-->

Tangan Berbisa Jilid 19

 
Jilid 19

Kim Hong yang berada diruangan tamu juga merasa terkena pengaruhnya suara itu, hingga perasaannya menjadi tidak tenang, dan akhirnya jatuh dilantai ruangan tamu.

Entah berapa telah berlalu, suara senar itu mendadak berhenti, Penguasa rumah penjara dengan gerakannya yang gesit sekali sudah berada dihadapan Tong-hong Jie Nio dan menepuk padanya dengan sangat perlahan.

Waktu itu pikiran dan perasaan Tong-hong Jie Nlo  sudah lama kabur, melihat tangan penguasa rumah penjara datang hendak menepok, dengan sendirinya mengangkat tangan untuk menyambut, akan tetapi baru saja tangannya diangkat dengan mendadak merasakan bahwa dari depannya ada satu kekuatan tenaga yang sangat hebat, dan yang tidak terwujud telah menggempur dirinya bagaikan gelombang air laut, sedang serangan yang dilancarkan oleh kekuatan tenaganya sendiri seperti tetesan air hujan yang jatuh diair laut, sedikitpun tidak ada gunanya, sebaiknya tubuhnya sudah terangkat tinggi dan terbang keudara oleh kekuatan tenaga lawannya lagi.

Tong-hong Jie Nlo mengeluarkan suara pekikan nyaring, kedua lengannya melakukan gerakan jumpalitan kemudian dengan mendadak melesat dan bagaikan gerakan burung walet terbang melayang keatas senar yang berada diujung paling kanan.

Penguasa rumah penjara terus mengejar, kembali melancarkan serangannya yang ringan seolah-olah ilmu pukulan Thay- kek- koen. Tong-hong Jie Nio menggeram, kedua tangannya bergerak dengan berbareng tapi sesaat kemudian sudah mundur lagi dan lompat yang kesenar yang kedua.

Tak ia sangka baru kedua kakinya yang melesat dari senar yang diinjak. Penguasa rumah penjara sudah bergerak melayang menyerang dengan tangan kirinya, Serangan itu mengancam pinggangnya, sehingga tubuh Tong-hong Jie Nlo yang gemuk terokmok bagaikan bola menggelinding terjatuh kebawah.

Baru saja ia jatuh dari senar ketua partay Kiong-lay-pay Kam Giok Thian sudah melesat keatas senar, tanpa banyak bicara, tangan dan kakinya sudah bergerak berbareng menyerang penguasa rumah penjara.

Penguasa rumah penjara dig anda dengan ketawa, tubuhnya memutar cepat balas menyerang dengan satu tangan, namun sudah berhasil menahan serangan ketua partay Kiong-lay.

Kam Giok Thian mundur sebentar, tapi sudah maju lagi, kedua tangannya diputar bagaikan kitiran sedang dua kakinya melakukan tendangan dengan beruntun, mulutnya berteriakkan: "Kalau kau tidak menyentil senar setidak- tidaknya aku bisa menjadi penghuni dikamar  golongan naga "

Penguasa rumah penjara dengan gikapnya tidak berubah, menyambar kaki tangan lawannya dengan tangan kanan, sementara mulutnya berkata sambil tertawa besar "Baik Ini jurus kedua"

Kam Giok Thian kembali terdesak mundur selagi hendak maju lagi, penguasa rumah penjara mendadak mengeluarkan suara pekikan nyaring tubuhnya bergerak menyerbu tangan kirinya melancarkan serangan bagaikan kilat cepatnya, serangan itu ditujukan kebahu kiri Kam Giok Thian.

Serangan itu benar-benar luar biasa cepatnya, walaupun Kam Giok Thian juga dapat berobah posisinya dengan cepat, tetapi selagi ia miringkan pundaknya untuk mengelak, namun sudah tidak keburu bahu kirinya kesambar serangan penguasa rumah penjara hingga saat tubuhnya miring kebelakang, kakinya tidak berhasil pertahankan kudanya hingga terhuyung-huyung jatuh dari atas senar.

Tetapi kedua tangan Kam Giok Thian luar biasa gesitnya, dengan satu gerakan yang sangat cekatan, ia berhasil menyambar senar besi itu, setelah itu ia memutar dan secepat kilat melesat kesenar yang lain-

Tetapi penguasa rumah penjara tidak memberikan kesempatan padanya untuk berdiri tegak. darijauh melancarkan serangan kepada senar yang diinjak oleh kaki Kam Giok Thian, sementara mulutnya berkata: "Ini jurus ketiga, lompatlah"

Kam Giok Thian tak berdaya, sebab saat itu kecuali melompat untuk mengelakkan serangan lawannya, sudah tak ada jalan lain lagi. maka terpaksa ia melompat juga .

Penguasa rumah penjara menggunakan kesempatan itu menyerang dari samping, sementara mulutnya berkata sambil tertawa terbahak-bahak: "Jurus keempat, turun"

Kam Giok Thian mengeluarkan suara aneh tubuhnya melayang turun kadalam lembah

Ketua partay Thian-shia-pay Lu Pa Kong adalah orang ketiga yang melayang keatas senar. ia menggunakan sebilah pedang, seperti juga dengan Kam Giok Thian, begitu  berada diatas senar, sudah lantas menyerang dengan pedangnja. dengan berbagai gerak tipu, menikam, membabat, membacok menyontek sekaligus sudah melancarkan lima enam kali serangan, setiap serangannya dilakukan dengan aneh dan ganas sekali.

Penguasa rumah penjara yang menghadapi serangan demikian gencarnya dan ganas, terpaksa mengelak kekanan kekiri dengan sikap luar biasa tenangnya, dan ia menantikan hingga Lu Pa Kong menghabiskan serangannya, secepat kilat sudah maju menyerbu sambil membentak:

"Kau juga harus coba sambuti lima kali seranganku"

Setelah itu, tangan kanannya bergerak sesaat kemudian tangan itu seolah-olah berubah menjadi ribuan banyaknya, hingga dalam waktu sekejap mata, Lu Pa Kong sekujur tubuhnya sudah terkurung oleh bayangan tangan Penguasa Rumah Penjara, terpaksa ia harus mundur dalam keadaan kekalutan.

Sementara itu, ketua partay Kun-lun-pay, Pekscui Cinjin, sudah lompat melesat keatas senar dengan menggunakan senjata kebutannya, menyapu mUka penguasa rumah penjara.

Dengon lengan jubahnya Penguasa Rumah Penjara menyambut serangan kebutan tadi, ternyata sudah berhasil mendesak ketua Kun-lun-pay menarik kembali serangannya dan lompat mundur setombak lebih.

Kim Hong semakin menonton semakin keCewa, ia pikir para ketua partay ini benar-benar hanya mempunyai kegagahan tapi tidak mempunyai akal, mereka toh sudah tahu tidak dapat melawan, namun masih satu persatu naik keatas untuk melawan, pertempuran semaCam itu, apa artinya untuk ditonton? Ada lebih baik kalau kembali kekamar ibunya untuk mengobrol. Setelah berpikir demikian, ia memutar tubuh dan berlari menuju kekamar enam, baru saja tiba dari depan pintu, tampak Tay-giam-ong sudah berdiri diambang pintU, tubuhnya yang gemuk. sudah menutupi pintu itu.

Kim Hong menjura padanya dan berkata: "Tay-giam-ong numpang jalan"

"Mau kemana?" bertanya Tay-giam-ong.

"Aku hendak pergi menemui ibuku... nona... Siu Khim itu adalah ibuku"

"Aku sudah dengar" ia berkata, "akan tetapi kau tadi toh baru bertemu muka dengannya apa perlunya kau ngerecok lagi?" berkata Tay-giam ong marah.

"ibu dan anak yang baru bertemu dan sudah bicara mengobrol mengapa dikatakan mengerecok?" bertanya Kim hong heran-

Wajah Tay-giam-ong unjukkan senyumnya, ia berkata sambil menganggukkan kepala:

"Taruhlah tidak menggerecok. itu juga tidak perlu terus menerus didampingi ibunya, apakah kau masih perlu menetek ?"

