Tengkorak Maut Jilid 04

 
Jilid 04

BERPIKIR akan hal itu dia segera tertawa dingin "Heeeh..heeeh..heeeh... dari mana kau bisa tahu kalau si pemilik Benteng Maut bukanlah musuh besarku??"

"Aku mendapat titipan dari seseorang untuk menyampaikan kabar berita ini kepadamu."

"Kau mendapat titipan dari siapa??" "Dikemudian hari kau bakal mengetahui sendiri"

"Omong kosong aku Han Siong Kle selama masih bisa bernapas dikolong langit tak nanti ada orang yang sanggup untuk menghalangi niatku untuk menuntut balas terhadap Benteng Maut" .

" Kurang ajar jadi kau pingin mati???".

"silahkan turun tangan jangan kau angap aku jeri menghadapi kematian..." teriak si anak muda itu dengan angkuh.

Menyaksikan keteguhan serta kekerasan hati pemuda she Han itu akhirnya Yoe sim Jien menghela napas panjang.

"Aaaai Han siong Kie percayalah perkataanku apa yang kuucapkan adalah yang sebenarnya"

Untuk beberapa saat lamanya Han siong Kie merasakan pikiranannya jadi kalut dan kacau tak menentu ia tak habis mengeti tentang asal usul dari perempuan yang menyebut dirinya "Yoe sim Jien" ini.

Jie susioknya Thio Lien sesaat sebelum bunuh diri juga berpesan padanya agar ia jangan membalas dendam, dua orang yang berbeda mengapa mengucapkan kata2 yang sama?? Mengapa??? .. Mengapa???... , Bukankah diatas dinding ruang tamunya dengan jelas tertera sebuah lukisan tengkorak darah??? bukankah tengkorak darah itu adalah lambang dari pemilik Benteng Maut???

Kesemuanya toh sudah jelas dan kenyataan membuktikan bahwa si pemilik Benteng Maut adalah musuh besarnya, mengapa Yoe sim Jien mengatakan bukan??? Teka-teki suatu teka teki yang amat sulit dipecahkan.

" Han siong Kie" terdengar perempuan itu berkata kembali. "Perkataan tersebut telah kusampaikan padamu, mau percaya atau tidak itu terserah pada dirimu sendiri"

"Nona kalau kau tidak mengutarakan kenyataan yang sesungguhnya, sulit bagi cayhe untuk mempercayai perkataanmu itu" .

"Aku hanya mendapat perintah untuk menyampaikan ucapan ini kepadamu, tentang soal yang lain maafkanlah diriku sebab aku tak dapat menyampaikannya kepadamu"

"Hmmm Yoe sim Jien, apakah kau hendak mencabut selembar jiwa cayhe??...".

"Aku rasa tiada perlunya kucabut selembar jiwamu" " Kalau memang begitu mengapa kau tidak lepaskan

ancamanmu dan mari kita berbicara dengan saling berhadapan muka??"

"Aku masih ada pertanyaan yang hendak diajukan kepadamu"

" Kalau begitu cepatlah diutarakan keluar " "Benarkah kau amat membenci kaum wanita???".

Tanpa sadar untuk kesekian kalinya Han siong Kle merasakan hatinya bergetar keras, kejadian ini benar2 aneh dan tak masuk di akal, darimana ia bisa tahu dengan begitu jelas akan sifat2nya??? sianak muda itu masih teringat bahwa perkataan semacam itu hanya pernah diucapkan satu kali terhidap diri adik angkatnya Tonghong Hwie, darimana diapun bisa tahu akan hal ini???

"sedikitpun tidak salah" tanpa sadar ia menyahut dengan tegas. "Mengapa ??".

"setiap orang mempunyai tabiat dan kesukaan yang ber- beda2, buat apa kau tanyakan kepadaku mengapa aku membenci kaum wanita yang ada di kolong langit".

"Tetapi tabiatmu ini boleh dibilang tidak masuk diakal, kecuali kalau kau pernah mengalami suatu kejadian yang amat menyakitkan hati karena perempuan atau mungkin karena hati sanubarimu tergores luka oleh seorang wanita. Tetapi... walau begitu tidaklah pantas kalau kau membenci semua perempuan yang ada dikolong laagit".

"Cayhe tidak ingin membicarakan tentang persoalan ini". "Tetapi nonamu merasa suka sekali membicarakan tentang

masalah ini??..".

"Kalau begitu bicarakanlah seorang diri".

"Jangan lupa bahwa selembar jiwamu saat ini masih berada di dalam kekuasaanku".

"Cayhe tidak suka digertak apalagi dengan di ancam oleh seseorang untuk melakukan sesuatu".

"Ini kenyataan bukan gertak sambal belaka, jangan lupa nama nonamu adalah " Yoe sim Jien" seseorang yang mempunyai maksud tertentu, atau dengan perkataan lain kehadiranku kemari adalah disebabkan ada maksud2 tertentu, aku rasa kau pasti mengerti bukan arti dari perkataanku" .

Han siong Kiejadi gusar dan gemas sehabis mendengar perkataan itu, deagan sikap jumawa dan congkak serunya: " Kalau memang begitu, utarakanlah maksud tujuanmu datang kemari". Dengan bangga Yoe sim Jien tertawa ringan.

"Pertama, aku mendapat titipan dari seseorang untuk menyampaikan kabar kepadamu bahwa kau dilarang mencari balas terhadap si Tengkorak Maut, ke "..

"sudah kukatakan kepadamu tak mungkin aku penuhi keinginanmu itu kecuali " bicara sampai disini mendadak

sianak muda itu membungkam. " Kecuali kenapa??"

" Ceritakan keadaan yang sebenarnya telah terjadi dan tunjukanlah siapakah pembunuh yang sebenarnya"

"Dewasa ini tak mungkin hal itu kukatakan padamu tetapi dikemudian hari kau akan menjadi paham sendiri"

"Kalau memang begitu lebih baik kau jangan banyak bicara lagi dengan diriku"

"suka mendengarkan atau tidak itu urusanmu sendiri tetapi aku tidak memperi-ngatkan dirimu gerak gerik yang gegabah dan ngawur kadang kala bisa membuat dirimu merasa menyesal"

"Haaaah...haaah...haah tindakan gegabah dan ngawur???

aku orang she Han selamanya tak akan merasa menyesal"

"Baik kalau begitu dengarkan persoalan yang kedua selama kau melakukan perjalanan didalam dunia persilatan janganlah sekali2 kau membicarakan tentang asal usulmu kepada orang lain"

Han siong Kie berdiri tertegun, jantungnya berdebar keras dan matanya terbelalak lebar. Perkataan tersebut pernah diucapkan pula oleh susioknya si telapak naga beracun Thio Llen terhadap dirinya, sayang pada waktu itu ia tak sempat menanyakan alasannya, dan sekarang " Yoe sim Jien" mengulangi kembali perkataan itu, ia jadi bimbang dan ragu. Bagaimanapun juga otaknya diputar namun selalu tak berhasil menemukan jawaban yang tepat,

Hingga akhirnya tak tahan lagi ia berteriak keras: "Katakanlah kepadaku, siapakah sebenar-nya kau???" "Yoe sim Jien, simanusia yang ada maksud".

"Bukan" teriak sianak muda itu.

"Eeei... aneh benar kau ini, dengan andalkan apa kau bisa mengatakan bahwa aku tidak bernama itu??"

Han siong Kie terbungkam dalam seribu bahasa, dalam hati ia merasa jengkel dan benci hingga giginya gemerutukan keras.

"Han siong Kie, ingat baik2" kata Yoe sim Jien dengan suara berat. "sekali lagi kuulangi perkataanku, pertama, janganlah mencari balas terhadap diri si Tengkorak maut. Kedua, janganlah kau ceritakan asal-usulmu kepada siapapun juga. Nah sampai jumpa lain waktu".

Han siong Kie merasakan telapak tangan yang menempel diatas batok kepalanya tiba2 menggeser, buru2 ia meloncat bangun dan putar badan, tampaklah sesopok bayangan manusia bewarna putih sedang menyusup kedaLam pepohonan yang lebat. "Hey, Yoe sim Jien. ..tunggu sebentar" segera teriaknya.

Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang lihay cepat2 ia melayang kedepan melakukan pengejaran, tetapi ketika ia tiba ditengah hutan bayangan manusia berbaju putih tadi telah lenyap tak berbekas.

Dengan hati murung dan kesal ia berhenti mengejar, dan mulai memikirkan kembali apa yang barusan dikatakan oleh "Yoe sim Jien". sebenarnya siapakah dia?? dan berasal dari mana??? Ia telah mendapat pesan dari siapa untuk menyampaikan kata2 itu kepada nya??? Mengapa ia bisa begitujelas mengetahui akan asal usulnya??

sianak muda itu tak sanggup untuk memecahkan rahasia ini, atau boleh dibilang tak sedikit keteranganpun yang terdapat dibenaknya, semua kejadian dirasakan berlangsung terlalu aneh hingga mendekati suatu keadaan yang hampir saja tak dapat dipercaya olehnya.

