Tengkorak Maut Jilid 08

 
Jilid 08

SEPENINGGALNYA keempat orang kakek tadi, Ong Cui Ing sambil menggandeng putra kesayangannya pun ikut berlalu menuju kedalam selat.

Kakek bercambang berserta kedua puluh satu orang pria baju hitam itu dengan sikap yang hormat menghantar keberangkatan nyonya kaucu mereka.. Tidak lama setelah sesosok bayangan manusia yang kecil ramping. Dia bukan lain adalah Tonghong Hwie yang menyaru sebagai seorang pengemis cilik.

Kalau tadi Han Siong Kie menaruh curiga kalau dia sudah tertawan oleh para jago yang dikirim perkumpulan Thian chee Kau untuk mencari jejaknya, maka Tonghong Hwie pun mengira saudara angkatnya telah tertawan pula oleh para jago dari perkumpulan Thian chee kau.

Sungguh sayang kedatangan mereka berdua hanya terpaut beberapa waktu saja hingga, kedua belah pihak tak dapat saling bertemu satu sama lainnya.

sekalipun tujuan yang mereka datangi adalah sama, dan maksud tujuan merekapun tak berbeda, namun rupanya takdir telah menentukan yang lain.

Tonghong Hwie adalah seorang jago yang amat cerdik, dia tahu wilayah Lian Hong tan tidak lebih bagaikan sarang naga gua harimau, jago lihay pihak perkumpulan Thian chee kau yang ditugaskan menjaga di sekitar tempat itu banyak sukar dihitung dengan jari, bila ia berani menerjang masuk secara gegabah niscaya jejaknya akan ketahuan. oleh karena itu dengan amat sabar pengemis cilik itu menuggu diluar daerah tersebut, ia tunggu hingga kentongan kedua sudah menjelang tiba, dengan gerakan yang sangat enteng danpenuh kewaspadaan, selangkah demi selangkah dijelajahinya tempat itu.

Dengan kecerdasan yang dimilikinya, ternyata dengan amat mudah sekali ia berhasil melewati beberapa buah pos penjagaan yang banyak tersebar disekitar tempat itu.

Namun tidak lama setelah berada didalam selat tersebut, dengan cepat Tonghong Hwee menemukan bahwa keadaan tidak beres, ia temukan begitu banyak persimpangan yang bermunculan ditempat itu, meskipun sudah setengah malam ia ber-putar2 ditempat itu, namun yang ditemui hanyalah tebing2 curam yang menjulang tinggi ke angkasa, bukan begitu saja bahkan iapun menemukan banyak sekali lorong sempit yang telah dilaluinya bukan hanya satu kali saja.

Tonghong Hwie jadi amat panik, menurut perhitungannya didalam beberapa jam lagi fajar bakal menyingsing, namun jalan lorong yang dilewatinya kian lama kian bertambah membingungkan hati, bukan saja jalan keluar tidak berhasil ditemukan, bahkan untuk mundur kembali kejalan yang semula pun tak mampu dia lakukan.

Sadarlah pengemis cilik itu bahwa dirinya telah terkurung didalam sebuah barisan yang maha sakti, dalam keadaan begini kendati ia cerdik dan banyak akal, tak urung dia akan kelabakan juga.

Fajar telah menyingsing, lorong2 sempit yang membujur dalam selat itu perlahan2 menjadi terang benderang.

Keadaan dari Tonghong Hwie pada saat ini ibarat semut yang berada diatas kuali panas, rasa panik yang menyelimuti hatinya sulit dilukiskan dengan kata2. Mau maju tak dapat, mau mundurpun tak bisa, sedangkan kabar berita tentang kakak angkatnya Han Siong Kie tidak berhasil diketahui, bisa dibayangkan betapa cemasnya hati pengemis ini.

Terpikir olehnya hendak mencari tempat persembunyian terlebih dahulu untuk melepaskan diri dari pengamatan para jago dari perkumpulan Thian chee kau. Setelah itu baru berusaha untuk mencarijalan keluar dari barisan ini, siapa tahu sekeliling tempat itu yang terlihat hanyalah tebing2 curam yang menjulang tinggi keangkasa. Dengan tenaga dalam yang dimilikinya tak mungkin baginya untuk melayang naik ketempat itu.

Disaat hatinya sedang bingung bercampur panik itulah, mendadak dari arah belakang berkumandang datang suara tertawa seram yang amat mengerikan..

Dengan hati terkesiap Tonghong Hwie berpaling kebelakang, tanpa terasa ia tarik napas dingin dan bergidik.

Terlihatlah seorang kakak baju kuning yang bermata tunggal telah berdiri kurang lebih satu tombak dibelakang tubuhnya, sedari kapan orang itu munculkan diri ternyata sama sekali tak diketahui olehnya. Dalam pada itu sikakek baju kuning bermata tunggal tadi telah menatap wajahnya sambil tertawa seram, serunya:

"Hey bangsat cilik, rupanya kau sudah kepayahan semalam suntuk. bagaimana kalau sekarang beristirahat dulu??"

Tonghong Hwie merasa amat terkejut, jantungnya terasa berdebar keras, ia tak menyangka kalau perbuatannya selama semalam suntuk ternyata sudah berada didalam pengawasan orang, dengan hati tercekat segera serunya: "si. .siapa ..siapa kau??"

"Hmm..hmm kau ingin tahu siapakah aku? aku bukan lain adalah Koan thian sin atau malaikat pengamat langit Ci Chong"

"Malaikat Pengamat Langit??."

"Sedikitpun tidak salah" kakek baju kuning itu mengangguk.

"Aaah aku rasa julukan itu kurang tepat bagimu, seharusnya engkau lebih cocok kalau dinamakan si mata tunggal pengamat langit"

Air muka kakek baju kuning itu seketika berubah hebat, ia tidak mengira dalam keadaan bahaya, pihak lawannya masih sempat untuk menggoda dirinya, sambil tertawa seram ia segera berseru:

"Bajingan busuk. kematian sudah berada diambang pintu, kau masih juga tak tahu diri dan berani mempermainkan diriku ..Hmm rupanya kau benar2 sudah bosan hidup, Heeeh... heeeh... heeeh... bangsat kedatanganmu apakah disebabkan karena manusia berwajah dingin itu??"

Terkejut Tonghong Hwie mendengar ucapan tersebut, dari situ ia bisa menarik kesimpulan bahwa delapan puluh persen kakak angkatnya sudah tertangkap. oleh para jago perkumpulan Thian chee Kau. Dengan suara agak gemetar segera serunya: "Jadi jadi... manusia berwajah dingin telah kalian lukai ?"

"Ehmmm... sedikitpun tidak salah, selamanya orang yang berani memasuki wilayah Lian huan tau tak bakal ia bisa tinggalkan tempat ini dalam keadaan hidup"

"Apa?? jadi..jadi ia sendiri yang datang mencari satroni ketempat ini???"

"sedikitpun tidak salah, dia yang sudah bosan hidup dan datang mencari penyakit sendiri"

"Sekarang... sekarang dia berada dimana?"

"Kau maksud simanusia berwajah dingin? sekarang dia berada didalam penjara maut dan sebentar lagi kau bakal bertemu dengan dirinya"

Sekujur badan Tonghong Hwie gemetar semakin keras, ia tak tahu dimanakah letaknya penjara maut tersebut, tetapi bila ditinjau dari namanya jelas tempat itu merupakan suatu tempat yang luar biasa.

sebelum ingatan kedua berkelebat didalam benaknya, terdengar si malaikat pengamat langit Ci chong telah berkata kembali:

"Dia hanya akan hidup sampai fajar menyingsing nanti, berarti jiwanya masih akan hidup selama setengah jam belaka"

"Dia kenapa dia?"

"Dia akan dijatuhi hukuman mati dan akan melaksanakan hukumannya sejenak lagi"

Tonghong Hwie seketika itu juga merasakan pandangan matanya jadi gelap dan berkunang2, tubuhnya dengan sempoyongan mundur beberapa langkah kebelakang: "Engkoh Kie hanya akan hidup setengah jam lagi??" pikirnya didalam hati "Benarkah dia akan dijatuhi hukuman mati?? bukankah ilmu silat yang dimilikinya sangat lihay, kenapa ia bisa tertawan?? bila engkoh Kle benar2 bakal mati, lalu apa artinya bagiku untuk hidup seorang diri, akan lebih baik biarkan diriku ditawan saja hingga bisa bertemu muka dengan dirinya atau paling sedikit aku bisa bertemu dengan dirinya sebelum menghembuskan napas yang terakhir, banyak sekali perkataan yang hendak kusampaikan kepadanya, aku hendak beri tahu asal usulku kepadanya ..."

