Tangan Berbisa Jilid 05

 
Jilid 05

Laki-laki berewokan itu duduk di kursi, dan berucap kasar: "Benar, tetapi harus bisa melukis bagus sekali, baru diterima”

“Ahli lukis apa? " tanya pemilik toko sambil senyum. "Melukis   gambar   orang,   bahkan   orang   yang   dapat

melukis orangnya dengan gambaran ya dipikir dengan otak"

"Berdasarkan atas pikiran? " bertanya pemilik toko  heran.

"Tidak, maksudku ialah ada orang yang berdiri di sampingnya untuk memerintahkan orang itu, jadi pelukis itu harus melukis sambil memperhatikan bentuk orang yang dilukiskan oleh petunjuknya dan lukisan itu haruS mirip benar-benar baru sudah”

“oh, kiranya di suruh menggambar tawanan yang melarikan diri" Laki-laki berewokan itu menggoyangkan tangannya dan berkata^ "Bukan, bukan untuk mencari tawanan yang kabur"

"KalaU begitu apakah suruh melukis orang yang sudah mati? "

"Dengan terus terang aku sendiripun tidak tahu siapa yang akan di lukis, aku hanya diperintah untuk mencari seorang pelukis, hal lainnya aku tidak dapat menjelaskan"

berkata laki-laki berewokan itu sambil menggelengkan kepala, dan tertawa.

Pimilik toko itu mengangguk-anggukkan kepala sambil berpikir^ "Bagaimana upahnya? "

"ASal bisa melukis dengan baik, untuk tiga ratus atau lima ratus tail tidak jadi soal"

Pemilik toko itu terkejut, ia bertanya dengan perasaan tegang: "Benarkah? Kemana harus pergi melukis? "

"Digunung Tay pa-san" berkata laki2 berewokan itu sambil unjukan tertawanya mengandung misteri.

Waktu itu Cin Hong yang baru membayar harganya dan pikir hendak keluar, begitu dengar disebutnya nama gunUng Tay-pa-san, hatinya lantas tergerak. tmaka diam- diam ia tetap berdiri untuk mendengarkan perCakapan mereka selanjutnya.

"Wah, terlalu jauh"

"Tidak jauh, hanya perjalanan Seratus paal lebih, dalam waktu dua jam sudah sampai”

“Dua jam? Menunggang kuda juga tidak bisa begitu Cepat." "Menunggang kuda sudah tentu tidak bisa, tetapi, kalau aku yang lari sambil menggendong dia, itulah baru bisa mencapai perjalanan jauh itu dalam waktu dua jam”

“Ah"

"Kau tuan bukanlah orang rimba persilatan, sudah tentu kau tidak kenal aku sikaki terbang Gu Khay, hal ini tidak dapat menyalahkan kau”

“Ah, kau tuan ini seharusnya bukan. "

"Eem, jikalau aku ini kawanan berandal juga tidak sampai merampok kepada seorang pelukis miskin”

“Yah, yah"

"oh, ya, aku sudah bicara denganmu sekian lama, kau masih belum memberitahukan kepadaku dimana pelukis itu? "

"Iya iya. dengan terus-terang, anakku yang nomor dua itu didalam kota ini merupakan seorang pelukis yang terbaik"

"Itulah yang paling baik, dimana anakmu itu sekarang? " "Didalam rumah, hanya tempatnya terlalu jauh, aku

merasa khawatir."

"Baiklah, aku tabu kalian orang-orang kau pedagang kalau tidak diberikan sedikit uang lebih dahulu tentunya tidak gampang-gampang menerima baik permintaan orang.

..."

Lelaki berewokan itu dari dalam Sakunya mengeluarkan sepotong uang perak seberat sepuluh tail, diberikan kepada pemilik toko itu, kemudian berkata: "Lekas lekas minta anakmu itu keluar" Pemilik toko itu menyambut uangnya dengan kedua tangan, berulang-ulang mengucapkan jawabannya, iya sambil tersenyum-senyum kemudian berpaling dan berkata kepada Cin Hong masih berdiri disitu "Tuan muda, apaKah tuan masih hendak beli apa-apa? "

Pertanyaan itu merupakan suatu pengusiran halus, Sebab dibelakang pertanyaan itu ada mengandung maksud, apa bila tidak akan membeli barang lagi, boleh lekas pergi, sebab ia juga khawatir nanti pemuda itu akan mencuri barang-barangnya,

Cin Hong juga merasa tak ada perlunya untuk berdiam disitu lagi terpaksa lantas keluar. Ketika itu ia melangkah keluar dari toko itu, telinganya dapat menangkap suara laki- laki berewokan yang diucapKan Kepada diri sendiri "Heh Bocah ini Sungguh tampan"

Cin Hong menghentikan kakinya, berpaling dan berkata kepadanya sambil tertawa: "Berewok Saudara itulah baru boleh dikata hebat "

Lelaki berewokan itu bargkit dari tempat duduknya, berkata dengan perasaan terkejut dan terheran-heran: "Heran, telingamu ternyata demikian tajam pendengarannya"

Cin Hong lalu membalikkan dirinya, dan berkata sambil tersenyum: "Kau saudara, tidak tahu aku ini siapa sudah tentu kau heran "

Wajah laki-laki berewokan itu berubah seketika katanya sambil tertawa dingin: "Aku sikaki terbang Gu Khay mungkinkah sudah salah mata? Kiranya kau juga orang dari golongan rimba persilatan, siapakah namamu? "

"Namaku Cin Hong." menjawab Cin Hong Sambil memberi hormat dan bersenyum. Alis yang tebal laki-laki berewokan itu di kerutkan, kemudian berkata: "Aku belum pernah dengar nama ini, bagaimana? Apakah ingin main-main? "

"Saudara salah paham, kita bertemu dijalanan, tidak ada permusuhan apa-apa, mengapa harus berkelahi? " berkata Cin Hong sambil tersenyum.

Lakl-laki berewokan itu mengedip2kan matanya, dan duduk kembali dikursi. katanya sambil mengulapkan tangannya: "Tidak mau berkelahi silahkan keluar saja, dengan terus terang aku sendiri juga tidak ada waktu terluang"

Cin Hong tertawa-tawa, seCara iseng-iseng ia bertanya: "Saudara datang dari gunung Tay-pa-san, tahukah disana ada rumah penjara yang terkenal sebagai rumah penjara rimba perSilatan? "

Wajah laki-laki berewokan itu kembali berubah, kedua kalinya ia bangkit diri tempat duduknya berkata sambil membuka matanya : "Tahu lalu mau apa? "

Dari sikap lelaki berewokan itu, Cin Hong tahu bahwa lelaki itu mungkin orang dari rumah penjara rimba persilatan digunung Tay pa-san itu, Saat itu ia berusaha menenangkan pikirannya sendiri, katanya sambil tertawa: "Tidak apa-apa, besok aku pikir akan kesana untuk berkunjung."

Lelaki berewokan itu dengan perasaan bingung dan terheran-heran mengamat-amati Cin Hong sejenak kemudian bertanya^ "Menengok siapa? "

"Menengok It-hu Sianseng To Lok Thian dan Thian-san Soat Popo Sie Siang In..."

Lelaki berewokan itu mengeluarkan suara terkejut, bibirnya tiba-tiba tersungging satu senyuman, katanya^ "Mereka berdua kemarin sore baru masuk kerumah penjara, besok pagi kau sudah akan pergi menengok, apa sudah tidak bisa sabar lagi? "

Cin Hong mendengar bahWa suhunya dan Subonya benar sudah berada dalam rumah penjara rimba persilatan, dalam hatinya merasa pilu sehingga air matanya tidak tertahan lagi sudah mengalir keluar, sedang mulutnya bertanya dengan suara gemetaran. "Benarkah? Dapat menyambut berapa pukulan? "

"It-hu Sianseng berhasil menyambut sembilan pukulan sedang Swat Popo hanya berhasil menyambar pukulan, mereka masing-masing sudah dipenjarakan dalam kamar penjara Liang nomor tujuh dan delapan" menjawab laki- laki berewokan sambil tertawa terbahak-bahak.

Hati Cin Hong merasa seperti diiris-iris. dengan hati pilu ia bertanya pula: "MaSih ada lagi? "

"Hanya itu Saja, masih ada apa lagi? " berkata lelaki berewokan itu.

