Setan Harpa Jilid 27

 
Jilid 27

"YAA, aku memang tak akan mendapatkan apa-apa lagi"

"Kalau memang begitu, buat apa kau musti mencari kesulitan dan kepedihan untuk diri sendiri?"

Yu Cing tertawa getir.

"Tapi aaii !" dia menghela napas sedih. "siapakah orang yang hendak kau perkenalkan kepadaku itu?"

"Kakak angkatku!" "Apa? Thia sauhiap?" Seketika merah pipi Yu Cing setelah mendengar ucapan tersebut, tiba-tiba saja ia menemukan bahwa Ong Bun kim bersikap terlalu baik kepada-nya!

Ong Bun-kim bukannya tidak tahu kalau ia mencintainya, tapi dia selalu berpikir baginya, ia tak ingin dirinya terjerumus ke dalam kancah kemalangan akibat cinta, melainkan memperkenalkan seorang lelaki yang jujur, seorang pemuda yang ganteng seperti Thia Eng kepadanya.

Berpikir sampai disitu, tanpa terasa Yu Cing menghela napas panjang, tiba-tiba ia menemukan bahwa Ong Bun kim adalah seorang pemuda yang baik hati dan mulia.

Ia lantas menghela napas panjang, bisiknya. "Mungkin Yu Cing tidak pantas baginya!" "Kenapa?"

"Sebab ia terlalu baik!".

Ong Bun kim segera tertawa lebar.

"Cukup, asal kau sudah mengatakan kalau dia baik, itu berarti kesanmu terhadap dirinya adalah baik. menjadilah kawan dulu. urusan selanjutnya kita bicarakan kemudian"

Yu Cing mengundurkan diri dari situ dan bersama Thia Eng bertugas diluar gua Bu cing tong.

Sampai waktu itu orang-orang yang berada dalam ruang tengah masih belum tahu apa yang sedang dibicarakan oleh Ong Bun kim terhadap kedua orang itu.

Sementara persoalan telah selesai dibagikan, tengah hari sudah menjelang tiba.

oooOdwOooo BAB 85 MENDADAK...

Terdengar suara langkah kaki manusia berkumandang datang, ternyata yang datang adalah Lui Thian ciu.

Ia memberi laporan lebih dulu kepada Ong Bun kim atas segala hal yang telah dilakukan, kemudian secara resmi masuk pula menjadi anggota perguruan Sin kiam bun.

Mendadak dari luar gua berkumandang suara teriakan lancang:

"Thian lam kiam kek (jago pedabng dari langit dselatan) Lan taayhiap bersama pbutri nya Lan Siok ling tiba!"

Berbareng dengan seruan itu, dari luar ruangan segera muncul seorang kakek berusia lima puluh tahunan yang menyandang pedang bersama Lan Siok ling.

Tiang Seng lojin segera menyongsong kedatangannya dan menegur sambil tersenyum: "Lan lote, apakah kau datang untuk menggabungkan diri dengan perguruan Sin kiam bun?"

Ketika Thian lam kiam-kek menyaksikan Thian seng lojin juga berada disiuu ia kelihatan agak tertegun, kemudian sahutnya sambil menggeleng berulang kali.

"Bukan!"

Jawaban mi sama sekati diluar dugaan, tak urung semua orang dibuat tertegun juga oleh jawaban dari Thian lam kiam kek itu.

Tiang seng lojin tertegun beberapa saat lamanya, kemudian bertanya:

"Entah karena urusan apa kau datang ke mari?" "Mencari Ong Bun kim!" Ong Bun kim yang mendengar perkataan itu merasakan hatinya bergetar keras, serunya:

"Ada arusan apa kau mencari aku?" "Kaukah yang bernama Ong Bun-kim?" "Benar!"

"Ong Bun kim, bagaimana rencanamu selanjutnya? Apa yang hendak kau lakukan terhadap putriku?"

Kalau didengar dari perkataan itu. tak sulit untuk menduga kalau kedatangan Thian lam kiam-kek keempat itu adalah disebabkan masalah putrinya.

Ong Bun kim menjadi tertegun, sahutnya tanpa sadar. "Aku tidak tahu."

"Apa? Kau sudah mempermainkan putriku, sekarang masih mengatakan tidak tahu apa yang akan di perbuat?"

Seluruh wajah Thian lam kiam kek menahan hawa amarah, sinar matanya memancarkan hawa napsu membunuh yang mengerikan, ditatapnya Ong Bun kim tanpa berkedip.

Tiba-tiba Giok bin hiap tertawa terbahak-bahak.

"Haah haaah haaahh. saudara Lan masih kenal dengan

aku Yu Tiong?" serunya.

Sinar mata Thian lam kiam kek segera dialihkan keatas wajah Giok bin hiap, paras mukanya tiba-tiba berubah bersbinar, kemudian dserunya.

"Haah,a kau? Jadi kau bmasih hidup?"

"Benar saudara Lan apakah kedatanganmu adalah untuk menegur serta minta pertanggungan jawab dirinya?"

"Boleh dibilang begitu!" "Saudara Lan, mengapa kau harus datang dengan marah-marah? Buncu kami amat mencintai putrimu, tentu saja dia akan mengawininya secara resmi..."

"Ong Bun kim. sungguhkah perkataan itu?"

"Benar, dia telah menjadi istriku, tentu saja aku akan mengawininya secara resmi" Giok bin hiap segera tertawa pula.

"Nah dia sudah berkata sendiri, tentunya kau tak bisa berbicara apa-apa lagi bukan?"

"Ya, tentu saja aku tak bisa berkata apa-apa lagi!"

"Ong Bun kim mengapa kau tidak segera datang untuk memberi hormat kepada mertuamu?"

Buru-buru Ong Bun kim maju menghampirinya dan menjura dalam-dalam katanya.

"Ayah mertua diatas, harap terimalah hormat dari Ong Bun kim!"

Thian lam kiam kek segera tertawa terbahak-bahak. "Haaah.... haaah... haahhhh tak usah banyak adat"

serunya.

Ong Bun kim segera berjalan kehadapan Lan-Siok ling, lalu tanyanya. "Siok ling, sejak berpisah baik-baikkah kau?"

"Terima kasih atas perhatianmu."

Maka Ong Bun kim pun segara memperkenalkan mereka berdua kepada jago-jago lain yang tidak dikenalnya, tentu saja Thian lam kiam kek juga mengetahui tentang hubungan Ong Bun kim serta Kwan Siok-kim.

Setelah berbincang-bincang sebentar, secara resmi kedua orang itu baru masuk menjadi anggota perguruan Sin kiam- bun. Tiba-tiba dari luar pintu sana berkumandang suara teriakan yang amat nyaring:

"Ti-teng kek datang!"

Tampak Yu Cing menghantar Ti-teng-kek (jagoan pembawa lampu) berjalan masuk ke dalam ruang tengah.

Dengan suara dalam Giok bin hiap segera menegur:

"Ti teng kek, apakah kau datang kemari untuk menggabungkan diri dengan perguruan kami?"

"Benar!"

"Harap maju menryembah pedang!"

Ti teng kek maqju menyembah perdang dan mengangkat sumpah, kemudian pelan-pelan mengundurkan diri ke sisi kanan.

Sementara itu, seruan nyaring kembali berkumandang datang dari luar ruangan:

"Kelelawar malam tiba..."

"Liong hau hiap (pendekar naga harimau) tiba..." "Pat ci kay ong (raja pengemit berjari delapan) tiba..." "Ci gan sin kun (Raja sakti bermata merah) tiba. "

"Hiat pian sinkun tiba. ,?"

"Ngo ou tiau kek tiba. "

Manusia-manusia beruntun berdatangan ke dalam ruangan, dalam waktu singkat dalam ruangan yang sangat luas itu telah berkumpul jago-jago nomor satu yang datang dari seluruh dunia persilatan.

