Tengkorak Maut Jilid 01

 
Jilid 01

BENTENG MAUT!!

Dalam pandangan orang2 dunia persilatan, tempat itu merupakan sebuah istana yang mendatangkan maut bagi siapa yang berani mendekatinya.

Benteng kuno itu dibangun diatas sebidang tanah berbatu karang yang dikelilingi oleh tiga buah aliran sungai.

Pintu depan benteng yang menghadap ke arah daratan selalu terbentang lebar dan memperlihatkan sebuah pintu yang gelap gulita di atas dinding tembok tertera dua huruf besar yang cukup membetot hati siapapun yang menyaksikan: Benteng Maut

Dibawah dua huruf besar tadi terdapat pula sebuah tengkorak merah darah yang nampak menyeramkan.

Itulah lambang maut dari pemilik benteng kuno itu.

Selama hampir tiga puluh tahun lamanya di dunia persilatan tercekam dalam ketakutan, kengerian yang seolah- olah hari kiamat hampir tiba, sebagian besar jago2 dari kalangan Bu lim banyak yang mati binasa dalam keadaan penasaran, banjir darah melanda dimana-mana.

Semua peristiwa berdarah yang terjadi selalu diakhiri dengan tertinggalnya lambang Tengkorak maut disisi setiap korban..

Kebrutalan serta kekejaman Tengkorak maut membuat orang jadi ketakutan dan menjuluki dirinya sebagai malaikat elmaut.

Tetapi... lima belas tahun berselang, tiba-tiba pintu benteng itu tertutup rapat Tengkorak maut tak pernah muncul kembali di dalam dunia persilatan, seluruh Bu lim pun terlepas dari cekaman rasa takut dan ngeri.

sementara orang menduga tengkorak maut telah menghembuskan napasnya yang terakhir tetapi kenyataan membuktikan lain, sebab setiap rombongan orang Bu lim yang berangkat menyelidiki rahasia Istana maut tak seorangpun yang kembali dengan selamat. Teka teki... peristiwa itu merupakan suatu tanda tanya besar bagi semua orang.

Malam mencekam seluruh jagad, udara gelap gulita tidak nampak cahaya bintang maupun rembulan... begitu pekat hingga melihat ke lima jari sendiripun susah.

Kilat menyambar2 diiringi suara gemuruh guntur yang bergeletar membelah bumi, kilatan tajam mendatangkan kilatan cahaya yang menerangi seluruh jagad.

Angin berhembus kencang mengiringi desiran yang menusuk pendengaran, menyapu seluruh benda di sekitar nya

.... ranting, daun dan debu berterbangan memenuhi angkasa...

Didalam sebuah dusun yang kecil nampak sesosok bayangan manusia sedang melaku-kan perjalanan dengan cepat menyeberangi jalan.

Kilat kembali menyambar... kali ini terlihat lebih jelas lagi, kiranya bayangan tadi adalah dua sosok tubuh yang saling berpanggulan, seorang pemuda berusia tujuh delapan belas tahunan dengan membopong seorang pria berusia pertengahan sedang melakukan perjalanan cepat..

Sang pemuda berwajah tampan berperawakan kekar, sedang sang pria berusia pertengahan itu kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang, napasnya kempas kempis dan rupanya sedang menderita sakit parah.

"Ayah " terdengar pemuda itu bergumam "Rupanya

sebetar lagi akan turun hujan badai yang amat deras" Pria berusia pertengahan yang ada didalam dukungannya mendengus lalu mengangguk.

"Benar, hujan bakal turun dengan deras nya inilah suatu

saat yang paling bagus bagi kita". "Apa??? saat yang paling bagus ???. " "Ehmm. sedikitpun tidak salah"

"Ayah, ananda tidak paham dengan maksudmu "

"setelah tiba ditempat tujuan nanti, kau akan segera mengerti"

"Ayah, mengapa kau harus memilih disaat yang paling jelek untuk keluar rumah???, sakit mu. "

"Nak. sebentar lagi kau akan paham dengan sendirinya, ayoh cepat berangkat".

Guntur membelah bumi menggetarkan seluruh permukaan bumi, kilat kembali menyambar dan hujan deras mulai membasahi seluruh tempat... "Ayah, hujan telah tiba .. bagaimana kalau kita ketempat berteduh ???".

"Tidak. tidak usah, cepatan dikit.." "Tapi ayah.... sakitmu "

"Justru karena aku, aku sakit. Aaai anakku. tak usah banyak bicara lagi, masih jauh kah, perkampungan keluarga Han??"

"Kita akan segera tiba ditempat tujuan, setelah belok tikungan bukit sana" Kilat menyambar menerangi jagad, guntur bergeletar menerangi angkasa.

Hujan deras diiringi hembusan angin puyuh melanda seluruh jagad, begitu dahsyat hujan yang turun membuat tanah jadi berlumpur dan sangat becek. setelah membelok sebuah tikungan bukit, akhirnya terlihatlan bayangan sebuah perkampungan muncul di hadapan mereka. "Kita sudah...saam..saampai...nak .."

Pemuda itu mempercepat langkahnya masuk kedalam pintu perkampungan.

setibanya dalam ruangan, pemuda itu menurunkan pria berusia pertengahan tadi keatas tanah, lalu diapun duduk bersandar disisinya.

Dibawah kilatan cahaya petir, tampak pintu perkampungan itu sudah lapuk dan bobrok, sarang laba2 bergelantungan di- mana2, debu yang menempel diatas lantai sangat tebal.

"Ayah, apakah perkampungan ini sudah lama tidak dihuni orang ??".

"Benar."

Dengan lemas pria berusia pertengahan itu menyandarkan diri ditepi pintu, napasnya tersengkal dan wajahnya berubah jadi pucat pias. bagaikan mayat.

"Ayah...kau:..kenapa kau??" jerit pemuda tadi. "Nak...mari mari kita, masuk ke dalam .."

"Tapi ayah...keadaanmu bertambah payah, kita lebih baik beristirahat dulu sejenak"

"Masuk."

Dari balik mata pria berusia pertengahan itu mendadak memancar keluar sorot cahaya yang sangat aneh, wajahnya berkerut kencang, dengan kerahkan segenap kekuatannya ia menghardik keras.

Pemuda itu bergidik dan berdiri menjublak tapi sejenak kemudian ia sudah mendukung kembali tubuh ayahnya masak ke dalam perkampungan. Hujan badai telah berhenti, gunturpun telah sirap. dengan perasaan ragu, sangsi dan penuh tanda tanya pemuda itu perlahan2 berjalan masuk kedalam perkampungan, ia tidak mengerti apa sebabnya siorang tua itu tidak mempedulikan sakitnya yang parah, di tengah hujan badai yang amat deras mengajak dia mengunjungi perkampungan yang sudah usang dan terbengkalai ini.

Bayangan hitam yang seram dan mengerikan segera mencekam perasaan si anak muda itu.

Jendela yang lapuk berbunyi gemericikan nyaring terhembus angin yang kencang, bayangan hitam dari tiang penglari, sudut ruang di balik pintu se akan2 berubah jadi bayangan setan yang mendirikan bulu roma.

"Ayah..." seru pemuda itu tak tertahan.. "Bu...bukankah kau...kau merasa taa. . takut nak???" "Tiiii . . tidak . . aku tidak . merasa takut"

Awan hitam perlahan2 membuyar, rembulan muncul dari balik kegelapan yang mencekam seluruh jagad dan memancarkan sinarnya menerangi perkampungan yang terbengkalai itu hingga mirip dengas sarang hantu.

Mendadak... pemuda itu merasakan kakinya tersentuh sesuatu benda hingga hampir saja ia jatuh tertelungkup, , cepat ia tunduk kan kepalanya untuk memeriksa..

"Aaaaah..." ia menjerit tertahan, badannya jadi merinding dan bulu roma pada bangun berdiri sesosok tengkorak putih menbujur diatas lantai.

Diikuti dari balik semak belukar, sudut ruangan, beranda... semuanya nampak tengkorak yang berceceran di-mana2.

Dua...tiga...empat...seluruh ruangan penuh berisikan tulang tengkorak manusia yang bergelimpangan di mana2.. Pemuda itu segera menghentikan langkah kakinya, sekujur badan gemetar keras, giginya saling bergemerutukan nyaring.