Makin berpikir ia merasa makin kalut, hingga akhirnya sambil menjerit pengemis cilik itu putar badan dan lari menuju kedalam lembah..

"Bangsat cilik, kau hendak pergi kemana? terdengar malaikat pengamat langit membentak keras.

Sambil berseru tubuhnya laksana kilat berkelebat ke depan dan menghadang jalan pergi pengemis itu.

Jago tua ini merupakan salah satu diantara empat pelindung hukum yang amat lihay didalam perkumpulan Thian chee kau, ilmu silatnya terhitung kelas satu dibawah kaucu mereka sendiri, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya serangan yang dia lancarkan.

Dengan tangkas Tonghong Hwie berkelit kesamping, cengkeraman yang telah berhasil bersarang diatas bahunya itu segera berhasil diloloskan kembali, menggunakan kesempatan itu dia loncat mundur delapan depa ke arah belakang.

Melihat musuhnya berhasil melepaskan diri dari serangan yang dia lancarkan itu, malailat pengamat langit Ci Chong berseru kaget, ia tak tahu ilmu silat apakah yang dimiliki pengemis cilik itu sehingga cengkeraman yang telah berhasil mengenai sasaran itu dapat dilepaskan dengan begitu gampang.. Tonghong Hwie sendiri yang memiliki baju sakti pelindung badan meskipun berhasil melepaskan diri dari cengkeraman musuh, tak urung ia rasakan bahunya terasa amat sakit, diam2 ia kaget akan kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki musuhnya itu.

Dalam pada itu si malaikat pengamat langit Ci Chong setelah tertegun beberapa saat lamanya segera tertawa seram, ia menerjang kembali kedepan sambil melancarkan serangan.

"Ci, Hu hoat, tahan" mendadak terdengar suara bentakan nyaring berkumandang datang dari arah belakang.

Bersamaan dengan selesainya ucapan itu, dari balik bukit muncullan seorang perempuan berusia setengah baya.

Dari suata teguran itu rupanya malaikat pengamat langit Ci chong sudah mengetahui siapakah yang telah datang, buru2 ia tarik kembali telapaknya dan meloncat mundur ke belakang.

"Hamba terima perintah, apakah nyonya masih ada perintah lain??" serunya dengan serius.

"Waktu untuk melaksanakan hukuman mati segera akan berlangsung, harap kau segera berlalu dan melakukan pengawasan yang ketat disekitar tempat ini, sedang bangsat cilik ini serahkan saja kepadaku"

"Hamba terima perintah" setelah memberi hormat malaikat pengamat langit Ci Chong segera putar badan segera berlalu dari situ.

Tonghong Hwie merasa semakin sedih setelah mengetahui bahwa saat dilaksanakannya hukuman mati segera akan berlangsung, sambil menjerit keras ia enjotkan badan dan siap mengejar dibelakang kakek baju kuning tadi. "Berhenti"

Di tengah bentakan nyaring Tonghong Hwie segera merasakan adanya segulung angin pukulan yang amat kuat menerjang kearah tubuhnya hingga memaksa dia harus membatalkan niatnya untuk mengejar kakek baju kuning tadi dan melayang kembali keatas tanah.

Perempuan berusia setengah baya yang bukan lain adalah siang go berwajah cantik Ong Cui Ing itu, ia tidak banyak bicara tubuhnya laksana kitiran angin puyuh segera menerjang maju kedepan, telapak tangannya yang sukar dilukiskan dengan kata2 mencengkeram pergelangan tangan Tong hong Hwie.

Pengemis cilik itu meronta keras, ia berusaha melepaskan diri dari ancaman itu, namun rupanya Ong Cui Ing sudah mempunyai perhitungan yang masak, bersamaan dengan dilancarkan serangan cengkeraman itu, tangannya segera mengirim pula sebuah totokan kearah bagian dalam tubuh pengemis itu.

Tonghong Hwie terkesiap. sukmanya terasa melayang tinggalkan raganya, untuk menghindarkan diri tak sempat lagi, sebelum ingatan kedua sempat berkelebat dalam benaknya, ia sudah jatuh tak sadarkan diri

Bagaimana keadaan si pengemis cilik ini selanjutnya?? baiklah untuk sementara waktu kita tinggalkan dahulu.

Dalampada itu Han Siong Kie yang di hajar ibunya sendiri Ong Cui Ing hingga muntah darah segar, kemudian jalan darahnya tertotok hingga kesadarannya lenyap segera digotong masuk kedalam penjara bawah tanah.

Menanti pemuda itu sadar kembali dari pingsannya, ia temukan dirinya berbaring di suatu tempat yang berbau lembab, busuk dan sangat memuakkan, begitu baunya hingga untuk bernapaspun terasa amat sulit.

Perlahan-lahan ia membuka matanya dan berusaha memandang sekeliling tempat itu, namun yang terlihat hanyalah kegelapaa yang mencekam seluruh jugad. Tempat manakah ini ? ingatan tersebut dengan cepat terlintas dalam benaknya. Lama kelamaan sinar matanya dapat menembusi kegelapan dan mulai bisa melihat pemandangan disekitar tempat itu meskipun masih samar dan buram.

"Apakah aku sudah mati??" ingatan itu dengan cepat berkelebat pula dalam benaknya, ia lihat dirinya berada dalam sebuah ruang batu yang luasnya hanya lima tombak persegi, udara menyiarkan bau busuk dan bayangan manusia bergerak kesana kemari dihadapan matanya, suara rantai bergemerincingan sementara manusia dengan wajah seram layu dan rambut yang kusut berkeliaran disekitar situ.

"Aaah mungkinkah aku telah berada di dalam neraka yang penuh dengan manusia hukuman.??" pikiran itu seketika membuat hatinya tercekat dan bada nj adi merinding.

Buru2 ia berusaha meronta dan loncat bangun dari atas tanah namun suara gemerincingan segera mengejutkan pula hatinya.

Ternyata kaki serta tangannyapun diborgol dengan sebuah rantai besi yang besar dan kuat, sebuah jepitan besi yang diikat dengan rantai pula memborgol tenggorokannya membuat dia sama sekali tak dapat bergerak dengan bebas.

Kurang lebih tiga puluhan orang hukuman dengan keadaan yang tak jauh berbeda dengan dirinya duduk lesu dan lemas di sekitar situ, suasana terasa hening namun mencekamkan.

"Aku telah mati aku telah mati" jerit Han Siong Kie dengan suara mengenaskan, "aku mati dalam keadaan yang konyol, kematianku sungguh tidak berharga. oooh, kenapa aku harus mati ditangan ibu kandungku sendiri??? "

Jeritan ini segera memancing perhatian para hukuman yang lain, mereka sama2 angkat kepala dan memandang kearahnya, tetapi tak seorangpun diantara mereka yang buka suara, mungkin mereka sendiri sudah terbiasa menyaksikan kejadian seperti ini. Pemuda itu men-jerit2 seperti orang gila sambil berteriak ia terbayang kembali kejadian-kejadian dimasa silam.

Ia teringat kembali ketika paman gurunya si Telapak naga beracun Thio Lien disuatu malam yang gelap dan hujan turun dengan derasnya telah membawa ia pergi mengunjungi perkampungan keluarga Han yang penuh dengan tulang manusia yang berserakan, membuat ia mengetahui asul usul yang sebenarnya"

setelah paman gurunya memberitahukan asat usulnya, ternyata ia telah bunuh diri disisi tulang tubuh ayahnya.

Dua ratus sosok tulang manusia termasuk tulang ayahnya masih berserakan dalam perkampungan tersebut tanpa seorang manusia pun yang mengurus... ia bersumpah akan menuntut balas atas peristiwa berdarah itu... dia akan mencincang tubuh musuhnya agar bisa membalaskan sakit hati ayah serta keluarganya.