Dengan wajah merah Kim Hong menjawab: "Tay-giam- ong jangan menggoda kami ibu dan anak baru saja bertemu muka setelah beberapa lama menghilang, sudah tentu banyak kata-kata hendak diucapkan. "

"Kalau kau benar anak nona Siu Khim, biar bagaimana toh terhitung orang dalam rumah penjara ini, ng....apa kau bisa main catur ?"

Kim Hong tercengang, jawabnya sambil menganggukkan kepala: "Mengerti sedikit kenapa ?" "Sudah lama aku tidak main catur, tanganku sangat gatal, kawani aku bermain sepapan saja, kemudian aku akan ijinkan kau pergi menemui ibumu lagi "

Agak merasa berat Kim Hong menjawab: "Tay-giam-ong hendak main catur, lain hari aku kawani main berapa saja kau suka akan kulayani, bagaimana kalau hari ini kau izinkan aku melihat ibuku dulu?"

"Tidak bisa Tanganku sudah gatal, kalau dalam keadaan demikian aku sudah tak mengenal sanak saudara lagi, kalau kau tidak mengawani aku main, jangan harap kau bisa masuk"

Dalam hati Kim Hong sangat mendongkol tetapi ia tak berani bertindak terpaksa berkata sambil menghela napas:

"Baiklah, kalau kau hendak main catur lekaslah dimana kita main?"

"Kita main saja didalam kamar yang dahulu pernah kau pakai sebagai kamar tidur"

Keduanya lalu berjalan masuk kepintu sebelah kiri, setelah melalui lorong panjang, tiba dikamar tidur nomor lima, mereka lalu masuk kedalam dan mulailah melakukan permainan caturnya.

Tay-giam-ong permainan caturnya ternyata sangat lambat, tiap kali hendak meletakkan biji caturnya, selalu dipikir lama sekali, bahkan kadang-kadang harus menggerutu segala.

Kim Hong yang menyaksikan permainan lambat dari Tay-giam-ong itu, diam diam terkejut, ia pikir apabila menunggu sampai habis permainan caturnya, bukankah harus main semalam suntuk? "Hei, Tay-giam-ong Harap main lekas sedikit bolehkah?" demikian akhirnya ia mendesak.

"Jangan keburu nafsu, kalau main lambat baru ada artinya, beng. " demikian jawaban tenang.

"Aiii, main seperti cara demikian, harus menggunakan waktu beberapa lama baru selesai?"

"Jangan kesusu, perlahan-lahan  baru  ada  artinya,  heng. " demikian ia mengulang ucapannya.

Kim Hong diam- diam menghela napas, terpaksa pura- pura tidur sedang telinganya samar-samar terdengar suara saling bentak dari medan pertempursn, "entah berapa orang lagi yang terjatuh dilembah ?"

Tay-giam-ong mengira Kim Hong tidur benar-benar, ia mendorongnya dan berkata: "Hei, jangan tidur, mengapa kau tidak mengerti aturan ?"

Kim Hong buru-buru membuka mata dan melanjutkan permainannya katanya sambil tersenyum:

"Aku tidak tidur, aku sedang memikirkan apa sebab para ketua partai itu tidak pergi menantang kerumah penjara rimba persilatan yang baru digunung Bu San ?"

"Kau ngoceh, rumah penjara digunung Tay-pa-san inilah baru yang tulen, siapa yang ingin menantang bertanding harus datang kesini"

"Ini bukan soal tulen atau tidak tulen bukan soal merek lama atau merek baru, setiap orang rimba persilatan yang datang kerumah penjara gunung Tay-pa-san ini menantang pertandingan selalu disebabkan lantaran ingin mendapat nama harum, sekarang aku pikir daripada kita tertawan lantaran ingin mendapat nama harum, ada lebih baik kalau tertawan lantaran membela kebenaran dan keadilan, itulah yang baru ada artinya "

Tay-giam ong tidak bisa menjawab. dengan perasaan mendongkol berkata: "Sudah jangan banyak omong lagi Sekarang waktunya main catur "

Baru saja habis berkata pintu telah terbuka, Penguasa rumah penjara rimba persilatan dengan sikap tenang berjalan masuk.

Tay-giam-ong begitu melihat Penguasa rumah penjara masuk kekamarnya buru-buru bangkit dan berkata sambil tertawa:

"Apakah dua belas ketua partay itu sudah jatuh semua?"

Penguasa rumah penjara rimba persilatan hanya menyahut: "ng" mengambil sebuah kursi dan duduk, suatu tanda bahwa ia hendak melanjutkan permainan catur itu, kemudian berkata:

"Dua belas orang ketua partai dengan mendadak datang menantang bertanding secara berbareng, urusan ini agak aneh, selama beberapa hari ini kau perhatikan mereka dan perintahkan kepada cicng Keng Tong untuk sementara jangan suruh mereka turut bekerja menempa emas"

"Aku sekarang akan pergi melihat, apakah laucu ada kegembiraan untuk melanjutkan permainan catur ini?" berkata Tay-giam-ong.

Penguasa rumah penjara menganggukkan kepala dan Tay-giam-ong lantas meninggalkan kamar tidur itu.

Kim Hong menggunakan kesempatan itu telah membuyarkan caturnya, setelah itu bangkit dan berkata sambil memberi hormat, "Kita tak usah main catur lagi, aku lebih dulu kuucapkan selamat kepadamu, kemudian aku masih ada suatu permintaan-..."

"Terima kasih apa?" bertanya penguasa rumah penjara rimba persilatan dengan sikapnya yang tetap dingin.

"ibuku selama sepuluh tahun lebih berada disini, maka kuucapkan terima kasih atas kebaikanmu yang sudah memberi tempat dan hidup kepadanya, hal ini maka aku toh tidak boleh tidak ia menyatakan terima kasih ku kepadamu?"

"Kau masih ada mempunyai permintaan lain apa lagi?" "Aku tahu kau hendak berunding soal menolong

muridmu itu kepadaku, urusan ini bolehkah kita bicarakan besok pagi saja, berikanlah izin aku lebih dulu untuk menemui ibuku, kemudian aku masih akan pergi kekamar tawa nan naga dan ular untuk memberitahukan berita ini kepada SUhu dan sumoayku."

"Jangan buru-buru, aku hanya hendak menanya kau dua patah" berkata Penguasa rumah penjara dengan suara lemah lembut.

"Dua patah kata apa ?"

"Kesatu: Kau sudah berjanji hendak menolong Sian-jie, apakah kau menyesal ?"

"Bagaimana aku menyesal? Hanya sekarang ini aku merasa agak sulit. "

"Mengapa sulit ?"

"Untuk menolong muridmu, merupakan suatu hal yang tidak boleh ditunda lagi, akan tapi, aku masih perlu hendak mencari ayahku kemana-mana supaya ia datang, apabila aku pergi kegunung Bu San lebih dahulu, pergi menantang pertandingan apabila aku tidak sanggup melawan dan harus dipenjarakan ini bukankah aku tidak dapat pergi mencari ayahku ?"

PenguaSa rumah penjara itu perdengarkan suara tertawanya dua kali, kemudian berkata:

"Inilah soal kedua yang aku hendak tanyakan kepadamu, apabila kau suka mempelajari ilmu kepandaianku, aku jamin kau pasti dapat menolong Sian-jie keluar dari rumah penjara"

Kim Hong menganggukkan kepala dan berkata:

"Baik, aku terima baik permintaanmu. Sekarang biarlah aku pergi menengok ibuku lebih dulu, bagaimana ?"

"Mengapa kau tidak pergi menengok suhumu lebih dulu, kembalinya dari sana kau boleh saja mengobrol dengan ibumu semalam suntuk"

Kim Hong pikir itu juga benar, maka ia lalu keluar dari kamar, secepat kilat sudah lari menuju kekamar tawanan suhunya dan sumoaynya, untuk memberitahukan tentang pertemuan dengan ibunya. setelah itu ia lari menjumpai In- jie."

Yo in in waktu itu sudah kembali kekamarnya, mendapat kabar bahwa Kim Hong sudah berhasil menemukan ibunya, merasa girang, juga merasa tegang perasaannya, katanya: "Apakah itu benar? Bagaimana rupanya ibumu itu ?"

Kim Hong merasa bangga, katanya: "ibuku hanya baru berusia tiga puluh tahun lebih, ia cantik sekali "

"Bolehkah minta ia menengok aku ?"