Kegelapan yang mencekam perkampungan yang terbengkalai.. serta tulang tengkorak manusia yang berserakan di mana2.

Api setan yang seakan2 datang dari arah yang tak diketahui ujung pangkalnya ini menciptakan suatu pemandangan yang menyeramkan, mengerikan hati...

"Ayah apa yang terjadi..." seru pemuda itu. "Jaa...jangan banyak bertanya, masuk ke dalam ruangan

tengah...".

si anak muda itu ragu2 untuk melanjutkan langkah kakinya, ia tak berani membayangkan pemandangan ngeri apa lagi yang akan ditemui diruang tengah, dalam benaknya telah dipenuhi dengan be ratus2 macam pertanyaan tetapi tak sebuahpun yang sanggup diutarakan keluar.

Tapi secara lapat2 iapun dapat merasakan bahwa peristiwa yang dialaminya matam ini bukan kejadian biasa. Ayahnya tidak nanti tanpa alasan mengajak ia datang kedalam perkampungan bobrok yang penuh dengan tulang berserakan ditengah malam hujan badai yang deras.

"Ce...cepat masuk keruang tengah". terdengar pria berusia pertengahan itu ter batuk2 dan membentak.

" Kalau tidak kau...kau se lama hidup akan menyesal".

Dengan perasaan bergidik bercampur kaget pemuda itu mengiakan dan segara meneruskan langkahnya masuk kedalam ruangan.

Ruang tengah gelap gulita, sarang laba2 bergantungan dimana2, debu sangat tebal dan menyiarkan bau busuk yang sangat tak enak dibadan. sekilas cahaya rembulan sempat menerobos masuk kedalam ruangan lewat celah2 dinding yang retak. menerangi sedikit ruangan yang gelap dan apek itu. Kembali ia saksikan tengkorak manusia berserakan ditengah ruangan tersebut.

Tak tahan lagi si anak muda itu berseru terperanjat, ia semakin bingung dan tak habis mengerti kenapa ayahnya mengajak dirinya mengunjungi rumah hantu semacam ini.

"Tuu turunkan aku", seru pria berusia pertengahan itu.

Pemuda tadi mengiakan dan menurunkan ayahnya keatas lantai, tapi tatkala ia berpaling pemuda itu segera berdiri menjublak. terasa olehnya bahwa ia sedang bermimpi jelek:

Untuk pertama kalinya ia saksikan sang ayah yang bewajah ramah dan penuh kasih sayang itu menunjukkan mimik yang menakutkan, suatu perubahan air muka yang menjijikkan..

"Ayah. . .kau.." jeritnya keras2.

"Aku. . .aku bukan ayahmu " teriak pria tadi.

Dengan hati terkesiap si anak muda itu mundur satu langkah ke belakang, dalam pikiran nya mungkin sang ayah berada dalam keadaan tak sadar, mungkin pikirannya tidak jernih.

"Nak" terdengar pria berusia pertengahan itu berkata lagi. "Berikan separuh .... separuh Jin som itu kepadaku..."

Dengan wajah kebingungan pemuda itu mengambil keluar sebuah bungkusan kecil dari sakunya lalu diserahkan kepada pria tadi.

setelah menerima bungkusan tersebut, pria itu membuka bungkusan tadi lalu mengambil jin som dan ditelannya kedalam perut.

sesaat kemudian semangat serta kesegaran nya telah pulih kembali. "Ayah bukankah sejak tadi telah kunasehati untuk menelan separuh buah jinsom tersebut, mungkin penyakitmu tidak akan berubah jadi separah ini...".

Pria berusia pertengahan itu tidak menggubris perkataan putranya, dengan wajah berkerut kencang dan menunjukan mimik yang mengerikan ia alihkan pandangannya ke arah sesosok tulang tengkorak manusa yang membujur disisinya penuh rasa hormat.

sang pemuda yang menyaksikan tingkah laku ayahnya makin lama semangkin bingung.. kian lama kian bertambah terperanjat. sehabis menyembah kearah tengkorak tadi, titik- titik air mata nampak mengucur keluar membasahi pipinya yang kurus dan peot.

"Ayah . . " kembali pemuda itu berseru. "Aku bukan ayahmu!".

"Kau . . kau orang tua ... "

"sekarang dengarkanlah baik2 " terdengar pria berusia pertengahan itu dengan wajah hijau membesi dan sorot mata menggidikan menatap sianak muda itu tajam2.

" Aku bukan ayahmu, aku adalah paman gurumu yang disebut orang si telapak naga beracun Thio Lien".

"Ayah . . . "jerit pemuda itu dengan suara gemetar dan hati bergetar keras:

sepasang mata pria berusia pertengahan itu melotot besar, tukasnya dengan suara seram:

"Aku bukan ayahmu, aku adalah paman gurumu sitelapak naga beracun Thio Lien".

"Paaaa...paman guru???". "Tidak salah".

"Kalau begitu, keponakan bukan she Tio?" "Tidak kau she Han".

"Aku she Han??" badan sianak muda itu mulai gemetar keras: "Benar. kau she Han. Ingat baik2, namamu adalan Han siong Kie..."..

"Han siong Kie???".

" Ehm ayahmu bernama Han Hoei, dia adalah Jie suko ku ".

sekilas bayangan hitam berkelebat dalam benaknya, Han siong Kie merasa hatinya bergidik dan bulu roma pada bangun berdiri

"Lalu ayahku..."

"Dialah tulang tengkorak dari jie suhengku dialah tulang tengkorak dari ayahmu " seru sitelapak naga beracun sambil menuding kearah tulang membujur disisi tubuhnya.

Bagaikan disambar petir disiang hari bolong Han siong Kie merasa dadanya jadi sesak. pandangan matanya jadi gelap dan tak tahan lagi ia berteriak keras: "Ayah. . ."

Tubuhnya menubruk keatas tulang tengkorak tadi dan jatuh tak sadarkan diri

Dengan susah payah si telapak naga beracun Thio Lien menyalurkan jari tangannya dan menotok beberapa buah jalan darah di atas tubuh pemuda she Han tersebut.

Perlahan-lahan Han siong Kie tersadar kembali dari pingsannya, ia menyembah beberapa kali dihadapan tulang tengkorak ayahnya lalu dengan suara keras ia menjerit: "susiok apakah perkampungan ini adalah rumah kediamanku??"

"Tidak salah"

"Tulang tengkorak manusia yang berse-rakan diseluruh perkampungan ini " "Mereka anggota keluarga serta anggota perkampunganmu, semuanya berjumlah dua ratus jiwa". .

"siapakah yang melakukan pembunuhan brutal ini????"". "Dengarkan dulu ceritaku. pada hari Tiong Yang lima belas

tahun berselang, aku dengan membawa sutemu datang mengunjungi ayahku, waktu itu kau masih berusia tiga tah sutemu adalah sebaya dengan usiamu hanya dia lebih muda dua bulan. Disaat kami sedang berbicara dan bercerita dengan riang gembira itulah tiba2 bencana datang dari atas langit,jie suheng segara melemparkan dirimu kepadaku sambil berpesan: sute, tolong, selamatkanlah keturunan keluarga Han kami.."

Mendengar sampai disini Han siong Kie merasakan pandangannya jadi ber kunang2, sambil menggertak gigi kencang2 ia berusaha menahan golakan emosi dalam hatinya.

"Waktu itu aku telah bertekad untuk berjuang sampai titik darah penghabisan" terdengar sitelapak naga beracun Thio Lien melanjutkan kembali kisahnya." Tetapi pesan terakhir dari ayahmu tak dapat kutampik, maka disaat terakhir, aku membopong tubuh mu dan meloncat kedalam sebuah sumur kering ditengah halaman . . . ".

"Lalu dimanakah sute???".

"Dia . . dia telah mati konyol mewakili dirimu" sahut Thlo Lien dengan mata melotot besar:

Han siong Kie tak kuasa menahan diri, ia muntah darah segar.

si telapak nega beracun Thio Lien melirik sekejap kearahnya, lalu melanjutkan:

"Ketika aku membawa kau merangkak ke luar dari sumur tua itu, seluruh isi perkampungan telah porak poranda . . tak seorang manusiapun berada dalam keadaan hidup," Han siong Kie menjerit keras, sekali lagi ia muntah darah segar dan badannya mundur dengan sempoyongan. "Dimanakah ibuku??". .

