuk memperdalam ilmu silatku setelah itu aku baru akan datang lagi untuk menuntut balas."

"Bagus sekali nona, bila engkau masih mempunyai pikiran yang terbuka hal ini merupakan suatu hal yang menggembirakan, jarak tempat ini dengan wilayah Lian Huan Nau tidak terlalu jauh, demi keselamatan lebih baik segeralah berangkat tinggalkan tempat ini"

Go Siauw Bi mengangguk, tapi sebelum dia berlalu dari situ mendadak sinar matanya terbentur dengan batu nisan yang terpancang tidak jauh dari hadapannya, dengan wajah berubah hebat ia segera berseru keras:

"Han Siong Kie aah.. masa Han Siang- kong yang telah mati??"

"Apakah kau kenal dengan dirinya??" tanya orang yang ada maksud dengan hati bergetar.

"Aku kenal dengan siangkong itu, sebab belum lama berselang ketika ia tercebur kedalam sungai, akulah yang menolong dirinya."

"Ooh jadi kau pernah menyelamatkan jiwanya"

"Benar, dia.. mengapa jenasahnya dikubur ditempat ini?? dan siapa pula sipengemis cilik Tong hong Hwie?"

"Dia adalah sahabat perempuannya, dengan kematiannya dia hendak menggunakan rasa cintanya kepada pemuda itu"

Go Siauw Bi maju beberapa langkah kedepan dengan sempoyongan air matanya jatuh berlinang membasahi wajahnya dengan sedih ia bergumam lirih: "Sungguh tak kusangka ia telah mendahului diriku, sungguh tak kunyana usianya begitu pendek, cici tahukah kau, dia telah menemui ajalnya ditangan siapa??"

"Tentang soal ini aku kurang begitu tahu, apakah nona juga pernah jatuh cinta kepadanya??"

"Aku telah menyelamatkan jiwanya dari dalam sungai, selama merawat lukanya itu ia telah beristirahat selama tiga hari didalam kamar tidurku."

Go Siauw tai tak dapat membendung rasa sedihnya lagi, airnya bagaikan hujan dimusim kemarau berjatuhan membasahi pipinya.

Mendengar perkataan itu orang yang ada maksud ikut merasa beriba hati, tiba2 ia merasa ada suatu perasaan yang sangat aneh muncul dari dalam hatinya, apakah perasaan itu dia sendiripun tak dapat melukiskan dengan kata2.

Go Siauw Bi berdiri tertegun ditempat kuburan itu, ia tidak menyangka pria yang pernah menarik hatinya telah pergi meninggaikan dunia untuk selama2nya, iapun tak pernah menduga masih ada seorang gadis lain yang ikut mengorbankan diri demi cintanya yang murni.

Teringat bahwa kenangan selama ini ternyata hanya hampa dan kosong belaka, gadis itu menghela napas panjang.

sesudah memberi hormat kepada orang yang ada maksud, ia segera enjotkan badan dan berlalu dari situ.

Memandang hingga bayangan punggung gadis itu lenyap dari pandangan, orang yang ada maksud segera balik kembali kebalik batu cadas, disitu ia saksikan ibunya orang yang kehilangan sukma sedang membopong jenasah Han Siong Kle sambil duduk termangu- mangu, air mata telah membasahi bagian bajunya.

"Ibu apa yang telah terjadi???" orang yang ada maksud segera menegur. -000dw000-

BAB 19

"Nak. mungkin... mungkin dia dia tak ada harapan lagi,

aku bakal menyesal sepanjang masa"

Orang yang ada maksud membungkam dalam seribu bahasa, ia tidak mengerti mengapa ibunya begitu menaruh perhatian terhadap diri Han Siong Kie, perhatiannya begitu mendalam hingga melebihi kasih sayangnya terhadap darah dagingnya sendiri, ia heran kenapa ibunya bisa bersikap begitu? mungkinkah dibalik semuanya ini masih tersembunyi sesuatu yang aneh.

Tiba2 terdengar orang yang kehilangan sukma berseru dengan penuh emosi:

"Cepat lihat, dia hampir sadarkan diri. oooh terima kasih

langit dan bumi ia selamat ia selamat"

"Benarkah itu ibu, betulkah dia hampir sadar ?"

"Benar coba rasakan tubuhnya mulai hangat kembali, aku merasa jantungnya mulai berdetak kembali"

Dengan penub ketegangan ibu dan anak itu mencurahkan seluruh perhatiannya kearah Han Siong Kie, mereka lihat tubuh anak muda yang kaku dan dingin itu perlahan2 menjadi lemas, dengusan napasnya mulai kedengaran dan air mukanya per lahan2 berubah jadi semu merah..

Orang yang kehilangan sukma menghembuskan napas panjang dan letakkan tubuh Han Siong kie ke atas tanah lalu mencium keningnya dengan hangat dan sayang.

Tingkah Liku ibunya yang aneh ini kembali mencengangkan hati orang yang ada maksud, ia berdiri melongo. "Nak, kuserahkan dirinya padamu" tiba perempuan setengah baya itu berkata. "Serahkan kepadaku???"