Ia tahu orang yang telah melakukan penjagalan secara besar2an itu telah meninggalkan suatu lambang diatas dinding rumahnya, lambang itu berupa sebuah tengkorak yang berlumuran darah... itulah perlambang dari pemilik benteng Maut.

Kemudian ia teringat kembali sewaktu berkenalan dengan Tonghong Hwie, mereka angkat saudara kemudian ikut memperoleh penemuan aneh di dalam hutan, menyerbu ke dalam Benteng Maut

Dalam peristiwa itu ia telah dihantam masuk sungai oleh Tengkorak Maut hingga akhirnya ditolong oleh seorang gadis, hal ini membuat dia berhutang budi dengan Go Siauw Bi, putri dari ketua perkumpulan Pat Gopang.

Terbayang pula wajah ibunya yang cantik tapi berhati kejam melebihi ular beracun, bukan saja ia telah kawin dengan orang lain, bahkan begitu tega untuk turun tangan keji terhadap dirinya. Otak terasa penuh dengan pikiran2 yang mengalutkan, sekali lagi ia menyapu ruang disekelilingnya, ia tetap neraka dihadapannya dengan pandangan sayu. Rasa seram ngeri membuat tubuhnya menggigil, dan bulu romanya pada bangun berdiri Gumamnya kembali seorang diri:

"Aku tak boleh mati dengan begitu saja, bila aku mati siapa yang akan menuntut balas bagi sakit hati keluargaku? siapa yang akan mengubur tulang2 dalam perkampungan keluarga Han?? aku tak boleh mati, aku tidak ingin mati, Aaah Thian mengapa kau atur kesemuanya ini bagiku??.. oooh Thian kau terlalu kejam kau tidak adil.." semakin berpikir badannya semakin kaku linu dan sakit sekali.

Mendadak Kraaaak terdengar suara gemerincing yang amat nyaring berkumandang memecahkan kesunyian, disusul serentetan cahaya yang amat tajam memancar masuk menerangi seluruh ruangan tersebut.

Dari lubang terbuka itulah Han Siong Kie menemukan seurat wajah yang amat dikenal olehnya sedang melongok kedalam.

Kraaak terdengar suara nyaring kembali berkumandang, liang tadi menutup kembali, suara helaan napas sayup2 terdengar dari ruangan.

"Aaah Dia dia.. adalah si kupu2 warna warni Lie In Hiang

"pemuda itu segera berteriak keras "Aku belum mati, aku belum mati, tempat ini pastilah penjara dalam tanah didalam markas perkumpulan Thian chee kau"

Hampir saja pemuda itu meloncat bangun dari atas tanah saking girangnya, harapan untuk hidup segera muncul kembali didalam hatinya.

Maka dengan cepat ia berusaha merangkak bangun, ia berusaha untuk duduk bersila dan mengatur penapasan. Ia coba untuk bangkit berdiri: "Duduklah nak, jangan bergerak jangan terlalu banyak bergerak dulu" serentetan bisikan yang lembut bagaikan bisikan nyamuk bergema masuk dalam telinganya.

Han Siong Kie terkesiap dia yakin ucapan itu sengaja ditujukan kepadanya, tapi meskipun sorot matanya telah berputar menyapu setiap sudut ruang penjara itu, namun tak seorang manusiapun yang berhasil ditemukan, ia tidak berhasil menemukan sesuatu apapun, sungguh aneh sekali, siapakah yang telah mengirim padanya didalam penjara yang mirip dengan neraka ini.?????

"Manusia berwajah dingin, duduklah dan jangan bergerak" sekali lagi bisikan itu berkumandang datang.

Han Siong Kie terkejut dan tanpa sadar telah duduk kembali keatas tanah, dengan ilmu menyampaikan suara pula ia balas berbisik: "siapakah kau??

"Aku?? masa kau sudah tidak kenali lagi suaraku??" "Aku merasa suaramu seperti kukenal, cuma aku lupa

siapakah dirimu itu??"

"Aku adalah orang yang ada maksud"

Han Siong Kie semakin terperanjat, jantungnya berdebar semakin keras. Kembali manusia yang ada maksud muncul dihadapannya dikala ia sedang menemui kesulitan. suatu harapan untuk melepaskan diri dari tempat itu segera muncul didalam benaknya, disamping itu dia pun merasa heran bercampur kaget. Kenapa manusia yang ada maksud bisa munculkan diri didalam penjara perkumpulan Thian Chee Kau?? dari mana ia bisa muncul disitu tanpa diketahui oraang??"

"Benarkah kau adalah manusia yang ada maksud?" sekali lagi Han Siong Kie bertanya.

"Sedikitpun tidak salah." orang yang ada maksud menjawab. “Sekarang nona berada dimana?”

“Di ruang sebelah penjara maut itu!”.

"Apa? penjara maut? tempat ini bernama penjara maut.?” "Tidak salah. sekarang kau berada didalam penjara maut

dari perkumpulan Thian Chee Kau”

“Bagbaimana caranya nona bisa sampai disini?” "Belum waktunya kuberitahukan kepadamu”

Han Siong Kie tarik napas panjang2. sebenarnya ia ingin bertanya kepada orang yang ada maksud mengapa dia datang untuk menolong dirinya, tetapi watak yang tinggi hati telah mengurungkan niatnya itu.

"Nona siapa2 saja yang ditawan didalam penjara ini? apakah kau tahu?” akhirnya dia bertanya kembali.

“Para hukuman yang sedang mananti untuk menjalankan hukuman mati.”

Untuk kesekian kalinya Han Siong Kie tarik napas dingin. ia terkesiap dan tak pernah menyangka kalau dirinya pun telah dijatuhi hukuman mati oleh pihak lawan. Tanpa sadar ia segera berseru lirih.

"Apa?? kau katakan mereka adalah orang hukuman yang sedang menantikan saat untuk menjalani hukuman mati?”

“Ssdikitpun tidak salah. orang2 itu ada yang merupakan musuh besar dari perkumpulau Thian chee kau. ada pula anggota perkumpulan yang telah melanggar peraturan perkumpulan mereka. sekarang orang2 itu sedang menikmati sisa hidupnya yang tak akan lama lagi. sebentar lagi mereka akan menjalani hukuman mati"

“Apakah termasuk diriku juga akan menjalani hukuman mati?"

"Tentu saja!" "Lalu apa maksud nona datang kemari?”

“Aku datang demi dirimu, sekarang janganlah bergerak secara sembarangan. kau harus pura-pura menunjukkan bahwa kau adalah seseorang yang telah kehilangan seluruh ilmu silatmu!”

"Kenapa??”

“Setiap orang sebelum dijebloskan kedalam penjara maut. oleh pengurus penjara ilmu silatnya pasti akan dimusnahkan terlebih dahulu.”

"Tapi aku merasa bahwa ilmu silatku masih utuh" "Benar, ilmu silatmu memang masih utuh, sedang apa

sebabnya sampai begini dikemudian hari kau bakal

mengetahui dengan sendirinya kesemuanya ini, orang yang kehilangan sukmalah yang mengaturnya. aku tak dapat menjelaskan kepadamu"

"Orang yang kehilangan sukma?? jadi kedatangan nona adalah sedang menjalankan tugas yang diperintahkan orang yang kehilangan sukma??"

"Dugaanmu tepat sekali, aku memang sedang menjalankan tugas yang diperintahkan oleh manusia yang kehilangan sukma"

"Nona, bolehkah aku mengajukan satu pertanyaan kepadamu??"

"Selama pertanyaanmu itu dapat kujawab, aku pasti akan memberikan jawaban yang memuaskan"

"Adik angkatku Tonghong Hwie sekarang berada dimana?? bagaimana pula nasibnya?? dia masih hidup atau sudah mati?? "

Manusia yang ada maksud termenung beberapa saat lamanya, kemudian menjawab: "Keselamatannya untuk sementara waktu tak ada bahaya." "Sekarang dia berada dimana? "

"Masih berada dalam wilayah Lian huan tau, cuma ia sudah berada dibawah perlindungan orang yang kehilangan sukma"

Legalah hati Han Siong Kie setelah mendengar perkataan tersebut.