Mendadak terdengar seruan nyaring berkumandang dari luar. "Hiat hoo kaucu  beserta  anggota  perkumpulannya  tiba. "

Ketika Ong Bun kim mendongakkan kepalanya, terlihatlah seorang kakek berbaju merah dengan membawa puluhan orang anggota perguruannya melangkah masuk kedalam ruangan.

"Hiat hoo kaucu ada urusan apa kau datang kemari?" Giok bin hiap segera menegur dengan suara lantang.

"Ada sesuatu urusan yang hendak kutanyakan" "Urusan apa?"

Dengan wajah tanpa emosi Hiat hoo kaucu tertawa dingin, lalu katanya dengan lantang.

"Tolong tanya apa tujuan Sin kiam bun ini didirikan dalam dunia persilatan?"

"Membantu kaum Iemah dan membasmi kejahatan." "Apakah kalian hendak melenyapkan kaum manusia

laknat dari dunia persilatan serta menegakkan keadilan  serta kebenaran bagi umatnya?"

"Betul!"

"Kalau memang begitu, aku dengan memimpin seluruh anggota perguruanku bersama-sama menggabungkan diri dengan perguruan Sin kiam bun!"

Ucapan dari Hiat hoo kaucu ini-kontan saja membuat semua orang menjadi tertegun.

"Apakah tidak boleh ?" Hiat hoo kaucu segera bertanya lagi ketika melihat sikap heran semua orang.

"Siapa yang berkata demikian?" jawab Giok-bin hiap. "harap kau suka menyebutkan dulu siapa namamu!" "Ang Yu nian !"

"Silahkan menyembah pedang!"

Kaucu dari perkampulan Hiat hoo kau ini segera memimpin anak buahnya yang berjumlah empat puluhan orang itu untuk bersama-sama menyembah kepada pedang Sin kiam.

Dengan suara dalam Giok bin hiap kembali berkata. "Ang Yu nian, apakah kau bersama anak buahmu benar-

benar ingin masuk menjadi anggota perguruan kami dengan

lulus ikhlas" "Benar!"

"Kau bersumpah akan setia kepada perguruan?" "Benar!"

"Silahkan mengangkat sumpah !"

Setelah Ang Yu nian sekalian mengangkat sumpah berat, merekapun mengundurkan diri ke sisi ruangan....

Dengan demikian, anggota Sin kiam bun telah bertambah dengan empat puluh anggota baru.

Menyusul kemudian, tak sedikit kawanan-jago  dari dunia persilatan yang berbondong-bondong datang kesana.

Mendekati tengah hari, dalam ruang tengah telah berkumpul ratusan orang jago lihay yang datang dari seluruh penjuru dunia persilatan.

Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar seruan lantang lagi berkumandang memecahkan keheningan.

"Pangcu dari perkumpulan Cian-ih pang beserta anak buahnya tiba. " Tampak seorang kakek berusia enam puluh tahunan dengan memimpin dua puluhan anggota perkumpulannya melangkah masuk ke dalam ruang tengah.

Dengan suara mantap Giok bin hiap lantas menegur. "Cing in pangcu, apakah kau dengan membawa anak

buahmu ingin menggabungkan diri dengan perguruan kami?"

"Benar, tapi sebelumnya aku ingin mengajukan satu pertanyaan lebih dulu!"

"Soal apa?"

Benarkah Perguruan Sin kiam bergerak untuk membasmi yang jahat dan menolong kaum lemah? Benarkah tujuan kalian adalah demi ditegakkan pengadilan serta kebesaran bagi umat persilatan?"

"Benar!"

"Benarkah perguruan Sin-kiam-bun akan membantai kaum iblis dan sesat dengan pedang sin-kiam?"

"Benar!"

"Kalau memang begitu, aku beserta semua anggota perguruan bersedia untuk menggabungkan diri dengan perguruan Sin kiam-bun!"

Setelah itu berdatangan pula Pek im ceng dan Sin liong Pay yang datang sambil membawa puluhan orang bekas anak buahnya, dengan begitu jumlah anggota Sin kiam bun telah mencapai beratus-ratus orang banyaknya.

Selewatnya senja, sudah tiada orang yang-muncul kembali didalam gua Bu-cing tong.

Ke enam orang ciangbunjin dari partai Siau lim, Bu-tong, Kun lun, Go bi, Tiong lam Serta Khong tong pay dengan membawa dua orang muridnya berdatangan juga untuk memeriahkan upacara tersebut, selain mengucapkan terima kasih kepada Ong Bun kim atas dikembalikannya keenam jilid kitab pusaka mereka.

Sementara itu Ong Bun kim sedang memperhatikan akan dua orang, mereka adalah Ko Pek ho serta si bunga iblis dari neraka, mengapa sampai sekarang kedua orang itu belum datang juga?

Apakah mereka tak akan datang? Mendadak...

Dari luar gua berkumandang kembali suara teriakan lantang.

"Tay pangcu dari perkumpulan Hui mo pang Ku Pek hoa tiba!"

Begitu nama Ku Pek hoa disebutkan, semua orang segera merasakan hatinya bergetar keras, dua pertiga dari mereka yang hadir segera berubah hebat wajahnya.

Mereka termasuk juga Tiang seng lojin serta Giok bin hiap berdua.

Dalam pada itu, Ku Pek hoa dengan langkah yang lemah gemulai berjalan masuk ke dalam ruangan.

Mendadak terdengar suara tertawa dingin berkumandang memecahkan keheningan, sesosok bayangan manusia berwarna merah berkelebat lewat, tahu-tahu jalan pergi perempuan itu sudah terhadang.

"Ku pangcu!" seru orang itu, "masih kenal dengan aku orang she Ang ?"

Paras muka Ku Pek hoa juga berubah hebat. "Tentu saja kenal" jawabnya, "tidak kusangka Ang pangcu sudah tiba disini!" Dalam pada itu tak sedikit jumlah orang yang mendesak kehadapan Ku Pek hoa, mereka termasuk juga Pangcu dari Cing ih pang, Caycu dari Sin hong cay serta banyak lagi lainnya.

Terdengar seseorang, menegur dengan suara dingin.

"Ku pangcu kalau sudah bermusuhan rasanya jalan didunia ini terlalu sempit, tidak disangka kita akan bersua kembali disini, tolong tanya ada urusan apa kau datang kemari?"

"Aku datang untuk mencari Ong Bun kim."

"Ku pangcu, kejahatan yang kau lakukan sudah terlalu banyak, lebih baik kita selesaikan dulu hutang-hutang lama kita."

Dalam waktu singkat sudah ada puluhan orang jago yang mengurungnya di tengah arena.

Paras muka Ong Bun kim berubah hebat setelah menyaksikan kejadian itu bentaknya tiba-tiba:

"Mundur semua !"

Bentakan dari anak muda tersebut sangat keras bagaikan guntur yang membelah bumi di siang hari bolong, tanpa sadar semua orang menghentikan langkah kakinya, kemudian dengan sinar mata jeri mereka memandang wajah Ong Bun kim, tak seorangpun yang berkata apa-apa.

Dengan paras muka berubah hebat Ong Bun-kim membentak:

"Dia adalah istriku, kalian berani berbuat apa terhadap dirinya?"

Ucapan tersebut bersifat menantang, kontan saja membuat paras muka beberapa orang itu kembali berubah hebat. Ku Pek hoa dengan wajah yang amat sedih dan perasaan yang tersiksa berdiri mematung disana.

Kaucu dari perkumpulan Hiat ho kau segera maju ke depan, kemudian serunya.

"Lapor Buncu, apakah Ku pangcu adalah istrimu?" "Benar !"

"Apa Buncu tidak tahu kalau ia sudah menciptakan pembunuhan berdarah yang mengerikan sekali dalam dunia persilatan?"

"Soal ini..."

"Dia telah membunuh lima puluhan orang anggota perguruan kami, hutang darah tak bisa ditunggak, harap Buncu memberi keadilan serta kebenaran untuk kami!"