"Sedikitpun tidak salah"

Dari dalam sakunya dia ambil keluar sebuah bungkusan dan diserahkan ketangan orang yang ada maksud kemudian ia membisikkan sesuatu disisi telinganya dan setelah itu berlalu.

Belum lama orang yang kehilangan sukma berlalu dari tempat itu, terdengar suara helaan napas panjang bergema memecahkan kesunyian. Han Siong Kle membuka sepasang matanya lalu meloncat bangun dari atas tanah.

Ketika dijumpainya orang yang ada maksud berada disitu, buru2 ia memberi hormat sambil ujarnya.

"Aku mengucapkan banyak terima kasih atas budi pertolongannya yang telah nona berikan kepadaku, semoga dilain waktu budi kebaikan sempat kubalas." orang yang ada maksud tertawa cekikikan.

"Dengan cara apa kau hendak membalas budi kebaikanku ini? " serunya cepat.

Han Siong Kle tertegun, wajahnya berubah jadi merah, lama sekali ia baru bisa berkata.

"Dewasa ini tentu saja aku tak sanggup mengatakannya keluar, tapi kemudian hari aku pasti akan berusaha untuk membalas budi kebaikan itu."

“Seandainya sepanjang masa kau tidak memperoleh kesempatan itu, apa yang hendak kau lakukan??"

"Tentang soal ini aku pikir tak mungkin terjadi" "Baiklah" kata orang yang ada maksud kemudian,

"sekarang ibuku suruh aku menyampaikan sesuatu kepadamu."

"Lalu sekarang dimanakah ibumu??" "Baru saja meninggaikan tempat ini"

"Apakah ia tak sudi bertemu dengan diriku lagi??" "Bukan, bukan begitu, dia masih ada urusan lain maka

terpaksa harus tinggaikan dahulu tempat ini, dia suruh aku menyampaikan pesan kepadamu, katanya mulai sekarang Manusia berwajah dingin Han Siong Kle telah tiada lagi dikolong langit, kau tak boleh membuka rahasia asal usulmu kecuali kepada "

"Kecuali kepada siapa??" tanya Han Siong Kle dengan suara heran bercampur terkejut.

"Kecuali kepada pemilik Benteng Maut"

Air muka si anak muda itu berubah hebat secara beruntun ia mundur selangkah kebelakang, serunya: "Apa maksud yang sebenarnya??"

"Entahlah, aku sendiripun kurang begitu mengerti, ibuku hanya berpesan agar kau suka pergi mengunjungi benteng maut."

"Berkunjung? hal itu pasti akan kulakukan, pada suatu hari aku akan mengobrak-abrik benteng maut dan melenyapkan Tengkorak Maut dari permukaan bumi."

"Kau keliru besar" seru orang yang ada maksud sambil menggeleng, " ibuku menyuruh kau berbuat demikian karena ia mengandung maksud2 tertentu."

Sorot mata Han Siong Kie per lahan2 dialihkan kearah lima sosok mayat yang menggeletak tidak jauh dari tempat itu, serunya dengan nada terkesiap "Mayat siapakah yang menggeletak disitu??"

"Anak buah perkumpulan Thian chee kau" "Apakah mereka terluka di ujung telapak nona??" "Sedikitpun tidak salah, mereka sedang mengejar seorang gadis dan kebetulan tiba ditempat ini, karena gadis itu terancam jiwanya maka aku segera turun tangan membereskan orang itu. 0oh. Ya a Apakah kau kenal dengan seorang gadis yang bernama Go Siauw Bi?" 

"KenaL" jawab Han Siong Kle dengan suara terperanjat, " Kenapa dengan dirinya?"

"Cintakah kau kepadanya??" tidak menjawab orang yang ada maksud malah balik bertanya. Pertanyaan ini seketika membuat hati Han Siong Kie tertegun, serunya: "Nona, apa maksudmu mengajukan pertanyaan semacam ini??"

"Tiada maksud apa2, karena aku lihat sikapmu amat gelisah bercampur cemas, maka aku ajukan pertanyaan ini"

"Dia adalah gadis yang pernah menyelamatkan jiwaku, aku masih berhutang budi kepadanya."

"Ia sudah berlalu dari sini, dia tahu bahwa kau sudah tiada lagi dikolong langit"

"Apakah nona yang memberitahukan kejadian ini kepadanya??"

"Tidak. ia sendiri yang lihat dan melihat dengan matanya sendiri "

Han Siong Kle berpaling, tiba2 ia temukan sebuah gundukkan tanah baru tak jauh dari situ segera didekatinya kuburan ini dan terbacalah olehnya batu nisan yang terpancang didepan kuburan itu.

"Disinilah bersemayan manusia berwajah dingin Han song Kie serta pengemis cilik Tonghong Hwie."

Jantungnya seketika herdebar keras, apa yang terjadi? mungkinkah adik angkatnya Tonghong Hwie juga.. berpikir sampai disini ia bersin beberapa kali, sambil berpaling kearah orang yang ada maksud serunya: "Nona, kuburan ini?"

"Pengemis cilik yang mendirikannya bagimu."