"Ibumu??" Thio Lien menggigit giginya.

" Kenapa dengan ibuku???" satu ingatan jelek kembali berkelebat dalam benak sianak muda itu

"Ibumu bernama Say Siang Go, si siang Go cantik ong coei Ing, pada lima belas tahun berselang merupakan wanita tercantik didalam dunia persilatan"

"Apakah ia tidak mati didalam peristiwa berdarah itu???". "Tidak "

"Kenapa ???".

"Kejadian itu merupakan suatu teka teki hingga kini hanya dia seorang yang masih hidup dalam keadaan segar bugar".

"sekarang ibuku berada dimana??? susiok apakah kau tahu??"

"Aaaai... " sitelapak naga beracun Thio Lien menghela napas sedih.

"Nak lebih baik kau tak usah menanyakan persoalan ini"

"Tidak " Jerit Han siong Kie sambil gelengkan kepalanya

berulang kali. "Aku ingin tahu susiok aku ingin tahu nasib yang dialami ibuku".

"Dia sudah menikah lagi"

"Apa??? ibuku menikah lagi ????" sekujur tubuh pemuda she Han ini menggetar keras, hampir saja ia tak sanggup menahan golakan hati yang terasa amat berat itu.

"sedikitpun tidak salah".

"Apakah dia tahu kalau aku masih di dunia dikolong langit

?" "Ia Tahu".

"Kenapa ia tidak datang mencari diriku?"

"Aku pernah membawa dirimu pergi mencari dirinya, tapi hampir saja kita berdua mati konyol diujung telapak tangannya, berulang kali dia memperingatkan diriku, katanya apabila lain kali sampai bertemu lagi, maka jiwa kita berdua pasti akan dicabut. oleh sebab peristiwa inilah selama lima belas tahun lamanya aku tak berani munculkan diri didalam dunia persilatan"

Han siong Kie menjerit keras dan sekali lagi muntah darah segar, ia tidak menyangka kalau dirinya ternyata memiliki seorang ibu yang begitu kejam bagaikan kalajengking...

Blaam pemuda itu tak sanggup berdiri tegak lagi dan segera jatuh terduduk diatas tanah. "Apakah ia tidak mempunyai rencana untuk membalas dendam kematian bagi keluarganya??"

"Anak kandung sendiripun sudah tidak mau, apa lagi membicarakan soal pembalasan dendam"

"Suatu hari aku... aku mau membinasakan dirinya. " "Apa? kau headak membunuh ibumu sendiri??? "

Han siong Kie menutupi wajahnya dengan sepasang tangan lalu menangis ter-sedu2. "Ya a h Allah kenapa kau bisa mempunyai seorang ibu macam begini.??..".

"Nak. bagamanapun juga akhirnya kau telah tumbuh jadi dewasa, tetapi karena terikat oleh sumpah aku tak dapat mewariskan segenap kepandaian silat yang kumiliki kepadamu, namun dalam lima belas tahun belakangan ini kau sudah memiliki dasar tenaga lweekang yang cukup kuat, asal kau dapat bertemu dengan guru pandai tidak sulit untuk memperoleh kemajuan yang pesat. Nah. sekarang kau boleh pergi". "Susiok. kau bilang apa???" seru Han siong Kie dengan hati terkesiap. matanya terbelalak dan mulutnya melongo.

"Aku minta kau segera tinggalkan tempat ini " "Aku disuruh tinggalkan tempat ini??". "Benar."

"Lalu bagaimana dengan susiok???".

"Aku sudah mencuri hidup selama lima belas tahun lamanya, tugas yang dititipkan jie suheng kepadakupun sudah selesai sekarang aku sudah sewajarnya untuk menyusul diri Jie suhengku"

"susiok, kau... " seru Han siong Kie dengan hati sedih, ia sebera merangkak kehadapan telapak naga beracun Thio Lien dan berlutut di hadapannya.

"Nak, tindakan ini merupakan peraturan dari perguruan, kau tak bakal mengerti"

"Tidak susiok. kau tak boleh..." "Nak, itu namanya nasib"

"Bagaimanapun juga kau harus mengerti dan memahami "

"susiok. kau telah mengorbankan jiwa sute demi menyelamatkan jiwaku, selama lima belas tahun kaupun telah mendidik dan memelihara aku, budi kebaikan yang sedalam lautan ini meski badan titjie harus hancur lebur pun tak akan terbalas.".

" omong kosong kesemuanya itu cuma omong kosong. " "Tidak susiok. aku tidak akan membiarkan dirimu. ." "Apakah kau hendak memaksa aku untuk menghianati

perguruan?? kau hendak paksa aku melanggar peraturan?? "

"Tetapi.. .susiok bagaimanapun juga kau harus mengatakan dulu alasan2nya". "Tidak bisa, ini adalah perintah dari perguruan yang tak dapat dibangkang..."

Makin dipikir Han Siong Kie merasa semakin bimbang dan tidak habis mengerti, ia tak dapat menangkap maksud perkataan dari susioknya barang sepatah katapun.

"Susiok, lalu siapakah musuh besar kita.??" akhirnya ia bertanya lagi setelah termenung beberapa saat lamanya.

"Kau tak usah tahu siapakah musuh besar kita.. " "Kenapa?? apakah..."

"Ingat" seru si telapak naga beracun Thio Lien dengan mata bercahaya tajam. Pertama kau tidak diperkenankan membicarakan atau mengungkap asal usulmu kepada siapapunjuga. Kedua. dilarang mengubur tulang belulang yang berserakan ditempat ini. Ketiga, Dilarang membalas dendam"

"Susiok, kau sedang mengatakan soal apa?" jerit sianak muda itu pedih.

"Ini perintah dari paman gurumu, kau tak boleh melanggar."

"Susiok, ingatanmu mungkin tidak..."

"Omong kosong, aku segar bugar otakku jernih dan tidak melantur"

"Lalu kenapa aku tak boleh membalas dendam??". "Kau tak usah bertanya mengapa, ayahmu yang ada

diakhirat pasti mengerti dan memahami keadaan sebenarnya

dan ia pasti dapat menyetujui tindakan yang telah kuambil ini."

"Kalau begitu tit-jie tolong tanya nama dari perguruan kami??".

"Masa yang sudah silam tak usah dibicarakan lagi, lebih baik kau tak usah tahu tentang hal itu lagi". "Lalu ibuku yang berhati kejam bagaikan kala itu telah kawin lagi dengan siapa?".

"Kauwcu dari perkumpulan Thian Che Kauw" "Macam apakah Thian Che Kauwcu itu???"..

"Persoalan ini mungkin jarang ada orang yang bisa menjawab. Thian Chee Kauwcu adalah pemimpin dari suatu perkumpulan terbesar di kolong langit dewasa ini, kedudukan nya tinggi dan kekuasaannya meliputi seluruh dunia persilatan".

"susiok. titrjie selama ini tak pernah mendengar susiok membicarakan tentang diri susiokbo."

sinar kebencian dan penuh rasa dendam memancar keluar dari telapak naga beracun Thio Lien.. sesaat kemudian dengan nada sedih ia menjawabi "Apa yang telah terjadi persis seperti peristiwa berdarah yang dialami oleh keluargamu, hanya kejadian itu berlangsung tiga hari setelah aku tinggalkan rumah."

Dalam sedihnya yang kelewat batas Han siong Kie masih sempat merasakan hatinya bergetar keras setelah mendengar perkataan itu, ia hampir saja tidak mempercayai apa yang dikatakan susioknya sitelapak naga beracun Thio Lien terhadap dirinya, sebab apa yang terdengar olehnya hampir mendekati tidak masuk diakal.

Mengapa keluarga Han dan keluarga Thio mengalami peristiwa berdarah hampir bersamaan waktunya?? dan dia mengapa di larang untuk membalas dendam serta mengubur tulang belulang yang berserakan diseluruh perkampungan usang itu???

Dalam pembicaraannya, setiap kali sang susiok menegaskan bahwa itu perintah perguruan, apa yang dia maksudkan?? Apakah peristiwa berdarah ini mempunyai hubungan yang erat dengan dendam berdarah dari perguruan angkatan sebelumnya?? Kenapa susioknya tak mau menerangkan tentang perguruannya???

selama belasan tahun mereka hidup berdampingan sebagai ayah dan anak... hubungan itu demikian rapat dan eratnya..