Pangcu dari Cing ih pang juga maju ke depan sambil berseru pula:

"Ku pangcu juga telah membunuh tiga puluhan orang anggota perguruan kami."

"Dia membunuh puluhan orang anggota benteng kami." seru Sin liong caycu pula sambil maju ke depan, "oleh karena pun caycu tak sanggup menandingi kelihayannya sehingga untuk bisa membalas dendam, maka kami baru berkeputusan untuk masuk menjadi anggota perguruan Sin- kiam bun."

Ciangbunjin dari Tiong lam pay yang berdiri disisi ruangan juga segera maju kedepan seraya berseru:

"Ong Buncu, dia telah membunuh juga tujuh orang anggota partai kami yang tidak berdaya..."

"Dia telah membunuh ayahku..." "Dia membunuh kakakku..." "Dia membunuh..."

Dalam waktu singkat, seluruh ruangan itu dipenuhi oleh teriakan-teriakan penuh emosi, bisa dibayangkan betapa kalutnya suasana ketika itu.

Giok bin hiap segera berkata pula.

"Buncu akupun pernah menyaksikan ia membunuh sepasang suami istri tua yang sedang mencari obat diatas tanah perbukitan, hanya dikarenakan sepasang suami istri itu enggan masuk menjadi anggota perguruannya."

Keadaan Ong Bun kim benar-benar mengenaskan sekali, paras mukanya berubah menjadi pucat pias seperti mayat, mulutnya terbungkam dalam seribu bahasa, dia tak tahu apa yang musti dilakukan untuk menanggulangi keadaan tersebut.

Paras muka Ku Pek hoa sendiripun pucat pias seperti mayat, peluh sebesar kacang jatuh bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.

Teriakan-teriakan masih bergema diseluruh ruangan, seakan-akan semua orang merasa tidak rela jika Ku Pek hoa tidak dibunuh pada saat itu juga.

Hampir meledak benak Ong Bus kim oleh kejadian itu segera bentaknya keras-keras: "Tutup mulut!"

Suara hiruk pikuk yang sangat ramai itu segera menjadi tenang kembali, sorot mata semua orangpun bersama-sama dialihkan ke atas wajah Ong Bun-kim.

Sekujur badan Ong Bun kim gemetar keras, setelah agak tertegun serunya.

"Apa... apa yang kalian inginkan?" "Bunuh dia !" "Bunuh iblis perempuan itu sampai mati."

"Balaskan dendam bagi orang-orang yang mati ditangannya..."

"Bunuh !"

Suasana dalam ruangan itu kembali dipenuhi dengan bentakan-bentakan dan teriakan-teriakan emosi.

"Tutup mulut!" bentak Ong Bun kim teramat gusar. Sekali lagi teriakan semua orang tertindih oleh bentakan

Ong Bun kim yang amat keras itu.

Dengan perasaan agak emosi Ong Bun kim berseru. "Aku tak akan membunuhnya karena dia adalah

isteriku!"

Mendengar ucapan tersebut, paras muka semua orang telah berubah sangat nanar.

Ketua dari Hiat hoo kau, Cing ih Pang dan Sin liong cay serentak bertanya.

"Buncu apakah kau tidak bersedia untuk membalaskan dendam bagi saudara-saudara kami yang telah terbunuh ditangannya?"

"Benar, karena dia adalah istriku !"

Kaucu dari Hiat hoo kau segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

"Haaahh.... haahhh... haaahhh... Ong Bun-kim, kau tidak memiliki kebijaksanaan sebagai seorang buncu dari perguruan Sin kiam bun... haaahhh... haaahhh... haaah..."

"Kau bilang apa?" bentak Ong Bun kim dengan suara menggelegar, hawa napsu membunuh segera menyelimuti seluruh wajahnya. Dengan dingin kaucu dari Hiat ho kau berseru:

"Apabila Buncu tidak bersedia memikirkan masalah yang menimpa anggotanya, kami akan mengundurkan diri saja dari perguruan Sin kiam bun!"

"Kami juga akan mengundurkan diri.." "Kami juga "

Suasana kembali terjadi kegaduhan, tiga perempat dari jumlah anggota Sin kiam bun yang terdiri dari seratus limab puluhan orang ditu serentak bearanjak dari tembpat masing- masing dan berjalan keluar dari ruangan itu.

Terbelalak lebar sepasang mata Ong Bun kim setelah menyaksikan kenyataan itu, peluh sebesar kacang kedelai bercucuran membasahi jidatnya.

Tindakan pemboikotan yang dilakukan orang-orang itu sama sekali diluar dugaan Ong Bun kim, perkembangan yang terjadi disitu menimbulkan perasaan kaget bercampur ngeri dalam hatinya.

"Berhenti !" Tiba-tiba Giok bin hiap membentak dengan suara berat dan dalam.

Bentakan dari Giok Bin hiap yang keras bagaikan guntur yang membelah angkasa di tengah hari bolong itu segera menghentikan langkah kawanan orang yang sedang melangkah keluar dari ruangan itu, sorot mata mereka serentak dialihkan ke atas wajah Giok bin hiap.

Dengan suara yang berat dan serius Giok-bin hiap segera berseru lagi dengan lantang:

"Sebagai anggota perguruan, mana boleh kalian bersikap demikian terhadap ketua sendiri?"

Terdengar ada yang berteriak: "Dia tidak pantas. " "Dia tidak becus..."

"Dia tidak pantas menjadi ketua perguruan Sin kiam bun..."

Teriakan-teriakan keras mulai berkumandang kembali dalam ruangan, orang berteriak dengan gusar, mendongkol dan tidak puas, keadaan semacam ini benar-benar mengerikan sekali.

oooOdwOooo

BAB 86

SEKUJUR badan Ku Pek hoa gemetar keras, dia hanya bisa berdiri kaku ditempat.

Paras muka Ong Bun kim juga berubah menjadi pucat pias seperti kertas, seluruh badannya basah olah keringat, keadaannya mengenaskan sekali, agaknya dia seperti lagi mempertimbangkan satu hal...

"Buncu !" tiba-tiba Giok bin hiap berseru ke arah Ong Bun kim dengan suara lantang.

Ong Bun kim merasakan hatinya bergetar keras, sorot matanya segera dialihkan ke wajah Giok bin hiap.

"Ada apa?" tanyanya.

"Sekarang kau harus mengambil keputusan tegas!" "Keputusan apa?"

"Bunuh Ku Pek hoa !"

"Apa?" teriak Ong Bun kim dengan mata meIotot besar, "kau suruh aku membunuh dirinya ?"

"Benar, jika Ku Pek hoa tidak dibunuh, hati mereka semua tak akan puas." Ong Bun kim menjadi marah sekali serunya. "Apakah kita tak dapat mengampuni dirinya."

"Tak ada orang yang mau mengampuni dirinya!"

Ong Bun kim segera tertawa seram, serunya. "Aku tak akan membunuhnya..."

"Lantas apa yang hendak kau lakukan?"

"Apakah aku Ong Bun kim tak boleh melindungi keselamatan isteriku sendiri?"

"Buncu, saat ini bukan saat yang tepat untuk mempeributkan persoalan semacam itu!" seru Giok bin hiap dengan suara dalam.

"Beginilah sifat aku Ong Bun kim, apa yang hendak kulakukan segera kulakukan, bila aku tak mau aku bisa menghilangkannya, dia adalah isteriku, aku tak bisa tidak harus melindungi keselamatannya?"

"Buncu apakah kau tak akan memikirkan kepentinganmu?" tegur Giok bin hiap dingin.

Ong Bun kim merasakan hatinya bergetar keras dalam upacara peresmian semacam ini, sudah barang tentu dia harus memikirkan masalah besar daripada kepentingan pribadi, kalau tidak, bukankah hal ini akan menjadi tertawaan orang banyak?

Tapi, jika ia tak dapat melindungi keselamatan diri istrinya, bukankah orang banyakpun akan mencemooh ketidak becusan dirinya? Dari dua hal tersebut dia harus memilih salah satu diantaranya.

