Suling Pualam dan Rajawali Terbang Jilid 1

Jilid 1

Di bagian tengah propinsi Kam-siok, ada sebuah gunung Liok-phoa-san. Jalanan yang berliku-liku di gunung ini, merupakan sebuah jalan yang menghubungkan propinsi Shiam-say dengan propinsi Kam-siok. Tidak jauh dari jalan ini, ada sebuah perkampungan, yang letaknya di tengah-tengah gunung, sehingga

kelihatannya angker sekali.

Perkampungan ini tidak banyak bangunannya, hanya ada beberapa puluh keluarga saja. Di bagian luar perkampungan ditanami banyak pohon Yang-liu, di atas pintu gerbang terdapat empat huruf besar-besar yang bunyinya

„Bing Hong San Chung”.

Penduduk perkampungan ini bukannya kaum sasterawan atau petani, sebaliknya adalah beberapa orang gagah yang pernah menggetarkan dunia Kang-ouw pada masa itu. Mereka sejak mengasingkan diri di perkampungan ini, tidak pernah campur urusan dunia Kang-ouw lagi, melainkan menuntut penghidupan yang tenteram dan damai. Tapi siapa nyana bahwa perkampungan yang tenteram dan damai ini, dalam beberapa hari saja telah berubah menjadi medan pertempuran, malahan mengakibatkan pergolakan hebat dalam dunia Kang-ouw di kemudian harinya.

Orang gagah yang hidup mencil dalam perkampungan itu adalah tiga bersaudara Cu Kang, Kim Hay dan Kim Som. Mereka ada murid-murid dari Siau-siang Tay-hiap Siang Koan Hoa. Di antara mereka bertiga, yang tertua adalah Kim Hay, kedua Cu Kang, dan paling muda adalah Kim Som. Setelah Siang Koan Hoa wafat, ketiga saudara dalam seperguruan itu lalu melanjutkan. tindakan gurunya, di dalam dunia Kang-ouw telah mendapat nama harum.

Kim Hay gelarnya „si pendekar berjenggot”, Cu Kang „telapakan besi” tapi yang paling cerdik dan paling tinggi ilmu silatnya adalah Kim Som, hingga mendapat gelar Kun-lun Siau-cu-kat. Kim Hay tidak beristeri, Cu Kang beristerikan gadisnya Siang Koan Hoa, ialah Siang Koan Hwie, mereka cuma mempunyai seorang puteri, yang diberi nama Ling Cie. Dalam usia tujuh tahun, Ling Cie telah diambil murid oleh Ceng Jie Sin-nie dari Ceng-shia.

Isteri Kim Som adalah Lie Hun Cu, yang di dalam kalangan Kang-ouw terkenal dengan julukannya „Dewi tangan ganas”. Mereka cuma mendapat satu putera, yang diberi nama Kim Tan. Sejak kecil Kim Tan sudah kelihatan sangat pintar, maka orang tua atau paman-pamannya pada sangat suka ingin memberi didikan ilmu silat sebaik-baiknya.

Kim Som suami-isteri dalam kalangan Kang-ouw belum pernah menemukan tandingan, sehingga pada sepuluh tahun yang lalu, mereka telah kena dibokong oleh musuh-musuhnya di Tay-san. Jika tidak keburu ditolong oleh Sam Hie To-tiang, mungkin mereka akan celaka. Dan atas anjuran Sam Hie To-tiang, tiga saudara itu lantas meninggalkan dunia Kang-ouw, mereka pindah dari Sam-siang, akhirnya menetap di pegunungan Liok- phoa-san.

Isteri Cu Kang, Siang Koan Hwie, pindah ke Liok-phoa-san baru empat tahun, mendadak mendapat penyakit rematik, separoh badannya tidak bisa bergerak, adatnya pun agak berubah, tidak suka dengan suara ribut-ribut. Oleh karenanya, maka oleh Kim Som dan Kim Hay telah dibuatkan sebuah rumah lagi, yang letaknya hanya beberapa pal saja dari Bing Hong San-chung, untuk Siang Koan Hwie dan suaminya tinggal. Dua tahun kemudian, ketika Ceng Jie Sin-nie membawa Ling Cie datang menyambangi, pernah memberi obat kepada Siang Koan Hwie, sebetulnya sudah akan sembuh, tapi karena kesalahan makan, penyakitnya kambuh kembali.

Pada satu hari, Kim Hay, Kim Som dan Lie Hun Cu, sedang melatih Kim Tan di pekarangan.

Cu Kang datang sambil tertawa ia berkata: „Semalam aku mendapat impian yang sangat aneh, ada seekor harimau yang gigi dan kukunya telah terlepas dari pohon-pohon Yang-liu di sekitar Bing Hong San-chung ini, kecuali sebatang yang masih tetap subur, yang lain-lainnya pada rontok. Ketika aku terjaga, terdengar kentongan berbunyi tiga kali. Menurut ramalan Ensomu, mungkin akan timbul malapetaka, maka ia perintah aku pagi-pagi kemari, untuk memberitahukan kepada kamu, supaya lekas siap sedia menjaga segala kemungkinan. Meski aku sendiri kurang percaya, tapi aku tidak ingin membuat ia kurang senang.”

Sebelum Kim Som memberi jawaban, Lie Hun Cu mendahului:

„Sudah lama berdiam di pegunungan ini, aku pun sedang pikir- pikir mau bergerak, harap saja ramalan Enso ini jitu, baik juga untuk mencoba-coba ilmu silatku yang sudah sepuluh tahun tidak dipergunakan.” Sehabis berkata, sebelah tangannya diangkat, telapaknya diayunkan ke arah sebuah patokan kayu yang jauhnya tiga atau empat langkah kaki, dengan dibarengi suara „crak” patokan kayu itu terbelah.

Kim Som berkata sambil kerutkan alisnya: „Adik Cu mengapa adatnya masih seperti dulu-dulu. Harap Ji-ko sampaikan kepada Enso, Siau-tee dalam beberapa hari ini pun agak kurang tenteram, di gunung ini mungkin akan terjadi apa-apa, tapi kita bertiga saudara juga bukannya bangsa lemah, perbuatan kita juga tidak ada yang melanggar hati nurani kita. Jika betul-betul akan terjadi apa-apa sebaiknya kita berjaga-jaga, hanya Ji-ko yang tinggal agak memisah dengan kita, Siau-tee merasa sangat kuatir!”

Cu Kang tertawa: „Aku sebetulnya tidak percaya segala omong kosong dari Ensomu, tapi jika Siau-cu-kat sendiri juga beranggapan demikian, mungkin ada mempunyai alasan yang kuat. Bagi aku sendiri, kamu tidak perlu kuatir. Telapak besi dan senjata rahasiaku masih belum puntul, sekalipun Ensomu tidak bisa turun dari tempat tidurnya, tapi rasanya juga bukan sembarang orang bisa mendekati. Lagi pula, di kalangan Kang- ouw ada berapa orang yang berani melanggar kita? Hanya Kim Tan, aku pikir dalam berapa hari ini jangan dibiarkan pergi jauh- jauh.”

Tiga hari telah berlalu dengan tenang. Tiga jago Siau-siang itu semua mengira hanya impian belaka, hingga penjagaan agak kendor. Hari itu, sudah dekat perayaan Tiong-chiu. Semua orang dalam perkampungan itu sedang repot membuat kueh Tiong- chiu, sedang Kim Tan, karena dilarang keluar oleh orang tuanya, maka siang-siang sudah masuk tidur.

Kedua saudara Kim sedang main catur di bawah jendela. Beberapa saat kemudian, Kim Hay merasa agak kalut pikirannya, tidak dapat meneruskan permainannya, dan mengajak Kim Som jalan-jalan di luar pekarangan rumah. Lie Hun Cu setelah menyelesaikan pekerjaan dapur, lantas membaca buku di dalam kamar menunggu suaminya.

Mendadak terdengar suara orang lompat dari tembok pekarangan. Hun Cu kaget, ia melemparkan bukunya dan mendengarkan lebih jauh, tapi ternyata itu ada suara tindakan kaki suaminya, hanya rasanya agak tergesa-gesa. Ia menduga ada terjadi sesuatu, dan betul saja, sebentar kemudian Kim Som telah muncul dihadapannya dengan wajah luar biasa.

Belum sempat Lie Hun Cu membuka mulutnya, sudah didahului oleh suara sang suami: „Dimana adanya Tan-ji sekarang?” Lie Hun Cu bingung menghadapi sikap suaminya ini, ia cuma bisa menjawab: „Dia sedang tidur, dan apakah sebenarnya yang telah terjadi? Dimana Toa-ko sekarang?”

Kim Som tahu anaknya tidak kurang suatu apa, hatinya agak lega, tapi air matanya segera bercucuran, sambil mengelah napas ia menuturkan kejadian-kejadian yang menimpah saudara-saudaranya.

Malam itu, menurut kehendak Kim Hay, berdua saudara itu berjalan-jalan di muka pekarangan, tanpa dirasa, mereka sudah sampai dekat kediamannya Cu Kang. Mendadak Kim Hay melihat sebuah bayangan orang berkelebat di dekat rumah Cu Kang, segera berkata kepada Kim Som: „Kediaman Jie-tee, rupa-rupanya ada orang jahat yang datang menyatroni, marilah kita pergi menolong.”

Tidak menunggu jawaban adiknya, Kim Hay lantas melompat dari batu gunung. Kim Som hanya merasakan mendesirnya angin gunung, cahaya rembulan karena tertutup awan, keadaan berubah menjadi remang-remang. Ia juga sudah melihat bayangan orang itu, tapi karena tempat berdirinya berlainan arah dengan Kim Hay, hanya terlihat seolah-olah ada dua bayangan yang saling kejar di dekat kediaman Cu Kang.

Ketika mendengar perkataan kakaknya, ia juga segera lari memburu, tapi karena terpisah dengan Kim Hay beberapa langkah jauhnya, hingga tidak dapat mengejar jejaknya. Dan siapa nyana, bahwa terpaut beberapa langkah ini, telah membawa akibat hebat bagi tiga jago Liok-phoa-san itu. Kim Hay yang tiba lebih dulu, dapat lihat satu bayangan orang meloncat dari loteng rumah Cu Kang, sekejap saja bayangan itu sudah lenyap, dan ternyata tidak ada orang yang mengejar. Ia menduga pasti telah terjadi apa-apa atas diri Cu Kang, maka tanpa pikir panjang lagi, dengan menggunakan ilmu mengentengi tubuh, ia melompat ke atas loteng.

Dan, selagi tubuhnya Kim Hay masih di tengah udara terbuka, dari loteng kembali meloncat satu bayangan orang yang sangat pesat, karena cuaca gelap satu sama lain tidak dapat mengenali, dan selagi dua bayangan saling beradu, orang dari loteng itu mengangkat tangan kanannya, menyusul mana terlihat enam buah benda berkeredepan menyamber ke arah dirinya.

Kim Hay tahu benda itu adalah senjata rahasia yang berupa paku, tapi karena badannya di udara dan jaraknya sangat dekat sekali, ia merasa susah mengelak, maka tidak ayal lagi, ia telah kerahkan seluruh tenaganya di telapakan tangannya, dan ditujukan ke arah dada penyerang tadi.

Bayangan yang menyerang dengan senjata rahasia tadi segera dapat mengenali suara dan cara pukulannya Kim Hay, tapi sudah tidak keburu menarik kembali senjata rahasianya, maka sesaat kemudian, dua bayangan rubuh berbareng di atas tanah. Di saat itu pula, Kim Som pun tiba di tempat kejadian itu.

Kim Som yang ketinggalan beberapa langkah dari Kim Hay, maka dapat melihat dengan tegas bahwa bayangan yang lompat belakangan dari atas loteng itu adalah Cu Kang. Tapi ia tidak mengira sama sekali bahwa saudara seperguruan itu telah menggunakan senjata rahasia yang sangat liehay, hingga ketika ia tiba di tempat kejadian itu hanya dapat menyaksikan pemandangan yang sangat mengerikan. Kim Hay mukanya, dadanya dan sebagian badannya tertembus senjata rahasia paku itu, dan mati seketika itu juga. Cu Kang di mulut dan hidungnya mengeluarkan banyak darah, mukanya sangat pucat.