"Baik besok aku akan undang ia tengok kau kemari "

In-jie tampak berpikir, tiba-tiba ia berkata sambil menggelengkan kepala: "Sudahlah sebaiknya tunggu aku hendak menantang bertanding dan sekeluar dari sini aku pergi menengok dia ."

"Kenapa ?"

"Sudah lama aku tidak mandi, barangkali ibumu anggap aku terlalu buruk...,."

"Itu tidak bisa, hari ini aku akan beritahukan kepadanya dan bantu kau omong baik dihadapannya lebih dulu"

"Kalau begitu besok aku pergi menantang bertanding supaya dipindahkan ketingkat kamar golongan naga, ada kau disini mungkin aku dapat menyambut sampai sepuluh jurus"

"Baiklah, sekarang aku hendak pergi menengok dua belas ketua partay, tahukah kau dimana mereka ditutup?"

"Disebelah sini dikamar nomor seratus enam, oleh karena kamar tawanan belum dibangun, mereka ada yang sementara dua orang menempati satu kamar, tadi ada banyak tawanan yang pada berteriak-teriak bahwa perlakuan itu tidak adil"

Kim Hong lalu geser kakinya berjalan menuju kekamar nomor seratus enam didalam kamar itu ada duduk ketua partay Soat-san-pay Tong-hong Jie Nlo, nenek itu tidak kenal padanya maka ia berjalan terus hingga kekamar nomor seratus delapan, baru tampak ketua partay Siao-lim dan Bu-tong, mereka baru saja sebagai orang orang berkedudukan sebagai ketua partay dan kini menjadi orang tawanan yang harus mengenakan rantai ditangan dan kakinya, sudah tentu sikapnya sangat mengenaskan,  tampak Kim Hong datang keduanya semakin merasa malu.

Kim Hong memberi hormat sambil menganggukkan kepala kepada mereka menanyakan keselamatannya . Ketua partay Siao-lim Tie Kong Taysu balas menganggukkan kepala dan berkata sambil tertawa getir:

"Siao-siecu, kali ini kembali dapat masuk kerumah penjara rimba persilatan, mengapa demikian baik huburrgan siecu dengan penguasa rumah penjara?"

Kim Hong buru-buru menceritakan semua sebab musababnya, terakhir dia balas bertanya: "ciangbunjin sekalian hari ini dengan beruntung datang menantang pertandingan, boleh kah aku numpang tanya apa sebabnya?"

Tie-kong Taysu berpaling mengawasi ketua partai Bu- tong ceng-hong Cinjin, yang tersebut belakangan ini lalu berkata sambil tertawa:

"Itu tidak ada tujuannya hanya ingin mengadu kekuatan dengan sekaligus saja"

Kim Hong tahu mereka pasti ada mengandung maksud namun ia seolah tak enak untuk bertanya, maka ia kembali pergi menengok pada semua ketua partai yang ia kenal selanjutnya ia masuk ke alat naik turun kebawah lembah itu.

Waktu itu malam telah tiba, ia langsung menuju kamar ibunya dan dahar malam bersama-sama, kemudian mengobrol didalam kamar.

"Anak, bagaimana kesanmu terhadap Penguasa Rumah Penjara?" demikian Sang ibu bertanya.

"Buruk sekali" jawabnya. "Ha, mengapa?"

"Menurut pandangan anak. ia sebetulnya seperti bukan orang jahat, tetapi, dengan mengandalkan ilmunya yang tanpa tandingan, ia berbuat sesuka hatinya, perlu apa membangun rumah penjara ini dan memenjarakan orang- orang rimba persilatan hingga suatu perbuatan yang tak pantas"

"Akan tetapi ia tokh, tidak paksa orang datang menantang"

"Tetapi ia dapat menangkap kelemahan orang-orang rimba persilatan"

"Apakah kau tidak bisa merobah pandanganmu terhadap dia"

"Heng, kecuali ia merobah syaratnya rumah penjara ini" "ibu, apakah anggap ia itu orang baik?"

"Eng, aku merasa ia baik, ia belum pernah menyiksa tawanannya"

"Akan tetapi ia membuat banyak orang terpisah dengan anak istrinya, membuat orang jahat menggunakan kesempatan itu melakukan kejahatan di dunia Kang ouw"

"Hal ini aku tidak perduli" "Kenapa?"

"ouw, ouw, kataku hal ini seharusnya bukanlah ia yang tanggUng jawab, sebab biar bagaimana ia toh tidak pernah memaksa orang datang untuk menantang pertandingan orang-orang itu apabila tahu kewajibannya sebagai orang Kang-ouw harus mementingkan perbuatan baik dan perlaku sebagai pendekar sejati, tidak ada perlunya pergi menantang bertanding toh tidak apa bukan?"

"ibu, bagaimana ibu selalu membela dia?" "Sebab aku merasa dia seorang baik"

"Tidak, ibu, apabila ibu tidak marah. hendak berkata bahwa pandangan ibu salah" "Hem"

"Aaa, ibu jangan marah"

"Aku justeru mau marah, kau sama dengan ayahmu yang keras hati dan keras kepala, kau orang muda yang keras kepala juga "

"Mana, ibu, ayah barangkali benar-benar ada sedikit keras kepala, akan tetapi anak sedikitpun tidak"

"Hii Tadi kau justeru menunjukkan sikapmu yang keras kepala"

"Rasanya toh tidak ibu."

"Semua orang takut kepada penguasa rumah penjara rimba persilatan, hanya kau seorang yang acuh tak acuh terhadapnya ini merupakan salah satu bukti dari sifatmu yang keras kepala, kedua ibu katakan dia baik, tetapi kau sebaliknya mengatakan ia seorang jahat, inilah juga merupakan sifatmu yang keras kepala itu"

"Keras kepala karena membela kebenaran, apa salahnya?"

"Kebenaran apa? Ayahmu telah salah paham terhadapku, begitu pergi meninggalkan aku sudah dua puiuh tahun tidak mau kembali, aku benci sekali kepadanya, dan sekarang kuiihat sifatmu juga mirip dengan dia, maka aku juga merasa agak benci terhadapmu"

"Ayah memang benar ada sedikit  kesaiahan,  akan tetapi. "

"Aiii, kuharap kita ibu dan anak berdua didalam suatu hal bisa mendapat kesesuaian paham"

"Ya, ibu aku akan berusaha supaya menunjukan sikap baik terhadap penguasa rumah penjara." "Sudah maiam, sekarang kau pulang kekamarmu dan tiduriah"

Maiam telah iarut, dari kamar tawanan terdengar suara ribut-ribut bahwa dua beias ketua partay telah berusaha hendak meiarikan diri dengan membobol kamar tahanan masing- masing .

Kim Hong dikejutkan dari mimpinya, ia iaiu turun dari tempat tidurnya dan iari keruangan tamu, disitu tampak Tay-giam-ong iari keluar dari dalam lorong, sedangkan penguasa rumah penjara ia juga keluar dari kamar sebelah kanan ruangan tamu.

Penguasa rumah penjara memancarkan sinar matanya yang tajam, berkata kepada Tay-giam-ong :

"Lao Sun ceng, apa yang telah terjadi?"

"Mereka dengan serentak telah merusak kamar tahanan dan melarikan diri, sekarang ini sedang menyerbu dan berusaha hendak menolong kakek gelandangan dari kamar tahanan istimewa. Lo Kiu dan Lo cap tak sanggup menahan, keduanya terluka parah dan terkapar di tanah,..." menjawab Tay-giam-ong Cemas.

Tanpa menunggu keterangan Tay-giam-ong lebih jauh, penguasa rumah penjara sudah lompat meleset lari kedalam lorong,

Kim Hong hendak mengikuti, tetapi dicegah oleh Tay- giam-ong, katanya: "Tidak ada urusanmu, pergilah kau tidur"

"Apakah laucumu bisa membinasakan mereka?" bertanya Kim Hong khawatir.

"Jangan banyak tanya, pulanglah dan tidur kekamarmu sendiri" "Aku tidak bisa tidur, aku ikut kau turun kebawah lembah untuk melihat saja, bagaimana?"

"Tidak bisa Tidak bisa Lekas kembalikan kekamarmu sendiri"

Kim Hong agak mendongkol, ia duduk di atas kursi dan berkata

"Aku juga tak akan turun juga tidak akan tidur, kau Tay- giam-ong silahkan pergi saja."