Kembali Giok bin hiap berkata.

"Buncu kalau kau tidak mengambil keputusan yang bijaksana, nama baik perguruan Sin kiam-bun akan hancur dan musnah ditanganmu." Ong Bun kim menggertak giginya kencang-kencang, disapunya sekejap kawanan jago dihadapannya lalu bentaknya keras-keras.

"Harap kalian semua tenang !"

Ditengah bentakan keras dari Ong Bun kim itu, suasana dalam ruang segera pulih kembali dalam keheningan, sinar mata semua orang kembali dialihkan kewajah Ong Bun kim untuk menantikan jawabannya.

Bagaikan seekor yang jago yang kalah bertarung, dengan suara lemah dan berat Ong Bum kim berseru.

"Apakah kalian bersikeras hendak menyuruhku membunuh dirinya..?"

"Betul dia harus dibunuh."

"Jagal iblis perrempuan keji itu. Kita harus membalaskan dendam lagi saudara-saudara kita yang sudah tewas secara mengenaskan ditangannya."

"Yaa, perempuan laknat yang tidak berperi kemanusiaan itu harus dibunuh."

Bentakan-bentakan marah bagaikan guntur yang menghajar benak Ong Bun kim, selama hidupnya belum pernah merasakan kesedihan seperti apa yang pernah dialaminya sekarang.

Teriakan-teriakan keras para jago kembali terhenti, suasanapun pulih kembali dalam keheningan.

Dengan suara lantang, Ong Bun kim segera berseru.

"Ia sudah bertobat dan menyesali semua perbuatannya, apakah kalian tak dapat memaafkan kesalahannya itu?"

Teriakan-teriakan emosi kembali berkumandang memecahkan keheningan. "Tidak bisa diampuni, perempuan laknat itu tak boleh diampuni."

"Dia sudah membunuh banyak orang, jiwanya tak boleh diampuni lagi."

"Mengapa kalian bersikeras hendak menghukum mati dirinya?"-seru Ong Bun kim lagi dengan sedih, "bukankah pepatah bilang, orang sesat yang kembali, emaspun tak bisa menggantinya, sekarang dia sudah bertobat dari perbuatannya, mengapa kalian masih bersikap keji kepada dirinya?"

"Sudah terlalu banyak orang yang dibunuh olehnya, manusia semacam itu tak boleh diampuni lagi!"

"Bunuh dia. Bunuh, bunuh dia!"

Hampir saja Ong Bun kim melelehkan air mata saking ngenasnya memikirkan soal ini, selama hidupnya baru pertama kali ini dia tak melakukan apa yang ingin dilakukannya, bagaimana mungkin hatinya tidak merasa sedih?

Kembali ada orang berteriak keras.

"Buncu, kalau kau tak mau membunuhnya, kami akan segera angkat kaki dari sini."

"Ya, pergi saja dari sini. "

Maka kembali ada orang yang beranjak dan mulai melangkah keluar dari ruangan itu.

"Berhenti!" Ong Bun kim segera membentak keras.

Oleh bentakan dari Ong Bun kim yang sangat keras itu, orang-orang yang mulai beranjak itu kembali terhenti. "Kalian benar-benar ingin mendesakku  untuk membunuh dirinya...?" mendadak Ong Bun kim membentak keras.

"Kami bukannya mendesakmu, tapi sudah menjadi kewajiban Buncu untuk melakukan perbuatan itu."

"Tapi dia adalah istriku, aku tak bisa melakukannya." "Kalau begitu kau tak pantas menjadi Buncu dari

perguruan Sin kiam bun."

Paras muka Ong Bun kim berubah sangat hebat, mendadak dia melompat bangun dari kursinya, lalu berseru:

"Bagus sekali, aku Ong Bun kim memang tidak pantas menjadi ketua Sin kiam bun, kalian boleh memilih ketua yang baru, aku Ong Bun-kim segera akan meninggalkan tempat ini."

Seusai berkata, dengan langkah lebar dia lantas berjalan keluar dari ruang itu.

Tindakan yang diambil pemuda inipun jauh diluar dugaan semua orang, dengan perasaan terkejut dan tercengang mereka hanya mengawasi Ong Bun-kirn dengan pandangan tertegun, suatu tindakan yang betul diluar dugaan siapa pun.

Dengan suatu gerakan cepat Giok-Bin-hiap menerjang maju ke depan dan menghadang jalan pergi Ong Bun-kim, bentaknya:

"Kau sudah gila !"

"Haaahhh... haaahhh... haaahhh, sudah gila?" seru Ong Bun-kim sambil tertawa seram, "bukankah aku Ong Bun- kim berada dalam keadan segar bugar?"

"Lantas, mengapa kau..." "Aku tak akan menjadi ketua dari perguruan Sin-kiam- bun lagi. "

"Hal ini mana boleh jadi?"

"Mengapa tidak? Kalau aku Ong Bun-kim tak bisa melindungi istriku yang telah bertobat dan mau kembali kejalan yang benar, apa gunanya menjadi seorang Bun cu? Supek, harap minggir !"

Dengan pandangan tertegun Giok bin hiap mengawasi wajah Ong Bun kim, tanpa sadar dia menyingkir ke samping memberi jalan lewat..

Ong Bun kim segera berjalan kehadapan. Ku Pek hoa, kemudian serunya dengan nyaring:

"Mari kita pergi!"

"Ke mana?" tanya Ku Pek hoa tertegun.

"Asal pergi meninbggalkan tempat ini, kemanapun kita boleh pergi!"

Tapi Ku Pek hoa segera menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Tidak, aku tak akan pergi!" "Apa?"

"Aku tak akan pergi."

Diatas wajahnya segera tampil tekadnya yang besar, "kau telah melakukan suatu kesalahan besar."

"Aku telah melakukan suatu kesalahan besar? Kenapa?"

Ku Pek hoa menghela napas panjang, katanya kemudian:

"Aku bisa memahami cintamu kepadaku, tapi tidakkah kau mencintai anggota perguruan mu?" "Aku mencintainya !"

”Kalau memang begitu, harap mundur kembali ke tempatmu, akan kuatasi masalah ini."

Ong Bun kim tertegun dan berdiri termangu-mangu seperti orang yang kehilangan ingatan, untuk sesaat lamanya dia tak tahu apa yang musti dilakukannya.

"Aku memang benar-benar pantas untuk mati!" ucap Ku Pek hoa dengan amat sedih.

"Aaaahh..."

"Aku tahu, sebelum kuhabiskan nyawaku sendiri, setiap orang tak akan merasa puas"

"Aku yakin dengan kemampuan serta kekuatan yang kumiliki sekarang, aku masih sanggup untuk melindungi keselamatanmu!"

"Tidak!" Ku Pek hoa menggelengkan kepalanya berulang kali, "didalam persoalan ini kau tak akan sanggup melindungi diriku, apa yang sewajarnya kau dapatkan, aku sudah sepantasnya untuk memberikan kepadamu, bila aku terbunuh, semua orang akan takluk, kenapa pula tidak kulakukan hal ini demi kepentinganmu?"

"Ku Pek hoa, kau..."

"Bunuhlah aku!” tukas Ku Pek hoa dengan wajah yang tegas dan tekad yang mantap.

"Tidak!" teriak Ong Bun kini dengan penuh emosi, "aku tak akan membunuhmu, sebab kau adalah isteriku!"

"Ong Bun kim, jika kau tak berani membunuhku maka kau adalah seorang lelaki pengecut lelaki yang berjiwa banci..." "Tidak, walau apapun yang akan kau ucapkan, aku tak akan melakukannya, aku cinta padamu!"

"Ong Bun kim! Sekarang belum waktunya untuk membicarakan soal cinta, sepanjang sejarah kehidupanku terlalu banyak kejahatan yang telah kulakukan, bila kematianku bisa membuat hati semua orang takluk kepadamu, aku bersedia melakukannya dengan senang hati dan kaupun seharusnya mengambil keputusan tersebut"

Ong Bun kim tidak berbicara apa-apa, dia merasa semakin sedih, semakin pedih dan sangat tersiksa batinnya.