Cin Hong tiba-tiba membalikan badannya lari keluar, dalam waktu singkat sudah kembali kerumah penginapan, begitu tiba lantas lari masuk kamar In-jie seraya berseru memanggil: "In-jie In-jie "

In-jie yang sedang menulis surat melihat sikap tergesa- gesa Cin Hong, Sampai terkejut, katanya dengan suara mengomel: "Setan ada urusan apa demikian tergesa-gesa? "

Cin Hong meletakan alat-alat tulisnya di-atas meja, kemudian ia duduk diatas kursi dengan sikap lunglai, Setelah itu ia baru berkata sambil menghela napas: "Habislah, suhu kita berdua benar-benar sudah dipenjarakan didalam rimba persilatan" In-jie juga merasa sedih ketika mendengar keterangan itu, air matanya mengalir keluar, lalu bertanya: "Benarkah? Bagaimana kau tahu? "

Cin Hong lalu menceritakan pertemuannya dengan anak buah pemimpin rumah penjara rimba persilatan, yang datang kekota untuk mencari seorang pelukis, pada akhirnya ia berkata sambil menghela napas-"Selama itu aku sedang berpikir, dalam perjalanan kita yang tidak berhasil mencandak suhu, mungkin sudah kesalahan jalan atau mendahului mereka, tetapi sekarang pikiran itu ternyata keliru"^

In Jie sementara itu masih menangiS, seketika mendengar ucapan itu berkata sambil menyeka air  matanya: "Aku sudah lama menduga akan terjadinya hal seperti ini, masih untung semua sudah sanggup menyambut pukulan dari batas yang ditetapkan ialah tiga pukulan mautnya, bahkan lebih dari itu. "

Cin Hong bangkit dari tempat duduknya, terkata dengan suara guSar: "Dapat menyambut pukulan mautnya tiga kali keataS mau apa lagi? Bahkan serupa Saja masih tetap masuk kedalam penjara? "

In jie menundukkan kepala dan menghela napaS, kemudian berkata :

"Setidak-tidaknya tidak perlu diborgol kaki tangannya, juga tidak perlu bekerja berat tidak perlu pula makan nasi kasar dan Sayur kering. "

Cin Hong kembali duduk dikursinya, Sepasang matanya memandang kelangit-langit, lama berada dalam keadaan demikian, tiba-tiba lompat bangun dan berkata: "Sudahlah. Mari kulukis gambarmu" In-jie seolah-olah takut Cin Hong mendekati dirinya, buru-buru mengulurkan tangannya dan mendorong padanya, sedang mulutnya berkata: "Tunggu sebentar, tunggu aku habis menulis surat baru melukis" Cin Hong baru sadar, lalu berkata :

"Kiranya kau tadi tidak mau keluar bersama-sama, perlunya hanya hendak menulis surat, apakah kau tulis untuk suhumu? "

In-jie mengangguk-anggukkan kepala, dengan kedua tangannya ia menutupi surat yang terletak diatas meja, wajahnya menunjukkan perasaan malu dan takut.

Cin Hong berjalan mendekati selangkah. menundukkan kepala untuk melihat surat seraya bertanya: "Tulis surat saja mengapa takut dilihat orang demikian rupa? "

In-jie Cemas, dengan kakinya ia menendang kaki Cin Hong seraya berkata: "Pergi Kau ini bagaimana Sih. "

--ooo OOOOO ooo--

Hari kedua pagi-pagi, mereka dengan ter-gesa2 meninggalkan rumah penginapan dan keluar kota sambil menunggang kuda. can Sa Jie lebih dahulu sudah menunggU diluar pintu kota. tangan Kiri pemuda pengemis itu memondong setengah guci arak besar, seding tangan kanan membawa dua buah paha rusa yang sudah dimasak matang dengan dibungkus oleh kertas, seolah-olah hendak pergi keluar pesiar diluar kota dengan makanannya itu.

Cin Hong terheran-heran, tanyanya: "Saudara can Sa Jie, kau membawa barang-barang itu apa perlunya? "

"Tidak apa-apa, hanya minta tolong padamu supaya kau bawa dan berikan kepada suhuku yang doyan makan itu" menjawab can Sa Jie sambil tertawa. Cin Hong berpaling dan bertanya kepada In-jie: "Apakah orang yang menengok kerumah penjara itu boleh membawa barang-barang masuk kedalam? "

"Boleh, kau lihat aku sampai lupa membeli sedikit barang untuk suhuku" berkata In-jie Sambil menganggukkan kepala.

"Kalau memang boleh membawa barang kita boleh kembali kekota untuk membeli sedikit" berkata Cin Hong girang.

"Suhu kalian berdua masih belum pasti sudah berada didalam rumah penjara itu belum sebaiknya lain kali saja kau baru bawa," menyelak can Sa Jie.

Mata In-jie menjadi merah, katanya dengan suara sedih: "Mengapa tidak. dua hari berselang sudah masuk penjara"

can Sa Jie yang mendengar ucapan itu terkaget, Cin Hong lalu menceritakan semua apa yang terjadi tadi malam, dan can Sa Jie yang mendengar itu merasa terkejut tetapi juga girang, katanya: "Bagus sekali Dengan demikian maka suhu juga sudah mendapat kawan untuk diajak beromong-omong"

In-jie sangat marah, ia menghampiri dan menyerang can Sa Jie sambil memaki: "Anak busuk. kau rupanya tidak mengerti artinya sedih"

can Sa Jie lompat mundur, katanya sambil tertawa Cekikikan: "Habis kau suruh aku bagaimana? Biar bagaimana hal itu toh sudah tidak dapat dihindarkan lagi"

Biji matanya berputaran mengaWaSi Cin Hong kemudian berkata pula Sambil tertawa. "Sebetulnya kau juga tak perlu sedih, mereka bertiga yang merupakan tiga manusia gaib setiap orang masih ada kesempatan tiga kali untuk menantang pertandingan, aku perCaya mereka Cepat atau lambat toh sanggup menyambut sampai sepuluh pukulan, sekalipun tidak bisa, didalam rimba persilatan juga masih ada kita tiga manusia kecil gaib, bukankah kau masih ingat pepatah berkata anak meneruskan usaha ayahnya, murid meneruskan cita-cita gurunya "

In-jie tidak menghiraukan kepadanya, ia berpaling dan berkata kepada cin Honng, "Bagaimana, apakah kita masih perlu kembali kekota untuk membeli barang-barang? "

Cin Hong tiba-tiba ingat bahwa uang dalam sakunya tinggal tidak seberapa, setelah berpikir sejenak lalu berkata, "Aku pikir Suhu kita berdua Baru saja masuk penjara, barangkali juga tidak tergesa-gesa memerlukan barang makanan, lain kali kalau pergi menengok lagi baru kita bawa juga tidak halangan ,."

"Lain kali? Tahukah kau bahwa rumah penjara itu dalam waktu Satu tahun baru boleh menengok satu kali? " Berkata In-jie dengan suara nyaring.

Cin Hong merasa sedikit bingung, katanya sambil tertawa keciL. "Kuberitahukan kepadamu juga tidak halangan, aku baru saja ingat, dalam Sakuku hanya tinggal uang reCeh yang jumlahnya tidak Cukup tujuh tail perak. bagaimana bisa membeli barang-barang? "

"oh, can Sa Jie, bolehkah kau pinjamkan beberapa tail Saja? " Berkata in-jie Sambil mengulurkan tangannya kepada can Sa Jie.

can Sa Jie nampak gelagapan katanya: "Jangan main- main, aku pengemis miskin bagaimana ada uang? Barang- barang yang kubawa Semua adalah Saudara-Saudara golongan pengemis Cabang kota ini yang mengumpulkan seCara gotong-royong" In-jie terpakia menghela napaS, lebih dahulu mengeprak kudanya dilarikan kebarat, Cin Hong kemudian juga meniru, sedangkan can-sa jie sambil memandang poci arak dibungkusan paha rusa lari mengikuti dibelakang mereka, mulutnya berteriak-teriak: "Hai, bantu aku bawa serupa barang. "

Menjelang tengah hari, tiga orang itu sudah mulai masuk daerah pegunungan Tay Pa San-Diatas jalan pegunungan yang berliku-liku itu mereka jalan tidak berapa lama, akhirnya menikung sebuah gunung yang sangat tinggi. dari situ sudah tampak diantara gunung-gunung yang menjulang tinggi itu, berdiri sebuah bangunan dinding tembok dan rumah-rumah berloteng yang luas dan tinggi sekali.

Bangunan itu dilihat darijauh, merupakan sebuah bangunan dan megah tetapi juga misteri yang seram.

Diatas pintu loteng terdapat sebuah papan yang ditulis oleh huruf emas. Huruf-huruf itu berbunyi:

"Bagian Pertama Rumah Penjara Rimba Persilatan-"

Dikedua sisi pintu, diatas dua tiang batu juga dipasang sepasang papan yang ditulis dengan huruf-huruf yang mengandung arti sangat baik. Huruf-hurup itu berbunyi:

"orang-orang Qaib dan orang-orang Pandai Seluruh Dunia Persilatan semua Menjadi Tamu Dalam Rumah Penjara, jago-jago dan Ksatria-Satria Rimba Persilatan Menjadi Tawanan untuk Selama-lamanya . "

Huruf-huruf emas itu dibaWah Sinar matahari memancarkan sinarnya yang berkilauan, kalau dipandang dari jauh seperti sedang terbakar. orang yang membacanya dengan sendirinya timbul perasaan tegang.

Tiga orang itu. tiba dibawah pintu benteng dikedua samping jalanan menampak pula dua potong papan merk. dibagian depan papan merk itu ditulis dengan kata-kata: "Pemberitahuan Kepada orang-orang Yang Hendak Menantang."