Menyaksikan kejadian yang sangat tragis itu, Kim Som sekujur badannya dirasakan lemas, ia berdiri gemetar dan air matanya mengalir bercucuran, sepatah katapun tidak dapat diucapkan.

Cu Kang membuka sepasang matanya, dengan suara lemah ia berkata: „Sam-tee, kita bertiga saudara, belum pernah berbuat apa-apa yang bertentangan dengan liang-sim. Siapa nyana hari ini telah mengalami nasib yang kejam serupa ini, aku telah berdosa membikin Toa-ko mati di tanganku, kematianku tidak cukup untuk menebus dosaku ini, tapi sebelum ajalku tiba, baiklah aku jelaskan kepadamu segala kejadian tadi.”

Pada malam yang naas bagi jago Liok-phoa-san itu, Cu Kang suami-isteri siang-siang sudah masuk tidur. Dalam keadaan layap-layap, Cu Kang seperti mendengar suara tiupan benda yang aneh, ia segera membanguni isterinya, serta memesan supaya siap sedia. Ia sendiri setelah dandan ringkas, lalu meloncat ke atas loteng, di atas loteng yang sangat tinggi itu ia mengintai keluar pekarangan. Mendadak dapat melihat berkelebatnya satu bayangan orang di sela-sela pepohonan, tidak ayal lagi ia segera meloncat dan menubruk ke arah bayangan itu.

Tapi bayangan itu ternyata lebih sebat, sebelum Cu Kang dapat mencandak dirinya, sudah melesat ke udara untuk melarikan diri. Cu Kang, terus mengejar, sekejap saja, dua bayangan itu lalu saling kejar, jauh di luar pekarangan, bayangan itu sudah menyelusup dalam rimba dan lenyap dari pemandangan.

Dalam mendongkolnya, Cu Kang mendadak sadar bahwa ia sudah terpancing oleh musuh. Ia segera kuatirkan isterinya, meski Siang Koan Hwie cukup tinggi ilmu silatnya, tapi bagaimana pun juga, karena badannya tidak bisa bergerak, sudah tentu sukar sekali untuk mengadakan perlawanan. Mengingat demikian, ia segera, lari kembali, setelah tiba di kamar isterinya, ia menjadi kesima, seketika itu hatinya dirasakan remuk redam.

Di atas lantai ada menggeletak satu tubuh yang sudah jadi mayat, di samping tubuhnya ada satu bumbung yang terbikin dari kuningan, ternyata itu ada salah satu senjata rahasia yang ampuh, tidak kalah dengan senjata rahasianya yang berupa paku. Waktu menengok isterinya, ia lihat sang isteri duduk menyender di tempat tidurnya, sebilah senjata tajam yang menyerupai panah tangan bengkok telah menancap di badannya, mukanya pucat laksana mayat.

Isteri itu menggapaikan tangannya, dengan suara sangat lemah ia berkata: „Tadi kau telah tertipu oleh musuhmu, setelah kau keluar rumah, jahanam itu lalu menerobos masuk. Untung selagi hendak melepas senjata rahasianya kepadaku, aku sudah mendahului dengan ilmu pukulanku serangan menembus udara, hingga mati seketika itu juga. Siapa tahu di luar jendela masih ada kawannya. Selagi aku menyerang jahanam itu, kawannya tadi telah menyerang aku dengan senjata rahasia beracun.

„Sekarang aku merasa sudah tak ada harapan hidup, mungkin ini ada lebih baik daripada menderita penyakit yang sudah tidak bisa sembuh. Hanya dirinya Ling Cie saja supaya kau suka menjaga sebaik-baiknya, dan lekaslah pindah ke Bing Hong San-chung, bersama-sama Toa-ko dan Sam-tee balaskan sakit hatiku ini.”

Ia tidak dapat menyambung lagi perkataannya, karena setelah mencabut senjata panah yang menancap di badannya lantas rubuh dan melepaskan napasnya yang penghabisan.

Cu Kang merasa sedih, gemas, maka seketika itu seolah-olah hilang ingatannya. Ia mengira penjahat belum lari jauh, maka tanpa pikir panjang lagi ia segera enjot tubuhnya, dan melompat keluar dari jendela. Mendadak lihat satu bayangan hitam melayang ke arahnya. Tidak memikir lebih jauh, ia segera ayun tangannya dan senjata rahasianya yang sangat dahsyat itu telah melesat.

Ketika ia dapat mengenali suara gentakannya Kim Hay, ternyata sudah terlambat, dan dengan demikian ia telah membunuh mati saudara seperguruannya sendiri. Ia sendiri juga sudah terkena pukulannya Kim Hay yang terkenal hebatnya itu, hingga sudah tidak ada harapan untuk hidup lagi. Dalam sekejap mata Kim Som telah menyaksikan cara kematiannya yang sangat mengerikan dari kedua saudaranya, maka seketika tidak dapat membuka mulut. Lama ia berdiri menjublek, baru sadar setelah mendengar suara ribut-ribut dari bujang-bujangnya Cu Kang yang pada memburu, maka ia segera perintahkan bujang-bujang itu mengangkat tubuhnya Cu Kang. setelah memeriksa sebentar tubuhnya kawanan penjahat yang binasa itu, ia segera lari pulang ke rumahnya untuk menemui isteri dan anaknya.

Kim Som selagi menceritakan semua kejadian kepada isterinya. Dalam pekarangannya mendadak seperti ada orang yang datang, ia segera siap sedia, tapi orang yang baru datang itu ternyata adalah Sim Khiam, kawan karibnya. Dan kedatangannya justru untuk memberi kabar bahwa tiga momok dari Ouw-pak Utara dengan mengajak beberapa orang kosen akan menyatroni Liok-phoa-san, untuk menuntut balas terhadap tiga persaudaraan itu. Kawanan yang terdiri dari tujuh orang itu semuanya bukan orang sembarangan, maka ia perlukan datang untuk memberi kabar lebih dulu, agar Kim Som dan saudara- saudaranya siap sedia.

Pada saat itu, baru Kim Som mengerti sebab musababnya kematian kedua saudaranya. Tidak tertahan lagi, kedua suami isteri itu lantas mengalirkan air mata karena sedihnya.

Sim Khiam merasa heran lalu menanya: „Sam-ko, Sam-ko mengapa demikian? Apakah yang telah terjadi?” Kim Som sambil mengelah napas panjang, menjawab: „Terima kasih atas kecintaanmu yang sangat besar ini Hian-tee. Sayang kedatanganmu agak terlambat, sehingga sudah tidak bisa menemui Toa-ko dan Jie-ko suami isteri lagi.”

Mendengar jawaban itu, Sim Khiam kaget, segera menanyakan lebih jauh, dan oleh Kim Som telah diceritakan apa yang telah terjadi dengan kedua saudaranya tadi.

Saat itu, mendadak terdengar suara orang di atas tembok: „Siau- siang-sam-hiap, diminta keluar sebentar untuk menjawab.”

Kim Som yang sudah mulai tenang, segera mendekati pintu, dengan suara keras ia menanya: „Siapakah Tuan, harap suka memberi tahu namamu.”

Orang itu menjawab: „Aku yang, rendah adalah Ko Thing, dengan membawa titah guruku Poei Lip, diperintah menyampaikan undangan kepada Siau-siang-sam-hiap dan Lie Hun Cu Lie-hiap, supaya pada besok tengah malam suka datang di sebelah gunung ini untuk membikin perhitungan hutang lama.”

Kim Som tertawa besar: „Ouw-pak-sam-sat, apa yang menjadikan heran, tolong sampaikan kepada gurumu, bahwa kita sekeluarga besok akan mengunjungi padanya dalam waktu yang tepat.”

Setelah kembali ke ruangan dalam, Sim Khiam berkata: „Sam- sat kali ini dengan mengundang beberapa pembantu yang terkenal kosen dan kejam, rupa-rupanya sudah memperhitungkan masak-masak di pihak kita sekarang kekurangan pembantu, apalagi Toa-ko dan Jie-ko sudah tidak ada, ada lebih baik minta tempo untuk menunda, agar kita dapat ketika untuk mencari tenaga bantuan. Mengapa Sam-ko buru- buru menerima baik undangannya? Bukankah terlalu tergesa- gesa?”

Kim Som tertawa: „Dengan matinya kedua saudaraku, hidup sendiri bagi kita suami-isteri sudah tidak ada artinya lagi. Untuk pertemuan besok malam, dengan kepandaian yang ada pada kita berdua, tidak nanti mereka akan dapat berbuat sesuka hati secara mudah. Sekalipun badan kita nanti akan hancur lebur, tidak nanti akan menyesal. Apa perlunya meminta bantuan lain orang, yang berarti akan menyeret mereka ke dalam neraka?

„Dan lagi berapa gelintir adanya orang yang mempunyai hati mulia seperti Hian-tee? Hanya Toa-ko tidak berumah tangga, kita berdua cuma mempunyai satu anak Tan-jie, maka mau tidak mau, kita harus berdaya untuk menjaga agar keturunan keluarga Kim tidak akan terputus. Tadi aku sengaja terkebur terhadap mereka, agar mereka menganggap bahwa kita belum mengetahui kekuatan mereka, dan tidak akan melakukan pengawasan lebih kuat lagi.

„Hian-tee, kedatanganmu ini sangat kebetulan sekali, jiwanya Tan-jie dan keturunan keluarga Kim aku serahkan di tanganmu. Aku kira tentunya Hian-tee tidak akan menolak.” Sehabis berkata lantas menjura kepada Sim Khiam. Sim Khiam buru-buru membalas menjura. Dengan diam ia berpikir, sedianya aku akan membantu mereka di medan pertempuran, tapi perkataannya Kim Som juga ada benarnya, mati hidupnya Kim Tan, ada mempunyai hubungan erat dengan keturunan keluarga Kim. Keadaan sekarang sudah tidak mungkin bisa menjamin keutuhan kedua-duanya, maka ia segera ambil putusan untuk menerima baik permintaannya.

Mereka lantas berdamai bagaimana caranya untuk menyingkirkan Tan-jie, agar bisa sampai di tempat tujuannya dengan selamat. Akhirnya diambil putusan, Tan-jie dikirim ke tempat pamannya, dan diminta agar sang paman itu nanti suka pelihara serta mengajar ilmu silat, supaya di kemudian hari dapat menuntut balas.

Besok paginya, dengan bujukan halus, Tan-jie diperintah ibunya supaya mengikuti Sim Khiam berguru kepada pamannya. Dan setelah dipesan wanti-wanti, Hun Cu membekali tiga buah senjata rahasianya berupa mutiara yang pernah menggetarkan dunia Kang-ouw di waktu mudanya, dan dipesan supaya jangan digunakan jika tidak sangat perlu sekali.

Kim Tan yang sudah berusia limabelas tahun, meski dalam hatinya merasa agak heran dengan kejadian yang sangat mendadak itu, tapi tidak berani membantah kehendak ayah bundanya, maka lantas mengikuti Sim Khiam meninggalkan Bing Hong San-chung.

Sim Khiam dan Kim Tan menunggang kuda, setibanya di tempat yang berliku-liku, Sim Khiam hentikan kudanya. Menurut rencana semula, Sim Khiam akan menuju ke Barat dengan melalui jalan yang sunyi, terus menuju ke Ko-lan. Tapi kini mendadak berubah pikirannya, dan mengajak Kim Tan menuju ke Timur, ke Tiang-an.

Kim Tan sejak tinggal di Bing Hong San-chung, meski usianya sudah menanjak dewasa, tapi belum pernah meninggalkan gunung Liok-phoa-san, sudah tentu sangat setuju ajakan Sim Khiam tersebut.

Sepanjang jalan Kim Tan menunjukkan sikap sangat girang. Sim Khiam yang menyaksikan kesemuanya ini hatinya sangat pilu, ia sedang memikir-mikir dengan jalan bagaimana untuk memberitahukan kepada Kim Tan tentang peristiwa akan dihadapi oleh ayah bundanya, agar sang anak yang masih belum mengetahui apa-apa ini tidak terpukul hebat perasaannya.