Tay-giam-ong terpaksa berlalu, baru jalan dua langkah, tiba-tiba seperti teringat sesuatu buru-buru merandek dan berpaling mengawaSi Kim Hong Sejenak. kemudian berkata, ia agaknya khawatir meninggalkan pemuda itu seorang diri:

"Kau hendak ikut aku turun juga boleh hanya jangan sekali-kali kau turutcamput tangan bagaimana?"

Kim Hong sangat girang, ia lompat dari tempat duduknya dan berkata: "Baik Aku akan berdiri sebagai penonton saja"

Tay-giam-ong antar ia keluar kamar alat naik turun keiembah, tak disangka alat itu sudah digunakan oleh penguasa rumah penjara terlebih duiu, saat itu masih berhenti dilembah bagian bawah.

la lalu menekan alatnya didinding, hingga alat itu dari bawah naik keatas iagi, keduanya iaiu menggunakan alat itu turun kelembah.

Tiba didalam lembah, Tay-giam-ong lompat keluar lebih dahulu, dengan cepat lari ke bawah melalui jalanan tangga yang berputaran itu.

Kim Hong mengikuti dibelakangnya, tidak didepan sebuah lobang goa, dibawah sinar rembulan tampak dimulut goa ada rebah menggeletak dua orang tua mereka ternyata adalah ketua partay Kong-thong-pay Jie cek Bun ketua partay Lam-hay-pay Bu-yu Sianjin Yap It ciu. mereka rebah dengan mata terbelalak. jeias ini sudah ditotok jalan darahnya.

Tay-giam-ong agaknya takut Kim Hong turun tangan pergi menolong, maka ia segera menarik tangannya dan lari masuk kedalam goa. jalan didalam goa itu tidak dalam, masuk kira-kira tiga tombak sudah menikung kekanan masuk lagi kira-kira enam tujuh beias tombak. tibaliah dibagian terakhir, disitu tampak sebuah kamar tahanan yang kokoh dan kuat.

sebuah pelita yang memancarkan sinar apinya yang lemah, dapat melihat keadaan diluar tahanan itu, ada menggeletak sepuluh lebih orang tua, sedangkan penguasa rumah penjara berdiri ditengah-tengah mereka dengan sikap tenang dan sedikitpun tidak bergerak.

Sungguh cepat sekali, dalam waktu yang sangat singkat saja, ia sudah berhasil menjatuhkan dua belas orang ketua partay.

Kim Hong maju melongok, tampak dua batang besi besar yang digunakan untuk palang pintu kamar tahanan sudah bengkok, lobang-lobang dari sela-sela besi itu dapat digunakan untuk diri seorang keluar masuk, akan tetapi tawanan aneh yang berada dalam kamar....ialah kakek gelandangan Kiat Hian sebaliknya masih duduk disatu sudut dengan tenangnya, sepasang matanya kedap-kedip. agaknya tidak menghiraukan apa yang terjadi diluar kamarnya, sikapnya itu menunjukkan betapa ketenangan hatinya.

Rantai yang digunakan untuk merantai kaki dan tangannya luar biasa besarnya, rantai-rantai itu mungkin ada dua ratus kati beratnya, dilehernya juga dirantai sepanjang kira-kira enam kaki, diikat dengan tiang besar didalam kamar tawaaannya, cara memasung orang demikian ini sekali pun mempunyai kepandaian luar biasa juga tidak dapat meloloskan diri.

pada saat itu Penguasa rumah penjara mengeluarkan suara batuk-batuk perlahan, berkata sambil mengawasi kakek gelandangan: "Hei, tadi mengapa tidak mencoba ?"

"Tidak perlu mencoba, kalau aku meronta saja sudah lantas terbuka..." menjawab kakek gelandangan acuh tak acuh.

"Mengapa tidak kau lalukan ?"

"ouw....tidak. aku merasa begini lebih enak. kulihat aku seperti suka dengan kamar ini"

"Kau ngoceh, ada apa yang dibuat suka dalam kamar ini?"

"Aku berdiam disini tidak ada orang yang datang mengganggu, aku boleh memikirkan segala urusan yang suka aku pikirkan "

Sehabis berkata demikian ia berpaling dan bertanya kepada Kim Hong: "Hei bocah, apakah kau yang bernama Cin Hong ?"

Kim Hong menjawab Sambil menjura:

"Ya, tapi boanpwe sekarang sudah berobah shenya menjadi she Kim, sebab boanpwe sudah menemukan ibu boanpwe"

"Aku tidak perduli kau she Kim atau she Cin, kuberitahukan padamu. kawan perempua-mu itu bodoh sekali, ia. " Kim Hong takut ia akan menceritakan urusannya yang mengajarkan ilmu silat kepada In-jie, maka buru-buru memotong dan berkata dengan suara keras:

"Aku tahu.. Aku tahu... Dia sekarang kembali diturunkan kekamar tahanan golongan ular"

Kakek gelandangan menganggukkan kepalanya berkata dengan wajah berseri-seri:

"Kenapa? Hei kau berani menantang bertanding kepadanya? Kemudian ditawan olehnya didalam kamar tahanan golongan ular?"

Kim Hong melirik penguasa rumah penjara sejenak. berkata sambil menganggukkan kepala: "Jikalau perlu sudah tentu boanpwe berani"

Penguasa rumah penjara hanya memperdengarkan suara dari hidung, lalu berpaling dan berpesan kepada Tay-giam- ong:

"Jaga baik- baik dua belas tawanan ini. nanti setelah terang tanah aku akan hukum mereka dihadapan umum "

Sehabis berkata demikian dengan mendadak menarik tangan Kim Hong dan berlalu, langsung masuk kealat naik keatas lembah.

"Laucu, tahukah kau apa sebab mereka hendak menolong kakek gelandangan?" demikian Cin Hong bertanya.

"Suruh ia membuka kotak rahasia batu Giok "

"Nah, sekarang kau pikir hendak meng hukum mereka dengan Cara bagaimana "

"Aku hendak hukum mati mereka dihadapan semua tawanan, jikalau tidak bagaimana aku dapat mengandalikan semua tawanan itu?" "sebaiknya berikan hukuman agak ringan sedikit " "Tidak bisa "

"Harap kau suka pikir dulu, ibuku suruh aku merobah pandanganku terhadap kau "

"Aku tidak perduli bagaimana anggapanmu terhadap diriku "

"Apakah kau sudah tidak bisa diajak berunding lagi ?" "Ini bukan salahku, mereka telah merusak peraturan

rumah penjara"

"Itu karena terpaksa, sebab golongan Kalong sudah berhasil merampas delapan buah anak kunci dari dua belaS anak kunci emas itu kau tahu bahwa Pangcu golongan Kalong itu bukan orang baik"

"Aku tidak perdulikan itu semua "

"Baik, kalau kau berani menghukum mereka, aku akan menantang bertanding dengan kau"

"Kalau kau berani menantang kunanti akan hajar mampus dirimu "

"Kau tunggu saja, lihat setelah terang tanah, aku berani menantang kau atau tidak"

"Hm, bocah apa kau tidak menepati janjimu untuk menolong muridku ?"

"Aku merasa sangat menyesal, dua belas nyawa kalau dibanding dengan muridmu, membuat aku tidak berdaya, mau tak mau aku harus mengingkari janjiku sekali ini "

"Apa kau kira kalau kau menantang bertanding sudah dapat mencegah aku untuk menghukum mati mereka?" "Setidak-tidaknya aku sudah melaksanakan tugasku dan kewajibanku "

"Omong kosong "

"Banyak omong tidak gunanya, kita tunggu sampai  besok hari saja"

Esok harinya, Kim Hong begitu bangun tidur sudah lari keluar hendak memberitahukan kepada ibunya tentang maksudnya hendak menantang bertanding  dengan penguasa rumah penjara, tak ia sangka begitu tiba didepan pintu ibunya, tampak dua Giam ong ialah Hoan Thian Tiauw dengan sikapnya yang garang duduk di atas kursi rotan, sedang tangan kanannya mengurut-urut kumisnya dan brewoknya yang lebat.

Kim Hong menganggukkan kepala padanya, namun tidak tampak ibunya didalam kamar hingga dalam hati merasa heran- ia lalu berpaling dan bertanya "Jie Giam-ong, numpang tanya, kemana ibu pergi?"