"Apakah orang yang kehilangan sukma juga telah tiba ditempat ini?" ia bertanya kembali.

"Lebih baik kau tak usah tanyakan hal yang sama sekali tak berguna, tahukah kau masih berapa lama kau dapat hidup di kolong langit??"

"Berapa lama? seru sianak muda itu dengan hati terkejut. "Hanya dua jam, sebentar lagi ketiga puluh satu orang

hukuman yang ada didalam penjara ini termasuk tiga puluh dua orang akan melaksanakan hukuman matinya"

Han Siong Kie jadi kecewa bercampur sedih, rasa benci dan sakit hatinya muncul kembali menyelimuti benaknya, ia kertak gigi keras2 dan menyumpah:

ia benci ibunya yang kejam melebihi ular berbisa itu, ia benci kepada siang- go berwajah cantik Ong Cui Ing... perempuan itulah yang telah menghantar dirinya kedalam penjara maut, ibu kandungnya yang hendak merenggut selembar jiwanya lewat hukuman mati.

"Bagaimana cara mereka untuk membereskan jiwaku nanti." serunya dengan suara berat.

"Menurut peraturan yang berlaku bagi perkumpulan Thian chee kau, untuk tetap mempertahankan prikemanusiaan mereka hanya membunuh orang tanpa mengucurkan darah, mereka akan cekoki para hukuman dengan obat racun yang keji, setelah korbannya mati keracunan mayatnya baru dikubur diluar wilayah Lian Huan tan" "Dibunuh dengan racun??"

"Sedikitpun tidak salah kau jangan harap bisa meloloskan diri dari tempat ini, sebab setiap orang hukuman yang telah mati keracunan sebelum diangkat keluar akan diperiksa lebih dahulu dengan teliti, semboyan mereka adalah hanya mayat saja yang dapat ke luar dari penjara maut tersebut"

"Ooh...” Han Siong Kie hanya bisa berkata begitu saja, kemudian membungkam dalam seribu bahasa.

Terdengar orang yang ada maksud melanjutkan kembali kata2nya:

"Penjara maut ini didirikan dibawah tanah, pintu masuk dan pintu keluar diatur oleh alat rahasia yang ber lapis2, kurang lebih seratus orang jago lihay menjaga disetiap lapisan alat rahasia tersebut, bukan begitu saja bahkan setelah orang itu mati keracunan, sebelum dikubur kedalam tanah oleh petugas hukuman akan ditotok pula jalan darah kematiannya sehingga siapapun yang coba pura2 mati tak akan lolos pula ditangannya.."

"Nona, apakah kedatanganmu kesini hanya ingin memberi tahukan beberapa patah kata itu saja??" akhirnya sianak muda itu tak dapat menahan diri dan berseru.

"Bukan hanya itu saja, akupun datang untuk menolong dirimu.."

"Mati dan hidup semuanya diatur oleh takdir, aku sama sekali tidak jeri menghadapi semua kenyataan yang ada didepan mata."

"Kau memang bisa ambil tak perduli, tapi orang lain tidaklah mengharapkan kau terjadi sesuatu.."

"Siapakah orang itu?? "

"Orang yang kehilangan sukma" "Dia? kenapa?". "Dikemudian hari kau akan mengetahui dengan sendirinya, sekarang ia sedang berusaha keras untuk menolong dirimu tetapi diapun harus mengeluarkan suatu pengorbanan yang tak terhingga besarnya"

"Untuk menyelamatkan jiwaku, siorang yang kehilangan sukma telah memberikan pengorbanan yang tak ternilai besarnya?"

"Sedikitpun tidak salah" "Kenapa ia berbuat demikian??"

"Sekarang aku belum dapat memberitahukan kepadamu, suatu ketika kau akan mengetahui dengan sendirinya"

Han Siong Kie membungkam dan tidak berbicara lagi, peristiwa ini betul2 sangat aneh dan sukar diraba arah tujuannya.

Mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya hingga hampir saja ia berteriak ketus dengan suara gemetar segera serunya:

"Nona? bukankah tadi kau berkata bahwa hanya orang mati yang dapat keluar dari penjara ini??"

"Ehmm sedikitpun tidak salah kenapa?".

"Aku punya suatu cara yang bagus untuk meloloskan diri dari sini..."

"Benarkah itu?? kau benar2 mempunyai cara untuk meloloskan diri dari tempat ini? " seru orang yang ada makkud deagan suara penuh emosi. "sedikitpun tidak salah "

"Apakah caramu itu?? cepat katakan"

"Bukankah kau mengatakan bahwa orang mati saja yang dapat keluar dari penjara maut ini??"

"Ehmm ? sedikitpun tidak salah??" "Cara baikmu itu justru terletak pada kematian itu" "Bagaimana maksudmu??? aku tidak mengerti apa yang

kau ucapkan itu.."

"Aku pernah belajar ilmu pernapasan kura2 saktL, aku bisa berpura-pura mati tanpa diketahui oleh mereka.."

“Apa?” terdengar Orang yang ada maksud menjerit tertahan, “Kau pernah mempelajari ilmu kura2 sakti yang sudah lama lenyap dari permukaan bumi itu?”

"Sedikitpun tidak salah" pemuda itu membenarkan.

oooodOwoooo

Bab 17

“AAh- aku sudah mengerti akan maksud mu, bukankah kau hendak menggunakan ilmu kura2 sakti untuk menutup seluruh pernapasanmu dan memutar balikkan urat2 nadi serta jalan darah yang ada didalam tubuh hingga orang akan menganggap dirimu sebagai sesosok mayat??"

"Benar, coba lihatlah apakah cara ini bisa digunakan ateu tidak?”

“Boleh sih boleh. hanya saja..." "Hanya kenapa?”

“Setelah mayat itu digotong keluar dari penjara biasanya oleh petugas penjara pasti akan dilakukan pemeriksaan kembali dengan seksama dan kemudian menotok jalan darah kematiannya, bila sampai kau sungguh-sungguh celaka bukankah urusan jadi berabe?"

"Nona, mungkin kau belum begitu memahami akan kehebatan serta kesaktian dari ilmu kura2 sakti ini, bila seorang telah menggunakan ilmu tersebut maka seluruh peredaran darahnya akan berhenti jantUngnya berhenti berdetak dan keadaannya tidak jauh berbeda dengan orang mati biasa kecuali mayatku dipotong2 atau ditusuk atau mungkin aku bakal celaka ditangan orang lain"

"Lalu ilmu kura2 sakti yang kau miliki itu bisa bertahan berapa lama??"

"Ilmu tersebut belum lama kulatih, paling banter aku hanya bisa bertahan selama sepuluh hari saja"

"Itu lebih dari cukup, asal kau bisa bertahan selama tiga hari maka tengah haripada hari ketiga aku akan menggali kuburanmu serta menolong kau keluar dari situ."

"Atas kebaikan nona akan kuingat selalu, untuk itu sebelumnya kuucapkan banyak2 terima kasih, tiga hari kemudian aku pasti akan bangun dengan sendirinya".

"Sekarang aku harus kembali untuk memberi laporan kepada orang yang kehilangan sukma, baiklah kita berjanji seperti yang kau katakan tadi, bila ada orang menghidangkan masakan janganlah sekali2 kau makan sebab dalam makanan itulah telah terkandung obat racun yang mematikan, disamping itu kau harus berpura2 seperti orang yang kehilangan ilmu silat, jangan sampai rahasia ini ketahuan orang kalau tidak... akibatnya sukar untuk dibicarakan"

"Aku akan ingat selalu perintahmu ini, sebelum itu ada satu persoalan ingin kutanyakan kembali"

"Apa yang ingin kau tanyakan??"

"Benarkah orang yang kehilangan sukma adalah gurumu???"

"Tentang soal ini "

Agaknya orang yang ada maksud sedang mempertimbangkan apakah perlu baginya untuk menjawab pertanyaan dari Han Siong Kie tadi atau tidak beberapa saat kemudian ia baru menjawab. "Tentang pertanyaanmu ini, aku bisa memberitahukan kepadamu dia adalah ibuku"

"Ooooh jadi orang yang kehilangan sukma adalah ibumu??" "Sedikitpun tidak salah"

"Sudah terlalu banyak aku berhutang budi dengan kalian ibu dan anak. Aku jadi tak tahu bagaimana budi kebaikan sebanyak itu harus kubalas dikemudian hari.. hanya aku tidak mengerti, mengapa kalian selalu memperhatikan diriku."