Belum habis dia berpikir, terdengar si telapak naga beracun Thio Lien telah menjerit sedih:

"Suhu, tecu sudah mencuri hidup lima belas tahun  lamanya, ini hari aku baru berhasil menyelesaikan perintahmu"

.

Plooook diiringi dengusan napas barat, tampaklah darah segar berhamburan keempat penjuru, siorang tua she Thio itu telah menghantam ubun2 sendiri hingga hancur berantakan, otak bermuncratan ke mana2 dan jiwanya segera melayang meninggalkan raganya.

Dengan perasaan tertegun... kaku. Han siong Kie menyaksikan drama seram itu berlangsung dihadapan matanya, ia tidak menangis pun tidak bersuara. seakan2 segala sesuatunya sudah jauh meninggalkan dirinya.. seolah- olah ia sudah bukan termasuk didalam dirinya, yang terlihat saat itu hanyalah kegelapan yang kelabu serta kegirangan yang menyelubungi seluruh tubuhnya.

Ia merasa se akan2 dirinya sudah berada didunia yang lain, disuatu tempat yang hampa ... kosong...

Thio susiok telah bunuh diri dan ia berkata bahwa kesemuanya itu adalah perintah perguruan, kenapa??

Ia dilarang membicarakan soal asal usulnya, dilarang mengubur tulang belulang yang berserakan, dilarang membalas dendam

Kenapa?? kenapa demikian???? apa yang sebenarnya sudah terjadi ??? Malam semakin kelam udara semakin dingin ia berdiri seorang diri ditengah kesunyian.

-000dw000-

BAB 2

FAJAR telah menyingsing, sang surya perlahan2 muncul diufuk sebelah timur dan memancarkan sinarnya menembusi celah2 jendela, menerobos ruang yang luas dan menyinari mayat Thio Lien serta tulang berulang yang berserakan di mana2.

Han song kie mendusin dan sadar kembali dari kesedihan yang kelewat batas, kengerian yang terbentang dihadapan wajahnya membuat hatinya layu ... perih.. bercampur dendam.

Mendadak...ia temukan bayangan bewarna merah diatas dinding tembok. cahaya itu seperti lukisan sebuah lambang, maka didekatinya dinding tadi dan membersihkannya dari kotoran debu, sesaat kemudian terlihatlah sebuah lukisan tengkorak darah diatas dinding tadi. .

Tengkorak darah itu melambangkan apa??

Mungkinkah tanda pribadi dari musuh besarnya? ataukah lukisan dari mendiang ayahnya???...

"Aku harus membalas dendam aku harus menyelidiki peristiwa ini hingga jelas ".

sambil menjerit-jerit ia lari keluar perkampungan, bagaikan sukma gentayang berkeliaran dijalan raya....

Mimpipun ia tak pernah menyangka kalau dirinya menpunyai asal usul yang begitu mengerikan begitu

memedihkan hati. Ia teringat kembali keluarganya yang musnah dalam keadaan mengerikan, ia teringat pula budi pertolongan Thio susiok nya yang telah memeliharanya dan mendidik dirinya selama lima belas tahun, budi kebaikan ini selamanya tak akan bisa dibalas....

Ibunya si siang Go cantik ong Coei Ing menurut Thio

susioknya adalah perempuan tercantik diseluruh kolomg langit, tetapi diapun merupakan wanita paling kejam paling berbisa hatinya dikolong jagat, bukan saja ia tak mau mengakui anak kandungnya sendiri, tak mau membalaskan dendam atas peristiwa berdarah itu bahkan malah kawin lagi dengan orang lain....

Ia merasa sakit hati, merasa dendam dan malu malu

karena mempunyai seorang ibu semacam itu.

Dalam semalam suntuk, la telah berubah jadi seorang manusia yang lain Benci, dendam, marah dan malu telah bercampur aduk didalam benaknya, mencair dan menjadi satu dengan darahnya.

Diatas raut wajahnya yang tampan terlintas perasaan dingin yang menyeramkan membuat siapapun yang memandang merasa bergidik dan ngeri.

sorot matanya memancarkan cahaya tajam penuh kebencian, penuh perasaan dendam yang mendalam.

Bagaikan sukma gentayangan ia berjalan, ia berjalan terus tanpa arah tujuan Mendadak... suara.. bentakan nyaring berkumandang disisi telinganya.

"Hey, kalau jalan kau pakai matamu atau tidak?? ngawur saja seenaknya..."..

Bagaikan baru sadar dari impian Han siong Kie tersentak kaget, lalu angkat kepala nya, tampaklah dua orang dayang berwajah cantik telah berdiri dihadapan matanya sementara empat orang pria kekar yang menggotong sebuah tandu kecil mangikuti di belakang dayang tadi.

Disaat sianak muda itu mendongak itulah mendadak kedua orang dayang tersebut melenggak. lalu sambil menutupi mulutnya tertawa cekikikan, empat biji mata yang bening berseliweran memperhatikan sekujur tubuhnya.

Dengan dingin dan ketus, Han siong Kie melirik sekejap lawannya, kemudian putar badan dan meneruskan perjalanannya lewat sisi jalan.

" Kembali", serentetan suara bentakan yang mengandung besi semberani berkumandang keluar dari dalam tandu.

Han song Kie sama sekali tidak menggubris tanpa berpaling barang sekejappun ia meneruskan perjalanannya menuju ke depan.

Angin berbau harum berkelebat lewat, mendadak sianak muda itu merasakan pandangannya nanar. sesosok bayangan manusia tahu-tahu sudah menghadang dihadapannya.

Han siong Kie tanpa sadar telah menghentikan langkah kakinya dan mendongak, tampaklah seorang perempuan muda, berbaju merah yang amat cantik telah menghadang dihadapan mukanya. perempuan itu kira-kira dua puluh tahunan wajahnya menunjukkan kegenitan serta kejalangan yang tebal.

"Hey kau dengar tidak. perkataanku??.." suaranya merdu dan enak didengar.

Begitu melihat perempuan muda berbaju merah ini, HanSiong Kie segera teringat kembali akan ibunya, rasa benci dan mendendam seketika muncul didalam hatinya, tanpa sadar mendengus dingin dan melengos ke samping...

Perempuan itu jadi tercengang menyaksikan tingkah laku lawannya, belum pernah ia berjumpa dengan seorang pria yang sama sekali tidak ambil perduli terhadap dirinya, disamping itu perempuan itupun merasa tertarik akan ketampanan wajah lawan, jarang sekali ia menjumpai pria tampan semacam ini. Maka sambil tertawa ter-kekeh2 tegurnya:

"Heeei, saudara cilik, aku sedang mengajak kau berbicara, kau tidak mendengar??".

"Cayhe tidak punya kegembiraan untuk menemani kau bicara" sahut Hansiong Kie ketus.

"Aduuuh mak. .sombong amat kau, tahukah kan siapa aku??"

"Perduli amat siapa kau, apa sangkut paut nya dengan diriku?? "

Merah jengah sekitar wajah perempuan muda itu, tapi sedetik kemudian telah pulih kembali seperti sedia kala. "saudara cilik, kau..."

"Huuuh, siapa yang sudi jadi saudaramu". "siapakah namamu?? boleh toh diberitahu kan

kepadaku??". .

"Aku merasa tiada berkewajiban dan berke-harusan untuk memberitahukan namaku ke padamu".

"Jadi kau benar2 tidak pingin tahu siapakah aku??". "Tidak" habis berkata ia putar badan dan segera berlalu

dari situ...

"Tidak gampang pemuda tampan kau tinggalkan tempat ini".

Diiringi seruan nyaring tahu2 perempuan muda berbaju merah itu telah menghadang di depan tubuhnya, gerakan ilmu meringankan tubuh yang diperlihatkan sungguh lihay dan cukup membuat Han siong Kie merasa amat terperanjat.

"Apa yang siap hendak kau lakukan??" teriaknya. "Aku hendak paksa kau untuk menjawab pertanyaanku". "Kalau aku tak mau menyahut???".