Benarkah Yoe sim Jien menyampaikan kata-kata tersebut padanya karena memperoleh pesan dari orang lain? atau dia memang mempunyai rencana tertentu????

Andaikata dia adalah seorang sahabat maka perkembangan dari persoalan ini cukup membuat orang bingung dan tak habis mengerti, sebaliknya kalau dia adalah seorang musuh.. kedudukannya jadi menakutkan sekali.

Yoe sim Jien manusia yang punya maksud sudah jelas nama ini hanyalah nama samaran yang menunjukan bahwa kedatangannya memang membawa maksud2 tertentu. Aaah bagaimanapun yang akan terjadi dendam sakit hati tersebut harus dituntut balas.

sampai keujung langit kedasar samudrapun ia harus temukan sarung tangan yang sebelah lain dari Hoed Chiu Poo Pit tersebut, kalau tidak maka rencananya untuk membalas dendam sudah pasti akan menemui kegagalan total sebab kepandaian silat yang dimiliki pemilik Benteng Maut jauh lebih tinggi beberapa kali lipat daripada dirinya.

Tetapi... kemanakah ia harus mencari sarung tangan budha yang merupakan benda mustika dunia persilatan yang di idam2kan oleh setiap umat Bu-lim itu????

Dengan ter-manggu2 ia berdiri mematung disitu, lama... lama sekali baru menggerak-kan badannya menembusi hutan belukar dan berjalan tanpa arah tujuan. Langit perlahan2 menjadi gelap malam yang sunyi telah menyelimuti jagad.

Kegelapan mulai mencengkam hutan belukar itu hingga sukar untuk melihat ke lima jari sendiri, pekikan burung hantu menambah seramnya suasana ditengah malam buta.

Dengan mengandalkan kesempurnaan tenaga dalamnya Han siong Kie meneruskan perjalanannya menembusi hutan yang amat lebat itu.

Ucapan dari Yoe simJim tiada hentinya berkecamuk didalam benaknya membuat ia semakin kesal dan pusing.

Habis gelap terbitlah terang, fajar telah menyingsing dan cahaya sang surya mulai mucul diufuk timur.

Akhirnya hutan itu tiba juga sampai diujungnya diluar hutan tampak berdiri sebuah kuil yang telah lapuk dimakan usia.

saat itulah ia mulai merasa lapar dan haus, segera pikirnya didalam hati:

"Coba aku cari sedikit makanan didalam kuil itu, mungkin disana ada kaum padri yang suka menolong...".

siapa tahu ketika ia tiba didepan kuil, terlihatlah pintu rumah berhala itu terkunci rapat, sebuah gembok besi yang sudah karatan tergantung didepan pintu, hal ini membuktikan kalau kuil tersebut sudah lama tidak dihuni orang.

Dengan kecewa ia gelengkan kepalanya, sementara ia putar badan hendak berlalu mendadak...

suara dengusan berat secara lapat2 berkumandang keluar dari balik ruang kuil.. "Aaah, bukankah kuil ini sudah jelas merupakan sebuah kuil kosong yang tak berpenghuni?? kenapa ada orang mendengus berat didalam ruangan tersebut???" pikir sianak muda itu. Dengan cepat ia pasang telinga untuk mendengarkan dengan lebih seksama, tetapi suara tadi telah berhenti.

"Jangan jangan aku sudah salah mendengar??" kembali Han siong Kie berpikir dengan perasaan sangsi "Tapi... tak mungkin salah dengan jelas aku dengar bahwa suara-nya itu berkumandang dari mulut seseorang yang sedang menderita luka parah...

Dibawah desakan rasa ingin tahu yang makin menebal akhirnya diambil keputusan untuk mengintip kedalam, tanpa berpikir panjang lagi si anak muda itu enjotkan badannya melayang masuk kedalam kuil.

Tumbuhan ilalang memenuhi seluruh lantai setinggi manusia, keadaan dari ruangan kuil telah porak poranda membuat siapapun yang berada disitu ikut merasa bergidik dan seram.

suara dengusan berat kembali berkumandang datang memecahkan kesunyian kali ini kesadarannya lebih jelas lagi dan rupanya muncul dari ruangan sebelah timur.

Dengan cepat Han siong Kie enjotkan badannya melayang keruang sebelah timur, baru saja kakinya melangkah masuk ke dalam ruangan tak tertahan lagi ia menjerit kaget.

Tampaklah diatas lantai ruang kuil menggeletak sesosok tubuh manusia yang penuh berlepotan darah, ketika ia memandang lebih seksama lagi siapakah orang yang terluka itu air mukanya segera berubah hebat.

si pengemis tua berambut putih yang menggeletak dalam keadaan terluka parah itu bukanlah si pengemis dari selatan yang belum lama berselang berpisah dengan dirinya??

Kenapa ia terluka didalam kuil yang bobrok ini?? siapakah yang berhasil melukai seorang tokoh silat yang sangat lihay didalam dunia persilatan ini??? Buru2 Han siong Kie memburu maju kedepan, serunya dengan nada gelisah: " Engkoh tua kenapa kau???". Tiada jawaban yang muncul.

Cepat ia memeriksa napas si pengemis tua itu, terasa denyutan nadinya sudah amat lemah dan jaraknya menuju kematian sudah tak jauh lagi, hatinya jadi amat gelisah sekali. "Aku harus sebera menyelamatkan jiwa engkoh tua dengan hawa murni yang ku-miliki."

Belum habis ingatan tarsebut berkelebat lewat didalam benaknya, terdengarlah dari luar ruangan berkumandang datang suara bentakan dingin: "siapa disitu??".

Dengan cepat Han siong Kie putar badan, tampaklah tiga orang pengemis berusia pertengahan dengan berdiri berjejer didepan pintu sedang mengawasi dirinya dengan pandangan seram. Tanpa terasa ia berdiri tertegun, pikirnya:

"Mungkin kettga orang ini adalah anak murid perkumpulan Kay pang yang bertugas menjaga serta melindungi keselamatan engkoh tua"

Karena berpikir begitu ia lantas maju beberapa langkah kedepan sembari menjura. "Maaf, caybe telah mengganggu kalian bertiga..".

"Bocah keparat terdengar seorang pengemis yang berambut awut2an dan berusia paling tua diantara ketiga orang itu menegur dengan suara seram. " Mau apa kau datang kedalam ruangan ini???".

Air muka Han Siong Kie berubah hebat setelah mendengar teguran yang ketus dan sama sekali tidak bersahabat ini, tetapi teringat akan hubungannya yang akrab dengan sipengemis dari selatan, ia menahan rasa dongkol dalam hatinya dan menjawab:

" Cayhe hanya secara kebetulan saja lewat disini berhubung aku dengar engkoh tua". "Apa?? engkoh tua??? bocah keparat kau panggil anjing tua ini sebagai engkoh tua?"

Dari ucapan ini Han siong Kie segera merasakan keadaan yang kurang beres, harus di ketahui peraturan didalam perkumpulan Kay-pang amat ketat, lagipula kedudukan sipengemis dari selatan didalam Kay pang amat tinggi dan terhormat, tetapi ketiga orang pengemis itu telah memaki saudara tuanya sebagai anjing tua, jelas dibalik kejadian ini masih ada rahasia besar lainnya. Dengan wajah dingin membeku ia sebera menegur.

"Apakah kalian bertiga adalah anak murid dari perkumpulan Kay pang?? ".

"Kalau benar mau apa???" jawab ketiga orang pengemis itu dengan wajah berubah.

"Tahukah kalian apa kedudukan sipengemis dari selatan didalam perkum-pulan??"

" Ketua dari para Tiang loo perkumpulan kay pang". "Kalau sudah tahu begini, mengapa kalian sebut dia

sebagai anjing tua???..".

"ooooh, keparat cilik jadi kedatanganmu disebabkan karena dia?? Bagus, ini hari kau pun jangan harap bisa keluar dari ruangan ini dalam keadaan selamat"

"Ayoh jawab secara bagaimana Tiang loo kalian menderita luka parah???" bentak Han siong Kie.

"Heeeh heeeh heeeeh anjing cilik setelah kau modar sianjing tua itu akan menceritakan semua kejadiannya padamu "

Dengan cepat otak sianak muda itu bekerja, sekarang ia baru sadar bahwa sipengemis dari selatan pasti sudah terluka ditangan ketiga orang pengemis ini. Tentulah dalam keadaan terluka karena terhajar oleh si malaikat berhawa Im Mo sioe Ing engkoh tua nya telah berjumpa dengan ketiga orang pengemis ini.