Betul setiap ucapan dari Ku Pek hoa itu keluar dari hati sanubarinya yang paling murni, tapi tegakah Ong Bun kim untuk membunuhnya? Membunuh seorang isteri-nya sendiri?

Kembali Ku Pek hoa berkata:

"Ong Bun kim, apakah kau tidak memiliki jiwa tegas seorang lelaki kesatria yang mendahulukan kepentingan orang banyak daripada kepentingan pribadi?"

Ong Bun kim berdiri tertegun dengan wajah yang mengenaskan sekali, ia betul-betul lunglai bagaikan seekor ayam jago yang sudah kalah bertarung.

"Tak usah ragu-ragu lagi" kembali Ku Pek hoa berkata, "baliklah kembali ke tempatmu, berilah kesempatan kepadaku untuk berbincang-bincang dengan mereka."

Perasaan Ong Bun kim ketika itu benar-benar amat sedih yang tak terlukiskan, penderitaan dan siksaan batin yang dialaminya sekarang belum pernah dialami sebelumnya. Ia mencintai seorang perempuan tapi tak mampu untuk melindungi keselamatan jiwanya, ke mana larinya kemampuan seorang lelaki yang mampu melindungi kaum lemah? Dengan tubuh yang lemas, badan yang lunglai pelan- pelan dia berjalan kembali ke dalam ruang tengah, lalu menjatuhkan diri duduk dengan wajah memucat. Menanti pemuda itu sudah masuk ke ruangan, Ku Pek hoa baru tertawa getir, di tatapnya sekejap jago yang berada dihadapannya, kemudian berseru.

"Sobat sobat sekalian..."

Sorot mata segenap jago yang berada daIam ruangan itu segera dialihkan bersama kewajah Ku Pek hoa, tak seorangpun diantara mereka yang bisa menduga perkataan apakah yang hendak diucapkan oleh gadis itu.

Dengan tekad yang bulat dan wajah yang serius gadis itu melanjutkan kembali kata-katanya.

"Aku mengerti semua tindakan serta perbuatan yang kalian lakukan sekarang adalah suatu tindakan yang benar, sepasang tangan Ku Pek hoa memang sudah bernodakan darah manusia, aku memang sudah banyak membunuh manusia, untuk itu aku pantas menerima kematianku sebagai hukuman atas dosa-dosaku itu, mati di hadapan mereka semua! Kalau hari ini sampai tidak dilaksanakan, lantas dimanakah letak keadilan dan kebenaran?"

Ia berhenti sebentar untuk mengendalikan perasaan sedih dan pedih yang tak terlukiskan dengan kata-kata itu, kemudian melanjutkan.

"Ong Bun kim pasti akan membunuhku, cuma ada sepatah kata ingin kuucapkan lebih dulu sebelumnya, bila aku telah mati nanti aku harap kalian semua bersedia untuk berbakti dan setia kepada Ong Bun kim, kedamaian memang diraih dengan pengorbanan. Pengorbanan tersebut membutuhkan pula darah dan keringat. Aku harap kalian semua bersedia untuk meluluskan permintaanku itu!" Perkataan tersebut cukup mengharukan siapapun yang mendengarnya...

Setelah berhenti sebentar Ku Pek hoa berkata lagi dengan suara yang dalam dan berat:

"Sebelum aku mati, aku harus menjadi anggota Sin kiam bun lebih dulu, kalau tidak Ong Bun kim mana akan membiarkan kupinjam pedangnya untuk mati?"

Kali ini semua orang menjadi tertegun dan tercengang, agaknya mereka tidak menyangka kalau gadis tersebut akan mengambil tindakan sejauh itu.

Begitu selesai mengucapkan kata kata itu, agaknya Ku Pek hoa merasakah perasaannya sudah jauh lebih kendor dan nyaman, pelan-pelan dia beranjak dan masuk ke dalam ruangan.

Beratus-ratus orang jago yang hadir didalam ruangan itu hanya termangu belaka, rupanya mereka sudah terpengaruh oleh kata-katanya itu, malah banyak diantara yang merasa kagum atas tekad dan keputusan yang diambil Ku Pek hoa itu.

Tak bisa disangkal lagi dia amat mencintai Ong Bun- kim, dan sekarang ia bersedia mengorbankan diri demi memperoleh dukungan beratus-ratus orang anggota bagi perjuangan Ong Bun kim.

Dalam hal ini sudah jelas tak akan bisa dilakukan oleh siapa saja didunia ini.

Selangkah demi selangkah Ku Pek-hoa berjalan masuk kedalam ruangan dan akhirnya berhenti didepan meja sembahyang.

Diam-diam Giok bin hiap merasa kagum sekali atas tekad dan keberanian gadis itu dalam mengambil keputusan, sehingga tanpa terasa muncul juga perasaan sedih dan iba dalam hatinya.

Dengan suara yang sedih Giok-pin-hiap bertanya.

"Ku Pek-hoa, bersediakah kau masuk menjadi anggota perguruan Sin-kiam bun?"

"Bersedia!" "Menyembah pedang!"

Dengan tuIus dan bersungguh-sungguh Ku Pek hoa segera menjatuhkan diri berlutut serta menyembah dengan penuh rasa hormat.

"Ku Pek hoa!" kemudian Giok bin hiap berseru dengan suara dalam, "bersediakah kau untuk setia kepada Buncu?"

"Bersedia!" "Angkat sumpah!"

Ketika Ku Pek hoa selesai mengangkat sumpah berat, dengan suara dalam Giok bin hiap berkata:

"Ku Pek hoa, sekarang secara resmi kau telah menjadi anak murid perguruan kami!"

Ku-Pek hoa segera mengiakan, pelan-pelan dia bangkit berdiri dan berjalan ke hadapan Ong Bun kim, kemudian setelah berlutut kembali, ujarnya:

"Lapor Buncu!"

"Ada apa?" suara Ong Bun kim kedengaran agak gemetar.

"Sebelum tecu masuk menjadi anggota perguruan Sin kiam bun telah banyak melakukan kejahatan dan pembunuhan keji, setelah masuk menjadi anggota Sin Kiam bun, mohon buncu bersedia memberi kematian kepada tecu untuk menebus dosa-dosa dan kesalahanku ini!".

Sekujur badan Ong Bun kim gemetar keras, ia sampai menggigil tanpa sebab.

"Ooh Thian, apakah akan ia serahkan pedang Suci itu untuk membunuhnya? Membunuh istrinya sendiri?"

Paras mukanya berubah menjadi pucat pias seperti mayat, mimik wajahnya tampak mengerikan sekali, dia cuma bisa melototkan sepasang matanya lebar-lebar dan mengawasi Ku Pek hoa yang berlutut di hadapannya-itu tanpa berkedip...

suasana di dalam ruangan segera berubah menjadi tenang, sepi, tak kedengaran sedikit suarapun.

Dengan suara berat Giok bin hiap segera berseru.

"Kalau Ku Pek hoa bisa mati diujung pedang Sin kiam, kejadian ini merupakan suatu kehormatan baginya. Buncu! Sepantasnya kalau kau meluluskan permintaannya itu!"

Ong Bun kim masih tetap termangu-mangu dan duduk tertegun tak tahu apa yang musti dilakukan.

"Buncu, apakah kau tidak meluluskan permintaan dari tecu ini?" pinta Ku Pek hoa dengan pedih.

oooOdwOooo

BAB 87

DALAM keadaan yang teramat sedih, Ong Bun kim menghela napas panjang, perkembangan situasi yang dihadapinya ini memaksa dia mau tak mau harus mempersembahkan pedang sucinya itu. Demi kepentingan perguruan Sin kiam bun, demi perasaan setiap orang, ia harus melaksanakan perbuatan yang sama sekali tidak dikehendakinya itu.