"ibumu tidak mau menjumpai kau?" jawab Jie Giam-ong sambil tersenyum.

"Apa sebab ibu tidak mau menemui aku?" bertanya Kim Hong terkejut.

Jie Giam ong mengeluarkan sepotong kertas dari dalam sakunya, diberikan kepada Kim Hong seraya berkata:

"Kau baca ini, ini adalah ibumu yang minta aku sampaikan kepadamu"

Kim Hong menyambutnya dan membaca tulisannya yang sangat singkat saja isinya.

"Hong jie, jikalau kau menantang bertanding dengan laucu, ibumu tidak akan menemui kau untuk selama- lamanya." Kim Hong terkejut, ia lompat dan berkata: "Lekas beritahukan kepadaku, kemana ibuku pergi?"

"Kau boleh duga sendiri apakah aku bisa memberitahUkan kepadamu?" balas bertanya Jie Giam-ong dengan sikap acuh tak acuh.

"Apakah kalian sudah menawan ibu?" bertanya Kim Hong marah.

"Kami terhadap nona Siu Khim selamanya sangat menghormat, demikian pula dengan laucu kami" menjawab Jie Giam-ong sambil menggelengkan kepala.

"Kalau begitu kau beritahukan padaku kemana ia pergi, aku hendak memberi penjelasan kepadanya"

"Penjelasan tidak akan menantang pertandingan?" "Penjelasan apa sebab aku hendak menantang

bertanding"

Jie Giam-ong tertawa dan berkata sambil menggeleng- gelengkan kepala:

"Kalau begitu, Segalanya tak usah dibicarakan lagi"

Kim Hong marah, katanya

"Kurang ajar, ini pasti perbuatan kalian semua"

"Aku kata, kami orang-orang yang ada di sini Selamanya menghormati ibumu, kami tidak bisa memaksa ia menentang kau mengadakan pertandingan, lagi pula kau bukanlah seorang yang hebat, laucu kami tidak ada perlunya mencegah kau menantang"

Kim Hong pikir bahwa ucapan itu juga ada benarnya, maka ia meraSa serba salah, sambil menundukkan kepala air matanya mengalir tidak berhentinya. Jie Giam ong mengulurkan tangannya dan menunjuk sebuah kursi kosong disebelahnya seraya berkata:

"Kau boleh duduk sebentar untuk memikirkan dulu baik- baik, pikirkanlah apa sebab ibumu hendak mencegah kau menantang bertanding?"

Kim Hong menurut duduk dikursi yang ditunjuk, ia memulai memikir dengan tenang,

Agak lama ia berpikir, barulah bangkit dari tempat duduknya Jie Giam-ong bertanya padanya dengan penuh perhatian: "Sudah pikir masak?"

"Sudah"

"Lalu, putusanmu, tidak jadi menantang?"

"Tidak aku mengambil keputusan tetap hendak menantang bertanding"

Jie Giam-ong mendadak marah, ia bangkit dari tempat duduknya dan mengambil sikap mengusir, bentaknya:

"Pergi kau bocah ini benar-benar sudah tidak ada obatnya lagi, pergi mampus sana"

Kim Hong memutar diri dan berjalan kembali keruangan tamu, tampak Penguasa Rumah Penjara berdiri didepan jendela, ketika mendengar suara langkah kakinya, berpaling

mengawasi Kim Hong dan bertanya sambil tertawa: "Mengapa matamu merah ?"

"ibu tidak mau menemui aku " "Kenapa ?"

"Ia kata apabila aku menantang bertanding padamu ia tak mau menemui aku selamanya."

"Kalau begitu kau tidak jadi menantang lagi ?" "Tidak. aku tetap hendak menantangmu "

"Jadi kau tidak mau dengar ucapan ibumu, ini berarti anak tidak berbakti "

"Tidak berbakti? Tuhan yang tahu. "

Penguasa Rumah Penjara sangat marah, ia berkata sambil menunjuk keluar jendela: "Bagus sekali. Sekarang kau pergi memukul tambur"

Kim Hong lompat melesat dari lobang jendela, ketika kakinya menginjak kesenar besi lalu melompat kepanggung disebelah sana, untuk pertama kalinya ia harua menghadapi Penguasa Rumah Penjara yang kesohor namanya juga untuk pertama kalinya ia berdiri diatas tujuh senar besi yang terpancang di atas lembah, ketika kepalanya menunduk kebawah, bagian bawah itu tampak seperti tak ada dasarnya hingga didalam hatinya timbul rasa takut, ketika berada diatas panggung sekujur tubuhnya Sudah mengucurkan keringat dingin- 

la menarik napas lega, lalu berjalan ke-tambur besar dan memukul dan memukul tambur hingga lima kali.

Banyak tawanan masih tidur dengan lelapnya, ketika mendengar suara bunyi tambur pada melongok melalui lobang jendela dari bawah tampak seperti biji buah anggur yang tergantung di dinding lembah.

Sementara itu penguasa rumah penjara pun sudah melesat keluar melalui lubang jendela, lalu melayang turun ke atas senar dan berjalan menghampiri Kim Hong.

Kim Hong mengeluarkan kipas, Untuk kedua kalinya ia melompat ke atas senar, menyambut kedatangan Penguasa Rumah Penjara. Penguasa Rumah Penjara menghampiri Kim Hong, memandangnya sejenak lalu berkata dengan suara tenang dan sambil senyum:

"Beranikah kau mendengar irama yang akan kusentil  dari senar ini?"

Kim Hong paling takut mendengar suara irama senar besi itu tetapi karena ditanya berani atau tidak. bagaimana ia bisa menunjukan kelemahannya? Maka ia lalu berkata dengan menebalkan muka: "Aku justru ingin belajar kenal, kau sentillah saja"

Penguasa rumah penjara rimba persilatan dengan sangat lincahnya mulai bergerak-gerak diatas senarnya, hingga senar besi itu menimbulkan irama mengalun di udara.

Irama itu mendengarkan suaranya perlahan-lahan, maka getaran kawat besar itu juga tidak terlalu hebat, Kim Hong yang berdiri ditengah bagian tengah kawat, memejamkan mata menenangkan pikiran, ia berusaha untuk menindih perasaannya jangan sampai memperhatikan irama itu, akan tetapi tak lama kemudian dengan tiba-tiba ia merasa suara irama itu sedikitpun tak hebat, sebaliknya malah perdengarkan suara yang merayu dan indah sekali. Selanjutnya, ia seperti seorang anak yang baru pulang kepangkuan ibunya sedang menceritakan pengalamannya diluar suka duka, semuanya ada.......

Semuanya itu telah membawa padanya tenggelam dalam dunia lamunan yang senang dan ada kalanya duka.

Dengan mendadak Kim Hong menjerit dan menubruk bayangan ibunya, dalam lamunannya tak ia sangka kakinya menginjak tempat kosong, hingga ia tidak dapat pertahankan lagi dirinya. saat itu ia telah terjatuh dari atas senar dan melayang turun kebawah lembah. Ketika terjatuh diatas jaring, tubuhnya terumbang- ambing, waktu ia membuka mata, ia baru tahu bahwa dirinya berada didalam jaring, ia baru terkejut, dan memikirkan kembali apa yang telah terjadi, tapi ia tetap tidak ingat bagaimana dirinya bisa terjatuh dijaring kaWat itu.

Perlahan-lahan ia merayap bangun, ketika angkat muka tampak Jie Giam-ong berdiri dihadapannya dengan tangan membawa rantai besi, ia terkejut dan bertanya padanya : "Hei, aku tadi dapat menyambut berapa jurus?"

Didalam Jie Giam-ong merantai tangan dan kaki Kim Hong katanya sambil tertawa, "Anak bodoh, kali ini kau sudah merasa puas?"

"Ini kamar nomor berapa?"

"Kamar nomor seratus enam." Sehabis berkata demikian,jie Giam-ong lantas mengunci pintunya dan meninggalkan Kim Hong seorang diri. Jie Giam-ong tertawa dan berkata padanya dengan nada mengejek:

"Tidak tahu malu. Sejak berdirinya rumah penjara rimba persilatan ini, kaulah satu-satunya orang yang paling jelek .

. .satu jurus belum sampai sudah terjatuh sendiri kedalam jaring ini"

Kim Hong malu sekali, hingga wajahnya menjadi merah, katanya dengan suara gelagapan:

"Itu pasti lantaran aku dengar irama senar tadi hingga pikiranku kalut. jikalau tidak. paling sedikit aku juga bisa menyambut lima jurus keatas. "

"sekarang jangan banyak bicara lagi ikutlah aku pergi"

Diam-diam ia terpaksa mengikuti Jie Giam-ong masuk kelubang sebuah goa, berjalan berliku-liku sebentar, tibalah didepan pintu kamar tahanan Jie Giam ong mengeluarkan serenceng kunci membuka pintu batu kemudian suruh Kim Hong masuk kedalam.

Kim Hong berjalan kebawah jendela. tampak dinding dibawah jendela ada tanda pecah ia tahu bahwa tadi malam Tong-hong Jie Nio pasti pernah merusak dinding itu. Saat itu ia lalu memanggil-manggil In-jie melalui lubang jendela.

In-jie yang ditawan dalam kamar nomor seratus lima, mendengar panggilan itu segera menyahut:

"Apakah disana engkoh Hong? Dari mana kau memanggil aku?"

"Dari kamar nomor seratus enam, aku sekarang telah ditawan "

In-jie berseru kaget, tanyanya:

"Apa? Apakah orang yang menantang pertandingan tadi adalah kau ?"

"Ya, sebab penguasa rumah penjara hendak menghukum mati dua belas ketua partay, dalam marahku aku segera menantang bertanding padanya, siapa tahu satu jurus belum berlangsung aku sudah terjatuh kebawah "

"Baik, baru saja aku pikir hendak mencari kau, sekarang kau sudah jatuh disini lalu sekarang bagaimana?"

"Tidak apa, naiklah kau "

"sekarang perlu apa aku masih naik? Aih."

"In-jie kau jangan menghela napas, lantaran aku menantang bertanding, hingga timbul sedikit perselisihan dengan ibu, kalau kau menghela napas lagi, aku semakin terasa tidak enak " "Baik, baik, aku tidak menghela napas, sekarang kau pikir hendak berbuat apa?"

Kim Hong masih belum menjawab, tiba-tiba terdengar ia berseru terkejut: "Hai, engkoh Hong, coba kau tengok ke- atas, lihat mereka sedang berbuat apa?"

Kim Hong menolongakkan kepala, tampak diatas senar setinggi beberapa puluh tombak. beberapa pegawai rumah penjara sedang menggantung beberapa orang dibawah jaring, orang-orang itu ditelikung kedua tangannya dan kakinya, hingga seperti babi bergelantungan dibawah jaring.

Satu persatu dihitung oleh Kim Hong, Semuanya berjumlah dua belas orang....

Itu adalah dua belas ketua partay yang tadi malam hendak membobol kamar tahanan.

Kim Hong terkejut dan berkata: "celaka. Penguasa rumah penjara itu benar-benar hendak menghukum mati mereka "

"Mereka benar-benar tidak tahu malu. ingin kabur, Sebetulnya juga harus dihukum mati" berkata In-jie.

"Kau ngoceh, rupanya kau juga sama dengan orang semaCam Penguasa Rumah Penjara ini" berkata Kim Hong marah.

"Apa aku salah? Mereka tokh sudah be rani menantang bertanding, seharusnya mempunyai keberanian untuk menerima hukuman. " berkata In-jie gugup,

Kim Hong memotong ucapannya dan berkata: "Kedatangan mereka ia hendak menolong keluar Kiat-

locianpwe, tahukah kau?"

"Siapakah Kiat-locianpwe?" "Dia adalah orang tawanan yang mendiami kamar istimewa yang dahulu pernah mengajarkan kau ilmu silat, dia adalah anak laki-laki dewa persilatan"

"oouw, kiranya dia, ia sudah beberapa hari tidak berbicara denganku"

Sementara itu, dari atas terdengar suara orang berkata dengan nyaring: "Para tawanan semua dengar, tadi malam ada dua belas orang tahanan hendak melarikan diri dengan membobol kamar tahanan, semua sudah ditangkap kembali oleh laucu, perbuatan semacam ini, seharusnya dihukum mati dengan segera, untuk menjaga nama baik peraturan kami, hanya, laucu masih ingat Tuhan, maka perintahkan padaku untuk minta pikiran kalian, apabila ada jumlah separo keatas dari kalian yang setuju menghapuskan hukuman mati, maka laucu akan menghukum ringan, masing-masing akan dipotong satu jari tangannya, jika tidak, maka menurut peraturan akan dihukum mati, Sekarang kalian boleh mulai pikir masak-masak sebentar kita akan datang mengunjungi kalian satu persatu, untuk mengambil keputusan"

Kim Hong segera berseru: "Tak perlu dipikir, kami setuju kalau mereka tidak dihukum mati"

In-jie juga berkata dengan suara nyaring: "Aku juga setuju mereka jangan di hukum mati."

Para tawanan yang lainnya juga mulai ribut-ribut berteriak-teriak dan ada yang menyatakan tidak setuju, ada yang menyatakan setuju, yang tidak setuju, karena menganggap bahwa mereka sebagai ketua partai besar, ternyata berani melakukan perbuatan hendak melarikan diri dengan jalan membobol kamar tahanan, perbuatan itu tidak bedanya sebagai perbuatan kawanan berandaL Karena sama-sama pada berpendapat demikian, maka banyak suara yang menyetujui mereka dihukum mati.

Antara suara yang menentang dan yang setuju terdengar semakin ramai, tetapi umumnya pada setuju dihukum mati, Kim Hong yang mendengar itu tampak cemas dan gusar, katanya dengan suara nyaring:

"In-jie, sekarang bagaimana? Rupanya yang menyetujui hukuman mati jumlahnya lebih banyak dari yang tak setuju?"

"Apa boleh buat, orang-orang ini biasanya hidup sangat kering, sekarang telah menganggap membunuh orang itu sebagai kesenangan" menjawab In-jie.

"Dengan demikian, apakab dua belas ketua partay itu sudah pasti dihukum mati?"

"Lalu, kalau menurut kau bagaimana kita harus berbuat?"

"Ya, bagaimana harus berbuat? Ini merupakan suatu hal yang memerlukan pemikiran keras."

Ia sangat gelisah, tetapi tidak dapat menemukan suatu cara yang baik, dalam keadaan cemas, tanpa disadari olehnya, dengan menggunakan rantai ditangannya ia memukul-mukul dinding seperti orang gila.

Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara seorang tua halus sekali bagaikan nyamuk terbang masuk kedalam telinganya:

"Hei, apakah kamar nomor enam sudah ada penghuninya lagi?"

Kim Hong terperanjat ia segera teringat bahwa itu pasti adalah suara kakek gelandangan yang disampaikan kepadanya melaiui ilmu menyampaikan suara kedalam telinga yang dikeluarkan dari kamar tahanannya yang istimewa, maka saat itu ia segera tenggukup disatu sudut dan berkata dengan suara keras:

"Aku disini Kim Hong, apakah kau Kiat-locianpwee?" Kini telinganya mendengar pula jawaban seorang tua:

"Benar, bocah sejak kapan kau berobah menjadi tawanan ?"

"baru saja aku terjatuh dibawah lembah ini" menjawab Kim Hong.

"Kim Hong, otakmu cukup cerdas, sedikit saja sudah mengerti " berkata si kakek gelandangan sambil tertawa.

Kim Hong tidak dapat mengerti maksud orang tua itu, tanyanya dengan suara keras: "Kiat-locianpwee, apa kata locianpwe tadi ?"

"Bukankah kau turun kepenjara ini hendak belajar padaku ilmu silat ?"

Kim Hong tercengang ia menjawab dengan terus terang: "Tidak. sebab Penguasa Rumah Penjara ini hendak

menghukum mati dua belas ketua partay, maka boanpwe barulah menantang padanya, bukanlah hendak belajar ilmu silatmu, Sengaja boanpwe minta ditawan "

"oh kiranya begitu, apakah mereka sudah dihukum mati oleh Penguasa Rumah Penjara ?"

"Belum, ia sedang minta pendapat para tahanan semua, akan tetapi sebagian besarpara tahanan setuju mereka dihukum mati sekarang coba locianpwe pikir, bagaimani harus bisa berbuat?"

"Ngg, biarlah kupikir dulu . ."

Sesaat kemudian, dari kamar In-jie tiba-tiba terdengar suaranya yang sangat gembira: "Engkoh Hong, aku  ada akal untuk menolong mereka " Sementara itu, suara ribut-ribut dari para tawanan juga sudah mulai sirap sebab ada beberapa penjaga rumah penjara sudah mulai datang berkunjung untuk menanyakan pikiran mereka.

Kim Hong sangat gelisah, tanyanya: "In-jie kau ada mempunyai akal apa lekas kau ceritakan"

"Baik engkoh Hong, suaramu lebih nyaring dari padaku bukan?"

"Ya, kenapa?" bertanya Kim Hong heran.

"Kalau begitu, aku akan mengucapkan sepatah kata kau lalu sampaikan kepada semua tawanan dengan suaramu yang nyaring"

Kembali Kim Hong terkejut tanyanya: "Menyampaikan bagaimana?"

"Saudara-saudara senasib dengar ..."

Kim Hoag segera mengerti apa yang hendak dikatakan oleh gadis itu, hanya ia tidak tahu apa yang akan dikatakan, maka ia segera menuruti ucapan In-jie tadi disampaikan kepada para tawanan semua,

Karena kekuatan tenaga dalamnya sudah cukup baik, maka dengan suaranya itu, benar saja bisa disampaikan kepada semua tawanan dalam golongan kamar ular itu, mendengar suara itu, suara ribut-ribut dari mereka tadi menjadi sirap hingga suasana jadi tenang. Sementara itu In- jie sudah berkata lagi: "Atas perintah Soat-lie-ang Yo In In-"

dalam hati Kim Hong diam-diam terkejut terpaksa ia menyampaikan suara Yo In In itu dengan suaranya sendiri.

Semua tawanan ketika mendengar suara itu suasana semakin tegang.

In-jie berkata lagi: "Semua harus memberi suara menentang dihukum matinya dua belas ketua partay "

dalam hati Kim Hong merasa sangat girang ia kembali menyampaikan ucapan In-jie tadi dengan menggunakan suaranya sendiri, In-jie berkata pula:

"Jikalau kalian berbuat demikian, dilain waktu apabila sedang bekerja, aku akan menyanyikan lagu yang amat merdu untak kalian semua"

Kim Hong diam-diam memuji kepintaran In-jie, kembali ia menyampaikan ucapan itu dengan suaranya sendiri. In- jie sementara itu sudah berkata lagi:

"Jikalau tidak demikian, hehem, kalian boleh dan saksikan sendiri apa nasib kalian nanti."

Kim Hong merasa bahwa ucapan itu kurang tepat, tetapi ia masih menyampaikan juga dengan suaranya sendiri.

Para tawanan telah tenang agak lama, tiba-tiba dari antara mereka ada yang berkata dengan suara keras:

"Ya, melihat orang dibunuh mati ada lebih baik kita dengar nona Yo bernyanyi inilah baru ada artinya, aku tidak....tidak setuju dua belas ketua partay itu dihukum mati."

"Jikalau nona Yo sudah perintahkan demikian, aku juga setuju mereka tidak dihukum mati" demikian terdengar pula orang yang mendukung Yo In In-

Diantara gemuruhnya suara orang banyak tiba-tiba terdengar suara orang yang minta supaya In-jie menyanyi Sekarang juga .

Usul itu segera disambut dengan suara gempar oleh semua tawanan, hingga lembah itu dirasakan seperti mau rubuh. In-jie, terkejut dan bertanya kepada Kim Hong: "Engkoh Hong, apakah aku harus menyanyi?"

"Ya, menyanyi... Harus menyanyi" berkata Kim Hong dengan suara nyaring.

"Kalau begitu kau suruh mereka tenang"

Kim HONG Segera berkata dengan suara nyaring: "Tenang Tenang Nona Yo kini hendak menyanyi "

Suara Kim Hong disampaikan satu persatu oleh para tawanan kepada yang lain, hingga dalam waktu sekejap mata, seluruh lembah itu sudah pulih kembali menjadi tenang.

Setelah itu, suara nyanyian In-jie yang sangat merdu mengalun diudara, didengar oleh semua telinga para tawanan didalam lembah

selesai menyanyi, mendapat sambutan hangat dari para tawanan, hingga suara riuh memenuhi lembah itu.

Sekarang penguasa rumah penjara rimba persilatan mau tak mau harus mentaati ucapannya sendiri, tak lama kemudian, setelah perhitungkan pemungutan suara selesai dua belas ketua partay itu masing-masing dikutungi sebuah jarinya sebagai hukuman, kemudian dibawa kembali kekamar tahanan masing-masing.

Kim Hong karena kegirangan, maka segera memberi pujian kepada In-jie, dengan sangat girang In-jie berkata:

"Aku sendiri tidak tahu bagaimana bisa memikirkan akal semacam itu, sebetulnya, aku seharusnya sejak tadi sudah memikirkan bahwa para tahanan itu memang dahulu semua pada dengar kataku "

Selagi Kim Hong hendak menjawab. telinganya kembali terdengar saara seorang tua yang sangat halus: "Bocah, sahabat perempuanmu itu, sifatnya begitulah yang kurang menyenangkan orang, ia suka membual, suka bangga, sudah jelas akal itu adalah aku yang mengusulkan padanya, tapi sebaliknya ia anggap punyanya sendiri...,"

dalam hati Kim Hong juga merasa geli, ia segera berjalan kesatu sudut dan berkata dengan suara nyaring:

"Kalau begitu terima kasih kepadamu, lo-cianpwee" "Tidak usah mengucapkan kata-kata yang tidak perlu,

sekarang aku akan menurunkan satu jenis ilmu silat, jenis apakah yang kau suka pelajari?" terdengar suara kakek gelandangan dari sebelah sana.

"Terserah, boanpwe sudah mempelajari semacam ilmu silat locianpwe" berkata Kim Hong.

"Kau mempelajari ilmu silatku yang mana?" demikian terdengar pertanyaan kakek gelandangan agaknya heran.

"Ilmu kipas Tay-seng-bong-sin San, itu adalah ketika boanpwe pergi mengejar pangcu golongan Kalong dahulu, sewaktu tiba digunung Bie-ciong-san, peliharaan locianpwe yang bernama Peksie Siu-su telah menggali sejilid kitab dari dalam tanah dan diberikanpada boanpwe"

"Ah, monyet kurang ajar, ia berani-berani mengambil putusan sendiri..." terdengar suara kakek gelandangan yang agak marah, tapi setelah diam sejenak terdengar pula suaranya:

"Baiklah, ia mungkin melihat kau bukanlah orang jahat, maka dengan rela memberikan kepadamu, hanya kalau kau sudah memahami ilmu kipas Tay-seng-hong-sin-san mengapa tidak sanggup menahan serangan Penguasa  rumah penjara hingga sepuluh jurus ?"

Kim Hong merasa malu dengan jawabannya. "Boanpwe Sama sekali belum pernah melakukan pertandingan dengannya, entah dengan cara bagaimana, dengan mendadak telah jatuh oleh karena mendengar suara irama sentilan senar kawat."

"Ng. kalau perasaanmu demikian lemah, barangkali juga tidak ada gunanya bagimu mempelajari seluruh ilmu kepandaianku. "

"Lalu, sekarang bagaimana?"

"Jikalau kau ingin segera keluar dari tahanan, aku akan mengajarkan kau suatu cara"

"Baiklah, cara apa ?"

"Sebelum kuajarkan padamu, lebih dulu kau harus berjanji melakukan suatu tugas untukku"

"Tugas apa "

"Pergi kegunung Tay-pek-san, disana ada sebuah danau yang dinamakan danau Tay-pek-tie, disebelah  selatan danau Tay-pek-tie ada sebuah tempat yang banyak batu cadas, disitu kau pergi melihat, karena aku pernah meninggalkan beberapa tulisan orang lain, kau harus lekas pulang beritahukan padaku, sedikitpun tidak boleh membuang waktu, apakah urusan ini kau dapat melakukan

?"