"Mungkin kau tak bisa menuruti keinginan hatimu itu". "Hmmm" si anak muda itu kontan mendengus dingin "Apa yang kau dengusi??".

"Aku benci...".

"Apa yang kau benci ???".

"Aku benci terhadap kalian kawanan perempuan" seru Han siong Kie dengan wajah menghina dan sinar mata penuh kebencian.

Mendengar sahutan tersebut perempuan muda berbaju merah itu tertegun, beberapa saat kemudian ia baru berseru:

"Kau membenci semua perempuan yang ada dikolong langit???".

"Tidak salah".

Dua orang dayang yang berada disisinya tak tahan segera tertawa cekikikan, kejadian ini benar2 merupakan suatu peristiwa yang sangat aneh, sungguh tak nyana seorang pemuda tampan bisa mengutarakan kata2 semacam ini.

"Mengapa kau benci semua perempuan yang ada dikolong langit??..." tanya perempuan muda berbaju merah itu dengan wajah tercengang.

Han siong Kie tidak menjawab pertanyaannya, sekali enjot badan ia menerobos lewat sisi tubuh perempuan itu.

Perempuan muda berbaju merah tadi segera tersenyum, sepasang lengannya di rentangkan ke samping dan seketika terasalah segulung tenaga hisapan yang amat kuat menarik tubuhnya hingga mentah2 terdesak balik ke tempat semula. Han siong Kie benar2 merasa amat terperanjat, ia tidak mengira kalau tenaga lweekang yang dimiliki lawannya telah mencapai puncak yang demikian sempurna nya.

"Ayoh jawab dulu pertanyaanku, maka aku akan memberi jalan lewat bagimu" seru perempuan muda berbaju merah itu sambil tertawa ringan.

Dengan biji mata yang memancarkan perasaan penuh kebencian, Han siong Kie menatap wajah lawannya tajam2, lalu seru nya dengan nada gusar:

"Kau tak usah bermimpi disiang hari bolong, tidak nanti aku akan mengabulkan permintaanmu itu".

"Huuuh dengan mengandalkan kekuatanmu semacam itupun berani berlagak jumawa di hadapanku?? "

"Hmmm perempuan yang tak tahu malu" "

" Kurang- ajar, kami siapa yang tidak tahu malu ???" bentak wanita muda berbaju merah itu dengan wajah dingin membesi, suara tertawa dingin berkumandang tiada hentinya.

"Aku sedang memaki dirimu mau apa?"

Perempuan muda berbaju merah itu kontan naik pitam, tiba2 di atas wajahnya yang cantik terlintas napsu membunuh yang sangat tebal, ia mendengus dingin

"Manusia yang tidak tahu diri tangkap bangsat cilik ini" perintahnya.

Dua orang dayang yang berdiri di sisinya segera enjotkan badannya menubruk ke arah Han siong Kie, empat buah cakar mautnya laksana kilat meluncur ke arah depan.

Han siong Kie benar2 merasa amat gusar, begitu marahnya sampai perut terasa mau meledak. sepasang telapaknya secara terpisah membabat keluar dan mengancam tubuh musuh musuhnya. siapa tahu belum sampai serangan tadi mengenai sasarannya, sepasang pergelangan terasa jadi kaku dan tahu2 tangannya sudah kena dicengkeram lawannya erat2.

Melihat kelemahan tubuh lawannya, perempuan muda berbaju merah itu tak bisa menahan diri lagi dan tertawa cekikikan dengan kerasnya.

"Hiiih. . hiiih.... hiiih kiranya kau hanyalah sebuah bantal

yang bersulam bunga"

selama lima belas tahun lamanya Han siong Kie mengikuti diri telapak naga beracun Thio Lien, didalam tenaga lweekang ia memiliki dasar yang sangat kuat, tetapi jurus serangannya teramat biasa tiada keanehan apapun, karena si telapak naga beracun pernah bersumpah ia tak boleh mewariskan jurus serangan perguruannya kepada pemuda ini kecuali jurus-jurus serangan yang sederhana.

Begitulah sambil mencengkeram sepasang pergelangan Han siong Kie dengan tenang kedua orang dayang cilik itu menantikan keputusan dari perempuan berbaju merah.

Han Song Kie benar-benar merasa naik pitam sehingga tujuh lubang inderanya terasa keluar asap panas, tetapi apa daya ia tak sanggup berbuat sesuatu terpaksa dengan mata melotot penuh kebencian ia awasi lawannya..

Dengan sikap yang genit dan kerlingan mautnya perempuan berbaju merah itu selangkah demi selangkah berjalan mendekati sianak muda itu, serunya merdu: "saudara cilik, sekarang kau boleh menjawab pertanyaanku bukan?? ".

"Tidak.." teriak Han siong Kie dengan mata melotot..

Perempuan muda berbaju merah itu tertawa cekikikan, ia raba pipi Han siong Kie dengan manja dan berkata lagi:

"Justru aku paling suka dengan lelaki berhati keras dan bersikap gagah macam dirimu". "Cuuuuh" Han siong Kie menyemburkan ludahnya ke arah wajah perempuan muda itu.

Tindakan tersebut sungguh jauh di luar dugaan perempuan berbaju merah itu, lagi pula jarak diantara mereka amat dekat sekali, semburan ludah ini tak berhasil menghindari lagi dan mengena dengan telak di atas wajahnya.

sepasang alis perempuan berbaju merah itu kontan berkerut kencang, telapak tangan nya langsung diayun ke depan menghadiahkan sebuah tempelengan keras ke atas pipinya.

"Ploook!" Han siong Kie merasakan pipi kirinya jadi amat sakit, dan segera muncullah sebuah telapak tangan yang berwarna merah dengan bekas yang nyata. "Perempuan sialan yang tak tahu malu"

"Ploook.." kembali sebuah tempelengan keras bersarang di atas pipi kanannya, tempelengan kali ini jauh lebih keras dari tamparan semula membuat si anak muda itu merasakan matanya berkunang2 dan cairan darah menyembur keluar dari mulutnya. Begitu sakitnya sampai2 ia merintih kesakitan.

sepasang mata Han siong Kie seketika mendelik besar, dengan cahaya penuh kebencian dan hawa amarah yang ber kobar2 jeritnya sambil menggertak gigi:

"Ingatlah baik2 suatu hari aku bisa mengembalikan kesemuanya ini kepadamu bersama rentenya"

"Hmmm kau tidak akan mempunyai kesempatan untuk berbuat begitu.." seru perempuan berbaju merah itu dengan wajah hijau membesi, suaranya dingin dan ketus.

Han siong Kie mendengus gusar, sepasang lengannya segera direntangkan ke samping. Meskipun ilmu silatnya biasa dan tidak lihay tetapi didalam hal tenaga lweekang pemuda ini mempunyai hasil latihan selama lima belas tahun, rentangan tersebut tak bisa dipandang enteng. Perempuan berbaju merah itu tertawa menjengek, telapak tangannya perlahan2 di angkat keatas, serentetan angin desiran segera meluncur keluar menghajar tubuh lawan.

Han siong Kie berseru tertahan dan segera roboh terjengkang ke atas tanah setelah termakan oleh serangan jari itu.

"Angkut dan masuk ke dalam tandu" perintah perempuan

itu

Kedua orang dayang tersebut sebera mengiakan, yang

seorang membohong tubuh Han siong Kie dan seorang yang lain membuka horden di depan tandu segera menyusupkan tubuhnya ke belakang tempat duduk.

Perempuan berbaju merah itu sendiri berkelebat masuk ke dalam tandu, empat orang pria kekar itupun menggotong tandu tadi dan meneruskan kembali perjalanannya.

setelah tubuhnya disusupkan ke belakang tempat duduk. Han siong Kie segera merasakan bau harum semerbak yang menusuk hidung berhembus lewat tiada henti nya, membuat ia merasakan kepalanya pusing tujuh keliling dan terasa muak. tetapi pendapatnya yang sudah berakar didalam hatinya membuat si anak muda ini kecuali membenci perempuan yang dianggap berbisa bagaikan kala, tiada ingatan lain lagi.

Ia tidak tahu apa tujuannya perempuan baju merah itu bersikap demikian terhadap dirinya??