Sekalipun rasa sedih yang mencekam perasaannya sekarang tak terlukiskan dengan kata-kata, akan tetapi sekarang dia perlu untuk menahan diri dan mengendalikan perasaan, maka secara tiba-tiba dia mengambil keputusan.

Dengan suara dalam dan berat dia pun bertanya. "Ku Pek hoa, bersediakah kau untuk menerima kematian?"

"Bersedia!"

"Kalau begitu matilah!"

Dia bangkit berdiri dan mengambil pedang Sin kiam itu dari atas meja altar, kemudian diserahkan kepada Ku Pek hoa.

Tangannya yang memegang pedang itu tampak gemetar sangat keras, bisa dibayangkan betapa besarnya gejolak perasaan yang dialaminya waktu itu.

Dengan tenang Ku Pek hoa menerima pedang Sin kiam tersebut, lalu berkata.

"Terima kasih atas kesediaan Buncu menghadiahkan kematian yang terhormat bagi tecu!"

Suatu tragedi yang memilukan hatipun akhirnya berlangsung juga.

Dalam waktu singkat suasana didalam ruangan tengah itu berubah menjadi murung hening, suasana sedih dan duka yang amat tebal secara tiba-tiba menyelimuti perasaan setiap orang.

Ong Bun kim tak sanggup mengendalikan luapan rasa sedihnya lagi, titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya. Ku Pek hoa berjalan langsung menuju ke tengah ruangan, paras mukanya dingin dan kaku sama sekali tidak terlintas luapan emosi apapun juga, sekalipun ada, itupun cuma sinar kesedihan yang sangat mendalam.

Sorot mata semua orang telah tertuju pa da dirinya.

Pelan-pelan dia mengangkat pedang Sin kiam itu ketengah udara,ujung pedang telah menempel diatas perutnya, asal dia sedikit mempergunakan tenaganya, maka gadis itu akan segera tewas diujung pedang Sin kiam tersebut.

Tak sedikit diantara mereka yang tak tega menyaksikan tragedi itu berlangsung di depan matanya, pelan-pelan mereka melengos ke arah lain atau menundukkan kepalanya rendah-rendah.

Sepasang mata Ku Pek hoa sudah mengembang air  mata, titik air mata meleleh keluar dan membasahi pipinya, dia ingin menangis, akan tetapi tiada suara isak tangis yang keluar dari mulutnya.

Wajah Ong Bun kim juga basah oleh air mata yang jatuh bercucuran dengan derasnya..

Dengan penuh air mata yang bercucuran, Ku Pek-hoa menatap wajah Ong Bun kim lekat-lekat, lama... lama sekali akhirnya dia baru berbisik dengan lirih.

"Ong Bun kim, kita segera akan berpisah... berpisah untuk selamanya."

Bisikan tersebut tidak diucapkan keluar, tapi air meta yang bercucuran menggantikan suara hatinya.

Akhirnya dia pejamkan matanya rapat-rapat, tangan kanan yang memegang pedang Sin kiam gemetar sangat keras. Ong Bun kim segera melengos ke arah lain.

Ia tak tega menyaksikan tragedi tersebut berlangsung didepan matanya. Oooh Thian Apa yang terjadi hari ini tak akan pernah dilupakan selamanya.

Mendadak...

Suara dengusan tertahan bergema dari mulut Ku Pek hoa.

Dengan cepat Ong Bun kim berpaling, ketika ia menyaksikan Sin kiam telah menembusi perut Ku Pek hoa, menyusul dicabutnya senjata mestika tersebut, darah segar segera memuncrat keluar dengan amat derasnya...

Paras muka Ku Pek hoa berubah menjadi pucat pias seperti mayat, dengan sempoyongan dia mundur beberapa langkah ke belakang.

Dengan cepat tangannya digunakan untuk menekan mulut lukanya yang melebar, "Trang..." pedang Sin kiam segera terjatuh ke tanah, menyusul kemudian tubuhnya sempoyongan juga lantas roboh ke atas tanah.

"Ku Pek hoa...!" Ong Bun kim segera menjerit sekeras- kerasnya.

Dengan suatu lompatan kilat dia menubruk kearah Ku Pek hoa, kemudian membopong tubuhnya yang sudah roboh ke tanah itu.

Suatu tragedi yang memilukan hati akhirnya telah berlangsung.

Mendadak...

Segenap anggota Sin kiam bun yang hadir dalam ruangan itu sama-sama menjatuhkan diri berlutut ke atas tanah. "Harap Buncu suka mengampuni dosa kami semua!" serunya hampir berbareng dengan suara keras.

Air mata turun dengan deras membasahi seluruh wajah Ong Bun kim, mendadak ia mendongakkan kepalanya dan tertawa seram:

"Sudah mati.... sudah mati Haaahhh...haaahhh haaah kalian telah memaksanya sampai mati. "

Suara tertawa itu kedengaran mengerikan sekali, membikin bergidiknya hati siapapun juga.

Giok bin hiap yang menyaksikan kejadian itu menjadi terperanjat sekali.

Pelan-pelan Ong Bun kim membopong tubuh Ku Pek hoa, berjalan melalui hadapan lautan manusia yang berlutut dihadapannya kemudian berjalan menuju keluar dari ruangan tersebut.

Dengan suatu gerakan cepat Giok bin hiap melompat ke depan dan menghadang jalan perginya, dengan cepat dia menegur:

"Buncu, mau apa kau?"

"Minggir, kalian iblis-iblis keji pembunuh manusia, kalian semua yang telah memaksanya sampai mati dia dia

telah mati sekarang kalian sudah gembira bukan? Haaahhh haaahhh haaah kalian sudah gembira bukan. "

Dengan langkah lebar dia melanjutkan perjalanannya keluar dari ruangan tersebut.

Tak seorang manusiapun yang menghalangi kepergiannya, siapapun dapat memahami bagaimana menderita dan tersiksanya perasaan pemuda itu sekarang.

Ong Bun kim telah berjalan keluar dari gua Bu cing tong sambil membopong Ku Pek hoa dia berjalan kedepan sana tanpa arah tujuan....sementara titik air mata jatuh bercucuran membasahi pipi Ku Pek hoa yang pucat pias itu

"Engkoh Ong. " tiba-tiba terdengar Ku Pek hoa berseru

dengan kepayahan. "Adik Hoa. "

"Kau baliklah kembali.*

"Tidak, aku ingin berada bersamamu. "

Seperti orang kalap diciumnya gadis itu tiada hentinya...

mencium seorang istrinya yang sudah hampir tiada, ciuman itu dilakukan secara lambat, khusus dipersembahkan kepadanya, istrinya yang tersayang.

Air mata telah bercampur darah, tak terlukiskan betapa pedih dan hancurnya perasaan pemuda itu waktu itu.

"Adik Hoa. akulah yang telah mencelakai dirimu." tiba- tiba Ong Bun kim berteriak. "andai kata kau kembali ke Lam hay. tak akan kau alami kejadian seperti hari ini, adik

Hoa. akulah yang telah mencelakai dirimu."

"Tidak, engkoh Ong. aku... aku memang penuh dosa, aku.... memang harus menebus dosa-dosaku itu dengan kematian. "

Suaranya sangat pedih dan tak jelas, suaranya pun mulai lemah dan sayup-sayup.....

Mendengar perkataan itu, Ong Bun kim merasakan hatinya bagaikan remuk rendam, dia memeluk tubuhnya erat-erat dan menangis tersedu-sedu, semua kesedihan yang mencekam perasaannya dilampiaskan keluar semuanya.

Butiran air mata jatuh berlinang membasahi pipinya, membasahi wajahnya,,..,, ketika air mata mengering nanti, jiwanya akan turut berakhir. "Adik Hoa. " teriak Ong Bun kim lagi dengan perasaan

amat pedih.

