-->

Tangan Berbisa Jilid 18

 
Jilid 18

"Anak. semua ucapanmu tadi telah kudengar. Tentang urusan itu, suhumu anggap sebaiknya tak usah kau Ceritakan"

"Ya, teecu akan mencari akal sendiri untuk menemui wanita itu "

"Tentang rumah penjara rimba persilatan yang baru dibangun di gunung Bu San itu, sebetulnya bagaimana keadaannya?"

Cin Hong menceritakan apa yang diketahuinya, akhirnya berkata:

"Kalau teecu sudah berhasil menemukan ayah dan ibu, baru akan mengambil keputusan untuk menantang bertanding. Rumab penjara rimba persilatan yang baru itu benar-benar terlalu terkutuk. biar bagaimana kita harus berusaha menolong keluar wanita- wanita yang diculik oleh mereka "

"Baiklah, dalam urusan ini suhumu juga tidak suka mencegah kau. Demi keadilan dan kebenaran, kalau sampai ditawan, setidak-tidaknya ada lebih baik dari pada ditawan lantaran mencari nama " kata It-hu Sianseng sambil menghela napas. Cin Hong mengangguk-angguk karena merasa apa yang hendak dikata sudah diceritakan habis semua dan otaknya mulai teringat kepada diri In-jie, maka dalam hati ingin sekali lekas-lekas pergi menengoknya. Tetapi ia tidak enak untuk menyatakan kepada suhunya.

It-hu Sianseng sudah tentu dapat menebak isi hatinya maka lalu berkata sambil tersenyum:

"Sekarang pergilah kau tengoki In-jie, budak itu rupanya sudah jatuh hati benar kepadamu "

Tentu Saja Cin Hong merasa girang, baru hendak memutar tubuh untuk berlalu, mendadak can-sa-sian Sie Koan, pemimpin pengemis sudah tongolkan kepalanya yang mesum dan awut-awutan rambutnya, katanya dengan suara nyaring: "Hai, kau masih belum membicarakan tentang diri murid ku"

Cin Hong buru-buru menjura dan berkata padanya: "Siepangcu   baik-baik   sajakah?   Murid   mu   sekarang

sedang membantu boanpwe, pergi memberitahukan kepada

partai-partai Ngo-bie, Kun-lun, Klong-lay, Kang-lam, Swat- san dan Thian-shia, minta mereka supaya waspada atas gerakan orang-orang golongan Kalong. Selama ini entah bagaimana hasilnya."

"Kalau kau nanti ketemu lagi dengannya suruhlah ia pergi menantang bertanding ke rumah penjara rimba persilatan yang baru," kata can-Sa-sian.

Cin Hong menyatakan baik, lalu memUtar tubuh dan berlari turun, sewaktu ia meliwati jendela kamar sembilan, nenek berambut putih tongolkan kepala dan tangannya, katanya dengan suara aneh:

"Hai, bocah Kemarilah kau, kita beromong-omong dulu eh, kau lari? Kau lari? Anak busuk Ah. . . .coba dulu aku tidak dengar ucapanmu, sekarang tentunya tidak  jadi begini. "

Cin Hong berlagak tidak dengar, ia menundukkan kepala dan terus lari menuju ke bawah, setelah mengitari jalan berliku-liku di dalam lembah, barulah tiba di kamar nomor seratus lima, karena melihat kamar tawanan itu tidak ada orangnya, buru-buru undurkan diri dan balik ke kamar nomor empat, disitu juga tidak ada orang, barulah ingat bahwa kamar ini dahulu adalah kamarnya si bopeng Bwee Houw An, Si bopeng itu berhasil keluar setelah menantang bertanding, maka ia lalu balik lagi kekamar nomor empat, didalam kamar itu juga tampak ada duduk seorang laki-laki setengah umur yang sangat mesum, kepadanya Cin Hong tanya sambil memberi hormat:

"Tuan numpang tanya, kemana orangnya yang berdiam di kamar nomor lima ini?"

"Apakah nona Yo?" balas bertanya lelaki setengah umur itu dengan suara datar.

"Benar, kemana ia pergi?" "Sedang bekerja didalam lembah "

Cin Hong mengucapkan terima kasih, ia segera berlalu.

Dahulu ia tidak mendapat kesempatan untuk turun ke lembah, kali ini benar- benar ingin melihat para tawanan itu sebetulnya melakukan pekerjaan berat apa. Ia pikir tawanan itu semuanya memiliki kepandaian ilmu silat yang cukup, apa sebab penguasa rumah penjara rimba persilatan itu memikirkan suatu cara untuk menyusahkan mereka?

Dari atas melongok ke bawah lembah, samar-samar tampak ada beberapa puluh titik hitam, sedang beberapa barang yang mirip dengan batu cadas, tampak bergerak perlahan-lahan. agaknya diantaranya masih ada orang- orang yang sedang memikul apa- apa. Apa yang sedang dilakukan mereka? Sedang menggiling beraskah?

Ouw, apabila itu benar, ini juga boleh dikata makan tenaga sendiri. Mana boleh dihitung bekerja berat?

Ia lari turun terus sambil berpikir, sebentar saja sudah ada dibawah lembah, kini setelah melihat keadaan seluruhnya, lantas menghentikan langkahnya dan berdiri terpaku ditempatnya.

Yang dilihat Cin Hong dari atas tadi adalah orang-orang yang sedang menggali batu dengan besi, bukan seperti apa yang diperkirakannya sebagai orang menggiling padi atau gandum. orang-orang disitu sedang menggali lubang dari dalam goa yang bulat, dari situ mengeluarkan batu- batu cadas.

pada waktu itu, para tawanan yang sedang melakukan pekerjaannya terbagi-bagi dalam beberapa kelompok.

Kelompok pertama adalah orang yang sedang mengeluarkan batu-batu dari goa, kelompok kedua mengangkut batu- batu itu kedalam satu kuali besar yang sedang menyala apinya. Apa sebetulnya yang sedang dilakukan oleh mereka?

Cin Hong tidak tahu dan juga tidak mengerti malah tidak mau memikirkan semua itu, sebab diantara sekian banyak orang-orang tawanan itu, ia sudah dapat menemukan Sumoaynya itu.

Gadis itu sedang melakukan pekerjaan mencuci, rambutnya terurai sampai ke bawah, wajahnya penuh keringat, ia seolah-olah takut jari-jarinya nanti menjadi kasar, kerjanya dilakukan sangat hati- hati, bahkan  sepasang matanya sebentar-bentar melirik kepada seorang tua berjubah merah yang bertindak sebagai petugas mandor. Kalau dilihatnya mandor itu berpaling ia buru-buru melakukan pekerjaannya, pura-pura rajin, tapi begitu mandor itu menengok ke la in jurusan, ia segera menghentikan pekerjaannya.

Cin Hong merasa kasihan, tapi diam-diam juga merasa geli, waktu itu ia sedang berjalan terus menuju ke belakang diri Yo In In dan tiba-tiba memanggil dengan Suara perlahan: "In-jie"

Yo In In cepat berpaling, begitu melihat kekasihnya, mungkin karena terlalu girang, lalu berseru dan jatuhkan diri ke dada Cin Hong, katanya sambil tertawa dan mengeluarkan air mata:

"Engkoh Hong, aku sedang memikirkan kau benar-benar aku sedang memikirkan dirimu"

Para tawanan yang menyaksikan Yo In In memeluk seorang pemuda di hadapan umum, semua lantas berhenti bekerja malah ada yang lantas berdiri termangu-mangu, di samping yang berteriak-teriak keCewa.

orang tua berjubah merah itu menggerak-gerakkan pecut ditangannya sambil berteriak-teriak: "Ada apa ? ini ada apa

?"

Kini In-jie baru sadar bahwa ia telah berbuat terlalu menyolok di hadapan umum, karena merasa malu lalu buru-buru melepaskan tangannya dan memutar tubuh mengawasi para tawanan yang lainnya. Rupanya semua orang tawanan itu takut sekali kepada Yo in in, karena begitu melihat gadis itu marah, tidak berani lagi mereka tertawa-tawa atau berteriak-teriak mulai lantas melakukan pekerjaan lagi.

orang tua berjubah merah menghampiri Cin Hong dan membentak keras: "Hei kau pemuda dari mana ?" Cin Hong memberi hormat dan menyahuti:

"Locianpwe harap jangan marah, aku yang rendah adalah tamu laucu kalian "

In-jie lalu menyambung: "Hei, cap-giam-ong, suhengku ini datang hendak menengok aku, sekarang aku hendak pergi berbicara dengannya"

"Tidak bisa, diwaktu kerja tidak boleh menemui tamu "

In-jie merasa tidak senang, ia berpaling dan berkata kepada Cin Hong sambil memberi isyarat dengan matanya: "Engko Hong, penguasa rumah penjara ini tentunya sudah mengizinkan kau menengok aku, bukan ?"

CIN HONG menganggukkan kepala, tapi dalam hati merasa geli sudah membohonginya.

In-jie selanjutnya berkata: "Kalau begitu kau pulang saja, beritahukan kepada penguasa penjara bahwa cap-giam ong tidak mengizinkan kau melihat aku "

Wajah cap-giam-ong berubah, ia bertanya sambil menatap Cin Hong: "Benarkah laucu telah mengizinkan kau datang kemari ?"

"Ya, jikalau tidak. mana bisa aku turun kemari ?"

"Baik, kalau kalian hendak beromong-omong juga , pergilah jauhan Sedikit, tetapi ingat, kalian hanya diberi waktu satu jam." kata cap-giam Ong. In-jie sangat girang, sambil menarik tangan Cin Hong ia berlalu dari tempat kerja.

Mereka meninggaikan tempat kerja itu jauh sekali, dan duduk di suatu tempat yang membelakangi batu cadas. In- jie seperti balik kembali kepangkuan ibunya yang sudah lama berpisah, begitu mereka berdua duduk. segera jatuhkan kepalanya di dada Cin Hong sambil menangis dengan sedihnya.

Cin Hong mengeluarkan sapu tangan mengeringkan air matanya, menghiburi gadis itu dengan kata-katanya: "Jangan menangis In-jie. Aku tahu kau seorang gadis gagah berani, bukankah begitu ?"

"Aku sebenarnya tidak takut menderita. Biarlah aku bicara terus terang kepadamu, engkoh Hong, aku benar- benar selalu ingat kau. Malah ada kalanya begitu hebatnya aku memikirkan dirimu, Sampai. . ." kata In-jie sambil menangis.

Cin Hong merasa terharu, juga merasa malu kepada diri sendiri, diluar kekuasaannya sendiri, menundukkan kepala dan mencium bibir in-jie, katanya dengan suara gemetaran: "In-jie, untuk selanjutnya aku akan bersamamu selama- lamanya, sekalipun langit rubuh aku juga akan bersamamu "

In-jie hampir tidak bisa bernapas, mendorong perlahan tubuh Cin Hong sambil tersenyum girang. "Kau sudah menengok suhu ?"

"Sudah. Suhumu sebetulnya marah padamu tetapi setelah kuberi penjelasan padanya, sekarang jadi tidak marah lagi "

"oh, bagaimana kau bilang ?"

"Aku kata bagus sekali perbuatanmu yang menantang bertanding untuk kali yang terakhir itu. Sebab, kalau kau tidak dapat menyambut penuh serangan sepuluh kali, atau tidak bisa menyambut lima kali serangan keatas, kau baru akan menjadi tawanan seumur hidup, Tapi sebelum lima jurus kau jatuh, bisa balik kembali ke kamar tahanan ular." "Benar. waktu itu aku merasa sangat tegang sekali, begitu turun tangan segera merasa bahwa kali ini aku lebih tidak baik lagi keadaanku, maka aku lalu bertanya kepada penguasa rumah penjara bila aku dipindah ke kamar tahanan ular, masih ada kemungkinan untuk menantang lagi atau tidak. Ia kata boleh, maka setelah menyambut serangannya yang ke empat kalinya, lalu turun sendiri "

"Sekarang kau boleh segera pergi menantang. Kalau kau dipindahkan lagi ke kamar tahananan naga, kau akan mendapat bak menantang tiga kali lagi "

"cis, beberapa hari nanti sajalah kita bicarakan itu lagi, sebetulnya dalam kamar tawanan ular ini,jauh lebih menyenangkan daripada kamar tahanan naga. Aku tidak suka Selalu berdiam di dalam kamar, apa lagi suhuku suka mencampuri urusanku."

"Penguasa rumah penjara rimba persilatsn dahulu bukankah sudah menerima baik permintaanku, kau tidak perlu turut melakukan pekerjaan berat?"

"Tetapi itu aku sendiri yang suka turut bekerja, aku merasa senang Sekali berada bersama-sama mereka."

"Apa mereka tidak lagi menghina kau?"

"Mana mereka berani? Kepandaian ilmu silatku di dalam kamar tahanan ular ini adalah yang paling tinggi"

"Itu memang benar"

"Semula ada seorang tawanan yang buta matanya ingin mengganggu aku, akhirnya kupukul wajahnya sampai matang biru, sejak waktu itu dan selanjutnya, Siapapun tidaK ada yang berani mengganggu aku lagi. Tapi tapi

ada satu orang yang terkecuali. "

"Siapa?" "Kalau kusebutkan kau tidak boleh marah ya?" "Aaaa? Mengapa aku harus marah?"

"Dia adalah seorang tawanan juga yang masih muda, namanya Liu siao chiu Nama julukannya Laki-laki Kasar. Dia selalu mengejar-ngejar aku, ada satu kali ia berlutut di hadapanku, katanya ia terlalu kesepian. cobalah kau pikir,- lucu tidak? Sudah tentu aku tidak mau menghiraukannya, benar- benar aku hanya melihat dan merasa kasiban sekali padanya hingga tidak tega untuk mengusir dan  membentak. "

"Jangan bicarakan soal itu lagi,- sekarang aku hendak tanya padamu beberapa persoalan."

"Tidak perlu tanya, aku hanya suka kau seorang Benar- benar, kecuali kau, aku tidak suka orang lain"

"oh, aku tidak tanya padamu soal ini, jangan kau terpengaruh dahulu oleh perasaanmu sendiri"

In-jie perlahan-lahan angkat muka, menggerakkan biji matanya yang besar menatap Wajah Cin Hong, kemudian berkata dengan Sikap kemalu-maluan,

"PeraSaanku agak tegang, aku takut kau mendengar Cerita orang, Sebab para tawanan itu paling suka menimbulkan urusan"

"Asal kau tidak melakukan kesalahan, takut apa kepada omongan orang lain?"

"Biarlah, aku sama sekali tidak berbuat salah. Tapi aku masin kuatir juga , sebab para tawanan itu paling suka menimbulkan huru-hara. "

Cin Hong periahan-lahan mengelus-elus rambut Yo In In dan berkata: "Kukata sekali lagi, jangan terlalu tegang. sekarang beritahukanlah kepadaku beberapa soal yang sebentar lagi akan kutanyakan pada-mu. "

Belum habis ucapannya di tengah udara terdengar suara bergeraknya orang dan kemudian disusul oleh turunnya sesosok bayangan orang dari tengah udara dan jatuh tepat di depan kedua orang itu.

Orang yang baru turun dari atas itu adalah seorang tawanan yang masih muda usianya rambutnya awut- awutan, pakaiannya compang- camping, namun wajahnya cukup tampan sikap juga gagah.

Ia menunjukkan sikapnya yang marah, dengan mendelikan sepasang matanya, menatap In-jie, sikap orang itu seolah-olah ingin menembusi hati In-jie.

In-jie juga merasa tegang, buru-buru melepaskan diri dari pelukan Cin Hong dan lompat berdiri sambil bertanya:

"Hai, kau memandang aku secara itu, apa sebetulnya artinya?"

"Kau takut?" balas tanya tawanan muda itu sambil tertawa dingin.

Cin Hong juga segera bangkit dari tempat duduknya, bertanya Sambil menatap Wajah Yo in in:

"In-jie, siapa dia?"

Yo In in tidak menjawab, sebaiknya malah begitu marah sikapnya, berkata sambil membanting- banting kaki.

"Pergi..Pergi Pergi...Aku tokh sudah memberitahukan padamu, aku tidak bisa menyukai kau, bukan? Kenapa kau selalu mengejar-ngejar orang yang tidak suka kepadamu?" "Ouw, begitu? Sayang aku Liu Siao chiu bukan seorang tuli. Sejak kapan kau beritahukan kata- kata itu padaku?" tanya pemuda itu Sambil tertawa dingin.

"Sejak bermula kukenal kau Apa itu saja kau lupa?" berkata In-jie dengan suara tajam.

Pemuda itu mendadak marah, ia mengangkat tangannya dan berkata sambil menuding Yo In In.

"Yo In In, kuberitahukan padamu, bagiku segalanya tidak apa, akan tetapi kau tidak seharusnya menipu aku, tidak seharusnya mempermainkan Cinta orang lain, hm. . .

.hm Apa kau kira Cinta orang laki itu tidak ada harganya? Kau, kau perempuan berhati kejam"

Yo In In tampak sangat gelisah hingga menangis menggerung-gerung sambil berkata dengan suara terisak- isak:

"Kau jangan ngaco-belo, kalau kau ngoceh lagi, kuhajar kau nanti "

Pada saat itu cap-giam-ong yang bertugas sebagai mandor telah datang dengan membawa pecutnya, ia msmbentak sambil tuding Liu Siao chiu : "Hei Kau tidak bekerja? Perlu apa kemari?" Liu Siao chiu berdiri tegak.

cap-giam-ong menggerakkan pecutnya menghajar dirinya, sambil perintahnya:

"Kembali Kau sungguh berani mati, heh Apakah kau kira dalam rumah penjara ini kau boleh mengejar-ngejar perempuan? " Liu Siao chiu masih tetap berdiri tegak tidak bergerak.

cap-giam-ong jadi sengit dan berkata lagi, "Bagus Aku mau lihat, adatmu ataukah pecutku yang lebih keras. " Sesaat kemudian, pecut turun sangat gencar, menghajar tubuh pemuda she Liu itu, hingga pakaian dan kulitnya hancur dan darah membasahi seluruh tubuhnya, tetapi Liu Siao chiu tetap tidak bergerak. bagaikan sebuah patung. Cin Hong jadi tidak tega. lalu berkata padanya sambil memberi hormat:

"Saudara Liu, bila sumoayku ini berlaku salah terhadapmu, biarlah disini aku yang mintakan maaf untuknya. Sebaiknya kau lekas balik dan lakukanlah pekerjaanmu sebagaimana mestinya, Caramu yang mudah itu sesungguhnya tidak berharga sama sekali. Kau ketahuilah itu"

Liu Siao chiu sedikitpun tidak menghiraukan pecut sudah menghajar habis mukanya, tapi akhirnya ia menganggukkan kepala juga lambat- lambat, dan menggumam sendiri

"Benar, tak disangka aku si laki-laki kasar Liu siao chiu bisa mandah terima pecutan lantaran perempuan- Benar-

benar terlalu menggelikan. "

Sambil berkata demikian, ia menggeser kakinya dan berjalan pergi sambil menundukkan kepala.

Setelah Liu Siao chiu berlalu bersama cap-giam-ong, Yo In In dengan perasaan takut mengawasi Cin Hong, seperti seorang pencuri keCil yang tertangkap basah, hingga tidak bisa mungkir dari tuduhan dan sedang menanti hukumannya.

Cin Hong dalam hati sangat mendongkol, tetapi kalau diingat ia sendiri juga pernah main api Cinta dengan Leng Bie Sian, pikirannya jadi tenang, ia menarik tangan Yo In In dan duduk lagi di atas batu, katanya dengan sabar: "In-jie kau tidak usah takut. Sekarang kau beritahukanlah padaku apa sebetulnya yang telah terjadi?"

Mengetahui Cin Hong tidak marah, Yo In In benar- benar merasa sangat bersyukur, sambil senderkan kepalanya di dada Cin Hong, ia berkata dengan suara terisak-isak:

"Aku bukanlah sengaja, pertama kali aku ikut melakukan kerjaan berat itu, aku dengar kata orang banyak yang panggil-panggil dia lelaki kasar, dalam hatiku lalu berpikir sendiri, aku tidak perCaya di dalam dunia ini ada lelaki yang kasar."

"Dan kau lantas menggoda dia ?"

In-jie mengangguk. "Ya ,pertama dia tidak hiraukan aku, aku lalu ganggu dia lagi, dia maSih tenang tidak hiraukan aku. Dalam hatiku sangat mengaguminya, pikirku nama julukan laki-laki kasar itu benar-benar tidaklah bohong. Siapa tahu, setelah beberapa hari lewat sejak hari itu . . ."

"Dia yang berbalik cari kau ?"

"Ng, dia diam-diam memberitahukan padaku bahwa dia bukanlah lelaki kasar dan dingin seperti apa yang dibayangkan oleh orang banyak. dia hanya berusaha sekuat tenaga untuk menindas perasaannya sendiri, padahal sebetulnya dalam hatinya hangat sekali, dia butuh Cinta. Dia kata lagi bahwa pertama kali melihat aku, hatinya berdebar keras, sebetulnya ingin seperti biasa dengan sikapnya yang acuh tak acuh, tapi setelah ditindasnya perasaan itu akhirnya dia merasakan bahwa dia telah berobah, dia ingin berlaku baik terhadap aku . . ."

"Lalu bagaimana kau jawab dia ?"

"Dalam hati sebenarnya aku merasa geli, tapi waktu itu aku merasa bahwa aku sudah berada di atas punggung harimau, Sulit untuk turun lagi, terpaksa berpura-pura berlaku baik terhadapnya. Hm.. Siapa suruh dia berhati demikian keras."

"Ini adalah kau yang tidak benar, lain kali tidak boleh ganggu-ganggu orang lagi"

"Ya, aku sedikitpun tidak berani mengganggu orang laki- laki lagi. Hei, tak kusangka laki yang mendapat sebutan laki-laki kasar, juga demikian sulit dihadapinya, benar- benar tidak sanggup, . ."

"Ucapan dia itu benar, perasaan Cinta orang laki-laki bukanlah barang yang sudah tidak berharga lagi sama sekali "

Yo In In merasa malu, berkata: "Sekarang tak usah bicarakau soal ini lagi, kau kata hendak menanyakan aku beberapa hal, sebetulnya urusan apa ?"

"Pertama: orang tua pedang emas dari gunung oey Sanpernah datang kemari menantang bertanding belum ?"

"Mengapa tidak? Waktu pertama kali dia dilembah ini melakukan pekerjaan berat, entah apa sebabnya cekcok dengan It-yang-cie Siauw canJin, dari cekcok mulut sampai terjadi pertempuran, akhirnya kedua-duanya terluka parah. Penguasa rumah penjara rimba persilatanlah yang menolong orang tua pedang emas, tapi dia memukul kepala siauw canJin sehingga hancur dan otaknya berantakan "

"Aaa . . . begitu ?" "Kedua ?"

"Kedua. . , . kedua .... biarlah kupikir dahulu. oh ya, kamar sebelahmu simuka bopeng Bwee Bauw An itu dengan Cara bagaimana bisa menantang bertanding dan malah bisa keluar dari sini ?" "orang tua gilalah yang mengajarinya semaCam ilmu silat "

"Aneh, orang tua gila bagaimana mengerti ilmu silat?

Dia adalah salah satu dari manusia berbisa "

"Siapa tahu ? Aku tanya padanya, dia tak mau kata apa

?"

"Apakah dia masih menurunkan ilmu silat kepadamu ?" "Tidak!! dia memaki aku bodoh. Sebetulnya aku mana

seorang bodoh ? Aku hanya kurang dalam hal kekuatan tenaga dalam saja, hingga tak dapat menyambut sampai sepuluh kali . ."

"ketiga, pekerjaan apa yang kalian lakukan? Mengapa batu-batu cadas itu dihancurkan dan kemudian ditempa ?"

"ciS, apa kau tidak mengerti ?"

"Benar-benar aku tidak mengeeti. Aku pikir, bekerja berat juga seharusnya melakukan pekerjaan yang ada artinya, bekerja semaCam itu benar-benar terlalu membosankan "

"Kau kata apa, kau ini benar-benar kutu buku kenapa begitu bodoh sekali?"

"Hus, apakah menghancurkan batu cadas juga ada gunanya ?"

"Jadi kau belum mengerti juga ? Baiklah kalau begitu, kuterangkan uutukmu. Dengar, ya. Mereka sedang menempa emas "

"Haaa ? Menempa emas ?"

"Ya, batu cadas itu mengandung bahan logam emaS, setelah dihancurkan lalu dicuci bersih dan ditempa dengan air, logam emas itu terendap. jadilah hancuran emas yang berkilauan "

"ooo begitu ? Pantas penguasa rumah penjara rimba persilatan begitu kaya, siapa yang menang dalam pertandingan dapat hadiah seributail uang emas ..."

"Kau masih hendak tanya apa lagi ?" "Tidak ada."

Baru berkata demikian, tiba-tiba terdengar suara orang dari belakang batu cadas: "Kalau sudah tidak ada, sekarang ikut aku naik keatas"

Cin Hong dan In-jie lompat bangun dengan berbareng, tampak dibelakang batu besar itu muncul Tay-giam-ong, berkata sambil tolak pinggang: "Haha, kamu sembunyi di tempat ini untuk mengadakan pertemuan, he ? Kau anggap rumah penjara ini sebagai tempat apa ?" 

Yo in in kemalu-maluan hingga merah mukanya, pendelikkan matanya kearah Tay-giam-ong itu, agaknya hendak segera menegur mandor itu yang sudah mencuri pembicaraan mereka.

Tapi Cin Hong bersikap hormat terhadap mandor kepala itu, ia bertanya sambil menjura memberi hormat: "Tay- giam-ong ada urusan apa ?"

"Ikutlah dulu aku naik keataa, nanti kita bicara lagi "

In-jie menarik tangan Cin Hong dan berkata: "Jangan pergi waktu satu jam masih belum Cukup "

"Kira-kira sudah berapa lama ?" bertanya Cin Hong- "Setengah jam saja belum."

"Kalau begitu sebentar aku akan datang menengok kau lagi." kata Tay-giam-ong Sambil terjenyum. "Kau jangan pedulikan kami kenapa sih?"

Tay-giam-ong dari tersenyum sampai jadi tertawa terbahak-bahak. dan lalu berkata "Boleh Boleh... Jikalau kau senang, aku malah boleh meminjamkan  rantai untukmu "

In-jie terCengang, tanyanya "Untuk apa rantai ?"

Cin Hong buru-buru berkata: "Tay-giam-ong, janganlah kau menggoda orang keterlaluan, sekarang sajalah aku ikut kau naik keatas "

la menghiburi in-jie dengan beberapa patah kata, kemudian berjalan naik dengan mengikut. Tay-giam-ong masuk ke-alat naik keatas lembah,

"Aku dengar laocu kata bahwa kau hendak menemui perempuan yang menyanyi itu, apakah itu benar ?" tanya Tay-giam-ong.

"Ya, lalu?"

"Setelah kau ketemu dia apa kau lantas suka pergi kegunung Bu San untuk menolong keluar nona Leng ?"

"Kalau ya, bagaimana ?"

"Sekarang juga aku akan ajak kau menengok dia "

"Jadi laucu kalian sudah menerima baik permintaatku?" Tay-giam-ong mengangguk, tidak berkata apa- apa lagi. Ketika alat itu tiba diatas, keduanya berjalan keluar. Tay-

giam ong hendak ajak dia keruangan tamu, tetapi tiba-tiba didalam ruangan itu terdengar suara penguasa rumah penjara:

"Lao Sun ceng, kau bawa saja dia, tunggu setelah bertemu dengan nona Khim, lalu kau ajak lagi dia kemari untuk ketemu denganku" Tay-giam-ong menerima baik dan merandek lalu menggapai kepada Cin Hong, setelah mana ia baru memutar tubuh dan berjalan naik ke atas tangga batu yang gelap disamping alat naik turun itu.

Cin Hong mengikuti di belakang Tay-giam ong, pikirannya semakin tegang, setiap melangkahkan kakinya ke atas, seolah-olah menginjak hati sendiri, darah sekujur badannya bergolak, hingga kedua kakinya gemetaran, hampir saja tidak mempunyai tenaga untuk melanjutkan perjalanannya .

"Benarkah dia itu ibuku? Bila benar demikian, bagaimana aku harus berbuat? Kalau bukan ibunya tentunya sudah. "

Di sepanjang jalan Cin Hong berpikir pada akhirnya tidak berani memikirkan lagi, pikirannya menjadi kalut sendiri. Apalagi jalanan naik ke atas itu tampaknya begitu panjang sekali dan berbelok-belok serta gelap dan dingin pula, hingga dirasakan semakin berat baginya.

Melalui satu tikungan, tiba-tiba terdengar suara barang bergerak. seolah-olah alat naik turun ke lembah itu sedang bergerak. hingga ia agak heran, ia pikir alat itu rupanya bukan Cuma ada satu saja,, tetapi yang lain itu tidak tahu naik turun disebelah mana?

Untuk menyingkirkan perasaannya sendiri yang kalut, maka ia lantas bertanya kepada Tay -giam- Ong : "Aaaa, itu suara apa?"

"Jangan banyak tanya, ikut saja aku?"

"Kedengarannya seperti suara dari alat naik turun ke lembah, apakah kalian masih punya lain alat lagi?"

"Kukata jangan banyak tanya, kenapa begitu rewel? Ikut saja aku" Cin Hong masih tidak meng hiraukan, katanya pula sambil tertawa "oya, aku sekarang ingat, nona Leng pernah memberitahukan padaku "

Tay-giam-ong mendadak berhenti dan bertanya dengan perasan tegang: "Nona Leng pernah memberitahukan, kau apa aaja?"

"la kata.....ia kata bahwa di rumah penjara kalian ini masih ada satu tempat rahaSia lain- "

Cin Hong mulai mengarang suatu Cerita bohong. "Kurang ajar Bagaimana ia bisa memberitahukan

padamu tentang ini?"

"Nona Leng baik sekali padaku, antara kami berdua hampir tidak ada satu rahasia pun yang kami sembunyikan, ia masih berkata......" berkata sampai disini Cin Hong lalu pura-pura angkat pundak.

"Ia kata apa lagi?"

"katanya lagi, bahwa Suhunya itu sebenarnya adalah seorang wanita"

Muka Tay-giam-ong berubah menjadi keren dan membalikkan tubuhnya dan memegang bahu Cin Hong dan bentaknya

"Eh? Apa- apaan nih?" tanya Cin Hong kaget berCampur heran-

Tay-giam-ong menarik padanya dan berjalan turun, katanya dengan sikap galak: "Kau jangan harap bisa menemui perempuan yang bernama Siu Khim itu"

Cin Hong berontak dan bertanya: "Kenapa? Toh sudah diijinkan oleh laucumu sendiri, bukan?" Tay-giam-ong terus menarik turun dan berkata dengan sangat mendongkol:

"Kau bocah, hatimu tidak jujur Kau berani menghina laucu, akan kuajak kau menghadap laucu, disana kau boleh bicara"

Cin Hong jadi begitu gelisah, ia mengulurkan tangannya menjambret dinding seraya berkata:

"Hai, taruhlah aku salah omong, anggap saja aku tadi main-main denganmu, jangan begitu galak kenapa?"

Tay-giam-ong mengendorkan tangannya, katanya sambil tertawa dingin: "Nona Leng masih memberitahukan apa lagi padamu?"

"la tidak memberitahukan apapun juga kepadaku, semua tadi juga adalah aku yang karang, aku pikir hendak main- main denganmu" jawab Cin Hong sambil menggeleng - gelengkan kepala.

Tay-giam-ong melepaskan tangannya, berkata sambil pendelikkan matanya:

"Jikalau tidak mengingat usiamu yang masih terlalu muda, aku benar-benar tidak akan mengampuni kau"

Cin Hong menjura berulang-ulang seraya berkata:

"Ya, atas pertolongan Tay-giam-ong disini kuucapkan terima kasih banyak- banyak" Hawa amarah Tay-giam-ong mulai reda, katanya sambil mengulapkan tangan:

"Sekarang naiklah baik-baik, tidak boleh banyak bicara lagi, kalau kau berani banyak mengeluarkan suara, nanti akan kutarik turun lagi kau"

Cin Hong menyatakan baik, lalu memutar tubuh dan mendaki keatas, meskipun dalam hati mendongkol, tetapi iapun tidak berani berkata apa- apa lagi. Setelah melewati tiga undakan batu, dihadapannya mulai tampak sebuah lorong panjang yang terang benderang, lorong yang panjangnya sepuluh tombak lebih itu dipancang rupa-rupa gambar dan tulisan, semua tiang-tiang diukir dengan ukiran naga yang dibungkus emas, keadaan itu seperti ruangan dalam istana, disebelah kiri terdapat sederetan kamar tidur kira-kira ada sepuluh buah lebih, setiap kamar, diluarnya dijaga oleh seorang tawanan penjara yang berdiri tegak.

Cin Hong menampak keadaan demikian, Setelah berpiklr, ia segera mengetahui bahwa tempat yang memiliki kamar demikian banyak ini pasti adalah kamar tidur sepuluh Giam lo-ong yang ditugaskan sebagai mandor, tentunya setiap orang satu kamar. Tapi perempuan yang bemama Siu Khim itu entah dimana berdiam?

Dalam otaknya timbul pertanyaan begitu maka segera merandek. Sebab ia pikir apa bila perempuan yang bernama siu Khim itu juga berdiam ditempat itu, bagaimana suaranya bisa mengalun kebawah lembah?

Selagi berpikir begitu Tay-giam-ong yang berada dibelakangnya sudah mendorongnya sambil berseru:

"Hayo jalan.. Kenapa berdiri bengong disini? "

Cin Hong terkejut, terpaksa melanjutkan perjalanannya melalui lorong panjang itu. Ketika berjalan sampai di kamar terakhir, Tay-giam ong tiba-tiba berjalan mendahuluinya lalu mengetuk pintu, dan berkata dengan suara perlahan: "Nona siu Khim ada di dalam?" 

Dari dalam kamar terdengar sahutan Seorang perempuan yang bersuara merdu: "Ada.. Tay-giam-ong perlu apa?"

Cin Hong yang mendengarjawaban dari dalam kamar itu, ternyata adalah suara seorang wanita, hatinya jadi berdebaran semakin keras suara itu dikenalnya betul, sed ikitpun tak salah lagi adalah Suara shiu Khim yang malam itu memperdengarkan suara nyanyiannya. Meskipun ia hanya pernah mendengar satu kali, akan tetapi, suara yang halus merdu dan yang dapat membangkitkan rasa iba itu, sesungguhnya telah memberikan kesan terlalu dalam kepadanya, jadimendengar suara itu lagi dengan seCdirinya ia lantas tahu.

Tay-giam-ong memperlihatkan tertawa ny a yang aneh memandang Cin Hong sejenak. lalu berkata lagi ditujukan kearah dalam kamar:

"Nona siu Khim, laucu perintahkan aku ajak seorang pemuda menemui kau"

Nona Siu Khim dalam kamar hanya meng eluarkan suara ouw yang sangat perlahan kemudian bertanya dengan suara lemah lembut: "Seorang pemuda? Ada perlu apa ia hendak menemui aku?"

"Kalau nona siu Khim ingin menemui dia boleh tanyakan sajalah padanya, ini orangnya" berkata lagi Tay- giam-ong.

Dari dalam kamar terdengar suara elahan perlahan dari nona Siu Khim, kemudian terdengar lagi kata- katanya: "Baiklah, Suruh dia masuk "

Tay-giam-ong lalu memberi isyarat dengan tangan kepada Cin Hong, dan setelah itu berlalu.

Cin Hong menarik napas dalam- dalam, ia mengetokpintu sangat perlahan kemudian mendorongnya perlahan-lahan juga , dengan diikuti oleh pandangan matanya yang tajam kearah dalam kamar itu. Dari mulai masuk. ia sudah perhatikan benar-benar keadaan didalam kamar, akhirnya ia sudah dapat menyaksikan segala- galanya dalam kamar itu.

Keadaan itu luar biasa anehnya, dalam kamar itu dihiasi sangat bersih dan indah, kecuali alat- alat biasa, masih terdapat kitab, pedang, alat- alat tetabuhan musik, biji Catur, lukisan-lukisan dan tulisan orang ternama dijaman dahulu, hal ini tak mirip dengan kamar seorang wanita lebih tepat kalau dikatakan kamarnya seorang pria dan dari kaum sastrawan.

Wanita yang disebut nona Siu Khim duduk disebuah kursi yang membelakangi pintu, ia agaknya tanggung melakukan suatu pekerjaan, hingga sama sekali tidak menoleh kearah tamunya.

Wanita itu memiliki bentuk tubuh yang sangat indah, mengenakan pakaian panjang putih bagaikan salju, dari  raut mukanya yang dipandang dari samping diperkirakan usianya kurang lebih tiga puluhan tahun.

Cin Hong tidak berani lancang masuk, ia berdiri diluar pintu dan berkata sambil menjura:

"Siu.....nona Siu Khim..... aku yang rendah. ingin

menjumpai kau. "

Nona siu Khim tanpa menoleh sedikitpun juga , pun tidak menghentikan pekerjaannya yang mungkin sedang tanggung, menjawab dengan tenang

"Kau maSuk dulu dan tunggulah, Setelah aku menyelesaikan kerjaanku ini baru bicara denganmu."

Cin Hong menyatakan baik, lalu masuk ke dalam kamar, duduk disebuah kursi disebelah kanan perempuan itu.

Pada saat itu, ia sudah dapat melihat nyata raut muka perempuan itu. Sebuah muka yang Cantik ayu, disamping kecantikan mukanya. sikap dan segala-galanya menunjukan wataknya yang lemah lembut, seolah-olah lukiaan dari sebuah tangan yang sangat pandai.

Akan tetapi, mana kala pandangan mata Cin Hong dialihkan tanpa sengaja kepada sulaman kain-kain diatas meja, tiba-tiba hatinya berdebar semakin heran.

Ternyata, perempuan itu sedang menyulam membuat gambar muka orang, dan muka orang yang disulam itu mirip benar dengan muka pemuda yang pernah dilukis oleh Cin Hong atas permintaan penguasa rumah penjara rimba persilatan Saat itu wanita umur tiga puluhan itu sudah hampir menyelesaikan sulamannya berupa muka pemuda itu, hanya kurang dibagian mata kanannya saja.

Perempuan itu agaknya sadang memusatkan seluruh pikiran dan perhatiannya untuk menyulam. Hingga Cin Hong yang duduk disebelahnya juga tidak dihiraukannya sama sekali, seolah-olah ia sudah lupa bahwa tadi ia pernah menyuruh seorang masuk kedalam kamarnya.

Cin Hong merasa bahwa mata yang disulam oleh perempuan itu kurang tepat, dipandangnya seperti mata seorang bodoh, hingga ia menggumam sendiri: "Bagaimana biji mata......Biji matanya kurang bagus. "

"Kurang baik bagaimana?"

Cin Hong bangkit dan menjawab sambil membungkukkan badan:

"Matanya kurang hidup, kurang bercahaya. kalau nanti kau pancang sulaman itu diatas dinding, mungkin bisa mengetahui bahwa matanya itu sedang menghadap ke tanah. coba sajalah " Siu Khim tampak agak berdiri alisnya, berkata dengan sikap seperti sedih: "Ada kalanya begitulah orang laki suka melihat ke tanah, tidak melihat jauh."

Cin Hong terkejut mendengar jawaban demikian, angKat muka dan bertanya: "Kalau begitu, apakah kau sengaja menyulam demikian?"

"Tidak... Kalau keadaannya benar-benar seperti apa yang kau kata, itu adalah tidak disengaja," kata Siu Khim sambil menggelengkan kepala dan tertawa getir.

"Menyulam wajah seseorang sama dengan melukis. kau harus pusatkan perasaanmu dalam sulaman itu, dengan cara demikian barulah dapat menyelesaikan satu hasil kesenian yang bermutu sangat tinggi "

Perempuan itu hanya tertawa hambar, kemudian berkata: "Sudah kupusatkan semua perasaanku "

"Kau pernah melihat orangnya?" tanya Cin Hong tiba- tiba.

Perempuan itu mengangguk-anggukkan kepala menghela napas perlahan, agaknya merasa sangat terharu.

"Apa betul begitu rupa orangnya?" tanya Cin Hong lagi. Perempuan     itu     kembali     menganggukkan    kepala,

menusukkan jarumnya dikain sulam, dengan  tangannya  ia

menunjuk Cin Hong supaya duduk lagi, kemudian bertanya dengan suara lemah-lembut:

"Apa namamu? Datang dari mana?"

Cin Hong berusaha keras untuk menenangkan pikirannya, menjawab: "Namaku Cin Hong, datang dari tepi sungai cian-tang-kang "

"Ada keperluan apa kau menengok aku?" bertanya perempuan iiu lagi sambil tetap menundukkan kepala. Cin Hong akhirnya tidak berdaya menindas perasaannya, ia berkata dengan suara agak gemetaran

"Hendak.....dengar kau. .. . menceritakan suatu kisah. "

Perempuan itu menatap wajah Cin Hong dalam-dalam, lalu bertanya:

"Hendak mendengar aku menceritakan suatu kisah?

Kisah tentang apa maksudmu?"

"Kisah tentang dirimu sendiri. Sudikah kau menceritakannya?" Cin Hong dengan emosi meluap-luap mengeluarkan kata- katanya.

"Mengapa kau hendak mendengar kisahku?" tanya perempuan itu sambil menatap wajah Cin Hong dengan penuh perhatian-

"Sebab aku pikir kau pasti mempunyai suatu kisah yang sangat menarik "jawab Cin Hong dengan muka merah.

"Dari mana kau tahu bahwa aku mempunyai kisah yang sangat menarik?"

"Aku pernah dengar suara nyanyianmu, dari situ agaknya kau hendak menumpahkan rasa.,..terhadap seseorang . . ,"

"Rasa kenangan kau maksudkan ?" balas bertanya perempuan itu dengan tenang.

Cin Hong mengangguk. Tampak sikap perempuan itu yang sangat tenang, dalam hati mulai timbul perasaan keCewa, ia mula curiga mungkin bukanlah perempuan misterius seperi apa yang dibayangkan olehnya. ia mungkin adalah istri penguasa rumah penjara rimba persilatan, hanya seorang perempuan yang pesimistik dan suka menyanyi saja. Sepasang mata perempuan itu yang lembut dan tajam menatap wajah Cin Hong sekian lama, bertanya dengan maksud agaknya ingin mengorek keterangan darinya.

"Dalam anggapanmu, aku ada mempunyai suatu kisah yang bagaimana?"

"Seperti apa yang kau ucapkan sendiri tadi kisahmu itu mungkin mengandung suatu kenangan terhadap seseorang, jikalau ucapanku ini ada salah, harap kau maafsan "

Perempuan itu mendadak menarik napas perlahan, berkata dengan nadanya yang mengandung suara pilu,

"Dugaanmu tidak salah. Tapi aku heran, mengapa kau ingin benar-benar mengetahui kisah itu ?"

Cin Hong tidak tahu bagaimana harus menjawab, dalam hati merasa menyesal, mengapa tidak mempersiapkan jawabannya yang Cukup beralasan kalau ditanyai seperti ini. Tadi ia baru menggunakan kata-kata karena merasa tertarik ketika menjawab pertanyaan Penguasa rumah penjara rimba persilatan istilah itu tidak mudah untuk memaksa seseorang menceritakan kisahnya sendiri tanpa perasaan kuatir, maka ia sekarang tidak berani menggunakan istilah itu lagi.

Perempuan itu menampak sikap Cin Hong yang agak gelisah, lalu bertanya sambil tertawa hambar: "Lantaran merasa tertarik ?"

"Bila alasan seperti itu tidak cukup kuat, harap ijinkan aku untuk berpikir lagi."

Perempuan itu tertawa, berkata sambil menganggukkan kepala:

"Itu memang benar kurang cukup alasanmu, tapi aku suka buat memenuhi perasaan tertarikmu itu" "Terima kasih. Kalau begitu, maukah kau ceritakan kisahmu sekarang juga ?" Cin Hong jadi kegirangan-

Perempuan itu menganggukkan kepala, ia lalu berkata "Sebenarnya, kisah ini sangat pendek. tapi perlu banyak

berpiklr, juga tidak memerlukan banyak berpikir dan banyak waktu....tapi ada satu hasil kau harus tahu, aku perlu merahasiakan nama-nama pelaku dalam kisah itu, sebab kita satu sama lain belum pernah kenal pada sebelumnya. Apa lagi orang dalam sesuatu kisah  sebenarnya tidaklah penting, betul tidak?"

Berdiam ia sebentar lalu melanjutkan, begini

"Kisahnya terjadi kepada dua puluh tahun berselang, waktu itu aku baru berusia enam belas tahun. Boleh dikata aku baru saja menanjak dewasa. Tapi, dalam usia sebegitu aku telah mengerti beberapa persoalan, Ayahku adalah seorang rimba persilatan yang mempunyai nama dan kedudukan baik, ia hanya mempunyai seorang anak perempuan ialah diriku sendiri. oleh sebab itu ayah sangat Cinta sekali padaku, ia memberikan pelajaran ilmu silat padaku, bahkan untuk aku, ayah menerima seorang murid lakllaki muda, jadi suhengku. Aku kata untuk aku, kau mengerti bukan maksudnya? Dia adalah seorang muda yang sangat pintar gagah dan jujur, ia sangat sayang padaku dan selalu memperhatikan segala keperluanku, begitu juga dia lekas mengerti apa saja kesulitanku. la memiliki suatu perasaan hangat yang sangat aneh, rela berkorban diri asal untuk aku. Tapi, dari sini juga mulainya kisahku ini. Benar- benar Cinta itu sangat aneh, aku tidak jemu melihatnya, tapi akupun tidak tahu kenapa aku tak suka dia. Aku tahu  ia memiliki banyak kebaikan, tapi tak tahu kenapa, kebaikannya itu tidak menarik bagiku, jadi boleh dibilang aku bergaul dengannya seperti dalam keadaan terpaksa. Sehingga pada suatu saat, aku berkenalan dengan seorang pemuda, aku baru merasa sebab apa aku tidak menyukai suhengku itu. Kalau kuceritakan, mungkin kau bisa tertawa kan aku. Aku tidak suka padanya sebenarnya ialah karena ia terlalu jujur, terlalu banyak peraturan, sedikitpun tak mengerti apa artinya romantis. Sebaliknya, pemuda yang aku kenal itu, baik wajah, sikap. maupun pengetahuannya boleh dibilang seimbang kalau mau dibanding-bandingkan dengan suhengku. Tapi pemuda itu membuat aku tergila- gila, apa sebab? Sebabnya ia sangat lincah, sangat bebas, tata bahasanya pun sangat menarik. . . .Kalau mau tahu siapa pemuda itu? Inilah orangnya, pemuda yang sekarang sedang kusulam Wajahnya. ouw, jangan terkejut dan heran, ia benar-benar merupakan seorang yang sangat aneh. ASal kau mau tahu bagaimana aku kenal dia, beginilah ceritanya:. . . Pada suatu pagi di musim semi, waktup agi hari itu aku sudah pergi dari rumah untuk mengejar-ngejar seekor kupu-kupu yang indah Warnanya di atas gunung. Kupu-kupu itu sangat licik, kukejar dia lama sekali masih tak berhasil menangkapnya, yang menyebalkan ialah kalau aku berhenti mengejar, ia juga berhenti, kalau kukejar lagi dia berlari. Kemudian aku jadi kesal, kuambil sebuah batu kecil lalu aku timpuk dia. Kupu-kupu itu jatuh, tetapi ketika aku pungut, aku baru tahu bahwa ia sama sekali bukan terluka karena timpukanku. sebab, di tubuhnya ada kulihat sebatang jarum kecil menembusi perutnya,jadi kupu-kupu itu sudah mati seketika itu juga

- Selagi aku merasa terheran- heran, seorang pemuda yang sangat misteri tiba-tiba muncul dihadapanku. Ketika pertama kali aku melihatnya, merasa sedikit takut. Sebab ia sangat lincah dan tampan, bahkan mempunyai tubuh tegap dan sangat menarik hati, semuanya itu tidak kudapatkan barang kali untuk selamanya pada diri siapapun juga , tidak pada suhengku. Waktu itu karena pikiranku gugup hingga aku pura-pura marah, aku tanya dia kenapa dia bunuh kupu-kupu itu? Penanyaanku dijawab olehnya sambil tersenyum dan angkat pundak,

- Bukankah kamu mau dia mati?

- Tentu saja kujawab segera: Siapa kata? Aku cuma mau melukainya saja.

- Pemuda itu menimpali kata kataku: Mana mungkin biSa? kau menggunakan batu untuk menimpuk sudah pasti kupu-kupu itu akan hancur. Bukankah itu sangat sayang?

- Dengan cepat aku lalu membantah kata- katanya: Tak mungkin bisa hancur tubuhnya

- Pemuda itu berkata sambil tersenyum: Jangan bohong, memang aku tahu kau memiiiki kepandaian ilmu silat yang tidak tercela tapi belum sampai waktunya kau dapat membinasakan Kupu-kupu itu tanpa membikin hancur tubuhnya

- Aku jadi dongkol, maka kubalas kata-katanya dengan sikap ketus: Jadi kau tidak pandang mata orang, heh?

- Pemuda itu tidak marah, ia berkata lagi: Tidak, apa yang aku ucapkan adalah hal yang sebenarnya

- Semakin tambah dongkolku, maka kutantang dia. Kau berani bertanding denganku?

- Pemuda itu menjawab dengan tenang: Mengapa tidak?

Tapi kalau kau kalah, tidak boleh menangis ya?

- Akhirnya jadi juga kami mengadakan pertandingan, ia benar hebat, baru tiga empat jurus saja ia sudah menjatuhkan aku. Seperti kataku tadi, waktu itu baru enam belas tahun usiaku tidak tahan kalau tidak menangis. Pemuda itu buru-buru minta maaf kepadaku, tapi aku tidak menghiraukannya. Dalam keadaan begitulah aku ditinggal pergi.. . .Hari kedua pagi-pagi, kembali aku pergi gunung yang sama untuk pergi bermain. Aku diam-diam berkata pada diriku sendiri, aku tidak akan mencari dia. Tetapi, dalam otakku entah mengapa selalu memikirkan dia, bahkan sudah mulai membayangkan mungkin ia juga sudah datang ke gunung itu.

Benar saja apa yang kupikirkan itu menjadi kenyataan, begitu aku tiba diatas gunung aku lantas dapat melihatnya yang sedang duduk di atas sebuah batu besar, dan sedang memandangiku sambil tersenyum-senyum......

Selanjutnya kami lantas menjadi sahabat akrab, hampir setiap hari kami bertemu diatas gunung itu. Usianya lebih tua sepuluh tahun dariku. Ia juga memberitahukan alamat kediamannya dan namanya, ia kata bertempat tinggal disini... .ialah Lembah Kunci Besi di gunung Tay-pa-san ini"

Cin Hong yang mendengar sampai disitu tidak dapat mengendalikan perasaannya, maka lalu membuka mulut untuk memotong dan bertanya: "Siapa namanya?"

Perempuan itu berdiam agak lama, lalu berkata dengan tenang:

"Jikalau perlu, akan kuberitahukan nanti setelah habis ceritaku, Toh masih belum terlambat bukan?"

Setelah itu ia lalu melanjutkan Ceritanya pula:

"Setelah kami berkenalan selama dua bulan lamanya, pada suatu hari dia mengutarakan isi hatinya, dan katanya hendak meminang diriku. Aku suruh dia ketemukan ayah, dan dia bilang besok saja. Tapi, di hari kedua tiba-tiba terjadi perobahan besar, ayahku dengan Cara mendadak telah kedapatan mati di atas gunung. sebelum kematian ayahku, dia rupanya sudah mendapat firaSat lebih dulu, sebab dia pernah pesan padaku begini: Kapan saja kau melihat ayahmu mati mendadak. kau bersama suhengmu harus segera tinggalkan rumah tanggamu, pergilah sejauh- jauhnya dari tempat kediamanmu . , Ai, kau mungkin dapat membayangkan sendiri, dalam usia semuda itu ditinggal mati ayah, betapakah hebatnya penderitaan bathin seperti itu, Waktu itu aku benar-benar sudah seperti orang gila.

Waktu pikiranKu masih gelap. suhengku membawa aku berlalu dari kediamanku. Kami seolah-olah menyingkir dari kejaran musuh, Sepanjang jalan kami harus beberapa kali menukar pakaian dan menyamar melakukan perjalanan enam hari enam malam terus menerus, akhirnya kami tiba di gunung Hwee-kie-san dan bersembunyi disitu. Di luar dugaanku pemuda itu pun ikut dan perlihatkan diri disitu, dia menggunakan kesempatan selagi suhengku turun gunung untuk membeli persedian bahan makanan, menanyakan padaku apa sebetulnya yang telah terjadi, Bahwa kematian ayah mungkin atas perbuatan jahat orang, dia telah berjanji hendak menuntut balaskan, dan mencari musuh ayah dan minta kepadaku supaya aku meninggalkan suheng dan pergi bersama-sama dia. Permintaan gila itu tentu saja lantas kutolak. Dengan cara bagaimara aku dapat meninggilkan Suheng secara mendadak dalam keadaan seperti itu ? Maka kami masih tetap seperti dahulu kala, mengadakan pergaulan dengannya di luar tahu suheng. Tak lama kemudian, kembali ia menyatakan maksudnya kepadaku, tapi aku tetap menolak. Aku sesungguhnya tak tahu dan merasa berat sekali, dengan cara bagaimana aku harus membuka mulut terhadap suheng. Karena ia terlalu baik sekali terhadapku, maka aku jadi tidak tega kalau menyaksikan ia menderita pukulan bathin atas perbuatanku.. . .Beberapa lama kemudian, untuk ketiga kalinya ia menyataktan maksudnya. Ketika aku masih dalam keadaan ragu-ragu, ia telah menangkap Cintaku. Aaaa, ia sebetulnya terlalu gila-gilaan, adatnya juga menunjukkan kekerasan hatinya. Mendadak ia jadi seperti binatang liar yang sedang marah.. . . .

Untuk Selanjutnya kami lantas liwatkan penghidupan bahagia yang wajar diluar tahu suhengku. Pada suatu hari, aku bersama suhengku sedang melatih ilmu pedang, aku telah kehabisan tenaga dan jatuh, suheng lalu pondong diriku, pada saat itulah ia muncul. Ini mungkin sudah diatur oleh nasib, sebab itu adalah untuk pertama kalinya ia berhadapan dengan suheng. Ketika ia melihat aku dipondong oleh suheng, ia merasa begitu rupa kepadaku, dan hampir saja aku dibunuhnya. Ia memaki-maki diriku, mengatakan aku tidak mau meninggalkan suheng lantaran dianggapnya ada mempunyi perhubungan gelap. aku tidak diberikan kesempatan sedikitpun juga untuk memberikan penjelasan, ia lantas pergi, pergi jauh dan untuk selama- lamanya......

Suhengku tidak marah, ia pondong aku kembali kerumah, ia kata bahwa ia sudah tahu segala-galanya tentang kami, ia bersedia untuk mencarikan ia supaya kembali, bahkan berkata apabila ia tidak kembali, ia malah mengusulkan Supaya aku menunggu setelah melahirkan anak baru turun gunung mencarinya. Demikianlah, Suheng juga pergi meninggalkan aku seorang diri diatas gunung sampai aku melahirkan seorang arak laki-laki mereka berdua semua tidak kembali......

Aku tidak menunggu sampai anakku berusia satu bulan aku sudah berbenah dan turun gunung maksudku hendak mencari dia. Sudah direncanakan, hendak berkunjung kegunung Tay-pa-San- Tak disangka-sangka baru menyebrang sungai ciang-tang-kang, telah mengalami nasib buruk. Kapal yang kutumpangi terbalik dan karam. Tapi, aku masih ingat sewaktu kami ibu dan anak tenggelam, anakku ditarik oleh seorang laki-laki setengah umur, aku sendiri telah terlempar oleh gelombang air hingga beberapa pal jauhnya. Masih untung bagiku, waktu itu aku ditolong oleh seorang nelayan. Tapi, aku sudah tidak bisa menemukan anakku. Aku menggunakan Waktu dua tahun mencari-cari anakku kemana-mana, tidak juga menemukan terpaksa pergi kegunung Tay-pa-san ini untuk mencari dia. Tapi dia juga sudah lama tidak berdiam disini. Aku pergi kemana-mana, juga tidak menemukan kemudian dengan tidak disengaja aku mendapat suatu akal, karena dengan mendadak aku ingat mungkin ia pada suatu hari bisa kembali kegunung Tay-pa San maka aku lalu mengambil keputusan kembali disini untuk menantikan kedatangannya. Dua belas tahun berselang. Penguasa rumah penjara rimba persilatan yang sekarang telah tiba ditempat ini dan membangun rumah penjaranya, ia melihat keadaanku yang patut dikasihani, maka mengijinkan aku tinggal terus ditempat ini.. . . .Inilah seluruh kisah yang menyangkut diriku, kisah ini hanya merupakan suatu kisah Cinta pribadi seseorang, tidak ada bagian yang menarik juga tidak ada yang memberikan kesan dalam bagi orang lain, setelah kau mendengar kisah ini, mungkin kau bisa merasa kecewa. Tapi yang kutahu jelas, bagaimanapun juga toh aku sudah memenuhi perasaanmu yang tertarik dan merasa heran- Bukankah begitu?"

Namun Cin Hong yang mendengarkan sudah sejak tadi tergoncang hebat jantungnya, ia berusaha sekuat tenaga untuk menindas perasaannya hingga mendengarkan kisahnya sampai habis, setelah ditanya demikian, ia tidak dapat menahan lagi mengucurnya air mata,

dengan air mata berlinang-linang ia berkata dengan suara keras. "Siapa dia ? Siapa dia ? Siapakah dia itu?" Mata perempuan itu juga sudah basah digenangi air mata, dengan perasaan tegang menatap wajah Cin Hong, kemudian baru menjawab: "Dia bernama Kim Hong "

Cin Hong membuka lebar matanya dan berseru: "Apakah kau adalah . . .anak perempuan tetua partay

oey san-pay Suma Cin yang bernama Suma Siu Khim?"

Air mata perempuan itu mengalir semakin deras, ia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan kedepan Cin Hong lalu mengulurkan tangannya dan meraba-raba leher anak muda itu, lalu berkata dengan suara tergetar:

"Tidak ada kunci emasnya yang berukiran huruf Liong.

Kau tidak mempunyai kunci-kunci serupa itu . , . . "

Cin Hong buru-buru mengeluarkan anak kunci berukiran huruf Liong bersama rantai emasnya dan diberikan kepada perempuan itu kemudian berlutut dihadapannya.

Suma siu Khim menjadi seperti orang kalap menubruk Cin Hong dan memeluknya ia memeluk erat-erat, kedua orang itu dalam waktu sekejap mata kemudian pada saling berpelukan dan menangis dengan amat sedihnya. . .

"Aaaaaa ibu... Kau ibu... Kau adalah ibuku" demikian kata- kata itu akhirnya terCetus juga dari mulut Cin Hong.

"Ya, anakku yang kukasihani, dugaan Penguasa rumah penjara rimba persilatan ternyata tidak salah, kau benar- benar adalah anakku...,"

"ibu, ibu. "

"Anak. "

Hari itu keadaan seperti biasa, tiada ada orang datang menantang pertandingan, tiada orang merasakan bahwa keadaan itu ada perbedaan apa dengan hari-hari biasa juga tiada orang tahu bahwa didalam rumah Penjara rimba persilatan itu sudah terjadi suatu kejadian yang tidak biasa Akan tetapi ketika sinar matahari sudah menyilam seluruhnya keufuk barat satu kejadian lain yang tidak biasa telah terjadi lagi.

Dengan tiba tiba, suara bunyi tanda telah nyaring, satu tanda bahwa telah datang pula orang yang menantang mengadakan pertandingan-

Suara tanda itu menggema diseluruh rumah penjara juga sudah masuk kedalam kamar tidur Suma Siu Khim.

"Hong-jie, kau pergi melihat, ada orang yang datang menantang pertandingan lagi" demikian Suma Siu Khim telah berkata kepada anaknya.

"Perduli apa dengan itu, ibu aku hendak bicara lagi denganmu."

"Anak bodoh, hari masih banyak, apa kau takut kau tidak ada. waktu untuk bicara lagi denganku?"

"Tetapi pertandingsn itu ada apa yang patut disaksikan? Bukan hanya satu dua jurus saja sudah terpukul jatuh oleh penguasa rumah penjara. "

Waktu itu dengan mendadak bunyi tambur itu berbunyi nyaring untuk kedua kalinya....

"Aaaa Ada dua orang yang datang menantang, anak. lekas kau pergi lihat?"

"Sudahlah, ibu, ibu beritahukan dulu kepada anak, PenguaSa rumah penjara itu seorang bagaimana wataknya?"

"Aih, ibumu sendiri juga kurang jelas. "

Tiba-tiba terdengar pula untuk ketiga kalinya suara tambur, tanda ada orang datang menantang. "Aaaa orang ketiga datang lagi. lekas pergi lihat"

"Baiklah, tetapi jangan tergesa-gesa, ibu, ibu berdiam disini sudah dua puluh tahun lamanya, bagaimana tidak tahu siapakah orangnya PenguaSa Rumah Penjara ini?"

"Ini disebabkan ibumujarang sekali bertemu muka dengannya, haa. "

Kembali terdengar suara tambur, ini adalah untuk ke empat kalinya.

"Heran, hari ini bagaimana ada demikian banyak orang datang menantang? Anak. lekas kau pergi melihat"

"Benar-benar sangat menjemukan ibu, cobalah ibu katakan, apa sebab Penguasa Rumah penjara itu mendirikan rumah penjara ditempat ini?"

"Entahlah, ibu juga pernah bertanya padanya tetapi ia mengatakan ada sesuatu sebab, sekarang kau pergi lihat dulu. heee"

Kembali terdengar suara tambur.

"Sudah lima orang yang datang menantang Haa, PengUasa Rumah Penjara hari ini akan repot benar-benar"

"Anak jangan berkata yang buKan-bukan"

"Ya, ibu. Mungkin besok pagi kita berlalu dari sini, sukakah ibu bersama-sama saja pergi mencari ayah?"

Kembali terdengar suara tambur untuk ke-enam kalinya. "Ya Allah, Sudah enam orang yang datang menantang

hari ini bagaimana bila demikian banyak orang datang ?"

"Mungkin masih ada, biarlah kita menunggu lagi, ibu, sukakah ibu besok kita meninggalkan tempat ini ?" "Tidak Ibumu tidak akan meninggalkan tempat ini untuk selama-lamanya "

"Kenapa ?"

Saat itu terdengar pula suara bunyi tambur, inilah yang untuk ketujuh kalinya.

"Sudah tujuh orang, anak sebabnya ibumu tidak mau meninggalkan tempat ini, ialah hendak menantikan kedatangan ayahmu untuk menyambut aku "

"Akan tetapi dengan cara bagaimana ayah bisa tahu ibu tinggal disini menantikan kedatangannya "

Suara tambur terdengar pula inilah yang untuk kedelapan kalinya,

"Kedelapan . . .hem,jikalau ayahmu taktahu ibumu berada disini, aku tidak percaya "

"Itu apa sebabnya?"

Saat itu terdengar pula suara tambur berbunyi. . . .

"Ah, yang Kesembilan....... sebab, anak.....sebab dia dahulu memang berdiam di lembah kunci besi gunung Tay- pa-san ini, sekarang tempat ini sudah diduduki oleh Penguasa Rumah Penjara, setidak-tidaknya ia juga harus datang untuk menantang bertanding."

Kembali terdengar suara tambur yang amat nyaring. "ouW yang kesepuluh....... hari ini keadaan ada sedikit

aneh,  lekas  kau  pergi  melihat  apa-apa  saja  orang  yang

datang menantang itu"

"Tunggu lagi sebentar, ibu, apakah kepandaian ilmu silat ayahku tinggi? Apakah didalam rimba persilatan ayah mempUnyai nama baik?" "Menurut ibumu, kepandaian ilmu silatnya masih lebih tinggi dari kakekmu, akan tetapi dahulu ketika ayahmu pergi mencari keterangan didalam rimba persilatan semuanya selalu mengatakan belum pernah mendengar seorang yang bernama Kim Hoong itu. "

Sementara itu, sudah terdengar lagi suara tambur berbunyi.

"inilah yang kesebelas kalinya......ibu mungkinkah ayah itu menggunakan nama palsu untuk menipu ibu?"

"Tidak bisa Aku duga ia masih mengandung perasaan salah paham terhadap ibumu, cobalah kau katakan dengan sejujurnya, apakah ibumu harus mencari dia, ataukah dia yang harus mencari ibumu?"

"Sudah tentu ayah yang harus mencari ibu"

Terdengar pula suara tambur Untuk kedua belas kalinya.

"Kedua belas kali..... maka itu, anak maka ibumu sudah bersumpah tidak akan meninggalkan tempat ini, hendak menunggu terus hingga ia datang menyambut aku, kecuali.......kecuali apabila ibumu mendapat kenyataan bahwa ia sebetulnya sudah meninggal"

"Haaa, oya ibu, waktu anak bertemu muka dengan seorang yang menamakan diri Tamu tidak diundang dari luar daerah yang tulen, ia pernah mendengar nama anak Cin Hong di anggapnya sebagai Kim Hong, dari sini dapat diduga bahwa ia pasti mengetahui diri ayah"

"Benarkah?"

"Benar Di lain hari anak akan mencari Tamu tak diundang dari luar daerah yang tulen untuk mencari keterangan tentang jejak ayah, kemudian anak akan mencari ayah lebih dulu, dan anak pasti akan menangkapnya untuk aku bawa kesini"

"Baiklah, sekarang, tambur itu sudah tidak berbunyi lagi, lekas kau pergi melihat"

"Baik Apakah ibu tidak suka turut keluar untuk melihat" "Tidak, ibumu selamanya tidak menghiraukan soal-soal

demikian"

"Kalau begitu anak juga malaS untuk melihat, anak akan mengawani ibu untuk mengobrol disini"

"Tidak boleh Kau harus melihat, sekarang lekas kau pergi lihat "

Cin Hong yang sekarang seharusnya di rubah menjadi she Kim, menjadi bernama Kim Hong.

Dengan sangat girang ia keluar kamar ibunya, seCepat kilat meninggalkan lorong yang panjang, lari turun dari tangga batu, ketika ia tiba dikamar tamu rumah penjara, ia menonton melalui lobang jendela dikamar tamu itu.

Pandangan matanya ditujukan keatas tujuh senar yang terbuat dari kawat besar, tampak diseberang sungai diatas panggung ada berdiri sebaris yang terdiri dari dua belas orang tua.

Terpisah dengannya hanya enam tujuh belas tombak saja, maka masih dapat menyaksikan dengan jelas bahwa mereka itu terdiri dari seorang perempUan tua, dua paderi tiga imam dan enam orang biasa, diantara ia masih mengenali tujuh orang. dan tujuh orang itu adalah:

Tie-keng Taysu ketua partay Siao-lim-pay, ceng-hong Cinjin ketua partay Bu-tong.

Thay-hie Tiong keua partay cong-lam. Yu Hong liong ketua partay Hoa-san-pay. Jie cek Bun ketua partay Kong-thong-pay. Yap It ciu ketua partay Lam-hay-pay.

ciang Thay Peng wakilpejabat ketua partay oey-san-pay.

Lima orang yang lainnya meskipun la belum pernah bertemu muka, tetapi karena bersama-sama ketujuh orang yang semuanya berkedudukan sebagai ketua partay, dapat diduga mereka tentunya adalah:

Leng-sim Sangjin ketua partay Ngo-bie-pay. Pek-cui Cinjin ketua partay Kun-lun-pay.

Lu Pa Kong ketua partay Thian-Shia-pay. Kam Giok Thian ketua partay clong-lay-pay. Tong-hong Jie Nio ketua partay Swat-san-pay.

Sungguh aneh, dua belas partai besar pada dewasa itu, dengan mendadak telah muncul dirumah penjara rimba persilatan untuk menantang pertandingan, ini adalah merupakan peristiwa terbesar selama didirikannya rumah penjara itu.

Apa sebab mereka datang semua untuk mengadakan tantangan pertandingan?

pada waktu Cin Hong berada digereja Siao-lim-sie. pernah dengar kata ketua partay Hoa-san-pay, bahwa ia ada mempunyai suatu rencana yang dapat menolong Keluar anak dewa persilatan kakek gelandangan Kiat Hian, apakah yang dimaksudkan rencana itu ialah menantang penguasa rumah penjara dengan dua belas ketua berbareng ini??

APABILA benar demikian halnya, ini benar-benar merupakan suatu rencana kosong. Mereka toh tidak bisa turan tangan dengan berbareng? Tetapi diantara dua belas ketua partay, Siapa orangnya yang sanggup menyambut serangan Penguasa Rumah penjara hingga sepuluh jurus? Sekalipun ada yang sanggup sampai sepuluh jurus itupun juga hanya dapat menolong keluar tawanan-tawanan yang berada dalam kamar tahanan golongan naga dan ular, bagaimana Penguasa Rumah Penjara mau membebaskan seorang tawanan istimewa seperti kakek gelandangan itu ?

Cin Hong selagi masih belum habis mengerti memikirkan hal itu tiba-tiba bahunya ada orang yang menepok perlahan, ketika ia berpaling, Penguasa Rumah Penjara sudah berada dibelakang dirinya.

Penguasa itu dengan pandangan mata ditujukan keluar jendela, bertanya dengan nada suara tenang. "Sudah  ketemu dengan nona Siu Khim?"

Kim Hong menganggukkan kepala dan berkata, "Sudah, kalau kuberitahukan padamu, mungkin kau akan terkejut. ia adalah ibuku "

Tetapi penguasa rumah penjara yang mendengar ucapan itu sedikitpun tidak menunjukan sikap terkejut, bahkan tertawa dan berkata

"Apa yang dibuat bangga? Sudah lama aku dapat menebak sebagian"

"Berdasar atas apa kau bisa menebak bahwa dia adalah ibuku?" bertanya Cin Hong heran-

"Sekarang aku tak ada waktu untuk menjawab pertanyaanmu ini, tunggu setelah aku masukkan penjara satu persatu dua belas orang yang datang menantang itu, aku akan mempelajari soal bagaimana menolong muridku"

Sehabis berkata demikian, ia lompat melesat melalui lubang jendela, dan melayang turun diatas senar besar itu. Baru ia melayang turun diatas senar kawat besi, lalu bergerak dan berdiri dibagian tengah senar besi itu, setelah itu ia baru bertanya kepada para ketua, "siapakah yang akan maju lebih dahulu?"

Dari pihak penantang, tampak ketua partay Soat-san-pay Tong-hong Jie Nio yang keluar dan sudah melesat keatas senar besi itu. Dia adalah seorang nenek yang usianya sudah lanjut dan bertubuh terokmok, meskipun demikian, gerakannya masih gesit dan lincah sekali, melesat setinggi tiga tombak seolah-olah bukan berarti apa- apa buat dia.

Ia berdiri tegak diatas senar besi, dengan tangan kiri menolak pinggang tangan kanannya menuding penguasa rumah penjara sedang mulutnya berkata dengan suara galak:

"Kau penguasa rumah penjara rimba persilatan, sudah terlalu banyak sekali melakukan kejahatan, hari ini aku sengaja datang dari gunung Soat-san yang jauh, hanya untuk memberi pelajaran kepadamu lekas kau kemari untuk menerima gebukkan"

Penguasa rumah penjara hanya mengeluarkan suara dari hidung, ujung kaki kirinya menggait senar, hingga menimbulkan suara mengaung, suara itu nyaring mengalun jauh lama tidak berhenti.

Sungguh aneh, Tong-hong Jie Nio juga turut tergetar dengan getaran suara senar tadi, ternyata, suara getaran itu bisa menimbulkan perasaan gatal bagi orang yang mendengarkan, maka saat itu wajahnya segera berubah dan secepat kilat lompat kesenar yang lain, kembali ia membuka mulut dan memaki-maki:

"Kau setan pejajaran, kalau mau berkelahi lekas turun tangan, jangan menggunakan ilmu hitam atau ilmu gaib segala untuk menjatuhkan lawan" Penguasa rumah penjara tetap tidak mau menghiraukan, secepat kilat sudah lompat dan berdiri disenar itu, kembali kaki kanannya menggaet, dan terdengar pula suara getaran dari senar itu.

Kali ini lebih hebat dari pada yang pertama, hingga Tong-hong Jie Nio tak dapat berdiri tegak. buru-buru lompat meleset kelain senar, sedang mulutnya terus memaki-maki:

"Pui Setan, kau menggunakan ilmu gaib semula kukira kau memiliki kepandaian yang benar-benar, ternyata hanya menggunakan ilmu untuk mencundangi lawan-lawanmu. pui apa kau kira aku juga takut gatal? Aku justeru  tak  takut. aya"

Penguasa rumah penjara dengan mendadak melesat dan terbang mengitari dirinya dengan dalam waktu sekejap mata dengan beruntun sudah menyentuh tujuh batang senar besi itu, hingga seperti terdengar suara dimedan pertempuran. Tong-hong Jie Nio yang tak menduga- duga tubuhnya lalu miring, hampir saja terjatuh ke bawah lembah, hingga ia mengeluarkan suara jeritan kaget seperti diatas tadi,

Sebetulnya ia juga tahu benar bahwa suara senar yang ditimbulkan oleh penguasa rumah penjara rimba persilatan itu hebat sekali, maka ia tak berani memaki lagi, dengan mengerahKan seluruh kepandaiannya untuk menghadapi lawan luar biasa ini, dengan mengendalikan kegesitan dan kelincahan tubuhnya, ia lompat kesana kemari, untuk menghindarkan serangan aneh dari lawannya,

Suara terpentiknya senar besi dengan ujung kaki penguasa rumah penjara itu semakin gencar, hingga menimbulkan perasaan bagi lawan-lawannya seperti sedang dimedan perang, membuat hati berdebaran dan perasaan tegang.

Sebelas orang ketua partay pada duduk di tempat masing-masing dilain seberang, semua pada bersemedhi untuk melawan suara hebat itu.