-Dipapan bagian Delakang tertulis dengan kata-kata: Pemberitahuan Bagi orang-orang Yang ingin Menengok Keluarga"

Pengumuman dalam papan pertama itu berbunyi demikian:

-SATU. Penguasa rumah penjara rimba Persilatan ini setiap waktu menerima segala tantangan pertandingan, barang siapa yang yakin mempunyai kepandaian cukup, baik pria mau pun wanita, tua atau muda, semua boleh mendaftarkan nama, dan setelah itu nanti diadakan pertandingan di atas tujuh senar yang terpancang diatas lembah kunci besi.

-DUA. Barang siapa yang dapat mengimbangi atau berakhir seri dalam pertandingan itu dengan penguasa rumah penjara ini, akan mendapat kesempatan untuk mengajukan segala permintaan apa yang dikehendaki olehnya.

-TIGA Barang siapa yang sanggup menerima tiga kali puKulan maut penguasa rumah penjara boleh melanjutkan pertandingannya, barang siapa yang dapat melanjutkan pertandingan hingga sanggup bertahan sepuluh jurus keatas tidak usah masuk penjara, disamping itu juga akan mendapat hadiah uang mas sebanyak Seribu tail atau boleh menolong keluar lima orang dari dalam penjara menurut pilihannya sendiri, tapi dalam pertandingan selanjutnya harus sanggup bertahan sampai lima belas jurus, jikalau tidak, masih tetap harus masuk kedalam penjara, dan kehilangan haknya untuk menantang lagi. -EMPAT. Barang siapa yang Sanggup bertahan tiga jurus keatas Sepuluh jurus kebawah, masih diharuskan masuk kedalam penjara untuk ditawan, hanya dalam rumah penjara boleh tak usah memakai borgol dan bekerja berat, makan setiap harinya juga lebih baik dari tawanan biasa, bahkan masih mendapat kesempatan untuk menantang lagi tiga kali.

-LIMA. Barang siapa yang tidak sanggup menyambut tiga pakulan maut penguasa rumah penjara ini, diharuskan masuk penjara, menjadi pelayan, juga harus mengenakan borgol dan bekerja berat, setiap hari hanya diberi makan yang berupa beraS kasar dan Sayur kering, juga hanya diberikan kesempatan satu kali saja untuk menantang lagi, apabila sanggnp menyambut tiga kali pukulan keatas, boleh dipindahkan kekamar penjara yang disebut kamar penjara Liong.

-ENAM. Ketentuan-ketentuan di atas harus ditaati oleh penantang dan semua tawanan,

jiKa tidak. penguasa rumah penjara ini tidak akan menjamin keselamatan jiwanya. Sedang di atas papan yang kedua berisi pengumaman seperti di bawah ini:

Mengingat tradisi kekeluargaan yang kuat dari bangsa kita, penguasa rumah penjara ini memberi kesempatan bagi keluarga orang yang dipenjarakan untuk datang menengok, denga nperaturan-peraturan seperti dibawah ini.

-SATU. Tahun pertama bagi keluarga orang yang dipenjarakan-hanya anak-anaknya atau anak keluarganya yang berusia tiga belas tahun yang boleh datang Derkunjung atau menengok yang lainnya tak dapat diterima.

-DUA. Sanak keluarga yang datang menengok harus meninggalkan senjata yang dibawa juga harus memberitahukan nama dan umurnya yang sebenarnya kepada petugas yang di namakan Thiat-u Siangsu untuk di cek. apabila terdapat kebohongan, akan mendapat  hukuman rangket sebagai peringatan-

-TIGA. Keluarga-keluarga yang datang menjenguk setiap tahun hanya di beri kesempatan satu Kali, Setiap kali Waktunya hanya satu jam.

-EMPAT. Keluarga-keluarga yang datang menengok boleh membawa surat-surat dari keluarga atau Sedikit barang-barang makanan, tapi harus diperiksa lebih dahulu, isi urat apabila terdapat tulisan-tulisan yang tidak baik bagi rumah pejjara ini, dapat ditahan.

-LIMA. Dalam pertemuan antara tawanan dengan keluarganya, tidak boleh ribut-ribut, atau menangis, barang siapa yang melanggar segera di usir keluar.

-ENAM. Ketentuan-ketentuan diatas haruS di taati benar oleh yang berkepentingan,

jika tidak akan segera di usir keluar dan akan dihukum menurut pelanggaran yang dilakukan-

SehabiS membaca huruf pengumuman itu Cin Hong bertiga saling berpandangan, dalam hati masing-masing timbul perasaan tak enak.

Munculnya satu kelompok manusia yang membangun tempat bernama Rumah Penjara Rimba Persilatan ini, sudah merupakan suatu hal yang Sangat aneh dalam riwayat di rimba persilatan-dan Selagi peraturan dan katetapan yang diadakan olehnya juga demikian ganjil, benar-benar merupakan suatu kejadian ajaib dalam sejarah rimba periilatan-Selagi mereka dalam keadaan bingung, dalam pintu penjara tampak keluar seorang lelaki setengah umur kurus kering yang mengenakan jubah warna kuning.

Ia berdiri diatas tiang batu sambil mengawasi sikap tiga pemuda itu, di wajahnya tidak menunjukkan sikap apa-apa, tanyanya dengan nada suara dingini "Hee, kalian tiga bocah ini datang kesini ada keperluan apa? "

Cin Hong lompat turun dari atas kudanya, memberi hormat kepada orang itu seraya berkata. "Kedatangan kita kemari, maksudnya ialah hendak menengok keluarga didalam penjara, apkah tuan yang menjabat pangkat sebagai Thiat-oeSiansu? "

Lelaki berjubah kuning itu menganggukkan kepala, ia kembali bertanya dengan nada suara dingin: "Kalian bertiga akan menengok semuanya? "

Cin Hong berpaling mengawasi can Sa Jie dan In-jie sejenak kemudian berkata sambil menggelengkan kepala. "Tidak. usia mereka tidak sesuai dengan peraturan kalian disini."

Thiat-oe Siansu mengeluarkan Suara hem, lalu memutar tubuhnya berjalan kedalam pintu sambil berkata. "Baik, kau masuk dulu untuk mengurus soal pendaftaran lebah  dahulu"

Begitu masuk kedalam pintu batu itu dibalik pintu itu tampak Sebuah meja, diatas meja tampak lengkap dengan kertas dan alat-alat tulisnya, kecuali itu ada sebuah Sangkar burung yang terbuat dari besi berbentuk bulat, didalam sangkar itu ada seekor burung abu-abu, burung itu ketika melihat Cin Hong datang, lantas terbang dalam Sangkarnya sambil mengeluarkan suaranya dan memiringkan kepalanya untuk mengamat-amati Cin Hong. Thiat-oe Siansu duduk disebuah kursi dibelakang meja, kini mulai menggulung lengan bajunya, membuka-buka buku pendaftaran, lantas mengangkat pena atau alat tulis dari buku yang diletakkan diatas batu gosokannya, kemudian membuka sepasang matanya yang berCahaya, lalu bertanya lambat-lambat: "Namamu? "

"Cin Hong." menjawab Cin Hong perlahan-Thiat-oe Siansu menganggukkan kepala, tetapi tidak mencatat nama pemuda itu, sebaliknya ia angkat muka dan bertanya lagi: "Tanggal lahir? "

Cin Hong tercengang, jawabnya dengan Cemas: "Hal ini bagaimana aku tahu? "

Thiat-oe Siangsu mengerutkan alisnya, tanyanya dengan suara keras: "Goblok!! Apakah ayah bundamu tidak pernah memberitahukan kepadamu? "

"Ai, aku ini sejak masih keCil sekali sudah dipelihara oleh suhu hingga dewasa, sama sekaii tidak tahu siapakah ayah bundaku sendiri" Menjawab Cin Hong gugup,

Thiat-oe siangsu miringkan kepalanya yang kurus, matanya dikedip-kedipkan, katanya dengan perasaan heran: "Kalau demikian halnya, bagaimana kau bisa tahu kalau kau sekarang berusia delapan belas tahun? "

Cin Hong saat itu teringat kepada riwayat diri sendiri yang hingga saat itu masih merupakan suatu teka-teki baginya, dalam hatinya merasa sedih, katanya sambil menundukan kepala: "Menurut keterangan suhu itu, tahun usiaku seharusnya sudah delapan belas tahun, tidak bisa salah lagi."

Thiat-oe Siangsu meletakkan alat tulisnya, tubuh bagian atas menyender kekursi, sedang tangannya mengurut-urut kumis diatas bibirnja sambil berkata: "Tidak ada tanggal lahirnya, bagaimana aku dapat menghitungnya? "

Cin Hong Cemas ia berkata sambil menjura: "Tahun ini dengan sebenarnya usiaku delapan belas tahun, harap tuan suka perCaya keteranganku ini "

Thiat-oe Siangsu manggeleng-gelengkan kepala kemudian memejamkan matanya sebagai jawaban bahwa dengan tidak adanya tanggal kelahiran, sesungguhrya ia tidak dapat membantu.