Sebenarnya, Sim Khiam meski menerima baik permintaan Kim Som suami-isteri, untuk menyingkirkan Kim Tan ke gunung Ngo- bie-san, tapi ia masih belum percaya kalau Siau-siang-sam-hiap akan binasa di tangannya Sam-sat, maka kini ia ingin mencari tempat pemondokan di dekat gunung Liok-phoa-san, untuk menunggu kabar bagaimana kesudahannya pertempuran yang dahsyat itu. Jika Kim Som terhindar dari malapetaka, sudah tentu tidak menjadi persoalan, dan jika Sam-sat yang menang, untuk membasmi musuhnya sehingga pada akar-akarnya, sudah tentu akan mencari keturunannya Kim Som!

Tapi dari gunung Liok-phoa-san ini cuma ada tiga jalanan yang penting. Jika Sam-sat hendak mengejar, tentunya akan menempuh salah satu atau ketiga-tiganya jalanan itu, dan tidak akan mengira bahwa ia dan Kim Tan berani sembunyi di sekitar gunung Liok-phoa-san ini.

Dan setelah pihak pengejar nanti sudah berlalu jauh, baru meneruskan perjalanannya. Sim Khiam setelah ambil keputusan demikian, maka lalu mengajak Kim Tan singgah di salah satu rumah penginapan di pedusunan di bawah kaki gunung Liok- phoa-san.

Heran, malam itu baik Sim Khiam maupun Kim Tan, dua-duanya tidak dapat tidur nyenyak, terutama Kim Tan. Semalaman bulak- balik di atas pembaringan, dan hatinya selalu bergoncang keras, hingga terdengar berkeruyuknya ayam jago.

Ia buru-buru bangun dan menemui Sim Khiam lalu berkata: „Tit- jie baru kali ini keluar pintu, maka dalam hati selalu memikirkan ayah bunda saja, tadi malam tidak dapat tidur sama sekali!”

Sim Khiam mendengarkan sambil berpikir, pertempuran di atas Liok-phoa-san tentunya sudah berakhir, rasanya tidak ada gunanya untuk menyimpan rahasia lama-lama. Ada baiknya lekas-lekas disampaikan kepada Kim Tan, supaya tidak terlalu menderita dalam hatinya, maka ia segera berkata: „Hian-tit, kau ada seorang anak yang cerdik, bakatmu pun baik, pelajaran Bun dan Bu sudah mempunyai dasar yang kuat, segala urusan kiranya dapat menimbang sendiri secara sehat. Kini pamanmu ada sesuatu yang hendak dituturkan kepadamu, harap kau jangan terlalu kaget, dan tabahkanlah hatimu!” Kim Tan yang sangat cerdas, segera dapat menebak beberapa bagian tentang urusan apa yang akan dituturkan oleh sang paman ini, maka ia segera menanyakan. Dan Sim Khiam lalu menuturkan apa yang telah terjadi di Bin Hong San-chung.

Sehabisnya mendengar, Kim Tan meminta kepada Sim Khiam supaya suka mengantarkan pulang ke Liok-phoa-san, agar dapat menemani ayah bundanya bersama-sama hidup atau mati.

Meskipun bagaimana dibujuk oleh Sim Khiam, Kim Tan tidak menurut. Akhirnya Sim Khiam hilang sabarnya, lalu dengan roman keren ia membentak, dan mengatakan Kim Tan tidak tahu selatan. Mati hidupnya ayah bundanya belum mendapat kepastian, tapi biar bagaimana yang perlu ia harus menjaga dirinya. Jika benar ayah bundanya sudah binasa di tangan musuh, ia sebagai anaknya harus berusaha untuk menuntut balas. Jika dewasa ini ia akan menempur musuh, tidak bedanya seperti mengadu telor dengan batu, dan berarti mengorbankan jiwanya dengan sia-sia.”

Kim Tan tidak bisa berbuat lain, maka bersama Sim Khiam lantas minta pertolongan penduduk dusun itu untuk mencari kabar di atas gunung.

Sampai tengah hari, mereka masih belum dapat kabar apa-apa. Mendadak dari jurusan Barat mendatangi dua penunggang kuda. Kim Tan mengira orang yang mencari kabar telah kembali, segera hendak lari memapak, tapi Sim Khiam yang sudah banyak pengalamannya, lantas mengenali bahwa kedua orang yang menunggang kuda itu bukannya orang dari golongan baik- baik, maka segera menarik tangan Kim Tan, dan diajak masuk ke rumah makan, minta jongos menyediakan beberapa rupa makanan.

Kedua penunggang kuda itu ada orang-orang yang tinggi besar, masing-masing membawa sebilah golok besar. Wajahnya menunjukkan sifatnya yang kasar, menandakan bukannya orang baik-baik. Setibanya di depan rumah makan, satu orang yang jalan duluan segera melompat turun dari kudanya, sambil menenteng goloknya berjalan menuju ke pintu rumah makan.

Ia menengok sebentar dan berkata: „Jie-te, sekarang sudah tengah hari, jika kita mengejar terus, mungkin tidak akan dapat tempat menginap. Untung pemimpin kita suruh kita mengejar berpencaran, lagi pula tidak diberi batas tempo. Rumah makan ini kelihatannya bersih, mari kita mampir makan dulu, baik juga kita menginap disini sekalian, besok kita melanjutkan perjalanan lagi.”

Yang lainnya menjawab: „Toa-ko benar, kiranya pemimpin kita juga terlalu banyak pikiran, setan kecil itu sudah dibawa lari orang. Sekarang mungkin sudah terbang jauh, tidak nanti berani sembunyi di dekat-dekat sini. Ada baiknya kita nanti mengejar ke Tiang-an, agar tidak percuma perjalanan kita ini.”

Mendengar percakapan kedua orang itu, diam-diam hatinya Sim Khiam mengeluh. Pengejar sudah tiba disini, terang sekali Kim Som sudah celaka di tangan musuhnya. Ia kuatir Kim Tan tidak bisa menahan sabar, maka ia menekan dirinya Kim Tan supaya tidak bergerak.

Kedua orang itu sambil makan sambil mengobrol, dan akhirnya membicarakan pertempuran di Liok-phoa-san. Terdengar orang yang membawa golok itu berkata: „Orang-orang pada sohorkan kegagahannya Siau-siang-sam-hiap, ternyata tidak keliru. Lihat saja hanya berdua suami-isteri, sudah bikin Sam-sat dan kawan- kawannya yang terdiri tidak kurang dari belasan orang-orang gagah kelas satu dari dunia Kang-ouw repot kalang-kabut.

“Siau-cu-kat dengan sepasang kepalannya telah membinasakan dua lawannya, isterinya juga dapat melukai dua musuhnya. Jika tidak menggunakan senjata rahasia, sukar juga rasanya dibinasakan.”

Mendengar warta kematian kedua orang tuanya, Kim Tan lantas jatuh pingsan di pangkuan Sim Khiam. Sang Paman ini meski merasa sedih dan gemes, tapi masih tetap tenang. Karena kuatir Kim Tan nanti terbitkan onar, maka ia totok urat gagunya, baru pelahan-lahan bikin sadar dirinya.

Sim Khiam dengan suara sabar membujuk Kim Tan supaya bersabar, setelah ia menganggukkan kepalanya, lalu dibuka totokannya.

Pada saat itu, orang suruan Sim Khiam telah kembali, dan menceritakan apa yang ia dapat dengar tentang kejadian semalam. Itu malam, setelah Kim Tan dan Sim Khiam berlalu, Kim Som dan isterinya lantas mengumpulkan semua orang-orangnya, dan setelah membereskan jenazah kedua saudara dan Ensonya, memberitahukan apa yang akan terjadi atas dirinya. Semua sawah dan harta bendanya dibagi-bagikan kepada semua pegawainya, dan pesan supaya mereka tidak perlu kuatirkan keselamatannya, karena pertempuran ini adalah soal balas dendam, musuh tidak nanti akan mencelakakan mereka. Semua pegawainya merasa sedih, tapi tidak bisa berbuat suatu apa.

Setelah semua diatur beres, berdua suami-isteri lalu bersemedi, menunggu tibanya putri malam. Ketika sang waktu telah tiba, Kim Som dan isterinya sesudah makan minum puas, lalu berdandan ringkas, tidak lupa membekal senjatanya, pergi menemui musuh.

Setibanya di tempat yang telah dijanjikan, ternyata musuh- musuhnya sudah berkumpul. Mereka adalah Poei Lip, Poei Tiauw dan Poei Tao bertiga saudara, atau yang terkenal dengan julukannya Sam-sat (tiga momok). Melihat kedatangannya Kim Som suami isteri, segera tertawa berkakakan, suaranya sangat seram kedengarannya. Ia lantas angkat tangannya untuk memberi hormat kepada Kim Som suami isteri.

„Siau-siang-sam-hiap, benar-benar pegang kepercayaan, sepuluh tahun kita berpisahan, Siau-cu-kat dan „Dewi tangan ganas” ternyata masih tetap segar wajahnya, menandakan betapa tinggi ilmu dalam berdua saudara, tapi mengapa tidak kelihatan si Jenggot dan Telapakan Besi? Apakah mereka tidak sudi memberi pengajaran kepada aku yang rendah ini?” Kim Som tertawa dingin: „Toa-ko dan Jie-ko tidak gemar keduniawian, tidak akan berebutan nama dan kehormatan, mereka bersama Jie-so sudah mendahului kita ke sorga ketujuh. Saudara Poei barusan tertawanya telah mengagetkan para penghuni hutan ini, satu tanda berapa kekuatan ilmu dalam saudara. Malam ini, kita suami-isteri hendak menyediakan kedua tulang-tulang bangkotan untuk membayar hutang. Kabarnya saudara ada mengajak beberapa kawan untuk memberi bantuan, mengapa tidak suka mengajar kenal kepada kita berdua?”

Mendengar jawaban Kim Som, Poei Lip tercengang. „Tidak dinyana bahwa saudara Cu dan saudara Kim telah pergi mendahului kita, sungguh sayang, memang benar ada beberapa kawan dari sungai telaga yang kagum dengan kegagahanmu, maka mereka ingin berkenalan dengan saudara.”

Ia menggapai tangannya, dari dalam gerombolan muncul beberapa orang. Yang paling depan ada paderi yang romannya sangat jahat, badannya tinggi besar dan tangannya memegang senjata berupa sodokan, ia adalah paderi yang bergelar Lo Han yang menundukkan Naga Liauw Ceng, di belakang ia ada tiga orang lagi, mereka adalah Toa-ko-sin-mo Kiat Ciang Hoa, Hok- houw-sin-mo Yap Ho kedua orang ini merupakan kenalan lama bagi Kim Som, yang satu lagi adalah seorang yang tinggi langsing, tapi kelihatannya sangat gesit, belum dikenal oleh Kim Som.

Poei Lip lalu ajar kenal mereka, ternyata adalah seorang yang terkenal dalam angkatan Hwie-thian-yao Go Kim Seng,  yang lainnya adalah orang-orangnya Sam-sat. Kim Som matanya melirik ke arah Go Kim Seng yang pada pinggangnya kelihatan sebaris panah tangan, dan itu adalah senjata yang dipakai untuk membokong Jie-sonya. Inilah orangnya yang menjadikan gara- gara kematiannya kedua saudaranya, demikian pikirnya.

Kim Som anggap dalam pertempuran ini tidak akan menguntungkan pihaknya, maka ia berkeputusan membinasakan penjahat she Go itu terlebih dahulu, untuk membalaskan sakit hatinya kedua saudaranya. Sambil tertawa ia berkata kepada Poei Lip: „Kedatangannya saudara-saudara ini membuat berat pada diriku yang rendah ini, baiklah kita tidak perlu ayal-ayalan lagi, selagi rembulan sedang memancarkan sinarnya yang terang benderang ini, marilah kita mulai. Dengan saudara Poei dan lain-lainnya kita sudah saling kenal, hanya dengan saudara Go baru kali ini kita bertemu, maka, aku yang ingin mendapat pengajaran terlebih dahulu dari padanya, bagaimana saudara?”