"Dikemudian hari kau akan mengetahui dengan sendirinya, sekarang waktu amat mendesak. aku harus segera berlalu dari sini"

Bersamaan dengan selesainya ucapan itu, suasana pulih kembali dalam keheningan, jelas perempuan misterius itu telah berlalu.

Han Siong Kie benar2 merasa terharu, ia tak tahu apa sebabnya orang yang kehilangan sukma serta orang yang ada maksud begitu memperhatikan dirinya, begitu cintanya mereka terhadap dirinya sehingga melebihi cinta kasib seorang ibu terhadap anaknya..

Tidak lama setelah orang yang ada maksud berlalu dari tempat itu, dari dinding ruangan berkumandanglah suara gemerincing yang amat nyaring, pintu penjara yang tebal dan berat perlahan2 bergeser kearah samping, diikuti muncullah sebelas orang memasuki ruangan itu.

Dua obor besar dipasang diatas dinding penjara membuat suasana ditempat itu jadi terang benderang, cahaya api yang berkilauan memancar diatas wajah setiap orang hukuman yang meringkuk disitu. menambah suasana jadi semakin menyeramkan. Tempat itu benar2 tak ubahnya bagaikan neraka didalam dunia.

Dengan pandangan yang tajam Han Siong Kie mengawasi orang2 yang baru saja muncul didepan pintu penjara itu, ia lihat orang pertama adalah pemuda beraja h licin yang bukan lain adalah Kaucu muda dari perkumpulan Thian chee kau, di belakangnya mengikuti dua orang pria bertubuh kekar sedang dibela kang kedua orang itu adalah delapan orang pria baju hitam yang membawa nampan berisi makanan.

Setelah berada didalam ruangan penjara, kedelapan orang pria baju hitam itu segera menyiapkan tiga puluh dua mangkok besar yang berisi sayur dan nasi di atas tanah, bau harum yang amat lezat tersiar keluar dari sayuran tersebut.

Bergidik sekujur badan Han Siong Kie menyaksikan mangkuk-mangkuk berisi nasi dan sayur itu, tanpa sadar bulu kuduknya pada bangun berdiri, pikirnya:

"Aa i. ..waktunya telah tiba, ketiga puluh satu orang itu sebentar lagi akan menyelesaikan kehidupannya yang penuh penderitaan serta siksaan, sungguh kejam perbuatan orang2 dari perkumpulan Thian chee Kau . bila suatu hari aku orang she Han bisa lolos dari sini dalam keadaan hidup, aku bermaksud akan membasmi habis semua manusia laknat itu"

Dalam pada itu, dengan sorot mata yang tajam Kaucu muda itu menyapu sekejap seluruh ruangan penjara itu. dan akhirnya berhenti di atas wajah Han Siong Kie, cahaya buas dan bengis terpancar keluar dari balik matanya

Terkejut sianak muda itu melihat perbuatan orang, ia tahu bahwa kaucu muda itu bermaksud jelek terhadap dirinya.

"Apa yang hendak ia lakukan?" pikirnya didalam hati, apakah dia hendak membalas dendam atas kekalahan serta penghinaan yang dialaminya??" Belum habis ia berpikir, kaucu muda itu sudah berjalan mendekati ke arahnya.

Tampak kaucu muda itu tertawa seram dengan kakinya ia sepak tubuh Han Siong Kie keras2 lalu ejeknya:

"Bajingan cilik, kau tak pernah menyangka bukan kalau kau akan mengalami nasib sejelek ini?? sekarang aku hendak menggunakan cara yang sama seperti perbuataamu itu untuk menghajar kau hingga muntah darah segar" sambil berkata telapaknya laksana kilat segera didorong kedepan.

Han Siong Kie naik pitam mendengar ejekan itu, darah panas segera bergelora didalam dadanya, ia siap mengerahkan tenaganya untuk menghantam tubuh orang itu tapi...dengan cepat ia teringat kembali akan pesan yang disampaikan orang yang ada maksud kepadanya:

" . . . kau harus pura2 berlagak seperti seseorang yang kehilangan ilmu silat . . . kalau tidak maka akibatnya sukar dibayangkan mulai sekarang"

Hatinya jadi terkesiap. dengan cepat la mengendalikan kembali napsu marahnya dan melengos kesamping.

"Bangsat cilik, pendekar berwajah dingin ayohlah"

terdengar Kaucu muda itu mengejek.

Han Siong Kie benar2 merasa amat mendongkol, ingin sekali ia memberi sebuah pelajaran yang hebat kepadanya. tapi ia teringat kembali akan bahaya yang sedang mengancam dirinya, dia ingin melanjutkan hidup sebab banyak persoalan yang harus ia selesaikan.

Pemuda itu berusaha keras untuk menahan gusarnya, ia tidak ingin hanya disebabkan urusan kecil membuat urusan yang lebih besar jadi terbengkalai, sambil menahan rasa dongkol dan gusar yang tak terkirakan per-lahan2 ia berpaling.

"Ploook ploook baru saja sianak muda itu menoleh, dua gaplokan yang amat nyaring telah bersarang diatas pipinya membuat ia jadi pusing dan pandangan matanya jadi berkunang2.

"Bangsat" teriaknya dengan penuh kebencian, ""suatu hari aku pasti akan membinasakan dirimu" “Ploook” kembali sebuah tamparan yang lebih keras bersarang diatas wajahnya.

Han Siong Kie tak berani mengerahkan tenaga dalamnya untuk menahan rasa sakit yang menyerang tubuhnya itu, dia takut rahasianya ketahuan lawan, hal ini membuat tamparan tersebut hampir saja ia membuat jatuh tak sadarkan diri, darah segar segera muncrat keluar dari bibirnya, membasahi seluruh pakaian yang dia kenakan. Dengan bangga kaucu muda itu tertawa ter-bahak2. "Haah...haah haah.. bangsat, kau berani ulangi kembali perkataanmu itu?"

Dengan penuh kebencian Han Siong Kie melotot sekejap kearahnya, namun ia tetap membungkam dalam seribu bahasa. Ia merasa penderitaan serta siksaan yang dialaminya saat ini jauh lebih hebat daripada menghadapi kematian.

"Manusia berwajah dingin. " seru kaucu muda itu dengan suara penuh penghinaan, "Bila aku hendak bunuh dirimu maka hal itu akan kulakukan dengan gampang sekali. Hmm. .

Hmm.. kau bilang mau bunuh aku?? haahh haahh haahh... sayang sekali untuk selamanya kau tak akan mendapatkan kesempatan itu."

Tentu saja Han Siong Kie dapat memahami apa yang dimaksudkan oleh kaucu muda itu sebab algojo sebentar jagi akan melaksanakan hukuman mati terhadap dirinya.

sementara itu dua orang pria kekar tadi telah mengulapkan tangannya, delapan orang pria baju hitam itu segera membagi-bagikan mangkuk berisi sayur dan nasi itu kedepan setiap orang hukuman.

Dengan sorot mata memancarkan kerakusan dan kelaparan orang2 hukuman itu memandang kearah mangkuk yang berada di hadapannya, kemudian bagaikan harimau kelaparan mereka sambut mangkuk2 tadi dan menyikat isinya dengan lahap. Menyaksikan kesemuanya itu, Han Siong Kie hanya bisa menghela napas didalam hati. Perlahan2 diapun mengambil pula mangkuk yang berada dihadapannya.

Detik demi detik berlalu dalam keheningan serta kesunyian yang mencekam. Mendadak terdengar jeritan ngeri berkumandang bersahutan, semua orang hukuman yang berada didalam penjara itu mengerang kesakitan lalu ber guling2 diatas tanah sambil merintih, hanya sedetik saja mereka sekarat untuk kemudian menggeletak tak berkutik lagi.

Han Siong Kiepun dengan gerakan yang cepat membuang isi mangkuknya kearah belakang, kemudian jatuhkan mangkuknya ke atas tanah dan menggeletak kaku pura2 mati.