Diluar dugaannya baru saja ia memejamkan mata, burung keCil yang berada didalam sangkar itu dengan tiba- tiba beterbangan dan berbunyi: "GincU, GlncU " yang

berarti Uaang perak. uang perak.

Cin Hong terperanjat dan mengeluarkan seruan dari mulutnya, ia buru-buru mengeluarkan uang reCehan dari dalam sakunya, dengan sikap sangat menghormat diberikan kepada Thiat-oe Siangsu seraya berkata:

"Siangsu, sedikit uang ini harap siangsu gunakan Untuk minum teh "

Thiat-oe siangsu membuka matanya dengan cepat dipejamkan kembali, katanya sambil tertawa dingin:

"Hm, apa kau kira aku ini belum pernah lihat uang receh ini? "

Muka Cin Hong menjadi merah, katanya dengan Suara gelagapan: "Maaf, dalam Sakuku hanya ada beberapa keping uang recehan ini saja, harap tuan suka memaafkan."

Thiat-oe Siangsu menggeleng-gelengkan kepalanya, memejamkan matanya kembali dan tidak mau menghiraukan Ucapan Cin Hong. Cin Hong lantas naik pitam, dalam keadaan marah, ia menyambar alat tulis yang ada diatas meja, alat itu dikeprakan sehingga menimbulkan suara nyaring, kemudian membentak sambil membusungkan dada: "Pui? Kau berani main korupsi? "

Thiat-oe Siangsu yang tidak menduga dapat perlakuan demikian, sesaat menjadi kaget, sepasang matanya melotot. lalu bangKit dari tempat duduknya dan membentak sambil menuding dengan jari tangannja:

"Bocah, kau berani melawan aku, benar-benar kurang ajar"

Cin Hong memang mempunyai sifat yang suka marah2, ciri itu mungkin disebabkaa karena sejak kecil ia tidak mendapat cinta kasih dari ibunya, tetapi sesudah marah ia segera menyadari kesalahannya, maka ia setelah ditegor demikian ia buru-buru menjura untuk memberi hormat, dan berkata dengan sikap gugup:

"Maaf, maaf, aku tidak dapat mengendalikan emosiku sendiri. hal ini sesungguhnya tidak seharusnya."

Thian-oe siansu mengibaskan lengan bajunya, katanya dengan suara keras: "Pergi Pergi, kau bocah ini tidak sesuai dengan peraturan yang ditetapkan oleh rumah penjara." Cin Hong terkejut. ia menjura lagi seraya berkata:

"Tidak tidak^ harap Siansu jangan marah tunggu aku nanti akan berdamai dulu dengan dua kawanku, mungkin mereka ada membawa barang, yang agak berharga"

Sehabis berkata demikian, ia berpaling dan berjalan keluar dari pintu batu itu. can Sa Jie dan In-jie begitu melihat ia keluar kedua-duanya lantas menyongsong serta bertanya:

"Bagaimana kau ribut dengan dia? " Dengan suara perlahan Cin Hong menceritakan sebab- sebabnya, kemudian berkata dengan suara gemas^

"Anjing itu ternyata berani menggunakan kedudukannya untuk memeras, benar-benar kurang ajar, Sekarang kalian pikir bagaimana? "

can-sa jie mengangkat tangannya dan menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal, katanya sambil tertawa kecut:

"Burung goak didunia benar-benar sama hitamnya, tidak diduga rumah penjara kedaannya juga sama dengan kantor pemerintahan, jikalau tidak ada uang tidak ada uang tidak bisa masuk"

Sementara itu In-jie juga berkata sambil mengerutkan alisnya: "Habis bagaimana? Aku sesungguhnya membawa uang. "

can-sa-jie mengangguk kepalanya semakin keras, katanya: "Aku juga dibadanku yang ada hanya kutu busuk saja"

Cin Hong mengeluarkan suara helaan panjang, kemudian berkaka: "Aku juga tidak ada barang yang berharga."

Cin Hong dalam keadaan tak berdaya, tanpa disadari ketika tangannya meraba-raba kepada lehernya Sendiri, telah menyentuh kunci emas yang terikat dengan kunci huruf Liong yang terbuat dari emas murni, Sesaat ia merasa girang dan berkata sambil lompat-lompat:

"Ya, aku hampir lupa. barang ini kukira boleh diberikan kepadanya"

Setelah mengucap demikian, dengan cepat mengeluarkan rantai emasnya, dan membuka anak kunci yang berukiran huruf Liong itu, anak kunci itu dimasukkan kedalam sakunya, disimpan baik-baik.

can Sa Jie mengira kunci emas itu merupakan barang perhiasan semula ia terkejut, kemudian ia menggoda sambil tertawa.

"orang lakl-laki kok lehernya dikalungi rantai emas segala, apa tidak takut ditertawai kawan-kawan? "

In-jie mendelikan matanya memandang sebentar, lalu berkata: "Mengapa orang laki-laki tidak boleh memakai rantai emas? Kalau ini benar-benar seperti anak dari gunung saja.. ."

Cin Hong yang tiada maksud untuk memberi keterangan juga tidak perlu menjelaskan kepada mereka, dengan membawa rantai dan anak kunci emas itu ia masuk kembali kedalam pintu.

Thiat-oe Siangsu ketika melihat ia datang lagipura-pura menegornya: "cis Perlu apa kau masuk lagi? "

Cin Hong buru-buru mengeluarkan kunci emasnya dengan kedua tangannya ia berikan pada laki-laki itu, katanya sambil membongkukkan badan-"Siangsu kau terlalu capai, Sedikit barang perhiasan ini tidak ada artinya apa-apa, harap Siangsu suka terima dengan senang hati "

Thiat-oe Siangsu menerima rantai emas, di-timang2nya sebentar kemudian berkata sambil tersenyum:

"Ingat. ini adalah kau sendiri yang memberikan kepadaku dengan suka rela, bukannya aku yang meminta kepadamu"

Cin Hong mengatakan ucapan ya, berulang-ulang maka Thiat-oe Siangsu itu lantas menerima pemberian itu, ia mengangkat lagi alat tulisnya dan menulis kan nama Cin Hong diataS buku pendaftaran berikut dengan usianya, kemudian bertanya^ "Kau hendak menengok siapa? "

"Hendak menengok Suhuku it-hu Siangseng dan Suhuku Thian-san Soat Popo, sekalian mengantarkan sedikit barang maka nan untuk can sa-sian, pemimpia  golongan pengemis. "

Thiat-oe Siangsu membuka matanya lebar-lebar. kemudian bekata: "Jadi sekaligus kau hendak menengok tiga orang? "

Cin Hong takut tidak diperbolehkan, maka buru-buru menjawab.

"Ya, dalam pengumuman itu toh tak ada ketetapan yang melarang orang dalam waktu bersamaan menengok lebih dari satu orang "

"Sudah tentu, tetapi ini hanya tidak baik bagi kau sendiri" berkata Thiat-oe Siansu sambil tertawa.

Cin Hong berdiri bingung, sementara itu Thiat-oe Siangsu sudah memberi penjelasan sambil tertawa:

"Dalam pengumuman itu bukankah sudah ditulis dengan suatu ketentuan bahwa orang yang menengok keluarganya didalam penjara hanya diberi batas waktu satu jam saja. Banyak anak-anak yang menengok keluarga pada mengeluh. karena batas waktu itu terlalu singkat, dan sekarang kau dalam waktu yang singkat itu sekaligus hendak menengok tiga orang apakah itu bukan berarti Sangat singkat sekali waktumu untuK berkumpul dengan mereka? "

Cin Hong mendengar keterangan itu lalu memprotes: "Aku hendak menengok tiga orang, seharusnya diberi waktu tiga jam itulah baru adil" "Tidak, tentang ini aku sudah pernah pinta keterangan dari penguasa rumah penjara ini, tetapi tidak diperbolehkan." menjawab Thiat-oe Siangsu.