Go Kim Seng yang tadi malam berhasil membinasakan isterinya Cu Kang, dalam hati kecilnya menganggap cuma demikian saja kepandaian Sam-hiap. Ia merasa berbesar hati, pula ingin pertontonkan kepandaiannya dihadapan umum, maka belum sempat Poei Lip menjawab, ia sudah melompat ke dalam kalangan. Sekejap saja, keduanya sudah saling keprak.

Kim Seng ternyata sangat gesit, tenaga dalamnya pun lumayan. Ia mengeluarkan ilmu pukulan tujuhpuluh dua rupa pukulan jarak pendek. Pukulannya cepat, gerak badannya sangat lincah hingga dapat melayani pukulannya Kim Som, „Sung-yang-liok- kiu-chiu” dan „Lo-kong-pat-it-sek” sampai sampai tigapuluh jurus lebih.

Kim Som tidak menduga musuh ada demikian liehay, setelah tigapuluh jurus dilewati, ia kehilangan sabarnya.

Mendadak ia berteriak nyaring. Kedua lengannya dikibaskan, badannya mencelat setinggi lima atau enam tombak, hingga terapung di udara. Sebentar badannya bergerak, tangannya dilonjorkan, secepat kilat ia menubruk Kim Seng.

Ouw-pak-sam-sat segera mengenali ilmu silat yang dimainkan oleh Kim Som itu. Dalam hatinya berpikir, kali ini Go Kim Seng akan celaka, tapi ia tidak mengerti mengapa Kim Som terhadap musuh yang baru kenal telah menggunakan ilmu pukulan yang mematikan itu. 

Cuma terlihat Kim Som perlahan-lahan membalikkan ke dua telapak tangannya ke dadanya, jeriji tangannya dilekuk seperti gaetan. Poei Lip mengerti jika Kim Som membuka telapak tangannya, Kim Seng tentu tak akan terhindar dari kematian, tapi ia tidak keburu memberi pertolongan. Go Kim Seng juga tahu bahaya, ia tidak berani keras lawan keras, dengan jumpalitan ia berdaya untuk menghindarkan serangan.

Ia mengira sudah terlepas dari bahaya, ketika hendak mengundurkan diri dari medan pertempuran untuk mengaku kalah, tapi baru saja ia berdiri, atau badannya Kim Som seolah- olah membayangi. Laksana angin puyuh, ujung jari tangannya Kim Som sudah menempel di punggungnya Kim Seng. Sambil tertawa dingin Kim Som berkata: „Hutang jiwa tadi malam, tidakkah mau dibayar?”

Go Kim Seng cuma merasakan seperti terkena pukulan berat di belakang gegernya, lalu dari mulutnya menyemburkan darah hidup, badannya lantas jatuh tengkurep untuk tidak bangun lagi.

Terdengar suara ribut dalam rombongan Poei Lip. Yap Ho yang mempunyai perhubungan rapat dengan Go Kim Seng segera mengeluarkan senjatanya yang berupa gelang emas. Sambil menuding Kim Som ia memaki kalang kabut: „Orang she Kim, percuma kau mempunyai gelar orang gagah. Saudara Go ini tidak bermusuhan dengan kau, mengapa kau turunkan tangan jahat kepadanya?”

Kim Som tidak meladeni cacian itu, segera mengeluarkan pedangnya, untuk menempur lawannya.

Sepasang gelang emas Yap Ho didapat dari pinggir daerah Tibet. Besarnya seperti mangkok, kalau diputarkan sinarnya gemerlapan, di tengah-tengah diukir kepala dan gigi harimau, merupakan senjata yang jarang terlihat di kalangan persilatan.

Yap Ho menggunakan senjatanya sudah lebih dari tigapuluh tahun. Kini dalam keadaan sangat murka, ia memutar senjatanya mengajak bertempur dengan Kim Som.

Kim Som meskipun memperlihatkan sikapnya yang sombong, tapi sedikitpun tidak berani memandang ringan musuhnya ini. Sambil mengangkat pedangnya ia persilahkan Yap Ho membuka serangan.

Yap Ho menggeserkan badannya di tengah-tengah, gelang di tangan kirinya pura-pura disambarkan di depan mukanya Kim Som, berbareng di tangan kanannya membuka serangan, mengarah ke tulang iga kirinya Kim Som.

Kim Som sambil tertawa dingin, dengan memutarkan pedangnya ia sambut serangan Yap Ho.

Yap Ho mengangkat kedua tangannya, sambil memutar badannya, ia arahkan gelang-gelangnya ke ujung pedang Kim Som.

Kim Som membiarkan senjatanya beradu, ia kerahkan tenaganya di tangan kanannya, badannya agak menjongkok sedikit, lalu menarik pedangnya dan laksana angin meniup daun kering disabetkan ke kakinya Yap Ho.

Ilmu pedang Kim Som ini, perubahannya sangat cepat sekali, juga susah diduga oleh musuh, maka hampir saja Yap Ho celaka. Untung ia mempunyai tenaga dalam yang sangat kuat, ia juga menarik kembali senjatanya, dengan menggunakan ilmu pukulan „Burung garuda membuka sayap”, ia membelah ke kanan dan ke kiri, sebentar terdengar beradunya senjata, masing-masing mundur setindak.

Kim Som bertempur sambil berpikir, ia merasakan senjatanya yang luar biasa dari Yap Ho ini ternyata sangat hebat tekanannya. Jika tidak menggunakan ilmu silatnya yang tunggal, susah untuk mendapat kemenangan. Ia segera merubah pukulannya, menggunakan ilmu silat yang ia ciptakan sendiri.

Sekejap saja, keadaan lantas berubah. Kim Som cuma terlihat badannya seolah-olah tidak berpisah dengan pedangnya. Perubahan pukulannya sangat cepat, sepasang gelang Yap Ho segera terkurung rapat oleh sinar pedang Kim Som.

Kawan-kawan Yap Ho yang menyaksikan gelagat kurang baik ini, terutama Kiat Chiang Hoa, yang merasa kuatir keselamatan saudara seperguruannya itu, segera mendesak Ouw-pak-sam- sat supaya lekas-lekas melaksanakan rencananya. Dan ia sendiri hendak membantu turun tangan, tapi baru saja hendak melangkahkan kakinya, mendadak terdengar suara nyaring dan Yap Ho sudah terbabat oleh pedangnya Kim Som.

Mula-mula, Yap Ho masih dapat bertahan beberapa puluh jurus, tapi setelah Kim Som mainkan ilmu silatnya yang tunggal, Yap Ho segera terdesak dan segera berdaya hendak mundur, tapi selalu tidak dapat ketika untuk meloloskan diri, dalam keadaan begini. Ia segera ambil putusan nekat, kedua gelangnya digunakan sebagai senjata rahasia, dilontarkan ke arah muka Kim Som.

Kim Som yang tidak menduga Yap Ho berbuat demikian, buru- buru miringkan kepalanya untuk kasih lewat sepasang gelang itu. Yap Ho melompat setinggi dua tumbak, hendak kembali ke barisan kawannya, tapi Kim Som mana mau memberi ketika untuk dia melarikan diri. Dengan cepat ia mencelat melampaui Yap Ho, kemudian membalikkan diri dan mengayunkan pedangnya, maka tidak ampun lagi, badannya Yap Ho terbelah menjadi dua potong, jatuh dari udara.

Kim Som badannya baru menginjak tanah, suara bentakan teriakan dan beradunya senjata tajam segera menyusul, karena momok yang kedua Poei Tiauw, adatnya sangat berangasan. Dalam sekejap saja ia menyaksikan kematian dua kawannya, tak dapat menahan sabar lagi, maka dengan mengeluarkan suara bentakan keras, ia lantas lompat menubruk Kim Som.

Lie Hun Cu yang sedari tadi berdiri di samping, mendadak dapat melihat Poei Tiauw hendak membokong suaminya, maka mencabut pedang Cing-kong-kiam nya, lalu melesat ke kalangan memapaki Poei Tiauw.

Poei Tiauw dengan senjata Phoan-koan-pit nya beradu dengan pedangnya Lie Hun Cu, kedua tangannya dirasakan sakit sekali, dengan tidak disengaja ia memandang Lie Hun Cu.

Lie Hun Cu yang selamanya tidak mau kenal tata cara merendahkan diri di medan pertempuran, segera menggerakkan pedangnya menusuk ke arah dadanya Poei Tiauw.

Poei Tiauw sangat murka, maka ia pun tidak sungkan-sungkan lagi, lantas melayani bertempur. Sepuluh jurus telah lewat, Lie Hun Cu mendadak melesat ke atas udara, kemudian memutar tubuh kakinya mengikuti garis Pat-kwa. Pedangnya diputar, hingga sekejap saja cuma kelihatan gemerlapan sinar pedang mengurung dirinya Poei Tiauw.

Poei Tiauw meskipun orangnya sangat kasar, tapi ilmu silatnya ternyata sangat tinggi. Setelah dapat tahu dirinya terkurung oleh sinar pedang Hun Cu, ia segera mengeluarkan seluruh kepandaiannya, dengan tenang melayani.

Poei Tao yang selama itu mengikuti jalannya pertempuran, sudah tahu bahwa kepandaiannya Kim Som suami-isteri ternyata lebih tinggi daripada sepuluh tahun berselang, sedangkan di pihaknya sendiri, kecuali sang kakak Poei Lip, yang lainnya bukan tandingan Kim Som.

Selagi memikir hendak mengerahkan barisannya yang disembunyikan di sekitar hutan itu, keadaan di medan pertempuran sudah berubah sangat cepat, maka tak sempat memikir panjang lagi. Dengan Poei Lip, berbareng mengerahkan tenaganya ditujukan ke arah Lie Hun Cu. Di lain pihak lantas memberi tanda kepada kawan-kawannya yang bersembunyi supaya segera bergerak.

Li Hun Cu meskipun ilmu pedangnya lebih tinggi setingkat dari suaminya, tapi lama sekali belum dapat menundukkan musuhnya. Ia lantas kertak gigi dan keluarkan seluruh kepandaiannya. Pedangnya dengan hebat menusuk dan membabat kepada Poei Tiauw laksana angin puyuh. Poei Tiauw terpaksa mencelat ke udara untuk mengelakkan tikaman pedang. Dan selagi badannya masih terapung, Lie Hun Cu membentak, tenaga dalamnya dikerahkan ke tangan kanan, pedangnya digetarkan. Poei Tiauw merasakan seolah-olah ada puluhan ribu ujung pedang hendak menusuk dirinya yang tak mungkin dapat dielakkan.

I.ie Hun Cu selagi hendak memetik hasilnya, mendadak merasakan mendesirnya pukulan dari tenaga dalam, dengan tangan kiri ia memapaki serangan itu, tangan kanan mengayunkan pedangnya dan daun kupingnya Poei Tiauw terpapas sebelah. Tapi Lie Hun Cu sendiri pun merasakan terdesak oleh serangan tenaga dalam dari kedua saudara Poei, hingga terpental beberapa langkah.

Berbareng dengan itu, kawan-kawannya Poei Lip yang sembunyi dalam rimba, yaitu Chek Hong, Yu Thian Hay dan The Seng, yang semuanya terkenal sebagai jago senjata rahasia di kalangan Kang-ouw, dengan berbareng melepaskan senjata rahasia masing-masing ke arah Kim Som.

Kim Som sedikit pun tidak kira bahwa musuhnya telah menggunakan akal keji dan serendah itu, tak sempat untuk mengelakkan diri lagi, maka akhirnya rubuh binasa.

Lie Hun Cu menyaksikan kematian suaminya secara mengenaskan, hatinya pilu dan gemas, mendadak mengeluarkan suara nyaring, tangannya diayunkan. Enam benda gemerlapan telah melesat ke arah rimba, kemudian dengan pedangnya ia membunuh dirinya sendiri. Setelah Kim Som suami-isteri binasa, Poei Lip segera menggeledah Bing Hong San-chung, dan mereka telah mengetahui bahwa Kim Tan sudah dibawa lari oleh kawannya Kim Som. Ketiga saudara Poei itu lalu perintahkan orang- orangnya untuk mengejar ke arah tiga jurusan.