"Kenapa diatas batu nisan itu terukir nama kami berdua." "Sebab dia mau hidup bersama mati berbareng dengan

dirimu"

"Apa?? dia..dia..."

"Jangan tegang dan tak usah gelisah, dia belum mati, dia mau membalaskan dendam sakit hatimu lebih dahulu kemudian baru datang kemari untuk mati bersama dirimu satu liang."

Han Siong Kie tidak memperhatikan bahwa dibalik ucapan orang yang ada maksud mengandung arti yang lebih mendalam, kalau tidak tentulah dia akan menemukan sesuatu gejala yang aneh.

Mendengar perkataan tadi, ia jadi sangat terharu sehingga tak tertahan lagi titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.

"Oooh.. sungguh tak kusangka adik Hwieku itu demikian setia kawan dan menaruh perhatian kepadaku, aku orang she Han sungguh beruntung dapat berkenalan dan angkat saudara dengan dirinya. sekarang dimanakah orangnya??.."

"Bukankah sedari tadi sudah kukatakan bahwa ia telah tinggalkan tempat ini?"

"Secara bagaimana ia bisa mendirikan kuburan dan batu nisan bagiku??."

"Ia datang agak belakangan, sewaktu memasuki wilayah Lian huan tau jejaknya kepergok oleh nyonya kaucu hingga tertawan, untung ibuku berhasil menyelamatkan jiwanya.

Ketika ia menjumpai jenasahmu yang sudah tak bernyawa itu hatinya jadi sedih dan hancur.." "Oooh.. dia mengira aku benar2 telah mati??"

"Tentu saja jangan dibilang dia, orang lainpun pasti akan mengira kau sudah mati, sebab tubuhmu sudah mendingin dan kaku"

"Mengapa nona tidak memberitahukan kejadian yang sesungguhnya kepada saudara angkatku itu??" seru Han Siong Kie gegetun.

"Aku tidak memberitahukan keadaan yang sesungguhnya tentu saja didasarkan oleh alasan2 tertentu. lebih baik persoalan ini kita bicarakan dikemudian hari saja."

"Aku ingin mengetahui sekarang juga"

"Maaf, aku tak dapat menuruti keinginanmu itu"

Han Siong Kie menelan air ludah dan berdiri menjublak, terhadap tingkah laku ibu dan anak yang serba misterius itu ia merasa gemas bercampur jengkel, tapi pihak lawan adalah tuan penolongnya, hal itu membuat ia tak mampu berbuat sesuatu. Terpaksa sambil menahan diri ujarnya:

"Aku dapat mencari dirinya, sekalipun harus mencari sampai diujung langit atau di dasar samudra, aku harus menemukan dirinya"

Dari dalam sakunya orang yang ada maksud ambil keluar sebuah bungkusan kecil dan dilemparkan kearah pemuda itu, pesannya:

"Saudara, mulai sekarang manusia berwajah dingin Han Siong Kie sudah tak ada lagi dikolong langit, benda itu akan membantu dirimu untuk merubah wajahmu serta menutupi raut mukamu yang sebetulnya"

Han Siong Kie menyambut benda itu, sedang dimulut ia mengomel:

"Aku toh seorang lelaki sejati, kenapa raut wajah asliku harus disembunyikan??" "Bila kau ingin berhasil dalam usahamu untuk membalas dendam, lebih baik lakukanlah seperti apa yang kukatatakan.."

"Tetapi bukankah ibumu siorang yang kehilangan sukma memerintahkan aku untuk berkunjung ke Benteng Maut serta menceritakan asal usulku yang sebenarnya?? musuh besarku adalah pemilik dari benteng maut itu, kenapa aku musti banyak bertingkah dengan segala macam hal yang tak berguna??"

"Sedikitpun tidak benar perkataanmu itu, dikemudian hari kau akan mengerti dengan sendirinya mengapa ibuku suruh kau berbuat demikian, sekarang lebih baik pergilah mengunjungi benteng maut"

"Mengunjungi musuh besarku??"

"Kau tak boleh mengatakan demikian, sekali lagi kuberitahukan kepadamu, ibuku sangat menaruh perhatian kepadamu, beliau suruh berbuat demikian tentulah didasarkan oleh maksud-maksud tertentu, bila kau tidak melakukan seperti apa yang dikatakan ibuku mungkin dendammu itu selamanya tak akan berhasil kau laksanakan"

Han Siong Kie jadi serba salah, bila ditinjau dari orang yang kehilangan sukma serta orang yang ada maksud dimasa yang lampau, anjuran perempuan itu pastilah mengandung maksud tertentu, tapi ia tak mengerti dan tak paham apa sebenarnya maksud orang itu??

"Han Siong Kie" orang yang ada maksud berkata kembali "Mau percaya atau tidak itu terserah pada dirimu sendiri sekarang aku mau pergi."

Selesai berkata dia segera enjotkan badan dan berlalu dari situ dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.

Han Siong Kie berdiri menjublak diatas tanah dan tak sanggup mengucapkan sepatah katapun, perkembangan yang berlangsung selama ini membuat ia jadi bingung, perbuatan orang yang ada maksud serta ibunya memang begitu misterius hingga terasa amat menyeramkan.