Dan dikarenakan ketiga orang itu mempunyai suatu rencana tertentu dia gunakanlah kesempatan yang sangat baik ini untuk menghabisi nyawa Tiangloonya.

Membayangkan kesadisan serta kekejaman hati ketiga orang penghianat dari perkumpulan Kay pang itu, diatas wajah Han siong Kie yang tampan seketika terlintas selapis hawa napsu membunuh yang tebal, dengan pandangan menggidikkan hati ia menyapu sekejap wajah ketiga orang itu.

Dipandang semacam itu tanpa sadar ketiga orang pengemis itu sama2 mundur satu langkah ke belakang, terdengarlah salah seorang pengemis yang berhidung mancung bagaikan paruh elang menegur dengan wajah menyeringai seram: "Anjing cilik, sebutkan siapa namamu".

"Huuuh manusia terkutuk semacam kau belum pantas untuk mengetahui nama sauw-ya mu"

"Bangsat aku si orang tua akan hantarkan pulang ke rumah nenek moyangmu..".

sambil berteriak keras ia menyerbu kedalam ruangan, telapak tangannya disertai angin pukulan yang dahsyat segera dihantam keatas tubuh sianak muda itu. "Hmm rupanya kau sudah bosan hidup, "Ditengah dengusan ketus, tahu2 pergelangan tangan pengemis tua berhidung elang itu sudah dicengkeram oleh Han siong Kie hingga sama sekali tak berkutik.

Menyaksikan kelihayan lawannya, kedua orang pengemis yang lain jadi terkesiap. air muka mereka berubah hebat.

Mimpipun mereka tak pernah menyangka kalau seorang pemuda yang demikian mudanya ternyata memiliki kepandaian silat yang maha sakti, dibawah penglihatan sepasang mata mereka tak seorangpun yang tahu rekannya sudah jatuh kecudang ditangan lawan dengan gerakan apa.

setelah berdiri ter-manggu2 beberapa saat lamanya, kedua orang itu segera membentak nyaring, bagaikan harimau kelaparan mereka terjang tubuh sianak muda itu dengan segenap tenaga.

Angin tajam menderu2, bagaikan sayatan pedang mustika dua gulung angin pukulan yang maha dahsyat meluncur kemuka mengancam tubuh pemuda she Han itu.

Han siong Kie amat menguatirkan keselamatan dari engkoh tuanya, dia ingin cepat mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi, tangannya segera diayun kemuka dan segulung angin pukulan laksana gumpalan ombak meluncur kemuka menghantam tubuh musuhnya.

Kedua orang pengemis itu tak sanggup menahan diri, badan mereka terpental kebelakang menumbuk dinding ruangan dan seketika itu juga jatuh tak sadarkan diri

"Ayoh bicara, kenapa kalian berkianat kepada perguruan dan hendak membinasakan guru sendiri"

Pada saat itulah sipengemis dari selatan yang menggeletak diatas tanah mendadak membuka matanya dan berseru dengan segenap kekuatan yang dimilikinya:

"sau.. daa..dara...cilik ..bunuh."

Han siong Kie mendengus pergelengannya, segera digetarkan dan salah seorang pengemis yang berada didalam cengkeramannya itu sebera meluncur kearah pintu ruangan bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya, jeritan ngeri berkumandang memenuhi angkasa batok kepalanya segera hancur berantakan otak dan darah berceceran memenuhi seluruh lantai. .

Dua orang pengemis lainnya yang sementara itu telah mendusin dari pingsannya jadi hilang semangat setelah melihat kejadian itu, baru saja badan mereka hendak bergerak Han siong Kie enjotkan badannya meluncur kemuka tahu2 dia sudah menghadang di hadapan kedua orang itu, tanpa mengucapkan sepatah katapun sepasang telapaknya serentak dibabarkan kemuka dari samping kiri maupun kanan.

Cepat laksana sambaran kilat, belum sampai ingatan kedua berkelebat dalam benak pengemis dari selatan pukulan maut sudah mengancam tiba.

Jeritan ngeri seketika meluncur dari balik mulut mereka tapi baru saja separoh jalan badan mereka sudah mengejang dan roboh binasa diatas tanah.

selesai membereskan ketiga orang pengemis itu Han siong Kie berjalan menghampiri kakak tuanya sipengemis dari selatan lalu tegurnya dengan hati bergejolak: " Engkoh tua, sebetulnya apa yang telah terjadi?? "

Raut wajah pengemis dari selatan berkerut kencang, sepasang matanya melotot keluar bagaikan batu kelereng, jelas ia merasakan golakan batin yang amat berat: Lama sekali baru ia berkata:

"Saudara cilik, kedatanganmu sangat kebetulan sekali, inilah artinya tidak mengijinkan perkumpulan Kay pang kami musnah di tangan orang..."

"Engkoh tua lukamu..."

"sekarang waktu sudah amat mendesak, tiada waktu lagi bagiku untuk menerangkan persoalan ini. Tapi aku tahu bahwa tabiatmu amat cocok dengan diriku maka kuserahkan tugas yang maha berat ini keatas pundak mu".

"Aaai partai Kay pang kami sungguh lagi sial, tiga hari berselang pangcu telah memilih ahli warisnya atas persetujuan para tiang loo, mendengar kabar itu aku segera datang kemari untuk mengikuti jalannya upacara tersebut, siapa tahu aku sudah bertemu dengan murid penghianat sipengemis bintang langit Jien Jit, ketika ia menjumpai aku berada dalam keadaan luka parah maka timbullah niat jahatnya untuk melenyapkan aku dari muka bumi, ia telah merampas tanda pengenal bambu hitam milikku untuk pergi menerima jabatan pangcu baru, maka aku harap kau bisa segera berangkat untuk menghalangi niatnya itu.."

"Aku??..."

"sedikitpun tidak salah, sebelum tengah hari nanti kau harus sudah tiba ditempat tujuan.. "

"Dimana?? tanya Han siong Kle agak sangsi.

"Kuil Boe Hoo pantai Pek see Than, jaraknya dari sini masih ada dua ratus li dan letaknya disebelah timur sungai".

-000dw000-

BAB 8

"KuilBoe Hoo dipantai Pek see Tham? " "Betul tidak salah lagi."

"Bagaimana caraku unfuk mencegahnya?".

"Bilamana perlu lenyapkan pengkhianat itu dari muka bumi, sampaikan pesanku dan suruh mereka menunggu selama tiga hari".

"Bicara tanpa bukti tiada gunanya, apakah anak murid perkumpulan kalian suka mempercayai perkataanku?? " .

"sekarang urusan telah amat mendesak, terserah kepadamu mau mengatasinya dengan cara apa, yang penting kau ketahui adalah si pengemis bintang langit Jien Jit telah menjabat sebagai Tongcu bagian luar dari perkumpulan Thian chee Kauw, bila niat busuknya

berhasil, maka Kay pang akan musnah dari muka bumi". "Yaa... engkoh tua, bagaimana dengan lukamu??" "Aku tak bakal modar, ayoh cepat berangkat tiga hari

kemudian aku pasti sudah sampai di situ"

Dengan perasaan apa boleh buat Han siong Kie mengangguk. ia segera melayang ke luar kuil dan melakukan perjalanan dengan mengikuti jalan raya ditepi sungai.

Ilmu meringankan tubuh cahaya Kilat lintasan memang luar biasa dahsyatnya, pemuda itu meluncur ke muka bagaikan segulung asap ringan tidak sampai satu jam kemudian ia sudah berada ratusan li jauhnya dari kuil tersebut.

Mendadak suara bentakan keras berkumandang dari tempat kejauhan, suara itu nyaring dan gegap gempita.

Suatu ingatan dengan cepat berkelebat dalam benaknya pemuda she Han itu, sinar matanya dengan tajam menyapu sekejap sekeliling tempat itu.

Tampaklah di atas pantai pasir ditepi sungai bayangan manusia saling bergerak tiada hentinya seolah2 terdapat banyak orang sedang melangsungkan pertarungan disitu.

Ia segera mempercepat gerakan tubuhnya meluncur ke muka dalam sekejap mata ia sudah berada disekitar kalangan, kini ia dapat melihat lebih jelas lagi ditepi sungai kurang lebih dua puluh tombak dari sisi jalan raya terlihatlah ditepi sungai orang sedang bertempur jadi satu, bentakan keras teriakan tajam bergema tiada hentinya dari dalam kalangan.

Pemuda itu hendak meneliti lebih jauh apa sebetulnya yang sudah terjadi tapi secara mendadak ia teringat kembali akan pesan penting dari engkoh tuanya maka pemuda inipun lantas berpikir:

"Aaah lebih baik aku tak usah mencampuri urusan orang lain, waktu bagiku sudah terlalu mendesak bila urusan engkoh sampai terlantar waah bisa berabe" Belum jauh ia berlalu mendadak ia menangkap seruan seseorang yang amat dikenal olehnya berkumandang keluar dari balik kalangan pertempuran:

"Hmm sekalipun kalian andaikan jumlah yang banyak untuk mengerubuti diriku, aku sipengemis cilik tak akan mengambil perduli. Hey perempuan bajingan, kau..." Cepat Han siong Kie menghentikan tubuhnya dan berseru: "Aduuuh celaka, bukankah suara itu adalah suara dari adik Hwie??".

Badannya segera putar balik dan meluncur kembali ke tepi sungai, dari atas sebuah batu besar dia sebera melongok kebawah..

sedikitpun tidak salah, tampaklah sipengemis cilik Tonghong Hwie sedang bertempur melawan empat orang kakek tua, pertempuran itu sedang berlangsung dengan seru dan ramainya.

Disisi kalangan pertempuran berdirilah seorang bayangan manusia berbaju merah, dia bukan lain adalah Tongcu dari perkumpulan Thian chee Kauw, si kupu2 warna warni Lie In Hiang adanya, dua orang dayangnya berdiri di belakang perempuan itu

Ditinjau dari keadaan tersebut, tak usah ditanyakan sudah terlihat jelas sekali, mereka semua bukan lain adalah jago2 dari perkumpulan Thian chee Kauw.

Musuh besar saling berjumpa muka, sepasang mata sianak muda itu segera berubah jadi merah berapi-api, ia teringat kembali akan penderitaan serta penghinaan yang diterimanya selama ia dibekuk oleh Lie In Hiang dan dijejalkan dibawah tandunya itu, terutama sekali dua kali tamparan yang dihadiahkan kepadanya.

Rasa dendam dan perasaan ingin membalas dendam dengan cepat muncul dari balik hatinya. "Roboh kau" terdengar suara bentakan keras berkumandang datang dari tengah kalangan.

seorang kakek tua ayunkan jari tangannya menotok jalan darah Hong Hu Hiat di atas tubuh Tonghong Hwie.

"Aduuh celaka "jeritan Han siong Kie di dalam hati, untuk memberi pertolongan jelas sudah tak sempat lagi, nampaknya..

Tak nyana dikolong langit ternyata terdapat juga peristiwa aneh, kejadian yang kemudian berlangsung kiranya jauh diluar dugaan siapapun.

serangan totokan yang sebenarnya dengan telak telah bersarang diatas jalan darah "Hong Hoe Hiat" ditubuh Tonghong Hwie itu ternyata sama sekali tidak memberikan reaksi apapun juga, bahkan dengan menggunakan kesempatan baik itu dia malah memerseni sebuah pukulan dahsyat yang mementalkan badan sikakek tua tadi hingga mencelat keluar dari kalangan.

Kejadian ini benar2 merupakan suatu peristiwa yang sangat aneh, mungkinkah Tonghong Hwie telah berhasil mempelajari ilmu menggeserkan jalan darah sehingga ia tak mampu di totok???

Pada saat tubuh sikakek tua tadi mencelat keluar dari kalangan pertempuran itulah tiga orang pria kekar lain segera terjunkan diri kedalam kalangan. Dengan demikian posisinya jadi enam lawan satu.

Pengemis cilik Tonghong Hwie jadi berkaok kaok dan berteriak teriak keras, tusukan, totokan jari serta hantaman telapak seringkali bersarang diatas tubuhnya namun keadaan pengemis tersebut masih tetap kokoh seperti sedia kala. Han siong Kie yang menyaksikan kejadian itu jadi melongo dibuatnya. Ditengah bentakan gusar tiba2 terdengar jeritan ngeri bergema memecahkan kesu-nyian seorang pria kekar terhajar oleh babatan telapak Tonghong Hwie tepat mengenai dadanya hingga muntah darah dan mundur dengan sempoyongan.

Dua orang pria serta ketiga orang kakek tadi segera membentak nyaring, serangan mereka semakin diperketat hingga angin puyuh menggulung keluar tiada hentinya.

Dibawah desakan serta titiran musuh yang begitu gencarnya sipengemis cilik Tonghong Hwie sudah kewalahan dan kelabakan tidak keruan posisinya semakin terjepit dan terancam oleh bahaya.

sekalipun begitu dengan andalkan kekuatan yang dimiliki, kelima orang itu masih belum mampu merobohkan Tonghong Hwie dalam waktu singkat terutama sekali ilmu gaibnya yang kebal terhadap pukulan serta bacokan membuat beberapa orang jago itu jadi pusing kepala.

"Tahan" ditengah bentakan keras bayangan manusia saling berpisah dan mengundurkan diri ke belakang si kupu2 warna warna Lie In Hiang dengan gayanya yatsg genit segera masuk kalangan.

" Kalian segera berangkat meneruskan perjalanan," perintahnya kepada kawanan jago Thian chee Kauw tersebut, "Pun Tongcu sebentar lagi segera akan menyusul"

"Terima perintah"

Bayangan manusia berkelebat lewat, para jago dari perkumpulan Thian chee Kauw itu segera menggerakkan badannya meninggal-kan tempat itu dalam sekejap mata di tengah kalangan hanya tinggal si kupu2 warna Warni Lie In Hiang beserta kedua orang dayangnya.

Han siong Kie sebagai seorang pemuda yang cerdik segera dapat menangkap kehendak perempuan itu, pikirnya: " Engkoh tua pernah berkata bahwa murid penghianat Kay pang, sipengemis Bintang Langit,jien Jit saat ini menjabat sebagai Tongcu perkumpulan Thian chee Kauw, kalau ditinjau dari tindakan mereka yang tergesa2 jelas para jago dari perkumpulan tersebut sedang merangkap untuk membantu dirinya merebut jabatan sebagai pangcu".

Dalam pada itu si kupu2 warna warni Lie In Hiang telah berseru sambil tertawa cekikikan .

"Hihh..hiiih..hiih.. pengemis cilik, sungguh tak nyana kalau kepandaianmu lumayan jUga"

Tonghong Hwie tertawa mengejek.

"Perempuan busuk. kau tak usah berlagak centil di hadapanku percuma deh...sebab selama hidupnya aku si pengemis cilik paling muak dengan kaum perempuan macam kau"

"cisss sudah hampir modarpun bisa2nya ngoceh dan ngebacot terus tiada hentinya"

"oooh aku sipengemis cilik sih punya usia yang panjang, tak bakal modar ditanganmu"

"Hey pengemis cilik, aku ingin bertanya padamu si bocah lelaki yang tempo hari kau lepaskan, sekarang ada dimana?? kalau kau tak menjawab sejujurnya Hmm hari ini jangan harap bisa berlalu dalam keadaan selamat" Tonghong Hwie tertawa cekikikan.

"Hiiih...hiiih...hiiih kau maksudkan saudara angkatku si Leng Bin Jlen manusia berwajah dingin?"

"Haaaah haaaah haaaah apa?? diapun bernama Leng Bin Jien?? dan kau adalah saudara angkatnya??? Ehmm sikapnya memang amat dingin bagaikan es..." Hampir saja Han slon Kie tertawa geli setelah mendengar perkataan itu tak di-sangka olehnya Tonghong Hwie telah menjulukinya begitu aneh padanya.

sementara itu terdengar Tonghong Hwie telah bertanya: "Apa kau telah jatuh cinta padanya???."

si kupu2 warna warni Lie In Hiang mengerdipkan matanya lalu menjawab hambar:

" Eeeei pengemis cilik, pun tongcu tidak punya waktu yang banyak untuk bergurau dengan dirimu ayoh cepat jawab Leng BinJin sekarang berada dimana??"

"Hiiih hiiiih biiiih aku pengemis cilikpun masih ada urusan lain, kalau begitu kita ber-cakap2 lagi dilain waktu saja" Habis berbicara ia putar badan dan hendak berlalu...

"Pengemis cilik, kalau kau tidak menjawab maka meskipun kau punya sayap hari ini jangan harap bisa lolos dari sini dalam keadaan selamat "

"Aaaah masa iya??? belum tentu"

" Kau tidak percaya boleh coba kelihayanku," Pengemis cilik itu segera enjotkan badannya meluncur kedepan, gerakannya cepat dan enteng...

Ia cepat, sayang si kupu2 warna warni Lie In Hiang jauh lebih cepat darinya, tampak bayangan merah berkelebat lewat, tahu2 perempuan itu telah menghadang jalan perginya, sebelum badan berdiri tegak sepasang telapak telah meluncur kedepan, secara beruntun melancarkan delapan buah serangan berantai.

Kedelapan buah serangan itu dilancarkan dalam waktu singkat, arah yang ditujupun tak menentu dan semuanya berada diluar dugaan.

Dititir oleh serangan yang begitu gencar, pengemis cilik itu jadi terdesak dan segera mundur kembali ketempat semula. "Hey pengemis cilik" tegur Lie In Hiang dengan wajah adem. " Pun Tongcu tidak punya waktu untuk mengajak kau bergurau lagi, ayoh bilang sebetulnya kau ingin bicara atau tidak??? "^

"Sekalipun kukatakan juga tiada guna-^nya". "Kenapa??".

"Sebab saudara angkatku itu bukan saja berwajah dingin bahkan hati dan perasaannya pun sangat dingin melebihi es."

"Sudah, kau tak usah ngebacot terus ayoh jawab, sebetulnya kau mau bicara atau tidak???".

"Kalau aku pilih tak mau bicara, kau mau apa??? "Kubunuh dirimu".

"Hiiih.. Hiiih.. Hiiih.. masa kau mampu untuk membunuh diriku?? ngimpi aah..".

"Bangsat rupanya kau cari mati..." hardik si kupu-kupu warna warni Lie In Hiang dengan gusar.

Badannya menerjang kedepan, sepasang telapak laksana kilat meluncur ke depan mengirimkan beberapa pukulan berantai yang dahsyat.

Bayangan telapak segera menggunung, desiran angin tajam menderu2 bagaikan guntur yang membelah bumi, dalam waktu singkat seluruh tubuh pengemis cilik itu sudah terkurung rapat dibawah ancaman telapak lawan.

Dengan gesit dan lincah pengemis cilik itu berkelit ke samping menghindar kebelakang bagaikan seekor ikan lei hi badannya bermuncratan kesana kemari diantara gulungan ombak yang mengganas keadaannya, sangat berbahaya sekali. "Tahan mendadak terdengar bentakan dingin berkumandang datang, begitu adem suara tadi hingga membuat hati orang tercekat.

si kupu-kupu warna warni Lie In Hang merasakan hatinya bergetar keras sambil menarik kembali serangannya ia segera meloncat mundur kebelakang.

si pengemis sendiri dengan hati terkesiap pun segera alihkan sinar matanya ke arah di mana berasalnya suara tadi.

Tampaklah sesosok bayangan manusia turun dari tengah angkasa dengan gerakan yang enteng dan sedikitpun tidak menimbulkan suara . "ooooh engkoh Kie..."

Dengan wajah ber-seri2 dan nada penuh kegirangan pengemis cilik itu berteriak namun diatas wajahnya terlintas pula rasa kaget dan tercengang yang tebal ia tak mengira perpisahannya selama beberapa bulan telah membuat tenaga dalam yang dimiliki saudara angkatnya ini memperoleh kemajuan yang amat pesat.

Begitu mengetahui siapakah yang telah datang wajah Lie In Hiang si kupu2 warna warnipun berubah jadi berseri, lirikan maut dan senyuman merayu segera terpancar dari wajahnya.

Han siong Kie mengangguk sekali kearah pengemis cilik itu kemudian berpaling ke arah Lie In Hian wajahnya penuh diliputi oleh napsu membunuh yang tebal.

Dua orang dayang cilik di belakang majikannya segera tertegun melihat wajah si anak muda itu tanpa sadar mereka telah beralih kesisi tubuh Lie In Hiang.

"oooh, saudaraku sungguh kebetulan sekali kedatanganmu ini" terdengar perempuan she Lie itu berseru genit.

"Lie In Hiang, kau tak usah bertebal muka dan tak tahu malu, siapa yang sudijadi saudaramu??" tukas Han siong Kie dengan wajah yang dingin lagi ketus. "Addduh manusia berwajah dingin masa begitu kasar sikapmu terhadap diriku??? apa kau tidak kasihan padaku ini??"

"Lie In Hiang kau tak usah melantur kesoal yang lain, masih ingatkah kau akan hadiah yang telah kau berikan kepadaku tempo hari??? ini hari adalah saatnya bagiku untuk mengembalikan persenanmu itu berikut rente-rentenya."

Terjelos hati Lie In Hiang mendengar ancaman lawannya, dengan wajah berubah ia segera ulapkan tangannya kepada dua orang dayang yang berada disisinya: "Waktu sudah tidak pagi lagi ringkus bocah itu"

Ucapan ini tanpa sadar telah memperingat-kanpula diri Han siong Kie bahwa sebelum tengah hari nanti dia musti sudah sampai dikuil Boe Hoo dipantai Pek swie Tham untuk menyelesaikan persoalan dari pengemis dari selatan, dengan cepat iapun mengambil keputusan.

Terdengar kedua orang dayang cilik itu mengiakan dan segera menerjang maju ke depan, empat buah telapak serentak mencengkeram tubuh sianak muda she Han itu.

Dari gerakan tubuh yang didemontrasikan oleh Han siong Kie barusan, kendati pengemis cilik itu tahu bahwa kepandaian sianak muda ini sudah memperoleh kemajuan tapi ia tak tahu sampai dimanakah kemajuan yang berhasil diperolehnya, ia kuatir kepandaiannya masih belum sanggup menandingi  kedua orang dayang itu maka sambil geserkan badan ia ayun telapak tangannya siap menyambut datangnya serangan dari kedua orang dayang itu.

"Mundur" bentakan nyaring bergema memekikkan telinga, sambil menerjang maju ke muka Lie In Hiang melancarkan pula sebuah babatan menghantam tubuh pengemis cilik itu...

Hampir pada saat yang bersamaan dua kali jeritan ngeri berkumandang memenuhi angkasa, tampaklah dua sosok bayangan manusia mencelat ke angkasa dan blaaam blaaam segera terbanting tiga tombak dari kalangan, darah segar muntah dari mulut kedua orang itu.

Pengemis cilik itu jadi tertegun dengan cepat ia meloncat mundur kebelakang. si Kupu2 warna warni Lie In Hiang sendiri juga tertegun dan berdiri melongo dibuatnya.

Bagaimana caranya Han siong Kie menghantam tubuh kedua orang dayangnya hingga mencelat ke tengah udara?? ia tak sempat untuk melihatnya.

siapa yang percaya kalau seorang pemuda yang belum mampu apa2 pada tiga bulan berselang, sekarang telah memiliki kepandaian silat yang demikian dahsyatnya??

Ilmu silat yang dimiliki kedua orang dayang itu boleh dibilang cukup menandingi kepandaian silat yang dimiliki jago lihay kelas satu didalam dunia persilatan, tetapi mereka tak sanggup untuk menahan sebuah pukulannya pun.. Apakah tempo dulu ia hanya sengaja menyembunyikan kepandaiannya??

Kupu2 warna Warni Lie In Hiang adalah Tongcu utama dari perkumpulan Thian chee Kau, sebagai seorang jago lihay yang banyak pengalaman serta pengetahuan, setelah tertegun sejenak. la segera pulih kembali dalam ketenangan, dengan sepasang mata yang genit ia melirik beberapa kati wajah si pemuda itu..

Pemuda ganteng dengan ilmu silat yang lihay, hal itu merupakan suatu keserasian yang sulit ditemukan keduanya dikolong langit.

Pikiran dan hati perempuan genit ini mulai terpengaruh oleh ketampanan wajahnya, ia mulai merasakan jantungnya berdebar keras hingga tanpa sadar sepasang pipinya berubah jadi merah padam.

Han song Kie sendiri boleh dibilang sama sekali tidak terpengaruh oleh apa yang sedang dihadapinya saat ini, karena dalam hatinya ia pernah membenci semua perempuan yang ada dikolong langit, terutama sekali terhadap perempuan yang berada dihadapannya, boleh dibilang rasa bencinya berlipat2 ganda.

Pengemis cilik Tonghong Hwie sambil mementangkan sepasang biji matanya yang jeli berdiri mematung ditempat semula, tubuhnya sedikitpun tak berkutik sementara wajah nya tetap tidak berubah, hanya matanya saja berputar tiada hentinya sebentar memandang kesana sebentar lagi memandang kemari.

"Lie In Hiang" terdengar Han siong Kie menegur dengan suara dingin. "Tempo hari kau sudah menempeleng aku sebanyak dua kali, ini hari aku hendak hadiahkan empat buah tempelengan kepadamu".

"oooh begitu?? bagaimana kalau di coba2 dulu?? mampu tidak??" jengek perempuan itu sambil mengerutkan alisnya.

Han siong Kte mendengus dingin, sepasang telapaknya berputar dan menggurat kedepan, dengan suatu gerakan yang cepat tapi aneh ia lancarkan sebuah serangan dahsyat. .

Inilah salah satu jurus dari tiga jurus sakti "Leng Koe sam si " peninggalan dari Leng Koe sangjien.

Dari gerakan tangan musuhnya yang aneh dan cepat si kupu2 warna warni Lie In Hiang segera merasakan keadaan tidak menguntungkan, belum pernah ia jumpai serangan macam ini, karena itu terpaksa badannya berkelit sebisanya kesamping sambil ayunkan tangannya coba menangkis..

"Plak Ploook... dua kali gaplokan nyaring berkumandang diangkasa, dengan sempoyongan si kupu2 warna warni Lle In Hiang mundur beberapa langkah kebelakang, diatas wajahnya nampaklah dua buah bekas telapak yang amat nyata, darah segar mengucur ke luar dari bibirnya. seperti baru mendusin dari impian, sipengemis cilik Tonghong Hwie segera berseru keras:

"Bagus sekali hajar yang lebih keras lagi...".

"Ehmm masih ada dua kali..." seru Han siong Kie dengan nada yang tetap dingin dan ketus.

Begitu ucapan terakhir meluncur keluar dari bibirnya, sang badan telah berkelebat lagi kemuka.

"Ploook.. Ploook.." untuk sekian kalinya terdengar dua kali gaplokan nyaring berkumandang diangkasa diiringi dua kali dengusan kesakitan.

Dengan mulut berlumurkan darah Lie In Hiang si kupu2 warna warni itu mundur ke belakang dengan sempoyongan, wajahnya berubah jadi menyeringai seram bagaikan setan, teriaknya dengan penuh kebencian:

"Manusia berwajah dingin hatimu terlalu keji, suatu hari aku pasti akan menyuruh kau rasakan pembalasan sepuluh kali lipat lebih dahsyat dari apa yang kau lakukan terhadap diriku saat ini".

"Hmm kau tidak akan memperoleh kesempatan untuk melakukan pembalasan.."jengek Han siong Kie sambil menggertak giginya.

Telapak tangan segera berkelebat dan menghantam keatas ubun2 perempuan itu.

seketika itu juga Lie In Hiang merasakan sukmanya bagaikan melayang tinggalkan raganya teriaknya dengan suara seram:

"Manusia berwajah dingin, sekalipun berubah jadi setan aku tak akan mengampuni dirimu sekarang turun tanganlah"

Dengan cepat Han siong Kie putar otak nya dan berpikir didalam hati. Ketika aku terhantam masuk kedalam sungai oleh pemilik Benteng Maut Go siauw Bielah yang telah menolong jiwa ku, sedang ayah gadis itu pangcu dari perkumpulan pat Gie Pang Go YoeToo beserta rekan2nya Kanglam Jit Koay telah mati binasa semua ditangan perempuan yang berhati kejam bagaikan kala itu. aku telah berjanji menyerahkan perempuan ini kepada Go siauw Bie sebagai balas budi kepadanya, bila kubunuh dirinya sekarang juga maka bagaimana dengan hutang budiku dengan perempuan tersebut?? ...aaah. baiknya untuk sementara waktu kulepaskan dulu dirinya, tak urung hari ini aku sedang repot dan tak mungkin menghantarnya kepada gadis itu.

Karena berpikir demikian diapun urungkan niatnya untuk mencabut jiwa Lie In Hiang sementara itu, ketika di- nanti2kannya namun telapak Han siong Kie tak kunjung tiba, si kupu2 warna warni segera salah mengira pemuda itu sudah tertarik oleh kencatikan wajahnya dan tak tega untuk turun tangan. Maka sambil mementangkan matanya lebar2 ia berseru: "Eeei.. manusia berwajah dingin, ayoh turun tangan".

"Hei hari aku tak akan membinasakan dirimu " seru Han siong Kie sambil menarik kembali telapaknya. "Tapi kalau aku sampai berjumpa lagi dengan dirimu dikemudian hari, aku tak akan melepaskan dirimu dengan begini gampang, ingatlah akan perkataanku tadi". . 

" Engkoh Kie.." buru2 pengemis cilik itu berseru tatkala dilihatnya sianak muda itu ada maksud hendak melepaskan korbannya. "Kau.. apakah kau hendak melepaskan perempuan yang berhati kejam bagaikan ular ini.."

Dengan pandangan benci dan mendendam si kupu2 warna warni Lie In Hiang melirik sekejap kearah pengemis cilik, kemudian dengan pandangan yang kalut menyapu sekejap pula ke atas wajah Han siong Kie, ujarnya sambil mundur dua langkah kebelakang: "Manusia berwajah dingin, kau tidak menyesal berbuat begitu?? " "Hmmm cepat enyah dari sini, telah kukatakan bahwa untuk sementara waktu kulepaskan dirimu ini hanya sementara mengerti?"

Mimpipun sikupu-kupu warna warni Lie In Hang tidak menyangka kalau kekalahan yang dideritanya hari ini begini mengenaskan, hampir saja selembar jiwa tak bisa diselamatkan terutama sekali kekalahannya di tangan seorang pemuda yang sama sekali tiada nama didalam dunia persilatan.

Makin dipikir, ia merasa makin benci dan dendam tapi ketika sinar matanya sekali lagi bertemu dengan raut wajahnya yang tampan, ia jadi tertegun dan berdiri termangu2 tak bisa ia bedakan apakah itu benci ataukah cinta.

"Aku harus berhasil menguasai dirinya, menaklukkan mempermainkan kejantanan-nya sampai puas kemudian aku hendak menghancurkan hidupnya agar sepanjang hidup ia tersiksa dan menderita" sumpah perempuan itu di dalam hati, diluaran ia masih tetap tenang sedang di hatinya tersenyum, perempuan yang berhati kejam bagaikan kala ini mulai merencanakan suatu rencana yang paling busuk.

Tanpa banyak bicara lagi, ia putar badan dan segera kabur dari tempat itu diringi oleh kedua orang dayangnya.

Diam2 Han siong Kie bergidik juga hatinya menghadapi perempuan yang berhati licik itu. memandang bayangan punggungnya yang menjauh diam2 ia menghela napas lega. Pada saat itulah sipengemis cilik baru menegur dengan nada menggerutu.

"Engkoh Kie, sejak berpisah ditepi sungai tempo dulu kau telah pergi kemana saja??? sungguh amat menderita aku mencari jejakmu... oooh bukankah kau pernah berjanji kepadaku bahwa selamanya tak akan meninggalkan diriku?? tetapi..". "Adik Hwie, bukankah sekarang aku telah datang kemari??

"

"seandainya kau tidak terpancing datang kemari oleh

pertempuran sengit ini, tentu kau..".

"Aku sama saja akan pergi mencari dirimu"

"Engkoh Kie, kiranya kau adalah seorang jagoan yang tidak mau mengunjukkan diri?" ".

"Kepandaian silat yang kau miliki amat lihay sekali siauwte mengakui bahwa aku tak bisa menandingi dirimu tetapi sewaktu tempo hari berada ditepi sungai kau..."

"Ooooh adik Hwie saat ini aku masih ada urusan penting yang harus segera diselesaikan sebelum tengah hari nanti aku harus sudah sampai dikuil Boe Hoo dipantai Pek swie Tham, mengenai persoalan itu baiklah kuceritakan kepadamu dikemudian hari saja, lain kali kita akan bertemu dimana???"

"Urusan penting apa silih???" sela Tonghong Hwie si pengemis cilik itu dengan manja.

"Sekarang aku tak sempat menerangkan kepadamu, aku harus segera melanjutkan perjalanan"

"Tidak. Aku ikut beserta dirimu kemanapun kau hendak pergi aku akan berada disampingmu"

"Adik Hwie kau... " saking cemasnya air muka Han siong Kie berubah jadi merah padam.

" Engkoh Hwie, bukankah antara kita sudah pernah angkat sumpah untuk sehidup semati?? mengapa sekarang hendak tinggal-kan diriku???.."

"Aku bukan ingin meninggalkan dirimu, aku harus pergi karena ada urusan penting yang harus diselesaikan, lagipula urusan amat berbahaya sekali, Bagaimana kalau kita berjanji saja untuk bertemu tiga hari lagi?? kau yang akan cari aku atau aku yang akan mencari dirimu???..." "Tidak... tidak bisa jadi kalau toh kita sudah angkat sumpah untuk sehidup semati maka ada bencana kita harus tanggulangi bersama ada kesenangan kira nikmati bersama, semakin kau mengatakan bahaya aku semakin bertekad untuk ikut"

Di desak terus menerus oleh adik angkatnya ini, lama kelamaan Han siong Kie jadi kewalahan juga akhirnya sambil mendepak2 kan kakinya ia mengangguk. "Baiklah ayo kita berangkat"

"Hmm. kau mengajak aku bukan muncul dari dasar hati yang tulus, kau berbuat begini tentu terpaksa... tidak... aku tidak jadi ikut"

"ooooh saudaraku yang baik kau toh bukan seorang perempuan, kenapa sih berpikiran begitu picik?? ayolah mari kita segera berangkat"

Dari balik sorot mata pengemis cilik itu mendadak terlintas suatu cahaya yang sangat aneh, ia melirik sekejap kearah saudara angkatnya dan mendadak bertanya:

"Engkoh Kie, kau pernah bilang kepadaku bahwa kau paling benci kaum wanita benarkah itu??"