Cin Hong tidak berdaya, terpaksa menganggukkan kepala dan berkata: "Baiklah, satu jam juga boleh"

Thiat-oe Siangsu lalu menuliskan nama-nama orang yang hendak ditengok diatas buku pendaftaran, kemudian berkata: "Sekarang barang yang hendak dibawa masuk itu berikan kepadaku dahulu untuk diperiksa kecuali uang, barang makanan dan surat-surat. dibadanmu tidak boleh membawa barang apa lagi, kalau di ketemukan bisa dibeslah"

Cin Hong terima baik, ia keluar lagi, untuk memberikan anak kunci emas itu kepada In-jie agar disimpannya, kemudian dari tangan Can Sa-jie menerima arak dan paha binatang rusa yang hendak diberikan kepada suhunya. selagi hendak masuk kedalam lagi, tiba-tiba berhenti dan berpaling serta berkata kepada in-jie^

"In-jie, surat tadi malam yang kau hendak berikan kepadaku itu akan diperiksa dahulu, apakah tidak menjadi halangan? "

Sepasang pipi In-jie tampak merah, ia sangsi sejenak. tiba-tiba. berkata sambii tertawa. "ia boleh lihat, tetapi kau tidak"

Cin Hong terima baik, dengan membawa barang hidangan dan surat tadi masuk lagi kedalam pintu, diletakkan di meja Thiat-oe Siangsu lalu mengeluarkan kembali surat In-jie yang akan disampaikan kepada suhunya, kemudian berkata^ "Barang-barang semua ada disini, periksa dahulu" Thiat-oe Siansu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri Cin Hong untuk menggeledah badannya, kemudian memeriksa barang-barang dan pada akhirnya barulah membuka surat In-jie akan di bacanya, mungkin karena membaca di bagian yang di anggapnya lucu dengan tiba-tiba ia dongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak

Cin Hong tak tahu apa yang ditulis oleh In-jie dalam Suratnya, ia merasa heran, maka lalu bertanya dengan  suara perlahan: "Numpang tanya pada Siansu apakah yang tulis olehnya dalam surat itu? "

Thiat-oe Siangsu sementara itu sudah melipat kembali surat dan dimasukkan kedalam amplopnya, surat itu diberikan kepada Cin Hong, dan menjawab sambil tertawa:

"Apa yang dikatakan olehnya itu memang benar. aku

boleh lihat, tetapi kau tidak boleh baca"

Cin Hong merasa seperti juga oleh In-jie, ia menghela napas dan berkata sambil tertawa kecut: "Kalau begitu, Semua sudah boleh kubawa? "

Thiat-oe Siansu menganggukkan kepala sambil tersenyum, kemudian mengulurkan tangan menunjuk orang yang berada dibelakang dirinya seraya berkata: "Semua selesai, Sekarang orang ini akan bawa kau pergi menengok kedalam penjara"

Cin Hong berpaling, kiranya entah sejak kapan di belakang dirinya sudah berdiri seorang lelaki berpakaian ringkas warna hijau, dengan wajah dan sikap dingin, orang itu mengajak Cin Hong jalan,

Dengan tetap hormat Cin Hong mengangukkan kepala kepadanya sambil tertawa, kemudian membawa guci arak dan bungkusan paha rusa, setelah itu ia berpaling dan berkata dengan Suara nyaring kepada dua kawannya diluar tembok: "Saudara can Sa, In-jie kalian harus tunggu aku"

"Baik, kalau sudah tiba waktunya kau belum keluar, kita nanti akan menyerbu." jawab In-jie dengan suara nyaring juga ,

Cin Hong yang Sebetulnya sudah mengikuti penjaga penjara tadi berjalan, mendengar ucapan In-jie buru-buru berhenti dan berpaling sambil berseru: "Tidak akan terjadi hal seperti itu, kau jangan bertindak lancang"

"Anak tolol, maksudku ialah memberi peringatan kepada mereka lebih dahulu. . . ." menjawab in-jie juga dengan suara nyaring.

Cin Hong mengikuti Sipir penjara berjalan keluar dari pintu batu, dengan mengikuti jalan yang agak rata berjalan menuju ke gunung. Berjalan kira-kira Setengah pal, jalan itu mulai menyempit, kedua sisi jalan terdapat gunung-gunung menjulang tinggi, disamping itu juga terdapat sungai dengan airnya yang jernih mengalir turun, diatas gunung penuh dengan pohon cemara dan daunnya yang rindang, di beberapa bagian ditepi jalan terdapat banyak tanaman bunga, pohon-pohon yang indah, juga air mancur, Suatu pemandangan alam yang sangat indah.

Cin Hong meskipun dalam hatinya seperti sedih oleh berbagai perasaan, tetapi dengan beradanya ditempat yang mempunyai pemandangan alam sangat indah itu, ia juga seperti terbenam dalam keindahan itu, sehingga tanpa disadari, mulutnya Sudah melagukan sajak-sajak.

Sipir penjara yang berjalan mengira Cin Hong itu mempunyai penyakit gila, ia merandek dan berkata sambil mengerutkan alisnya: "Hei, jikalau kau mempunyai penyakit tidak boleh masuk" Cin Hong terkejut, buru-buru menyahut sambil tertawa: "Tuan, aku tidak pernah mempunyai penyakit gila "

"Jikalau tidak, mengapa kau berteriak-teriak bernyanyi nyanyi seperti orang gila? ”

“Aku sedang nyanyikan sajak indah, bagaimana kau kata seperti orang gila? "

Sipir penjara itu mengeluarkan ludah mulutnya, lantas berjalan lagi sambil berkata, "Setiap anak-anak anggauta keluarga yang datang menengok keluarganya, kebanyakan pada bermuka sedih dan ada juga yang menangis, tetapi kau sebaliknya tampak gembira bahkan bisa nyanyi segala, bukankah itu berarti gila? "

Cin Hong yang tetap mengikuti dibelakangnya, menjawab sambil tersenyum: "Tuan tidak tahu, ada orang yang Sedih mengeluarkan air matanya, membasahi pipinya. ada juga yang air matanya mengalir kedalam perut. Inilah orang yang dina makan berduka mempunyai cara sendiri- sendiri"

Sipir penjara itu barang kali tidak sudi berdebat dengan anak sekolah itu, maka ia tidak menjawab lagi. ia mempercepat langkah kakinya. setelah melalui jembatan yang melintang ditengah jalan, tak lama kemudian tibalah disuatu tempat dibawah kaki gunung yang menjulang tinggi kelangit.

Ditempat itu tidak terdapat banyak tumbuhan hijau, seluruh gunung terdiri dari batu-batu cadas yang tajam- tajam, sedang dibagian perut gunung tampak sebuah batu yang licin sekali. diatas batu yang sangat besar itu diukir dengan huruf-huruf penjara Rimba Persilatan, setiap huruf sebesar setombak persegi, sehingga setiap orang yang melihatnya timbul pertanyaan dalam hati masing-masing, diatas gunung dipermukaan batu yang sangat besar itu bagaimana orang dapat mengukirkan huruf diatasnya? ini benar2 merupakan suatu kepandaian yang tidak dapat dipikir.

Dibagian bawah, terdapat anak tangga yang juga terbuat dari batu, disana terdapat dua buah pintu besi, pintu besi sebelah kanan diatas terdapat ukiran dengan buruf LIONG atau NAGA dan kepala NAGA, diatas pintu sebelah kiri diukir dengan sebuah kepala Ular, tidak perlu dijelaskan lagi, orang sudah tahu bahwa inilah kamar penjara naga dan ular.

Rumah Penjara yang menggetarkan rimba persilatan itu, dibangun diperut gunung yang menjulang tinggi, asal membuka dua pintu yang keadaannya menyeramkan itu, dengan dirinya orang bisa terus masuk kedalam lembah yang dinamakan lembah Kunci besi itu, juga boleh menyusuri setiap kamar penjara yang terdapat disepanjang dinding lembah itu, didalam kamar-kamar ltulah kini disekap tokoh-tokoh rimba persilatan baik dari golongan putih maupun dari golongan hitam yang ratusan jumlahya, bahkan diwaktu belakangan ini muncul penghuni kamar- kamar penjara itu terdapat orang-orang yang namanya pernah menggemparkan dunia rimba persilatan, mereka itu ialah tiga dari golongan yang dinamakan cui atau pemabokan, Sian atau dewa dan Po atau nenek.

Tetapi puncak gunung itu tinggi sekali, orang-orang yang datang menantang entah dengan Cara bagaimana baru bisa mendaki dan tiba ditempat yang penting dengan tujuh senar itu?

Cin Hong selagi masih terbenam dalam pertanyaannya sendiri, sementara kakinya sudah mengikuti sipir penjara itu mendaki tangga batu, berjalan tiba didepan pintu besi kamar penjara Naga. disitulah ia melihat disamping kanan pintu besi ada dipasang sebuah papan pengumuman yang terdapat tulisan yang berbunyi:

"Setiap orang Yang Datang Menantang Boleh Naik Kepuncak Melalui Pintu Ini"

Ketika ia menengok keatas mengikuti tempat yang ditunjuk dengan tanda ujung panah, disitu terdapat jalan kecil yang beriiku-liku. Jika naik kepuncak gunung, jalan itu tidak terdapat tikungan, oleh karena didekat situ ada batu yang melintang, maka harus mendekati tempat itu baru dapat melihat dengan tegas.

Dibawah pintu besi kamar naga itu, waktu itu dikanan kirinya masing-masing berdiri seorang laki-laki berpakaian ringkaS yang masing-masing membawa senjata tombak panjang, ketika mereka melihat sipir penjara datang dengan membawa Cin Hong, dengan tiba-tiba merintangkan tombak ditangan masing-masing, untuk merintangi perjalanan mereka, sedang mulutnya, "Keluarkan dahulu tanda untuk menengok kedalam penjara "

Cin Hong terkejut, ia berpaling dan bertanya kepada sipir penjara yang mengajak masuk: "Tuan, apakah yang dinamakan tanda untuk datang menengok ini? " Sipir penjara itu tersenyum simpul dan menjawab.