Melihat semua orang hukuman telah mati dengan seksama Kaucu muda itu melakukan pemeriksaan yang sama, setelah itu dia baru mengundurkan diri dari situ.

Delapan orang pria berbaju hitam segera menggotong keluar empat buah usungan besar dari sudut penjara, berarti empat usungan dengan tiga puluh dua sosok mayat.

Dibawah petunjuk dua orang pria kekar itu, berangkatlah delapan orang dengan empat usungan itu keluar dari pintu penjara.

Sepanjang perjalanan mereka lewati beberapa lorong batu yang sempit dan ber liku2, tidak lama kemudian muncullah orang2 itu dari atas permukaan tanah dan tiba disebuah ruangan besar.

Terdengar salah seorang diantara dua pria kekar itu berseru dengan suara lantang.

"Dipersilahkan tuan pengurus untuk memeriksa mayat2 ini" seorang baju kuning muncul dari balik pintu ruangan, ia

dekati mayat mayat diatas usungan itu dan secepat kilat menotok jalan darah Mia-bun-hiat ditubuh mayat2 tersebut, setelah itu baru katanya:

"Sekarang gotong mayat2 ini keluar dari sini dan kubur diwilayah kita"

"Terima perintah "jawab pria kekar tadi maka berangkatlah beberapa orang itu keluar dari ruangan tersebut,

Diluar wilayah Lian huan tan terdapat sebuah hutan yang lebat, pada waktu itu disitu telah siap sebuah liang kubur yang amat besar.

Ketika rombongan orang2 itu tiba disitu mereka segera bekerja keras melempar mayat-mayat tadi kedalam liang kubur itu, kemudian menutup kembali liang tadi dan berlalu dari sana.

sementara orang2 itu bekerja nun diluar hutan diatas sebuah bukit kecil duduklah sesosok bayangan tubuh yang kecil dan ramping.

siapa dia???? orang itu bukan lain adalah Tonghong Hwie si pengemis cilik yang secara nyaris berhasil lolos dari kematian.

Sudah hampir dua jam lamanya ia duduk terpekur seorang diri di tempat itu, sepasang matanya telah berobah jadi merah membengkak. dengan pandangan sayu ia memandang keangkasa tanpa berkedip. benaknya terasa kosong bagaikan selembar kertas putih, ia merasa se-olah2 alam semesta yang berada disekelilingnya sudah tiada artinya lagi bagi dirinya.

Sang surya telah jauh tinggi diangkasa, bagaikan sedang menggigau ia bergumam tiada hentinya:

"Oooh hari telah siang, habis sudah riwayat engkoh Kie, aaah dia pasti sudah mati." Ia bangkit berdiri dan berteriak se- keras2nya. "Ooooh engkoh Kie, kau berada dimana, engkoh kie sayang engkau berada dimana, mengapa kau tega meninggalkan diriku."

"Apakah kau sedang mencari engkoh Kiemu" tiba2 serentetan suara yang nyaring berkumandang disisinya

"Dia sekarang berada di. . ."

Tonghong Hwie merasa amat terkejut, ia merasa suara itu seperti pernah dikenal olehnya, matanya celingukan memandang ke sana kemari namun tak terlihat sesosok bayangap manusiapun disitu, yang terlihat hanya rumput yang gersang serta batu yang berserakan.

"Siapa kau??" segera bentaknya.

"Bukankah kita pernah bercakap2 belum lama berselang??" "Aaaah kau..kau adalah orang yang kehilangan sukma??" "sedikitpun tidak salah"

Tonghong Hwie makin terkesiap. mendadak ia teringat kembali akan perkataan dari orang yang kehilangan sukma belum lama berselang, orang itu pernah memperingatkan dirinya.

"Nona, putuskanlah tali cintamu itu dengan otak yang jernih, selamanya orang yang terlalu romantis akan berakhir dengan tragis bagi sendiri bila kau tak mau dengarkan peringatanku ini, maka dikemudian hari kau bakal musnah ditelan oleh samudra cinta yang tiada tara dalamnya itu. "

"Benarkah ia bisa meramalkan hal2 yang akan datang? benarkah ia bisa mengetahui lebih dahulu kenyataan yang bakal dia alami dikemudian hari??.."

"Orang yang kehilangam sukma" ia segera menanyai. "Aku teringat bahwa diriku tertawan oleh Ong Cui Ing dari perkumpulan Thian chee kau, eng kaukah yang menyelamatkan diriku??". "Tidak salah" sahut orang yang kehilangan sukma dengan suara perlahan.

"Kalau begitu aku orang she Tonghong mengucapkan banyak terima kasih terlebih dahulu"

"Nona tak usah berterima kasih kepadaku"

"Bolehkah aku ajukan sebuah pertanyaan kepadamu?" "Katakanlah, asal persoalan yang kau tanyakan itu aku

ketahui pasti akan kukatatan kepadamu"

"Kakak angkatku si Manusla berwajah dingin sekarang berada dimana.. apakah kau bisa memberi petunjuk kepadaku? "

"Oooh... dia??.. dia.."

Sebuah bayangan yang tidak baik terlintas dalam benak Tonghong Hwie, sekujur badannya tiba2 berubah jadi dingin danpeluh membasahi seluruh tubuhnya, buru2 serunya kembali:

"Apakah kau tahu dia.. dia berada dimana" "Tahu sih tahu dia berada dimana pada saat ini " "sekarang dia berada dimana?"

"Dia... dia sudah mati. "

"Apa??" Tonghong Hwie menjerit keras, tubuhnya mundur kebelakang dengan sempoyongan, "engkoh Kie sudah mati?"

"Benar nona Tonghong janganlah terlalu emosi dan mengumbar kesedihan dia memang telah mati"

Tonghong Hwie jadi limbung, dia rasakan tubuhnya seakan2 terjerumus didalam sebuah samudra yang tak ada tara dalamnya, pandangan matanya jadi ber-kunang2 dengan sempoyongan tubuhnya mundur beberapa langkah kebelakang, lalu jatuh tertunduk diatas tanah, sukmanya se- olah2 terbang meninggalkan raganya.

Dia tak pernah menduga bahwa kekasih hatinya, orang yang paling disayang olehnya ternyata telah mati tinggalkan dunia yang fana ini.

"Tidak" ia mengigau seorang diri "Dia belum mati.. engkoh Kie belum mati, dia tak mungkin akan mati"

"Aaah.. tapi sayang, dia benar2 telah mati" sahut orang yang kehilangan sukma sambil menghela napas panjang.

"Apakah kau manyaksikan semua peristiwa itu dengan mata kepala sendiri??"

"Benar "

"Kenapa kau tidak berusaha untuk menyelamatkan jiwanya??"

"Aku sama sekali tak berdaya untuk menolong dirinya" Kembali sekujur badan Tonghong Hwie gemetar keras,

wajahnya berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, hatinya hancur lebur dan air mata bagaikan hujan gerimis mengucur keluar membasahi seluruh wajahnya.

Ia merasa sudah tiada berarti lagi hidup seorang diri dikolong langit, ia kecewa dan tak ingin hidup lebih jauh .

Tak tahan menangislah pengemis cilik itu tersedu2, suara tangisannya begitu memilukan hati membuat siapapun yang mendengar jadi beriba hati.

Melihat keadaan dari gadis itu, si orang yang ada maksud segera menghela napas panjang dan berkata:

"Nona Tonghong, manusia yang telah mati tak akan hidup kembali, kau harus baik2 menjaga kesehatanmu sendiri"

Perlahan2 Tonghong Hwie angkat kepalanya memandang ke angkasa, lalu berbisik dengan suara yang serak. "Dia telah mati.. berarti api kehidupan dalam tubuhku telah ikut padam, aku tidak ingin hidup lebih jauh lagi.. hidupku sudah tak berarti lagi.."

"Nona Tonghong, pandangan mu itu keliru besar" "Aku.. aku keliru besar?? "

"Betul" orang yang kehilangan sukma mengangguk tanda membenarkan, "kau harus menerima kenyataan yang berada didepan matamu, itulah takdir yang telah diatur Thian terhadap manusia, kau tak bisa menolak ataupun meminta takdir yang ditentukan itu dan siapapun tak bisa mencegah takdir.. sadarlah kenyataan tersebut, dan baik2lah menjaga kesehatan badanmu sendiri"

Tonghong Hwie termenung beberapa saat lamanya, kemudian dia mengangguk.