Mendengar ceritanya orang buruan ini, Sim Khiam dan Kim Tan merasakan seolah-olah bumi itu telah amblas.

Malam itu, kedua orang tinggi besar itu kebetulan menginap di sebelah kamarnya Sim Khiam dan Kim Tan.

Meskipun tahu ayah bundanya sudah binasa di tangan musuh, Kim Tan malah tidak begitu gelisah lagi. Sim Khiam dapat menebak apa yang sedang dipikir oleh anak muda itu, maka berkali-kali ia memberi nasehat supaya tetap sabar, jangan menimbulkan onar, karena untuk membalas sakit hati orang tua, sepuluh tahun pun belum terlambat.

Malamnya, Kim Tan masuk tidur lebih pagi, tapi tidak dapat tidur enak. Pada tengah malam, ia bangun dari pembaringan, sambil menyekal pedang, dengan endap-endap ia mencongkel pintu kamar kedua orangnya Poei Lip tadi. Beberapa saat kemudian kedua orang tadi sudah menjadi mayat yang tidak berkepala.

Waktu Kim Tan kembali ke kamarnya ia lihat Sim Khiam sedang membereskan barang bekalannya, dengan tandas ia berkata pada Kim Tan: „Aku tidak hendak menghalangi maksudmu untuk melampiaskan sakit tapi kini rahasia sudah terbuka, jejak kita sudah diketahui oleh musuh, maka tidak lama tentu mereka akan datang mengejar, kita harus segera tinggalkan tempat ini!”

Mereka lalu melanjutkan perjalanannya dengan melalui gunung dan rimba, tapi karena kematiannya dua orang itu, akhirnya mereka dapat dicandak oleh The Seng, Poei Tiauw dan Yu Thian Hay.

Pada satu hari, mereka telah tiba di Ciong-lam-san, berdua lalu mendaki gunung itu dan mengaso di puncaknya. Sim Khiam sehabis semedi, mendadak romannya berubah, karena lapat- lapat ia telah dapat tangkap suara orang mendatangi, ia lalu memesan kepada Kim Tan supaya bersembunyi di belakang batu besar.

„Ouw-pak-sam-sat sebentar mungkin akan tiba, maka sembunyilah di belakang batu besar itu. Jangan sembarangan bergerak jika tidak ada perintahku. Jika ada orang yang coba mendekati kau, seranglah dengan senjata rahasiamu, jangan beri ampun pada mereka.”

Sambil mengeretek gigi Kim Tan menyawab: „Selain senjata rahasia panah tangan, Tit-jie masih dibekali ibu tiga butir senjata rahasia mutiara, biarlah mereka nanti rasakan ini!”

„Musuh sudah sampai di tengah gunung, berikan aku sebutir peluru mutiara itu, lekas sembunyi, bekerjalah melihat selatan.”

Setelah menyerahkan sebutir peluru mutiara kepada Sim Khiam, Kim Tan lantas bersembunyi di belakang batu besar. Dengan menggenggam pedang dan pisau terbangnya, Sim Khiam tetap berduduk dengan tenang menantikan kedatangannya musuh. Sebentar kemudian, dengan beruntun tiga orang telah muncul di hadapannya. Yang pertama adalah seorang bertubuh pendek dengan kepalanya yang sangat besar, usianya kurang lebih limapuluh tahun, di sebelah kanannya berdiri seorang yang seluruh badannya merah membara, matanya bundar besar, bebokongnya ada menggemblok sepasang roda ,,Jit-goat-lun”, seorang lagi yang berdiri sebelah kiri ronannya sangat luar biasa, tubuhnya kurus, mukanya pucat tidak ada darahnya, kuku tangannya panjang luar biasa.

Sim Khiam menyaksikan kedatangan ketiga orang ini, dalam hatinya agak bercekat, karena orang tua yang berbadan pendek dan berkepala besar itu adalah salah satu dari Ouw-pak-sam- sat, Poei Tiauw, yang seluruh badannya merah membara itu adalah Liat-hwee-sin-mo Yu Thian Hay, dan yang tinggi kurus itu ialah penjahat dari Ouw-pak Selatan yang sangat disegani oleh kedua golongan baik putih maupun hitam, yang nama dan gelarnya Kelabang beracun The Seng, karena seluruh badannya penuh racun, senjata satu-satunya ialah sepasang kuku yang panjang tapi beracun. Siapa yang kena tercakar atau terbentur badannya jika tidak dapat obat pemunah racun yang manjur, susah tertolong jiwanya.

Menghadapi orang-orang yang luar biasa ini, diam-diam Sim Khiam berpikir, dengan satu lawan satu, mungkin masih dapat dilawan, tapi jika dikerubuti bertiga, tentunya tidak dapat bertahan lama. Tapi ia tetap tenang, sambil tertawa ia berdiri. Poei Tiauw sambil menudingkan tangannya membentak: „Sim Khiam, itu Kim Hay, Kim Som, Cu Kang dan Lie Hun Cu, dulu pernah membinasakan isteriku dan mencelakakan keponakanku. Kita orang-orang dari kalangan Kang-ouw, selamanya harus tegas terhadap budi dan musuh, ada budi harus dibalas, ada permusuhan harus menuntut. Kita bertiga saudara selama sepuluh tahun ini memperdalam ilmu silat kita, jauh-jauh kita datang ke Liok-phoa-san, perlunya adalah untuk menuntut balas. Tak ada sangkut pautnya dengan kau, tapi mengapa kau hendak campur tangan.

„Sekarang aku hendak tanya padamu, dimana sekarang adanya keturunan si orang she Kim itu? Jika kau bersedia menyerahkan atau menunjukkan tempatnya, antara kita tidak ada apa-apa, tapi jika tidak, huh, ilmu pedang Kao-kiam-hoat mu, dalam sepuluh jurus tentu tak akan lolos dari tanganku!”

Sim Khiam tertawa berkakakan. „Tua bangka yang tidak tahu diri, itu perempuan hina Cung Giok Lim yang pada berapa tahun yang lalu telah berbuat sangat memalukan kalangan Kang-ouw. Pada dirinya masih hutang duapuluh tujuh jiwa pemuda, di dunia dan di akherat tak ada tempat untuknya, sehingga membuat murkanya Kim So-so. Dengan sebutir Ling-kong-cu, telah menyingkirkan salah satu biang keladi kejahatan di daerah Sam- siang. Dan keponakanmu keparat itu, lebih-lebih kejahatannya. Kim Toa-ko dan Cu Tay-hiap masih untung cuma membikin buta kedua matanya, tidak tahunya kamu bertiga saudara telah menuntut balas. Yang lucu adalah kamu yang sudah merantau puluhan tahun di dunia persilatan, kali ini ternyata terpedaya dengan tipu muslihatku. „Kau tanya dimana adanya turunan Kim? Apa salahnya kuberitahukan kepadamu, sekarang ini dia sudah berada di beberapa ribu pal jauhnya dari sini. Meski kamu ada kepandaian, juga tak dapat mengejar, apa lagi disana ia berada pada Sam Hie To-tiang yang masih pernah Bo-koe (kakak ibunya). Kepandaian dan tenaga dalamnya, masih jauh lebih tinggi dari pada kamu bertiga saudara. Tanyakan dirimu sendiri, adakah kemampuan untuk melawan? Aku sendiri karena hendak menolong keturunan kawan, sudah tidak memikirkan jiwaku sendiri. Kamu bertiga jika mau, bolehlah turun tangan berbareng.”

Poei Tiauw ternyata masih tetap tidak berubah sikapnya. Tapi ketika mendengar disebutnya nama Sam Hie To-tiang, mendadak alisnya dikerutkan, sambil tertawa dingin ia berkata:

„Sim Khiam, tak perlu kau menggosok. Menghadapi orang semacam kau, perlu apa mesti turun tangan berbareng? Dengan salah satu antara kita sudah cukup untuk antar jiwamu ke akherat.”

Sim Khiam tersenyum. „Tidak nyana kamu tua bangka ini masih mengerti kehormatan. Aku sudah lama mendengar kabar tentang liehaynya sepasang senjata roda dari Liat-hwee-sin-mo ini, baiklah aku ingin coba-coba beberapa jurus.”

Yu Thian Hay yang ditantang lebih dulu oleh Sim Khiam, segera mencabut sepasang senjatanya dan maju menghampiri Sim Khiam. Itu waktu, sepasang matanya The Seng yang tajam, tidak hentinya menyapu keadaan di sekitarnya, waktu matanya ditujukan kepada batu besar tempat sembunyinya Kim Tan, mulutnya mesem.

Sim Khiam yang cerdik segera mengerti, maka dengan cepat ia lantas ambil keputusan nekat. Ia segera cabut pedang Go-kao- kiam nya. Itu waktu dari jauh terdengar suaranya burung rajawali. Empat orang itu karena sedang pusatkan perhatiannya kepada lawan, maka tidak satupun yang mendengar.

Sim Khiam mulai menyerang lawannya, di tangan kirinya menggenggam sebuah senjata rahasia mutiara. Mutiara ini di dalamnya mengandung racun, jika sudah terlepas dari tangan, selaput kulit yang membungkus segera pecah dan racunnya berhamburan, siapa yang terkena akan meninggal seketika itu juga.

Mengapa Sim Khiam menunjuk Yu Thian Hay? Sebabnya ialah dia itu merupakan musuh yang paling lemah di antara bertiga. Hanya beberapa rupa senjata rahasianya sangat liehay, jika ia herhasil menyingkirkan dia lebih dulu tidak usah kuatir terbokong oleh senjata tersebut.

Kemudian dengan gerakan yang tidak disangka-sangka ia akan serang The Seng dengan peluru mutiaranya dengan demikian ia cuma akan berhadapan dengan Poei Tiauw. Bagaimana tinggipun kepandaiannya, rasanya masih dapat dilawan, dan kalau perlu akan tempur sampai mati bersama-sama, hingga dapat menyelamatkan jiwanya Kim Tan. Yu Thian Hay juga sudah maju ke medan pertempuran. Terlebih dulu ia sengaja mempertunjukkan kepandaiannya mengentengkan tubuh sambil mencelat setinggi dua tumbak kemudian dengan enteng ia turun ke tanah. Sim Khiam yang menyaksikan pertunjukkan ini diam-diam sangat terkejut, ia mulai sangsi dengan rencananya semula, apakah akan berhasil?

Mendadak ia dapatkan satu akal. Dengan melempangkan pedangnya di dada, ia keluarkan ilmu pukulan „Naga sakti keluar gua” mengarah dadanya Yu Thian Hay. Dengan cara yang agak memandang enteng ini, membuat Yu Thian Hay sangat murka, dan timbullah pikirannya yang jahat, senjata rodanya itu memang khusus untuk mengunci senjata pedang atau golok, maka ia tidak berkelit sama sekali, malahan mengangkat senjatanya untuk memapaki pedang Sim Khiam.

Siapa tahu bahwa pedang Sim Khiam yang panjangnya tiga kaki enam dim ini ujungnya bengkok semacam gaetan. Ketika melihat datangnya sepasang roda, ia tidak tarik mundur pedangnya, malahan berbalik menusuk, hingga ujung pedangnya yang bengkok terjepit di tengah-tengah sepasang roda. Dengan menggentak Sim Khiam kerahkan tenaganya, hanya terdengar beradunya dua senjata, sekejap kemudian, pedang di tangannya telah patah, begitu juga sepasang rodanya Yu Thian Hay telah pecah berantakan, tangannya mengucurkan darah.

Sim Khiam setelah tipunya berhasil, segera keluarkan ilmu pukulannya yang dapat menembus udara, menyerang ke arah musuhnya. Dan Yu Thian Hay yang tidak menyangka senjatanya akan rusak berantakan, agak kesima. Belum sempat berpikir lain, atau dirasakan samberan angin yang sangat berat menumbuk dadanya. Tak dapat ia mengelakkan pukulan ini, maka ia bertekad hendak bersama-sama mati, ia maju dan kerahkan tenaga dalamnya di tangan kanan menyerang ke arah lawannya.