"Tadi apakah Thiat-oe Siangsu tidak memberikan kau selembar kartu untuk tanda menengok? Harus ada kartu itu untuk diserahkan kepada Tuan ini baru boleh masuk melalui pintu besi ini "

Cin Hong Cemas, ia berseru: "Siansu tadi tidak memberikan atau apa-apa Aku belum pernah lihat kartu yang kau maksudkan itu " "Habis sekarang bagaimana? Tidak mempunyai kartu bagaimana bisa masuk? " Berkata sipir penjara Sambil tertawa dingin.

Cin Hong merasa tidak senang, ia berkata dengan sesalannya: "Kalau begitu mengapa kau tadi tak memperingatkan aku untuk membawa kartu itu? "

"Hal ini bagaimana kau bisa salahkan aku, ku kira dia sudah memberikan kepadamu^" Menjawab sipir penjara itu marah.

"sekarang bagaimana? Bolehkah kiranya kalian memberi kelonggaran Satu kali saja? "

"Aku lihat Sebaiknya balik lagi untuk minta kepada Thiat-oe Siangsu" Betkata sipir penjara sambil menyipitkan matanya dan tertawa yang mengandung materi.

Cin Hong meletakkan barang-barang yang dibawanya ditangga batu, lalu memutar tubuh hendak keluar balik lagi, baru saja melangka kaki tiba-tiba terdengar ucapan sipir penjara itu tadi:

"Masih ada satu hal, kau boleh minta pelajaran lagi kepada barung dalam sangkar itu"

Cin Hong lantas sadar. buru-buru meraba lagi, tangannya dimasukan kedalam saku, harta benda apa yang terdiri dari uang recehan yang Tidak cukup Satu tahil dikeluarkan semua, dengan Kedua tangan ia serahkan kepada dua laki-laki yang menjaga pintu, lalu berkata Sambil menundukkan badan dan tertawa.

"Tuan tentunya sudah terlalu lelah. sedikit uang ini bukan berarti apa, boleh kah sekedar untuk minum teh saja, dilain hari kalau aku datang lagi tentu ku-akan ucapkan banyak-banyak terima kasih, tuan pikir bagaimana? " Dua penjaga pintu itu, sepasang matanya mengawasi uang perak ditangannya, tetapi tidak berani menerima, Cin Hong mengira mereka anggap terlalu sedikit jumlahnya, maka ia berkata dengan perasaan khawatir:

"TUan-tuan haraf dimaafkan saja, kedatanganku tadi karena tergesa-gesa, juga tidak mengetahui aturan disini, maka tidak membawa uang lebih banyak... "

Sipir penjara yang dibelakang dirinya lalu berkata sambil tertawa. "Jangan banyak bicara lagi bagi saja uang menjadi dua"

Cin Hong mengeluarkan suara buru-buru membagi dua uang recehan didalam tangannya, setelah ditimbang- timbangnya rata, katanya sambil tertawa: "Maaf. maaf, Sesungguhnya terlalu tergesa-gesa"

Dua penjaga tadi menerima baik pemberian itu, orang yang berdiri disebelah kiri, tampaknya agak tegang. dengan mata terbuka lebar ia memandang Cin Hong, kemudian berkata dengan ucapannya yang mengandung ancaman

"Uang perak ini kita terima, akan tetapi jikalau kau berani mengadu kita yang minta, nanti kalau kau keluar aku akan ambil jiwamu"

Cin Hong buru-buru menjawab: "Ya, ya, aku mengerti.

Tuan-tuan tak usah khawatir."

Dua penjaga itu lalu menanyakan nama siapa keluarganya yang hendak ditengoki. satu diantaranya lantas berjalan mendekati pintu tangannya diulurkan untuk menarik pintu tersebut. pintu itu memperdengarkan suara nyaring, selanjutnya dari atas pintu, tampak Sepasang mata dari kepala naga itu berputaran dua kali, Sebentar  kemudian dengan mengelak seperti dikorek oleh orang dari dalam, telah menghilang lalu diganti dengan sepasang mata manusia, setelah itu terdengar suara pertanyaan yang nyaring, "Siapa yang datang berkunjung?"

Dua penjaga pintu semuanya berlutut diatas  anak tangga, dan memberi laporan dengan suara ketakutan: "Hunjuk beritahu pada Tay Giam ong, disini ada seorang pemuda bernama Cin Hong yang datang hendak menengoK tiga tawanan cui, Sian dan Po "

Cin Hong yang mendengar mereka menyambut orang itu Tay Giam-ong, segera teringat pada In-jie yang penah mengatakan bahwa penguaSa dari penjara itu ada mempunyai sepuluh anak buah yang disebut sebagai Sepuluh Giam Lo ong yang ditugaskan untuk memeriksa setiap orang yang datang berkunjung. Kalau itu benar, pemeriksaan itu bukanlah suatu hal yang ruwet, tapi bagaimanapun ruwetnya juga tidak apa, Sebab didalam badannya sudah tidak memiliki apa2 lagi, jikalau mereka hendak minta uang semir, ia juga tidak tahu bagaimana nanti harus bertindak?

Selama berpikir, pintu itu tiba-tiba terbuka yang agak aneh pintu itu bukan terpisah kedua tetapi menjeblak dengan sendirinya, dari situ kelihatan jelas tampak sebuah goa yang luas tapi gelap. di dalamnya tampak Sebuah tangga yang menanjak keatas, kemudian membelok kekanan bagian perut gunung, keadaannya seolah-olah di dalam neraka yang menyeramkan.

orang yang dipanggil Tay-giam-ong tadi saat itu juga berdiri didepan pintu dengan sikapnya yang galak Sekali.

Dia adalah seorang tua bermuka hitam alisnya tebal matanya besar, kepalanya memakai topi yang pinggirnya ada benang emas, pakaiannya jubah berwarna merah, pinggangnya diikat dengan ikat pinggang yang lebar, sepatunya tinggi, dandanannya itu mirip raja akherat seperti apa yang sering dilukiskan didalam gambar, sayang dia bukanlah Giam-lo-ong atau raja akherat yang benar, makin dipandangnya sangat lucu

Cin Hong yang masih sangat muda, tidak kenal selatan, melihat dandanannya yang sangat lucu itu lantas tertawa geli.

orang yang disebut Tay-giam ong itu dengan tiba-tiba marah, sepasang matanya terbuka lebar, mulutnya mengeluarkan suara bentakan keras: "Bocah kau berani tertawa?"

cin Bong terkejut, buru-buru menjura dan berkata: "Maaf, aku tertawa tanpa disadari, harap Tay-giam-ong suka memaafkan-"

Tay-giam-ong mengeluarkan suara dari hidung, hawa amarahnya masih belum reda, maka berkata dengan nada marah-marah:

"Banyak anak- anak yang datang menengok dipenjara, kalau melihat aku semuanya pada gemetaran, hanya kau bocah ini yang berani tertawa, kalau kau masih tertawa lagi, aku nanti akan sekap kau disini?"

Berulang-ulang Cin Hong minta maaf, kemudian mengambil guci arak dan bungkusanpa rusanya yang diletakkan ditangga, ia berjalan menghampiri dan berkata sambil memberi hormat:

"Tay-giam-ong, bolehkah kiranya sekarang aku masuk?"

Tay-giam ong hanya menyahut 'hem', begitu saja lantas memutar tubuhnya yang beSar, mendaki tangga batu, dengan diikuti oleh Cin Hong.

Tangga batu itu dalam langkah dua-puluh langkah telah membelok. semakin lama semakin masuk semakin tinggi, dua sisi dari tangga batu itu Semuanya terdapat obor api yang menyala, tetapi di tempat yang gelap gulita itu tampaknya seperti api setan, hingga orang yang masuk seolah-olah sedang masuk neraka.

Cin Hong tidak tahu berapa banyak tangga yang sudah dilalui, dengan tiba-tiba dihadapannya tampak terang, kiranya ia sudah berada di sebuah kamar batu yang luas dan terang.

Kamar batu itu dilengkapi dengan semua jendela bundar, sinar matahari masuk melalui lubang jendela itu hingga dapat melihat dengan tegas semua keadaan di dalam kamar, tampa empat dinding kamar itu semuanya, terbuat dari batu, lubang- lubang dari sela batu sangat kecil jelas pembuatan kamar batu ini pasti- melalui suatu rencana  yang sangat rapi.

Tay Giam-ong memerintahkan Cin Hong berdiri menghadap jendela, Cin Hong menurut tetapi mulutnya bertanya: "Untuk apa ^"

"Ini adalah suatu keharusan yang terakhir penguasa kita hendak memeriksa sendiri setiap anak yang datang menengok kepenjara,jikalau penguasa kita tidak suka kau, lantas bisa diusir keluar "

Mendengar ucapannya ia akan melihat penguasa rumah penjara itu, dalam hati Cin Hong terkejut tetapi juga girang, ia pikir iblis rimba persilatan yang sangat misteri itu, berkepandaian sangat tinggi sekali sudah tidak usah dikata lagi, tetapi banyak orang masih belum tahu benar ia itu pria ataukah wanita, ini benar-benar sulit akan diperCaya, maka saat itu ia Sudah mengambil keputusan hendak pasang  mata benar-benar. Saat itu, dengan tiba-tiba penerangan dalam kamar batu itu telah menjadi gelap. diluar jendela sudah tampak kepala orang.