"Baik, Boanpwe pasti sanggup melakukan-"

Setelah diam tidak ada suaranya sebentar dari kakek gelandangan, kemudian terdengar suaranya,

"Jikalau kau ingia mempelajari ilmu silat- ku lagi, boleh pergi kegunung Bie-ciong-san suruh Pek sie-siu-su menggali kitab ilmu pedang keluarga Kiat supaya diberikan padamu, apabila ia tidak mau kau boleh menyanyikan syair pujangga Touw Pho, itu adalah syair yang suka kunyanyikan-" "Terima kasih atas hadiah locianpwe, tetapi urusan ini tidak begitu tergesa-gesa, tadi pelajaran apa yang locianpwee katakan hendak ajarkan kepada boanpwee. "

"cara ini ialah: Asal kau menggunakan kain basah untuk menutup lubang telingamu, kau dapat menyambut serangan penguasa rumah penjara hingga sepuluh jurus."

Kim Hong pikir cara itu memang masuk akal, maka dengan sangat kegirangan ia berkata: "Ya benar, mengapa semula tidak memikirkan cara demikian?"

Terdengar suara tertawa kakek gelandangan, kemudian kata-katanya: "Sekarang kau boleh naik pergi menantang bertanding lagi"

Kim Hong sangat gembira, lalu ia lompat kemulut jendela dan berkata kepada in-jie: "In-jie mari kita naik keatas lembah untuk menantang bertanding"

Sesaat kemudian, terdengar pula suara tambur berbunyi lima kali, suatu tanda orang datang menantang bertanding lagi.

Baru sirap suara tambur dari lubang jendela ruangan tamu penguasa rumah penjara tampak melesat keluar sesosok bayangan hitam dan sebentar kemudian sudah berada diatas senar besi.

Kim Hong yang berdiri di atas panggung sebrang lain, bersama In-jie saling berpandangan dan tertawa, yang tersebut duluan membentur siku yang tersebut belakangan seraya berkata: "In-jie, kau naik lebih dulu"

In-jie miring kan kepalanya dan bertanya "Apa katamu?"

Kim Hong baru ingat bahwa lubang telinga mereka sudah ditutup oleh kain basah sudah tentu tidak dapat dengar apa yang di ucapkan olehnya, maka ia lalu mendorongnya dengan suatu tanda suruh ia naik lebih dulu.

In-jie mengerti, ia segera menggunakan ilmunya dari golongan Thian-san, melayang yang tinggi sejauh tiga tombak, kemudian melayang turun lagi keatas senar besi itu, lebih dulu ia menjura memberi hormat kepada  penguasa rumah penjara, lalu berkata Sambil tertawa:

"Laucu, aku hendak mengganggu kau lagi"

Dengan sinar mata merah Penguasa rumah penjara berkata:

"Hm, kau budak ini orangnya kecil nyalinya besar, kali ini rumah penjara hampir kau kacau balau tidak karuan macam hari ini bagaimanapun juga kau akan turun kekamar tahanan seumur hidup, kulihat kau masih bisa mengacau atau tidak?"

In-jie yang tidak dapat mendengar, sudah tentu tidak tahu apa yang diucapkan, sambil miring kan kepala ia bertanya: "Apa katamu?"

"Hm..., adakah kau sudah tuli?" berkata Penguasa Rumah Penjara marah.

In-jie menggeleng-gelengkan kepala, lalu menganggukkan kepala dan tertawa geli sendiri, setelah itu ia berkata:

"Hei, tidak usah bicara yang bukan-bukan sekarang kau boleh mulai menyentik senarmu, kali ini sekalipun kau menyentil dengan irama apa saja, aku juga tidak takut"

Penguasa Rumah Penjara bergerak. benar saja dengan gerakan sangat lincah ia bergerak-gerak kakinya di atas senar. Senar itu mengeluarkan irama mengalun, sebentar memperdengarkan iramanya yang merdu merayu, sebentar kemudian memperdengarkan irama berduka, sehingga bagi orang yang mendengarkannya merasa pilu hati...,.

Akan tetapi In-jie sedikitpun tak menunjukkan rasa pilu atau risau, dengan gerakannya yang sangat lincah ia lompat-lompatan di atas senar sedikitpun tak terganggu irama senarnya.

Penguasa Rumah Penjara menyaksikan gadis itu benar saja tidak tergerak hatinya oleh suara senarnya, mengeluarkan suara terkejut, tiba-tiba menghentikan gerakkannya lalu menyerbu dan menyerang dengan tangan kanannya.

In-jie sambut dengan sikap tenang, dengan gerakannya yang sangat lincah ia mengelak serbuan itu, lompat meleset kesenar sebelah kanannya, sedang tangannya bergerak balas menyerang bagian jalan darah didekat pinggangnya.

Serangannya itu dilakukan dengan cepat dan indah sekali, hingga secepat kilat sudah sampai kebagian yang diarah hanya tinggal tiga dim saja.

Tubuh penguasa rumah penjara agak memutar, ia menyampok tangan In-jie dengan lengan bahu kirinya, disamping itu, tangan kanannya bergerak dan menyambar leher, seraya berkata sambil tertawa:

"Huh, kau bocah ini selama beberapa hari ini ternyata sudah mendapat banyak kemajuan"

Dengan gerakannya yang sangat indah ia berhasil mengelakkan samberan tangan penguasa rumah penjara, disamping itu ia merobah gerak tipunya untuk balas menyerang lagi. Kali ini bergerak kedua tangannya, tangan kiri menyerang bagian jalan darah Im-ciong, tangan kanan menyerang bagian jalan darah Kie-bun-hiat, serangannya itu dilakukan dengan tepat dan bagus Sekali, Sedikitpun tidak menunjukan kekalutan-

Kiranya sejak ia mendapat pelajaran ilmu dari kakek gelandangan, ia sudah bertekad hendak keluar dari rumah penjara maka setiap hari kalau ada waktu senggang ia telah melatihnya dengan tekun, meskipun pernah beberapa kali menantang dan mengalami kegagalan, tetapi semua itu kalah dibawah irama senar besi yang digerakkan oleh penguasa rumah penjara, jikalau ditilik dari ilmu kepandaian silatnya, sebetulnya ia tidak dibawah suhunya sendiri ialah Soat Po-po.

Sudah tentu, penguasa rumah penjara sudah lama tahu bahwa pukulan tangannya itu adalah dapat pelajaran dari kakek gelandangan, tapi terhadap itu ia tidak mau peduli, sebab dalam rumah penjara itu tidak ada larangan bagi para tawanan untuk melatih ilmu silat.

dalam waktu cepat dua orang itu sudah bertanding delapan jurus, asal In-jie dapat menyambut dua jurus lagi, ia akan menjadi orang kedua yang berhasil keluar dari rumah penjara rimba persilatan itu dengan mengandalkan ilmu kepandaiannya.

Pengurus rumah penjara dengan mendadak mengeluarkan suara pekikan panjang badannya meleset tinggi keatas lima tombak. kemudian memutar balik, secepat kilat menyergap kepala In-jie.

In-jie menampak serangan itu datangnya demikian hebat, sudah tentu merasa agak gugup, selagi tidak tahu bagaimana harus mengelak, tampak sang kekasih yang diseberang sana membuka mulut berteriak-teriak sambil memberi tanda dengan tangannya menyuruh ia lompat keatas. dalam hati merasa girang, buru-buru ia lompat miring kesamping, menggunakan ilmunya cit ciong-hui dari golongan Thian-san, melayang setinggi tiga tombak tetapi dapat mengelakan serangan hebat dari penguasa rumah penjara.

Penguasa rumah penjara agaknya sangat marah. ia tidak memberikan kesempatan baginya, sehingga In-jie melayang turun lagi keatas senarnya, tangan kirinya sudah bergerak melancarkan serangan, ditujukan kepada In-jie yang masih ditengah udara dengan ilmunya serangan tangan tanpa wujud yang hingga saat itu masih belum diketahui apa namanya.

Kim Hong yang menyaksikan itu perasaannya sangat tegang, hatinya hampirsaja lompat keluar, ia berseru-seru:

"Ini jurus kesepuluh, In-jie lompat lagi ke atas "

Sudah tentu In-jie tidak dapat dengar apa yang diucapkan olehnya, lagi pula ia sudah bertempur hingga sepuluh jurus itu keadaannya sebetulnya sudah terlalu letih saat itu