Sim Khiam tidak sempat menarik pukulannya, juga tidak ada ketika undurkan diri, dengan berkelit ia hindarkan serangan musuhnya. Tenaganya dikerahkan di atas pundak kiri untuk memapaki pukulan itu. Sesaat kemudian, terdengar suara bentrokan yang hebat. Hidung dan mulutnya Yu Thian Hay mengeluarkan darah, mati seketika itu juga, dan Sim Khiam terpental setumbak lebih jauhnya, baru berdiri kembali.

Poei Tiauw dan The Seng tak terlintas sama sekali dalam pikirannya bahwa dalam segebrakan saja Sim Khiam sudah dapat tamatkan riwayatnya Yu Thian Hay. Baru saja mereka hendak maju berbareng, atau dengan mendadak terlihat berkelebatnya bayangan orang di belakang batu besar dan berbareng dengan itu, beberapa benda mengkredep telah menyamber ke arah mereka.

Sim Khiam sambil menahan sakit dengan pisau terbang dan peluru mutiara menyerang kedua musuh itu.

Diserang secara berbareng, meski bagaimana tinggi ilmu silatnya juga susah untuk menghindarkan secara sempurna. Poei Tiauw yang lebih tinggi ilmunya, dalam keadaan antara mati dan hidup itu masih tidak gugup, dengan beruntun ia keluarkan pukulan menembus udara untuk menyampok jatuh senjata pisau terbang, kemudian dengan jumpalitan menghindarkan senjata panahnya Kim Tan.

Tapi tidak urung pahanya masih tertembus sebuah panah dan merasakan kakinya sangat kaku. Ia tahu bahwa panah tangan itu ada racunnya maka dalam keadaan sangat ripuh itu ia buru- buru menelan pil untuk mencegah menjalarnya racun.

The Seng yang agak rendah kepandaiannya, tidak dapat mengelakkan serangan yang datangnya secara mendadak dan berbareng dari dua jurusan itu, demi terkena peluru mutiara dan pisau terbang tersebut lalu melayang jiwanya. Tapi sebelum mati ia masih sempat kerahkan tenaganya yang penghabisan untuk menyerang Sim Khiam dengan senjata rahasianya yang beracun.

Sim Khiam karena barusan menempur Yu Thian Hay sudah mengeluarkan terlalu banyak tenaga dan pula terkena pukulannya, maka pada saat itu sudah habis tenaganya dan jatuh di atas tanah. Waktu senjata rahasianya The Seng menyamber, ia hendak berkelit, tapi sudah tidak ada tenaga lagi, ia cuma bisa bergelimpangan di atas tanah untuk menghindarkan datangnya bencana itu, tapi tidak urung tiga buah paku dan sebuah panah tangan mengenakan pundak dan punggungnya.

Ia tahu bahwa senjata rahasianya The Seng ini semuanya beracun, terkena salah satu saja susah akan tertolong jiwanya, maka ia hanya memikirkan Kim Tan yang sudah memperlihatkan dirinya, apalagi mesti menghadapi Poei Tiauw, maka putuslah harapannya untuk menolong jiwanya anak itu. Memikir sampai disitu, mendadak matanya gelap lalu jatuh pingsan.

Kim Tan yang bersembunyi di belakang batu sambil mengintip, dapat melihat keadaannya Sim Khiam sangat berbahaya, karena bukan saja senjatanya sudah patah, orangnya pun terpental di udara. Dan Poei Tiauw bersama The Seng hendak menyerang Sim Khiam, maka ia tidak perdulikan pesanannya lagi, segera muncul dari tempat sembunyinya dan menyerang kedua musuhnya. Waktu menyaksikan Sim Khiam sudah pingsan, ia menjadi bingung, sambil menghadapinya, ia mengucurkan air matanya.

Poei Tiauw yang pahanya terkena panah tangan, ternyata lukanya tidak berat, waktu menyaksikan kedua kawannya sudah pada menggeletak di atas tanah menjadi mayat, murkanya tidak kepalang. Selagi Kim Tan tidak memperhatikan, ia lalu kerahkan seluruh tenaganya untuk menyerang yang menerbitkan angin keras menyamber ke arah kedua orang ini.

Dan waktu Kim Tan merasa ada angin menyamber, sudah tidak sempat untuk menyingkir lagi. Tapi heran, dalam keadaan sangat berbahaya itu, angin yang menyamber itu seolah-olah kena membentur tembok yang kokoh, lalu membalik, hingga Poei Tiauw menjadi sempoyongan, hampir saja tidak bisa berdiri. Kim Tan merasa terheran-heran, dari belakangnya mendadak mendengar suara „O Mi To Hud”, kemudian muncul satu orang pertapaan kurus, di sebelah tangannya memegang kebutan.

Dengan kebutan orang pertapaan itu menuding Poei Tiauw seraya berkata: „Hukum Tuhan, tak dapat ditentang. Adikku Lie Hun Cu meski julukannya dewi bertangan ganas, tapi selama hidupnya, yang dibunuh hanya kawanan dorna atau penjahat- penjahat besar saja. Permusuhan antara ia dengan kamu, yang bersalah juga pihakmu. Tapi kini kamu sudah tidak mengindahkan peraturan dunia persilatan, dengan secara tidak hormat kamu telah datang mengeroyok dan membokong dengan senjata rahasia untuk menuntut balas.

„Kasihan keluarga Kim dan Cu, kecuali Cu Ling Cie yang berguru pada Ceng Jie Sin-nie di Ceng-shia dan Kim Tan yang dilarikan oleh Sim Khiam, semuanya habis kamu bunuh. Sekarang kau masih hendak membinasakan ini anak yang tidak berdosa. Apakah kau masih terhitung manusia yang berhati manusia?

„Sepantasnya kau harus dibunuh, tapi karena Pin-to tidak tega melakukan pembunuhan, maka biarlah kali ini aku ampuni jiwamu. Hutang jiwa ini tunggu nanti Kim Tan yang membuat perhitungan denganmu.”

Poei Tiauw baru mengerti bahwa orang yang menangkis serangannya tadi adalah orang pertapaan tua ini. Sehabis didamprat, meski hatinya mendongkol, tapi karena merasa tidak ungkulan tenaganya, maka ia menjawab, dengan suara lantang: „Sam Hie To-tiang, dengarlah! Kita orang bekerja, selamanya tidak kepalang tanggung, kedua pihak sudah bermusuhan, perlu apa berbicara tentang kesopanan atau kehormatan. Kini aku tidak melawan kau, lebih baik kau bunuh saja, jikalau tidak, di lain waktu jika aku bertemu dengan keturunan keluarga Kim dan Cu, jangan sesalkan bahwa aku berhati hitam dan bertangan besi.”

Sam Hie To-tiang lihat ia masih penasaran dan tidak mau sadar dari kekeliruannya, dengan tidak terasa telah mengelah napas panjang seraya berkata: „Sekarang badanmu sudah terluka parah, susah untuk turun gunung, baiklah kau turun gunung, lima tahun kemudian, tunggu saja nanti muridku yang akan membereskan jiwamu.”

Lalu bersuit ke udara, sekejap kemudian, seekor burung besar terbang turun dan membawa tubuhnya Poei Tiauw turun gunung. Di samping itu, burung tersebut dengan kedua sayapnya menyapu mayat Thian Hay dan The Seng, hingga terjatuh ke jurang.

Sim Khiam itu waktu pun sudah sadar dari pingsannya, melihat Sam Hie To-tiang berdiri di depannya, ia kaget bukan main. Ia hendak membuka mulutnya, tapi tidak bertenaga. Pertapa ini mendekati, sambil menganggukkan kepalanya ia memberi hormat:

„Sejak berpisahan di Siauw-siang, tidak terasa duapuluh tahun telah lewat. Hatimu yang mulia, dengan tidak memperdulikan jiwamu sendiri kau telah berdaya untuk menyelamatkan jiwanya anak adik perempuanku, Pin-to merasa sangat berterima kasih. Racun yang mengenakan dirimu, untunglah Pin-to masih sanggup mengobati.” Ia lalu keluarkan obat pil, suruh Sim Khiam segera telan.

Sejenak kemudian, Sim Khiam sudah hilang rasa sakitnya, dan tenaganya pun sudah pulih kembali. Ia segera melompat bangun dan memberi hormat kepada Sam Hie To-tiang, tapi dicegah oleh pertapa ini:

„Lukamu baru saja sembuh, tenagamu belum pulih seluruhnya, sebelum tengah malam ini, kekuatan badanmu belum bisa pulih sama sekali.” Ia lantas cabut anak panah dan paku yang menancap di badan Sim Khiam, setelah diberi obat luar disuruhnya duduk bersemedi. Sambil menggenggam sebelah tangan Sim Khiam, Sam Hie To-tiang menyalurkan tenaga dalamnya ke tubuhnya.

Setengah jam kemudian, Sim Khiam sudah segar kembali, setelah membuka matanya ia berkata: „Siau-tee tidak berguna, hanya dapat menolong jiwa anak ini saja, sungguh membuat aku malu terhadap kawanku yang telah mangkat.”

Kemudian berkata kepada Kim Tan: „Hian-tit, lekaslah memberi hormat kepada Bo-koe mu, jika kau dapat meyakinkan salah satu dari ilmu silatnya Thay-it-sin-kang dan Liang-gie-ceng-khie, cukup untuk kau menuntut balas terhadap musuh ayah bundamu.” Kim Tan lalu berlutut dihadapan Sam Hie To-tiang, kemudian menangis sedih sekali.

Sam Hie To-tiang yang sudah jernih pikirannya pun tidak tahan, ia ikut terharu menyaksikan keadaan anak muda itu. „Sudahlah, umur manusia ditentukan oleh Tuhan. Kali ini aku turun dari gunung Ngo-bie-san, dan datang ke Ciong-lam-san ini juga lantaran kau. Nanti malam setelah dapatkan wasiat dari dalam goa di gunung ini dan makan buah ajaib, kau harus ikut aku ke Ngo-bie-san untuk belajar ilmu silat.”

Sim Khiam bangun dari tempat duduknya bertanya pada pertapa ini: „To-tiang, Siau-tee cuma tahu kau pandai dalam ilmu silat, yang tidak ada tandingannya di masa ini, mengapa semua kejadian sejauh ini kau dapat tahu sebelumnya? Adakah kau sudah paham betul dengan ilmu petangan dari Ngo-bie?”

Sam Hie tertawa menyeringai: „Mana begitu mudah untuk mempelajari petangan dari golongan Ngo-bie.”

„Sejak aku meninggalkan Siauw-siang dan pergi ke Ngo-bie-san, telah bertemu dengan turunan keempat dari pendekar pedang Ngo-bie-san, selain diterima sebagai murid, juga diberi tempat di goa Ciat-hun-tong, untuk mempelajari semua ilmu dari golongan Ngo-bie.

„Kemudian diizinkan setelah selesai urusan permusuhan adik perempuanku, segera berangkat ke Hian-pit-gan untuk mempelajari ilmu petangan. „Kebetulan saja aku tiba disini, karena aku sedang mencari barang wasiat yang terpendam di gunung ini, tidak kusangka akan bertemu dengan kalian. Guruku meski sudah tinggi ilmunya, juga cuma dapat tahu bahwa dalam gunung ini selain semacam rumput ajaib, masih ada benda wasiat yang sangat berharga harus menjadi milik Kim Tan.”

„Bagaimana macamnya benda wasiat itu, malam ini baru kita dapat menyaksikan.”

Mendadak dari udara terdengar suara burung rajawali yang sudah kembali dari bawah gunung, burung itu terbang turun di samping Sam Hie To-tiang berdiri. Sim Khiam dan Kim Tan merasa sangat kagum dan heran, setahu bagaimana Sam Hie To-tiang mengajar binatang yang bisa terbang itu, sehingga demikian jinaknya.

Tidak lama, sang malam telah tiba. Rembulan memancarkan sinarnya yang terang benderang. Keadaan di sekitar gunung itu sangat merawankan hati.

Sim Khiam mendadak ingat sesuatu, dari dalam sakunya ia mengeluarkan buku pelajaran ilmu pedang, Sam-cay yang ia dapatkan di jembatan Kiauw-ling tanpa sengaja. Buku itu ia tunjukkan kepada Sam Hie To-tiang, untuk minta penjelasannya. Ia menyambuti buku itu, dikulitnya terdapat sebaris perkataan yang berbunyi:

„Pelajaran ilmu pedang Sam-cay, ditinggalkan untuk orang yang berjodoh”. Sam Hie To-tiang membuka-buka buku itu, sambil tertawa ia memberi selamat kepada Sim Khiam: „Selamat Hian-tee, Chiong Hauw Lo-cianpwee, adalah seorang aneh di masa jamannya, ilmu pedang dan silatnya, merupakan kepandaian yang tersendiri. Seluruh ilmu dan kepandaiannya ia turunkan dalam buku ini, dan sekarang buku ini telah jatuh di tanganmu, sungguh besar peruntunganmu. Baiklah kau mencari tempat yang sunyi, lalu kau pelajari baik-baik menuruti petunjuk buku ini, kau nanti akan menjagoi di kolong dunia ini.”

Sim Khiam sangat girang. Cuma beberapa bagian yang menyangkut soal ilmu kebatinan, ia minta petunjuk dari Sam Hie To-tiang.

Itu waktu, sudah tiba saatnya untuk mengambil benda wasiat dari dalam goa.

Setelah mencari sebentar, Sam Hie To-tiang menemukan sebuah lereng yang luar biasa keadaannya. Ia lalu kerahkan tenaganya, ayunkan tangannya ke arah tembok gunung itu, sebentar kemudian, tembok gunung itu terbuka, sebuah goa terlihat di depannya. Bersama Kim Tan ia memasuki goa tersebut, bau yang sangat harum menusuk hidung kedua orang tersebut.

Kim Tan menyalakan api, goa itu ternyata sangat luas. Dalamnya terdapat tempat tidur batu, perapian, beberapa buah genta kuningan dan sebagainya. Terus mereka masuk ke dalam, mereka terus mencari bau harum itu, akhirnya tiba di satu tempat. Terlihat sebuah tanaman semacam rumput yang tumbuh di atas tembok gunung itu, kembangnya berwarna merah darah, di tengah-tengah kembang ada buah yang merah warnanya.

Sam Hie To-tiang segera memetik beberapa biji suruh Kim Tan makan. Kemudian dengan sebilah pisau kumala, ia menggorek temboknya dan mengangkat tumbuh-tumbuhan itu dengan akar- akarnya.

Ia kembali memeriksa keadaan dalam goa itu, di atas meja batu ia dapatkan dua bilah pedang wasiat, di bawahnya tertindih sehelai kertas yang ada tulisannya, setelah dibaca, Sam Hie To- tiang baru mengetahui bahwa pedang tersebut adalah peninggalannya Couw-su nya sendiri, sambil menyoja ia lalu memberi hormat menghadap kedua bilah pedang itu.

Pedang itu sangat kuno sekali, seluruhnya hitam melekat, seolah-olah dua potong besi hitam. Kelihatannya tidak ada apa- apa yang luar biasa, tapi jika diperiksa dengan teliti, dalam warna yang hitam mengkilat itu mengandung sinar berkredepan.

Sam Hie mengulurkan tangannya mengangkat pedang itu dan digoreskan pelahan-lahan di atas tembok gunung. Berapa potong batu telah jatuh menandakan betapa tajamnya pedang tersebut.

Sam Hie To-tiang dengan tangan kiri mengempit dua bilah pedang dan tangan kanannya membawa pohon rumput berkata kepada Kim Tan: „Tan-jie, rejekimu besar sekali, kali ini kita mendapatkan pedang dan pohon ini, tak usah dikata berapa besar faedahnya.

„Kini pamanmu Sim Khiam sudah terlalu banyak mengeluarkan tenaga, baiklah diberi obat mujijat ini.”

Lalu bersama Kim Tan keluar dari goa.

Sim Khiam setelah memakan obat rumput itu, sebentar saja lantas pulih kesehatannya.

Kim 'I'an barusan mendengar bahwa setelah mendapatkan rumput itu segera kembali ke Ngo-bie-san. Ia memikirkan beberapa hari ini selalu berdampingan dengan Sim Khiam, kini mendadak hendak berpisahan, hatinya merasa sangat pilu.

Sim Khiam mengetahui ini, ia tertawa dan berkata: „Hian-tit perlu apa bersusah hati, kali ini kau pergi ke Ngo-bie untuk belajar ilmu silat, perlunya supaya lekas dapat membalas sakit hati ayah bundamu, paling lama cuma lima tahun. Lekaslah ikut Bo-koe mu!”

Sam Hie To-tiang mendengarkan sambil mengangguk- anggukkan kepalanya, kemudian perintah Kim Tan naik ke atas punggung burung yang besar itu. Sebelum berangkat, Sam Hie meninggalkan pesan kepada Sim Khiam: „Hian-tee, hatimu sudah mulai berkembang kebenaran, ingatlah baik-baik perkataan „air dan api saling berdesak” dalam pelajaran ilmu pedang Chiong-hauw-cu, lain kali kita bertemu lagi.” Sehabis memesan, ia lalu duduk di atas punggung burung, terbang ke Ngo-bie-san. Sim Khiam mulai saat itu lantas berdiam di gunung Ciong-lam-san untuk meyakinkan ilmu silat Sam-cay-kiam-hoat.

◄Y►

Setelah tiba di kediaman Ciat-hun-tong, Sam Hie To-tiang lantas menulis surat kepada Ceng Jie Sin-nie di Ceng-shia, menuturkan semua kejadian atas diri keluarga Kim dan Cu.

Surat itu ia suruh burung rajawali segera disampaikan kepada alamatnya. Kemudian ia berkata pada Kim Tan: „Dalam berapa hari ini kau sudah terlalu lelah, mengasolah di kamar belakang, mulai besok pagi, kau harus belajar dengan giat.”

Keesokan hari pagi-pagi, Kim Tan sudah bangun dari tempat tidurnya, di luar goa seperti terdengar suara orang bicara. Ia segera berpakaian dan keluar dari goa. Begitu tiba di luar, pertama-tama yang ia lihat adalah satu gadis yang sangat cantik, hingga merasa kaget.

Setelah mendekati, baru tahu bahwa gadis itu adalah kawan memainnya di waktu masih anak-anak, Cu Ling Cie adanya. Ia berdiri di sampingnya satu paderi wanita rambutnya sudah putih semua, ia bukan lain adalah Ceng Jie Sin-nie.

Sam Hie To-tiang, lihat Kim Tan muncul segera berkata padanya: „Tan-jie, ini adalah Soe-pek mu Ceng Jie Sin-nie, lekaslah memberi hormat.” Kim Tan segera maju memberi hormat sambil berlutut.

Ceng Jie Sin-nie memandang sebentar, tertawa berkata kepada Sam Hie: „Sungguh pasangan yang setimpal!”

Marilah kita ajak pembaca kembali pada asal mulanya Ling Cie mengikuti Ceng Jie Sin-nie. Itu waktu Ling Cie baru berusia tujuh tahun dan kini ia sudah berusia empatbelas tahun. Sejak kecil hidup di atas gunung, belum pernah bergaul dengan orang luar, maka hatinya masih putih bersih, sudah tentu tidak kenal soal perbedaan antara pria dan wanita.

Ia segera maju dan menarik tangannya Kim Tan: „Engko Tan, kabarnya ayah dan ibu telah dibinasakan oleh penjahat, hanya tinggal aku seorang. Sekarang Suhu pun tidak mau aku lagi, apakah kau masih suka perlakukan aku begitu baik seperti dulu- dulu?” Sehabis berkata, air matanya mengalir di kedua pipinya.

Hal ini membikin Kim Tan sangat bingung, tidak terasa ia pun keluarkan air mata.

Ceng Jie Sin-nie yang menyaksikan keadaan ini, tidak tahan lalu tertawa. „Anak ini berapa tahun saja tidak ketemu dengan Kim Koko nya, mengapa begitu bertemu lantas tidak mau berpisah. Sam Hie Soe-siok adalah keturunan asli dari golongan Hian Bun, kau beruntung sekali bisa menjadi muridnya, mengapa berat berpisah denganku?”

Kemudian berkata lagi kepada Kim Tan: „Aku telah tiba saatnya untuk meninggalkan keduniawian. Barusan aku sudah bicara dengan gurumu, biarlah Ling Cie berguru kepadanya. Kau dengan dia sama-sama piatu, sama-sama mempunyai ganjelan sakit hati, maka baik-baiklah belajar, supaya segera dapat menuntut balas. Aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihadiahkan kepada kamu, biarlah ini ilmu pedang, yang telah kupelajari selama enampuluh tahun kuturunkan kepadamu.”

Sam Hie To-tiang menyambutnya: „Ilmu pedang Hok-mo-cap- kau-chiu dari Soe-pek mu adalah suatu kepandaian yang langkah di ini jaman, tidak gampang diturunkan kepada sembarangan orang, bukanlah kau lekas-lekas mengucapkan terima kasih?”

Kim Tan sangat girang, ia buru-buru memberi hormat dan mengucapkan terima kasih.

Ceng Jie Sin-nie lalu sejurus demi sejurus memainkan pedangnya.

Kim Tan memperhatikannya dengan seksama, kemudian meniru cara gurunya ia memainkan pedangnya. Meskipun kurang sempurna, tapi tidak ada yang salah.

Setelah selesai mengajar Kim Tan ilmu pedang, Ceng Jie Sin- nie lalu pamitan kepada Sam Hie To-tiang, dengan menunggang burung rajawali pertapa itu kembali ke Ceng-shia.

Sam Hie To-tiang berkata kepada Kim Tan dan Ling Cie:

„Pelajaran Pan-yok-sin-kang yang Ling Cie yakinkan, ada serupa dengan   ilmu   pelajaranku   Thay-it-sin-kang,   keduanya   ada merupakan ilmu tenaga dalam yang sangat tinggi, tak usah dikatakan berapa hebatnya ilmu pedang yang barusan Tan-jie telah terima. Sekarang aku akan ajarkan lagi semacam ilmu pukulan telapak tangan, namanya adalah Hoan-ceng-im-yang- ciang. Kamu harus pelajari baik-baik, sesudah berhasil, boleh kamu pergi menuntut balas.”

Mulai hari itu, kedua anak muda itu lantas berdiam di Ngo-bie- san untuk belajar silat.

◄Y►

Cepat sekali lima tahun telah berlalu, pelajaran-pelajaran ilmu silat yang Kim Tan dan Ling Cie pelajarkan ternyata sudah sampai di puncak kesempurnaannya. Pada suatu hari, Sam Hie To-tiang menyaksikan kedua muridnya belajar silat, setelah selesai, ia berkata kepada Kim Tan: „Tan-jie punya ilmu Thay-it- sin-kang, melontarkannya menggunakan tenaga halus dan lemah gemulai. Ling Cie punya Pan-yok-sin-kang sebaliknya harus memakai tenaga keras, cobalah kamu masing-masing memukul batu itu yang terletak sejauh tujuh tindak.”

Kim Tan angkat tangannya, melontarkan serangan ke arah yang dimaksud, dan batu tersebut menjadi hancur. Tindakan ini disusul oleh Ling Cie, hasilnya serupa.

Sam Hie To-tiang tertawa girang: „Kamu belajar baru lima tahun, ternyata hasilnya sangat memuaskan. „Besok pagi aku akan suruh burung, rajawali mengantar kamu turun gunung untuk mencari musuh-musuhmu. Kamu herdua telah berkawan sejak masih kanak-anak, turunan dari keluarga Kim dan Cu adalah kamu yang harus menyambung. Hari ini adalah hari baik, maka aku akan jodohkan kamu berdua, dan setelah kamu berhasil membasmi musuh-musuhmu, barulah menikah.”

Mendengar pesan gurunya Ling Cie merasa malu, lama sekali ia tidak dapat menjawab. Besok paginya, mereka berpisah kepada gurunya, dengan menunggang burung rajawali turun gunung untuk mencari musuhnya.

Hari itu, di kota Pek-te-shia telah muncul sepasang anak muda dengan pakaian putih dan membawa senjata pedang. Ketika mereka sedang memandang pemandangan kota, dari belakang mendadak terdengar tindakan kaki yang antap. Mereka menoleh, dari berapa langkah jauhnya berdiri satu pengemis tua.

Kim Tan lihat pengemis tersebut meski pakaiannya rombeng, tapi romannya tidak menunjukkan seorang jahat, sepasang matanya sangat tajam. Ia segera maju menghampiri dan memberi hormat seraya berkata: „Boanpwee Kim Tan, bersama Soemoy Cu Ling Cie hendak pergi ke Ouw-pak, disini telah bertemu dengan Lo-cianpwee, sukalah Lo-cianpwee memberi tahukan namamu yang terhormat?”

Pengemis itu membalas hormat dan berkata „Aku yang rendah adalah Ma Beng. Aku melihat gerak-gerikmu sangat enteng, sinar matamu yang tajam, mungkin mempunyai kepandaian tinggi, bolehkah beritahukan kepadaku, siapakah gurumu?”

Kim Tan setelah mendengar nama pengemis itu, segera menyoja. Pengemis tua itu ternyata ada orang gagah dari kalangan Kang-ouw, yang beberapa puluh tahun berselang karena bergulat dengan seekor ular besar, hampir saja mati digigitnya ular itu. Untung segera ditolong oleh ibunya Kim Tan, Lie Hun Cu, dan ular itu dapat dibinasakan.

Kemudian Ma Beng mengambil racunnya ular itu untuk membuat senjata rahasia yang berupa peluru mutiara, tapi ternyata sangat beracun. Peluru mutiara itu semuanya ada duabelas butir, yang ia berikan semuanya kepada Lie Hun Cu untuk membalas budinya yang sudah menolong dirinya. Lie Hun Cu sangat sayang senjata rahasia itu, tidak gampang-gampang digunakan, selama itu cuma pernah memakai tiga butir.

Tentang ini Lie Hun Cu di masa hidupnya pernah menceritakan kepada Kim Tan, maka segera mengetahui siapa adanya Ma Beng ini. Ia segera keluarkan senjata rahasia peninggalan ibunya ditunjukkan kepada Ma Beng, hingga Ma Beng, segera mengenalinya. Mulai saat itu Kim Tan lantas membahasakan Ma Beng Empek, serta diberitahukan semua kejadian di Liok-phoa- san yang menyebabkan kematian ayah bundanya.

Ma Beng mendengar penuturan Kim Tan berulang-ulang menggelengkan kepala dan mengelah napas panjang. Kemudian ia berkata: „Peristiwa di Liok-phoa-san itu aku pun sudah dengar, tapi aku masih belum tahu perbuatan siapa, hari ini aku baru tahu kalau Ouw-pak-sam-sat punya perbuatan.

„Kini kalian telah turun gunung untuk menuntut balas maka jika tidak keberatan, aku bersedia sepenuh tenaga untuk memberi bantuan, hitung-hitung turut membalas budi terhadap ibumu.”

Kim Tan merasa girang mendapat bantuan Ma Beng, maka tawaran itu segera diterima baik. Mereka bertiga lalu menyewa sebuah perahu untuk menyeberang sungai.

Di tengah sungai, Ma Beng berpikir sebentar, lalu menanyakan kepada Kim Tan: „Apakah kalian ada dengar bahwa baru-baru ini di kalangan Kang-ouw telah muncul se¬orang penjahat?”

Kim Tan kaget, ia menjawab: „Boanpwee baru saja turun gunung, terhadap semua kejadian di kalangan kang-ouw, sama sekali tidak tahu. Bolehkah Empe menceritakan.”

„Di gunung Ay-lie-san daerah Hun-lam, baru-baru ini ada seorang bernama Pek Cu Lam, ia sebetulnya bekas penjahat dari Hun-lam selatan, kemudian dari gunung Ay-lie-san mendapatkan sejilid kitab „Pek-kut-hian-keng”, setelah dipelajari duapuluh tahun lamanya, ia berhasil menemukan semacam ilmu silat yang sangat liehay, sehingga menjagoi di kalangan Kang- ouw.

Ia mempunyai dua murid, murid kepala bernama Go Beng, murid kedua bernama Phoa Cay, di samping itu ia telah memungut seorang anak perempuan yang bernama Han Ing. Antara tiga anak muda ini, adalah Phoa Cay yang paling pandai ilmu silatnya dan paling kuat tenaga dalamnya. Sepasang telapakan tangannya sangat beracun, orangnya pun sangat ganas.

Karena anjurannya Phoa Cay ini, Pek Cu Lam telah mendirikan perkumpulan agama Pek-kut-kauw di gunung Ay-lie-san, ia sendiri bergelar Pek-kut-sin-kun. Ia mengumpulkan semua orang gagah dari dunia persilatan, pengaruhnya semakin hari semakin tambah besar, dan di daerah sepanjang sungai Tiang-kang ia membuka cabang-cabangnya.

Pada suatu waktu, orang-orangnya Pek-kut-sin-kun ini telah bentrok dengan Piauw-soe dari Ceng Hin Piauwkiok di Tiang-an. Bentrokkan itu tambah meluas, sehingga Soe-sioknya Piauw- soe tua yang sudah lama mengundurkan diri, turut campur tangan. Ia mengundang semua kawan-kawannya dari orang- orang gagah, pada nanti malaman Tiong-chiu mengadakan pertandingan dengan kaum Pek-kut-kauw

Dari pihak Pek-kut-sin-kun juga banyak orang-orang gagah yang bersedia membantu tenaga, mungkin Ouw-pak-sam-sat nanti juga akan berada di sana. Kita meskipun tidak menerima undangan, baik juga kita datang untuk melihat-lihat keramaian.”

Kim Tan berpikir: menggunakan ketika ini untuk mencari tahu jejaknya Ouw-pak-sam-sat juga ada baiknya, maka ia setuju usul Ma Beng.

Kemudian Ma Beng melanjutkan penuturannya: „Pek-kut-sin-kun ilmunya sangat tinggi, sukar sekali dijajaki. Murid-muridnya, Go Beng dan Phoa Cay punya pukulan telapakan tangan Pek-kut-im-hong dan Pek-kut-im-lin-shoa sangat beracun, hati-hati jika nanti bertemu dengan mereka. Tapi anak pungutnya, Han Ing, sebaliknya tidak suka dengan sepak terjang Pek-kut-sin-kun, sampaipun senjata tunggalnya golongan Pek-kut-kauw yang berupa Pek-kut-song-bun-kiam juga tidak mau menggunakan. Pek-kut-sin-kun sangat sayang kepadanya, maka ia tidak mau memaksa, dan oleh karena ia suka meniup suling, maka Pek-kut-sin-kun telah ajarkan padanya ilmu silat dengan menggunakan seruling.

Orang-orang dari kalangan Kang-ouw memberi ia gelar „Giok- tek-hwie-sian” atau „Seruling kumala si dewi terbang”. Giok-tek- hwie-sian ini romannya sangat cantik, Phoa Cay sudah lama ingin dapatkan dia, tapi gadis itu sangat dingin hatinya terhadap sang Suheng itu.”

Cu Ling Cie sehabis mendengar penuturan Ma Beng, sambil tertawa manis ia berkata kepada Kim Tan: „Orang semacam Giok-tek-hwie-sian itu sukar sekali dicari bandingannya, jika Engko Tan ketemu dia, janganlah kau bikin luka.”

Kim Tan buru-buru menjawab: „Hal ini kau tak usah kuatir. Waktu turun gunung aku sudah berjanji kepada Suhu, kecuali musuhku, tak akan aku bunuh orang.”

Ma Beng yang menyaksikan kedua anak muda ini riang gembira, seolah-olah tidak pandang mata murid-muridnya Pek-kut-sin- kun, diam-diam merasa kuatir. Mereka bertiga berjalan bersama-sama, lewat beberapa hari, mereka telah tiba di Bu-han, dan melanjutkan perjalanan darat.

Sesampainya di kota, terlebih dahulu mereka pergi ke rumah makan untuk menangsel perut. Dari atas lo-teng, mereka melihat satu pemuda berpakaian hijau, lewat di depan rumah makan. Pemuda itu parasnya sangat cakap, gerak jalannya cepat dan gesit.

Kim Tan merasa heran, segera menanyakan kepada Ma Beng:

„Empe Ma, lihat itu anak muda, rupa-rupanya sangat tinggi ilmu silatnya. Empe sudah lama merantau di kalangan Kang-ouw, tahukah dari golongan apa dia itu?”

„Maafkan mataku yang lamur, orang ini aku tidak kenal. Tapi barusan melihat tindakan kakinya, rupa-rupanya seperti mempunyai ilmu mengentengkan tubuh „Ling-hie-pe” yang sudah lama lenyap, meski aku lebih tua dari kalian, menyesal tidak dapat menerka. Tapi agaknya bukan seorang jahat.”

Setelah membayar makanan, pegawai rumah makan memberitahukan kepada mereka bahwa malam ini pemandangan di Oey-he-lauw sangat indah, banyak orang yang datang untuk mencari hiburan.

Cu Ling Cie yang masih kekanak-anakan, terlebih dulu menyatakan setuju, hingga mereka menyewa sebuah perahu menuju ke Bu Ciang. Ma Beng, Kim Tan dan Cu Ling Cie telah tiba di Oey-he-lauw. Mereka naik ke atas lo-teng, hingga dapat menikmati pemandangan alam di sekitar sungai. Selagi dalam keadaan kesengsem, mendadak terdengar suara orang meniup suling.

Kim Tan mendadak ingat Giok-tek-hwie-sian. Betulkah dia yang meniup? Mereka lalu turun dari lo-teng, untuk mencari orang yang meniup suling itu.

Di tengah-tengah sungai, ada satu perahu besar, ternyata suara suling itu datangnya dari perahu tersebut. Kim Tan bertiga segera menyewa sebuah perahu kecil, didayung menuju ke arah perahu besar itu. Setelah mendekati, Kim Tan dapat lihat bahwa orang yang meniup suling itu adalah itu pemuda berbaju hijau, yang tadi siang pernah lewat di depan rumah makan, ketika sedang makan.

Kim Tan sangat girang, buru-buru berdiri di kepala perahu, sambil angkat tangannya ia berkata dengan suara nyaring:

„Heng-tay sungguh sangat gembira sekali, sudikah mengijinkan aku yang rendah kesana untuk belajar kenal?”

Pemuda baju hijau itu lalu menengok, ia pun dapat mengenali mereka bertiga.

„Aku hanya main-main saja, tak kusangka telah menarik perhatian kalian bertiga. Jika sudi, silahkan singgah di perahuku untuk bercakap-cakap.” Kim Tan bertiga, setelah tiba di atas perahunya si anak muda, masing-masing lalu menyebutkan namanya, untuk belajar kenal.

Pemuda tersebut mengaku bernama Tan Cee, selain gemar suling, juga mengerti sedikit ilmu silat. Meski baru kenal, tapi mereka segera merasa cocok satu sama lain. Tan Cee dapatkan mereka pada membawa pedang, lalu menanyakan kepada Ma Beng.

„Ma Lo-cianpwee, namamu sangat terkenal di kalangan Kang- ouw, ini aku sudah lama dapat dengar. Hanya Kim-heng dan Hian-moy, dari sinar matanya menunjukkan orang-orang yang mempunyai tenaga dalam sangat sempurna. Aku dengar pada nanti harian Tiong-chiu, di atas bukit Kun-san akan ada pertempuran hebat. Kalian bertiga berani tunjukkan diri disini, apakah ada sangkut pautnya dengan pertempuran itu?”

„Kita kebetulan lewat disini saja. Tentang itu pertempuran, sama sekali kita, tidak akan turut campur. Apakah Tan Lo-tee suka menonton pertempuran itu?”