"Baiklah akan kujajal perkataan mereka, aku hendak berkunjung ke benteng Maut serta melihat perobahan aneh apakah yang bakal terjadi."

Setelah mengambil keputusan didalam hati, ia segera membuka bungkusan kecil yang diberikan orang yang ada maksud itu, disitu ia temukan rambut palsu serta selembar topeng kulit manusia.

Setelah mengenakan rambut palsu itu serta topeng kulit manusia berangkatlah pemuda itu turun dari puncak bukit ketika bercermin diatas permukaan air nampaklah seorang pemuda yang berpenyakitan, ia jadi geli pikirnya:

"Aku harus mempunyai sebuah nama yang sesuai dengan potongan wajah serta badanku penyakitan... " malaikat penyakitan" benar nama ini bagus sekali, baiklah mulai sekarang aku akan munculkan diri didalam dunia persilatan dengan nama malaikat penyakitan"

Ia bersuit nyaring, tubuhnya dengan cepat berkelebat menuruni bukit itu, mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya pikirnya:

"Aku harus berusaha keras untuk menemukan adik angkatku Tonghong Hwie lebih dahulu, ia selalu menganggap aku telah tiada lagi di kolong langit, aku harus temukan dirinya sebelum terjadi peristiwa yang tidak diinginkan. Tapi dunia begini luas, aku musti pergi kemana untuk menemui  jejaknya."

Setelah termenung beberapa saat lamanya, ia lantas bergumam seorang diri:

"Aaaah benar perkumpulan Kaypang tersohor karena banyaknya anggota yang tersebar di mana2, asal aku berhasil temukan engkoh tuaku pengemis dari selatan, niscaya pencarian ini lebih mudah dilakukan. Perjalananku menuju keb enteng Maut lebih baik kutunda lebih dahulu"

Setelah mengambil keputusan, berangkatlah pemuda itu menuju arah selatan.

Entah sudah beberapa lama ia sudah berjalan, mendadak dari tempat kejauhan berkumandang datang suara suitan aneh yang amat memekikan telinga, tanpa sadar Han Siong Kie menghentikan gerakan tubuhnya.

Suitan tajam yang amat keras hingga memekikan telinga itu kembali bergema dari tempat kejauhan, kali ini juaranya lebih tajam dari suitan yang pertama, si anak muda itu sangsi sejenak setelah menentukan arah asalnya suara itu, ia segera meluncur kearah sebelah kanan dari hutan dihadapannya.

Beberapa puluh tombak sudah dia memasuki hutan tersebut, tapi sungguh aneh, disekeliling sana ternyata tak nampak sesosok bayangan manusiapun, sedang suara suitan tajam yang memekikkan telinga itupun tidak kedengaran lagi.

Pemuda itu jadi sangsi dan curiga, mungkinkah ia telah salah mendengar? ataukah memang ada seseorang lihay yang sedang mempermainkan dirinya??

Makin direnung pemuda itu semakin bingung, akhirnya ia mengambil keputusan untuk menyelesaikan pekerjaan sendiri

"Perduli amat dengan orang yang bersuit tajam itu." pikirnya didalam hati. Ia segera putar badan dan siap berlalu dari situ ...

"Bocah cilik, jangan pergi dulu..."

suara itu dingin seakan akan muncul dari gua salju yang menggidikkan hati. Han Siong Kie terkejut dan segera menoleh. Tapi.. tak nampak sesosok bayangan manusiapun berada disekitar tempat itu, tidak terasa ia segera berseru: "siapa kau??"

"Aku?? haaah..haaah.haaah..."

suara itu se-olah2 dipancarkan dari suateu tempat sejauh sepuluh tombak dari hadapannya, yang aneh ternyata hanya suaranya saja yang kedengaran sedang bayangan manusianya sama sekali tak terlihat.

Bergidik hati sianak muda itu menjumpai keadaan tersebut, bulu kuduknya pada bangun berdiri, pikirnya:

"Jangan2 aku telah bertemu dengan setan? kalau tidak mengapa tak nampak sesosok bayangan manusiapun ditempat ini?" Sekali lagi ia membentak keras: "sebenarnya siapakah kau??"

"Haaah .haaah .haaaah... aku mengira aku bakal mati dengan menahan rasa sesal sepanjang masa, sungguh tak nyana sebelum ajalku tiba ternyata bisa bertemu dengan kau si bocah cilik. aaai.. inilah yang dikatakan Thian maha adil dan Thian punya mata, bocah cilik kau jangan pergi dari sini.."

selama pihak lawan berbicara, Hansaong Kie pusatkan perhatiannya coba menemukan arah berasalnya suara itu, tapi ia kecewa. sebab usahanya itu gagal dan tidak berhasil menemukan orang itu.

Akhirnya dengan perasaan heran bercampur sangsi, sekali lagi ia menegur:

"Sebenarnya siapakah kau"

"Aku adalah Mo-Mo cungcu Rasul dari segala iblis" sedikitpun tidak salah, Rasul dari segala iblis atau disebut

pula Mo tioan ci-mo atau Iblis diantara iblis"

"Kalau ditinjau dari juluknya itu, terang dia bukan manusia aliran lurus" pikir Han Siong Kie didalam hati, "Lebih baik aku kabur saja dari sini, toh persoalanku sendiri terlalu banyak. kenapa musti banyak ribut dengan manusia yang disebut Mo- Tiong ci-mo itu??"

Berpikir demikian ia lantas berkata dengan suara dingin. "Aku masih ada urusan penting yang harus dikerjakan,

selamat tinggai.."

"Eeeeei bocah cilik kau jangan pergi dari sini "

Han Siong Kie tidak menjawab ia lanjutkan gerakannya berlalu dari tempat itu..

"Bocah cilik masa kau tak mau menolong orang yang sedang kesusahan???"

Ucapan yang menegunkan hati Hanslong Kle, tubuhnya yang sedang meluncur pergi segera mendadak diudara dan melayang kembali keatas tanah pikirnya didalam hati.

"Melihat orang kesusahan tidak menolong, apakah maksudnya??? apakah manusia yang bernama iblis diantara iblis itu masih membutuhkan bantuan orang lain???" Ia segera menegur.

"Hei manusia yang bernama iblis diantara iblis, apa maksud perkataanmu itu??"

"Sulit untuk aku menceritakan dalam sepatah dua patah nanti saja kuceritakan kepadamu sedikit demi sedikit, sekarang singkirkan dahulu batu cadas yang amat besar itu"

"Batu cadas besar??" "Sedikitpun tidak salah"

Han Siong Kie segera alihkan sinar matanya menyapu sekejap sekeliling tempat itu, sedikitpun tidak salah pada jarak kurang lebih enam tombak dihadapannya terlihatlah sebuah batu cadas yang besarnya mencapai beberapa tombak.

"He, kau berada dimana?" teriak pemuda itu. "Aku berada dibawah batu cadas itu"

"Kenapa kau bisa tertindih dibawah batu cadas itu??" "Eeei.. si bocah cilik, kenapa sih begitu cerewet dan banyak

omong?? singkirkan dahulu batu cadas itu kemudian kita baru berbicara lagi"

Han Siong Ktejadi murka, hawa pitamnya segera berkobar memenuhi benaknya, sambil mendengus dingin serunya:

"Luar biasa amat tabiatmu itu. Hmm kalau memang kau hebat dan lihay, kenapa tidak berusaha untuk menyingkirkan sendiri batu cadas itu?? maaf.. aku tak punya banyak waktu untuk bercanda dengan dirimu"

Mendengar sianak muda itu hendak berlalu, Iblis diantara iblis jadi sangat gelisah, buru2 serunya:

"Eeei..eeei.. bocah, kau jangan pergi dulu, kalau kau pergi dari sini niscaya aku bakal mati konyol"

Han Siong Kie jadi geli bercampur mendongkol, dengan perasaan apa boleh buat serunya: "Apakah cukup bagimu hanya menggeserkan batu cadas itu saja??"

"Ehmm bocah cilik mampukah kau hancurkan batu cadas itu hanya didalam tiga buah pukulan belaka??"

"Heeeh..beeeh..heeeh.. rupanya kau sengaja hendak menguji tenaga dalamku??" jengek Han Siong Kie sambil tertawa dingin.

"Aku sama sekali tak ada maksud menguji kekuatanmu, aku berbicara demikian karena mengandung maksud tertentu, katakan saja mampu tidak kau lakukan pekerjaan itu??"

"Coba saja nanti"

Per-lahan2 sianak muda itu berjalan mendekati batu cadas tersebut, setelah diamatinya sebentar, ia segera menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya kedalam telapak. serunya kemudian dengan suara berat:

"Saudara. hati2lah... aku segera akan melancarkan pukulan keatas batu cadas itu."

sebagai penutup kata sepasang telapaknya segera didorong kedepan dengan hawa murninya yang amat hebat serangan itu bisa dibayangkan sampai dimanakah kehebatannya.

“Blaaam...” terdengar benturan keras yang memekikan telinga, bumi tergetar laksana di landa gempa dahsyat, batu cadas yang besar itu terhajar remuk jadi empat lima bagian dan mencelat ke empat penjuru, dari bawah hatu cadas itu muncullah sebuah mulut gua yang gelap.

Sesosok kepala manusia yang sangat aneh segera menongol keluar dari mulut gua itu.

Dengan hati terkesiap bercampur kaget Han song Kie mundur tiga langkah kebelakang setelah diamati lebih seksama lagi maka tampaklah olehnya bahwa manusia aneh itu adalah seorang kakak tua yang bercambang lebat dengan rambut terurai kebawah, sepasang mata yang besar memancarkan cahaya tajam yang menggidikkan hati jelas tenaga dalam yang dimiliki Mo Mo Cuncu telah mencapai puncak kesempurnaan.

"Haah haah haah... takdir takdir" seru kakek aneh itu sambil tertawa tergelak. "Bocah cilik, pukulan yang barusan kau lancarkan mengandung kekuatan tenaga dalam sebesar seratus tahun hasil latihan, hal ini sungguh berada diluar dugaanku. Rupanya takdir telah menentukan demikian dan aku memang mendapat pertolongan."

Habis berkata kembali ia tertawa terbahak2, begitu keras suaranya hingga Han Siong Kie merasakan kendang telinganya terasa amat sakit. "Apakah kau yang bernama Mo Mo Cuncu rasul dari segala Iblis? " "Masa masih ada yang gadungan??"

"Dengan tenaga dalam yang kau miliki rasanya kau masih mampu untuk menyingkirkan batu itu bukan? kenapa hal itu tidak kau laksanakan sendiri" Rasul dari segala Iblis tidak menjawab pertanyaan itu, hanya serunya. "Bocah cilik, mari masuk kedalam gua"

Habis berkata kepalanya menyusup lebih dahulu masuk kedalam gua itu.

Melihat kesemuanya yang serba aneh itu Han Siong Kiejadi tercengang dan ingin tahu, dia ragu2 kemudian sebentar masuk kedalam gua itu.

Luas gua tersebut tidak begitu lebar, hanya dua tombak lebih sedikit, setelah berada diatas permukaan ia menyusup sejauh tiga tombak kesebelah kanan disitu dijumpainya seorang manusia aneh dalam keadaan bugil sedang duduk bersila, sepasang matanya dengan sorot mata tajam sedang mengawasi pemuda itu tanpa berkedip. "Bocah, duduklah kemari" kakek aneh itu berseru.

Bulu kuduk diseluruh tubuh Han Siong Kie pada bangun berdiri, tapi ia lanjutkan pula langkahnya menuju kedalam dan duduk dihadapan kakek itu. "Hey bocah cilik, aku lihat wajahmu berpenyakitan."

"Sedari dilahirkan aku memang memiliki raut wajah semacam ini"

"Siapakah namamu?? "

"Aku bernama malaikat penyakitan"

"Malaikat penyakitan?? Ha ah haah haah sungguhkah kau bernama malaikat penyakitan??"

"Mau percaya atau tidak terserah padamu"

"Baik, perduli kau adalah malaikat apa aku tak ada sangkut pautnya dengan diriku, bertemu denganmu itulah takdir, maukah kau membantu untuk menyelesaikan suatu keinginan hatiku??"

Sambil berkata dengan pandangan yang mengharapkan dia menatap tajam wajah Han Siong Kie.

"Keinginan hati apa??" tanya pemuda itu tercengang. "Menantang seseorang untuk berduel"

"Oooh ... maksudmu mewakili dirimu pergi menantang seseorang untuk diajak berduel?"

"Sedikitpun tidak "

"Kenapa kau tidak melakukan sendiri?? bukankah tenaga lweekang yang kau miliki sangat tinggi"

Rasul dari segala iblis tertawa sedih. "Coba lihatlah sendiri" ia berkata.

Mengikuti arah yang dituding orang itu Han Siong Kle segera alihkan sorot matanya, dia lihat sepasang kaki dari kakek aneh itu sudah mengering dan menyusut kecil, kaki itu telah cacad dan tak dapat dipergunakan lagi untuk berjalan.

Timbullah perasaan iba bercampur kasihan didalam hati pemuda itu, tapi ia belum begitu paham mengenai watak kakek aneh yang bernama Rasul dari segala Iblis ini, maka pemuda itu tak mau mengabulkan permintaannya secara gegabah.

"Hei orang tua, aku ingin memahami lebih dahulu asal usulmu serta perbuatan2mu dimasa lampau."

"ooh. rupanya kau adalah seorang bocah cilik yang belum lama terjun kedalam dunia persilatan"

Han Siong Kie merasa tidak senang hati, sahutnya dengan suara dingin "Tidak salah, aku memang terjun kedunia persilatan belum seberapa lama" "Tidak aneh kalau begitu, bila kau sudah lama terjun di dalam dunia persilatan, niscaya akan mengetahui namaku meskipun aku bergelar Mo mo cuncu Rasul dari segala Iblis, tetapi orang2 Bu-lim pada menyebut diriku sebagai Mo tiong ci mo Iblis di antara Iblis"

"Kalau memang demikian adanya, maka itu bukankah membuktikan bahwa perbuatanmu semasa masih berkelana didalam dunia persilatan dahulu lebih busuk dan keji daripada kawanan kaum iblis lainnya??"

"Benar atau salah yang terjadi didalam dunia persilatan sulit untuk dibedakan satu sama lain misalnya saja Tengkorak Maut.."

"Apa?? Tengkorak Maut???"

"Tidak salah, pemilik dari Benteng Maut itu"

"Kenapa dengan orang itu??" tanya Han Siong Kie sambil menahan emosi yang bergolak didalam dadanya.

"Setiap orang didalam dunia persilatan menganggap dia sebagai seorang iblis yang luar biasa kejinya, padahal dalam kenyataan belum tentu ia berwatak kejam"

Takkala sianak muda itu mendengar kakek aneh itu menyebut tentang musuh besar pembunuh keluarganya emosi bergelora dalam dadanya, ia merasa denyutan jantungnya bergerak lebih kencang, api dendam berkobar2 dan wajahnya berubah hebat.

Namun berhubung diatas wajahnya merupakan selembar topeng kulit manusia maka diluar golakan perasaannya itu sama sekali tidak kelihatan dengan setengah mendesak ia berseru kembali:

"Dari mana kau bisa tahu kalau ia tidak kejam?" " "Meskipun Tengkorak Maut membunuh manusia2 dalam jumlah yang tak terbatas tetapi ia sendiripun mempunyai kesulitan yang tak bisa diutarakan kepada orang lain."

Terbayang dua ratus jiwa lebih keluarganya yang mati terbunuh hingga tinggal tulang yang berserakan memenuhi perkampungan keluarga Han, Han Siong Kie segera mendengus dengan kebencian.

"Masa membunuh orangpun mempunyai kesulitan??" jengeknya.

"Hmmm... sebagian besar orang yang dibunuh olehnya adalah orang2 yang sudah sepantasnya dibunuh, tentu saja diantaranya terdapat pula mereka2 yang telah dibunuh tetapi hal ini tak bisa menyalahkan dirinya, bagaimanapun juga itulah bencana yang dicari sendiri oleh sang korban"

sebenarnya Han Siong Kle ingin menanyakan pula kematian keluarganya sebanyak dua ratus jiwa merupakan suatu pembunuhan yang pantas terjadi ataukah salah membunuh, tapi akhirnya ia menahan diri dan tak sampai mengutarakan asal usulnya, pikirnya didalam hati:

"Rupanya iblis diantara iblis ini bila bukan setali tiga uang dengan Tengkorak Maut, dia pastilah mempunyai hubungan yang erat dengan iblis itu, kalau tidak kenapa selalu membela dirinya???"

Menggunakan kesempatan baik itu ia berusaha untuk mengorek keterangan mengenai si Tengkorak Maut segera ujarnya.

"Kalau kulihat ucapanmu, rupanya kau mengetahui amat jelas tentang keadaan dari Tengkorak Maut??"

"Sedikitpun tidak salah" iblis diantara iblis mengangguk "aku berani berkata bahwa dikolong langit kecuali aku seorang tiada orang kedua yang mengetahui latar belakang peristiwa berdarah yang selalu menimpa dunia persilatan itu." "Apakah kau bisa menerangkan kepadaku? seru Han Siong Kia dengan pikiran bergerak.

-000d0w000-

BAB 20

"TENTANG soal ini eeei bocah maafkanlah aku karena rahasia ini tak dapat kuterangkan padamu"

"Kenapa??"

"Aku sudah berjanji lebih dulu padanya, bahwa selama hidup rahasia itu tak akan kubocorkan kepada orang lain, sebagai pria sejati aku harus pegang janji itu erat2"

"Kalau memang kau tidak ingin mengatakannya, tentu saja tiada alasan untuk memaksa dirimu lebih jauh" ujar Han Siong Kie dengan hati kecewa "baiklah kalau begitu aku ingin mohon diri lebih dahulu "

"Eeeei. . eeeei. bocah kau tak boleh pergi."

Sambil berseru segulung tenaga hisap yang maha kuat menarik tubuh Han Siong Kie sehingga mundur tiga langkah kebelakang, begitu hebat daya hisap tadi hingga sianak muda itu tak mampu untuk bergeser kembali dari tempat itu.

Terkesiap hati Han Siong Kie menyaksikan tenaga yang maha sakti itu, peluh dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, tapi sebagai seorang pemuda yang sombong dari kaget jadi gusar bentaknya: "Eeei.. sebenarnya apa maksudmu?"

"Bocah, kau tak boleh pergi dari sini"

"Kenapa aku tak boleh pergi dari sini?? aku toh tak terikat oleh janji apapun dengan dirimu??" "Kau harus mewakili diriku untuk mewujudkan suatu keinginanku, kau harus mewakili diriku untuk bertempur melawan seseorang"

"Aku tak mempunyai waktu yang begitu banyak bagimu" "Bocah cilik, janganlah jual mahal. ..kau harus melakukan

pertarungan itu mewakili diruku"

Han Siong Kie mendengus dingin.

"Hmmm aku toh berhak untuk menampik permintaan itu, kenapa kau memaksa terus??"

"ooooh... jadi kau tidak setuju deagan permintaan tolongku ini??"

"Maaf aku tak dapat memenuhi keinginanmu itu" "sekalipun tidak mau kau harus melakukannya bagiku"

"Hmmm tidak bisa" Han Siong Kie mendengus lagi dengan suara berat.

Kembali tubuhnya bergerak kedepan, kali ini ia telah mengerahkan tenaga dalamnya sebesar sepuluh bagian, langkahnya enteng dan gerakannya cepat laksana sambaran kilat.