"Benar, sudahlah jangan banyak membicarakan persoalan yang tak berguna, ayoh kita segera berangkat"

"Engkoh Kie, seandainya,... seandainya "

"seandainya kenapa??."

"seandainya aku benar2 adalah seorang gadis bagaimanakah sikapmu terhadap diriku???"

"Aduuuh saudaraku yang baik, perduli kau laki atau perempuan aku mohon kepadamu marilah kira segera melanjutkan perjalanan, ada suatu persoalan maha besar yang harus segera kuselesaikan, bila sampai terlambat aku bisa menyesal selama hidup," Tapi pengemis cilik itu masih saja mengomel:

"Engkoh Kie, katakan dulu kepadaku andaikata aku adalah seorang gadis kau tak akan membenci diriku katakanlah "

saking mangkel dan dongkolnya Han siong Kie mendepakkan kakinya berulang kali diatas tanah.

"Tidak mungkin tidak mungkin kau ini cuma pandainya bikin gara2 saja ayoh berangkat"

Kali ini ia sambar tangan pengemis cilik itu dan ditariknya untuk segera melakukan perjalanan.

Dalam perjalanan itulah secara ringkas Hansiong Kie mengisahkan pengalaman aneh yang ditemuinya didalam rimba belantara beserta tujuan dalam perjalanan kali ini.

Tonghong Hwie yang mendengarkan dengan seksama sebera menjulurkan lidahnya beberapa kali.

Dengan mengerahkan kekuatan yang dimilikinya, Han song Kie melakukan perjalanan cepat kearah depan, sepanjang perjalanan ia menggenggam terus tangan Tonghong Hwie sebab ia takut pengemis itu tak sanggup mengikuti langkah kakinya bila ia lepaskan:

Tengah hari sudah hampir tiba, namun tujuan belum juga sampai .hal ini membuat sianak muda itu cemas bercampur gelisah.

Itu dia didepan sana adalah pasti Pek Sam Tham mendadak terdengar Tonghong Hwie berteriak sambil menuding kearah sebuah pantai berpasir putih yang mementang ditempat kejauhan.

Semangat Han Siong Kie segera berkobar kembali, tanyanya: "Lalu dimanakah letaknya kuil Boa Hoo?"

"Itu didalam hutan yang berada ditepi pantai". Beberapa saat kemudian mereka berdua sudah tiba di depan hutan yang terletak ditepi pantai, tampaklah sebuah bangunan rumah bertembok merah muncul dari balik hutan, tetapi yang aneh ternyata tak nampak sesosok bayangan manusiapun.

Perlahan2 Han Siong Kie memperlambat gerakan tubuhnya dan memperhatikan sekejap suasana di sekitar sana, lalu serunya: "Ayoh kita masuk kedalam".

Tiba2.. Tonghong Hwie menjerit lengking, dengan cepat ia melengos kesamping.

Han siong Kie yang menjumpai keadaan itu jadi ikut terperanjat, ia tangkap tangan saudara angkatnya dan bertanya dengan nada kaget. "Adik Hwie, apa yang telah kau temukan?"

Dengan badan gemetar keras Tonghong Hwie mundur kebelakang beberapa langkah, sorot matanya memancarkan rasa ketakutan yang hebat, dari atas jidat, hidung dan pipi mengucur keluar keringat sebesar kacang kedelai, ia segera menuding kearah sebuah batu besar ditepi hutan.

Mengikuti arah yang ditujukan Han siong Kie segera menoleh, terlihatlah sebuah benda berwarna merah darah tergeletak di atas batu cadas, ketika benda itu diperhatikan dengan lebih seksama lagi hatinya seketika terjelos.

Mendadak satu ingatan berkelebat didalam benaknya, pikiran itu membuat darah dalam tubuhnya mengembang cepat, pandangan matanya jadi berapi-api dan dengan perasaan bergolak serunya:

"Aaah betul tidak salah lagi itulah Tengkorak maut,

lambang dari si iblis tua itu"

Tengkorak maut dapat muncul ditempat itu, kejadian ini benar2 merupakan suatu hal yang diluar dugaan. Tengkorak maut sekali lagi Han siong Kle berbisik dengan suara yang serak dan lirih..

-ooodw0kzooo-

BAB 9

"Eng..engkoh Kie.. maa.. mari ki... kii . kita perr.. pergi saja" seru Tonghong Hwie dengan suara terpatah2.

Napsu membunuh dan rasa dendam telah menyelimuti seluruh benak Han siong Kie, sambil menatap lambang Tengkorak darah itu dengan penuh kebencian teringatnya: "Kenapa kita musti pergi??".

"Apakah kau sudah bosan hidup???" seru Tonghong Hwie dengan wajah berubah jadi hijau membesi. "Tidak aku tak boleh membiarkan kau mati, sebab kalau kau mati akupun tak ingin hidup lagi dikolong langit"

"Adik Hwie, tenangkaniah hatimu jangan panik.."

"Tidak. Engkoh Kie, aku mohon kepadamu berlalulah dari sini. Tengkorak maut tiada tandingannya dikolong langit,

tiada seorang manusiapun yang sanggup untuk menandingi dirinya"

"Aku tidak perduli sampai manakah kelihayannya, kebetulan sekali akupun sedang mencari dirinya".

"Kau, mengapa kau mencari dirinya??".

"Aku benci kepadanya, Tengkorak Maut telah melenyapkan keluargaku.. aku mempunyai dendam berdarah sedalam lautan dengan dirinya, selama aku masih hidup aku bersumpah hendak membinasakan dirinya".

Tonghong Hwie tersentak kaget dan secara beruntun ia mundur tiga langkah kebelakang dengan sempoyongan bagaikan seorang yang kehilangan semangat rintihnya lirih: "Kau... kau mempunyai ikatan dendam dengan Pemilik Benteng Maut??..." .

"sedikitpun tidak salah"

"Keee.. kenapa.. kenapa kau amat membenci dirinya??? "Karena dia sudah membasmi seluruh keluargaku" sahut

Han siong Kie sambil menggertak gigi keras2.

secara beruntun Tonghong Hwie mundur lagi beberapa langkah kebelakang dengan sempoyongan, gumamnya:

"oooh Thian kenapa?? kenapa...".

"Adik Hwie kau cepat berlalu dari tempat ini "

"Aku??? tidak aku tak mau tinggalkan dirimu seorang diri sampai matipun aku ingin mendampingi dirimu"

Han siong Kie merasa amat terharu, hampir saja dia ikut mengucurkan air mata. setelah berdiri ter-manggu2 beberapa saat lamanya tiba2 Tonghong Hwie berteriak lagi:

"Tidak mungkin tidak mungkin... hal ini tidak mungkin terjadi... ooooh hal ini bukan kenyataan bukan."

Han siong Kie jadi melongo menyaksikan tingkah polah adik angkatnya yang mendekati gila itu, buru2 ia genggam tangannya kencang2 dan berseru: "Adik Hwie, tenangkanlah hatimu, kau maksudkan apanya yang tidak mungkin. "

Tonghong gelagapan sendiri lama sekali ia baru berkata: "Maksudku... maksudku Tengkorak maut tak mungkin bisa

munculkan diri ditempat ini"

"Kenapa tak mungkin?" apa alasanmu berkata begitu.??

"Tentang soal ini... tentang soal ini... aku selalu merasa bahwa kejadian ini bukanlah suatu peristiwa yang sungguhan

.." "Tetapi kenyataan toh sudah terbentang didepan mata kita?? "

"Engkoh Kie, kumohon kepadamu tinggalkanlah tempat ini" sekali lagi Tonghong Hwie meminta.

"Tidak "jawaban dari si anak muda itu tegas sekali. "Tetapi kau tidak boleh mati"

"Apakah kau yakin bahwa akupun bakal mati?? "

Dengan telapak tangannya Tonghong Hwie menyeka air mata yang jatuh membasahi pipinya, lalu sahutnya:

"Hal itu bukan bisa terjadi siapapun tak akan menang bila berani memusuhi Tengkorak Maut"

"Mungkin ucapanmu memang benar" sahut Han siong Kie sambil menggertak giginya kencang2 sinar mata penuh kebencian memancar keluar dari balik matanya. "Tetapi aku telah bersumpah tak akan hidup berdampingan dengan Tengkorak Maut, mungkin aku yang bakal mati tapi mungkin juga dia yang bakal mampus, selama aku masih bisa hidup dikolong langit aku bersumpah akan memukul rata Benteng Maut..."