Ia teringat pula akan hasil latihannya selama lima belas tahun, ternyata tak sanggup untuk menahan satu jurus serangan dari seorang dayang cilik itu, apa lagi mencari musuh besarnya untuk membalas dendam, bukankah hal itu bagaikan impian orang tolol??

"Asalkan aku tidak mati, aku bersumpah harus mempelajari kepandaian silat yang maha lihay berulang kali ia bergumam di dalam hati kecilnya. Entah sudah beberapa lamanya telah lewat dan beberapa jauh telah mereka tempuh..

Mendadak tandu itu telah berhenti, diikuti desiran angin

tajam berseliweran di depan tandu.

"siapa yang menghadang pergi kita??" bentak perempuan muda berbaju merah itu nyaring.

" Lapor Thongcu, Kang Lam Chit Koay telah datang mencari setori dengan kita" "suara salah seorang dayang itu berkumandang datang.

"Oooh, kiranya perempuan yang tak tahu malu ini adalah seorang thongcu " Pikir Han Siong Kie didalam hatinya. "

Entah ia berasal dari perkumpulan mana dan siapa pula ke tujuh manusia aneh dari Kang lam itu? ".

"Lie In Hiang" terdengar serentetan suara bentakan berat berkumandang keluar. "Ayoh gelinding keluar dari dalam tandu, dan jawab pertanyaan kami".

Dari ucapan tersebut, sianak muda she Han pun lantas tahu bahwa perempuan berbaju merah itu bernama Lie In Hian.

Perempuan berbaju merah itu segera mendengus dingin, sambil melangkah keluar dari tandunya ia menyahut

"Kang lam chiet Koay, ada urusan apa kau menghadang jalan pergi pun Thongcu???".

Suara dengusan gusar berkumandang beberapa kali, orang yang buka suara pertama tadi segera berseru kembali dengan suara berat:

"Lie In Hiang kau tak usah pura-pura edan dan berlagak pilon, apa salahnya Go Yoe Too pangcu dari perkumpulan Pat Gle Pang sehingga kau bunuh dengan begitu mengerikan???"

"Lalu apa maksud tujuan cuwi sekalian?. "

"Hutang nyawa bayar nyawa, hutang darah bayar darah". "Hiiih..Hiih.... Hiiih aku si kupu-kupu warna-warni Leng

In Hiang merasa mendapat kehormatan untuk menerima kunjungan kalian semua, tapi tolong tanya keadilan yang kalian inginkan itu hendak kalian tagih cara apa ??".

"Kau sudah larikan batok kepala Go Yoo Too kemana??". . "Kini masih didalam tanduku, sayang aku buru-buru harus

kembali untuk memberi laporan hingga tak bisa melayani

kalian lebih lanjut ".

"Lie In hiang "teriak seseorang dengan suaranya yang kasar." permusuhan apakah yang terikat antara Go Yoe Too dengan perkumpulan Thian chee Kauw??"

Han siong Kle segera merasakan hatinya bergetar keras, ia teringat kembali bahwa ibunya yang berhati kejam bagaikan kala si siang Go cantik ong Coei Ing telah kawin lagi dengan Thian che Kauwcu, darah panas segera bergelora didalam dadanya.

Dalam pada itu terdengar si kupu2 warna warni Lle In Hiang telah berseru sambil tertawa genit.

"Go Yoe Too berani memandang hina perkumpulan kami, maka dari itu dia harus di bunuh sampai mati".

"secara bagaimana ia menghina dan memandang rendah perkumpulan Thian chee Kauw??".

"Pada ulang tahun Kauwcu kami sebulan berselang, semua wakil dari partai serta perkumpulan yang ada di dunia persilatan telah berkunjung untuk memberi hormat, hanya dia seorang yang tidak hadir, maka dia musti dibunuh sampai mati ". Beberapa bentakan nyaring serentak bergeletar memenuhi seluruh angkasa ....

"Perkumpulah Thian Chee Kauw hendak mengangkang seluruh kolong langit, hendak melenyapkan keadilan serta kebenaran di dalam Bu-lim, dia harus dibunuh sampai mati." Desiran angin pukulan segera men deru2, rupanya kedua belah pihak telah saling bertarung dengan serunya.

suara menjerit ngeri yang menyayat hati bergema mengiringi gelak tertawa yang merdu, jelas diantara tujuh manusia aneh ada seorang telah menemui ajalnya.

Pertarungan berjalan semakin seru dan jeritan-jeritan ngeri pun tiada hentinya bergema memecahkan kesunyian.

setiap kali jeritan berkumandang memenuhi angkasa, suara tertawa cekikikan dari kupu-kupu warna warni Lie In Hiang segera bergema mengiringinya.

Meskipun Han siong Kle tak dapat mengikuti pertarungan itu dengan mata sendiri, tetapi dari suara yang bergema diangkasa ia dapat menduga betapa seram dan ramainya pertempuran tersebut dan membuktikan pula betapa lihay tenaga lwekang yang dimiliki Lie In Hiang serta kekejian hatinya.

suara gaduh kian lama kian bertambah sirap dan akhirnya sebuah jeritan keras mengakhiri pertempuran sengit itu.

Kang lam chit Koay tujuh manusia aneh dari Kang lam telah mati binasa semuanya dalam keadaan mengerikan.

sedang si kupu-kupu warna warni Lie In Hiang dengan penuh senyuman dan seakan akan tak pernah terjadi sesuatu apapun, kembali masuk kedalam tandunya.

"Sungguh kejam hati perempuan ini" pikir Han song Kie didalam hati kecilnya. Suatu hari aku pasti bisa membinasakan dirimu

Tandu kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke depan, tidak lama kemudian terdengarlah suara gemuruh air yang amat santar, rupanya mereka telah tiba di tepi sungai, suara pembicaraan manusia bergema tiada hentinya, mungkin di atas jalan raya itu banyak orang sedang melanjutkan perjalanan. secara lapat-lapat terdengar suara beberapa orang manusia sedang membicarakan sesuatu.

"Selama Benteng Maut tidak dibasmi, dunia persilatan selamanya akan dirundung malang. . ."

"Pemilik benteng maut sudah puluhan tahun lamanya menjajah dunia persilatan, berapa ribu orang telah mati diujung telapak nya."

"Aaaah, mungkin makhluk aneh yang misterius itu sudah lama tak ada dikolong langit, entah dia mempunyai ahli waris atau tidak???".

" Yang paling dikuatirkan pelbagai perkumpulan dan partai justru adalah persoalan ini, maka atas nama perkumpulan Thian chee Kauw yang menyebar surat undangan Bu-lim.

Tiap semua jago yang ada dikolong langit diundang untuk berkumpul disini dan bersama2 membasmi benteng maut ini"".

"Aaah, mungkin saja pemilik Benteng Maut itu masih hidup dikolong langit??..".

"Tetapi pintu benteng sudah lima belas tahun lamanya tertutup rapat, Bu-lim pun sudah tenang selama lima belas tahun lamanya, apakah mungkin "

"oooh, akibatnya sungguh menakutkan sekali".

"Kali ini jago2 lihay dari lima partai besar, It-kauw Jie-Pang serta Jio hwie ikut hadir semua dalam pertemuan besar ini, bahkan Lam Kay si pengemis dari selatan serta Pak Ceng sipendeta dari utara yang amat tersohor nama nya didalam Bu limpun katanya akan ikut munculkan diri.."

suara pembicaraan itu makin lama semakin jauh dan kata- kata selanjutnya tak sempat ditangkap lagi, tetapi Han siong kie telah dapat menangkap garis besar dari kejadian yang sebenarnya Jelas jago2 Bu lim dari kalangan Hek to serta Peksto telah mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya untuk menghadapi Benteng Maut.

Tetapi ia tak tahu, apa sebetulnya "Benteng Maut" itu dan macam apakah si pemilik Benteng Maut itu sehingga dilukiskan begitu mengerikan dan menyeramkan sampai2 seluruh umat Bu-lim bersatu padu untuk menghadapinya.

Tandu telah berhenti dan si kupu2 warna warni Lie In Hiang pun meloncat keluar dari tempat duduknya.

Angin berhembus amat kencang dan menyingkap kain horden yang menutupi tandu tersebut, Han siong Kle yang menggeletak di dasar tempat duduk sempat mengintip keluar dari tempat berbaringnya, terlihat sebuah sungai besar dengan ombak yang besar terbentang dihadapannya, beratus2 orang jago Bu lim sama2 berkumpul ditepi sungai.

Di tengah sungai berdiri dengan angkernya sebuah benteng kuno, di depan benteng terdapat sebuah jembatan batu yang menghubungkan benteng tersebut dengan tepi seberang.

sebuah tonggak batu yang besar dengan tulisan "Benteng Maut" berdiri dengan angker nya di sisi Benteng kuno tersebut.

satu ingatan segera berkelebat dalam benak Han siong Kie, ia segera putar kepalanya dan memandang lebih jauh ....

Mendadak ia berdiri menjublak, sekujur badannya bergetar keras bagaikan kena aliran listrik, disisi pintu benteng yang lain terlihatlah sebuah tengkorak berwarna merah darah, bentuk tengkorak itu persis seperti lukisan yang terdapat di atas dinding ruangan perkampungan keluarganya.

sekarang ia baru paham peristiwa berdarah yang menimpa keluarga Han serta keluarga Thio pada lima belas tahun berselang kiranya adalah hasil karya dari pemilik "Benteng maut". Ia teringat akan larangan susioknya si telapak naga beracun Thio Lien yang tidak memperkenankan dirinya membalas dendam serta mengubur tulang belulang keluarganya ini disebabkan karena musuh besar mereka yang terlampau tangguh.

Tetapi kalau ditinjau dari kematian susioknya, jelas ia tidak kesal atau murung dan berulang kali mengatakan bahwa hal itu merupakan perintah dari perguruannya, kenapa?? kenapa begiiu?? ia tak mengerti dan tak habis mengerti .....

sepasang matanya dengan tajam menatap di atas tengkorak darah itu tanpa berkedip. kobaran napsu dendam dan hati bergelora didalam hatinya.

Tetapi setelah ia teringat akan kepandaian silat yang dimilikinya, si anak muda itu jadi lemas. ilmu silatnya sama

sekali tak becus, sedangkan musuh besarnya adalah seorang gembong iblis amat lihay serta harus dihadapi dengan penggabungan segenap kekuatan golongan Pak to maupun Hek to.

Membalas dendam baginya mulai kabur dan tipis

harapannya. Tetapi, apakah sakit hati ini tak usah di balas???.

. .

Belum habis ingatan tersebut berkelebat didalam benaknya, terasalah bulu kuduknya

ditabok orang, ia segera berpaling dan terlihatlah seorang pengemis cilik yang berwajah dekil sedang memandang ke arah nya sambil tertawa bodoh..

Dalam keadaan jalan darah tertotok. ia sulit untuk buka suara, badanpun tak dapat berkutik, hatinya jadi terperanjat bercampur heran, ia tak tahu secara bagaimana si pengemis cilik itu dapat menerobos masuk ke dalam tandunya.

Terdengar si pengemis cilik itu tertawa cekikikan, lalu katanya. "Heng-thay, ada keramaian besar segera akan berlangsung, kenapa kau malah bersembunyi didalam tandu.??".

Ia mengerutkan hidungnya dan mencium beberapa kali lagi, kemudian katanya lagi:

"Ehmm... masih tercium sisa bau harum di sini, Heei Heng thay kau betul2 amat hok kie"

Han siong Kie yang digoda macam begitu hanya bisa tertawa nyengir saja, matanya mendelik besar tapi mulutnya bungkam dalam seribu bahasa, sepatah katapun tak sanggup diutarakan keluar.

setelah mengamati wajah Han siong Kie beberapa waktu lamanya, pengemis cilik itu berkata lagi:

"Tidak aneh kalau si kupu2 warna warni bisa tertarik hatinya, wajah Heng thay memang betul2 amat ganteng"

Han siong Kie mengerti bahwa ia sedang digoda dan dimainkan, tetapi apa boleh buat, jalan darahnya tertotok membuat dia tak sanggup untuk berbuat apa2.

"oooh, aku benar2 teramat tolol" tiba2 pengemis cilik itu berseru sambil menepuk batok kepalanya sendiri "Rupanya jalan darah heng thay tertotok. aku sungguh teledor sekali"

sambil berkata jari tangannya segera menyentil beberapa kali ke tengah udara dan bebaslah jalan darahnya yang tertotok.

-000dw000-

BAB 3

HAN SIONG KIE diam2 dibuat terkesiap juga oleh kelihayan lawan, ia tak pernah menyangka kalau pengemis cilik itu memiliki kepandaian untuk membebaskan jalan darah lawan lewat sentilan udara, sambil meloncat bangun segera serunya dengan penuh kemarahan: "Kemana perginya perempuan busuk itu?"

"Hiiih...hiiih...hiiih.. Heng-thay, kau bukan tandingannya sekarang lebih baik kau menahan diri saja" seru pengemis cilik itu sambil tertawa cekikikan.

Ucapan ini memang kenyataan, maka air muka Han siong Kio seketika berubah jadi merah padam, setelah merandek sejenak katanya lagi:

"Atas bantuan yang telah kau berikan, cayhe di sini mengucapkan banyak2 terima kasih".

"Heng thay, kau tak usah banyak adat, siapakah namamu?".

"Cay.... .. cayhe "

"Ooouw, tentunya heng-tay mempunyai rahasia yang sukar dikatakan bukan? kalau begitu lebih baik tak usah dikatakan".

Karena keringat akan budi pertolongan yang telah diberikan oleh pengemis cilik, pemuda she Han tersebut merasa tidak enak hati untuk merahasiakan she nya, maka tanpa sadar ia berseru: " Cayhe she Han".

"Oooouw, Han heng siaute she Tonghong, kita boleh mengikat tali persahabatan bukan".

"Jadi sahabat??"..

"Tidak salah, toh, tujuan serta jalan pikiran kita, hampir bersama?.."

Han siong Kie tertegun, kedua belah pihak sama2 tidak saling mengenal, berkena la npun barusan berlangsung setengah perminum teh berselang, dari mana ia bisa tahu kalau tujuan serta aliran mereka sama? hampir saja sianak muda itu tertawa gelak saking gelinya. "Waah... lucu amat orang ini, sifat ke kanak-kanakan serta polosnya belum hilang juga. pikirnya didalam hati, sambil tertawa segera katanya: "Kau bilang satu tujuan serta aliran yang sama??"

"Benar bukankah kau amat membenci kaum wanita yang ada dikolong langit??"

Han siong Kie merasakan hatinya bergetar keras, dari mana ia bisa tahu perkataan serta tanya jawabnya antara dia dengan sikupu2 bewarna Lie In Hiang????

"Tidak salah "sahutnya dengan nada tercengang. "Dari mana kau bisa tahu kalau cayhe amat membenci semua perempuan yang ada dikolong langit??? "

"Bukankah kau yang mengatakannya sendiri? "

"Aku memang pernah mengatakannya tetapi dari mana kau bisa tahu??" . Pengemis itu mengedipkan suaranya dan tertawa.

"sepanjang perjalanan aku selalu mengikuti dirimu". "ooouww begitu?? "Han siong Kie berseru tertahan.

Pengemis cilik itu tersenyum.

"Akupun sangat membenci seluruh kaum wanita yang ada dikolong langit, terutama mereka yang berwajah cantik...".

Diam-diam Han siong Kie berpikir didalam hatinya:

"Aku membenci kaum wanita yang ada di kalang langit berhubung aku mempunyai seorang ibu yang berhati kejam bagaikan kala, entah apa alasannya sehingga diapun membenci kaum wanita???".

Karena berpikir demikian maka diapun lantas menukas: "sungguhkah perkataanmu itu?".

"Tentu saja hanya perkataan di bibir saja memang tiada berguna, lain kali kenyataan akan membuktikan bahwa ucapanku bukanlah hanya perkataan kosong belaka. sudahlah mari sekarang kita cari tempat untuk menonton keramaian dulu ..".

"Menonton keramaian apa??".":

"Melihat kawanan manusia yang tak tahu diri menghantarkan kematian mereka".

"Apa maksudmu???".

"Ilmu silat yang dimiliki pemilik Benteng Maut tiada tandingannya dikolong langit, mereka berani memusuhi dirinya sama artinya dengan kunang2 menubruk ke dalam kobaran api".

Han siong Kie yang teringat akan lambang tengkorak berdarah yang dimana menurut perkiraannya si pemilik Benteng Maut mungkin adalah musuh besar yang membinasakan keluarganya, tanpa sadar telah mendengus dingin. .

" Eeh, apakah heng thay tidak percaya??" tegur si pengemis cilik itu cepat.

Han siong Kie tidak ingin menunjukkan perasaan hatinya yang sebenarnya, setelah berpikir sejenak sahutnya:

"Bukannya tidak percaya, cuma ilmu silat luasnya bagaikan samudra, tak mungkin ada orang yang dapat menyebut dirinya nomor wahid dikolong langit".

"Huuuh" pengemis cilik itu segera mencibirkan bibirnya. "Kita tak usah ribut lagi, ayoh berangkat"

Habis berkata ia sebera berkelebat keluar dari dalam tandu.

Han siong Kie ikut berkelebat keluar dari tandu, tampaklah bayangan manusia berkumpul memenuhi tepi sungai sementara tandu tadi digeletakkan di bawah sebuah pohon yang rindang jauh dari keramaian. Ia segera teringat kembali akan kejadian si kupu-kupu warna warni Lie In Hiang terhadap dirinya, tanpa terasa hawa gusar nya berkorbar dan sang telapak dengan cepat di angkat ke atas .....

"Heng-thay, apa yang hendak kau lakukan???" pengemis cilik itu segera menegur.

"Aku hendak menghancurkan tandu ini"

"Kenapa mesti repot-repot turun mangan sendiri?? siauw-te punya akal bagus untuk menyelesaikannya " sembari berbicara ia segera mendekati tepi tandu dan menekan sekeliling  dinding tandu itu sebentar kemudian sambil mengerdipkan matanya ia berkata:

"sudah beres nanti akan kau saksikan sesuatu pertunjukan yang amat menyenangkan hati, ayoh kita mendaki dulu ke atas puncak tebing batu karang itu".

sambil menarik tangan Han siong Kie bagaikan burung walet yang meluncur ketengah angkasa pengemis cilik itu segera melayang beberapa tombak ke depan dan meluncur ke atas puncak tebing karang tersebut.

Melihat kelihayan orang, dalam hati kecilnya diam diam Han siong Kie merasa menyesal, sudah belasan tahun dirinya belajar silat tapi tiada sesuatu hasilpun yang berhasil diperoleh.

Beberapa saat kemudian kedua orang itu sudah mencapai puncak bukit karang dan duduk berjajar diatas sebuah batu.

Tampaklah orang-orang yang ada di tepi pantai mengurung benteng kuno itu dalam satu lingkaran, diantara gerombolan manusia-manusia lihay tadi diantaranya terdapat seorang hweesio tua serta seorang pengemis tua berambut putih disamping itu masih terdapat pula seorang manusia aneh berkerudung hitam, mereka sedang meributkan sesuatu dengan ramainya, seakan-akan sedang merundingkan bagaimana caranya menyerbu ke dalam benteng Maut.

Dengan pandangan termangu mangu Han siong Kie memperhatikan benteng maut itu tanpa berkedip. ia sadar bahwa dalam keadaan seperti ini tak mungkin baginya untuk melakukan pembalasan dendam, tetapi seandainya gabungan jago2 kangouw dari kalangan hek to maupun Pek to ini berhasil melenyapkan benteng maut dari muka bumi, maka itu dendam berdarahnya akan ikut tenggelam ke dasar samudra...

Tiba2 pengemis cilik itu menyikut perutnya sambil berbisik: "Han heng. antara dirimu dengan aku sebenarnya tidak

pernah saling mengenal tapi kini kita bisa bertemu satu sama

lainnya, itu namanya jodoh, andaikata kau tidak memandang rendah diriku sebagai seorang pengemis yang rudin lagi dekil..."

"Kalau aku tidak memandang rendah dirimu, kau mau apa??"

"Bagai mana kalau kita mengikat tali persaudaraan??. apakah kau mau??..."

"Bagus" seru Han siong Kie menyatakan setuju.

"Baik, kalau begitu kita musti tahu urutannya dulu, siauw-te Tonghong Hwie tahun ini berusia enam belas tahun"

"Apa?? kau bernama Tonghong Hwie?"

"Benar ada apa? apakah namaku kurang sedap didengar^?"

"Bukannya begitu, aku cuma merasa bahwa nama tersebut sedikit mengandung nama kaum wanita".

"Aaah, nama toh cuma suatu perlambang bagi seseorang belaka, perduli amat persis nama perempuan atau lelaki, bukan begitu saudara Han??" "Hhmm, memang masuk diakal, siauw-heng Han siong Kie, tahun ini berusia delapan belas tahun".

"Bagus, mari kita bersama-sama angkat sumpah". "ooouw... apa musti angkat sumpah segala??"

"Tentu saja kalau tidak menuruti aturan lalu apa gunanya kita angkat saudara"

"Baiklah. "Han Siong Kie segera jatuhkan diri berlutut di atas batu dan berdoa. "Atas nama Thian yang ada di langit, cayhe Han siong Kie sejak hari ini akan angkat saudara dengan Tonghong Hwie. sepanjang persaudaraan ini masih terikat maka bila ada kesenangan akan kita cicipi bersama, kalau ada kesusahan kita akan tanggulangi bersama, apabila aku melanggar sumpah ini, Thian akan mengutuk diriku. Thian akan mengutuk diriku"

Tonghong Hwie yang berlutut disisinya segera ikut mengulangi pula isi sumpah tadi dengan seksama dan penuh kesungguhan.

Menanti kedua orang itu telah duduk bersanding kembali dengan wajah berseri-seri si pengemis cilik itupun berkata:

"Mulai sekarang aku harus menyebut dirimu sebagai Engkoh Kie ".

"Aku akan menyebut kau sebagai adik Hwie cuma ... aaaai aku yang jadi engkoh mu merasa malu sekali.".

" Kenapa ?? apa yang kau malukan ???"

" Kalau berbicara mengenai tenaga lweekang serta ilmu silat, keadaanku bagai kan langit dengan bumi kalau dibandingkan dengan dirimu coba bayangkan masa aku tidak merasa malu ?."

"Aaaah itu toh urusan kecil, kesempatan di kemudian hari bagi engkoh Kie untuk berlatih masih panjang, lagi pula aku lihat dasar tenaga lweekang mu sudah amat kuat " "Benar, aku sudah belasan tahun lamanya berlatih ilmu tenaga dalam"

"Apa??? belasan tahun lamanya?? apakah kau hanya berlatih ilmu tenaga dalam belaka??"

"Benar ".

" Engkoh Kie, apakah kau dapat menyebutkan asal usul perguruan mu??."

"Dia...dia sudah tak ada dikolong langit lagi, maafkanlah kalau aku tidak akan menyebutkan namanya".

"Baiklah omong kosong tiada gunanya, aku ada beberapa patah kata hendak kukatakan kepadamu"

" Katakanlah, asal aku bisa menjawab pasti akan kuberitahukan kepada dirimu"

"Di kemudian hari, bagaimanapun juga keadaannya kau tak boleh meninggalkan diriku lho".

"Tentu saja, bukankah kita sudah mengangkat sumpah??? ucapanmu itu bukan kah sama sekali tak ada gunanya??? "

"Bukannya begitu, cuma perkataan ini harus kukatakan lebih dahulu".

Dalam pada itu para jago yang mengurung di sekeliling tepi sungai telah menyebarkan diri dan perlahan lahan mulai menyerbu ke dalam benteng Maut.

Suasana hening sunyi.. tak kedengaran sedikit suarapun hal ini menunjukkan bahwa mereka akan bersiap sedia melakukan suatu tindakan terhadap Benteng Maut, tetapi berhubung Benteng Maut sudah puluhan tahun lamanya memberikan kemisteriusan, kengerian serta keseraman bagi setiap umat

Bu-lim yang ada dikolong langit, maka pada saat itu hati setiap orang merasa kebat-kebit tidak keruan. Terdengar pengemis kecil itu sambil menuding ke arah tepi sungai, katanya:

"Pengemis tua yang berdiri paling depan itu adalah Pak Ceng padri dari utara, dan manusia berkerudung hitam itu bukan lain adalah Kauwcu dari perkumpulan Thian chee Kauw". .

-000dw000-