"Engkoh Ong..... terima kasih banyak... terima kasih banyak atas cinta kasihmu. "

Ong Bun kim merasakan hatinya seperti disayat sayat dengan pedang yang amat tajam darah, serasa bercucuran didalam hatinya... apa yang harus dia katakan? Apa pula yang bisa dia katakan dalam keadaan ini?

Ku Pek hoa tertawa pedih, kembali bisiknya.

"Engkoh Ong..,. kita..... kita mee memang tidak berjodoh..,., kita......kita memang tak berjodoh untuk menjadi  suami  istri...  ke..  kesalahan  ini.,.,  aku.   akulah

yang menciptakan.... aku telah berbuat salah kepadamu...

aku hanya me.... menyiksa dirimu. "

"Oooh... adik Hoa. !"

"Per... percayalah  kau,  aku  amat...  amat  mencintaimu. ?"

"Per.... percayakah kau. ?"

"Aku percaya!"

"Aku.. aku... akau selalu mengenang dirimu.,.   di dalam

hatiku....  aku  akan  mengingat  dirimu  selalu.   mengingat

cinta kasih yang.... yang telah kau berikan kepadaku....engkoh Ong....dapatkah kau.. teringat pula akan diriku?"

"Aku pasti akan mengenang dirimu selalu selama hidup mengenang terus dirimu."

"Aku . . aku telah memm.. mendapatkan cintamu....

engkoh Ong, semoga daa... dalam penitipan yang akan datang, ki... kita bisa menjadi suami istri.... kau kau bersedia bukan ?" "Aku bersedia!"

"See... seandainya bisa terjadi... keadaan see ...seperti itu.... aku... aku pasti akan melayani dirimu see... secara baik-baik."

"Ooooh Adik Hoa !" "Engkoh Ong !"

Mereka saling berteriak, saling memanggil namanya ....

teriakan menjelang datangnya elmaut membuat suasana bertambah terharu, menmbah kepedihan hati siapapun juga yang melihatnya.

Sekali lagi Ong Bun kim memeluknya dan menciumnya secara kalap. mencium dengan penuh kasih sayang.

Ku Pek hoa merasa puas, merasa puas sekali...

Dalam sejarah kehidupannya di dunia ini, dia telah melakukan perbuatan yang paling mulia.

Keinginan dan harapannya sebagai seorang gadis telah dimusnahkan oleh dia sendiri, sesungguhnya ia memiliki kecantikan wajah yang luar biasa, akan tetapi dia harus menerima akibat yang mengenaskan seperti itu.

Yang ditinggalkan untuk umat manusia, sesungguhnya kebajikankah? Atau kejahatan dan keburukan?

Ong Bun kim masih saja menciumnya dengan kalap, ciuman menjelang kematian, suatu ciuman yang dilakukan dengan perasaan yang pedih dan hati yang hancur.

Bibirnya yang kecil mungil sudah mulai menjadi dingin dan kaku, dingin bagaikan selembar jiwanya juga sudah melayang meninggalkan badan kasarnya. meninggalkan

dunia yang fana ini untuk selamanya.....

Air mata telah mengering, darah pun ikut mengering. "Adik Hoa... adik Hoat !" jerit Ong Bun kim dengan perasaan yang sangat pedih.

Dia tak akan menjawab lagi, tabk mungkin akan dmenjawab untuk aselama-lamanya.b

Kehidupan yang mengenaskan telah berakhir dengan sekulum senyuman, lalu apa yang diperoleh didalam kehidupannya ini? Yaa, apapun tidak diperolehnya.

Sekalipun ada, itupun tak lebih hanya mati di dalam pelukan orang yang dicintainya.

"Adik Hoa..." jerit Ong Bun kim dengan perasaan yaag sangat sedih.

Bagaimanapun dia berteriak, sampai pecah tenggorokannya dia menjerit, Ku Pek hoa yang telah tiada tak akan bisa menjawab lagi, dia hanya bisa menyerahkan selembar jiwanya direnggut oleh malaikat elmaut didalam rangkulan Ong Bun kim.

Dalam keadaan seperti ini Ong Bun kim tak dapat mengendalikan perasaannya lagi, sambil memeluk tubuh Ku Pek hoa erat-erat, dia menangis tersedu-sedu.

Dalam sepanjang hidupnya, belum pernah ia merasa sedih dan berduka seperti apa yang dirasakannya hari ini, sebab secara tidak langsung dia adalah pembunuh yang telah mencelakai jiwa Ku Pek hoa, dialah yang menjadi penyebab atas matinya gadis itu.

Suara isak tangis yang memilukan hati menggema dari tempat yang amat jauh sekali.

Pada saat itulah.... sesosok bayangan manusia tiba-tiba berjalan menghampirinya kemudian berseru:

"Engkoh..." Ong Bun kim seperti tidak mendengar suara panggilan itu, dia masih menangis terus, melampiaskan keluar semua kesedihan yang mencekam perasaannya selama ini, membiarkan air matanya jatuh bercucuran membasahi seluruh wajahnya.

"Engkoh Ong...." sekali lagi suara teriakan itu berkumandang memecahkan keheningan.

Akhirnya Ong Bun kim mendengar juga suara panggilan tersebut, dengan mata basah oleh air mata pelan-pelan dia berpaling, sesosok bayangan tubuh yang kabur muncul di- depan matanya.

”Siii. .. siapakah kau?" akhirnya dia bergumam dengan suara yang amat lirih.

"Engkoh Ong, aku adalah Siok kim..."

"Siok kim.. ? Siok kim..." Tiada hentinya dia bergumam, seakan-akan nama "Siok kim" tersebut terlalu asing  baginya, seolah-olah dia telah melupakan semua persoalan yang pernah dialaminya di masa lalu.

Kwan Siok kin menjadi tertegun, kemudian ujarnya: "Engkoh Ong, apakah kau sudah lupa siapakah diriku

ini?"

"Benar, sudah lupa.... semuanya sudah lupa..."

Ia bergumam denrgan suara yang lirih dan wajah yang mengenaskan sekali...

Ketika mendengar ucapan tersebut, air mata Kwan Siok kim juga turut bercucuran membasahi matanya, ia merasa sedih bagi musibah dan kepedihan yang menimpa Ong Bun kim, dia ingin menghibur hatinya, akan tetapi melihat keadaan yang menimpa si anak muda itu, belum lagi berbicara ia sendiri sudah menangis terlebih dulu. Dengan perasaan yang bimbang dan pandangan mata yang kosong, Ong Bun kim berjalan tanpa tujuan, sambil membopong jenasah Ku Pek hoa, dia berjalan terus kedepan, seakan-akan kesadarannya sudah ikut punah tak berbekas.

"Engkoh Ong,. " sekali lagi Kwan Siok kim berseru.

Pelan-pelan dia menghentikan langkah kakinya, kemudian bergumam:

"Ada apa?" tanyanya.

"Kau tak usah terlampau bersedih hati."

"Bersedih hati...? Kenapa aku harus bersedih hati..?" "Ooh engkoh Ong, kau... sebenarnya kenapa kau. ,?"

keluh Kwan Siok kim dengan perasaan amat sedih. "Aku ? Bukankah aku baik-baik saja?"

"Aai ! Peristiwa yang sangat menakutkan ini tidak seharusnya menimpa dirimu... dia terlalu mengenaskan, mengapa orang lain tak bisa mengampuni dirinya?"

Mendengar perkataan itu, Ong Bun kim masih berdiri termangu-mangu memandang wajah Kwan Siok kim dengan pandangan kosong.

"Engkoh Ong !" kembali Kwan Siok kim berkata, "kau tak usah terlalu bersedih hati, bagaimanapun juga dia toh sudah tiada lagi."

"Siapa yang telah tiada lagi.? Siapa yang-telah mati..?

Siapa. ?"

"Enci Ku!"

Sekujur badan Ong Bun kim gemetar keras, ucapan tersebut, segera menyadarkan kembali pemuda itu dari lamunan, mendadak ia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak

"Engkoh Ong, kenapa kau?" jerit Kwan siok-kim dengan suara amat kaget.