Itu adalah kepala seorang yang wajahnya tertutup oleh kain Sutera warna hitam keCuali lubang dibagian matanya yang tertampak sepasang matanya yang cekung dan bersinar, sama sekali tidak dapat orang mengetahui dia itu kepala dari seorang pria ataukah wanita, juga sukar untuk ketahui berapa usianja, apa yang lebih aneh dan mengherankan ialah orang yang wajahnya tertutup dengan kain sutera hitam itu, ketika sinar matanya terjatuh kewajah Cin Hong, sikapnya seolah-olah dikejutkan oleh apa yang dilihatnya untuk sesaat sepasang matanya memancarkan sinarnya yang tajam berkilauan, bahkan penuh perasaan terkejut dan terheran-heran, sinar mata itu menatap Cin Hong tanpa berkedip.

Tay Giam ong agaknya juga merasa bahwa hal itu agak ganjil, sejenak ia tampak terkejut kemudian menghadap kepada kepala itu ia memberi hormat seraya berkata.

"Laucu, pemuda ini bernama Cin Hong, hendak menengok Tok Lok cian dan can Sa Sian Sie Koan yang dua hari berselang baru dimasukkan dalam penjara. "

Penguasa rumah penjara rimba persilatan yang mengenakan kerudung muka jubah hitam dimukanya ketika mendengar Keterangan itu, mulutnya mengeluarkan suara terkejutnya:

"Hee" kepalanya melongok keluar kemudian berkata dengan suaranya yang penuh emosi. "Apa ia bernama Kim Hong?"

Sikap demikian itu seolah-olah sedang menengok wajah yang sudah lama ia dinanti-nantikan Cin Hong sebetulnya ingin dapat membedakan dari  suara orang itu, tetapi bukan saja tidak berhasil untuk membedakan suara itu dari pria ataukah Wanita, bahkan ketika melihat sikapnya demikian, sesaat ia merasa  bingung, sehingga berdiri terpaku ditempatnya.

Sepasang mata penguasa rumah penjara rimba persilatan terus menatap Cin Hong tanpa berkedip. kembali mengeluarkan suaranya dan kali ini agak gemetar^ "Kim Hong.. Kim Hong... Bagaimana kau juga bernama Kim Hoag?"

Cin Hong terkejut mendengar pertanyaan itu, ia segera menjawab sambil memberi hormat, "Bukan, namaku Cin Hong huruf, cin raja cin Sie Ong, dan Hong dari perkataan ong atau perahu layar yang terdapat ruang gambar"

Penguasa rumah penjara itu agaknya merasa keCewa mulutnya, mengeluarkan suara 'ouw' setelah itu menundukkan kepala dan menghela nafas panjang, kepala itu perlahan-lahan beralih kea rah jendela sesaat kemudian telah menghilang

Cin Hong berdiri termangu-mangu didekat jendela, dalam hatinya masih merasa terkejut dan terheran-heran, ia pikir penguasa rumah penjara ini sungguh aneh, pertama kali melihat bagaimana demikian terkejut? Apa Sebabnya pula namaku Cin Hong salah didengar menjadi Kim Hong? Dan ketika ia mendengar keteranganku bahwa namaku bukan Kim Hong, mengapa pula ia lantas berlalu dengan perasaan masgul? Siapakah sebenarnya orang  yang bernama Kim Hong itu? Dan ada hubungan apa denganku?

Sementara itu Tay Giam-ong yang melihat penguasa penjara itu sudah pergi, geser kakinya berjalan menuju keluar kamar sebelah kamar sebelah kanan, katanya dengan suara nyaring: "Jalan Sekarang kau boleh pergi menengok" Cin Hong buru-buru mengikut ia keluar dari kamar, setelah melalui beberapa tikungan lagi, pada akhirnya keluarlah dari jalan tangga. setelah melalui pintu besi berbentuk bundar, tibalah disuatu jalan kecil yang menuju kebukit.

Tempat itu merupakan suatu lembah yang berbentuk bundar, atas sempit dibawah luas, sekitar lembah ada jalan kecil yang mengitari keempat keliling terus naik keatas, bagai tangga.

Diatas jalan kecil bagai tangga itu setiap sejarak satu tombak dibuka satu jendela persegi, seluruh lembah atas dan bawah terdapat sekitar seratus jendela, setiap lobang jendela, hanya buat untuk melongok satu kepala orang saja.

Tempat berdiri Cin Hong pada saat itu tepat ditengah- tengah lembah, dari situ mendongak keatas kira-kira seratus tombak lebih, Sama2 tampaK diatas lembah itu

terpancang tujuh Senar beli hitam keadaannya mirip dengan alat musik bersenar tujuh, kalau ia melongok kebawah didalam lembah, juga kira-kira seratus tombak dalamnya dan ditempat ia berdiri kebawah kira-kira sepuluh tombak. dipasang sebuah jaring besi yang luas sekali, dibawah jaring besi terdapat banyak kepala orang, dari atas pemandangan itu seperti melihat semut kecil, orang-orang itu merupakan orang-orang tawanan didalam kamar penjara yang dinamakan kamar Ular. Mereka itu harus melakukan pekerjaan berat setiap hari.

Pada waktu itu, karena kedatangan Cin Hong, lubang- lubang jendela dimana dilalui Cin Hong dengan serentak muncul beberapa puluh kepala manusia, mereka semua keadaannya sangat mesum, rambutnya sudah panjang, seperti juga tawanan-tawanan yang ditawan didalam penjara yang tidak teratur. orang-orang itu ribut ia berkaok- kaok. diantaranya pada memanggil- manggil:

"Hei Anak muda, aku adalah Tao Kay San  situkang kayu dari bukit Lamsan, apakah datang hendak menengok aku?"

"Hei Tengoklah aku kemari, aku adalah nelayan dari lautan utara Loo-tie apakah kau datang hendak menengok aku?"

"Anak muda.. Berikanlah aku sedikit arak, Aku nanti akan menurunkan kau semacam pelajaran ilmu silat yang ampuh, kujamin kau nanti dapat mengalahkan pengusaha rumah penjara"

"Anak muda Berikanlah sedikit, aku nanti menurunkan kau ilmu pedang yang sangat ampuh"

"Anak mudu Aku adalah ketua generasi ketiga belas dari partay Lam- hay, tolong kau beritahukan kepadaku cucu perempuanku itu Sudah menikah atau belum?"

"Hei Tengok aku kemari, aku adalah Ngo-cu San Lim Kie Ang-li-cu. "

"Siaohiap Harap kau berjalan kemari, aku hendak minta pertolonganmu. "

"Anak muda. "

"Siaohiap. "

"Hei. "

Demikianlah suara yang menyambut kedatangan Cin Hong demikian gemuruh, Satu sama lain saling berebut hendak minta ditengok, Cin Hong yang baru pertama kali muncul didunia Kang-ouw sudah tentu belum pernah mendapat pengalaman semacam ini, maka sesaat itu malah semakin terkejut dan ketakutan- Sebaliknya dengan Tay-giam-ong ia seolah-olah tidak melihat dan perhatikan tawanan-tawanan itu bahkan berkata sambil tersenyum: "orang-orang ini semuanya adalah tawanan dalam penjara ular, kamar penjara naga masih dibagian atas, mari kau ikut aku"

Cin Hong mengikuti Tay giam-ong jalan naik melalui jalan kecil, Setelah mengitar dua kali, barulah mulai menginjak tanah dari kamar penjara Naga.

satu-satunya perbedaan dikamar penjara Naga dengan kamar penjara Ular, ialah setiap lobang jendela tidak terdapat terali besi, jumlahnya juga hanya lima puluh saja, lubang- lubang jendela itu seolah-olah tersusun dari bawah keatas dengan nomor urutan lima-puluh, empat sembilan, empat-delapan, empat-tujuh. . . .

Tay giam-ong ajak Cin Hong teruS berjalan kedepan kamar nomor sebelas lantas berhenti, ia berpaling dan berkata sambil tertawa:

"Kita berjalan beberapa ruang lagi sudah ada tawanan, suhumu berada didalam kamar nomor tujuh Suhumu no. delapan dan can-Sa Sian no. enam, sekarang pergilah kau sendiri yang tengok mereka tetapi ada satu hal kau perhatikan, kalau kau mendengar suara terompet berbunyi, itu berarti suatu pemberitahuan kepadamu bahwa waktu menengok tawanan sudah habis, maka kau harus lekas kembali.Jikalau suara terompet kedua kalinya berbunyi, kau masih belum kembali ketempat bagian masuk tadi, maka lain tahun akan kehilangan hakmu untuk menengok lagi"

Cin Hong menerima baik pesan itu, kemudian berjalan menurut petunjuk Tay-giam-ong tadi. Ketika ia tiba dikamar no. delapan, di lobang jendela sudah tampak kepala seorag yang melongoK keluar, itu adalah Tnian-san Soat Popo sie Siang In Dengan wajah penuh keheranan Thian-san Soat Popo berkata: "Bocah^ bagaimana demikian Cepat kau Sudah datang?"