Sinar mata Tonghong Hwie jadi pudar, badannya mundur makin terhuyung, gumamnya: "ooooh engkoh Kie kejadian ini terlalu menakutkan"

Han siong Kie tidak menggubris adik angkatnya lagi, ia mendongak memandang cuaca lalu berseru:

"Tengah hari sudah tiba aku harus masuk kedalam kuil

Boe-Hoo dan menyelesaikan tugas yang dibebankan pengemis dari selatan kepadaku.." Habis berkata ia sebera melangkah masuk kedalam hutan.

"Engkoh Kie, apakah kau bertekad untuk masuk kedalam???" teriak Tonghong Hwie sambil menarik tangannya kencang2. "Tentu saja, engkoh tua telah menyerahkan tugas ini padaku, sebagai seorang Bu lim yang telah memberikan kesanggupannya aku harus melaksanakan tugas itu hingga selesai, kendati badan harus hancur dan jiwa harus melayang, adik Hwie kau tak usah membujuk diriku lagi"

Tonghong Hwie angkat kepalanya memandang sekejap kearah tengkorak darah yang bertengger diatas batu cadas se- olah2 sedang memikirkan sesuatu, ia termenung beberapa saat lamanya.

Kemudian sambil mengendorkan cekalan-nya dia mengangguk. "Baiklah, mari kita ber sama2 masuk ke dalam"

"Tidak. adik Hwie, kau harus tinggalkan tempat ini dengan segera, aku tidak ingin kau ikut menempuh bahaya karena persoalanku, aku tidak ingin kau ikut konyol bersama diriku".

"Engkoh Kie, kau tak usah banyak bicara lagi, mari kita segera berangkat"

"Baik" seru Han siong Kie kemudian sambil menggertak gigi.

Kedua orang itu menerobos ke dalam hutan dan bergerak mendekati kuil yang berdiri dengan angkernya didalam hutan, baru saja mereka berjalan sejauh dua puluh tombak. tiba2 Tonghong Hwie menjerit kaget dan berteriak kembali dengan ketakutan: "Engkoh Kie, kedatangan kita sudah terlambat, coba kau lihat." sambil berkata ia segera menuding kearah depan.

Dengan cepat Han siong Kie alihkan sinar matanya, bulu kuduknya kontan bangun berdiri dan ia bersin beberapa kali.

Tampaklah mayat manusia bergelimpangan ditengah hutan tersebut, satu.. dua.. tiga.. ternyata ada puluhan sosok banyaknya, bahkan mereka semua terdiri dari anak murid perkumpulan Kay pang. Keadaan dari mayat2 itu kesemuanya mengerikan sekali, mata melotot keluar dan darah kental mengucur keluar dari tujuh buah lubang indranya.

Kalau ditinjau sepintas lalu, rupanya mereka semua mati diujung sebuah pukulan yang amat beracun sekali.

"Hmm mereka semua pasti mati ditangan Tengkorak Maut " dengus pemuda kita dengan gusar. "Tidak aneh kalau tiada seorang manusia yang munculkan diri di tempat ini, kiranya mereka sudah mati binasa semua"

Peristiwa yang sedang berlangsung pada saat ini benar2 di luar dugaan siapapun, pihak kay pang didalam rapatnya memilih pangcu baru bukan saja telah dicampuri urusannya dengan kehadiran para jago lihay dari perkumpulan Thian chee Kauw, bahkan Tengkorak Maut pun ikut mencampurikan diri dalam persoalan itu.

Han siong kie sendiri walaupun menerjang masuk kedalam dengan mempertaruhkan keselamatannya, tetapi dalam hati siapapun merasa tidak tenang, keringat dingin mengucur keluar tiada hentinya membasahi seluruh pakaian yang ia kenakan. Bagaimana kelanjutan dari peristiwa itu?? hingga detik ini masih sulit diduga, tapi yang nyata puluhan jiwa anak murid Kay pang telah menemui ajalnya.

suasana dalam hutan itu sebera dirasakan jadi tebang dan tercekam oleh keseraman serta kengerian yang mencekat hati. Pada saat itulah..

Tiba2 dari dalam kuil Boe Hoo berkumandang datang suara gelak tertawa yang amat nyaring, begitu keras suara tertawa itu hingga menusuk telinga setiap orang yang mendengar.

Han siong Kie serta Tonghong Hwie jadi amat terperanjat setelah mendengar gelak tertawa yang menyerupai auman binatang aneh itu. Blaaaam Blaaaam benturan2 dahsyat bergelepar diangkasa diikuti sebuah sudut dinding bangunan ambrol dan runtuh keatas tanah. Air muka Han siong Kie seketika berubah hebat.

"Aduuuh celaka" teriaknya "Pastilah si Tengkorak maut sedang melangsungkan pembunuhan massal terhadap perkumpulan Kay pang"

"siaw sicu jangan gegabah"

Mengikuti datangnya seruan tersebut meluncur tiba sesosok bayangan abu2 dari sisi kalangan, angin pukulan yang kencang dan dahsyat segera memaksa badan sianak muda itu melayang kembali keatas permukaan.

Terlihatlah seorang hweesio tua beralis putih berjubah abu2 tahu2 sudah berdiri menghadang dihadapannya.

Han siong Kie merasakan jalan perginya terhadang, ia segera ayunkan telapak tangan-nya melancarkan sebuah pukulan kedepan. "Engkoh Kie, jangan bertindak gegabah, dia adalah padri dari utara "

Mendengar peringatan tersebut, sianak muda itu menarik kembali serangannya dengan meloncat mundur ke belakang.

Menanti ia awasi wajah padri itu dengan lebih seksama dengan cepat diapun kenali kembali orang itu sebagai Pak Ceng yang pernah dijumpainya sewaktu berada ditepi sungai depan Benteng maut.

Buru2 ia menjura dan mohon maaf katanya:

"oooh cianpwe maafkanlah kalau boanpwee bertindak terlalu ceroboh terhadap diri mu "

Padri dari utara tidak menggubris ucapannya itu, ia melirik sekejap kearah kuil Boe Hoe dengan sinar ketakutan kemudian serunya cemas: "Ayoh kila cepat berlalu dari sini"

"Berlalu???" seru Han siong Kie tertegun "Tapi boanpwee telah mendapat tugas dari pengemis Lam kay untuk " "Aku sudah tahu, ayoh cepat berlalu kalau kita terlambat mungkin tak akan sempat lagi setelah tinggalkan tempat ini kita bicarakan persoalan lain"

"Tapi urusan mengenai Kay pang...".

sepasang tangan Padri dari utara bergerak cepat, laksana kilat ia cengkeram tangan Han siong Kie serta Tonghong Hwie kemudian kabur keluar dari hutan tersebut.

Han siong Kie yang diseret terus jadi melongo dan kebingungan sendiri, ia tak tahu apa maksud tujuan dari Pak Ceng berbuat begini, kalau ditinjau dari kepandaian silat yang dimiliki jelas tak mungkin tangannya berhasil dicengkeram oleh padri dari utara dalam sekali sambaran.

Tetapi berhubung kesatu ia tidak menyangka dan kedua ia tahu bahwa Pak Ceng maupun Lam Kay sama2 merupakan manusia aneh dari dunia Persilatan, lagipula hubungannya dengan mereka tidak jelek. maka setelah mengetahui bahwa lawannya mengandung maksud mendalam, iapun tidak memberikan perlawanan barang sedikitpun juga.

Dalam pada itu mereka sudah keluar dari hutan, tapi padri dari utara masih menarik tangan kedua orang itu tiada hentinya, gerakan tubuhnya cepat bagaikan terbang, sesudah berjalan sejauh puluhan li dan tiba dibalik sebuah celah bukit akhirnya ia berhenti. si Padri dari utara melirik sekejap ke arah Tonghong Hwie, kemudian tegurnya:

"Apakah kau anggota dari Kay pang?"

Tonghong Hwie memandang sekejap ke arah padri tua itu kemudian tertawa cekikikan,

" Hiiih.. hiiiih hiiih. . bukan boanpwe adalah seorang pengemis gelandangan"

"Apa maksudmu pengemis gelandangan?" "Kesatu, aku tidak pernah minta2 makan kedua aku tak pernah minta2 sedekah uang ketiga, aku tidak punya guru dan keempat aku tak punya perkumpulan, luntang lantung ke sana kemari dengan bebas dan merdeka tanpa ikatan dari manapun, itulah yang disebut pengemis gelandangan aneh bukan??..."

Sepasang alis padri dari utara segera berkerut kencang, namun ia tidak bisa bicara lagi.

Dalam pada itu Han song Kie sudah tak dapat menahan mangkel dan dongkolnya didalam hati, dengan cepat ia berseru: "Loocianpwee sebetulnya apa yang telah terjadi???"

-000dw000-