Siapa tahu ternyata tenaga hisapan yang dipancarkan Mo- mo cuncu luar biasa hebatnya, meskipun ia sudah berusaha dengan sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari tenaga h isapan tadi tetapi tubuhnya masih tetap berdiri di tempat semula. "Bocah ayoh jawab kau sanggup melakukan pertarungan itu bagiku atau tidak??"

"Tidak setuju kau mau apa???"

"Kalau kau berani tampik lagi permintaanku ini, sekali hantam kubabat tubuhmu sampai hancur" Han Siong Kie jadi naik pitam mendengar ancaman itu, saking gusar dada terasa mau meledak dengan sombong ia berseru: "Tidak setuju tidak setuju kau mau apa?"

"Blaaam." segulung angin pukulan yang maha dahsyat segera menghajar kedepan menimpa dada sianak muda itu.

Han Siong Kie berseru tertahan, tubuhnya terpental sejauh beberapa depa dari tempat semula, setelah termakan oleh pukulan itu, sekujur tubuhnya langsung terasa sakit bagaikan patah tulang, darah panas bergolak dalam dadanya sedang matanya ber kunang2 dan kepalanya pusing tujuh keliling, tapi sambil tahan diri per lahan2 ia bangkit berdiri

"Bocah, ayoh jawab setuju atau tidak?" seru Iblis diantara iblis lagi dengan suara geram..

"Tidak setuju"

"Eeei.. rupanya kau tidak takut mati??"

"Ehmm jangan harap kau bisa menggertak aku si malaikat penyakitan dengan kata mati aku bukanlah seorang pengecut yang takut menghadapi kematian..."

Melihat kekerasan hati lawannya, Mo tiong ci mo jadi kewalahan sendiri, ia menghela napas panjang dan berkata:

"Bocah, kau memang seorang pria sejati, kau memang seorang jago gagah yang tidak takut menghadapi kematian, aku kagum atas keberanianmu itu mari.. kemarilah, bagaimana kalau kila bicarakan lagi persoalan ini secara baik2"

"Aku rasa sudah tiada persoalan yang bisa kita bicarakan lagi, aku tak mau melakukan pekerjaan apapun bagimu, lebih baik carilah orang lain saja. " sahut Han Siong Kie dengan suara dingin.

"Bocah begini saja, bila kau suka melakukan tugas yang kubebankan kepadamu itu maka akan kuwariskan ilmu silatku yang maha sakti itu kepadamu, akan kuciptakan dirimu sebagai seorang jago Bu lim yang sangat lihay dan disegani orang, bagaimana?? kau tentu bersedia bukan??"

"Aku tidak tertarik oleh ilmu silatmu itu, aku tak sudi menerima tawaranmu itu"

"Hmm sekalipun kau tidak ingin belajar, aku akan paksa kau untuk mempelajarinya juga."

"Dikolong langit belum ada peraturan semacam ini, Hmm kau ingin menggunakan kekerasan untuk memaksa diriku??,jungan bermimpi di siang hari bolong.. aku si malaikat penyakitan tidak gentar menghadapi siapapun juga"

"Apakah kau tidak ingin jadi seorang jago silat yang sangat lihay dan disegani oleh setiap umat dunia??"

"Meskipun aku ingin jadi jagoan, tapi aku tak sudi angkat guru kepadamu Aku bisa mencari orang lain dan belajar darinya"

"Eeei bocah, kau keliru besar" seru Iblis diantara iblis dengan suara dalam, "Aku sama sekali tiada maksud untuk menerima dirimu sebagai muridku, tujuanku mewariskan ilmu silatku itu kepadamu bukan lain adalah sebagai balas jasa atas kesediaanmu untuk memahami satu keinginanku itu, anggaplah perbuatanku itu sebagai jasa dari timbal balik atas kesedianmu itu"

"Tapi sayang aku tidak punya kegembiraan untuk menerima tawaranmu itu, maaf lebih baik cari saja orang lain."

"Bocah" seru Iblis diantara iblis akhirnya dengan nada geram "Ini hari aku tak akan melepaskan kau untuk berlalu dari tempat ini, aku tidak ingin mati dengan membawa penyesalan. Disamping itu akupun merasa kecuali kau seorang dikolong langit sulit untuk menemukan seseorang yang sanggup berduel melawan Tengkorak Maut." Terkesiap hati Han Siong Kie mendengar perkataan itu, tanpa terasa ia maju beberapa langkah kedepan dengan nada penuh emosi serunya:

"Apa??? kau hendak suruh aku pergi menantang Tengkorak maut untuk berduel??"

"Sedikitpun tidak salah apa kau takut??"

"Aku terima tawaranmu itu" jawab sang pemuda dengan cepat tanpa berpikir panjang lagi.

Mo Tiong ci-mo atau iblis diantara iblis jadi tercengang untuk beberapa saat ia berdiri melongo. Ia tak habis mengerti apa sebabnya pemula itu segera menyanggupi permintaannya setelah ia mengatakan bahwa orang yang dituju adalah Tengkorak Maut. . .

Dengan sepasang biji matanya yang tajam ia awasi wajah Han Siong Kie beberapa saat lamanya, lama... lama sekali tetapi tak sesuatu apapun yang berhasil ia temukan.

-000d0w000-