Cin Hong sangat girang, ia menjawab sambil memberi hormat: "Subo, apakah Subo baik-baik saja?"^

"Baik apa? Kau apa Sedang mengejek?" Balas menegor Soat Popo dengan perasaan tidak senang.

Cin Hong terCengang baru saja hendak minta maaf dari lubang jendela kamar tujuh tampak menongol kepala Suhunya sendiri, sesaat itu ia merasa girang tetapi juga sedih. segera memanggilnya: "Suhu" Kemudian berjalan menghampiri,

"Jangan pergi dulu" Demikian soat Popo membentak dengan suara bengis.

Cin Hong terkejut, buru-buru menghentikan kakinya dan berkata sambil memberi hormat: "Subo maaf. "

Soat Popo barangkali juga dapat merasakan bahwa bentaknya sendiri tadi agak keterlaluan, maka sesaat itu lenyaplah hawa amarahnya dan berkata sambil tersenyum- senyum^ "Tidak apa, apakah muridku baik-baik saja?"

Cin Hong kini baru teringat dengan surat dan lukisan yang dititipKan oleh In-jie, maka ia lalu meletakkan guci arak dan bungkusan Paha rusa diatas tanah, mengeluarkan Surat dan lukisan dan gambar dari sakunya diberikan kepada Soat Popo dengan sikap sangat menghormat ia berkata:

"Nona Yo selama ini baik-baik saja, sekarang ini sedang menunggu aku dibawah gunung, ini adalah suratnya yang ia minta aku sampaikan kepada subo." Soat Po-po yang menyambut surat dari tang an Cin Hong, tidak lantas dibuka, sebaliknya matanya ditujukan Kepada guci arak dan bertanya: "Apakah itu arak?"

Cin Hong tahu bahwa nenek itu paling benci kepada arak. maka dalam hati diam-diam terkejut dan ketakutan, namun ia tidak berani dusta, maka mulutnya menjawab dengan suara perlahan^ " Ya iya. "

Wajah Soat Popo dengan tiba-tiba tampak girang, dari lubang jendela ia mengeluarkan sebuah mangkuk yang sudah terdapat peCahan ujungnya, katanya sambil tertawa: "Berikan aku satu mangkuk saja"

Untuk sesaat Cin Hong merasa heran, dengan perasaan agak berat ia berkata: "Maaf subo, ini adalah murid can-sa- sian yang minta tecu bawa kemari untuk Suhunya. "

Soat Popo berpaling kepada suaminya yang menongol kepala dilubang jendela kamar tujuh, kemudian berpaling lagi dan berkata kepada Cin Hong^ "Aku tidak perduli, lekas kau tuangkan semangkok untuk aku, sekarang aku perlu minum arak"

Cin Hong karena mengingat hubungan tiga manusia gaib, cui, Sian, dan Po itu sangat erat maka pikirnya semangkuk dahulu untuknya barang kali tidak menjadi halangan, maka ia lalu menyambut mangkuknya, kemudian membuka guci araknya, dan dituang penuh semangkuk diberikan kepadanya, setelah itu ia angkat lagi bersama bungkusan paha rusanya dan berjalan kekamar nomor tujuh.

It-hu Sianseng menyambut padanya dari lubang jendela dengan wajah berseri-seri tanpa mengeluarkan sepatah katapun juga, dari lubang jendela itu ia mengeluarkan sebuah mangkok. Cin Hong mengerti, ia meletakkan lagi guci arak dan bungkusan paha rusa, menyambut mangkok suhunya, lalu berkata dengan suara perlahan: "Suhu, apakah can Sa sian Sie Pangcu tidak akan marah?"

It-hu Sianseng tersenyum, juga berkata dengan suara perlahan^ "Perduli apa dengannya, selagi ia pulas tidur, minum saja dulu setengah guci baru bicara lagi."

Belum habis ucapannya, dari kamar nomor enam terdengar suara terbahak-bahak, kemudian disusul oleh munculnya Satu kepala yang mesum dan rambutnya awut- awutan.

Dia bukan lain daripada pemimpin golongan pengemis can Sa sian Sie K^oan. Baru saja menongol kepalanya dari lubang jendela, tampak dibawah jendela kamar nomor  tujuh ada barang hidangan, sesaat matanya lantas melotot wajahnya yang tadi tampak berseri-seri berubah menjadi merah, dengan mata melotot ia membentak kepada Cin Hong:

"Hei Aku kira kalian sedang bersenda gurau, kiranya benar-benar, barang- barang lekas bawa kemari"

Waktu itu keadaan Cin Hong seperti pencuri kecil yang sedang mencuri dan mendadak telah tertangkap. maka saat itu wajahnya menjadi merah dan berdiri terpaku di tempatnya.

It-hu Sianseng dengan Sikap tenang-tenang saja mengawasi can sa Sian katanya Sambil tertawa: "Lo-Sie jangan begitu pelit,jikalau bukan muridku yang bawa masuk kau juga tidak dapat arak dan barang hidangan ini"

can-sa sian menggeram berulang-ulang, dari mulutnya mengeluarkan suara ribut-ribut: "Tidak bisa. aku pengemis tua hendak makan dan minum perlahan-lahan semua hidang itu, bawa kemari Bawa kemari"

It-hu Sianseng tak mengiraukan sikap can sa sian, sambil menyipitkan matanya yang mengawasi padanya, kemudian berkata kepada Cin Hong sambil tertawa: "Anak, waktu sudah tidak banyak lagi, lekas tuangkan aku lagi semangkok saja"

Cin Hong pikir memang benar, maka ia tidak memperdulikan sikap dan keadaan can-sa Sian buru-buru menuangkan semangkok lagi, kemudian mengangkat guci dan bungkusan paha rusanya ke jendela nomor, enam. Lebih dahulu ia memberikan bungkusan paha rusa itu kepada can-sa sian, katanya sambil minta maaf:

"Maaf. Pangcu, dilain tahun kalau boanpwee datang lagi pasti akan mengganti kepada pangcu satu guci arak besar"

can Sa-sian tidak menjawab, dengan kedua tangannya ia mengambil bungkusan paha rusa, kemudian mengulapkan tangannya lagi seraya berkata^ "Arak Arak. "

Cin Hong menutup guci araknya barulah diangkat dan diserahkan melalui lobang jendela tak disangka guci arak itu ternyata lebih besar dari pada lobang jendelanya, sehingga tidak bisa masuk kedalam,

can sa-sian yang menyaksikan keadaan demikian sangat gemas sekali mulutnya memaki-maki: "Kurang ajar, mengapa tidak mau beli yang lebih kecil? apakah hendak mempermainkan aku ?"

It-hu Sian-seng minum habis semangkok araknya, menongolkan kepalanya lagi, menampak guci arak tidak bisa dimasukkan, lantas tertawa terbahak-bahak. kemudian berkata: "Lo sie, inilah yang dinamakan sebutir nasi setetes air sudah ditakdirkan, sebaiknya kita minum bersama-sama saja"

can sa-sian marah katanya^ "Tidak Aku sendiri toh bisa minum sampai kering""

It-hu Sian seng berpaling dan berkata kepada Cin Hong: "Anak. waktu satu jam itu sebentar akan sampai sudah Waktunya kau harus beromong-omong ?"

Cin Hong terpaksa melepaskan guci araknya, membiarkan can sa-sian berkutet diri dengan araknya dilubang jendela, katanya Sambil memberi hormat, "Sie pangcu, sekarang boanpwe juga tidak percaya dengan suhu.

. . ."

can sa-sian Cemas, mulutnya berseru: "Tidak bisa aku tidak boleh terus begini saja"

Cin Hong juga merasa cemas, tetapi ia juga tidak berdaya, dan berdiri begitu saja tidak ada gunanya, maka ia terpaksa menggerakan kakinya berjalan menghampiri Suhunya.

Baru tiba dibawah jendela kamar tujuh Soat Popo dari lubang jendela kamar delapan sudah menongolkan kepalanya dengan wajah yang marah ia berkata: "Anak. mari, sini sebentar"

Cin Hong tidak berani mengelak. ia menyahut dan berjalan menghampiri, kemudian berkata sambil memberi hormat: "Subo, ada keperiuan apa ?"

Soat Popo Jelas tidak tahan oleh pengaruh air kata-kata tadi, ia berkata sambil tertawa: "Anak baik, dengan ucapan manis apa kau telah berhasil menipu muridku ?" Cin Hong terkejut jawabnya gugup: "Tidak? Subo siapa kata tecu menipu dia?"

Soat Po Po sikapnya menunjukan kebalikannya dari ke biasaan, katanya dengan Wajah berseri-seri: