Tengkorak Maut Jilid 02

 
Jilid 02

MENGUNGKAP tentang diri Thian chee Kauwcu hati Han siong Kie seketika bergolak kencang, ia teringat kembali akan ibunya yang kawin lagi dengan manusia aneh itu.

Belum habis pikirannya berlalu, terdengar pengemis cilik itu telah melanjutkan kembali kata2nya:

"Ketiga orang itu adalah jago2 yang paling lihay didalam dunia persilatan dewasa ini"

"Diantara mereka bertiga, siapakah yang terhitung paling kosen dan paling ampuh?"

"Hal ini sulit untuk dikatakan ilmu silat yang dimiliki lam Kay serta Pak ceng katanya seimbang, sedangkan kepandaian yang dimiliki Thian chee Kauweu menurut berita yang tersiar amat lihay sehingga sukar diukur dengan kata2, tetapi tak seorang pun yang pernah bergebrak melawan dirinya dan tak seorangpun yang pernah menyaksikan raut wajah yang sebenarnya".

"Bagaimana kalau dibandingkan dengan Pemilik dari Benteng Maut tersebut...??"

"Huuuh mereka tak akan kuat menahan sebuah pukulannya" "Eeei. adik Hwie, darimana kau bisa mengetahui akan hal ini??".

"Tentang soal ini... tentang soal ini... akupun hanya mendengar dari berita yang tersiar belaka"

"Adik Hwie coba lihat, mereka sudah mulai bergerak maju " "Itu berarti suatu drama berdarah yang sangat

mengerikanpun segera akan mulai berlangsung".

Han Siong Kie mengepal tangannya kencang-kencang, tanpa berkedip ia menatap ke arah para jago yang berada ditepi sungai.

Puluhan sosok bayangan manusia telah menggerakkan tubuhnya melewati jembatan batu dan tiba didepan pintu besar benteng maut.

Pada saat itulah... serentetan suara suitan aneh yang amat nyaring serta memekikkam telinga berkumandang keluar dari dalam ben-teng maut, begitu keras suaranya sehingga menusuk pendengaran siapapun juga.

Han siong Kie yang berada diatas bukit sebera merasakan telinganya bagaikan di tusuk2 dengan belasan bilah pisau tajam, buru2 ia menutupi sepasang telinganya dengan tangan, sementara jantungnya berdebar keras se-olah2 hendak meloncat keluar dari rongga dadanya. .

Puluhan jago lihay yang telah tiba didepan pintu besarBenteng Maut itu segera menghentikan langkah kakinya begitu mendengar suara suitan tersebut, air muka mereka berubah hebat.

Kegaduhan yang amat hebatpun terjadi ditepi pantai.

Beberapa saat kemudian suara suitan nyaring yang amat memekikkan telinga itu mendadak sirap. diikuti pintu benteng Maut yang bewarna hitam pekat lambat2 membentang lebar dan muncullah sebuah gua yang besar dan gelap gulita. Dengan hati terkesiap puluhan orang jago lihay Bu lim yang ada didepan pintu mundur tiga tombak ke belakang dengan tergesa2.

seketika itu juga suasana di sekeliling tempat itu berubah jadi tegang dan diliputi oleh napsu membunuh.

setelah perminuman teh sudah lewat. tetapi suasana di dalam Benteng Maut itu masih tetap tenang dan tidak nampak suatu gerakan apapun juga...

Puluhan orang jago lihay yang berdiri di depan pintu benteng mulai berteriak keras kemudian bagaikan gelombang samudra yang menghantam pantai mereka menyerbu masuk kedalam benteng tersebut...

"Hmm "Terdengar pengemis cilik itu men- dengus dingin. "Rombongan pertama yang menghantar kematiannya telah berangkat".

Han siong Kie melirik sekejap kearahnya lalu arahkan kembali sinar matanya kebawah.

Tiga puluh orang lebih jago lihay Bu lim yang termasuk didalam rombongan kedua mulai melewatijembatan batu sambil berteriak keras menyerbu pula kedalam pintu benteng dengan dahsyatnya:

"Rombongan kedua yang menghantar kematiannya kembali sudah berangkat " terdengar pengemis cilik itu bergumam

lagi.

Baru saja sipengemis cilik itu menyelesai kan kata2nya, mendadak terlihatlah bayangan manusia satu persatu terlempar ke luar dari dinding benteng dan meluncur ke arah luar. Ada diantaranya yang tercebur ke dalam sungai, ada pula yang terbanting ke atas lantai tepat didepan Benteng Maut tersebut.

Dalam sekejap mata seluruh jago lihay Bu lim yang baru saja menyerbu masuk kedalam benteng maut itu sudah terlempar ke luar semua dari balik benteng dalam keadaan mati tanpa bernyawa lagi. Menyaksikan pembunuhan massal tersebut, para jago lihay yang masih tersiksa di luar benteng jadi gaduh, suara bisikan lirih mulai kedengaran berkumandang memecah kesunyian. Han siong Kie, menyaksikan jalannya pembunuhan brutal itu dari atas bukit hanya bisa memandang dengan mata mendelong dan mulut melongo belaka, sekujur tubuhnya gemetar keras dan tak sepatahpun yang sanggup diucapkan keluar.

sebenarnya pemilik Benteng maut itu seorang manusia ataukah iblis?? ternyata ia memiliki kepandaian silat yang demikian dahsyatnya???

Belum habis sianak muda itu berpikir, tampaklah jago lihay Bu lim rombongan kedua yang belum lama berselang menyerbu masuk kedalam benteng, kini sudah terlempar pula semuanya keluar dari dinding tembok.

Tak seorangpun berada dalam keadaan hidup, tak seorangpun yang masih bernapas..

Mereka musnah dan lenyap dengan begitu saja. Napsu membunuh yang mengerikan pun mulai menyelimuti seluruh kalangan.

Ratusan jago lihay yang berkumpul ditepi sungai semakin gaduh lagi, tetapi tak seorangpun berani tampil kedepan untuk membentuk rombongan ke tiga pergi mengantar kan kematiannya.

Beberapa saat kemudian, tampaklah lam Kay serta Pak ceng selangkah demi selangkah mulai menyebrangi jembatan batu.

Han siong Kie tak dipat menahan rasa tegang yang menyelimuti hatinya, ia merasa dari telapak tangannya mulai mengucurkan keringat dingin, dengan hati bergejolak tanyanya kepada sipengemis cilik itu "Adik Hwie, menurut penglihatanmu bagaimana kesudahannya setelah pengemis dari selatan serta sipadri dari utara menyerbu masuk kedalam benteng maut???"

"Mungkin mereka dapat mengundurkan diri dalam keadaan selamat" jawab pengemis cilik itu setelah termenung sejenak.

Mendadak...terdengar pengemis dari selatan dan padri dari utara bersama sama membentak keras, kemudian badannya melesat ketengah udara dan laksana dua ekor burung elang raksasa mereka meluncur kearah tembok benteng, bukan pintu benteng yang mereka lalui justru tembok setinggi delapan tombak itulah yang mereka arah.

setelah tiba diatas dinding benteng tersebut dengan suatu gerakan yang sangat manis kedua orang itu berjumpalitan beberapa kali ditengah udara dan langsung menyerbu kedalam benteng.

Para jago lihay yang menyaksikan demonstrasi ilmu peringin tubuh tersebut sama sama bersorak memuji, teriakan keras dan suara tepuk tangan bergema memecah kan kesunyian. Han siong Kie sendiripun tak dapat menahan diri, la segera berseru memuji: "suatu ilmu kepandaian yang sangat bagus"

Disaat tubuh pengemis dari selatan danpadri dari utara hampir saja menyusup kedalam benteng maut itulah, tiba-tiba badan mereka terpental keluar bagaikan sebuah bintang yang jatuh dari langit dengan cepatnya tubuh kedua orang itu terpental kebelakang dan melesat ke arah tengah sungai, jelas kedua orang itu sudah termakan oleh sebuah angin pukulan yang maha dahsyat.

Para jago lihay yang berdiri ditepi sungai sama sama menjerit tertahan, air muka mereka berubah hebat dan hati orang-orang itu sama-sama terkesiap.

Kepandaian silat yang dimiliki Pemilik Benteng Maut ini benar-benar sangat mengerikan hati sehingga dua orang jago terlihay dari dunia persilatan dewasa itupun tak sanggup melewati garis perbatasan benteng tersebut barang satu langkahpun.

" Yaaah, kalau mereka tahu diri seharusnya pada detik itu juga mereka segera mengundurkan diri", terdengar pengemis cilik itu bergumam seorang diri.

"Adik Hwie" Han siong Kie segera mengerling sekejap ke arahnya. "Apa maksud ucapanmu itu???? "

Maksudku seharusnya sipengemis dari selatan serta sipadri dari utara mengerti keadaan sendiri dan segera mengundurkan diri dari kalangan tersebut.. "

"Aku lihat rupa rupanya kau menaruh rasa simpatik yang sangat mendalam terhadap Benteng Maut?? "

"Aku hanya berbicara sesuai dengan kenyataan yang terbentang didepan mata, apa perdulinya dengan rasa simpatik atau tidak. "

"Apa sih kedudukannya sipengemis dari selatan, didalam perkumpulun Kaypang??"

"Pemimpin dari para tiang loo perkumpulan tersebut" "Kau toh seorang anggota Perkumpulan kay-pang juga,

mengapa bukannya membantu tiangloomu, justru malah

sebaliknya".

"Aku sih tidak termasuk dalam anggota perkumpulan mereka, aku hanya seorang pengemis gelandangan belaka."

"Pengemis gelandangan?? apa itu pengemis gelandangan??."

"Tidak terikat oleh peraturan perkumpulan manapun, berkeliaran kemana-mana menurut kehendak hatinya sendiri".

"ooouw, sungguh aneh sekali, belum pernah aku dengar ada kejadian semacam ini" Baru saja ia menyelesaikan kata2nya, terlihatlah sipengemis dari selatan serta si padri dari utara telah menubruk keatas dinding benteng maut untuk kedua kalinya. Pengemis cilik itu sebera tertawa cekikikan.

Tubrukan mereka yang pertama kali tadi boleh dibilang sudah berhasil mencapai puncak dinding benteng tersebut, tetapi hanya sekejap mata saja tubuh mereka sudah mencelat dan terpukul roboh kembali kebawah. Yang tidak dimengerti oleh semua orang adalah tiada munculnya sesosok bayangan manusiapun, kenapa kedua orang jago lihay itu bisa termakan oleh angin pukulan hingga rontok kebawah??

satu ingatan berkelebat didalam benak Han siong Kie, ia segera berpaling dan ujarnya kepada sipengemis cilik itu.

"Adik Hwie, bukankah kau pernah mengatakan bahwa tenaga lweekang yang dimiliki Thian chee kauwcu jauh di atas kepandaian silat yang dimiliki sipengemis dari selatan serta si padri dari utara???".

"Menurut berita yang tersiar didalam dunia persilatan, memang demikian keadaannya"

"seandainya mereka bertiga mau turun tangan bersama, bukankah keadaannya mungkin akan mengalami perubahan besar???".

"Aaah, belum tentu begitu". " Kenapa ??"

"selama sepuluh tahun lamanya entab sudah berapa ratus kali terjadi peristiwa semacam ini, tetapi mereka yang bisa mengundurkan diri dalam keadaan selamat boleh dibiltang amat jarang sekali, oleh sebab itu aku merasa bahwa keadaan pada saat inipun tidak bakal jauh berbeda dari keadaan yang sudah2 "

" Kenapa Thian chee Kauwcu tidak ikut turun tangan???". "soal ini harus ditanyakan kepada dirinya pribadi"

Han song Kie menghembuskan napas panjang dan membungkam dalam seribu bahasa, ia tidak habis mengerti mengapa Thian chee Kauwcu tidak mau turun tangan sendiri, padahal sewaktu dia masih berada dalam tandu tadi dengan jelas mendengar bahwa dalam gerakannya kali ini untuk menghadapi Benteng Maut perkumpulan Thian chee Kauw lah yang menduduki sebagai pucuk pimpinan, tapi dalam kenyataan Thian cheo Kauwcu sendiri sama sekali tidak ikut campur didalam penyerbuan tersebut. kejadian benar2 membingungkan orang. Apakah Thian chee Kauwcu telah mempunyai rencana lain??

Dalam pada itu..si Pengemis dari selatan serta si Padri dari utara yang berada didepan benteng Maut, untuk ketiga kalinya telah menubruk ke arah Benteng tersebut.

Suatu kejadian diluar dugaan telah barlangsung, kali ini tubrukan mereka berhasil dan tubuh kedua orang jago lihay dari dunia persilatan dewasa itupun lenyap dibalik dinding tembok benteng Maut.

Para jago yang berada di tepi sungai segera bersorak sorai dengan ramainya, sebagian besar diantara mereka segera berebutan menyebrangi jembatan batu dan menyerbu ke dalam pintu Benteng...

Han siang Kie segera merasakan jantungnya berdebar keras, ia tak bisa membayangkan bagaimanakah perasaan hatinya pada waktu itu.

Dia berharap serbuan dari gabungan para jago lihay itu bisa berhasil menghancurkan Benteng Maut yang ditakuti seluruh umat Bu lim dan si pemilik benteng bisa dilenyapkan dari permukaan bumi.

Tetapi, diapun berharap bahwa serbuan para jago itu tidak mendapatkan hasil, sebab bila usaha mereka memperoleh keberhasilan maka itu berarti bahwa ia akan kehilangan kesempatan untuk membalas dendam sakit hatinya... Sipengemis cilik itupun dengan tegangnya segera bangkit berdiri.

Dikala serbuan para jago Bu lim gelombang ketiga hampir mencapai pintu depan Benteng maut itulah.

Mendadak tampaklah dua sosok bayangan manusia dengan langkah perlahan dan wajah layu selangkah demi selangkah berjalan keluar dari balik pintu benteng. Seluruh jago Bulim segera berdiri tertegun.

Kiranya kedua sosok bayangan manusia itu bukan lain adalah sipengemis dari selatan serta si padri dari utara.

Pengemis cilik itu segera tersenyum dan duduk kembali keatas batu. Sedangkan Han Siong Kie dengan perasaan tercengang segera bertanya.

"Eeei, mereka sudah keluar??"

"Inilah pengecualian yang terjadi selama puluhan tahun lamanya, untuk pertama kalinya ada orang yang bisa ke luar dari Benteng Maut dalam keadaan hidup rupanya mereka berdua sudah menderita kerugian yang amat besar, bisa juga sipemilik Benteng Maut

menaruh rasa kagum dan hormat terhadap kedua orang ini maka ia tidak tega untuk turun tangan keji".

"Adik Hwie. rupanya tidak sedikit yang kau ketahui?" "Hiih. . Hiiih. ..Hiiiih.. aku hanya menduga menurut

keadaan yang terbentang didepan mata saja".

Disaat sipengemis dari selatan serta sipadri dari utara telah meninggalkan pintu benteng itulah, kedua  pintu raksasa yang hitam pekat itu perlahan-lahan menutup kembali.

Pengemis dari selatan serta padri dari utara tidak memperdulikan para jago Bu lim yang mengurung di sekeliling tubuhnya, tidak menjawab semua pertanyaan yang mereka ajukan, setelah menyeberangi jembatan batu dan tiba ditepi pantai, dengan mulut membungkam mereka berlalu dari situ.

Para jago lihay lainnya jadi tertegun dan tidak habis mengerti, tapi akhirnya mereka pun mengumpulkan semua jenasah yang berserakan diluar benteng dan ikut bertalu dari situ. Suatu hujan badai yang amat mengerikan pun mulai reda..

Thian chee Kauwcu sendiri dibawah iringan para anak buahnya tanpa mengucap kan sepatah katapun ikut berlalu dari situ.

Akhirnya si kupu2 warna warni Lie In Hian dengan membawa kedua orang dayangnya serta ke empat orang tukang tandu nya kembali kearah tandunya di bawah pohon itu

Han song Kie tak kuat menahan rasa dongkolnya, ia mendengus dan bergumam seorang diri:

"Perempuan busuk. suatu hari aku akan mencari dirimu untuk membereskan hutang piutang pada hari ini ".

" Engkoh Kie, kau jangan marah dulu" bisik sipengemis cilik sambil tertawa cekikikan. "suatu pertunjukkan bagus segera akan berlangsung didepan mata".

Tampaklah si kupu2 warna warni Lie in Hiang menyingkap horden dan melangkah masuk ke dalam tandu, tapi secara mendadak ia mundur tiga langkah ke belakang, rupanya perempuan itu telah menemukan bahwasanya Han siong Kie lenyap tak berbekas, setelah ditengoknya sejenak ke kiri dan ke kanan akhirnya ia menyusup ke dalam tandunya.

000dewi000

BAB 4 "ENGKOH KIE, cepat lihat" seru pengemis cilik itu dengan penuh kegirangan.

Tampaklah ke empat orang pria kekar itu sambil menggotong tandu berjalan beberapa langkah ke depan, mendadak.. Braak terdengar suara ledakan keras, tandu itu merekah dan hancur berkeping2, dalam keadaan yang mengenaskan sekali si kupu2 warna warni Lie In Hiang jatuh mendeprok di atas tanah.

Han siong Kie yang menyaksikan kejadian itu jadi ikut merasa geli, pikirnya:

"Adik Hwie benar2 pandai sekali menggoda orang, kiranya sebelum meninggalkan tandu tadi ia sudah melakukan sesuatu disekeliling tandu tersebut..." Pengemis cilik itu tak bisa menahan diri lagi, ia sebera berteriak keras: "Bagus sekali".

Teriakan ini cukup keras dan segera memancing perhatian dari si kupu2 warna warni Lie In Hiang, dengan cepat sinar mata nya dialihkan ke arah tebing batu tersebut.

"Aduuuh Celaka" bisik Han siong Kie terperanjat. "Kali ini habis sudah riwayat ku".

Dalam pada itu sipengemis cilik itu telah mendorong tubuh si anak muda itu sambil berseru:

" Engkoh Kie, cepat lari, biar akulah yang menghadapi mereka".

"Tidak. aku tak mau pergi"

" Kalau kau tidak lari, mereka akan menggasak dirimu sampai peyot".

"Tidak. tidak bisa. masa aku akan tinggalkan dirimu seorang diri ditempat ini??"

"Haaah...haaah...haaah.. tolol amat kau, berangkatlah duluan, sebentar lagi aku akan menyusul dirimu". "Tidak. aku tak akan meninggalkan tempat ini seorang diri". "Engkoh Kie, si kupu2 warna warni Lie In Hiang adalah

Thongcu nomor satu dari perkumpulan Thian chee Kauw,

kepandaian silatnya cukup ampuh dan hebat, sekali pun kedua orang dayangnya serta ke empat orang tukang tandu itupun mempunyai kepandaian silat yang sebanding dengan jago Bu lim kelas satu. Siapapun diantara mereka berenam tak nanti bisa kau tandingi... maka dari itu berlalulah lebih dahulu. selama kau masih berada disini, justru malahan memecahkan perhatianku "

Merah jengah selembar wajah Han long Kie sehabis mendengar perkataan itu, dengan terputus2 katanya:

"Aaa...adik Hwie aa...apakah kau sa... sanggup untuk menghadapi mee...mereka ?"

"Tidak menjadi soal, dari belakang batu karang itu larilah ke arah depan, maka kau akan tiba didalam sebuah hutan, aku segera akan memancing kepergian mereka??".

Sementara itu perlahan-lahan si kupu-kupu warna warni Lie In Hiang telah munculkan diri di atas tebing karang tersebut.

"cepat lari..." seru sipengemis cilik itu dengan hati cemas. "Kalau terlambat akan tidak sempat lagi"

Han Siong Kie tidak berani berayal lagi, ia segera menjejakkan kakinya dan meloncat turun kebawah tebing batu itu kemudian lari masuk ke dalam hutan.

Menanti bayangan punggung si anak muda itu sudah lenyap dari pandangan, pengemis cilik itu baru meloncat turun dari atas tebing dan sambil tertawa cengar-cengir disongsongnya kedatangan kupu2 warna warni Lie In Hiang.

Dengan wajah penuh napsu membunuh dengan mata melotot sadis selangkah demi selangkah si kupu2 warna warni Lie In Hiang maju ke depan, ke dua belah pihak menghentikan langkahnya pada jarak dua tombak. Ketika dilihatnya orang yang mengejek dan mempermainkan dirinya bukan lain adalah seorang pengemis muda, perempuan itu langsung naik pitam, bentaknya dengan penuh kemarahan:

"Pengemis edan, kau berani mempermainkan aku si nenek tua hah??"

"Apa?? aku mempermainkan apa mu??" sahut sipengemis dengan alis berkerut.

"Bukankah kau yang bermain setan dengan tanduku ini??" "Berdasarkan alasan apa kau mengatakan bahwa aku yang

mempermainkan tandumu?"

"Hmm ayoh jawab, kau telah membawa kemana orang yang berada di dalam tanduku itu??.. "

"Apa?" pengemis cilik itupura2 berlagak kaget, "pria atau wanita yang kau maksud kan?. "

selapis napsu membunuh yang sangat mengerikan memancar di atas wajah perempuan itu, jengeknya ketus.

"Pengemis edan, tahukah kau siapa diriku?"

"Aku si peminta- minta tak pernah mengadakan hubungan dengan kaum perempuan, percayakah kau "

"Bangsat, kaupingin hidup atau mati? " "Eeei.. apa maksud ucapanmu itu ? "

"Kalau pingin hidup maka katakanlah ke mana perginya bangsat cilik itu, sebaliknya kalau kepingin mati..."

" Kenapa??" "

"Pun Thongcu seketika ini juga akan kirim nyawamu kembali ke akhirat"

Pengemis cilik itu tundukkan kepalanya dan berpikir sebentar kemudian menjawab. "Aku pingin mati saja" si Kupu2 warna warni Lie In Hiang yang mendengar perkataan itu jadi tertegun, kemudian serunya: "Hm, kau sungguh pingin mati?? "

"Sesungguhnya tidak salah, aku sudah terlalu muak sebagai pengemis kecil, maka dari itu aku tidak pingin hidup lebih lanjut di kolong langit ini.. "

si Kupu2 warna warni Lie In Hiang bukanlah seorang bocah kemarin sore yang gampang dipermainkan, sekilas memandang ia sudah tahu kalau pengemis kecil itu memang sengaja hendak memperolok-olok serta mempermainkan dirinya, napsu membunuh seketika itu juga muncul di dalam benaknya, sambil tertawa dingin katanya:

"Kalau pingin mati sih gampang, Pun Thongcu bisa memberikan kematian yang paling lambat dan paling nikmat bagimu". sembari mengulapkan tangannya ia berkata lebih jauh

"Tangkap bajingan cilik ini".

Kedua orang dayang yang berada di sisi mereka itu segera maju kedepan, satu dari kiri dan yang lain dari kanan laksma kilat mencengkeram tubuh si pengemis cilik itu.

”Eeei eeeit . nanti dulu" teriak pengemis eilik iiu berulang kali sambil goyang goyang kao tangannya. Seorang pria sejati tak akan melayani kaum perempuan untuk bermain-main.

Sembari berkata ia segera enjotkan badan nya. tahu2 sang tubuh sudah berada kurang lebih saiu tembok jauhnya dari tempat semula.

Gerakan tubuh ini sangat indah dan lihay sekali, bukan saja membuat kedua orang da yang itu menjulurkan lidahnya, bahkan si-kupu2 warna warni Lie In Hiang pun merasakan hatinya bergetar keras, sadarlah perempuan ini bahwa pengemis cilik itu bukan lah seorang munusia yang sederhana.

Sementara itu setelah tertegun beberapa saat lamanya kedua orang dayang itu segera maju kembali kearah depan, secara terpisah mereka lancarkan serangan gabungan yang amat dahsyat, telapak dan jari dilancarkan secara serentak.

”Aduuuh mak!" teriak pengemis itu keras keras bukannya mundur ia malah maju lebih kedepan badannya menerobos masuk ke dalam lingkaran bayangan cakar serta deruan angin pukulan.

Suara dergusan berat berkumandang memecahkan kesunyian, tahu tahu kedua orang dayang itu jatuh terpelanting dan roboh ke-atas tanah.

Air muka sikupu kupu warna warni Lie In Hiang kontan berobah hebat, tenaga lwee-kang yang dimiliki pengemis cilik itu ternyata sudah mencapai keadaan yang sangat mengerikan, bukan saja gingkangnya diluaf dugaan bahkan iapun memiliki kepandaian menotok jalan darah lewat sentilan udara, dalam sekali gebrakan saja ia telah berhasil merobohkan kedua orang dayang andalan nya.

Suara bentakan keras segera bergeletar memecahkan kesunyian, empat orang pria peng golong tandu yang semula berdiri tegak di sisi kalangan, kini sudah menubruk maju secara serentak, masing masing pihak mengirim satu babatan yang amat dahsyat.

Empat gulung desiran angin tajam menggulung jadi satu membentuk suatu gulungan tenaga yang amat mengerikan, laksana ambruk nya sebuah bukit tinggi angin serangan tersebut langsung menyapu ke depan:

Melihat datangnya ancaman tersebut, pengemis cilik itu segera tertawa cekikikan. "Hiiih..hiiih hiiiih bagus bagus

beginilah baru sangat berarti". sepasang telapak diayun kedepan dan diapun melancarkan sebuah babatan dahsyat yang menimbulkan gulungan angin serangan yang amat mengerikan hati.

Blaaaam suara ledakan keras bergelegar menggoncang kan permukaan bumi, pasir dan debu berterbangan memenuhi angkasa, pusaran angin pukulan yang kencang menggetarkan ke empat orang pemandu itu dan memaksa mereka menyebarkan diri ke empat penjuru.

"Kalian lebih baik mundur saja" tiba-tiba si kupu-kupu warna warni Lie In Hiang berseru sambil mengulapkan tangannya.

Dengan wajah lesu dan badan lemas ke empat orang pria kekar itu buru buru mengundurkan diri ke belakang.

"Hei, pengemis cilik. laporkan asal usul perguruanmu" seru perempuan itu kemudian.

"Aku tidak punya perguruan".

"Kau termasuk cabang dari kota mana di dalam keanggotaan perkumpulan Kay Pang?"

"Hmmm .. Hmmm aku sipengemis cilik adalah seorang pengemis gelandangan".

"Pengemis gelandangan???". "sedikitpun tidak salah".

"Apa itu pengemis gelandangan?? Belum pernah aku mendengar nama seperti itu??"

"oooh.. pengemis gelandangan adalah pengemis luntang lantung diempat penjuru sesuka nya yang gentayangan, tidak tergabung dalam partai maupun perkumpulan, bebas merdeka melayang kesana kemari".

"Bangsat, kau kepingin modar??". "Aduuuh...nyonya bawel, mungkin lubang telingamu terlalu banyak kotorannya, apa kau tidak dengar?? sedari tadi toh aku sudah berkata bahwa aku tidak pingin hidup, cuma sayang...".

"sayang kenapa?".

''Sayang dengan andalkan kekuatanmu masih tidak pantas untuk menghantar aku sipengemis cilik untuk masuk keliang kubur.”

Si kupu2 warna warni Lie In Hiang jadi sangat gusar, saking mendongkolnya sampai sekujur tubuhnya gemetar keras, dengan kedudukannya yang terhormat sebagai seorang Thongcu kelas satu didalam perkumpulan Thian Chee Kauw ternyata sudah diolok-olok dan dipermainkan cleh seorang pengemis cilik yang tidak diketahui asal usulnya, ia segera membentak keras:

"Bangsat. Pun thongcu akan bunuh dirimu! ".

Sepasang telapak tangannya dengan suatu gerakan yang sangat aneh segera menyapu ke depan, secara terpisah ia cengkeram pergelangan kiri serta bahu kanan pengemis itu gerakan cengkeraman tersebut dilancarkan dengan kecepatan laksana sambaran kilat, bahkan bayangan cakar berlapis lapis seakan akan terdapat berpuluh puluh buah tangan yang bersamaan waktunya mencengkeram ke luar.

Menyaksikan kehebatan lawannya pengemis cilik itu terkesiap buru-buru tubuhnya meleset kesamping untuk menghindar... tetapi gerakan tubuhnya terlambat satu tindak, tahu2 bahunya terasa amat kencang dan bahu kanannya sudah kena dicengkeram oleh lawannya.

Napsu men bunuh yang menyelimuti wajah si kupu2 warna warni Lie In Hiang semakin menebal, sambil tertawa dingin serunya : "Keparat cilik! sekarang ayoh jawab, apakah Pun Thongcu pantas untuk menghantar kematianmu???".

"Tidak pantas! mau apa kau??".

"Kalau kau berani mengatakan sekali lagi, kucengkeram bahumu ini biar hancur berantakan".

"Tidak pantas! tidak pantas! Tidak pantas!'.

Si Kupu2 Warna wirni Lie Ia Hiang benar2 naik pitarn, jari tangannya yang mencekeram bahu pengemis cilik itu segera ditambahi dengan beberapa lipat tenaga dalam, maksudnya tulang bahu sipengemis cilik itu akan dicengkeram sampai hancur lumat, siapa tahu baru saja cakarnya menggencet tubuh lawan, segera terasalah tangannya se-olah2 memegang sesuatu benda yang sangat licin batinya jadi amat terperanjat.

"Kepandaian silat apakah ini??? " pikirnya di dalam hati.

Belum habis ia berpikir, bagaikan seekor ikan belut sipengemis cilik itu sudah meloncat mundur sejauh satu tombak lebih, jengeknya sambil tertawa cekikikan:

"Hiiih...hiiih...hiih... Lie In Hiang perempuan bermuka tebal yang tak tahu malu, maaf kalau aku tak sudi melayani dirimu lebih jauh " Dia enjotkan badannya dan segera meleset ke

arah dalam hutan.

Air muka si kupu2 warna warni Lie In Hiang berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, mimpipun ia tak pernah menyangka kalau dirinya bakal jatuh kecundang di tangan seorang pengemis cilik.

setelah tandunya tak dapat digunakan lagi, dengan perasaan gemas ia berpaling ke arah mana lenyapnya bayangan sipengemis cilik itu sambil makinya:

"Anak sialan cucu monyet, hati2 kau suatu hari aku bisa membeseti kulit tubuhmu dan mencabuti otot2 didalam badanmu". setelah mendepak- depakan kakinya ke atas tanah, ia segera membebaskan jalan darah dari kedua orang dayangnya yang tertotok kemudian berlalu dari situ.

Kedua orang dayangnya serta keempat orang pria kekar itu tak berani berayal, merekapun segera enjotkan badannya dan menyusul dari belakang tubuhnya.

-000dewi000-

Ombak dan memecah d itepi pantai. Benteng Maut yang berdiri dengan angkernya diatas tebing karang telah pulih kembali dalam kesunyian serta keheningan yang mencengkam seluruh jagat.

Pengemis cilik yang sangat menghawatir-kan keselamatan kakak angkatnya Han siong Kie, tidak ingin berdiam terlalu lama disitu, setelah melepaskan diri dari kurungan si perempuan she Lie tadi ia segera menerobos masuk kedalam hutan dan menyusul si anak muda itu.

Tetapi, walaupun ia sudah mencari kesana kemari dan keluar masuk hutan, bayangan tubuh Han siong Kie masih juga belum ditemukan, ia jadi tercengang dan tidak habis mengerti.

"Kemana perginya engkoh Kie?? "pikir pengemis cilik ini didalam hati kecilnya. ”Tadi aku toh sudah menerangkan dengan jelas kepadanya agar langsung masuk kedalam hutan?? entah ia sudah tersesat sampai dimana???”

Makin lama hatinya merasa semakin gelisah sehingga tak tahan lagi sambil menerobos masuk kedalam hutan Thonghong Hwie sipengemis eilik itu berseru tiada hentinya

'Engkoh Kie engkoh Kie..."

Namun tiada sesuatu jawabanpun yang kedengaran, pikirnya lebih jauh: ”Aaah mungkin dia sudah langsung keluar dari hutan dan melanjutkan perjalanannya!'

Karena berpikir demikian maka iapun segera enjotkan badannya dan meluncur kearah depan.

Sementara itu Han Siong Kie setelah masuk kedalam hutan perasaan hatinya makin lama kian terasa semakin tidak enak, ia merasa sebagai seorang lelaki sejati ternyata harus minta perlindungan orang, bahkan di dalam keadaan bahaya harus melarikan diri, sikap angkuhnya segera muncul. Pikirnya di dalam hatii

''Apabila aku tidak berhasil melatih serangkaian ilmu silat yang mengejutkan hati orang, aku tidak akan berjumpa lagi dengan adik angkatku Tonghong Hwie !"'

Karena berpiKir demikian maka ia tidak menuruti petunjuk dari sipengemis cilik itu untuk masuk kedalam hutan, sebaliknya malah membelok meiuju kearah timur.

Semakin berjalan menuju kedepan ia merasa hutan belukar yang mengelilingi sekitar tempat itu semakin lebat dan tinggi, begitu rimbunnya dedaunan sampai cahaya mata hari tak dapat menyorot kedalam. suasana gelap gulita dan sianak muda itupun dengan mata membuta berjalan kesana kemiri sekenanya.

Beberapa saat kemudian suasana semakin gelap gulita sehingga susah melihat kelima jari tangan sendiri, arah tujuanpun semakin kabur.dalam keadaan begini wajahnya berubah jadi bengkak dan hijau sebab besar karena berulang kali harus mencium pohon atau ranting, pakaiannya koyak dan hancur tak karuan.

Sekarang sianak muda itu baru sadar bahwa ia telah memasuki sebuah hutan belantara yang sangat mengerikan. Tetapi menyesalpun sadah terlambat, ia tak sanggup untuk menemukan kembali arah yang benar untuk lolos dari cengkeraman hutan belantara yang sangat lebat itu.

Suara ular dan auman binatang buas bergema silih berganti menambah seramnya suasana disekitar hutan tersebut, dalam keadaan begitu pemuda she-Han itupun berpikir: "Habis sudah riwayatku! .. rupanya aku Han Siong Kie harus menemui ajalnya ditempat seperti ini... aaai, cepat atau lambat aku pasti dicabut ular berbisa atau diterkam binatang buas”

Tetapi ia tidak berhenti sampii disitu saja, ia tidak putus asa dan meneruskan petualangannya menjelajahi hutan belantara iru secara buta.

Rasa lapar, haus, lelah, ditambah rasa nyeri dan sakit dari mulut luka yang menganga disekujur tubuhnya akibat duri serta ranting membuat tulang belulangnya terasa hancur berantakan, badannya lemas tak bertenaga, perjalanan terasa semakin berat lagi.

Tapi sianak muda itu tak mau menghentikan usahanya sampai disana. tak bisa berjalan diapun mulai merangkak dan merayap diatas tanah.. kesadarannya... pikirannya kian lama kian bertambah kabur.

Entah berapa saat sudah lewat, mendadak pemuda itu merasakan segulung hawa dingin yang sangat aneh menyerang ulu hatinya, ia segera membuka matanya.

Tampaklah ia telah berbaring ditepi sebuah kolam kecil, separuh tubuhnya terbenam didalam air tersebut. Hal ini membuat hati nya bergetar keras, pikirnya :

"Sungguh berbahaya, setengah depa lagi aku maju kedepan niscaya tubuhku sudah tenggelam didasar kolam ini dan jiwaku tentu sudah melayang...".

Tiba2 satu ingatan berkelebat didalam be naknya, ia berpikir lebih jauh : "Aaaah. tidak benar apakah aku sudah keluar dari hutan belantara tersebut???''.

Dengan Cepat ia mengerangkak bangun dari atas tanah dan melongok keempat penjuru, tampaklah sekeliling situ hanya berubah pepohonan yang sangat lebat, lebih jauh dari itu yang hanya kegelapan yang mencekam, dimana ia berdiri saat ini merupakan sebidang tanah kosong yang luas dan persis di-tengah tanah kosong tadi terdapat sebuah kolam kecil seluas lima tombak.

Satu pikiran dengan cepat berkelebat di dalam benaknya dan pemuda itu pun kembali berdiri tertegun. mengapa pada saat ini ia tidak merasa lapar maupun dahaga?? bahkan rasa sakit yang dideritanya tadi sekarang lenyap tak berbekas, ia segera tundukkan kepalanya dan memeriksa.

Tampaklah kulit tubuh yang telah terendam air kini sudah sembuh sama sekali dari lukanya, bahkan luka2 itu telah merapat dan sedikitpun tidak terasa sakit, kejadian ini tentu saja mencengangkan hatinya.

Mendadak... sinar matanya terbentur dengan sebuah tonggak batu yang berdiri tegak disisi tubuhnya, diatas tonggak tadi tertulislah beberapa huruf yang kurang lebih berbunyi demikian:

"sumber air kulit bumi, Mencopot kulit berganti tulang". setelah membaca tulisan itu, sadarlah si anak muda itu apa

sebenarnya yang telah terjadi, pikirnya:

"Aaaah, benar, pastilah air didalam kolam ini adalah sumber air mujarab yang berasal dari kulit bumi seperti apa yang sering tersiar diluaran, tidak aneh kalau luka diseluruh tubuhku telah sembuh kembali setelah tercebur didalam air... perduli amat aku bisa keluar dari hutan ini atau tidak, pokoknya akan kucoba kembali" Berpikir demikian iapun segera loncat ke dalam kolam dihadapannya, terasa air tersebut dingin menusuk tulang hingga membuat giginya saling beradu dengan kerasnya.

sekujur tubuhnya direndamkan kedalam air kecuali batok kepalanya yang menongol diluaran, dikala hatinya mulai lega dan pikiran mulai mengendor itulah kejadian masa lampau kembali berkelebat didalam benak nya.

Ia teringat kembali akan beratus ratus sosok tulang tengkorak yang berserakan didalam perkampungan keluarga Hari itulah rumah keluarganya.

susiok sitelapak naga beracun Thlo Lien setelah mengutarakan asal usulnya segera bunuh diri, apa sebabnya???. . suatu misteri

Benarkah si pembunuh keji yang telah membasmi keluarga Han serta keluarga Thio adalah si Pemilik dari Benteng Maut?? sebab lambang tengkorak berdarah yang ia temukan diatas dinding ruangan tengahnya persis seperti lambang dari si pemilik Benteng Maut tersebut. Kalau benar apa sebabnya ia melakukan pembunuhan tersebut? kembali merupakan satu misteri ...

Diikuti pelbagai ingatanpun berkelebat di dalam benaknya: susioknya, sitelapak naga beracun Thio Lien kenapa tidak

memperkenankan dia untuk membalas dendam?? kalau dilihat

sikap paman gurunya tadi jelas dia sudah tahu siapakah pembunuh keji tersebut, tapi ia tidak mau mengatakannya keluar, bahkan tidak memperkenankan pula dirinya untuk mengubur tulang tengkorak yang berserakan itu, apa sebabnya?

Dengan mempertaruhkan jiwa putranya, sang paman guru telah menyelamatkan dia dari kematian dan mendidiknya hingga dewasa, tetapi apa yang kemudian diwaris kan kepadanya hanya dasar berlatih ilmu tenaga dalam belaka, sedang jurus silatnya tak sepotongpun yang diwariskan kepadanya, sang susiok mengatakan bahwa ia terikat oleh sumpah, apakah isi sumpah tersebut??

seluruh keluarganya mati binasa dalam peristiwa berdarah itu kecuali ibunya seorang yang masih hidup, mengapa???

Iapun teringat kembali akan kesadisan serta kekejian yang terlihat sewaktu berada didepan Benteng Maut.

Diikuti terbayang kembali wajah adik angkatnya si pengemis cilik Tonghong Hwie, mungkinkah ia masih ada kesempatan untuk saling berjumpa muka?...

Mendadak ia merasakan sekujur badan nyajadi amat

panas hingga sukar ditahan, bukan saja air kolam.. yang itu tidak terasa dingin lagi bahkan makin lama terasa semakin panas bagaikan air mendidih.

Hatinya jadi amat terkesiap. jangan2 air kolam ini mengandung racun yang awat jahat?? tapi ia tidak merasakan tanda2 keracunan.

Buru2 tubuhnya merangkak naik keatas tepian. namun...

rasa panas yang menyengat badannya kian lama kian menjadi dan makin lama bertambah hebat bagaikan sekujur

badannya dibakar oleh api besar hingga terasa amat sakit.

Hampir saja sianak rnuda itu jadi gila, ia tak kuat menahan siksaan serta penderitaan yang menyerang tubuhnya.., pemuda itu segera bergelindingan ditepi kolam, meronta kesana menekuk kemari.

Tidak lima kemudian ia jatuh tak sadarkan diri.

Entah berapa lama sudah lewat, ketika ia siuman kembali diri pingsannya terasalah sekujur tubuhnya segar dan nyaman, rasa sa kit telah hilang lenyap tak berbekas dengan hati sangsi bercampur curiga segera tanyanya pada diri sendiri:

"Mungkin aku sudah berganti kulit bertukar tulang?? ". Ia bangkit berdiri dan terasalah suasana disekeliling tubuhnya terasa lebih terang, sinar matanya dapat mencapai pindangan sejauh ratusan tombak, hatinya jadi amat kegirangan, setelah ia dapat melihat ditengah kegelapan berarti keluar dari hutan belantara tersebut bukanlah satu persoalan yang menyulitkan.

Sinar matanya segera menyapu sekeliling tempat itu, mendadak beberapa tombak dan ia berdiri saat ini, tepatnya ditepi sebuah pohon tua pemuda itu menemukan sesosok bayangan manusia sedang duduk bersila disitu- batinya jadi amat kegirangan, ia tak mengira kalau ditempat semacam ini bisa bertemu dengan seseorang, laksana kilat tubuhnya meloncat kedepan.

Sekali enjot badan ia segera merasakan tubuhnya enteng bagaikan burung walet, hampir saja badannya menumbuk diatas tubuh bayangan manusia itu yang bukan lain adalah seorang kakek tua berambut putih.

Sianak muda ini jadi terperanjat, sekarang ia baru sadar bahwa tubuhnya bisa enteng pastilah disebabkan kasiat dari sumber air mujarab dari kulit bumi.

Buru2 dia mundur tiga langkah kebelakang dan menjura untuk memberi hormat, kata nya :

"Loocianpwee! berhubung boanpwee tersesat jalan hingga sampai disini, maka mohon sudilah kiranya loocianpwee memberi petunjuk jalan bagi diriku untuk lolos dari tempat ini!".

Perkataan itu diulangi sampai tiga kali namun tiada jawaban, ia segera memperhatikan wajah orang itu lebih seksama.

"Aaah " Han siong Kie berseru tertahan, bulu kuduknya pada bangun berdiri dan hatinya jadi amat bergidik. ternyata kulit badan si kakek tua itu sudah mengering dan layu, yang tersisa hanya sekerat kerangka manusia belaka, rupanya kakek tua itu sudah banyak tahun menghembuskan napasnya yang terakhir disitu. Beberapa saat kemudian rasa kaget dan bergidiknya baru agak reda, pikirnya:

"Apa yang musti aku takuti?? kalau aku tak bisa keluar dari hutan belantara ini maka keadaan pun tidak akan jauh berbeda dengan dirinya...".

Ketika dipandangnya mayat itu lebih jelas, maka si anak muda itu menemukan sekujur tulang kakek tua itu sudah penuh ditumbuhi lumut hijau yang amat lebat sehingga sepintas lalu nampaknya seolah2 dia memakai pakaian.

Menyaksikan keadaan itu timbul rasa kasihan didalam hatinya, iapun lantas bergumam seorang diri:

"Loocianpwee, daripada tulang belulang mu terlantar diatas bumi, baiklah biar aku kubur secara baik2".

sambil berkata dengan tangannya ia lantas membersihkan lumut hijau yang tumbuh disekeliling mayat tersebut, tapi kembali hatinya merasa terperanjat sebab diatas kulit didepan mayat itu ternyata terukir beberapa huruf dengan amat jelas:

"Air mujarab melindungi badan, kulit dan tulang tak akan membusuk."

”Bila beberapa tahun kemudian ada orang yang sampai ditempat ini, tolong kebumikanlah jenasah loohu dibawah pohon jati bercabang tiga yang tumbuh disebelah timur kolam".

Membaca tulisan tersebut, dalam hati Kiepun lantas berpikir:

"Baiklah, aku akan kabulkan keinginanmu itu agar sukmamu dialam baka bisa jadi tenang".

Di sebelah timur kolam ternyata benar2 terdapat sebuah pohon jati yang bercabang tiga, maka sianak muda itu sebera mematah-kan sebuah ranting dan mulai menggali liang kubur dibawah pohon tadi, satu depa... dua depa... tiga depa... empat depa.

Mendadak ujung rantingnya seolah-olah menyentuh

suatu benda yang amat keras.

”Aaaah. mungkin benda keras itu adalah batu karang atau sebangsanya biarlah, empat depa pun rasanya sudah cukup

dalam" pikir Han Siong Kie didalam bati.

Belum habis pikiran itu berkelebat didalam benaknya, tiba tiba permukaan tanah yang dipinjamnya mulai bergerak dan bergetar keras diikuti benda keras yang berada-didalam tanah itu mulai munculkan diri dari permukaan tanah can menyeret tubuhnya ke arah depan.

Kejadian ini tentu saja amat mengejutkan hati sianak muda itu, matanya jadi terbelalak dan sukmanya terasa hampir melayang meninggalkan ragarya,

Benda tadi kian lama kian bertambah naik keatas sehingga akhirnya permukaan tanah mereka dan muncullah seekor kura kura raksasa yang amat besar sekali sambil menggoyangkan kepalanya makhluk besar itu perlahan-lahan merangkak kemuka.

Meskipun kura kura tak dapat melukai orang tetapi makhluk aneh berbentuk raksasa yang demikian besarnya ini jarang sekali di dalam kolong langit, hal itu tentu saja membuat siapapun yang menyaksikan merasakan hatinya bergidik.

Mendadak...kura-kura itu membentangkan mulutnya dan....

wessssss segulung hawa tekanan yang amat dahsyat segera

menggulung kearah tubuhnya.

Mimpipun Han Sions Kie tak pernah menyangka kalau mahluk raksssa tersebut dapat memuntahkan hawa tekanan yang demikian dahsyatnya, dalam keadaan tanpa siap siaga barang sedikitpun badannya segera terroboh diatas tanah, sementara kura kura tadi segera merangkak kearah depan dan menindihi diatas tubuhnya....

Tindihan tersebut benar benar sangat kuat terryata sianak muda itu tak sanggup meloloskan diri, tanpa sadar sukmanya terasa melayang meninggalkan raganya, ia tak mengira kalau maksud baiknya hendak mengubur tulang belulang sikakek tua itu mendatangkan bencana yang demikian anehnya.

Dalam pada itu sikura kura tadi sudah membentangkan mulutnya yang besar dan menggigit batok kepala Han Siong Kie.

"Aduuuuh .... mati aku habis sudah nyawaku kali ini "

teriak si anak muda itu dengan hati terjelos.

Tapi sungguh aneh sekali, walau sudah lama ia menunggu namun batok kepalanya sama sekali tidak digigit hancur, sebaliknya kepala yang berada didalam mulut kura-kura itu terasa sangat tidak enak badan.

Ketika ia berada dalam keadaan sangat takut menghadapi kematian yang sealiran hawa panas mengalir masuk lewat jalan darah Thian Leng Hiat diatas ubun-ubunnya menyebar keseluruh badan.

Han siong Kie sudah merasa yakin bahwa dirinya bakal mati, mimpipun ia tak pernah mengira kalau bakal terjadi peristiwa aneh semacam ini, ia mulai merasa sangsi apakah dirinya masih hidup dikolong langit? kalau tidak maka ia pastilah sedang mendapat satu impian yang jelas yang sangat menakutkan.

sementara itu aliran panas yang menyusup keluar dari mulut kura kura itu makin lama, semakin deras bahkan akhirnya deras bagaikan gulungan ombak ditengah samudra.

sejak kecil Han siong Kie mempelajari bagaimana caranya mengatur pernapasan dan kini tanpa dia sadari dengan kepandaian yang pernah dipelajari itulah ia menyambut datangnya aliran hawa panas tersebut. kemudian mengatur melewati urat nadi dan mengelilingi sekujur badan.

Tetapi aliran panas tadi kian lama kian bertambah deras bagaikan air terjun yang membelah bumi, daya tekanannya makin lama bertambah makin dahsyat setelah mengelilingi sekujur tubuhnya hawa panas tadi mulai menerjang kearah Jen serta Tok dua nadi terpenting.

Han siong Kie merasakan sekujur badannya bergetar keras dan akhirnya diapun jatuh tak sadarkan diri

Entah berapa saat sudah lewat, perlahan-lahan sianak muda itu siuman kembali dari pingsannya, ia merasa pandangannya jadi jernih dan terang, ketika berpaling kesamping tampaklah si kura-kura tadi sudah meninggalkan dirinya dan berbaring kurang lebih delapan depa disisi kalangan.

Ia mengucak-ucak sepasang matanya untuk membuktikan bahwa apa yang dilihatnya bukanlah impian belaka. ia coba mengatur pernapasan, terasa hawa murni yang bergelora didalam badannya menggulung-gulung bagaikan ombak samudra, bahkan kedua buah urat nadi penting Jien serta Tok meh yang dimilikipun sudah tertembusi.

Ia jadi tertegun, sianak muda itu tak berani mempercayai bahwa apa yang telah terjadi merupakan suatu kenyataan, kura2 ternyata dapat mengerahkan hawa murni untuk disampaikan kepada manusia.

Kurang lebih seperminum teh kemudian ia baru sadar kembali dari lamunan, pelahan-lahan sianak muda itu bangkit berdiri dan berjalan mendekati sikura-kura tadi.

Ditemuinya kura2 tersebut telah menemui ajalnya, sementara diatas punggung kura2 itu di terukir serangkaian tulisan yang kecil rapat dan lembut sekali: Diatas kulit punggung ternyata masih ada tulisannya. hal ini benar-benar jauh berada diluar dugaan Hansiong Kie, buru2 ia bersihkan punggung makhluk raksasa tadi dari lumpur serta kotoran sehingga tulisan tadi dapat terlihat dengan lebih jelas. serangkaian kata2 pertama yang terbaca olehnya adalah berbunyi demikian: "Leng Koe sinkang, dihadiahkan bagi mereka yang berjodoh".

Han siong Kie merasakan jantungnya berdebar amat keras, ia merasa bahwa kejadian ini merupakan titik tolak dari sejarah kehidupannya dan iapun merasa bahwa dirinyalah orang yang berjodoh dengan tenaga murni tersebut.

Dengan perasaan bergolak keras ia membaca tulisan tersebut lebih jauh.

"Aku adalah Leng Koan sangjien, berhubung mengalami keadaan jalan api menuju neraka pada tahun Jien Boe maka akhirnya aku menemui ajal ditempat ini..."

Menggunakan jari tangannya Han siong Kie mulai menghitung jarak tahun Jien Boe hingga saat itu yang ternyata sudah terpaut enam puluh lima tahun, dus berarti Leng Koe sangjien telah enam puluh tahun lebih lamanya meninggal dunia ditepi sumber air mujarab dari kulit bumi ini, seandainya tiada kemustajaban air tersebut, mungkin jenasah- nya sudah hancur lebur semenjak dulu kala.

Diapun membaca lebih jauh :

"Kura kura ini sudah enam puluh tahun lamanya mengikuti diriku, sifatnya jinak dan sudah mendekati kepintaran manusia, disaat aku hendak menghembuskan napas yang terakhir, seluruh hawa murni yang ku miliki telah kusalurkan kedalam lambung kura2 ini. bagi mereka yang berjodoh memperloleh hawa sakti ini, mala ia berarti akan memiliki tenaga lweekang bagaikan hasil latihan selama seratus tahun lamanya ". Sekujur badan Ha« Siong Kie gemetar semakin keras, gumamnya seorang diri :

"Aku mungkin sedang bermimpi?? aku. ..aku telah rremperoleh tenaga lweekang bagai kan seratus tahun hasil latihan?? Kura2 sakti itu telah menyalurkan segenap hawa murninya kedalam tubuhku??Ooooh!! mulai sekarang aku mendapat kesempatan untuk membalas dendam sakit hatiku!".

Diapun membaca lebih lanjut :

"Setelah menyalurkan hawa murninya, kura kura ini pasti akan mati karena kehabisan tenaga, akan boleh mengubur bangkainya didalam satu liang bersama diriku! dibelakang ini aku wariskan pula serangkain ilmu gerakan serta ilmu pukulan yang merupakan inti sari dari seluruh kepandaian yang kumiliki sepanjang hidup, setelah berhasil menguasahi kepandaian tersebut meskipun belum dapat menjagoi dunia persilatan tanpa tandingan, tetapi kawanan Bu Lim dari golongan biasa tidak akan dapat mengalahkan dirimu, setelah rahasia ilmu itu berhasil dihapalkan. ambillah sebuah kantong kecil yang terikat dibelakang ekor kura kura ini. isi kantong merupakan sebutir pil penghancur yang dapat menghapus seluruh tulisan yang tertera diatas punggung kura kura ini. daripada rahasia kepandaian Sakti tersebut terkisar luas didalam dunia persilatan"

Han Siong Kie tarik napas panjang-panjang ia membaca lebih jauh dimana yang tertera merupakan rahasia untuk melatih ilmu gerakan tubuh, tiga jurus ilmu telapak serta ilmu Koe Sie Toa Hota yang khusus untuk mengendalikan hawa darah yang bergerak di dalam tubuhnya.

Koe sie Toa Hoat merupakan kepandaian sakti yang sudah lenyap dari peredaran Bulim, sungguh tak nyana ia mempunyai jodoh untuk mempelajarinya, semangat segera berkobar2 dan rasa girang yang bergelora di dalam dadanya sukar dilukiskan dengan kata2: Han siong Kie cerdik dan berontak encer, setelah membaca tiga kali seluruh rahasia ilmu tersebut telah hapal diluar kepala.

Ilmu gerakan tubuh tersebut bernama "Hoe Keng Keng-im " atau Cahaya Kilat Lintasan Bayangan, sedangkan ketiga jurus ilmu pukulan tersebut bernama Leng Koe sam sie, setiap jurus mengandung sembilan gerakan perubahan, meski untuk sesaat tak dapat memahami intisari yang sedalamnya, tetapi sekilas memandang dapat diketahui bahwa kepandaian tersebut merupakan ilmu pukulan yang sangat ampuh.

Akhirnya diujung paling bawah tertera pula beberapa baris tulisan kecil yang berbunyi demikian:

"selesai mengerjakan sesuatunya kau boleh tinggalkan tempat ini . belok tiga kearah timur kemudian putar empat kearah selatan maka kau telah lolos dari hutan belantara ini?".

Lama sekali sianak muda itu termenung memikirkan maksud dari belok tiga ketimur putar empat selatan... beberapa waktu kemudian akhirnya ia berseru tertahan:

"Aaaah, mengerti aku sekarang, yang di maksudkan pastilah berjalan tiga li ke arah timur kemudian putar ke arah selatan dan berjalan sejauh empat li, maka aku akan lolos dari hutan ini ......

setelah merandek sejenak, pikirnya lebih jauh: . "Kalau aku bisa melayang dari puncak pohon,

pemandangan ke arah depan akan terasa lebih luas, kenapa aku musti menerobos kesana kemari didalam hutan ini???".

Berpikir sampai disini ia segera meloncat ke atas, terasalah badannya enteng bagaikan burung walet, loncatannya itu ternyata berhasil mencapai ketinggian sejauh puluhan tombak. hal ini malah sebaliknya mengejutkan hatinya, ia segara melayang keatas dahan dan memandang ke depan. Tampaklah pepohonan amat rapat dan lebat, walaupun dari tempat ketinggian, tetapi pemandangan yang terlihat tak dapat mencapai tempat kejauhan, sekarang dia baru menyadari akan luasnya hutan belantara tersebut.

Kata-kata peninggalan dari Leng Koe sangjien ternyata memang sangat beralasan sekali, kalau tidak sumber air yang amat mustajab ini jauh sebelumnya tentu sudah ditemukan orang kangouw. setelah melompat turun dari pohon, iapun berpikir:

"seluruh tenaga Iwekang yang ditinggalkan Leng Koe sangjien telah aku dapatkan semua, meskipun didalam surat wasiatnya ia berkata bahwa kepandaian tersebut diwariskan kepada berjodoh, tetapi didalam kenyataan aku sudah terikat dalam hubungan antara guru dan murid dengan sikakek tua ini, Tata cara tak boleh dikesampingkan, aku harus menjalankan penghormatan lebih dahulu didepan layon guruku kemudian baru menuruti pesan terakhirnya untuk mengebumikan layannya bersama-sama bangkai kura-kura itu"

Berpikir sampai disitu diapun maju ke depan dan dengan hormat menjalankan penghormatan besar sebanyak delapan kali dldepan jenasah Leng Koe sangjien, bisiknya: "Tecu Han siong Kie menghunjuk hormat untuk la yon In soe".

selesai berdoa ia bangkit berdiri dan melirik sekejap kearah liang kubur yang telah dipersiapkan, kemudian membopong jenasah Leng Koe sangjien dari atas tanah untuk dipindahkan kearah liang kubur tadi.

Tetapi secara mendadak ia temukan suatu papan batu dibawah jenasah gurunya itu di atas papan batu terukir pula beberapa huruf kecil yang berbunyi demikian.

"seandainya kau menganggap saat tadi sudah memperoleh tenaga lweekang yang tinggi serta ilmu silat yang lihay, kemudian tinggalkan jenasah diriku tetap terlantar diatas bumi, maka seratus hari kemudian apa yang kau peroleh saat ini bakal lenyap tak berbekas ..".

Tanpa sadar Han siong Kie merasakan badannya bergidik keras, diam2 ia bersyukur kepada diri sendiri bahwa ia tak mempunyai maksud untuk berbuat demikian, kalau tidak niscaya bencana akan menimpa dirinya.

"singkap papan batu ini, di bawah merupakan ruang bawah tanah" Han siong Kie angguk-anggukkan kepala-nya dan berpikir:

"Leng Koen sangjien telah mengatur segala-galanya, baiklah aku laksanakan menurut pesan terakhirnya".

Maka tanpa banyak komentar ia buka papan batu itu kesamping hingga muncullah sebuah mulut gua, serangkaian anak tangga batu menjorok kebawah, suasana dalam gua terasa terang benderang bagaikan disiang hari, jelas di sekeliling situ telah dipasang batu permata atau mutiara serta benda2 berharga sejenisnya.

sesudah ragu2 sejenak. pemuda itu membopong jenasah dari Leng Koe sangjien dan menuruni undak-undakan batu itu

Pada ujung undak-undakan batu tadi merupakan sebuah ruangan batu, dalam ruangan hanya tersedia bangku, meja serta sebuah pembaringan, sedang pada atap ruangan terdapat sebutir mutiara besar yang memancarkan cahayanya menerangi seluruh ruangan, pada ujung dinding terdengar suara rintikan air yang memancar ke bawah dan mengalir keluar gua.

Han siong Kle segera membaringkan jenasah dari Long Koe sangjien diatas pembaringan batu yang disisinya terukir beberapa hurup yang berbunyi demikian:

"Disinilah manusia dan kura kura bersemayam" Kemudian pemuda itu keluar lagi dari ruangan untuk membopong masuk bangkai kura-kura tadi untuk kemudian di baringkan di sisi jenasah Leng Koe sangjien.

setelah itu barulah ia mengambil butiran obat diekor kura- kura tadi, telah dicampur dengan air segera di usapkan diatas punggung kura-kura, tulisan yang yang tertera diatas kulit makhluk itupun seketika lenyap tak berbekas.

Mendadak terdengar suara gemerisik yaag amat nyaring

bergema memecahkan kesunyian secara tiba-tiba pembaringan batu itu bergerak turun ke arah bawah.

Han siong Kie yang menjumpai keadaan itu jadi amat terperanjat, dengan termangu-mangu ia awasi pembaringan batu tadi turun kebawah hingga mencapai lima depa dan berhenti, kemudian sebuah papan baru perlahan-lahan muncul dari arah samping dan tepat menutupi liang bekas tempat pembaringan batu tadi

Keadaan ruanganpun dengan cepat pulih kembali seperti sedia kala, kecuali kurang selembar pembaringan.

"Aaaah sungguh suatu persiapan yang amat masak " seru

sianak muda itu tanpa sadar.

Belum ia berkata tampak selembar kertas melayang jatuh dari atas atap ruangan, ia segera pungut kertas tadi dan membaca isinya :

"Hati jujur dan tulus ikhlas, bocah cilik, kau memang mengembirakan hatiku.".

Membaca sampai disini Han siong Kie tak tertahan tertawa geli, pikirnya:

"Apakah pada enam puluh tahun berselang Leng Koe sangjien telah dapat menduga kalau orang yang bakal tiba disini adalah seorang pemuda yang masih muda belia seperti aku??? atau adalah seorang kakek tua, ucapan si "bocah cilik" itu bukanlah bisa dijadikan suatu lelucon yang sangat menggelikan???".

Bepikir sampai disini, iapun meneruskan kembali membaca surat tersebut:

" Sumber air didalam batu merupakan sumber utama

dari air mujarab, siapa yang minum air tersebut dapat menghilangkan rasa lapar dan rasa dahaga. Meskipun kau telah berendam didalam sumber air hingga berganti kulit tulang dan memperoleh pula hawa murni yang disalurkan kura-kura sakti, tetapi kau harus merendamkan diri lagi selama tiga hari didalam sumber mata air yang ada di dalam ruangan ini, dengan begitu hawa murni yang didapatkan baru bisa bergabung jadi satu dengan hawa murni didalam badan. sedangkan untuk melatih ilmu Koe sie Toa Hoat kaupun harus mengandalkan kekuatan dari sumber mata air ini, seratus hari kemudian bisa diharapkan suatu hasil yang gemilang, kemudian dengan segenap tenaga hantamkan ke arah sumber mata air ini sebanyak tiga kali, apa bila tidak menemukan suatu pertanda apapun, berlatihlah kembali selama seratus hari. "".

Berbicara sampai disini Han Siong Kia pun sudah mengerti apa yang dimaksudkan oleh Leng Koe sangjien, maka diapun mengikuti petunjuk tersebut dan mulai berlatih diri didalam ruang batu itu.

Seratus hari dalam sekejap mata sudah lewat, terhadap kepandaian silat yang diwariskan Leng Koe sangjien di atas punggung kura-kuranya pun sianak muda itu sudah hapal di luar kepala.

Dengan perasaan hati yang bergolak keras ia menatap dinding batu dimana terdapat sumber mata air tajam2, lama sekali ia memandang namun belum juga mengerti apa yang dimaksudkan gejala aneh oleh gurunya, ia harusnya merasa bahwa semua persiapan itu diatur dengan amat sempurna dan misterius. Maka diapun menghimpun segenap tenaga-nya kedalam telapak kemudian melancarkan tiga buah serangan dahsyat ke arah dinding batu dimana terdapat sumber mata air itu

Suara ledakan dahsyat segera menggeletar memekikkan telinga, dinding batu dimana terdapat sumber mata air tadi setelah termakan oleh pukulan yang amat dahsyat tadi mendadak bergerak tiga depa kedalam dan lenyaplah sumber mata air tadi.

000dewi000

BAB 5

DENGAN wajah tertegun Han siong Kie berdiri menjublak ditempat semula, ia tidak habis mengerti apa yang dimaksudkan mendiang gurunya untuk berbuat begitu.

criiing... tiba2 terdengar suara gemerincingan bergema disisi tubuhnya diikuti terasalah sebuah benda yang memancarkan cahaya berkilauan secara tiba2 terjatuh dari atas dinding gua tersebut.

Ia segera mendekati benda tadi mau mengambilnya yang ternyata bukan lain adalah sebuah telapak tangan terbuat dari tembaga hitam, diikuti secarik kertaspun melayang jatuh kebawah.

Dengan hati tercengang dipungutnya pula kertas tadi, tapi dengan cepat si anak muda itu sudah berteriak keras dengan sekujur badan bergetar keras: "Aaaah. Hoed Chiu Poo Pit... kitab pusaka Tangan Buddha ".

Ia teringat kembali akan ucapan dari susioknya si telapak naga beracun Thio Lien

yang pernah menceritakan kepadanya akan kisah benda pusaka yang tak ternilai harganya itu, sungguh tak nyana akhirnya benda tadi ditemukan olehnya. Di atas Hoed Chiu Poo Pit tersebut termuat serangkaian ilmu silat yang maha sakti yang disebut tlmu "sie Mie sinkang" kepandaian ini begitu dahsyat sehingga ilmu" Toan Yoe sinkang" dari partai siauw limpun tak sanggup untuk menandingi, hanya jarang sekali ada orang yang pernah menyaksikan sendiri kehebatan ilmu tersebut.

sepasang tangannya mulai gemetar keras, ia pejamkan matanya rapat-rapat dan berusaha keras menenangkan hatinya yang bergolak keras.

Ia terbayang kembali akan suasana di dalam perkampungan keluarga Han, tulang tengkorak berserakan dimana-mana... dua ratus jiwa ditambah jiwa susioknya si telapak naga beracun Thio Llen sekeluarga, semua-nya telah musnah ditangan si Tengkorak darah.

Dendam kesumat seperti ini lebih dalam dari samudra, rasa bencinya lebih besar dari langit, Bagaimanapun juga sakit hati ini harus dituntut balas.

Tengkorak darah... si Pemilik Benteng Maut, tak dapat membayangkan sampai di manakah lihaynya ilmu silat yang dimiliki pihak lawan, sebab si pengemis dari selatan serta si padri dari utara pun bukan tandingannya semua, tetapi seandainya ia berhasil mempelajari ilmu see Mi ciang?

sinar matanya dialihkan kembali keatas kertas itu dan membaca lagi isinya:

"Hod Chiu Poo Pit berhasil aku dapatkan pada tiga puluh tahun berselang, tetapi didalam melatih kepandaian tersebut ternyata aku menderita jalan api menuju neraka, saat itulah aku baru sadar bahwa kitab pusaka ini semestinya terdiri dari kiri dan kanan, tapi keadaan sudah terlambat dan menyesalpun tak ada gunanya, Kitab yang ku dapatkan adalah bagian yang kanan, dimanakah yang sebelah kiri aku sendiripun tak habis mengerti, kejadian itu merupakan suatu hal yang patut disesalkan sepanjang hidupku, bagi mereka yang berjodoh apabila berhasil memenuhi harapanku dengan menggabungkan sepasang telapak tangan itu hingga berhasil melatih ilmu yang sangat dahsyat tanpa tandingannya dikolong langit ini, akupun akan ikut tersenyum dialam baka".

Han siong Kie merasakan hatinya terjelos, kalau memang Hoed Chiu Poo Pit terdiri dari sepasang, lalu yang separuh dia harus pergi cari dimana.?

Jagad begini luas dan lebar, untuk menemukan separuh belah benda pusaka sudah tentu merupakan suatu kejadian yang amat sulit.

seandainya telapak Budha yang lain tidak berhasil ditemukan, bukankah yang sebelah ini sama artinya dengan benda yang tak berharga?? Leng Koe sangjien yang begitu lihaypun, hanya kurang hati-hati mengakibatkan kematian yang disesalkan untuk selama nya, apalagi dia?

-000dewi0kz000-