"Baiklah, aku akan menerima kenyataan yang berada didepan mata, sekalipun semasa hidup aku tak dapat hidup berdampingan dengan dirinya, setelah mati aku ingin selalu berada ber-sama2 dirinya "

"Nona Tonghong, kembali pandanganmu keliru besar " "Kembali pandanganku keliru??? " Tonghong Hwie berdiri

dengan pandangan melongo.

"Benar kau hendak menggunakan kematianmu untuk mendampingi dirinya, hal ini membuktikan betapa mendalamnya rasa cintamu terhadap dirinya, tapi pernahkah kau bayangkan bahwa tindakanmu itu sebenarnya sama sekali tak berarti?? pernahkah kau bayangkan bahwa perbuatanmu itu adalah suatu perbuatan yang salah dan membabi buta??."

"Kenapa ?? ."

"Selama masih hidup Han Siong Kie hanya menganggap dirimu sebagai adik angkatnya, hingga mati dia tetap tidak tahu bahwa kau sebetulnya adalah seorang gadis, semakin tidak tahu bahwa kau telah mencintai dirinya secara diam2, itu berarti bahwa cintamu hanya sepihak saja, bila kau ambil keputusan pendek maka berarti pula sepak terjangmu itu adalah membabi buta"

Tonghong Hwie serasa semakin sedih lagi setelah mendengarkan perkataan itu, ia merasakan hatinya bagaikan diiris2 dengan sebilah pisau yang tajam, apa yang diucapkan orang yang ada maksud sedikitpun tidak salah dan kesemuanya itu merupakan kenyataan yang tak terbantah, selama ini engkoh Kie nya memang tidak tau bahwa dia adalah seorang gadis yang menyaru sebagai pria, diapun tak tau bahwa dirinya amat cinta serta menyayangi dirinya.

Sekarang dia merasa menyesal kenapa tidak jelaskan rahasia itu sejak permulaan?? kenapa ia tidak menyatakan rasa cintanya semasa pemuda itu masih hidup? dan kini semuanya telah terlambat

Sementara itu ketika orang yang ada maksud melihat Tonghong Hwie bungkam terus tidak berbicara lagi, segera buka suara dan menegur:

"Nona Tonghong, menurut pendapatmu betulkah apa yang telah kuucapkan barusan??"

"Benar sekali" jawab Tonghong Hwie sambil mengangguk lirih, "tapi apa yang telah kuputuskan tak akan kurubah lagi, aku sudah bertekad untuk melaksanakan niatku ini, siapapun tak akan berhasil menghalang-halangi niatku ini"

"Tadi kau sudah berniat untuk mengorbankan jiwamu demi cinta ??"

"Benar" gadis itu mengangguk.

"Bila sukma Han Siong Kie mengetahui akan perbuatanmu ini, bisakah ia menyetujui nya??"

"Semua perbuatan yang kulakukan hanya bertujuan mententramkan hatiku sendiri, apa yang kulakukan adalah urusan pribadiku, aku merasa sudah seharusnya kalau berbuat demikian"

"Nona Tonghong Hwie, menurut apa yang kuketahui kau masih mempunyai seorang ayah yang telah tua, dia memandang dirimu bagaikan sebagian dari kehidupannya, bila kau berbuat nekat "

Ucapan ini sangat mengejutkan hati pengemis cilik itu, hingga tak tertahan lagi ia meloncat kaget.

Darimana orang yang kehilangan sukma bisa mengetahui akan asal usulku ?? pikirnya didalam hati apakah dia bukan

manusia tapi malaikat? malaikat yang bisa mengetahui urusan semua orang?? sungguh kejadian ini merupakan Suatu peristiwa yang sama sekali tak terduga.

Gadis ini merasa bahwa selamanya tak ada seorang manusiapun yang mengetahui asal usulnya, belum pernah dia menceritakan asal usulnya kepada siapapun termasuk pula terhadap kakak angkatnya Han Siong Kie, tapi sekarang si orang kehilangan sukma berhasil memecahkan rahasia itu, suatu kejadian yang aneh sekali. "Darimana kau bisa mengetahui akan urusan keluargaku?" akhirnya ia berseru. orang yang kehilangan sukma tertawa ringan.

"Apa yang berhasil aku ketahui mungkin lebih banyak daripada apa yang kau bayangkan sekarang, kini lebih baik kau tak usah menanyakan tentang persoalan itu lagi, sebab sebagaimanapun juga aku tak akan memberi tahukan pada mu. Persoalannya sekarang adalah tegakah kau tinggalkan ayahmu yang telah memelihara kau hingga dewasa?? bila kau mati lalu bagaimana dengan ayahmu??

"Aku adalah seorang anak yang tidak berbakti" ujar Tonghong Hwie dengan hati pedih, "aku tak bisa membataikan niatku itu sebab keyakinanku sudah bulat. " "Baiklah, untuk sementara waktu kita jangan membicarakan persoalan ini, sekarang masih ada satu tugas yang maha penting yang harus kau laksanakan sendiri"

"Urusan apa?? aku orang she Tonghong merasa tiada pekerjaan apapun yang harus kulakukan"

"Tapi pekerjaan yang kumaksudkan ini hanya dapat kau lakukan sendiri, orang lain tak akan berhasil melakukannya."

"Katakanlah pekerjaan apa itu??"

"Membalaskan dendam bagi kematian engkoh Kie mu"

Tonghong Hwie terkesiap. sekujur badannya gemetar keras, perkataan ini segera menyadarkan dirinya dari impian, membuat gadis itu sadar kembali dari sedihnya.

"Aaaah sedikitpun tidak salah" pikirnya didalam hati, aku harus teringat akan persoalan ini, bila dendam sakit hati ini tidak kubalas, engkoh Kie pasti akan mati tidak meram.. aku harus melaksanakan pembalasan dendam lebih dahulu sebelum pergi menyusul dirinya"

"Bagaimana?? betul bukan ucapanku itu?" orang yang kehilangan sukma menegur sambil tersenyum.

"Aku...aku seharusnya persoalan itu kuingat sendiri, sejak semula terima kasih atas peringatanmu, tapi untuk itu dapatkah aku mengajukan tiga pertanyaan kepadamu??"

"Katakanlah, apakah pertanyaanmu itu??"

"Pertama, tempo dulu kau pernah memberi peringatan kepadaku agar segera memutuskan hubungan cintaku dengan dirinya, kalau tidak maka hubungan itu akan berakhir dengan keadaan yang tragis, yang kau maksudkan sebagai kajadian yang tragis apakah peristiwa yang terjadi sekarang ini??"

"Bukan"

"Bukan? Lalu apa yang kau maksudkan.." "Apa yang terjadi saat ini hanya merupakan peristiwa diluar dugaan, yang kumaksudkan sebagai peristiwa yang tragis tempo dulu adalah kejadian lain dan kejadian itu tak bisa dihindari walau dengan cara apapun juga, sekarang ia sudah mati dan peristiwa yang tragis itupun mungkin tak akan terjadi lagi"

"Mungkin? dia toh sudah mati kenapa masih ada kata2 mungkin." seru Tonghong Hwe dengan cepat.

"Oooh aku .. aku telah salah berbicara tapi kejadian yang ada dikolong langit kadang kala memang sukar diduga, siapapun tak berani memastikan segala Suatu persoalan yang terjadi dan berlangsung dikolong langit ini"

"Ucapanmu itu sangat membingungkan hati orang, rupanya kau telah menyimpan sesuatu dibalik ucapanmu itu??"

"Sekarang mungkin benar tapi kemudian hari sama sekali tidak"

jawaban ini kembali merupakan suatu perkataan yang sukar ditangkap artinya,

Tonghong Hwie ingin sekali mengetahui tempat pers embuyiannya pihak lawan tapi terasalah olehnya suara yang terpancar datang itu sebentar kedengaran berasal dari tempat jauh sebentar lagi kedengaran dari dekat, sebentar timur sebentar barat membuat orang sulit untuk menduga, dimanakah sebetulnya orang itu memancarkan suaranya.