Ong Bun kim masih tertawa terbahak-bahak dengan kalapnya.

"Yaa, betul dia sudah mati, dia sudah mati... kalian yang telah mencelakainya, kalian telah memaksa seorang gadis yang telah bertobat dan kembali ke jalan yang benar untuk bunuh diri... dia telah mati tanpa menimbulkan suara apa- apa"

"Engkoh Ong, bukan aku yang memaksa dirinya untuk mati."

Dia berteriak keras, suaranya kedengaran mengerikan sekali.

Ong Bun kim kembali tertawa terbahak-bahak. "Haahhh... haaahhh... haaahh.... bukan kau....? Siapa..?

Aku teringat sekarang..."

Kembali dia tertawa terbahak-bahak dengan geramnya... tertawa amat keras sekali... tapi sampai akhirnya gelak tertawa itu telah berubah menjadi isak tangis yang mengenaskan.

Kwan Siok kim menjadi gugup dan kebingungan, dia cuma bisa mengawasi Ong Bun kim dengan pandangan tertegun dan tak tahu apa yang musti dilakukan.

Sambil menangis tersedu-sedu dan membopong jenasah Ku Pek hoa, pelan-pelan dia berjalan maju kedepan, dia masih berjalan tanpa arah tujuan, seperti seseorang yang kehilangan sukma. "Engkoh Ong..." teriak Kwan Siok kim dengan suara amat pedih. Tapi Ong Bun kim yang sedang diliputi kesedihan sama sekali tidak mendengar teriakan sedih dari Kwan Siok kim, apalagi mendalami arti daripada teriakan tersebut.

Sambil membopong jenasah Ku Pek hoa, ia berjalan menuju ke dalam hutan, daun-daun kering berguguran, yang tertinggal cuma bayangan manusia yang memanjang ditanah....

Benar benar merunakan suatu pemandangan yang kelabu dan mengenaskan hati,..

Pelan pelan langkah kakinya dilanjutkan terus ke depan, suara isak tangisnya makin menghilang..

Entah berapa lama dia sudah berjalan..., ditelusurinya hutan lebat tanpa arah tujuan sehingga lama sekali dia berjalan, entah berapa jauh sudah dilampaui, akhirnya dia berhenti dan berdiri termangu, berdiri tak berkutik...

Mendadak sesosok bayangan manusia berbaju hitam berjalan ke belakang tubuhnya, kemudian berseru.

"Ong sauhiap, orang yang sudah mati tak bisa hidup kembali, kau. kau tak usah terlampau bersedih hati!"

Pelan-pelan Ong Bun kim membalikkan badannya, sesosok bayangan hitam yang agak kabur berdiri dihadapannya.

"Ssiii. siapa kau?" gumamnya kemudian.

"Lupakah kau siapa aku ini?"

"Aku tak bisa melihat jelas, aku tidak tahu siapakah dirimu itu. ?"

Orang itu menghela napas panjang. "Aaai... Orang sauhiap, bukankah orang yang berada didalam boponganmu itu adalah Ku Pek hoa?"

"Benar. !"

"Ia sudah mati?"

"Tidak dia masih hidup dalam hatiku." "Apa yang menyebabkan kematiannya?" "Aku telah membunuhnya!"

"Kau ? Aaah mana mungkin?"

"Benar akulah yang telah membunuhnya."

"Kalau memang kau membunuhnya, mengapa pula kau bersedih hati?"

"Sebab dia adalah istriku"

"Aku tahu. dia adalah istrimu."

"Siapa kau?"

"Aku adalah Tan Hong hong."

"Tan Hong hong ? Tan Hong hong ?"

Ia bergumam berulang kali, seakan-akan untuk beberapa taat lamanya ia tidak dapat mengingat siapa gerangan manusia yang bernama Tan Hong hong itu. ?

"Ong sauhiap" kembali bunga iblis dari neraka berkata, "kalau dia telah mati, marilah kita kubur jenazahnya."

"Dikubur? Tidak !"

"Apakah kau akan memeluknya dalam rangkulanmu terus?" "Benar aku tak akan menguburnya, akn ingin selalu berada bersamanya, aku... aku tak akan meninggalkan dia untuk selamanya."

ooooOdwOoooo

BAB 88

"TIDAK, kau tidak boleh berbuat begitu!" kata Bunga iblis dari neraka dengan cepat, "bila tidak kau kebumikan dia kedalam tanah sekarang, arwahnya tak akan memperoleh ketenangan di alam baka!"

Ong Bun kim berdiri kaku dan memandang kearah Tan Hong hong dengan wajah tertegun, dia bukan sedang menbatapnya, melaindkan sedang meloangong dan memikbirkan satu hal.

"Kuburlah dirinya!" kembali Bunga iblis dari neraka berkata. Dengan termangu-mangu dia mengangguk, yaa. bila tidak dikubur dalam tanah arwahnya tak akan mendapat ketenangan, sudah barang tentu dia tidak menginginkan istrinya yang berada di alam baka tidak memperoleh ketenangan.

Setelah menghela napas panjang, katanya. "Benar, aku memang harus mengubur jenasahnya..."

Pelan-pelan dia membaringkan badan dan mencium bibir Ku Pek hoa yang telah menjadi dingin dan kaku itu, kemudian ujarnya.

"Bersediakah kau untuk membantuku mengubur jenasahnya?"

"Tentu saja!"

Dengan menggunakan telapak tangannya, si Bunga iblis dari neraka Tan Hong hong melancarkan sebuah pukulan dahsyat keatas tanah untuk membuat liang, kemudian diiringi air mata yang jatuh bercucuran, Ong Bun kim menurunkan jenasah dari Ku Pek hoa ke dalam liang.

Ong Bun kim tidak tahu apakah dia masih mempunyai perasaan atau tidak ketika itu, dia tidak merasa sedih, juga tidak merasa menderita, sebab dalam benaknya cuma ada kekosongan belaka, perasaan yang kosong dalam hatinya.

Dia seakan-akan merasa bahwa dirinya sudah tiada didunia ini lagi, tiada kehadirannya dalam dunia yang ramai.

Detik ini detik dikala jenazah Ku Pek hoa tertutup oleh tanah liat, tak akan terlupakan untuk selamanya, sebab gadis yang telah dicintainya dengan sepenuh hati ini akan terkubur untuk selamanya di tempat itu...

Akhirnya jenasah Ku Pek hoa telah dikubur.

Diatas batu nisannya tertera beberapa huruf yang besar: "Istri yang tersayang, Ku Pek hoa.

tertanda: Ong Bun kim"

Ong Bun kim berlutut didepan kuburan, dalam lamat lamat cuaca, dia seperti melihat wajah Ku Pek hoa yang cantik jelita dan senyumannya yang menarik hati muncul didepan pusaranya...

Segala sesuatunya seperti dalam impian, tapi gadis cantik itu benar-benar telah tiada.

"Ong sauhiap, jangan berlarut bersedih hati!" hibur bunga iblis dari neraka dengan lembut.

"Aku... aku tak dapat melupakan dirinya..." gumam Ong Bun kim lirih. "Dia pasti tahu kalau rasa cintamu kepadanya adalah cinta yang murni..."

Pelan-pelan Ong Bun-kim membalikkan wajahnya dan mengalihkan sorot matanya ke atas wajah Tan Hong hong, dalam waktu singkat ia seperti baru teringat akan sesuatu hal.

Dengan termangu-mangu dia memandang kearah orang itu kemudian gumamnya lagi. "Kau.... kau adalah enci Tan?"

"Benar!"

Mendadak Ong Bun-kim seperti baru berjumpa dengan sanak keluarganya saja, dengan cepat memeluk tubuh Tan Hong-hong sambil serunya? "Enci Tan, Ku Pek hoa telah mati. "

Ya, seperti telah bertemu dengan orang yang memahami perasaannya, semua isi hati nya segera di lampiaskan keluar.

-oo0dw0oo--