Setelah gagal untuk menemukan tempat persembunyiannya orang yang kehilangan sukma, akhirnya Tonghong Hwie berkata kembali:

"Pertanyaanku yang kedua ini apakah pembunuh yang telah membimasakan engkoh Kie ku itu??"

"Tentang persoalan ini tentu saja Kaucu dari perkumpulan Thian chee kau adalah pembunuh utamanya sedang kuku garuda anak buahnya merupakan pembantu pembunuh" "Macam apa sih raut wajah yang sebetul nya dari Thian chee kaucu itu? apakah kau dapat memberi petunjuk padaku?? "

"Tentang pertanyaanmu ini, maafkanlah aku karena tak dapat menjawab pada saat ini aku rasa orang2 didalam dunia persilatanpun belum ada yang tahu siapakah sebenarnya orang itu, lebih baik ajukanlah pertanyaan yang ketiga."

" Ketiga, jenasah engkoh Kie sekarang berada dimana??" "Bila kaujumpai gundukan tanah baru di dalam hutan

belantara sebelah depan sana, itulah kuburannya, ia berserta ketiga puluh satu orang tawanan yang lain telah dibunuh dan di kubur menjadi satu ditempat itu"

Tonghong Hwie mundur kebelakang dengan sempoyongan, tiada air mata yang membasahi pipinya lagi, sebab air matanya telah mengering hanya dengan suara yang lemah ia berseru: "Ditengah hutan sebelah depan sana? "

"Sedikitpun tidak salah"

"Apakah ia mati dalam keadaah yang sangat mengerikan??" "Tidak. justru keadaanya kebalikan dari yang kau duga, ia

mati dalam keadaan yang sangat tenang, ia mati karena

keracunan. sebab untuk mewujudkan pertanda bahwa perkumpulan Thian chee- kau masih mengerti akan perikemanusiaan, selamanya orang yang dijatuhi hukuman mati dalam perkumpulan itu selalu menjalankan hukumannya tanpa mengucurkan darah dan tanpa mengurangi satu2 anggota badannya"

"Aku ingin pergi kesitu dan memandang wajahnya lagi" "Aku rasa tidak perlu, toh engkoh Kie mu itu sudah

menutup mata untuk selama-lamanya " "Tidak aku tetap ingin memandang wajahnya untuk terakhir kalinya, sebab inilah kesempatan terakhir bagiku untuk bertemu dengan dirinya"

"Nona Tonghong, kau harus lebih menitik beratkan pada soal pembalasan dendam, janganlah mati konyol karena persoalan yang sama sekali tak ada gunanya itu"

"Tentang soal ini aku mengerti"

"Akupun hendak menasehati dirimu bahwa dengan ilmu silat yang kau miliki sekarang masih belum mampu untuk menghadapi lawan2 mu itu, jangan dikata hendak membalas dendam, untuk menandingi seorang jago baju kuning pihak merekapun kau masih belum mampu, maka dari itu aku menganjurkan kepadamu lebih baik pulanglah dulu kerumah dan berlatihlah ilmu silatmu dengan lebih giat dan rajin"

"Pulang kerumah?? aku bisa mempertimbangkan anjuranmu itu secara baik2"

"Baiklah, kalau kau bisa berpandangan lebih luas, sekarang boleh pergi dari sini sebab akupun hendak pergi"

"Cianpwee, budi kebaikan yang telah kau limpahkan kepada diriku mungkin tak bisa kubalas dalam kehidupan saat ini, biarlah kesemuanya itu kubalas dalam penirisan yang akan datang" seru Tonghong Hwie keras-keras.

Tetapi tiada jawaban yang kedengarah lagi, suasana disekitar situ sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, rupanya orang yang kehilangan sukma telah berlalu dari tempat itu.

Melihat orang misterius itu sudah berlalu, Tonghong Hwie menghela napas panjang, dengan membawa hati yang hancur perlahan2 ia bangkit berdiri dan berjalan menuruni bukit tersebut.

Tidak lama setelah Tonghong Hwie berlalu, dari balik sebuah batu cadas kurang lebih lima tombakjauhnya meloncat keluar sesosok bayangan manusia, orang itu menghela napas panjang dan bergumam seorang diri:

"Aaaai.. benarkah tindakanku ini Tidak sekalipun perbuatanmu ini untuk sementara waktu akan menyakiti dan menghancurkan perasaan hatinya, tapi keadaan toh jauh lebih baik daripada dikemudian hari terjadi peristiwa yang lebih tragis lagi"

Bagaikan sukma gentayangan orang itu gelengkan kepala lalu berkelebat pula tinggalkan tempat itu.

-000d0w000-

BAB 18

DALAM pada itu Tonghong Hwie yang memasuki hutan segera menemukan sebuah gundukan tanah baru dihadapannya, kuburan itu luasnya mencapai tiga tombak dan jelas baru saja didirikan disitu.

"Aaah.. jenasah engkoh Kie dikubur ditempat ini jeritan didalam hati, ia rasakan pandangan matanya jadi gelap dan tak ampun lagi tubuhnya jatuh terjungkal diatas gundukan tanah baru itu.

Lama.. lama sekali... ia baru sadar kembali dari pingsan, segera ia segera menjerit .

"Engkoh Kie, perpisahan hanya beberapa hari, sungguh tak nyana akan berubah menjadi suatu perpisahan untuk selama2nya.. ooh, begitu tega kau tinggalkan aku seorang diri. engkoh Kie kenapa kau tidak menunggu diriku???."

Angin berhembus lewat menerbitkan suara gemerisik diantara semak belukar, isak tangis yang memedihkan hati itu berkumandang diangkasa dan tersiar hingga ketempat kejauhan. Begitu sedih dan pedihnya hati gadis itu hingga membuat Tonghong Hwie terkapar di atas gundukan tanah baru itu dengan badan yang lemah tak bertenaga, tubuhnya terasa bagaikan lumpuh dan tak bisa bergerak lagi.

Hatinya hancur dan sakit seperti di iris2 dengan pisau, ia tidak menangis lagi, hanya teriak dan jeritnya dengan suara yang mengenaskan.

"Engkoh Kie, oooh.. engkoh Kie dengarkah kau akan jeritanku ini?? lihatkah kau bahwa aku berdiri didepan pusaramu? engkoh Kie jawablah jeritan hatiku ini.." suaranya semakin memilukan hati.

"Engkoh Kie, aku hendak memandang wajahmu untuk terakhir kalinya, aku ingim memandang wajahmu agar raut mukamu itu selalu terukir dan terbayang dalam benakku, aku hendak mendirikan kuburan bagimu."

"Oooh tidak kuburan bagi kita berdua, tunggulah aku setelah dendam sakit hatimu berhasil kutuntut balas, aku pasti akan menyusul dirimu"

Dengan sempoyongan dia bangkit berdiri, setelah berdiri tertegun beberapa saat lamanya gadis itu mulai bekerja dan menggali gundukan tanah itu..

Satu depa, dua depa.. ketika ia menggali mencapai kedalam lima depa, tampaklah mayat manusia berserakan dimana2, tumpuk menumpuk menjadi satu.

Ia membalik- balikkan setiap mayat itu.. mayatnya yang merah dan membengkak hampir saja membuat dia salah memilih jenasah tadi.. tapi akhirnya ia berhasil juga menemukan jenazah yang dicarinya.. sesosok tubuh yang masih utuh dengan wajah yang tenang, hanya tubuh itu sudah tak bernapas lagi.

Ia belai wajah mayat itu dengan penuh kasih sayang, air mata bercucuran membasahti wajahnya yang dingin dan kaku. "Engkoh Kie.. 0ooh engkoh Kie, mengapa kau tidak menjawab pertanyaanku?? engkoh Kie.. ooooh.."

"Engkoh Kie, tahukah kau bahwa secara diam2 tanpa sepengetahuanmu aku telah jatuh cinta kepadamu??, tahukah kau, bahwa dalam hati aku berharap kau sedia menjawab pertanyaanku ini engkoh Kie, mengapa kau selalu membungkam??"

"Tahukah kau engkoh Kie, bahwa aku adalah seorang gadis?? oooh.. engkoh Kie, aku telah jatuh cinta kepadamu sejak pada pandangan yang pertama dahulu.. tahukah kau bahwa aku sangat mencintai kau??"

-000d0w000-